Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

PTK MATEMATIKA

VIEWS: 13,693 PAGES: 15

									MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
   MELALUI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
           TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER
       PADA SISWA KELAS VIII SMPN 1 GADINGREJO




                  DI SUSUN OLEH :


               ELLIYA SAFITRININGSIH
                   NPM. 1013110004




          DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
                UNIVERSITAS LAMPUNG
       FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                        2010
                 LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL PTK


Nama                   : Ellya Safitriningsih
NPM                    : 1013110004
Jurusan                : MIPA
Program Study          : Pendidikan Matematika
                           ( S I Guru Dalam Jabatan )


Judul                  : Meningkatkan Aktivitas dan hasil belajar Matematika
                           siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gadingrejo melalui
                           pelaksanaan Pembelajaran Kooeperatif Type Numbered
                           Heads Together.


1. Pembimbing I        : Drs. Pentatio Gunowibowo, M.Pd
2. Pembimbing II       : …………………………………….
3. Pembimbing III      : …………………………………….




          Disetujui oleh                     Bandar Lampung,   Desember 2010
      Dosen Pengampu                                     Penulis
Metodologi Penelitian Pendidikan




   Dr. BUDI KOESTORO                            ELLYA SAFITRININGSIH
NIP ……………………………                                    NPM. 1013110004

                           Dosen Pembimbing Akademik




                   Drs. PENTATIO GUNOWIBOWO, M.Pd
                          NIP. 19610524 198603 1 006
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS VIII SMPN 1 GADINGREJO MELALUI PELAKSANAAN
    PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE NUMBERED HEADS
                         TOGETHER



                                      BAB I
                                PENDAHULUAN



A. Latar Belakang


   Berdasarkan Undang-Undang sistem Pendidikan         Nasional bahwa tenaga
   kependidikan      bertugas    melaksanakan     administrasi,     pengelolaan,
   pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses
   pendidikan pada satuan pendidikan.


   Sedangkan      pendidik   merupakan   tenaga   profesional     yang   bertugas
   merencanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
   pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian
   kepada masyarakat, terutama bagian pendidik pada perguruan tinggi. Pendidik
   dan tenaga kependidikan berkewajiban :
   1. Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif,
      dinamis dan diaogis.
   2. Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu
      pendidikan dan
   3. Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan
      sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.


   Sedangkan pembelajaran adalah suatu proses membelajarkan sujek didik yang
   tidak terlepas dari komponen-komponen pembelajaran, tujuan, materi, metode,
   alat bantu, sumber belajar dan siswa yang menjadi fokus utamanya. Masing-
   masing komponen saling berkaitan dalam rangka mencapai tujuan yang telah
   ditetapkan (depdikbud, 2005 :8).
Dalam rangka mencapai hasil prestasi belajar yang baik sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang diharapkan, maka siswa harus dapat meningkatkan
konsentrasi belajarnya pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar.


Masalah terjadi dimana prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika
di SMPN 1 Gadingrejo relatif rendah, antara lain disebabkan beberapa faktor
antara lain :


1.   Teknik mengajar masih monoton, metode guru dalam menyampaikan
     materi masih terbatas dengan metode ceraman dan memberikan contoh.
2.   Interaksi belajar mengajar antara guru tidak ubahnya sebagai pendongeng
     cerita yang berakhir dengan soal atau pertanyaan
3.   Di dalam kelas siswa yang di belakang cenderung ribut dan tidak pernah
     berkomentar tentang pelajaran yang disampaikan
4.   Matematika masih dianggap mata pelajaran yang menakutkan atau
     bahkan membosankan
5.   Siswa SMPN 1 Gadingrejo seringkali ragu-ragu dalam menjawab
     pertanyaan
6.   Siswa SMPN 1 Gadingrejo takut atau malu bertanya
7.   Siswa SMPN 1 Gadingrejo ragu dalam menyampaikan pendapat


Untuk mengatasi hal tersebut perlu diupayakan langkah-langkah yang dapat
dilaksanakan baik oleh sisa maupun guru. Bentuk dan tindakan guru dalam
upaya meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa ini diwujudkan
dengan memilih metode pelaksanaan pembelajaran kooperatif. Pembelajaan
kooperatif bukanlah merupakan gagasan baru dalam dunia pendidikan.
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran
dimana siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling
membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran.
  Dalam pelaksanaannya pembelajaran kooperatif dapat meruibah peran guru
  dari peran terpusat pada guru ke peran pengelola aktivitas kelompok kecil atau
  terpusat pada siswa itu sendiri. Sehingga dengan demikian peran guru yang
  selama ini monoton akan berkurang dan siswa akan semakin terlatih untuk
  menyelesaikan berbagai permaslahan, bahkan permasalahan yang dianggap
  sulit sekalipun.


