Ayat Kauniyah

					MAKALAH STUDI ISLAM AYAT-AYAT KAUNIYYAH

Oleh kelompok 14 : Asep Sunarya Muhammad Asnawi Kisti Robbi Rosulli
SI-2B

PRODI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKHNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2008/2009

KATA PENGANTAR
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Sang pemberi karunia ilmu yang tidak satu ilmupun yang kita miliki melainkan yang telah Ia berikan kepada kita, Ialah Allohu Samiun 'alim. Sholawat serta salam semoga tercurah dan terlimpah kepada sang pemimpin ilmu, pembawa cahaya ilmu, pengangkat derajat para penuntut ilmu ialah Nabi Besar Muhammad SAW juga beserta keluarga, sahabatnya, dan moga kita juga mendapatkan cucuran berkah dari ilmu beliau. Amien. Dalam makalah ini kami ingin menyajikan berbagai permasalahan dalam ruang lingkup tentang ayat-ayat kauniyah yang mencakup pengertian ayat kauniyah, identifikasi ayat-ayat kauniyah dan tafsirannya dalam Al-Qur’an Dalam pembuatan makalah ini kami pun mengalami kesulitan dan masalah baik itu dari segi pemahaman, bahan , penyajian makalah dan lain – lainnya, untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak – pihak yang telah membantu , baik itu dari pihak teman-teman, maupun dari pihak lainnya, serta kami juga mengucapkan terima kasih juga kepada dosen studi Islam yang telah membantu memberikan pengarahan dan petunjuk dalam pembuatan makalah ini , mudah mudahan makalah ini bermanfaat bagi pembaca sekalian dan segala bantuan yang diberikan kepada kami di balas oleh Allah SWT , Amiin. Kami mengucapkan mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam pengeditan atau salah dalam penggunaan bahasa, semua tidak lepas dari kodrat kami sebagai manusia yang selalu belajar dari kesalahan-kesalahan untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik. Demi kesempurnaan makalah yang kami buat, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian.

Jakarta, 22 Desember 2008

Tim Penulis

Pendahuluan
Al-Quran Al-Karim, yang terdiri atas 6.236 ayat itu,1 menguraikan berbagai persoalan hidup dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya. Uraian-uraian sekitar persoalan tersebut sering disebut ayat-ayat kauniyyah. Tidak kurang dari 750 ayat yang secara tegas menguraikan hal-hal di atas.2 Jumlah ini tidak termasuk ayat-ayat yang menyinggungnya secara tersirat. Tetapi, kendatipun terdapat sekian banyak ayat tersebut, bukan berarti bahwa Al-Quran sama dengan Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan untuk menguraikan hakikat-hakikat ilmiah. Ketika Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai tibyanan likulli syay'i (QS 16:89), bukan maksudnya menegaskan bahwa ia mengandung segala sesuatu, tetapi bahwa dalam Al-Quran terdapat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.3 Al-Ghazali dinilai sangat berlebihan ketika berpendapat bahwa "segala macam ilmu pengetahuan baik yang telah, sedang dan akan ada, kesemuanya terdapat dalam Al-Quran". Dasar pendapatnya ini antara lain adalah ayat yang berbunyi, Pengetahuan Tuhan kami mencakup segala sesuatu (QS 7:89). AlSyathibi, yang bertolak belakang dengan Al-Ghazali, juga melampaui batas kewajaran ketika berpendapat bahwa "Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran" --tetapi dalam kenyataan tidak seorang pun di antara mereka yang berpendapat seperti di atas. "Kita," kata Al-Syathibi lebih jauh, "tidak boleh memahami Al-Quran kecuali sebagaimana dipahami oleh para sahabat dan setingkat dengan pengetahuan mereka."4 Ulama ini seakan-akan lupa bahwa perintah Al-Quran untuk memikirkan ayat-ayatnya tidak hanya tertuju kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi-generasi sesudahnya.
1

Jumlah ini adalah yang populer di samping jumlah 6.666 ayat. Tetapi, masih ada pendapatpendapat lain. Lebih jauh dapat dilihat dalam Al-Zarkasyi, Al-Burhan fi 'Ulum Al-Qur'an, AlHalabiy, Kairo 1957, jilid I, h. 249. 2 Thanthawi Jauhari, Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an, Kairo, 1350 H, jilid I, h. 3. 3 Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, Dar Al-Qalam, Mesir, Cetakan II, t.t., h. 13, dan seterusnya. 4 Abu Ishaq Al-Syathibi, Al-Muwafaqat, Dar Al-Ma'rifah, Mesir, t.t., jilid 1, h. 46.

