askep morbili by YiWahyi

VIEWS: 1,917 PAGES: 17

									                                     BAB 1
                              PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

       Anak adalah anggota unit keluarga yang sangat penting. Anak-anak bukan
orang dewasa kecil,namun individu khusus dengan pikiran, tubuh, dan kebutuhan
yang unik. Banyak hal yang mengakibatkan masalah kesehatan pada anak.
Misalnya saja pada penyakit Morbili. Morbili dalam bahasa latinnya disebut
rubeolla. Sementara dalam bahasa Inggris adalah measles. Tampek merupakan
bahasa Jawa namun istilah Indonesianya adalah campak. Morbili adalah penyakit
virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium , yaitu stadium prodormal
(kataral), stadium erupsi dan stadium konvalisnsi, yang dimanifestasikan dengan
demam, konjungtivitis dan bercak koplik. Morbili adalah penyakit anak menular
yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa
dengan campak ringan , scarlet,pembesaran nyeri limpa nadi.
       Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 – 2002 masih tinggi
sekitar 3000 – 4000 pertahun. Umur terbanyak menderita campak adalah <12
bulan, diikuti kelompok umur 1-4 dan 5-14 tahun. Campak merupakan penyakit
endemis pada sebagian besar dunia. Di Amerika Serikat jumlah kasus campak
pada tahun 1990 hampir mencapai 28.000 kasus. Di negara industri, campak
terjadi pada anak-anak berumur 5 hingga 10 tahun, sementara d i negara
berkembang penyakit ini sering menginfeksi anak-anak dibawah umur 5 tahun.
(Andriani, 2009)
       Angka kematian ensefalitis akut tergolong rendah dan sisa defisit
neurologis sedikit. Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi morbili adalah 1:
1.000 kasus, sedangkan ensefalitis setelah vaksinasi dengan virus morbili hidup
adalah 1,16 tiap 1.000.000 dosis. Sementara itu komplikasi morbili lain yang
berupa Subacute Sclerosing Panencepalitis (SSPE) adalah suatu penyakit
degenerasi yang jarang dari susunan saraf pusat. Penyakit ini progresif dan fatal
serta ditemukan pada anak dan orang dewasa. Kemungkinan menderita SSPE



                                                                               1
setelah vaksinasi morbili adalah 0,5 – 1,1 tiap 10 juta, sedangkan setelah infeksi
morbili sebesar 5,2 – 9,7 tiap 10 juta. (Jauhari, 2007)
       Makalah ini akan menjelaskan Asuhan Keperawatan pada Anak dengan
penyakit Morbili. Diharapkan bisa menjadi referensi untuk pembelajaran pada
mahasiswa keperawatan.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas, maka perumusan masalah dalam makalah ini yakni :
   1. Apakah yang dimaksut dengan morbili itu ?
   2. Bagaimanakah etiologi penyakit morbili ?
   3. Bagaimanakah epidemiologi dari penyakit morbili?
   4. Bagaimana patofisiologi dari penyakit morbili?
   5. Jelaskan manifestasi klinis dari penyakit morbili ?
   6. Apa sajakah komplikasi dari penyakit morbili ?
   7. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada anak penderita morbili?

1.3 TUJUAN
   1. untuk mengetahui definisi dari penyakit morbili;
   2. untuk mengetahui etiologi dari penyakit morbili;
   3. untuk mengetahui epidemiologi dari penyakit morbili;
   4. untuk mengetahui patofisiologi dari penyakit morbili;
   5. untuk mengtahui manifestasi klinis dari penyakit morbili;
   6. untuk mengetahui komplikasi dari penyakit morbili;
   7. untuk mengatahui asuhan keperawatan pada anak penderita penyakit
       morbili.




                                                                                2
1.4 MANFAAT
  1. dapat mengetahui pengertian penyakit morbili;
  2. dapat mengetahui etiologi dari penyakit morbili;
  3. dapat mengetahui epidemiologi dari penyakit morbili;
  4. dapat mengetahui patofisiologi dari penyakit morbili;
  5. dapat mengetahui manifestasi klinis dari penyakit morbili;
  6. dapat mengetahui apa saja komplikasi penyakit morbili;
  7. dapat mengetahui asuhan keperawatan pada anak penderita morbili.




