Docstoc

Obat

Document Sample
Obat Powered By Docstoc
					Obat-obatan tradisional dapat dogolongkan menjadi, jamu dimana khasiatnya hanya berdasarkan
pengalaman tanpa adanya pengujian baik klinis maupun praklinis, herbal terstandar dimana efek
farmakologinya telah melalui uji praklinis dan fitofarmaka dimana efek farmakologinya telah
melalui uji klinis.


I. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang kaya dengan beraneka ragam flora dan fauna.
Keanekaragaman ini (terutama tumbuhan) mengundang pehatian banyak orang untuk memilih
jalur alternatif dalam pengobatan, mengingat terlalu banyak efek samping dari produk obat-
obatan sintetis. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan
kecenderungan masyarakat memilih produk yang alamiah, maka semakin gencar penelitian
tentang kandungan-kandungan kimia penting dalam tumbuh-tumbuhan yang dapat digunakan
dalam pengembangan obat baru. Penelitian biasanya menggunaan metoda analisis fitokimia,
dimana metoda ini membahas secara sistematis tentang berbagai senyawa kimia, terutama dari
golongan senyawa organik yang tedapat dalam tumbuhan, proses biosintesis metabolisme, dan
perubahan-perubahan lain yang terjadi pada senyawa kimia tersebut beserta sebaran dan fungsi
biologisnya.

Senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan merupakan hasil metabolisme dari tumbuhan
itu sendiri. Dari hasil penelitian banyak ahli tak jarang senyawa kimia ini memiliki efek fisiologi
dan farmakologi yang bermanfaat bagi manusia. Senyawa kimia tersebut lebih dikenal dengan
senyawa metabolit sekunder yang merupakan hasil dari penyimpangan metabolit primer
tumuhan. Senyawa tersebut adalah golongan alkaloid, steroid, terpenoid, fenol, flavonoid, dan
saponin.

Dalam uji fitokimia dapat dilakukan pemeriksaan pendahuluan terhadap senyawa aktif metabolit
sekunder tersebut, sehingga potensi relatif dari masing-masing tanaman dapat diukur.

Pada masa lalu manusia juga telah mengenal pengobatan dari bahan alami, walau pengetahuan
mereka tentang khasiat dari tumbuhan tersebut hanya sebatas pengalaman dan tradisi tanpa ada
pembuktiannya secara klinis. Walaupun demikian pengobatan seperti ini masih digunakan
sampai sekarang. Pengobatan dengan cara demikian dikenal dengan pengobatan tradisional. Pada
ramuan obat tradisional bahan-bahannya berasal dari tanaman baik berupa akar, batang, daun,
maupun bunga atau dapat juga berasal dari hewan dan bahan-bahan mineral.

Banyak faktor yang mempengaruhi kandungan kimia dalam tanaman, seperti kesuburan tanah
tempat tumbuh (kandungan zat makanan), iklim lingkungan, waktu panen, umur, cara
pengolahan dan sebagainya. Sehingga pengolahannya memerlukan perlakuan khusus, selain
keseragaman dosis juga perlu adanya standarisasi agar manfaat dan keamanannya dapat
diperhitungkan layaknya obat-obatan modern.

Obat-obatan tradisional dapat dogolongkan menjadi, jamu dimana khasiatnya hanya berdasarkan
pengalaman tanpa adanya pengujian baik klinis maupun praklinis, herbal terstandar dimana efek
farmakologinya telah melalui uji praklinis dan fitofarmaka dimana efek farmakologinya telah
melalui uji klinis.

