Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Get this document free

39046510-tugas-farmakologi

VIEWS: 908 PAGES: 15

									NAMA: Fride Rindu Alami
NPM   : 260110080013
TUGAS FARMAKOLOGI



1. Apa itu obat?
    Obat merupakan semua zat
     kimiawi, hewani, dan nabati
     yang dalam dosis layak
     dapat menyembuhkan,
     meringankan atau mencegah
     penyakit berikut gejalanya (
     Tjay,dkk., 2007)

     Menurut PerMenKes
      917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau
      paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi
      atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi
      dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan,
      penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan
      kontrasepsi.

     Obat didefinisikan sebagai senyawa yang digunakan untuk
      mencegah, mengobati, mendiagnosis penyakit/gangguan,
      atau menimbulkan suatu kondisi tertentu, misalnya membuat
      seseorang infertile atau melumpuhkan otot rangka selama
      pembedahan (Ganiswara,dkk., 2007)

     Suatu penyakit dapat diobati oleh satu obat. Obat tersebut
      ditetapkan dosis dan frekuensi pemakaiannya dalam sehari
      karena pada umumnya obat dapat digunakan untuk
      pemakaian ganda (berulang). Oleh karenanya, jika
      seseorang mendapatkan dua jenis obat atau lebih yang
      mempunyai waktu paruh biologis berbeda maka frekuensi
      pemakaiannya seharusnya berlainan ( Rusdiana,dkk., 2009)
      Obat nabati, sebagai rebusan atau ekstrak dengan aktivitas
       dan efek yg sering kali berbeda tergantung asal tanaman
       dan cara pembuatannya. Contoh terbaru adalah onkolitika
       paclitaxel dari tumbuhan jarum jenis cemara(koniver) taxus
       brevifolia dan genistein dr kacang kedele( Tjay,dkk., 2007)

      Obat sintetik, mulai abad ke 20 yaitu muncul salvarsan dan
       aspirin sampai saat sekarang ini perkembangan ilmu kimia,
       fisika, dan kedokteran pun bertambah pesat dan sangat
       menguntungkan sekali bagi penelitian sistematis terbaru
       ( Tjay,dkk., 2007)

      Jenis-jenis obat :
       1. Obat farmakodinamis; yang bekerja terhadap tuan rumah
          dengan jalan mempercepat atau memperlambat proses
          fisiologi atau fungsi biokimia dalam tubuh, misalnya
          hormone, diuretic, hipnotik, atau obat otonom
       2. Obat kemoterapeutis; obat yang bekerjamembunuh
          parasit dan kuman dalam tubuh pasien
          Contoh: obat neoplasma(obat kanker, onkolitik, sitostik)
       3. Obat tradisional; berupa ramuan alami yang turun
          temurun, biasanya terbuat dari bahan herbal
       4. Obat diagnostic; obat yang membantu
          diagnosis(pengenalan penyakit). Contohnya: dari saluran
          lambung usus (barium sulfat), sal.empedu (natrium
          miopanoat)
                                                    ( Tjay,dkk., 2007)

2. Jelaskan tentang farmakokinetik (ADME) !
 Pengertian
   Farmakokinetika adalah hitungan matematis waktu dari
   absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eksresi (ADME) suatu obat
   di dalam tubuh. Faktor-faktor biologis, fisiologis dam psikokimia
   yang mempengaruhi proses transfer obat didalam tubuh, juga
   mempengaruhi laju dan derajat ADME dari obat tersebut di
   dalam tubuh. Dalam beberapa kasus, aksi farmakologi, seperti
   halnya aksi toksikologi, berhubungan dengan konsentrasi obat
   dalam plasma. Oleh sebab itu, dengan studi farmakokinetik, ahli
    farmasi (farmasis) dapat melakukan terapi individual terhadap
    pasien (Makoid, 2000)
    Farmakokinetika meneliti bagaimana perjalanan obat mulai dari
    pemberiaannya, bagaimana absorpsi dari usus, transport dalam
    darah dan bagaimana molekulnya didistribusikan ke jaringan
    lain. Begitu pula bagaiman perombakannya (biotransformasi)
    sehingga akhirnya dieksresikan oleh ginjal.        Singkatnya
    farmakokinetik mempelajari segala sesuatu yang dilakukan
    tubuh terhadap obat ( Tjay,dkk., 2007)

