Memberdayakan Pendidikan Keluarga by celcomtek

VIEWS: 169 PAGES: 7

									                  MEMBERDAYAKAN PENDIDIKAN KELUARGA

Bab I: Pendahuluan

Melihat tantangan masa mendatang bahwa umat manusia dihadapkan pada kehidupan yang
penuh dengan ketidakpastian dan perubahan yang begitu pesat, maka sebagai implikasinya
adalah setiap orang atau setiap keluarga mempunyai tanggung jawab untuk ikut berkiprah.
Keluarga merupakan homebase atau pangkalan pertama bagi setiap anggotanya sebagai
individu agar dapat mengaktualisasikan diri dalam budaya untuk terus belajar sehingga
diharapkan mampu menghadapi tantangan tersebut.

Ditengah gelombang ketidak pastian dan perubahan dalam wujud modernisasi dan globalisasi,
anggota keluarga perlu secara bersama-sama dan saling mendukung menciptakan suasana
yang baik dalam mempertahankan nilai-nilai luhur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara serta membangun nilai-nilai masyarakat yang luas untuk mencapai kemajuan dan
keberhasilan masa depannya. Keluarga juga merupakan kontrol sosial yang kuat dalam
membangun nilai-nilai luhur masyarakat yang lebih luas. Dalam hubungan ini, pendidikan
keluarga merupakan modal utama dalam membangun masyarakat yang madani pada
kehidupan global dan modern tersebut.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan
bahwa pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang
diselenggarakan dalam keluarga. Sementara itu, GBHN Tahun 1999-2004 dalam arah
kebijakan tentang pendidikan antara lain menyatakan bahwa: "Memberdayakan lembaga
pendidikan baik sekolah maupun luar sekolah sebagai pusat pembudayaan nilai, sikap, dan
kemampuan, serta meningkatkan partisipasi keluarga dan masyarakat yang didukung oleh
sarana dan prasarana memadai".

Penjelasan umum Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar
Sekolah menyebutkan bahwa: "Pendidikan luar sekolah yang sangat mendasar sifatnya adalah
pendidikan keluarga. Meskipun pendidikan keluarga amat penting, yang bahkan meletakkan
dasar-dasar kesiapan hidup sebagai anggota masyarakat, pengaturannya merupakan
wewenang keluarga yang bersangkutan". Oleh sebab itu, peran keluarga sebagai pendidik
utama bagi anak-anaknya perlu di berdayakan melalui cara-cara yang terarah dan jelas.

Yang dimaksud dengan memberdayakan pendidikan keluarga dalam saran pertimbangan ini
adalah mengembangkan pendidikan anak di dalam keluarga. Hal ini sangat perlu diperhatikan
karena keluarga merupakan lingkungan pertama dalam pembentukan kepribadian dan
kemampuan anak. Selama ini disimak bahwa kualitas manusia Indonesia bila ditilik kembali
akan sangat tergantung pada bagaimana anak itu dididik di dalam keluarga.

Pendidikan keluarga bertujuan untuk membuat anak berhasil dalam hidup di masyarakat maju
yang berkeadilan dan berkemakmuran. Untuk itu, kualitas yang dikembangkan adalah secara
menyeluruh baik fisik, mental, spiritual, moral, sosial, sesuai dengan makna dan semangat
yang tercantum dalam Konvensi Hak-hak Anak, agar diperoleh kualitas anak yang memiliki
nilai-nilai universal tetapi masih mempertahankan budaya masyarakat itu sendiri.


                                           1
Dari memorandum pandangan (saran pertimbangan) BPPN tahun 1996 yang berjudul
"Peranan dan Tanggung Jawab Keluarga dalam Pendidikan Anak", diartikan bahwa keluarga
adalah kelompok terkecil (keluarga inti) dalam masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri
dari Bapak dan/atau Ibu, beserta anak yang menjadi tanggungannya. Pendidikan anak dalam
keluarga adalah pendidikan anak yang dilakukan oleh orang tua maupun anggota keluarga
lainnya, berkenaan dengan pembentukan sikap, perilaku, dan kepribadian serta daya cipta
yang sesuai dengan norma-norma agama dan sosial.

