Makalah teori Perubahan by rarijal

VIEWS: 5,455 PAGES: 15

									                                 Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.




                              PERUBAHAN SOSIAL
        (TEORI DAN ANALISA TERHADAP PRAKTIK PERUBAHAN YANG DILAKUKAN
                  NABI MUHAMMAD TERHADAP MASYARAKAT ARAB)
                             Oleh : Akh. Syaiful Rijal



BAB I : PENDAHULUAN
           Tak terbantahkan lagi, bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Ia tidak bisa
lepas dari kehidupan sosial. Ketergantungan manusia pada lingkungan sosial tidak bisa
dipisahkan dari upaya pemenuhan kebutuhannya. Adanya kebutuhan hidup inilah yang
mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan tersebut. Dalam hal ini, menurut Ashley Montagu, kebudayaan mencermin-
kan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya.1 Maslow mengidentifikasi
lima kelompok kebutuhan manusia, yakni kebutuhan fisiologi, rasa aman, afiliasi, harga
diri, dan pengembangan potensi.2
           Semua kebutuhan ini mendorong manusia untuk mengadakan interaksi dengan
manusia lainnya. Interaksi inilah yang nantinya akan melahirkan, bahasa, budaya, seni,
peradaban dan sebagainya. Semakin maju budaya dan peradaban suatu masyarakat,
berarti semakin maju pula kualitas manusianya.3
           Pada dasarnya semua masyarakat itu bersifat dinamis dan secara kuantitas
mengalami perubahan. Ada beberapa alasan yang mendasari adanya perubahan sosial,
antara lain: pertama, bahwa pada kenyataannya apa nampak merupakan sesuatu yang cacat
atau tidak benar; kedua, secara obyektif equally (sederajat-kesetaraan) tidak benar; dan
ketiga kajian kedua hal tersebut sangat relevan dan absah untuk menjadi landasan adanya
perubahan sosial.4
           Berdasarkan hal itulah, makalah ini akan menyoroti perubahan sosial itu secara
teoritis dan praktis guna menguji kebenaran suatu teori. Dalam hal ini, praktik yang dikaji
adalah perubahan yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap masyarakat Arab. Penulis
sengaja mengangkat praktik yang dilakukakn Nabi karena sifatnya yang fenomenal,
revolusioner, radikal, universal, dan mondial.

BAB II : TINJAUAN TEORITIS
A. Definisi Perubahan Sosial
        Wilbert Moore mendefinisikan perubahan sosial sebagai “perubahan penting dari
stuktur sosial” dan yang dimaksud dengan struktur sosial adalah “pola-pola perilaku dan
interaksi sosial".5 William F. Ogburn berpendapat, ruang lingkup perubahan sosial meliputi
unsur-unsur kebudayaan, baik yang material ataupun yang bukan material. Unsur-unsur

1 Ashley Montagu, Man: His First Million Years, (New York: Mentor, 1961), h. 85.
2 Abraham H. Maslow, Motivation and Personality, (New York: Harper, 1945).
3 Jujun S. Susiasumantri, Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar Populer, (Jakarta: Pancaranintan Indahgraha, 2007), h. 287.
4 Percy S. Cohen, Modern Social Theory, (London: Heinemann Educational Books, 1968), h. 204.
5 Wilbert E. Maore, Order and Change, Essay in Comparative Sosiology, (New York: John Wiley & Sons, 1967), h. 3.




                                                                                  Perubahan Sosial; Teori dan Analisis | 1
                                Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



material itu berpengaruh besar atas bukan-material. Kingsley Davis berpendapat bahwa
perubahan sosial ialah perubahan dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya,
dengan timbulnya organisasi buruh dalama masyarakat kapitalis, terjadi perubahan-
perubahan hubungan antara buruh dengan majikan, selanjutnya perubahan-perubahan
organisasi ekonomi dan politik.6 Mac Iver mengartikan perubahan sosial sebagai
perubahan hubungan-hubungan sosial atau perubahan keseimbangan hubungan sosial.
Gillin dan Gillin memandang perubahan sosial sebagai penyimpangan cara hidup yang
telah diterima, disebabkan baik oleh perubahan kondisi geografi, kebudayaan material,
komposisi penduduk, ideologi ataupun karena terjadinya digusi atau penemuan baru
dalam masyarakat. Selanjutnya Samuel Koeing mengartikan perubahan sosial sebagai
modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia, disebabkan oleh perkara-
perkara intren atau ekstern.7
         Akhirnya dikutip definisi Selo Soemardjan yang akan dijadikan pegangan dalam
pembicaraan selanjutnya. “Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-
lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya,
termasuka di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perkelakuan diantara
kelompok-kelompok dalam masyarakat”. Definisi ini menekankan perubahan lembaga
sosial, yang selanjutnya mempengaruhi segi-segi lain struktur masyarakat. Lembaga sosial
ialah unsur yang mengatur pergaulan hidup untuk mencapai tata tertib melalui norma.
B. Teori Perubahan Sosial
         Ada beberapa teori dalam perubahan sosial, yaitu teori siklik, teori evolusioner,
teori non evolusioner, teori fungsional dan teori konflik, serta teori-teori yang banyak
digunakan oleh ahli sosiologi dalam melihat perubahan sosial di negara-negara di dunia
ketiga.8
1. Teori Siklik
          Siklik merupakan sebuah lingkaran yang tidak mempunyai awal dan akhir.
    Penekanan dari teori siklik ini adalah bahwa sejarah peradaban manusia tidak berawal
    dan tidak berakhir melainkan suatu periode yang di dalamnya mengandung
    kemunduran dan kemajuan, keteraturan dan kekacauan. Artinya proses peralihan
    masyarakat bukanlah berakhir pada tahap terakhir yang sempurna melainkan
    berputar kembali pada tahap awal untuk menuju tahap peralihan berikutnya. Arnold
    Toynbee melihat bahwa peradaban muncul dari masyarakat primitif melalui suatu
    proses perlawanan dan respons masyarakat terhadap kondisi yang merugikan mereka.
    Peradaban meliputi kelahiran, pertumbuhan, kemandegan dan disintegrasi karena
    pertempuran antara kelompok-kelompok dalam memperebutkan kekuasaan.
2. Teori Evolusioner
            Para ahli teori ini cenderung melihat bahwa perubahan sosial merupakan
    suatu proses yang linear, artinya semua masyarakat berkembang melalui urutan
    perkembangan yang sama dan bermula dari tahap perkembangan awal sampai tahap
    akhir. Tatkala tahap akhir telah tercapai maka pada saat itu perubahan secara evolusi-
    oner telah berakhir. Tokoh dari teori ini antara lain adalah Auguste Comte, seorang
    sarjana Perancis, yang melihat bahwa masyarakat bergerak dalam tiga tahap perkem-

6 Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, (Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1974), h. 217
7 Ibid, h. 218
8 Judson R Landis, Sociology, Concepts and Characteristic, (California: Wadsworth Publishing Company, 1986), h. 321.




