KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA by xiangpeng

VIEWS: 2,844 PAGES: 35

									http://freekuliah.blogspot.com




                                 Oleh Isriani Hardini, M.A.
 Kalimat  adalah satuan bahasa yang dibatasi
  oleh adanya jeda panjang yang disertai nada
  akhir turun atau naik.
 Kalimat ada yang terdiri atas satu kata, dua
  kata, tiga kata, empat kata, dan seterusnya.
  Contoh: Ah! ; Itu toko, Ia mahasiswa; Ia
  sedang membaca.
 Unsur pembentuk kalimat tersebut dapat berupa
  kata, frasa, atau klausa.
 Kata adalah suatu unit dari suatu bahasa yang
  mengandung arti, dan terdiri atas satu atau lebih
  morfem. Contoh: makan, tidur
 Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas
  dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas
  fungsi unsur klausa. Contoh: kamar tidur, baju
  biru
 Klausa adalah satuan gramatik yang terdiri atas S
  (Subjek) P (Predikat) baik disertai O (Objek),
  PEL (Pelengkap), dan KET (Keterangan) atau
  tidak. Contoh: ia menebang pohon
                 S     P        O
   Setiap unsur pembentuk kalimat dapat dibeda-bedakan
    berdasarkan kategori, fungsi, atau perannya dalam kalimat
    tersebut. Beberapa jenis kategori yang dapat menjadi unsur
    sebuah kalimat adalah nomina (kata benda), verba (kata
    kerja), adjektiva (kata sifat), pronomina (kata ganti),
    numeralia (kata bilangan), adverbial, dan kata tugas seperti
    preposisi (kata depan), konjungsi (kata penghubung), dan
    partikel seperti -kah, -lah, -tah, dan pun.
   Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat terdiri atas
    subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Kalimat
    dikatakan sempurna jika minimal memiliki unsur subjek dan
    predikat.
   Peran semantik yang lazim terdapat dalam suatu kalimat
    adalah pengalam atau penanggap (experiencer), pelaku
    (agent), pokok, ciri, sasaran, hasil, peruntung atau
    pemaslahat      (beneficiary),    ukuran    (measure),   alat
    (instrument), tempat (place), sumber (source), jangkauan
    (range), penyerta, waktu, dan asal.
   Berdasarkan unsur pembentuknya, kalimat
   terdiri atas sebagai berikut.
1. Kalimat Berklausa: Kalimat yang terdiri
   atas     satuan     yang    berupa   klausa.
   Maksudnya, dalam kalimat ini terdiri atas S,
   P, disertai O, Pel, dan K atau tidak.
   Misalnya:
   Lembaga itu menerbitkan majalah sastra.
        S             P            O
2. Kalimat Tidak Berklausa: Kalimat yang
   tidak terdiri atas klausa. Misalnya:
   Astaga!
   Selamat malam!
   Menurut bentuk, kalimat terdiri atas kalimat
    tunggal dan kalimat majemuk.
A.      KALIMAT TUNGGAL
  Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas
  satu klausa. Pola kalimatnya dibentuk oleh
  subjek dan predikat. Ada pula yang lebih lengkap
  lagi, yakni terdiri atas subjek, predikat, objek,
  dan atau pelengkap. Di samping itu, tidak
  mustahil terdapat pula unsur yang bukan inti,
  yaitu keterangan.
  Contoh:
  Andi sedang belajar di kelas.
      S         P          K
  Negara Indonesia berdasarkan Pancasila.
        S                  P         Pel
 Berdasarkan    bentuk predikatnya, pola dasar
  kalimat tunggal dapat dibedakan menjadi
  lima bagian.
1. Kalimat Berpredikat Nomina
  Kalimat berpredikat nomina adalah kalimat
  yang predikatnya terdiri atas nomina
  (termasuk pronominal) atau frasa nominal.
  Kalimat ini disebut juga kalimat ekuatif.
  Contoh:
  - Laki-laki itu pencurinya.
          S           P
  Pola kalimatnya:
  Subjek (Frase Nominal)+Predikat (Nomina)
2. Kalimat Berpredikat Verba
   Kalimat berpredikat verba adalah kalimat yang
   predikatnya berupa kata kerja (verba) atau frasa
   verbal.
   Contoh:
   a. Mira makan pisang goreng.
       S     P          O
   Pola kalimatnya:
   Subjek (Nomina)+Predikat(Verba)+Objek(Frase Nominal)
 Kalimat berpredikat verba yang bukan pasif, dibagi
   menjadi 4.
   a. Kalimat Intransitif
      Kalimat yang tidak membutuhkan objek atau
   pelengkap.
   Contoh: Orang itu berlari dengan kencang.
                S       P       Ket.cara
b. Kalimat Ekatransitif
  Kalimat ini terdiri atas tiga unsur inti, yaitu
  S, P, O. Unsur bukan intinya Keterangan.
  Misalnya:
  Polisi sedang mengejar tersangka.
    S            P            O
c. Kalimat Dwitransitif
  Unsur inti terdiri atas S, P, O, dan Pel.
  Kalimat ini memiliki makna benefaktif,
  bersangkutan dengan verba yang dilakukan
  untuk orang lain. Contoh:
  Ibu membelikan adik sepeda baru.
    S       P       O1     Pel
d. Kalimat Semitransitif
  Kalimat ini terdiri atas S, P, dan Pel. Kalimat
  ini tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif.
  Contoh:
  Dina kehilangan pensil.
    S        P       Pel
3. Kalimat Berpredikat Adjektiva
  Kalimat berpredikat adjektiva adalah kalimat
  yang predikatnya berupa kata sifat (adjektiva)
  atau frasa adjektival.
  Contoh:
  Adiknya sakit.
     S      P
  Pola kalimatnya:
  Subjek (Nomina)+Predikat (Adjektiva)

