; PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS LUKA
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS LUKA

VIEWS: 7,283 PAGES: 10

  • pg 1
									                           PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS LUKA
                             Oleh Kevin Christian N, 0906554320

LUKA
Luka dibagi menjadi 2 jenis yaitu luka terbuka dan luka tertutup. Luka terbuka adalah sebuah jejas
dimana terjadi skin breaks (kulit robek, tersayat, terpotong, atau tertusuk) sehingga bagian di
bawahnya menjadi terekspos ke daerah di luar tubuh. Sedangkan luka tertutup adalah jejas yang
terjadi biasanya disebabkan oleh trauma dari benda tumpul yang akhirnya dapat menyebabkan
memar (contusion) ataupun hematoma.

Luka terbuka dapat menyebabkan individu memiliki risiko akan terjadinya kontaminasi dengan
berbagai macam mikroba yang dapat mengganggu fungsi tubuh dan berakibat pada infeksi. Sebuah
luka terbuka juga dapat menjadi indikasi dari luka yang lebih dalam seperti fraktur. Luka terbuka
memiliki 5 bentuk umum yaitu:
     Abrasi
        Luka terbuka yang disebabkan oleh goresan atau gesekan pada bagian epidermis atau
        bagian terluar dari kulit. Luka ini dikategorikan sebagai luka yang superfisial namun sering
        menimbulkan rasa sakit dan rasa perih yang disebabkan ujung saraf yang terekspos. Pada
        luka ini terkadang tidak terjadi pendarahan meskipun pada sebagian besar kasus terjadi
        perdarahan kapiler.




Sumber : http://gallery.hd.org/_tn/std/medicine/_more2006/_more01/wound-open-abrasion-graze-scrape-injury-on-foot-
         and-ankle-healing-week-12-view-closeup-1-JV.jpg
Sumber : http://www.elastoplast.com.au/media/11/12276804864360/schrfwunde_rz.jpg


        Laserasi
         Luka terbuka dimana terjadi keretakan pada kulit dengan kedalaman yang bervariasi. Bagian
         pinggiran / border dari luka jenis ini dapat bersifat regular maupun iregular. Luka ini
         biasanya disebabkan oleh trauma dari benda tumpul. Perdarahan yang terjadi dapat cukup
         banyak terutama apabila terjadi pendarahan arteri.
                  Sumber : http://www.adaweb.net/Portals/0/Coroner/Lacerations.jpg
         Sumber : http://www.elastoplast.com.au/media/11/12276804864040/platzwunde_rz.jpg


   Luka penetrasi
    Luka terbuka yang disebabkan oleh benda tajam seperti pisau yang didorong atau ditekan ke
    dalam kulit (ditusuk). Pada beberapa kasus, luka dapat bersifat dalam dan terjadi banyak
    perdarahan namun dapat juga hanya berbentuk luka terbuka yang kecil dan perdarahan
    yang dialami sedikit atau tidak ada sama sekali.




        Sumber : http://www.elastoplast.com.au/media/11/12276804863360/schnittwunde_03.jpg


   Avulsi
    Luka terbuka dimana kulit seperti dirobek dan terdapat lapisan kulit yang hampir lepas atau
    bahkan bisa sampai lepas/ amputasi.




                  Sumber : http://www.moondragon.org/health/graphics/avulsion.jpg
       Insisi
        Luka terbuka dimana kulit terpotong atau tersayat dengan cukup rapi. Luka jenis ini dapat
        disebabkan oleh benda tajam seperti pisau, pisau cukur, silet, ataupun pecahan kaca. Luka
        jenis ini juga adalah luka yang sengaja dibuat pada proses operasi atau pembedahan.




                     Sumber : http://www.lightningshock.com/images/James_surgery2.JPG


Sedangkan untuk luka tertutup bentuk umum yang terjadi adalah memar atau contusio. Luka ini
sering terjadi bersamaan baik dengan abrasi maupun laserasi. Memar murni terjadi karena
kebocoran pada pembuluh darah dengan epidermis yang masih utuh. Ekstravasasi darah dengan
diameter lebih dari beberapa milimeter disebut memar atau contusio sedangkan untuk ukuran yang
lebih kecil disebut ekimosis dan yang terkecil seukuran ujung jarum disebut petekie. Berbeda dengan
memar, baik ekimosis dan petekie biasanya bukan disebabkan oleh trauma benda tumpul.

