Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut PLATO Perspektif Ontologis

Document Sample
Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut PLATO Perspektif Ontologis Powered By Docstoc
					       Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut PLATO Perspektif Ontologis

Oleh : Ahmad Tijani Muchlas

                                     Pendahuluan

         Filsafat sebagai "Mater-Scientiarum" (induk ilmu pengetahuan) perumusannya

sangat sulit dilaksanakan sebab nilai filsafat itu hanyalah dapat dimanifestasikan oleh

seseorang sebagai filosof yang otentik

         Perkembangan dan adanya perubahan yang terjadi dari zaman ke zaman

memiliki corak dan warna yang berbeda. Kondisi yang demikian cenderung memacu

manusia untuk selalu berpikir mencari niali kebenaran, adanya perbedaan cara

memandang       kebenaran    yang    disebabkan    perbedaan     penafsiran    tersebut

dilatarabelakangi oleh belum adanya kesepakatan serta sudut hakikat dan definisi

filsafat itu.

         Peran filsafat dalam dunia pendidikan adalah memberi kerangka acuan bidang

filsafat pendidikan guna mewujudkan cita-cita pendidikan yang diharapkan oleh suatu

masyarakat atau bangsa maka tak mengherankan bila filsafat pendidikan dalam suatu

Negara dipengaruhi oleh filsafat hidup yang menjadi anutan bangsa dinegara itu

masing-masing.

                                     Pembahasan

         Pendidikan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengalaman belajar setiap

orang sepanjang hidupnya, dalam pengertian yang luas pendidikan tidak dalam batas

usia tertentu, tetapi berlangsung sepanjang hidup (lifelong), pendidikan juga tidak

terbatas pada lingkungan tertentu.

         Dalam pengertian yang sempit pendidikan adalah sekolah atau persekolahan

(scholling), sekolah adalah pendidikan formal sebagai salah satu hasil rekayasa dan




                                          1
peradaban manusia, dalam arti sempit pendidikan tidak berlangsung seumur hidup,

tetapi berlangsung dalam jangka waktu yang terbatas.1

        Filsafat pendidikan versi Plato sebenarnya merupakan sub bagian dari filsafat

etika, karna puncak tujuan dari pendidikan menurut Plato adalah mengenal mana yang

baik dan tidak baik, sedangkan Plato membagi filsafat atas tiga bagian. (1) Dialektika

; tentang idea-idea atau pengertian-pengertian umum, (2) Fisika ; tentang dunia

materiil. (3) Etika ; tentang kebaikan.2

        Plato ( 427-347 M ) adalah murid Socrates yang sepenuhnya menyerap ajaran-

ajaran pendidikan besar itu, kemudian mengembangkan sistem filsafatnya sendiri. Ia

mendirikan sebuah akademi yang kemudian menjadi universitas pertama di dunia.

        Menurut Plato pendidikan adalah suatu bangsa dengan tugas yang harus

dilaksanakan untuk kepentingan Negara dan perorangan. Pendidikan itu memberi

kesempatan kepadanya untuk penampilan kesanggupan diri pribadinya. Bagi Negara

ia bertanggungjawab untuk memberikan perkembangan kepada warga negaranya,

dapat berlatih, terdidik dan merasakan kebahagiaan dalam menjalankan peranannya

buat melaksanakan kehidupan bermasyarakat.3

        Masih menurut Plato di dalam Negara idealnya adalah pendidikan

mendapatkan tempat paling utama dan mendapat perhatian paling khusus bahkan

dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah tugas yang paling mulia yang harus

diselenggarakan oleh Negara.4

        Pendidikan itu sebenarnya adalah pembebas dari belenggu ketidak tahuan dan

ketidakbenaran, dengan pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar


1
  Lihat, Mudyaharjo,Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan,Suatu Pengantar, 2002, Bandung::PT. Remaja
Rosdakarya, cet. Kedua, hal 49-51
2
  Lihat, Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, 2003, Jakarta:Bumi Aksara, cet. Kelima, hal. 125
3
  Lihat, Djalaluddin, Abdullah, Filsafat Pendidikan, Manusia, Filsafat dan Pendidikan, 1997,
Jakarta:Gaya Gramedia Pratama, hal, 63
4
  Ibid.


                                                 2
dan apa yang tidak benar. Dengan pendidikan pula mereka akan mengenal apa yang

baik dan apa yang tidak baik, apa yang layak dan apa yang tidak layak, dan yang

paling dominant bahwa pendidikan mereka akan terlahir kembali (they shall be born

again).

