Docstoc

TEORI BELAJAR DAN KURIKULUM

Document Sample
TEORI BELAJAR DAN KURIKULUM Powered By Docstoc
					                           TEORI BELAJAR DAN KURIKULUM

   1. PENGERTIAN BELAJAR.

Menurut pandangan tradisional, belajar sekedar diartikan sebagai usaha memperoleh dan
mengumpulkan sejumlah ilmu pengetahuan. Atau belajar adalah usaha mendapatkan
pengetahuan melalui pengalaman (Bower dan Hilgard, 1981; 2). Tidak berbeda dengan
pengertian tersebut adalah pengertian belajar yang dikemukakan oleh Kimble dan Garmezy
(Brown, 1980 ; 7) menurutnya belajar adalah suatu kecenderungan dalam pengubahan tingkah
laku yang secara relatif bersifat fermanen dan sebagai hasil dari praktek yang bersifat
menguatkan.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah pengubahan tingkah laku yang disebabkan
adanya interaksi dengan lingkungan. Lingkungan disini dikatakan sangat luas, bukan semata-
mata berupa buku pelajaran, melainkan juga sekolah, individu, orang tua, masyarakat, alam,
kebudayaan dan sebagainya. Seseorang dikatakan telah mengalami peristiwa belajar jika ia
mengalami perubahan dari tidak tahu menjadi tahu serta mengalami suatu perubahan
peningkatan kualitas dari cara sebelum ia belajar. Pada hakekatnya, perubahan tingkah laku juga
berarti perubahan kepribadian pada diri si belajar, tingkah laku itu dapat meliputi pengetahuan,
sikap, ketrampilan, kemampuan, kebiasaan-kebiasaan, perasaan, interaksi sosial dan sebagainya.

Tafsiran tentang belajar ada bermacam-macam tergantung pada para ahli yang memuat rumusan
itu, dalam hal mana sangat ditentukan oleh aliran fsikologi yang dianutnya. Dalam fsikologi
belajar kita akan mengenal beberapa aliran yang masing-masing mempunyai konsep tentang
belajar. Setiap teori mempunyai implikasinya sendiri terhadap penyusunan kurikulum. Beberapa
teori tersebut akan kita bahas berikut ini ;

   1. Fsikologi Daya.

Pandangan ini berpendapat, bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai daya , dimana daya-
daya tersebut harus dilatih agar dapat berfungsi , seperti mengingat, berpikir, merasakan,
berkehendak dan sebagainya.

Implikasinya , bahwa kurikulum harus menyediakan matapelajaran-matapelajaran yang dapat
mengembangkan daya-daya itu. Tekanannya bukan terletak pada materinya melainkan terletak
dari segi peranan matapelajaran guna pembentukan daya-daya, karena belajar berarti melatih
daya-daya , secara efisien dan ekonomis

   1. Teori Mental State (Fsikologi assosiasi ala J. Herbart).

Jiwa manusia sesungguhnya terdiri dari kesan-kesan/tanggapan-tanggapan yang masuk melalui
alat indria, dan kemudian berassosiasi satu sama lain yang kemudian membentuk
mental/kesadaran manusia. Kesan-kesan itu akan bertambah dalam tertanam dalam kesadaran
apabila melalui latihan-latihan. Belajar berarti menanamkan bahan pelajaran sebanyak-
banyaknya dan yang memiliki nilai ethis, nilai-nilai yang baik.
Implikasinya adalah kurikulum harus disusun dari sejumlah matapelajaran yang mengandung
pengetahuan yang luas. Matapelajaran –matapelajaran itu disusun dalam organisasi yang terpisah
satu sama lain.

   1. Fsikologi Behaviorisme .

Aliran ini bertitik tolak dari anggapan , bahwa kesan-kesan dan ingatan sesungguhnya adalah
merupakan kegiatan-kegiatan organisme. Jika manusia tidak dapat diamati , tetapi kelakuan
jasmaniah dapat diamati. Kelakuan itulah yang dapat menjelaskan segala sesuatu tentang jiwa
manusia. Kelakuan itu adalah sebagai jawaban terhadap perangsang-perangsang atau stimulus
dari luar.

Implikasi adalah bahwa dengan mempelajari kelakuam-kelakuan manusia, maka dapat disusun
suatu program pendidikan yang serasi dan memuaskan.

B. FAKTOR-FAKTOR BELAJAR.

Dalam penyusunan kurikulum juga perlu kita perhatikan beberapa faktor belajar . faktor-faktor
tersebut adalah :

   1. Kegiatan Belajar.

Belajar memerlukan banyak kegiatan yang mana pengajaran yang efektif ialah apabila anak yang
aktif sedangkan guru bertindak selaku pembimbing.