                                                                        3
                                   BAB II
                            TINJAUAN TEORI



2.1 Definisi
       Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3
stadium, yaitu stadium prodormal (kataral), stadium erupsi dan stadium
konvalisensi, yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak
koplik. (Ilmu Kesehatan Anak edisi 2 th 1991.FKUI)
       Morbili adalah penyakit anak yang menular yang lazim biasanya ditandai
dengan gejala- gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau
demam,scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi. (Ilmu Kesehatan Anak vol 2,
Nelson, EGC, 2000)


2.2 Etiologi
       Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring
dan darah selama masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak.
Virus ini berupa virus RNA yang termasuk family Paramiksoviridae, genus
Morbilivirus. Cara penularannya dengan droplet infeksi.


2.3 Epidemiologi
       Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan
kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita
morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6
bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat
menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau
2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita
morbili pada trimester I,II atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang
anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR atau lahir mati
atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.

                                                                               4
2.4 Patofisiologi :
 a. Pathway umum


 b. Pirogenik :


                            Droplet Infection (virus masuk)
                                          ↓
                                Virus memasuki aliran darah
                                          ↓
                Sampai dan mempengaruhi termostat dalam hipotalamus
                                          ↓
                            Titik setel termostat meningkat
                                          ↓
                                Suhu tubuh meningkat
                                          ↓
  Hipertermia (masalah kep: gangguan rasa nyaman: hipertermi yang dirasakan)
                           pengaruhi nervus vagus pusat
                                          ↓
                      masuk ke pusat muntah di medula oblongata.
                                      - anorexia
                                       - malaise


 c. Koplik`s spot
                Ploriferasi sel-sel endotel kalpiler di dalam korium
                                          ↓
                      Terjadi eksudasi serum dan kadang-kadang
                                          ↓
                      eritrsit dalam epidermis → Rash/ ruam kulit
                                          ↓
         Di konjunctiva terjadi reaksi peradangan umum → Konjuctivitis

                                                                               5
 d. Sal. Cerna
                   Hiperplasi jaringan limfoid terutama pada
                                          ↓
                         usus buntu mukosa usus teriritasi
                                          ↓
                            kecepatan sekresi bertambah
                                          ↓
                         pergerakan usus meningkat diare


2.5 Manifestasi klinis
   Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan
kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium yaitu:
   a. Stadium kataral (prodormal)
       Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam
       ringan hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dan
       konjungtivitis. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum
       timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili,
       tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu,
       sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya dimukosa
       bukalis berhadapan dengan molar dibawah, tetapi dapat menyebar tidak
       teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka dapat pula
       ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit- langit dan karankula
       lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam
       waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat karena
       diiringi demam tinggi mendadak disertai kejang-kejang dan pneumoni.
       Gambaran darah tepinya berupa limfositosis dan leukopenia.
   b. Stadium erupsi
       Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema / titik merah
       dipalatum durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk
       makula papula disertai dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul

                                                                              6
       dibelakang telinga dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan
       bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan primer pada
       kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah
       bening disudut mandibula dan didaerah leher belakang. Juga terdapat
       sedikit splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari
       morbili yang biasa ini adalah “Black Measles” yaitu morbili yang disertai
       perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
   c. Stadium konvalesensi
       Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
       (hiperpigmentasi) yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada
       anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi
       ini merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit
       lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa
       hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada
       komplikasi


2.6 Komplikasi
       Adapun komplikasi yang dapat terjadi akibat inveksi virus Morbili yaitu;
   a. Otitis media akut
   b. Pneumonia / bronkopneumoni
   c. Encefalitis
   d. Bronkiolitis
   e. Laringitis obstruksi dan laringotrakhetis


2.7 Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
       Berkikut ini adalah hal-hal yang harus dikaji dalam pemeriksaan pasien
dengan kasus Morbili, antara lain:
   a. Identitas diri, terdiri dari nama, alamat, tempat tanggal lahir, tanggal
       masuk rumah sakit, data obyektif/data subyektif, no telepon dan informasi
       lain yang penting tentang pasien.

