Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

Document Sample
Mendidik Anak Menjadi Pengusaha Powered By Docstoc
					Wiji Suprayogi

MENDIDIK ANAK MENJADI PENGUSAHA Penulis: Wiji Suprayogi Penerbit: Pustaka Bina Swadaya Jl. Gunung Sahari III/7 Jakarta Pusat 10610 Telp: (021) 4204402, 4255354 Fax: (021) 4208412 Email: kanayapress@gmail.com Pemasaran: Niaga Swadaya Jl. Gunung Sahari III/7 Jakarta Pusat 10610 Telp: (021) 4204402, 4255354 Fax: (021) 4214821 Cetakan: I. Jakarta, April 2009 Editor: Hendracaroko Marpaung Lay Out: Albert Handriyanto Desain Sampul: Albert Handriyanto Ilustrator: ISBN 978-602-8496-12-4

Daftar Isi
DAFTAR ISI ... 1 KATA PENGANTAR PROLOG ... 7 ... 3

ENTREPRENEURSHIP, APA ATAU SIAPA ITU?
•	 •	 •	 Apa sih Entrepreneurship itu? ... 13 Mengapa mesti Entrepreneur? ... 17 Tren Entrepreneur ... 24

... 13

BAGAMANA CARA KITA MENDIDIK? ... 29
•	 •	 •	 •	 •	 •	 •	 Beberapa Prinsip Awal ... 34 Menghilangkan Hambatan dan Rasa Takut ... 39 Kenali Bakat, Kemauan, dan Pribadi Anda dan Anak Anda ... 43 Miliki Tujuan dan Mimpi ... 50 Membangun Kemampuan Belajar ... 54 Menciptakan Lingkungan ... 59 Mengajari Skill Wirausaha ... 64
1. 2.
3. 4. 5.

Ajari Anak Anda Memilik Hati yang Siap (Bersedia/ Availabe and Able)
Tanamkan Sikap Sabar Tanamkan Sifat Rajin Pupuklah Sifat Jujur

... 64 ... 67 ... 70 ...71 ... 74

Tanamkan Sikap Tabah

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

1

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Ajarkan Tanggungjawab Sejak Dini Ajarkan Cara Bergaul

... 75 ... 77 ... 81

Pupuklah Sifat Pemberani dan Percaya Diri

... 80

Ajarkan Agar Anak Anda Bisa Menyesuaikan Diri Ajarkan Anak Anda Melihat Peluang Di Setiap Kesempatan

... 83 ... 86 ... 88 ... 90

Ajari Anak Berinvestasi

Didik Anak Menjadi Kreatif

Ajarkan Menggunakan Uang Dengan Baik

•	

Membuat Proyek Usaha Bersama

... 93

KESIMPULAN

... 97

2

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

Kata Pengantar

Ketika saya diminta menulis buku ini, sebenarnya saya cukup ragu. Saya merasa, saya bukan praktisi di bidang entrepreneur. Saya memang menjalankan beberapa program pendidikan entrepreneur bagi anak-anak yang menjadi dampingan di tempat saya kerja. Tapi saya bukan pengusaha. Kemudian datanglah seorang teman meyakinkan saya, “Kamu juga entrepreneur, di bidang sosial” Wah . kata-katanya memicu saya untuk berpikir lebih jauh, nampaknya kita memang perlu contoh dan dokumen yang mencoba menjelaskan apa itu entrepreneur dengan lebih baik. Kita memang cenderung mengasosiasikan entrepreneur dengan segala yang berbentuk uang saja. Padahal di sana ada karakter. Buku ini berusaha memulai memenuhi kebutuhan menyiapkan dokumen tersebut.

