makalah dhf

W
Shared by: lenni.maharani
Categories
Tags
-
Stats
views:
2421
posted:
4/11/2011
language:
Indonesian
pages:
7
Document Sample
scope of work template
							ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
” DHF ”

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ’AISYIYAH YOGYAKARTA
2007/2008
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum. Wr. Wb

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah, karena kami telah dapat menyusun
makalah ini. Makalah ini telah disesuaikan dengan pokok bahasan mata kuliah Asuhan
Keperawatan Anak.
Atas terselesainya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Untuk itub penulis
sangat mengharapkan saran dan kritik. Saran dan masukan dari berbagai pihak agar dalam
pembuatan makalah berikutnya menjadi sempurna.
Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan pembaca.

Wassalmualaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, Februari 2008
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sampai saat ini penyakit DHF masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia.
Angka kesakitan dan kematian DBD di berbagai Negara sangat bervariasi tergantung pada
berbagai faktor, seperti: status kekebalan dari populasi, kepadatan Vektor dan frekuensi
penularan (seringnya terjadi penular Venus Dengue), Prevalensi Serotype Virus Dengue dan
keadaan cuaca.
Penderita penyakit DHF jika tidak mendapat perawatan yang me madai dapat mengalami
pendarahan yang hebat, syok dan dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu semua
kasus DHF sesuai dengan criteria WHO harus mendapat perawatan di tempat pelayanan
kesehatan ataupun Rumah Sakit. Sebenarnya penyakit DHF dapat dicegah dengan
menghindari gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Algopicna. Selain itu pencegahan
dapat dilakukan dengan mengupayakan perbaikan lingkungan yaitu melenyapkan tempat
bertelur dan beristirahatnya nyamuk, baik secara alami ataupun menggunakan insekt isida.
Banyak factor yang mempengaruhi kejadian penyakit DHF antara lain: factor hospes (host),
lingkungan (environment) dan factor virus itu sendiri. Faktor hospes yaitu kerentanan
(susceptibility) dan respon imun. Factor lingkungan (environment) yaitu ko ndisi geografis
(ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim), kondisi
demografis (kepadatan mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosekonomi, penduduk), jenis dan
kepadatan nyamuk sebagai penular penyakit.

B. TUJUAN
1. Mengetahui definisi, epidemologi, patogenesis, klasifikasi, gejala dan tanda, manifestasi
klinis, komplikasi, pencegahan dan pengobatan, serta imunisasi DHF pada anak
2. Dapat menerapkan asuhan keperawatan DHF pada pasien anak
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Penyakit deman akut yang disebabkan oleh 4 serotipe virus dengue dan ditandai dengan 4
gejala krisis uatam yaitu: demam yang tinggi, manifestasi pendarahan, hepatomegali dan
tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan sebagai akibat dari kebocoran
plasma yang dapat menyebabkan kematian. (Soegeng Soegiyanto, Ilmu Penyakit
Anak.Diagnosa dan Penatalaksanaan)
Infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (Arthhropodborn Virus) dan dtularkan melalui
gigitan nyamuk aedes (aedes albopictus dan aedes aegypti)(Ngastiyah, Perawatan Anak
Sakit).

B. ETIOLOGI
Virus masuk ke dalam tubuh lewat gigitan nyamuk aedes aegypti yang tinggal di dalam
rumah atau nyamuk aedes aegypti yang biasa berada di kebun pekarangan rumah. Keduanya
bias sama menularkan virus dengue, namun nyamuk aedes aegypti yang paling sering
menjadi penularnya.

C. MANIFESTASI
1. Demam yang tinggi mendadak yang berlangsung slama 2-7 hari >39C
2. Pendarahan trauma pada kulit
3. Hepatomegali
4. Anoreksia/ muntah- muntah
5. Nyeri perut, nyeri pada otot dan tulang
6. Sakit kepala
7. Nadi cepat dan lemah ( 30%.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukanya cairan
dalam rongga serosa yaitu rongga perikonium pleura n perikard yang pada autopsy ternyata
melebihi jumlah cairan yang telah diberikan sebelumnya melalui infuse. Renjatan
hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera diatasi dapat
berakibat anoksia jaringan, asidosis metabolic dan kematian.
Renjatan yang terjadi akut dan perbaikan klinis yang drastic stelah pemberian plasma yang
efektif, sedangkan pada autopsy tidak ditemukan kerusakan dinding pembuluh darah yang
destruktif, menimbulkan dugaan bahwa perubahan fungsional dinding pembuluh darah
mungkin disebabkan mediator farmakologis yang bekerja singkat. Sebab lain pada DHF
adalah perdaraan hebat yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama.