 Rumah Sari sangat besar.
        S         P
 Pola kalimatnya:
 Subjek (Frasa Nomina)+Predikat (Frasa Adjektival)
4。Kalimat Berpredikat Numeralia
 Kalimat berpredikat numeralia adalah kalimat
 yang predikatnya berupa kata bilangan atau
 frasa bilangan.
 Contoh:
 Uangnya banyak.
     S       P
 Pola kalimatnya: Subjek (Nomina)+Predikat (Kata
 bilangan)

 Panjang mobil itu dua meter.
        S              P
 Pola kalimatnya:
 Subjek (Frasa nominal)+Predikat (Frasa Bilangan)
5。Kalimat Berpredikat Frasa Preposisional
   Kalimat berpredikat frasa preposisional
   adalah kalimat yang predikatnya berupa
   frasa preposisional, yaitu frasa keterangan.
  Contoh:
 - Ibu sedang ke apotek.
     S        P
 Pola kalimatnya:
 Subjek (Nomina)+Predikat   (Frasa   Preposisional/Frasa
 Keterangan)
B. KALIMAT MAJEMUK
   Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua pola
   kalimat atau dua klausa atau lebih. Kalimat majemuk dapat
   dibentuk dari beberapa buah kalimat tunggal. Ada beberapa
   jenis kalimat majemuk di antaranya adalah kalimat majemuk
   setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk
   campuran.
   1. Kalimat Majemuk Setara
   Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang terdiri
   atas dua kalimat tunggal atau lebih yang digabungkan dengan
   kata penghubung yang menunjukkan kesetaraan atau
   sederajat. Dalam kalimat majemuk setara tidak mempunyai
   anak kalimat. Kalimat majemuk setara ditandai oleh kata
   penghubung lalu, dan, kemudian, atau, tetapi, namun,
   sedangkan, dan melainkan.
   Contoh:
    Ayah membaca buku dan ibu menyapu lantai.
   Saya bingung memilih pakaian warna hitam atau merah.
  Adikku belum      bersekolah,   tetapi   dia   sudah   dapat
  membaca.
2. Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat mejemuk bertingkat, yakni kalimat yang terbentuk
apabila hubungan kedua kalimat itu tidak sederajat.
Artinya, salah satu bagian kalimatnya menduduki fungsi
yang lebih tinggi. Bagian yang lebih tinggi disebut induk
kalimat, sedangkan bagian yang lebih rendah disebut anak
kalimat. Kalimat majemuk bertingkat ditandai oleh kata
penghubung antara lain ketika, sejak, setelah, jika,
seandainya, agar, supaya, meskipun, walaupun, seperti,
dan sehingga.
Contoh:
1. a. Hari ini tidak hujan.
   b. Ia akan datang ke pesta itu.
  Jika hari ini tidak hujan, ia akan datang ke pesta itu.
         Anak kalimat                induk kalimat

