Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Malaria_ DBD_ dan Ascaris Lumbrocoides Tugas Parasitologi

VIEWS: 239 PAGES: 12

									                                                    Daftar Isi

Daftar Isi .................................................................................................................. 1
A. Malaria ................................................................................................................ 2
   A.1. Definisi .........................................................................................................2
   A.2. Jenis Malaria dan Plasmodiumnya ...............................................................2
   A.3. Gejala............................................................................................................3
   A.4. Daur Hidup Plasmodium ..............................................................................4
   A.5. Tindakan dan Pengobatan ............................................................................5
   A.6. Tindakan-tindakan Pencegahan....................................................................5
B. Demam Berdarah Dengue (DBD) ....................................................................... 6
   B.1. Definisi .........................................................................................................6
   B.2. Tanda Dan Gejala .........................................................................................6
   B.3. Pengobatan dan Penatalaksanaan .................................................................7
   B.4. Pencegahan ...................................................................................................8
C. Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides) ............................................................... 9
   C.1. Acaris Lumbricoides.....................................................................................9
   C.2. Gejala ..........................................................................................................10
   C.3. Siklus hidup ................................................................................................10
   C.4. Cara diagnosis.............................................................................................11
   C.5. Pengobatan..................................................................................................11
Daftar Pustaka ........................................................................................................ 12




                                                                                                                             1
                                 A. Malaria
A.1. Definisi
           Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh
 Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya
 bentuk aseksual didalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa
 demam, menggigil, anemia dan hepatosplenomegali yang dapat berlangsung
 akut maupun kronik. Infeksi malaria dapat berlangsung tanpa komplikasi
 ataupun mengalami komplikasi sistemik yang dikenal sebagai malaria berat.
           Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang disebut
 Plasmodium, yang dalam salah satu tahap perkembang biakannya akan
 memasuki dan menghancurkan sel-sel darah merah. Plasmodium yang
 menyebarkan penyakit malaria berasal dari spesies Plasmodium falciparum dan
 Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium
 knowlesi. Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk
 Anopheles betina, terutamanya Anopheles sundaicus di Asia dan Anopheles
 gambiae di Afrika.
           Malaria adalah salah satu penyakit menular yang banyak diderita oleh
 penduduk di daerah tropis dan subtropis. Penyakit tersebut semula banyak
 ditemukan di daerah rawa-rawa dan dianggap disebabkan oleh udara rawa yang
 buruk, sehingga dikenal sebagai malaria (mal = jelek; aria=udara).

A.2. Jenis Malaria dan Plasmodiumnya
           Penyakit Malaria memiliki empat jenis dan disebabkan oleh spesies
 parasit (plasmodium) yang berbeda. Jenis-jenis malaria dan plasmodiumnya
 adalah:
 1. Malaria tertiana (paling ringan), yang disebabkan Plasmodium vivax dengan
    gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama
    terjadi (dapat terjadi selama dua minggu setelah infeksi).
 2. Demam rimba (jungle fever), malaria aestivo-autumnal atau disebut juga
    malaria tropika, disebabkan plasmodium falciparum merupakan penyebab
    sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering



                                                                             2
    menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau dan
    kematian.
 3. Malaria kuartana yang disebabkan Plasmodium malariae, memiliki masa
    inkubasi lebih lama daripada penyakit malaria tertiana atau tropika; gejala
    pertama biasanya tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari setelah infeksi
    terjadi. Gejala itu kemudian akan terulang lagi tiap tiga hari.
 4. Malaria pernisiosa, disebabkan oleh Plasmodium vivax, gejala dapat timbul
    sangat mendadak, mirip Stroke, koma disertai gejala malaria yang berat.


A.3. Gejala
          Secara keseluruhan gejala yang sering muncul adalah sakit kepala,
 nyeri otot, lesu, diare, meriang (panas, dingin dan menggigil) serta demam
 berkepanjangan sehingga sering juga diseb ut demam kura-kura karena
 membuat      penderitanya   meringkuk     karena    menggigil.       Gejala serangan
 malaria ini terdiri dari beberapa jenis berupa gejala klasik yang sering
 menyerang penderita tanpa imunitas dan baru pertama kali terserang dengan
 tanda menggigil 15-60 menit diikuti demam 2-6 jam dengan suhu 37,5 – 400 C
 bahkan lebih, kemudian berkeringat selama          2-4   jam     akibat    gangguan
 metabolisme tubuh yang menyebabkan peningkatan keringat dan gejala
 berikutnya penderita biasanya merasa enak setelah berkeringat.
          Gejala berulang tiap 48-72 jam sesuai dengan peluruhan sel darah
 merah.     Pada    malaria yang lebih parah terdapat anemia dan kuning.
 Plasmodium falciparum bisa menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, gagal
 ginjal, koma, bahkan kematian dengan serangan yang paling sering meluas ke
 berbagai organ tubuh lain serta memunculkan komplikasi. Selain             itu juga
 dikenal gejala malaria berat yang dapat meliputi gangguan kesadaran, kejang,
 warna kuning pada mata - tubuh dan urin, panas yang sangat tinggi, sesak
 hingga perdarahan hidung, gusi dan saluran pencernaan serta rasa lumpuh.
 Bila mengenai jaringan otak yang disebut dengan malaria serebral, akan
 terjadi kerusakan otak yang biasanya fatal.