   Kegunaan Farmakokinetik

      1. Memprakirakan kadar obat dalam plasma , jaringan, dan
         urin pada berbagai pengaturan dosis.
      2. Menghitung     pengaturan      dosis   optimum   untuk      tiap
         penderita secara individual.
      3. Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dan/atau
         metabolit-metabolit.
      4. Menghubungkan       konsentrasi    obat   dengan    aktivitas
         farmakologik atau toksikologi.
      5. Menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar
         formulasi (bioekivalensi)
      6. Menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang
         mempengaruhi absorpsi, distribusi atau eliminasi obat.
      7. Menjelaskan interaksi obat.
                                                   (Shargel, 1985)
                                            (Kathy, 2010)

   ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Eksresi)
     a. ABSORPSI
        Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat
        pemberian ke dalam darah. Bergantung dari cara
        pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran
        cerna (mulut samoai dengan rektum), kulit, paru, otot, dan
        lain-lain.yang terpenting adalah cara pemberian obat
        peroral, dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus
        halus karena memiliki permukaan absobsi yang sangat luas,
        yakni 200 m2 (panjang 280 cm, diameter 4 cm, disertai vili dan
        mikrovili) (Ganiswara,dkk., 2007)

       Banyak rute pemberian obat ke dalam tubuh, antara lain :
      a. Oral
b. Topical
c. Parenteral (intravena, intramuscular, subkutan)
d. Sublingual
                                      e. Bukal (antara pipi dan
                                         gusi)
                                      f. Rectal
                                      g. Transdermal
                                Macam- macam obat diatas
                                ada yang menghasilkan efek
                                sistemik maupun efek local
                                (Setyawati, 2010)

                                Agar    suatu   obat   dapat
                                diabsorpsi oleh tubuh, mula-
                                mula obat tersebut harus larut
                                dulu dalam cairan tempat
                                absorpsi. Proses melarutnya
                                obat      disebut     disolusi.
(Ansel,1989)

Absorpsi sebagian besar obat secara difusi pasif, maka sebgai
barrier absorpsi adalah membran sel epitel saluran cerna ,
yang seperti halnya semua membran sel dalam tubuk kita,
yakni merupakan lipid bilayer. Kebnyakan obat merupakan
elektrolit lemah, yakni asam lemah dan basa lemah. Dalam air
, elektrolit lemah ini akan terionisasi menjadi bentuk ionnya.
Derajat ionisasi obat bergantung pada konstanta ionisasi obat
(pKa) dan pH dimana larutan berada (Ganiswara, 2007)

Zat-zat seperti obat akan melewati membrane melalui dua
cara, yaitu:
a. Dengan difusi pasif
   Lewatnya molekul-molekul obat melalui suatu membran
   inert dan tidak berpartisipasi aktif dalam proses tersebut
   dengan dikendalikan oleh perbedaan konsentrasi
   membran, perjalanan obat dari lingkukan berkonsentrasi
   tinggi ke rendah (Ansel,1989)
b. Melalui mekanisme transport khusus (transport aktif)
b. DISTRIBUSI

    Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi
sistemik ke jaringan dan cairan tubuh.
    Faktor yang mempengaruhinya :
       Aliran darah
       Permeabilitas kapiler
       Ikatan protein

    Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusikan ke seluruh tubuh
melalui sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi
obat juga ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Obat yang mudah
larut dalam lemak akan melintasi membran sel dan terdistribusi ke
dalam sel, sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit
menembus membran sel sehingga distribusinya terbatas terutama
di cairan ekstrasel. Distribusi juga dibatasi oleh ikatan obat pada
protein plasma, hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan
mencapai keseimbangan. Derajat ikatan obat dengan protein
plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein, kadar obat,
dan kadar proteinnya sendiri. (Ganiswara,dkk., 2007)

    Untuk mencapai sel target, suatu obat harus dapat menembus
sawar biologic, dapat berupa membrane yang terdiri atas satu
atau beberapa sel. Pada sawar darah otak, obat-obatan yang
larut dalam air sulit melewatinya dan pada sawar plasenta hanya
obat-obatan dengan BM besar (seperti heparin, plasma sekunder)
sukar masuk fetus (Katzung,1989)

