APAKAH TAKDIR BISA DIRUBAH?

Document Sample
APAKAH TAKDIR BISA DIRUBAH? Powered By Docstoc
					       APAKAH TAKDIR BISA DIRUBAH?

Benarkah seseorang sudah ditetapkan menjadi kaya atau
miskin sebelum dia muncul ke dunia? Benarkah jodoh
seseorang sudah dituliskan di kitab nan nyata di lauhul
mahfuz? Benarkah tanggal kematian kita sudah ditetapkan?

Lalu apa gunanya kita bersusah-payah mencari rezki jika
sesuatu telah ditetapkan? Mengapa kita tidak menunggu saja
sampai rezki dan jodoh datang menghampiri kita, dan tidak
usah berobat karena tidak akan mati sebelum ajal tiba, bukan
begitu?.

Tidakkah seseorang bisa merubah format hidupnya, yang dia
sendiri pun tidak tahu?

Takdir Dalam Bahasa Al-Quran

Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara berasal dari
akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi
kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata, "Allah telah
menakdirkan demikian," maka itu berarti, "Allah telah
memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau
kemampuan maksimal makhluk-Nya."

Dari sekian banyak ayat Al-Quran dipahami bahwa semua
makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak
dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah SWT.
Menuntun dan menunjukkan mereka arah yang seharusnya

                                                          1
mereka tuju. Begitu dipahami antara lain dari ayat-ayat
permulaan Surat Al-A'la (Sabihisma).

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang
menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya,
yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)." (QS. Al-
A'la, 87: 1-3).

Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan
ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini,
misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah satu
ukuran atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah
kepadanya. Ia tidak mampu melampauinya, kecuali jika ia
menggunakan akalnya untuk menciptakan satu alat, namun
akalnya pun, mempunyai ukuran yang tidak mampu dilampaui.

Di sisi lain, manusia berada di bawah hukum-hukum Allah
sehingga segala yang kita lakukan pun tidak terlepas dari
hukum-hukum yang telah mempunyai kadar dan ukuran
tertentu. Hanya saja karena hukum-hukum tersebut cukup
banyak, dan kita diberi kemampuan memilih - tidak
sebagaimana matahari dan bulan misalnya - maka kita dapat
memilih yang mana di antara takdir yang ditetapkan
Tuhan terhadap alam yang kita pilih.

Api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin dapat
menimbulkan kesejukan atau dingin; itu takdir Tuhan -
manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang


                                                       2
sejuk -. Di sinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya
ilham atau petunjuk Ilahi.

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah: "Wahai
Allah, jangan engkau biarkan aku sendiri (dengan
pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap."

Ketika di Syam (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi
wabah, Umar ibn Al-Khaththab yang ketika itu bermaksud
berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau, dan ketika
itu tampil seorang bertanya: "Apakah Anda lari/menghindar
dari takdir Tuhan?" Umar r.a. menjawab, "Saya
lari/menghindar dan takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang
lain."

Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di
satu tembok yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat
lain. Beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti
pertanyaan di atas. Jawaban Ali ibn Thalib, sama intinya
dengan jawaban Khalifah Umar r.a. Rubuhnya tembok,
berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum
yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak
menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang
menimpanya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia
menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir.

Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia
kemampuan memilah dan memilih? Kemampuan ini pun
antara lain merupakan ketetapan atau takdir yang

                                                          3
dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak dapat luput
dari takdir, yang baik maupun buruk. Tidak bijaksana jika
hanya yang merugikan saja yang disebut takdir, karena
yang positif pun takdir. Yang demikian merupakan sikap
'tidak menyucikan Allah, serta bertentangan dengan petunjuk
Nabi Saw.,' "... dan kamu harus percaya kepada takdir-
Nya yang baik maupun yang buruk."

Dengan demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya
takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan
masa depannya sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi. (oleh
KH. Dr M Quraish Shihab, MA.).

Coba kita simak firman Allah di bawah ini artinya, “Allah
menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa
yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat ummmul-
kitab (Lauh Mahfuzh). ” (QS. Ar-Ra‟du : 39 ).

