3 Heart 1 Love

Description

This is a Story from Yunita Andriani U. My Junior High School friends

Shared by: fandhy2011
-
Stats
views:
143
posted:
3/27/2011
language:
Indonesian
pages:
14
Document Sample
scope of work template
							                                   3 Heart 1 Love


          Cerita ini, Merupakan sebuah cerita Fiksi yang diangkat dari sebuah Kisah
Nyata seorang wanita yang berusaha untuk melupakan sang Mantan yang kini telah
berubah dari yang pertama dia kenal. Cerita ini merupakan karangan dari Yunita
Andriani U yang merupakan teman saat aku masih SMP dan baru mengenal apa itu
cinta ? dan bagaimanakah Cinta sebenarnya.

         Kuusap air mata yang mulai menggenang di pelupuk mataku,.. Serasa ingin
kutampar wajah ini keras-keras agar aku segera bisa bangkit dari semua rasa yang
menyesakkan ini,.. Bukannya berdiam diri di dalam kamar yang gelap tanpa cahaya
lampu dan tanpa suara,..

          Kulihat sobekan kertas HVS berserakan disana-sini,.. Kulihat betapa
berantakannya kamarku, tempat tidurku,. Tapi senyumku tersungging,.. Karena ak
menyadari, kekacauan itu bisa di bereskan tapi tidak dengan hatiku,.. Yang telah
hancur berantakan dan aku sendiri tak tahu bagaimana cara mengembalikannya seperti
semula,..

          Mataku menerawang jauh,.. Mengingat masa lalu,.. Semua berawal dari 2
tahun lalu,.. Saat mereka menjadi orang terdekatku,.. Orang terpercayaku,.. Tapi
sekarang?? Hanya dapat kukatupkan kedua bibirku agar menahan suara tangis ini,..

           Masih segar dalam ingatanku. Saat pelajaran geografi di kelasku saat itu, ada
seorang pegawai sekolah yang mengetuk pintu, dan berbicara sesuatu pada guru
geografiku, setengah berbisik. Lalu tiba-tiba masuklah sesosok laki-laki yang
sepantaran denganku. Lalu dia memperkenalkan diri “Nama saya Abi Pardimas Surya,
saya anak baru disini, pindahan dari Semarang.” katanya. Aku setengah mendongak
dan bergumam “Oh anak baru ya” karena tidak begitu tertarik pada yang namanya anak
baru aku aku melanjutkan tugas yang diberikan guruku tadi. Beberapa hari telah berlalu
anak-anak sekelasku heran karena aku dan anak baru tadi tidak pernah bertegur sapa,
hampir semua anak bertanya padaku “Nda, kenapa sih kamu gak mau ngomong sama
dia? Tegur sapa doang deh” tanya Novena sahabat dekatku. “Iyaa, kan kasihan dia
anak baru, tapi kamu acuh gitu” timpal Ara. “Sekarang gini ya, dia kan anak baru,
cowok pula. Kenapa bukan dia yang menyapa pertama kali? Kenapa harus aku coba?”
jawabku datar. “Anggep aja dia itu tamu, masa dia mau nyapa duluan” ucap Novena.
“Yee dimana-mana, yang namanya tamu itu pasti nyapa duluan lah, masa langsung
nylonong masuk? Kalo ada yang kaya gitu berarti itu tamu gila” ujarku. “Uda deh ra,
kalah kita kalo debat sama Amanda” ucap Novena.

          Sampai pada suatu malam, saat aku beranjak keluar rumah, tiba-tiba
handphoneku bergetar tanda ada sms masuk. Nomor tak dikenal. Dan si pengirim itu
berlagak seolah salah kirim. Dan setelah aku bertanya pada si pemilik nomor itu,
ternyata pengirim sms tadi adalah Abi. “Anak baru itu lagi, memang dia tahu dari mana
nomorku, dan ada urusan apa dia mengirim sms padaku.” batinku dalam hati setengah
jengkel. Aku tetap acuh, karena berkenalan dengannya saja belum pernah, bertegur
sapa juga belum, apalagi ngobrol dengan dia. Kayaknya semuanya nihil. Lalu pada saat
jejaring sosial fleksibel di handphone hadir, tiba-tiba ada akun tak dikenal muncul. Dan
coba tebak, ternyata si anak baru itu lagi. Benar-benar acuh yang kurasa, karena aku
tak pernah ada niat sama sekali untuk mengenalnya. Tapi entah kenapa dan entah
sejak kapan kami jadi sering mengobrol lewat jejaring sosial tersebut. Mulai dari obrolan
penting sampai obrolan konyol yang sama sekali nggak penting. Lalu entah siapa
dalang semuanya, tiba-tiba saja satu kelas menjadi heboh, gosip yang beredar ramai
mengatakan Abi menyukaiku. Aku sama sekali tidak percaya dan masih acuh saja. Tapi
lama kelamaan, sikap teman-temanku menjadi sangat brutal. Mereka selalu menggoda
aku dan Abi di setiap kesempatan pelajaran.