    Oleh karena molekul protein plasma cukup besar, maka hanya
fraksi obat bebas saja yang mempunyai arti klinis, karena bagian
tersebut yang dapat mencapai reseptor pada organ sasaran
(termasuk bakteri). Protein plasma yang berikatan dengan molekul
obat terutama adalah albumin(A), disamping itu protein lain juga
berperan, misalnya alfa amino globulin (AAG) dan lipoprotein (LP)
pada keadaan tertentu (Aulia, 2009)

c. METABOLISME (BIOTRANSFORMASI)
    Metabolisme obat terutama terjadi di hati, yakni di membran
reticulum endoplasma (mikrosom) dan di sitosol. Tempat
metabolisme yang lain (ekstra-hepatic) adalah dinding usus, ginjal,
paru, darah, otak, dan kulit, juga lumen kolon (Ganiswara,dkk.,
2007)
    Tujuan metabolisme : mengubah obat yang larut lemak (non
polar) menjadi larut air (polar) agar dapat dieksresi melalui ginjal.
Dengan perubahan ini, obat aktif umumnya diubah menjadi inaktif
(jika asalnya produg), kurang aktif, atau menjadi toksik
(Ganiswara,dkk., 2007)
    Metabolisme obat mempunyai dua efek penting,yaitu :
    1. Obat menjadi lebih hidrofilik-hal ini mempercepat ekskresinya
       melalui ginjal karena metabolit yang kurang larut lemak tidak
       mudah direabsorpsi dalam tubulus ginjal.
    2. Metabolit umumnya kurang aktif daripada obat asalnya.
       Akan tetapi, tidak selalu seperti itu, kadang-kadang
       metabolit sama aktifnya (atau lebih aktif) daripada obat asli.
       Sebagai contoh, diazepam (obat yang digunakan untuk
       mngobati ansietas ) dimetbolisme menjadi nordiazepam dan
       oxazepam, keduanya aktif. Prodrug bersifat inaktif sampai
       dimetabolisme dalam tubuh menjadi obat aktif. Sebagai
       contoh, levodopa, suatu obat antiparkinson, dimetabolisme
       menjadi dopamin, sementara obat hipotensif metildopa
       dimetabolisme menjadi metil norepinefrin-α (Siskha, 2008)
d. EKSRESI
       Eksresi merupakan proses eliminasi perekursor bahah obat
    melalui proses penurunan konsentrasi (Mutsclher, 1986)
    Karakteristik Eksresi pada tiap organ eksresi :
     Eksresi ginjal
       Ditentukan oleh filtrasi glomerulus, reabsorbsi tubulus dan
       sekresi tubulus. Senyawa-senyawa obat yang bersifat lipophil
       lebih mudah dieliminasi daripada senyawa hidrophil
     Eksresi empedu
      Terutama senyawa-senyawa yang memiliki bobot molekul
      lebih dari 500 BM, dan juga senyawa-senyawa hasil
      metabolisme. Penetrasi bahan obat ke dalam kapiler
      empedu maupun usus sering berlangsung melalui difusi
      maupun transpor aktif.
    Eksresi Paru-paru
      Terutama bahan-bahan inhalasi setelah pembiusan dan
      pengeluaran senyawa-senyawa yang mudah menguap
      sejalan dengan landaian konsentrasi dan landaian tekanan
      udara pernapasan. Proses terjadi melalui difusi murni.
                                                       (Ton, 2009)
3. Jelaskan tentang Farmakodinamik!
   Farmakodinamik merupakan subdisiplin ilmu farmakologi yang
   mempelajari efek biokimiawi obat serta fisiologi obat, serta
   mekanisme kerjanya.