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

3

Saya pun mulai tertarik dan mengiyakan untuk menulis buku ini. Saya bisa belajar lebih banyak dan saya bisa membagikan pengetahuan yang saya miliki. Itulah semangat saya dalam menulis buku ini. Semangat belajar. Hal inilah yang kemudian menentukan metode penulisan buku ini. Saya kemudian memutuskan mewawancarai beberapa pengusaha dan praktisi entrepreneur untuk mendapatkan penjelasan yang lebih baik mengenai entrepreneur dan mendidik anak menjadi entrepreneur atau pengusaha. Begitulah buku ini merupakan kumpulan dari berbagai pengetahuan yang saya dapat melalui wawancara dengan beberapa pengusaha dan praktisi. Para pengusaha yang saya wawancarai telah berpengalaman selama bertahun-tahun di bidang entrepreneur. Mereka telah mengalami jatuh bangun berkali-kali hingga mencapai posisi mereka sekarang. Saya bisa bilang mereka adalah orang-orang yang sukses dan berkeribadian. Saya percaya, pengalaman langsung dari mereka yang menjalani akan sangat berarti untuk kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah dari pengalaman itu pula kita membangun berbagai macam teori? Pada akhirnya saya juga belajar banyak sekali dari proses penulisan ini dan masih harus terus belajar dan belajar lagi... Buku ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari banyak pihak. Pertama-tama saya ucapkan terima kasih saya yang dalam kepada Penerbit Pustaka Bina Swadaya yang telah bersedia menerbitkan buku ini. Untuk Gus Mul dan Koko, terimakasih untuk kepercayaannya. Terima kasih saya juga untuk Yessi, istri saya tercinta yang ikut memberi kritik ketika draft tulisan saya jadi dan memperkayanya dengan perhatian penuh—kopi buatannya selalu membuat saya terjaga lagi.

4

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

Sungkem saya kepada semua informan yang sebenarnya telah menjadi teman diskusi yang hangat dan merupakan tempat belajar yang sesungguhnya dalam kehidupan saya. Tanpa mereka jelas buku ini tidak akan terwujud sama sekali. Buku ini juga tak akan terwujud tanpa diskusi-diskusi yang intens dengan berbagai pihak. Untuk diskusi-diskusi itu saya sangat berterimakasih kepada teman-teman di Komunitas Cantrik dan Ruang Kita, diskusi-diskusinya membuka pikiran saya. Terimakasih untuk kehangatan itu. Tentu saja masih banyak orang yang membantu saya dalam menyusun buku ini, saya tidak bisa menyebutnya satu persatu. Terima kasih saya yang tak terhingga bagi mereka.

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

5

Prolog

Mungkin Anda tidak menyadarinya, tapi sesungguhnya sejak kecil kita dididik oleh lingkungan untuk menjadi pegawai. Bukan pencipta kerja. Pikiran dan perasaan kita mengenai entrepreneur atau berusaha sendiri secara mandiri sudah dimatikan. Sekolah dan masyarakat cenderung membuat kita menjadi pegawai. Pedagang tidak terlalu dihargai sebagai cita-cita, hanya sebagai pilihan kalau kita kepepet. Tidak semua orang - untungnya!! - berpikiran seperti itu memang. Namun, hal ini perlu kita sadari sejak awal. Belum percaya? Coba simak kisah saya ini. Sewaktu saya masih kecil, ibu saya sering menceritakan pengalamannya ketika ikut nenek berjualan nasi bungkus ke pasar di Wonosari (sebuah kota kabupaten di Kabupaten, Gunung Kidul, DI. Yogyakarta) atau pasar kecil lainnya. Nasi yang dijual adalah nasi
Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

