MAKALAH PENYERAHAN HARTA ANAK YATIM YANG MASIH KECIL by zarkasi2009

VIEWS: 392 PAGES: 16

									A. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
           Allah Ta‟ala berfirman, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak
  yatim, katakanlah, „Mengurus mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu
  menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa
  yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jika Allah
  menghendaki,      niscaya   Dia   dapat   mendatangkan    kesulitan   kepadamu.
  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
           Dalam firman-Nya yang lain, Allah Ta‟ala menyatakan, “Sesungguhnya
  orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu
  menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang
  menyala-nyala.”
           Nabi shallallahu „alaihi wa sallam pun bersabda, ”Jauhilah oleh kalian
  tujuh perkara yang membinasakan!”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah,
  apakah itu?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, berbuat sihir, membunuh
  jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta
  anak yatim, melarikan diri dari medan perang, dan menuduh (zina) wanita
  mukminah yang baik-baik.”
           Sebagai seorang bocah, mereka tentu ingin hidup layaknya anak-anak yang
  lain. Mereka ingin bermain, bercanda, belajar, dan pola hidup lainnya. Sayang,
  suka cita mereka teramat mahal. Bahkan, karena tidak ada ayah di sisi mereka,
  justru tangis dan dukalah yang menemani siang malam mereka. Mereka adalah
  makhluk yang lemah, dikarenakan ketidakmampuan mereka mengurus diri dan
  harta.
           Namun demikian, Islam mengizinkan para wali menggunakan harta
  mereka dengan cara yang baik, kemudian pada saatnya nanti akan diserahkan
  kembali harta milik anak yatim tersebut bila ia telah dewasa atau baligh. Allah
  Ta‟ala berfirman, “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk
  kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai
  memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan
  janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah
  kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa
  (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari
  memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan
  harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada



                                                                                 1
    mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan bagi
    mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).”
            Yang menjadi permasalahan kemudian               yang bisa terjadi praktik        hal
    pemeliharaan harta-harta anak yatim yang ditinggal mati oleh ayahnya tersebut,
    adalah dimungkinkannya ketika seorang wali akan menyerahkan kembali harta
    yang telah mereka jaga untuk kemudian diserahkan kembali kepada si yatim
    tersebut sebelum masa dewasanya. Hal ini setidak-tidaknya memberikan
    gambaran-gambaran yang mungkin saja terjadi di dalam pemeliharaan harta oleh
    si wali.
            Berdasarkan hal-hal di atas, maka dalam makalah ini, insya Allah, saya
    berusaha mengetengahkan bagaimana pandangan dalam islam mengenai
    penyerahan harta si yatim tersebut yang mana pada saat anak yatim tersebut
    masih kecil.
    2. Rumusan Masalah
               Untuk lebih mengerucutkan permasalahan dalam makalah ini, kiranya
    penulis akan membatasi pembahasan materi ini dengan memfokuskan hal-hal
    sebagai berikut:
    -    Pengertian tentang anak yatim dan anak kecil (dibawah umur) dalam
         pandangan Islam maupun hukum positif yang berlaku di Indonesia ?
    -    Bagaimana konsep tentang harta anak yatim dalam Islam, pemeliharaan serta
         pengelolaannya ?
    -    Bagaimana hukumnya mengembalikan / menyerahkan harta milik anak yatim
         tersebut ketika dia masih kecil ?


B. PEMBAHASAN
    1. Pengertian Anak Yatim
        1.1. Konsep anak dalam Islam dan Undang-undang
                  Kata   al-walad dipakai untuk menggambarkan adanya hubungan
        keturunan, sehingga kata al-wâlid dan al-wâlidah diartikan sebagai ayah dan
        ibu kandung. Berbeda dengan kata ibn yang tidak mesti menunjukkan
        hubungan keturunan dan kata ab tidak mesti berarti ayah kandung.1
                  Selain itu, al-Qur‟an juga menggunakan istilah thifl2 (kanak-kanak)
        dan ghulâm3 (muda remaja) kepada anak, yang menyiratkan fase



1
  M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah:Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (jilid XV, Jakarta,
Lentera Hati, 2004), hal. 614.
2
  Q.S. al-Nur (24):31 dan 59; al-Hajj (22): 5; al-Mukmin (40): 67.

