Docstoc

INFEKSI KULIT YANG DISEBABKAN OLEH PARASIT

Document Sample
INFEKSI KULIT YANG DISEBABKAN OLEH PARASIT Powered By Docstoc
					                     INFEKSI KULIT YANG DISEBABKAN OLEH PARASIT
                          Oleh Kevin Christian N, 0906554320

SKABIES
Skabies merupakan infestasi pada kulit manusia yang disebabkan oleh penetrasi parasit obligat
Sarcoptes Scabiei varian hominis ke epidermis. Diperkirakan lebih dari 300 juta orang di seluruh
dunia telah terinfeksi skabies. Skabies dapat menyerang pada semua kalangan meskipun lebih
banyak pada kalangan sosioekonomi yang rendah. Selain itu faktor kebersihan juga menjadi faktor
yang menunjang perkembangan dari penyakit ini. Skabies lebih prevalen pada daerah urban/
perkotaan terutama daerah-daerah yang sangat padat.

Cara transmisi dapat melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung. Pada kontak langsung
terjadi kontak antara kulit dengan kulit contohnya berjabat tangan, tidur bersama, dan hubungan
seksual. Sedangkan untuk kontak tidak langsung dapat melalui benda seperti pakaian, handuk, sprei,
bantal, dan lain-lain. Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi dan
terkadang oleh bentuk larva.

Sarcoptes scabiei termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, famili
Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis namun juga ada Sarcoptes scabiei
lain misalnya Sarcoptes scabiei var. animalis. Secara morfologi berbentuk oval, punggung cembung,
dan bagian perut rata. Ukurannya 330-450 mikron x 250-350 mikron untuk yang betina dan 200-240
mikron x 150-200 mikron untuk yang jantan. Sarcoptes scabiei dewasa memiliki 4 pasang kaki, 2
pasang di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang di belakang di mana yang betina berakhir
dengan rambut sedangkan untuk yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan
pasangan kaki keempat berakhir dengan alat perekat.




Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c0/Sarcoptes_scabei_2.jpg/230px-Sarcoptes_scabei_
2.jpg


Siklus hidup dari Sarcoptes scabiei : setelah terjadi kopulasi di atas kulit, S.scabiei jantan akan mati
atau kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang
betina. Sarcoptes scabiei betina yang telah dibuahi akan menggali teowongan dalam stratum
korneum dengan kecepatan 2-3 milimeter perhari dan meletakkan telurnya 2-4 butir perhari sampai
mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sekitar sebulan. Telur
akan menetas biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang memiliki 3 pasang kaki. Setelah
2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang memiliki bentuk yaitu jantan dan betina dengan 4 pasang
kaki. Siklus hidup dari telur sampai menjadi bentuk dewasa memerlukan waktu 8-12 hari.




 Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/10/Scabies-burrow.jpg/220px-Scabies-burrow.jpg


Kelainan pada kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh skabies tetapi juga oleh penderita itu sendiri
akibat garukan. Gatal yang terjadi akibat sensitisasi terhadap sekret dan eskret dari S.scabiei
memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu akan terdapat kealinan kulit
yang menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika, dan lain-lain. Intervensi
berupa garukan akan dapat menyebabkan lesi sekunder seperti erosi, eskoriasi, krusta, dan infeksi
sekunder. Rata-rata jumlah Sarcoptes scabiei yang berada pada host biasanya tidak lebih dari 20,
kecuali pada crusted scabies atau disebut juga Norwegian scabies dimana pada host dapat berjumlah
sampai jutaan Sarcoptes scabiei. Bentuk crusted scabies ini ditandai dengan dermatosis berkrusta
pada tangan dan kaki, kuku yang distofik, dan skuama yang generalisata. Bentuk ini sangat menular
namun rasa gatalnya sedikit. Sarcoptes scabiei dapat ditemukan dalam jumlah besar. Individu
dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus), manula, dan pasien dengan pengobatan
imunosurpresi memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena crusted scabies.




