EKSTRAK JAHE widia by cupunk

VIEWS: 1,049 PAGES: 22

									           TUGAS SINTESA BAHAN OBAT
      PENGOLAHAN KAYU MANIS (CASSIAVERA)

                      D
                      I
                      S
                      U
                      S
                      U
                      N

                    OLEH

           NAMA     : WIDIYA KURNIATI
           NPM      : 092114008
           KELAS    : IV-A




               JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
           UNIVERSITAS AL-WASHLIYAH
                    MEDAN
                     2011
                               EKSTRAK JAHE

                                   BAB I
                               PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah tanaman rempah dan obat yang sudah
lama dikenal masyarakat Indonesia. Selain digunakan sebagai bumbu penyedap
masakan dan ramuan tradisional, tanaman ini juga menjadi komoditas
perdagangan sebagai bahan industri obat-obatan, kosmetik, minuman, makanan
ringan dan kebutuhan dapur (Suharyon dan Rozak, 1997). Jahe Indonesia diekspor
ke beberapa negara tujuan antara lain Jepang, Emirat Arab, Malaysia dan banyak
negara lainnya dalam bentuk jahe segar, jahe kering dan olahan (Paimin dan
Murhananto, 1999).

Jahe dikenal baik di masyarakat Indonesia sebagai salah satu rempah. Hampir
semua wilayah di tanah air umumnya memanfaatkan jahe sebagai salah satu bahan
masakan penting. Dalam taksonomi tanaman, jahe (Zingiber officinale) termasuk
dalam divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, klas Monocotyledonae,
ordo     Zingiberales,     famili   Zingiberaceae,    dan     genus     Zingiber.
Genus Zingiber sendiri terdiri dari sekitar 100 spesies, yang tersebar di daratan
tropis Asia, di antaranya yang banyak memiliki manfaat adalah Zingiber
officinale atau yang kita kenal sebagai Jahe, Zingiber zerumbet (lempuyang
gajah), Zingiber aromaticum (lempuyang wangi), dan Zingiber purpureum yang
kita kenal sebagai bangle.

Jahe dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan ginger, ada dalam bahasa
Bengali, jeung, ciang, atau jiang dalam bahasa Cina, zenzero dalam bahasa Italia,
dan jengibre dalam bahasa Spanyol. Di beberapa daerah di Indonesia juga dikenal
dengan sebutan aliah (Sumatra), jahi (lampung), jae (Jawa, sasak), jhai (Madura),
cipakan       (Bali),      sipados      (Kutai),     dan      pese        (Bugis).
Menurut data dari Bagian Riset dan Pengembangan PT Sido Muncul, jahe
mengandung satu sampai empat persen minyak atsiri dan oleoresin. Komposisi
minyak yang terkandung bervariasi tergantung dari geografi tanaman berasal.
Kandungan utamanya yaitu zingiberene, arcurcumene, sesquiphellandrene, dan
bisabolene. Juga memiliki kandungan Zingiberol, Zingiberene, Phellandrene,
Curcumene, Borneol,          Champhene, Citral, Garanial, Galanolactone,
Furanogermenone, Pipecolic Acid, Aspartic Acid, Glutamic Acid, dll.

Secara tradisional jahe digunakan sebagai peluruh dahak atau obat batuk, peluruh
keringat, peluruh angin perut, diare, dan pencegah mual. Baik untuk
menghilangkan mual dan kembung karena perjalanan jauh (mabuk darat, mabuk
udara, atau mabuk laut) bahkan pada beberapa buku teks pengobatan
menganjurkan wanita hamil agar mengonsumsi jahe untuk menghilangkan rasa
mual dan muntah selama kehamilan. Pembuktian ilmiah telah dilakukan di Inggris
yang menunjukkan jahe efektif mengurangi mual bahkan mual yang timbul
setelah operasi. Penelitian di Denmark membuktikan bahwa pemberian jahe pada
pasien rematik dan gangguan muskuloskleletal sangat bermanfaat dalam
menghilangkan nyeri dan gejala yang berhubungan dengan rematik. Beberapa
pengujian telah memberikan hasil yang baik dengan menghilangnya rasa nyeri,
sakit serta peradangan/pembengkakan. Dan, pada percobaan in vitro, jahe
Indonesia ternyata mengandung bahan antirhinovirus yaitu beta-
sesquiphelandrone.

