Docstoc

Ilmuan Muslim

Document Sample
Ilmuan Muslim Powered By Docstoc
					”PEMIKIRAN IBNU RUSYD”

Kelompok : Victor Efendi 108093000058 Ibadurrahman Asshiddiqi 108093000058

JURUSAN SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH 2008-2009

KATA PENGANTAR
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Sang pemberi karunia ilmu yang tidak satu ilmupun yang kita miliki melainkan yang telah Ia berikan kepada kita, Ialah Allohu Samiun 'alim. Sholawat serta salam semoga tercurah dan terlimpah kepada sang pemimpin ilmu, pembawa cahaya ilmu, pengangkat derajat para penuntut ilmu ialah Nabi Besar Muhammad SAW juga beserta keluarga, sahabatnya, dan moga kita juga mendapatkan cucuran rahmat dari ilmu beliau. Amien.

Dalam makalah ini kami menyajikan berbagai permasalahan dalam ruang lingkup pembahasan FILSAFAT IBNU RUSYD serta sejarah singkat IBNU RUSYD. Dan kami sangat berharap makalah yang kami buat ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi pembaca sekalian dan menjadi konstribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan Islam itu sendiri.

Kami mengucapkan mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam pengeditan atau salah dalam penggunaan bahasa, semua tidak lepas dari kodrat kami sebagai manusia yang selalu belajar dari kesalahan-kesalahan untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik. Demi kesempurnaan makalah yang kami buat, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian.

Jakarta, 07 Mei 2009

Tim Penulis

DAFTAR ISI

Kata pengantar.................................................................................. Daftar isi ..........................................................................................

I II

BAB I Pendahuluan..................................................................................... BAB II
Sejarah Singkat Ibnu Rusyd................................................................... 2

1

Pemikiran Ibnu Rusyd......................................................................
Filsafat Ibnu rusyd ...............................................................................

3 5

BAB III Kesimpulan ..................................................................................... Daftar Pustaka 9

BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai “Kadi” (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum. Bayak oarang belum mengenal IBNU RUSYD.tentang pemikiran beliau, filsafatfilsafat beliau. Oleh karena itu, penulis merasa sangat penting membahas tentang IBNU RUSYD.

RUMUSAN MASALAH Dengan mempelajari IBNU RUSYD, kita dapat memahami tentang : A. Sejarah IBNU RUSYD B. Pemikirannya C. Filsafat-filsafatnya Pemikiran Ibnu Rusyd : 1. 2. 3. 4. Pluralisme dalam ijtihad. Kebebasan dan tradisi kritik Dialog Antar agama Kontrol atas Kebijakan Politik

Adapun filsafat Ibnu Rusyd adalah : 1. 2. 3. 4. Agama dan Filsafat Tingkat Kemampuan Manusia Kebahagiaan Akal dan Jiwa manusia

BAB 2 PEMBAHASAN

Sejarah Singkat
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Kota ini menyimpan banyak kenangan dan kebanggaan. Kejayaan kota tersebut dapat disejajarkan dengan kota metropolitan lainnya, seperti Baghdad, Athena, Alexandria dan Roma. Salah satu keistemawaan Cordoba adalah perhatian yang cukup besar terhadap kebudayan dan ilmu pengetahuan. Ibnu khaldun pernah mengungkapkan, al-Muntashir Billah (julukan ibnu rusyd) merupakan seorang pemimpin yang mempunyai perhatian besar terhadap kepustakaan. Buktinya, ia mengirimkan dana cukup besar untuk kepentingan belanja buku, baik dari pengarangnya langsung maupun melalui para ajudannya. Sedangkan Ibnu Zahar, teman dekat Ibnu Rusyd mengisahkan, apabila sorang penduduk Sevilla meninggal dunia dan ingin menjual buku-buku peninggalannya hendaklah pergi ke Cordoba. Sedangkan jika pemusik asal Cordoba meninggal dunia dan ingin menjual alat-alat musiknya hendaklah pergi ke Sevilla. Kisah ini hendak hendak menyatakan bahwa Cordoba merupakan salah satu kota ilmu, sedang Sevilla adalah kita seni, terutama seni musik yang memang ketika itu berkembang cukup pesat. Kondisi objektif kota kebudayaan tersebut telah memacu minat ibnu Rusyd terhadap ilmu pengetahuan. Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja. Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak

orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Pemikiran Ibnu Rusyd
Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada. Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya. Disamping itu, buah pemikiran Ibnu Rusyd. Sejak delapan abad lalu, Ibnu Rusyd sedah mengingatkan kita tentang pentingnya filsafat. Sebagai seorang filsuf, tabib, dan ulama, Ibnu Rusyd sebenarnya telah memberikan jalan kepada kita untuk menjadi sorang Muslim Progresif. Menurutnya, seorang muslim yang baik adalah yang bias merepresentasikan zaman, di saat dan dimana ia hidup. Seorang muslim harus menggunakan akalnya agar tidak terbelakang. Karena itu tak heran jika pandanganpandangan Ibnu Rusyd senantiasa menyegarkan dan mendewasakan wawasan keagamaan kita, sebagaimana tercermin dalam beberapa hal berikut:

1) Pluralisme dalam ijtihad.
Ibnu Rusyd adalah seorang hakim agama (qadhy) di Sevilla (1169) dan Kepala Hakim Agama di Cordoba (1182). Dalam kapasitasnya sebagai pemilik otoritas dalam masalah keagamaan, Ibnu Rusyd tidak serta merta menggunakan otoritas tersebut sebagai tangan besi untuk menyimpulkan sebuah hokum secara hitam-putih. Dalam ranah hokum Islam (fiqh), ia seringkali menekankan pentingnya keragaman ijtihad. Ibnu Rusyd sebenarnya ingin memberikan pelajaran berharga, bahwa elemen terpenting dalam fikih ialah menguraikan dimensi moral etik di balik hokum dan memahami proses ijtihad. Artinya, setiap hokum yang akan difatwakan sejatinya dapat dipertimbangkan kemaslahatan umum.

2) Kebebasan dan tradisi kritik

Ibnu Rusyd hidup di masa kegelapan dan terpasungnya kebebasan berpikir. Saat itu, filsafat dikubur hidup-hidup, terutama setelah difatwa sesat (kafir’) dan rancu (muthafit) oleh Imam al-Ghazali dalam Thahafut al-Falasifah. Karena itu, langkah Ibnu Rusyd kemudian adalah mengkritisi sejumlah kitab yang selama ini mengharamkan filsafat dengan menulis kitab bertajuk Tahafut at-Tahafut seraya mengeluarkan fatwa “pentingnya berpikir dan berfilsafat”, sebagaimana ditulis secara satir di kitab Fashi alMaqal fi ma bayna al-Hikmah wa asy-Syari’ah min al-Ittishal. Menurutnya. Ibnu Rusyd menambahkan, persoalan kalam (teologi) semestinya tidak melulu didekati dengan pendekatan tekstual, melainkan juga dengan filsafat, yaitu melalui mekanisme takwil yang berlandaskan analogi demonstrative (al-qiyas al-burhany). Atas dasar itu, Ibnu Rusyd menolak pengkafiran terhadap kaum filsuf, karena filsafat dan pikir merupakan ajaran Islam yang otentik.

Ibnu Rusyd kerapkali melancarkan kritik terhadap para ulama, baik yang hidup pada masa sebelumnya maupun yang semasa dengannya. Kritiknya ini dilancarkan bukan demi menjatuhkan lawan, seperti dilakukan kaum sofis dalam tradisi yunani atau kaum teolog (mutakallimun) dalam tradisi Islam. Kritik Ibnu Rusyd ialah dalam rangka meluruskan paradigma berpikir. Ketika mengkritik kalangan Asy’arinyah misalnya, Ibnu Rusyd amat meyangkan penggunaan inderawi terhadap sesuatu yang abstrak. Paradigma seperti ini, bagi Ibnu Rusyd, sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena hal-hal transenden tidak bisa disentuh dengan indera manusia. Dalam banyak hal kalangan Asy’ariyah telah terjebak dalam kekeliruan paradigmatic.

