NOVEL MAS ZULIANTI "KATA TERAKHIR SANG AYAH"

Document Sample
NOVEL MAS ZULIANTI   "KATA TERAKHIR SANG AYAH" Powered By Docstoc
					                 NOVEL

                          1

             ZIRMAWATI




Kata Terakhir Sang Ayah
          KATA PENGANTAR


     Puji syukur saya panjatkan kehadirat

Allah    SWT,       atas   segala     nikmat     dan

karuniaNYa          sehingga        saya       dapat

menyelesaikan novel yang berjudul “Kata

Terakhir Sang Ayah”



     Novel ini adalah novel perdana saya dan

disusun dalam rangka memenuhi persyaratan

kelulusan    mata    kuliah    Bahasa      Indonesia.

Disamping itu saya sangat berterimakasih

kepada keluarga serta teman-teman yang

selalu memberikan motivasi.




Kata Terakhir Sang Ayah
     Saya menyadari sepenuhnya bahwa novel

ini masih jauh dari kata layak dan masih

memerlukan banyak latihan berkenaan dengan

novel ini, oleh karena itu saya mengharapkan

kritik     dan     saran    yang     membangun

kesempurnaan       novel   ini.   Semoga   novel

sederhana ini dapat bergunan bagi pembaca.




             Bandar Lampung, 01 Februari 2011



                                   Mas Zuliawati

                                     040925071




Kata Terakhir Sang Ayah
Kupersembahkan novel ini untuk:

 Ayah dan ibu yang selalu aku
    rindukan
 Kakak dan Adikku yang selalu
    memberi kasih sayang yang tulus
 Teman-teman yang selalu
    memberiku semangat
 Seseorang yang aku sayangi yang
    selalu memberi inspirasi
 Dr. H. Dalman, M.Pd selaku dosen
    pengampu mata kuliah Bahasa
    Indonesia.




Kata Terakhir Sang Ayah
      PAGI YANG CERAH

    DI DESA SEDIAMAJU


        Pagi di salah satu sudut

sangat              sederhana       desa

Sediamaju,          sama   dengan   pagi

disisi lain desa itu meski disudut

mewah            sekalipun.     Matahari

terbit, ayam berkokok, burung

berkicau, embun membasahi helai

daun dan bunga.

Kata Terakhir Sang Ayah
        Pemandangan             indah      yang

tuhan              ciptakan               untuk

menyegarkan               pikiran   dan    hati

manusia         disaat        memulai      hari

mereka. Ia tak bisa melewatkan

keindahan dari yang maha kuasa

bagitu saja.


        Sejak kecil, ayahnya sudah

sering membangunkannya jam

empat pagi. Ayah mengajak untuk



Kata Terakhir Sang Ayah
menikmati kesegaran udara di pagi

hari, agar terbiasa dengan

dinginnya mata air desa Sediamaju.



        Ia bergegas menuju kamar

mandi untuk mandi dan

mengambil air wudhu, tak lama

adzan subuh berkumandang, alam

seperti bersahut – sahutan

mengagungkan asma Allah. Ayah,

ibu serta adik-adiknya




Kata Terakhir Sang Ayah
melaksanakan sholat Subuh

berjamaah.



        Zulia adalah anak ke-6 dari

8 bersaudara. Kakaknya 5, sudah

menikah 4, dan 1 masih kuliah

diseberang, Zulia mempunyai 2

adik, yaitu Ida dan Abi, saat ini

Zulia duduk di kelas 1 MAN dan

Ida kelas 3 MTs, sedangkan Abi

kelas 3 SD.




Kata Terakhir Sang Ayah
        Selesai sholat, Zulia dan

adik-adiknya              dibimbing   untuk

mengaji setiap paginya sedangkan

ibu     memasak            didapur,   untuk

menyiapkan sarapan pagi.

        Selesai mengaji Zulia masuk

kedalam kamarnya, ia membuka

jendela           lebar-lebar.        Sambil

menikmati udara pagi, ia hirup

dalam – dalam aroma yang khas,

daun       padi      dari     sawah   dekat

rumahnya.




Kata Terakhir Sang Ayah
        Dengan            kesejukan    yang

mengalir bersahabat.

   “ Li …. ?”

   Iya Bu….”

      Tolong bantu ibu memasak !

               Oo iya bu …??

        Zulia menghampiri ibunya

dan langsung membantu ibunya.

Adik-adikku dan ayahnya juga

ikut serta membantu ibu. Hampir

setiap          hari       Zulia      selalu

mengerjakan aktivitasnya dengan

penuh semangat.


Kata Terakhir Sang Ayah
        Setelah selesai, ia langsung

menyiapkan alat-alat sekolah dan

siap-siap           untuk      berangkat

sekolah.



        Sebelum           berangkat    ke

sekolah, ibu selalu mengingatkan

ia    untuk        berhati-hati,   belajar

yang tekun dan selalu mematuhi

perintah orang tua.




Kata Terakhir Sang Ayah
     Lia ?!! Kamu hati-hati di jalan,

 jaga adik-adikmu…, jangan main-

             main belajarnya!!


           Iya, yah…, itu pasti..!!

         ( jawab Zulia semangat )




        Setelah           sarapan      dan

adiknya pun pamit untuk pergi ke

sekolah.         Zulia     dan      adiknya

mengendarai sepeda motor untuk

pergi ke sekolah tiap harinya.


Kata Terakhir Sang Ayah
Ketika pulang sekolah, tepatnya

hari sabtu ada sebuah gabungan

alias razia..,,


              Kak ?! ada polisi ..!

             Ucap Ida, adikku…

                     Waahh….

   Gawat nih…, kita bisa diangkut

              kalau begini …!!!

             Gimana nih kak..???

                Ida ketakutan..




Kata Terakhir Sang Ayah
        Akhirnya           Zulia   dan   Ida

membelokkan               motornya   untuk

bersembunyi..


                Pas apesnya..,,!


        Pak Polisi justru ada di

belakang kami. Akhirnya kamipun

di stop, dan ditanya surat-surat

motor.



