Docstoc

Solo Modern, Solo Berbudaya

Document Sample
Solo Modern, Solo Berbudaya Powered By Docstoc
					           JUARA III
  Lomba Karya Tulis Pendidikan
Kategori Siswa/ Pelajar se-Surakarta
          Tanggal 15 Mei 2008




                Oleh :
          Dyah Purbasari K.P
 SMA Pangudi Luhur “St.Yosef” Surakarta




                                          1
                                   LOMBA KARYA TULIS PENDIDIKAN
                                               KATEGORI SISWA/PELAJAR



                    Solo Modern, Solo berbudya


       Kota Solo sekarang ini sudah menginjak usia 263 pada tanggal 17 Februari
2008 lalu. Bila kita rujuk angka yang mencerminkan usia tersebut terlihat bahwa
Solo merupakan sebuah kota tua yang telah menggoreskan liku-liku sejarah
perjalanan panjang. Sejarah kota Solo pun tidak terlepas dari sejarah kerajaan
Mataram, karena Solo pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram, setelah
kepindahanya dari keraton Kartasura pada tahun 1745. Setelah pembagian Mataram
menjadi dua akibat Perjanjian Giyanti, dan Surakarta menjadi pusat pemerintahan
wilayah timur kerajaan Mataram.
       Seiring dengan perubahan jaman dan terjadinya alkulturasi budaya luar, serta
peranan teknologi yang semakin maju membuat kita lupa akan tradisi dan jatidiri
tanah dimana kita dikandung, di lahirkan dan di besarkan. Terutama para generasi
muda, sang tonggak penerus bangsa, dewasa ini mulai kehilangan jatidirinya. Mereka
semua telah terbius dengan budaya-budaya barat yang sangat menyimpang dan
bertolak belakang dengan budaya timur.
       “Solo kotaku, Jawa budayaku” merupakan tema HUT Solo ke 263, sebuah
kata yang tidak asing bagi kita sekarang ini. Melalui seruan-seruan dan bentangan-
bentangan spanduk yang begitu menyeruak telingga dan mata, dapat di lihat bahwa
pemerintah kota Solo terutama Walikota Solo Bapak Ir. H. Joko Widodo atau yang
akrab disapa Jokowi telah berusaha membangkitkan kita dari keterpurukan krisis
tradisi dan mencoba menginggatkan kita untuk mulai menggali peninggalan tradisi
dan jatidiri kita sebagai masyarakat Solo yang berbudaya.
       Bila kita lihat, ragam tradisi dan kebudayaan kota Solo sangatlah banyak.
Namun sekarang sudah banyak pula yang terkikis oleh perubahan jaman. Untuk
mengukuhkan identitas kota budaya ada banyak program digalakkan. Selain
pencanangan akasara jawa untuk nama jalan, nama kantor (pemerintah/swasata)



                                                                                 2
maupun tempat publik (mall/tempat hiburan). Juga dengan membiasakan
beraktualisasi dengan bahasa ibu (jawa).
         Begitu pula program batik yang kini mulai digalakan oleh Walikota Solo.
Untuk intansi - intansi pemerintahan dan pendidikan di kota Solo diharapkan
berseragam atau mengenakan batik pada hari tertentu. Apalagi baru-baru ini kota
Solo menyelenggarakan SBC (Solo Batik Carnival). Paling tidak batik dapat menjadi
andalan generasi muda dalam berpakaian.
        Pasalnya generasi muda itu sendiri sering kali terlihat canggung, ragu dan
bahkan malu untuk mengenakan batik. Berbagai macam alasan pun terlontar, entah
ketinggalan jaman, kampungan, norak, dan berbagai alasan - alasan lainya yang
seolah menbuat batik bukanlah tradisi dan kebudayaan mereka. Dengan SBC
menjadikan batik dapat mendarah daging pada generasi muda.
        Kota budaya
        Kota Solo memang pantas di sebut sebagai “Kota Budaya”, berbagai kesenian
dan kebudayaan banyak berkembang di kota bengawan ini, seperti keroncong yang
semakin pesat melaju menjadi ciri khas kota Solo. Dan Solo pun rupanya telah telah
dicanangkan menjadi Kota Keroncong. Banyak musisi keroncong muda lahir di Solo
dan mulai mengingatkan kepada kita akan kejayaan keroncong.
        Bila kita tenggok kembali ke belakang, banyak juga kesenian-kesenian Jawa
di kota Solo ini mulai memudar. Jarang sekali terdapat pengajaran tentang kesenian
dan kebudayaan Jawa di lembaga-lembaga pendidikan yang bisa memacu para siswa
sebagai generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan menghargai kebudayaan
Jawa terutama yang terdapat di Solo, seperti musik keroncong, karawitan (gamelan),
tari-tarian Jawa tradisional, wayang orang, kethoprak, dan sastra Jawa serta kesenian
Jawa lainnya.
        Kalau pun ada mungkin hanya di beberapa lembaga pendidikan tertentu dan
khusus seperti SMK(Sekolah Menegah Kejuruan). Sementara di lembaga pendidikan
lain (SMA dan SMP) hanya dijadikan sebagai ekstrakulikuler yang kurang diminati
oleh siswa. Bahkan ada lembaga pendidikan yang tidak memberi ruang pada
pengajaran kesenian dan kebudayaan Jawa. Bila keadaan seperti ini bagaimana
mungkin para generasi muda menegenal dan menghargai kebudayaannya sebagai
tradisi dan jatidirinya.