                             Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:ScabiesD08.JPG
              Sumber: http://www.bpac.org.nz/magazine/2009/february/images/scabies_custed_1.jpg
Gejala Klinis
Terdapat 4 tanda kardinal :
     Pruritus nokturna, gatal pada malam hari disebabkan karena aktivitas Sarcoptes scabiei ini
        lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
     Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok misalnya dalam sebuah keluarga biasanya
        seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Pada sebuah perkampungan padat penduduk,
        sebagian besar tetangga yang berdekatan akan terkena infeksi dari Sarcoptes scabiei juga.
        Selain itu dapat terjadi hiposensitisasi dimana seluruh keluarganya terkena infestasi dari
        Sarcoptes scabiei namun tidak menunjukkan gejala. Di sini penderita tersebut hanya
        bertindak sebagai carrier.
       Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-
        abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, dengan rata-rata panjang 1 cm. Pada ujung
        kunikulus ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulit menjadi
        polimorf (pustul, erosi, eskoriasi, dsb). Tempat predileksinya biasanya madalah tempat
        dengan stratum korneum yang tipis yaitu: sela-sela jari tangan, pergelangan, siku bagian
        luar, areola mammae, umbilikus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada
        bayi biasanya pada telapak tangan dan kaki.
       Ditemukan S.scabiei pada satu atau lebih stadium hidup. Menemukan Sarcoptes scabiei
        merupakan hal paling diagnostik.

Diagnosis Banding
Penyakit skabies disebut-sebut sebagai the great imitator karena gejala-gejalanya dapat menyerupai
berbagai jenis penyakit kulit dengan keluhan gatal. Adapun diagnosis banding skabies adalah:
dermatitis atopik, dermatitis kontak, dermatitis herpetiformis, eksema dishidrotik, pedikulosis
korporis, prurigo, reaksi gigitan serangga, dan lain-lain.

Pengobatan
Syarat obat yang ideal untuk skabies adalah:
     Efektif untuk seluruh stadium
     Tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik
     Tidak berbau dan kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian
     Mudah diperoleh dan murah
Cara pengobatan skabies adalah seluruh anggota keluarga harus diobati termasuk penderita yang
hiposensitisasi.
Jenis obat topikal:
     Sulfur presipitatum dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Jenis obat ini kurang
        efektif terhadap stadium telur karena itu penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari.
        Kekurangan yang lain adalah berbau dan mengotori pakaian serta terkadang dapat
        menimbulkan iritasi. Namun obat ini aman untuk bayi kurang dari 2 tahun.
     Benzil-benzoat (20-25%) efektif untuk seluruh stadium, diberikan setiap malam selama tiga
        hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah
        dipakai.
     Gammexane (Gama Benzena Heksa Klorida), kadarnya 1% dalam krim atau lotio, termasuk
        obat pilihan karena efektif terhadap seluruh stadium, mudah digunakan, dan jarang
        menyebabkan iritasi. Obat ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah 6 tahun dan wanita
        hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali dan dapat
        diulangi seminggu kemudian jika gejala masih ada.
     Krotamiton 10% dalam krim atau lotio, juga merupakan obat pilihan yang memiliki 2 efek
        sebagai anti skabies dan anti gatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.
     Permetrin 5% dalam krim, kurang toksik dibandingkan gammexane dengan efektivitas yang
        sama. Aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Dapat diulangi setelah seminggu jika
        belum sembuh. Tidak dianjurkan untuk bayi di bawah 2 bulan.
PEDIKULOSIS
Pedikulosis merupakan infeksi kulit dan rambut manusia yang disebabkan oleh Pediculus dari famili
Pediculidae. Pediculus ini dapat menyerang manusia maupun hewan sehingga dibedakan Pediculus
humanus untuk yang menyerang manusia dan Pediculus animalis untuk yang menyerang hewan.
Pediculus merupakan parasit obligat yang harus menghisap darah manusia untuk dapat
mempertahankan hidup.
Pada manusia sendiri, terdapat klasifikasi pedikulosis berdasarkan spesies pediculus yang menyerang
beserta tempat predileksinya yaitu:
     Pediculus humanus capitis yang menyebabkan pedikulosis kapitis
     Pediculus humanus corporis yang menyebabkan pedikulosis korporis
     Pthirus pubis yang menyebabkan pedikulosis pubis

