Ahlusunah waljamah

Reviews
Shared by: Muchamad Fadilah
Categories
Tags
Stats
views:
321
rating:
not rated
reviews:
0
posted:
6/23/2009
language:
English
pages:
0
! # " Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas sains dan Teknologi Jurusan Sistem Informasi 2008 KATA PENGANTAR Bismillahirrahmaanirrahiim Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T yang senantiasa malimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, nikmat sehat walafiat serta nikmat iman dan islam. Shalawat dan salam tak lupa penulis panjatkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad S.A.W. Berkat rahmat Allah S.W.T. jualah karya tulis ini selesai penulis susun, dengan mengambil judul “Ahli Sunnah Wal Jamaah”. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak yang telah membimbing penulis sejak awal penulisan karya tulis ini hingga selesai. Dan ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman yang telah memberikan bantuan, baik berupa moril ataupun materil. Semoga bantuan dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan dari Allah S.W.T. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun bagi pembacanya. Penulis juga mohon maaf apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Jakarta, 15 April 2009 Penulis PENDAHULUAN AHLUS SUNNAH WALJAMAAH dan berbagai penyimpangan aqidah yang terjadi ditengah-tengah umat ini, akan dapat memperkokoh aqidah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH serta menghindarkan diri dari segala bentuk ajaran yang menyesatkan. Berkata para ulama : "Barang siapa yang tidak mengetahui suatu keburukan, maka dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalamnya". Sedangkan di dalam aqidah umat Islam yang ahli sunnah wal jamaah ini, mungkin saja ada perbedaan teknis dalam masalah tata cara ibadah. Perbedaan ini sangat logis, wajar dan mungkin terjadi. Bahkan sudah terjadi sejak nabi Muhammad SAW masih hidup di antara para shahabatnya. Untuk itu lalu para ulama membuat metologi dalam memahami nash Quran dan Sunnah serta membuatkan 'jalan' bagi mereka yang ingin mendapatkan kesimpulan hukum dari sumber-sumber ajaran Islam itu. Jalan inilah yang kita sebut dengan mazhab fiqih. Adapaun bila metodologi yang berkembang berbeda-beda, adalah hal yang amat wajar sekali. Karena memang syariat Islam memberikan ruang untuk berijtihad di dalamnya. Di antara contohnya adalah adanya perbedaan dalam masalah hukum qunut dalam shalat shubuh, jumlah bilangan rakaat tarawih, bacaan ushalli, zikir dengan suara keras dan berjamaah serta lain-lainnya. Semua itu adalah perbedaan yang bersifat fiqhiyah, bukan dalam hal aqidah. Jadi mereka yang berbeda pendapat dalam masalah itu sebenarnya tetap sama-sama termasuk bagian dari ahli sunnah wal jamaah juga. Sedangkan yang dianggap keluar dari aqidah ahli sunnah misalnya bila punya pandangan bahwa semua agama sama, atau bahwa pemeluk agama selain Islam juga bisa masuk surga, atau pandangan bahwa hukum Islam itu tidak wajib diterapkan, memisahkan antara agama dengan kehidupan dunia dan pemikiran sesat lainnya. Semua ini termasuk paham sesat yang bisa mengeluarkan seseorang dari barisan ahli sunnah wal jamaah. PEMBAHASAN Ahli Sunnah Wal Jamaah A. Ahli Sunnah Wal Jamaah. “Sunnah” adalah petunjuk Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, baik berupa ilmu (pengetahuan), i’tiqad (keyakinan), ucapan, maupun perbuatan. Dan itulah “Sunnah” yang wajib diikuti; penganutnya dipuji dan penentangnya dicela.” Istilah Sunnah juga dipakai untuk menyebut sunnah-sunnah ibadah dan i’tiqad, di samping menjadi lawan dari istilah Menurut bahasa, “Jama’ah” diambil l dari kata dasar jama’a (mengumpulkan) yang berkisar pada al-jam’u (kumpulan), al-ijma’ (kesepakatan), dan alijtima’ (perkumpulan) yang merupakan urge m (lawan kata) at-tafarruq (perpecahan). Ahlussunnah wal jamaah adalah istilah yang telah disebutkan sejak masa Rasulullah SAW sebagai golongan yang selamat dalam aqidahnya. Sebagaimana kita dapatkan dalam hadits beliau: Dari Muawiyah bin Abi Sufyan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Umat sebelummu dari ahli kitab terpecah menjadi 72 millah (aliran). Dan agama ini (Islam) terpecah menjadi 73. 