Penerapan Konsep TOD, Compact City, Smart Growth, New Urbanism di Indonesia by denaturaleza

VIEWS: 1,856 PAGES: 2

									     Penerapan TOD, Compact City, Smart
     Growth, New Urbanism di Indonesia
         Kawasan perkotaan di Indonesia tumbuh secara dinamis sejalan dengan dinamika
perkembangan demografis, ekonomi dan fisik-spasial. Secara fisik kota tumbuh ekspansif ke arah
luar/pinggiran bahkan melampaui batas wilayah administasi Kota. Dikaitkan dengan keterbatasan
daya dukung, terutama lahan dan sumber daya air, kebutuhan sarana-prasarana dasar perkotaan
yang semakin meningkat menjadi persoalan yang semakin serius untuk ditangani. Ditinjau dari aspek
spasial, struktur dan pola pemanfaatan ruang kota/kawasan perkotaan yang terbentuk cenderung
bersifat ekspansif dan menunjukkan gejala urban sprawl yang semakin tidak terkendali,
mengkonversi lahan-lahan pertanian subur dengan berbagai dampaknya, menimbulkan kemacetan
lalulintas pada ruas-ruas jalan di kota-kota besar dan pada akhirnya kota menjadi tidak nyaman bagi
khidupan dan penghidupan.
        Konsep TOD, Compact City, Smart Growth, New Urbanism, merupakan alternatif yang
ditawarkan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut. Tujuan utama konsep-konsep
tersebut adalah untuk mengurangi kemacetan lalulintas dan penghematan biaya transportasi
melalui mass transit dan lingkungan yang ramah bagi pejalan kaki maupun pesepeda, mencegah
urban sprawl yang dapat menyusutkan lahan pertanian, dan untuk menjaga kelestarian lingkungan
yang pada akhirnya dapat melangsungkan kehidupan manusia sendiri. Syarat utama untuk
mewujudkan tujuan utama tersebut adalah melalui konsep penataan ruang secara mix-use yang
didukung dengan sistem transportasi umum (mass transit) yang mudah dicapai dan beragam.


A.     Syarat mix land used
        Di Indonesia, pola pemanfaatan ruang kota-kota pada umumnya sudah berkembang secara
mix used dan telah siap dalam mendukung konsep-konsep TOD, compact city, smart growth, new
urbanism. Pemerintah melalui Kepmenpraswil No. 534/KPTS/M/2001, tentang pedoman standar
pelayanan minimal bidang penataan ruang, perumahan dan permukiman dan pekerjaan umum,
pada dasarnya telah mengamanatkan bagi kota dan daerah untuk dapat menyediakan permukiman,
pangan, aksesibilitas dan jaminan peruntukan ruang bagi masyarakatnya. Mix-used ini dapat dilihat
pada beberapa wilayah perkampungan perkotaan di Indonesia. Pada wilayah perkampungan
tersebut sering kita jumpai adanya lingkungan perumahan yang didalamnya telah tersedia sarana
dasar bagi lingkungan permukiman tersebut, seperti sarana niaga, pendidikan, kesehatan dan ruang
terbuka hijau/pemakaman umum dan lain-lain dengan jarak yang aksesibel.
        Secara alami, lingkungan permukiman tersebut telah menciptakan rasa nyaman dan
humanis bagi masyarakatnya. Hal ini disebabkan karena secara sosial, pada dasarnya masyarakat
perkampungan perkotaan cenderung saling mengenal dengan baik satu sama lain secara internal.
Kondisi ini mungkin tidak akan dijumpai pada kawasan bentukan baru (lingkungan permukiman
baru) walaupun kawasan tersebut telah direncanakan sesuai dengan konsep smart growth dan new
urbanism, contoh pada beberapa kawasan perumahan elite kota. Masyarakat perumahan tersebut
cenderung memiliki sikap yang individualis dan tidak saling mengenal satu sama lain. Hal ini mungkin
karena mereka memiliki latarbelakang budaya yang berbeda, dan sedikitnya waktu untuk sosialisasi
antar masyarakat yang disebabkan karena waktu mereka banyak habis untuk bekerja.