           Enam bulan telah berlalu. Sampai pada suatu saat aku dan Abi ditunjuk
mengerjakan soal matematika di depan kelas. Dan herannya entah kenapa kami
bersamaan beranjak dari posisi semula yang berjongkok (akibat tempat untuk
mengerjakan ada di bagian bawah papan tulis) dan kami juga bersamaan meletakkan
kapur di sisi pinggir papan tulis. Langsung saja, tanpa di komando, teman-teman
sekelasku bersorak-sorai bagaikan memenangkan lotre, bagaikan telah mendengar
ramalan dewi fortuna bahwa masa depan mereka akan tinggal di istana mewah nun
jauh di mata, di temani dayang-dayang dan seabrek fasilitas mewah lainnnya. Benar-
benar heran aku, lalu aku dengan wajah suntuk duduk kembali di bangkuku, sedangkan
mereka masih belum berhenti menyoraki aku dan Abi, sampai-sampai guru
matematikaku, bu Indri yang terkenal killer hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Pernah juga, saat guru Bahasa Indonesiaku meninggalkan undangan di meja guru.
Sepertinya terlupa saat dia meninggalkan kelas. Langsung saja, temanku Gina yang
super usil mengambil undangan itu dan bergerombol dengan 4 temanku lainnya. Gina
bertanya “Kamu suka angka berapa nda?.” Dan aku menjawab “10, kenapa sih? Aku
mau ikut nimbrung gak boleh” ujarku ketus. “Hahaha, sabaaar yaaa.” Jawab Gina. Lalu
setelah lumayan lama aku mendengar, melihat, mereka tertawa cekikikan dan tertawa
terpingkal-pingkal sambil memegang perut, aku pun dipanggil untuk mengambil hasil
karya mereka itu. “Haa??? Apa-apaan ini??” ujarku sambil mengernyitkan dahi.
“Baguus kaan.” Kata Novena sambil tersenyum lebar. “Bagus darimana? Kurang
kerjaan banget.” jawabku. Undangan pernikahan itu tadi sudah disulap ulang, nama
mempelai laki-laki dan perempuan telah dirombak dan diganti dengan “Abi Paradipta
Surya bin Umar Surya” dengan “Alamanda Haruna Cathartica binti Taufik” (nama
ayahku dan ayahnya). Tanggal pengucapan janji sekali seumur hidup atau yang biasa
disebut akad nikah diganti pada tanggal 10 bulan 10 tahun 2010. Jam yang tertera juga
serasi, 10.10 pagi. Namun yang membuatku ngeri adalah tempat resepsi. Gua Maria??
Ckck aneh-aneh saja mereka ujarku. Dan dengan cekatan temanku Sipha langsung
merebut undangan itu dan tiba-tiba memberikannya pada Abi. Pecah lagi suara teman-
teman menggodaku, namun tidak sampai sekelas, karena hanya beberapa saja yang
tahu. Suatu hari aku benar-benar menjadi marah pada teman-temanku karena pada
saat aku berada di tempat les ku dan membuka tas untuk mengambil buku, tiba-tiba
aku menemukan sesuatu. Tempat pensil. Aku bertanya pada kedua temanku yyang
kebetulan satu kursus denganku, namun Novena dan Gina hanya tertawa sambil
berbisik-bisik. Setelah mereka melihat aku benar-benar marah dan ngambek barulah
mereka mengaku kalau tempat pensil itu milik Abi, si anak baru itu. Benar-benar sudah
keterlaluan teman-temanku ini. Aku menarik nafas, mencoba menganggap itu semua
hanya angin lalu saja, karena toh nyatanya aku tak pernah berbicara langsung
padanya. Namun kata-kata teman-temanku, gosip yang beredar itu, malah seakan
menjadi sugesti, karena aku malah lebih sering memikirkan dan memperhatikan si anak
baru itu, apa benar dia menyukaiku. Dan entah bagaimana semua bermula dan siapa
yang memulai, kami menjadi semakin akrab. Mungkin gara-gara sering ngobrol melalui
jejaring sosial di handphone yaitu mxit dan sms. Agak janggal karena kami hanya
berhubungan dekat secara tidak langsung, namun ada sebersit senyuman. Senyuman
yang mengandung arti bahwa aku mulai menyadari bahwa dia memang orang yang
selalu ada. Itu terbukti pada saat bel pulang sekolah sudah terdengar, siswa-siswa pasti
langsung berhamburan keluar, berlomba-lomba untuk cepat pulang, termasuk Abi. Dia
segera memacu motor vario nya menembus padatnya jalanan yang dipenuhi kumpulan
pelajar yang pulang sekolah. Lama sudah aku menunggu jemputan, sampai rasanya
tubuhku sudah mengeluarkan akar-akar kokoh yang menempel pada tanah saking
lamanya aku menunggu. Lalu aku menghabiskan waktu untuk ber-sms ria dengan
Novena. Dan ternyata, tanpa sepengetahuanku, Novena memberi tahu Abi bahwa aku
belum dijemput dan meminta tolong Abi untuk mengantarku ke rumah Novena yang tak
jauh dari sekolah, karena langit sudah menunjukkan tanda-tanda akan hujan. Lalu
setelah Novena memberitahuku, terlambat bagiku untuk membatalkannya karena
ternyata Abi sudah berangkat untuk menjemputku. Tak lama ia sudah berada di
hadapanku bersama motor vario nya itu. Dan karena kasihan kalau ku tolak karena dia
sudah susah payah jauh-jauh kembali ke sekolah, akhirnya aku pun mau untuk
diboncengkan olehnya. Itu pertama kali aku diboncengkan olehnya, dan saat aku
menghirup nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugup namun malah tercium
bau khas dari Abi yang masuk ke dalam hidung. Setelah sampai di depan rumah
Novena, ternyata dia sudah menunggu di teras dan terkikik menahan tawa. Aku lalu
membalikkan badan dan berkata “Maaf ngrepotin ya bi, makasih banyak” ucapku. “Iya
sama-sama, duluan ya” jawabnya sambil berlalu pergi. Lalu dengan cepat kukejar
Novena yang sudah berlari masuk, menghindari timpukkan tasku. Tapi entah kenapa,
ada senyum tersungging di hati, ada sebersit perasaan nyaman saat tadi bersama Abi.
Aku hanya diam, berharap ini menjadi rahasiaku sendiri saja.