Diketahui bahwa rhinovirus adalah salah satu virus penyebab utama penyakit
common cold atau influenza. Kalau diperhatikan banyak obat-obat OTC (obat
bebas) yang beredar baik di Indonesia maupun di Eropa mengandung ekstrak
Jahe. Mengunyah jahe dapat merangsang pengeluaran air liur dan cairan
pencernaan, juga mengurangi mual dan muntah. Tradisi ngemut jahe ini tetap
dilakukan sampai sekarang pada beberapa tukang masak profesional Cina yang
selalu mengunyah jahe untuk mencegah terjadinya mual karena terpapar dalam
waktu       lama       dengan       bau       masakan       yang        kuat.
Jahe bisa dikonsumsi dalam bentuk teh untuk memperbaiki pencernaan,
menghilangkan gas dalam saluran pencernaan, dan merangsang nafsu makan.
                                         BAB II

                              KERANGKA TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Klasifikasi tanaman jahe (Zingiber officinale)

   b. Sistematika tumbuhan
          Divisi : Pteridophyta
          Sub divisi : Angiosperma
          Kelas : Monocotyledoneae
          Bangsa : Scitamineae
          Suku : Zingiberaceae
          Marga : Zingeber
          Jenis : Zingiber officinale

   b. Karakteristik tanaman
          Tanaman tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 0,4 – 1 m
          Berumur tahunan
          Batangnya merupakan batang semu yang tersusun dari helaian daun,
           berbentuk ramping, bulat dan agak lunak
          Jahe tumbuh tegak dan merumpun

   c. Daun dan Bunga

          Daunnya berbentuk langsing membulat dengan ujung melancip
          warna hijau tua dengan pertulangan daun berwarna lebih muda yang
           terlihat jelas
          Pertumbuhan daunnya menyirip berseling
          Bunga keluar dari permukaan tanah, muncul dari rimpang samping bila
           tanaman sudah cukup dewasa
          Tinggi bunga biasanya hanya seperempat kali tinggi tanaman.
          Tandan bunga terdiri atas kumpulan bunga-bunga kecil berbetuk
           kerucut.
          Warna bunga putih kekuningan
        Rimpang

         Akarnya berbentuk rimpang, berbau harum dan pedas
         Rimpang jahe bercabang rapat, panjang membulat agak pendek.
          Rimpang jahe bercabang rapat, panjang membulat agak pendek.
        Kulit luar rimpang berwarna cokelat kotor
        Jika rimpang dibelah, tampak daging rimpang berwarna kuning,
          beraroma khas jahe yang tajam dan agak pedas.
        Rimpang jehe emprit terlihat lebih merah dibandingkan jahe bisa
Berdasarkan aroma, bentuk dan besarnya rimpang dikenal tiga jenis jahe :
    jahe besar, jahe gajah atau jahe badak,
    jahe kecil atau lebih sering disebut jahe emprit
    jahe merah atau lebih dikenal dengan jahe sunti

Nama Daerah

Begitu akrabnya kita, sehingga tiap daerah di Indonesia mempunyai sebutan
sendiri-sendiri bagi jahe. Nama-nama daerah bagi jahe tersebut antara lain halia
(Aceh), bahing (Batak karo), sipadeh atau sipodeh (Sumatera Barat), Jahi
(Lampung), jae (Jawa), Jahe (sunda), jhai (Madura), pese (Bugis), lali (Irian), dan
sipados (Kutai).

Kandungan Kimia
Rimpang jahe memiliki kandungan banyak zat aktif, seperti:
* Minyak atsiri 2-3%       * Zingberin
* Kamfena                  * Limonene
* Borneol                  * Sineol
* Zingiberal               * Linalool
* Geraniol                 * Gingerin.
* Kavikol                  * Zingiberen
* Zingiberol               * Gingerol
* Shogaol                  * Minyak dammar
* Pati                     * Asam malat
* Asam oksalat

Minyak atsiri dalam jahe

      Minyak atsiri merupakan campuran senyawa organik mudah menguap
       (volatile), tidak larut air dan mempunyai bau khas.
      Komponen utama minyak atsiri yang menyebabkan bau harum adalah
       zingiberen dan zingiberol
      Komponen volatile minyak atsiri tersebut yaitu : seskuiterpen, monoterpen
       dan monoterpen teroksidasi.
      Komponen minor minyak atsiri antara lain bisabolene, curcumene,
       camphene, citral, cineol, borneol, linaoll, methylheptenone

Komponen non volatil jahe:

Komponen non volatile jahe yaitu oleoresin merupakan senyawa fenol dengan
rantai karbon samping yang terdiri dari tujuh atau lebih atom karbon seperti :
* Gingerol,          * Gingerdiols
* Gingerdiones,      * Dihidrogengerdiones
* Shogaol

Kegunaan
Rimpangnya sangat luas dipakai, antara lain sebagai bumbu masak, pemberi
aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biscuit, kembang gula dan
berbagai minuman. Jahe yang digunakan sebagai bumbu masak terutama
berkhasiat untuk menambah nafsu makan, memperkuat lambung, dan
memperbaiki pencernaan. Hal ini dimungkinkan karena terangsangnya selaput
lendir perut besar dan usus oleh minyak asiri yang dikeluarkan rimpang jahe.
Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah
dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada
wanita yang hamil muda. Juga rasanya yang tajam merangsang nafsu makan,
memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi
jantung.
Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk,
diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga dipakai untuk
meningkatkan pembersihan tubuh melalui keringat. Penelitian modern telah
membuktikan secara ilmiah berbagai manfaat jahe, antara lain :
 Menurunkan tekanan darah. Hal ini karena jahe merangsang pelepasan
    hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah, akibatnya darah
    mengalir lebih cepat dan lancar dan memperingan kerja jantung memompa
    darah.
 Membantu pencernaan, karena jahe mengandung enzim pencernaan yaitu
    protease dan lipase, yang masing-masing mencerna protein dan lemak.
 Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan
    darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke,
    dan serangan jantung. Gingerol juga diduga membantu menurunkan kadar
    kolesterol.
 Mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotonin, yaitu senyawa kimia
    yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual.
    Termasuk mual akibat mabok perjalanan.
   Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan membantu
    mengeluarkan angin.
   Jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak
    yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.

