fililmu teori konflik

Document Sample
fililmu teori konflik Powered By Docstoc
					         UJIAN NASIONAL DALAM TINJAUAN TEORI KONFLIK
                             Oleh : Akh. Syaiful Rijal

A. Pendahuluan
         Seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bekasi, Jawa Barat
  nekat membakar sekolahnya, belum lama ini. Ia mengaku melakukan itu karena
  kecewa setelah dinyatakan tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN) silam. Sang siswa
  tidak menyangka akan gagal dalam tahap yang menentukan itu. Namun tidak hanya
  kekecewaan yang dia dapatkan, kemarahan sang kakak atas ketidaklulusan itu
  membuatnya kalut dan memicu niat membakar sekolah.Sementara di Jakarta seorang
  pelajar mencoba bunuh diri. Di Pontianak, Kalimantan Barat, seorang pelajar nekat
  menghabisi nyawanya karena frustrasi tidak lulus UN.
         Bagi kebanyakan warga Indonesia, persoalan pendidikan merupakan hal yang
  sangat penting. Bahkan berkembang logika instan: pendidikan identik dengan peluang
  kerja dan kesejahteraan.Tak heran jika tiap tahun ajaran baru banyak orang tua
  berlomba-lomba mencarikan sekolah terbaik dan terfavorit bagi anaknya. Harapannya
  sang anak dapat nilai baik dan kembali melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Dan
  akhirnya mendapatkan pekerjaan.Tanpa disadari, logika dan pemahaman semacam
  inilah yang sedikit banyak memicu terkikisnya rasa percaya diri siswa. Dan perlahan
  mengubah standar sebuah kesuksesan hidup. Ukuran kesuksesan tak lebih ditakar
  dari prestasi akademis. Bak gayung bersambut, situasi ini juga disuburkan harapan
  berlebih dari orang terdekat --entah orang tua atau guru--. Walhasil, mereka yang
  belum bisa mencapai prestasi akademis akan mudah putus asa, stress, depresi dan
  "potong kompas", bahkan mengambil jalan pintas: bunuh diri.
         Pemasalahan UN ini tidak hanya mendapat pertentangan dari kalangan siswa
  dan masyarakat namun juga kalangan akademik dan lembaga pemerintah itu sendiri
  seperti lembaga Dewan Pertimbangan Agung yang mengusulkan pada pemerintah
  untuk mempertimbangkan kembali pelaksanaan UN.
         Apa yang menyebabkan terjadinya konflik-konflik ini dan bagaimana
  menanggulanginya? Untuk pengidentifikasian masalah di atas perlu kiranya kita
  lakukan dengan pendekatan teori konflik.



                                                                                    1
B. Pembahasan
       Untuk lebih memahami permasalahan di atas tentunya kita akan ulas terlebih
  dahulu pembahasan secara umum tentang UNAS atau UN dan teori konflik.

  1. Ujian Nasional
            Ujian, dalam sebuah proses pendidikan, sejatinya merupakan sarana
     evaluasi. Laiknya sebuah evaluasi, yang menentukan adalah penyikapan kita.
     Ujian, apapun bentuknya pada dasarnya merupakan sebuah proses yang mesti
     dijalani untuk mencapai tingkat lebih tinggi.
            Ujian Nasional (UN) merupakan usaha pemerintah untuk mewujudkan
     tujuan pendidikan yang lebih baik di Indonesia, sebagaimana yang telah
     dicanangkan dalam UUD 1945 dan GBHN. Hasil UN, selain digunakan untuk
     penentuan kelulusan juga untuk menentukan kelanjutan sekolah siswa di jenjang
     pendidikan berikutnya. Makin tinggi nilai UN SMP dan MTs, makin besar
     kemungkinan diterima sebagai siswa baru di SMA dan MA. Begitu pula
     sebaliknya. Di sisi lain meski hasil UN SMA dan MA untuk penentuan kelulusan,
     tetapi tidak untuk menentukan mahasiswa baru PTN dan PTS. Hal ini dtetapkan
     untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan nasional, pada tahun 2004
     Departemen Pendidikan Nasional kembali menaikkan standar kelulusan dari 3,01
     menjadi 4,01. Sebenarnya angka nilai minimal 4,01 ini terbilang masih sangat
     rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain yang lebih maju yang
     mempunyai batas minimal nilai enam. Depdiknas juga mengeluarkan keputusan
     dengan meniadakan Ujian Ulang. Dari tahun tahun-ke tahun standar minimal nilai
     UN semakin meningkat.
            Dengan ketentuan seperti itu, hampir semua siswa SMP dan MTs berjuang
     keras mencapai nilai UN setinggi mungkin. Namun, ini tak berlaku bagi siswa
     SMA dan MA; yang berprinsip biar saja hasil UN "amburadul" asal lolos di PTN
     atau PTS yang dikehendaki. Dalam teori pendidikan, kata seorang pelaku
     pendidikan, ada yang disebut incentive learning. Suatu ujian dilaksanakan
     sedapat mungkin untuk memberi motivasi, semangat, dan dorongan belajar bagi


                                                                                 2
   siswa yang menjalani ujian itu.Bisa dibayangkan jika hasil UN tidak digunakan
   untuk menentukan kelulusan, maka akan semakin banyak siswa yang tidak serius
   dalam menjalani pendidikan.