                                                                                Perubahan Sosial; Teori dan Analisis | 2
                                   Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



   bangan, yaitu: a. Tahap teologis (theological stage), b. Tahap metafisik (methaphysical
   stage), c. Tahap positif atau ilmiah (positive stage). Tokoh lainnya Emile Durkheim, yang
   lebih melihat bahwa perubahan sosial terjadi karena masyarakat beralih dari masyara-
   kat dengan solidaritas mekanik menjadi masyarakat dengan solidaritas organik.
              Herbert Spencer dengan mengacu pada teori evolusi organisme dari Darwin,
   menerapkan konsep Darwin, yaitu ”yang terkuatlah yang menang (survival of the
   fittest)”. Teori evolusi organisme memiliki kemiripan dengan evolusi sosial di mana
   peralihan masyarakat melalui berbagai tahapan yang berawal dari tahap kelompok
   suku yang cenderung bersifat homogen dan sederhana menuju masyarakat modern
   yang lebih kompleks. Sedangkan menurut Spencer, orang-orang yang cakap atau
   terampil sajalah yang dapat memenangkan perjuangan hidup, sedangkan orang-orang
   yang lemah dan malas akan tersisihkan.
              Selain itu, teori evolusi juga beranggapan bahwa fauna dimulai oleh binatang
   satu sel dua milyar tahun yang lalu, berujung dengan beberapa juta terakhir dengan
   manusia. Begitulah jagat raya dengan nebula serta bintang-bintangnya berubah. Bumi
   berubah. Hewan, tanaman, lautan, sungai, daratan, pegunungan, pantai pulau-pulau
   berubah serba terus.9
3. Teori Non-evolusioner
              Teori ini lebih melihat bahwa masyarakat bergerak dari tahap evolusi tetapi
   proses tersebut dilihat secara multilinear artinya bahwa perubahan dipengaruhi oleh
   berbagai faktor. Meskipun ada kesamaan dengan teori yang sebelumnya tetapi tidak
   semua masyarakat berubah dalam arah dan kecepatan yang sama. Tokoh teori ini
   antara lain adalah Gerhard Lenski, yang menyatakan bahwa masyarakat bergerak
   dalam serangkaian bentuk masyarakat seperti berburu, bercocok tanam, bertani dan
   masyarakat industri berdasarkan bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan hidup
   mereka. Dalam mempelajari konsep dari Lensky, maka perlu dipelajari konsep kunci
   dalam pernyataan Lenski, yaitu adanya continuity, inovation dan extinction. Ketiga elemen
   tersebut mengarah pada adanya keberagaman dan kemajuan di mana masyarakat
   menjadi semakin beragam selagi proses differensiasi terjadi dan kemajuan terjadi
   tidak hanya karena kondisi hidup yang semakin membaik tetapi juga pada perkemba-
   ngan tekhnologi.
4. Teori Fungsional
              Salah satu tokoh dari teori fungsional ini adalah Talcott Parsons. Ia melihat
   bahwa masyarakat seperti layaknya organ tubuh manusia, di mana seperti tubuh yang
   terdiri dari berbagai organ yang saling berhubungan satu sama lain maka masyarakat
   pun mempunyai lembaga-lembaga atau bagian-bagian yang saling berhubungan dan
   tergantung satu sama lain. Parson menggunakan istilah sistem untuk menggambarkan
   adanya koordinasi yang harmonis antar bagian. Selain itu karena organ tubuh
   mempunyai fungsinya masing-masing maka seperti itu pula lembaga di masyarakat
   yang melaksanakan tugasnya masing-masing untuk tetap menjaga stabilitas dalam
   masyarakat.
              Bagaimana hubungan antara teori fungsional dengan perubahan sosial? Perlu
   dipahami bahwa dalam melihat perubahan sosial, Parsons mengemukakan tentang
   konsep keseimbangan dinamis-stasioner, di mana bila ada perubahan pada satu

9   Sidi Gazalba, Antropologi Budaya Gaya Baru II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 121.


                                                                                    Perubahan Sosial; Teori dan Analisis | 3
                                 Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



   bagian tubuh manusia seperti juga pada satu bagian dalam masyarakat maka bagian-
   bagian yang lain akan mengikuti. Hal tersebut diupayakan agar tetap tercapai
   keseimbangan sehingga akan mengurangi ketegangan yang dapat muncul akibat
   perubahan tersebut. Hal ini berarti bahwa masyarakat bukanlah bersifat statis tetapi
   dinamis karena selalu mengalami perubahan yang diikuti oleh perubahan pada
   lembaga lain yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan yang baru.
5. Teori Konflik
           Menurut teori ini konflik akan muncul ketika masyarakat terbelah menjadi
   dua kelompok besar, yaitu yang berkuasa (bourjuis) dan yang dikuasai (proletar). Hasil
   dari pertentangan antar kelas tersebut akan membentuk suatu revolusi dan memun-
   culkan masyarakat tanpa kelas, maka pada kondisi tersebut terjadilah apa yang
   disebut dengan perubahan sosial. Ralf Dahrendorf, sebagai salah satu tokoh dalam
   teori konflik, menyatakan bahwa jika perkembangan masyarakat, kreativitas dan
   inovasi muncul terutama dari konflik antar kelompok maupun individu.10
C. Sumber-sumber Perubahan Sosial
          Suatu teori perubahan yang baik juga disinggung di sini ialah prinsip perubahan
imanen (dari dalam) yang dibicarakan oleh Sokorin dalam bukunya Social and Cultural
Dynamics. Suatu sistem sosio-budaya semenjak wujudnya tidak henti-hentinya bekerja dan
bertindak. Dalam menghadapi lingkungan tertentu sistem itu menimbulkan perubahan,
di samping dirinya sendiri juga ikut mengalami perubahan. Karena telah mengalami
perubahan, maka dalam menghadapi lingkungan yang sama dengan yang sebelumnya, ia
memberikan reaksi yang berbeda dari pada reaksinya yang pertama. Jadi lingkungan tetap
sama, tapi sistem itu dan reaksinya berubah. Demikianlah selanjutnya, reaksi yang ketiga
terhadap lingkungan yang sama mengalami pula perubahan. Perubahan tidak hanya pada
sistem dan reaksinya tapi juga pada lingkungan itu sendiri.11
          Secara garis besar, ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial,
yaitu faktor endogenous atau proses internal dan faktor exogenous:12
1. Faktor Internal (endogenous)
     a. Perubahan kependudukan
             Perubahan dalam kependudukan dapat berkaitan dengan perubahan kompo-
     sisi penduduk, distribusi penduduk termasuk pula perubahan jumlah, yang semua itu
     dapat berpengaruh pada budaya dan struktur sosial masyarakat. Komposisi
     penduduk berkaitan dengan pembagian penduduk antara lain berdasarkan usia, jenis
     kelamin, etnik, jenis pekerjaan, kelas sosial dan variabel lainnya. Pada umumnya
     komposisi penduduk dijelaskan melalui iramida penduduk yang akan menunjukkan
     prosentase jumlah penduduk berdasarkan variabel yang akan dijelaskan, misalnya
     berdasarkan usia atau jenis kelamin. Piramida penduduk yang diidealkan adalah
     piramida yang berbentuk pohon natal yang sempurna, di mana penduduk yang dalam
     usia produktif lebih banyak daripada yang belum atau sudah tidak produktif.
     b. Penemuan
             Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar tetapi terjadi dalam jangka
     waktu yang tidak lama adalah inovasi. Inovasi terbagi atas discovery dan inventions,

10 Ibid., h. 153.
11 Pitrim A. Sarokin, Social and Cultural Dynamies, (Boston: Sargent, 1957), h. 415
12 Percy S. Cohen, Modern Social Theory, h. 178.




