Docstoc

Teologi Islam

Document Sample
Teologi Islam Powered By Docstoc
					1

MAKALAH STUDI ISLAM KELOMPOK 5 SEJARAH MUNCULNYA & PERKEMBANGAN TEOLOGI ISLAM

FIRMANSYAH MAHIWA NUR ALFIAH FITRADINI SI 02 B

2

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan wahyu berupa ayat – ayat yang siapapun menggunakannya dapat mengantarkan manusia menuju pengakuan keimanan yang hakiki. Salam dan shalawat atas Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang senantiasa menjadikan Sunnah Rasul SAW sebagai hujjah yang kokoh. Dalam penulisan m akalah sederhana ini penulis sungguh sangat banyak mendapat pengalaman dan wawasan yang luar biasa tentang cakrawala ilmu pengetahuan dalam Islam dimana pembahasan teologi yang diangkat dalam makalah ini menjadi pengetahuan baru yang coba dituangkan dalam penulisan makalah sederhana ini dan coba diangkat dalam diskusi perkuliahan yang diharapkan tercipta dinamika pemikiran Islam di tengah – tengah mahasiswa Islam yang saat ini terlihat mulai pudar seiring modernisasi. Padahal sesungguhnya kebangkitan Islam kedepan diawalii dari para pemuda yang mengemban pemikiran Islam yang jernih dan cemerlang. Yang pemikiran tersebut dibangun dengan landasan akidah yang kokoh. Semoga pembahasan teologi Islam dalam makalah ini sebagai pengantar studi lebih lanjut untuk mengemban konsep islamisasi ilmu dan semoga menjadi bahan bacaan yang dinamis bagi para pembaca. Dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan sehingga saran dan kritik diharapakan untuk menambah dinamika pemikiran islam yang saat ini mulai tampak stagnan di tengah – tengah lingkungan masyarakat. Akhirul kalam, ucapan terima kasih atas seluruh kawan – kawan terlebih khusus kepada guru pembimbing studiIslam kami yang telah banyak memberika gambaran sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Demoga amal baik kita semua dalam memberikan kontribusi bagi bankitnya pemikiran Islam di tengah masyarakat menjadi investasi akhirat dengan keridhoan-Nya tentunya. Wassalam Ciputat, 08 April 2009

3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar............................................................................................................. 2 Daftar Isi...................................................................................................................... 3 Bab 1 Pendahuluan ..................................................................................................... 4 Bab 2 Pembahasan Teologi Islam dalam Definisi........................................................................... 6 Ruang Lingkup Teologi Islam dan Sejarahnya.................................................6 Aliran – aliran dalam teologi Islam ................................................................. 7 Corak Teologi Islam Berdasarkan Periode sejarah............................................10 Peiode Klasik....................................................................................................11 Periode Pertengahan..........................................................................................13 Periode Modern.................................................................................................15 Bab 3 Penutup .............................................................................................................. 19 Daftar Pustaka .............................................................................................................. 20

4

Bab 1 PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang mempunyai sejarah pergulatan teologi yang panjang. Dengan rentang sejarah yang panjang itu, teologi Islam pernah menancapkan sebuah fakta untuk turut serta meramaikan pergulatan intelektual dalam pentas peradaban ilmu pengetahuan dan politik dunia. Berbagai konsep dan sudut pandang teologis muncul secara dialektis dalam atmosfir kebudayaan Islam. Secara konsvensional Islam memang mempunyai bangunan ketuhanan yang sifatnya monoteis. Sebuah agama yang mempunyai keyakinan tentang Tuhan yang satu. Namun, dalam realitas empiriknya, Tuhan yang satu tersebut melahirkan beragam pandangan dan konsep teologis yang berbeda-beda. Artinya meskipun Tuhan sebagai obyek keyakinan umat Islam sama yakni Allah, namun ketika Allah yang satu itu direspon dan dipahami oleh banyak indifidu umat Islam sejagad, maka justru melahirkan beragam konsep ketuhanan. Perbedaan pandangan teologis itu berangkat dari beragamnya logika forma atau paradigama, sudut pandang dan perspektif yang digunakan oleh umat Islam sendiri dalam menangkap dan menafsirkan Tuhan. Satu pihak umjat Islam ada yang menggunakan perpsketif logis, yakni usaha memahami Tuhan melalui rasio. Ada yang lebih mendasarkan pemahamannya melalui intuitif. Di sisi lain ada yang cukup puas dengan informasi teks dan seterusnya. Selain dari itu, di samping banyaknya pendekatan yang digunakan oleh umat Islam dalam memahami Tuhan, hal yang turut serta menyeruakkan bermacam-macamnya konsep teolog Islam adalah berkaitan dengan wajah Tuhan itu sendiri. Syaikh Akbar Ibnu ‘Arabi membagi Tuhan pada dua wajah: Dzat dan Sifat. Wajah Tuhan yang terdiri dari dzat dan sifat ini menyebabkan munculnya perbedaan pandangan di kalangan para mutakallim. Ada yang menyatakan bahwa Tuhan mempunyai sufat dan ada juga yang tidak myakini bahwa tuhan mempunyai sifat. Beraneka ragamnya konsep teologi tersebut, akhirnya juga membawa beraneka ragamnya pola hidup dan pola pikir umat Islam. Bagi umat Islam yang masuk pada kubu Jabariyyah akhirnya lebih cenderung fatalistik. Hal ini karena pakem teologi Jabariyyah adalah menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Sementara bagi umat Islam yang menjadi penganut Qodariyyah menjadikan umat Islam pada kelompok ini mempunyai sikap hidup yang optimis. Karena konsep teologi mereka menyatakan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia merupakan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu, termasuk nilai baik dan buruk adalah berasal dari manusia dan bukan dari Tuhan. Pola hidup dan pola pikir lainnya juga ditunjukkan oleh kelompok lainnya yang mempunyai konsep teologi berbeda.

