cara kerja dopamine

Document Sample
cara kerja dopamine Powered By Docstoc
					Cara kerja pemacu dopamine
Obat-obatan yang meningkatkan aktivitas dopaminergik
Pemicu dopamin
Contoh dari pemicu dopamin adalah levodopa (L-dopa)
Cara kerja: L-dopa adalah pemicu langsung dari dopamin, dan mampu menembus pembatas darah-otak
untuk mengisi ulang muatan dopamin di corpus striatum. L-dopa ter-karboksiasi oleh dopa
decarboxylese menjadi dopamin di dalam otak, dan ini bermanfaat untuk menggerakkan aksi dopamin
pada reseptor D2 (Gb. 6.3). Dopamin sendiri tidak digunakan, oleh karena ia tidak mampu menembus
pembatas darah-otak.
Cara pemberian: L-dopa diberikan secara oral. Ia mencapai konsentrasi plasma puncak setelah 1-2 jam
dan hanya 1% saja yang mencapai otak, oleh karena metabolisme periferal.
Indikasi: L-dopa digunakan untuk penanganan parkinsonisme (kecuali gejala extrapiramidal yang dipicu
oleh obat)
Kontraindikasi: glaukoma closed-angle.
Efek-efek samping: metabolisme periferal L-dopa bersifat ekstensif, sehingga sejumlah besar dosis harus
diberikan agar dapat menimbulkan efek-efek terapi di dalam otak. Akan tetapi dosis besar cenderung
membawa banyak efek samping, yaitu:
• Mual dan muntah.
• Dampak samping kejiwaan (gejala-gejala mirip schizophrenia).
• Efek kardiovaskuler (hipotensi).
• Dyskinesias.

Mual dan muntah adalah disebabkan oleh perangsangan reseptor-reseptor dopamin pada zone picu
kemoreseptor di area postrema, yang terletak di luar batas darah-otak. Efek-efek samping kejiwaan
menjadi faktor pembatas umum yang dipertimbangkan ketika dokter hendak memakai L-dopa: mimpi
yang terasa nyata, bingung, dan gejala-gejala psikotik yang umum dijumpai pada penderita
schizophrenia. Efek-efek tersebut dimungkinkan merupakan akibat dari peningkatan aktivitas
dopaminergik di area mesolimbik otak, yang barangkali serupa dengan yang dijumpai secara patologis di
schizophrenia (aktivitas dopaminergik secara berlebih seperti pada schizophrenia). Hipotensi adalah
umum akan tetapi biasanya bersifat asymptomatik. Aritmias jantung adalah dikarenakan peningkatan
rangsangan katekolamin menyusul metabolisme periferal L-dopa yang berlebihan.
Dyskinesias sering dapat muncul dan cenderung melibatkan perubahan raut muka dan anggota gerak
badan. Ini biasanya mencerminkan pemberian obat yang berlebihan dan oleh karenanya dosis perlu
dikurangi.
Ada tiga macam strategi yang dipakai untuk mengoptimalkan penanganan dengan L-dopa, untuk
memaksimalkan efek-efek sentral L-dopa di dalam otak, dan meminimalkan efek-efek periferal yang
tidak diinginkan. Semua strategi ini melibatkan pemakaian obat pelengkap yaitu:
• Carbidopa, sejenis inhibitor dopa decarboxylase di perifer, yang tidak dapat menembus pembatas
darah-otak. Oleh karenanya, perubahan L-dopa menjadi dopamin di luar otak menjadi terhambat.
• Domperidone, sejenis antagonist dopamine, yang tidak menembus pembatas otak-darah, dan dengan
demikian mampu menghambat perangsangan reseptor dopamine di perifer.
• Selegiline dan entacapone, yang adalah masing-masing inhibitor MAOB dan COMT, mampu
menghambat proses degradasi dopamin di sistem syaraf pusat.
Catatan terapi: pada awalnya, penanganan dengan L-dopa adalah efektif pada 80% pasien, dengan
kemungkinan dapat memulihkan mereka kembali ke fungsi motorik yang hampir normal; namun
meskipun L-dopa memulihkan kadar dopamin dalam jangka pendek, terapi tidak berdampak sama sekali
pada proses penyakit degeneratif yang mendasarinya.
Ketika degenerasi neuronal progresif berlanjut, kapasitas corpus striatum untuk mengubah L-dopa
menjadi dopamin menjadi berkurang. Ini mempengaruhi sebagian besar pasien dalam jangka waktu 5
tahun, dan memunculkan diri sebagai gejala `kemerosotan ketika dosis berakhir' (pemendekan durasi
dari setiap dosis L-dopa), dan 'efek on-off' (fluktuasi yang cepat dalam status klinis, yaitu berubah dari
gerak yang aktif dan perbaikan secara umum, menjadi kondisi kekakuan badan dan hypokinesia). Efek
on-off ini muncul tiba-tiba dan berlangsung dalam jangka waktu pendek, mulai dari beberapa menit
hingga beberapa jam, yang cenderung memburuk ketika perawatan bertambah lama.