   Selamat siang mbak . . . ?? boleh

  saya lihat surat-surat motornya

                          …?

Kata Terakhir Sang Ayah
         Zulia langsung menangis

histeris ketakutan, adiknya justru

              ikut menangis..,,

             Polisi bingung ..?!?!!

                     Aduh …

   Adik manis kenapa menangis..??

         Bapak cuma tanya surat-

              suratnya aja..!??



   Zulia dan adiknya malah justru

lebih kencang tangisannya sampai

                 terisak-isak.


Kata Terakhir Sang Ayah
      Polisi memanggil temannya..

   “Urusin satu ini,, bingung aku..,

       Aku tanya surat kok malah

    nangis. ( ujar polisi pertama )



       Polisi kedua,, Malah justru

         memandangiku saja…

     Mungkin dia merasa kasihan,,

    melihat aku menangis sampai

                terisak-isak..



                  Akhirnya….!!!


Kata Terakhir Sang Ayah
              Dia cuma bilang ..

     “Hati-hati di jalan ya nak…???

          Pak udah ya Pak …?????



          Saya boleh pulang ya..?

         “Ujar zulia kepada polisi

      tersebut memohon sambil

                  menangis..”

                  Akhirnya ….

       Aku lolos dan hanya diberi

  peringatan oleh polisi tersebut.


        Aku dan adikku pulang…


Kata Terakhir Sang Ayah
           Setibanya di rumah …

         “Assalamualaikum …??”.

            Waalaikumsalaam . . .

               Sahut ibuku . . .!

              “Kalian Kenapa ..?

             Kok nangis gitu ..?!!

                   “Tegas ibu”



        Zuliapun langsung memeluk

ibunya erat-erat sambil berkata…

              “Ada polisi buu..!”

          Iapun tetap menangis..

                      Trus…!!!


Kata Terakhir Sang Ayah
                  “Jawab ayah”

     “Sambil menangis, aku di stop

                      ayah”

       Tapi nggak apa-apakan…???

              Enggak yah . . . .??

     Alhamdulillah kalau begitu….

       “Aku Cuma ditanya surat-

   suratnya aja,, tapi kami malah

        menangis…” cetus Ida..



         Ayah dan ibu tertawa..,,

           KATA TERAKHIR

               SANG AYAH


Kata Terakhir Sang Ayah
Tok.., tok ..,

Zulia bangun . . . .

Sudah waktunya sholat subuh . .

. !!

       “ Terdengar suara ayah dibalik

                     pintu “


         Iya.. yah….?? Sebentar..,,


           Ayo cepat bangun…!!!

          Biasakan bangun pagi..!

                    Iya.. yah..?

       “ Jawab Zulia di dalam kamar”

Kata Terakhir Sang Ayah
        “Lalu         daun       pintu     itu

bergerak         dan      sebentuk       wajah

ayah         yang         teduh      muncul

bersamaan            dengan       senyumnya

yang khas terkembang”


        Tak           biasanya       ayahku

menebarkan senyumnya jika aku

bangun telat.


        Biasanya selalu dimarah dan

terus di omeli kalau masih ngantuk

& malas-malasan.



Kata Terakhir Sang Ayah
                     “ ehhh…

      Jangan malas-malasan dong..

                Ayo bangun … !

            Melek matanya . . . !



                      “hemm..

                  Iya ya yah ….

      Padahal aku masih ngantuk

                 banget ….,,



    Kita sholat subuh berjamaah. .




Kata Terakhir Sang Ayah
     “sambil merem melek jalan ke

                     toilet.”



                Setelah mandi,,

        Aku tampak heran ayahku

tak marahi adik-adiku..,          karena

tidak mandi pagi sebelum sholat

subuh..


                    Wahh….,,!

      Ayah kok jadi berubah ya..?



         “berkata dalam hatiku”.


Kata Terakhir Sang Ayah
     “Tadi saja aku nggak dimarah

              bangun telat..!”



                          ahh….

   Mungkin ayah lagi males marah-

              marah he he…,,

        Setelah sholat subuh…


        Ayah          bercerita   panjang

lebar..

Sejarah ayah pada masa kecil

hingga sekarang . . .




Kata Terakhir Sang Ayah
        Ayah          selalu       mengajarkan

kami hidup sederhana dan disiplin.

Mengajarkan               agar    tidak    sia-sia

hidup        di     dunia,        membiasakan

hidup dengan bersyukur, bertaqwa

kepada Allah SWT, melaksanakan

sholat 5 waktu, belajar sampai

berhasil…


        Ayah memang tampak galak,

tapi      sebenarnya             ayah     adalah

seorang yang penyayang.


        Tak salah-salah…

Kata Terakhir Sang Ayah
        Setiap            belajar   mengaji,

malas       –    malasan,       ayah   selalu

membawa rotan yang besar, tapi

ayah tak pernah memukul kami.

    Hanya sebagai penakut saja,,


Agar kami lebih semangat belajar.



                    “ bu… !!!

                  Iya yah ..??

                Ada apa … ???

           Besok hari Ahad …




Kata Terakhir Sang Ayah
 Kita liburan ke Duta Wisata yuk

                          …??



Ah ayah… seperti anak muda saja

.., “jawab ibu dengan centil”.


    Anak-anak pasti senang yah..


     Iya bu.., ayah ingin bermain

           bersama mereka . . .


                  Wahh….??




Kata Terakhir Sang Ayah
Biasanya ayah marah-marah kalau

   acara liburan jalan-jalan..,, he

   he…,, “gumam ibu bercanda”


                “ nggak bu…”

 Ayah ingin menghabiskan waktu

          bersama anak-anak...

   Ayah kayak mau kemana saja..

 “Padahal tiap hari juga bersama

                    yah…??”



             Iya juga ya bu…?

                     Hehe...


Kata Terakhir Sang Ayah
 “Ayah & dan ibu tertawa tampak

                    bahagia”



          “Zulia, Ida , Abi ..!!”

     iyah bu. . .,, “jawab mereka

                   serentak”

         “Ayo kalian kesini…!!”



              Ada apa bu …?