    Jahe sebagai Obat Praktis Jahe merupakan pereda rasa sakit yang alami dan
dapat meredakan nyeri rematik, sakit kepala, dan migren. Caranya, minum
wedang jahe 3 kali sehari. Bisa juga minum wedang ronde, mengulum permen
jahe, atau menambahkan jahe saat pada soto, semur, atau rendang.
Daun jahe juga berkhasiat, antara lain dengan ditumbuk dan diberi sedikit air
dapat dipergunakan sebagai obat kompres pada sakit kepala dan dapat dipercikan
ke wajah orang yang sedang menggigil. Sedangkan rimpangnya ditumbuk dan
direbus dalam air mendidih selama lebih kurang ½ jam, kemudian airnya dapat
diminum sebagai obat untuk memperkuat pencernaan makanan dan mengusir gas
di dalamnya, mengobati hati yang membengkak, batuk dan demam.
Jahe juga digunakan dalam industri obat, minyak wangi dan jamu tradisional. Jahe
muda dimakan sebagai lalaban, diolah menjadi asinan dan acar. Disamping itu,
karene dapat memberi efek rasa panas dalam perut, maka jahe juga digunakan
sebagai bahan minuman seperti bandrek, sekoteng dan sirup. Jahe yang nama
ilmiahnya Zingiber officinale sudah tak asing bagi kita, baik sebagai bumbu dapur
maupun obat-obatan.



2. Isolasi Simplisia


Isolasi simplisia adalah pemisahan suatu kandungan simplisia untuk memperoleh
zat aktif yang murni atau yang tidak mengandung zat yang inert.
Simplisia adalah bahan alami yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain simplisia
merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia nabati,
simplisia hewani dan simplisia pelican atau mineral.
                                   BAB III

                       METODELOGI PENELITIAN



A. Isolasi Simplisia

Alat dan bahan

 Pisau, papan, waterbath, tabung reaksi, corong, pipet, wadah tahan panas.
Simplisia (rimpang Jahe merah), kloroform 0,05 N, asam sulfat 2 N, pereaksi
Meyer, methanol, logam Mg, etanol, FeCl3, pereaksi Lieberman Bouchardat,
aquadest.

Cara kerja

1. Pengumpulan simplisia

   a. Pengumpulan simplisia yang akan digunakan

   b. Sortasi simplisia dari pengotornya (seperti: tanah atau pasir), dengan cara
      dikupas dan di cuci bersih

   c. Perajangan dengan menggunakan pemotong

   d. Pengeringan, dengan cara diangin-anginkan dalam udara terbuka.

2. Uji Pendahuluan

   a. Pemeriksaan alkaloid dengan cara Calvenor dan Fitzgerald

       a) Siapkan 2-4 gram sampel, digerus dengan pasir dan 10 ml FeCl3,

       b) Tambahkan 10 ml amoniak, 5 ml kloroform 0,05 N saring ke dalam
          tabung reaksi.

       c) Tambahkan 0,5 ml asam sulfat 2 N kocok selama 1 menit

       d) Diamkan, dan terdapat 2 lapisan asam, lapisan asam tersebut diambil
          lalu dibagi 2: Lapisan asam pertama tambahkan pereaksi Mayer, maka
          timbul endapan putih. Lapisan asam kedua tambahkan pereaksi
          Bouchardat, maka akan timbul warna putih

   b. Pemeriksaan Flavonoid

       a) Siapkan 2 gram sampel tambahkan methanol, kemudian dipanaskan
          lalu disaring panas dan pekatkan di waterbath.
       b) Tambahkan HCl pekat dan logam Mg, hasil positif akan menunjukkan
          warna merah.

       c) Pemeriksaan terpen atau steroid, dan fenol atau saponin

           -   Siapkan 2 gram sampel tambahkan 25 ml etanol, kemudian
               panaskan selama 25 menitb). Saring panas-panas filtrat lalu
               uapkan di waterbat sampat kering.

           -   Sisanya ditriturasi tambahkan kloroform.

           -   Bagian yang tidak larut dalam kloroform tambahkan air

           -   Terdapat 2 lapisan, yaitu lapisan air dan lapisan kloroform,
               pisahkan. Ambil lapisan air:

                  Untuk uji Saponin: lapisan air dimasukkan ke dalam tabung
                   gelas dikocok, terbentuk busa yang mantap setinggi 3 cm yang
                   tidak akan hilang selama 15 menit.

                  Untuk uji Fenol: lapisan air ditambahkan HCl dan FeCl3, hasil
                   positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah. Ambil
                   lapisan kloroform.