Ismail Hidayat, MPKD-UGM Angkatan 38                                                              1
B.     Syarat adanya transportasi umum
        Syarat mix land used yang sudah terpenuhi pada lingkungan permukiman perlu didukung
dengan syarat adanya transportasi umum. Hal ini penting, karena transportasi ini berfungsi untuk
menghubungkan antara satu titik dengan titik lainnya. Kota dan daerah di Indonesia pada dasarnya
memiliki perspektif yang salah mengenai transportasi. Sejak awal pemerintah kota-kota tidak
memperhatikan pentingnya pelayanan transportasi umum. Para aparatur pemerintah kota hanya
memandang pentingnya pembangunan dan perbaikan jalan dan sebaliknya mereka tidak
memikirkan pentingnya membangun sistem mass transit. Akibatnya, masyarakat akan memenuhi
kebutuhan transportasinya (misalnya menuju ketempat kerja) dengan kendaraan pribadi. Kedepan,
sesuai dengan perkembangan jumlah penduduk kota, apabila dibiarkan kondisi ini akan semakin
menambah beban jalan kota, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemacetan-kemacetan pada
ruas-ruas jalan tertentu.
        Pembangunan trans jogja dan trans jakarta menjadi contoh pelajaran yang berharga bagi
pemerintah kota-kota di Indonesia untuk mulai berpikir tentang bagaimana menyediakan
transportasi umum yang aksesibel, nyaman, aman dan dengan harga terjangkau. Apabila berbagai
persyaratan tersebut terpenuhi, maka kumungkinan besar masyarakat akan beralih dari moda
pribadi ke moda umum.
        Adanya rencana konsep trans jogja yang akan menambah fasilitas angkutan bagi pesepeda
merupakan lagkah yang kreatif dan inovatif. Masyarakat dapat menuju ke tempat pemberhentian
trans jogja dengan menggunakan sepeda, memasukkan sepeda dalam trans jogja, kemudian
berhenti ke tempat tujuan terdekat dan melanjutkan lagi ke tempat tujuan utama. Hal ini akan
menambah radius pelayanan trans jogja, dari radius kemampuan rata-rata orang mau berjalan kaki
menjadi radius orang mau bersepeda (lebih luas).


Kesimpulan dan Saran
        Adanya konsep TOD, Compact City, Smart Growth, New Urbanism, merupakan pelajaran
berharga bagi pembangunan perkotaan di Indonesia. Melalui konsep-konsep tersebut diharapkan
kota-kota dapat memecahkan berbagai permasalahan perkotaan yang dihadapi. Perlu diingat bahwa
prinsip-prinsip dari ke-empat konsep tersebut tidak selamanya cocok untuk diterapkan di kota-kota
di Indonesia. Hal ini disebabkan karena perbedaan latar belakang lahirnya konsep-konsep tersebut
yang cenderung lahir dari negara maju yang memiliki bentuk dan sosiologi kemasyarakatan yang
berbeda dengan di Indonesia. Mereka menciptakan konsep tersebut disebabkan karena
menginginkan suasana permukiman yang nyaman dan humanis. Dalam hal ini, kenyamanan tidak
hanya terbatas pada bentuk fisik bangunan dan lingkungan, akan tetapi suasana keramahtamahan
antar masyarakat setempat. Sehingga dalam membangun kota perlu diingat agar jangan sampai hasil
pembangunan tersebut nantinya malah merusak keramahtamahan masyarakat Indonesia (misalnya
dengan pembangunan super blok).
        Syarat utama keberhasilan penerapan konsep TOD, Compact City, Smart Growth, New
Urbanism, di Indonesia lainnya adalah adanya transportasi umum yang aksesibel, nyaman, aman dan
dengan harga terjangkau. Kedepan, hal ini perlu dipikirkan dan diwujudkan sehingga simpul-simpul
permukiman mix used dapat terhubung satu sama lain. Terhubung disini tidak diartikan sebagai
‘jalan yang terkoneksi dengan kendaraan pribadi’ akan tetapi lebih diartikan sebagai bentuk riil,
bahwa dalam menuju suatu lokasi tersebut, masyarakat lebih memilih dengan menggunakan
transortasi umum dari pada transportasi pribadi.




Ismail Hidayat, MPKD-UGM Angkatan 38                                                           2

								
To top