Modul Dasar -dasar FO by tohirl

VIEWS: 2,866 PAGES: 45

Mengoperasikan Jaringan FIber Atas Tanah

More Info
									                                 MODUL
        DASAR DASAR FIBER OPTIK ATAS




                        KOMPETENSI :
MENGOPERASIKAN JARINGAN AKSES FIBER
                   OPTIK ATAS TANAH




                  BIDANG KEAHLIAN :
         TEKNOLOGI TELEKOMUNIKASI




                PROGRAM KEAHLIAN :
   TEKNIK JARINGAN AKSES PELANGGAN




  YAYASAN SANDHYKARA PUTRA TELKOM
                                 MODUL
                      UNTUK KALANGAN SENDIRI




                                     Page 1 of 45
                                      Kata Pengantar
       Mengacu pada isi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional mengenai Tujuan
Pendidikan Nasional (pasal 3) dan Penjelasan pasal 15 yang menyebutkan bahwa pendidikan
kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk
bekerja dalam bidang tertentu.
       SMK sebagai lembaga pendidikan kejuruan berkepentingan untuk ikut andil
mensukseskan pendidikan nasional dengan berbagai pola dan strategi pengembangan. Salah
satu pola pengembangannya adalah melalui Kurikulum SMK Edisi 2004.
       Kurikulum SMK Edisi 2004 memiliki karakteristik yang berbeda dari kurikulum SMK
sebelumnya, dimana pendidikan kecakapan hidup yang diperkaya dengan pelatihan berbasis
kompetensi dan diperkuat dengan pelatihan berbasis produksi diharapkan dapat mengantarkan
peserta diklat mencapai cita-citanya. Baik cita-citanya sebagai teknisi yang siap kerja maupun
wirausaha di bidang telekomunikasi.
       Salah satu sistem yang disiapkan untuk mempermudah peserta diklat dan instruktur
dalam mengimplementasikan Kurikulum SMK Edisi 2004 adalah modul-modul pemelajaran
yang disusun sistemik mengikuti kompetensi yang akan ditempuh oleh peserta diklat.
       Dengan diterapkannya sistem leveling dan sertifikasi di SMK, maka kualitas muatan
modul-modul pemelajarannya pun ditingkatkan ke standar yang berlaku secara nasional dan
internasional.
       Modul-modul pemelajaran ini diterbitkan dalam versi cetakan (hardcopy) dengan
demikian diharapkan peserta diklat dapat mengikuti kegiatan-kegiatan belajar dengan mudah
dan menyenangkan.


Selamat belajar!
Purwokerto, Juni 2006
Penyusun,




                                                                                   Page 2 of 45
                                                               Daftar Isi
Kata Pengantar ……………………………………………………………


Bab I       Pendahuluan
A.      Deskripsi
B.      Diagram Pencapaian Kompetensi


Bab II      Pemelajaran
A.      Kriteria Unjuk KErja
B.      Lingkup Belajar
C.      Materi Pokok Pembelajaran
        -   Sikap
        -   Pengetahuan
        -   Ketrampilan
D.      Uraian Materi (dilengkapi dengan evaluasi dan tugas)


Lembar Kerja / Job Sheet / Laporan


Penutup




                                                                        Page 3 of 45
                                                 Bab I - Pendahuluan
Modul yang berjudul Mengoperasikan Jaringan Akses Fiber Optik Atas Tanah merupakan modul yang
ke – 12 dari modul – modul yang disediakan di Program Keahlian Teknik Jaringan Akses Pelanggan.


Dalam Modul ini, Kompetensi yang dipelajar adalah sebagai berikut :

BIDANG KEAHLIAN                    :     Teknik Telekomunikasi
PROGRAM KEAHLIAN :                       Teknik Jaringan Akses Pelanggan
KOMPETENSI                         :     Mengoperasikan jaringan akses fiber optic atas tanah
KODE                               :     L
JAM PEMBELAJARAN                   :     200 jam


    SUB                                                                MATERI POKOK PEMBELAJARAN
               KRITERIA                LINGKUP
 KOMPETE
              UNJUK KERJA              BELAJAR          SIKAP              PENGETAHUAN                  KETERAMPILAN
     NSI
L.1.          Menguasai :                                           Konstruksi kabel Fiber optic       Membuat konstruksi
Menguasai     Konstruksi Fiber    Konstruksi dan       Kecermata    Fiber optic Single mode            kabel fiber optik
Konstruksi    optic               Instalasi jaringan   n dalam      Fiber optic Multi mode
Jaringan      berdasarkan         akses Fiber optic    memahami     Karakteristik fiber optic
akses fiber   manual book                              konstruksi   Perangkat kirim
optik atas                                             dan          Perangkat terima
tanah                                                  instalasi    Photo dioda
                                                                    Dioda laser




L.2.          Penyambungan        Penyambungan         Hati hati, • Peralatan menyambung kabel         Penyambungan
Menguasai     kabel fiber optic   kabel fiber optic    cermat       fiber optik atas tanah             kabel fiber optik
penyambun     sesuai manual       atas tanah           dan teliti • Bahan menyambung kabel             atas tanah
gan           book                                     dalam        fiber optik atas tanah
jaringan                                               menyamb • Urutan kerja menyambung
akses fiber                                            ung kabel    kabel fiber optik atas tanah
optik atas                                             fiber optik
tanah                                                  atas
                                                       tanah
L.3.          Perkembangan        Perkembangan         Kecermata    Perkembangan Fiber optic di       Menguasai dasar
Menguasai     Fiber Optic baik    teknologi Fiber      n dalam      dunia                             propagasi cahaya
instalasi     di dunia            Optic di dunia       memahami     Perkembangan Fiber optic di       dalam medium
jaringan      maupun di           dan Indonesia        perkemban    dunia                             Menguasai hukum
akses fiber   Indonesia           serta Teori Fisika   gan          Keuntungan dan kerugian Fiber     Pemantulan cahaya
optik atas    dipelajari          Optic                teknologi    Optic                             Menguasai hukum
tanah         berdasarkan         Dasar-dasar          fiber optic  Propagasi udara dalam medium      Pembiasan cahaya
              pada manual         Perencanaan          dan teori    Hukum pemantulan cahaya           Memasang kebel
                                  Jaringan Akses       fisika       Hukum pembiasan cahaya
              book yang                                                                               udara Fiber Optic
                                  Fiber Optic dan      Optic        Pemasangan kabel udara fiber
              berlaku
                                  petunjuk             Kecermata    optic
              Mempelajari         pelaksanaan          n dalam      Pemasangan optical distribution
              teori Fisika                             memahami     network (ODN) dan optical
              Optic                                    dasar-dasar network unit (ONU)
              Perangkat                                perencanan Konfigurasi sistem jaringan
              terminal Fiber                           jaringan     akses fiber optic
              optic                                    akses fiber  Persyaratan teknis jaringan
              Pemasangan                               optic dan    akses fiber optic
              kabel Fiber optic                        petunjuk     Rancangan jaringan akses fiber
              sesuai manual                            pelaksanaa   optic
              book                                     nnya
                                                                    Design jaringan akses fiber
              Menguasai
                                                                    optic
              dasar-dasar
                                                                      Teknologi dan power budget
              perencanaan
              sesuai dengan
              manual book
              yang telah
              ditetapkan




                                                                                                                 Page 4 of 45
        SUB                                                                MATERI POKOK PEMBELAJARAN
                   KRITERIA                LINGKUP
     KOMPETE
                  UNJUK KERJA              BELAJAR         SIKAP               PENGETAHUAN                   KETERAMPILAN
         NSI
    L.4.          Prosedur                               Kecermata      Pemeliharaan kabel atas tanah     Menerapkan
    Menguasai     pemeliharaan        Identifikasi       n dalam        jaringan akses fiber optic        pemeliharaan kabel atas
    Pemelihara    diidentifikasi      prosedur baku      menggun        Pemeliharaan kabel bawah          tanah jaringan akses
    an jaringan   sesuai dengan       pemeliharaan       akan           tanah jaringan akses fiber optic fiber optic
    akses fiber   prosedur yang       jaringan akses     peralatan      Pemeliharaan perangkat            Menerapkan
    optik atas    berlaku pada        fiber optic        OTDR           terminal kirim dan terima         pemeliharaan kabel
    tanah         buku user                              Kecermata      Pemeliharaan perangkat HFC        bawah tanah jaringan
                  manual              Peralatan OTDR     n dalam        Penggunaan       OTDR      untuk akses fiber optic
                                                                                                          Menerapkan
                  Prinsip kerja       dan buku           menanga        menentukan jenis gangguan
                                                                                                          pemeliharaan terminal
                  alat ukur OTDR      pedoman            ni             Penggunaan       OTDR      untuk
                                                                                                          kirim dan terima
                  dipelajari sesuai   prinsip kerja      gangguan       menentukan letak gangguan         Menerapkan
                  dengan buku         Sarana Instalasi   pada           Penggunaan       OTDR      untuk pemeliharaan perangkat
                  user manual         jaringan akses     jaringan       menentukan redaman kabel          HFC
                  Pedoman             fiber optic        akses          Penggunaan       OTDR      untuk Menggunakan alat ukur
                  menangani           lengkap dengan     fiber optic    menentukan sambungan kabel        untuk:
                  gangguan            data-data kabel    Kecermata      Penggunaan OTDR untuk             Menentukan jenis
                  dipelajari sesuai   dan pedoman        n dalam        menentukan panjang kabel          gangguan
                  dengan buku         penanganan         memaha         Pembongkaran dan                  Menentukan letak
                  user manual         gangguan           mi             pemasangan kembali instalasi      gangguan
                                                         prosedur       kabel fiber optic atas tanah      Menentukan redaman
                                                         pemelihar      Pembongkaran dan                  kabel
                                                         aan            pemasangan kembali instalasi      Menentukan
                                                         jaringan       kabel fiber optic bawah tanah     sambungan kabel
                                                         akses          Pembongkaran dan                  Menentukan panjang
                                                         fiber optic    pemasangan kembali                kabel
                                                                        sambungan kabel fiber optic       Membongkar dan
                                                                        Penyambungan ulang kabel          memasang kembali
                                                                        fiber optic                       instalasi kabel fiber
                                                                        Terminasi ulang kabel fiber       optic atas tanah
                                                                        optic                             Membongkar dan
                                                                                                          memasang kembali
                                                                                                          instalasi kabel fiber
                                                                                                          optic bawah tanah
                                                                                                          Membongkar dan
                                                                                                          memasang kembali
                                                                                                          sambungan kabel
                                                                                                          fiber optic
                                                                                                          Menyambung ulang
                                                                                                          kabel fiber optic
                                                                                                          Melakukan terminasi
                                                                                                          ulang kabel fiber optic