INFLAMASI
Inflamasi adalah reaksi kompleks yang melibatkan respon dari sisi vaskular, migrasi leukosit serta
aktivasinya, dan reaksi sistemik karena adanya agen-agen yang dapat menyebabkan kerusakan pada
sel seperti trauma, infeksi mikroba, benda asing, dan reaksi imun. Reaksi inflamasi akan dimulai
dengan reaksi inflamasi akut dan bila terus berlanjut akan dilanjutkan dengan reaksi inflamasi kronik.
INFLAMASI AKUT
Inflamasi akut merupakan respons segera dan dini terhadap jejas yang dirancang untuk mengirimkan
leukosit ke tempat jejas, leukosit membersihkan berbagai mikroba yang menginvasi dan memulai
proses pembongkaran jaringan nekrotik. Terdapat 3 komponen utama dalam proses inflamasi akut,
yaitu perubahan vaskular (perubahan dalam pembuluh sarah yang mengakibatkan peningkatan
aliran darah [vasodilatasi]), perubahan struktural yang meungkinkan protein plasma untuk
meninggalkan sirkulasi (peningkatan permeabilitas vaskular), serta           emigrasi leukosit dari
mikrosirkulasi, dan terakumulasi pada pusat jejas yang pada akhirnya akan berusaha untuk melawan
agen asing tersebut.

Inflamasi akut memiliki beberapa tanda-tanda umum,yakni:
      Rubor (redness)
      Calor (heat)
      Tumor (swelling)
      Dolor (pain)
      Functio laesa (loss of function)
Pembuluh darah akan berubah untuk memaksimalkan pergerakan protein plasma dan mensirkulasi
sel keluar dari sistem sirkulasi untuk menuju daerah luka. Keluarnya cairan, protein, dan sel darah
dari pembuluh darah ke cairan interstisial disebut dengan eksudasi. Sedangkan cairan ekstravaskular
yang memiliki konsentrasi protein yang tinggi dan mengandung debris seluler disebut eksudat.
Keberadaan eksudat menandakan peningkatan permeabilitas normal dari pembuluh darah pada
daerah luka yang kemudian dilanjutkan inflamasi.
Selain eksudat, juga ada yang disebut transudat yaitu cairan ekstravaskular dengan konsentrasi
protein yang rendah dan sedikit atau tidak mengandung material seluler. Transudat ini adalah filtrat
dari plasma darah sebagai hasil dari osmosis melalui dinding pembuluh darah tanpa peningkatan
permeabilitas vaskular.
Edema dapat menandakan berlebihnya cairan pada jaringan interstisial atau rongga serosa. Hal ini
dapat disebabkan oleh baik eksudat maupun transudat. Pus atau eksudat bernanah adalah eksudat
inflamasi yang kaya akan leukosit, debris sel yang mati, dan mikroba pada kebanyakan kasus.




Pada peradangan terjadi perubahan aliran vaskular yang dimulai tepat setelah luka terjadi dengan
tahapan :
     Vasodilatasi yang biasanya didahului dengan vasokontriksi sesaat dari arteriol. Hal ini akan
       menyebabkan peningkatan aliran darah yang menghasilkan panas dan merah (eritema) pada
       situs inflamasi.
     Vasodilatasi tadi akan diikuti peningkatan permeabilitas dari mikrovaskular yang dilanjutkan
       dengan keluarnya cairan kaya protein ke jaringan ekstravaskular.
     Kehilangan cairan dan pelebaran diameter pembuluh darah mengakibatkan melambatnya
       aliran darah yang disebut stasis. Pada kondisi ini netrofil akan terakumulasi di dekat
       endotelium dan kemudian akan beradhesi ke endotelium dan migrasi ke jaringan interstisial
       setelah sel endotel diaktifkan mediator-mediator inflamasi