                                                                                      Perubahan Sosial; Teori dan Analisis | 4
                                  Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



        keduanya bukanlah merupakan suatu tindakan tunggal melainkan transmisi sekumpu-
        lan elemen. Artinya semakin banyak elemen budaya yang dihasilkan oleh para
        penemu maka akan semakin besar terjadinya serangkaian discovery dan inventions.
        Misalnya penemuan tentang kaca akan membuat serangkaian penemuan baru
        misalnya lensa, perhiasan, botol, bola lampu dan lain-lain. Selanjutnya lensa akan
        melahirkan lensa kacamata, kaca pembesar, telescope dan lain-lain.
        c. Konflik dalam masyarakat
                Konflik dan perubahan sosial merupakan suatu proses yang akan terjadi
        secara alamiah dan terus menerus, tetapi Anda tidak dapat mengartikan bahwa setiap
        perubahan sosial yang muncul selalu didahului oleh konflik. Konflik atau pertenta-
        ngan dalam masyarakat dapat mengarah pada perubahan yang dianggap membawa
        kebaikan atau bahkan membawa suatu malapetaka.
2. Faktor Eksternal (exogenous)
    a. Lingkungan
            Manusia secara fisik tinggal di lingkungan dengan segala habitat yang ada di
    dalamnya, sehingga jika kita ingin tetap hidup maka kita harus dapat beradaptasi
    dengan lingkungan sekitar kita. Tetapi cara adaptasi dengan lingkungan melalui
    teknologi terkadang bahkan membuat lingkungan itu malah menjadi rusak. Banjir
    dan gempa bumi merupakan realitas yang menyebabkan manusia harus dapat
    menyesuaikan diri ataupun melakukan perubahan dalam kehidupan mereka sehingga
    dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada.
    b. Perang
            Perubahan dapat disebabkan kondisi perang dengan masyarakat atau negara
    lain atau dengan kata lain konflik dengan kelompok di luar masyarakat merupakan
    faktor eksternal dari sumber perubahan sosial. Dalam perang yang terjadi adalah
    adanya kelompok yang menang dan dapat menguasai kelompok lain, sehingga dalam
    penguasaan itu akan terjadi pemaksaan kebudayaan baru terhadap kelompok yang
    kalah. Kelompok yang kalah akan membuat suatu perubahan pada diri mereka
    karena mereka kalah perang.
    c. Pengaruh kebudayaan lain
            Budaya lain yang diterima oleh suatu masyarakat tanpa melalui suatu
    pemaksaan disebut dengan demonstration effect, atau dalam ilmu antropologi dikenal
    dengan istilah akulturasi. Contoh yang jelas di negara kita maupun di negara lain di
    dunia ini adalah budaya Amerikanisasi yang sudah tersebar di mana-mana.
    Amerikanisasi yang paling cepat dan mudah diterima oleh masyarakat adalah melalui
    jaringan makanan cepat saji atau restoran, seperti Kentucky Fried Chicken, Mac
    Donald atau Pizza Hut. Perubahan apa yang dibawa budaya Amerika tersebut? Yang
    paling mudah untuk dilihat adalah gaya hidup karena dengan makan di Mac Donald
    misalnya sudah pasti akan berbeda dengan makan di warung tenda pinggir jalan.13
D. Pola-pola Perubahan
       Apabila seseorang mempelajari perubahan masyarakat, perlu pula diketahui ke
arah mana perubahan dalam masyarakat itu bergerak. Yang jelas, perubahan bergerak
meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi setelah meninggalkan faktor itu, mungkin

13   Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, h. 325.


                                                                               Perubahan Sosial; Teori dan Analisis | 5
                                 Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



perubahan itu bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru, namun mungkin
pula bergerak ke arah suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang lampau. Ada
beberapa pola dalam perubahan sosial, antara lain:
1. Equilibrium, dalam konsep equilibrium yang stabil menyatakan bahwa melalui
    mekanisme integratif, berbagai macam unsur intern tetap terjaga dalam batas-batas
    dapat eksis mempertahankan kelangsungan pola-pola struktural yang pokok.
2. Diferensiasi sosial, yaitu pembedaan anggota masyarakat ke dalam golongan-
    golongan secara horizontal (tidak memandang perbedaan lapisan). Bentuk
    differensiasi ini biasanya berdasarkan ras, agama, jenis kelamin, pekerjaan dan lain
    sebagainya. Menurut Parsons, proses diferensiasi menimbulkan sekumpulan masalah
    integrasi baru bagi masyarakat. Ketika subsistem-subsistem berkembang biak,
    masyarakat berhadapan dengan masalah barudalam mengoordinasi operasi unit-unit
    yang baru muncul itu.
3. Konflik, biasanya konflik memiliki kecendrungan untuk saling meniadakan atau
    melenyapkan. Teori konflik berkembang sebagai reaksi terhadap fungsionalisme
    struktural. Menurut Dahrendorf, setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses
    perubahan. Teoritisi konflik melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang
    terhadap disintegrasi dan perubahan.14
4. Mobilitas status, dalam organisasi professional-birokratis berarti posisi yang
    ditempati seseorang dalam struktur sosial dan profesi.15 Sistem mobilitas status
    dinyatakan bekerja sepanjang kepercayaan rakyat mendukung sistem tersebut dan
    dikuatkan oleh pengalaman aktual. Artinya, sistem ini bekerja jika sebagian besar
    rakyat memperoleh pekerjaan yang diinginkan sesuai dengan apa yang diperoleh
    melalui pendidikan mereka.
5. Revolusi morfologi sosial, yaitu perubahan dalam kadar, kepadatan dan heterogenitas
    penduduk dan berdampak pada perubahan-perubahan yang terjadi kepada seseorang
    maupun masyarakat. Revolusi morfologi sosial merupakan hasil dari tiga perkemba-
    ngan, yang digerakkan oleh dan terkait dengan perkembangan yang keempat. Tiga
    perkembangan tersebut yaitu, 1. Population explosion (ledakan penduduk); 2. Population
    implosion (peningkatan konsentrasi); 3. Population diversification; sedangkan perkembang-
    an keempat adalah akselerasi laju perubahan teknologi dan sosial. Revolusi ini mem-
    bawa pada konsekuensi-konsekuensi munculnya berbagai masalah fisik, personal,
    sosial, institusional maupun pemerintahan.
E. Proses Perubahan
        Analisis tentang proses perubahan didasarkan atas asumsi adanya interdependen-
si antar berbagai bagian dari sistem sasial. Artinya, jika terjadi perubahan di satu sektor,
maka akan diikuti kebutuhan sektor lain menyesuaikan diri terhadap perubahan itu. Awal
dari proses perubahan biasanya adanya respons terhadap munculnya disorganisasi social,
baik disebabkan oleh aspek internal maupun eksternal. Philip Hauser melihat sumber
pokok yang kemudian sebagai penyebab utama proses perubahan adalah kontradiksi-
kontradiksi dan tuntutan-tuntutan yang demikian kuat antar masyarakat. Kontradiksi dan