                  Ambil beberapa tetes lapisan kloroform lalu keringkan dalam
                   plat tetes tambahkan pereaksi Lieberman Bouchardat (10 tetes
                   asetat anhidrat) dan tambahkan 2-3 tetes asam sulfat pekat
                   maka akan terbentuk warna hijau sampai biru untuk terpen dan
                   warna merah untuk steroid.



B. Ekstraksi

Alat dan Bahan

 Toples, wadah untuk maserat, batang pengaduk, ayakan, kain/pembungkus warna
gelap (kertas cokelat), Vakum rotary evaporator. Simplisia, pelarut (etanol),
aguadest, es batu. Prosedur kerja

1. Penetapan derajat kehalusan serbuk sesuai dengan metode yang digunakan

   a. Rajang sampel sesuai dengan ukuran yanga akan digunakan dalam metode
      praktikum.

   b. Ayak dengan nomor ayakan yang sesuai
2. Pengekstrakan dengan cara maserasi

   a. Masukan simplisia dalam toples kemudian rendam dengan pelarut etanol
      sampai terndam.

   b. Tutup toples dengan kain atau kertas pembungkus warna gelap agar
      terlindung dari cahaya.

   c. Aduk minimal 2 kali sehari untuk meratakan konsentrasi larutan di luar
      butir simplisia, sehingga dengan pengadukan tersebut terjaga adanya
      derajat perbedaan konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan didalam
      sel dengan larutan diluar sel.

   d. Setelah 2 hari pisahkan antara sari dengan ampasnya dengan cara
      penyaringan.

3. Pemekatan dengan vakum rotary evaporator

   a. Masukan maserat ke dalam labu

   b. Masukan aqua ke dalam waterbath secukupnya, atur suhu aqua di
      waterbath di atas titik didih pelarut.

   c. Nyalakan speker evaporator dengan menekan tombol ON pada stop
      kontak.

   d. Tekan tombol pengatur untuk memutar labu.

   e. Nyalakan vakum

   f. Tunggu sampai proses berakhir dan cairan penyari sampai habis, usahakan
      tidak terlalu pekat agar memudahkan dalam proses pengambilan ekstrak
      kental dari labu.

   g. Matikan alat.
                                   BAB IV
                        HASIL DAN PEMBAHASAN


I. Hasil
Pada praktikum kami, kami menggunakan simplisia JAHE (Zingiber officinale)
sebagai bahan yang digunakan pada penelitian ini. Metode yang kami gunakan
adalah metode maserasi dengan cairan penyari adalah etanol. Dari hasil praktikum
kami mengidentifikasi bahwa jahe mengandung senyawa :

1. Alkaloid
2. Flavonoid
3. Fenol
4. Steroid
Namun dalam literature lain tumbuhan jahe mengandun senyawa lain yaitu :
* Minyak atsirih             * Karbohidrat
* Gingerol                   * Protein
* Zingerol                   * Lemak
* Resin                      * Serat
* Pati                          dan
* Gula                       * Abu