Leukosit yang paling berperan dalam inflamasi akut adalah netrofil dan makrofag. Proses yang
melibatkan leukosit dalam inflamasi adalah keluarnya leukosit dari pembuluh darah menuju jaringan
ekstravaskular, pengenalan terhadap mikroba dan jaringan nekrotik, dan melenyapkan agen asing
pembuat inflamasi.
Perjalanan leukosit keluar dari pembuluh darah dan masuk ke dalam jaringan interstisial disebut
dengan ekstravasasi dan dapat dibagi menjadi beberapa tahap:
     Pada pembuluh darah : marginasi, rolling, dan adhesi pada endotelium
     Migrasi melalui endotelium dan dinding pembuluh
     Migrasi dalam jaringan dengan rangsang kemotakis

Molekul yang terlibat dalam ekstravasasi leukosit antara lain sitokin (TNF dan IL-1) yang
mengaktifkan reseptor selektin pada endotel, selektin yang terdiri dari E dan P selektin akan
berikatan dengan reseptor sialil Lewis pada leukosit. Kemokin yang dihasilkan jaringan akan
mengaktifkan integrin reseptor dari leukosit yang akan berikatan dengan ICAM-1 (Intracellular
Adhesion Molecule-1) atau VCAM-1 (Vascular Cell Adhesion Molecule-1). Sedangkan pada tahap
diapedesis yang terlibat adalah PECAM-1 (Platelet Endothelial Cell Adhesion Molecule-1).
Marginasi
Tingkat normal aliran darah menunjukkan suatu fenomena yang disebut dengan axial flow. Hal ini
berarti darah yang mengalir dengan mendistribusikan dirinya sendiri di dalam pembuluh darah
tersebut (eritrosit, leukosit, dan keping darah)dan bergerak di pusat kolom (pembuluh darah).
Elemen yang terbesar yaitu leukosit sangat dekat dengan pusat, dengan sel darah merah kecil dan
keping darah membentuk lapisan terluar. Plasma mengelilingi kolom dan mengalir dengan perlahan
di sepanjang endotelial pada pembuluh darah. Cairan yang menghilang dan tingkat aliran menurun
pada jaringan yang mengalami inflamasi karena pembuluh mengalami akan menyebabkan sel-sel
darah merah menggumpal dan membentuk agregat-agregat yang lebih besar daripada leukosit
sendiri. Menurut hukum fisika aliran, massa sel darah merah akan terdapat di bagian tengah dalam
aliran aksial, dan sel-sel darah putih pindah ke bagian tepi. Hal inilah yang disebut marginasi.

Rolling dan Adhesi
Sebagai hasil dari marginasi, leukosit menjadi lebih melekat ke endotel. Leukosit akan berputar
sehingga sampai ke endotel. Pada vaskularisasi jaringan yang terluka, leukosit dapat menempel atau
beradhesi ke permukaan endotel. Setelah menempel pada permukaan endotel, leukosit tersebut
akan memipih dan akan berbentuk seperti paving stones, oleh karena itu dinamakan pavementing
leukocytes. Tahap ini membuat leukosit yang tadinya aktif bergerak menjadi melekat ke endotel.
Kemudian akan dilanjutkan dengan tahap adhesi yaitu tahap ketika leukosit melekat dengan kuat
pada reseptor permukaan endotel mengaktifkan diapedesis.




Migrasi
Migrasi leukosit dari darah ke ruang jaringan. Setelah menempel ke endothelial, mereka memulai
meluncur sepanjang permukaan dalam bentuk yang amoeboid. Pergerakan akan berlanjut terus
setelah menemukan taut antar endothelial. Di sana, leukosit membentuk suatu bentuk agar dapat
keluar melewati taut antar sel endothelial. Dan selanjutnya, leukosit akan mencapai jaringan yang
terluka.
Kemotaksis
Setelah meninggalkan pembuluh darah, leukosit bergerak menuju ke arah utama lokasi jejas. Migrasi
sel darah putih yang terarah ini disebabkan oleh pengaruh-pengaruh kimia yang dapat berdifusi
disebut kemotaksis. Hampir semua jenis sel darah putih dipengaruhi oleh faktor-faktor kemotaksis
dalam derajat yang berbeda-beda. Neutrofil dan monosit paling reaktif terhadap rangsang
kemotaksis. Sebaliknya limfosit bereaksi lemah. Beberapa faktor kemotaksis dapat mempengaruhi
neutrofil maupun monosit, yang lainnya bekerja secara selektif terhadap beberapa jenis sel darah
putih. Faktor-faktor kemotaksis dapat endogen berasal dari protein plasma atau eksogen, misalnya
produk bakteri berupa protein maupun polipeptida.