Pedikulosis Kapitis
Pedikulosis Kapitis merupakan infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh Pediculus
humanus capitis. Infestasi dari Pediculus humanus capitis ini tersebar luar diseluruh dunia dan
biasanya menyerang anak-anak usia sekolah. Penyakit ini cepat meluas dalam lingkungan hidup yang
padat misalnya di asrama dan panti asuhan. Selain itu faktor kebersihan yang kurang baik seperti
jarang membersihkan rambut atau rambut yang susah dibersihkan (rambut panjang pada wanita)
juga turut berperan dalam penyebaran penyakit ini. Cara penularan penyakit ini biasanya melalui
perantara seperti sisir, bantal, kasur, dan topi.




                    Sumber: http://www.aafp.org/afp/2004/0115/afp20040115p341-f1.jpg


Pediculus humanus capitis memiliki 2 mata dan 3 pasang kaki. Yang betina berukuran panjang 1,2-
3,2 mm dan lebar sekitar setengah dari panjangnya sedangkan yang jantan lebih kecil dan jumlahnya
sedikit. Kaki Pediculus humanus capitis didesain untuk mencengkeram rambut dan dapat berjalan
23cm permenit. Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa, dan dewasa. Pediculus humanus
capitis betina dapat bertelur 5-10 telur perhari. Telur diletakkan di sepanjang rambut dan mengikuti
tumbuhnya rambut sehingga makin ke ujung terdapat telur yang lebih matang. Pediculus humanus
capitis harus menghisap darah terlebih dahulu sebelum melakukan kopulasi. Jangka waktu hidup
Pediculus humanus capitis sekitar 30 hari. Pediculus humanus capitis biasanya hanya dapat hidup 1-2
hari di luar scalp sedangkan telurnya dapat bertahan hingga 10 hari.
                                                                          th
       Sumber: Wolff K et al. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine 7 ed. New York: McGraw-Hill;2007.


Kelainan kulit yang timbul biasanya disebabkan garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Rasa gatal
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap saliva yang diproduksi Pediculus humanus capitis
saat menghisap darah.
Gejala Klinis
Gejala mula yang dominan hanya rasa gatal, terutama pada daerah oksiput dan temporal serta dapat
meluas ke seluruh kepala. Kemudian karena garukan dapat menyebabkan erosi, eskoriasi, dan infeksi
sekunder berupa pus dan krusta. Bila terjadi infeksi sekunder yang berat, rambut akan bergumpal
karena banyaknya pus dan krusta dan disertai perbesaran kelenjar getah bening regional. Pada
keadaan ini kepala akan memberikan bau busuk.

Diagnosis Banding
Tinea kapitis, Pioderma, Dermatitis seboroika

Pengobatan
Pengobatan bertujuan memusnahkan seluruh Pediculus humanus capitis dan mengobati infeksi
sekunder. Pengobatan yang terbaik adalah malathion 0,5% atau 1% bentuk lotio atau spray. Cara
pakainya adalah pada malam hari sebelum tidur rambut dicuci dengan sampo kemudian diapakai
lotio malathion dan kepala ditutup dengan kain. Keesekon harinya rambut dicuci lagi dengan sampo
dan disisir dengan sisir halus dan rapat. Obat ini sukar didapat.
Di Indonesia obat yang cukup efektif dan mudah didapat adalah Gammexane 1%. Cara pakainya
dioleskan lalu didiamkan 12 jam kemudian dicuci dan disisir agar semua kutu dan telur terlepas. Jika
masih ada telur, dapat diulangi seminggu kemudian. Obat lainnya adalah benzil benzoat 25%.

