Dzikir Kunci Kebaikan by desasalaf

VIEWS: 341 PAGES: 14

									                Dzikir Kunci Kebaikan
Oleh Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi
Tidak diragukan lagi, setiap orang ingin mendapat kebaikan dan
dijauhkan dari kemudharatan. Namun tidak semua orang menyadari
dan mau bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya itu.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan kunci-kunci
kebaikan tersebut dalam wahyunya secara gamblang dan tegas. Kunci
kebaikan itu adalah dzikir kepada Allah (dzikrullah).

URGENSI DAN KEDUDUKAN DZIKIR
Dzikir dan do’a adalah sebaik-baik amalan yang dapat mendekatkan diri
seorang muslim kepada Rabb-nya. Ia merupakan kunci semua kebaikan
yang diinginkan seorang hamba di dunia dan akhirat. Kapan saja Alah
Subhanahu wa Ta'ala memberikan kunci ini kepada seorang hamba,
maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menginginkan ia membukanya. Dan
jika Allah menyesatkannya, maka pintu kebaikan terasa jauh darinya,
sehingga hatinya gundah gulana, bingung, pikiran kalut, depresi, lemah
semangat dan keinginannya. Apabila ia menjaga dzikir dan do’a serta
terus berlindung kepada Allah, maka hatinya akan tenang,
sebagaimana firman Allah :

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah
hati menjadi tenteram. *Ar Ra’du:28+.

Dan ia akan mendapat keutamaan serta faidah yang sangat banyak di
dunia dan akhirat.[1]

Allah berfirman menjelaskan arti penting dan kedudukan dzikir dalam
banyak ayatnya, diantaranya:

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan
perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam
keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan
perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki
dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang
berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya,
laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah
telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al
Ahzaab:35].

Dan firmanNya:

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama)
Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. [Al Ahzaab:41].

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah
(dengan menyebut) Allah, sebagimana kamu menyebut-nyebut
(membangga-banggakan) nenek-moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah
lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang mendo'a:
"Ya, Rabb kami. Berilah kami kebaikan di dunia," dan tiadalah baginya
bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. [Al Baqarah:200].

Demikian juga dalam banyak hadits, Rasulullah telah menjelaskan
secara gamblang arti penting dan kedudukan dzikir bagi diri seorang
muslim, diantaranya:

Dari Abu Musa , ia berkata: Telah bersabda Nabi n ,”Permisalan orang
yang berdzikir kepada Allah dan yang tidak berdzikir, (ialah) seperti
orang yang hidup dan mati.” *2+

Dan hadits Beliau yang berbunyi:

Dari Abu Hurairah, Beliau berkata,”Al mufarridun telah mendahului,”
mereka bertanya,”Siapakah al mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab,”Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir.” *3+

Oleh karena itu dzikir-dzikir yang telah diajarkan Rasulullah (adzkaar
nabawiyah) memiliki kedudukan dan arti penting yang tinggi bagi
seorang muslim; sehingga banyak ditulis kitab dan karya tulis yang
beraneka ragam tentang permasalahan ini. Namun seorang muslim
diperintahkan untuk berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang telah
disyari’atkannya; karena dzikir merupakan bagian dari ibadah. Dan
ibadah hanyalah dibangun di atas dasar tauqifiyah (berdasar kepada
dalil wahyu) dan ittiba’ (mencontoh Rasulullah)’ tidak menuruti hawa
nafsu dan kehendak hati semata.

Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata,”Tidak diragukan lagi, adzkaar (dzikir-
dzikir) dan do’a-do’a merupakan ibadah yang utama. Sedangkan ibadah
dibangun di atas dasar tauqifiyah dan ittiba’; tidak menurut hawa nafsu
dan kebid’ahan. Sehingga do’a-do’a dan adzkar nabawiyah merupakan
dzikir dan do’a yang paling harus dicari oleh pencarinya. Pelakunya
berada di jalan yang aman dan selamat. Sedangkan faidah dan hasil
yang diperoleh tidak dapat diungkap dengan kata-kata, dan lisan tidak
dapat mencakupnya. Adzkaar yang lainnya ada kalanya diharamkan
atau makruh, atau terkadang berisi kesyirikan yang banyak tidak
diketahui oleh orang bodoh. Permasalahan ini cukup panjang
penjabarannya.