5 Dinamika dan dialektika sejarah teologi umat Islam di atas hingga kini masih terus menemukan geliatrnya, bahkan dalam kontek Indonesia justru mengalami penguatan. Munculnya gerakan-gerakan puritanisme Islam yang mengusung tema-tema radikalisme Islam, menuntut menarik Islam ke era awal adalah representasi dari menguatnya penanaman teologi wahabi dan salafiyah. Lahirnya konsep teologi ini sebagiannya ditopang oleh lahirnya gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam yang masuk kategori neokonservatisme.

6

Bab. 2 PEMBAHASAN
TEOLOGI ISLAM DALAM DEFINISI Teologi, sebagimana diketahui membahas doktrin – doktrin dasar dari suatu doktrin agama. Sehingga dalam Islam konsep teologi mutlak menjadi wajib dipelajari setiap muslim yang telah dikaruniai oleh akal oleh Allah SWT. Karena sesungguhnya pondasi agama dalam Islam haruslah dibangun atas dasar proses berfikir sebagaimana diperintahkan dalam banyak ayat al-Qur'an. Salah satunya : “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda – tanda bagi orang – orang yang berakal (yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia – sia. Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (TQS Ali -Imran : 190) tentunya berfikir yang dimaksud adalah menempat akal secara proporsional dimana akal merupakan alat untuk memahami ayat – ayat Allah, baik ayat kauliah dan kauniah. Metode inilah yang menjadikan Islam sebagai agama yang tinggi dengan doktrin rasional dimana Islam mampu memecahkan problematika terbesar umat manusia (al-uqdah al kubro) atau sering disebut akidah. Berbeda dengan agama lain yang dibangun atas dasar dogma – dogma semata tanpa melibatkan proses berfikir. Teologi dalam Islam juga disebut ilmu tauhid1. Selanjutnya teologi Islam juga disebut sebagai ilmu kalam yakni ilmu yang mendalami kalam tuhan atau juga kalam yang dimaksud disini adalah kata – kata atau kalam yang sering digunakan oleh para teolog untuk berhujjah sehingga dalam Islam para teolog sering juga disebut sebagai mutakallimin.

RUANG LINGKUP TEOLOGI DAN SEJARAHNYA Berbeda dengan ilmu fikih yang membahas masalah syari'at atau aturan Allah dalam masalah habluminannas (hubungan manusia dengan manusia), objek kajian teologi sedikit lebih rumit dan menimbulkan perdebatan panjang di antara aliran – aliran teologi Islam yang ada namun sekali lagi sebagaimana dalam pendahuluan makalah ini bahwa pembahasan yang ada bahkan perdebatan panjang tersebut namun harus dipahami bahwa perdebatan yang panjang tersebut tentunya haruslah dalam kerangka atau paradigma Islam yang sesuai thurats. Pembahasan teologi Islam lebih pada kajian batasan – batasan atau kedudukan akal dalam memaknai wahyu, antara kehendak tuhan dan perbuatan
1

Ilmu Tauhid : yakni ilmu yang membahas tentang wujud Allah, sifat – sifat wajib dan boleh serta yang wajib ditiadakan bagi-Nya(Al-Juwaini:peletak dasar teologi, Dr.Tsuroya iswati, hal:6)

7 manusia, keadilan tuhan, sifat – sifat tuhan, serta konsep iman dan kufur, dan tidak bisa dipungkiri bahwa teologi Islam juga banyak bersinggungan dengan filsafat – filsafat asing pada masa kekhilafahan Islam menguasai dua pertiga dunia dan selama 13 abad dimana pada saat futuhat2 terhadap wilayah – wilayah baru juga membuka masuknya filsafat asing tersebut dalam wacana perdebatan teologi Islam diantaranya filsafat yunani, persia, dan india. Teologi Islam juga sebelum bersinggungan dengan filsafat asing tersebut teologi Islam lahir dan berkembang pasca terjadi konflik antara Sahabat Ali ra dan Muawiyah ra yang menimbulkan pro-kontra di antara umat Islam saat itu sehingga pendukung dari masing – masing pun terjadi perdebatan yang sangat keras pada saat itu kemudian dari konflik politik tersebut berkembang menjadi perdebatan teologis.

ALIRAN – ALIRAN TEOLOGI ISLAM 1. Khawarij khawatij berasal dari kata kharaja yang berasal dari kata kharaja yang berarti keluar maksudnya adalah bahwa kalangan mereka adalah orang – orang yang keluar dari barisan Ali ra. Pada saat peristiwa arbitrase3 dengan muawiyah ra padahal sebelumnya menjadi pendukung Ali ra. kemunculan kalangan khawarij diakibatkan oleh konflik pada masa utsman ra dan ali ra menjadi khalifah kaum muslimin. Mereka menganggap bahwa khalifah tersebut telah menyeleweng dari ajaran Islam. Sejak itulah mereka menganggap bahwa Utsman ra, Ali ra, Muawiyah ra, telah keluar dari ajaran Islam. Dari sinilah kalangan Khawarij memasuki persoalan kufr : siapakah yang kafir atau yang keluar dari Islam dan siapa yang disebut mukmin atau masih tetap dalam Islam. Kalangan khawarij pun pada perkembangannya terpecah menjadi banyak golongan. 2. Murji'ah Sebagaimana kaum khawarij , kaum Murji'ah pada mulanya juga timbul dari persoalan politik antara Mua'wiyah ra dan Ali ra. Namun kalangan murji'ah adalah mereka yang bersifat netral terhadap permasalahan politik tersebut, yakni dimana mereka tidak memihak kepada siapapun dalam konflik tersebut dan memahami bahwa para sahabat yang terlibat konflik adalah sema – sama mempunyai sifat keadilan sehingganya mereka berpendapat bahwa permasalahan tersebut biarlah diadili oleh Allah SWT. Pada perkembangannya kalangan murji'ah ini terbagi menjadi murji'ah moderat dan murji'ah ekstrem. Kalangan murji'ah ekstrem berpendapat bahwa muslim yang percaya kepada tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidaklah menjadi kafir karena iman dan kufur tempatnya dalam hati. Sedangkan murji'ah moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka orang demikian adalah