PEMBAHASAN
• PENGERTIAN AYAT-AYAT KAUNIYYAH

Ayat-ayat kauniyyah adalah uraian-uraian yang terdapat didalam Al-Qur’an tentang berbagai persoalan hidup dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.

•

MENTAFSIRKAN AYAT-AYAT KAUNIYYAH DI DALAM ALQUR’AN

A. Al-Quran dan Alam Raya Seperti dikemukakan di atas bahwa Al-Quran berbicara tentang alam dan fenomenanya. Paling sedikit ada tiga hal yang dapat dikemukakan menyangkut hal tersebut: 1. Al-Quran memerintahkan atau menganjurkan kepada manusia untuk memperhatikan dan mempelajari alam raya dalam rangka memperoleh manfaat dan kemudahan-kemudahan bagi kehidupannya, serta untuk --mengantarkannya kepada kesadaran akan Keesaan dan Kemahakuasaan Allah SWT. Dari perintah ini tersirat pengertian bahwa manusia memiliki potensi untuk mengetahui dan memanfaatkan hukum-hukum yang mengatur fenomena alam tersebut. Namun, pengetahuan dan pemanfaatan ini bukan merupakan tujuan puncak (ultimate goal). 2. Alam dan segala isinya beserta hukum-hukum yang mengaturnya, diciptakan, dimiliki, dan di bawah kekuasaan Allah SWT serta diatur dengan sangat teliti. Alam raya tidak dapat melepaskan diri dari ketetapan-ketetapan tersebut --kecuali jika dikehendaki oleh Tuhan. Dari sini tersirat bahwa: a. Alam raya atau elemen-elemennya tidak boleh disembah, dipertuhankan atau dikultuskan. b. Manusia dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tentang adanya ketetapanketetapan yang bersifat umum dan mengikat bagi alam raya dan fenomenanya (hukum-hukum alam).

3. Redaksi ayat-ayat kawniyyah bersifat ringkas, teliti lagi padat, sehingga pemahaman atau penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut dapat menjadi sangat bervariasi, sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan masing-masing penafsir. Dalam kaitan dengan butir ketiga di atas, perlu digarisbawahi beberapa prinsip dasar yang dapat, atau bahkan seharusnya, diperhatikan dalam usaha memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang mengambil corak ilmiah. Prinsip-prinsip dasar tersebut adalah : 1. Setiap Muslim, bahkan setiap orang, berkewajiban untuk mempelajari dan memahami Kitab Suci yang dipercayainya, walaupun hal ini bukan berarti bahwa setiap orang bebas untuk menafsirkan atau menyebarluaskan pendapatpendapatnya tanpa memenuhi seperangkat syarat-syarat tertentu. 2. Al-Quran diturunkan bukan hanya khusus ditujukan untuk orang-orang Arab ummiyyin yang hidup pada masa Rasul saw. dan tidak pula hanya untuk masyarakat abad ke-20, tetapi untuk seluruh manusia hingga akhir zaman. Mereka semua diajak berdialog oleh Al-Quran serta dituntut menggunakan akalnya dalam rangka memahami petunjuk-petunjuk-Nya. Dan kalau disadari bahwa akal manusia dan hasil penalarannya dapat berbeda-beda akibat latar belakang pendidikan, kebudayaan, pengalaman, kondisi sosial, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), maka adalah wajar apabila pemahaman atau penafsiran seseorang dengan yang lainnya, baik dalam satu generasi atau tidak, berbeda-beda pula. 3. Berpikir secara kontemporer sesuai dengan perkembangan zaman dan iptek dalam kaitannya dengan pemahaman Al-Quran tidak berarti menafsirkan AlQuran secara spekulatif atau terlepas dari kaidah-kaidah penafsiran yang telah disepakati oleh para ahli yang memiliki otoritas dalam bidang ini. 4. Salah satu sebab pokok kekeliruan dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran adalah keterbatasan pengetahuan seseorang menyangkut subjek bahasan ayat-ayat Al-Quran. Seorang mufasir mungkin sekali terjerumus kedalam kesalahan apabila ia menafsirkan ayat-ayat kawniyyah tanpa memiliki