7

untuk sarapan beserta lauknya. Untuk sampai ke Wonosari di pagi hari, Nenek dan rombongan harus berjalan kurang lebih 15 kilometer. Jadi rombongan yang akan ikut berjualan, harus berangkat pagipagi buta atau terkadang tengah malam. Biasanya dagangan mereka habis sekitar jam 10 pagi. Mereka kemudian pulang sambil membawa beberapa bahan untuk esok hari dan sampai di rumah sekitar tengah hari. Sesampainya di rumah, setelah beristirahat atau seringkali langsung mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka kemudian menyiapkan lagi bahan dagangan untuk esok hari. Saya senang mendengar Ibu bernostalgia seperti itu, tapi sayangnya cerita perjuangan mereka tadi jadi terdengar memelas karena rupanya kegiatan tersebut dianggap kegiatan yang melelahkan dan memprihatinkan. “Beda dengan mereka yang jadi pegawai, nak. Pagi-pagi masih bisa nyapu, atau menyiapkan makan untuk keluarga, ini pagi-pagi benar atau bahkan dari sore sudah harus masak, untuk nanti di jual, melelahkan” begitu kata Ibu. Bagi , ibu kegiatan berjualan itu terasa tidak jelas dan melelahkan. Dia membayangkan menjadi pegawai tentu lebih enak dan lebih jelas penghasilannya. Padahal dari cerita Ibu, keluarganya waktu itu cukup punya jaringan dan penghasilan yang lumayan dari kegiatan tersebut. Ibu juga senang menceritakan kalau pertemanannya jadi luas karena harus bertemu dengan banyak orang - saya sendiri melihat Ibu sebagai pribadi yang luwes bergaul. Dari berbagai kisah tentang jualan nasi ini, ada satu hal yang selalu Ibu ulang-ulang ketika bercerita, “Makanya kalian belajar yang rajin biar bisa kerja dan punya kedudukan yang baik, jangan menderita seperti ibu. Kalian harus kerja keras dan jangan mudah menyerah” .

8

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

Demikianlah, di satu sisi dia berusaha menanamkan semangat kerja keras dan pantang menyerah, di satu sisi dia mengeluhkan aktivitasnya berjualan. Setelah itu dia biasanya bercerita bagaimana waktu itu teman-temannya sering mengejek kegiatannya berjualan tersebut. Juga beberapa perlakuan kurang simpatik kepada nenek dari sebagian pelanggan. Ibu kadang tidak masuk sekolah karena ikut jualan ini. Tadinya dia bahkan tidak boleh sekolah sama sekali. Di satu sisi, dia cukup berani ketika pada akhirnya menentukan untuk Sekolah Guru, di sisi lain dia mengendapkan kesempatan belajar mengembangkan jiwa wirausahanya karena: lebih baik jadi pegawai! Demikianlah perkenalan saya dengan entrepreneurship. Sesuatu yang harus dilakukan dengan sangat melelahkan dan kadang penuh ejekan. Di luar lingkungan keluarga saya, kesan yang sama ternyata juga berkembang dengan amat baik. Adakah Anda juga merasakan hal ini? Kita terlalu sering diberi image yang melelahkan mengenai entrepreneur. Kita bahkan selalu diajak untuk menjadi pegawai saja atau mengkonsumsi saja. Akhirnya, untuk soal entrepreneur itu, kesimpulan saya dari dulu sampai sekarang masih belum banyak beranjak: entrepreneurship adalah sesuatu yang melelahkan dan cenderung tidak membahagiakan. Walaupun teman saya, yang dahulu preman sekarang bisa dipandang sukses karena berjualan kasur. Saya tetap masih menyimpan suatu romantisme bahwa hidup jadi pegawai negeri itu enak dan tidak melelahkan. Tinggal terima gaji saja. Tetanggatetangga di kampung masih saja menggunjingkan kalau teman saya tadi pasti melakukan kecurangan ketika berusaha, sehingga usahanya cepat berkembang.