  Tujuan utamanya adalah:
     1) Meneliti efek utama obat
     2) Mengetahiu interaksi obat dengan sel
     3) Mengetahui urutan spectrum efek dan respon yang terjadi
                                         (Ganiswara,dkk., 2007)
  Singkatnya, farmakodinamika mencakup semua yang dilakukan
  obat terhadap tubuh (Tjay, dkk., 2007)

Mekanisme Kerja Obat dan Reseptor
    Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan
reseptor pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan
reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi
yang merupakan respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat
merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2
konsep penting. Pertama, bahwa obat dapat mengubah
kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa obat tidak
menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi
yang sudah ada (Ganiswara,dkk., 2007)
Interaksi Obat-Reseptor
    Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat
dengan enzim, biasanya merupakan ikatan lemah (ikatan ion,
   hidrogen, hidrofobik, van der Waals), dan jarang berupa ikatan
   kovalen (Ganiswara,dkk., 2007)

   AGONIS dan ANTAGONIS
   Agonis adalah obat yang memiliki afinitas dan aktivitas intrinsik
   yang baik
   Agonis dibagi menjadi 2 yaitu :
    a. Agonis sempurna (Ea/Em = 1)
    b. Agonis parsial (Ea/Em >0<1)
   Ea    : Koefisien efek agonis
         Em     : Efek maksimum yang dihasilkan sistem biologis
         Agonis parsial artinya bekerja dualistik yaitu senyawa ini
         mempunyai sifat agonis dan antagonis (Ikhwan,2010)




   Antagonis adalah senyawa yang menurunkan atau mencegah
   sama sekali efek agonis. Terbagi dalam 4 kategori antagonis, yakni:
1) Antagonis kompetitif
   Senyawa yang membentuk komplek reseptor – obat tetapi tidak
   menimbulkan efek dan menunjukan aktivitas intrinsik
2) Antagonis non kompetitif
   senyawa yang membentuk komplek obat - reseptor yang mampu
   melemahkan kerja agonis dengan cara yang berbeda




3) Antagonis fungsional dan fisiologis
   agonis melalui efeknya yang berlawanan menurunkan kerja suatu
   agonis kedua dan bekerja pada sistem sel yang sama tetapi
   berikatan dengan reseptor yang berbeda




4) Antagonis kimia
     Senyawa yang bereaksi secara kimia dengan zat berkhasiat dan
   dengan demikian menginaktivasinya
                                          (Ikhwan,2010)



4. Jelaskan hubungan dosis dengan respon terapeutik!
       Dosis lazim suatu obat dapat ditentukan sebagai jumlah yang
   dapat diharapkan menimbulkan efek pada pengobatan orang
   dewasa sesuai dengan gejalanya. Dosis ada yang diberikan
   secara tunggal dan ada pula dosis harian (Ansel, 1989)
       Obat dengan half life/ waktu paruh lebih panjang tidak perlu
   diberikan 2 sampai 3 kali sehari, cukup dosis pemeliharaan (satu
   kali) saja, contohnya adalah digoksin (Tjay,dkk., 2007)
       Dosis obat telah tepat dilukiskan sebagai suatu jumlah yang
   cukup tapi tidak berlebihan, maksudnya untuk menghasilkan
   efek terapeutik obat yang optimum pada seorang pasien
   dengan kemungkinan dosis terendah, tentunya untuk
   mengurangi efek toksik (Ansel, 1989)
       Dosis yang terlalu tinggi dapat menimbulkan efek toksik,
   sedangkan dosis yang terlalu rendah tidak menghasilkan efek
   bahkan dapat menyebabkan resistensi untuk kuman-kuman
   tertentu (Tjay,dkk., 2007)
                                    (Mehrotra, 2007)



Kurva diatas merupakansuatu hipotesis fungsi waktu setelah
pemberian obat. MEC (Minimum Effective Concentration) dan
MTC (Minimum Toxic Concentration).
   Faktor-faktor yang mempengaruhi dosis obat :
1. Umur
2. Berat badan
3. Luas permukaan tubuh
4. Jenis kelamin
5. Status patologi
6. Terapi dengan obat yang diberikan bersamaan
7. Toleransi obat
                                              (Ansel, 1989)
   Penggunaan hubungan dosis-respon dalam toksikologi harus
memperhatikan beberapa asumsi dasar. Asumsi dasar tersebut
adalah:
1. Respon bergantung pada cara masuk bahan dan respon
   berhubungan dengan dosis.
2. Adanya molekul atau reseptor pada tempat bersama bahan
   kimia berinteraksi dan menghasilkan suatu respon
3. Respon yang dihasilkan dan tingkat respon berhubungan
   dengan kadar agen pada daerah yang reaktif
   4. Kadar pada tempat tersebut berhubungan dengan dosis
      yang masuk