    L.5.          Prosedur                                               Peraturan perundang-             Menerapkan prosedur
Menguasai         keselamatan         Prosedur kerja,    Penghayata       undangan keselamatan kerja      kerja, keselamatan
    keselamata    dan kesehatan       keselamatan dan    n akan          Norma, standard dan sistem       dan kesehatan kerja
    n kerja       kerja ditetapkan    kesehatan kerja    pentingnya       keselamatan kerja               Pertolongan
    jaringan      sesuai dengan       pada pekerjaan     keselamata      Kesehatan kerja                  kecelakaan kerja pada
    akses fiber   peraturan           operasi dan        n dan           Peralatan keselamatan kerja      instalasi kabel fiber
    optik atas    perundang-          pemeliharaan       kesehatan       Keselamatan kerja pada           optic
    tanah         undangan yang       jaringan akses     kerja            instalasi fiber optic
                  berlaku             fiber optic




    Sedang Pembagian Jam Pembelajaran Kompetensi Mengoperasikan Jaringan Akses Fiber Optik Atas
    Tanah adalah sbb :

    BIDANG KEAHLIAN                    :     Teknik Telekomunikasi
    PROGRAM KEAHLIAN :                       Teknik Jaringan Akses Pelanggan
    KOMPETENSI                         :     Mengoperasikan jaringan akses fiber optic atas tanah
    KODE                               :     L
    JAM PEMBELAJARAN                   :     200 jam
         SUB KOMPETENSI                                                PENGETAHUAN                                          JAM




                                                                                                                      Page 5 of 45
           SUB KOMPETENSI                                              PENGETAHUAN                                           JAM

    L.1.                                   Konstruksi kabel Fiber optic                                                     40 JAM
    Menguasai Konstruksi Jaringan          Fiber optic Single mode
    akses fiber optik atas tanah           Fiber optic Multi mode
                                           Karakteristik fiber optic
                                           Perangkat kirim
                                           Perangkat terima
                                           Photo dioda
                                           Dioda laser
    L.2.                              •   Peralatan menyambung kabel fiber optik atas tanah                                 50 JAM
    Menguasai                         •   Bahan menyambung kabel fiber optik atas tanah
    penyambungan jaringan akses       •   Urutan kerja menyambung kabel fiber optik atas tanah
    fiber optik atas tanah


    L.3.                                  Perkembangan Fiber optic di dunia                                                50 JAM
    Menguasai instalasi jaringan          Perkembangan Fiber optic di dunia
    akses fiber optik atas tanah          Keuntungan dan kerugian Fiber Optic
                                          Propagasi udara dalam medium
                                          Hukum pemantulan cahaya
                                          Hukum pembiasan cahaya
                                          Pemasangan kabel udara fiber optic
                                          Pemasangan optical distribution network (ODN) dan optical network unit (ONU)
                                          Konfigurasi sistem jaringan akses fiber optic
                                          Persyaratan teknis jaringan akses fiber optic
                                          Rancangan jaringan akses fiber optic
                                          Design jaringan akses fiber optic
                                           Teknologi dan power budget
    L.4.                              Pemeliharaan kabel atas tanah jaringan akses fiber optic                             40 JAM
    Menguasai Pemeliharaan            Pemeliharaan kabel bawah tanah jaringan akses fiber optic
    jaringan akses fiber optik atas   Pemeliharaan perangkat terminal kirim dan terima
    tanah                             Pemeliharaan perangkat HFC
                                      Penggunaan OTDR untuk menentukan jenis gangguan
                                      Penggunaan OTDR untuk menentukan letak gangguan
                                      Penggunaan OTDR untuk menentukan redaman kabel
                                      Penggunaan OTDR untuk menentukan sambungan kabel
                                      Penggunaan OTDR untuk menentukan panjang kabel
                                      Pembongkaran dan pemasangan kembali instalasi kabel fiber optic atas tanah
                                      Pembongkaran dan pemasangan kembali instalasi kabel fiber optic bawah
                                      tanah
                                      Pembongkaran dan pemasangan kembali sambungan kabel fiber optic
                                      Penyambungan ulang kabel fiber optic
                                      Terminasi ulang kabel fiber optic
    L.5.                               Peraturan perundang-undangan keselamatan kerja                                     20 JAM
Menguasai keselamatan kerja            Norma, standard dan sistem keselamatan kerja
    jaringan akses fiber optik atas    Kesehatan kerja
    tanah                              Peralatan keselamatan kerja
                                       Keselamatan kerja pada instalasi fiber optic




                                                                                                                         Page 6 of 45
     A. Diagram pencapaian Kompetensi Menguasai Sistem Telekomunikasi

              TINGKAT I                TINGKAT II               TINGKAT III



                                         E

                                                    3
             A                                                     N
                                         F

                                        G
             B                                      4
                                         H

                                         I          5
             C
                                         J

                                         K
            D                                       6               O
                                          L

                                         M



Keterangan :
A.    Menggambar Teknik
B.    Merakit Komponen Elektronika Analog
C.    Merakit Komponen Elektronika Digital
D.    Mengoperasikan Sistem Telekomunikasi
E.    Mengoperasikan Perangkat Telekomunikasi Konsumen
F.    Mengoperasikan Jaringan Akses Tembaga Atas Tanah
G.    Mengoperasikan Jaringan Akses Tembaga Bawah Tanah
H.    Mengoperasikan Sistem Duct
I.    Mengoperasikan IKR/G
J.    Mengoperasikan xDSL
K.    Membuat Perencanaan Dasar Jaringan Akses
L.    Mengoperasikan Jaringan Akses Fiber Optik Atas Tanah
M.    Mengoperasikan Jaringan Akses Fiber Optik Bawah Tanah
N.    Mengoperasikan Jaringan Akses Radio Tetap (Fixed Wireless Telephone)
O.    Mengoperasikan Jaringan Akses Radio Bergerak (GSM , CDMA)




                                                                              Page 7 of 45
                                     Bab II - Pemelajaran
KOMPETENSI                   :   Mengoperasikan jaringan akses fiber optic atas tanah
KODE                         :   L
JAM PEMBELAJARAN             :   200 jam


A. Kriteria Unjuk Kerja

   •    Konstruksi Fiber optic berdasarkan manual book
   •    Penyambungan kabel fiber optic sesuai manual book
        Perkembangan Fiber Optic baik di dunia maupun di Indonesia dipelajari berdasarkan pada
        manual book yang berlaku
        Mempelajari teori Fisika Optic
        Perangkat terminal Fiber optic
        Pemasangan kabel Fiber optic sesuai manual book
        Menguasai dasar-dasar perencanaan sesuai dengan manual book yang telah ditetapkan
        Prosedur pemeliharaan diidentifikasi sesuai dengan prosedur yang berlaku pada buku user
        manual
        Prinsip kerja alat ukur OTDR dipelajari sesuai dengan buku user manual
        Pedoman menangani gangguan dipelajari sesuai dengan buku user manual
        Prosedur keselamatan dan kesehatan kerja ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-
        undangan yang berlaku


B. Lingkup Belajar

        Konstruksi dan Instalasi jaringan akses Fiber optic
        Penyambungan kabel fiber optic atas tanah
        Perkembangan teknologi Fiber Optic di dunia dan Indonesia serta Teori Fisika Optic
        Dasar-dasar Perencanaan Jaringan Akses Fiber Optic dan petunjuk pelaksanaan
        Identifikasi prosedur baku pemeliharaan jaringan akses fiber optic
        Peralatan OTDR dan buku pedoman prinsip kerja
        Sarana Instalasi jaringan akses fiber optic lengkap dengan data-data kabel dan pedoman
        penanganan gangguan
        Prosedur kerja, keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerjaan operasi dan pemeliharaan
        jaringan akses fiber optic