                                                                                    3
A.4. Daur Hidup Plasmodium
        Pada tahun 1898 Ronald Ross membuktikan keberadaan Plasmodium
 pada dinding perut tengah dan kelenjar liur nyamuk Culex. Atas penemuan ini ia
 memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 1902, meskipun
 sebenarnya penghargaan itu perlu diberikan kepada profesor Italia Giovanni
 Battista Grassi, yang membuktikan bahwa malaria manusia hanya bisa
 disebarkan oleh nyamuk Anopheles.
        Siklus hidup Plasmodium amat rumit. Sporozoit dari liur nyamuk betina
 yang mengigit disebarkan ke darah atau sistem limfa penerima. Nyamuk dalam
 genus Culex, Anopheles, Culiceta, Mansonia dan Aedes mungkin bertindak
 sebagai vektor. Vektor yang diketahui kini bagi malaria manusia (>100 spesies)
 semuanya tergolong dalam genus Anopheles. Malaria burung biasanya dibawa
 oleh spesies genus Culex. Siklus hidup Plasmodium diketahui oleh Ross yang
 menyelidiki spesies dari genus Culex. Dalam daur hidup Plasmodium
 mempunyai 2 hospes, yaitu vertebrata dan nyamuk.
        Dalam tubuh nyamuk, parasit parasit berkembang secara seksual
 (sporogoni). Sporogoni memerlukan waktu 8-12 hari. Dalam lambung nyamuk,
 makro dan mikrogametosit berkembang menjadi makro dan mikrogamet yang
 akan membentuk zigot yang disebut ookista, yang selanjutnya menembus
 dinding lambung nyamuk membentuk ookista yang membentuk ba nyak
 sporozoit. Kemudian sporozoit akan dilepaskan dan masuk kedalam kelenjar
 liur nyamuk. Siklus tersebut disebut masa tunas ekstrinsik. Kekebalan pada
 malaria terjadi apabila tubuh mampu menghancurkan Plasmodium yang masuk
 atau menghalangi perkembangbiakannya.




Daur hidup plasmodium




                                                                             4
A.5. Tindakan dan Pengobatan
    1. Memutus rantai penularan dengan memilih mata rantai yang paling
       lemah. Mata rantai tersebut adalah penderita dan nyamuk malaria.
    2. Seluruh penderita yang memiliki tanda-tanda malaria diberi pengobatan
       pendahuluan dengan tujuan untuk menghilangkan rasa sakit dan
       mencegah penularan selama 10 hari.
    3. Bagi penderita yang dinyatakan positif menderita malaria setelah diuji di
       laboratorium, akan diberi pengobatan secara sempurna.
    4. Bagi orang-orang yang akan masuk ke daerah endemis malaria seperti
       para calon transmigran, perlu diberi obat pencegahan.


A.6. Tindakan-tindakan Pencegahan
    1. Usahakan tidur dengan kelambu (bed net), memberi kawat kasa,
       memakai obat nyamuk bakar, menyemprot ruang tidur, dan tindakan lain
       untuk mencegah nyamuk berkembang di rumah.
    2. Usaha pengobatan pencegahan secara berkala, terutama di daerah
       endemis malaria.
    3. Menjaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan ruang tidur,
       semak-semak sekitar rumah, genangan air, dan kandang-kandang ternak.
    4. Memperbanyak jumlah ternak seperti sapi, kerbau, kambing, kelinci
       dengan menempatkan mereka di luar rumah di dekat tempat nyamuk
       bertelur.
    5. Memelihara ikan pada air yang tergenang, seperti kolam, sawah dan
       parit. Atau dengan memberi sedikit minyak pada air yang tergenang.
    6. Menanam padi secara serempak atau diselingi dengan tanaman kering
       atau pengeringan sawah secara berkala
    7. Menyemprot rumah dengan DDT.