                                                                                                    2
         perkembangan anak yang perlu dicermati dan diwaspadai orang tua, jika ada
         gejala kurang baik dapat diberikan terapi sebelum terlambat, apalagi fase
         ghulâm (remaja) di mana anak mengalami puber, krisis identitas dan transisi
         menuju dewasa. Al-Qur‟an juga menggunakan istilah ibn pada anak, masih
         seakar dengan kata bana yang berarti membangun atau berbuat baik, secara
         semantiasa anak ibarat sebuah bangunan yang harus diberi pondasi yang
         kokoh, orang tua harus memberikan pondasi keimanan, akhlak dan ilmu sejak
         kecil, agar ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang memiliki prinsip
         dan kepribadian yang teguh.4 Kata ibn juga sering digunakan dalam bentuk
         tashghĭr sehingga berubah menjadi bunayy yang menunjukkan anak secara
         fisik masih kecil dan menunjukkan adanya hubungan kedekatan (al-iqtirâb).5
         Panggilan ya bunayya (wahai anakku) menyiratkan anak yang dipanggil
         masih kecil dan hubungan kedekatan dan kasih sayang antara orang tua
         dengan anaknya.
    2. Pengertian Yatim
              Kata al-yatim diambil dari kata yatima yaitamu, seperti ta‟iba, dan
    yatama, seperti qaruba. Sedangkan mashdarnya bisa yutman atau yatman, yaitu
    dengan mendhammah atau memfathah huruf ya‟. Untuk manusia, keyatiman
    ditinjau dari jalur ayah. Dikatakan, shaghirun yatim, yaitu anak yatim laki-laki,
    sedangkan jamaknya adalah aitam dan yatama. Shaghirah yatimah, berarti anak
    yatim perempuan, sedangkan jamaknya yatama.
              Adapun secara terminologi, tidak berbeda jauh dengan makna leksikalnya.
    Yakni, seorang anak yang tidak berayah. Sebab, kewajiban memberi nafkah
    dibebankan kepada ayah, bukan kepada ibunya. Sedangkan untuk hewan, yatim
    berarti yang kehilangan induknya, karena susu dan makanannya didapat dari sang
    induk.”
              Dalam kitab Al Yatim karya DR. Abdul Hamid As Suhaibani dikatakan
    definisi yatim adalah:
                                                     ‫ٍِ فقد أتآ ٕٗ٘ دُٗ اىثي٘غ ذمرا ماُ أٗ أّثى‬
         “Seorang anak yang kehilangan ayahnya –karena meninggal- ketika ia belum
         baligh atau dewasa baik itu laki-laki atau perempuan”.


3
  Q.S. Ali Imran (3): 40; Yusuf (12): 19; al-Hijr (15) 53; al-Kahfi (18): 80; Marya, (19) 7,8 dan 20; al-
Shaffat (37): 101 dan al-Dzariyat (51): 28.
4
  Abdul Mustakim, Kedudukan dan Hak-hak Anak dalam Perspektif al-Qur’an, (Artikel Jurnal
Musawa, vol.4 No. 2, Juli-2006), hal. 149-50.
5
  Hadlarat Hifni Bik Nasif dkk, Qawa’id al-Lughah al-‘Arabiyyah, (Surabaya, Syirkah Maktabah wa
Mathba‟ah, t.th), hal. 79.



                                                                                                            3
Dengan demikian seseorang dikatakan yatim bila:
1. Ditinggal wafat ayahnya, adapun anak yang ditinggal wafat ibu atau yang
   lainnya tidaklah dikatakan yatim, begitu juga anak yang ditinggal karena
   perceraian suami istri.
2. Ditinggal wafat ayahnya ketika masih dibawah usia baligh atau dewasa dengan
   demikian bila ditinggal wafat ayahnya sesudah masa baligh maka tidaklah
   dikatakan anak yatim.
       Imam Malik dan yang lainnya berkata: Firman AllahI :” Hingga sampai
dewasa” (Qs. Al An Am:152) maksudnya adalah: Cukup umur dan hilangnya
kebodohan serta baligh.
       Untuk mengetahui seseorang sudah sampai usia baligh atau belum, dapat
diketahui dengan beberapa tanda, tanda-tanda ini telah dihimpun oleh para ulama
ahli fiqih berdasarkan imformasi yang digali dari al Qur‟an dan al Hadits,
diantaranya adalah:
1.Seorang anak laki-laki telah berusia lima belas tahun, tanda ini berdasarkan
hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar t ia berkata:
                    ‫ يً٘ أحد ٗأّا اتِ أرتعح عشر سْح فيٌ يجزّي في اىَقاتيح‬r ‫عرضت عيى اىْثي‬
“Aku mengajukan diriku (untuk mengikut) perang Uhud kepada Nabi r, waktu itu
aku seorang anak yang baru berusia empat belas tahun, akan tetapi (Nabi r) tidak
mengizinkanku untuk ikut berperang”. (Bukhari-Muslim)

       Hadits diatas mengisahkan bahwasanya Ibnu Umar meminta izin untuk
mengikuti perang bersama Rasulullah rdan para shahabatnya akan tetapi
permintaan itu ditolak dengan alasan ia belum cukup umur untuk mengikuti
perhelatan yang keras ini, lalu ia mencoba mengajukan diri lagi pada tahun
berikutnya dimana beliau telah berusia diatas empat belas tahun, maka Rasulullah
pun mengizinkannya.
2. Seorang anak perempuan bila telah berusia sembilan tahun, tanda ini
didasarkan atas perkataan A‟isyah radiyallahu anha ia berkata:
                                           ‫إذا تيغت اىجاريح تسع سْيِ فٖ٘ اٍرأج‬
       “Jika anak perempuan telah berusia sembilan tahun maka ia adalah
wanita” (HR. Ahmad)
       Tanda ini didasarkan bahwasanya A‟isyah dinikahi oleh Rasulullah e
dalam usia tujuh tahun akan tetapi tetap bersama ayahnya Abu Bakr hingga usia
sembilan tahun setelah itu baru bersama Rasulullah e .
3. Telah tumbuh bulu-bulu di badannya baik diatas kemaluan atau selainnya,
tanda diatas berdasarkan hadits yang menceritakan perang Bani Quraidhoh dimana
semua laki-laki yang sudah sampai usia baligh di beri hukuman mati karena
melanggar perjanjian damai bersama Rasulullah r dan kaum muslimin, untuk
membedakan orang yang sudah baligh atau belum pada kaum itu adalah dengan
tumbuhnya rambut atau bulu-buluan diatas kemaluan. Selain itu Imam Ahmad dan
Imam Ishak rahimahumullah mengatakan bahwa ciri baligh seseorang salah
satunya adalah dengan tumbuh bulu-bulu diatas kemaluan.