2.2.3 Tinjauan Botani : Gnetum Gnemon
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae

Divisi: Gnetophyta

Kelas: Gnetopsida

Ordo: Gnetales

Famili: Gnetaceae

Genus: Gnetum

Spesies: G. gnemon

Nama Daerah
Melinjo (Gnetum gnemon L.) atau dalam bahasa Sunda disebut Tangkil adalah suatu spesies
tanaman berbiji terbuka (Gymnospermae) berbentuk pohon yang berasal dari Asia tropik dan
Pasifik Barat. Melinjo dikenal pula dengan nama belinjo, mlinjo (bahasa Jawa), tangkil (bahasa
Sunda) atau bago (bahasa Melayu dan bahasa Tagalog). Melinjo banyak ditanam di pekarangan
sebagai peneduh atau pembatas pekarangan dan terutama dimanfaatkan “buah” dan daunnya.
Berbeda dengan anggota Gnetum lainnya yang biasanya merupakan liana, melinjo berbentuk
pohon.
Morfologi / Deskripsi
Melinjo berperawakan pohon yang ramping, berkelamin dua dan selalu hijau, dengan batang
yang lurus sekali, tingginya 5-10 m; kulit batangnya berwarna kelabu, ditandai oleh gelang-
gelang menonjol secara nyata; cabang-cabangnya berbagai ukuran dan letaknya melingkari
batang, terus sampai di pangkal bacang. Cabang itu menebal di pangkalnya. Daun-daunnya
berhadapan, berbencuk jorong, berukuran (7,5-20) cm x (2,5-10) cm; tulang daun sekunder
melengkung dan bersatu di ujungnya. Perbungaannya menyendiri dan keluar dari ketiak daun,
juga dari batang yang celah tua, panjangnya 3-6 cm, dengan bunga-bunganya tersusun dalam
bentuk lingkaran di buku-bukunya. Bunga betina sebanyak 5-8 kuntum pada setiap buku
perbungaan, bentuknya bundar dan melancip ke ujungnya. Buahnya mirip buah geluk, berbentuk
jorong, panjangnya 1-3>5 cm, berembang (apiculate) pendek, berbulu halus, mula-mula
berwarna kuning, kemudian berubah menjadi merah sampai lembayung jika macang. Bijinya
satu butir per buah, berukuran besar dan berkulit tanduk. Proses embriogenesisnya mungkin
belum tuntas sewaktu biji itu jatuh dari pohon, perkembangan selanjutnya terjadi sewaktu biji
sudah tergeletak di tanah. Biji itu memerlukan waktu beberapa bulan sampai 1 tahun untuk mulai
berkecambah. Fase yuwananya berlangsung 5-8 tahun. Munculnya ranting secara serempak dan
pembungaannya berlangsung terus-menerus sepanjang tahun, tetapi keadaan iklim di sentra-
sentra utamanya menyebabkan adanya tingkatan kesinkronan, yang seringkali menjurus ke
cerjadinya 2 kali masa panen per tahunnya.
Sejarah Singkat
Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah Tatar Sunda.
Namun bahasa Sunda juga dipertuturkan di Jawa Tengah. Di Jawa Tengah bahasa Sunda
terutama dituturkan di kabupaten Brebes dan Cilacap. Terutama banyak nama-nama tempat di
Cilacap ini yang masih merupakan nama Sunda dan bukan nama Jawa seperti kecamatan
Dayeuhluhur, Cimanggu dan sebagainya. Ironisnya nama Cilacap banyak yang menentang
bahwa ini merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama ini merupakan nama Jawa
yang “disundakan”. Sebab pada abad ke-19, nama ini seringkali ditulis sebagai “Clacap”.
Selain itu menurut beberapa pakar, konon bahasa Sunda sampai sekitar abad ke-6 wilayah
penuturannya sampai di sekitar dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah.
Pemanfaatan
Melinjo jarang dibudidayakan secara intensif. Kayunya dapat dipakai sebagai bahan papan. Daun
mudanya (disebut sebagai so dalam bahasa Jawa) digunakan sebagai bahan sayuran (misalnya
pada sayur asem). “Bunga” (jantan maupun betina) dan bijinya yang masih kecil-kecil (pentil)
maupun yang sudah masak dijadikan juga sebagai sayuran. Biji melinjo juga menjadi bahan baku
emping.
Sebagai sumber pangan, biji melinjo mengandung kadar urea agak tinggi sehingga konsumsi
berlebihan sebaiknya dihindari.
Daun muda, perbungaan, buah muda, dan buah tua melinjo dimasak sebagai sayur (terutama
sayur asem). Bijinya merupakan bagian yang terpenting; buahnya tidak lain dari biji yang
terbungkus oleh kulit dalam yang kaku (kulit biji) dan kulit luar yang tipis dan dapat dimakan.
Biji melinjo dapat dimakan mentah, tetapi umumnya direbus atau dijadikan emping dan
digoreng. Emping ini merupakan industri rumah tangga yang penting di Jawa. Setelah kulit biji
dibuang, biji disangrai secara hati-hati, kulit bijinya dipecahkan dan bijinya selagi panas
ditumbuk, dijadikan emping. Emping basah kemudian dikeringkan, dipilahpilah dan dikemas
untuk dijual di pasar. Emping goreng (sebagai makanan kecil) diolah dengan cara
menggorengnya dalam minyak yang mendidih. Suatu macam serat yang berkualitas tinggi
dihasilkan dari kulit batang bagian dalam; kulit ini dimanfaatkan sebagai tali panah yang terkenal
di pulau Sumba, juga untuk tali pancing atau jaring, berkat ketahanannya terhadap air laut. Kayu
melinjo tak ada manfaatnya yang khusus, mungkin alasannya ialah karena kambium sekundernya
membentuk struktur batang yang tidak normal.