                                                                              5
               B. Demam Berdarah Dengue (DBD)
B.1. Definisi
          Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang penderitanya
 mengalami demam tinggi akibat infeksi virus nyamuk Aedes aegypti (senang
 bersarang di dalam rumah) maupun Aedes albopictus (nyamuk kebun). Penyakit
 ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam,
 nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue
 Haemoragic Fever ( DHF ).
          Dengue Hemorhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit menular yang
 disebabkan oleh virus dengue dengan gejala demam tinggi mendadak disertai
 manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan syok, nyeri otot dan sendi
 dan kematian (Cristianti,1995). Penyakit ini ditularkan lewat nyamuk Aides
 aegepty yang menbawa virus dengue (antropad bone virus) atau disebut arbo
 virus.
          Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam yang
 berlangsung akut menyerang baik orang dewasa maupun anak – anak tetapi
 lebih banyak menimbulkan korban pada anak – anak berusia di bawah 15 tahun
 disertai dengan perdarahan dan dapat menimbulkan syok yang disebabkan virus
 dengue dan penularan melalui gigitan nyamuk Aedes. (Soedarto, 1990).




                       Gambar : Nyamuk Aedes aegypti

B.2. Tanda Dan Gejala
          Tanda-tanda dan gejala pada penderita DBD: Demam (>380 C),
 Perdarahan,    Hepatomegali   (pembesaran    hati),   Syok,   Trombositopeni,



                                                                            6
 Hemokonsentrasi, Gejala- gejala lain (Anoreksi , mual muntah, sakit perut, diare
 atau konstipasi serta kejang dan Penurunan kesadaran).
 Derajat DHF Menurut WHO dibagi menjadi 4 Derajat :
 Derajat 1 :
    Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan
    ialah uji Tourniquet positif.
 Derajat 2 :
    Derajat 1 disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain.
 Derajat 3 :
    Ditemukannya kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan
    nadi menurun (<20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit yang dingin,
    lembab, dan penderita menjadi gelisah.
 Derajat 4 :
    Renjatan berat dengan nadi yang tidak diraba dan tekanan darah yang tidak
    dapat diukur.

B.3. Pengobatan dan Penatalaksanaan
        Pada dasarnya pengobatan pasien Dengue Haemoragic Fever (DHF)
 bersifat simtomatis dan suport Dengue Haemoragic Fever (DHF) ringan tidak
 perlu dirawat, Dengue Haemoragic Fever (DHF) sedang kadang – kadang tidak
 memerlukan perawatan, apabila orang tua dapat diikutsertakan dalam
 pengawasan penderita di rumah dengan kewaspadaan terjadinya syok yaitu
 perburukan gejala klinik pada hari 3-7 sakit. Sedangkan penatalaksanaan
 Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah:
  1. Tirah baring atau istirahat baring.
  2. Diet makan lunak.
  3. Minum banyak air (2 – 2,5 liter/24 jam)
  4. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan
      cairan yang paling sering digunakan.
  5. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika
      kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
  6. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
  7. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.

                                                                               7
   8. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
   9. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
   10. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan
       tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.
   11. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.
   12. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :
       a. Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga
             mengancam terjadinya dehidrasi.
       b. Hematokrit yang cenderung mengikat.


B.4. Pencegahan
         Masyarakat sekarang ini banyak mengandalkan pembrantasan DBD
 dengan melalui cara fogging atau penyemprotan. Padahal untuk melakukan
 fogging tersebut diperlukan beberapa ketentuan, mulai dari PE dan kemudian
 pengajuan surat penyemprotan kepada Rumah Sakit terdekat. Hal ini karena
 fogging tidak baik apabila diterapkan terlalu sering.
         Untuk pencegahan penyakit DBD setiap keluarga dianjurkan untuk
 melaksanakan "3M (menguras, mengubur, menutup)" di rumah dan halaman
 masing- masing dengan melibatkan seluruh keluarga, dengan cara sebagai
 berikut :
      Menguras bak mandi sekurang-kurangnya 1 minggu sekali
      Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
      Mengganti air Vas bunga/tanaman air seminggu sekali
      Mengganti air tempat minum burung
      Menimbun barang-barang bekas yang dapat menampung air
      Ikanisasi
      Abatesasi (temephos). Semua tempat penampungan air dirumah dan
       bangunan yang ditemukan jentik Aedes Aegypti. Ditaburi bubuk abate
       dengan dosisi satu sendok makan (10 gr).
      Fogging, dengan syarat dan persetujuan dari Rumah Sakit sekitar
         Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk diwaktu
 pagi sampai sore, karena nyamuk aedes aktif di siang hari (bukan malam hari).

                                                                                 8
           C. Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)

C.1. Acaris Lumbricoides
        Ascaris lumbricoides adalah cacing bulat berukuran raksasa yang dapat
 mencapai sepanjang 40         cm. Penyakit parasit     yang disebabkan oleh
 Nemathelminthes Ascaris lumbricoides adalah Askariasis . Askariasis adalah
 penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh makhluk parasit.