          Berhari-hari telah berlalu, semakin dekat saja kami pikirku. Sampai pada
saatnya latihan ujian akan tiba. Dan anehnya aku masih saja dekat dengannya. Kami
juga menghabiskan waktu dengan lebih bermanfaat. Jadi kami berlomba-lomba
mengerjakan soal-soal di buku kumpulan soal latihan ujian milik kami masing-masing,
lalu siapa yang paling cepat harus segera meng-sms dan kami akan segera
menghitung jumlah benar masing-masing. Entah kenapa, setiap hari, itu yang membuat
kami rajin belajar. Dan herannya pasti dia unggul dalam pelajaran matematika,
pelajaran yang aku anggap membuat otak bekerja lebih keras 100x daripada biasanya.
Tapi aku juga selalu unggul dalam pelajaran bahasa inggris, yang menurutnya
pelajaran yang sangat rumit dengan aturan-aturannya. Hahaha,.. kadang aku tertawa
sendiri akan keadaan ini, kami dekat, namun tak pernah berkomunikasi secara
langsung. Namun jujur saja sudah 1 tahun dan aku merasa ada rasa yang berbeda.
          Hingga suatu saat Novena tiba-tiba bertanya padaku “Kalau dia tiba-tiba
menyatakan cinta padamu bagaimana nda?” tanyanya serius. “Serius amat ven, gak
mungkin deh kayanya.” jawabku. “Lhoh, kok bisa? Semua itu gak ada yang gak
mungkin mandaaa,... ayolah, kalo itu terjadi, apa jawabanmu?” desak Novena. “Ven,
kamu kan tahu sendiri aku gak akan bilang „iya‟ kepada siapapun sampai aku dapet
kertas yang tertulis kata „LULUS‟ dulu” jawabku singkat. “Oooh,.. begitu? Ya sudahlah,
apa saja yang terbaik menurutmu sayaaang” ujarnya. “Hiii aku mulai takut, jangan-
jangan kamu ya yang bakal menyatakan cinta padaku” tanyaku sedikit bergidik. “Enak
ajaaa!! Gak bakal yaaaa” jawabnya. Lalu kami tertawa bersama.

           Dan benar saja, tiba-tiba 3 hari setelah pengumuman kelulusan. Di malam
yang bertanggal angka kesukaanku, yaitu 10, tepat pukul 10.10 malam , Abi
mengatakan sesuatu di situs jejaring sosial mxit. “Jadi ini yang dimaksud Novena”
batinku. Abi mengatakan apakah aku mau untuk menjadi kekasihnya, tapi dia juga
berkata di akhir kalimat “... kalau kamu nggak mau nggak apa-apa nda, semua ini udah
cukup buat aku.” ujarnya. Dan aku menjawab “Maaf bi, aku gak bisa, sungguh aku
minta maaf.. aku nggak bisa untuk nggak bilang iya” ujarku. Lalu dia berkata “Hah??
Apa?? Padahal aku udah siap-siap bakal kamu tolak. Aaaa bosok ah,.. kamu ni ya, hobi
banget ngerjain aku” katanya. Hahahah, aku hanya tergelak saat dia berkata demikian.
Karena memang kata bosok itulah, kata yang keluar dari mulutnya saat dia kesal,
namun, kata itu keluar dengan nada yang aneh, sehingga bisa membuat aku tertawa.
Lalu di situs jejaring sosial itu, sebut saja mxit, dia menuliskan status “you‟re mine” dan
aku menuliskan status “i‟m your‟s”. Entah kenapa aku senang sekali, setelah sekian
lama aku menutup hati lalu dengan waktu 1 tahun 3 bulan aku bisa berkenalan dan
memiliki hubungan spesial dengan Abi. Ya, malam itu, Abi Paradipta Surya, berhasil
membuka hati seorang Alamanda Haruna Cathartica yang telah lama tertutup rapat.
Malam itu kami benar-benar tidak tidur, mungkin rasa bahagia di benak masing-masing
yang membuat kami enggan untuk menutup mata. Dan malam itu, dia telah resmi
menjadi seseorang yang namanya ku torehkan dalam hatiku. Menjadi penopang hariku,
penopang kesedihanku, hari-hariku yang sebelumnya dipenuhi rasa hampa karena aku
menutup hati, kini telah sirna. Bak puisi yang kutulis
                                                          ***
                                              Tolong aku,.
                                  Tanganku menggapai-gapai di udara
                                          Dadaku penuh sesak
                                     Bulir air mata telah merebak
                                 Aku terjebak dalam lubang kesedihan
                                          Dalam, gelap, sunyi
                                    Hanya terdengar isak tangisku
                                            Tangis kecewaku
                           Ingin kudapati seseorang menggenggam tanganku
                                            Menarikku keluar
                                       Menuju cerahnya mentari
                                          Menuju udara bebas
                        Dia akan menjelma layaknya hujan, menghapus sedihku
                                Memberi pelangi bahagia dalam hidupku
                                       Tapi apakah mungkin
                                       Harapanku ini semu..
                                  Layaknya oase di padang pasir
                                            Mustahil..
                                   Layaknya salju di gurun pasir

                                               ***

           Aku pun mengirimkan puisi yang telah lama kubuat itu kepada Abi, dan tiba-
tiba dia berkata “Semua itu nggak mustahil nda, aku akan berusaha menjadi tangan itu
untuk menarikmu.” Satu senyum tersungging lagi. Dan aku bersyukur pada Tuhan
malam itu. Karena sudah memberiku kesempatan mengenal orang sebaik dia.

          Esok harinya kami berangkat ke sekolah bersama. Bukan, bukan aku
membonceng padanya, namun jika aku sudah melewati daerah rumahnya, aku akan
meng-sms dia, lalu dia akan berangkat dan kami akan sampai bersamaan di sekolah.
Sungguh, baru pertama orang yang aku kenal sebaik dia. Setiap hari, saat berangkat
ke sekolah selalu seperti itu. Dan kami akan berbincang-bincang di kelas yang masih
sepi. Kadang Novena juga datang membarengi kami lalu ikut nimbrung mengobrol.
Sebenarnya hanya Novena yang tahu hubungan kami, namun lama kelamaan terbuka
juga semuanya, anak-anak satu kelas pun telah mengetahui itu. Satu kegiatan khas
yang selalu kulakukan dengan Abi. Tali sepatu, ya, tali sepatu. Pasti kami selalu usil
untuk saling adu tarik tali sepatu, pernah aku melepas semua tali sepatu yang ada di
sepatunya. Namun dia hanya tersenyum dengan senyum khasnya dan membalas
perbuatanku. Kami juga sering bertukar baterai handphone karena seri baterai kami
sama. Dan jika bateraiku lowbat pasi baterai handphonenya menjadi penolong.
Hahaha. Lalu, aku jadi makin sering diboncengkan olehnya jika kami akan pergi ke
rumah teman sekelas kami. Pasti, aroma khasnya selalu tercium, dan saat aku
menatap bahunya yang bidang, aku berdoa dalam hati, aku tak ingin kehilangan sosok
yang ada di hadapanku itu.