C. Materi Pokok Pembelajaran

    - Sikap

    •   Kecermatan dalam memahami konstruksi dan instalasi
    •   Hati hati, cermat dan teliti dalam menyambung kabel fiber optik atas tanah
    •   Kecermatan dalam memahami perkembangan teknologi fiber optic dan teori fisika Optic




                                                                                        Page 8 of 45
•    Kecermatan dalam memahami dasar-dasar perencanan jaringan akses fiber optic dan
     petunjuk pelaksanaannya
•    Kecermatan dalam menggunakan peralatan OTDR
•    Kecermatan dalam menangani gangguan pada jaringan akses fiber optic
•    Kecermatan dalam memahami prosedur pemeliharaan jaringan akses fiber optic
•    Kecermatan dalam menggunakan peralatan OTDR
•    Kecermatan dalam menangani gangguan pada jaringan akses fiber optic
•    Kecermatan dalam memahami prosedur pemeliharaan jaringan akses fiber optic
•    Penghayatan akan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja


- Pengetahuan

    • Konstruksi kabel Fiber optic
    • Fiber optic Single mode
    • Fiber optic Multi mode
    • Karakteristik fiber optic
    • Perangkat kirim
    • Perangkat terima
    • Photo dioda
    • Dioda laser
    • Peralatan menyambung kabel fiber optik atas tanah
    • Bahan menyambung kabel fiber optik atas tanah
      Urutan kerja menyambung kabel fiber optik atas tanah
      Perkembangan Fiber optic di dunia
      Perkembangan Fiber optic di dunia
      Keuntungan dan kerugian Fiber Optic
      Propagasi udara dalam medium
      Hukum pemantulan cahaya
      Hukum pembiasan cahaya
      Pemasangan kabel udara fiber optic
      Pemasangan optical distribution network (ODN) dan optical network unit (ONU)
      Konfigurasi sistem jaringan akses fiber optic
      Persyaratan teknis jaringan akses fiber optic
      Rancangan jaringan akses fiber optic
      Design jaringan akses fiber optic
      Teknologi dan power budget
      Pemeliharaan kabel atas tanah jaringan akses fiber optic
      Pemeliharaan kabel bawah tanah jaringan akses fiber optic
      Pemeliharaan perangkat terminal kirim dan terima
      Pemeliharaan perangkat HFC
      Penggunaan OTDR untuk menentukan jenis gangguan
      Penggunaan OTDR untuk menentukan letak gangguan
      Penggunaan OTDR untuk menentukan redaman kabel




                                                                                  Page 9 of 45
      Penggunaan OTDR untuk menentukan sambungan kabel
      Penggunaan OTDR untuk menentukan panjang kabel
      Pembongkaran dan pemasangan kembali instalasi kabel fiber optic atas tanah
      Pembongkaran dan pemasangan kembali instalasi kabel fiber optic bawah tanah
      Pembongkaran dan pemasangan kembali sambungan kabel fiber optic
      Penyambungan ulang kabel fiber optic
      Terminasi ulang kabel fiber optic
      Peraturan perundang-undangan keselamatan kerja
      Norma, standard dan sistem keselamatan kerja
      Kesehatan kerja
      Peralatan keselamatan kerja
      Keselamatan kerja pada instalasi fiber optic


  - Ketrampilan

      Membuat konstruksi kabel fiber optik
      Penyambungan kabel fiber optik atas tanah Membaca blok / gambar sirkit pesawat GSM
      Menguasai dasar propagasi cahaya dalam medium
      Menguasai hukum Pemantulan cahaya
      Menguasai hukum Pembiasan cahaya
      Memasang kebel udara Fiber Optic
      Menerapkan pemeliharaan kabel atas tanah jaringan akses fiber optic
      Menerapkan pemeliharaan kabel bawah tanah jaringan akses fiber optic
      Menerapkan pemeliharaan terminal kirim dan terima
      Menerapkan pemeliharaan perangkat HFC
      Menggunakan alat ukur untuk:
      Menentukan jenis gangguan
      Menentukan letak gangguan
      Menentukan redaman kabel
      Menentukan sambungan kabel
      Menentukan panjang kabel
      Membongkar dan memasang kembali instalasi kabel fiber optic atas tanah
      Membongkar dan memasang kembali instalasi kabel fiber optic bawah tanah
      Membongkar dan memasang kembali sambungan kabel fiber optic
      Menyambung ulang kabel fiber optic
      Melakukan terminasi ulang kabel fiber optic
      Menerapkan prosedur kerja, keselamatan dan kesehatan kerja
      Pertolongan kecelakaan kerja pada instalasi kabel fiber optic


URAIAN MATERI




                                                                                    Page 10 of 45
                                DASAR-DASAR SERAT OPTIK
Umum
Sistem komunikasi pada saat ini sebagai media transmisinya sudah mulai menggunakan kabel
serat optik. Untuk itu diperlukan kabel serat optik yang mempunyai spesifikasi yang sesuai
dengan standard yang berlaku yang telah ditentukan agar mutu dari sistem komunikasi
tersebut benar-benar terjaga.


Sejarah Perkembang Optik Dunia
1881   - William Wheeler ” Sistem pendistribusian cahaya
1937   -“Norman R. French” Sistem telepon optik lengkap menggunakan media transmisi
dari
 tabung/pipa
1950   - “Ray D Kell dan George C Sziklai” Pengiriman sinyal Televisi melalui media
transmisi tabung/pipa
1960   -“TH Maiman” dari Riset Hughes( menemukan Laser
1970   - “Corning Glass Work” serat optik dengan redaman 20 dB/km menjadi 4 dB/km
1980   -Serat optik multi mode dikembangkan


Indonesia
1980   -       Penggunaan serat optik di Jakarta untuk menghubungkan Jakarta – Surabaya
1990 -         Indosat menggunakan serat optik untuk menghubungkan stasiun bumi di
Jatiluhur dengan Jakarta
1997   -       Serat optik digunakan secara luas di 4 KSO di Indonesia yaitu Sumatera ;
Kalimantan; DIY dan Jateng; Sulawesi dan Kepulauan


Keuntungan Dan Kerugian Penggunaan Fiber Optik
1. Keuntungan.
   •   Dapat menyalurkan data dengan kecepatan sangat tinggi
   •   Diamater kabel Serat optik lebih kecil dibandingkan dengan kabel tembaga dan juga
       lebih ringan
   •   Redaman kecil sehingga ruas pengulang menjadi lebih panjang
   •   Kebal terhadap induksi elektromagnetis
   •   Aman terhadap bahaya listrik
   •   Kapasitas dapat ditambah setelah kabel terpasang
   •   Kerahasiaan lebih terjamin
   •   Mempunyai nilai ekonomis
   •   Crosstalk rendah
   •   Tidak berkarat


                                                                                 Page 11 of 45
     •   Tahan temperatur tinggi


2. Kerugian
     •   Tidak dapat menyalurkan energi listrik
     •   Relatif sulit saat instalasi
     •   Kurang tahan terhadap tekanan mekanis dibandingkan kabel tembaga
     •   Perlu proteksi mata bagi teknisinya


     Propagasi Cahaya
     •   Cahaya menurut teori gelombang adalah :
     •   Cahaya merambat lurus ke depan melalui suatu medium
     •   Cahaya sebagai suatu gelombang elektromagnetik
     •   Cahaya menurut teori partikel adalah :
     •   Cahaya sebagai transpor energi


Cahaya menurut teori gelombang :
a. Cahaya merambat lurus ke depan melalui suatu medium
     •   Kecepatan cahaya diruang hampa adalah :
     C = 3 . 10 8 meter/detik
     •   Indek bias suatu bahan adalah

                          C
•                   n = ------    dimana V adalah kecepatan cahaya dalam bahan tersebut
                         V



Contoh : Kecepatan cahaya di dalam air kira-kira 2,3 . 10 8 meter/detik, maka indeks bias air
tersebut adalah :


C           3 . 10 8
    n = ------   = ------------ = 1.3
V          2,3 . 10 8


Cahaya merambat lurus dengan arah tertentu, arah ini akan berubah bila cahaya mengalami :




                                                                   Sudut pantul
                                               Sudut datang
REFLECTION (Pemantulan)


                                                                                   Page 12 of 45

                                                                                          Media
•        Bila cahaya datang pada suatu bidang datar maka cahaya akan dipantulkan :
•        Garis Normal : garis yang tegak lurus bidang datar
•        Sudut pantul : sudut yang dibentuk anatar sinar pantul dengan garis normal
•        Sudut datang : sudut yang dibentuk oleh sinar datang dengan garis normal
•        Besarnya sudut datang sama dengan sudut pantul


REFRAKSI (Pembiasan)