72 diantaranya di neraka dan satu di surga. Yaitu Al-Jamaah.” (HR Abu Daud) 1 Dalam kitab syarah (penjelasan) Sunan Abi Daud yaitu kitab Aunul Ma'bud 2 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-jamaah adalah ahli Al-Quran Al-Kariem, ahli hadits, ahli fiqih dan ahli ilmu yang bergabung untuk mengikuti Rasulullah SAW dalam segala halnya. Mereka tidak membuat-buat bid’ah yang merusak, merubah atau membawa pendapat yang rusak. Seolah-olah Rasulullah SAW sudah mengisyaratkan akan ada beberapa alur akidah yang menyimpang dari apa yang beliau ajarkan, sehingga beliau mewanti-wanti ummatnya agar tepat berpegang kepada ahlussunnah wal jamaah. Ahlussunnah wal jamaah yang dimaksud oleh beliau tentu bukanlah nama dari sebuah organisasi baik berbentuk ormas atau orsospol. Juga bukan nama sebuah jamaah, kelompok, pengajian, perhimpunan atau forum sebagaimana yang kita sering dapati penggunaannya oleh beragam kelompok. Istilah ahlisunnah wal jamaah digunakan oleh Rasulullah SAW untuk menyebutkan semua umat Islam yang secara aqidah berpegang teguh kepada apa yang beliau ajarkan (sunnah) serta yang diajarkan oleh para shahabat beliau (jamaah). Jadi apapun nama organisasi atau partainya, asalkan pemahaman aqidahnya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW (yang diajarkan beliau) dan jamaah (apa yang diajarkan oleh para shahabat beliau), maka mereka semua adalah ahlus sunnah wal jamaah. Foot Note: 1 Didalam hadits tersebut tentang menjadi 72 aliran yang masuk neraka dan hanya 1 yang masuk surga memilki 2 pemikiran yang berbeda ada salah satu hadits juga yang mengatakan bahwa yang masuk surga itu 72 orang dan hanya satu yang masuk neraka. 2 Aunul Ma’bud adalah sunnah yag disertai dengan penilaian- penilaian haditsnya tufatul ahwadzi. Maka nama-nama yang anda sebutkan seperti Muhammadiyah, Persis, Ahmadiyah, LDII, Islam Jamaat, Khurij 3 dan ribuan nama lainnya bisa dikatakan sebagai ahlussunnah wal jamaah manakala mereka memiliki prinsip aqidah yang seusai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya. Sebaliknya, bila mereka mengajarkan aqidah yang menyimpang dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya, maka pada titik penyimpangan itu mereka bukanlah bagian dari ahlussunnah wal jamaah. Misalnya, bila ada di antara jutaan organisasi itu yang mengingkari Allah SWT sebagai tuhan dengan segala nama dan sifat-Nya, atau mengingkari kenabian Muhammad, atau mengatakan adanya nabi sepeninggal beliau, atau mengingkari kebenaran Al-Quran dan hadits, atau mengingkari adanya hari kiamat, atau mengingkari keberadaan surga dan neraka, qadha dan qadar serta apa-apa yang Allah SWT tegaskan dalam kitab-Nya, maka itu adalah penyimpangan aqidah. Sedangkan di dalam aqidah umat Islam yang ahli sunnah wal jamaah ini, mungkin saja ada perbedaan teknis dalam masalah tata cara ibadah. Perbedaan ini sangat logis, wajar dan mungkin terjadi. Bahkan sudah terjadi sejak nabi Muhammad SAW masih hidup di antara para shahabatnya. Untuk itu lalu para ulama membuat metologi 4 dalam memahami nash Quran dan Sunnah serta membuatkan 'jalan' bagi mereka yang ingin mendapatkan kesimpulan hukum dari sumber-sumber ajaran Islam itu. Jalan inilah