  Dalam pembelajran kooperatif, setiap siswa mempunyai kesempatan yang
  sama. Kegiatan belajar berpusat pada siswa dalam bentuk               diskusi,
  mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam
  memecahkan masalah.


  Ada beberapa macam model pembelajaran kooperatif yang telah dikenal
  dalam proses pembelajaran selama ini antara lain ;
  Student Temas Achievement Division (STAD), Jigsaw, Team Games
  Tournament (TGT), Numbered Head Together (NHT). Berdasarkan
  karakteristik dan kelebihan serta kelemahan masing-masing pembelajaran
  kooperatif pada penelitian ini peneliti memilih metode Pelaksanaan
  Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT.


B. Rumusan Masalah

  Berlatar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah
  yang dapat disimpulkan adalah :
   Apakah melalui pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
     siswa dapat memahami dan menguasai materi dengan baik ?
   Apakah melalui pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
     dapat mempengarhui aktivitas siswa ?
   Apakah melalui pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
     siswa mampu berkomunikasi antar sesama teman atau guru.
C. Tujuan Penelitian
   Sesuai dengan perumusan masalah seperti tersebut di atas, maka tujuan
   penelitian ini adalah :
   1. Membuktikan bahwa penggunaan metode kooperatif tipe Numbered
      Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
   2. Membuktikan bahwa penggunaan metode kooperatif tipe Numbered
      Heads Together dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa SMPN 1
      Gadingrejo
   3. Membuktikan bahwa penggunaan metode kooperatif tipe Numbered
      Heads Together dapat meningkatkan komunikasi antara guru dan siswa.


D. Manfaat Penelitian
   Dengan hasil penelitian diharapkan dapat membenarkan manfaat terhadap :
   1. Siswa
      a. Meningkatkan kreatifitas dalam belajar
      b. Meningkatkan kemandirian dalam belajar
      c. Meningkatkan hasil belajar


   2. Guru
      a. Meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas
      b. Meningkatkan profesionalisme


E. Ruang Lingkup
   1. Pembelajaran      kooperatif   tipe   Numbered    Heads    Together      adalah
      pembelajaran kooperatif yang memiliki empat struktur dalam setiap
      langkah kegiatan utama yaitu penomoran, pengajuan pertanyaan, berfikir
      bersama, dan pemberian jawaban. Setiap siswa dalam kelompok memiliki
      nomor yang berbeda kemampuan akademik yang berbeda-beda pula dan
      tanggung jawab yang sama.
   2. Hasil belajar adalah nilai tes yang didapat siswa setiap akhir siklus.
   3. Pokok bahasan dalam penelitian ini adalah lingkaran
                                   BAB II
                           TINJAUAN PUSTAKA




A. Pembelajaran Kooperatif
   Untuk memperlancar proses penelitian, diperlukan dasar teori yang
   mendukung gagasan untuk mengatasi akan masalah pembelajaran yang
   memerlukan tindakan kelas. Hal ini diperlukan agar tindakan kelas lebih
   terarah dan hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.


   Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua siswa dapat menguasai
   materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar. Sehingga semua
   siswa mendapatkan pemahaman konsep dengan benar. Hal ini sesuai dengan
   pendapat Slavin (2008:33), “Tujuan paling penting dari pembelajaran
   kooperatif adalah untuk memberikan para siswa pengetahuan, konsep,
   kemampuan dan pemahaman yang mereka butuhkan, supaya menjadi anggota
   masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi”.


   Menurut Nurhadi, (2004:116), pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan,
   diantaranya :
   1. Meningkatkan kesetiakawanan sosial.
   2. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri dan egois
   3. Meningkatkan rasa percaya kepada sesama manusia
   4. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasa baik
   5. Meningkatkan     kegemaran    berteman   tanpa    memandang perbedaan
      kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacta, etnis agama dan kelas
      sosial.

   Sedangkan kelemahan pembelajaran kooperatif menurut pendapat Syaipul
   Bahri Djamarah ( 2000:157), diantaranya adalah :
   1. Diskusi memakan waktu
   2. Pemborosan waktu
   3. Diskusi dapat menekan pendirian
B. Pembelajaran Kooperatif type Numbered Heads Together
   Tipe ini dikembangkan oleh Kagan dengan melibatkan para siswa dalam
   menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek
   pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.


   Tahapan –tahapan pelaksanaan Numbered Heads Together yang diungkap
   oleh Nurhadi (2004:121) dalam 4 langkah sebagai berikut :
   1. Penomoran (Numbering)
      Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompk atau tim yang
      anggotanya tiga hingga lima orang dan memberi mereka nomor sehingga
      setiap siswa dalam kelompok memiliki nomor yang berbeda.


   2. Pengajuan Pertanyaan (Questioning)
      Guru mengajukan pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat
      bervariasi dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum.