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

9

Saya tidak tahu kecurangan apa yang teman saya lakukan dalam usahanya,yang jelas dia memang memiliki jaringan pertemanan yang luas. Saya lumayan dekat dengan dia dan saya melihat dia banyak berubah serta lihai berstrategi. Ketika kasur yang lain di jual di toko, dia dengan pasukannya “menyerbu” rumah-rumah dan perumahan serta menawarkan kasur yang bisa di “customized”, termasuk menawarkan springbed buatan sendiri. Dia tidak menyerbu kotakota tapi selalu menjual dagangannya di pinggir kota bahkan desadesa. Begitulah dia bekerja dengan keras untuk itu dan menurut saya cukup berhasil. Namun, ketika terakhir bertemu saya, dia tetap saja bilang, “Anakku harus sekolah kayak kamu Wid, biar tidak gosong -terbakar matahari- di lapangan kayak bapaknya ini.” Jadi dia masih berharap anaknya bekerja kantoran atau pewagai negeri! Sepertinya memang asyik menjadi pegawai itu, apalagi pegawai kantoran. Tapi apakah demikian adanya? Pada taraf tertentu, sekarang nampaknya terjadi penjungkirbalikan pandangan. Karyawan dianggap ketinggalan jaman dan oleh banyak motivator dianggap sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan untuk kemudian berusaha sendiri saja. Tapi apakah demikian juga adanya? Nampaknya tidak semua orang tergerak jadi entrepreneur dan banyak yang hanya memahami entrepreneur pada kulitnya saja. Dalam wawancara dengan beberapa pengusaha, saya mendapati bahwa baik para pelaku bisnis ataupun profesional ataupun karyawan sama mulianya. Tapi saya mendapati bahwa jiwa entrepreneur sangat bermanfaat baik bagi entrepreneur itu sendiri maupun profesional. Paling tidak dengan jiwa entrepreneur, maka etos untuk mencari gaji buta dapat ditekan atau bahkan dihilangkan. Karyawan dengan jiwa entrepreneur saya pikir akan malas untuk

10

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

berpikir korup. Soalnya dia termotivasi terus untuk bekerja keras dan tidak ambil jalan pintas. Tapi apakah entrepreneur itu?

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

11

ENTREPRENEURSHIP, APA ATAU SIAPA ITU?

Apa sih Entrepreneurship itu?
Banyak orang berbicara mengenai entrepreneurship, tapi menjelaskannya dengan penjelasan yang berbeda-beda. Ada yang mengartikan sebagai cara berdagang, ada yang mengartikannya sebagai pedagang itu sendiri, bahkan ada yang mengartikannya sebagai kapal—karena dibelakangnya ada tulisan “ship” begitu kata bapak yang saya wawancarai. Walaupun yang terakhir ini ngawur, jelas memperlihatkan betapa kata tadi mempunyai sebaran makna yang sangat besar. Menurut hemat saya, kata entrepreneurship memang baru terkenal beberapa tahun belakangan ini, orang masih terus berusaha memaknainya. Jadi wajar kalau muncul berbagai penjelasan yang beraneka ragam. Di kalangan yang terbiasa

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

13

menjadi pengusaha seperti orang Makasar, atau orang Cina, kata entrepreneurship mungkin juga baru dikenal belakangan, walau mereka menjadi praktisinya. Di satu sisi, hal itu memperlihatkan dinamika dan antusiasme banyak orang terhadap entrepreneurship tapi juga memperlihatkan bahwa budaya kita bisa jadi tidak terbiasa dengan entrepreneurship. Biasanya, sebuah kata yang sulit dimengerti dan diterjemahkan secara beragam dikarenakan makna kata tersebut belum menjadi bagian integral dari suatu kebudayaan. Buku ini berusaha menjelaskan mengenai cara mendidik anak menjadi entrepreneur, maka kita akan memulai bahasan dengan membahas apa itu entrepreneurship. Di kalangan para ahli, ada begitu banyak definisi mengenai apa itu entrepreneur. Tetapi secara umum entrepreneur bisa diartikan sebagai “Orang atau kelompok yang berbisnis sendiri atau yang memiliki usaha sendiri’” Jadi di sini ada proses membuat suatu usaha, mengelolanya menjadi sesuatu yang berkesinambungan, dan memeliharanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bisnis tentu saja berurusan dengan keuntungan, jadi di sini juga melibatkan strategi untuk mendapatkan keuntungan. Berbagai kemampuan atau skill tentu saja dibutuhkan untuk menjalankan usaha tersebut. Dalam proses-proses untuk memulai, memelihara, dan seterusnya tadi, tentu saja diperlukan mental, semangat, dan kreativitas yang lebih dari biasanya. Di sinilah salah satu pembeda mereka yang dianggap sebagai entrepreneur dan yang bukan. Biasanya mereka yang terjun ke dalam dunia entrepreneurship atau biasa kita terjemahkan kewirausahaan, memiliki karakteristik berani mengambil resiko, berani berspekulasi, penuh inovasi, dan orang-