BAB II: PERMASALAHAN

   1. Pendidikan dalam keluarga selama ini sedikit sekali dibicarakan atau ditangani secara
      sadar dan belum ada konsep yang jelas, sehingga anak cenderung tumbuh dan
      berkembang secara alamiah. Padahal pertumbuhan dan perkembangan anak sangat
      tergantung pada lingkungan keluarga, yaitu bagaimana keluarga tersebut memfasilitasi
      potensi anak dalam membentuk kepribadian dan kualitas hidupnya.
   2. Keadaan keluarga dalam masyarakat Indonesia sangat heterogen bila dilihat dari
      berbagai aspek, yaitu latar belakang keluarga, agama, suku, lingkungan, ekonomi,
      sosial, dan latar belakang pendidikan serta nilai-nilai yang dianutnya, sehingga
      pendidikan dalam keluarga sangat beraneka ragam.
   3. Banyak keluarga yang kurang memberikan perhatian dan tanggung jawab untuk
      mendidik anaknya. Keluarga tersebut antara lain adalah: (a) orang tua yang
      mengutamakan karir. Meskipun orang tua tersebut mempunyai kemampuan mendidik,
      tetapi kurang memiliki waktu untuk mendidik anaknya, (b) orang tua yang mempunyai
      banyak kesempatan bersama-sama dengan anak-anaknya, tetapi kurang pengetahuan
      dan kemampuan dalam mendidik anaknya baik dalam membina kesehatan dan
      gizinya, pengembangan potensi anak dan pengembangan kepribadiannya. (c) orang-
      tua yang tidak harmonis dalam menjaga keutuhan keluarga, sehingga memberikan
      dampak negatif pada anak itu sendiri. Hal yang perlu diperhatikan bahwa masih
      banyak calon orang tua kurang mempersiapkan diri dalam membangun keluarga dan
      belum ada pendidikan pranikah khusus untuk membangun keluarga.
   4. Lingkungan yang kurang mendukung terciptanya pendidikan keluarga antara lain
      kehadiran elektronik, internet, yang selain memuat tayangan/informasi positif di dapat
      banyak tayangan/informasi yang berdampak negatif (cyber crime).
   5. Ada ketidakseimbangan antara pendidikan di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat
      yang masing-masing mempunyai tujuan berbeda.
   6. Selama ini anak lebih dituntut untuk selalu patuh mengikuti kehendak orangtua tanpa
      diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

BAB III: ANALISIS PERMASALAHAN

1. Pada umumnya pendidikan keluarga berlangsung secara alamiah menurut lingkungan
orangtua yang membesarkannya, bukan merupakan sesuatu yang mereka peroleh melalui
pendidikan khusus sebelum mereka melakukan kehidupan berkeluarga. Mereka mendidik
anaknya sama dengan ketika orangtuanya mendidik mereka. Oleh karena itu, cara orangtua
mengajar mereka dahulu juga dipraktekkan kepada anaknya. Dengan demikian apa yang
dilakukan sekarang sama dengan yang dilakukan orangtuanya dahulu. Kebiasaan didalam
keluarga akan tetap diikuti dan dianut oleh anak-anak dan generasi berikutnya sebagai suatu
Belief System. Belief System ini dimaksudkan sebagai gagasan atau pemikiran orangtua
                                             2
tentang pendidikan dan perkembang anaknya. Artinya apa yang dipikirkan orangtua untuk
mengasuh, merawat, membesarkan, mendidik, mengarahkan, dan membina anaknya betul-
betul merupakan pikiran yang diperoleh dari pengalaman hidup orangtuanya sesuai dengan
budaya yang dimilikinya, latar belakang pendidikan dan ilmu pengetahuan yang didapat dari
sumber-sumber lainnya. Dalam kaitan dengan tantangan dan dinamika perubahan yang
demikian pesat dan seiring dengan konsep optimalisasi pendidikan kualitas anak diperlukan
upaya nyata pemberdayaan pendidikan keluarga yang sengaja dirancang untuk dilaksanakan.