14   George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori sosiologi modern, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 153.
15   Profesi menggambarkan tentang jenis pekerjaan dan job diskripsi yang berbeda-beda, baik uraian tugas maupun rangking
     status.


                                                                                Perubahan Sosial; Teori dan Analisis | 6
                                  Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



tuntutan itu tidak karena masalah relasi antar kelas atau ras, melainkan karena beragam-
nya lapisan demografi masyarakat.
        Perlu untuk dipahami bahwa suatu proses perubahan yang terjadi dalam
masyarakat akan selalu berkaitan dengan faktor pendorong yang dapat mempercepat
terjadinya perubahan, serta faktor penghambat yang dapat memperlambat ataupun
bahkan menghalangi terjadinya perubahan sosial itu sendiri. Faktor pendorong dan
penghambat akan selalu ada dalam setiap masyarakat tanpa terkecuali baik dalam
masyarakat yang masih menganut sistem nilai tradisional maupun masyarakat yang sudah
modern sekalipun, hanya mungkin bentuknya akan berbeda-beda tergantung pada
kondisi masyarakat yang bersangkutan.16
F. Bentuk Perubahan Sosial
        Apakah suatu perubahan yang terjadi itu mempunyai bentuk? Perlu dipahami
bahwa “bentuk” tidaklah mengacu pada sesuatu yang bersifat fisik tetapi lebih mengacu
pada proses suatu perubahan itu terjadi. Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat
dapat dibedakan dalam beberapa bentuk, meskipun demikian setiap bentuk perubahan
tersebut akan sulit dibedakan dalam batas garis yang jelas karena setiap bentuk
perubahan akan saling berkaitan satu sama lain.
1. Perubahan Lambat dan Cepat
             Suatu perubahan yang membutuhkan waktu lama dan diawali ataupun diikuti
    oleh sejumlah perubahan-perubahan kecil, dapat disebut dengan evolusi atau peruba-
    han yang lambat. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya usaha dari masyarakat
    untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru seiring dengan terjadinya
    perkembangan dimasyarakat secara luas. Sedangkan perubahan yang cepat mengacu
    pada adanya perubahan sosial yang berkaitan dengan sendi-sendi pokok kehidupan
    dimasyarakat seperti institusi sosial, perubahan seperti itu disebut dengan revolusi.
             Kecepatan perubahan revolusi bersifat relatif karena pada dasarnya revolusi
    dapat memakan waktu yang lama. Revolusi Industri misalnya tidaklah terjadi dalam
    waktu yang sebentar tetapi memakan waktu yang lama dimana adanya perubahan
    pada proses produksi suatu barang dari secara manual sampai berkembang dengan
    menggunakan mesin, yang selanjutnya menyebabkan ada perubahan antara lain
    dalam institusi ekonomi dimana biaya produksi yang murah dapat diperoleh dengan
    menggunakan tenaga kerja wanita dan anak-anak. Jadi, konsep cepat tidaklah
    mengacu pada waktu melainkan lebih pada unsur pokok dalam masyarakat yang
    mengalami perubahan seperti institusi keluarga, institusi politik dan lain-lain
2. Perubahan Kecil dan Besar
             Untuk membedakan suatu perubahan itu kecil atau besar akan sangat sukar
    untuk kita lakukan, karena batas perbedaannya sangatlah relatif. Soerjono Soekanto
    menyatakan bahwa perubahan pada unsur struktur sosial yang tidak membawa
    pengaruh yang berarti pada masyarakat dapat dikategorikan pada perubahan yang
    kecil.17 Misalnya perubahan pada bahasa dengan munculnya bahasa gaul, tidak
    membawa pengaruh yang berarti pada masyarakat.
             Sedangkan perubahan besar terjadi apabila terdapat perubahan pada institusi
    di masyarakat, misal dipakainya mesin traktor untuk membajak sawah membawa
16   Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, h. 326-330.
17   Ibid , h. 330.


                                                                               Perubahan Sosial; Teori dan Analisis | 7
                                Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



  perubahan yang drastis pada masyarakat pedesaan, antara lain pada pola kerja petani,
  hubungan petani penggarap dengan pemilik, stratifikasi masyarakat desa dan lain-lain.
BAB III : METODOLOGI
        Dalam menganalisa realitas perubahan yang sudah terjadi dan telah dibukukan
secara tertulis, dibutuhkan suatu teknik pengumpulan data yang relevan. Karenanya,
penulis menggunakan teknik dokumenter, yaitu memanfaatkan sebanyak-banyaknya buku-
buku atau literatur yang sudah ada sebelumnya. Diantara kegiatannya adalah mencari data
mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, majalah
prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya.18
        Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menganalisa data
dengan menggunakan teori tertentu. Karena datanya bersifat dokumenter, maka metode
yang cocok adalah content analysis atau kajian isi, yaitu metodologi penelitian yang
memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah
buku atau dokumen.19
        Selain itu, dalam menganalisa strategi dan langkah-langkah yang ditempuh oleh
Nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai pemimpin kaum muslimin dalam mengge-
rakkan, mengelola konflik, mengasimilasi berbagai elemen, dan mengevolusi peradaban
dan kebudayaan Arab ke arah yang lebih baik dan sempurna, maka penulis juga akan
menggunakan pendekatan teori konflik. Konflik dalam suatu hubungan bisa terjadi
akibat dari adanya komunikasi yang tidak baik antar individu, tidak adanya kerja sama
yang baik dari suatu hubungan, serta adanya pengambilan keputusan yang tidak mencapai
mufakat antar individu.20 Penggunaan teori ini dirasa perlu mengingat kebiasaan kabilah-
kabilah Arab yang suka berperang antara satu dengan lainnya untuk merebut supremasi.

