Sungai Bengawan Solo by zaidibnu

VIEWS: 4,146 PAGES: 7

									2
Sungai Bengawan Solo

10 1. Geografis

Gambar 2.1 Peta Jaringan Sungai Bengawan Solo (Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup 2006) Sungai Bengawan Solo melewati 2 (dua) Propinsi dan 7 (tujuh) kabupaten di Jawa Tengah (Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, Sragen, Blora dan Kota Surakarta) dan 7 (tujuh) kabupaten di Jawa Timur (Pacitan, Madiun, Ponorogo, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik). Dengan panjang sungai + 600 km dan panjang anak sungi + 1.230 km, menjadikan DAS Bengawan Solo sebagai DAS dengan sistem pengaliran sungai utama terpanjang di Pulau Jawa. Disamping itu terdapat anak-anak sungai yang cukup besar dengan jumlah tidak kurang dari 27 buah dan semuanya masuk ke sungai utama.

2. Tataguna lahan
DAS Bengawan Solo memiliki cakupan wilayah yang sangat luas, yaitu sekitar 1.610.000 ha. Secara administrasi berada pada tiga wilayah Propinsi yaitu Propinsi Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur. Fisiografi bentang lahannya mulai dari dataran daerah

11
bergelombang, pegunungan lipatan, pegunungan kapur, hingga daerah volkan. Penggunaan lahan dan kondisi vegetasi penutupan lahan merupakan elemen DAS yang sangat menentukan besar-kecilnya aliran permukaan dari curah hujan yang menyebabkannya. Bentuk penggunaan lahan dan kondisi vegetasi yang ada pada wilayah DAS juga mempengaruhi hidrografi sungainya. Daerah hutan dengan kondisi vegetasi yang lebat akan membantu mengurangi aliran permukaan karena kemampuan infiltrasinya besar. Penggunaan lahan DAS Bengawan Solo secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi: hutan, sawah, tegalan dan perkebunan, dan lain-lain (pemukiman, industri dan lain-lain). Distribusi penggunaan lahan relatif menyebar, mulai dari bagian hulu, tengah, hingga hilir. Gambaran singkat kondisi penggunaan lahan tersebut dapat dilihat dalam Tabel 2.1 dibawah ini.
Tabel 2.1 Tutupan Lahan di DAS Bengawan Solo Tahun 2006

(Sumber : Intepretasi Citra Landsat ETM tahun 2006)

3. Klimatologi
DAS Bengawan Solo di Jawa Tengah termasuk dalam daerah tropis dengan tipe iklim

12
menurut Koppen sebagian besar adalah Am. Suhu rata-rata bulanan di atas 27,4 oC, kelembaban udara rata-rata sekitar 66%, lama penyinaran matahari selama 10,8 jam/hari, kecepatan angin rata-rata 1,4 m/detik dan evapotranspirasi rata-rata sekitar 4,3 mm/hari. DAS Bengawan Solo memiliki kondisi curah hujan yang bervariasi. Curah hujan pada wilayah DAS Bengawan Solo Hulu lebih dari 2.100 mm/thn. Pada sub DAS Bengawan Madiun, curah hujannya sekitar 1.800 mm/thn, pada lereng Gunung Merapi (Kabupaten Boyolali dan sekitarnya) sebesar 1.465 – 3.298 mm/tahun, dan pada wilayah DAS Solo Hilir curah hujan semakin kecil yaitu antara 1.400-1.600 mm/thn. Secara keseluruhan luas lahan di DAS Bengawan Solo yang memiliki kemiringan di atas 15% mencapi 509.331 ha (30,46%), kondisi tanah yang peka dan sangat peka terhadap erosi mencapai luas 937.717 ha (56,09%).

4. Hidrologi
Kondisi hidrologi DAS Bengawan Solo sangat ditentukan oleh kondisi klimatologis dan kondisi fisik pada setiap Sub DAS yang masuk ke dalam DAS Bengawan Solo di Jawa Tengah. Hal yang mempengaruhi kondisi hidrologis DAS Bengawan Solo antara lain adalah hujan yang tertangkap pada masing-masing Sub DAS, jenis tanah, tutupan lahan, topografi, iklim dan faktor-faktor lainnya. Hujan yang tertangkap oleh masing-masing Sub DAS tersebut kemudian sebagian akan mengalami run off yang kemudian membentuk aliran sungai. Besar nilai run off dapat didekati dengan mengukur debit pada beberapa outlet sungai. Pengukuran debit sungai di enam lokasi sepanjang Sungai Bengawan Solo yang ada di jawa Tengah adalah di Stasiun Dengkeng, Stasiun Jurug, Stasiun Muncar, Ngrukun, Paseban Bayat dan Stasiun Sulingi Tirtomoyo. Dari hasil pengamatan tahun 2004 variasi debit sungai DAS Solo Hulu adalah 0.05 m3/detik (pada bulan September di Stasiun Tirtomoyo) hingga 274.05 m3/detik (pada bulan Februari di Stasiun Jurug). Di stasiun Jurug, Solo, debit Sungai Bengawan Solo juga menunjukkan variasi yang cukup tajam yaitu antara 11.30 m3/detik (bulan September) hingga 274.05 m3/detik (bulan Februari).

5. Kualitas Air
Penurunan kualitas air sungai di DAS Bengawan Solo didominasi oleh pencemaran yang bersumber dari kegiatan industri, pertanian, dan perkebunan dimana pada bagian hulu didominasi oleh kegiatan pertanian dan perkebunan, dan pada bagian hilir didominasi oleh kegiatan industri dan perkebunan. Kualitas air sungai di DAS Bengawan Solo dapat dilihat pada tabel 2.2.