           Lalu malam harinya, dia mengirimkan satu rekaman. Saat kuputar rekaman
itu, ternyata itu adalah rekaman gitarnya untukku, petikan gitar dengan lagu yang
diciptakannya sendiri. Satu senyum tersungging lagi. Hingga aku berpikir untuk
membalas kebaikannya yang satu itu. Lalu esok harinya aku meminta tolong temanku
Tisna untuk memainkan gitarnya, dan aku akan bernyanyi. Tisna memilihkan lagu
“Ajeng-Saat Kau Tak Disini”. Setelah rekaman di handphone itu selesai, pada detik juga
aku mengirimkannya pada Abi. Dia mengatakan bahwa suara yang dia dengarkan
sangatlah bagus. Dua hari telah berlalu, masih dalam kebahagiaan yang sama. Lalu
pada saat, di rumah seorang temanku Erik, Abi memainkan gitar di hadapanku. Lagu
ciptaannya sendiri dan lagu i‟m your‟s. Romantiskah? Hahaha. Tidak. Aku selalu
menggoda dan mengganggunya saat bermain gitar. Jadilah permainan gitar itu tidak
romantis. Tapi dalam hati, aku ingin semuanya tetap seperti ini, bisa menggodanya saat
dia bermain gitar. Sepekan kemudian, aku dan teman-temanku memutuskan untuk
melancong ke Jogja. Disana sangatlah banyak terukir kenanganku dengannya. Kami
semua pergi ke pameran yang ada, lalu dengan menaiki kendaraan umum, kami
memutuskan untuk pergi ke Malioboro. Di dalam bus itu, Abi sibuk memainkan
rubiknya, mungkin untuk menghilangkan gugup juga. Lalu dia memegang keningnya,
mendesah, dan menyandarkan kepalanya ke belakang. “Ada apa?” tanyaku. Dia
bangkit, tersenyum, lalu berkata “Nggak ada apa-apa, aku cuma pusing.”jawabnya. Lalu
aku memegang rubik yang dibawanya lalu memasukkannya ke dalam tasku. “Jangan
main rubik dulu, udah tau pusing, nekat banget sih kamu.”ujarku sedikit ketus dan
masih menatap lurus kedepan. Lalu dia sedikit terkikik dan aku bertanya “Kenapa?”. Dia
menjawab “Kamu baik banget sih Nda.” dengan senyum khasnya masih tetap
tersungging di wajahnya yang tenang. Lalu kami memutuskan berjalan hingga ke taman
pintar. Bayangakn betapa lelahnya itu. Lalu, aku pun membelikan Abi minuman, karena
kulihat dia sangat lelah. Tiba-tiba cuaca tidak bersahabat, langit Jogja menjadi
mendung, dan hujan pun tak lama segera mengguyur kota gudeg itu. Karena kami
semua berpacu pada waktu untuk segera ke stasiun tugu, kami pun memutuskan
berlari di tengah guyuran hujan. Teman-temanku sudah jauh di depan, namun aku
berhenti dan mengambil cardigan dari dalam tasku,tiba-tiba Abi meraih cardigan itu,
menariknya ke atas kepalaku dan berkata “Dipakai begini aja, nanti kamu sakit.”
ucapnya. Satu hal lagi yang membuatku tersenyum di kota Jogja hari itu sebelum kami
akhirnya pulang.

                                                      ***

           Tak ada menyangka, waktu cepat berlalu. Sebentar lagi kami semua akan
mengalami perpisahan. Abi dan keempat temannya sibuk latihan setiap hari, karena
mereka akan menampilkan band mereka di acara perpisahan nanti. Dua hari sebelum
acara perpisahan, aku, Novena, dan temanku Catrina meminta ijin kepada mereka
untuk ikut dalam latihan band mereka di studio musik. Seharian itu aku melihat Abi
bermain bass dengan apik. Tak kusangka dia juga bisa bermain bass. Aku berdoa hari
itu, agar hari seperti itu tidak pernah berakhir. Lalu, tibalah hari yang aku benci.
Perpisahan. Aku kadang berpikir kenapa harus ada pertemuan jika nati akan ada
perpisahan. Lalu saat acara perpisahan di suatu gedung, tibalah waktu saat band Abi
akan tampil. Tapi tiba-tiba dia berkata “Apa aku bisa sebagus band band lain yang
sudah tampil itu.” ucapnya sambil menatap lurus ke panggung. “Bisa, pasti bisa, aku
akan berteriak paling kencang untuk memanggil namamu dari sini, berikan yang
terbaik.” ujarkku sambil memegang tangannya. “Pasti, aku siap-siap dulu ya.” jawabnya
sambil meremas tanganku dan beranjak pergi ke belakang panggung. Ya, aku
menepati janjiku aku berteriak paling keras. Tapi pasti dia tidak mendengar, karena
suaraku tenggelam dibalik riuhnya suara teman sekolahku yang lain. Setelah mereka
turun dari panggung aku mengajak Novena untuk ke kamar madi. Aku tidak bisa
menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Kenapa menangis?
Karena setelah hari itu, aku dan Abi sudah tidak akan satu sekolah lagi, dia sudah
diterima di sekolah yang dipilihkan ibunya. Sedang aku akan mendaftar di sekolah
pilihanku sendiri. Dan saat aku kembali dari kamar mandi, aku berpapasan dengan Abi,
kusunggingkan senyum terbaikku, aku tidak mau dia melihatku menangis di hari
perpisahan itu. Aku akan terus tersenyum, untuk meyainkan dia kalau semua akan
baik-baik saja. “Padahal aku sendiri belum yakin.” ujarku dalam hati. Satu minggu
kemudian, kelasku mengadakan acara perpisahan ke puncak. Kami pun mengunjungi
air terjun yang ada disana. Kami akan memuaskan semuanya hari itu, karena kami
yakin, setelah hari itu, kami tidak akan bisa bertemu lagi. Saat aku melangkahkan kaki
di bebatuan sungai dekat air terjun, ternyata batu itu sangat licin, sehingga aku
terpeleset, aku sudah menutup mata, karena rasanya tanganku tak dapat menggapai
apapun. Namun tiba-tiba ada yang menangkapku dari belakang. Abi. “Hati-hati nda.”
ujarnya. Aku pun hanya bisa memandang kosong semuanya sejak kejadian itu, aku
takut kalau-kalau aku tak bisa bersamanya lagi. Saat beristirahat makan siang pun aku
hanya diam saat menyandar padanya. Aku mengatur nafas agar tidak menangis saat
itu. Lalu, pada saat perjalanan pulang di bus, dia menggenggam tanganku. Memberikan
aku ketenangan, namun juga memberiku rasa menyesakkan karena rasa takut tadi
masih menghantuiku hingga saat kami harus pulang ke rumah masing-masing.