                                                 Cahaya dibelokan
                                   Sudut bias    pada permukaan air



                  udara



                    air

                                                         Sudut datang


                          Gambar 1.2. Pembiasan cahaya

Berlaku hukum Snellius yaitu :
•      “ Bila berkas cahaya dari medium yang lebih rapat ke midum yang kurang rapat maka
       cahaya tersebut akan dibiaskan menjauhi garis normal “
       Sedangkan yang dimaksud dengan sudut kritis adalah :
•      “ Bila sudut datang , dimana sinar bias berimpit dengan bidang batas kedua medium
       maka menurut Snellius :
n1 Sin ϕ1 = n2 Sin 90°”
n1 Sin ϕk = nr
nr
atau      Sin ϕk = -------
ni




sehingga besar sudut kritis :

                                                   nr
                                  ϕk = arc Sin (-----)
                                                    ni
                                                                                    Page 13 of 45
Contoh : Hitung besar sudut kritis antara gelas dengan udara bila index bias air 1,5 dan index
bias udara adalah 1.
Jawab : ni = 1,5 dan nr = 1 maka besarrnya sudut kritis adalah :
         nr
ϕk = arc Sin (-----)
    ni
= arc Sin (1.108 / 1,5 . 108 )
= arc Sin 0,66
= 41° 48


Pantulan Dalam Total
Bila sudut datang lebih besar dari sudut kritis maka akan terjadi pantulan dalam total


Tiga Hukum Cahaya


              n1 > n2                             n1 > n2                         n1 > n2

                          φt
                                       n1                                    n1

                                       n2                                    n2




               φi                                 φI = φc                         φI     φi



     Refraksi dalam hal             Refraksi dalam hal            Refraksi
     φI < φc                        φI = φc


                          Gambar.1.3. Tiga bentuk perambatan cahaya




Persyaratan agar cahaya dapat merambat di dalam serat optik adalah :
    n1
•             Indeks bias inti harus lebih besar dari pada indeks bias cladding
    n2



                                                                                    Page 14 of 45
•              Sudut datang sinar harus lebih besar daripada sudut kritis


                                                                                      Sumbu fiber




                                                             Kerucut penerimaan yang diperoleh dengan memutar
                                     θo (maks)               sumbu penerimaan terhadap sumbu serat



                            Gambar.1.4. Bentuk kerucut penerimaan sinar


Cahaya sebagai gelombang elektromagnetik
Komunikasi serat optik menggunakan daerah kerja antara 800 nm sampai 2,25 µm (tidak
tampak). Spektrum gelombang elektromagnetik diperlihatkan pada gambar dibawah ini.


                                     Cahaya tampak                         Frekuensi Radio
                                     400-800 nm

      Sinar      Sinar
      Gama       Ront                                            Sinar     UHF       MF        LF            VLF
                                                     Sinar       Panas
                 gent        Sinar                   IR
                             UV



    1 pm           1 nm                     1 µm                1 mm          1m             1 km                   1 Mm


                         Gambar.1.5. Spektral Gelombang Elektromagnetis


Cahaya sebagai transpor energi
Cahaya sebagai transpor energi terdiri dari photon-photon dalam bentuk partikel atau paket
energi sesuai panjang gelombang. Panjang gelombang tersebut akan menentukan warna suatu
cahaya. Besarnya energi photon tersebut adalah :



                                       E = h . f




Dimana : E adalah besarnya energi photon ; h adalah konstanta planck (6,625 x 10-34 Js); dan
f adalah frekuensi cahaya (C/V)
Contoh :
Panjang gelombang sistem transmisi serat optik adalah 2 . 108 m/dt. Maka besarnya energi
photon tersebut adalah :
Jawab :
           F   = C/V = 3.108            / 2.108       = 1,5



                                                                                                    Page 15 of 45
            E    = h.f
                = 6,625 . 10 -34 . 1,5       = 9,938 . 10 -34


  Numerical Apperture
  Yang dimaksud dengan Numerical Apperture adalah suatu ukuran atau besaran sudut yang
  dibentuk dari berkas cahaya yang dipancarkan oleh sumber optik ke serat optik sehingga
  cahaya tersebut merambat tanpa mengalami gangguan.




                                         NA = √ n12 - n22




  Prinsip Perambatan Cahaya Dalam Serat optik

                                                                                                         Coating

                    3                                                                                    Cladding



Ligth                                             2                                           1          Core
Source




                                  Gambar.1.6. Lintasan cahaya dalam serat

  Lintasan cahaya yang merambat di dalam serat :
  •       Sinar merambat lurus sepanjang sumbu serat tanpa mengalami gangguan
  •       Sinar mengalami refleksi, karena memiliki sudut datang yang lebih besar dari sudut kritis
          dan akan merambat sepanjang serat melalui pantulan-pantulan
  •       Sinar akan mengalami refraksi dan tidak akan dirambatkan sepanjang serat karena
          memiliki sudut datang yang lebih kecil dari sudut kritis


  Mode Perambatan Cahaya
  •       Cahaya dapat merambat dalam serat optik melalui sejulah lintasan yang berbeda
  •       Lintasan cahaya yang berbeda-beda ini disebut Mode dari suatu serat optik
  •       Ukuran diameter core, besarnya sudut datang dan indeks bias menentukan jumlah mode
          yang ada dalam suatu serat optik
  •       Serat optik yang memiliki lebih dari satu mode disebut serat optik multimode
  •      Serat optik yang hanya memiliki satu mode saja disebut Serat Optik Single Mode, serat
         optik single mode memiliki ukuran core yang lebih kecil




                                                                                         Page 16 of 45
     Jenis Serat Optik
     •      Multimode Step Index
     •      Multimode Graded Index
     •      Singlemode Step Index




     Penjelasan :
     Multimode Step Index

Profil
Index




                                                                                    100 µm 140 µm




    n1      n
2
                           Gambar.1.7. Serat optik Step Index multimode



     •          Indeks bias core konstan
     •          Ukuran core antara 50 – 125 µm dan dilapisi cladding yang tipis
     •          Penyambungan kabel lebih mudah karena memiliki core yang besar
     •          Banyak terjadi dispersi
     •          Lebar pita frekuensi terbatas/sempit
     •          Hanya digunakan untuk jarak pendek dan transmisi data bit rate rendah
     •          Harga relatif murah


     Multimode Graded Index

 Profil
 Index



                                                                                        50 µm 125 µm




    n1 n2
                          Gambar.1.8. Serat optik Graded Index Multimode


     •       Core terdiri dari sejumlah lapisan gelas yang memiliki indeks bias yang berbeda, indeks
             bias tertinggi terdapat pada pusat core dan berangsur-angsur turun sampai ke batas core
             - cladding
     •       Ukuran diameter core antara 30 – 60 µm


                                                                                            Page 17 of 45
•        Cahaya merambat karena difraksi yang terjadi pada core sehingga rambatan cahaya
         sejajar dengan sumbu serat
•        Dispersi lebih kecil dibanding dengan Multimode Step Index
•        Digunakan untuk jarak menengah dan lebar pita frekuensi besar
•        Harga relatif mahal dari SI, karena faktor pembuatannya lebih sulit




Singlemode Step Index
Profil
Index




                                                                                 9 µm 125   µm




 n1 n2

                        Gambar.1.9. Serat optik Sstep Index Singlemode


•        Serat optik singlemode memiliki diameter core antara 2 – 10 µm dan sangat kecil
         dibandingkan dengan ukuran claddingnya
•        Cahaya hanya merambat dalam satu mode saja yaitu sejajar dengan sumbu serat optik
•        Memiliki redaman yang sangat kecil
•        Memiliki lebar pita frekuensi yang sangat lebar
•        Digunakan untuk jarak jauh dan mampu menyalurkan data dengan kecepatan bit rate
         yang tinggi


Macam-macam Redaman pada Serat Optik
Redaman pada serat optik adalah : Berkurangnya daya optik pada Core
Redaman serat optik merupakan fungsi panjang gelombang (λ)
Redaman (α) dinyatakan dalam decibel/km (dB/km)
Redaman diukur pada panjang gelombang tertentu
Secara garis besar rugi-rugi pada kabel serat optik disebabkan oleh :
•          Faktor Intrinsik
•          Faktor extrinsik


1. Faktor Instrinsik
•          Scattering
•          Rayleigh Scattering
•          Rugi-rugi yang diakibatkan oleh struktur gelas/bahan tidak teratur.




                                                                                  Page 18 of 45
•      Redaman untuk panjang gelombang pendek (< 1.000 nm)
•      Merupakan gambaran fisik


                                            OH




                            Gambar. 1.10. Rayleigh Scattering
Microbending
•      Akibat tekanan mekanik atau proses pembuatan
•      Redaman terjadi karena sudut datang sinar menjadi tidak memenuhi persyaratan
pantulan dalam total




          Backscattered ligth (loss)   Microbending     Radiated ligth (loss)

                                       Gambar. 1.11. Microbending



Variasi Ukuran Core
Ketidak seragaman ukuran core menyebabkan sebagian mode menjadi tidak memenuhi syarat
pantulan dalam total




                          Gambar.1.12. Variasi ukuran core


Mode Coupling
•     Terjadi bila sudut sebuah mode yang direfleksikan berubah karena perubahan diameter
      inti, pada kasus ini beberapa mode menyatu (couple)
•     Mode coupling juga terjadi pada sambungan serat (conection & splices) bila ujung serat
      disatukan.