      Nama Latin       :   Ascaris lumbricoides
      Phylum           :   Aschelminthes
      Sub Phylum       :   -
      Ordo             :   Ascaroidea
      Family           :   -
      Genus            :   -
      Species          :   Ascaris lumbricoides
      Kelas            :   Nematoda
      Nama Daerah      :   Cacing gelang


        Telur-telur cacing gelang keluar dari tubuh manusia bersama dengan
 kotoran    (feses). Cacing gelang masuk ke dalam tubuh manusia melalui
 makanan yang terkontaminasi feses manusia, misalnya melalui lalat yang
 menghinggapi makanan atau sayur yang terkontaminasi telur cacing gelang
 yang tidak dicuci dengan bersih.
        Hospes atau inang dari askariasis adalah manusia. Di manusia, larva
 askaris akan berkembang menjadi dewasa dan mengadakan kopulasi akhirnya
 bertelur. Penyakit ini sifatnya kosmopolit. Terdapat hampir di seluruh dunia.
 Prevalensi askariasis berkisar 70-80 persen. Infeksi cacing ini bisa terjadi juga
 melalui lingkungan yang kotor dan makanan. Cacing jantan berukuran sekitar
 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Cacing dewasa hidup pada usus
 manusia. Seekor cacing betina dapat bertelur hingga berkisar 200.000 telur per
 harinya. Telur yang telah dibuahi berukuran 60 x 45 mikron. Telur yang tak
 dibuahi, bentuknya lebih besar, berkisar 90 x 40 mikron. Telur yang telah
 dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia.




                                                                                9
C.2. Gejala
        Gejala atau tanda terinfeksi cacing gelang yaitu perut terasa tidak enak,
 lesu, tidak napsu makan, muka pucat, mual, badan kurus, dan perut buncit.
 Fesesnya encer, kadang bercampur lendir dan darah, cacing tampak keluar
 dalam feses. Larva cacing gelang dapat masuk melalui pembuluh darah atau
 limfe, bila menyerang paru-paru dapat menyebabkan radang paru dan batuk.
 Sedangkan cacing gelang yang dewasa dapat bermigrasi ke usus buntu hingga
 menyebabkan radang usus.


C.3. Siklus hidup




                              Siklus hidup Ascaris
        Pada tinja penderita askariasis yang membuang air tidak pada tempatnya
 dapat mengandung telur askariasis yang telah dibuahi. Telur ini akan matang
 dalam waktu 21 hari. bila terdapat orang lain yang memegang tanah yang telah
 tercemar telur Ascaris dan tidak mencuci tangannya, kemudian tanpa sengaja
 makan dan menelan telur Ascaris. Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan
 telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke
 pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati,
 jantung dan kemudian di paru-paru. Pada paru-paru, cacing akan merusak
 alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan
 tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi



                                                                              10
 cacing dewasa. Cacing akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan
 bertelur. Telur ini pada akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus pun
 akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada
 tempatnya.

C.4. Cara diagnosis


  Telur Ascaris yang berisi embrio.




          Diagnosis askariasis dilakukan dengan menemukan telur pada tinja pasien atau
 ditemukan cacing dewasa pada anus, hidung, atau mulut.

C.5. Pengobatan
    Pengobatan askariasis dapat digunakan obat-obat seperti:
          Pirantel pamoat,
          Aspirin,
          Paracetamol,
          Decolgen.




                                                                                   11
                             Daftar Pustaka

Soedarmo SP, Garna H & Hadinegoro SR. 2002. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
       Anak: Infeksi & Penyakit Tropis. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Harijanto PN, Nugroho A & Gunawan CA. 2010. Malaria dari Molekuler ke
       Klinis Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Effendy, Christanti. 1995. Perawatan Pasien DHF.Jakarta: EGC.
Hadinegoro, sri rejeki. 2002. Demam Berdarah Dengue Edisi 2. Jakarta: Fakultas
       Kedokteran UI.
Gandahusada, Srisasi, Prof. dr. 2006. Parasitologi Kedokteran. Jakarta:Fakultas
       Kedokteran Universitas Indonesia.
Anonim. 2010. Ascaris lumbricoides.
       http://www.iptek.net.id/ind/pd_invertebrata/index.php?mnu=2&id=15.
       Diakses tanggal 22 November 2010 pada pukul 16:30.
Anonim. 2010. Askariasis.
       http://id.wikipedia.org/wiki/Askariasis. Diakses tanggal 22 November
       2010 pada pukul 16:45.




                                                                            12

								
To top