2.2. TINJAUN FITOKIMIA
2.2.1 ALKALOIDA
Dalam dunia medis, istilah alkaloid telah lama menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dalam
penelitian yang telah dilakukan selama ini, baik untuk mencari senyawa alkaloid baru ataupun
untuk penelusuran bioaktifitas. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak
ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam
berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-daunan yang berasa sepat dan pahit,
biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat
ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu.
Berdasarkan literatur, diketahui bahwa hampir semua alkaloid di alam mempunyai keaktifan
biologis dan memberikan efek fisiologis tertentu pada mahluk hidup. Sehingga tidaklah
mengherankan jika manusia dari dulu sampai sekarang selalu mencari obat-obatan dari berbagai
ekstrak tumbuhan. Fungsi alkaloid sendiri dalam tumbuhan sejauh ini belum diketahui secara
pasti, beberapa ahli pernah mengungkapkan bahwa alkaloid diperkirakan sebagai pelindung
tumbuhan dari serangan hama dan penyakit, pengatur tumbuh, atau sebagai basa mineral untuk
mempertahankan keseimbangan ion.
Alkaloid secara umum mengandung paling sedikit satu buah atom nitrogen yang bersifat basa
dan merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Kebanyakan alkaloid berbentuk padatan kristal
dengan titik lebur tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Alkaloid dapat juga berbentuk
amorf atau cairan. Dewasa ini telah ribuan senyawa alkaloid yang ditemukan dan dengan
berbagai variasi struktur yang unik, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit.
Dari segi biogenetik, alkaloid diketahui berasal dari sejumlah kecil asam amino yaitu ornitin dan
lisin yang menurunkan alkaloid alisiklik, fenilalanin dan tirosin yang menurunkan alkaloid jenis
isokuinolin, dan triftopan yang menurunkan alkaloid indol. Reaksi utama yang mendasari
biosintesis senyawa alkaloid adalah reaksi mannich antara suatu aldehida dan suatu amina primer
dan sekunder, dan suatu senyawa enol atau fenol. Biosintesis alkaloid juga melibatkan reaksi
rangkap oksidatif fenol dan metilasi. Jalur poliketida dan jalur mevalonat juga ditemukan dalam
biosintesis alkaloid.
Tantangan dalam penelitian di bidang alkaloid, semakin lama semakin menarik dan dengan
tingkat kesukaran yang rumit. Hal ini didasarkan pada fenomena bahwa jumlah alkaloid dalam
tumbuhan berada dalam kadar yang sangat sedikit (kurang dari 1%) tetapi kadar alkaloid diatas
1% juga seringkali dijumpai seperti pada kulit kina yang mengandung 10-15% alkaloid dan pada
Senecio riddelii dengan kadar alkaloid hingga 18%. Selain kadar yang kecil, alkaloid juga harus
diisolasi dari campuran senyawa yang rumit. Proses isolasi, pemurnian, karakterisasi, dan
penentuan struktur ini membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang tentunya
memerlukan waktu yang lama untuk mendalaminya.
Tantangan berikutnya dalam penelitian setelah ditemukan senyawa alkaloid murni dan diketahui
strukturnya, adalah dengan melakukan uji aktivitas biologi terutama untuk aplikasi farmakologi
dan bioinsektisida. Setelah diketahui aktivitas biologinya, kemudian dilanjutkan dengan
mempelajari studi molekular (uji klinis) lebih lanjut senyawa tersebut bagi organisme (terutama