Beberapa agen kemotaksis penting:
    Fraksi sistem komplemen (terutama C5a)
    Faktor derivat asan arakidonat yang diproduksi neutrophils – Leukotriens
    Faktor derivat bakteri patogen
    Faktor derivat limfosit khusus – Limfokin




Leukosit memiliki beberapa reseptor yang dapat mengenali rangsangan eksternal dan mengirimkan
sinyal aktivasi antara lain:
     Reseptor untuk produk mikrobial : Toll Like Receptors (TLRs) mengenali komponen dari
         beberapa tipe mikroba. TLRs dapat digunakan untuk mengetahui tingkat infeksi patogen.
         TLRs terdapat pada pemukaan sel dan di dalam vesikel endosomal dari leukosit.
     G protein-coupled receptor yang dapat ditemukan pada netrofil, makrofag, dan sebagian
         besar tipe leukosit untuk mengenali peptida pendek bakteri yang mengandung residu N-
         formylmethionyl.
     Reseptor untuk opsonin. Opsonin merupakan suatu substansi dari plasma yang mempunyai
      afinitas khusus untuk gambaran permukaan partikel asing. Leukosit mampu merespon
      terhadap opsonin karena mereka mempunyai binding site opsonin. Sekali opsonin
      membungkus partikel asing tersebut akan terjadi pengikatan dengan permukaan fagosit.
      Yang termasuk dalam opsonin adalah C-reactive protein, fragmen komplemen yang disebut
      dengan C3b, dan protein plasma yang dinamakan collectins, yang berikatan di dinding
      mikroba.
     Reseptor untuk sitokin. Salah satu sitokin terpenting yang diproduksi adalah interferon-ɣ
      (IFN-ɣ) yang disekresikan sel natural killer yang bereaksi terhadap mikroba. IFN-ɣ adalah
      salah satu sitokin utama untuk mengaktifkan makrofag.

Untuk melenyapkan agen asing/ mikroba, maka diperlukan aktivasi leukosit dan kemudian leukosit
tersebut akan melakukan proses fagositosis.
     Aktivasi leukosit
       Aktivasi dari leukosit dapat memicu leukosit untuk meningkatkan kadar kalsium sitosol dan
       aktivasi enzim. Adapun hal-hal yang dapat memicu aktivasi leukosit:
        Produksi dari asam arakidonat
        Sekresi dari enzim lisosom dan aktivasi oksigen burst
        Sekresi dari sitokin
        Modulasi dari molekul leukosit
     Fagositosis
        Recognition and attachment
           Terdiri dari reseptor mannose yang mengenali N-acetyglucosamine dan reseptor
           scavenger yang mengenali struktur lipoprotein.Tahap ini dapat lebih efektif jika terdapat
           opsonin seperti IgG dan C3a.
        Engulfment
           Pada tahap ini leukosit akan membentuk pseudopodia dan menyelimuti mikroba dan
           membran plasma akan menutup sehingga terbentuk fagosom. Fagosom lalu berfusi
           dengan granula lisosom yang kemudian membentuk fagolisosom.
        Killing and Degradation
           Pembunuhan mikrobial sebagian besar dilakukan oleh ROS (Reactive Oxygen Species) dan
           RNS (Reactive Nitrogen Species) yang terutama berasal dari NO.