yang kita sebut dengan mazhab fiqih. Adapaun bila metodologi yang berkembang berbeda-beda, adalah hal yang amat wajar sekali. Karena memang syariat Islam memberikan ruang untuk berijtihad di dalamnya. Di antara contohnya adalah adanya perbedaan dalam masalah hukum qunut dalam shalat shubuh, jumlah bilangan rakaat tarawih, bacaan ushalli, zikir dengan suara keras dan berjamaah serta lain-lainnya. Semua itu adalah perbedaan yang bersifat fiqhiyah, bukan dalam hal aqidah. Jadi mereka yang berbeda pendapat dalam masalah itu sebenarnya tetap sama-sama termasuk bagian dari ahli sunnah wal jamaah juga. Sedangkan yang dianggap keluar dari aqidah ahli sunnah misalnya bila punya pandangan bahwa semua agama sama, atau bahwa pemeluk agama selain Islam juga bisa masuk surga, atau pandangan bahwa hukum Islam itu tidak wajib diterapkan, memisahkan antara agama dengan kehidupan dunia dan pemikiran sesat lainnya. Semua ini termasuk paham sesat yang bisa mengeluarkan seseorang dari barisan ahli sunnah wal jamaah. Foot Note: 3 Muhammadiyah, Persis, LDII, Islam jamaat, dll sebagainya adalah nama- nama dari berbagai macam ajaran islam diindonesia meski brmacam dan sedikit berbeda dalam menjalankan syariatnya tetapi pedomannya tetap berdasarkan kepada Al- Qur’an dan Al- Hadits. 4 Metologi adalah pembahuran yang dilakukan oleh islam dalam masalah hukum- hukumnya. Nama Lain Ahli Sunnah wal Jama’ah. Ahli Sunnah wal Jama’ah memiliki sejumlah nama lain.10 1. Ahli Sunnah wal Jama’ah. 2. Ahli Sunnah (tanpa Jama’ah). 3. Ahli Jama’ah. 4. Jama’ah. 5. Salafush Shalih. 6. Ahli Atsar (Sunnah yang diriwayatkan dari Nabi ). 7. Ahli Hadis. Karena mereka lah orang-orang yang mau mengambi l Hadis Nabi, baik secara riwayah (periwayatan) maupun dirayah (pemahaman), dan siap mengikuti petunjuk Nabi , secara lahirbatin. 8. Firqah Najiyah (Golongan yang Selamat). Karena, mereka selamat dari keburukan, bid’ah, dan kesesatan di dunia, serta selamat dari api Neraka pada hari Kiamat. Hal itu disebabkan mereka mengikuti Sunnah Nabi . 9. To’ifah Manshuroh (Golongan yang Mendapatkan Pertolongan). Yaitu, golongan yang mendapatkan bantuan dari Allah Ta’ala. 10. Ahli Ittiba’. Karena, mereka selalu mengikuti (ittiba’) Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar generasi Salafush shalih. Kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah-masalah aqidah dan masala-masalah dien yang lain adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan sunnah rasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga petunjuk dan sunnah para Khulafaur Rasyidin. Karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi” [Ali-Imran : 31] Mereka itu, meskipun di antara mereka terjadi perselisihan karena ijtihad yang memang diperbolehkan, namun perselisihan ini tidak menyebabkan perselisihan hati-hati mereka, bahkan kamu dapati mereka ini bersatu dan saling mencintai, meskipun terjadi perselihan yang berangkat dari ijtihad. POKOK-POKOK AJARAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH Ketahuilah Allah memberimu taufik untuk menta’ati-Nya- bahwa aku tidak memaksudkan dengan pokok disini hanya macam-macam tauhid yang tiga saja, akan tetapi tauhid dan selainnya dari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang telah disepakati dan mereka menyelisihi ahli bid’ah dan firqoh dalam hal itu: Seperti wala’ dan bara’ (mencintai dan membenci), amar ma’ruf dan nahi anil munkar, bersikap terhadap sahabat, menghormati serta membela mereka, bersikap kepada pemimpin, kepada orang yang berbuat maksiat dan dosa besar, serta bersikap kepada Ahli bid’ah dan membicarakan serta bermuamalah dengan mereka dan lain sebagianya dari pokok-pokok ajaran yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka memasukkannya dalam kandungan kitab-kitab aqidah dalam rangka menampakkan kebenaran dan menyelisihi ahli ahwa’ dan firqoh walaupun semua itu secara asal adalah amal perbuatan bukan aqidah/keyakinan. Pokok- pokok ini membantu kita akan terjaga dari kebanyakan syubhat yang melanda negara-negara Islam. Ketika kebanyakan dari mereka yang bertaubat meremehkan hal ini, dan tidak memulai dalam taubatnya dengan mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta metode mereka, mereka menjadi bingung dan terombang-ambing hanya karena syubhat yang kecil, kita mohon kepada Allah keselamatan dan hidayah-Nya. Barangsiapa yang memperhatikan keadaan mereka maka dia akan mendapatkan gambaran dan contoh yang banyak sekali tentang terombang-ambingnya mereka, diantaranya : Kebanyakan orang yang baru bertaubat itu pada awal mulanya sangat semangat sekali menjauhi ahli bid’ah dan firqoh beberapa saat lamanya, ketika dia mendengar syubhat dari orang yang mengaku salafi yang berkata : “Sesungguhnya menjauhi ahli bid’ah dan tidak bermu’amalah dengan mereka tidaklah benar, Hal ini akan menyia-nyiakan kebaikan yang banyak sekali, tidak ada satu orangpun yang maksum setelah Rasul Shallallahu alaihi wa sallam, mereka para sahabat Radhiyallahu anhum juga pernah salah” . Anda mendapatkannya (setelah dia mendengar syubhat itu-pent) telah sakit hatinya dan dia telah menenggak syubhat itu lebih cepat dari pada dia meminum air, pada waktu itu juga dia telah berkumpul dengan ahli bid’ah, tidak perduli lagi dengan pokok-pokok ajaran salafiyah tapi dia masih menamakan dirinya salafi. Sesungguhnya kebimbangan ini terjadi karena tidak adanya keinginan mempelajari AlQur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para salaf, serta pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seandainya dia mempelajarinya maka sungguh dia akan mengetahui bahwa syubhat ini batil menyelisihi sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap ahli bid’ah yang dahulu maupun sekarang, dan dia akan mengetahui bahwa perkataan orang yang mengaku salafi itu (tidak ada seorangpun yang maksum setelah Rasul Shallallahu alaihi wa sallam dan bahwa semua orang itu pernah salah) adalah benar tapi maksudnya adalah batil, demikian itu karena Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kalangan shahabat, tabi’in apabila salah seorang dari mereka salah tidaklah kesalahan itu bersumber dari hawa nafsu, atau dari ketidak adanya mengikuti atsar (hadits), dan tidak juga bersumber dari menyelewengkan nash-nash, serta mengikuti hal-hal yang mutasyabih/samar-samar, seperti yang dilakukan oleh ahli bid’ah, akan tetapi karena ketidak tahuannya terhadap dalil atau dia mengetahui tapi menurutnya dalil tersebut tidak shohih atau lain sebagainya, yang disitu terdapat udzur baginya. Kepada mereka dan yang mengikuti mereka itulah turun sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : “Apabila seorang hakim berhukum dan dia berijtihad lalu benar maka dia mendapat dua pahala dan apabila salah maka dia mendapat satu pahala”. Hal ini berlainan dengan ahli bid’ah dan firqoh 5 yang tidak pernah memperhatikan atsar dan mereka lebih mendahulukan akal dari pada nash Al-Qur’an ataupun sunnah bahkan mereka membuat ajaran sendiri yang menyelisihi ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka ini tidak bisa diberi udzur seperti yang dikatakan oleh pengaku salafi itu, tidaklah yang menggolongkan mereka kedalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah melainkan orang jahil atau ahli bid’ah yang angkuh. “Sesungguhnya membantah/mengkritik itu bukanlah dari ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah ! hal