     Nggak biasanya ibu panggil

                     kami…?




Kata Terakhir Sang Ayah
   “ kita hari ini liburan, ayahmu

             yang berminat . .

       ( ibu sambil melirik ayah )



                 Horeee . . . .

  “Mereka senang mendengar hal

                          itu”



   Beneran bu . . .!!?? “tanya Abi”

          Iya dong . . “ujar ibu”

                   Yess . . . .

              “Zulia gembira”




Kata Terakhir Sang Ayah
      Ayo siap-siap,, tegas ayah.



               Okee yahh. . . .



        Merekapun berangkat.

      Sesampai di Duta Wisata.

     Ayahku hanya duduk diam

  sementara kami bermain asyik.

Setelah makan siang, kami pulang

         Kami hanya sebentar.

           Ayahku buru-buru .

         Ntah apa yang hendak

                dilakukannya.


Kata Terakhir Sang Ayah
Ayah beda dari biasanya, kini

lebih pendiam,,

Ibuku juga sempat aneh melihat

perubahan ayah.



        Tapi ibuku tak memikirkan

hal     itu.    Mungkin   ayah   hanya

kelelahan saja dalam benak ibu.




       Sore berganti malam . . .




Kata Terakhir Sang Ayah
                 “Zulia ….???
          ( Terdengar suara ayah

                 memanggilku)



 “iya yah …,, ada apa ? “sahutku”.



       Bantu ayah ajari mereka

                  mengaji…!!



                Iya..., yah...???




Kata Terakhir Sang Ayah
     Ingat !! kamu harus menjadi

         wanita yang solekhah,,



 seperti kakak-kakamu yang lain,,

   perjalananmu masih panjang,,

           belajar utamakan..!!



    TV, bermain tolong hentikan

            sebelum mahgrib…



          Ajari adik-adikmu mengaji

& belajar agar kelak kalian semua

menjadi orang yang sukses ..!!


Kata Terakhir Sang Ayah
      “Aku hanya mengangguk”

       “ya sudah..,, ajari mereka

                  mengaji...!!



        Iya…?? “sahutku lirih”.




                000OOO000




Kata Terakhir Sang Ayah
               KESEDIHAN



    04 shafar 1428 H pukul 22.15



          Malam           semakin     larut.

Hewan-hewan malam tidak lagi

menyenandungkan               bait-     bait

pengantar          tidur.    Hari     terasa

sunyi, bahkan terlalu sepi untuk

sebuah         rumah        sederhana     di

tengah-tengah desa Sediamaju.




Kata Terakhir Sang Ayah
          Masih           terngiang    di

telingaku. Sungguh aku bingung

apa maksud ucapan ayah tadi…



    06 shafar 1428 H pukul 18.30



          Ada beberapa siswa dan

siswi       datang        untuk   belajar

mengaji..



                     Zulia ..




Kata Terakhir Sang Ayah
  Iyah yah … ? ( Mengajar sambil

                    belajar )

       Ajari mereka mengaji ..!!


 Aku belum mengerti secara baik

         Yah tajwid dan hukum

      bacaannya…? “jawabku”.


“Ayah yang membimbingmu” ucap

                Ayah singkat.


 Setelah selesai mengaji, Ayahku

   ceramah sedikit kepada kami

                     semua.


Kata Terakhir Sang Ayah
“Kalian yang rajin belajar, mengaji

  sampai kalian tua nanti, belajar

sholat do’a-do’a pendek dan lain-

                          lain.



 Semuanya sudah bisa sholatkan

                          … ??



     Sudah . . . . !! “jawab murid

                  serentak”.

 Aku memandangi ayahku, seolah

  akan berpisah jauh dengannya.


Kata Terakhir Sang Ayah
“ Sementara ini kalian diajar oleh

 anak bapak, Agar terbiasa tidak

        selalu dengan bapak ..,,

  Ayahku terus memberi arahan

    kepada anak-anak didiknya,,



 Setelah sholat Isya’ mereka pun

    pulang, Ayah langsung ganti

                    pakaian.




Kata Terakhir Sang Ayah
 Ayahku memakai baju putih, jas

    hitam, sarung cokelat kotak-

     kotak, memakai peci hitam,

     dengan cepat aku bertanya



       ”Ayah mau kemana … ?”

    Kok udah rapi…, “tanyaku”.


      Ayah mau ngamin tempat

                  saudara..,,


    “Aku hanya diam,, kan hujan

             dalam benakku”.



Kata Terakhir Sang Ayah
            Hati-hati ya yah…?


                      Iya….

”Jawab ayah sambil mengeluarkan

                 kendaraan”.



         Akupun masuk kamar.

    Tak lama ayahku kembali ke

          kamar ganti pakaian.

 Loh…Kok ayah nggak jadi pergi

              …?. “Cetusku”.



       Iya gerimis. “jawab ayah”.


Kata Terakhir Sang Ayah
                     Oh….,

Tak lama akupun ke dapur untuk

makan malam. Sementara ibu dan

 adikku Ida, Abi ikut membantu

      ibu membereskan pakaian.



      Ayah memandangku erat.

   Matanya bulat memandang ke

   arahku, tapi aku tak tahu apa

                 maksudnya.

      Setelah itu aku ke dapur.




Kata Terakhir Sang Ayah
 Ibuku kedepan untuk menemani

    ayah ngobrol atau bersenda

                     gurau.



              Yah…? Ayah ….

   “ibu memegangi pundak ayah,

           ayah sedang apa ..?”

                   Ucap ibu.



       Ayahpun tak menyahut.

         Ayah… ayah kenapa ??


                 Ayaahh…….


Kata Terakhir Sang Ayah
   “Ibu menjerit histeris, karena

            ayah tak bersuara”

 Ibu pikir ayah sedang sholat Isya

 karena posisi ayah pada saat itu

          sujud ke arah kiblat.



             “Akupun kaget”.



               Ada apa bu ??

          Ayah nak…,, ayah…!!



Ayah kenapa bu…!! Ayah kenapa

                          …??