                                                      ***

           Sepekan sudah kami tidak pernah bertemu, 2 hari lagi akan ada masa MOS
di sekolahku. Lalu, aku bersama keenam temanku yang berasal dari sekolah yang
sama dulu, dan masuk ke sekolah yang sama lagi, memutuskan untuk mengerjakan
tugas-tugas yang diberikan senior kami. Namun, sepulang dari mengerjakan tugas,
tiba-tiba ada perubahan pada diri Abi. Dia menuduhku bahwa aku pasti selalu
membonceng temanku Erik. Padahal dugaannya itu tidak benar. Kami ribut besar hari
itu. “Kenapa Abi menuduhku begitu” tanyaku dalam hati. Aku menangis tanpa henti
malam itu. “Kalau aku memang menyukai Erik seharusnya sudah daridulu aku
memilihnya, karena Erik adalah temanku dari saat aku SD. Harusnya Abi tau itu.
Buktinya aku memilihnya! Bukan Erik! Aku benci dituduh sesuatu hal yang tak sama
dengan kenyataan. Dan aku tahu bahwa Erik menyukaiku, namun aku masih memilih
Abi! Karena aku hanya menganggap Erik sahabat!” teriakku dalam hati sambil terisak.
Lalu suatu hari Abi memberi tahu bahwa ibu nya berkata sesuatu tentangku. Aku
antusias bertanya. Namun kekecewaan lagi yang kudapat. Ibunya mengatakan “Untung
kamu dan Manda tidak satu sekolah lagi” sakit hatiku menjadi bertambah dua kali lipat.
Dan keributanku dengan Abi masih belum berakhir, berlanjut hingga menjadi masalah
besar. Dan karena aku sudah tidak tahan lagi akan perubahan sikapnya, aku meminta
putus darinya. Bukan karena aku tidak sayang lagi, sungguh demi Tuhan tidak. Tapi
karena aku sudah tidak kuat akan sakit ini dan aku butuh waktu. Selain itu, aku tidak
ingin dia menjadi anak durhaka yang membohongi ibunya, karena dia masih
berhubungan denganku. Namun, dibalik keputusanku itu, ada satu maksud “ayo kita
tunggu sampai tangan takdir mempertemukan kita kembali.” Hanya itu, tak ada
yang lebih. Sesungguhnya rasaku kepadanya belum berkurang sama sekali. Di
sekolahku yang baru aku mendapat sahabat yang baru juga. Namanya Dara. Ternyata
dia berasal dari sekolah yang sama denganku juga dulu. Dan aku pun menceritakan
semuanya kepadanya, karena dia bertanya kenapa aku selalu menatap kosong jika
pelajaran. bahkan aku sampai-sampai mengambil 4 ekskul berbeda, dengan maksud
agar aku bisa melupakan Abi. Namun sia-sia sebesar usahaku melupakannya, sebesar
itu pula aku semakin ingat dan semakin menyesal atas keputusanku itu. Sesampainya
di rumah, aku mengambil kalung dengan liontin berbentuk hati yang ditengahnya ada
liontin kecil berbentuk bintang. Aku masih ingat benar dia berkata “Walaupun aku gak
bisa di deketmu lagi, pakai aja kalung itu tiap hari ya, anggep kalung itu aku” ujarnya
dulu. Aku hanya bisa terisak saat mengingat semua itu. Aku merindukannya, aku
menyesali keputusanku. Karena nyatanya aku masih menginginkannya hingga saat ini.

            Sampai pada suatu saat tanggal 10.10.10 yang seharusnya menjadi hari
spesial karena 5 bulanku dengannya, namun hari itu menjadi hari yang biasa bagiku.
Aku mengajak sahabat-sahabat lamaku merayakan ulang tahunku. Lalu, tiba-tiba
Catrina dan pacarnya Nasah datang dan memberiku sekotak kado berbungkus kertas
kado cantik. Namun aku tercengang karena kado itu berasal dari orang yang sangat
kutunggu kehadirannya namun dia tak hadir. Nasah berkata “Abi gak bisa dateng Nda,
dia titip ini.” ujarnya. Saat kubuka kado itu dengan tidak sabar, aku terisak di tengah
kerumunan orang. Lalu Dara dan Catrina mengajakku ke sudut ruangan. Aku masih
memegang kado itu. Berisi novel yang sudah lama kuinginkan dan sepucuk surat. Di
ujung surat itu tertera “SELAMAT ULANG TAHUN AMANDA. Buat Si Jelek. Hepi
besdei dudulemot jelek cantikku. Tambah tua deh jelek hahaha. Semoga
tambah baik, rajin solat, berbakti sama ortu, tambah sayang sama adikmu,
jangan berantem melulu. Hahag, jadi sayang sama aku lagi. Hehe.. maaf ya
aku Cuma bisa ngasih hadiah ini,. Dibaca ya novelnya, kalo uda selesai harus
dibaca lagi sampai 30x hahag. Moga-moga kamu belum pernah baca novel ini.
Aku bingung mau milih novel apa kemarin, hampir aja aku belibuku politik.
Hahaha. Sama ada headset warna biru, warna kesukaanmu kan, dipake buat
dengerin rekaman petikan gitarku ya. bingung mau ngomong apalagi. Pokokya
makasih buat semuanya ya.. sayang kamu «ya-kumi» “ Ya, yakumi adalah kata
yang sering kami katakan. Kumi sendiri memiliki arti 10. Dan dudul adalah sebutannya
untukku, sedangkan aku selalu memanggilnya dengan sebutan jendul. Aku semakin
tersedu-sedu saat membaca surat itu, aku meletakkan wajahku di kedua tanganku.
Catrina sibuk menenangkanku, sedangkan Dara yang membaca surat dari Abi tadi ikut
meneteskan air mata. Lalu setelah itu aku benar-benar tidak memiliki tenaga untuk
berjalan-jalan. Akhirnya Dara mengatakan sebaiknya kami semua pulang saja.
Sesampainya di rumah, di handphoneku tertera sms masuk. Abi. Dia meminta aku
untuk kembali menjadi kekasihnya. Aku diam. Tidak menjawab.

