Docstoc

EUFORIA KELULUSAN UJIAN NASIONAL (UN)

Document Sample
EUFORIA KELULUSAN UJIAN NASIONAL (UN) Powered By Docstoc
					                          Ranah Moral Di Balik Euforia Kelulusan
                                   Oleh Muhibuddin

TRADISI hura-hura merayakan ujian nasional (unas), tampaknya masih sulit dibendung.
Lihatlah, begitu hasil unas diumumkan, aksi corat-coret seragam hingga arak-arakan kendaraan
bermotor langsung “meledak” di berbagai penjuru tanah air. Malahan, euforia kelulusan tak
jarang dilampiaskan dengan ekspresi berlebihan yang cenderung tak menghiraukan etika moral.

Di Kendari, misalnya. Seorang cewek pelajar SMA          tidak sungkan ketika rekan prianya
mencoretkan spidol di rok yang menutupi bagian sensitif tubuhnya. Hal serupa juga muncul di
Menado. Rok seorang pelejar putri yang “kekecilan” rela dibubuhi tanda tangan hingga penuh
coretan. Foto ekspresi kelulusan ini terpampang dengan dikasih judul menggelitik : Awas
Tembus (Jawa Pos, 18/06/2009).

Duh, keterlaluan. Itukah buah pembelajaran dari pranata pendidikan yang selama ini dipercaya
sebagai institusi pembentuk generasi cerdas yang berbudi pekerti luhur ? Tentu terlalu naïf
membuat generalisasi sesederhana itu. Yang jelas, para penyanjung etika moral akan mengelus
dada menyaksikan ulah pelajar yang bertolak belakang dengan eksistensi jati diri Bangsa
Indonesia itu.

Minim Respon

Sayangnya, respon terhadap euforia kelulusan yang mengabaikan domain nilai dan sikap (ranah
afektif) itu terkesan amat minim. Tak banyak teriakan-teriakan kritis terlontar menyikapi
fenomena yang – kalau boleh dibilang demikian-- sudah menjurus ke arah kemerosotan moral
pelajar itu.

Dismoralitas yang muncul di tengah euforia kelulusan gaungnya juga tak terlalu memantik
perhatian tataran elite di negeri ini untuk sekedar melontarkan rasa prihatin. Karenanya,
kalaupun hal ini sejatinya sudah dianggap sebuah problema, jangan terlalu berharap issu macam
ini bakal menembus agenda dengar pendapat yang terhormat wakil rakyat.

Jangan pula mimpi issu ini ikut terangkat menjadi tema debat para capres-cawapres. Urusan
dismoralitas, meski sudah meracuni anak bangsa, barangkali dinilai terlalu sumir, sepele dan
tidak populer untuk dikritisi. Lagi pula, mengangkat issu ini kemungkinan tak banyak
signifikansinya untuk mesin pendongkrak perolehan suara.

Dalam konteks unas, respon yang minimize terhadap euforia kelulusan amat berbanding terbalik
dengan reaksi yang mencuat ketika problemanya menyangkut kemerosotan pengetahuan
akademis ( ranah kognitif). Ketika, misalnya, persentase angka kelulusan maupun perolehan
nilai mata pelajaran merosot, respon yang muncul terasa sedemikian luar biasa dan maximize.

Tak ayal, anjloknya angka kelulusan maupun jebloknya nilai unas seakan menggetarkan banyak
kalangan layaknya mau kiamat. Wakil rakyatnya kebakaran jenggot dan segera memanggil
mendiknas untuk testimoni. Begitu pula pemegang kebijakan pendidikan. Mereka segera tancap
gas mencari kambing hitam penyebab merosotnya hasil unas pada tataran kognitif ini.
Respon luar biasa kemungkinan juga secepat kilat muncul ketika, umpamanya, angka kelulusan
maupun perolehan nilai unas meningkat drastis. Akan tetapi, ketika fenomenanya menyangkut
peningkatan ranah afektif, seperti sikap siswa yang bertambah demokratis, toleran, humanis,
pluralis, agamis dan sejenisnya, respon yang muncul tak bakalan sedahsyat sebagaimana
merespon meningkatnya ranah kognitif.

Beda sekali, memang. Bahkan, publik pun bukan mustahil juga kurang respek mengkritisi
euforia kelulusan yang diboncengi perilaku amoral. Mereka boleh jadi lebih tertarik merespon
perkembangan pisah ranjangnya pasangan celebritis ketimbang ikut berpikir serius soal moral.
Alangkah celaka bila demikian kenyataannya.

Investasi Kebobrokan Moral

Tak apalah sementara ini euforia kelulusan “dicuekin” sebagai fenomena yang dianggap tidak
krusial. Tapi, jika sikap dingin terhadap kemerosotan moral yang menggerogoti anak bangsa
terus dibiarkan sebagai sesuatu yang lumrah, itu sama artinya dengan menanam investasi
kebobrokan moral. Sewaktu-waktu, investasi ini bakal menjelma menjadi bom waktu yang
membahayakan.

Jujur, euforia kelulusan    hanyalah bias. Ya, bias dari dipertahankannya unas yang
menganakemaskan ranah kognitif sebagai hasil belajar penentu kelulusan dan ketidaklulusan.
Padahal, sebagaimana dipopulerkan Benyamin S Bloom, selain aspek kognitif, hasil belajar juga
mencakup ranah psikomotorik dan ranah afektif.

Dengan kata lain, jika unas dipercaya sebagai alat pengukur standar kompetensi lulusan secara
nasional, sangat tidak logis kalau penilaian aspek kognitif dan psikomotorik dianaktirikan dan
diamputasi begitu saja hingga tidak punya “daya jotos” untuk ikut menjustifikasi siswa lulus dan
tidak lulus.

Katakanlah, ada peserta didik yang akhlaknya tidak bagus, suka bolos, berani pada guru dan
bahkan pernah terlibat narkoba. Tapi, mereka secara kognitif sudah dinyatakan lulus unas. Hayo,
guru, kepala sekolah dan satuan pendidikan mana yang elegan dan berani membuat keputusan
tidak meluluskan peserta didik tersebut. Meski pemangku pendidikan pada level ini sejatinya
punya kewenangan menentukan kelulusan di tingkat satuan pendidikan.

Walhasil, selama unas masih menganaktirikan ranah afektif, jangan heran kalau di masa
mendatang euforia kelulusan diekspresikan kebablasan hingga menerjang rambu-rambu
moralitas. Dalam skala lebih makro, jangan salahkan jika mental-mental koruptor, manipulator,
politik menghalalkan segala cara dan sejenisnya, kelak masih kerasan bersarang di negeri ini.

Okelah belakangan sekolah-sekolah dijadikan pilot project berdirinya kantin kejujuran untuk
menanamkan sikap kejujuran sejak dini. Semua ini tak bakal banyak berarti manakala ranah
afektif masih terus disandra model pendidikan yang mendewakan hasil unas tataran kognitif
untuk mengeksekusi nasib siswa.
Muhibuddin,pemerhati pendidikan tinggal di Tulungaguyng, Jawa Timur

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:88
posted:4/10/2011
language:Indonesian
pages:3