2

Futuhat : Merupakan bagian dari kegiatan tablig islam, yaitu menyebarluaskan, menyiarkan dan menghadirkan islam kepada manusia non-muslim ditempat tertentu. (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 5,Sayyid Quthb hal:269) 3 Arbitrase : Kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu menurut kebijaksanaan.(Problema globalisasi: perspektif sosiologi hukum, ekonomi, dan agama, Satjipto Rahardjo, Khudzaifah Dimyati, Kelik Wardiono hal: 86)

8 mukmin dan akhirnya akan masuk surga. Pendapat kalangan murji'ah moderat mengenai iman, kufur, dan dosa besar agaknya sama seperti pandangan ahlusunnah waljama'ah. 3. Qadariyah Paham Qadariyah merupakan paham yang muncul akibat perdebatan antara ketetapan atau kehendak Allah dan kebebasan manusia untuk beramal atau berbuat. Kalangan qadariah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut paham Qadariah manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkannya perbuatan – perbuatannya. Dengan demikian nama Qadariah berasal dari pengetian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar atau kadar tuhan. Mereka berdalil dengan ayat – ayat al-Qur'an : “buatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya ia melihat apa yang kamu perbuat” (TQS Fussilat : 40) “Bagaimana? Apabila bencana menimpa diri kamu sendiri kamu sedang kamu telah menimpakan bencana yang berlipat ganda (pada kaum musyrik di badar) kamu bertanya: “Darimana datangnya ini? Jawablah : Dari kamu sendiri” (TQS Ali – Imran : 164) “Tuhan tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS Ar-Ra'du : 11) 4. Jabariah Paham Jabariah juga merupakan paham yang muncul akibat perdebatan sebagaimana qadariah namun paham jabariah memandang bahwa manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat apa - apa ; manusia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan; manusia dalam perbuatannya dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan, dan pilihan baginya. Mereka berdali dengan ayat al-Qur'an : “Mereka sebenarnya tidak akan percaya, sekranya Allah tidak menghendaki” (TQS AlAn'am : 112) “Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (TQS As-Saffat : 96) “Tidak ada bencana yang menimpa bumi dan diri kamu, kecuali (ditentukan) di dalam buku sebelum kami wujudkan.” (TQS al-Hadid : 22) “Tidak kamu menghendaki, kecuali Allah menghendaki.” (TQS al-Insan ; 30) 5.Mu'tazilah Kaum Mu'tazilah adalah golongan yang membawa persoalan – persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis daripada peroalan – persoalan yang dibawa kaum khawarij dan murji'ah. Dalam pembahasan, mereka banyak memakai akal sehingga mereka sering disebut “kaum rasionalis Islam”

9 pandangan – pandangan mendasar mu'tazilah ialah tauhid . Tuhan dalam pandangan mereka akan betul – betul maha esa apabila tuhan merupakan suatu zat yang unik, tidak ada yang serupa dengan dia. Kalangan mu'tazilah berpandangan bahwa tuhan tidak dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepalanya sehingga mereka menolak pandangan bahwa akan ada perjumpaan dengan tuhan di surga nantinya. Kaum mu'tazilah juga menolak sifat – sifat tuhan, yaitu sifat – sifat yang mempunyai wujud sendiri di luar zat tuhan. Ajaran dasar kedua ialah keadilan tuhan. Sehingganya mereka menganggap bahwa perbuatan manusia adalah murni diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sehingga manusia tidak dipaksa berbuat oleh tuhan karena menurut mereka adalah suatu ketidakadilan ketika tuhan menghisab perbuatan seseorang yang diciptakan sendiri oleh tuhan. Ajaran dasar ketiga ialah al-manzilah bain al manzilatain, yakni posisi menengah bagi berbuat dosa besar, juga erat hubungannya dengan keadilan tuhan. Pembuat dosa besar bukanlah kafir, karena ia masih percaya kepada tuhan dan Nabi Muhammad ; tetapi bukanlah mukmin, karena imannya tidak lagi sempurna. Karena bukan mukmin ia tidak dapat masuk surga, dan karena bukan kafir pula, ia sebenarnya tak mesti masuk neraka. Ia seharusnya ditempatkan di luar surga dan diluar neraka. Inilah sebenarnya keadilan menurut mereka. Ajaran dasar keempat yakni perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat. Namun menurut mereka tidak cukup dengan seruan tapi juga dengan kekerasan. Dalam hal ini ialah pemaksaan atas ajaran – ajaran yang mereka anut. Ajaran kelima ialah bahwa tuhan itu qadim (terdahulu) maka sesuatu yang hadis (baru) setelah tuhan adalah ciptaan tuhan (makhluk) sehingganya mereka memandang bahwa al-Qur'an yang menurut mereka baru ialah makhluk. Mereka juga memandang bahwa surga dan neraka itu belum ada karena belum dipergunakan saat ini. 6.Asy'asriyah aliran teologi ini merupakan aliran teologi yang timbul dari reaksi atas paham – paham golongan mu'tazilah. Aliran ini dikembangkan oleh Abu al-Hasan 'Ali Ibn Ismail alAsy'ari yang juga merupakan murid dari al-Jubba'i salah satu tokoh aliran mu'tazilah. AlAsy'ari dalam perkembangannya membuat aliran baru yang kemudian banyak disebut sebagai ahlu sunnah wal jama'ah. Aliran teologi ini sampai saat ini dianut banyak oleh umat Islam. Sebagaimana dijelaskan bahwa aliran ini timbul atas respon terhadappaham mu'tazilah sehingganya aliran teologi ini banyak berpendapat bertentangan dengan paham mu'tazilah. Misalnya dalam pandangan al-asy'ari bahwa tuhan mengetahui dengan sifatnya. Mustahil katanya bahwa tuhan mengetahui dengan sifat-Nya karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan ('ilm) tetapi yang mengetahui ('Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuan-Nya bukanlah dengan zat-Nya. Demikian pula dengan sifat seperti sifat hidup, berkuasa, mendengar, dan melihat. Begitu pula dengan pendapat tentang alQur'an, al'asy'ari berpendapat bahwa al-Qur'a itu Qadim. Mengenai perbuatan al'-asy'ari berpendapat bahwa perbuatan manusia bukanlah diciptakan manusia itu sendiri sebagaimana pendapat mu'tazilah, melainkan pebuatan diciptakan oleh tuhan. Perbuatan kufur itu buruk tetapi orang kafir ingin supaya perbuatan kufr itu sebenarnya bersifat baik. Apa yang dikehendaki orang kafir ini tak dapat diwujudkannya. Perbuatan iman bersifat baik, tetapi berat dan sulit. Orang mukmin ingin supaya perbuatan itu janganlah berat dan sulit. Tetapi apa yang dikehendakinya itu tak dapat diwujudkannya. Dengan demikian yang mewujudkan perbuatan kufur itu bukanlah orang kafir yang tak sanggup