manusia). Seandainya alkaloid yang diteliti, memiliki kelayakan sebagai obat, maka tantangan
lain bagi para peneliti adalah mensintesis senyawa tersebut, terutama untuk mencari jalur sintesis
yang sederhana dan murah, sehingga dengan sintesis dapat menyediakan pasokan alternatif obat
semacam itu yang sering sukar diperoleh dari sumber alam.
dalam bidang pengembangan ilmu alkaloid tidak berhenti sampai disini saja, adanya resistensi
atau adanya efek ketagihan terhadap obat, menyebabkan para peneliti kembali disibukkan untuk
mencari obat lain, yang salah satunya adalah dengan meneliti turunan-turunan senyawa yang
berkhasiat tersebut.
Penelitian di bidang kimia alkaloid tiap tahun selalu berkembang pesat. Indonesia dengan
kekayaan alamnya yang melimpah, merupakan gudang bagi tersedianya senyawa-senyawa
alkaloid yang berkhasiat, yang siap untuk dieksplorasi dan dieksploitasi oleh para ilmuwan.
Dalam usaha mengeksplorasi dan memanfaatkan senyawa alkaloid ini, perlu ditopang oleh
paling tidak oleh tiga pihak yang berkerjasama yaitu pemerintah, dunia industri, dan para
ilmuwan. Untuk itu perlu adanya kesamaan persepsi bahwa penelitian adalah investasi. Dengan
kesamaan persepsi ini, diharapkan penelitian para ilmuwan tidak mentok pada tahap publikasi
ilmiah saja tetapi sampai pada paten dan aplikasi langsung bagi masyarakat.
’’Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung atom nitrogen yang tersebar secara terbatas
pada tumbuhan. Alkaloid kebanyakan ditemukan pada Angiospermae dan jarang pada
Gymnospermae dan Cryptogamae. Senyawa ini cukup banyak jenisnya dan terkadang memiliki
struktur kimia yang sangat berbeda satu sama lain, meskipun berada dalam satu kelompok.
Klasifikasi
Pengelompokan alkaloid biasanya didasarkan pada prekursor pembentuknya. Kebanyakan
dibentuk dari asam amino seperti lisin, tirosin, triptofan, histidin dan ornitin. Sebagai contoh,
nikotin dibentuk dari ornitin dan asam nikotinat.
Beberapa kelompok alkaloid disajikan dalam tulisan ini. Diantaranya adalah kelompok alkaloid
benzil isoquinon, seperti: papaverin, berberin, tubokurarin dan morfin. Jenis alkaloid yang
banyak terdapat pada famili Solanaceae, tergolong ke dalam kelompok alkaloid tropan, seperti:
atropin, yang ditemukan pada Atropa belladona dan skopolamin. Kokain yang berasal dari
tumbuhan koka, Erythroxylon coca, juga termasuk ke dalam kelompok ini, meskipun koka tidak
termasuk anggota famili Solanaceae.
Alkaloid dengan struktur inti berupa indol, dikelompokkan sebagai alkaloid indol, seperti:
strikhnin dan quinin yang berasa pahit dan merupakan senyawa penolak makan bagi serangga.
Kelompok alkaloid pirrolizidin merupakan ester alkaloid pada genus Senecio, seperti:
senecionin. Kelompok lain dari alkaloid yang berasal asam amino lisin adalah quinolizidin yang
sering disebut sebagai alkaloid lupin karena banyak terdapat pada genus Lupinus. Alkaloid
polihidroksi memiliki stereokimia yang mirip dengan gula, sehingga mengganggu kerja enzim
glukosidase. Kelompok alkaloid polihidroksi merupakan penolak makan bagi serangga.
Beberapa jenis alkaloid merupakan derivat dari asam nikotinat, purin, asam antranilat, poliasetat
dan terpenes. Mereka dikelompokkan ke dalam alkaloid purin, seperti: kafein.