pengetahuan yang memadai tentang astronomi, demikian pula dengan pokokpokok bahasan ayat yang lain. Dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pokok di atas, ulama-ulama tafsir memperingatkan perlunya para mufasir --khususnya dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan penafsiran ilmiah-- untuk menyadari sepenuhnya sifat penemuan-penemuan ilmiah, serta memperhatikan secara khusus bahasa dan konteks ayat-ayat Al-Quran.

B. Pendapat Para Ulama tentang Penafsiran Ilmiah
Disepakati oleh semua pihak bahwa penemuan-penemuan ilmiah, di samping ada yang telah menjadi hakikat-hakikat ilmiah yang dapat dinilai telah memiliki kemapanan, ada pula yang masih sangat relatif atau diperselisihkan sehingga tidak dapat dijamin kebenarannya. Atas dasar larangan menafsirkan Al-Quran secara spekulatif, maka sementara ulama Al-Quran tidak membenarkan penafsiran ayat-ayat berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah yang sifatnya belum mapan.5 Seorang ulama berpendapat bahwa "Kita tidak ingin terulang apa yang terjadi atas Perjanjian Lama ketika gereja menafsirkannya dengan penafsiran yang kemudian ternyata bertentangan dengan penemuan para ilmuwan."6 Ada Pula yang berpendapat bahwa "Kita berkewajiban menjelaskan Al-Quran secara ilmiah dan biarlah generasi berikut membuka tabir kesalahan kita dan mengumumkannya."7 Abbas Mahmud Al-Aqqad memberikan jalan tengah. Seseorang

hendaknya jangan mengatasnamakan Al-Quran dalam pendapat-pendapatnya, apalagi dalam perincian penemuan-penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh redaksi ayat-ayat Al-Quran. Dalam hal ini, AlAqqad memberikan contoh menyangkut ayat 30 Surah Al-Anbiya' yang oleh sementara ilmuwan Muslim

Muhammad Ridha Al-Hakimi, Al-Qur'an Yasbiqu Al-'Ilm Al-Hadits, Dar Al-Qabas, Kuwait, 1977, h. 71. 6 Abdul Muta'al Muhammad Al-Jabri, Syathahat Mushthafa Mahmud, Dar Al-I'thisham, Kairo, 1976, h. 12. 7 Muhammad Ridha Al-Hakimi, loc cit.

5

dipahami sebagai berbicara tentang kejadian alam raya, yang pada satu ketika merupakan satu gumpalan kemudian dipisahkan Tuhan. Setiap orang bebas memahami kapan dan bagaimana terjadinya pemisahan itu, tetapi ia tidak dibenarkan mengatasnamakan Al-Quran menyangkut pendapatnya, karena Al-Quran tidak menguraikannya.8 Setiap Muslim berkewajiban mempercayai segala sesuatu yang dikandung oleh Al-Quran, sehingga bila seseorang mengatasnamakan Al-Quran untuk membenarkan satu penemuan atau hakikat ilmiah yang tidak dicakup oleh kandungan redaksi ayat-ayat Al-Quran, maka hal ini dapat berarti bahwa ia mewajibkan setiap Muslim untuk mempercayai apa yang dibenarkannya itu, sedangkan hal tersebut belum tentu demikian. Pendapat yang disimpulkan dari uraian Al-Aqqad di atas, bukan berarti bahwa ulama dan cendekiawan Mesir terkemuka ini menghalangi pemahaman suatu ayat berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak! Sebab, menurut Al-Aqqad lebih lanjut, "Dahulu ada ulama yang memahami arti 'tujuh langit' sebagai tujuh planet yang mengitari tata surya --sesuai dengan perkembangan pengetahuan ketika itu. Pemahaman semacam ini merupakan ijtihad yang baik sebagai pemahamannya (selama) ia tidak mewajibkan atas dirinya untuk mempercayainya sebagai akidah dan atau mewajibkan yang demikian itu terhadap orang lain."9 Bint Al-Syathi' dalam bukunya, Al-Qur'an wa Al-Qadhaya Al-Washirah, secara tegas membedakan antara pemahaman dan penafsiran.10 Sedangkan AlThabathaba'i, mufasir besar Syi'ah kontemporer, lebih senang menamai penjelasan makna ayat-ayat Al-Quran secara ilmiah dengan nama tathbiq (penerapan).11 Pendapat-pendapat di atas agaknya semata-mata bertujuan untuk menghindari jangan sampai Al-Quran dipersalahkan bila di kemudian hari terbukti teori atau penemuan ilmiah tersebut keliru.
8