10 membuat kufr bersifat baik, tetapi tuhanlah yang mewujudkannya dan tuhan memang berkehendak supaya kufr bersifat buruk. Demikian pula, yang menciptakan pekerjaan iman bukanlah orang mukmin yang tak sanggup membuat iman bersifat tidak berat dan sulit, tetapi tuhanlah yang menciptakannya dan tuhan memang menghendaki supaya iman bersifat berat dan sulit. Istilah yang dipakai al'asy'ari untuk perbuatan manusia yang diciptakan tuhan ialah alkasb. Dan dalam mewujudkan perbuatan yang diciptakan itu, daya yang ada dalam diri manusia tak mempunyait efek. Al'asy'ari juga berpendapat bahwa tuhan tak mempunyai muka, tangan, mata, dan sebagainya dengan tidak ditentukan bagaimana yaitu dengan tidak mempunyai bentuk dan batasan. al'-as'ari seterusnya menentang paham keadilan tuhan yang dibawa kaum mu'tazilah. Menurut pendapatnya tuhan berkuasa mutlak dan tak ada satupun yang wajib baginya. Tuhan berbuat sekehendaknya, sehingga kalau ia memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah ia bersifat tidak adil dan jika ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka tidaklah ia bersifat dzalim. Juga ajaran tentang posisi menengah ditolak. Bagi al-Asy'ari orang yang bedosa besar tetap mukmin, karena imannya masih ada, tetapi karena dosa besar yang dilakukannya ia menjadi fasiq. Sekiranya orang bedosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, maka dalam dirinya akan tidak didapati kufur atau iman; dengan demikian bukanlah ia atheis dan bukan pula monotheis, tidak teman dan tidak pula musuh. Hal serupa ini tidak mungkin. Oleh karena itu tidak pula mungkin bahwa orang berdosa besar bukan mukmin bukan pula tidak kafir.

CORAK TEOLOGI ISLAM BERDASARKAN PERIODE SEJARAH Lahirnya teologi dalam Islam adalah tergolong unik. Pasalnya teologi Islam bukan lahir dari persoalan agama, melainkan justru dari persoalan politik. Persoalam yang pertamatama timbul adalah dalam bidang politik dan bukan bidang teologi. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persolan teologi. Dengan demikian, teologi Islam tersebut sangat lengket dengan persoalan politik. Ketika hendak membedah teologi, mau tidak mau juga membedah politik. Memang semenjak wafatnya Rosulullah, umat Islam menaruh penting persoalan kepemimpinan. Umat Islam Arab yang masyarakatnya terdiri dari berbagai suku, sering terjebak dalam pertentangan mengenai sosok pemimpin yang pantas menggantikan Rosulullah sebagai pemimpin masyarakat. Ketika nabi wafat pada tahun 632 M daerah kekuasaan Madinah bukan hanya terbatas pada kota itu saja, tetapi boleh dikatakan meliputi seluruh semenanjung Arabia. Negeri

11 Islam di waktu itu, seperti digambarkan oleh W.M.Watt, telah merupakan kumpulan suku-suku bangsa Arab, yang mengikat tali persekutuan dengan (Nabi) Muhammad dalam berbagai bentuk, dengan masyarakat Madinah dan mungkin juga dengan masyarakat Makkah sebagai intinya. Selanjutnya, bagaimana bentuk teologi Islam dari masing-masing periode yang pernah muncul dalam sejarah Islam. Menurut Harun Nasution, dalam sejarah Islam, teologi Islam terbagi dalam periode atau zaman yakni zaman klasik (650-1250 M), zaman pertengahan (1250-1800 M) dan zaman modern (1800 dan setererusnya). 1. Periode klasik (650-1250 M). Teologi yang berkembang di era klasik ini adalah teologi sunnatullah atau teologi yang berdasarkan pada hukum alam (natural law). Teologi natural pada prinsipnya keberimanan yang berdasarkan hanya pada rasio, teologi ini kajiannya murni filsafat. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis. Sehingga produk teologi yang dihasilkan adalah teologi yang dibangun berdasarkan argumen-argumen logis-rasional. Ciri-ciri teologi natural (sunnatullah) ini adalah : -kedudukan akal yang tinggi -kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan. -kebebasan berpikir hanya diikat oleh ajaran-ajaran dasar dalam al-Qur’an dan Haditas yang sedikit sekali jumlahnya. -Percaya pada adanya sunnatullah dan kausalitas -mengambil dari metaforis dari tek wahyu -Dinamika dalam sikap dan berpikir. Lahirnya teologi sunnatullah atau natural ini didukung oleh lahirnya iklim dialog antara dunia Islam dengan alam pemikiran Yunani. Ketika dunia Islam mulai bersentuhan dengan peradaban Yunani, maka rasionalisme mulai bergeliat dalam dunia Islam. Semangat rasionalisme yang ada dalam filsafat inilah yang dijadikan oleh para pemikir Islam untuk membangun teologi. Di anatara para filsof Yunani, Aristoteles adalah yang paling menarik bagi orang-orang Islam. Dari dia para pemikir muslim mengambil terutama metode berpikir sistematis dan rasional, yaitu al-Manthiq (logika formal), di samping biologi, ilmu bumi matematis dan lain-lain. Mereka memandangnya sebagai “al-mu’allim al-awwal” (guru pertama). Aristotalianisme dengan demikian menjadi bagian integral dari khazanah pemikiran Islam. Tetapi sesungguhnya, pemahaman kaum muslimin terhadap pikiran guru pertama itu, secara keseluruhannya, adalah terjadi melalui teropong neoplatonisme, karena