   1. Latihan dan ulangan

Didalam kurikulum diperlukan suatu alokasi waktu yang memadai sehingga memungkinkan
untuk diberikan ulangan, latihan dan penggunaan hasil belajar.

   1. Kepuasan dan Kesenangan

Kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan para siswa dalam melakukan
kegiatan belajar, juga kepuasan akan muncul apabila siswa mengetahui akan perkembangan
belajarnya.

   1. Asosiasi dan Transfer.

Pengalaman –pengalaman yang diperoleh , antara pengalaman lama dengan pengalaman baru,
harus diasosiasikan agar menjadi suatu kesatuan. Pengalaman dan suatu situasi perlu diasosiakan
dengan pengalaman dan situasi lain sehinggan mudah untuk transfer hasil belajar.

   1. Pengalaman masa lampau.

Pengalaman dan pengertian yang telah dimiliki oleh siswa , akan memudahkan menerima
pengalaman –pengalaman baru.
   1. Kesiapan dan Kesedian Belajar.

Faktor kesiapan turut serta menentukan hasil belajar. Kesiapan mengandung arti kesiapan
mental, sosial, emosional dan fisik. Kesiapan akan memudahkan siswa belajar dan akan lebih
berhasil.

   1. Minat dan Usaha.

Belajar dengan penuh minat akan lebih mendorong untuk belajar lebih baik dan akan
meningkatkan hasil gelajar. Minat belajar akan timbul apabila siswa merasa tertarik terhadap apa
yang akan dipelajari .

   1. Psikologis.

Kesehatan dan keseimbangan jasmani siswa perlu mendapat perhatian sepenuhnya , oleh sebab
itu kondisi fisikologis ini akan berpengaruh pada kosentrasi, kegiatan dan hasil belajar.

   1. Intelegensi atau kecerdasan.

Kemajuan belajar juga ditentukan oleh tingkat perkembangan intelegensia, sehingga kurikulum
harus disusun berdasarkan tingkat intelengensi siswa.

Belajar dan Implikasinya terhadap penyusunan kurikulum adalah :

   1. Perenncanaan kurikulum harus bersifat fleksibel (luwes) dan menyediakan suatu program
      yang luas guna pengembangannya pangalaman-pengalaman belajar.
   2. Kurikulum harus dikembangkan berdasarkan latar belakang siswa dan keseluruhan
      lingkungannya agar pengalaman belajar yang diperolehnya bermakna dan bertujuan.
   3. Pengembangan kurikulum hendaknya memberikan pengalaman-pengalaman yang serasi
      dengan kebutuhan-kebutuhan penyesuaian diri dan mengembangkan kepribadian yang
      terintegrasi.
   4. Kurikulum disusun dan dilaksanakan dengan memperhatikan kesiapan para siswa, karena
      hal ini mempengaruhi proses pendidikan.
   5. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum hendaknya memungkinkan partisifasi aktif
      dan tanggung jawab para siswa baik secara perorangan maupun secara berkelompok.
   6. Penyusunan kurikulum hendaknya merupakan unit-unit yang luas dan menyeluruh serta
      memadukan pola-pola pengalaman yang bermakna dan bertujuan.
   7. Proses penyusunan dan pelaksanaan kurikulum hendaknya berusaha memberikan
      serangkaian pengalaman dimana para guru dan siswa terlibat bersama-sama yang
      mendorong keberhasilan belajar para siswa itu.
   8. Penyusunan kurikulum hendaknya disertai dengan kegiatan evaluasi yang merupakan
      faktor penting yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.

                                            BAB IV

                        PENGEMBANGAN BAHAN KURIKULUM
A. SEKITAR BAHAN KURIKULUM

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bahan kurikulum itu ? secara lebih teknis , Gall
mendefinisikan bahan kurikulum sebagai : “ Curriculum materials are physikal enttities,
representational in nature, used to facilitate the learning process (Gall, 1981: 5 ). Jadi bahan
kurikulum adalah sesuatu yang mempunyai sifat fisik , sifat mewakili dan yang dipergunakan
untuk mempermudah proses belajar. Lebih lanjut dijelaskan yang dimaksud dengan entitiss fisik
(Physical entities) adalah bahan kurikulum itu merupakan objek yang dapat diobservasi , bukan
hanya berupa ide-ide atau konsep.