2.2.2 SAPONIN
Saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyak macam tanaman. Saponin ada
pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian tertentu, dan dipengaruhi
oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. Fungsi dalam tumbuh-tumbuhan tidak diketahui,
mungkin sebagai bentuk penyimpanan karbohidrat, atau merupakan waste product dari
metabolisme tumbuh-tumbuhan. Ke-mungkinan lain adalah sebagai pelindung terhadap seranga
serangga.
Sifat-sifat Saponin adalah:
1)Mempunyai rasa pahit
2)Dalam larutan air membentuk busa yang stabil
3)Menghemolisa eritrosit
4)Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
5)Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksi steroid lainnya
6)Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
7)Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasilkan formula empiris yang mendekati.

Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan permukaan (surface tension).
Dengan hidrolisa lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (hexose, pentose
dan saccharic acid).
Berdasarkan atas sifat kimiawinya, saponin dapat dibagi dalam dua kelompok:
1)Steroids dengan 27 C ¬ atom.
2)Triterpenoids, dengan 30 C ¬ atom.

Macam-macam saponin berbeda sekali komposisi kimiawinya, yaitu berbeda pada aglikon
(sapogenin) dan juga karbohidratnya, sehingga tumbuh-tumbuhan tertentu dapat mempunyai
macam-macam saponin yang berlainan, seperti:
•Quillage saponin : campuran dari 3 atau 4 saponin
•Alfalfa saponin : campuran dari paling sedikit 5 saponin
•Soy bean saponin : terdiri dari 5 fraksi yang berbeda

dalam sapogenin, atau karbohidratnya, atau dalam kedua-duanya. Kematian pada ikan, mungkin
disebabkan oleh gangguan pernafasan. Ikan yang mati karena racun saponin, tidak toksik untuk
manusia bila dimakan. Tidak toksiknya untuk manusia dapat diketahui dari minuman seperti bir
yang busanya disebabkan oleh saponin.

Contoh glikosida lain adalah tioglikosida dan bensiltioglikosida. Bila dihidrolisa dengan enzim
menghasilkan tiosianat, isotiosianat dan bensilsianat yang merupakan racun dan mempunyai sifat
antitiroid. Zat-zat toksik tersebut ada pada bawang, selada air, kacang-kacangan seperti kacang
tanah, kacang kedele dan juga pada macam-macam kol.

2.2.3 FLAVANOIDA
Flavanoids ditemukan di dalam tingkatan-tingkatan yang sangat tinggi di dalam buah apel,
bawang-bawang dan teh. Teh Hijau (dan White teh) mempunyai kedua-duanya ditemukan untuk
berisi sejumlah pengecualian dari flavanoids, karenanya mengapa mereka dianggap untuk
memiliki kekayaan kesehatan promosional. Buah tomat adalah juga suatu sumber kaya dari
terutama sekali flavanoids dan studi-studi terbaru sudah mengusulkan bahwa karena jumlah
maksimum mempengaruhi buah tomat itu harus dimasak.
flavonoid disatukan melalui jalan kecil phenylpropanoid-acetate di dalam semua tumbuhan yang
lebih tinggi. Itu bertanggung jawab atas banyak aktivitas biologi yang termasuk pigmen-pigmen,
anti oksidatif atau agen-agen alergi anti, dan unsur-unsur pemberian isyarat di dalam formasi
bongkol yang kecil-kecil. Beberapa di antara mereka adalah sungguh terbiasa di dalam hidup
kita(kami yang sehari-hari.