12 sebagian besar lewat karya-karya para penafsir, khususnya karya-karya plotinus dan Prophiry. Salah satu karya kefilsafatan yang amat bgesar pengaruhnya kepada dunia pemikiran filsafat Islam adalah “Theologia Aristotelis”. Dengan logika formal yang demikian itu, maka bangunan teologi Islam di masa klasik penuh vitalitas rasionalisme. Sehingga pembuktian Tuhan mempunyai dasar agumennya yang rasionalistik. Bukan hanya itu, persolaan tentrang proses penciptaan alam semesta yang termasuk bagian dari teologi juga mempunyai dasar rasionalismenya. Seperti para filsof paripatetik4 yang mempunyai konsep penciptaan alam melalui penjelasan akal pertama, akal kedua, akal ketiga dan seterusnya. Periode klasik ini secara umum terbagi menjadi dua. Pertama adalah periode klasik (6501000) yaitu periode zaman di mana daerah Islam mulai meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di Barat dan di Persia sampai ke India di Timur. Daerah-daerah itu tunduk kepada kekuasaan khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, dan kemudian di Damsyik dan terakhir di Baghdad. Di masa inilah berkembang dan maju pesat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang coraknya bermacam-macam seperti fiqh, filsafat, sufisme dan termasuk teologi. Dari periode ini ulama –ulama fiqh yang mucul seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafii. Sementara dalam bidang teologi ulama-ulama yang lahir adalah Imam AlAsy’ari, Imam Al-Maturidi, Washil Bin Atho’ Abu Huzail, Al-Nizam dan Al-Jubai. Kedua adalah fase disintegerasi (1000-1250 M). Di masa ini persatuan dan kesatuan umat Islam mulai mengalami kemunduran. Konflik poloitik seringkali melanda sehingga klimkanya adalah hancurnya imperium Islam yang menyebabkan Baghdad berhasil dikuasasi oleh Hulaghu Khan di tahun 1258. Karena semangat pemikirannya yang cenderung antoposentris itulah, maka teologi di abad klasik ini termasuk teologi Qadariyyah. Paham ini terkenal dengan nama free wil,.dan free act. Artinya manusia mempunyai kebebasan atau kemerdekaan dalam menentukan hidupnya. Seluruh prestasi yang dihasilkan oleh manusia bukanlah dari Tuhan melainkan dari manusianya sendiri karena manusia diyakini mempunyai kekuatan dan kapabelitas untuk menghasilkan prestasi tersebut. Teologi sunnatullah atau Qadariyyah ini bukan sekedar beroreintasi pada kehidupan ahirat, melainkan juga mempunyai target dunia. Oleh karena itu, di era Qadariyah ini, di samping basis keimanan umat Islam karena ditopang oleh rasionalisme, bidang-bidang lain seperti ekonomi, politik dan sejenisnya mengalami kemajuan pesat. Mesir, Suriah dan Persia, ketika itu menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, sutra dan lain-lain di Timur Tengah. Hasil-hasil yang berasal dari Timur di bawa ke Barat harus melalui daerah-daerah tersebut. Kairo, Alexandria, Damsyik, Baghdad dan Siraz (Persia) menjadi kota-kota dagang yang penting.

4

Filosof Paripatetik :Filosofi yang berasal dari filsuf pengikut Aristoteles.(Suhrawadi, Amroeni Drajat, Hal:75)

13 Sementara itu di bidang tasawuf yang berkembang adalah tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi merupakan sebuah pemikiran atau aktifitas untuk mengenal lebih dekat kepada Tuhan tetapi tetap menggunakan pemikiran filosofis. Dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, para sufi menempuh jalan panjang dan sulit meskipun akhirnya sampai juga pada tujuan mereka. Dalam mendekatkan diri, mereka dihinggapi oleh rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan, sehingga mereka di stasiun al-mahabbah atau cinta ilahi. Kalau cinta mereka dibalas Tuhan mereka akan meningkat ke level yang lebih tinggi, yaitu alma’rifat. Bukan hanya itu, pada zaman klasik ini sains juga mengalami kemajuan pesat meskipun tidak sepesat era sekarang. Ilmu kedokteran banyak dikembangkan oleh para ahli seperti Ibnu Rusd, AlRazi dan Ibnu Shina. Ilmu kimia mengalami kemajuan di tangan jabir dan Ala-razi. Sumbangan ulama Islam bagi ilmu kimia lebih banyak dari yang diberikan oleh orang-orang Yunani. Matematika dikembangkan oleh al-Khawarizmi, Umar Al-Khayam. Angka kosong (nol) adalah penemuan ulama Islam yang kemudian bersama angka Arab lainnya dibawa ke Eropa pada permulaan abad ke dua belas M. Astronomi berkembang di tangan Al-Fazzari , AlFarghani dan lain-lain. 2. Periode Pertengahan (1250-1800 M) Pada periode ini telah terjadi pembalikan sejarah antara Islam dan Barat. Islam yang di era klasik bisa mencapai kejayaan ilmu pengetahuan dan teologi berkat dialognya dengan dunia Barat, maka di era pertengahan ini Islam justru mengalami era kegelapan (the darkness age). Setelah Timur berhasil dihancur leburkan oleh kengiskhan dan hulaghu khan, maka hampir semua literatur –literatur Islam di bawa oleh para penjajah tersebut ke Barat sementara sebagian yang lain telah mereka bakar. Pada periode pertengahan juga di bagi dua. Periode pertengahan I (1250-1500) adalah fase kemunduran. Pada fase ini bubut-bibit perpecahan dan disintegrasi antara umat Islam mengalami eskalasi. Konflik antara Sunni dan Syai’ah semakin menajam. Di sisi lain secara geofrafis dunia Islam hancur berkeping-keping mnejadi pecahan-pecahan kecil akibat kuatnya disintegrasi. Secara umum teritori Islam terbagi dua yaitu bagian Arab yang terdiri dari Arabia, Suria, Iraq, Palestina, Mesir dan Afrika Utara dengan Mesir sebagai pusatnya. Ke dua yaitu bagian Persia yang terdiri dari atas Balkan, Asia Kecil, Persia dan Asia Tengah dengan Iran sebagai pusat. Fase II adalah Fase tiga kerajaan besar (1500-1800) yang dimulai dengan zaman kemajuan (1500-1700) dan zaman kemunduran (1700-1800). Tiga kerajaan besar itu adalah kerajaan Turki Utsmani (Ottoman Empire) yang berpusat di Turki, kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India. Di masa kemajuan ini masing-masing kerajaan mempunyai keunggulan masing-masing khsususnya di bidang literatur dan seni arsitektur. Namun, bila dibandingkan dengan kemajuan di era klasik, kemajuan di era ini sungguh jauh. Karena pada era pertengahan ini perhatian umat Islam terhadap ilmu pengetahuan masih merosot tajam alais masih sangat rendah.