G. PATHWAY
Aedes Aegypti

Permeabilitas Vaskuler
Toksin
Gangguan Termoregulasi

Kebocoran Plasma ( Vol Plasma)
Anofilaktosis C35 & C50 Set point
Cairan tertimbun dalam rongga serosa Histamin
Dx Hipertermi
Renjatan hipovolemik Sinapsis
Asidosis Metabolik Iritasi sel Pankreas Gaster

Mual Muntah
Nyeri
Kekurangan volume cairan

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai
1. Hb dan PCU meningkat ( ≥ 20% )
2. Trobositopenia (≤ 100.000/ ml )
3. Leucopenia (lingkungan normal atau lekositosis)
4. Lg D dengue positif
5. Hasil pemeriksanaan kimia darah menunjukan : hipoproteinemia, hipokloremia dan
hiponatremia
6. Ureum dan pH darah mungkin meningkat
7. Asidosis metabolic : pCO2 < 35-40 mmHg dan HCO3 rendah
8. SGOT/ SGPT meningkat

I. PENCEGAHAN
Pencegahan umum dan program pemberantasan dari pemerintah. Pencegahan umum dan
program dalam memberantas penyakit demam berdarah yang dilakukan oleh pemerintah telah
mengalami perbaikan selama hampir 36 tahun. Dekade pertama adalah dengan cara
penyemprotan dengan menggunakan alat potabel dan ultra low volume (ULV). Dan dekade
kedua dilakuka dengan penyemprotan yang ditambah dengan larvaside atau yang dikenal
dengan abate. Secara umum pencegahan dilakukan dengan:
1. .Penyemprotan atau vagging
2. Pemberian bubuk abate pada bak penampungan air
3. PSM (1993) diikuti pembentukan kelompok kerja (pokja) DBD yang merupakan
koordinasi pemberantasan DBD dalam wadah LKMD
4. Pemerintah juga membentuk forum kerjasama linta sektoraldi tiap tingkat administrasi
pemerintah (kecamatan, kabupaten, propinsi, dan pusat) yang disebut dengan kelompok kerja
oprasional
5. Gunakan pemberantasan sarang nyamuk (GPSN). Pertama kali tanggal 14 april 1998.
gerakan tersebut meliputi 3M, yaitu:
 Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur sedikitnya seminggu sekali /
menaburkan bubuk abate kedalamnya
 Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
 Mengukur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan

J. PENATALAKSANAAN
1. Kasus DBD yang diperkenankan berobat jalan
a. Bila penderita hanya mengeluh panas
b. Keinginan minum dan makan masih baik
c. Mengatasi panas tinggi mendadak diberikan otot panas parasetamol 10-15 mg/Kg BB
setiap 3-4 jam diulang jika simtom panas masih nyata diatas 38,5ºC.
2. Kasus DBD derajat I dan II
a. Pada hari ke 3, 4 dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena penderita ini mempunyai resiko
terjadinya syok.
b. Infuse cairan kristaloid, koloidal
c. Banyak minum air buah/ oralit
d. Kebutuhan cairan sebainya diberikan dalam kurun waktu 2-3 jam pertama dan selanjutnya
tetesan diatur kembali dalam waktu 24-48 jam saat kebocoran plasma terjadi.
3. Kasus DBD derajat III dan IV
a. Larutan garam isotonic (ringer laktat 5 % dektrose dalam larutan ringer laktat atau 5%
dektrose dalam larutan ringer asetat dan larutan normal garam faali) dengan jumlah 10-20
ml/Kg/1 jam.
b. Diberikan bolus 10 ml/ Kg (1 atau 2X)
c. Jika syok berlangsung terus dengan hematoksit yang tinggi, larutan koloidal (dekstran
dengan berat molekul 40.000 di dalam larutan normal garam faal/ plasma) dapat diberikan
dengan jumlah 10-20 ml/kg/jam
d. Pemasangan Central venus Pressure dan kateter Urinal.
e. Pada bayi dianjurkan 5% dekstrose di dalam setengah larutan normal garam faali (5%
dekstrose ½ NSS) dipakai pada awal memperbaiki keadaan penderita dan 5% dekstrose di
dalam 1/3 larutan normal garam faali boleh diberikan pada bayi di bawah 1 tahun, jika kadar
natrium dalam darah normal
f. Infuse dihentikan bila hematokrit sampai 40% dengan tanda vital stabil/ normal
4. Koreksi elektrosit dan kelainan metabolic kadar kalium dalam serum pada kasus yang berat
biasanya rendah
5. Obat penenang
a. Chloral hidrat oral/ rectal dosis 12,5-50 mg/kg (jangan lebih 1 jam)
b. Valium 0,3-0,5 mg/kg/BB/kali (bila tidak terjadi gangguan system pernafasan)
c. Lorgactil 1 mg/kg/BB/hari
6. Terapi O2
7. Tranfusi darah
8. Perawatan dirumah
 Minum yang banyak.
 Dicatat seberapa banyak minumnya
 Dicatat kencing jam berapa
 Nutrisi harus terpenuhi
 Kalau demam diatas 38C diberi parasetamol
 Dilarang keras memberikan Salisilat dan ibuprofen.
 Tiap hari mulai hari ke 3, 4, 5, 6 sebaiknya kontrol dokterdan pemeriksaan darah ter utama
hematokrit dan trombosit.

K. PROGNOSIS
Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, syock yang tidak teratasi, efusi
pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena
tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang kurang bersih. Kemudian terjadi kasus
yang berat yaitu waktu muncul komplikasi pada sistem saraf, kardiovaskuler, pernafasan,
darah dan organ lain.

L. KOMPLIKASI
Peningkatan jumlah kasus ini mempunyai hubungan dengan manifestasi tidak umum,
manifestasi ini termasuk fenomena SSP seperti kejang, spastisitas, perubahan kesadaran dan
proses transit. Bentuk kejang halus kadang terjadi selama fase demam pada bayi. Kejang ini
mungkin hanya kejang demam sederhana, karena cairan serebrospinal ditemukan normal
dalam kasus ini. Intoksikasi air akibat dari pemberian cairan isotonik berlebihan untuk
mengatasi pasien dengan hipoatremia dapat menimbulkan ensefalopati.
Ada beberapa laporan tentang isolasi virus / anti dengue IgM dari cairan serebrospinal.
Namun sampai sekarang tidak ada bukti keterlibatan langsung virus dengue dalam kerusakan
neural.
Perawatan harus dilakukan secara hati- hati untuk mencegah komplikasi iatrogenik dalam
pengobatan DHF. Komplikasi ini termasuk sepsis, pneumonia, infeksi luka, dan dehidrasi
berlebihan. Penggunaan jalur intravena terkontaminasi dapat menyebabakan sepsis gram
negatif yang disertai dengan demam, syok, dan pendarahan berat, pneumonia dan infeksi lain
dapat menyebabkan dan menyulitkan pemulihan. Hidrasi berlebihan dapat menyebabkan GG
atau pernafasan.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN DHF PADA ANAK

A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama
Alasan/ keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk dating ke RS adalah panas tinggi dan
anak lemah
3. Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dan saat-saat demam
kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan anak semakin
lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk, pilek, mual, nyeri telan, muntah a noreksia,
nyeri otot, dan persendian.
4. Riwayat penyakit yang pernah diderita
5. Riwayat Imunisasi
6. Riwayat gizi
7. Kondisi lingkungan
8. Pola kebiasaan
9. Pemeriksaan fisik meliputi: inspeksi, palposi, aukskultasi dan perkusi dari ujung rambut
sampai ujung kaki berdasarkan tingkatan DHF
10. Pemeriksaan system otot
11. Psikosial: cemas terhadap kondisi yang sekarang.
12. Pemeriksaan fisik lainnya
1. Adanya petekia pada kulit menurun dan muncul keringat dingin dan lembab
2. Kuku sianosis
3. Kepada dan leher
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam, mata anemis, hidung kadang
mengalami pendarahan (epitaksis) pada grade II,III,IV. Pada mulut didapatkan bahwa
mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan nyeri telan. Tenggorokan mengalami
hyperkimia pharing dan terjadi pendarahan telinga (pada grade II,III,IV)
4. Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terhadap adanya cairan
yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura)
5. Abdomen
Mengalami nyeri tekan, perbesaran hati (hepatomegali) dan asites
6. Ektremitas, akral dingin serta terjadi nyeri otot, sendi serta tulang.