Kata Terakhir Sang Ayah
   Ibu hanya bisa menangis, adik-

         adikku pun menangis,,



         Toloong..,, toloong..,,

  “Aku menjerit meminta tolong

tetangga untuk membantu ayah”.



   Ada apa..?,, malam-malam kok

          teriak-teriak..?? “ujar

                tetanggaku”.



         Ayah..,, pak ! ayah …,,




Kata Terakhir Sang Ayah
             Ayahmu kenapa ?

   Ayah sakit, nggak mau bicara.

  Merekapun cepat-cepat untuk

         melihat keadaan ayah.

       Astaghfirullahaladzim…


    Panggilkan dokter..,, segera

                     nak…!!!



     Akhirnya akupun menelpon

dokter terdekat untuk ke rumah.




Kata Terakhir Sang Ayah
    “ Tak lama kemudian dokter

                    datang”.



 Dokter tolong suami saya dok…!

       “Ibu menangis dan terus

                  memohon”.

            Setelah diperiksa.



 “Suami ibu terkena darah tinggi

         dan akhirnya setruk..”



Dengan muka panik ibu menjerit.

               “Apa dokk..!!”.


Kata Terakhir Sang Ayah
                    Iya bu..,,

     Suami ibu harus dirawat di

     rumah sakit.., “ujar dokter

                  tersebut”.



  Aku langsung menelpon kakak-

     kakakku bahwa ayah sakit,

mereka kaget mendengar hal itu.



     Tanggal 06 shafar tepatnya

  tanggal 24 Februari 2007 pukul

  21.15. Ayahku dibawa kerumah

                      sakit.


Kata Terakhir Sang Ayah
   Sesampai dirumah sakit., ayah

     ditangani oleh dokter yang

                   bertugas.



 Akhirnya ayah di rawat di RSUP

                 satu malam.

  Tak lama kakakku berdatangan

     untuk melihat kondisi ayah.



    Bu..? “Panggil dokter kepada

                     ibuku”.



          Iya dok..? jawab ibu.


Kata Terakhir Sang Ayah
         Maaf bu sebelumnya..

 Suami ibu harus dipindahkan ke

             rumah sakit lain..

      “Karena kami sudah tidak

       sanggup menanganinya”.



 Ibupun menangis ketakutan. Ibu

   memohon kepada dokter agar

    bisa menangani ayah. Tanpa

harus dioper ke rumah sakit lain.

Ibu menangis dan terus menangis

            mendengar hal itu.




Kata Terakhir Sang Ayah
    Sampai akupun tak sanggup

  melihat ibu menangis sedih tak

                 henti-henti.

     Akhirnya aku pulang untuk

menjaga rumah karena hanya ada

                 adik-adikku.

      Aku pulang dengan muka

  ditekuk. Adik-adikku bertanya-

                     tanya..


“ Gimana Ayah kak ..??. Baik-baik

                  aja kan ..?”.

    Ayah baik-baik aja kok dik..,,


Kata Terakhir Sang Ayah
        Zulia merahasiakan kepada

adiknya        bahwa         ayahnya      akan

dioper ke rumah sakit lain.



        Tak               lama      kakaknya

menelpon,           mengabarkan           ayah

sudah        dipindah.           Hatiku   deg-

de’gan nggak tenang, di sekolah

belajarku pun tidak tenang.



Senin malam selasa, 8 Shafar 1428 H.




Kata Terakhir Sang Ayah
       Tetanggaku seraya ingin

   menengok ayah. Awalnya aku

        ingin ikut tapi gak jadi.



    Tepat pukul 21.20 hari senin

malam selasa, Ayahku meninggal.



Aku        tak       diberitahu    mereka

bahwa ayah sudah meninggal.

Justru          aku        kaget   melihat

tetanggaku kumpul mengeluarkan

kursi-kursi          dan     lemari,   aku




Kata Terakhir Sang Ayah
bertanya-tanya kepada mereka.

setelah diberitahu.



 Aku jatuh pingsan. Adik-adikku

              terus menangis.


     Tak lama aku sadar. Semua

               seperti mimpi.


      Ayahku kini telah tiada…

   Baru kemarin aku berbincang-

          bincang dengannya..

  Kini semuanya hanya kenangan.



Kata Terakhir Sang Ayah
           Aku terus menangis

Ibu & kakak-kakakku telah sampai

      bersama ayah yang tinggal

                   jasadnya.


 Ibu menangis.. Semua menangis..


 Seorang laki-laki yang sederhana

 gagah berani, disiplin dia adalah

                     Ayah…


    Ayahku yang selaku memberi

dukungan.. motivasi kepada anak-

                    anaknya.


Kata Terakhir Sang Ayah
      Kini semua telah berubah




Kata Terakhir Sang Ayah
        SEMANGAT BARU


   Hari-hariku tanpa ayah terasa

                      sepi…


Hampir            setiap      pagi    aku

dibangunkan, kini tiada yang akan

mengetok pintu kamarku setiap

paginya lagi…



    Air mataku terus berlinang..

Belum         terbiasa     diriku    harus

hidup tanpa ayah


Kata Terakhir Sang Ayah
Aku teringat ucapan ayah..



   “ Kamu harus menjadi wanita

              yang solekhah”.

   Aku tak habis pikir ternyata

                ucapan ayah..

  Semua itu adalah kata terakhir

          yang harus aku ingat.


         Hari terus berganti…


  Matahari bersinar cukup terik.

     Burung-burungpun tak lagi



Kata Terakhir Sang Ayah
  terdengar berkicau. Siang yang

           cukup menjemukan.

       “Li … kamu nggak makan

 siang..??”, tanya teman-temanku.



Nanti saja..,, aku masih kenyang..!

Ya sudah.., aku ke kantin duluan

                     ya li …?



                   Assalaa..

“vi..!! potong Zulia memanggil Via

temannya”.           Via        menghentikan

langkahnya.               Via    memandangi


Kata Terakhir Sang Ayah
wajahku          cukup      lekat,   hingga

akhirnya Via menghampiri mejaku

dan duduk tepat di depanku.



      Ada apa Li…??? Tanya Via

                 menyelediki.



