Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

baru lukas

VIEWS: 17 PAGES: 4

									PEMIKIRAN MUHAMMAD LUKAS DARWIS DALAM CATATAN SEJARAH




                     Paralelisasi Gerakan Mahasiswa
                                   Muhammad Darwis

                                          “Siapa yang dapat merantai suatu bangsa,
                                           apabila semangatnya tidak mau dirantai?
                                   Siapakah yang dapat membinasakan suatu bangsa,
                                             kalau semangatnya tidak mau lenyap?,”
                                               (Dipetik dari sya’ir Sirojini Naidu)

      Salam Revolusi…….!!!

        Dalam kepingan sejarah dunia, mahasiswa selalu menjadi Garda-Depan
dalam mewujudkan perubahan sosial. Jika kita runut penggulingan Juan Peron
di Argentina tahun 1955, Peres Jimenes di Venezuela tahun 1958, Soekarno di
Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Pakistan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran
tahun 1979, Ferdinand Marcos di Filipina tahun1985, Chun Doo Hwan di Korea
Selatan tahun 1987, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998, kesemuanya itu
dikonsolidatori mahasiswa. Singkatnya, gerakan mahasiswa melalui aksi-aksi
yang bersifat massif-politis telah terbukti menjadi katalisator yang sangat
penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang kekuasaan tiranik.
        Demikianlah rentetan historis yang menjadi penanda ihwal peran
signifikan gerakan mahasiswa. Sehingga berangkat dari spirit perjuangan itulah
mahasiswa menjadi tumpuan masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah
yang lebih dinamis dan progresif.
        Karena itu, penting bagi generasi sekarang melakukan “revitalisasi” ihwal
gerakan kemahasiswaan yang mampu memberikan ruh bagi terciptanya masa
depan yang lebih baik. Sebab di sadari maupun tidak, beberapa fakta di
lapangan menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa saat ini hanya bergerak
secara reaksioner dan aksidental. Beberapa problematika kebangsaan sering
dibaca secara parsial sehingga aksi “turun jalan” yang sering dilakukan oleh
mahasiswa cenderung hanya menunjukkan egoisme-individualnya masing-
masing tanpa adanya kesadaran kebangsaan yang bersifat substansial. Begitu
juga dengan problematika yang sering di hadapi oleh gerakan mahasiswa di
dunia akademik, seperti yang diungkapkan oleh Baskara.T.Wardaya, bahwa
gerakan mahasiswa saat ini hanya memiliki kecenderungan di wilayah sosial
politik sehingga menafikan tanggung jawabnya sebagai insan akademik (civitas
politika bukan cifitas akademia).
        Itulah kenapa kemudian persoalan-persoalan tentang tereduksinya
orientasi gerakan mahasiswa saat ini dirasa perlu untuk diperbincangkan
kembali. Belajar dari kasus Reformasi yang kemudian sedikit memberikan
kesadaran bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya berhenti pada hal-hal yang
sifatnya aksidental (peruntuhan rezim, aksi jalanan dan lain sebagainya), tapi
juga harus mampu memberikan gagasan-gagasan alternatif di berbagai lini
PEMIKIRAN MUHAMMAD LUKAS DARWIS DALAM CATATAN SEJARAH




kehidupan bangsa (menembus teks, melampaui realitas, sehingga mempu
memahami metafisik kehidupan).
       Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi bagi gerakan mahasiswa untuk
tidak bergerak dan menyatukan langkah dalam menegakkan kebebasan dan
keadilan – sebagaimana yang telah diperjuangkan oleh Soekarno, Hatta, Sjahrir,
dan yang lainnya. Sebab pada dasarnya gerakan mahasiswa merupakan serakan
yang berkelanjutan, karena itu harus senantiasa menegakkan asas kebenaran
politik di satu sisi sekaligus mengungkapkan kebenaran public pada sisi yang
lain. Dan sudah sepatutnya mahasiswa saat ini mengukir sejarah sendiri dan
tidak terpatron pada sejarah masa lalu. Karena bagaimanapun juga setiap zaman
punya sejarahnya masing-masing dan hari ini kita dituntut untuk mengukir
sejarah pada zaman kita sendiri (detik-detik se-abad budi utomo dan 79th sumpah
pemuda).

                     Pararelisasi Gerakan Mahasiswa
        Pararelisasi gerakan mahasiswa merupakan manifesto dari refleksi
panjang (saintessa gerakan) untuk mematrealkan gagasan-gagasan tentang
bagaimana seharusnya mahasiswa saat ini bergerak. Sebuah konsep tentang
orientasi jangka panjang gerakan mahasiswa yang diperbincangkan secara
panjang lebar di Rayon Ashram Bangsa (pmii syari’ah uin sunan kalijaga
jogjakarta) berhasil merumuskan satu konsep yang diberi nama “Paralelisasi
Gerakan Mahasiswa”. Pararelisasi yang dimaksudkan hanyalah sebagai
metodologi (metode gerak). Metode gerak dan cara gerak bagi gerakan mahasiswa
dirasa sangat penting. Diakui atau pun tidak, beberapa gerakan mahasiswa yang
tentunya sudah mempunyai landasan berpikir (ideologi) terkadang tidak bisa
mematrialkan ideologinya dalam gerakan.
        Pararelisasi sebagai sebuah metodologi memang di maksudkan untuk
bisa melakukan maksimilisasi kerja sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas
masing-masing mahasiswa. karena kecenderungan orientasi gerakan mahasiswa
pasca Reformasi yang lebih condong kepada wilayah sosial-politik dan
menafikan beberapa kecenderungan dan kapasitas mahasiswa yang lainnya.
Pararelisasi yang mengidealkan untuk menempatkan mahasiswa di pos-pos
yang sesuai dengan kecenderungan dan kapasitasnya masing-masing. akan
tetapi juga penempatan wilayah yang sesuai dengan posnya itu juga diimbangi
dengan satu mainstream pola kerjasama yang saling mengisi anatar-pos yang satu
dengan pos yang lainnya. sehingga bisa berjalan dengan sinergis dan tidak
saling menegasikan antara yang satu dengan yang lainnya (pararelelisasi-praksis).
        Supaya Perarelisasi gerakan mahasiswa terwujud, maka sangat
meniscayakan hal berikut: pertama, Kritis dalam merespon keadaan dan
konsisten dalam gerakannya. Gerakan mahasiswa haruslah bersatu dalam visi
penegakan keadilan dan penumpasan penindasan. Kedua, melakukan dialog-
transformatif (jurgen habermas), untuk menciptakan masyarakat komonukatif
yang demokratis. Gerakan mahasiswa yang juga gerakan intelektual tentunya
PEMIKIRAN MUHAMMAD LUKAS DARWIS DALAM CATATAN SEJARAH