Abbas Mahmud Al-Aqqad, Al-Falsafah Al-Qur'aniyyah, Dar Al-Hilal, Kairo, t.t., h. 182. Ibid. 10 Bint Al-Syathi', Al-Quran wa Al-Qadhaya Al-Mu'ashirah, Dar Al-Ilmu li Al-Malayin, Beirut, 1982, h. 313. 11 Muhammad Husain Al-Thabathaba'i, Tafsir Al-Mizan, Dar Al-Kutub Al-Islamiyyah, Teheran, 1397 H., cet. III, jilid I, h. 6.
9

C. Segi Bahasa Al-Quran dan Korelasi Antar Ayatnya
Seperti yang telah dikemukakan di atas, para mufasir mengingatkan agar dalam memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran --khususnya yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah-- seseorang dituntut untuk memperhatikan segi-segi bahasa Al-Quran serta korelasi antar ayat. Sebelum menetapkan bahwa ayat 88 Surah Al-Naml (yang berbunyi, Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan), ini menginformasikan pergerakan gununggunung, atau peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya. Apakah ia berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan duniawi kita dewasa ini atau keadaannya kelak di hari kemudian. Karena, seperti diketahui, penyusunan ayat-ayat Al-Quran tidak didasarkan pada kronologis masa turunnya, tetapi pada korelasi makna ayat-ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat kemudian. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan. Ada sementara orang yang berusaha memberikan legitimasi dari ayat-ayat Al-Quran terhadap penemuanpenemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan. Ayat 22 Surah Al-Hijr, diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama dengan, "Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuhtumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit ..."12 Terjemahan ini, di samping mengabaikan arti huruf fa; juga menambahkan kata tumbuh-tumbuhan sebagai penjelasan sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan. Hemat penulis, terjemahan dan pandangan di atas tidak didukung oleh fa anzalna min al-sama' ma'a yang seharusnya diterjemahkan dengan maka kami turunkan hujan. Huruf fa' yang berarti "maka" menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan, atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf tersebut diterjemahkan dengan dan
12

Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran Depag, Al-Qur'an dan Terjemahannya, Percetakan PT. Seraya Santra, 1989.

sebagaimana tidak tepat penyisipan kata tumbuh-tumbuhan dalam terjemahan tersebut. Bahkan tidak keliru jika dikatakan bahwa menterjemahkan lawaqiha dengan meniupkan juga kurang tepat. Kamus-kamus bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan inseminasi. Sehingga, atas dasar ini, Hanafi Ahmad menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, semakna dengan Firman Allah dalam surah Al-Nur ayat 43:

43. tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagianbagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya
13

Memang, seperti yang dikemukakan di atas, sebab-sebab kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran antara lain adalah kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran, serta kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat. Karena itu, walaupun sudah terlambat, kita masih tetap menganjurkan kerja sama antardisiplin ilmu demi mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat dari ayat-ayat Al-Quran dan demi membuktikan bahwa Kitab Suci tersebut benar-benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahaesa itu.

D. GAYA DAN GERAK BOLA BUMI
13

Hanafi Ahmad, Al-Tafsir Al-'Ilmiy lil Ayat Al-Kawniyyah, Dar Al-Ma'arif Mesir, 1960, h. 363, dan seterusnya.