2.2.4 TERPENOID
Terpena merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan
terutama terkandung pada getah dan vakuola selnya. Pada tumbuhan, senyawa-senyawa
golongan terpena dan modifikasinya, terpenoid, merupakan metabolit sekunder. Terpena dan
terpenoid dihasilkan pula oleh sejumlah hewan, terutama serangga dan beberapa hewan laut. Di
samping sebagai metabolit sekunder, terpena merupakan kerangka penyusun sejumlah senyawa
penting bagi makhluk hidup. Sebagai contoh, senyawa-senyawa steroid adalah turunan skualena,
suatu triterpena; juga karoten dan retinol. Nama “terpena” (terpene) diambil dari produk getah
tusam, terpentin (turpentine).
terpenoid, kadang-kadang dikenal sebagai isoprenoids, adalah suatu besar dan kelas berbeda
secara alami?tentu saja terjadi bahan-kimia organik serupa dengan terpena, yang berasal dari
lima unit-unit isoprena karbon merakit dan memodifikasi di dalam ribuan jalan?cara. Yang
paling adalah multicyclic struktur-struktur itu berbeda dengan satu sama lain tidak hanya di
dalam golongan fungsional tetapi juga di dalam tulang;rangka-tulang;rangka karbon yang dasar
mereka. Lipid-lipid ini dapat ditemukan di dalam semua kelas dari makhluk hidup, dan adalah
yang paling besar kelompok terpenoid productsPlant alami(wajar digunakan secara ekstensif
untuk kualitas mereka yang berbau harum. Mereka berperanan dalam jamu tradisional dan di
bawah penyelidikan untuk anti bakteri, antineoplastik, dan fungsi-fungsi berkenaan dengan
farmasi lain. Terpenoid berperan untuk bau harum dari pohon kayu putih, selera-selera dari kayu
manis, cengkih-cengkih, dan jahe, dan warna dari bunga-bunga yang kuning. Terpenoid terkenal
termasuk sitral, mentol, kapur barus, Salvinorin A di dalam tumbuhan Salvia divinorum, dan
kanabinoid-kanabinoid menemukan di steroid-steroid CannabisThe dan sterol-sterol di dalam
binatang-binatang secara biologic dihasilkan dari pendahuluan, tanda terpenoid. Kadang-kadang
terpenoid ditambahkan kepada protein-protein, eg., untuk meningkatkan pemasangan mereka
kepada selaput sel; hal ini dikenal sebagai isoprenylation.
Terpenoid merupakan kelompok metabolit sekunder terbesar. Saat ini hampir dua puluh ribu
jenis terpenoid telah teridentifikasi. Kelompok ini merupakan derivat dari asam mevalonat atau
prekursor lain yang serupa dan memiliki keragaman struktur yang sangat banyak. Struktur
terpenoid merupakan satu unit isopren (C5H8) atau gabungan lebih dari satu unit isopren (Tabel
2), sehingga pengelompokannya didasarkan pada jumlah unit isopren penyusunnya.
Monoterpenoid umumnya bersifat volatil dan biasanya merupakan penyusun minyak atsiri.
Monoterpenoid memberikan aroma yang khas pada tumbuhan. Monoterpenoid dikelompokkan
sebagai a). asiklik, contoh: geraniol, b). monosiklik, contoh: limonene dan c). bisiklik, contoh:
pinene. Untuk mencegah terjadinya keracunan diri (autotoxicity), tumbuhan membentuk tempat
penyimpanan khusus.

Kelompok terbesar dari terpenoid adalah sesquiterpen yang juga merupakan penyusun minyak
atsiri. Contoh yang cukup dikenal dari kelompok ini adalah poligodial dan warburganal yang
merupakan zat penolak makan berbagai jenis serangga.
Diterpenoid, seperti asam resin (misalnya: asam abietat) dari tumbuhan keluarga pinus-pinusan
dan klerodan (misalnya: ajugarin dari tumbuhan Ajuga remota) merupakan zat penolak makan
bagi serangga.
Triterpenoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang tersebar luas dan beragam.
Perwujudan dari senyawa ini dapat berupa resin, kutin maupun semacam gabus. Termasuk ke
dalam kelompok ini adalah limonoid (misalnya: azadirachtin), lantaden, dan cucurbitacin
(misalnya: cucurbitacin B). Azadirachtin terkenal sebagai zat penolak makan yang sangat kuat
bagi serangga. Demikian juga dengan cucurbitacin.

2.2.5 Fenolik
Fenolik merupakan senyawa yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Fenolik memiliki cincin
aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksi (OH-) dan gugus-gugus lain penyertanya.
Senyawa ini diberi nama berdasarkan nama senyawa induknya, fenol. Senyawa fenol
kebanyakan memiliki gugus hidroksi lebih dari satu sehingga disebut sebagai polifenol
Kelompok terbesar dari senyawa fenolik adalah flavonoid, yang merupakan senyawa yang secara
umum dapat ditemukan pada semua jenis tumbuhan. Biasanya, satu jenis tumbuhan mengandung
beberapa macam flavonoid dan hampir setiap jenis tumbuhan memiliki profil flavonoid yang
khas. Kerangka penyusun flavonoid adalah C6–C3–C6. Inti flavonoid biasanya berikatan dengan
gugusan gula sehingga membentuk glikosida yang larut dalam air. Pada tumbuhan, flavonoid
biasanya disimpan dalam vakuola sel.
Secara umum, flavonoid dikelompokkan lagi menjadi kelompok yang lebih kecil (sub
kelompok), yaitu: (1) flavon, contoh: luteolin, (2) flavanon, contoh: naringenin, (3) flavonol,
contoh: kaempferol, (4) antosianin dan (5) calkon.