“Bagaimana pendapatmu tentang

      angket yang aku pilih…?”.

 IPA atau IPS ? jawabnya datar.



                      IPS ..!




Kata Terakhir Sang Ayah
 Loh kok..? bukannya kamu ingin

        jadi seorang perawat..??



“Iya     sih…,            “jawabku   dengan

lemas”.             Tapi         sepertinya

harapanku            telah    pupus    Vi..,

Ayahku telah tiada..,, siapa yang

akan membiayaiku nanti..??




                  Hemm….,,,

Sudahlah kamu jangan sedih lagi..

                    yah…???


Kata Terakhir Sang Ayah
   Via memelukku dengan penuh

                   perhatia.



       “Trus kenapa kamu ambil

                    IPS…??”.



                      Ya….

Pikirku karena aku nggak ada

harapan lagi untuk masuk ke

kesehatan..!!

    Rizki, jodoh, ajal Allah yang

                  ngatur . . .


Kata Terakhir Sang Ayah
    “Menurutku sih… ambil IPA

                          aja…


 Lagian teman-teman kita masuk

                      IPA..


                    Waahh..

                Gimana ya…?

 Angketku udah di kumpul,, kita

          keruang guru yuk…?

                “Ajak Zulia”.

              Okk… yuk …??!!




Kata Terakhir Sang Ayah
Setelah angket diganti. Ternyata

Zulia masuk di kelas XI IPA 3,

alias kelas unggulan di kelas XI

bagian IPA.

Waktu terus berjalan….

Tak      terasa           sudah   5   bulan

keluargaku hidup tanpa ayah.



 Ibuku,, kini sidah bisa menerima

               kenyataan itu.



         “Semuanya Allah yang

           menentukan nak..?”.


Kata Terakhir Sang Ayah
          Iya bu…,, “cetusku”.



“Kita jangan berlarut-larut dalam

    kesedihan.., kasihan ayahmu

     disana, kalau terus-terusan

                  menangis..”



      Kita do’akan saja.. semoga

    ayahmu diterima disisi Allah

                      SWT..



Amiiin…., Serentak Ida dan Abi.




Kata Terakhir Sang Ayah
Aku       dan      adik-adikku      semakin

semangat                  untuk         belajar.

Mengingat ucapan ayah, kami

ingin       mewujudkan            hal     itu..,

sukses demi masa depan..



     “Di sekolahpun aku tampak

                     ceria..”

  “Ehh Lia… besok main yuk …?”

  Besokkan pulang cepat..,, “ajak

             Aida kepadaku”.



         “Waahh gimana ya…??


Kata Terakhir Sang Ayah
Aku nggak berani Da.., aku takut

             dimarah ibuku…”



          Ehh… ini bukan main

sembarangan …??? “sahut Aida”.



          “Truss main apaan…”



  Aku besok ada kursus jam 2 di

wates… ngelewatin rumahmu tau

                      Li…!!

                 “iyah tah..??”




Kata Terakhir Sang Ayah
 “Ya udah besok kamu ke rumah

  aja Da…,, sekalian izinin aku…,

                 mau yaa…?”



               Okee… okee…

    Besok pulang sekolah ya Li..?

                  Sip dech…

 “Zulia menjawab dengan centil”.

   Kini Zulia lebih fokus belajar

            demi cita-citanya.

Zulia       mulai         mengajar   di   Mis

Islamiyah            dekat       rumahnya,

yayasan tersebut milik ayahnya,


Kata Terakhir Sang Ayah
dan      ia     sudah     mulai   belajar

mengajar sejak ia kelas 1 MAN,

sebelum ayahnya meninggal..



  Zulia mengajar sehabis pulang

                    sekolah.



      Kali ini ia tidak mengajar,

   melainkan di ajak Aida untuk

    menemani kursus keyboard.



        “ Assalamu’alaikum ….”




Kata Terakhir Sang Ayah
 Wa’alaikumsalam …, “jawab ibu”.



          Zulianya ada bu….??



  Ohh…,, Temennya Zulia ya…??



                   Iya bu …



       Zulia lagi sholat, pulang

         sekolah…. “ kata ibu”.



“oo… baru sampai rumah toh…??”

              Iya. “sahut ibu”.


Kata Terakhir Sang Ayah
“maklum jauh rumahnya.., “cetus

                     Aida”.



         Aida dan ibu tertawa.



   Aida adalah teman sekelas di

                 sekolahnya.


 ( Tak lama kemudian Zulia keluar ).



   “ sudah dari tadi Da..??” tanya

                      Zulia.

 “Ah… barusan kok ..” ujar Aida.


Kata Terakhir Sang Ayah
    “Hemm.., gimana kamu udah

           izinin aku belum…??

      “Belum Li …!!” kata Aida.


Ya sudah izinin gih…!! Aku nggak
          berani Da…,


                Iya deh iya…,


      Uhh..!! dasar anak mami..,,


   He he he… “Aida menggoda
  dengan mencubit pinggangnya’’.


      Setelah izin.., mereka pun
             berangkat.

Kata Terakhir Sang Ayah
               ADA CINTA


           Sesampai di lokasi,,

Aida langsung naik ke lantai atas

untuk latihan,               sementara aku

duduk di lantai bawah melihat

orang-orang yang sedang latihan

band.



Tak lama, ada seorang pemuda

turun        dari         lantai   atas   dan

menghampiriku




Kata Terakhir Sang Ayah
  Kok sendirian mbak…?, “Tanya

                   padaku”.



    Aku melemparkan senyuman

          dengan menjawab ….

   Iya…,, temanku lagi latihan di

                atas mas…,,?



                     Ohh..,,



     Emang kamu darimana …??




Kata Terakhir Sang Ayah
   Dari rumah niat kesini aja…,,

             “jawabku cetus..”

    Maksudku alamatmu,, “kata

                pemuda itu..”



           Ohh… rumahku…??

      Rumahku di Sediamaju..,,



  Dimana sih itu …? “Pemuda itu

                  bertanya”.