BAB IV : HASIL DAN ANALISIS
A. Penyajian Data
       Sebelum kedatangan agama Islam, Semenanjung Arab di masa itu merupakan
suatu kawasan yang jauh dan terpencil dari peradaban dunia. Dari segi geopolitik, ia
adalah wilayah jajahan yang sering menjadi rebutan dua negara adidaya, yaitu Parsi dan
Romawi. Penduduknya lebih sengsara lagi, mereka sering dijadikan budak oleh penguasa
yang menjajahnya.
       Dari segi kepercayaan, mayoritas mereka adalah penganut paganisme, yaitu
menyembah berbagai macam benda yang dianggap memiliki kekuatan magis, seperti
matahari, bintang, bulan, gunung, dan sebagainya. Namun demikian, masih ada juga yang
tetap menganut agama samawi seperti Nasrani dan Yahudi.
       Moral meraka pun bobrok dan nyaris seperti binatang. Adalah suatu hal yang
lumrah jika kebanyakan mereka suka membunuh anak perempuan, berjudi, minum-
minuan keras, memerkosa, merampok, berperang dengan tujuan mempertahankan
kehormatan.21 Singkat cerita, Arab pra Islam adalah bangsa yang terbelakang, tidak

18 Buna’i, Penelitian Kualitatif, (Pamekasan: Perpustakaan STAIN Pamekasan Press, 2008), h. 98.
19 Lexy J. Moleong, Metode Penelitan Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), h.163.
20 Erich Kirchler, dkk, Conflict and Decision-Making in Close Relationships: Love, Money, and Daily Routines. (UK: Psychology

   Press Ltd, 2001)
21 Muhammad Sa'id Ramadan al-Buthi, Fiqh Sirah 1, terj. Mohd. Darus Sanawi, (Malaysia: Pustaka Fajar, 1983), h. 12.




                                                                                 Perubahan Sosial; Teori dan Analisis | 8
                               Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



pernah bersatu, suka berperang antar suku (kabilah) untuk merebut supremasi, bermoral
rendah, diliputi takhayul dan sesat. Wajar jika mereka disebut jahiliyah.
         Setelah Nabi Muhammad SAW menerima risalah kenabian pada usia 40 tahun,
mulailah beliau mendakwahkan ajaran Islam di tengah-tengah ketersesatan masyarakat
mekah. Pengikut Nabi semakin bertambah jumlahnya 3-4 tahun masa dakwah Nabi
tercatat 40 orang yang beriman.22 Dahwah Nabi dikenal dengan dakwah secara
sembunyi-sembunyi seperti yang digambarkan dalam al-Qur'an surah Al-Mudassir ayat
1-7. Setelah dakwah secara samar dirasa cukup dan atas perintah Allah, Nabi melakukan
dakwah terang-terangan seperti yang digambarkan oleh al-Qur'an: “Maka sampaikanlah
dakwah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari
orang-orang musrik”.23
         Dakwah Nabi Muhammad secara terang-terangan mendapatkan reaksi keras dari
orang-orang Quraisy Mekah. Penolakan ini tidak serta-merta karena tidak mengakui
kebenaran agama baru yang dibawa Nabi, yaitu ajaran tauhid Islam, tetapi justru di
karenakan agama Islam itu menghendaki perombakan sosial dan politik yang mengancam
sebagian pemuka orang-orang Quraisy.24 Hal ini dikuatkan dengan kenyatan di waktau
itu. Para lawan-lawan Nabi yang menolak dengan keras telah mengambil bentuk
manuver-manuver pribadi dan keluarga serta oposisi-oposisi kesukuan untuk menulak
ajaran Nabi seperti yang dilakukan oleh Abu Lahab dan Abu Jahl 25, akan tetapi semua
kompromi yang ditawarkan oleh lawan-lawan Nabi ditolaknya.
         Beberapa tahun Nabi hampir bisa dikatakan leluasa menyebarkan agama Islam di
bawah perlindungan pamannya (Abu Thalib) sampai akhirnya tiba masa /tahun duka cita
secara khusus pada nabi dan secara umum pada ummat Islam. Nabi berduka karena pada
tahun itu orang-orang dekat Nabi, Abu Thalib dan istri Nabi, Khadijah wafat. Bagi Nabi
dan bagi ummat Islam kejadian ini merupakan petaka baru karena paman nabi wafat,
lawan-lawan ummat Islam lebih leluasa melakukan penulakan atas ajaran Nabi, sehingga
setelah tahun duka cita itu ummat Islam diteror, disiksa dan dibaikot perekonomeannya,
sebagai bukti, dakwah Nabi harus berpindah-pindah dari tempat yang agak terpencil ke
tempat terpencil lainnya; pengikut Islam dari kalangan budak mendapat siksaan fisik;
para saudagar yang mengimani ajaran Nabi dibaikot,26 seperti yang dialami oleh Abu
Bakar misalnya, berkurang dari 400 ribu menjadi 5 ribu dirham.27
         Keadaan ummat Islam pasca meninggalnya Abu Thalib semakian hari semakin
tidak menguntungkan bagi ummat Islam untuk menyabarkan agama Islam dan tetap
bertahan di kota mekah, disaat Abu Thalib masih hidup, Nabi menyarankan kepada
pengikutnya untuk mengungsi ke negri tetangga, Abessinia, pada bulan keujuh dari bulan
kenabian, 11 laki-laki termasuk Utsman dan empat wanita hijrah ke Abyssinia. Dua bulan
kemudian dilakukan hijrah kedua yang terdiri dari 101 mukmin diantaranya 18 terdapat
wanita, hikmah yang dapat diambil dari hijrah ini adalah timbulnya kesadaran dalam hati
orang-orang mukmin yang tinggal di Mekah tentang adanya negeri-negeri tetangga

22 Prof. K. Ali, Sejarah Islam; Tarikh Pramodren, (Jakarta: Srigunting, 2003), Cet. Ke-IV, h. 45-46.
23 QS. al-Hijr (15): 94.
24 Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 6.
25 Marshall G. S. Hudgson, The Venture of Islam; Iman dan Sejarah dalam Peradapan Dunia, (Jakarta: Paramadina, Cet. II.),

   h. 244-255.
26 Martin Lings, Muhammad ; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, (Jakarta: Serambi, 2002), Cet. I, h. 143-154.
27 Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi; Sebuah Biografi Kritis, (Jakarta: Risalah Gusti, 2001), Cet. IV, h. 182.