           Sudah 2 bulan sejak kejadian itu berlangsung. Perubahan sikap pada diri Abi
semakin besar. Dia sudah tak mau membalas sms ku, membalas kata-kataku di situs
jejaring sosial. Padahal asal dia tahu. Aku diam pada saat itu bukan berarti aku tak
mau. Sungguh. Aku diam karena aku butuh waktu untuk menjawabnya. Tapi apa? Saat
aku sudah yakin, dia sudah berubah. Aku sungguh seperti jatuh kembali ke dalam
lubang kesedihan yang sama. Tangan yang pernah menarikku keluar, menjatuhkanku
kembali ke lubang itu. Dan itu membuat lubang kesedihan itu semakin dalam saja.

         Entah degan cara apa agar dia mau percaya denganku lagi. Rasanya semua
cara suda kulakukan, tapi hatinya kini telah menjadi keras. Aku tau, mungkin dia marah,
cemburu, benci denganku karena setelah aku putus, aku dekat dengan Erik. Tapi
apakah dia tahu? Bahwa kedekatanku itu hanya sahabat biasa saja bagiku. Tak ada hal
lebih. Erik itu sahabat dekatku. Sedangkan dia orang tersayangku. Seharusnya dia tahu
itu.

                                                       ***

           Lalu di akhir tahun itu. Sahabat Manda dan Abi yang bernama Caras tiba-tiba
jatuh sakit dan dirawat di ICU. manda sempat menjenguknya namun tak melihat Abi di
rumah sakit itu. Lalu dia mengirim sms pada Abi menanyakan apa yang terjadi.
Ternyata gadis pemain biola yang berparas cantik itu terkena penyumbatan pembuluh
darah di otak. Dan pada saat mereka salin mengirim sms, Abi berterus terang pada
Manda. Bahwa ia sempat menyayangi Caras. Manda terhenyak. Merasakan sesak
pada hatinya. Namun karena mendengar cerita Abi bahwa saat Abi menjenguk Caras,
gadis itu menitikkan air mata. Maka Manda pun bercerita pada Dara sambil terisak
namun dia pun berkata “Jika memang Abi yang bisa menguatkan Caras, aku rela
melepasnya asalkan Tuhan mau memberikan kesempatan hidup untuknya” Tapi
ternyata, Tuhan berkehendak lain, Caras dipanggil menghadap Sang Kuasa tak lama
kemudian
                                                       ***

          Suatu saat di bulan Desember, aku mengirimkan sesuatu di situs jejaring
sosial milik Abi. Suatu cerita pendek tentang kisah kami. Dan aku amat sangat
bersyukur. Hatinya kembali luluh! Dia kembali! Abi yang aku kenal dulu telah datang!
Aku menangis tersedu karena di bulan Desember yang berjumlah 31 hari, terdapat 2
hari dia meng sms ku tanpa henti. Satu kata-kata yang tak pernah kulupakan adalah
“kamu gapapa kan nda? Kamu kenapa? Sini nyender ke aku” dan aku membalas
“ya Allah,.. ini kamu bi?? Ini beneran kamu?? Akhirnya aku bisa ngomong sama
Abi yang aku kenal” dia pun menjawab “ha? Iya nda, ini aku,. Maaf ,. Aku
sayang kamu nda, kamu mau kan nda ada di sampingku selalu” tangisku pecah
seketika. Entah kenapa aku merasa bahagia, ternyata dia masih peduli padaku, masih
memikirkan aku. Malam itu aku amat sangat bersyukur, dan aku berdoa, semoga
semua akan menjadi lebih baik lagi.

          Bulan Januari telah datang. Dan ternyata di bulan ini, aku harus menyadari.
Anggapanku jika semua hal akan menjadi lebih baik ternyata salah. Entah kenapa Abi
bersikap lebih lebih berbeda. Hatinya seperti dua kali lebih keras. Aku sakit akan
sikapnya itu. Dulu, Abi yang aku kenal tidak akan bersikap seperti itu. Dan kini, setiap
hari aku hanya bisa berdoa agar Tuhan mau meluluhkan hatinya agar tidak menjadi
keras, agar Tuhan memberikan kepadanya umur panjang, kesehatan, keselamatan,
dan memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya dengannya suatu
hari nanti. Selalu itu doa yang kuucapkan setiap hari. Dan satu hal konyol yang
kulakukan. Aku selalu mengirimkan pesan ke akun mxit miliknya. Padahal aku tahu, dia
tak mungkin membalasnya, tapi aku sudah layaknya orang yang tak bisa berpikir lagi.
Selalu, setiap sore, seusai aktivitasku, aku selalu mengirim pesan ke akun miliknya,
mengirim pesan seolah aku sedang berbicara padanya. Dan bila aku tersadar, bahwa
itu semua khayalanku saja,khayalan untuk menguatkan diriku sendiri, aku hanya bisa
menangis. Aku lelah berpura-pura. Berpura-pura terlihat baik-baik saja, lelah
membohongi hatiku sendiri, bahwa kenyataannya dia sudah tidak akan peduli padaku.
Hal itu terbukti pada saat aku mengirim mention melalui twitter “my life is like an
opera, just act, not a fact, i’m tired remembering about you boy” tiba-tiba dia
membalas mentionku “just forget him” hatiku terhenyak melihatnya. Sekarang,
wanita yang telah terjatuh kembali di lubang kesedihan yang lebih dalam itu, laksana
ditarik lebih dalam dan seperti di koyak habis tubuhnya oleh lubang kesedihan itu.