          Dengan demikian jelaslah bahwa peranan pendidikan yang paling utama bagi

manusia adalah membebaskan dan memperbaharui. Pembebasan dan pembaharuan itu

akan membentuk manusia yang utuh, yakni manusia yang berhasil menggapai segala

keutamaan dan moralitas jiwa yang mengantarkannya ke idea yang yang tinggi yaitu

kebajikan, kebaikan dan keadilan.

          Dalam konteks ini Plato cenderung ada kesamaan dengan aliran perrenialisme

karna aliran ini memandang bahwa pendidikan sebagai jalan kembali atau proses

mengembalikan              keadaan   sekarang.5   Apalagi     dalam     pandangan   aksiologis

perrenialisme manusia sebagai subjek dalam bertingkah laku telah memiliki potensi

kebaikan          sesuai    dengan   kodratnya,       disamping   ada   pula   kecenderungan-

kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik.6 Sementara itu

pendidikan juga harus mempunyai tujuan yang jelas, dan bagi Plato tujuan pendidikan

adalah untuk menemukan kemampuan-kemampuan ilmiah setiap individu dan

melatihnya sehingga ia menjadi warga Negara yang baik, dalam suatu masyarakat

yang harmonis, melaksanakan tugasnya dengan efisien.7

          Plato juga menekankan perlunya pendidikan direncanakan dan diprogramkan

sebaik-baiknya sehingga mampu mencapai sasaran yang diidamkan.8 Dengan kata

lain pendidikan yang baik haruslah direncanakan dan diprogramkan dengan baik agar

dapat berhasil dengan baik untuk menunjang rencana propaganda dan sensor.


5
  Ibid, hal 89
6
  Ibid, hal. 95
7
  Ibid, hal 63
8
  Ibid.


                                                  3
Propaganda diperlukan untuk menanamkan program pendidikan itu. Pemerintah harus

mengadakan motivasi, semangat loyalitas, kebersamaan dan kesatuan cinta akan

kebaikan dan keadilan.

            Menurut Plato pendidikan yang direncanakan dan diprogramkan menjadi tiga

tahap dengan tingkat usia, tahap pertama adalah pendidikan yang diberikan kepada

taruna hingga sampai usia dua puluh tahun; tahap kedua, dari usia dua puluh tahun

sampai tiga puluh tahun ; sedangkan tahap ketiga, dari usia tiga puluh tahun sampai

usia empat puluh tahun.9

            Dari sini nampak sekali bahwa sebenarnya Plato cenderung memaknai

pendidikan dalam arti yang sempit dimana pendidikan itu tidak berlangsung seumur

hidup tetapi berlangsung dengan batasan-batasan tertentu. Adapun hal yang

terlewatkan oleh Plato dalam bidang pendidikan adalah mengenai pendidikan dasar

(elementary education) dan pendidikan untuk kelas penghasil yang satu-satunya kelas

dalan golongan karya yang sebenarnya merupakan golongan terbesar dalam Negara.

                                       Kesimpulan

            Plato adalah salah satu filosof yang punya kepedulian yang besar terhadap

pendidikan, bagi Plato pendidikan adalah sebuah keniscayaan, bahlan layaknya

pendidikan mendapat perhatian khusus dan mendapatkan tempat paling utama.

Pendidikan adalah pembebas seseorang dari ketidak tahuan menjadi tahu. Peran

penting pendidikan bagi manusia adalah membebaskan dan memperbaharui.

Pembebasan dan pembaharuan itu akan membentuk manusia yang utuh.

            Pendidikan ideal bagi Plato adalah pendidikan yang terprogram dan terencana

sehingga baginya pendidikan adalah proses bertahap yang dibatasi dengan usia




9
    Ibid, hal. 64


                                             4
tertentu, sehingga kesannya bahwa Plato cenderung memaknai pendidikan dalam arti

yang sempit.



                                Daftar Pustaka

   -   Mudyaharjo,Redja,   Filsafat   Ilmu   Pendidikan,Suatu   Pengantar,   2002,

       Bandung::PT. Remaja Rosdakarya, cet. Kedua

   -   Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, 2003, Jakarta:Bumi Aksara, cet.

       Kelima

   -   , Djalaluddin, Abdullah, Filsafat Pendidikan, Manusia, Filsafat dan

       Pendidikan, 1997, Jakarta:Gaya Gramedia Pratama




                                        5