2. Teori Konflik
         Agar bisa merespon konflik secrara tepat, kita perlu memahami level
   (tingkatan) konflik. Ada konflik yang levelnya individual dan ada pula konflik
   yang levelnya kelembagaan. Keduanya akan dipaparkan secara lebih detail
   berikut ini.

   a. Konflik Tingkat Individu.
   Dalam kategori ini, terdapat dua kategori konflik, yaitu: (1) konflik dalam diri
   individu yang bersangkutan, dan (2) konflik antar individu. Konflik dalam diri
   seseorang terjadi ketika dia mempunyai dua atau lebih kepentingan yang sifatnya
   bertentangan. Ketika kepentingan-kepentingan itu sama-sama menarik, atau sama-
   sama tidak menarik, namun dia harus menentukan pilihan, maka terjadilah konflik
   dalam diri individu yang bersangkutan. Konflik antar individu, terjadi ketika dua
   individu mempunyai kepentingan yang sama terhadap satu hal, dan mereka sama-
   sama tidak mau mengalah. Bisa juga, konflik terjadi ketika mereka mempunyai
   perbedaan      pandangan   atau   pendapat,   dan   masing-masing   menganggap
   pendapatnnyalah yang paling benar. Pertentangan-pertentangan semacam inilah
   yang menimbulkan konflik antar individu.

   b. Konflik Tingkat Lembaga.
   Dua atau lebih lembaga, bisa terlibat dalam suatu konflik. Pada tingkat lembaga
   ini, ada dua tingkatan konflik: (1) konflik dalam lembaga dan (2) konflik antar
   lembaga. Konflik dalam lembaga terjadi suasananya hampir sama dengan konflik
   antar individu sebagaimana disebutkan di atas, tetapi sifatnya lebih kompleks.
   Yang membedakan adalah banyaknya individu yang terlibat dalam konflik.
   Anggota-anggota dalam suatu lembaga saling bertentangan karena mempunyai
   kepentingan yang sama terhadap satu hal dan sama-sama tidak mau mengalah.




                                                                                  3
Mereka mempunyai perbedaan pandangan atau pendapat dan masing-masing
menganggap pendapatnyalah yang paling benar.
Dalam posisinya sebagai anggota suatu kelompok, orang akan cenderung
memilah-milah diri meraka ke dalam dua kategori: ’kita’ (ingroup) dan ’mereka’
(outgroup). Ingroup adalah mereka yang menjadi anggota lembaga, dan outgroup
adalah mereka yang berada diluar ingroup. Konflik antar lembaga muncul ketika
ada perbedaan paham antara ingroup dan outgroup.
Kalau kita amati dinamika suatu lembaga, kita bisa menemukan adanya dalam
tiga tipe konflik. Adapun tipe-tipe konflik ini adalah:

 1) Konflik penugasan. Dalam kasus ini, konflik terjadi karena perbedaan
     pendapat dalam hal bagaimana cara menyelesaikan suatu tugas. Sebagai
     contoh, ada perbedaan pendapat dalam satu kelompok kerja bagaimana cara
     kampanye yang efektif, apakah melalui radio atau televisi.
 2) Konflik     emosional.    Konflik    emosional        ini   melibatkan   hubungan
     interpersonal antar anggota yang bekerja dalam satu kelompok. Dalam hal
     ini, emosi negatif, perasaan tidak suka terhadap orang lain menjadi hal
     pendukung.
 3) Konflik administratif. Konflik ini terjadi manakala terjadi ketidaksetujuan
     tentang cara merumuskan keputusan kebijakan. Konflik ini meliputi
     ketidaksepakatan mengenai tugas dan wewenang yang dimiliki dari anggota
     kelompok. Banyak hal yang dapat menjadi penyebab konflik antar lembaga:
     keterbatasan sumberdaya, perbedaan pandangan, atau tujuan yang tidak
     sejalan. Dalam konflik antar lembaga dapat berdampak pada persepsi dan
     tingkah laku masyarakat. Dalam sebuah lembaga, baik lembaga pemerintah
     maupun non-pemerintah, setiap anggota memiliki kepentingannya sendiri.
     Mereka memiliki keinginan-keinginannya sendiri, dan mengandalkan
     resources atau sumber dayanya masing-masing. Sumberdaya tersebut dapat
     berupa kekuasaan, uang, informasi, dan lain-lain. Sayangnya sumberdaya ini
     jumlahnya terbatas dan harus ’diperebutkan’ oleh semua anggota. Pada
     akhirnya keterbatasan sumberdaya tersebut menimbulkan konflik diantara
     anggota dalam hal distribusi sumberdaya. Selain mengenai keterbatasan