Takdir Menurut Aliran Jabariyah dan Qadariyah

Dalam ajaran islam ada dua aliran yang bebeda pendapat
tentang hal ini yaitu:

1.   Aliran Jabariyah: Yaitu kelompok yang melihat segala
     sesuatunya berlangsung dengan takdir Ilahi, sehingga
     manusia adalah makhluk yang „majbur‟ (terpaksa, tidak
     memiliki pilihan).



                                                         4
     Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang
     menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah
     ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah.
     Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang
     dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia,
     tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, di
     sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat,
     karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang
     mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia
     menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya. (Harun
     Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan,
     (Jakarta: UI-Press, 1986), cet ke-5, h. 31).




2.   Aliran Qadhariyah: Pengertian Qadariyah secara etomologi,
     berasal dari bahasa Arab, yaitu qadara yang bemakna
     kemampuan dan kekuatan. Adapun secara termenologi
     istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala
     tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. Aliran-aliran
     ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi
     segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau
     meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Aliran ini lebih
     menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam
     mewujudkan perbutan-perbutannya. Harun Nasution
     menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian
     bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan
     kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa
     manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuha. (Rosihan Anwar,
     Ilmu Kalam, (Bandung: Puskata Setia, 2006), cet ke-2, h. 68).
                                                                       5
   Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr.
   Hadariansyah, orang-orang yang berpaham Qadariyah
   adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki
   kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam
   melakukan perbuatan. Manusia mampu melakukan
   perbuatan, mencakup semua perbuatan, yakni baik dan
   buruk. (Hadariansyah, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah
   Islam, (Banjarmasin: Antasari Press, 2008), h. 79).

Kedua aliran tersebut bertolak belakang, dan para ulama
menganggapnya sebagai aliran sesat. Maka dari itu kedua
aliran ini tidak boleh kita jadikan dalil untuk menantang takdir
Allah SWT.

Takdir Menurut Al-Quran Dan Hadits

Agar kita tidak semakin bingun memahami takdir, mari
perhatikan ayat-ayat Al-Quran di bawah ini:

Takdir Tentang Umur

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air
mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki
dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan-pun
mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan
sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur
seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi
umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauhul


                                                                6
mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah
mudah”. (QS. Fathir, 35:11)

Takdir Tentang Bencana

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab
(Lauhul    mahfuz)      sebelum    Kami      menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.
(QS. Al-Hadiid Ayat, 57: 22).

Takdir Tentang Rezki

Dalam Al-Quran, Allah menyebutkan bahwa:

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang
Mempunyai Kekuatan lagi sangat Kokoh”. (QS. Adz Dzaariyat
Ayat, 51:58).

“Dan tidak ada suatu binatang melata-pun di bumi melainkan
Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat
berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul mahfuz)”. (QS. Hud,
11: 6).

Masalah memberikan atau menyempitkan rezki ini, secara
khusus dalam Al-Quran Allah menyebutkan di 9 Surah yaitu:



                                                            7
1. Surah 13:26: “Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya
   bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan
   kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding
   dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang
   sedikit)”.
2. Surah 17: 30: “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki
   kepada siapa yang dia kehendaki dan menyempitkannya;
   Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat
   akan hamba-hamba-Nya”.
3. Surah 29: 62: “Allah melapangkan rezki bagi siapa yang
   dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia
   (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah
   Maha Mengetahui segala sesuatu”.
4. Surah 30: 37: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan
   bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa
   yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan
   (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
   benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum
   yang beriman”.
5. Surah 34: 39: Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku
   melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di
   antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa
   yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu
   nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah
   Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya”.
6. Surah 39: 52: “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa
   Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa
   yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang


                                                           8
   demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
   kaum yang beriman”.
7. Surah 42: 12: “Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit
   dan bumi; Dia melapangkan rezki bagi siapa yang
   dikehendaki-Nya dan menyempitkan (nya). Sesungguhnya
   Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.
8. Surah 42: 19: “Allah Maha Lembut terhadap hamba-
   hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada siapa yang
   dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Kuat lagi Maha
   Perkasa”.
9. Surah 42: 27: “Dan jika Allah melapangkan rezki kepada
   hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas
   di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang
   dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha
   Mengetahui hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”.