Seseorang tidak diperbolehkan membuat sebuah dzikir atau do’a yang
tidak dicontohkan Rasulullah, dan menjadikannnya sebagai ibadah
ritual yang dilakukan oleh manusia secara rutin, seperti rutinitas shalat
lima waktu. Ini jelas kebid’ahan dalam agama yang dilarang Allah.
Berbeda dengan do’a yang dilakukan seseorang, kadang-kadang tidak
rutin dengan tidak menjadikannya sunnah untuk manusia; maka, jika ini
tidak diketahui mengandung makna yang haram, tidak boleh dipastikan
keharamannya. Akan tetapi, terkadang ada keharaman padanya,
sedangkan manusia tidak merasakannya. Ini sebagaimana seorang
berdo’a ketika genting, dengan do’a-do’a yang ia ingat pada waktu itu.
Ini dan yang semisalnya hampir sama. Adapun mengambil wirid-wirid
(ma’tsurat, Pent.) yang tidak disyari’atkan dan membuat-buat dzikir
yang tidak syar’i, maka ini terlarang. Demikian do’a-do’a dan dzikir
syar’i, berisi permintaan yang agung lagi benar. Tidak meninggalkannya
dan beralih kepada dzikir-dzikir bid’ah yang dibuat-buat, kecuali orang
bodoh atau lemah atau melampaui batas.”*4+

KEUTAMAAN DAN FAIDAH DZIKIR
Keutamaan dan faidah dzikir sangatlah banyak, hingga Imam Ibnul
Qayyim menyatakan dalam kitabnya Al Wabil Ash Shayyib [5], bahwa
dzikir memiliki lebih dari seratus faidah, dan menyebutkan tujuh puluh
tiga faidah di dalam kitab tersebut. Diantara keutamaan dan faidah
dzikir ialah:

Pertama : Dzikir dapat mengusir syetan dan melindungi orang yang
berdzikir darinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam.

Dan Aku (Yahya bin Zakaria) memerintahkan kalian untuk banyak
berdzikir kepada Allah. Permisalannya itu, seperti seseorang yang
dikejar-kejar musuh, lalu ia mendatangi benteng yang kokoh dan
berlindung di dalamnya. Demikianlah seorang hamba, tidak dapat
melindungi dirinya dari syetan, kecuali dengan dzikir kepada Allah.[6]

Ibnul Qayim memberikan komentarnya terhadap hadits ini:
“Seandainya dzikir hanya memiliki satu keutamaan ini saja, maka sudah
cukup bagi seorang hamba untuk tidak lepas lisannya dari dzikir kepada
Allah, dan senantiasa gerak berdzikir; karena ia tidak dapat melindungi
dirinya dari musuhnya, kecuali dengan dzikir kepada Allah. Para musuh
hanya akan masuk melalui pintu kelalaian dalam keadaan terus
mengintainya. Jika ia lengah, maka musuh langsung menerkam dan
memangsanya. Dan jika berdzikir kepada Allah, maka musuh Allah itu
meringkuk dan merasa kecil serta melemah sehingga seperti al wash’
(sejenis burung kecil) dan seperti lalat”.*7+

Manusia, ketika lalai dari dzikir, maka syetan langsung menempel dan
menggodanya serta menjadikannya sebagai teman yang selalu
menyertainya, sebagaimana firman Allah.
Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (Rabb) Yang Maha Pemurah (Al
Qur'an), Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan
itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. [Az Zukhruf:36].

Seorang hamba tidak mampu melindungi dirinya dari syetan, kecuali
dengan dzikir kepada Allah.

Kedua : Dzikir dapat menghilangkan kesedihan, kegundahan dan
depresi, dan dapat mendatangkan ketenangan, kebahagian dan
kelapangan hidup. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya.

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah
hati menjadi tenteram. *Ar Ra’du:28+.