Inflamasi akut dapat berujung pada tiga hal yaitu pulih kembali seperti sebelum inflamasi (pulih
total), repairing tidak sempurna (fibrosis), dan inflamasi kronik. Pulih total terjadi apabila inflamasi
tidak terjadi dalam waktu yang lama dan berat. Netrofil yang terapoptosis dan debris sel akan
difagositosis oleh makrofag dan kemudian akan menghilang atau kembali ke ajringan limfa.
Makrofag akan mengeluarkan growth factor untuk memicu angiogenesis dan fibroblast. Fibrosis
terjadi apabila inflamasi akut yang terjadi berat, sehingga eksudat fibrin berlebihan. Terjadinya
kerusakan pada stem cell menyebabkan jaringan asli digantikan jaringan ikat. Sedangkan inflamasi
kronik akan terjadi apabila patogen tidak berhasil dibunuh.
INFLAMASI KRONIK
Inflamasi kronik dapat muncul menyusul inflamasi akut atau respons sejak awal bersifat kronik.
Perubahan inflamasi akut menjadi kronik terjadi apabila pada respon inflamasi akut tidak dapat reda
yang disebabkan agen penyebab jejas masih menetap atau terdapat gangguan pada proses
penyembuhan normal. Adapun ciri-ciri inflamasi kronik adalah:
      Infiltrasi yang mengandung sel inflamasi mononuklear seperti makrofag, limfosit, dan sel
        plasma.
      Destruksi jaringan kebanyakan diinduksi oleh trauma menetap dan sel inflamatori.
      Upaya saat penyembuhan melalui penggantian jaringan ikat, dilengkapi dengan proliferasi
        vaskular(angiogenesis) dan fibrosis.

Inflamasi kronik dapat terjadi pada keadaan antara lain:
      Infeksi virus. Infeksi intrasel apapun yang secara khusus memerlukan limfosit dan makrofag
       untuk mengidentifikasi dan mengeradikasi sel yang terinfeksi
      Infeksi mikroba persisten yang sulit untuk diberantas seperti mycobacterium, Treponema
       pallidum, dan fungus tertentu.
      Pajanan yang lama terhadap agen yang toksik baik eksogen maupun endogen. Contohnya
       adalah silika yang jika diinhalasi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan penyakit
       inflamasi paru yang disebut silicosis.
      Penyakit autoimun dimana seseorang mengalami respons imun terhadap antigen dan
       jaringannya sendiri. Karena antigen yang bertanggung jawab tersebut diproduksi terus-
       menerus maka akan terjadi reaksi imun yang berkelanjutan juga.
Makrofag merupakan sel yang berperan utama dalam inflamasi kronik. Makrofag adalah sel jarigan
yang berasal dari monosit dalam sirkulasi setelah beremigrasi dari aliran darah. Makrofag tersebar
pada sebagian besar jaringan ikat dan bisa juga ditemukan dalam jumlah yang meningkat di organ
seperti hati (sel Kupffer), limpa, dan kelenjar getah bening (histiosit sinus), sistem saraf pusat
(mikroglia), dan paru(makrofag alveolus). Makrofag berperan sebagai penyaring terhadap bahan
berukuran partikel, mikroba, dan sel-sel yang mengalami proses kematian dan bekerja sebagai
penjaga untuk memperingatkan komponen spesifik sistem imun (limfosit T dan B) terhadap rangsang
yang berbahaya.




Jenis sel lain yang muncul pada inflamasi kronik adalah limfosit, sel plasma, eosinofil, dan sel mast.
Limfosit dimobilisasi dalam reaksi imunyang diperantarai antibodi dan sel. Limfosit T teraktivasi
mengaktifkan monosit dan makrofag dan selanjutnya makrofag teraktivasi mempengaruhi fungsi
limfosit T dan B. Sel plasma berdiferensiasi menjadi sel B yang menghasilkan antibodi untuk
melawan baik antigen asing maupun komponen jaringan yang telah berubah. Eosinofil secara khusus
ditemukan di tempat radang sekitar tempat terjadinya infeksi parasit atau sebagai bagian reaksi
imun yang diperantarai IgE yang berkaitan khusus dengan alergi. Sel mast merupakan sel penjaga
yang tersebar luas dalam jaringan ikat dan berperan baik dalam inflamasi akut maupun kronik.

DAFTAR PUSTAKA
   1. Karren, Keith J, Hafen BQ, Limmer D. First responder: a skills approach 5th ed. New Jersey:
      Brady; 1998.
   2. Kumar, Abbas, Fausto, Aster. Robbins and Cotran: Pathologic basis of disease. 8th ed.
      Philadelphia: Saunders Elsevier; 2009. p.44-75.
   3. Nowak TJ, Handford AG. Pathophysiology concepts and applications for health care
      professionals 3rd ed. New Yok: McGraw Hill; 2004. p.27-36.

								
To top