Intinya adalah Allah menyatakan bahwa Dia-lah yang
meluaskan rezki dan menyempitkan rezki bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dengan demikian, tugas kita adalah berusaha
sekuat tenaga dan berdoa untuk mencari rezki Allah dan
senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang
Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia
memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-
Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(QS. Surat
Al-Baqarah ayat 186.

                                                        9
Lalu apakah dengan diam saja rezeki akan datang sesuai
dengan takdir kita? Allah memberi contoh pada ayat yang
mulia: Surat Yasin ayat 47:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Nafkahkanlah
sebahagian dari rezki yang diberikan Allah kepadamu”, maka
orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang
beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-
orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan
memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam
kesesatan yang nyata”.

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya
Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah
dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu
merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan
sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. AL-Anfaal, 8: 53).

„Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka
berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian
dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali
setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk, 67: 15).

Kita bisa merubah hidup menjadi lebih baik, dengan izin Allah.
Karena apa yang kita lakukan, seperti menulis, menggerakkan
badan, berjalan, bekerja, berusaha, adalah dengan Seperijinan
Allah SWT. Maka jika Allah memberikannya kepada kita, itu


                                                           10
lah anugerah dan jika Dia berkenan mencabut, maka itulah
ujian-Nya.

Macam-Macam Takdir

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamad Macam-macam
takdir itu antara lain:

1. At-Taqdiirul 'Aam [1] (Takdir yang bersifat umum). Ialah
   takdir Rab untuk seluruh alam, dalam arti Dia
   mengetahuinya (dengan ilmu-Nya), mencatatnya,
   menghendaki, dan juga menciptakannya. Jenis ini
   ditunjukkan oleh berbagai dalil dalam alquran, di antaranya
   firman Allah SWT:

   "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya
   Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?
   Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah
   kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu
   amat mudah bagi Allah". [QS. Al-Hajj: 70].

  Dalam Shahih Muslim dari 'Abdullah bin 'Amr ra. bahwa
  Nabi SAW. bersabda: "Allah menentukan berbagai
  ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum
  menciptakan langit dan bumi. "Beliau bersabda, "Dan
  adalah 'Arsy-Nya di atas air."[2]

2. At-Taqdiirul Basyari [3] (Takdir yang berlaku untuk
   manusia). Ialah takdir yang di dalamnya Allah mengambil

                                                           11
  janji atas semua manusia bahwa Dia adalah Rab mereka,
  dan menjadikan sebagai saksi atas diri mereka akan hal itu,
  serta Allah menentukan di dalamnya orang-orang yang
  berbahagia dan orang-orang yang celaka. Dia berfirman:

  "Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan
  anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
  kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),
  Bukankah Aku ini Rabb-mu. Mereka menjawab, Betul
  (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan
  yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak
  mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
  orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Rab)."
  [QS. Al-A'raaf:172].

  Dari Hisyam bin Hakim, bahwa seseorang datang kepada
  rasulullah saw. lalu mengatakan, "Apakah amalan-amalan
  itu dimulai ataukah ditentukan oleh qadha'? "Rasulullah
  saw. menjawab: "Allah mengambil keturunan dari Nabi
  Adam Alaihissalam. dari tulang sulbi mereka, kemudian
  menjadikan sebagai saksi atas dirinya, kemudian
  mengumpulkan mereka dalam kedua telapak tangan-Nya
  Allah berfirman, “Mereka di Surga dan mereka di Neraka.
  'Maka ahli Surga dimudahkan untuk beramal dengan
  amalan ahli Surga dan ahli Neraka dimudahkan untuk
  beramal dengan amalan ahli Neraka." [4]

3. At-Taqdiirul 'Umri (Takdir yang berlaku bagi usia).
   Ialah segala takdir (ketentuan) yang terjadi pada hamba

                                                          12
  dalam kehidupan hingga akhir ajalnya, dan juga ketetapan
  tentang kesengsaraan atau kebahagiaannya. Hal tersebut
  ditunjukkan oleh hadits ash-Shadiqul Mashduq (Nabi
  Muhammad saw. dalam Shahihain dari Ibnu Mas'ud secara
  marfu': "Sesungguhnya salah seorang dari kalian
  dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama
  empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah
  seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi
  segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus
  seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan
  diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk
  menulis rezkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau
  bahagia(nya)."[5]

4. At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku tahunan).
   Yaitu dalam malam Qadar (Lailatul Qadar) pada setiap
   tahun. Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala:

  "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh
  hikmah." [QS. Ad-Dukhaan: 4].