Beberapa jenis flavon, flavanon dan flavonol menyerap cahaya tampak, sehingga membuat
bunga dan bagian tumbuhan yang lain berwarna kuning atau krem terang. Sedangkan jenis-jenis
yang tidak berwarna merupakan zat penolak makan bagi serangga (contoh: katecin) ataupun
merupakan racun (contoh: rotenon). Rutin, yang merupakan glikosida flavonol yang tersebar di
hampir semua jenis tumbuhan, juga merupakan zat penolak makan yang kuat bagi serangga
polifagus, seperti Schistocerca americana. Sementara itu paseolin, dilaporkan merupakan
glikosida flavonol yang paling efektif sebagai zat penolak makan bagi serangga. Pada percobaan
dengan kumbang pemakan akar, Costelytra zealandica, paseolin memberikan nilai FD50 yang
sangat rendah yaitu 0.03 ppm.Tanin merupakan senyawa polifenol dengan berat molekul antara
500 sampai dengan 20000 dalton. Pada sel tumbuhan, tanin selalu berikatan dengan protein
sehingga disebut merupakan zat yang menurunkan nilai nutrisi dari jaringan tumbuhan bagi
pemakannya.

III. PROSEDUR KERJA

3.1 Alat
Alat yang digunakan untuk fitokimia adalah lumpang, stamfer, pipet tetes, botol 100 ml, botol
250 ml, penangas air, tabung reaksi, penjepit kayu
.
3.2 Bahan
Bahan yang digunakan untuk fitokimia adalah sampel bayam, pasir, kloform, kloform amoniak,
asam sulfat 2N, pereaksi Mayer, aquadest, etanol, larutan besi (III) klorida, asam asetat anhidrat,
asam sulfat pekat, HCL pekat, serbuk logam Mg.

3.3 Uji fitokimia
Kandungan kimia dari tumbuhan yang di peroleh, ada beberapa yang di uji langsung di lapangan,
namun sebagian besar di lakukan di laboraturium.

3.3.1. Uji alkaloid dengan metoda Culvernor
Fitsgerald
4 gram sampel dihaluskan di dalam lumpang dengan menambahkan sedikit pasir kemudian
tambahkan 10 ml kloform, setelah digiling halus tambahkan 10 ml kloform amoniak 0,05 N,
gerus perlahan dan saring larutan dengan saringan kapas, masukan ke dalam tabung reaksi
dengan pipet tetes, masukan 10 tetes asam sulfat 2 N, kocok perlahan biarkan memerah, ambil
lapisan asam (bagian atas) pindahkan ke tabung reaksi lain kemudian tanbahkan beberapa tetes
pereaksi mayer. Reakasi positif dengan adanya kabut putih sampai dengan gumpalan putih.

3.3.2. Uji Steroid, Terpenoid, Saponin dan senyawa
Fenol dengan metoda simes dkk.
4 gram sampel dipotong halus, didihkan dalam 25 ml etanol selama 15 menit, saring dalam
keadan panas, biarkan seluruh etanol menguap sampai kering. Tambahkan kloform dan air suling
(1:1) sebanyak 5 ml masing-masingnya, kocok kemudian pindahkan dalam sebuah tabung reaksi,
biarkan terbentuk 2 lapisan yaitu lapisan air dan lapisan kloroform. Beberapa tetes lapisan air
dimasukan ke dalam plat tetes, kemudian tambahkan pereaksi besi (III) klorida. Terbentuknya
warna biru menandakan senyawa fenolik. Ambil lapisan kloform dengan pipet yang berisi norit,
tampung dalam plat tetes, kemudian keringkan. Tambahkan pereaksi Lieberman Bauchard
(H2SO4 p + asam asetat anhidrat). Jika timbul warna merah berarti terpenoid, jika warna hijau
atau biru berarti steroid. Sebagian lapisan air dikocok kuat dalam tabung reaksi, terbentuknya
busa yang permanen (selama 15 menit) menunjukan adanya saponin.