14 Karena perhatian dan apresiasi terhadap ilmu pengetahuan atau filsafat rendah, maka teologi yang berkembang pada periode pertengahan ini adalah teologi Jabariyyah. Ciriciri teologi ini adalah: - Kedudukan akal rendah - Ketidakbebasan dalam kemauan dan perbuatan - Kebebasan berpikir yang diikat oleh banyak dogma - Ketidakpercayaan kepada sunnatullah dan kausalitas - Terikat pada arti literal al-Qur’an dan Hadits - Statis dalam sikap dan berpikir Kedudukan akal yang rendah menjadikan umat Islam tidak lagi merumuskan teologi baru yang benar-benar bernas dan bergairah hingga menjadikan umat bertindak dan berpikir progresif. Pada periode ini yang berkembang bukan lagi berfastabiqul khairot untuk berijtihad , tetapi justru sebaliknya mayoritas umat Islam berduyun-duyun berteduh di bawah pohon taqlid. Sikap umat Islam yang semacam, ini menyebabkan semangat dan aktifitas intelektual di dunia muslim menjadi mandek total. Selanjutnya, karena tidak adanya pemikiran logis yang mempau meerenungkan alam semesta, sebagaimana yang dipraktikkan oleh para pemikir dan filsof muslim, maka kreatifitas berpikir untuk merumuskan teologi-teologi baru tidak nampak. Umat Islam hanya percaya bahwa seluruh jagad raya ini adalah dikendalikan oleh yang maha satu yaitu Allah SWT. Kondisi yang dekaden ini justru diperparah dengan distrosi terhadap nilai-nilai Tasawuf. Tasawuf yang di era klasik menjadi pemicu kemajuan, kini di era pertengahan di jadikan sebagai tarikat. Praktik sufisme yang sudah mengental menjadi praktik tarikat ini akhirnya menjadikan seluruh aspek tasawuf tergerus menjadi tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang akrab dengan aktifitas dan semangat perenungan, berpikir, berfilsafat dan refleksi menjadi tidak berlaku. Dalam teologi Jabariyyah yang statis dan fatalistik ini, berlaku sebuah keyakinan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak, tidak mempunyai kekuasaan dan tidak mempunyai pilihan; manusia dalam perbuatan-perbuatannya adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya. Dengan pandangan semacam ini, maka manusia tidak lebih dari sebuah wayang yang digerakkan oleh seorang dalang. Seluruh perbuatan manusia adalah perbuatan yang dipaksakan oleh Allah kepada manusia itu sendiri. Perbuatan ini tidak muncul dari kemauannya sendiri. Termasuk masalah keburukan adalah bukan kehendak manusia, melainkan dari kehendak Tuhan. Jadi, bagi teologi abad pertengahan ini, manusia yang

15 mencuri atau korupsi itu pada dasarenya bukan kehendaknya sendiri, melainkan kehendak Tuhan yang dipkasakan kepada manusia itu. Namun karena seperti yang telah disinggung di atas, bahwa karena teologi Islam adalah lahir dari masalah politik, maka di dalam paham ini sebebnarnya kuat sekali tendensi politiknya. Hal ini nampak sekali pada penguasa daulah Umayyah di Damaskus. Seolaholah karena didorong oleh keperluan membela sahabat utsman Bin Affan, tetapi yang pasti itu hanyalah sekedar topeng belaka, kepentingan utamamnya adalah untuk kepentingan politiknya sendiri. Bila diperingatkan bahwa tindakan-tindakan mereka yang menindas rakyat dan mengekang perkembangan pemikiran di kalangan ummat itu menyalahi semangat Islam dan bahwa mereka harus mempertanggung jawabkan kedhaliman itu di hadapan ummat, selain di hadapan Tuhan kelak di akhirat, rezim Umayyah itu menolak dengan mengatakan bahwa kami tidak bisa diminta tanggung jawab atas tindakan-tindakan kami. Sebab Tuhanlah yang menghendaki semuanya itu. Hanya padaNyalah kekuasaan untuk menentukan kebaikan atau keburukan. Dengan teologi yang demikian itu, maka produktifitas para ulama di masa ini menurun drastis. Hasil-hail karya yang sejak era klaisk bisa berkembang pesat dengan berbagi bidang keilmuan, di era pertengahan ini mengalami mati suri. Begitu juga di bidang lain seperti ekonomi dan, industri dan pertanian juga menurun drastis. Hanya di bidang politik yang agak menonjol karena pada zaman pertengahan ini masih dijumpai tiga imperium besa yaitu Turki Utsmani, Safawi dan Mughal. 3. Periode Modern (1800 dan seterusnya) Istilah modern, secara umum, berasal dari kata moderna yang artinya sekarang (Jerman:Jetzeit). Dengan pengertian itu kita tahu bahwa yang disebut modern, manakala semangat kekinian menjadi kesadaran seseorang. Jadi kalau ada orang atau masyarakat hidup di era sekarang tapi kesadarannya berada di abad tengah maka pertanda mereka bukan modern, tetapi manusia primitif. Abad modern ini merupakan spirit zaman baru (zeitgeist) yang berada di abad 19. sebagai bentuk peradaban dan semangat zaman, modernitas dicirikan oleh tigal hal yaitu indifidualistik, rasionalisme dan kemajuan. Ketika memasuki abad ke 19 umat Islam mengalami keterkejutan yang luar biasa. Sebab, pada era ini Eropa atau Barat, yang di era klasik masih berada dalam kegelapan dan kemunduran, kini justru berbalik menjadi pusat beradaban dunia. Era kemajuan di Barat inilah yang populer disebut sebagai abad modern. Abad modern adalah masa peralihan dari kebudayaan teosentris ke antroposentris, peralihan dari peradaban langit ke peradaban bumi, dari metafiskikan ke fisika, dari immateri ke materi. Peradaban ini pada hakekatnya adalah hasil renaissance dan pencerahan (enleighment) yang terjadi di eropa. Era renaissance adalah era lahirnya kebebasan dan terlepasnya kehidupan dari normanorma agama. Era renaissance ini ditandai oleh munculnya pengetahuan baru yang didapatkan melalui intensitas observasi dan pengamatan alam semsta. Pada taraf ini dunia atau alam semesta menjadi daya tarik utama untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Dari sini berkembanglah ilmu astronomi dan geography. Meskipun sebelumnya, di dunia Islam ilmu-ilmu semacam ini sudah pernah ditemukan oleh para pemikir muslim.