ini bisa membuat hati keras !! dahulu ada seorang yang suka mengkritik golongan-golongan yang ada lalu dia berbalik kebelakang dengan sebab itu !!!., maka anda dapati dia mundur kebelakang, dan mengingkari pokok yang agung yang tegak dengannya agama ini (yaitu membantah ahli bid’ah) bahkan kamu mendapatinya setelah itu berdakwah/menyeru manusia untuk meninggalkan pokok ini dengan alasan hal itu bisa mengeraskan hati. Yang benar bahwa hal ini adalah pokok yang agung tegak dengannya agama yang lurus ini, dan merupakan pintu yang kokoh dalam menjaga manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari penyelewengan, serta merupakan ibadah yang mulia yang mendekatkan kepada Allah sekaligus menambah iman seorang muslim tapi dengan dipenuhi syarat-syaratnya diantaranya adalah ikhlas dll, pokok yang satu ini sama dengan ibadah lainnya yang dapat menambah iman. (Tapi jika ada yang keras hatinya) maka penyimpangan ini bukan berasal dari pokok ajaran/manhaj tapi dari yang mempraktekkan pokok tersebut tanpa adanya kaidah/ketentuan, ketika syubhat itu mendapatkan tempat didalam hatinya dia lalu mengingkari pokok yang satu ini, padahal seharusnya dialah yang berhak untuk diiingkari karena tidak mempraktekkan pokok ajaran(Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Oleh karena itulah kita tidak mendapatkan para Imam petunjuk dari kalangan shahabat, tabi’in dan para pengiktut mereka dengan baik kecuali dalam keadaan bertakwa, zuhud, dan takut kepada Allah, hati mereka sangat lembut padahal mereka sangat sering membantah orang atau kelompok yang menyelisih (Al-Qur’an dan Sunnah). Lihatlah Abdullah bin Mubarak, Imam Ahmad bin Hambal, Yahya Bin Ma’in, Ali Bin Madini, Abu Hatim Ar-Rozi dan Bukhari.. Sejarah hidup mereka dipenuhi dengan zuhud, wara’, 6 takut kepada Allah, dan takwa. Pemutar balikan fakta dan pencampuradukan hal ini sebabnya adalah ketidak adanya keikhlasan dan kejujuran dalam bertaubat kepada Allah, dan ketidak adanya keinginan untuk mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada awal mulanya. Foot Note: 5 Bid’ah adalah mengadakan sesuatu tanpa ada contoh atau memulai suatu cara yang belum ada sebelumnya Firqoh adalah adat kebiasaan yang sudah menjadi kebiasaan 6 Zuhud adalah seseorang tidaklah mengurangi syukurnya terhadap rizki yang halal yang telah Allah berikan kepadanya dan janganlah dia mebgurangi kesabarannya dalam meninggalkan yang haram. Wara’ adalah menjaga diri atau sikap hati- hati dari hal yang syubhat dan meninggalkan yang haram. Dari sini -wahai orang yang bertaubat- harus bagimu untuk berhati-hati dari perangkap yang berbahaya ini, dan kamu harus mengetahui bahwa tidak ada keselamatan bagimu dari syubhat yang menjalar dan dari perangkap yang menjerumuskan ini kecuali apabila Allah memberimu taufik/petunjuk dan kamu mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. (Surat Al-Baqarah : 63), “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benarbenar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.[Al-Ankabut : 69] Yakinlah akan firman Allah Ta’ala : “Artinya : Dan sesungguhnya jika mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi kami, dan pasti kami tunjuki kepada jalan yang lurus" [An-Nisa’ : 66-68] “Artinya : (Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka dijalan Allah dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh, Allah menyukai orang-orang yang sabar”. [Ali-Imran : 146] KESIMPULAN Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang menjalani sesuatu seperti yang dijalani oleh Nabi r dan sahabat-sahabatnya. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada Sunnah Nabi r, yaitu para sahabat, para tabi’in, dan para imam petunjuk yang mengikuti jejak mereka. Mereka adalah orang-orang yang istiqomah dalam mengikuti Sunnah dan menjauhi bid’ah, di mana saja dan kapan saja. Mereka tetap ada dan mendapatkan pertolongan sampai hari Kiamat Mengapa mereka disebut Ahli Sunnah Wal Jamaah karena mereka berafiliasi kepada Sunnah Nabi r dan bersepakat untuk menerimanya secara lahir-batin; dalam ucapan, perbuatan, maupun keyakinan. 1. Ahli Sunnah wal Jama’ah. 2. Ahli Sunnah (tanpa Jama’ah). 3. Ahli Jama’ah. 4. Jama’ah. 5. Salafush Shalih. 6. Ahli Atsar (Sunnah yang diriwayatkan dari Nabi r). 7. Ahli Hadis. Karena mereka lah orang-orang yang mau mengambil Hadis Nabi r, baik secara riwayah (periwayatan) maupun dirayah (pemahaman), dan siap mengikuti petunjuk Nabi r, secara lahir-batin. 8. Firqah Najiyah (Golongan yang Selamat). Karena, mereka selamat dari keburukan, bid’ah, dan kesesatan di dunia, serta selamat dari api Neraka pada hari Kiamat. Hal itu disebabkan mereka mengikuti Sunnah Nabi r. 9. To’ifah Manshuroh (Golongan yang Mendapatkan Pertolongan). Yaitu, golongan yang mendapatkan bantuan dari Allah Ta’ala. 10. Ahli Ittiba’. Karena, mereka selalu mengikuti (ittiba’) Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar generasi Salafush shalih. AHLUS SUNNAH WALJAMAAH yang berisikan ajaran-ajaran dzahir yang menjadi syari'at bagi umat, dan ajaran-ajaran yang bersifat bathin yang disebut dengan khowass 7, dan memiliki qulasoh yang dikhususkan bagi suatu haqiqoh yang menjadi tangga kenaikan derajad bagi kalangan yang tertinggi (akhossul khossoh). Syariat menjadi bagian bagi aggota badan kita untuk berkhidmat kepada Allah SWT, adapun tharigoh akan menjadi bagian bagi hati yang berisikan ilmu, makrifah, dan hikmah. Sedangkan haqiqoh adalah bagian bagi arwah untuk mendapatkan musyahadah dan ru'yah (menyaksikan keagungan Allah). Foot Note: 7 Khowass adalah thariqoh yang diperuntukkan bagi kalangan tertentu. DAFTAR PUSTAKA Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah karya Syaikh DR. Shalih Al -Fauzan, hal. 10; dan Fathu Rabbi Al-Bariyyah bi Talkhish Al-Hamawiyah karya Syaikh Muhammad bin Utsaimin, hal. 10 Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyah, hal. 512; Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah karya Syaikh DR. Shalih Al-Fauzan, hal. 9-10; dan Mabahits fi Aqidah Ahli Sunnah, hal. 14-16 Muslim, Kitabul Jumah, Bab Tahfifus Shalat wal Khutbah 867, 43 Abu Dawud, Kitabus Sunnah bab Filuzumis Sunnah 4 : 607 STUDI SINGKAT TENTANG AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH,Fadhilatus Syaikh Muhammad Ibrahim al-Hamd Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah karya Syaikh DR. Muhammad Khalil Harras, hal.61, tahqiq: Alwi As-Saqqaf; dan Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyah karya Ibnu Abil Iz AlHanafi, hal. 382 Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi -Hafidhahullahu-

Related docs
Syariah_ed_revisi
Views: 508  |  Downloads: 42
Makalah Syariah
Views: 2617  |  Downloads: 121
Studi Islam - revisi
Views: 297  |  Downloads: 15
Bantahan Thd Situs/Blog SALAFYTOBAT Bagian 4
Views: 561  |  Downloads: 9
premium docs
Other docs by Muchamad Fadi...
sc
Views: 3  |  Downloads: 0
GAME
Views: 10  |  Downloads: 2
JAVA
Views: 84  |  Downloads: 0
JAVA
Views: 186  |  Downloads: 0
JAVA
Views: 23  |  Downloads: 0
PTI1
Views: 184  |  Downloads: 18
DOA DOA
Views: 182  |  Downloads: 7
PINUX
Views: 161  |  Downloads: 7
DAFTAR HARGA
Views: 162  |  Downloads: 4
DAGING OLAHAN
Views: 30  |  Downloads: 0
ACARA AKBAR
Views: 545  |  Downloads: 8
PROPOSAL DANA
Views: 1269  |  Downloads: 44
UIN PAYMENT
Views: 80  |  Downloads: 0
Algol
Views: 1433  |  Downloads: 51
myOB5
Views: 66  |  Downloads: 0