3) Dialog Antaragama

Ibnu Rusyd menghendaki agar filsafat dijadikan jembatan untuk menerima kebenaran dari pihak lain, bahkan yang berbeda sekalipun. Di kitab Fashl al Maqal fi ma bayna al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittisal Ibnu Rusyd menulis, “jika kita menemukan kebenaran dari mereka yang berbeda agama, kita mesti menerima dan menghormatinya”. Ibnu Rusyd memandang bahwa perbedaan agama tidaklah menjadi penghalang untuk membangun jembatan dialog. Kunci dari keterbukaan Ibnu Rusyd untuk melakukan dialog dengan umat-umat lain adalah kecenderungannya pada filsafat. Karena filsafat baginya merupakan salah satu pintu menuju kearifan dan kemuliaan hidup.

4) Kontrol atas kebijakan politik

Hal penting yang mendarah daging dalam karakter Ibnu Rusyd adalah control terhadap kebijakan peguasa. Menurutnya, otoritarianisme berpotensi membunuh kepentingan kolektif. Karena itu, ia selalu berbeda pendapat dengan khalifah, bahkan tak jarang memanggil sang khalifah dengan “wahai saudaraku”. Dan sikap seperti inilah yang menjadi satu dari beberapa sebab kenapa ibnu Rusyd mengalami inkuisi (mihnah fikriyah) dan diasingkan oleh khalifah Lucena, kepulauan Atlantik, 1195. Dari sini, catatan terpenting adalah perlunya control terhadap penguasa. Ibnu Rusyd mempunyai harapan agar politik tidak hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan. Perebutan kekuasaan bukanlah fenomena asing pada waktu itu. System politik umat Islam yang dibangun di atas system klan telah memunculkan perebutan kekuasaan yang amat dahsyat. Sementara itu, umat Islam tidak mempunyai filsafat politik yang baik untuk menjawab masalah-masalah tersebut. Ketika para ulama terseret untuk hanya focus

belajar ilmu-ilmu agama, maka ilmu-ilmu social yang berkaitan dengan ilmu tata masyarakat cenderung diabaikan.

FILSAFAT IBNU RUSYD
Sebagai komentator Aristoteles tidak mengherankan jika pemikiran Ibnu Rusyd sangat dipengaruhi oleh filosof Yunani kuno. Ibnu Rusyd menghabiskan waktunya untuk membuat syarah atau komentar atas karya-karya Aristoteles dan berusaha mengembalikan pemikiran Aristoteles dalam bentuk aslinya. Di Eropa latin, Ibnu Rusyd terkenal dengan nama Explainer (asy-Syarih) atau juru tafsir Aristoteles. Sebagai juru tafsir martabatnya tak lebih rendah dari Alexandre d’Aphrodise (filosof yang menafsirkan filsafat Aristoteles abad ke-2 Masehi) dan Thamestius. Dalam beberapa hal Ibnu Rusyd tidak sependapat dengan tokoh-tokoh filosof muslim sebelumnya, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina dalam memahami filsafat Aristoteles walaupun dalam beberapa persoalan filsafat ia tidak bisa lepas dari pendapat dari kedua filosof muslim tersebut. Menurutnya pemikiran Aristoteles telah bercampur baur dengan unsur-unsur Platonisme yang dibawa komentator-komentator Alexandria. Oleh karena itu, Ibnu Rusyd dianggap berjasa besar dalam memurnikan kembali filsafat Aristoteles. Atas saran gurunya, Ibnu Thufail yang memintanya untuk menerjemahkan fikiran-fikiran Aristoteles pada masa dinasti Muwahhidun tahun 557-559 H. Namun demikian, walaupun Ibnu Rusyd sangat mengagumi Aristoteles bukan berarti dalam berfilsafat ia selalu mengekor dan menjiplak filsafat Aristoteles. Ibnu Rusyd juga memiliki pandangan tersendiri dalam tema-tema filsafat yang menjadikannya sebagai filosof Muslim besar dan terkenal pada masa klasik hingga sekarang.