Kata Terakhir Sang Ayah
 Lalu akupun menjelaskan secara

      detail tapi pemuda itu tak

            mengetahui juga..




    Akupun bertanya padanya…

  “ emang mamas dari mana ya..?”


        Aku dari Way Abung….

   Duh dimana itu ….?? “tanyaku

      dengan wajah penasaran”


Ha… ha… “Pemuda itu tertawa”.



Kata Terakhir Sang Ayah
   Lah kok malah tertawa sih…?


Iya lucu aja, kamu nggak tau

tempatku, aku juga nggak tau

tempatmu..,, “jawab pemuda itu

dengan senyum”.

       Hehe… akupun tertawa.


      “Namanya siapa mbak…??”

           ( sejenak aku diam )

             Putri.., “ucapku”

 “Aku sedikit berbohong dengan

              merubah nama”.



Kata Terakhir Sang Ayah
Aku         Rizal…,,       “pemuda   itu

menyebutkan               nama    dengan

mengulurkan tangannya”


     Akupun menyambut uluran

    tangannya dengan senyum…

      “salam kenal..,, ucapnya..”

           “Iya sama-sama…??”.

Kamu ngapain kesini mas…?? Ada

             latihan juga ya..?



    Aku lagi rekaman, aku nggak

               sendiri kok…,,!


Kata Terakhir Sang Ayah
 Teman-temanku diatas lagi pada

                istirahat . . . ,



      “Oh gitu..,, sejak kapan??”



    Kemarin sore…, “ujar Rizal”.

  Tapi besok aku pulang,, karena

           harus sekolah juga..



                “Oh…iya …?”

      Kamu kelas berapa Put..??




Kata Terakhir Sang Ayah
               Aku kelas 2….



       Oh SMP ya…? Dimana ?



 “Hah…!!,, aku kaget mendengar

                  hal itu . . .
 Ya SMA lah..., ( jawabku menepis )



               Upps soryy…??!

  Aku pikir masih SMP ..,, hehe..

       Kamu bercanda terus..!!

 Habis kamu kecil kaya adikku…,

      “cetusku sambil tertawa”.


Kata Terakhir Sang Ayah
                    “Ihh…..

      Kamu tuh ngeledek aja…

    Biarin kecil-kecil juga,,, yang

         penting manis to...??!!?

                  Hahaha….



      “Mereka tertawa,, dengan

      Pedenya Zulia bergurau”.



   Mamas sendiri kelas berapa..?




Kata Terakhir Sang Ayah
       Sama saja denganmu…,,

                   “katanya”.



            Oh kelas 2 juga …



                      Iya…?



   Setelah asik ngobrol. Rasanya

            berat ingin pulang.



   Tapi aku harus pulang karena

     Aida sudah selesai latihan.

   “Put..,, panggil Aida padaku”.


Kata Terakhir Sang Ayah
    Iya..,, aku memutar balikkan

                     badan.



          Bagi No. Hp dong ..?

    Biar lebih asik ngobrolnya..?



  Akhirnya kamipun tukaran No.

                 Handphone.



  “Ya udah aku pulang dulu ya..?”

        Iya,, hati-hati ya put…?




Kata Terakhir Sang Ayah
 Rizal berdiri di dekat pintu. Dan

 dia terus memandangiku. Seolah

    tak ingin berpisah denganku.



          “Assalamualaikum…”



     “Wa’alaikumsalam”,, Jawab

    pemuda itu dengan senyum..



           Hari mulai berganti.



     Terdengar suara SMS dari

                     Hpku..


Kata Terakhir Sang Ayah
    Aku berusaha membukanya,,


           “Ternyata dari Rizal

               ( Way Abung )


“Put.. aku sudah sampai di rumah

        ni…??”. Kamu lagi apa??



 Akupun bergegas membalasnya.



     “Alhamdulillah kalau sudah

                  sampai . . .”

   Aku lagi baca buku aja nih…?



Kata Terakhir Sang Ayah
       Laporan pesan terkirim.



Mereka         kini       lebih   akrab      dan

sering sms’an dan telephonan.



Sampai              akhirnya             mereka

berpacaran            hanya       dari     lewat

telpon saja.



Sudah hampir 2 bulan Rizal belum

mengetahui                nama           asliku.,,

Akupun merasa berdosa telah




Kata Terakhir Sang Ayah
membohongi dia, dan akhirnya

aku mencoba jujur.



      Dan Rizalpun terima,, dan

   memaafkan atas kesalahanku.



     Namun,, kami tidak pernah

                  bertemu…,



              Kring… kring…




Kata Terakhir Sang Ayah
   Telpon terdengar dari Hpku.

       Aku berharap Rizal yang

                menelponku.



                      Ya…!!

              Ternyata benar.

                    Halo….?

Assalamualaikum, “Salamku lirih”.



    “waalaikumsalam”, terdengar

          suara dibalik telpon.




Kata Terakhir Sang Ayah
   “Maaf ya…, aku mengganggu,

                    ujarnya..

      Oh… tak apa..? ada apa ??

                   tanyaku..



 “Insya allah.., minggu depan aku

  bersilahturahmi kerumahmu..?”



     Oh ya.. ?! “sahutku girang”.

           Iya.., doanya ya…??!

    Iya pasti aku doakan selalu..!



   “Ya sudahlah kalau begitu…?”


Kata Terakhir Sang Ayah
             Sampai ketemu…

          “Assalamualaikum…

          “Waalaikum salam…”

                 Tut.., tut.., tut..,

             Telpon tertutup.



Hati gembira mendengar hal itu.

Tapi ternyata gagal.

Sampai akhirnya aku sudah tak

menghiraukan dia lagi.



   Aku kecewa dengan sikapnya.

     Beberapa bulan kemudian.


Kata Terakhir Sang Ayah
      Tanpa memberitahuku dia

                 berkunjung.

      Akupun kaget,, siapa yang

                    datang..

  Bahkan aku baru sekali ketemu

             waktu di Wates..

     Hampir satu tahun aku tak

                     jumpa.

           Namun setelah itu..