14

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

orang yang suka bertindak. Saya kutipkan juga sebuah definisi dalam bahasa Inggris di halaman ini. Bagi yang kesulitan, silahkan belajar, karena salah satu kemampuan wajib menjadi entrepreneur adalah kemampuan belajar dan memahami keterkaitan: ‘Entrepreneurship is the professional application of knowledge, skills and competencies and/or of monetizing a new idea, by an individual or a set of people by launching an enterprise de novo or diversifying from an existing one (distinct from seeking self employment as in a profession or trade), thus to pursue growth while generating wealth, employment and social good’. Baiklah, saya kutipkan juga yang berbahasa Indonesia dari Wikipedia: Entrepreneur atau Wirausaha adalah jenis usaha mandiri yang didirikan oleh seorang wirausahawan, atau sering pula disebut sebagai pengusaha. Wirausahawan adalah seseorang yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mencari caracara atau teknik yang lebih baik dalam pemanfaatan sumber daya, memperkecil pemborosan, serta menghasilkan barang atau jasa dalam upayanya memuaskan kebutuhan orang lain. Kalau dari asal katanya, menurut Wikipedia, malah begini: entrepreneur, merupakan kata serapan dari bahasa Perancis yang mulanya berarti “pemimpin musik atau pertunjukan.” Beberapa kutipan di bawah ini mudah-mudahan juga makin memperjelas apa

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

15

itu entrepreneur: “...kemampuan untuk menciptakan dan membangun sesuatu dari sesuatu yang kenyataannya tidak ada” (J.A. Timmons, “The ,
Entrepreneurial Mind” 1989) ,

“....menciptakan, mengelola visi dan mendemonstrasikan kepemimpinan” (Wickham, “Strategic Entrepreneurship: A decision ,
making approach to new venture creation and management” 1998, , page 34)

“Kemampuan untuk melihat dan mengevaluasi kesempatankesempatan berbisnis atau usaha” (Meredith, “The Practice of ,
Entrepreneurship” 1982) ,

“...orang yang siap sedia masuk dan bergelut dalam suatu aktivitas baru” ,
(Peter Marris, ‘The Social Barriers of African Entrepreneurship’, Journal of Developing Societies, October, 1968, as quoted in Thomas A. Timberg, ‘ The Marwaris: From Traders to Industrialists’, 1978, hal 19)

‘‘..kegiatan yang menjadikan sumber daya ekonomi yang kurang produktif menjadi lebih produktif dan menghasilkan” ,
(The Economist, October 13, 2007, hal 18 of the special section on Innovation, quoting Jean Baptiste Say)

“Entrepreneur adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas” (Ir. Ciputra pada Kuliah ,
Perdana Mahasiswa Baru Pascasarjana UGM angkatan 2007).

16

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

Seorang pengusaha garmen terkenal dari Jakarta merangkumkan perihal entrepreneur dalam kata-kata berikut: “Seorang entrepreneur bagi saya adalah seseorang yang mau kerja keras, tidak pantang menyerah, dan mempunyai tekat. Sebagai seorang professional sebenarnya lebih kecil resikonya, kalau sampai terjadi sesuatu dengan perusahaan, kita tinggal mencari pekerjaan lain. Tapi kalau usaha kita mengalami kegagalan, bukan saja investasi uang yang hilang tapi semangat kita pun akan ikut hilang. Oleh karena itu juga diperlukan juga mental pantang menyerah dan mau mulai lagi dari nol. Kegagalan selalu terjadi dalam hidup kita, tinggal bagaimana kita menyikapinya saja.” Bagaimana? Merasa sulit menjadi entrepreneur? Apakah begitu adanya? Jangan-jangan memang kita tidak pernah berpikir untuk menjadi entrepreneur. Jangan menyerah. Itu salah satu pesan terpenting dalam dunia entrepreneur. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Saya menjanjikan sebuah perjalanan yang menarik. Untuk dilaksanakan.