                                                                                  7
   b. Riwayat Imunisasi, diisi apakah pasien sudah pernah mendapatkan
        imunisasi, kalau iya imunisasi apa yang pernah diberikan.
   c. Kontak dengan orang yang terinfeksi
   d. Pemeriksaan Fisik :
        1) Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia
        2) Kepala : sakit kepala
        3) Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan
        hidung pada stadium erupsi.
        4) Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa
        pahit.
        5) Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler
        pada leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas
        (demam).
        6) Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi,
        sputum
        7) Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir.
        8) Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare
        9) Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan
   e. Keadaan Umum : Kesadaran, TTV
2. Diagnosa Keperawatan
        Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan kasus
        Morbili adalah:
   a. Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh
   b. Resiko kurang volume cairan
   c. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
   d. Resiko terjadi gangguan pola nafas
   e. Gangguan persepsi sensori
   f.   Gangguan integritas kulit
   g. Gangguan istirahat tidur
   h.    Intoleransi aktivitas
3. Perencanaan

                                                                                   8
    Adapun hal- hal yang perlu dirumuskan dalam menyusun perencanaan
    untuk menangani masalah keperawatan pada pasien Morbili yaitu:
a. Diagnosa keperawatan 1
     Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh bd proses inflamasi
  Data Subjektif :
    1) Pasien mengeluh pusing
    2) Pasien mengeluh panas
  Data Objektif :
    1) Suhu tubuh > 37,4
    2) Pasien tampak gelisah
    3) Mukosa mulut kering
    4) Keringat berlebihan
    5) Frekuensi pernafasan meningkat
    6) Kejang
    7) Takikardi
    8) Kulit terasa panas
  Tujuan :
    1) Suhu tubuh normal dalam jangka waktu…
  Kriteria Hasil :
    1) Suhu tubuh 36,6 – 37,4 0 C
    2) Bibir lembab
    3) Nadi normal
    4) Kulit tidak terasa panas
    5) Tidak ada gangguan neurologis ( kejang )
    6) Aktivitas sisi kemampuan
  Rencana Tindakan :
        1) Identifikasi penyebab atau factor yang dapat menimbulkan
             peningkatan suhu tubuh: dehidrasi, infeksi, efek obat, hipertiroid.
        2) Observasi fungsi neurologis : status mental, reaksi terhadap
             stimulasi dan reaksi pupil.
        3) Observasi cairan masuk dan keluar, hitung balance cairan

                                                                                   9
           4) Observasi tanda kejang mendadak
           5) Beri cairan sesuai kebutuhan bila tidak kontraindikasi
           6) erikan kompres air hangat
           7) Berikan cairan dan karbohidrat yang cukup untuk meningkatkan
               hipermetabolisme akibat peningkatan suhu.
           8) Anjurkan pasien untuk mengurangi aktivitas yang berlebihan bila
               suhu naik / bedrest total.
           9) Anjurkan dan bantu pasien menggunakan pakaian yang mudah
               menyerap keringat.
           10) Kolaborasi: Pemberian anti piretik, pemberian anti biotic,
               pemeriksaan penunjang


 b. Diagnosa Keperawatan 2
     Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan
sekunder terhadap demam.
Data Subjektif :
   1) Pasien mengeluh haus
   2) Pasien mengeluh lemah
   3) Pasien mengeluh mencret ….x/hr
   4) Pasien mengeluh muntah …x/hr
Data Objektif :
   1) TD…mmttg, N..x/mnt, S.. 0 C, RR…x/mnt
   2) Turgor kulit jelek, kulit kering
   3) Perubahan produksi urine…cc/ 24 jam
   4) Penurunan pengisian vena ( capillary refill )
   5) Volume dan tekanan nadi menurun
   6) Denyut nadi meningkat
   7) Demam, bibir kering, mata cekung, akral dingin.
Tujuan :
   1) Tidak terjadi kekurangan volume cairan tubuh dalam jangka waktu ….
Kriteria Hasil :