Pedikulosis Korporis
Pedikulosis Korporis sering juga disebut penyakit orang miskin dimana banyak ditemukan pada orang
dewasa yang homeless, grup yang hidup dengan kebersihan yang kurang, para pengungsi,
penggembala, dan para tentara pada waktu perang. Penyakit ini sering disebut penyakit vagabond
karena kutu idak melekat pada kulit namun pada serat kapas di sela lipatan pakaian dan hanya
transien ke kulit untuk menghisap daah. Tidak ada predileksi untuk ras, usia, dan jenis kelamin. Cara
penularannya adalah melalui pakaian dan pada orang yang dadanya berambut terminal kutu dapat
melekat langsung pada rambut tersebut dan dapat ditularkan melalui kontak langsung.
            Sumber: http://vecteursetlutte.ifrance.com/images/Pediculus%20humanus%20corporis.jpg
Pediculus humanus corporis juga memiliki 2 jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Pediculus
humanus corporis betina berukuran 1,2-4,2 mm dan lebar sekitar setengah panjang sedangkan yang
ajntan lebih kecil. Secara umum Pediculus humanus corporis berukuran 30% lebih besar dari
Pediculus humanus capitis. Jangka waktu hidup Pediculus humanus corporis sekitar 18 hari dan dapat
bertahan pada pakaian tanpa menghisap darah selama 3 hari.

Kelainan kulit yang timbul biasanya disebabkan garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Rasa gatal
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap saliva yang diproduksi Pediculus humanus corporis
saat menghisap darah.

Gejala Klinis
Umumnya hanya ditmukan kelainan berupa bekas garukan pada badan karena gatal baru dapat
berkurang setelah garukan yang lebih intensif. Kadang timbul infeksi sekunder dengan perbesaran
kelenjar getah bening regional.

Diagnosis Banding
Neurotic excoriation, Skabies

Pengobatan
Di Indonesia obat yang cukup efektif dan mudah didapat adalah Gammexane 1%. Cara pakainya
dioleskan ke seluruh tubuh lalu didiamkan 24 jam kemudian penderita mandi. Jika masih belum
sembuh, dapat diulangi 4 hari kemudian. Obat lain adalah bubuk malathion 2% dan benzil benzoat
25%. Pakaian harus di setrika dengan tujuan membunuh telur dan kutu.

Pedikulosis Pubis
Pedikulosis Pubis merupakan infeksi rambut pada daerah pubis dan sekitarnya akibat Pthirus pubis.
Penyakit ini menyerang orang dewasa dan digolongkan sebagai penyakit akibat hubungan seksual
serta dapat pula menyerang kumis dan janggut. Infeksi ini juga dapat terjadi pada anak-anak yaitu
pada alis dan bulu mata serta pada tepi batas rambut kepala. Cara penularannya umumnya dengan
kontak langsung.

Pthirus pubis memiliki 2 jenis kelamin dengan yang betina lebih besar dari yang jantan dan panjang
sama dengan lebar yaitu 1-2 mm. Pithirus pubis sering disebut crab louse karena kemiripan
morfologinya dengan kepiting. Jangka waktu hidup Pthirus pubis adalah 2 minggu dan Pithirus pubis
dewasa dapat hidup sampai 36 jam di luar host nya.
Gejala Klinis
Gejala utama yang timbul adalah gatal di daerah pubis dan sekitarnya. Gatal dapat meluas hingga ke
abdomen dan dada. Dijumpai bercak-bercak yang berwarna keabu-abuan atau kebiruan yang
disebut makula serulae. Kutu ini dapat dilihat dengan mata biasa dan biasanya susah dilepaskan
karena kepalanya dimasukkan ke dalam folikel rambut. Gejala lainnya adalah black dot yaitu bercak-
bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam. Bercak hitam ini merupakan krusta dari darah
yang sering salah diinterpretasikan sebagai hematuria. Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder
dengan perbesaran kelenjar getah bening.