                                                                                        4
   4.Mimpi bersetubuh
              ٌ‫رفع اىقيٌ عِ ثالث عِ اىَجُْ٘ حتى يفيق, ٗعِ اىْائٌ حتى يستيقظ, ٗعِ اىصثي حتى يحتي‬
   “Diangkat qolam dari tiga orang: Dari orang gila hingga sembuh, dari orang
   tidur hingga bangun, dari anak kecil hingga mimpi keluar air mani (HR. Abu
   Daud)
   5.Mengalami mansturbasi atau datang bulan bagi perempuan
        Tanda yang ke empat ini berdasarkan analisa hadits Rasulullah e yang
menyebutkan bahwa wanita yang haid atau nifas dilarang melaksanakan sholat karena
keluar darah dari kemaluannya, dengan demikian wanita yang telah mengalami haid
telah diwajibkan kepadanya sholat karena sudah baligh. A‟isyah r.a berkata:
                        ‫ فْؤٍر تقضاء اىصً٘ ٗال ّؤٍر قضاء اىصالج‬r ‫مْا ّحيض عيى عٖد رس٘ه اهلل‬
“Kami haid di masa Rasulullah r maka kami diperintahkan mengqodho saum dan
tidak diperintahkan mengqodho sholat” (HR.Bukhari-Muslim)

    3. Ayat-ayat tentang anak yatim dalam alqur’an maupun hadits
    1.    Dalam surat Annisa 4:2, Allah berfirman:
            
     
       
     
    
                        
    Artinya: dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka,
                 jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu
                 Makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan
                 (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.


    Ada tiga perintah penting berkenaan dengan harta anak-anak yatim yang
    disebutkan dalam ayat ini sbb:
    1.    Mula-mula ayat ini memerintahkan, “Dan berikanlah kepada anak-anak
         yatim itu harta mereka…” Ketentuan ini berarti bahwa campur tangan kalian
         atas harta ini adalah sebagai orang yang bias dipercaya dan sebagai
         pengawas, bukan sebagai pemilik.
    2. Perintah untuk mencegah para wali memakan harta anak-anak yatim. Kadang
         kala wali anak-anak yatim itu berdalih bahwa menukar harta anak-anak yatim
         itu akan menguntungkan mereka, atau tidak akan mengubah (jumlah)nya,
         atau jika dibiarkan saja, harta itu bias tersia-siakan.
    3.    Perintah untuk tidak mencampurkan harta pribadi dengan harta anak yatim.
         Al-Quran menyatakan, “…jangan pula mencampurkan harta mereka dengan
         harta   kalian    sendiri…”      Kalimat     ini   menegaskan       bahwa     jangan
         mencampurkan harta anak-anak yatim dengan harta kalian sendiri sehingga
         pada akhirnya kalian memiliki semua harta itu. Atau jangan mencampurkan

                                                                                              5
       harta kalian yang sudah tidak terpakai dengan harta mereka yang bagus
       sehingga apada akhirnya kalian menekan hak-hak anak-anak yatim.
2. Dalam surat Annisa‟ (4: 5-6) Allah berfirman :
               
     
          
         
                  
Artinya: dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna
     akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah
     sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu)
     dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.


  ‫ف ُ٘ ى أ ٘ ىٖ ى ت مي ٕا إ ر ف ٗ د ر‬                                          ‫يغ ْ ح ئ ّ ت ٍ ہ ر‬                                   ٰ‫حتى‬         ‫ي ي‬
‫َٗٱبۡتَُ٘اْ ٱىۡ َتَـََٰىٰ َ َ ٓ إِذَا تََ ُ٘اْ ٱى ِنَا َ فَُِۡ ءَا َسۡ ٌُ ِْۡ ٌُۡ ُشۡدً۬ا فَٲدۡ َع ٓاْ إَِيۡہٌِۡ ٍَۡ َٳَ ٌُۡۖ ََٗا َأۡ ُُ٘ َٓ ِسۡ َا ً۬ا َتِ َا ًا‬
   ‫َ ر ف ف ف ت ى أ ٘ ىٖ فَ د‬                                             ‫م‬             ‫ُ فق‬         ٍٗ          ‫ُ غْي ي ت‬                   ٍٗ ‫أ ي ر‬
ْ‫َُ َنۡثَ ُٗاْۚ َ َِ مَا َ َ ًِ۬ا فَيۡ َسۡ َعۡفِفۡۖ َ َِ مَا َ َ ِيرً۬ا فَيۡيَأۡ ُوۡ تِٲىۡ َعۡ ُٗ ِۚ َئِذَا دَ َعۡ ٌُۡ إَِيۡہٌِۡ ٍَۡ َٳَ ٌُۡ َأشۡہِ ُٗا‬
                                                                                                                                    ‫ئ َس‬             ‫ي ۚ ٗم‬
                                                                                                                               ‫عََيۡہٌِۡ َ َفَىٰ تِٲىَ ِ ح ِيثً۬ا‬

Artinya: "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup untuk nikah. Kemudian jika
          menurut pendapatmu mereka telah mempunyai rusydan, maka serahkanlah
          kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim
          lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa
          (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Siapa yang mampu, maka
          hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan siapa
          yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu dengan ma'ruf. Kemudian
          apabila kamu meyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu
          adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah
          sebagai pengawas (atas persaksian itu)."