Gaya tarik dan gaya tolak Kulit bumi menyelimuti planet bumi, berada dalam pengaruh dua kekuatan (gaya) yang berbeda arahya namun berimbang kekuatannnya, sebagaimana dikatakan oleh para ahli geografi. Kedua gaya itu adalah: 1. gaya sentrifugal yaitu gaya yang muncul sebagai akibat dari perputaran bumi pada porosnya. 2. gaya gravitasi, yaitu gaya yang muncul dari proses penarikan bumi terhadap obyeknya. Seandainya gaya ini tidak seimbang kekuatannya, maka akan beterbangan kulit bumi dan berhamburan di angkasa, serta sekaligus menebarkan gununggunung, pabrik-pabrik, bangunan-bangunan dan semua manusia yang ada di permukaannya. Undang-undang ini telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Bijaksana berkenaan dengan alam dan penundukannya untuk manusia ini, telah diuraikan kepada kita dalam firman Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar mengenai langit dan bumi:

"#$%

!"

!

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.

Yakni, tidak seorang pun dapat menahan mereka (langit dan bumi). Pengertian zawal adalah pergi (hilang), punah, dan beterbangan di angkasa sehingga. Tak ada bekasnya sedikitpu. Adapun bumi, sebagaimana halnya di angkasa, juga harus tetap terkendali supaya tidak berserakan di angkasa.

E. Nikmat Peralihan Siang dan Malam Karena Rotasi Bumi

Allah SWT, telah mengingatkan kita telah tentang nikmat yang besar ini, yakni nikmat peralihan siang dan malam, yang seluruh kehidupan terkait erat dengannya dan tidak mungkin ada kehidupan tanpa keduanya, hal tersebut telah dijelaskan Allah SWT dalam surat Al-Qashash: )* $& +, ! 0" # * 45 . !"/ )* $ +, ! % &* )( &' ( '&* )* $ "3$% 2 )* $& 0" # & # ( 1 ( &'

& #

& %( *' . !"/

"37% 2 +, 1 & ! 2 6(

71. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka Apakah kamu tidak mendengar?" 72. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?"

Kemudian Allah SWT menjadikan siang dan malam -yang keduanya merupakan fenomena alam yang menakjubkan – sebagai bukti dari tanda-tanda kekuasaan dan curahan kasih sayangNya. Allah SWT berfirman: "38% ( 0( ( ' (. / ! ( 6 &* ( & #

73. dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

Maksud ayat diataas adalah Allah berfiraman kepada Rasulnya, “ Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad, ‘Ceritakanlah kepadaku

seandainya Allah menjadikan atas kalian malam yang terus menerus tanpa terputus selamanya, adakah Tuhan selain Dia mampu untuk mendatangkan cahaya yang kalian jadikan penerangan dalam hidup kalian, selain Dia pencipta kalian? Tidakah kalian mendengar kalam Tuhanmu dengan pendengaran yang penuh

pemahaman dan perenungan sehingga kalian jadikan dalil terhadap kemahaesaan Allah SWT?”

Katakan juga kepada mereka, ‘Beritahukanlah kepadaku seandainya Allah menjadikan atas kalian siang terus menerus mendatangkan malam agar kamu dapat beristirahat di dalamnya dari segala aktivitas siang yang melelahkan, selain Allah SWT? Tidakkah kalian melihat tanda-tanda kekuasaan Allah di alam yang penuh keajaiban ini?

Di antara tanda-tanda kekuasaanNya dan Bukti belas kasihNya adalah bahwa Allah telah menciptakan malam dan sian yang saling silih berganti dengan akurat dan pasti, supaya kalian dapat beristirahat pada malam hari dari kesibukan, kepenatan dan kekeruhan hisup. Dan supaya kalian dapat mencari sumber-sumber rejeki pada siang hari dengan bekerja dan beraktivitas, sertaa agar kalian bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmatNya yang riada terhingga yang di antaranya adalah nikmat penciptaan siang dan malam. Imam Al-Fakhrurazzi berkata,14”Allah SWT memberitahukan melalui ayat yang mulia ini bahwa siang dan malam adalah dua nikmat yang saling silih berganti sepanjang masa. Karena seseorang terpaksa harus bekerja keras demi meraih sesuatu yang ia inginkan, dan hal itu tak mungkin terjadi kecuali dengan adanya terang di saat siang dan ketenangan untuk beristirahat di waktu malam. Dengan demikian, di dunia ini siang dan malam merupakan suatu yang harus ada. Sedangkan di surga, tidaklah ada jerih payah sehingga para penghuninya tidak membutuhkan malam. Oleh karena itu, penerangan dan kelezatan bersifat abadi bagi mereka.