2. Indonesia adalah bangsa yang sangat heterogen dilihat dari berbagai aspek. Adanya
heterogenitas bangsa khususnya dalam aspek kemiskinan, etnis yang berbeda, dan pendidikan
yang kurang membawa peluang mudahnya timbul konflik. Belakangan ini peluang tersebut
telah menjadi kenyataan, antara lain, perkelahian antarwarga, antardesa, antarpelajar, dan
antaretnis. Juga tindakan dari warga yang main hakim sendiri yang menjurus pada anarkisme.
Peristiwa seperti itu tidak terjadi dengan serta merta, tetapi melalui proses panjang yang
terakumulasi dari lemahnya pembentukan karakter bangsa yang luhur didalam keluarga.

Dalam upaya pemberdayaan pendidikan keluarga pada masyarakat yang heterogen, perlu
dilakukan penanganan secara spesifik, tetapi didasarkan pada suatu konsep umum yang
bersumber pada pemikiran-pemikiran baru dalam pembangunan kualitas anak yang kemudian
dapat diterapkan sesuai dengan situasi keluarga dalam masyarakat. Konsep umum tersebut
adalah untuk mewujudkan anak berkualitas dan mempunyai kepribadian luhur dan erat
kaitannya dengan budaya dalam keluarga, dalam arti nilai-nilai yang dianutnya hendaknya
mampu melestarikan nilai-nilai masyarakat yang luhur, tetapi juga mampu
menyesuaikan/mengubah nilai-nilai budaya yang cocok untuk menghadapi tantangan masa
depan. Oleh sebab itu, yang perlu diberdayakan adalah membantu para orangtua agar mampu
mendidik anaknya.

3. Peran pendidikan keluarga sebagaimana telah diuraikan di atas akan sangat menentukan
terbentuknya karakter bangsa yang luhur. Pernyataan ini didukung oleh suatu studi di
Amerika bahwa hasil akhir anak didik yang terbesar adalah dari pengaruh pendidikan
keluarga, bukan dari sekolah.

Di beberapa negara pendidikan keluarga diberikan kepada pasangan yang akan berkeluarga
seperti yang terjadi di Singapura yang diselenggarakan oleh Majelis Ugama Islam Singapura
(MUIS) dan Malaysia. Pasangan tersebut wajib mengikuti kursus selama tiga bulan atau lebih
sampai dinyatakan lulus. Pada tahap berikutnya setelah mereka mempunyai anak mereka
diberi bekal bagaimana mendidik anak. Di Indonesia sebagian besar pasangan yang akan
membina rumah tangga belum melalui persiapan yang baik dengan mengikuti kursus seperti
itu. Lembaga-lembaga keagamaan selama ini memiliki tradisi untuk melakukan
pembinaan/kursus bagi pasangan yang akan menikah, sehingga turut membantu dalam
memantapkan keluarga, tetapi upaya tersebut belum maksimal sehingga banyak keluarga
muda yang rapuh/tidak harmonis. Kenyataan ini diperkuat oleh fakta yang menunjukkan
bahwa dari angka perkawinan sebanyak kira-kira 2 juta pasangan terjadi perselisihan
perkawinan sekitar 40% dan 15% diantaranya sampai pada perceraian. Hanya 0,01% dari
angka perceraian tersebut yang rujuk kembali. Di Singapura angka perceraian hanya 0,05%.

Namun tidak dapat diingkari bahwa pasangan yang akan berkeluarga untuk generasi sekarang
telah mulai menyimak konsep-konsep baru tentang pendidikan anak, tetapi hasilnya belum
                                            3
cukup memadai dan belum aktif dilakukan oleh banyak orang. Bila sebuah keluarga sudah
mempunyai anak maka keluarga tersebut harus berbudaya, senantiasa menyimak informasi
yang terus berkembang, mampu memberikan wawasan kepada anak-anaknya. Orangtua harus
menjadi fasilitator, memberikan contoh sebagai panutan, dan memelihara komunikasi antar
keluarga. Yang penting pula menciptakan lingkungan yang mendukung, memberi peluang,
mendorong dan yang melindungi hak-hak anaknya baik fisik (termasuk kesehatan dan
gizinya), maupun mental dan spiritual. Dalam segala upaya mengutamakan kepentingan anak,
memberi perlakuan yang sama kepada anak laki-laki dan perempuan (gender
nondiscrimination). Secara singkat keluarga mengembangkan kemampuan anak secara total
dan mencapai kualitas yang andal dalam mempersiapkan anak selain untuk masa depannya
juga kelak dalam memasuki jenjang berkeluarga.