1) Agama dan Filsafat
Ibnu Rusyd adalah tokoh yang ingin mengharmoniskan agama dan filsafat. Di antaranya tidak terdapat dua kebenaran yang kontradiktif, tetapi sebuah kebenaran tunggal yang dihadirkan dalam bentuk agama, dan melalui takwil, menghasilkan

pengetahuan filsafat. Agama adalah bagi setiap orang, sedangkan filsafat hanya bagi mereka yang memiliki kemampuan-kemampuan intelektual yang memadai. Meskipun demikian, kebenaran yang dijangkau suatu kelompok tidaklah bertentangan dengan kebenaran yang ditemukan kelompok lain.

Seperti al-Kindi, Ibnu Rusyd juga berpendapat bahwa tujuan filsafat adalah memperoleh pengetahuan yang benar dan berbuat benar. Dalam hal ini, filsafat sesuai dengan agama. Sebab tujuan agama-pun tidak lain adalah untuk menjamin pengetahuan yang benar bagi umat manusia dan menunjukkan jalan yang benar bagi kehidupan yang praktis. Agama dan filsafat adalah sejalan dan memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mencapai pengetahuan yang benar. Dengan demikian, berfilsafat secara benar dengan menggunakan metode ilmu mantiq yang benar pula, akan didapat pengetahuan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.

2. Tingkat Kemampuan manusia
Dalam hal ini Ibnu Rusyd membuat perbedaan tingkat kapasitas dan kemampuan manusia dalam menerima kebenaran menjadi tiga kelompok. Mereka adalah kelompok yang menggunakan metode retorik (khathabi), metode dialektik (jadali) dan metode demonstratif (burhani). Metode yang pertama dan kedua dipakai oleh manusia awam, sedangkan metode yang ketiga merupakan pengkhususan yang diperuntukkan bagi kelompok manusia yang tingkat intelektual dan daya kemampuan berfikirnya tinggi. Tingkat kemampuan manusia ini terkait dengan masalah pembenaran atau pembuktian atas sesuatu yang dipengaruhi oleh kapasitas intelektualnya. Ibnu Rusyd menjelaskan, bagi manusia, adanya tingkatan pembuktian kebenaran secara burhani, jadali dan khatabi, karena kemampuan manusia dalam menerima kebenaran itu berbedabeda dan beragam. Pengelompokan ini, menurut Ibnu Rusyd sesuai dengan semangat alQur’an yang mengajarkan umat Islam untuk mengajak manusia kepada kebenaran dengan jalan hikmah, pelajaran yang baik dan debat yang argumentatif.Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu dengan cara hikmah, pengajaran yang baik dan ajak bicaralah (debat) mereka dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang sesat di jalan-Nya dan Ia juga lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk. (al-Nahl: 125)