                                                                               Perubahan Sosial; Teori dan Analisis | 9
                                  Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



sebagai tempat pengungsian yang aman,28 meskipun disisi lain, hijrah ini telah menimbul-
kan petaka baru yang lebih dahsat yaitu meningkatnya siksaan kepada kaum mu’min.
terlebih setelah Abu Thalib meninggal.
          Bermula dari pertemuan dan rasa tertariknya Nabi kepada enam orang yang
berkumpul pada saat Bulan Haji yang dilihat sebagai orang asing dari Yatsrib, pada waktu
itu pula Nabi menyampaikan seruan kepada mereka untuk mengimani dan mendengar-
kan serua-seruan Tuhan, dan Nabi menanyakan kepada mereka, apakah mereka akan
menerima dan melindungi Nabi seandainya Nabi mengungsi ke negeri mereka? Keenam
pemuda tersebut mengimani ajaran Nabi dan berbai'at kepada Nabi.29 Dari perkenalan
tersebut yang menjadi cikal-bakal hijrahnya Nabi ke Yastrib dan belakangan kota ini
disebut dengan Madinatun Nabi (Madinah).
          Nabi Muhammad tiba di Yatsrib disambut dengan hangat oleh masyarakat
Yastrib. Mereka lalu mengubah nama negara ini menjadi Madinatun Nabi (Kota Nabi) 30,
dalam rangka menyambut kedatangan Nabi. Ketika Nabi dan kaum muslimin (muhajirin)
menetap di Madinah, beliau melakukan asimilasi antara kaum Muhajirin dengan kaum
Anshar melalui perkawinan dan sebagainya. Tujuannya adalah agar kedua golongan itu
dapat menyatu secara emosional di bawah bimbingan Nabi.
          Program awal yang dilakukan oleh Nabi setiba di Madinah adalah merencanakan
membangun masjid, Nabi bersama dengan masyarakat Madinah bekerja bhakti untuk
mendirikannya dan masjid inilah yang pertama dalam sejarah Islam31. Selanjutnya beliau
mulai menata kehidupan kaum muslimin dalam berbagai bidang, antara lain:
1. Bidang Politik
             Pada saat Nabi tiba di Madinah, masyarakatnya terbagi dalam berbagai
     golongan sebagaimana akan diterangkan berikut ini :
             Kelompok Muhajirin, pengikut Nabi yakni orang-orang mukmin yang
     meninggalkan tanah kelahiran mereka dan terut berhijrah ke Madinah. Kesetian
     kaum Muhajirin terhadap perjuangan Nabi sangat besar. Mereka bersedia berhijrah
     dengan meninggalkan sahabat-sahabat dekat dan sanak keluarga dan mereka tabah
     menghadapi penderitaan dan cobaan dalam perjuangan di jalan Allah.
             Kelompok Anshar, pengikut Nabi yang menjadi penduduk asli negeri
     Madinah yang sedikit banyak telah memberikan pertolongan kepada Nabi, dengan
     ramah hati mereka menyambut kehadiran Nabi di tengah-tengah mereka, dan sesuai
     dengan Perjanjian 'Aqobah mereka bersedia membantu Nabi dalam kondisi
     bagaimana pun juga, kaum Anshar turut aktif dalam segala program Nabi bahkan
     mereka bersedia mengorbankan harta kekayaan untuk kepentingan perjuangan Islam.
     Mereka tidak hanyak memberikan perlindungan tempat tinggal, tetapi memberikan
     perlindungan kesejahteraan hidup. Ikatan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan
     Anshar semakin bertambah erat ketika Nabi menetapkan bahwa antara kedua
     kelompok ini saling mewarisi harta kekayaan. Masyarakat Madinah penyembah
     Berhala turut menyambut kedatangan Nabi. Baik yang beriman maupun yang tidak
     beriman, semuanya bersedia melindungi dan membela Nabi Muhammad. Tetapi


28 Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 48.
29 Ibid, h. 53.
30 Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas, (Jakarta: Rajawali Pers, 2002), Cet. III, h. 241.
31 Karen Armstrong, Islam; Sejarah Singkat. (Jakarta: Jendela, 2002), Cet. I, h.18-19.




                                                                                      Perubahan Sosial; Teori dan Analisis |10
                                   Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



   setelah Islam semakin berkembang pesat, kelompok non muslim Madinah mulai
   cemas dengan kedudukan Nabi. Penganut agama Yahudi di Madinah mempunyai
   pendirian dan sikap yang berbeda-beda. Mereka bersama dengan masyarakat
   Madinah turut menyambut kehadiran Nabi, pada mulanya Nabi mengakui
   keberadaan agama mereka bahkan Nabi menggolongkan mereka sebagai Ahlul-kitab.
   Sebagai setrategi untuk menjalin persahabatan Nabi bahkan melestarikan sebagian
   kebiasaan dan praktek keagamaan mereka. Sementara sebagian penganut Yahudi
   senantiasa berusaha menggeser kepemimpinan Nabi tetapi ketika terbukti bahwa
   mereka tidak berhasil menggesernya, perlahan-lahan mereka mengurangi dukungan-
   nya terhadap Nabi bahkan mereka berusaha menjalin kerjasama dengan Quraisy
   Mekkah untuk memusihi Nabi.32
           Semenjak datang ke Madinah Nabi mencurahkan perhatiannya untuk
   mengendalikan suasana politik masyarakat Madinah, khususnya mendamaikan suku
   Auz dan Khazraj yang telibat pertikaian panjang dimana dari kedua auku ini saling
   menguasai dan mengalahkan, sampai pada akhirnya kedua suku ini dapat didamaikan
   oleh Nabi sehingga kedua suku yang berpengaruh di Madinah ini masuk Islam.33
   Kebijakan politik yang juga ditempuh Nabi adalah upaya menghapus jurang pemisah
   antar suku-suku dan berusaha menyatukan penduduk Madinah sebagai suatu
   kesatuan masyarakat Anshar, pada sisi lainnya Nabi berusaha mempererat hubungan
   antara masyarakat Anshar dan Muhajirin, dalam hal ini kebijakan yang ditempuh
   Nabi bersandar pada prinsip saling hidup dan menghidupi, meningkatkan kehidupan
   yang rukun dan harmunis.
2. Bidang Pemerintahan
           Kekuasaan tertinggi pemerintahan Islam bersandar pada kekuasan Allah yang
   senantiasa menurunkan wahyu al-Qur’an kepada Nabi Mahammad. Sebagaimana
   yang terkandung dalam al-Qur’an berlaku bagi seluruh umat Islam, termasuk bagi
   nabi sendiri yang menjabat sebagai penguasa negeri Islam dalam urusan-urusan yang
   tidak ditetapkan oleh al-Qur’an maka keputusannya berada ditangan Nabi dalam
   urusan tersebut kedudukan Muhammad adalah sebagai kepala pemerintahan. Jadi
   Nabi menjabat peran atau fungsi ganda yaitu: sebagai fungsi kenabian dan fungsi
   kepemerintahan. Sekalipun Nabi menjabat sebagai otoritas tertinggi, namun beliau
   sering mengajak musyawarah para sahabat untuk memutuskan masalah-masalah
   penting.
           Langkah kebijakan yang pertama kali ditempuh Nabi setiba di Madinah
   adalah menbangun masjid, yang kemudian dikenal sebagai masjid Nabawi, yang
   merupakan pusat pemerintahan Islam. Selain tempat ibadah masjid tersebut juga
   berfungsi untuk kantor pemerintah pusat dan sebagai kantor peradilan. Beliau
   memimpin sholat jemaah dan menyelenggarakan seluruh kegiatan kenegaraan di
   dalam masjid ini. Di dalam masjid ini pula Nabi melakukan kegiatan administrasi juga
   urusan surat menyurat dan pendelegasian misi dakwah kebeberapa penguasa dan
   suku-suku di sekitar Semenanjung Arabia. Pendek kata mesjid ini merupakan
   sekretariat pusat Nabi.