Ketiga : Dzikir dapat menghidupkan hati. Bahkan, dzikir itu sendiri pada
hakikatnya adalah kehidupan bagi hati tersebut. Apabila hati
kehilangan dzikir, maka seakan-akan kehilangan kehidupannya;
sehingga tidaklah hidup sebuah hati tanpa dzikir kepada Allah.

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,”Dzikir bagi hati,
seperti air bagi ikan. Lalu bagaimana keadaan ikan jika kehilangan
air?”*8+

Keempat : Dzikir menghapus dosa dan menyelamatkannya dari adzab
Allah; karena dzikir merupakan satu kebaikan yang besar, dan kebaikan
adalah untuk menghapus dosa dan menghilangkannya. Tentunya, hal
ini dapat menyelamatkan orang yang berdzikir dari adzab Allah,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih
menyelamatkan dirinya dari adzab Allah dari dzikrullah.[9]

Kelima : Dzikir menghasilkan pahala, keutamaan dan karunia Allah yang
tidak dihasilkan oleh selainnya, padahal sangat mudah
mengamalkannya; karena gerakan lisan lebih mudah daripada gerakan
anggota tubuh lainnya. Diantara pahala dzikir yang disebutkan
Rasulullah adalah:

Barangsiapa mengucapkan (dzikir):

Dalam sehari seratus kali, maka itu sama dengan pahala sepuluh budak;
ditulis seratus kebaikan untuknya, dan dihapus seratus dosanya. Juga
menjadi pelindungnya dari syetan pada hari itu sampai sore, dan tidak
ada satupun yang lebih utama dari amalannya, kecuali seorang yang
beramal dengan amalan yang lebih banyak dari hal itu. [10]

Ibnul Qayim berkata,”Dzikir adalah ibadah yang paling mudah, namun
paling agung dan utama; karena gerakan lisan adalah gerakan anggota
tubuh yang paling ringan dan mudah. Seandainya satu anggota tubuh
manusia sehari semalam bergerak seukuran gerakan lisannya, tentulah
hal itu sangat menyusahkannya, bahkan tidak mampu.” *11+

Keenam : Dzikir adalah tanaman syurga [12]. Ini berlandaskan sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Abdillah bin
Mas’ud yang berbunyi.
Aku berjumpa dengan Ibrahim pada malam isra’ dan mi’raj, lalu ia
berkata,”Wahai, Muhammad. Sampaikan salamku kepada umatmu dan
beritahulah mereka bahwa syurga memiliki tanah yang terbaik dan air
yang paling menyejukkan. Syurga itu dataran kosong (Qai’aan) dan
tumbuhannya adalah (dzikir) Subhanallahi wa la ilaha illallah wallahu
Akbar.” *13+

Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari hadits Abu Ayub Al
Anshari yang ada dalam Musnad Ahmad bin Hambal, 5/418.

Ketujuh : Dzikir menjadi cahaya penerang bagi di dunia, di kubur dan di
akhirat. Meneranginya di shirat, sehingga tidaklah hati dan kubur
memiliki cahaya, kecuali seperti cahaya dzikrullah, berdasarkan firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya: Dan apakah orang yang sudah
mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya
yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-
tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya
berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari
padanya. *Al An’am:122+.

Begitulah perbandingan antara seorang mukmin dengan lainnya.
Seorang mukmin memiliki cahaya dengan sebab keimanan, kecintaan,
pengenalan dan dzikir kepada Allah, sedangkan yang lain adalah orang
yang lalai dari Allah, tidak mau berdzikir dan tidak mencintaiNya.[14]
Kedelapan : Dzikir menjadi sebab mendapatkan shalawat dari Allah dan
para malaikatNya, sebagaimana firman Allah, yang artinya: Hai orang-
orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir
yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya pada waktu
pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan
malaikatNya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan
adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [Al
Ahzaab:41-43].

Kesembilan : Banyak berdzikir dapat menjauhkan seseorang dari
kemunafikan; karena orang munafik sangat sedikit berdzikir kepada
Allah, sebagiamana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat
mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat)
di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah
kecuali sedikit sekali. *An Nisa’:142+.

Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Abad berkata, ”Bisa jadi karena
hal tersebut, Allah menutup surat Munafiqin dengan firmanNya, yang
artinya: Hai, orang-orang yang beriman. Janganlah harta-hartamu dan
anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang
membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al
Munafiquun:9). Karena terdapat padanya peringatan dari fitnah kaum
munafiqin yang lalai dari dzikrullah, lalu terjerumus dalam
kemunafikan. Wal ‘iyadzubillah.
Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Khawarij: “Apakah mereka munafik
ataukah bukan?” Beliau menjawab,”Orang munafik tidak berdzikir
kepada Allah, kecuali sedikit.” Ini merupakan isyarat, bahwa
kemunafikan hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Berdasarkan hal
ini, maka banyak berdzikir merupakan penyelamat dari nifaq. [15]

Kesepuluh : Dzikir adalah amalan yang paling baik, paling suci dan
paling tinggi derajatnya, sebagaimana dinyatakan Rasulullah dalam
sabdanya:

Inginkah kalian aku beritahu amalan kalian yang terbaik dan tersuci
serta tertinggi pada derajat kalian? Ia lebih baik dari berinfak emas dan
perak, dan lebih baik dari kalian menjumpai musuh lalu kalian
memenggal kepalanya dan mereka memenggal kepala kalian?” Mereka
menjawab”Ya,” lalu Rasulullah menjawab,”Dzikrullah.” *16+

Demikian beberapa keutamaan dan faidah yang dapat diutarakan
dalam makalah singkat ini.

ADAB DALAM BERDZIKIR
Berdzikir memiliki adab-adab yang perlu diperhatikan dan diamalkan,
diantaranya:
Pertama : Ikhlas dalam berdzikir dan mengharap ridha Allah.

Kedua : Berdzikir dengan dzikir dan wirid yang telah dicontohkan
Rasulullah; karena dzikir adalah ibadah. Telah lalu penjelasan Ibnu
Taimiyah tentang hal tersebut.

Ketiga : Memahami makna dan maksudnya serta khusyu’ dalam
melakukannya. Ibnul Qayim berkata,”Dzikir yang paling utama dan
manfaat, ialah yang sesuai antara lisan dengan hati dan merupakan
dzikir yang telah dicontohkan Rasulullah. Serta orang yang berdzikir
memahami makna dan tujuan kandungannya.” *17+

Keempat : Memperhatikan tujuh adab yang telah dijelaskan Allah
dalam firmanNya.

Dan sebutlah (nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri
dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi
dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [Al
A’raf:205+.

Ayat yang mulia ini menunjukkan tujuh adab penting dalam berdzikir,
yaitu:
- Dzikir dilakukan dalam hati, karena hal itu lebih dekat kepada ikhlas.
- Dilakukan dengan merendahkan diri, agar terwujud sikap
penyembahan yang sempurna kepada Allah.
- Dilakukan dengan rasa takut dari siksaan Allah akibat lalai dalam
beramal dan tidak diterimanya dzikir tersebut. Oleh karena itu, Allah
mensifati kaum mukminin dengan firmanNya:

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,
dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya
mereka akan kembali kepada Rabb mereka. *Al Mu’minun:60+.
- Dilakukan tanpa mengeraskan suara, karena hal itu lebih dekat
kepada tafakkur yang baik.
- Dilakukan dengan lisan dan hati.
- Dilakukan pada waktu pagi dan petang. Memang dua waktu ini
memiliki keistimewaan, sehingga Allah menyebutnya dalam ayat ini.
Ditambah lagi dengan keistimewaan lainnya, yaitu sebagaimana
disampaikan Rasulullah dalam sabdanya:

Bergantian pada kalian malaikat pada waktu malam dan malaikat pada
waktu siang. Mereka berjumpa di waktu shalat Fajr dan Ashr, kemudian
naiklah malaikat yang mendatangi kalian, dan Rabb mereka
menanyakan mereka, dan Allah lebih tahu dengan mereka: “Bagaimana
keadaan hambaKu ketika kamu tinggalkan?” Mereka menjawab,”Kami
tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami datangi mereka
dalam keadaan shalat.” *18+