13
Tabel 2.2 Kualitas Air Sungai Bengawan Solo

(Sumber: Analisa Kualitas Air PUSARPEDAL KLH Tahun 2006)

6. Permasalahan
A. Sedimentasi
Sedimentasi merupakan salah satu masalah yang memerlukan penanganan segera. Sedimentasi di DAS Bengawan Solo terutama dialami oleh bendungan-bendungan di sepanjang aliran DAS. Bendungan Gadjah Mungkur, sebagai bendungan terbesar juga mengalami hal yang sama. Pada bendungan Gadjah Mungkur tahun 2001 sedimen sudah mencapai 30% dari tampungan, karena masuknya sedimen dari anak sungai terdekat Intake (Kali Kedawung) sedimen sudah menutup hampir separuh tinggi intake, apabila tidak ditangani segera intake akan tersumbat sehingga suplai air ke hilir terhenti dan air dapat melimpah di atas bendungan, sehingga dapat terjadi banjir

14
besar di daerah hilir. Demikian juga yang terjadi dengan Bengawan Solo. Sedimentasi di bendungan ini sudah ada di depan pintu intake. Proses sedimentasi juga sudahi mulai berlangsung di saluran induk irigasi (Kali catur, Madiun) penanggulangan yang dapat dilakukan antara lain pengerukan/penggalian sedimen, konservasi lahan dan perawatan.

B. Pencemaran dan Kualitas Air Pencemaran di Sungai Bengawan Solo yang bersumber dari buangan limbah industri yang tidak menggunakan IPAL untuk mengolah limbahnya dimana 21% diantaranya berasal dari industri skala besar, 14% dari industri skala menengah, dan 97% pada industri skala kecil serta limbah pertanian yang terjadi mulai pada bagian hulu hingga hilir yang menyebabkan air sungai Bengawan Solo tidak dapat digunakan sebagai bahan baku air minum. C. Banjir Kejadian banjir besar yang melanda Kabupaten Ngawi pada awal tahun 2008 merupakan pengalaman pahit yang dialami masyarakat dan sebagai peringatan bagi semua pihak khususnya ahli pengelolaan DAS beserta pihak-pihak yang terkait atas kekeringan di musim kemarau merupakan indikator kinerja yang kurang baik dalam pengelolaan DAS. Rasio debit (Qmax/Qmin) sungai Bengawan Solo berkisar antara 106 – 164 sehingga termasuk dalam kategori fluktuasi debit yang tinggi. Curah hujan pada daerah hulu Bengawan Solo mempunyai potensi erosivitas yang tinggi. Dengan memperhatikan faktor erodibilitas tanah dan erosivitas tanah yang tinggi memungkinkan debit air menurun tajam di musim kemarau. Sementara itu karakter DAS Bengawan Solo mempunyai pola drainase yang berbeda. Sungai dan anak sungai dibagian hulu membentuk pola drainase radial dengan kelerengan yang terjal. Bagian tengah dan hilir membentuk pola drainase rectanguler dengan catchment area dan kelerengan rendah. Akibat dari dua pola ini maka di beberapa tempat terutama pertemuan antara Sungai Madiun dan Bengawan Solo selalu akan terjadi Banjir pada bentuk sungai induk yang membentuk meander. Saat ini luas hutan kurang 20% dari luas DAS. Untuk mencegah terjadinya banjir dan kekeringan yang semakin parah, areal yang memiliki peran yang sangat vital ini perlu dipertahankan keberadaannya.

15
D. Kebijakan Pengelolaan DAS Bengawan Solo Pengelolaan DAS Bengawan Solo, meliputi : a. Masih belum ada kebijakan yang terpadu antar pengelola sumberdaya alam (secara sektoral) dan pemerintah daerah (propinsi dan kabupaten serta kota). Akibatnya pemanfaatan suatu sumberdaya alam tertentu akan memberi dampak negatif pada sumberdaya alam lainnya dan/atau ditempat/lokasi lainnya. b. Pengelolaan DAS dari hulu hingga hilir masih belum ada suatu resource allocation yang memungkinkan adanya pembatasan-pembatasan dengan rambu-rambu yang disepakati bersama. c. Belum adanya sistem pembiayaan pengelolaan DAS yang mengetrapkan prinsip insentif disinsentif untuk mengkonservasi sumberdaya alam (hutan, tanah dan air serta mineral).

7. Pemanfaatan
DAS Bengawan Solo + 369.312 ha. Selain untuk irigasi, pemanfaatan potensi air DAS Bengawan Solo diantaranya adalah untuk air baku (air minum, industri, pembankit listrik, perikanan, pariwisata dll. Pembangkit listrik dihasilkan oleh waduk terbesar yaitu Waduk Wonogiri yang dihasilkan daya 57,3 GWH. Waduk Wonogiri merupakan salah satu dari 12 waduk yang ada. 14 (empat belas) kabupaten/kota di 2 (dua) Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai permasalahan yang sangat kompleks, terutama dalam pengelolaan sumberdaya alam yang ada di dalamnya. Kegiatan pemanfaatan hutan, tanah, air serta penambangan mineral golongan C di suatu daerah secara nyata berdampak pada daerah di bawahnya/di hilir. Pemanfaatan sumberdaya di bagian wilayah manapun (hulu, tengah dan hilir) harus mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan. Keterpaduan dalam pengelolaan harus memperhatikan dimensi ruang, waktu dan kepentingannya. Pelaksanaan ini harus tercermin dalam program-program sektoral daerah kabupaten dan kota di waktu kini dan mendatang.
(***)


								
To top