16 Indikasi selanjutnya adalah bahwa modernitas ini ditandai juga oleh penelitian dan pengkajian terhadap teks-teks klasik yang berasal dari Yunani kuno, Islam dan Cina. Yang menarik di sini adalah, ternyata Islam juga merupakan faktor penentu lahirnya modernistas di Barat. Memang periode klasik Islam telah melahirkan peradaban Islam, yang berpengaruh terhadap peradaban Barat. Pengaruh ini diakui oleh pengarangpengarang Barat seperti Gustave Le Bon, Jacques Risler, Rom Landau dan Alfred Guillaume. Semangat zaman yang antroposentris ini akhirnya melahirkan berbagai sikap hidup di antaranya adalah sikap kritis. Sikap kritis ditujukan terhadap dogma-dogma agama yang sudah sekian tahun membatu. Sikap yang lain adalah humanisme. Sikap ini ditunjukkan dengan maraknya berbagai hasil karya seni seperti musik, lukis, patung atau drama yang lebih mengangkat manusia dasripada eksistensi Tuhan. Seperti lukisan Leonardo Davinci tentang Monalisa. Lukisan ini merupakan pertanda terjadinya peralihan peradaban dari yang sebelumnya berbasis pada nilai teosentrisme menuju ke wilayah humanisme. Sebelum pintu modernitas benar-benar terbuka, di Barat telah muncul beberapa pemikir atau filsof yang mulai melncarkan serangan-serangannya terhadap peradaban abad pertengahan. Abad pertengahan adalah abad yang lebih mengunggulkan Tuhan, lebih membela wahyu daripada akal. Era ini ditandai oleh kuatnya otoritas gereja atas segala peradaban dan kebudayaan. Oleh karena itu tokoh-tokoh pemikir di ambang modernitas berusaha untuk mendobrak tatanan atau sistem rezim gereja yang memnindas itu. Dalam hal ini Nicollo Machiavelli (1469-1527) yang mempelopri untuk menyerang sistem politik gereja yang absolut, kemudian Giordano Bruno (1548-1600) yang dengan gencar mengkritik pakem-pakem agama (gereja) dan Francis Bacon (1561-1626) yang mulai intens menegakkan semangat ilmu pengetahuan dengan semboyannya knowledge is power. Dengan gugatan dan serangan-serangan kritis dari para filsif itulah, fajar modernitas akhirnya muncul. Lahirnya modernitas ini secara epistemologis ditandai oleh bangkitnya kembali rasionalitas yang sebelumnya, yakni di era pertengahan, telah dipasung dengan ketat. Maka modernitas ini secara eksplisit merupakan era kemerdekaan bagi rasio. Kemerdekaan rasio ini secara simbolik dideklarasikan oleh Descartes (1596-1650) dengan statemennya cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Melihat fajar pencerahan dan kebangkitan peradaban di Barat yang berkembang pesat itu, hal itu seolah menyentak umat Islam dari tidur panjangnya yang dia lakukan sejak era pertengahan. Ketika modernitas ini muncul Barat, maka umat harus melek bahwa umat Islam telah mengalami dekadensi dan kemunduran yang luar biasa. Akibat kemundurannya itu, umat Islam akhirnya menjadi obyek penjajahan Barat. Salah satu bukti konkritnya adalah hancurnya tiga kerajaan besar– yang di era pertengahan masih eksis— oleh ekspansi dan imperialisme bangsa Barat. Turki Utsmani yang pernah berjaya di abad pertengahan mengalami kekalahan dalam perangnya di Eropa, kerajaan Safawi di Mesir, dalam waktu tiga minggu berhasil ditaklukkan oleh Napoleon Bonaparte dan kerajaan Mughal di India telah dihancurkan oleh Inggris.