Mengapa mesti Entrepreneur?
Ya, mengapa harus entrepreneur? Seorang motivator terkenal, Andrias Harefa, sering sekali menuliskan hal ini: Menjadi entrepreneur sukses,itulah cita-cita yang pantas untuk diperjuangkan oleh generasi baru negeri ini. Pak Ciputra selalu mendorong orang untuk menjadi seorang entrepreneur. Dia bahkan mendirikan sekolah khusus untuk mendidik calon entrepreneur. Beberapa kalangan dengan berbagai

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

17

tujuan juga mulai memberikan pelatihan dan mendirikan lembaga pendidikan entrepreneur. Mengapa perlu diperjuangkan? Sebegitu pentingnyakah? Menurut pemikiran saya, kita harus melihat ke dalam perkembangan dunia saat ini. Dunia yang menjunjung tinggi pertumbuhan ekonomi dan juga penciptaan ide. Banyak perusahaan besar atau negara yang maju amat menjunjung tinggi kreativitas dan pertumbuhan ekonomi. Korea Selatan beberapa tahun yang lalu tidak kita kenal sebagai produsen alat elektronik dan mobil. Kita hanya tahu mereka sebagai negeri ginseng. Tapi belakangan kita selalu mengasosiasikan mereka dengan Samsung dan KIA. Seorang teman yang berasal dari Korea Selatan bilang, “Ide menjadi sangat penting di sana, juga semangat untuk mencukupi kebutuhan sendiri” Dia pernah bekerja di Samsung dan merasakan . bagaimana ide merupakan keharusan. Tiap hari mereka diajak untuk kreatif menciptakan sesuatu. Selama tahun pertama di Samsung, pekerjaannya hanya belajar dan belajar agar menjadi kreatif. Ikut berbagai kursus dan pelatihan. Tujuannya agar para pegawai menjadi kreatif dan menghasilkan banyak ciptaan baru. Hal lain yang menarik dari ceritanya adalah soal petani-petani di Korea Selatan. Petani di Korea memiliki kelompok yang amat kuat dan memiliki posisi tawar yang tinggi. Bahkan, di setiap desa petani bisa membuat suatu industri pertanian yang terstAndarisasi dan memasarkan produk pertaniannya dengan merek dagang mereka sendiri. Para petani selalu memiliki ide untuk mengembangkan pertaniannya dan memasarkannya sendiri. Mereka memiliki mental yang penuh semangat dan kreatif.Pestisida juga bukan permasalahan

18

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

bagi para petani karena mereka memiliki inovasi tersendiri untuk menuntaskan hama. Jiwa entrepreneur yang pantang menyerah, mandiri, mengerti peluang, dan kreatif telah menjadi bagian dari masyarakat Korea, begitu kesimpulan teman saya. Tak heran mereka cepat keluar dari krisis yang pernah menimpa mereka juga. Maka dengan enteng dan cukup telak menohok saya, teman tadi bilang, “Wiji, di Indonesia, kalian kaya, tapi maaf, kalian belum mampu mengelola, saya prihatin dan berdoa untuk itu. Merupakan pelayanan kita bersama untuk merubah semua itu” Sial, pikir saya, ternyata yang . menyadari kelemahan dan malah bersedia membantu kita justru orang asing. Untuk bangun saja kita rupanya masih dijajah. Ingin hati saya membantah apa yang dikatakan teman tadi, tapi semuanya benar belaka adanya. Membantah malah makin menunjukan ketidakbecusan kita. Entrepreneur dengan berbagai jargonnya, seperti: orang yang kreatif, penuh kerja keras, perubah sampah jadi emas, mental pantang menyerah, pengelola sumber daya, dan pemimpin yang dapat mengubah sesuatu menjadi peluang. Entrepreneur menjawab banyak hal dalam kebekuan masyarakat kita. Alasan ekonomi untuk menjadi kaya jangan menjadi alasan utama mengajarkan entrepreneurship atau menjadi seorang entrepreneur. Bagi saya, berbagai proses yang terjadi dalam entrepreneurship atau berwirausaha akan menciptakan individu-individu yang diperlukan bagi bangsa kita yang sedang dilanda banyak krisis ini. Karenanya, saya setuju agar cita-cita menjadi entrepreneur menjadi bagian dari perjuangan kita bersama. Pada sudut pandang inilah mendidik anak-anak menjadi pengusaha atau entrepreneur merupakan suatu yang perlu

