Problematika dan loyalitas kebudayaan

Document Sample
Problematika dan loyalitas kebudayaan Powered By Docstoc
					Problematika dan loyalitas kebudayaan

Cara pandang seseorang terhadap suatu budaya daerah tentunya sangat beragam. Yang terjadi
di Indonesia adalah lemahnya partisipasi masyarakat dalam mengenal dan mengapresiasi
budayanya sendiri. Secara filosofis sebenarnya kebudayaan adalah identitas utama suatu
kelompok masyarakat. Kebudayaan timbul dengan tujuan membedakan ciri khas suatu
kelompok dengan kelompok lain. Namun, esensi ini sering dilupakan oleh banyak kelompok
karena beberapa faktor. Salah satu faktor utamanya adalah kehadiran budaya populer.

Tak bisa dipungkiri bahwa pemikiran masyarakat tergerus oleh lahirnya budaya populer
(popular culture).Apa itu budaya popluler? Singkatnya budaya ini memilki akses untuk
mempengaruhi seseorang dalam jumlah banyak untuk berbudaya populer karena ini
dikendalikan oleh pihak-pihak yang dapat mempengaruhi orang banyak (mainstream).
Kehadiran budaya populer biasanya melalui iklan atau media yang menargetkan masyarakat
biasa. Ada benarnya jika budaya populer bersifat politis dan berorientasi ekonomi. Kondisi
sebagian masyarakat Indonesia adalah mengikuti trend yang ada dan sering melupakan sesuatu
yang sudah lama terbangun dalam kehidupannya. Hal ini ditambah pula dengan alasan
menyamai atau “ingin berbudaya seperti” Negara lain. Sehingga timbulah kesamaan diantara
beberapa Negara, misalnya kehadiran fashion-fashion Paris yang tersebar dipusat perbelanjaan
mewah di Indonesia. Ada juga musik-musik modern luar negeri yang merambah Indonesia
sebagai target pemasaran

Apa akibatnya? Budaya asli suatu kelompok akan terpinggirkan karena tidak memiliki kekuatan
untuk tawar menawar (bargaining power) dengan aliran utama yang lebih dianggap modern.
Bahkan pada kasus yang lebih ektrim, karena kurang diperhatikannya budaya sendiri bisa
terjadi pengakuan suatu benda budaya oleh Negara lain. Contoh kasus nyata terpinggirnya
budaya daerah di Indonesia adalah hampir punahnya pementasan wayang orang dan kuda
lumping di daerah suku Jawa. Hanya segelintir orang yang mau menyaksikan pertunjukan
budaya itu. Ada lagi, sejak tahun 2003 di salah satu kabupaten di propinsi Lampung, mata
pelajaran Tapis, seni menyulam tradisional masyarakat, dihapuskan kemudian diganti dengan
mata pelajaran komputer. Ini menjadi bukti lemahnya kekuatan masyarakat daerah untuk
bangga pada budayanya sendiri.

Kehadiran budaya populer tidaklah salah, namun yang perlu dicermati adalah mengapa kita
perlu untuk tidak meninggalkan budaya lama ketika kita memilih untuk menganut sebuah
budaya populer? Seseorang bisa memegang memegang budaya tanpa meninggalkan identitas
budaya daerahnya. Alasannya adalah budaya secara filosofis merupakan jembatan antar
generasi dan budaya daerah juga merupakan warisan yang harus tetp dilestarikan dan
sebanrnya dapat disisasati sebagai alat pembangun daerah. Dua konsep inilah yang harus
tersosialisasi dan harus dilekatkan pada masyarakat Indonesia terlebih dahulu. Sehingga pada
akhirnya masyarakat memilki loyalitas terhadap budayanya sendiri. Ini adalah pondasi awal
membangun sebuah kampung budaya. Elemen-elemen yang akan diisi dalam kampung itu
tentunya akan cepat terealisasi karena masyarakat sudah mulai mencintai dan tanggap
terhadap benda budaya daerahnya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:160
posted:3/30/2011
language:Indonesian
pages:2