            Allah SWT.melarang dengan firman-Nya dalam ayat ke-5 ini menyerahkan
harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, yaitu anak yatim, yang
belum baligh, orang gila, dan orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta
bendanya. Mereka itu seharusnya tidak di beri kesempatan untuk mengatur harta
benda yang merupakan saudara hidup bagi manusia.
            Kata As Sufaha : Bentuk tunggalnya safih, artinya orang yang menyia-
nyiakan harta dengan menginfaqkan kepada hal-hal yang tidak semestinya dibeli
(dikonsumsi). Asal kata As Safah artinya ringan dan goncang. Berdasarkan
pengertian itu, dikatakan zamanun safih, apabila dalam zaman tersebut banyak
goncangan yang terjadi. Kemudian dikatakan saubun safih artinya pakain yang
jelek tenunnannya. Kemudian kata itu dipakai untuk pengertian kecerdasan akal
di dalam mengatur (memanager) harta, dan makna inilah yang dimaksud di dalam
artinya.
            Yang dimaksud dengan kata-kata "Rusyd" dalam firman Allah s.w.t
tersebut di atas, ialah "pandai" dalam menasarufkan dan menggunakan harta
kekayaan, walaupun masih hijau dan bodoh dalam soal agama, Maka jika di
dapati mereka cukup cerdas dan cukup cakap (baligh) dan pandai untuk

                                                                                                                                                                 6
       memelihara dan menjaga hartanya sendiri hendaklah diserahkan harta mereka
       yang ada di bawah kekuasaan sang wali kepada mereka untuk di urusnya sendiri.
       Dan janganlah sekali-kali orang memakan harta anak yatim diluar kepatutan atau
       tergesa-gesa membelanjakan harta mereka mendahului masa baligh mereka.6
                Jika sang wali adalah seorang yang mampu, hendaklah ia menahan diri
       jangan sampai ia menyentuh harta anak yatim asuhanya. Dan jika si wali seorang
       yang miskin,maka bolehlah ia makan dari harta anak yatim asuhanya menurut
       yang patut sebagai imbalan bagi pengawasan dan perwalianya. Dan di waktu
       penyerahan harta kepada anak yatim yang berhak menerimanya setelah ia
       mencapai usia dewasa dan di rasa cukup untuk mengurus dirinya sendiri,
       hendaklah penyerahan itu disaksikan oleh pihak ketiga untuk menghindari
       pengingkaran atau persangkaan yang tidak semestinya terjadi.
                Menurut pendapat para ulama‟,bahwa seorang anak menjadi baligh ialah
       bila ia mencapai usia lima belas tahun, atau ia mengeluarkan air mani dalam
       mimpinya.Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh A‟isyah r.a.dan beberapa
       sahabat, Rasulullah SAW bersabda:
        ُْ٘‫رفع اىقيٌ عِ ثالثح اىصثي حتى يحتيٌ اٗ يستنَو خَس عسرج سْح ٗعِ اىْائٌ حتى يستيقظ ٗعِ اىَج‬
                                                                                         ‫حتى يفيق‬
                Diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rasulullah SAW.bersabda kepada Abu
        Dzar.

                      ٌ‫يا اتا در اّي اراك ضعيفا ٗاّي احة ىل ٍا احة ىْفسى التاٍْرُ عيى اىثْيِ ٗال تييِ ٍاه يتي‬

“Hai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihat engkau seorang yang lemah dan aku menyukai
bagimu apa yang sukai bagi diriku sendiri, maka janganlah menjadi penguasa walau atas
dua orang dan orang dan jangan pula menjadi pengurus dari harta anak yatim”.

                 Setelah Allah memerintahkan kita pada ayat-ayat terdahulu, yaitu
        menyerahka harta anak yatim, menyerahkan mahar kepada istri-istri kemudian
        Allah     memberikan          persyaratan        dalam      kelompok          ayat-ayat   ini,   yang
        kesimpulannya mencakup dua hal yang saling berkait. Yaitu hendaknya si
        pemberi dan penerima tidak ada yang safih (dungu), yang di sertai penjelasan
        bahwa ank yatim harusnya di beri rizki dan pakain serta harta benda mereka
        sendiri, yang ada pada orang-orang yang di titipinnya, selagi mereka masih
        berada dalam pemeliharaanya. Juga harus disertai perlakuan yang baik agar
        keadaan mereka membaik.
                 Dijelaskan pula, bahwa harta benda mereka (anak yatim ) tidak boleh
        diserahkan kepada mereka kecuali jika para walinya telah melihat bagi seorang


6
    http://kasihianakyatim.blogspot.com/2010/08/tafsir-tentang-ayat-ayat-yatim.html