                                                                                    4
     sumberdaya, konflik juga dapat muncul karena perbedaan persepsi, ide,
     kepercayaan, maupun tujuan.

c. Anatomi Konflik.
Pada tingkatan apapun konflik yang terjadi, pada dasarnya konflik melibatkan
unsur-unsur dasar yang khas. Kemunculannya dipicu oleh suatu kejadian penting.
Sejalan dengan acara tersebut di atas, Karen Jehn mengurai anatomi dengan
menanyakan, (1) apa yang memicu konflik, (2) siapa saja yang terlibat dalam
konflik, (3) apa sih isu yang disengketakan, (4) bagaimana strategi yang dipakai
masing-masing fihak fihak yang berkonflik untuk mencapai kemenangan, (5)
konflik meluas/mereda, dan (6) apa konsekuensi dari konflik yang terjadi.
Dalam rangka menganalisis konflik, khususnya untuk keperluan menangani dan
mengelolanya, beberapa pertanyaan berikut perlu diperhatikan:

1) Apa pemicu konflik?
Pemicu konflik merupakan kejadian yang menjadi “pembuka” suatu konflik dan
menjadikan konflik bersifat terbuka.
2) Siapa pihak-pihak yang terlibat?
Pihak-pihak yang terlibat terdiri dari pihak yang terlibat secara langsung dalam
konflik, pihak yang memberikan dukungan atau konstituen.
3) Pokok sengketa dan isu konflik?
Isu konflik merupakan hal yang menjadi akar masalah dari konflik tersebut,
contoh: perebutan tanah, perebutan jabatan.
4) Apa saja strategi yang digunakan pihak-pihak yang berkonflik?
Strategi yang dimaksudkan disini adalah kegiatan, tak-tik apa saja yang dilakukan
pihak yang berkonflik untuk menyerang pihak lainnya. Bisa dengan menggunakan
demonstrasi, penyebaran kabar burung, dan lainnya.
5) Bagaimana konflik meluas sehingga melibatkan lebih banyak pihak, wilayah
yang lebih luas, dan isu yang lebih banyak?
Dapat terjadi, suatu konflik yang pada awalnya hanya melibatkan dua pihak dan
satu isu, bisa berkembang sehingga melibatkan lebih banyak aktor, dan juga
bertambah banyak isu yang dipertentangkan.


                                                                               5
   6) Apa hasil dan akibat/dampak yang ditimbulkan konflik?
   Hasil dan akibat yang ditimbulkan bisa bersifat fisik seperti pembakaran rumah,
   korban tewas, kerusakan lingkungan, maupun akibat yang bersifat non fisik
   seperti menguatnya stereotip, trauma, pengelompokan, dan lainnya.

3. UNAS dalam Tinjauan Teori Konflik
         Teori-teori konflik pada umumnya memusatkan perhatiannya terhadap
   pengenalan dan penganalisisan kehadiran konflik dalam kehidupan sosial,
   penyebabnya dan bentuknya, serta akibatnya dalam menimbulkan perubahan
   sosial. Dapat dikatakan bahwa, teori konflik merupakan teori terpenting pada saat
   kini, oleh karena penekanannya pada kenyataan sosial di tingkat struktur sosial
   dibandingkan di tingkat individual atau antar lembaga.
         Sudah jelas bahwa yang menjadi peran dalam konflik UN di dunia
   pendidikan Indonesia adalah para siswa dan pemerintah sebagai lembaga yang
   memiliki otoritas dalam pelaksanaan UN. Selain siswa yang menjadi korban dari
   konflik ini, lembaga penyelenggara pendidikan (sekolah), elemen masyarakat dan
   utamanya orang tua siswa juga dirugikan karena membingungkan mereka atas
   kesuksesan anaknya dalam UN tidak relevan dengan kesuksesan setelah lulus dari
   sekolah tidak memiliki keahlian apa-apa atau paling tidak diterima dalam
   lapangan kerja.
         Sumber-sumber konflik ini berakar dari standar nilai yang ditentukan oleh
   pemerintah terlalu tinggi sehingga para siswa kewalahan dalam menghadapinya
   sehingga gangguan psikologis tidak dapat dihindari. Kasus bunuh diri, terusir dari
   rumahnya, putus asa dalam belajar, dan kasus-kasus lain banyak mewarnai
   konflik di negeri ini.
         Lembaga sekolah penyelenggara pendidikan juga merasakan dampak negatif
   dari pelaksanaan UN ini lebih banyak dari sisi positifnya. Contoh kasus, banyak
   para siswa yang berprestasi tidak lulus, sebaliknya yang tidak berprestasi sama
   sekali   bahkan    sekolah   malu   untuk   meluluskan   anak   tersebut   karena
   kemampuannya yang minim serta banyak bermasalah dengan sekolah malah
   lulus. Ketentuan pelulusan yang dirasa tidak adil ini yang merongrong adanya
   aksi pemblokiran atau elemen masyarakat anti pelaksanaan UN.