17 Melihat dahsyatnya imbas peradaban modern terhadap dunia Islam tersebut, para pemikir muslim akhirnya terlecut untuk berpikir keras merumuskan teologi yang bisa membangkitkan kembali girrah umat Islam untuk mencapai kejayaannya yang telah sirna. Muncullah kemudian para mujahid baru dalam dunia Islam dengan menawarkan berbagai ide yang bertujuan memajukan dunia Islam dan mengejar ketertinggalannya dari Barat. Atas semangat ini dunia Islampun mulai ikut memasuki rimba raya modernitas. Namun, usaha-usaha pembaharuan atau modernisasi dalam dunia Islam, sebenarnya sebelumnya telah dimulai dari sebuah zaman yang disebut modern ini. Usaha-usaha itu terutama dijalankan oleh kerajaan Utsmani. Dalam peperanganya dengan negara-negara Eropa, kerajaan Turki Utsmani pada awal abad ke 17, mengalami kekalahan dari Peter Agung dari Rusia. Dengan modernisasi yang dilakukan oleh Rusia, Rusia menjadi lebih kuat dari Turki Utsmani. Hal ini akhirnya, membuat sultan-sultan Utsmani juga ingin mengadakan modernisasi di Turki, terutama di lapangan militer. Usaha-usaha yang modernisasi yang dijalankan oleh sultan Utsmani pada waktu itu lebih terpusat pada usdaha untuk memperkuat kekuatan militer. Di antara tokoh-tokoh mujahid atau pemikir-pemikir baru Islam yang sangat getol mengusung isu-isu modern adalah Muhammad Abduh, Rasyid Ridlo, Jamaluddin AlAfghani, Zia Gokalp, Seyyid Ahmad Khan dan seterusnya. Para pemikir dan filsof ini adalah tokoh-tokoh pembaharu yang mencoba menyerukan untuk kembali kepada teologi sunnatullah dengan pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah zaman klasik di kalangan ulama dan umat Islam zaman modern. Untuk merealisasikan semangat teologi tersebut, maka pada abad ke 19 mulai didirikan sekolah-sekolah modern gaya Barat di Mesir, Turki dan India. Di sekolah-sekolah ini semangat ilmiah mulai dihidupkan kembali. Pola berpikir yang rasional, filosofis dan ilmiah mulai dibudayakan. Namun meskipun demikian, program dan tawaran para mujahid untuk kembali ke teologi sunnatullah yang mengedepankan rasionalitas itu dalam realitas empiriknya tidak mendapat apresiasi oleh seluruh umat Islam di dunia. Masih banyak masyarakat muslim yang justru menentang modernitas. Mereka justru berusaha untuk tertutup dan tak bersedia menyerap nilai-nilai modernitas. Namun usaha para mujahid awal seperti Muhammad Abduh dan kawan-kawan untuk kembali ke teologi Sunnatullah tetap ada hasilnya. Dengan digaungkannya teologi sunnatullah untuk mengimbangi peradaban modern Barat itu, produktifitas dan kreatifitas umat Islam mulai meningkat kembali meskipun itu masih jauh dari Barat. Di samping semangat rasionalitas yang ada dalam teologi sunnatullah, unsur lain yang turut dikampanyekan oleh para pemikir atau mujahid masa-masa awal adalah perlunya untuk kembali kepada al-Qur’an dan hadits. Sebagian para mujahid berasumsi bahwa di samping faktor politik yang sudah rapuh, salah satu sebab mundurnya umat Islam adalah dipicu oleh kuatnya takahyyul, bid’ah dan khurofat yang berkembang di dunia umat Islam. Umat Islam, selama ini terjerembab ke dalam jurang mistik yang dalam sehingga tidak bisa berpikir secara jernih dan rasional.

18 Oleh karena itu dengan kembali ke al-Qur’an dan Hadits itu dimaksudkan agar umat Islam bisa kembali berpikir jernih dan tidak terperangkap oleh takahyyul dan mitos-mitos agama. Di samping itu, dalam memahami al-Qur’an diharapkan umat Islam lebih rasional. Dari sini bisa diketahui bahwa gerakan pembaharuan umat Islam untuk kembali kepada teologi sunnatullah adalah mirip dengan gerakan modernisme di Barat yang mana otoritas gereja yang lebih mengedepankan mistik dan dogma-dogma agama. Namun karena pola berpikir mistik dan penuh takhayyul tersebut yang sudah sedemikian rupa mendarah daging di kalangan umat Islam agaknya sulit untuk ditanggulangi. Entah karena ketakutannya atau karena sudah terlalui enak dengan pola berpikirnya itu, maka banyak umat Islam yang ragu-ragu atau kurang percaya diri dengan teologi sunnatullah. Mereka yang fatalistik ini masih menganggap bahwa segala –galanya telah ditentukan secara mutlak oleh Tuhan.

19

Bab. III PENUTUP

Kesimpulan Semua aliran teologi dalam Islam, baik asy'ariyah, maturidiah apalagi mu'tazilah sama – sama mempergunakan akal dalam menyelesaikan persoalan – persoalan teologi yang timbul di kalangan umat Islam. Perbedaan yang terdapat antara aliran – aliran itu ialah perbedaan dalam derajat kekuatan yang diberikan kepada akal. Kalau mu'tazilah berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat, asy'ariyah sebaliknya berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang lemah. Semua aliran juga berpegang kepada wahyu. Dalam hal ini perbedaan yan terdapat antara aliran-aliran itu hanyalah perbedaan dalam interpretasi mengenai teks ayat – ayat alqur'an dan hadis. Perbedaan dalam interpretasi inilah sebenarnya yang menimbulkan perbedaan. Pada hakikatnya semua aliran tersebut tidaklah keluar dari Islam. Dengan demikian tiap orang Islam bebas memilih salah satu dari aliran-aliran teologi tersebut sepanjang masih sesuai akidah islam sebagaimana yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, Sahabat ra, dan para ulama pewaris para nabi. Rasulullah bersabda “perbedaan paham dikalangan umatku membawa rahmat”.

20

DAFTAR PUSTAKA:
-Nasution, Harun.Dr. Prof, Islam Rasional, Mizan , Bnadung, 1995 -Nasution, Harun.Dr. Prof, Pembaharuan dalam Islam, Jakarta, 1990 -Nasution, Harun.Dr. Prof, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 2007 -Madjid, Nurcholis (Ed), Khazanah Intelektual Islam, Jakarta, 1985 -Kertanegara, Mulyadhi, Panorama Filsafat Islam, Bandung 2005 -Hardiman, Budi. F, Filsafat Modern, Gramedia Pustaka, Jakarta, 2004 -Gahral Adian, Doni, Muhammad Iqbal, Jakarta, 2003 -Terjemahan Al-Qur'an Departemen Agama RI. Jakarta 1971 -Djalil, Basiq. Logika (Ilmu Mantiq). CV Qalbun Salim. Ciputat 2008


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:64444
posted:6/24/2009
language:Indonesian
pages:20
Description: Perkembangan TEologi Islam