          Entah berapa hari yang telah kuhabiskan untuk menangisinya, hingga
sahabat-sahabat baruku prihatin akan keadaanku. Erik pun bertanya apa yang terjadi
padaku, aku hanya bisa diam. Aku tidak mungkin menjawab ini semua karena Abi, aku
sudah cukup menyakitinya dengan seperti ini. Karena membuat dia berharap lebih,
padahal aku hanya menganggapnya sebagai sahabat terdekatku, dan tak mungkin
membalas perasaannya. Karena hingga kini, aku tak bisa memungkiri bahwa di hatiku
masih tercantum nama Abi, dan belum ada yang bisa menggantinya.

                                                    ***

         Keadaanku sepertinya sudah tak karuan. Sahabatku bilang aku sekarang
berubah, seperti mayat hidup. Menjadi penutup, dan jarang makan, hingga mereka
mengatakan tak ada lagi Amanda yang ceria seperti yang kita kenal dulu.

           Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata mereka. Lalu hingga suatu hari,
badanku benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Hingga aku benar-benar lemas dan
tak tahu apa yang terjadi pada badanku. Orangtua ku langsung membawaku ke dokter.
Dan ternyata, dokter mengatakan aku terkena hiposia, dan dokter memperingatkan aku
akan maag ku yang akut. Karena, jika dibiarkan, aku juga bisa terkena hipoglikema.
Aku hanya bisa diam saat orangtuaku mara-marah, mereka tak tahu semua hal yang
terjadi hingga aku bisa mendapatkan penyakit itu.

          Esoknya, Dara dan sahabatku yang lain, Nara, memaksaku cerita apa hasil
pemeriksaan dokter. Dan aku pun dengan terpaksa bercerita. Karena dara penasara,
dia segera membuka internet untuk mencari informasi tentang penyakit itu. Tiba-tiba
Dara menangis. Aku kaget akan semua itu. “Kamu kenapa Dar?” tanyaku. “Kenapa
katamu?? Dampak penyakitmu saja sudah seperti itu! Aku takut Nda! Aku takut
kehilangan teman sebaik kamu.” ujarnya sambil terisak. Memang benar kata Dara,
sebenarnya, jauh di dalam hatiku, aku juga takut akan penyakit ini. Karena dampaknya
bisa mengalami pendarahan, ketidaksadaran, hingga kematian. “Aku gak bakal
kemana-mana kok Dar, trust me” ujarku sambil tersenyum. “Jangan pura-pura nda!
Kami tau kamu senyum mu itu bukan senyum kebahagiaan!” bentak Nara sambil
mengguncang tubuhku. Dan akhirnya aku mengakui bahwa aku juga sudah lelah, selalu
pura-pura tersenyum jika tertekan akan semua ini.

                                                    ***
           Berhari-hari telah berlalu. Aku kerap mimisan jika terlalu lelah, dan hanya
Dara yang mengetahui ini. Tak ada yang lain. Hingga pada suatu hari, Dara dan
sahabat-sahabatku mengajakku jalan-jalan sore itu. Mereka mengajakku makan di satu
rumah makan jepang di kota tempat kami tinggal. Kami memilih untuk makan di bagian
luar restoran saja. Tiba-tiba sekumpulan anak sekolah sepantaran dengan kami datang
dan duduk di seberang meja kami. Dan aku tak menyangka, aku melihat sosoknya. Abi.
Aku melihatnya tertawa lepas bersama teman-teman yang lain. Icha, sahabatku yang
lain menepuk pundakku dan berkata “Sabar Nda,..” Tiba- tiba satu hal yang tak
kusangka terlihat oleh mataku. Dia duduk disamping wanita. Mereka akrab berbincang-
bincang, bahasa tubuh mereka menunjukkan bahwa mereka sangatlah akrab. Tiba-tiba
aku merasakan ada cairan mengalir dibawah hidungku. Saat kusentuh dengan
jemariku, terlihat cairan kental berwarna merah. Nara yang pertama menyadarinya, lalu
dia berteriak “Nda! Kamu kenapa??” lalu dengan tersenyum kujawab “Mimisan biasa
kok Nar.” Kulihat kumpulan teman-teman Abi sempat menoleh ke arah kami, namun
mereka kembali melanjutkan obrolan mereka. “Aku ke kamar mandi dulu.” kataku.
Disana aku sudah tak bisa menahan air mata yang sedari tadi kutahan. Aku menangis
sejadi-jadinya. Lalu tiba tiba Dara ada dihadapanku dan memelukku. “Sudah Nda,..
jangan menangis,.” ujarnya. “Aku lelah Dar! Dan ternyata Abi sekarang benar-benar
melupakanku!” teriakku. Aku langsung berlari keluar, menuju ke tempat parkir dan
memacu pergi motorku. Langit senja yang sedari tadi berwarna kombinasi ungu oranye
seperti palet warna dari olesan kuas kini pecah dan berganti menjadi awan mendung
yang pekat. Tiba-tiba Manda menghentikan laju motornya karena Icha berhasil
menghentikan Manda tepat di depannya. Sahabat-sahabatnya segera menghampiri
Manda yang masih terisak, dan mereka masih melihat darah segar mengalir deras di
bawah hidung Manda. Dara dan Icha mendekatinya, lalu Manda tersenyum dan berujar
“haha, sepertinya aku benar-benar lelah. Aku sabar menanti datangnya kesempatan
kedua, tapi nyatanya kesempatan itu tak juaga hadir, dan dia sudah melupakanku.” Air
mata jatuh dan membasahi pipi Manda. Tiba-tiba titik-titik hujan pun turun, seolah ingin
mewakili semua perasaan Manda. Dara berujar “Buanglah kalung itu, dia sudah tak
mengingatmu.” namun Manda menjawab dengan keras “Jangan kalung ini! Cukup
sudah dia menghancurkan hatiku, tapi jangan memoriku! Aku akan tetap mengingatnya,
entah sa..” kata-kata Manda terputus. Tubuhnya jatuh di tepi jalan, tangannya masih
menggenggam liontin di kalungnya, perlahan darah dibawah hidungnya terhapus oleh
rintik hujan yang turun. Seketika itu juga, sahabat-sahabatnya segera menghubungi taxi
dan membawa Manda ke rumah sakit.