                                                                                                            7
 wali memakan harta anak yatim (apabila ia miskin) dengan cara berlebih-lebihan
 dan barang siapa diantara para wali itu kaya, maka hendaknya ia menjaga diri
 jangan sampai memakannya dengan ketentuan hukum syara „ dan dipandang
 pantas oleh orang-orang bijaksana.
       Hendaknya setiap wali menasehati orang yang diasuhnya apabila ia masih
kecil,‟‟ Ini adalah hartamu, aku hanyalah sebagai penyimpannya. Jika kamu
sudah besar harta ini akan kukembalikan kepadamu „‟. Tetapi jika yang diasuhnya
orang safih, hendaknya sang wali memberikan petuah dan nasehat padanya agar
tidak menyia-nyiakan harta dan berlaku boros.Kemudian, berilah pengertian
bahwa akibat dari pemborosan itu adalah kemiskinan,butuh pertolongan orang lain
dan sebagainya. Wali juga berkewajiban mengajari hal-hal yang bisa
mengantarkannya menuju kedewasaan. Dengan cara demikian,kondisinya akan
lebih membaik dan kemungkinan sifat safih darinya hanya sementara, bukan
pembawaan dari lahir. Hanya dengan menasehati,membimbing,mengarahkan,sifat
safih itu lambat laun akan hilang dan ia akan tumbuh menjadi seorang dewasa.
       Menguji anak yatim dengan cara memberi sedikit harta untuk di gunakan
sendiri. Apabila ia mempergunakannya dengan baik, berarti ia sudah dewasa.
Karena hal yang di maksud dewasa disini ialah apabila ia telah mengerti dengan
baik cara menggunakan harta dan membelanjakannya. Hal itu suatu pertanda ia
berakal sehat dan berfikir dengan baik.
       Imam Abu Hanifa berpendapat, bahwa memberi harta anak yatim ialah jika
mereka telah mencapai umur dua puluh lima tahun, sekalipun belum tampak
dewasa(cara berpikirnya )”.
       Telah diriwatkan Ahmad dari Ibnu Umar r.a bahwa ada seorang laki –laki
bertanya kepada Nabi SAW.,” Aku tidak mempunyai harta, tetapi aku adalah
seorang wali dari anak yatim‟. Kemudian Nabi SAW. Bersapda:‟Makanlah
olehmu sebagian harta anak yatimmu tanpa berlebih –lebihan dan (juga )tanpa
mengham-hamburkannya dan (juga)mengindahkan antara hartamu dengan
hartanya‟.
       Hikmah yang terkandung dalam ketentuan itu ialah bahwa anak yatim yang
berada dalam rumah sang wali di ibaratkan anaknya, dan sangat baik pendidikanya
apabila ia bercampur dengan sang wali dan keluarganya dalam hal makan
danbergaul. Apabila wali seorang yang kaya, dan ia tidak tamak terhadap anak
yatim, maka peliharaannya meupakan kemaslahatan bagi anak yatim.
      Asyuddah adalalah masa seseorang mencapai pengalaman dan pengetahuan.
Untuk mencapai masa balightnya. Ada dua batasan, minimal jika dia telah


                                                                               8
     bermimpi keluar mani yang merupakan permulaan umur dewasa, ketika itu
     menjadi kuat, sehingga keluar dari keadaannya sebagai anak yatim, atau ia
     termasuk safih (tidak sempurna akal ) atau daif (lemah ), maksimal adalah umur
     empat puluh tahun. Namun yang di maksud di sini ialah oleh Asy-Sya‟bi, Malik
     dan lainnya, hal itu biasanya antara umur 15 sampai 18 tahun.
             Maksud ayat, peliharalah harta anak yatim dan janganlah kamu izinkan dia
     untuk menghambur-hamburkan sedikitpun dari harta itu dan menyi-nyiakan, atau
     kamu berlebih-lebihan dalam mengguna-kannya hingga ia mencapai dewasa.
     Apabila dia telah mencapai pengertian ini sebanding dengan firman Allah :
     „‟ Kemudian jika menurut pendapatmu mereka cerdas (pandai memelihara harta),
     maka sederhanakanlah kepada mereka harta-hartanya. „‟
           Kesimpulannya, bahwa yang dimaksud dengan larangan disini adalah
     setiap perbuatan anak yatim yang menggerogoti harta anak yatim dan melanggar
     hak-hak oleh penerima wasiat dan lainnya, hingga anak yatim itu mencapi umur
     dewasa yang badan dan akalnya telah mencapai kuat. Pengalaman menunjukkan
     bahwa seorang anak yang baru saja mengalami mimpi keluar mani justru lemah
     pendapatnya, sedikit pengalamannya tentang urusan-urusan penghidupan, dan
     sering tertipu dalam melakukan muamalat.7
             Adapun potensi yang digunakan oleh seseorang untuk memelihara harta
     anak yatim pada zaman sekarang adalah keseimbangan berfikir dan kedewasaan
     akal yang bermoral dengan banyak nya berlatih dan memperoleh pengalaman
     dalam bermuamalat. Sering terjadi kefasikan, tipu daya yang dihembuskan dalam
     bermuamalat oleh para pendukung kejahatan untuk mengganggu para ahli waris
     dan membujuk mereka supaya berlebih-lebihan dalam memperturunkan kelezatan
     dan syahwat dengan berbagai macamnya. Sehimgga terjadilah mereka orang-orang
     yang fakir. Para ahli waris itu kurang sadar atas kelalaiannya, kecuali bila mereka
     telah mancapai umur tua, kecuali akal mereka telah sempurna dan paham tentang
     beban-beban      kehidupan,     disamping     memperhatikan        tenyang   nasip   anak
     keturunan.8
             Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang disebut orang dungu atau orang
     safih (jamaknya       ‫ .(اىسفٖاء‬Said bin Zubai berkara, Anak yatim, yang tidak
     diserahkan harta kepadanya. Nahas berkata, “itulah tafsir yang sebaik-baiknya
     dalam ayat ini.” Menurut Malik maksud kata safih itu anak yang masih kecil.




7
    http://www.cahayainsani.com/257/tafsir-ayat-ayat-yatim-4#more-257
8
    http://kasihianakyatim.blogspot.com/2010/08/tafsir-tentang-ayat-ayat-yatim.html

                                                                                             9
           Maksudnya jangan kamu berikan kepada mereka hartamu, maka nanti akan
    diboroskannya sehingga tidak ada yang tinggal lagi. Menurut Mujahid maknanya
    adalam perempuan. Menurut Nahas, perkataan ini tidak sah, karena orang Arab
    jika yang dimaksudkan perempuan akan berkata “safihah atau “sifihat,” bukan
    “sufaha” seperti yang tersebut dalam ayat diatas.9
    3. Dalam surat al-an‟am ayat 152 Allah juga berfirman:
    
          
                     
Artinya: dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih
         bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.