2. Ketika kami sedang pergi ke supermarket, paman datang.
               anak kalimat                 induk kalimat
3. Kalimat Majemuk Campuran
  Kalimat majemuk campuran adalah gabungan
  antara kalimat majemuk setara dengan kalimat
  majemuk bertingkat. Dalam kalimat majemuk
  campuran sekurang-kurangnya terdapat tiga inti
  kalimat atau tiga klausa. Contohnya adalah
  sebagai berikut.
    Pekerjaan itu telah selesai ketika kakak datang dan ibu
    selesai memasak.

   Induk kalimat (Klausa inti): Pekerjaan itu telah selesai
   Anak kalimat 1(klausa bawahan): kakak datang
   Anak kalimat 1(klausa bawahan): ibu selesai memasak
 B.   Kalimat Menurut Fungsi
 Berdasarkan fungsinya, kalimat dibedakan
  menjadi kalimat berita, kalimat pertanyaan,
  kalimat perintah, kalimat seru, dan kalimat
  emfatik.
  1. Kalimat Berita
  Kalimat     berita    (deklaratif/pernyataan)
  adalah kalimat yang isinya memberitakan
  sesuatu kepada pembaca atau pendengar.
  Pada ragam bahasa lisan, bagian akhir
  kalimat berita ditandai dengan nada
  menurun. Sementara itu, pada ragam bahasa
  tulis, bagian akhir kalimatnya ditandai
  dengan tanda titik.
 Bentuk   kalimat berita bermacam-macam,
  bisa berupa kalimat aktif atau pasif, langsung
  atau tidak langsung, tunggal atau majemuk,
  dan sebagainya. Kalimat berita dapat
  berbentuk     apa   saja,    asalkan     isinya
  merupakan pemberitahuan.
 Dalam    penggunaannya, kalimat berita
  memiliki beragam tujuan antara lain
  menyatakan       pemberitahuan,       laporan,
  pengharapan,     permohonan,      perkenalan,
  undangan, dan sebagainya.
a. Pemberitahuan
  Contoh:
  - Minggu ini di desa kita akan diadakan kerja bakti.
b. Laporan
  Contoh:
  - Kami telah melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik-
  baiknya.
c. Pengaharapan
  Contoh: - Saya sangat berharap kamu dapat lulus ujian lisan
  nanti.
d. Permohonan
  Contoh: - Saya mohon Anda dapat mematuhi peraturan di
  perusahaan
e. Perkenalan
  Contoh: - Perkenalkan, saya siswa baru di sekolah ini.
             - Saya Sari, putri bungsu Pak Aldi.
f. Undangan
  Contoh: - Kami mengundang Saudara untuk hadir dalam acara
  pernikahan putri kami.
2. Kalimat Pertanyaan
  Kalimat pertanyaan (interogatif) adalah
  kalimat yang isinya menanyakan sesuatu atau
  seseorang. Kalimat pertanyaan berfungsi
  untuk menanyakan sesuatu. Kalimat ini
  memiliki pola intonasi yang berbeda dengan
  kalimat berita. Perbedaannya terletak pada
  nada akhirnya. Pola intonasi kalimat berita
  bernada akhir turun, sedangkan pola intonasi
  kalimat tanya bernada akhir naik.
   Pertanyaan atau kalimat tanya dapat dibentuk
    dengan berbagai cara. Caranya adalah dengan
    menggunakan kata tanya, seperti apa, siapa, di
    mana, ke mana, dari mana, mana, berapa,
    bagaimana, dan mengapa.
    a. Apa : untuk menanyakan benda atau, sesuatu,
         atau kegiatan
    b. Siapa : untuk menanyakan orang
    c. Di mana, ke mana, mana: untuk      menanyakan
         arah, letak, atau tempat
    d. Berapa : untuk menanyakan jumlah