     HIGH LOSS
     MODE                                        MODE COUPLING




     LOW LOSS
     MODE                                                                       Page 19 of 45
    Absorption (Penyerapan)
    •     Redaman pada panjang gelombang yang tinggi (> 1.600 nm) karena penyerapan oleh
          gelas atau bahan serat
    •     Terdapat tiga daerah panjang gelombang tertentu dimana terjadi penyerapan cahaya
          sangat tinggi karena adanya molekul-molekul air yang tersisa di dalam serat
    •     Daerah-daerah tersebut dinamakan OH-peak




6

                                   Redaman
                                   total
4

         Hamburan                                     second                   third
1        Rayleigh                                     indow                   window

          ujung
         penyerapan                                                   OH
        Ujung penyerapan
                 0,6       0,8         1,0      1,1       1,2       1,3       1,4        1,5
          1,6          λ (µm)



                           Gambar .1.14. Karakteristik Redaman
                           Serat Optik

    2. Faktor Ekstrinsik
    •           Splicing Loss
    •           Rugi-rugi yang terjadi pada sambungan serat optik
    •           Ketidak sentrisan antara core dengan cladding




                           Gambar.1.15. Posisi Core dan Cladding tidak sama



                                                                                        Page 20 of 45
Variasi ukuran diameter cladding




                        Gambar.1.16. Ukuran diameter cladding tidak sama

Core yang tidak bulat




                           Gambar.1.17. Core tidak bulat

Variasi ukuran diameter core




                         Gambar.1.18. Diameter core tidak sama

Conector Loss
•      Terjadi karena adanya celah udara maupun debu pada permukaan sambungan
•      Terdapat pantulan gelombang karena adanya celah


Dispersi
Pelebaran pulsa yang terjadi pada ujung terima serat sehingga membatasi laju pengiriman data
untuk jarak tertentu.


Macam-macam Dispersi :
Dispersi Modal
•    Berpengaruh pada serat optik step index multimode



                                                                                Page 21 of 45
•    Terjadi karena banyaknya lintasan sinar sehingga jarak tempuh berbeda
•    Pulsa yang diterima adalah penjumlahan dari pulsa-pulsa mode, dimana masing-masing
     diperlambat dengan waktu yang berbeda
•    Keterlambatan total yang terpendek adalah yang merambat lurus
•    Dapat diatasi dengan serat graded index multimode karena jenis ini memiliki index bis
     yang lebih rendah pada lapisan luar dari core dan index bias yang lebih tinggi di pusat
     core.
•    Dengan persamaan index bias V = C/n maka jika n pada pusat core 1,52 pada lapisan
     didekat cladding dapat dibuat mengecil secara bertahap menjadi 1,50.
Dispersi Cromatik
•    Berpengaruh pada serat optik step index singlemode
•    Terjadi karena sinar yang merambat kurang koheren dalam spektrum ∆λ
•    Kombinasi dari dispersi material dan dispersi waveguide




                                      SUMBER OPTIK


Yang dimaksud dengan sumber optik pada sistem transmisi serat optik berfungsi sebagai
pengubah besaran sinyal listrik / elektris menjadi sinyal cahaya / optik (E / O Converter).
Pemilihan dari sumber cahaya yang akan digunakan bergantung pada bit rate yang akan
ditransmisikan dan pertimbangan ekonomi (harga dari sumber cahaya)



                                                                                    Page 22 of 45
Karakteristik dari sumber optik :
•   Emisi cahaya terjadi pada daerah λ 850 nm – 1.550 nm
•   Kopling daya radiasi keserat optik maksimal
•   Dapat dimodulasi langsung pada frekuensi tinggi
•   Mempunyai lebar spektrum yang sempit
•   Ukuran atau dimensi kecil
•   Mempunyai umur kerja dengan jangka waktu relatife lama.
Sumber Optik yang Diinginkan :
•   Cahaya bersifat monochromatis (berfrekuensi tunggal)
•   Mempunyai output cahaya dengan intensitas tinggi
•   Dapat dimodulasi dengan nudah (response timenya pendek)
•   Dapat menghasilkan power yang stabil, tidak tergantung terhadap temperatur dan kondisi
    lingkungan lainnya.


Terdapat dua jenis sumber optik yaitu :
•   LED (Light Emitting Dioda)
•   Dioda LASER (Light Amplification by Stimulated Emmission of Radiation)


LED (Light Emitting Dioda)
•   Merupakan dioda semikonduktor yang memancarkan cahaya karena mekanisme emisi
    spontan
•   Terdapat dua jenis LED yaitu Surface Emitting Diode dan Edge Emitting Diode. Edge
    Emitting Diode memiliki efisiensi coupling ke serat yang lebih tinggi
•   Mengubah besaran arus menjadi besaran intensitas cahaya dan karakteristik arus-daya
    pancar optik memiliki fungsi linier
•   Cahaya yang dipancarkan LED bersifat tidak koheren yang menyebabkan dispersi
    chromatic sehingga LED hanya cocok untuk transmisi data dengan bit rate rendah sampai
    sedang
•   Daya keluaran optik LED adalah –33 s/d –10 dBm
•   Memiliki lebar spektral 30 –50 nm pada panjang gelombang 850 nm dan 50 – 150 nm
    pada panjang gelombang 1.300 nm
•   Bahan semikonduktor : GaAlAs, GaAlAsP, GaInAsP, Si, Ge
•   Digunakan untuk sistem jarak pendek – menengah dengan bit rate rendah sampai sedang,
    seperti LAN dan data Link Komputer
•   Permukaan aktif lebih besar dan sudut beam lebar, sehingga memerlukan serat multimode
    dengan core lebih lebar
•   Proses pembuatannya relatif mudah



                                                                               Page 23 of 45
•       Pada suhu ruang memiliki umur operasi lebih lama
•       Kurang sensitif terhadap temperatur
•       Harga relatif murah


Pola Pancar Daya LED

    PO



                  Linier
                                                                        ∆λ = 50 – 150 nm




                   Arus kemudi (mA)                                         1.300 nm

            Karakteristik arus / daya pancar          Karakteristik Lebar spektral
                                      Gambar.2.1. Karakteristik LED



Surface Emitter


                           c




                                          b
    a                                                                                120°




                                                                      Arah a-b dan arah c-d
                      d




Edge Emitter




                           c




a                                                             120°                            30°
                                              b

                                                                                  Page 24 of 45
Proses Modulasi pada LED
•      Modulasi yang deiterapkan LED adalah modulasi intensitas
•      Pulsa-pulsa listrik (diwakili dengan kondisi ada arus/tidak ada arus secara langsung
diubah menjadi pulsa-pulsa optik/cahaya (diwakili dengan ada / tidak adanya pancaran
cahaya)




                                                  i
          PO




                                Arus (I)




                   Gambar.2.3. Proses Modulasi LED

Diode LASER
•   Merupakan diode semikonduktor yang memancarkan cahaya karena mekanisme emisi
    terstimulasi
•   Cahaya yang dipancarkan oleh diode Laser bersifat koheren
•   Memiliki lebar spektral yang lebih sempit (< 4 nm) Jika dibandingkan dengan LED
    sehingga dispersi chromatic dapat ditekan
•   Diterapkan untuk transmisi data dengan bit rate tinggi
•   Daya keluaran optik dari diode Laser adalah –12 s/d + 3 dBm
•   Karakteristik arus kemudi – daya optik diode Laser tidak linier
•   Response time < 1 nano detik




                                                                               Page 25 of 45
•      Kinerja (output daya optik, panjang gelombang, umur) dari diode Laser sangat
       dipengaruhi oleh temperatur tinggi
•      Bahan semikonduktor : GaAlAs, GaAlAsP, GaInAsP, Si, Ge
•      Digunakan untuk sistem jarak jauh dengan bit rate tinggi
•      Permukaan aktif lebih kecil dan sudut beam sangat sempit, sehingga sesuai unruk serat
       step index single mode dengan rugi-rugi sangat rendah
•      Proses pembuatannya lebih sulit dan memerlukan sirip pendingin
•      Pada suhu ruang, memiliki umur operasi lebih pendek
•      Sangat sensitif terhadap temperatur
•      Harga relatif mahal


                    Karakteristik I/Po                                Karakteristik Lebar Spektral



                                                                                                          Narrow band Laser
                                                                  t                                       ∆λ = 0.25 nm
    Daya keluaran




                                    Daerah linier
                                    (daerah operasi laser)                                                Narrow Laser
                                                                                                          ∆λ = 4 nm
    optik




                       Daerah nonlinier


                                                                                                                              λ
                         Arus Kemudi (I)

                                                  Gambar.2.4. Karakteristik LASER

Pola Pancar Daya Laser

                                    c


                                                                         40-60°
a                                                            b
                                                                                                                     10-15°




                                    d                                   Arah a-b
                                                                                                              Arah c-d