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

19

diperjuangkan juga. Walau tidak semua keluarga, seperti apa yang akan saya sebut ini, tapi kebanyakan dari kita terlalu berfokus pada mendidik dan menciptakan pegawai. Padahal dunia kita di masa depan membutuhkan pencipta-pencipta kerja yang hAndal dan pegawai. Telah lama keluarga-keluarga kita mendidik anak-anak menjadi orang yang menurut saja, tanpa memikirkan kreativitas dan karya cipta yang lebih orisinil. Maka jalan hidup orang dan cita-cita orang sering hanya berjalan seperti ini: lahir-sekolah-kuliah-jadi pegawai negeri. Prosesnya menerima dan mengkonsumsi terus. Anak-anak kita juga telah lama dibuai oleh kekayaan alam yang semu dan sering menjadi malas serta tidak kreatif sama sekali. Saya masih ingat betul ucapan Guru IPS -dulu nama pelajarannya ini- di waktu SD, “Jangan kuatir, negara kita kaya raya, itu Sulawesi kalau mau di jual, tujuh keturunan kita masih bisa hidup, kita harus bangga” Dan inilah rupanya pembunuh-pembunuh itu, perasaan . bahwa kita kaya dan kita bisa berbuat apa saja dengan kekayaan kita. Tapi kenyataannya kita dimakan ilusi dan menjadi makanan empuk bangsa lain yang memiliki jiwa entrepreneur sangat tinggi. Dari cara minum kopi sampai cara berpakaian, kita lebih merasa gengsinya naik bila mengkonsumsi merek dari luar negeri. Siapa menyangka minuman kopi atau coklat bisa menjadi pengeruk penghasilan begitu besar? Bapak saya betul-betul terkejut ketika diberitahu harga kopi dari sebuah restoran yang baru saja dia minum. “Di kampung kopinya lebih enak cuman 2000, masak begini saja 30.000” . Kenyataannya kita berbondong-bondong pergi ke gerai-gerai kopi bermerek internasional demi gengsi. Teman yang pernah bekerja di sebuah pertambangan besar di Papua bilang, “Biaya operasional

20

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

sehari di perusahaan itu sama dengan APBN kita setahun lho...” Beberapa fakta di bawah ini mudah-mudahan makin menyadarkan pentingnya entrepreneurship ataupun pendidikan entrepreneurship. a. Kompas 15 Januari 2009 menulis berita bahwa 60 persen lulusan perguruan tinggi menganggur. Mereka sebenarnya tidak siap masuk ke perguruan tinggi. Berarti ada pengangguran intelek yang sangat berpotensi frustasi karena tidak bisa kreatif menciptakan peluang kerja sendiri. Pengangguran berarti beban ekonomi dan berarti hidup kian susah. b. Pengangguran di Indonesia mencapai angka 10,93 juta jiwa pada tahun 2006. Majalah Tempo edisi 20-26 Agustus 2007 menyajikan fakta bahwa pada tahun 2006, terdapat 670.000 sarjana dan lulusan diploma yang menganggur. c. Peluang kerja kantoran makin tipis. Krisis global malah memunculkan generasi baru PHK. d. Menurut David McClelland, seorang sosiolog terkemuka, suatu negara akan maju jika terdapat entrepreneur sedikitnya sebanyak 2% dari jumlah penduduk. Menurut laporan yang dilansir Global Entrepreneurship Monitor, pada tahun 2005, Negara Singapura memiliki entrepreneur sebanyak 7,2% dari jumlah penduduk. Sedangkan Indonesia hanya memiliki entrepreneur 0,18% dari jumlah penduduk. Demikian Pak Ciputra mengutip sebuah penelitian. Entrepreneur menyumbang banyak kepada kemakmuran bangsa. e. Negara kita kaya sumber daya alam, tapi kenyataannya hasilnya lebih banyak dinikmati negara yang sangat jauh dari