    e. Bagaimana: untuk       menanyakan keadaan atau
         proses
    f.   Mengapa: untuk menanyakan alasan atau
         sebab
    g. Kapan, bilamana, bila: untuk menanyakan waktu
Contoh kalimat tanya:
1.   Apa yang kamu bawa?
2.   Siapa penemu telepon?
3.   Di mana kamu membeli baju itu?
4.   Ke mana kamu akan pergi?
5.   Mengapa kamu datang terlambat?
6.   Bagaiamana keadaan ibumu sekarang?
7.   Kapan ayah pergi ke Amerika?
8.   Bilamana       karyawan      itu akan
     menyelesaikan pekerjaannya?
9.   Bila Ibu akan pulang dari pasar?
3.Kalimat Perintah
  Kalimat perintah (imperatif) adalah kalimat
  yang maknanya memberikan perintah untuk
  melakukan sesuatu. Kalimat perintah dipakai
  jika penutur ingin menyuruh atau melarang
  orang melakukan (berbuat) sesuatu. Dalam
  bentuk tulis, kalimat perintah seringkali
  dengan tanda seru meskipun tanda titik bisa
  pula dipakai. Dalam bentuk lisan, nadanya
  naik pada akhir kalimat.
   Berdasarkan struktur kalimatnya, kalimat perintah atau
    disebut juga kalimat suruh dapat digolongkan menjadi
    empat golongan, yaitu sebagai berikut.
    1. Kalimat Suruh yang Sebenarnya
    Kalimat suruh yang sebenarnya ditandai oleh pola intonasi
    suruh. Apabila P-nya terdiri atas verba yang tidak
    membutuhkan objek (kata verbal intransitif), bentuk kata
    verbal itu tetap, hanya partikel –lah dapat ditambahkan
    pada kata verbal itu untuk menghaluskan perintah.S-nya
    yang berupa orang kedua boleh dilesapkan boleh tidak.
    Contoh:
         Duduk!
         Datanglah engkau ke rumahku!
         Berangkatlah sekarang juga!
 Untukmemperhalus suruhan, di samping
 menambah partikel –lah, kata tolong
 dapat dipakai di depan kata kerja yang
 benefaktif, yaitu kata kerja yang
 menyatakan tindakan yang dimaksudkan
 bukan untuk kepentingan pelakunya.
 Contohnya adalah sebagai berikut.
       Tolong ambilkan buku itu!
       Tolong belikan gula setengah kilo di warung!
2.Kalimat Persilakan
  Selain ditandai oleh pola intonasi suruh,
  kalimat persilakan ditandai juga oleh
  penambahan kata silakan yang diletakkan
  di awal kalimat. S kalimat boleh
  dilesapkan boleh juga tidak. Contohnya
  adalah sebagai berikut.
       Silakan Bapak duduk di sini!
       Silakan datang ke rumahku!
       Silakan beristirahat!
3.Kalimat Ajakan
  Kalimat ajakan ini, berdasarkan fungsinya dalam hubungan
  situasi, juga mengharapkan suatu tanggapan yang berupa
  tindakan. Perbedaannya, tindakan itu bukan hanya
  dilakukan oleh orang yang diajak berbicara, melainkan
  juga oleh orang yang berbicara atau penuturnya. Dengan
  kata lain, tindakan itu dilakukan oleh kita.
       Di samping ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat
  ini ditandai juga oleh adanya kata-kata ajakan, yaitu kata
  mari dan ayo yang diletakkan di awal kalimat. Partikel –lah
  dapat ditambahkan pada kedua kata itu menjadi marilah
  dan ayolah. S kalimat boleh dilesapkan boleh tidak.
  Contohnya adalah sebagai berikut.
        Mari kita berangkat sekarang!
        Ayo kita bermain sepeda!