A. Isolasi Simplisia
Pada praktikum isolasi simplisia maka didapatkan zat aktif yang dikandung oleh
rimpang jahe adalah:

    1. Alkaloid
    2. Flavonoid
    3. Fenol
    4. Steroid
B. Ekstraksi
Pada praktikum ekstraksi, Karena kami mengestraksi rimpang jahe, maka cara
penyarian yang kami lakukan adalah maserasi selama 3 hari dengan pengadukan
dilakukan pada pagi dan sore hari. Hasil dari ekstraksi adalah maserat kental
sebanyak 30 ml.
II. PEMBAHASAN
A. Isolasi
Sebagai bahan simplisia, tumbuhan obat dapat berupa tumbuhan liar ataupun
tumbuhan budidaya. Tumbuhan liar umumnya kurang baik untuk dijadikan bahan
simplisia, jika dibandingkan dengan hasil budidaya, karena simplisiaayang
dihasilkan mutunya tiadak seragam. Hal ini disebabkan oleh :
1. Umur tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dipanen tidak tepat dan beragam.
   Ummur tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dipanen berpengaruh pada
   kadar senyawa aktif, sehingga mutu simplisisa yang di hasilkan sering tidak
   seragam.
2. Jenis tumbuhan yang di panen sering kurang diperhatikan, sehingga simplisia
   yang diperoleh tidak sergam mutunya, wwalaupun sepintas kelihatannya
   sama. Sering juga terjadi kekeliruan dalam menetapkan jenis tumbuhan,
   terutama untuk jenis-jenis tumbuhan dalam satu marga yang sering kali
   mempunyai bentuk morfologi yang sama.
3. Lingkungan tempat tumbuh yang berbeda sering mengakibatkan perbedaan
   kadar kandungan zat aktif. Faktor lingkungan yang berpengaruh antara lain :
   tinggi        tempat,        keadaan        tanah       dan         cuaca.
   Untuk meningkatkan mutu hasil budidaya tumbuhan obat dapat ditempuh
   dengan cara :
   a. Bibit dipilih uuntuk mendapatkan tumbuhan unggul, sehingga simplisia
      yang dihasilkan memiliki kandungan senyawa aktif yang oftimal.
   b. Pengolahan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan perlindungan tumbuhan
      dilakukan dengan seksama.
   c. Pelaksanaan panen pada umur yang seragam dari tumbuhan obat,
      pemilihan lingkungan tempat tumbuh dan pemilihan jenis tumbuhan obat
      yang tepat.
   Isolasi adalah pemisahan suatu kandungan simplisia untuk memperoleh zat
   aktif yang murni. Sudah ratusan tahun yang lalu, manusia mengetahuiu adanya
   “Quinta essentia ”yang terdapat dalam tumbuhan, hewan dan mineral.
   Manusia memerlukan quinta essential, maka mereka berusaha untuk
   memisahkan untuk memisahkannya dari tumbuhan atau hewan tersebut. Pada
   tauhun1300 Raymudus Lullius menarik quintq essential dengan anggur yang
   dimasukkan dalam botol dan dibiarkan diluar rumah agar terkena sinar ultra
   violet yang dapat merusak quinta essential tersebut, maka penarikan
   berikutnya dijaga jangan sampai terkena sinar matahari. Di Indonesia
   penarikan sari tersebut dilaksanakan dengan memipis yaitu melumatkan bahan
   dengan bantuan air, pada alat yang disebut pipisan, kamudian diperas dan
   ampsnya dibuang.
   Penyarian adalah kegiatan penarikan zat yang apat larut dari bahan yang tidak
   dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang disari mengandung zat aktif
yang dapat larut dan zat yang tidak larut seperti serat, karbohidrat, protein da
lain-lain. Zat aktif yang terdapat di dalam simplisia dapat di golongkan
kedalam alkaloida, glikosida, flavonoid dan lain-lain. Adapun proses
penyarian dapat dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut: pembuatan
serbuk, pembasahan, panyarian dan pemekatan. Secara umum penyarian dapat
dilakukan dengan menggunakan metode ekstraksi antara lain: Infundasi,
maserasi, perkolasi dan destilasi uap. Namun dari ketiga macam metode
tersebut dapat dilakukan modifikasi seperti misalnya maserasi dapat di
modifikasi dengan digesti (bantuan dengan pemanasan).
Tahap Pembuatan
Pengupulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dala suatu simplisia berbeda-beda yang tergantung pada
beberapa faktor, antara lain : bagian tumbuhan yang digunakan, umur
tumbuhan atau bagia tumbuhan pada saat panen, waktu panen dan lingkungan
tempat tumbuh. Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentuka
senyawa aktif didalam bagian tumbuhan yang akan dipanen. Waktu panen
yang tepat pada saat bagian tumbuhan tersebut mengandung senyawa aktif
dalam jumlah yang terbesar.
B. Ekstraksi
Agar dapat diperoleh simplisia dengan bibit terbaik, terhadap hasil panen
perlu dilakukan sortasi. Ada dua cara sortasi, yaitu sortasi basa dan sortasi
kering.