    4. dalam surat al-isra‟ (17.34) Allah juga berfirman:
    
            
            
           
                       
Artinya: dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih
        baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu
        pasti diminta pertanggungan jawabnya.

           Kedua ayat tersebut menggunakan ungkapan yang yama dalam, yaitu
    “janganlah kamu mendekati harta anak yatim, menurut Rasid RIdha, larangan
    mendekati adalah lebih balig (lebih mengena dan lebih kuat) daripada larangan
    melakukan, sebab larangan mendekati telah mencakup terhadap sebab dan segala
    perantara yang menyampaikan kepada makan harta anak yatim

           Kemudian kata” hatta yabluga asyuddah “ memberikan pengertian bahwa
    keyakinan seorang anak yatim adalah dewasa, maka apabila anak yatim itu sudah
    menginjak umur dewasa, sudah mampu mengenali mana yang baik dan mana yang
    buruk, serta mampu untuk menanage harta miliknya sendiri, maka dia dikatakan
    telah keluar dari keadaan yatim.

          Adapun ukuran dewasa menurut as-Sya‟biy , yaitu apabila anak tersebut
    sudah bermimpi bercumbuan dengna lain jenisnya, dan pada umumnya setelah
    berumur 15 tahun atau 18 tahun.10

    C. Hukum menyerahkan harta sebelum anak dewasa (masih kecil)
            Sebagaimana dikemukakan dalam pembahasan terdahulu dengan melihat
    berbagai sumber dalam alqur‟an maupun hadis yang berkenaan tentang harta anak
    yatim serta pengelolaan serta penyerahannya, begitu pula dalam hal penilaian
    tentang bagaimana sesungguhnya konsep anak dalam perspektif hukm islam


9
  Syekh H. Abdul Halim Hasan, Tasir Al Ahkam, (Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2006), hal
196.
10
   Rasyid Rida, jilid VIII, 190.

                                                                                                  10
maupun dalam perundang-undangan (hukum positif di Indonesia), kiranya dapat
ditarik sebuah titik terang tentang kedudukan anak serta kemampuan anak dalam
mengelola harta miliknya sendiri, apakah ia dapat dikategorikan mampu untuk
mentasarrufkan harta miliknya sendiri dengan baik ataukah sebaliknya sehingga
hal tersebut akan mejadi tolak ukur bagaimana kebolehan bagi seorang wali untuk
menyerahkan kembali harta yang menjadi hak milik si anak yatim tersebut. Unsur
kedewasaan sesorang tentu menjadi patokan utama dalam menentukan
kemampuan seseorang dalam hal mengelola harta miliknya.
          Dalam kamus umum bahasa indonesia yang dimaksud dengan dewasa
yaitu sampai umur atau baligh. Dalam hukum Islam, usia dewasa dikenal dengan
istilah baligh. Prinsipnya, seorang lelaki telah baligh jika sudah pernah bermimpi
basah (mengeluarkan sperma). Sedangkan seorang perempuan disebut baligh jika
sudah pernah menstruasi. Nyatanya, sangat sulit memastikan pada usia berapa
seorang lelaki bermimpi basah atau seorang perempuan mengalami menstruasi.
Pandangan ulama mengenai usia dewasa ternyata bervariasi. Sebagian besar ulama
sepakat bahwa patokan usia dewasa bagi lelaki dan perempuan tidaklah sama.
Mayoritas ulama juga tidak membedakan batas usia dewasa dalam pernikahan dan
muamalah atau transaksi bisnis. Sebab, keduanya sama-sama mengandung akad
atau perikatan.
          Dalam bahasa arab dewasa dapat di artikan mukallaf dan ar-rusyd.
Mukallaf ialah orang yang dibebani tanggung jawab hukum di tandai dengan
mimipi basah bagi laki-laki dan keluarnya haid bagi perempuan, sedangkan ar-
rusdy adalah kepantasa seseorang dalam dalam bertasarruf serta mendatangkakn
kebaikan. Hal ini merupakan kesepurnaan akalnya. Menurut ulama syfiiyah rusdy
adalah apabila telah tampak kebaikan tindakan dalam soal agama dan harta benda.
Secara termenologi kedewasaaan yaitu kematangan fisik dan psikis seorang untuk
bereaksi dan bertindak secara tepat dalam setiap situasi dan masalah dalam
mengahadpi kenyataan hidup.
          Jadi dari uraian diatas maka kedewasaan itu dapat ditentukan dari
perubaan fisik dan psikis seseorang. Kedeawasaan juga dapat diukur sejauh mana
kebijakan seseorang dalam menghadapi masalah. Maka karena itulah terdapat
berbagai macam prinsip-prinsip yang menentukan umur kedewasaan seseorang,
yaitu :
a. Azaz Kematangan
          Azaz ini dapat dilihat dari dua faktor yaitu umur dan fasik. Secara tekstual
dalam syariat islam atau kitab-kitab fiqh tidak terdapat penjelasan tentang batas