                                          Gambar.2.5. Pola pancar Daya LASER

Proses Modulasi
•                   Pada umumnya modulasi yang diterapkan LD adalah modulasi intensitas
•                   Karena LD memiliki karakteristik I – Po yang tidak linier maka perlu ditambahkan
arus pra tegangan searah (dc) agarLD bekerja pada daerah linier (daerah operasi LD)




                                                                                                                     i
                                                                                                     Page 26 of 45
                                                                                                                     i-
                             ptik
DETECTOR OPTIK / PHOTODETECTOR
•    Detector Optik atau photodetector berfungsi mengubah variasi intensitas cahaya / optik
     menjadi variasi listrik / elektris.
•    Detector optik harus memiliki kinerja yang tinggi karena perangkat ini berada diujung
     depan dari penerima optik (Rx)


Persyaratan kinerja yang harus dipenuhi Detector Optik / Photodetector :
•    Memiliki sensitivitas tinggi
•    Memiliki kecepatan respon / tanggapan yang tinggi untuk mengakomodasi bit rate data
     yang diterima
•    Hanya memberikan noise yang rendah
•    Tidak peka terhadapa perubahan suhu


Jenis Detector Optik / Photodetector terdiri dari 2 macam yaitu :
A.     APD (Avalanche Photo Diode)
     • Time response lebih cepat
     • Internal noise besar
     • Lebih sensitif terhadap perubahan suhu
     • Frekuensi > 500 MHz
     • Tegangan yang digunakan > 100 V


B.     PIN Diode (Positive Intrinsic Negative) atau FET (Field Effect Transistor)
     • Time response lebih lambat
     • Kecepatan tinggi




                                                                                    Page 27 of 45
     • Tegangan yang digunakan rendah (10 – 20 V)
     • Noise kecil
     • Frekuensi 20 – 400 MHz


                                                                Po


          Vb
           +                            Id
                                                                             RL         Vd




                          Gambar.2.7. Rangkaian Photodioda

Tabel. 2.1. Karakteristik Dioda PIN dan APD
    Besaran                                         DiodePIN         APD
    Tegangan Operasi (V)                            10 – 20          - 100
    Level terendah yang dapat dideteksi pada rate
                                                    10 -8            10 –9
    10 Mb/s (Watt)
    Sensitivitas (A/W)                              0,7 – 0,9        0,7 – 0,9




B. Perangkat Terminal Saluran Optik
Suatu perangkat saluran yang digunakan untuk mengirimkan dan menerima sinyal pulsa optik
pada panjang gelombang antara 850 – 1.550 nm melalui serat optik


Fungsi OLTE :
•   Mengubah sinyal pulsa listrik menjadi sinyal pulsa optik dan atau sebaliknya
•   Menggabungkan sinyal-sinyal bit pelayanan dengan sinyal utama
•   Memancarkan dan atau menerima sinyal pulsa optk pada panjang gelombang antara 850 –
    1.550 nm
•   Memebrikan pengamanan bagi perangkat dan petugas pemeliharaan dengan dilengkapi
    sirkit laser diode shut-off
•   Mempunyai kehandalan sistem dengan dilengkapi Automatic Protection Switching untuk
    perpindahan jika sistem utama jatuh/gangguan
•   Menyediakan kanal order wire untuk koordinasi petugas teknik di antara terminal
•   Memberikan kemudahan penyelesaian gangguan dengan dilengkapi bay dan sistem alarm


KONFIGURASI PADA PERANGKAT OLTE




                                                                                   Page 28 of 45
•   Bagian Kirim (Transmitter Optik)
•   Bagian Penerima (Receiver Optik)
•   Bagian Power & Alarm (PWR & ALM)


Sinyal Input Tx dan Output Rx (Electric)
•   Kecepatan bit nominal      : G.751
•   Kode saluran                         : HDB3 atau CMI
•   Impedansi saluran          : 75 Ω (unbalanced)
•   Redaman kabel              : 0 – 12 dB pada frekuensi 70 MHz
•   Redaman balik              : 15 dB pada frekuensi 7 MHz – 120 MHz


Untuk Sinyal Pelayanan (Input & Output)
•   nyal Pengawasan (Supervisory) Sinyal kontrol APS (Alarm Protection System)
•   Si


Alarm (ALM)
•   Sistem OLTE dapat membangkitkan jenis-jenis alarm seperti :
•   Alarm pada bay
•   Terminal output untuk alarm yang dapat dilihat dan didengar ditetapkan dalam blok TRM
    pada rak paling atas guna mengenali kolom dimana rak ditempatan
•   Bay alarm dihubungkan dengan Blok Alarm
•   Alarm pada system
•   Setiap blok pada rak dapat memberikan Major alarm atau Minor alarm jika terjadi
    gangguan
•   Lampu-lampu monitor
•   Lampu-lampu menunjukkan status dari setiap blok dan merupakan fasilitas untuk
    perbaikan gangguan


Sinyal Input Rx dan Output Tx (Optik)
•               Sinyal Input                    : G.751
•        Kode saluran                    : Unipolar (NRZ)
•        Level output optik              : 0 dBm pada modul LD (rata-rata)
•        Input minimum                   : -37 dBm dan maksimum –12 dBm
•        Panjang gelombang               : 850 nm – 1.550 nm
•        Jenis serat optik               : Singlemode/Multimode


Catu Daya (Power)



                                                                              Page 29 of 45
          •      Setiap blok mempunyai unit catu daya (power)
          •      Sumber daya terminal adalah input ke perangkat melalui terminal utama dan
          didistribusikan ke blok melalui line kabel
          •      Tegangan input pada setiap blok –48 Volt dc
          •      Ditempatkan fuse catudaya untuk penyambungan ke perangkat


          Konfigurasi Perangkat



                                   Input
Sinyal                             S.Ch                          Tx Optik
Listrik                                           Coder                           Opt.
                 B/U                                                                                         Sinyal Optik
                 Conv                             Unit                            Sender
                 Unit                                                             Unit



                                  ± 10V

   --45V dc                                       Alm                              Alm
                                                                                                      PWR & ALM
                 PWR                              Cont                             Unit
                                                  Unit
                                  ± 5,2V



Sinyal                                                                                                        Sinyal
Listrik          U/B                              Decod                            Opt
                                                  Unit                                                        Optik
                 Conv                                                              Det.
                 Unit                                                              Unit
                                   Output
                                   S.Ch                                           Rx Optik


                              Gambar.2.8. Perangkat kirim dan terima



          Cara Kerja :
          Arah Kirim
          Unit ini menerima sinyal pulsa listrik bipolar dari Multipleks, lalu diperbaikikarakteristiknya
          melalui sirkit equalizer kemudian salurannya diubah dari pulsa listrik bipolar menjadi
          unipolar, setelah itu dikirimkan ke unit coder




          Pada unit coder sinyal mengalami proses perubahan kecepatan pulsa dan perubahan kode
          saluran optik yang akan digunakan. Sinyal output dari unit Coder berupa pulsa listrik unipolar
          yang dikodekan an dikirimkan ke unit Optikal Sender
          Pada unit Optikal Sender sinyal pulsa listrik unipolar yang sudah dikodekan diubah menjadi
          sinyal pulsa optik dengan menggunakan Sumber Optik untuk dikirimkan ke lawan melalui
          serat optik dengan panjang gelombang antara 850 – 1.550 nm.



                                                                                             Page 30 of 45
Jika sinyal utama terganggu, maka akan dibangkitkan sinyal pengganti berupa sinyal AIS dan
disamping itu akan mengirimkan sinyal Alarm ke unit Alarm Control


Arah Terima
Unit ini menerima sinyal pulsa optik dari serat optik melalui Unit Detektor Optik, sinyal optik
diubah menjadi sinyal pulsa listrik setelah dikuatkan dan diteruskan ke Unit Decoder.
Jika tidak menerima sinyal maka Unit Detektor Optik akan menirimkan sinyal Alarm ke sirkit
Proteksi Laser Diode, untuk mematikan/memutuskan pancaran dari Laser Diode (LDSO)
Pada Unit Decoder, sinyal mengalami proses perubahan kode saluran optik serta perubahan
sinyal utama dengan sinyal Service Channel
Sinyal Output dari unit Decoder berupa sinyal pulsa listrik Unipolar yang kecepatan bitnya
lebih rendah dari sinyal inputnya dan diteruskan ke Unit U/B Converter. Jika tidak menrima
sinyal, maka unit Decoder akan membangkitkan/ menggantikan dengan sinyal AIS
Pada unit U/B Converter sinyal pulsa Unipolar diubah menjadi sinyal pulsa listrik Bipolar dan
setelah diperbaiki karakteristilnya lalu dikirimkan ke Demultipleks


Unit PWR & Alm
Unit PWR & ALM ini mencatu daya ke setiap unit, sedangkan sirkit ALM Cont. memberikan
indikasi alarm Major dan Minor jika terjadi gangguan
Pada unit ini tersedia lampu LED yang memberikan indikasi adanya gangguan/ perubahan
status sinyal dan perangkat.