                                                                                   3
       Kaum muda sekarang ini mungkin bisa di katakan sudah kehilangan
jatidirinya. Tidak ada lagi nilai – nilai tradisi dan dapat tertanam dalam kehidupan
mereka. Contohnya saja, tidak ada lagi rasa hormat kepada orang yang lebih tua
melalaui tindakan-tindakan yang mencerminkan orang Jawa. Sekarang hampir tidak
terlihat seorang anak muda membungkukkan badan saat melintas di depan orang
yang lebih tua.
       Generasi muda pun juga jarang menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan
sehari-hari dengan baik dan benar secara penerapannya. Misal, kita harus
menggunakan karma inggil kepada orang yang lebih tua daripada kita, atau
menggunakan ngoko lugu kepada teman sebaya kita. Namun kenyataan anak muda
berbicara dengan orang tuanya menggunakan ngoko lugu seakan teman sebaya.
Bahkan ada juga generasi muda yang terlahir dan dibesarkan di keluarga Jawa tidak
bisa menggunakan bahasa Jawa dengan benar.
       Untuk itu pemerintah kota Solo harus mengayuh bersama masyarakat dan
generasi muda untuk bangkit dari krisis tradisi. Mulai cara mengenalkan,
mensosialisasikan, membiasakan kemudian diharapkan          mencintai kebudayaan.
Melalui pengajaran dan penanaman nilai-nilai tradisi dari lembaga pendidikan dari
Tk, SD, SMP dan SMA sederajat. Aneka kegiatan yang dapat meningkatkan minat
masyarakat luas dan generasi muda untuk lebih mengenal kebudayaan Solo.
          Seperti festival kesenian, wisata budaya, parade kesenian, pameran, konser
budaya dan kegiatan lainnya yang dapat mendukung terwujudnya kota Solo sebagai
“Kota Budaya”. Selain itu juga harus diterapkan pemakaian bahasa Jawa pada setiap
hari Sabtu kepada semua lembaga pemerintah, swasta, dan pendidikan tanpa
terkecuali.
       Sebagai Kota Batik, Kota Solo pun juga harus bangkit untuk menyadarkan
masyarakat akan kebanggaan dan ciri khas kota Solo dengan adanya SBC dan pernah
ada SIBEX (Solo International Batik Exbisition). Penyeragaman batik yang bercorak
Khas Solo kota Budaya yang mencerminkan Identitas Kota Batik.
       Seperti yang telah di laksanakan di kabupaten Karanganyar dicanangkannya
seragam batik pada hari tertentu. Dari sini terlihat betapa kekompakan masyarakat
Solo tanpa ada perbedaan antar intansi baik pemerintahan maupun swasta. Sebuah




                                                                                  4
kepatuhan pada program yang dicanangkan Pemerintah kota Solo, menandakan
bahwa masyarakat Solo masih mengagungkan budayanya.
       Seiring dengan pembangunan kota Solo yang semakin berkembang untuk
menciptakan Solo sebagai kota modern serta peningkatan kualitas sumber daya
manusia setidaknya kita tetap berpegang teguh kepada tradisi dan jati diri kita sebagi
orang Jawa.
       Pembangunan kota Solo juga sebaiknya di tekankan pada pembangunan
kebudayaan seperti yang telah di laksanakan sekarang ini. Untuk mengembalikan
“wajah” khas kota Solo perlu sinergi dengan beberapa warisan peninggalan budaya
dalam perkembangan proyek pembangunan modern di Solo saat ini.
       Sinergi pembangunan tidak hanya bersifat fisik yang bercirikan kota budaya.
Dilihat dari arsitektur perkantoran, mall, gedung pertemuan, hotel maupun
apartemen. Tapi diharapkan perkembangan ilmu komunikasi dan teknologi jangan
meruntuhkan nilai-nilai moral yang adiluhung pada generasi muda.
       Pemkot perlu membuat rambu-rambu yang jelas berkenaan dengan derasnya
arus globalisasi. Sebab ”portal” kebudayan asli dapat meredam agar budaya asli yang
diagungkan kota Solo tidak mudah tergerus oleh kemajuan jaman.
       Jadikan kota Solo kota modern namun tetap berbudaya dengan memegang
teguh jatidiri, jangan sampai kita dikatakan “wong Jawa sing kelangan Jawane” atau
orang Jawa yang kehilangan ke Jawanya. Sebab kita semua merasa handarbeni
(memiliki) kota Solo yang berbudaya. Oleh sebab itu Solo modern adalah kota Solo
yang tradisional dan berbudaya. ”Solo Past Solo Future”.




                                              Oleh : Dyah Purbasari K.P
                                                      Kelas XI IS 3
                                         SMA Pangudi Luhur “St. Yosef” Surakarta




                                                                                    5

				
DOCUMENT INFO
Tags:
Stats:
views:53
posted:4/2/2011
language:Indonesian
pages:5