F. Apa yang terjadi jika bumi tidak bergerak?
Bayangkan, seandainya bola bumi berhenti dari berotasi dan tidak bergerak, maka separuh bumi yang menghadap matahari tidak barubah dari
14

Imam Al-Fakhrurrazi, At-Tafsir Al-Kabir,XXV/11.

tempatnya selamanya. Akibatnya, kita akan terbakar oleh teriknya matahari, tanaman serta buah-buahan menjadi kering. Siapakah yang mampu memutar gerak bumi selain Yang Maha Pengasih, Maha Agung dan Maha Mulia? Seandainya yang terjadi sebaliknya, saat gerak bumi berhenti dan matahari berada pada sisi yang membelakangi kita sehingga malam terjadi secara terus menerus tiada terputus, tidakkah dapat dipastikan bahwa semua aktivitas manusia akan terhenti, seluruh hasil panen akan hancur, dan tanam-tanaman serta susu binatang menjadi kering? Karena itu, Allah SWT mengingatkan kita terhadap nikat rotasi bumi, yang dengannya lahirlah siang dan malam, Maha Suci Allah, yang menggerakan bumu dengan kuasaNya serta menjadikan gerak bumi sebagai bukti wujud dan kemahaesaanNya.

G. Pendapat Sebahagian Ulama Tafsir
Sebagian mufassir dari ulama salaf as-shalih telah memberikan isyarat mengenai terjadinya gerak dan rotasi benda-benda langit. Meskipun isyarat itu hanya sepintas lalu, hal itu telah menunjukkan atas pemahaman yang cemerlang dan pandangan yang jauh ke depan. Jauh sebelum ilmu modern mengetahui berbagai realitas ilmiah pada era satelit dan pesawat antariksa, era invasi ke antariksa. Imam Al-BUkhari pada kitab shahihnya dalam” “ ‘awal

Penciptaan’ mengutip pendapat Imam Mujahid bin Jabr; salah saru ulama tafsir terkemuka dari kalangan tabi’in, yang juga merupakan murid Abdullah bin Abbas; pakar Al-Qur’an, bahwa memtahari bergerak pada sumbunya dan juga berputar sebagaimana berputarnya batu penggiling pada alat penggiling tepung yang sedang menggiling gandum, dimana ia terus berputar pada lintasan peredaran dan porosnya berputar pada sumbunya dengan gerakan yang teratur dan rapi. Inilah yang kemudian ditetapkan oleh ilmu modern ekarang ini, yaitu bahwa matahari bergerak pada porosnya, serta tidak diam dan tetap di tempanya, sebagaimana yang disangka oleh sebagian ulama falak. Al-Hafidz Ibnu hajar dalam Fathul Bari menyatakan, “ Pengertiannya adalah bahwa matahari dan bulan jalan sesuai dengan gerak batu penggiling dan

posisi diletakkannya.”15 Dan salah seorang mufassir terkenal; Abu Hayyan, dalam kitab tafsirnya Al-Bahr Al-Muhith mengatakan, “Bahwa Mujahid berkata, ‘ Pengertian Husban” “ adalah berbda langit yang bulat, menyerupai penggiling

yang terbuat dari kayu, dimana putarannya memutar alat penggiling.””

H. Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang Bumi itu Bulat
Syeikh Al-Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Fatawa: XXV/142 mengatakan, ada kesamaan antara bulan dan tahun dengan hari dan minggu; hari secara alami ditentukan sejak terbitnya matahari hingga terbenam, sedang minggu adalah bersigat bilangan yang berpatokan pada enam hari dimana Allah telah menciptakan langit dan bumi di dalamnya. Sehingga terjadilah keseimbangan antara matahari dan bulan, hari dan minggu berdasarkan perjalanan matahari, sementara bulan dan tahun berdasarkan perjalanan bulan. Berdasarkan keduanya itu sempurnalah hitungan hari." Para ulama telah bersepakat, bahwa berdasarkan hasil penelitian para pakar astronomi, bentuk planet bumi adalah bulat, bukan datar.