 Kami kembali akbrab, meskipun

        masih jarang bertemu…


Kata Terakhir Sang Ayah
Tak terasa Zulia kini telah lulus

dari MAN. Dan dia melanjut

keperguruan tinggi yang tak lain (

UML                  )             Universitas

Muhammadiyah Lampung.



Hubungan                  mereka      semakin

dekat,, walau masih tetap jarang

bertemu.

Letak kampus Rizal tidak jauh

dari kampusku, tapi kami sibuk




Kata Terakhir Sang Ayah
dengan        aktivitas    kami   masing-

masing.


  Namun kami tetap jalan hingga

                    saat ini.




Kata Terakhir Sang Ayah
                  TA’ARUF


        Suasana           siang    itu   tidak

terlalu panas. Matahari terlihat

malu-malu           dibalik       awan   yang

putih. Aku mensyukuri bahwa

keadaan ini merupakan karunia

Tuhan Yang Maha Esa. Dan aku

memang selalu mensyukuri semua

keadaan entah itu baik atau

buruk.




Kata Terakhir Sang Ayah
 19 Dzulhijjah 1431 H pukul 16.00


        Ada beberapa tamu yang

datang         untuk         menemui      ibu.

Namun tidak seperti kebanyakan

wong ndeso                yang sering datang

ke     rumah         ini.       Awalnya   aku

mengira               mereka          adalah

wartawan.                 Dan      tebakanku

semakin melanglang buana saat

melihat tamu termuda.




Kata Terakhir Sang Ayah
        “Maksud kedatangan kami

adalah untuk melamar anak ibu,,”

Ucap tamu tertua tiba-tiba.



        Bagai         tersambar   petir,,

hatiku langsung terlonjak dan

terbang ke arah laut selatan,,

sampai         akhirnya     aku   harus

berusaha sekuat tenaga menata

perasaan yang tercerai berai agar




Kata Terakhir Sang Ayah
dapat menutupi pasi wajahku dan

dingin peluhku.



        “Kalau             seorang      gadis

terdiam         ketika        ada    seorang

pemuda          yang        melamar,    maka

biasanya gadis itu…….”….??


        “Ma’af            paman”,,     selaku

memotong ucapan paman,, yang

ikut serta dalam hal itu, yang

ucapannya                  terasa       pahit

terdengar.


Kata Terakhir Sang Ayah
        Mata tajam ibuku langsung

menusuk                   kalbuku,,       dan

tampaknya             seluruh         penghuni

ruangan ini juga menatapku sama.


“Saya belum bisa menjawabnya

sekarang lanjutku hati-hati,, saya

harus memikirkannya dahulu”.


19 Dzulhijjah 14.31 H, pukul 19.30.

        Paman             memanggilku      ke

ruang tengah, dan ibuku ikut

duduk            bersamaku,             paman


Kata Terakhir Sang Ayah
menatapku tajam layaknya aku

adalah seorang tertuduh.



    “Paman tahu apa yang kamu

    pikirkan Li..?” matanya tajam

               laksana elang.

  “Apa yang bisa kamu harapkan

   dari pacarmu itu yang sedang

                   kuliah..?”



 “Aku terdiam dan menggeleng”.

 “Aku tidak tahu,” bisikku dalam

                          hati.


Kata Terakhir Sang Ayah
                          Li…?



          Rizal itu masih kuliah, dan

biasanya mahasiswa tidak akan

menikah sampai mereka merasa

mapan, lain halnya dengan wanita

yang sedang kuliah.

            “Aku mendongak”



          “Terus sampai kapan kamu

akan menunggu,, sedangkan kita

tidak tahu kapan dia lulus..?”



Kata Terakhir Sang Ayah
Apalagi             sampai         mapan…!!

“Pamanku menolak perasaanku”.



 “Ibu tidak akan memaksakanmu

nak…” ibu mulai membuka bicara.



          “ibu      ingin    kamu       sukses

dulu..,, Mengingat ayahmu yang

dulu mendidikmu dan berpesan

pada ibu…!!

          Sebentuk          kristal    bening

keluar        dari        sudut       mataku,,

sementara                 hatiku        sudah


Kata Terakhir Sang Ayah
tenggelam            di   dalam   kolam

kekecewaan. Kecewa terhadap

semuanya.



 25 Dzulhijjah 1431 H pukul 23.00



Malam ini aku tak bisa tidur. Dan

 aku membaca buku cerita Nabi

                  dan Rosul.



     Dalam hatiku ia berkata….




Kata Terakhir Sang Ayah
“Ya Allah,, bantulah hamba agar

selalu ingat kepadaMu dan bisa

menjaga hati yang sudah engkau

buka untuk tetap istiqomah.



          Bimbinglah      hamba   agar

dapat       melalui kehidupan yang

penuh               ditumbuhi     akar

keterlenaan dari mengingatMu.



          Dan kututup malam ini

dengan penuh kepasrahan sampai

akhirnya kupejamkan mata sambil


Kata Terakhir Sang Ayah
memeluk buku berita Nabi dan

Rosul.




 04 Muharam 1431 H pukul 13.00



                “Lii …….. ??”

                     Iya bu..

            Ibu tidak memaksa

              keinginanmu…!!




Kata Terakhir Sang Ayah
   “Ucapan pamanmu anggaplah

        sebuah masukan saja..”.



                   Iya bu….



     “kuliah yang benar,,” jangan

 sampai mengecewakan… kasihan

                 ayahmu…!!”



 Iya bu..,, Do’akan Zulia ya bu..?

                  “Iya pasti..”




Kata Terakhir Sang Ayah
    Zulia masuk kedalam kamar

         untuk sholat dzuhur..



    Setelah selesai sholat,, Zulia

       mengerjakan tugas-tugas

                   kuliahnya.



                     “Lii…?”



                 Iya … man..?

    Ada tamu di depan,, “paman

    menunjuk dengan matanya”.

    Aku berdiri…, siapa man …?


Kata Terakhir Sang Ayah
Paman berjalan menuju ruangan

depan dan akupun mengikutinya.