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

21

kita. Kabarnya produksi coklat mentah dunia banyak disuplai negara kita, tapi produsen makanan coklat terbesar bukan negara kita. Kita membeli mahal untuk barang yang tadinya berasal dari negara kita sendiri. f. TKI yang bertebaran di berbagai negara makin memperlihatkan kalau negara kita memang negara buruh. Berbagai produsen pakaian ataupun sepatu luar negeri mendirikan pabrik di negara kita karena buruhnya murah. Sekarang karena ada yang lebih murah lagi, mereka pergi dari negara kita dan kita melongo karena tidak siap bersaing. Bahkan untuk membeli tali sepatu produk dari pabrik mereka sendiri para buruh Indonesia tidak mampu. Menurut saya, mental dan semangat yang ada dalam proses entrepreneurship akan sangat menolong bangsa kita keluar dari berbagai krisis. Karena mendidik orang menjadi entrepreneur berarti juga mendidik orang menjadi pemimpin dan kita butuh banyak pemimpin. Mendidik seorang menjadi entrepreneur berarti juga mendidik karakter orang agar tidak hanya pasrah kepada keadaan. Mental entrepreneur yang selalu berusaha menciptakan suatu yang baru membuat orang berpikir dan berusaha mengatasi segala hambatan diri. Bukankah hal ini yang diperlukan setiap anak bangsa? Selain berhubungan dengan semangat kebangsaan di atas, secara individu berwirausaha banyak memiliki keuntungan, di antaranya: a. Bisa mengatur jam kerja sendiri. b. Bisa meraih keuntungan semaksimal mungkin.

22

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

Wiji Suprayogi
Lahir di Purwokerto 29 Agustus 1974. Aktif di berbagai kegiatan sosial dan komunitas pendidikan. Saat ini ia menjadi koordinator sebuah lembaga yang bergerak dalam penguatan wacana pendidikan dan bantuan pendidikan di Yogyakarta. Bersama organisasinya berusaha membantu anak-anak yang terancam putus sekolah dan berusaha menyiapkan mereka agar memiliki pendidikan yang lebih baik. Juga mendirikan sanggarsanggar belajar yang tersebar di pelosok Yogyakarta yang bermuatan pendidikan karakter dan kewirausahaan sebagai suplementasi bagi sekolah-sekolah yang bermitra dengan lembaganya. Saat ini sedang mengembangkan sayap kegiatan sanggarnya ke pulau Timor. Selain itu, ia juga menjadi pengajar freelance di beberapa universitas, peneliti freelance sejak mahasiswa, dan aktif di berbagai diskusi mengenai kebudayaan dan pendidikan. Belajar wirausaha dari pergaulan dan jaringan pertemanan. Mengenyam pendidikan S1di Jurusan Antropologi UGM, kemudian S2 di Sekolah Tinggi Theologia Yogyakarta, dengan major pendidikan agama Kristen.

Mendidik Anak Menjadi Pengusaha

99


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:3134
posted:6/19/2009
language:Indonesian
pages:25
Description: Jangan didik anak Anda jadi biasa-biasa saja.. Kenalkan dia pada mental yang produktif biar kelak di masa depannya dia tak mudah jatuh karena gagal, inspiratif bagi lingkungannya, dan kreatif jiwanya!