   3. Berfikir bersama (Head Together)
      Para sisa berfikir bersama untuk menggambarkan dan menyakinkan bahwa
      tiap orang mengetahui jawaban tersebut.


   4. Pemberian Jawaban (Answering)
      Guru menyebut satu nomor dari para siswa tiap kelompok dengan nomor
      yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh
      kelas.


   Dari uraian di atas, maka model pembelajran kooperatif tipe NHT merupakan
   salah satu alternatif pembelajaran yang dapat ditetapkan di kelas agar siswa
   dapat mengembangkan potensinya bersama dengan kelompoknya.
                                       BAB III
                             METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Subjek Penelitian
   Penelitian dilakukan di SMPN 1 Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
   Kabupaten Pringsewu. Adapun subjek penelitian adalah siswa kelas VIII.5
   SMPN 1 Gadingrejo Sebanyak 30 siswa.

B. Jadwal Pelaksanaan Penelitian
   Penelitian dilaksanakan pada semester genap Tahun Pelajaran 2010/2011.

C. Rancangan Penelitian
   Penelitian tindakan kelas lebih bertujuan untuk mengubah kinerja guru dan
   siswa SMPN 1 Gadingrejo. Namun hasil penelitian dapat diterapkan oleh
   orang lain yang mempunyai konteks yang sama dengan peneliti.

   Dalam buku pedoman teknis pelaksanaan Classroom Action Research (CAR)
   atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK) . (Depdiknas, 2001:5) disebutkan
   penelitian bersiklus, tiap siklus terdiri dari :
   1. Perencanaan
   2. Tindakan (Action )
   3. Observasi
   4. Refleksi

   1. Tahap Pelaksanaan
       Tahap pelaksanaan terdiri dari 2 siklus yaitu :
       a. Siklus I
           1) Perencanaan
               Sebelum melakukan penelitian, peneliti mempersiapkan hal-hal
               sebagai berikut :
               a. Menyusun silabus dan RPP tentang lingkaran
               b. Menyiapkan alat bantu pembelajaran
               c. Menyiapkan lembar tes
               d. Menyiapkan lembar observasi
      2) Tindakan (Action)
          Pertemuan 1.2 tentang lingkaran.
          Materi pembelajaran :
          a. Lingkaran
          b. Bentuk soal tentang keliling dan luas lingkaran
          c. Cara penyelesaian soal-soal cerita yang menggunakan materi
              lingkaran
          Langkah-langkah :
 Pertemuan
                      Langkah-Langkah                        Tujuan
 dan Materi
1. Lingkaran  Guru menyampaikan dan                Menghidupkan suasana
                memotivasi siswa                     pembelajaran
               Guru menyajikan informasi           Menggali pengetahuan
               Guru membagi siswa dalam             siswa
                kelompok, setiap siswa dalam        Memberikan peluang
                kelompok mendapat nomor              kerja sama kepada
               Guru memberikan tugas dan            siswa
                masing-masing kelompok              Menguatkan
                mengerjakannya                       penguasaan konsep
               Guru memanggil salah satu nomor
                siswa dengan nomor yang
                dipanggil melaporkan hasil kerja
                sama mereka
               Guru memberikan kesempatan
                pada kelompok lain dalam
                memberikan tanggapan, kemudian
                guru menunjuk nomor yang lain.
               Guru dan siswa bersama-sama
                menyimpulkan hasil pembelajaran
                yang telah dilakukan
2. Bentuk soal-  Guru menunjukan kepada siswa           Mendapatkan nilai phi
   soal latihan      benda-benda yang alasnya berupa     Mengetahui rumus
   tentang           lingkaran                            luas lingkaran
   latihan         Guru membagi tugas kepada setiap     Mengetahui rumus
                     kelompok untuk menentukan            keliling lingkaran
                     berapa diameter, keliling, luas     Dapat menghitung
                     lingkaran dan phi terhadap benda     luas lingkaran jika
                     yang berupa lingkaran                diketahui diameternya
                   Guru menunjuk salah satu nomor       Dapat menghitung
                     kepada siswa untuk dapat             keliling lingkaran
                     mempresentasiakn hasil kerja         jika diketahui jari-
                     kelompok                             jarinya
                   Guru dan sisa bersama-sama
                     menyimpulka hasil pembelajaran
                     yang telah dilakukan


3. Cara            Guru memberikan tugas kepada         Membelajarkan teknik
   penyelesaian      masing-masing kelompok dengan        penyelesaian soal
   soal-soal         soal yang berbeda-beda setiap       Menguji kemampuan
   latihan           kelompok                             dan pemahaman siswa
   lingkaran       Bersama siswa guru memulai           Menumbuhkan kerja
                     diskusi kelas                        sama diantara siswa
                   Guru menunjuk salah satu nomor       Melatih kemampuan
                     kepada siswa untuk                   komunikasi antar
                     mempresentasikan hasil pekerjaan     siswa
                     kelompoknya                         Menumbuhkan
                   Guru dan sisa bersama-sama            keberanian siswa
                     menyimpulkan hasil pembelajaran      dalam menyatakan
                     yang telah dilakukan                 pendapat