Pendapat Mufassir Al-Qur'an Tentang Bumi yang Bulat Pertama, Imam Al-Badawi –seorang mufassir dari kelompok mutaqaddimin – menafsirkan firman Allah: *( 6 ( )1 (

& #

22. "Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, "

Yakni, bumi disediakan untuk manusia agar dapat duduk dan tidur di atasnya, seperti tikar yang terhampar. Hal ini tidaklah mengandung bahwa bentuk bumi itu menghampar, walaupun bumi itu bundar, namun oleh fisiknya yang sangat besar, hal ini tidak berarti bahwa ia tidak bisa digunakan untuk tempat duduk, tidur dan

15

Ibnu Hajar Al-Asqalany, Fathul Bari 'ala Shahih Al-Bukhari, VI/289.

sebagainya. "

" Dan langit sebagai bangunan, yakni atap yang tinggi dan

berada jauh di atas bumi sebagaimana halnya keadaan kubah.16

Kedua, Firman Allah SWT dalam Surat Ar-Ra'd: & < <4 4: & # 3 ,&( "8% & 4; 2 4: & # + 45 &! 9 5.

! .- / -8 > = 7 +6

3. dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungaisungai padanya.

Yakni, Allah SWT dengan kekuasaanNya telah membentangkan bumi dan menjadikan memanjang lagi luas, agar manusia dapat bertempat tinggal di atasnya. Senadainya seluruh bumi berupa jurang-jurang, gunung-gunung, bukitbukit dan tidak ada tanah-tanah datar yang membentang, maka dapat dipastikan manusia tidak mungkin dapat hidup di sana. Berkenan dengan hal itu Ibnu Jazyi mengatakan dalam kitab tafsirnya; yang bernama At-Thasil fi Ulum At-Tansil sebagai berikut, "Kata membentang, memanjang dan melingkar tidaklah menafikan akan bentuk bumi yang bulat, karena masing-masing bagian dari bumi memang datar, namun secara kesatuan bumi itu bulat."17

Ketiga, Imam Al-Alusi saat menafsirkan firman Allah SWT: "$?% /9
19. dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,

:

(

& #

Beliau mengungkapkan, "Ayat di atas sana sekali tidak menunkukkan bahwa bentuk bumi itu datar bukan bulat. Karena bola bumi yang sedemikian besar, menjadikan orang-orang yang berada di dalamnya akan melihat kondisi

16 17

Al-Qadhi Al Badhawi, Tafsir Al-Badhawi,1/16. Ibnu Jazyi Al-Kalabi, At-Thasil fi Ulum At-Tansi, II/130

sekelilingnya datar terhampar. Sebenarnya keyakinan tentang bulat atau tidak bulatnya bumi, bukanlah merupakan suatu keharusan dalam syariat Islam. Akan tetapi , bulatnya bentuk bumi telah menjadi sesuatu yang diyakini kebenarannya. Adapun maksud 'Allah telah menjadikannya terhampar' adalah; bahwa kamu semua dapat berhilir-mudik di dalamnya sebagaimana engkau berhilir-mudik di atas hamparan.18

I. ISYARAT-ISYARAT AL-QUR'AN TENTANG GEOLOGI Abstraksi Kata "gunung" disebutkan secara eksplisit dalam Kitab Suci Al-Qur'an sebanyak 39 kali dan secara implisit dalam 10 ayat lainnya. Dari 49 ayat Qur'an tersebut, 22 diantaranya menggambarkan gunung sebagai "pasak atau tiang pangcang yang memancangkan permukaan bumi ke bawah dengan aman serta mengkokohkannya agar tidak bergetar bersama kita." Fakta-fakta mengenai bentuk dan peran gunung baru belakangan ini saha tersingkap oleh para pakar. Sejarah ilmu pengetahuan mengatakan kepada kita bahwa asumsi mengenai gunung memiliki akar dan perannya dalam menghentikan gerakan menyentak horisontal lithosfer baru saja dapat difahami dalam kerangka kerja teori lempeng tektonik (plate tektonics) pada penghujung akhir tahun 1960-an. Fakta bahwa kitab suci Al-Qur'an yang telah mewahyukan 14 abad lalu yang menggambarkan gunung sebagai pasak menyatakan secara tidak langsung bahwa sebagian massa gunugn berada di bawah permukaan bumi. Dan ilmu-ilmu bumi modern mempunyai bukti-bukti bahwa akar-akar gunung yang terhujam dalam, dapat mencapai 15 kali ketinggiannya di atas permukaan darat. Kembali, ayat-ayat Al-Qur'an menunjukan peranan utama gunung sebagai "stabilisator permukaan bumi agar tidak bergetar bersama kita", dan teori ultra-modern mengenai lempeng tektonik menyijing hal ini. Nabi Muhamad, bersabda:

18

Al-Alusi, Tafsir Ruh Al-Ma'ani, XXIX/76, lihat dalil-dalil yang jelas dalam kitab Muhammad Ali Al-Sabouni, Shofwatu At-Taafaasiir, III/742.