3. Kebahagiaan
Mengenai konsep kebahagiaan, Ibnu Rusyd sejalan dengan ide al-Farabi dan Ibnu Sina bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan pencapaian dan kebahagiaan spiritual. Derajat kesempurnaan tertinggi ialah jika seseorang menembus tabir dan melihat dirinya aspek demi aspek di hadapan realitas-realitas. Ibnu Rusyd menolak jika kesederhanaan dan kejumudan orang-orang tasawuf merupakan sarana untuk menyendiri dan berhubungan dengan Tuhan. Dengan demikian ia tidak bisa menerima anggapan kaum sufi bahwa kebahagiaan seseorang dapat dicapai tanpa ilmu pengetahuan. Ibnu Rusyd percaya bahwa konsep kebahagiaan hanya dapat dicapai melalui akal aktual dan ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa sejak bayi dilahirkan, ia sudah membawa kesiapan untuk menerima pengetahuan-pengetahuan umum sehingga jika ia mulai belajar, maka kesiapan ini berubah menjadi akal aktual. Akal ini selalu berkembang dan meningkat sampai ia bisa berhubungan dengan akal yang tidak ada pada benda dan daripadanya mengambil pancaran ilham. Akal yang sudah sampai kepada tahap menerima pancaran ilham merupakan kesempurnaan tertinggi. Sedangkan jalan yang akan menuntun untuk mencapainya, ialah perkembangan segala pengetahuan dan peningkatan persepsi manusia. Karena ilmu pengetahuan semata-mata adalah jalan kebahagiaan dan hubungan dengan alam akal dan alam ruh.

4. Akal dan Jiwa Manusia
Manusia menurut Ibnu Rusyd, mempunyai dua gambaran yang dalam bahasa Arab disebut ma’ani . Kedua gambaran itu dinamakan percept (perasaan) dan concept (pikiran). Perasaan adalah gambaran khusus yang dapat diperoleh dengan pengalaman yang berasal dari materi. Ibnu Rusyd memberi perbedaan antara perasaan dan akal. Pemisahan ini memperlihatkan kecenderungan Ibnu Rusyd dalam memisahkan antara pengetahuan akali (aqli) dengan pengetahuan inderawi (naqli). Dengan sendirinya kedua pengetahuan ini berbeda dalam hal cara manusia memperolehnya. Pengetahuan inderawi diperoleh dengan percept (perasaan), sedangkan pengetahuan aqli diperoleh lewat akal, pemahamannnya dilakukan dengan penalaran atau pikiran.

Akal sendiri dibagi menjadi dua jenis, yang pertama disebut akal praktis dan yang kedua adalah akal teoritis. Akal praktis memiliki fungsi sensasi, di mana akal ini dimiliki oleh semua manusia. Di samping memiliki fungsi sensasi, akal praktis juga memiliki pengalaman dan ingatan. Sedangkan akal teoritis mempunyai tugas untuk memperoleh pemahaman (konsepsi) yang bersifat universal

BAB 3 KESIMPULAN
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja. Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum. Pemikiran Ibnu Rusyd : 5. Pluralisme dalam ijtihad. 6. Kebebasan dan tradisi kritik 7. Dialog Antar agama 8. Kontrol atas Kebijakan Politik Adapun filsafat Ibnu Rusyd adalah :

5. Agama dan Filsafat 6. Tingkat Kemampuan Manusia 7. Kebahagiaan 8. Akal dan Jiwa manusia

DAFTAR PUSTAKA

Zuhairi Misrawi, Ibnu Rusyd “Gerbang Pencerahan Timur dan Barat”, PPPM : Jakarta, 2007

Ibnu Rusyd, Kaitan Filsafat Dengan Syari’at, judul asli, Fashl al-Maqal fi ma baina alHikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal, terj. Ahmad Shodiq Noor, Pustaka Firdaus,

Jakarta, 1996 Ahmad Fuad al-Ahwani, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus, cetakan kedelapan, Jakarta, 1997 Seyyed Hossein Nasr, Intelektual Islam, terj. Suharsono & Djamaluddin M.Z., Pustaka pelajar, Yogyakarta, 1996 Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam, terj. Amin Abdullah, Rajawali, Jakarta, 1989 Miska Muhammad Amin, Epistemologi Islam, UI-Press, Jakarta, 1983 http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Rusyd Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1996


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:2441
posted:6/24/2009
language:Indonesian
pages:15
Description: Pemikiran Ilmuan Muslim: Ibnu Rusdy