3.3.3. Uji Flavonoid dengan metoda Sianidin test
4 gram sampel dipotong halus dan didihkan dalam 25 ml etanol, saring selagi panas. Fitrat yang
didapat diuapkan sampai setengahnya, kemudian tambahkan HCL pekat 0,1 ml dan serbuk mg.
Adanya flavonoid ditandai dengan timbulnya warna merah.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL
Hasil yang diperoleh dalam pemeriksaan metabolit sekunder di laboratorium yaitu :
1. Tumbuhan Syzygium Aqueum
2. Tumbuhan Sauropus Androgynus
3. Tumbuhan Gnetum Gnemon
4. Tumbuhan Coffea Robusta
5. Tumbuhan Artocarpus Heterophyllus
6. Tumbuhan Averrhoa Bilimbi

4.2. PEMBAHASAN

Pada praktikum yang telah dilakukan, sampel yang digunakan adalah simplisia yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan yang diperoleh dari kuliah lapangan yang dilakukan di Malibo Anai. Sampel
yang didapat dalam keadaan segar.
Hasil yang didapat pada pengujian laboratorium mengalami perbedaan dengan yang ada pada
literatur. Hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan dan kerusakan pada reagen ataupun sampel.
Hasil yang didapatkan pada saat pengujian di laboratorium mungkin akan mendapatlan hasil
yang negatif palsu. Untuk flafon negatif palsu dapat disebabkan oleh jumlah ekstrak sampelyang
terlalu banyakjika dibandingkan dengan HCL pekat, sehingga menyebabkan HCL menjadi
encer.pada terpen negative palsu, dapat disebabkan oleh norit yang belum aktif. Sedangkan hasil
yang negatif palsu pada saponin yang seringkali ditemulan pada praktikan dapat disebabkan oleh
pengeringan etanol yang tidak sempurna.
Pada alkaloid ( walaupun tidak dilaksanakan di laboratorium ) juga bisa mendapatkan hasil yang
negatif palsu. Kemungkinan penyebabnya diantaranya, terjadinya kelebihan ataupun kekurangan
dalam penambahan pereaksinya, atau kandungan alkaloid yang relatif sedikit yang terdapat pada
sampel. Selain negatif palsu juga terdapat positif palsu pada pemeriksaan alkaloid ini. Hal ini
dapat disebabkan karna adanya senyawa lain pada alkaloid yang memiliki gugus N, sehingga ia
berikatandengan K2HgI4 yang terdapat pada reagen meyerdan memberikan hasil positif dengan
adanya kabut putih sampai endapan putih.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan kuliah lapangan yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan pengujian kandungan
kimia dari tumbuhan yang diperoleh, dapat disimpulkan :
1. kuliah lapangan dapat menambah pengetahuan serta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh
pada perkuliahan
2. pengujian kandungan kimia dapat menggunakan simplisia yang segar ataupun dengan
meggunakan simplesia kering.
3. tidak semua senyawa metabolit sekunder terdapat pada tiap tumbuhan, hanya beberapa saja
dan tergantung pada beberapa spesies tumbuhan.
4. hasil yang diperoleh ada yang memberikan hasil yang negatif palsu ataupun positif palsu, hal
ini bisa saja disebabkan oleh kesalahan pada reagen ataupun dalam mereaksikannya.
5. dari pengujian kandungan kimia yang telah dilakukan di laboratorium, umumnya pada setiap
tumbuhan terdapat alkaloid dan senyawa fenolik

5.2 Saran

Berdasarkan praktikum yang dilakukan, maka disarankan untuk memilih bahan yang masih
segar, karena kalau bahan yang tidak segar akan menyulitkan kita untuk mengidentifikasi
senyawa metabolit sekundernya.
Setiap mahasiswa diwajibkan untuk memahami prosedur kerja dengan baik agar tidak terjadi
kesalahan selama praktikum
Harus hati-hati dan teliti dalam mengamati warna, hasilnya, dan penambahan reagen

DAFTAR PUSTAKA

1. www.wikipedia.org / wikipedia indonesia
2. www.iptek.net / Tanaman Obat Indonesia
3. www.medical.com / penanganan tumbuhan obat
4. www.chemestry.com kimiawi
5 www.abtractofdrug.com / abstaract
6. www.rizkyyulion.wordpress.com / article
7. www.wikipedia.com/semua tentang tanaman obat (English)
8. www.tododrug.com / penggunaan obat

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1590
posted:4/6/2011
language:Indonesian
pages:10