                                                                                   6
             Ada beberapa cara untuk mengatasi konflik ini. Masing-masing elemen
     memiliki cara-cara sendiri. Elemen pemerintah membuat ketetapan pelaksanaan
     UN ulang bagi mereka yang tidak lulus dan sosialisasi kurikulum pendidikan
     baru, tapi terkesan pemerintah bermain-main dengan pendidikan karena
     kurikulumnya sering bergonta-ganti setiap pergantian struktur kementerian
     pendidikan.
             Elemen sekolah memiliki cara sendiri agar para siswanya lulus semua,
     bahkan cara yang diambil sangat tidak mencerminkan dari tujuan pendidikan itu
     sendiri. Para pendidik harga dirinya diinjak-injak pemerintah karena mereka
     sudah merasa dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh seorang guru
     mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis sampai tindak lanjut
     (perbaikan) maka guru sudah memiliki tugas yang lengkap. Guru harus
     melakukan penilaian dari hasil belajar siswa dengan memberikan nilai. Nilai
     tersebut merupakan hasil pengamatan guru selama siswa tersebut ikut dalam
     proses belajar baik dari kemampuan kognitif (akademik), afektif (sikap) maupun
     psikomotor (keterampilan). Dengan demikian nilai yang diperoleh dan tertuang
     dalam rapor merupakan nilai utuh dari kemampuan siswa secara komprehensif,
     tanpa harus ada pelaksanaan UN. Para siswa dalam menghadapi UN banyak yang
     acuh tak acuh karena sekolah sudah akan membantu mereka ketika
     pelaksanaannya. Namun juga banyak yang serius tapi tetapi tetap diliputi
     kekhawatiran yang berlebihan.
             Akibat konstruk inilah elemen masyarakat banyak menilai pelaksanaan UN
     tidak akan pernah akan relevan dengan kebutuhan sosial masyarakat karena
     kemampuan para lulusan UN belum banyak yang tidak bisa mempertanggung-
     jawabkan kelulusannya dan pemerintah kurang menyediakan lapangan pekerjaan
     bagi mereka, dan bahkan hanya akan menambah masalah dalam masyarakat jika
     ada yang tidak lulus.

C. Penutup
       UN bukanlah satu-satunya ukuran untuk menentukan prestasi siswa. Namun
  kata-kata lulus menjadi persoalan besar bagi siswa. Keterangan lulus akan
  menentukan akan kemana jejak langkah pendidikan akan ditempuh. Dan dalam


                                                                                 7
   budaya instan akan menentukan seseorang akan memiliki pekerjaan apa dan
   penghasilan berapa. Meski prestasi akademis memang merupakan batu pijakan
   (corner stone) bagi pilihan karier. Namun, pertumbuhan karakter adalah fondasi bagi
   hidup seseorang. Kini yang perlu direnungkan bersama             adalah bagaimana
   menumbuhkan karakter: karakter bekerja keras, karakter untuk tetap kuat dalam
   menghadapi tantangan hidup. Tidak menyerah hanya karena tidak lulus.
        Demikian ulasan dalam makalah ini, atas kekurangan dan kekhilafan dari
   analisis ini kami mohon maaf serta mengharap kritik yang bersifat membangun untuk
   penyempurnaan makalah ini. Semoga bermanfaat. Amin!

D. Daftar Pustaka
   Chandra, Robby, Konflik Hidup Sehari-hari, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1992.

   www.bipnewsroom.info. 12/03/2006.

   Afandi, A. Khazin. Buku Penunjang Berpikir Teoritis Merancang Proposal,
           Surabaya: Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2006.

   Harpercollins. Dictionary of Sociology, New York: Harpercollins Publisher Ltd,
           1991.

   Liddle, R., William, Menjawab Tantangan Masa Reformasi, dalam Artikel Kompas,
            8-9 Juni 2000.

   http://halilintarblog.blogspot.com/2008/11/teori-konflik.html, 17 Nop 2009.




                                                                                     8

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:765
posted:4/3/2011
language:Indonesian
pages:8
Description: teori perubahan yang telah diterapkan oleh Nabi saw. dalam sirah nabi.
akh. syaiful rijal akh. syaiful rijal http://
About calm, patient, and tolerant....heheheheee