    Perilaku efek suatu bahan kimia digambarkan sebagai
peningkatan dosis akan meningkatkan efek sampai efek maksimal
tercapai. Hubungan dosis-respon biasanya berciri kuantitatif dan
hal tersebut yang membedakan dengan paparan di alam dimana
kita hanya mendapatkan kemungkinan perkiraan dosis. Suatu
respon dari adanya paparan dapat berupa respon respon yang
mematikan (lethal response) dan respon yang tidak mematikan
(non-lethal response). Bahan kimia dengan tingkat toksisitas rendah
memerluikan dosis besar untuk menghasilkan efek keracunan dan
bahan kimia yang sangat toksik biasanya memerlukan dosis kecil
untuk menghasilkan efek keracunan (Hayat, 2007)
    Lethal Dose50 (LD50)
    Suatu dosis efektif untuk 50% hewan digunakan karena arah
kisaran nilai pada titik tersebut paling menyempit dibanding
dengan titik-titik ekstrim dari kurva dosis-respon. Pada kurva normal
sebanyak 68% dari populasi berada dalam plus-minus nilai 50%
(Hayat, 2007)
    Lethal Concentration50 (LC50)
    Suatu variasi dari LD50 adalah LC50 yaitu konsentrasi bahan
yang menyebabkan kematian 50% organisme yang terpapar.
Parameter ini sering digunakan jika suatu organisme dipaparkan
terhadap konsentrasi bahan tertentu dalam air atau udara yang
dosisnya tidak diketahui (Hayat, 2007)



Daftar Pustaka

Ansel, Howard.C.1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI
  Press.Jakarta
Aulia. 2009. Pengantar Farmakologi. Tersedia di
   http://4uliedz.wordpress.com/2009/01/13/pengantar-farmakologi/
Ganiswara, S.G., Setiabudi, R., Suyatna, F.D., Purwantyastuti, Nafrialdi
   (Editor). 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Bagian Farmakologi FK
   UI. Jakarta
Hayat. 2007. Toksikometrik. Tersedia di
   http://www.scribd.com/doc/31520269/05-toksikometrik
Ikhwan, Yakin. 2010. Farmakodinamika. Tersedia di
    http://www.scribd.com/doc/29177752/Farmakodinamika
Kathy. 2010. Biosources. Tersedia di
    http://www.biology.iupui.edu/biocourses/biol540/4pipeline2CSS.
    html
Katzung.1989.Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 3.EGC. Jakarta
Makoid, Michael.C. 2000. BASIC PHARMACOKINETICS First Edition (E-
    book), www.pharmacy.creighton.edu/PHA443/pdf/
Mehrota, N., M. Gupta, A. Kovar, B. Meibohm. 2007.
    Phosphodiesterase-5 Inhibitor Therapy: Key PK Parameters:
    Theory and Rationale. Available online at
    http://www.medscape.com/viewarticle/556234_4
Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat. Penerbit ITB. Bandung
Rusdiana, Taufik., Fauzi. S., Sukmadjaja. A. 2009. Interaksi
    Farmakokinetik Kombinasi Obat Parasetamol dan
    FenilPropanolamin Hidroklorida sebagai Komponen Obat Flu.
    Jurnal hal 4
Setyawati. 2010. Bentuk dan Rute Pemberian Obat. Tersedia di
    http://www.scribd.com/doc/27035765/Bentuk-Dan-Rute-
    Pemberian-Obat
Shargel,Leon. 1985. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan
     ,Cetakan kedua, Editor : Sitti Sjamsiah. Airlangga University Press.
     Surabaya
Siskha.       2008.     Metabolisme         Obat.       Tersedia       di
    http://siskhana.blogspot.com/2008/11/metabolisme-obat.html
Tjay, Hoan Tan., Kirana, Rahardja. 2007. Obat-obat Penting. sEdisi ke
    6. Gramedia. Jakarta
Ton. 2009. Biotransformasi. Tersedia di
    http://www.scribd.com/doc/14064623/Biotransformasi-
    Ekskresi#open_download

								
To top