                                                                                     11
     usia kawin, akan tetapi diindonesia terdapat peraturan yang mengatur batas usia
     kawin bagi seorang yang menikah. Hal ini tersebutkan dalam kompilasi hukum
     islam dan uu perkawinan No 1 Tahun 1977 Ps.1 yang menyatakan bahwa seorang
     calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon istri sekurang-
     kurangnya berumur 16 tahun. Secara fisik usioa, rangka tubuh, tingi dan lebarnya
     tubuh seserorang dapat menunujukan sifat kedewasaan pada diri seseorang.
     Faktor-faktor ini memang biasa di gunakan sebagai ukuran kedewasaasn. Akan
     tetapi segi fisik saja belum dapat menjamin bagi seseorang untuk dapat dikatakan
     telah dewasa.
     b. Azaz Tanggung Jawab
             Dalam kehidupan bersosial, tanggug jawab merupakan suatu hal sangat
     urgen yang harus dimiliki oleh seseorang, sehingga ia dapat bereaksi dan bertindak
     secara tepat dalam situasi dan masalah dan tidak lari dari kenyataan.
     c. Azaz Kecakapan Bertindak
             Azaz ini dilihat dari bagaimana kebijakan seseorag mengahadapi masalah.
     Dari segi mental orang yang dewasa akan bertindak bijak pada semua tindakannya,
     ia akan mempertimbangkan segala sesuatuya sehingga dapat menghadapi setiap
     masalah yang ada. Tidak cepat terbawa emosi dan gegabah terutama dalam hal
     penglolaan harta atau manajemen harta dalam kehidupan sosial dimana dia
     berada.11
             Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyerahan harta sebelum
     masa baligh atau dewasa dan terpenuhinya kemampuan si anak bahwa ia telah siap
     dalam menggunakan hartanya secara baik dan benar, adalah tidak boleh. Bila
     penyerahan itu dilakukan pada saat anak masih kecil /belum baligh maka sama
     saja artinya dengan menelantarkan kehidupan anak yatim tersebut.
      D. ANCAMAN BAGI PEMAKAN HARTA ANAK YATIM
                 Berkaitan dengan memelihara harta anak yatim dan kezaliman, banyak
      hadist diriwayatkan sejalan dengan ayat di atas yang berisi ancaman keras dan
      peringatan bagi manusia yang menzalimi mereka. Di antaranya adalah hadits
      yang diriwayatkan al-Bukhârî dan Muslim, bahwa Nabi SAW bersabda:
      “Hindarilah tujuh hal yang akan membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Ya
      Rasulullah, apa yang tujuh hal itu?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah,


11
 http://rangerwhite09-artikel.blogspot.com/2010/04/azaz kedewasaan dalam perkawinan
islam.html



                                                                                      12
sihir, membunuh orang yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali yang
dibenarkan, memakan barang hasil riba, memakan harta anak yatim!”
       Al-Hākim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah
berhak untuk tidak memasukkan mereka kedalam surga dan tidak merasakan
kenikmatannya. Mereka itu adalah peminum khamar, pemakan riba, pemakan
harta anak yatim tanpa hak, dan pendurhaka kepada kedua orang tuanya.”
       Dalam Shahĩh-nya, Ibn Hibbān menyebutkan bahwa dari sejumlah surat
Nabi SAW yang dikirimkan melalui „Umar ibn Hazm kepada penduduk Yaman
berbunyi: “Dosa-dosa besar yang paling besar pada Hari Kiamat adalah
menyekutukan Allah, membunuh orang Mukmin tanpa kebenaran, lari dari
medan perang di jalan Allah pada hari melelahkan, durhaka kepada kedua
orangtua, tuduhan berzina kepada perempuan suci, mempelajari sihir, memakan
hasil riba, dan memakan harta anak yatim.”
       Abũ Ya‟lā meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pada Hari
Kiamat, ada suatu kaum dibangkitkan dari kubur mereka dengan nyala api di
mulut mereka.” "Siapa mereka itu, ya Rasulullah?” Tanya para sahabat.
"Tidakkah kalian perhatikan bahwa Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya
orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim dengan cara yang tidak
lurus, mereka akan memakan api sepenuh perutnya." (QS an-Nisā‟ [4]: 10)
       Dalam hadist Mikraj yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan
bahwa Nabi SAW bersabda: “Tiba-tiba aku melihat orang-orang yang dilaknati.
Sementara yang lain membawa batu dari api, menelannya, lalu api itu keluar
dari dubur mereka. Aku lantas bertanya kepada Jibrĩl, „Ya Jibril, siapakah
mereka?‟ Jibrĩl menjawab, „Mereka adalah orang-orang yang memakan harta
anak-anak yatim secara zalim. Sesungguhnya mereka benar-benar memakan api
ke dalam perut mereka.”
       Sementara dalam Tafsir al-Qurthubĩ dinukil hadist dari Abũ Sa‟ĩd al-
Khudrĩ bahwa Nabi SAW bersabda: “Pada malam Isra‟ aku melihat satu kaum
yang memiliki bibir seperti bibir unta. Lalu bibir mereka ditarik dan di masuki
batu dari api ke dalam mulut mereka. Lalu api itu keluar dari dubur mereka. Aku
lalu bertanya, „Ya Jibrĩl, siapakah mereka?‟ Jibril menjawab, „Mereka adalah
orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zalim.”
       Dari uraian diatas Nampak jelas bahwa begitu beratnya ancaman Allah
bagi orang yang memekan harta anak yatim dengan jalan tidak benar. Sehingga
kebolehan seorang wali untuk mengambil sebagian kecil dari harta anak yatim