- Larangan lalai dari dzikrullah. [19]

Dengan ini jelaslah keutamaan dzikir sebagai kunci kebaikan dan
adabnya. Mudah-mudahan yang sedikit ini dapat bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 1/Tahun VIII/1425H/2004M]
_______
Footnote
*1+. Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkar, karya Dr. Abdurrazaq bin Abdulmuhsin
Alibadr, Bagian pertama, Cetaakan pertama, Tahun 1999 M-1419 H,
Dar Ibnu Affaan, Al Khubaar, KSA. Hlm 5-6.
[2]. Hadits riwayat Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Ad Da’awat, Bab
Fadhlu Dzikrullah, no. 6407.
[3]. Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab Ad Du’a Wa Dzikir
Wat Taubah Wal Istighfar, Bab Al Hats Ala Dzikr, no. 2676.
*4+. Majmu’ Al Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, disusun oleh Abdurrahman
bin Muhammad bin Qasim, tanpa cetakan dan penerbit, juz 22/ 510-
511.
*5+. Lihat Al Wabil Ash Shayyib Wa Rafi’ Al Kalimi Ath Thayyib, karya
Ibnul Qayyim, tahqiq Hasan Ahmad Isbir, Cetakan pertama, Tahun
1997-1418 H, Dar Ibnu Hazm, Bairut, Libanon, hlm. 69-141.
[6]. Hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (4/202), At
Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al Amtsal ‘An Rasulullih, Bab Ma Ja’a Fi
Matsal Ash Shalat Wal Shiyaam Wal Shadaqah, no. 2863 dan
dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 1724.
[7]. Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 61.
[8]. Dinukil murid beliau Ibnul Qayim dalam Al Wabil Ash Shayyib, hlm.
70.
[9]. Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad-nya 5/239 dan dishahihkan
Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 5644.
[10]. Hadits riwayat Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Badi’ Al Khalq,
Bab Sifat Iblis Wa Junuduhu, no. 3293; Muslim dalam Shahih-nya, kitab
Ad Du’a Wa Dzikir Wa Taubah Wal Istighfar, Bab Fadhlu At Tahlil Wa
Takbir Wa Tahmid, no. 2691; At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al
Da’awat ‘An Ar Rasul, Bab Ma Ja’a Fi Fadhl Tasbiih Wa Tahlil Wa Takbir
Ta Tahmid, no.3390.
[11]. Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 73.
[12]. Lihat Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 73-74; Fiqh Al Ad’iyah Wal
Adzkar, hlm. 19-20 dan Dzikru Wa Tadzkiir, karya Syaikh Prof. Dr. Shalih
bin Ghanim As Sadlan, Cetakan kedua, tahun 1415 H, Dar Al Balansiyah,
Riyadh, KSA, hlm.8.
[13]. Hadits riwayat At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Ad Da’awat ‘An
Ar Rasul, Bab Ma Ja’a Fi Fadhl Tasbih Wa Tahlil Wa Takbir Wa Tahmid,
no.3462, dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no.
105.
[14]. Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 82-83.
*15+. Fiqh Al Ad’iyah Wal Adzkar, hlm. 24.
[16]. Hadits riwayat At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Ad Da’awat ‘An
Ar Rasul, no. 3377 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Al Adab, Bab
Fadhlu Dzikr, no. 3790, dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al
Jami’, no. 2629.
*17+. Dinukil dari Fiqh Ad Ad’iyah Wal Azkar, hlm. 9.
[18]. Hadits riwayat Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Mawaqit Ash
Shalat, Bab Fadl Shalat Al Ashr, no. 522 dan Muslim dalam Shahih-nya,
kitab Al Masajid Wa Mawadi’ Ash Shalat, Bab Fadl Shalat Al Fajr Wal
Ashr Wa Muhafadztu ‘Alaihima, no. 632.
[19]. Diringkas dengan beberapa perubahan dan tambahan dari Fiqh Ad
Ad’iyah Wal Adzkar, hlm.57-59.

								
To top