a. Sortasi basa
Sortasi basa dilakukan untuk memisahkan kotoran-kkotoaran atau bahan-
bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisisa yang
dibuat dari akar tumbuhan obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil,
rumput, batang, daun, akar yangtelah rusak, serta pengotor lainnya harus
dibuang. Tanah mengandung bermacam-macam mikroba dalam jumlah tinggi,
oleh karena itu pembersihan simplisia dari tanah yang terbawa dapat
mengurangi jumlah mikroba.
Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilnagkan tanah dan pengotpr lainnya yang
melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih mislnya
air dari mata air, air sumur, atau air PAM. Bahan simplisia yang mengandung
zat yang mudah mengandung zat yang larut dalam air mengalir, agar
pencucian dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Cara sortasi
dengan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah mikroba wal
simplisia. Mmisalnnya jika air digunakan kotor, maka jumlah mikroba pada
permukaan bahan simplisia akan dapt bertambah. Bakteri yang umumnya
yang terdapat dalam air adalah pseudomonas. SP, proteus. SP, mikrococus.SP,
bacillus. SP, streptococcus. SP.dan lain-lain. Pada simplisia akar, batang atau
buah dapat pula dilakukan pengupasan kulit luar, untuk mengurangi jumlah
mikroba karena sebagian besar mikroba biasanya terdapat pada bagian luar
tumbuhan. Bahan yang telah dikupas tersebut mungkin tidak memerlukan
pencucian jika pengupasan dilakukan dengan baik.
Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan.
Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses
pengeringan. Tumbuhan yang baru di ambil jangan langsung dirajang tetapi
dijemur dalam keadaan utuh selama satu hari. Prajangan dapat dilakukan
dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan
tipas atua potongan dengan ukura yang dikehendali. Semakin tipis bahan yang
di keringkan semkin cepat penguapan air, sehingga mempercepat waktu
pengeringan. Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga akan menyebabkan
berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap sehingga
mempengaruhi komposis, baud an rasa yang diinginkan. Oleh karena itu
bahan simplisia seperti temukawak, temu giring, jahe, kencur dan bahan
sejenis lainnya dihindari peraajngan yang terlalu tipis untuk mencegah
berkurangnya kadar minyak atsirih. Selama perajangan seharusnya jumlah
mikroba tidak bertambah. Penjemuran sebelum perajangan diperlukan untuk
mengurangi pewarnaan akibat reaksi antara bahan dan logam pisau
.
Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah
rusak sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Berbagai cara
pengeringan telah dikenal dan digunakan pada dasarnya dikenal dua cara
pengeringan yaitu : pengeringan alami dan buatan. Dengan mengurangi kadar
air dan penghentian reaksi enzimatis akan dicegah penurunan mutu atau
perusakan simplisia. Air yang masi tersisah dalam simplisia pada kadar
tertentu dapat merupakan media pertumbuhan kapang dan zat renik lainnya.
Enzim tertentu dalam sel, masih dapat bekerja menguraikan senyawa aktif
sesaat setelah sel mati dan selama bahan simplisia tersebut masi mengadung
air tertentu. Pada tumbuhan yang masi hidup pertumbuhan kapang dan reaksi
enzimatis yang merusak itu tidak terjadi karena adannya ketidak seimbangan
antara proses metabolism, yakni proses sintesis, transformasi dan penggunaan
isi sel. Keseimbangan ini hilang setelah sel mati.
a. Pengeringan Alami
-   Dengan panas sinar matahari langsung.
    Cara ini dilakukan untuk mengeringkan bagian tumbuhan yang relative
    keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya yang mengandung
    senyawa aktif yang relative stail. Pengeringan dengan sinsr kmatahari
    merupakan suatu cara yang mudah dan murah, yang dilakukan dengan
    cara membiarkan bahan yang telah dipotong-potong diudara terbuka dialas
    tampah, tanpa kondisi yang terkontrol, seperti suhu, kelembaban dan aliran
    udara. Dengan cara ini kecepatan pengerinngan sangat tergantung pada
    keadaan iklim, sehingga cara ini hanya baik dilakukan didaerah yang
    udaranya panas serta kelembabannya rendah.
-   Dengan angin-angin.
    Dengan angin-angin dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung.
    Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tumbuhan yang
    lunak seperti bunga, daun dan sebagainya yang mengandung senyawa aktif
    aygn mudah menguap. Pada kedua cara tersebut, tempat pengeringan
    mempunyai dasar berlubang-lubang seperti anyaman bamboo, kain kasa
    dan sebagainya. ; etak pengeingan juga diatur sehingga memungkinkan
    terjadinya aliran udara dari atas kebawah.
    b. Pengeringan buatan
    Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan cara
    alami dapat diatasi dengan melakukan pengeringan buatan dengan
    menggunakan suatu alat mesin pengering yang suhu, kelembaban, tekanan
    dan aliran udara dapat diatur.
    c. Sortasi Kering
    Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan
    simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti
    bagian tumbuhan yang tidak diinginkan dan pengotor lain yang masih ada
    dan tertinggal pada simplisis kering.
    d. Pembuatan Serbuk
    Agar memudahkan proses penarikan zat, maka simplisia harus dibuat
    dalam bentuk yang lebih kecil, yaitu dengan pembuatan serbuk. Zat aktif
    yang berada di dalam sel ditarik kedalam cairan penyari sehingga terjadi
    larutan zat aktif dalam larutan cairan penyari tersebut. Pada umumnya
    penyarian akan lebuh baik bila permukaan serbuk bersentuhan lebih luas
    dengan cairan penyari. Namum dalam pelaksanaannya tidak selalu
    demikian karena penyarian masih tergantung sifat fisik dan kimia
    simplisia yang bersangkutan. Kendala yang akan ditemui bila membuat
    serbuk simplisia yang terlalu halus akan memberikan kesulitan pada
    proses penyarian itu sendiri. Hal ini Nampak pada proses perkolasi, bila
    serbuk terlalu halus maka serbuk tidak mau turun. Selain itu, serbuk yang
    terlalu halus butir-butir halus tersebut akan membentuk suatu suspensi
    yang sulit dipisahkan dengan penyarian. Ddengan demikian hasil
    penyarian tidak murni lagitetapi tercampur dengan partikel-partikel halus
    tadi.