Untuk itu bimbingan dan penyuluhan bahkan dimulai sejak anak sebelum menentukan
pilihan/pasangan. Kemudian pendidikan keluarga berlanjut diberikan pada usia anak balita,
usia dimana si anak tidak berada di pendidikan formal. Di usia sekolah keluarga merupakan
fasilitator, evaluator, dan pengawas. Pada usia remaja keluarga memberikan wawasan untuk
memasuki jenjang keluarga.

4. Kehadiran informasi yang mempunyai dampak negatif baik melalui media elektronik
maupun media cetak seperti tindakan kekerasan, pornografi, dan perilaku menyimpang
lainnya merupakan dampak yang sangat berarti dalam mengembangkan kualitas anak. Sangat
disayangkan bahwa cyber crime justru dilakukan oleh orang yang memiliki intelektualitas
tinggi tetapi kurang bermoral. Dalam menghadapi masalah ini kontrol sosial yang dilakukan
oleh pemerintah dan masyarakat perlu dikendalikan dan diimbangi dengan tayangan positif.

5. Pendidikan anak meliputi pendidikan intelektual, pendidikan kultural dan pendidikan
spiritual. Dalam prosesnya ketiga aspek pendidikan tersebut tidak berjalan secara seimbang.

Pendidikan sebetulnya adalah pengembangan wawasan berpikir. Kenyataan menunjukkan
bahwa pada umumnya wawasan berpikir orangtua masih terbatas. Dengan keterbatasan itu,
sebagian orangtua belum menyadari akan pentingnya pendidikan bagi anaknya, sehingga
mereka cenderung tidak ingin menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Ada kecenderungan bahwa orang tua merasa telah lepas dari tanggung jawab pendidikan
anaknya bila telah menyerahkan anaknya ke sekolah/lembaga pendidikan lainnya. Orangtua
tersebut mempercayakan pendidikan anaknya sepenuhnya kepada guru di lembaga pendidikan
tersebut, sehingga kalau terjadi sesuatu hal yang negatif terhadap anaknya, orangtua
cenderung menyalahkan guru. Di samping itu, tidak sedikit orang tua yang mempercayakan
pendidikan anaknya kepada asuhan baby sitter atau pembantu rumah tangga. Sebetulnya
sudah ada wahana-wahana di masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan
wawasan berpikir keluarga, misalnya melalui posyandu, pertemuan majelis taklim, dan arisan
warga. Dalam pertemuan tersebut dapat diberikan pendidikan tentang kesehatan, tanggung
jawab keluarga, pembentukan anak berkualitas, percaya diri, dan peran orangtua agar menjadi
panutan bagi anaknya.

Selama ini fungsi edukatif di dalam keluarga masih sangat lemah. Oleh karena itu, perlu
dilakukan identifikasi bidang-bjidang apa saja yang seharusnya menjadi tanggung jawab
keluarga dan yang menjadi tanggung jawab sekolah.
                                            4
Selanjutnya, berkaitan dengan peran dan tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan
anaknya di sekolah ada sebuah lembaga yang berperan menjembatani orangtua dengan
sekolah yaitu Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG) dan Badan Pembantu
Penyelenggara Pendidikan (BP3). Pada kenyataannya POMG dan BP3 yang semula
diharapkan dapat membantu mengatasi dan memecahkan persoalan yang dihadapi sekolah
dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar di sekolah, pada akhir-akhir ini cenderung
hanya membantu mengatasi masalah kesulitan dana. Padahal seharusnya POMG dan BP3
diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama antara sekolah dan keluarga. Hal
ini sebagaimana yang telah dilakukan antara lain oleh ITB dengan mengembangkan konsep
bahwa mahasiswa tidak hanya diperlakukan sebagai individu yang menempuh ilmu, tetapi
juga diperlakukan sebagai anak dalam keluarga besar ITB. Para dosen tidak hanya berperan
dalam pengajaran, tetapi juga mempunyai tanggung jawab sebagai wali bagi para orangtua
mahasiswa. Sebaliknya orangtua mahasiswa tidak hanya berperan untuk memperhatikan
anaknya sendiri melainkan juga harus memperhatikan kepentingan mahasiswa lainnya
sebagaimana anaknya sendiri. Oleh sebab itu, perlu dipikirkan upaya pemberdayaan POMG
dan BP3 sebagai lembaga yang dapat mendidik kepribadian anak, melalui program yang
dirancang untuk itu.