Bagian Kirim (Transmitter Optik) terdiri dari :
•      Unit B/U Converter
•      Unit Coder
•      Unit Optikal Sender


Unit B/U Converter Berfungsi :
•      Menerima sinyal pulsa listrik Bipolar dari Multipeks
•      Memperbaiki karakteristik sinyal, akibat adanya redaman kabel
•      Mengubah kode saluran sinyal pulsa listrik dari Bipolar ke Unipolar (NRZ)
•      Mengirimkan sinyal pulsa listrik dari Multipleks ke Unit Coder
•   Jika tidak menerima sinyal dari Multipleks, maka akan mengirimkan sinyal alarm ke Unit
    PWR & ALM


Unit Coder Berfungsi :
•   Menerima sinyal pulsa listrik Unipolar dari Unit B/U Converter dan dari Unit Service
    Channel/Aux



                                                                                   Page 31 of 45
•   Menggabungkan sinyal utama dengan sinyal Service Channel
•   Mengkodekan sinyal gabungan sesuai kode saluran optik yang digunakan
•   Menggantikan sinyal utama yang terganggu dengan sinyal AIS
•   Mengirimkan sinyal alarm, jika terjadi gangguan pada sinyal utama
•   Unit Optikal Sender Berfungsi :
•   Mengatur lebar pulsa bentuk pulsa listrik Unipolar yang diterima dari Unit Coder
•   Mengendalikan arus listrik yang mengalir pada sumber optik
•   Mengubah sinyal pulsa listrik Unipolar yang sudah dikondisikan menjadi sinyal pulsa
    optik
•   Mengirimkan sinyal pulsa optik ke terminal lawan melalui Serat Optik
•   Jika terjadi gangguan maka akan mengirimkan sinyal alarm
•   Melaksanakan pemutusan pancaran Sumbe Optik, jika menerima sinyal Shut-off


Bagian Terima (Receiver Optik) terdiri dari :
•   Unit Detektor Optik
•   Unit Decoder
•   Unit U/B Converter


Unit Detektor Optik Berfungsi :
•   Menerima sinyal pulsa optik yang dikirim dari lawan melalui serat optik
•   Mengubah sinyal optik menjadi sinyal pulsa listrik Unipolar
•   Menguatkan sinyal pulsa listrik Unipolar
•   Mengirimkan sinyal pulsa listrik Unipolar ke Unit Decoder
•   Jika tidak menerima sinyal, maka akan mengirimkan sinyal alarm ke unit Alarm dan sirkit
    proteksi Shut-off


Unit Decoder Berfungsi :
•   Menerima sinyal pulsa listrik Unipolar yang dikirim dari Unit Detektor Optik
•   Mendekodekan kembali sinyal agabungan (sinyal utama + Service Channel) sesuai
    dengan sinyal yang digunakan
•   Memisahkan sinyal utama dengan sinyal Service Channel
•   Menggantikan sinyal utama yang terganggu dengan sinyal AIS
•   Menirimkan sinyal Alarm jika terjadi gangguan pada sinyal utama




Unit U/B Converter Berfungsi :



                                                                                   Page 32 of 45
•    Menerima sinyal pulsa listrik Unipolar dari Unit Decoder
•    Mengubah sinyal pulsa listrik Unipolar menjadi pulsa listrik Bipolar
•    Memperbaiki karakteristik sinyal akibat adanya redaman kabel
•    Mengirimkan sinyal pulsa listrik Bipolar ke perangkat Demultipleks
•    Jika tidak menerima sinayl dari Unit Decoder, maka akan mengirimkan sinyal Alarm ke
     Unit PWR & ALM


Bagian Power Dan Alarm terdiri dari :
•    Unit Power
•    Unit Kontrol Alarm (Alarm Control)


Unit Power Berfungsi :
•    Memebrikan catu daya terhadap unit-unit diperangkat OLTE
•    Memberikan proteksi catu daya, jika terjadi gangguan/arus berlebih
•    Mengirmkan sinyal alarm, jika terjadi gangguan pada catu daya


Unit Kontrol Alarm Berfungsi :
•    Menegelola dan memproses sinyal Alarm yang dikirim dari tiap-tiap unit
•    Menampilkan sinyal alarm melalui lapu indikator
•    Mengirimkan sinyal alarm ke Unit Supervisory




                               PENGANTAR KABEL OPTIC


PENDAHULUAN
Media Transmisi Adalah alat/peralatan sebagai sarana untuk menyalurkan informasi .

    IInformasi                                                                         IInformasi
                                             Media Transmisi
                       Tx                                                     Rx




                     Gambar. 1.1. Konfigurasi dasar komunikasi                     Page 33 of 45
Media transmisi dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
•   Media transmisi fisik
•   Media transmisi nono fisik
Media Transmisi Fisik :
Menurut Jenis dan penggunaanya :
•   Open wire cable
•   Pair cable
•   Coaxial cable
•   Kombinasi pair cable dan coaxial cable


Menurut Letaknya :
•   Over Head cable
•   Ground cable
•   Sea cable / Sub marien cable


Media Transmisi Non Fisik :
•   Media transmisi dengan menggunakan gelombang elektromagnetik terdiri dari :
•   Ground Wave
•   Space Wave
•   Guide Wave
•   Sky Wave


JENIS DAN MACAM KABEL OPTIK
Berbeda dengan kabel metalik, kabel serat optik ukurannya kecil ± 3 cm dan lebih ringan
    sehingga instalasi kabel serat optik dapat dilakukan melalui beberapa span secara
    sekaligus. Panjang kabel serat optik dalam haspel dapat mencapai 2 s/d 4 km.
Berdasarkan Disain struktur kabel terdapat beberapa jenis kabel optik yaitu :
•   Loose Tube Cable
•   Tight Buffered Cable
•   Slotted Cable / Grooved Cable
•   Ribbon Cable



                                                                                         Coating



                                                            Buffer
                                                                                   Page 34 of 45
Page 35 of 45
         Gambar.1.5. Konstruksi Jenis Ribbon




Berdasarkan penggunaanya, kabel serat optik dibedakan atas :
•      Kabel optik Duct
•      Kabel Optik Tanam Langsung
•      Kabel Optik Atas Tanah
•      Kabel Optik Rumah




                                                               Page 36 of 45
Gambar.1.7. Konstruksi dasar kabel optic atas tanah




                                  HDPE Outer Sheath

                                  Corrugated Steel Armour

                                  Aluminium Tape

     1                            PBTP Tube
 6       2                        Flodding Gell
 5       3                        Central Strength Member
     4                                                      Page 37 of 45
                                  PE Sheath
                                             SHEATH

                                             MECAHANICAL
                                             REINFORCEMENT

                                             OPTICAL FIBRE

                                             SECONDARY COATING




Reinforcement   Secondary       Mechanical
Optical Fiber   Coating                                      Sheath

                      Gambar.1.9. Single Fiber design




2 FIBER             4 FIBER              6 FIBER                 8 FIBER


                                                                      Page 38 of 45
                                                                        Optical element
Fungsi dan bagian-bagian kabel optik jenis loose tube :
Loose tube
Berbentuk tabung longgar yang terbuat dari bahan PBTP (Polybutylene terepthalete) yang
berisi thixotropic gel dan serat ditempatkan didalamnya. Konstruksi loose tube yang
berbetnuk longgar tersebut mempunyai tujuan agar serat optik bebas bergerak, tidak langsung
mengalami tekanan atau gesekan yang dapat merusak serat pada saat instalasi kabel optik.
Thixotropic gel adalah bahan semacam jelly yang berfungsi melindungi serat dari pengaruh
mekanis dan juga untuk menahan air.
Sebuah loose tube dapat berisi 2 sampai 12 serat optik. Sebuah kabel optik dapat berisi 6
sampai dengan 8 loose tube.


HDPE Sheath atau High Density Polyethylene Sheath
Yaitu bahan sejenis polyethelene keras yang digunakan sebagai kulit kabel optik berfungsi
sebagai bantalan untuk melindungi serat optik dari pengaruh mekanis pada saat instalasi


Aluminium tape
Lapisan aluminium yang ditempatkan diantara kulit kabel dengan water blocking berfungsi
sebagai konduktivitas elektris dan melindungi kabel dari pengaruh mekanis


Flodding Gell
Bahan campuran petroleum, synthetic dan silicon yang mempunyai sifat anti air. Flodding gel
merupakan bahan pengisi yang digunakan pada kabel optik agar kabel menjadi padat


PE Sheath




                                                                                   Page 39 of 45
Adalah bahan polyethelene yang menutupi bagian central strength member yang berfungsi
untuk mencegah agar tidak terjadi gesekan antara central strength member dengan loose tube


Central Strength Member
Adalah bagian penguat yang terletak ditengah-tengah kabel optik. Central strength member
dapat merupakan pilinan kawat baja atau solid steel core atau glass reinforced plastic.


Peripheral Strain Elements
Terbuat dari bahan polyramid yang merupakan elemen pelengkap optik yang diperlukan
untuk menambah kekuatan kabel optik. Polyramid mempunyai kekuatan tarik tinggi


Persyaratan Bahan Baku
Serat Optik
Serat optik harus terbuat darri silica berkualitastinggi sebagai bahan bakunya sehingga kabel
serat optik yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.