   Beberapa hal yang diharapkan dalam siklus ini adalah :
   a)     Siswa mengalami peningkatan minat belajar dan aktivitas di kelas
   b)     Terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik antara siswa dalam kelas
   c)     Siswa memiliki keberanian dalam menyampaikan gagasan dan
          mampu berinisiatif.
     3) Observasi
         Pada tahap observasi peneliti melakukan pengamatan selama
         kegiatan berlangsung, peneliti juga meminta bantuan teman guru
         untuk mengamati kegiatan proses pembelajaran berlangsung
         dengan menggunakan lembar observasi.


     4) Refleksi
         Refleksi    hasil   dilaksanakan   setiap   siklus    tindakan   untuk
         mengetahui tingkat keberhasilan serya kelemahan langkah-langkah
         yang ditempuh. Hal ini merupakan dasar pelaksanaan tindakan
         selanjutnya.


  b. Siklus II
     1) Perencanaan
         Sebelum melakukan tindakan siklus II, peneliti melakukan
         perbaikan yang menyangkut hal-hal sebagai berikut :
         a. Bahan ajar
         b. Alat peraga
         c. RPP
         d. Soal tes
         e. Lembar observasi


     2) Tindakan (Action)
         Pertemuan 1. Lingkaran
         Langkah-langkah :
Pertemuan
                        Langkah-Langkah                        Tujuan
dan Materi
2. Lingkaran  Guru membagi siswa dalam               Menguji kemampuan
                 beberapa kelompok setiap anak         siswa
                 mendapatkan nomor kepala yang        Menumbuhkan kerja
                 berbeda                               sama diantara siswa
              Guru membagi lembar kerja              Melatih kemampuan
                 kelompok                              komunikasi antar siswa
                  Siswa mulai diskusi kelompok         Menumbuhkan
                  Salah satu nomor kepala dipanggil      keberanian siswa
                     untuk mempresentasikan hasil         dalam menyatakan
                     kerja kelompok                       pendapat
                  Siswa yang lain dengan nomor
                     sama untuk menanggapi presntasi
                     dari siswa yang berada di depan
                  Guru dan siswa bersama-sama
                     menyimpulkan hasil.




              Harapan pada siklus II ini adalah :
              a. Siswa mampu menyelesaikan soal lingkaran
              b. Siswa mampu mengemukakan pendapatnya
              c. Siswa mampu berkomunikasi sesama siswa dan guru


          3) Observasi
              Pada tahap observasi peneliti melakukan pengamatan selama
              kegiatan berlangsung, peneliti juga meminta bantuan teman guru
              untuk mengamati kegiatan proses pembelajaran berlangsung
              dengan menggunakan lembar observasi.


          4) Refleksi
              Dari hasil pengamatan pada siklus II ini, dapat digunakan untuk
              melakukan refleksi apakah hasil ulangan sudah memenuhi
              ketuntasan secara klasikal maupun individual.


D. Instrumen Penelitian
   Untuk memperoleh data yang akurat tentang kemampuan belajar siswa
   melalui tindakan kelas menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
   Numbered heads together, ditetapkan alat ukur lembar observasi. Hal ini
   ditempuh mengingat keaktifan belajar siswa akan tampak dalam proses belajar
   mengajar di kelas. Adapun aspek penilaian meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Memperhatikan penjelasan guru
2. Menjawab pertanyaan guru
3. Menyampaikan informasi
4. Mengajukan pertanyaan


Observasi dilaksanakan pada tiap-tiap siklus tindakan kelas dengan kriteria
nilai sebagai berikut :
Sangat kurang       = 1
Kurang              = 2
Baik                = 3
Sangat baik         = 4


Untuk mengetahui tingkat ketuntasan digunakan rumus :
1. Ketuntasan individu
       jumlah skor yang diperoleh
                                  x 100 %
          jumlah seluruh siswa
2. Ketuntasan klasikal
       jumlah siswa yang tuntas
                                x 100 %
         jumlah seluruh siswa


Jika nilai skor yang diperoleh siswa 65 % maka siswa tersebut dinyatakan
tuntas.
                           DAFTAR PUSTAKA




Depdikbud.1993.GBPP SD 1994. Jakarta : Depdikbud

Holstein. 4986.Murid Belajar Mandiri. Bandung

Peraturan Pemerintah Rebublik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
          Nasional Pendidikan

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional

Depdikbud. 2005. Strategi dan Metode Pembelajaran PKn. Jakarta

								
To top