6. Kelemahan-kelemahan orangtua di dalam mendidik anaknya sebagaimana telah
dikemukakan diatas, memberi peluang timbulnya budaya otoriter. Budaya otoriter ini
teraktualisasi oleh orangtua dalam mendidik dan membina anaknya. Dalam hal ini, anak tidak
dianggap sebagai individu yang mempunyai potensi untuk berpendapat. Padahal seharusnya
anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan didengarkan pendapatnya sesuai
dengan Konvensi Hak-hak Anak. Dalam hubungan ini diperlukan suatu komitmen
transformasi budaya dari otoriter ke budaya yang lebih demokratis dalam mendidik anak.
Pengertian budaya adalah pengkondisian alur pikir, jadi dalam upaya mengubah budaya
diartikan mengubah cara berpikir.

Upaya peralihan budaya tersebut diatas bukanlah hal yang sederhana, karena masih banyak
keluarga yang merasa dirinya berpendidikan dan berpikiran rasional/modern, masih menuntut
kepatuhan mutlak dari anaknya. Seperti hasil penelitian UI terhadap Suku Jawa dan Sunda
diperoleh informasi bahwa 80% orangtua menuntut kepatuhan dari anaknya.

Dalam upaya mengubah pola pikir orang tua ke arah berpikir rasional/modern dibutuhkan
thinking skill dan personality agar mampu menyadarkan dirinya dari kekurangannya dalam
mendidik anak melalui pemberdayaan pendidikan keluarga.

BAB IV: SARAN

1. Untuk melaksanakan pendidikan keluarga yang demikian kompleks, maka langkah pertama
yang harus dikembangkan adalah menyusun konsep yang dirancang secara jelas dan dapat
diaktualisasikan dalam suatu lingkungan keluarga. Konsep dimaksud harus dapat
mewujudkan anak berkualitas memperoleh kebebasan dan perlindungan untuk
mengembangkan potensinya dan mengenal lingkungan, termasuk pengenalan budaya dalam
masyarakat yang mampu menjawab tantangan masa depan. Dalam hubungan ini diperlukan
adanya: lingkungan yang kondusif untuk memberi pengaruh terhadap upaya pemberdayaan
pendidikan keluarga, konsep keteladanan yang dapat dicontoh, dan kegiatan pendampingan
orangtua kepada anak untuk mampu meningkatkan pemberdayaan pendidikan keluarga
                                            5
melalui pendekatan korektif, pemeliharaan kesehatan dan gizi serta komunikasi. Untuk itu,
diharapkan keluarga dapat memfasilitasi anaknya agar dapat mengembangkan dirinya, antara
lain dapat mengakses informasi yang positif, dan diberi hak untuk mengemukakan pemikiran
dan pendapatnya. Oleh sebab itu, dalam mengubah pola pikir harus mampu mengkondisikan
anak ke arah yang lebih terbuka dan demokratis. Dengan demikian perlu diambil langkah-
langkah konkrit melalui intervensi pemerintah bersama dengan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) dalam upaya memberdayakan pendidikan keluarga.

2. Pendidikan keluarga terasa semakin penting karena heterogenitas bangsa Indonesia yang
terdiri atas berbagai suku, adat-istiadat, agama, dan kondisi geografi, ditambah dengan masih
besarnya jumlah dan persentase masyarakat yang masih di bawah garis kemiskinan.
Kehidupan yang beranekaragam tersebut bila tidak ditangani melalui pendidikan keluarga
yang dapat membentuk karakter bangsa yang luhur akan berakibat timbulnya konflik yang
disertai kekerasan yang akhirnya menjurus ke anarki, seperti tawuran pelajar, perkelahian
antarwarga, perilaku menyimpang, dan penggunaan obat-obat terlarang.