"Tatkala Allah meciptakan bumi, ia bergoyang dan menyentak, lalu Allah menstabilkannya dengan gunung." Dan Nabi Muhammad SAW yang buta huruf ini hidup antara tahun 570 hingga 632, pada saat tak seorang pun, baik sebelum SAW ataupun 12 abad setelahnya, mengetahui apapun mengenai gerakan sebagai stabilisator baginya atau apakah gunung memiliki pengaruh apa pun melaluinya. Selain itu, gambaran Kitab Suci Al-Qur'an atas gunung sebagai "tiang pancang" (atau pasak) dapat berarti bahwa kebanyakan massa gunung tersembunyi di bawah permukaan bumi, karena sebagian besar dari tiang pancang itu tersembunyi dalam tanah atau batuan untuk memegangn gunung itu pada permukaan bumi. Ini hanya beberapa bukti atas sifat suci dari Al-Qur'an dan peranan Rasulullah saw., karena tida seorang pun manusia tahu tentang bukti ini sebelum pertengahan abad ke 19 dan gambaran pada waktu sekarang sesungguhnya jauh lebih dari sempurna sebelum akhir tahun 60-an.

KESIMPULAN
Dengan mempelajari, mengamati, menyelidiki, dan merenungkan alam semesta (al-kaun) dengan segala isinya, manusia dapat melahirkan berbagai

disiplin ilmu seperti: Kosmologi, Astronomi, Botani, Meterologi, Geografi, Zoologi, Antropologi, Psikologi, dan sebagainya. Sedangkan dari mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, dan sebagainya. Dengan memahami bahwa semua ilmu itu adalah dari Allah swt., maka dalam mendalami dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun (al-kaun) harus mengacu firman Allah swt. Sebagai referensi, sehingga akan semakin meneguhkan keimanan. Selain itu penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi akan terkendali serta mengenal adab. Masih begitu banyak ayat-ayat yang terkandung dalam Al-qur'an yang merupakan ayat-ayat kauniyah baik yang sudah diketahui maupun yang masih perlu kita pelajari. Dengan demikian akan semakin bertambahlah keimanan kita akan adanya Sang Pencipta yang telah menciptakan alam jagat raya dengan segala isinya dengan begitu sempurnanya.

Daftar Pustaka
1. Baiquni, Achmad. Prof. M.Sc. 1997. Al-Qur'an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman. Yogyakarta : PT. Dana Bhakh Primayasa. 2. Al-Sabouni, Muhammad Ali. Prof. 2003. Gerak dan Rotasi Bumi Realitas dalam Al-Qur'an. Jakarta : Dar Al-Kutub Al-Islamiyah. 3. El-Fandy, Muhammad Jamaluddin.1965. Ajat 2 Mengenai Kosmos dalam Quran. Jakarta : Majelis Tertinggi Urusan Agama Islam. 4. Suny, Ismail. Dkk. 1995. Mukjizat Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang IPTEK. Jakarta : Gema Insani Press. 5. Agus, Purwanto. 2008. Ayat-ayat Semesta. Bandung : PT. Mizan Pustaka. 6. Al-Amiri, Muh. Wafa. 1981. Ayatullah Ta'ala. Daru Al-Ridawan. 7. Budiyanto, Ir. 2006. Risalah Alam Semesta& Kehidupan. Jakarta : GKreatif. 8. Qardawi, Yusuf. 1998. Al-Qur'an Akal dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Gema Insani. 9. Haeri, Syeikh Fadhalla. 2004. Membaca Alam, Memahami Zaman. Jakarta : Serambi Jakarta. 10. Media.Isnet.org/Islam/quraishshihab/membumi/kauniyah.html


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:15074
posted:6/24/2009
language:Indonesian
pages:19
Description: ayat quran yang tersirat