  Dan dalam firman-Nya: "Pada malam itu turun para
  Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin Rab-nya untuk
  mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan
  sampai terbit fajar." [QS. Al-Qadr: 4-5].

  Disebutkan, bahwa pada malam tersebut ditulis apa yang
  akan terjadi dalam setahun (ke depan,-ed.) mengenai
  kematian, kehidupan, kemuliaan dan kehinaan, juga rezki

                                                          13
   dan hujan, hingga (mengenai siapakah) orang-orang yang
   (akan) berhaji. Dikatakan (pada takdir itu), fulan akan
   berhaji dan fulan akan berhaji.

   Penjelasan ini diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas
   ra. demikian juga al-Hasan serta Sa'id bin Jubair. [6]

5. At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian)
   Dalilnya ialah firman Allah swt. "Setiap waktu Dia dalam
   kesibukan." [Ar-Rahmaan: 29] Disebutkan mengenai tafsir
   ayat tersebut: Kesibukan-Nya ialah memuliakan dan
   menghinakan, meninggikan dan merendahkan (derajat),
   memberi dan menghalangi, menjadikan kaya dan fakir,
   membuat tertawa dan menangis, mematikan dan
   menghidupkan, dst. [7]

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas
Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd,
Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Footenotes

[1]. Lihat, A'laamus Sunnah al-Mansyuurah, hal. 129-133 dan komentar
      Syaikh Ibnu Baz atas al-Waasithiyyah, hal. 78-80.

[2]. HR. Muslim, (VIII/51).

[3]. Syaikh Abdul Aziz bin Baz memberikan komentar terhadap pembagian
      yang kedua ini seraya berucap, 'Bahwa takdir yang kedua ini masuk
      kedalam takdir yang pertama, oleh sebab itu Abul 'Abbas, Ibnu
      Taimiyyah, menolaknya dalam kitab al-Aqiidah al-Waasitiyyah, begitu
      juga banyak dari para ulama lainnya yang saya ketahui.
                                                                     14
[4]. HR. Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah, yang diteliti oleh Syaikh al-
     Albani, (I/73), dan al-Albani menilai sanadnya shahih dan para
     perawinya semuanya terpercaya, dan as-Suyuthi dalam ad-Durul
     Mantsuur, (III/604), ia mengatakan, Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Jarir,
     al-Bazzar, ath-Thabrani, al-Ajurri dalam asy-Syarii'ah, Ibnu
     Mardawaih, dan al-Baihaqi dalam al-Asmaa' wash Shifaat.

[5]. HR. Al-Bukhari, (VII/210, no. 3208), Muslim, (VIII/44, no. 2643), dan
      Ibnu Majah, (I/29, no. 76). (Dan lafazhnya adalah dari riwayat
      Muslim,-ed.)

[6]. Lihat, Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, (VII/338), Tafsiir al-Qur-aanil 'Azhiim,
      Ibnu Katsir, (IV/140), dan Fat-hul Qadiir, asy-Syaukani, (IV/572).
[7]. Lihat, Zaadul Masiir, (VIII/114), Tafsiir al-Qur-aanil Azhiim, Ibnu Katsir,
      (IV/275), dan Fat-hul Qadiir, (V/136).




                                                                            15

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: BUKU
Stats:
views:891
posted:4/11/2011
language:Indonesian
pages:15
Description: APAKAH TAKDIR BISA DIRUBAH? TAKDIR APAKAH YANG BISA DIRUBAH DAN TAKDIR APAKAH YANG TIDAK BISA DIRUBAH? JAWABANYA ADA DI DALAM BUKU INI!
sahabuddin,s.pd.i budi79budi sahabuddin,s.pd.i budi79budi arrahma www.arrahma@yahoo.com
About hidup adalah ujian yang merupakan amanah yang harus dijaga dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin sebelum kembali kehadirat sang pencipta. saya hanyalah seorang manusia biasa yang tak punya kelebihan apa-apa dan tak dari salah dan dosa, namun saya bertekad untuk menjadi orang yang banyak bermanfaat bagi orang lain.