Zat Pewarna
Zat pewarna yang digunakan untuk memberi warna serat optik harus merupakan oligomer tak
jenuh, photoinisiator dan crosslinkers yang apabila dilewatkan pada sumber lampu UV maka
tintan segera mengering secara sempurna, tahan terhadap pelarut methyl ethyl keton.


Selongsong (Tube)
Serat optik harus ditempatkan dalam selongsong yang terbuat dari bahan
polybuthelenetherepthalate (PBTP) yang memenuhi ketentuan sebagai berikut
Tabel.01. Sifat Bahan Selubung
 NO     SIFAT BAHAN                               NILAI             SATUAN
 1.     Massa jenis                               > 0,927           gr / cm3
 2.     Kuat tarik                                > 1.450           N / cm2
 3.     Batas pemuluran                           > 300             %
 4.     Kuat dielektrik                           > 2,2 x 107       V/m
 5.     Konstanta dielektrikum                    < 2,82            -
 6.     Kadar jelaga                              2,5 ± 0,5         %


Kompon jelly
Untuk bahan pengisi selongsong harus menggunakan jelly dari jenis thixotropic jeli. Bahan
yang diisikan dalam kabel diluar selongsong adalah tropical, non-dripping jelly


Filler rod



                                                                                    Page 40 of 45
Filler rod harus terbuat dari bahan plastik yang memiliki sifat kelistrikan dan sifat thermal
yang sesuai dengan bahan selongsong


Pita pengikat pilinan
Pita pengikat pilinan terbuat dari bahan polypropylene atau bahan plastik yang sejenis
Strength member
Strength member terbuat dari bahan carbon berkualitas tinggi yang dipilin kawat baja atau
dari baja padat yang digalvanisir dilapisi dengan Medium Density Polyethylene


Water Blocking
Pita penahan air harus terbuat dari campuran bahan serat polyester bertipe non konduktif


Peripheral Strain Element
Elemen pelindung mekanik non metal dapat ditambahkan pada ruang kosong diantara
selongsong dan harus terbuat dari benang polyramid seperti Kevlar 49 atau Twaron 1055


Selubung Luar
Selubung luar terbuat dari bahan High Density Polyethylene
Tabel.02. Jumlah serat pada tiap selongsong
                  Jumlah serat     Diameter             Diameter kabel
  Jumlah                                                                    Jumlah
                  optik tiap       luar/dalam max       maksimum
  selongsong                                                                serat optik
                  selongsong       (mm)                 (mm)
  6               2                2,2 / 1,4            13                  4 – 12
  6               4                2,2 / 1,4            13                  4 – 12
  6               6                2,5 / 1,5            13,5                6 – 36
  6               12               3,5 / 2,5            16                  12 – 72
  8               4                2,2 / 1,4            15                  24
  8               6                2,5 / 1,5            16                  24 – 48
  8               12               3,5 / 2,5            17,5                24 – 96


B. DISTRIBUSI SERAT OPTIK PADA KABEL OPTIK
Posisi penempatan kabel tembaga
Tabel.03. Jumlah Quad Tiap Selongsong
  Kabel serat optik 6 selongsong               Posisi
  Satu quad                                    Pada selongsong ke-6
  Dua quad                                     Pada selongsong ke 3 dan 6
  Kabel serat optik 8 selongsong               Posisi




                                                                                          Page 41 of 45
  Satu quad                              Pada selongsong ke – 8
  Dua quad                               Pada selongsong ke 4 dan 8


Susunan jumlah serat tiap selongsong untuk kabel 6 selongsong
Tabel.04. Susunan jumlah serat pada 6 selongsong
    Fibre     Loose Tubes Number
    Count     1        2         3                 4       5          6
    4         2        Filler    Quad/Filler       2       Filler     Quad/Filler
                                                   Fille
    4         4        Filler                              Filler     Quad/Filler
                                                   r
    6         2        2         Quad/Filler       2       Filler     Quad/Filler
                                                   Fille
    6         6        Filler    Quad/Filler               Filler     Quad/Filler
                                                   r
    8         2        2         Quad/Filler       2       2          Quad/Filler
    8         4        Filler    Quad/Filler       4       Filler     Quad/Filler
    10        2        2         2                 2       2          Quad/Filler
    12        2        2         2                 2       2          2
                                                   Fille
    12        4        4         Quad/Filler               4          Quad/Filler
                                                   r
    12        6        Filler    Quad/Filler       6       Filler     Quad/Filler
    16        4        4         Quad/Filler       4       4          Quad/Filler
                                                   Fille
    18        6        6         Quad/Filler               6          Quad/Filler
                                                   r
    24        4        4         4                 4       4          4
    24        6        6         Quad/Filler       6       6          Quad/Filler
    24        12       Filler    Quad/Filler       12      Filler     Quad/Filler
    36        6        6         6                 6       6          6
                                                   Fille
    36        12       12        Quad/Filler               12         Quad/Filler
                                                   r
    48        12       12        Quad/Filler       12      12         Quad/Filler
    60        12       12        12                12      12         Quad/Filler
    72        12       12        12                12      12         12


Susunan jumlah serat tiap selongsong untuk kabel 8 selongsong
Tabel.05. Susunan jumlah serat pada 8 selongsong




                                                                             Page 42 of 45
    Fibre       Loose Tubes Number
    Count       1     2        3       4             5       6        7       8
    24          4     4        4       Quad/Filler   4       4        4       Quad/Filler
                6     Fille
    24                         6       Quad/Filler   6       Filler   6       Quad/Filler
                      r
                12    Fille    Fille                                  Fille
    24                                 Quad/Filler   12      Filler           Quad/Filler
                      r        r                                      r
    36          6     6        6       Quad/Filler   6       6        6       Quad/Filler
                12    12       Fille                 Fille
    36                                 Quad/Filler           Filler   12      Quad/Filler
                               r                     r
    48          6     6        6       6             6       6        6       6
                12    Fille
    48                         12      Quad/Filler   12      Filler   12      Quad/Filler
                      r
                12    12       Fille
    60                                 Quad/Filler   12      12       12      Quad/Filler
                               r
    72          12    12       12      Quad/Filler   12      12       12      Quad/Filler
    84          12    12       12      12            12      12       12      Quad/Filler
    96          12    12       12      12            12      12       12      12


Susunan Warna serat optik atau selongsong
         Tabel. 06. Susunan warna urat
         No.
                     Warna
         Urut
         1           Biru
         2           Orange
         3           Hijau
         4           Coklat
         5           Abu-abu
         6           Putih
         7           Merah
         8           Hitam
         9           Kuning
         10          Ungu
         11          Pink
         12          Toska


Tanda Pengenal Kabel Optik



                                                                                     Page 43 of 45
Kabel optik harus diberik tanda pengenal yang tidak mudah hilang yang tertera pada kulit
kabel di sepanjang kabel.
Adapun tanda pengenal tersebut meliputi :
1.       Nama pabrik pembuat
2.       Tahun pembuatan
3.       Tipe serat optik :
     • SM = Single Mode
     • GI = Graded Index
     • SI = Step Index
4.       Pemakaian kabel optik
     •      D     = Duct
     •      A     = Aerial
     •      B     = Buried
     •      S     = Submarine
     •      I     = Indoor
5.       Jenis kabel optik :
     • LT         = Loose Tube
     • SC         = Slotted Cable
     • TB         = Tight Buffered
6.       Struktur Penguat :
     • SS         = Solid Steel Core
     • WS         = Standard Wire Steel
     • GRP        = Glass Reinforced Plastic
7.       Tanda satuan panjang


Contoh :



                 N – TELKOM-1990-Trade mark SM-D-LT-SS-6-3T-2Q N+1



                           Gambar. 1.11. Contoh Penamaan tanda kabel




Pengemasan
•    Kabel serat optik yang akan dikirim harus dalam panjang standar yang digulung erat
     dalam haspel. Diameter haspel harus cukup besar untuk mencegah kerusakan selama
     proses pengangkutan dan penyimpanan




                                                                                 Page 44 of 45
•   Ujung-ujung kabel harus ditutup dengan penutup ujung (end cap) yang terbuat dari
    bahan plastik panas kerut yang sesuai
•   Ujung kabel dalam gulungan haspel dapat dikeluarkan dari haspel diikat erat dan
    dilindungi dengan sempurna untuk mencegah kerusakanselama pengangkutan. Ujung
    luar kabel tetap tersimpan kokoh pada dinding dalam haspel. Kedua ujung ini digunakan
    untuk tujuan pengukuran
•   Panjang kabel yang dikemas dalam haspel mempunyai standar panjang 1000 m atau
    2000 m atau disesuaikan dengan pesanan
•   Pada kedua sisi luar haspel harus tertera dengan jelas :
•   Berat kotor dan berat bersih kabel
•   Tipe dan kapasitas kabel
•   Panjang kabel dalam meter
•   Nomor haspel
•   Arah panah penunjuk arah putaran kabel
•   Tanda pengenal pabrik
•   Tahun produksi
•   Tanda akhir gulungan kabel




                                                                              Page 45 of 45

								
To top