B. DIAGNOSA PRIORITAS
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual,
muntah)
2. Hyperthermia berhubungan dengan penyakit
3. Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi

C. PERENCANAAN
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual,
muntah)
NOC : – mengontrol pemasukan dan pengeluaran cairan
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
- Mengontrol berat badan
- Mampu mengidentifikasi kbutuhan nutrisi
NIC : – monitor keadaan umum pasien
- Observasi tanda-tanda vital
- Perhatikan keluhan pasien
- Kolaborasi pemasangan infuse dan terapi-terapi cairan intravena
- Monitor input dan output cairan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan pasien.

2. Hyperthermia berhubungan dengan penyakit
NOC : – Suhu tubuh dalam rentang normal
- Nadi dan RR dam rentang normal
- Tidak ada perubahan warna kulit
NIC : – observasi tanda-tanda vital
- Berikan penjelasan kedada pasien / keluarga untuk mengatasi demam
- Jelaskan pentingnya tiras baring
- Anjurkan pasien untuk banyak minum
- Catat asupan dan keluaran cairan
- Kolaborasi pemberian cairan intravena
- Kolaborasi pemberian obat
3. Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi
NOC : – Kontrol nyeri
- Klien mengatakan nyeri berkurang
- Klien dapat mengekspresikan nyeri secara verbal
NIC : – mengkaji tingkat nyeri
- Berikan posisi yang nyaman
- Berikan suasana yang gembira
- Berikan teknik nonfarmakologi
- Kolaborasi pemberian analgetik
- Kaji lokasi nyeri

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
DHF adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbavirus (arthropodborn Virus) dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes (aedes albopictus dan aedes aegypti).

Manifestasi dari DHF:
1. Demam yang tinggi mendadak yang berlangsung slama 2-7 hari
2. Pendarahan trauma pada kulit
3. Hepatomegali
4. Anoreksia/ muntah- muntah
5. Nyeri perut, nyeri pada otot dan tulang
6. Sakit kepala
7. Nadi cepat dan lemah (< 20 mmHg)
8. Kulit dingin
9. Anak gelisah
10. Lidah kotor dan susah BAB

Diagnosa
1. Kekurangan volume cairan berbanding kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)
2. Hyperthermia berbanding penyakit
3. Nyeri akut berbanding Agen Indera Biologi

B. SARAN
Dengan Makalah ini semoga para pembaca dapat mengambil manfaat dari pengetahuan
tentang penyakit DHF. Kita sebagai tenaga kesehatan harus mampu dan memahami konsep
dan segala sesuatu dan bagaimana kita merawat dan mengobati pasien dengan penderita
DHF.
Selain itu kita harus mencegah agar penyakit DHF tidak menyebar atau menjangkit kita dan
masyarakat sekitar dengan cara menjaga kebersihan lingkungan

DAFTAR PUSTAKA

Wheley, Wong’s.2002.Nursing Infants dan Children. Mosby
Nadesul, Hendrawan.2007.Cara Mudah Mengalahkan DB.Jakarta: Kompas
Soegiyanto,Soegeng.2006.Demam Berdarah Denue.Surabaya:Ailangga University
Press.
Ngastiyah.1999.Perawatan Anak Sakit.Jakarta: EGC
Usnandar dkk.2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan anak.Jakarta.salemba Medika
.1987.Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta:FKUI
Soegiyanto, Soegeng.2002.Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan
Penatalaksanaan.Jakarta.Salemba Medika
NANDA
NIC
NOC

						
Related docs