    e. Pembasahan
    Dinding sel tumbuhan terdiri dari selulosa. Serabut selulosa pada simplisia
    segar dikelilingi oleh air. Jika simplisia tersebut di keringkan maka air
    akan keluar dari sel terjadi pengerutan sehingga terbentuk pori-pori yang
    terisi udara. Bila serbuk simplisia dibasahi, maka serbuk simplisia tersebut
       akan dikelilingi oleh cairan penyari dan mengembang kembali.
       Pembasahan serbuk dimaksudkan untuk memberikan kesempatan sebesar-
       besarnya pada cairan penyari yang masuk ke dalam seluruh pori-
       porisimplisia sehingga mempermmudah penyarian selanjudnya.
       f. Penyarian
       Pada waktu pembuatan serbuk simplisia, beberapa sel ada yang dinding sel
       nya pecah dan ada jjuaga yang masih utuh. Sel yang sudah pecah maka
       tidak ada penghalang pembebasan sari, namun sel yang masih utuh zat
       aktif dalam sel harus melewati dinding sel untuk keluar. Peristiwa osmosa
       dan difusi sangat berpengaruh pada proses penyarian tersebut.
       Penyarian dipengaruhi oleh: 1) derajat kehalusan, 2) perbedaan
       konsentrasi yang terdapat mulai dari pusat butir sampai ke permukaan
       simplisia.
Cairan Penyari
Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan banyak factor. Cairan penyari
yang baik harus memenuhi criteria berikut ini:
1. Murah dan mudah diperoleh
2. Stabil secara fisika dan kimia
3. Tidak bereaksi
4. Tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar
5. Selektif yaitu hanya menarik zat yang berkhasiat yang dikehendaki
6. Tidak mempengaruhi zat berkhasiat
7. Diperbolehkan oleh peraturan. Pelarut organic kurang digunakna dalam
   penyarian, kecuali dalam proses penyarian tertentu. Salah satu contoh eter
   minyak tanah digunakan untuk menarik lemak dari serbuk simplisia sebelum
   proses penyarian. Untuk penyarian ini Farmakope Indonesia menetapkan
   bahwa sebagai cairan penyari adalah air, etanol, etanol-air atau eter. Penyarian
   pada peusahaan obat tradisional masi terbatas pada penggunaan penyari air
   etanol atau etanol air. Air dipertimbangkan sebagai penyari karena :
   1. Murah dan mudah diperoleh
   2. Stabil
   3. Tidak mmudah menguap
   4. Tidak mudh terbakar
   5. Tidak beracun
   6. Alami
Kerugian menggunakan air sebagai penyari:
1. Tidak selektif
2. Saari dapat ditumbuhi mikroorganisme dan cepat rusak
3. Untuk pengeringan diperlukan waktu lama.
    Air disamping melarutkan garam alkaloid, minyak menguap, glikosida, tannin
dan gula, juga melarutkan gom, pati, protein dan enzim. Dengan demikian
penggunaan air sebagai cairan penyari kurang menguntungkan. Disamping zat
aktif ikut tersari juga at lain yang tidak diperlukan.
Etanol dipertimbangkan sebagai cairan penyari karena :
1. Lebih selektif
2. Kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol
3. Tidak beracun
4. Netral
5. Absorbsinya baik
6. Etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan
7. Panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit


Kerugiannya bahwa etanol harganya libih mahal.
Cara penyarian :
a. Maserasi
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.
Cairan penyari akan menembus sel dan masuk kedalam rongga sel yang
mengandung zat aktif, zat aktif akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi
antara zat dalam sel dengan cairan diluar sel. Maserai digunakan untuk penyarian
simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari,
tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak
mengandung stirak, benzoin dan lain-lain. Maserai dapat dilakukan modifikasi
misalnya dengan digesti : digesti adalah cara maserasi dengan penambahan
pemanasan lemah (40 – 50 oC). cara ini hanya dapat dilakukan untuk zat yang
ahan terhadap panas.Maserasi dapat juga dimodifikasi dengan maserasi dengan
mesin pengaduk, remaserasi, maserasi melingkar dan lain-lain.
b. Destilasi Uap

Destilasi uap dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk simplisia yang
mengandung komponen yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara
normal. Pada pemanasan biasa kemungkinan akan terjadi kerusakan zat aktif nya.
Untuk mencegah hal tersebut maka penyarian dilakukan dengan destilasi uap.
Dengan adanya pengaupan pada air yang masuk, maka tekanan kestimbangan uap
zat kandungan akan diturunkan menjadi sama dengan tekanan bagian didalam
suatu    system,    sehingga   produk     akan     terdesd.   Destilasi    Uap
Destilasi uap dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk simplisia yang
mengandung komponen yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara
normal. Pada pemanasan biasa kemungkinan akan terjadi kerusakan zat aktif nya.
Untuk mencegah hal tersebut maka penyarian dilakukan dengan destilasi uap.
Dengan adanya pengaupan pada air yang masuk, maka tekanan kestimbangan uap
zat kandungan akan diturunkan menjadi sama dengan tekanan bagian didalam
suatu system, sehingga produk akan terdestilasi dan terbawah oleh uap air yang
mengalir.


c. Pemekatan

Pemekatan dilakukan denga rotary evaporator Cara kerja :

-   Masukan maserat dalam labu rotary,

-   Masuk air ke dalam waterbath secukupnya, atur suhu ,

-   Nyalakan speker evaporator dengan menekan tombol ON,

-   Tekan tombol pemutar labu

-   Tunggu sampai proses berakhir dan cairan penyari sampai habis, usahakan
    tidak terlalu pekat agar memudahkan dalam proses pengambilan ekstrak
    kental dari labu.mengalir.tilasi dan terbawah oleh uap air yang mengalir.

Khasiat dari jahe adalah:

Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk,
diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga dipakai untuk
meningkatkan pembersihan tubuh melalui keringat. Penelitian modern telah
membuktikan secara ilmiah berbagai manfaat jahe, antara lain :

-   Menurunkan tekanan darah.