32   Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 62-63.
33   Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: Rajawali Pers, 2003), Cet XV, h. 25. Lihat juga:
     Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: PT. AL Husna Zikra, 1997), Cet. IX, h. 119.


                                                                                     Perubahan Sosial; Teori dan Analisis |11
                               Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



            Berangkat dari dua fungsi yang diperankan oleh Nabi tersebut, maka Nabi
   selain kedudukannya sebagai Rasul (pemimpin agama) dan sekaligus menjadi Kepala
   Negara. Secara garis besar, Nabi adalah pertama kali yang meletakkan dasar-dasar
   politik, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan.34
3. Bidang Kemiliteran
            Nabi adalah pemimpin tertinggi tentara muslim. Beliau turut terjun dalam 26
   atau 27 peperangan dan ekspedisi militer. Bahkan Nabi sendiri yang memimpin
   beberapa perang yang besar misalnya Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq,
   Perang Hunayn, dan dalam penaklukan kota Mekkah. Adapun peperangan dan
   ekspedisi yang lebih kecil pimpinan diserahkan kepada para komandan yang ditunjuk
   oleh Nabi pada saat itu belum dikenal peraturan kemiliteran. Setiap ada keperluan
   pengerahan kekuatan meliter dalam menghadapi suatu peperangan atau ekspedisi,
   maka Nabi mengumpulkan tokoh-tokoh untuk memusyawarahkan perihal tersebut.
   Pada masa-masa awal pasukan muslim yang dapat dihimpun Nabi tidak seberapa
   jumlahnya, tetapi pada akhir masa pemerintahan nabi terbimpunm meliter yang
   sangat besar.pada perang badar Militer muslim hanya terdiri 313 pejuang, tetapi pada
   ekspedisi akhir masa Nabi, yakni ekspedisi ketabuk, armada muslim lebih dari 30.000
   pasukan. Mereka adalah para pejuang yang disiplin tinggi selain itu mereka memiliki
   muralitas yang tinggi pula mereka dilarang melanggar disiplin perjuangan Islam. Jika
   melanggarnya, atas mereka hukuman yang sangat berat.35
4. Bidang Pendidikan
            Sekalipun tidak mengenyam pendidikan, Nabi sangat gigih menganjurkan
   kewajiban menuntut ilmu pengetahuan. Beliau selalu mendorong masyarakat muslim
   untuk belajar. Betapa sikap Nabi dalam mendorong kegiatan pendidikan terlihat
   dalam satu sabdanya: bahwasanya tinta seorang alim lebih suci dari pada darahnya
   para sahid. Setelah hijrah kemadinah nabi mengambil prakarsa mendirikan lembaga
   pendidikan. Pasukan yang tertawan dalam Perang Badar dibebaskan dengan sarat
   mereka masing-masing mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak-anak muslim.
   Semenjak saat itu kegiatan baca tulis dan kegiatan pendidikan lainnya berkembanga
   dengan pesat dikalangan masyarakat Madinah. Selanjutnya Madinah menjadi pusat
   pemerintahan Islam tetapi sekaligus menjadi pusat pendidikan Islam. Pada saat itu di
   Madinah terdapat 9 lembaga pendidikan yang mengambil tempat di masjid-masjid.
   Di tempat inilah Nabi menyampaikan pelajaran dan berdiskusi dengan murid-
   muridnya, para wanita belajar bersama dengan laki-laki, bahkan Nabi memerintahkan
   agar para tuan mendidik budaknya lalu mereka hendaknya memerdekakannya. Pada
   tiap-tiap kota diselenggarakan semacam pendidikan tingkat dasar sebagai media
   pendidikan anak-anak. Ketika Islam telah tersebar ke seluruh penjuru Jazirah Arabia,
   Nabi mengatur pengiriman muallim atau guru agama untuk ditugaskan mengajarkan
   al-Qur’an kepada suku-suku terpencil.36
       Dengan pembenahan di segala bidang, secara perlahan kaum muslimin
khususnya, dan masyarakat Arab umumnya tumbuh dan berkembang mnenjadi suatu
peradaban baru yang unggul. Karena prestasinya ini, kekuatan kaum muslimin mulai

34 Departemen Agama RI, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Direktorat Jendral Depag, 2002), h. 61-63.
35 Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 128-129.
36 Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 129-130.




                                                                               Perubahan Sosial; Teori dan Analisis |12
                                    Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