Agonist dopamin
Contoh-contoh dari agonist dopamin adalah bromocriptine, ropinirole, pergolide, lisuride, dan
apomorphine.
Cara kerja: Bromocriptine, ropinirole, pergolide. lisuride, dan apomorphine adalah agonist dopamin yang
selektif pada reseptor D2 (Gb. 6.3). Apomorphine juga mempunyai aksi agonist pada reseptor D1.
Cara pemberian: Oral. Apomorphine diberikan secara suntikan bawah kulit (subcutaneous).
Indikasi: agonist dopamin dipakai bersama dengan L-dopa sebagai upaya untuk mengurangi efek-efek
buruk dari terapi L-dopa (yaitu efek 'kemerosotan ketika dosis berakhir' dan 'efek on-off'), atau ketika L-
dopa secara sendirian tidak cukup mampu untuk mengendalikan gejala-gejala yang ada.
Efek-efek samping: efek samping dari agonist dopamin pada dasarnya adalah serupa dengan L-dopa
(mual, hipotensi postural, gejala-gejala gangguan kejiwaan), akan tetapi mereka cenderung bersifat
lebih umum dan lebih parah. Apomorphine mengakibatkan mual dan muntah yang hebat.
Catatan terapi: sekarang ini bromocriptine adalah agonist dopamin yang secara klinis paling banyak
dipakai untuk perawatan penyakit Parkinson.

Obat-obatan yang merangsang pelepasan dopamin
Amantadine adalah contoh obat yang merangsang pelepasan dopamin (Gb. 6.3).
Cara kerja: mempermudah pelepasan dopamin neuronal, dan penghambatan asupan ulang ke syaraf,
dan juga bekerja menghambat secara muscarinic.
Cara pemberian: Oral.
Indikasi: Amantadine memiliki efek sinergistik ketika dipakai bersama dengan terapi L-dopa untuk
penyakit Parkinson.
Efek-efek samping: Anorexia, mual, dan halusinasi.
Catatan terapi: Amantadine cukup bagus bekerja sebagai obat anti-parkinson, akan tetapi manfaatnya
hanya terasa dalam jangka waktu singkat, oleh karena hampir seluruh efektivitas obat ini akan lenyap
setelah 6 bulan pemakaian rutin.
http://konsultasimedika.blogspot.com/2009/05/parkinsonisme-dopamine.html



NOREPINEPHRINE

Norepinephrine adalah suatu amin simpatomimetik, yang terutama bekerja melalui efek
langsung pada reseptor α dan reseptor β di jantung. Itulah yang menyebabkan vasokonstriksi
perifer (aksi α-adrenergik), dan efek inotropik positif pada jantung serta dilatasi arteri koroner
(aksi β-adrenergik). Aksi ini mengakibatkan peningkatan tekanan darah sistemik dan aliran darah
arteri koroner.

Pada infark miokard yang disertai dengan hipotensi, norepinephrine biasanya meningkatkan
tekanan darah aorta, aliran darah arteri koroner, dan oksigenasi miokard, sehingga akan
membantu membatasi area iskemia dan infark miokard. Venous return meningkat dan jantung
cenderung kembali ke kecepatan dan ritme yang lebih normal dibandingkan saat keadaan
hipotensi.

Pada hipotensi yang menetap setelah dilakukan koreksi terhadap kekurangan volume darah,
norepinephrine membantu meningkatkan tekanan darah ke tingkat optimal dan menghasilkan
sirkulasi yang lebih adekuat. Namun, efek norepinephrine pada reseptor β1 kurang bila
dibandingkan dengan epinephrine atau isoproterenol. Diyakini bahwa efek α-adrenergik
dihasilkan dari hambatan terhadap produksi cyclic adenosine-3',5'-monophosphate (AMP)
dengan cara menghambat enzim adenil siklase, di mana efek β-adrenergik dihasilkan dari
stimulasi aktivitas adenil siklase.

Norepinephrine tidak boleh diberikan pada pasien hipotensi karena kekurangan volume darah,
kecuali dalam keadaan emergensi untuk mempertahankan perfusi arteri koroner dan serebral
sampai terapi penggantian volume darah dapat diberikan. Jika norepinephrine diberikan secara
kontinyu untuk mempertahankan tekanan darah tetapi penggantian kekurangan volume darah
tidak dilakukan, dapat terjadi hal-hal berikut: vasokonstriksi perifer dan viseral yang berat,
penurunan perfusi ginjal dan pengeluaran urin, gangguan aliran darah sistemik meskipun tekanan
darah “normal”, hipoksia jaringan, dan asidosis laktat.

Norepinephrine juga tidak boleh diberikan kepada pasien dengan trombosis pembuluh darah
mesenterium atau pembuluh darah perifer (karena risiko peningkatan iskemia dan perluasan area
infark) kecuali, jika dokter yang menangani berpendapat bahwa pemberian injeksi
norepinephrine perlu untuk prosedur menyelamatkan hidup pasien.

Anestetik siklopropana dan halotan meningkatkan iritabilitas otonom jantung, sehingga
menimbulkan sensitisasi myocardium terhadap kerja norepinephrine atau epinephrine yang
diberikan secara intravena. Karena itu, penggunaan norepinephrine selama pemberian
siklopropana dan anestesi halotan umumnya dikontraindikasikan, karena risiko terjadinya
takikardia atau fibrilasi ventrikular. Aritmia jantung dengan tipe yang sama dapat terjadi akibat
penggunaan norepinephrine pada pasien dengan hipoksia atau hypercarbia yang berat

http://www.dexa-medica.com/ourproducts/prescriptionproducts/detail.php?id=169&idc=7

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4715
posted:4/11/2011
language:Indonesian
pages:3