Docstoc

kisah sukses pengusaha

Document Sample
kisah sukses pengusaha Powered By Docstoc
					Tugas Individu
Jejaring Komunitas Bisnis



    BIOGRAFI BAMBANG MUSTARI “BOB” SADINO




                   IRWANDI WILSYAM G 21109259




                  PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
              JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
                     FAKULTAS PERTANIAN
                   UNIVERSITAS HASANUDDIN
                         MAKASSAR
                             2011
                Bambang Mustari “Bob” Sadino
       Belajar menurut kamus Wikipedia berarti perubahan relatif
permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari
pengalaman atau latihan yang diperkuat. Kita percaya, belajar itu tidak
harus di satu tempat yang biasa disebut sekolah.
       Bambang Mustari Sadino atau Bob Sadino, salah satu pengusaha
besar di Indonesia membuktikan pepatah tersebut. Walaupun hanya
lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), dirinya mampu mengembangkan
usaha peternakan ayam menjadi besar.
       Kegemarannya membaca, melahirkan ide-ide yang brilian dan
mampu bersaing dengan pengusaha sejenis, juga ikut andil dalam meraih
sukses. Om Bob (panggilan Bob Sadino) mengaku tidak ragu belajar dan
bertanya saat mulai merintis bisnis.
       “Dalam agama yang pertama kali diajarkan adalah Iqra, yang
artinya bacalah. Maka saya mengartikan Iqra bukan belajar saja, tetapi
bertanyalah, why? Itu saja. Jadi, saya membaca dan selalu bertanya
kenapa?” ungkap pria kelahiran 9 Maret 1933 ini.
       Pria yang gemar bercelana pendek ini menuturkan, perjalanan
karirnya sangat pahit dan selalu penuh liku-liku. Bahkan, awal mula
mengambil keputusan untuk tinggal di Indonesia, dirinya harus memulai
dari nol.
       “Saat awal di Jakarta, saya pernah satu tahun menjadi kuli
bangunan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Pertama kali saya
bekerja sebagai sopir taksi gelap selama satu tahun, sekitar 1970an,
namun akhirnya berhenti karena taksi saya tertabrak dan tidak bisa
membetulkan. Daripada menganggur, saya menjadi kuli bangunan,”
imbuhnya.
       Kemudian pada 1971, Bob diajak temannya beternak ayam. Untuk
menunjang pengetahuannya, Bob tidak segan-segan mendatangkan
langsung majalah peternakan dari Belanda, Amsterdam.
       “Di Belanda ada majalah-majalah kejuruan. Jadi, kalau mau
beternak ayam ada majalanhnya sendiri dan lebih spesifik. Kalau mau
buka bengkel, ada majalahnya sendiri. Sampai mau buka restoran, ada
buku sendiri. Jadi, saat itu kalau mau majalah seperti itu saya minta
dikirim dengan cara berlangganan,” kata pemilik KemChicks Supermarket
ini.
       Setelah beberapa melalui waktu belajar dan praktek, Bob mulai
memajukan usahanya secara bertahap. Prinsip hidup yang mengalir apa
adanya, sudah ditekuni Bob secara tahun ke tahun. Namun baginya,
sebuah pengalaman harus benar-benar dijadikan guru yang paling
berharga.
       “Dari pengalaman tersebut banyak yang bisa kita ambil hikmahnya,
jadi pelajari saja,” tukasnya.
       Bob mengakui, kesuksesan dirinya tidak didapat dalam sekajap
mata. Bahkan, Bob pernah merugi dalam jumlah yang cukup besar.
Namun baginya, kerugian tersebut dianggap sesuatu yang lumrah dalam
dunia bisnis.
       “Keuntungan dan kerugian akan selalu berjalan beriringan. Tidak
ada perusahaan yang untung terus dan tidak ada perusahaan yang rugi
terus. Jadi, jalani saja lagi dan perbaiki kesalahan tersebut,” bebernya.
       Faktor terpenting dalam diri Bob adalah fokus dengan apa yang
sedang dikerjakan. Menurutnya, dengan berfokus pada satu bidang akan
membuat kita lebih memahami bidang tersebut.
       “Saya tidak mau berpindah ke lain usaha karena pengalaman saya
di situ. Buat apa saya menyimpang-menyimpang,” tambahnya.
Tidak Punya Keinginan Lain
      Memasuki usia 74 tahun, Bob mengaku dirinya sudah tidak
memerlukan apa-apa lgi. Dirinya hanya ingin bersama keluarga dan
menikmati hidup.
      “Saya sudah tidak ada keinginan lagi dan serba kecukupan karena
apa yang saya mau sudah ada semua,” tutur ayah dua anak ini.
      Bob merasa bersyukur dengan semua yang diterimanya saat ini.
Bahkan, wanita tercintanya masih terus mendampingi dalam keadaan
suka maupun duka. Terlebih lagi, dukungan tersebut datang dari kedua
anaknya yang tidak henti-hentinya memberi dukungan.
      “Kalau keluarga tidak mendukung, saya tidak akan seperti ini,”
Tandasnya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:849
posted:4/12/2011
language:Indonesian
pages:4