        Aku terpaku,, aku tidak

mampu         lagi        merasakan   benih-

benih          pikiran         yang     bisa

membendung perasaan yang tidak

ingin aku alami lagi. Sementara

persendianku sudah mulai terasa

lemas ketika mengetahui bahwa

tamu         yang          datang     adalah

keluarga yang pernah melamarku.




Kata Terakhir Sang Ayah
         “Kami datang kemari untuk

meminta          kepastian    dari   anak

ibu..”

         Aku terdiam mencari kata-

kata yang tepat untuk menolak

secara halus.


               “Gimana Li…?’


         “Semua itu ada di pihakmu..

Karena            kamu       yang    akan

menjalaninya,, Ibu membisikkan

lembut..?”



Kata Terakhir Sang Ayah
    Pamanku diam,, ruangan itu

                    hening..


    Semua menunggu jawabanku



                  “Maaf…..”

Aku belum siap untuk menuju

kepelaminan,,                     aku   ingin

menyelesaikan studiku dulu…



Tapi kamu tetap kuliah meskipun

sudah menikah …?? “ujar pemuda

                          itu”.


Kata Terakhir Sang Ayah
      Aku menundukan kepala.



      “Gimana Li…??” pamanku

                menegaskan.

    Aku menggelengkan kepala.

                   “Maaf man….”

           Dan maaf pak….???

  Saya memang belum siap untuk

                  menikah…

Pernikahan bukanlah untuk main-

     main…,,, “cetusku lembut”.




Kata Terakhir Sang Ayah
       Maaf pak… bu.., “ibuku

    memotong pembicaraanku”.

      “kami tidak bisa memaksa

           keinginan anak…,,”



 “Saya paham dengan itu..” sahut

      bapak pemuda itu dengan

                    senyum.



“Ya       sudah           mungkin    belum

jodohnya…”                meskipun   harus

memaksa,, kalau belum jodohnya

sulit rasanya….,,


Kata Terakhir Sang Ayah
          “Allah yang menentukan..,

kami       hanya          berusaha”.    Tegas

ayahnya. Hatiku serasa lepas dari

ikatan-ikatan tali yang mengikat

hatiku.. Aku kembali tersenyum

setelah semuanya sudah jelas.

Kini      keadaan          kembali     seperti

semula.



          Pagi        hari     yang     cerah

dengan         suasana         yang    cukup

mendukung untukku..


Kata Terakhir Sang Ayah
Hemm...,,

Kini aku mulai bernafas lega..

          Keputusan itu sudah ada

ditanganku..              kini   aku   memilih

Rizal..



          Yah… memang belum pasti

sih..,,     tapi      jodoh       siapa   yang

tahu… kita hanya bisa berdo’a

dan berusaha untuk yang terbaik.




Kata Terakhir Sang Ayah
        Dan kini Rizalpun semakin

dekat              denganku       sering

berkomunikasi             dan   bertemu.

Semakin harmonis saling menjaga

kepercayaan satu sama lain…

     Meskipun jarang bertemu..



        Mengingat pesan ayahku,,

untuk            tetap      bersemangat

belajar,, mungkin dengan cara

seperti ini lebih baik. . . .




Kata Terakhir Sang Ayah
        Matahari             masih           setia

memancarkan                      sinar        dan

kehangatannya                    ke          bumi.

Menemani                  para          penjelajah

kebenaran            dimuka           bumi     ini.

Dalam menemukan semua nilai

yang         mereka              cari      untuk

melengkapkan                                  dan

menyempurnakan hidupnya.



        Maka,,, teruslah bergerak,

wahai para penjelajah kebenaran.

Temukan hikmah dalam setiap


Kata Terakhir Sang Ayah
batu yang menghadang dan dari

setiap        jurang      atau   bahkan

selokan tempat engkau pernah

tercebur ke dalamnya.



         “God bless you all…!!”




                     




Kata Terakhir Sang Ayah
          BIOGRAFI PENULIS


             Mas Zuliawati, lahir di
             Sediamaju        Sidodadi
             Pesawaran, 25 Juni 1991.
             Putri    ke-6   dari   8
             bersaudara, putri dari
bapak Marzuki dan Ibu Masfudah.

Menyelesaikan pendidikan di SDN 2
Sidodadi Pesawaran pada tahun 2003.
MTsN Kedondong tahun 2006.
MAN Kedondong tahun 2009 dan saat ini
sedang     mengikuti  pendidikan   di
Universitas   Muhammadiyah    Lampung
(UML) Bandar Lampung.

Saat ini tercatat sebagai mahasiswi
semester III, Fakultas Agama Islam di
Universitas  Muhammadiyah    Lampung
(UML) Bandar Lampung.

Kata Terakhir Sang Ayah
“kalau seorang gadis terdiam ketika ada
  seorang pemuda yang melamar, maka
      biasanya gadis itu…….”….??

   “Maaf paman”,, selaku memotong
 ucapan paman,, yang ikut serta dalam
  hal itu, yang ucapannya terasa pahit
                terdengar.

 Mata tajam ibuku langsung menusuk
   kalbuku,, dan tampaknya seluruh
 penghuni ruangan ini juga menatapku
                  sama.
  “ia terdiam dan mengingat ayahnya
  iapun harus memperjuangkan cita-
       citanya hingga ia berhasil..

      Bagaimana keputusannya..?
   “Akankah Zulia menerima lamaran
              itu…???”


Kata Terakhir Sang Ayah
Kata Terakhir Sang Ayah

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:247
posted:4/1/2011
language:Indonesian
pages:120
Description: CERITA YANG DIKEMAS DALAM SEBUAH NOVEL YANG SAYA BERI JUDUL "KATA TERAKHIR SANG AYAH". CERITA INI SAYA DAPATKAN LANGSUNG DARI NARASUMBERNYA YAITU MAS ZULIANTI. ADA BANYAK KISAH DI DALAMNYA,, DIANTARANYA PERJALANAN CINTA GADIS IMUT INI HINGGA PERASAAN SEDIH YANG MENDALAM KETIKA DITINGGAL PERGI UNTUK SELAMANYA OLEH SANG AYAH.