harus mencerdaskan, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat yang
selama ini banyak ditindas. Ketiga, mendorong para aktivisnya untuk
membentuk kapasitas-intelektual yang memadai dan berjiwa intelektual.

                           KESADARAN EMANSIPATORIS
       Kesadaran yang dimaksudkan di sini adalah mencakup beberapa hal yang perlu
kita sadari atau kita alami secara sengaja dan meninggalkan jejak pada ingatan
(consciousness) tidak hanya menyangkut beberapa pengalaman yang biasanya terkait
pada diri kita seperti berfikir, merasa imajinasi, mimpi dan pengalamanan yang dengan
tubuh (awarenwes).
       Pembentukan kesadaran sebagai mainstream berfikir ini merupakan substansi dari
konsep emansipatoris itu sendiri. Karena bagaimanapun juga banyak manusia yang
bergerak di luar alam bawah sadarnya, mengambil bahasanya Karl Marx bahwasanya
manusia itu telah teralienasi dari dirinya sendiri. Pembentukan mainstream bersama
untuk saling mengerti dan memahami wilayahnya masing-masing memang tidak bisa
dilepaskan akan adanya dialektika yang terjadi antara kehendak bebas seorang manusia
dengan rasionalitas (komunikasi aktif).
       Kehendak bebas (free-will) pasti dimiliki oleh setiap manusia baik itu mencakup
wilayahnya sebagai manusia sosial ataupun sebagai pribadi, karena manusia mempunyai
kemampuan untuk melakukan tindakan yang dipengaruhi oleh hal-hal yang berada di
luarnya, pun jaga sebaliknya. Akan tetapi jika kehendak bebas bisa berjalan seiring
rasionalitas maka akan memberikan kemampuan kepada manusia untuk dapat memahami
pendapat-pendapat yang berbeda, rasionalitas yang pengertiannya adalah kemampuan
dalam memahami realitas dan dengan rasionalisasi kita dituntut untuk menemukan
kebenaran sejati sebagai dasar bagi pikiran manusia, (men-dealektika-kan idealisme
dengan realitas).
       Dan dengan itu, maka manusia akan semakin terbuka dengan pluralitas dan tetap
memahami realitas secara rasional yang kemudian membentuk satu kesadaran
emansipatif atau kesadara plural (save belonging of PMII).

            Kritis-Transformatif sebagai Langkah Strategis
       Sebuah metodologi gerakan tidak akan pernah mempunyai nilai-nilai
tertentu apabila tidak di-transformasi-kan untuk keberlanjutan gerakan
selanjutnya. Injeksi kesadaran yang sering dibahasakan oleh sahabat-sahabat
menjadi sangat perlu untuk diterapkan sebagai wujud dari tanggung jawab
gerakan. Sebagaimana dikemukakan oleh Mansour Faqih, mahasiswa
seharusnya benar-benar bisa memainkan peranannya sebagai kaum “intelektual
organik”.
       Di sinilah kemudian pentingnya sekelompok manusia untuk
merumuskan beberapa konsep sebagai solusi dari berbagai macam persoalan,
dan kemudian bisa di manage dan ditransformasikan secara praksis dalam
kehidupan sosial-kemasyarakatan. Transformasi inilah yang di-ideal-kan sebagai
wujud dalam pembentukan masyarakat, sebagai pasar gagasan (induk realitas)
yang dalam bahasanya Karl Popper disebut masyarakat terbuka (open society).
Namun gagasan yang telah didialektikan sebagai proses untuk memunculkan
PEMIKIRAN MUHAMMAD LUKAS DARWIS DALAM CATATAN SEJARAH




satu sintesa baru dalam gerakan mahasiswa tidak akan berarti apa-apa tanpa
adanya sebuah kesadaran dan komitmen yang kuat untuk terus bergerak sebagai
wujud dari tanggung jawab gerakan yang kita emban (idealis tranformatif).
       SALAM PERLAWANAN.

               “Jangan kau bermimpi merubah Gerak-Langkahmu
         jika tak kau rubah Gerak-Fikirmu, jika keadilan adalah citamu,
                 BERLAKULAH ADIL SEJAK DALAM FIKIRAN,
            bumi hanguskan penindasan semestakan rimba keadilan”


                      “Mahasiswa yang sejati adalah Mahasiswa yang Revolusioner,
            Mahasiswa yang sejati adalah Mahasiswa yang meyuarakan suara Rakyat”
                                                                      (Soekarno)




Penulis adalah: Mahasiswa Syari’ah jurusan Jinayah Siyasah semester V, sekarang
aktif diPMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), saat ini menjadi ketua umum
PMII Rayon Ashram Bangsa fakultas Sayri’ah UIN Sunan Kalijaga.

								
To top