-   Membantu pencernaan,

-   Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan,

-   Mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotonin,

-   Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan membantu
    mengeluarkan angin.
-   Jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak
    yang disebabkanoleh radikal bebas di dalam tubuh. Jahe sebagai Obat Praktis
    Jahe merupakan pereda rasa sakit yang alami dan dapat meredakan nyeri
    rematik, sakit kepala, dan migren.
I.   PEMBAHASAN
              Pada pembuatan aspirin aspirin ini mula-mula dicampurkan 1 gr
     asam salisilat dengan anhidrida asam asetat. Reaksi yang terjadi adalah
     reaksi esterifikasi yang merupakan prinsip dari pembuatan aspirin. Reaksi
     esterifikasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.




     Ester dapat terbentuk salah satunya dengan cara mereaksikan alkohol
     dengan anhidrida asam. Dalam hal ini asam salisilat berperan sebagai
     alkohol karena mempunyai gugus –OH, sedangkan anhidrida asam asetat
     tentu saja sebagai anhidrida asam. Ester yang terbentuk adalah asam asetil
     salisilat (aspirin). Gugus asetil (CH3CO-) berasal dari anhidrida asam asetat,
     sedangkan gugus R-nya berasal dari asam salisilat (pada gambar di atas
     gugus R ada di dalam kotak). Hasil samping reaksi ini adalah asam asetat.
              Langkah selanjutnya adalah penambahan asam sulfat pekat yang
     berfungsi sebgai zat penghidrasi. Telah disebutkan di atas bahwa hasil
     samping dari reaksi asam salisilat dan anhidrida asam asetat adalah asam
     asetat. Hasil samping ini akan terhidrasi membentuk anhidrida asam asetat.
     Anhidrida asam asetat akan kembali bereaksi dengan asam salisilat
     membentuk aspirin dan tentu saja dengan hasil samping berupa asam asetat.
     Jadi, dapat dikatakan reaksi akan berhenti setelah asam salisilat habis karena
     adanya asam sulfat pekat ini.
              Tetapi harus diperhatikan bahwa sebelum dipanaskan, reaksi tidak
     benar-benar terjadi. Reaksi baru akan berlangsung dengan baik pada suhu
     50-60°C. Juga pada percobaan ini baru terbentuk endapn putih (aspirin)
     setelah dipanaskan. Kemudian endapan tersebut dilarutkan dalam air dan
disaring untuk memisahkan aspirin dari pengotornya. Tetapi tentu saja
dengan penyaringan ini aspirin yang dihasilkan belum benar-benar murni.
          Untuk pemurnianya, aspirin tak murni kemudian ditambahi larutan
NaHCO3. Reaksinya adlah sebagai berikut :




          Aspirin akan larut, sedangkan hasil sampingnya tidak larut,
sehingga ketika disaring akan didapatkan filtrat aspirin murni berbentuk
larutan jernih. Larutnya aspirin ini juga diikuti oleh timbulnya gelembung
gas CO2, membuktikan adanya hasil reaksi aspirin dengan NaHCO3. setelah
itu filtrat diaduk dan terbentuk endapan putih. Lalu didinginkan dengan air
es membentuk kristal. Kristal akan lebih murni setelah dicuci dengan air es.
Selanjutnya kristal dikeringkan dengan cara ditaruh di gelas arloji dan
didapatkanlah kristal kering.
          Langkah terakhir pada percobaan ini adalah rekristalisasi. Kristal
yang kering tadi dilarutkan dalam benzena panas, alu dipanaskan. Benzena
digunakan sebagai pelarut karena benzena merupakan pelarut yang baik
untuk zat organik. Air tidak bisa digunakan untuk rekristalisasi ini karena air
adalah pelarut polar dan aspirin adalah senyawa nonpolar. Setelah itu larutan
tadi disaring panas-panas dan filtratnya diambil untuk dikeringkan di oven.
Kristal ini merupakan kristal yang benar-benar murni.
          Hasil percobaan ini diperoleh aspirin sebanyak 0,06 gram. Hasil ini
sangat sedikit karena menurut perhitungan, rendemennya hanya 4,8%.
Berkaitan dengan hasil yang minim ini ada beberapa hal yang perlu dibahas
disini, yaitu :
1. Benzena yang digunakan untuk rekristalisasi suhunya kurang panas,
    tetapi hangat.
      2. Ketika dilakukan pengeringan di oven, tidak diberi tanda kelompok
         (hanya diingat tempatnya) sehingga ada (sangat sedikit sekali)
         kemungkinan kristal diambil kelompok lain.
      3. Jika nomor dua tidak terjadi, berarti hasil penyaringan yang berjumlah
         banyak tidak jadi *.


II.   KESIMPULAN
      1. Aspirin dapat dibuat dengan mereaksikan asam salisilat dengan
         anhidrida asam asetat dengan adanya H2SO4.
      2. Prinsip pembuatan aspirin adalah reaksi esterifikasi.
      3. Pelarut organik (seperti benzena) dapat digunakan untuk rekristalisasi
         senyawa organik.
      4. Diperoleh rendemen sebesar 4,8%.

								
To top