4.Kalimat Larangan
 Kalimat larangan ditandai oleh adanya
  kata jangan di awal kalimat. Partikel –lah
  dapat ditambahkan pada kata tersebut
  untuk memperhalus larangan. S kalimat
  boleh dilesapkan boleh tidak. Contohnya
  adalah sebagai berikut.
       Jangan kamu berangkat sendiri!
       Jangan suka menjahili orang!

5.Kalimat Seru
 Kalimat seru (interjektif) adalah kalimat
 yang mengungkapkan perasaan kagum.
 Kalimat seru juga digunakan jika penutur
 ingin mengungkapkan perasaan yang kuat
 atau hal yang mendadak. Kata seru yang
 digunakan antara lain adalah wah, aduh,
 alangkah, dan aduhai.
 Contoh:
       Alangkah indahnya pemandangan ini!
       Wah, rumahmu bagus sekali!
       Aduhai merdu sekali suaramu!
       Aduh, sakit sekali perutku!

6. Kalimat Emfatik
  Kalimat yang memberikan penegasan khusus
  kepada S. Penegasan itu dilakukan dengan:
  - menambahkan partikel –lah pada S;
  -menambahkan konjungsi yang ada di
  belakang S.
  Dengan penegasan pada S, ada pergeseran
  makna dan fungsi sintaktik. Contoh:
  (1) Dia mengambil majalah itu.
       S         P          O
  (2) Dialah yang mengambil majalah itu.
         P            S
   Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran
    penulis    atau   pembicara     secara   tepat   sehingga
    pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut
    dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang
    dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Agar kalimat
    menjadi efektif, kalimat tersebut harus memenuhi syarat-
    syarat berikut.
     Kalimat efektif harus memiliki kesatuan gagasan. Artinya
      kalimat tersebut memiliki satu ide pokok.
      Contoh:
      Keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang membantu
      keselamatan umum.
   Kalimat efektif harus memenuhi syarat
    kesejajaran. Maksudnya, penggunaan bentuk
    kata atau frase imbuhan yang memiliki
    kesamaan, baik dalam fungsi maupun bentuknya.
    Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja
    berimbuhan –di, bagian kalimat yang lainnya pun
    harus menggunakan –di pula.
    Contoh:
    Setelah dimarahi, Andi dipukuli oleh orang itu.
       Kalimat efektif      harus   menggunakan      kata
        dengan hemat.
        Contoh:
   Angkutan-angkutan umum kereta api, bus, dan pesawat
    selalu dipadati penumpang di saat libur sekolah.
    Contoh di atas tidak efektif, semestinya,
   Angkutan umum selalu dipadati penumpang di saat libur
    sekolah.
    atau,
   Kereta api, bus, dan pesawat selalu dipadati penumpang
    di saat libur sekolah.
 Kalimat efektif harus logis dan dapat diterima
  oleh akal sehat.
  Contoh:
 *Kambing sedang main hujan.
-Kalimat tersebut tidak logis karena kambing
takut air. Jadi, tidak mungkin kambing main
hujan.
 Pada kalimat efektif, kata penghubung dan,
  sedangkan, sehingga tidak boleh diletakkan di
  awal kalimat.
 Contoh:
  Dan Saya akan pergi ke kota itu sendirian.
   Jika keterangan diletakkan di posisi awal,
    sesudah keterangan tersebut diberi tanda baca
    koma (,).
    Contoh:
    Minggu lalu, saya dan ayah pergi ke kota.

								
To top