                                                                              13
    tersebut hanyalah sangat terbatas dan semaksimal mungkin untuk dihindari
    kecuali dalam keadaan terpaksa.
    E PENGELOLAAN HARTA ANAK YATIM
            Pada dasarnya islam melarang bagi seorang wali untuk memakan ataupun
    menguasai harta anak yatim dengan tujuan yang tidak baik. Al-quran telah
    menghalalkan kita memakan harta anak yatim, namun dengan syarat bahwa
    semua itu justru demi kepentingan anak yatim itu sendiri dan tentunya dengan
    besaran yang wajar. Vide: (QS. Al-An''am: 152). Mengelola dana anak yatim
    adalah suatu amal yang mulia, karena dengan cara demikian, anak yatim akan
    mendapatkan jaminan sosial yang baik. Apalagi bila dikelola secara professional.
    Salah satu upaya yang menurut hemat penulis adalah dengan mengembangkan
    harta si anak yatim tersebut agar bisa berkembang dan ketika ia telah dewasa
    nanti setelah digembleng dengan segala macam pendidikan dan keterampilan
    oleh si wali tadi, akan mampu mencukupi semua kebutuhan hidupnya kelak
    bahkan bisa mengembangkan sendiri hartanya.
            Sebagai contoh apabila harta anak yatim tersebut diinvestasikan ke dalam
    bentuk pengelolaan tanah pertanian maupun perkebunan, dimana kerugian yang
    mungkin akan timbul dari kedua jenis investasi tersebut boleh diaktakansangat
    jarang dan bahkan kemungkinan akan bertambah dari segi harga sangat besar,
    disamping hasil yang diperoleh dari pengelolaan tanah pertanian ataupun
    perkebunan tersebut bisa dimampaatkan untuk memenuhi segala kebutuhan anak
    yatim tersebut sampai ia nanti dewasa dan mampu berdiri sendiri untuk
    mengelola serta mengembangkan harta miliknya sendiri.


F. Kesimpulan
       Dari uraian uraian pada pembahasan terdahulu, penulis dapat menyimpulkan
beberapa hal secara garis besar yaitu:
   Kata al-yatim diambil dari kata yatima yaitamu, seperti ta‟iba, dan yatama,
    seperti qaruba. Sedangkan mashdarnya bisa yutman atau yatman, yaitu dengan
    mendhammah atau memfathah huruf ya‟. Untuk manusia, keyatiman ditinjau dari
    jalur ayah. Dikatakan, shaghirun yatim, yaitu anak yatim laki-laki, sedangkan
    jamaknya adalah aitam dan yatama. Shaghirah yatimah, berarti anak yatim
    perempuan, sedangkan jamaknya yatama.
   Allah telah secara jelas dan terang memberikan kita peringatan keras tentang
    perlunya memperhatikan dan melindungi hak-hak seorang anak yatim baik itu
    berkenaan dengan pendidikan dan pembinaan pribadinya, maupun yang


                                                                                   14
    berkenaan dengan harta-harta miliknya yang ditinggalkan oleh orang tuanya,
    sehingga pada saatnya nanti ketika anak tersebut menginjak umur dewasa/baligh
    ia telah mampu untuk membelanjakan dan memanage hartanya dengan baik.
    Karena Allah telah melarang secara keras dalam hal menelantarkan anak yatim.
   Kewajiban seorang wali dalam mengurus dengnabaik harta-harta milik si yatim
    tersebut agar tidak menjadi sia-sia apabila tidak terpelihara dengan baik, dan
    apabila anak yatim tersebut telah diuji kemampuannya baik secara fisik maupun
    mentalnya maka si wali harus menyerahkan harta kepada anak yatim itu.
   Dalam hal menyerahkan harta kepada anak yang belum baligh atau dewasa,
    adalah suatu hal yang tidak tepat dan menjadi kekhawatiran yang cukup berlasan
    kiranya jika dalam keadaan dimana anak yang akan diserahi tersebut masih
    sangat rentan dalam membelanjakan hartanya secara semena-mena (boros).
   Menurut hemat penulis, yang menjadi factor utama dalam boleh atau tidaknya
    penyerahan kembali harta yang dipelrhara oleh si wali tersebut adalah dengna
    memperhatikan tumbuh kembang anak, bukan hanya hanya semata-mata dengan
    mengacu kepada umur si anak tersebut saja, akan tetapi unsur kedewasaan,
    kematangan dan azaz tanggung jawab si anak tersebut harus benar-benar teruji.




                                                                                    15
                               DAFTAR PUSTAKA


M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah:Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an,
              (jilid XV, Jakarta, Lentera Hati, 2004
Abdul Mustakim, Kedudukan dan Hak-hak Anak dalam Perspektif al-Qur’an,
              (Artikel Jurnal Musawa, vol.4 No. 2, Juli-2006
Hadlarat Hifni Bik Nasif dkk, Qawa’id al-Lughah al-‘Arabiyyah, (Surabaya, Syirkah
              Maktabah wa Mathba‟ah, t.th
Tafsir Nurul Quran: Sebuah Tafsir Sederhana Menuju Cahaya Al-Quran karya
              Allamah Kamal Faqih Imani. Jilid 3. Jakarta: Al-Huda, 2003
Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir A Dimasyiqi Tafsir Ibnu Katsir Juz 4,
              (penerjemah Bahrun Abu Bakar, L.C, Sinar Baru Algensindo, 2006
              Bandung)
Syekh H. Abdul Halim Hasan, Tasir Al Ahkam, (Jakarta, Kencana Prenada Media
             Group, 2006), hal 196.

http://rangerwhite09-artikel.blogspot.com/2010/04/azaz         kedewasaan    dalam
              perkawinan islam.html
http://kasihianakyatim.blogspot.com/2010/08/tafsir-tentang-ayat-ayat-yatim.html




                                                                                  16

								
To top