                                                                           10
   1) Turgor baik
   2) Produksi urine …cc/jam <0,5 – 1 cc/kg BB/jam
   3) Kulit lembab
   4) TTV dalam batas normal
   5) Mukosa mulut lembab
   6) Cairan masuk dan keluar seimbang
   7) Tidak pusing pada perubahan posisi
   8) Hb, Ht, dalam batas normal
Rencana Tindakan :
   1) Observasi penyebab kekurangan cairan : muntah, diare, kesulitan menelan,
      kekurangan darah aktif, diuretic, depresi, kelelahan
   2) Observasi TNSR…
   3) Observasi tanda – tanda dehidrasi
   4) Observasi keadaan turgon kulit, kelembaban, membran mukosa
   5) Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan bila kekurangan cairan terjadi
      secara mendadak, ukur produksi urine setiap jam, berat jenis dan observasi
      warna urine.
   6) Catat dan ukur jumlah dan jenis cairan masuk dan keluar per….
   7) Perhatikan : cairan yang masuk, kecepatan tetesan untuk mencegah edema
      paru, dispneu, bila pasien terpasang infus
   8) Timbang BB setiap hari
   9) Pertahankan bedrest selama fase akut
   10) Ajarkan tentang masukan cairan yang adekuat, tanda serta cara mengatasi
      kurang cairan
   11) Kolaborasi : pemberian cairan parenteral sesuai indikasi, pemberian obat
      sesuai indikasi, observasi kadar elektronik, Hb,Ht


 c. Diagnosa Keperawatan 3
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh : Asupan makanan yang kurang
 Data Subjektif :
   1) Pasien mengatakan mual

                                                                             11
   2) Pasien mengatakan tidak nafsu makan
   3) Pasien mengatakan susah makan
Data Objektif :
   1) Bising usus….x/mnt
   2) Mukosa mulut kering
   3) Vomitus ….cc
   4) Porsi makan : …..porsi
   5) Hb …., Albumin…..Konjungtiva dan selaput lendir pucat
   6) Terdapat bercak – bercak merah pada mukosa mulut
Tujuan :
    1) Pasien dapat memperbaiki status gizi (nutrisi ) dalam jangka waktu
    Kriteria Hasil :
    1) BB meningkat
    2) Mual berkurang / hilang
    3) Tidak ada muntah
    4) Pasien menghabiskan makan 1 porsi
    5) Nafsu makan meningkat
    6) Pasien menyebutkan manfaat nutrisi
    7) Pasien mengungkapkan kesediaan mematuhi diit
    8) Tidak ada tanda – tanda malnutrisi
    9) Nilai Hb, Protein dalam batas normal
Rencana Tindakan :
   1) Kaji pola makan pasien
   2) Observasi mual dan muntah
   3) Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat untuk kesembuhan
   4) Kaji kemampuan untuk mengunyah dan menelan
   5) Auskultasi bising usus, catat adanya penurunan atau hilangnya bising usus.
   6) Beri posisi semi fowler / fowler saat makan
   7) Identifikasi factor pencetus mual , muntah , diare, nyeri abdomen
   8) Kaji makanan yang disukai dan tidak disukai sesuai diit
   9) Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik

                                                                             12
   10) Bantu pasien untuk makan , catat jumlah makanan yang masuk
   11) Hindari makanan dan minuman yang merangsang
   12) Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan.
   13) Kolaborasi : Penatalaksanaan diit yang sesuai ( dengan ahli gizi),
       Pemberian     nutrisi parenteral,   Pemberian anti emetic,    Pemberian
       multivitamin, cara pemberian makanan tambahan.