Bahan yang bersifat representational dimaksudkan bahan kurikulum yang dapat menyampaikan
sesuatu yang lain lebih dari sekedar barangnya itu sendiri, misalnya buku sejarah, secara
bendanya itu sendiri tak mempunyai pengertian pengajaran, dan sebagai objek nyata ia dapat
dipandang sebagai sejumlah kertas yang berisi tulisan cetak. Buku sejarah tersebut dianggap
sebagai bahan pengajaran karena ia menyampaikan kejadian-kejadian sejarah serta pemikiran
tentang peristiwa tersebut.

Karakteristik bahan kurikulum yang lain adalah bahan itu secara sungguh-sungguh memberikan
fasilitas belajar . jadi bahan tersebut memang secara sengaja dirancang dan dibuat untuk maksud
pengajaran.

   1. B. HUBUNGAN PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PENYELEKSIAN
      BAHAN.

Seperti dikemukakan diatas, pengembangan bahan kurikulum merupakan salah satu bagian dari
pengembangan kurikulum secara keseluruhan. Adanya penggantian kurikulum yang berlaku
biasanya juga dimaksudkan untuk memajukan sekolah. Bahan pengajaran yang dimaksud harus
terlebih dahulu diseleksi dan disesuaikan dengan tujuanpengajaran disekolah itu secara
keseluruhan. Dengan demikian , penyeleksian bahan kurikulum tak dapat dipisahkan dengan
usaha pengembangan kurikulum maupun sekolah itu sendiri.

Perumusan tujuan kurikulum pada umumnya didasarkan pada konsep-konsep sifat belajar,
pelajar, dan masyarakat. Mc. Neil (1977) mengemukakan adanya empat perbedaan konsep yang
mempengaruhi pengembangan kurikulum dewasa ini, yaitu ; Pandangan Humanis, Rekontruksi
Sosial, Teknologi intruksional, dan disiplin Akademis.

Kurikulum yang dikembangkan atas dasar pandangan humanis misalnya, cenderung
merumuskan tujuan pendidikan dengan menekankan pada kebutuhan individual demi
pertumbuhan dan integritas personal. Dipihak lain pandangan rekontruksi sosial menekankan
pada pembaharuan masyarakat dan kebudayaan.

Penyeleksian bahan kurikulum baik oleh tim pengembang kurikulum maupun oleh guru secara
individual , harus secara cermat dilihat dari segi relevansinya dengan kurikulum yang
dikembangkan, hal itu dapat ditempuh melalui proses pengambilan , penganalisisan, dan
penilaian bahan. Jika bahan diseleksi lepas dari hubungannya yang lebih besar, ia akan
menghasilkan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan program pengajaran, dan itu berarti
menghilangkan kemungkinan siswa untuk menghubungankan dengan hal-hal lain.

   1. TAHAP – TAHAP PROSES ADOPSI BAHAN KURIKULUM.

Proses adopsi bahan memuncak pada keputusan untuk memilih atau merekomendasikan tentang
penyeleksian terhadap seperangkat bahan yang khusus. Jika kita menyeleksi bahan untuk diri
sendiri sebagai penerima dan kemudian mempergunakannya , walau penyeleksian itu tidak
bersifat formal dengan setiap langkah didukomentasikan dan dicek orang lain, ia harus sistematik
dan dapat dipertanggung jawabkan, tetapi jika penyeleksian bahan itu untuk orang lain , kita
harus bersifat dan bertindak formal dengan mengikuti-tahap-tahap tertentu yang dapat
dipertanggung jawabkan. Dalam hal ini biasanya dibentuk panitia penyeleksi bahan.

Proses penyeleksian bahan kurikulum yang bersifat formal terdiri dari sejumlah tahap, Gall (18 –
25) mengemukakan ada sembilan tahap yang harus dilalui yaitu :

   1.   Identifikasi kebutuhan.
   2.   Merumuskan misi kurikulum
   3.   Menentukan anggaran pembiayaan
   4.   Membentuk tim penyeleksi
   5.   Mendapatkan susunan bahan
   6.   Menganalisis bahan
   7.   Menilai bahan
   8.   Membuat keputusan adopsi
   9.   Menyebarkan, mempergunakan dan memonitor penggunaan bahan.

Setelah keputusan adopsi ditetapkan, maka selesailah tugas penyeleksian bahan kurikulum
sekolah . kegiatan selanjutnya adalah penyebaran bahan itu kesekolah-sekolah dan kemudian
memonitor bagaimana pelaksanaan dan hasilnya sebagai umpan balik.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:771
posted:4/3/2011
language:Indonesian
pages:5