dikhawatirkan oleh banyak pihak. Dengan landasan tauhid dan akhlak, Nabi telah
berhasil membimbing masyarakat Arab ke arah yang tinggin budaya dan peradabannya.
B. Analisis
          Perubahan masyarakat yang berlangsung dalam abad pertama Islam tiada tara
bandingannya dalam sejarah dunia. Kesuksesan Nabi Besar Muhammad SAW. dalam
merombak masyarakat jahiliyah Arab, membentuk dan membinanya menjadi suatu
masyarakat Islam, masyarakat persaudaraan, masyarakat demokratis, masyarakat dinamis
dan progresif, masyarakat terpelajar, masyarakat berdisiplin, masyarakat industri,
masyarakat sederhana, masyarakat sejahtera adalah tuntunan yang sangat sempurna dan
wahyu ilahi. Allah berfirman, “Kitab ini tidak ada keraguan atasnya bagi orang-orang yang
bertakwa” (Q.S. al-Baqarah : 2).
          Nabi Muhammad adalah Nabi yang paling sukses diantara para pemimpin
agama, mendapat pengakuan dunia. Ajaran Islam yang dibawanya berhasil dan kuasa
membasmi kejahatan yang sudah berurat berakar, penyembahan berhala, minuman keras,
pembunuhan dan saling bermusuhan sampai tidak berbekas sama sekali, dan Muhammad
berhasil membina di atasnya suatu bangsa yang berhasil menyalakan ilmu pengetahuan
yang terkemuka, bahkan menjadi sumber kebangunan Eropa.
          Proses perubahan masyarakat yang digerakkan oleh Muhammad adalah proses
evolusi. Proses itu berlangsung dengan mekanisme interaksi dan komunikasi sosial,
dengan imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Strategi perubahan kebudayaan yang
dicanangkannya adalah strategi yang sesuai dengan fitrah, naluri, bakat, azas atau tabiat-
tabiat universal kemanusiaan. Strategi yang ditempuhnya mampu mewujudkan
perdamaian, mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera, persaudaraan, dan
ciri-ciri masyarakat Islam yang dibicarakan di atas tadi.
          Walaupun demikian Muhammad harus mempersiapkan bala tentara untuk
mempertahankan diri dan untuk mengembangkan dakwahnya, adalah karena tantangan
yang diterima dari kaum Quraish dan penantang-penantang jahiliyah lainnya untuk
menghapuskan eksistensi Muhammad dan pengikutnya. Justru karena tantangan itu,
kaum muslimin kemudian tumbuh dengan cepat dan mengembangkan masyarakat dan
kebudayaan dengan sempurna.
          Dalam situasi yang demikian, kita perlu merenungkan mengapa Muhammad
SAW, junjungan kita, panutan kita, mampu membuat perubahan suatu masyarakat
bodoh, terkebelakang, kejam, menjadi suatu masyarakat sejahtera, terpelajar, dinamis dan
pogresif dalam waktu yang begitu singkat. Perubahannya bersifat universal, struktural,
massif, dan dalam waktu yang relatif singkat. Hal itu tentunya tidak lepas dari sifat dan
kepemimpinan Nabi. Kepemimpinan memang tidak bisa dilepaskan dari pembahasan
mengenai pemimpin itu sendiri. Karena, kepemimpinan bisa dipelajari dari apa yang
dilakukan oleh pemimpin.37 Kepemimpinan itu sendiri merupakan suatu hubungan
interperonal yang memiliki pengaruh dari seseorang terhadap orang lain meliputi adanya
suatu proses komunikasi efektif yang berguna untuk mencapai tujuan dari suatu
kelompok.38
          Dari semua itu, suatu konklusi patut diketengahkan: Nabi Muhammad telah
berhasil melakukan perubahan yang sangat fundamental terhadap masyarakat Arab
37   Ruth V. Russel, Leadership in Recreation (3rd ed.). (Singapore: McGraw-Hill Inc., 2006)
38   Ibid.


                                                                                     Perubahan Sosial; Teori dan Analisis |13
                             Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



secara mental, emosional, moral, dan merubah masyarakat yang jahiliyah menjadi
masyarakat yang berperadaban tinggi dan agung di segala bidang dalam waktu singkat.
BAB V : PENUTUP
        Agama Islam mampu, bahkan justeru berfungsi, untuk mengawal dan mengarah-
kan perubahan-perubahan sosio-budaya, baik perubahan lembaga dan norma-normanya
ataupun konsepsi-konsepsi. Karena ia (berbeda dengan agama Nasrani yang hanya
mengatur urusan agama) memberikan prinsip dan asas kebudayaan dan menentukan arah
perubahan masyarakat. Prinsip, asas dan arah itu bersifat serba tetap. Kembali kita
kepada teori Islam. Agama yang serba tetap menggariskan pegangan hidup, menentukan
prinsip dan asas yang serbatatap sosio-budaya dan menunjukkan tujuan kehidupan.
Pelaksanaan sosio-budaya boleh berubah serba-terus yang dilaksanakan oleh akal, tapi
tetap dalam pola yang digariskan oleh agama. Maka perubahan-perubahan itu tidak
menimbulkan krisis. Pengalaman yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad di
Madinah dalam mengasimilasi, mengintegrasi, memobilisasi, dan membentuk peradaban
baru yang agung bisa dijadikan sebagai bukti sekaligus pelajaran, bahwa Islam mampu
menginisiasi, mengonsep, dan mengimplementasikan perubahan secara baik dan rapi.
        Agar agama Islam kembali berperanan dalam perubahan-perubahan sosio-budaya
umat Islam, konsepsi Islam yang lengkap dan utuh perlu diamankan, yaitu perpaduan agama
Islam dengan kebudayaan Islam. Asas dan prinsip kebudayaan dikembalikan kepada
agama untuk menentukannya, sehingga norma-norma sosial dikawal dan diarahkan oleh
dan berlandaskan spirit keagamaan. Walla>hu a'lam bi al-s{awa>b.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, K. 2003. Sejarah Islam; Tarikh Pramodren, Jakarta: Srigunting, Cet. Ke-IV.
Al-Buthi, Muhammad Sa'id Ramadan. (t.th). Fiqh Sirah 1, terj. Mohd. Darus Sanawi, 1983. Malaysia:
            Pustaka Fajar.
Armstrong, Karen. 2001. Muhammad Sang Nabi, Sebuah Biografi Kritis, Jakarta: Risalah Gusti, Cet. IV.
________ 2002. Islam; Sejarah Singkat. Jakarta: Jendela, Cet. I.
Buna’i. 2008. Penelitian Kualitatif, Pamekasan: Perpustakaan STAIN Pamekasan Press.
Cohen, Percy S. 1968. Modern Social Theory, London: Heinemann Educational Books.
Departemen Agama RI. 2002. Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Direktorat Jendral Depag.
Gazalba, Sidi. 1974. Antropologi Budaya Gaya Baru II, Jakarta: Bulan Bintang.
Glasse, Cyril. 2002. Ensiklopedi Islam Ringkas, Jakarta: Rajawali Pers, Cet. III.
Hudgson, Marshall G. S. The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Jakarta: Paramadina,
            Cet. II.
Kirchler, Erich, dkk. 2001. Conflict and Decision-Making in Close Relationships: Love, Money, and Daily Routines.
            UK: Psychology Press Ltd.
Landis, Judson R. 1986. Sociology, Concepts and Characteristic, California: Wadsworth Publishing Company.
Lings, Martin. 2002. Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Jakarta: Serambi, Cet. I.
Maore, Wilbert E. 1967. Order and Change; Essay in Comparative Sosiology, New York: John Wiley & Sons.
Maslow, Abraham H. 1945. Motivation and Personality, New York: Harper.
Moleong, Lexy J. 2000. Metode Penelitan Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Montagu, Ashley. 1961. Man: His First Million Years, New York: Mentor.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2004. Teori sosiologi modern, Jakarta: Kencana.
Russel, Ruth V. 2006. Leadership in Recreation (3rd ed.). Singapore: McGraw-Hill Inc.
Soekanto, Soerjono. 1974. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.
Sarokin, Pitrim A. 1957. Social and Cultural Dynamies, Boston: Sargent.
Susiasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar Populer, Jakarta: Pancaranintan Indahgraha.



                                                                          Perubahan Sosial; Teori dan Analisis |14
                             Filsafat Ilmu: Prof. Dr. H. Abdullah Khazin Afandi, MA.



Syalabi, Ahmad. 1997. Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. AL Husna Zikra, Cet. IX.
Yatim, Badri. 2003. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II, Jakarta: Rajawali Pers, Cet XV.




                                                                          Perubahan Sosial; Teori dan Analisis |15

								
To top