Berikut ini merupakan intervensi yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan
anak akibat infeksi virus Morbili.
   a. Imunusasi aktif
       Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang
       telah dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain
       Edmonston B. Pelemahan berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersbut
       membawa perkembangan dan pemakaian Strain Schwartz dan Moraten
       secara luas. Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan
       imunitas yang berlangsung lama.
       Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai
       mengurang 8-10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi
       campak rutin tidak dapat dilakukan sebelum bayi berusia 15 bulan karena
       sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi
       secara baik karena masih ada antibodi dari ibu. Pada suatu komunitas
       dimana campak terdapat secara endemis, imunisasi dapat diberikan ketika
       bayi berusia 12 bulan.
   b. Imunusasi pasif
       Imunusasi pasif dengan serum oarng dewasa yang dikumpulkan, serum
       stadium penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama
       globulin plasma) yang dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif
       untuk pencegahan atau melemahkan campak. Campak dapat dicegah
       dengan serum imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB secara IM dan
       diberikan selama 5 hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.
4. Implementasi

                                                                            13
       Implementasi keperawatan dilakukan dengan mengkaji respon actual
pasien dengan menyususun prioritas intervensi mana yang akan didahulukan.
Implementasi dijalankan sesuai dengan indikasi yang terlihat dari respon pasien.
Intervensi yang telah disusun tidak harus semuanya dilakukan, namun perawat
secara pemikiran kritis harus dapat dengan bijak menentukan mana inntervensi
yang benar-benar harus dijalankan.


5. Evaluasi dan Pe rencanaan Pe mulangan
   Jika kriteria hasil telah tampak sesuai dengan yang diharapkan pada inntervensi
   dan masalah keperawatan telah terselesaikan maka perawat terlebih dahulu
   harus mengaji secara holistic terkait kondisi actual pasien tentang ada atau
   tidaknya masalah baru yag muncul. Apabila semua masalah telah teratasi maka
   perawat bersama keluarga bersama-sama berdiskusi untuk              melakukan
   perencanaan pemulangan. Perencanaan pemulangan merupakan kep utusan
   bersama yang diambila antara perawat dengan pasien dan bertujuan unntuk
   meningkatkan kemandirian pasien untuk melakukan perawatan dirumah.
   Berikut hal- hal yang harus dipastikan oleh perawat kepad keluarga pasien
   terkait rencana pemulangan:
    a. Jelaskan terapi yang diberikan : dosis, efek samping
    b. Melakukan imunisasi jika imunisasi belum lengkap sesuai dengan
       prosedur
    c. Menekankan pentingnya kontrol ulang sesuai jadwal
    d. Informasikan jika terdapat tanda-tanda terjadinya kekambuhan




                                                                               14
                                         BAB 3
                                      PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
        Morbili adalah penyakit anak yang menular yang lazim biasanya ditandai
dengan gejala- gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau
demam,scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi. Penyebabnya adalah virus
morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama masa prodormal
sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini berupa virus RNA yang
termasuk family Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. Cara penularannya dengan
droplet infeksi.
        Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan
kekebalan seumur hidup. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil
1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia
menderita morbili pada trimester I,II atau III maka ia akan mungkin melahirkan
seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR atau lahir
mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.
        Masa inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari yang
dibagi dalam 3 stadium yaitu, Stadium kataral (prodormal), Stadium erupsi,
Stadium konvalesensi. Adapun komplikasi yang dapat terjadi akibat inveksi virus
Morbili yaitu, Otitis media akut, Pneumonia, Encefalitis, Bronkiolitis, Laringitis
obstruksi dan laringotrakhetis. Diagnosa keperawatan      yang mungkin muncul
pada pasien dengan kasus Morbili adalah:
        1. Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh bd proses inflamasi
        2. Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan
            kehilangan sekunder terhadap demam.
        3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh : Asupan makanan
            yang kurang.



                                                                               15
3.2 SARAN
   1. Bagi mahasiswa diharapkan dapat mengetahui penyakit morbili serta
      masalah yang ditimbulkannya.
   2. Bagi masyarakat diharapkan dapat menerapkan pola hidup sehat.




                                                                      16
                           DAFTAR PUSTAKA
   Cacpenito, Lynda juall& Moyet. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan
    Edisi 10. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran – EGC.
   Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Jakaeta: Media
    Aesculapius.
   Wong, Donna, L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta:
    Penerbit Buku Kedokteran – EGC.
   Nelson. 2000. Ilmu Kesehataan Anak vol 2. Jakarta: penerbit Buku
    Kedokteran - EGC




                                                                        17

								
To top