                                                                          th
       Sumber: Wolff K et al. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine 7 ed. New York: McGraw-Hill;2007.


Diagnosis Banding
Dermatitis seboroika, Dermatomikosis

Pengobatan
Pengobatannya mirip dengan pedikulosis lainnya yaitu Gammexane 1% atau benzil benzoat 25%
yang dioleskan dan didiamkan selama 24 jam. Pengobatan diulangi 4 hari kemudian jika belum
sembuh. Sebaiknya rambut kelamin dicukur. Pakaian dalam disetrika dan mitra seksual juga
diperiksa.

CUTANEOUS LARVA MIGRANS/ CREEPING ERUPTION
Cutaneous Larva Migrans adalah kelainan kulit yang merupakan pradangan berbentuk linear atau
berkelok-kelok, menimbul dan progresif, disebabkan invasi larva cacing tambang yang berasal dari
anjing dan kucing. Penyakit ini ditemuka tersebar luas di daerah tropis dan subtropis terutama
Afrika, India, Amerika Serikat bagian tenggara, Amerika Tengah dan Selatan, dan Asia Tenggara.
Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak terutama yang berjalan tanpa alas kaki, bermain tanah
atau pasir, ataupun berjalan di daerah pantai. Demikian juga terjadi pada petani dan tentara.

Penyebab utama dari penyakit ini adalah larva yang berasal dari cacing tambang anjing dan kucing
yaitu Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Selain itu dapat pula oleh Bunostomum
phlebotomum (cacing pada sapi) dan Uncinaria stenocephala (cacing pada anjing-anjing Eropa).
Larva lalat misalnya Castrophilus dan cattle fly juga dapat menyebabkan penyakit ini. Biasanya larva
yang menginfeksi ini merupakan stadium ketiga dari siklus hidupnya. Nematoda hidup di hospes,
telurnya tedapat pada kotoran binatang dan menjadi larva yang mampu melakukan penetrasi ke
kulit. Larva ini tinggal di kulit dan berjalan-jalan sepanjang dermo-epidermal, setelah beberapa jam
atau hari akan timbul gejala di kulit.
                                                                          th
       Sumber: Wolff K et al. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine 7 ed. New York: McGraw-Hill;2007.


Gejala Klinis
Masuknya larva biasanya disertai rasa gatal dan panas. Mula-mula timbul papul yang kemudian
diikuti lesi yang khas yaitu lesi berbentuk linear atau berkelok-kelok dengan diameter 2-3 mm
berwarna kemerahan. Adanya lesi papul eritematosa menunjukkan bahwa larva tersebut telah
berada di kulit selama beberapa jam atau hari.
Perkembangan papul merah ini menjalar seperti benang berkelok-kelok, polisiklik, serpiginosa,
menimbul, dan membentuk terowongan. Mencapai panjang beberapa cm. Rasa gatal biasanya lebih
hebat malam hari.Tempat predileksi adalah tungkai, plantar, tangan, anus, bokong, dan paha.

Pengobatan
Tiabendazol cukup efektif dengan dosis 50 mg/kg BB/ hari, sehari 2 kali, diberikan berturut-turut
selama 2 hari. Dosis maksimum adalah 3 gr sehari. Jika belum sembuh dapat diulang setelah
beberapa hari. Efek sampingnya adalah mual, pusing, dan muntah. Obat ini sukar didapat. Obat lain
adalah Albendazole dengan dosis 400mg sebagai dosis tunggal diberikan 3 hari berturut-turut.
Cara lain adalah dengan cyrotherapy menggunakan CO2 snow (dry ice) dengan penekanan selama 45
menit sampai 1 jam selama 2 hari berturut-turut.

DAFTAR PUSTAKA
1. Wolff K et al. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine 7th ed. New York: McGraw-
    Hill;2007.p.2023-2037.
2. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi kelima. Jakarta: FKUI;2007.
    P.119-126.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:5346
posted:4/6/2011
language:Indonesian
pages:8