Pemerintah sebagai penanggung jawab seluruh sistem pendidikan nasional dapat
memfasilitasi terwujudnya konsep yang tepat bagi pendidikan keluarga yang pelaksanaannya
dilakukan secara harmonis dalam upaya penyusunan konsep yang tepat bagi pendidikan
keluarga, melalui Depdiknas, Depag, Kantor Menteri Pemberdayaan Perempuan, BKKBN,
Depkessos, Depdagri, LSM dan masyarakat. Khusus untuk masyarakat miskin, pemerintah
hendaknya meningkatkan program beasiswa dan mendorong serta memberdayakan LSM
meningkatkan program anak asuh.

3. Pemberdayaan pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang mengikuti konsep siklus
kehidupan (life cycle) yang dimulai dari usia sekolah, remaja, dan usia pranikah sampai
dengan menjadi calon orangtua, sehingga secara umum meskipun berbeda budaya mereka
dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Pemberdayaan pendidikan keluarga ini
hendaknya dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat menjadi pedoman bagi orangtua dari
kalangan masyarakat yang berbeda dalam bentuk modul, yang dapat diselenggarakan melalui
kursus-kursus.

Secara singkat yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan pendidikan keluarga adalah
penciptaan iklim yang kondusif dalam keluarga, keteladanan orangtua terhadap seluruh
anggota keluarga, dan pendampingan orangtua terhadap anak.

4. Pemberdayaan pendidikan keluarga hendaknya juga dirancang untuk dapat mengatasi dan
menanggulangi berbagai pengaruh negatif pada anak yang ditimbulkan oleh arus informasi
dan keterbukaan, dengan tetap menghormati dan melindungi hak-hak anak atas kemerdekaan
berpikir, hati nurani dan beragama. Untuk itu pemerintah bersama-sama lembaga
kemasyarakatan hendaknya mempunyai kepedulian dan kontrol sosial untuk menanggulangi
kondisi yang demikian dan mempertahankan nilai-nilai yang baik.

5. Dalam mengatasi ketidakseimbangan antara pendidikan sekolah dengan pendidikan
keluarga perlu ditempuh upaya untuk mengidentifikasi bidang-bidang pendidikan yang
menjadi tanggung jawab keluarga dan bidang-bidang yang menjadi tanggung jawab sekolah.


                                             6
Pemerintah bersama-sama dengan LSM dan lembaga-lembaga keagamaan hendaknya
mendorong upaya pemberdayaan pendidikan keluarga dengan memanfaatkan wahana-wahana
yang ada di masyarakat, seperti posyandu, majelis taklim, arisan warga dan pertemuan-
pertemuan keagamaan yang dikelola lembaga keagamaan.

Dalam hubungannya dengan Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG), sebagai jembatan
antara keluarga dengan sekolah, perlu diupayakan peningkatan perannya sebagai lembaga
yang dapat mendidik kepribadian anak, melalui program yang dirancang untuk itu.
Disarankan agar keanggotaan Dewan Sekolah [yaitu POMG dan Badan Pembantu
Penyelenggara Pendidikan (BP3)] terdiri dari orang tua yang mempunyai keinginan agar
anaknya berhasil dalam pendidikan. Dalam upaya meningkatkan perhatian dan tanggung
jawab orangtua untuk mendidik anaknya maka perlu digalakkan bimbingan dan penyuluhan
oleh lembaga keagamaan, LSM dan POMG.

6. Berkenaan dengan upaya orangtua memberi kebebasan kepada anak untuk berbicara dan
didengar pendapatnya, sesuai dengan makna dan semangat Konvensi Hak-hak Anak, maka
hal ini perlu dituangkan dalam perundang-undangan yang menghasilkan kebijakan umum dan
khususnya kebijakan pendidikan.

Dalam upaya mengadakan transformasi budaya yang pada hakikatnya adalah perubahan pola
pikir, diperlukan kebijakan-kebijakan khususnya kebijakan pendidikan yang mengalir dari
perundangundangan.




                                          7

								
To top