           Dara, Nara, Icha dan sahabatnya yang lain sudah menunggu di luar ruang
ICU selama 10 hari. Manda mengalami koma selama itu. Orangtua nya hanya bisa
terisak akan keadaan anak gadis satu-satunya itu. Lalu, dengan geram Dara memberi
tahu Abi tentang keadaan Manda melalui jejaring sosial “Bi, aku tahu kamu ud ga
peduli sama Manda tapi tolong, kali ini saja, lihatlah dia, temui dia. Tolong
buka blog miliknya yakumi.blogspot.com dan kamu akan tahu pesan terakhirnya
untukmu”. Lalu Abi pun menuruti kata-kata Dara. Dia pun membuka blog milik Manda.
Dan hanya ada satu judul di blog itu. Abi terhenyak saat membacanya karena dia tidak
menyangka Manda akan menulis “Tuhan, terimakasih Kau telah mempertemukanku dengan
seseorang yang baik selama 1 tahun 3 bulan, dan memberi kami kebahagiaan berlebih selama 3 bulan
lamanya. Dan aku mohon Tuhan, berikan selalu dia keselamatan, kebahagiaan, dan satu kesempatan
bagiku untuk memperbaiki hubungan antara kami, dan janganlanh Engkau mengeraskan hati seorang Abi
Paradimas Surya.
            “Dia itu bagaikan pohon untukku. Saat dia masih kecil, dia memberikan kebahagiaan karena
keindahannya. Saat pohon itu tumbuh besar, dia menjadi tempat bersandarku. Dengan batangnya yang
besar dan kokoh dia tidak pernah mengatakan „tidak‟ saat aku ingin bersandar padanya. Dengan daun-
daunnya dia melindungi aku dari hujan dan panas matahari. Dia selalu berusaha melindungiku,
memberikan yang terbaik untukku. Dan dia selalu tahu cara untuk membuatku tersenyum lagi” (Ingatkah
kamu Bi, akan buku grey sunflower karya Ruth Priscilia Angelina yang aku beli bersamamu? Ternyata di
dalamnya tersimpan kata-kata indah)
            Aku sangat berterimakasih pada Tuhan karena sudah dipertemukan dengan orang sepertinya.
Dan doa terakhirku hanyalah bila nafasku berhenti berhembus. Aku hanya ingin menangis di pelukannya,
dan membisikkan kata „terimakasih untuk semua kebahagiaan yang sempat kau berikan. Dan sampai
kapanpun aku akan selalu mengingatmu. Karena tak ada kata menyesal karena telah mengenalmu‟. Dan
saat aku benar-benar menutup mata. Kuingin dia masih dengan tatapan teduh khasnya merelakanku”

             Abi terhenyak, dia bingung. Dia tak menyangka Manda masih menantinya.
Segera saja, dia memacu motor vario nya untuk pergi ke rumah sakit tempat Manda
dirawat. Lalu dia bertemu Dara di depan ruang ICU. Dia sedang berbicara sesuatu
kepada Erik. Tiba-tiba Erik menghampirinya dan mengulurkan sebuah surat. “Aku bukan
bermaksud memberi harapan kosong padamu. Aku juga minta maaf jika menyakitimu. Karena aku juga
lelah membohongi diriku sendiri bahwa dihatiku masih tertulis nama Abi. Maafkan aku Rik. Kembalilah
pada Icha, Rik. Dia masih setia mengingat dan menyayangimu. Tapi sungguh, aku masih ingin kamu tetap
menjadi teman terdekatku yang selalu ada dan selalu peduli padaku seperti sekarang ini. Tarimakasih telah
menjadi teman terdekatku Rik. Maaf jika aku telah mengecewakan dan menyakitimu” Tiba-tiba Dara
membuyarkan lamunan Abi “Masuklah Bi, dia butuh kamu” ujarnya. “Iya, dia sangat
membutuhkanmu” timpal Erik. Abi sangat bingung dengan sikap apa yang harus dia
lakukan. Dia melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang ICU. Abi semakin terhenyak
saat melihat orang yang sempat dicintainya tergeletak lemah serta ditempeli berbagai
macam selang dan alat-alat medis lainnya. Abi mendekati Manda. Dia duduk
disampingnya, dan berkata “Nda, aku minta maaf, aku tak bermaksud menyakitimu.”
Tak ada reaksi. “Nda aku sungguh-sungguh minta maaf” ujarnya lagi. Terlihat air mata
mengalir di pipi Manda. “Tolong buka matamu, beri aku waktu untuk mengucap maaf
padamu.” ujar Abi sekali lagi. Tiba-tiba jemari Manda bergerak, matanya pun bergerak
seolah akan membuka. Dan benar saja, Manda membuka mata hari itu. “Bi,...” ujarnya
lirih. “Iya Nda,.. ini aku,...” kata Abi. Tiba-tiba Manda terisak. Abi pun bertanya “Ada apa
Nda? Ada yang sakit?”. “Tidak, aku senang bisa melihat tatapan matamu yang sama
seperti dulu bi” jawab Manda. “Jangan menangis Nda,..” ucap Abi. “Bi, sekali ini aja,
boleh nggak aku memelukmu?” ucap manda pelan. “Baiklah Nda,.. kemarilah” jawab
Abi seraya memeluk Manda. Di dalam pelukan Abi, Manda menangis tersedu-sedu, dia
tak percaya orang yang dinantinya ada di dalam dekapannya kini. Manda mempererat
pelukannya seolah tak ingin kehilangan Abi untuk kedua kalinya. Namun, tiba-tiba
Manda berbisik “terimakasih untuk semua kebahagiaan yang sempat kau berikan. Dan
sampai kapanpun aku akan selalu mengingatmu. Karena tak ada kata menyesal karena
telah mengenalmu Bi,..” dan seiring dengan itu, pelukannya mengendur, hingga
akhirnya lepas. Abi yang masih memeluk Manda mengguncangnya “Nda!” teriak Abi.
Namun, suara alat medis pendeteksi detak jantung yang berbunyi menandakan bahwa
Manda telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Nda! Bangun! Aku mohon!”
teriak Abi. Seketika itu juga dokter serta perawat berhamburan masuk dan memeriksa
Manda, serta mempersilahkan Abi menunggu diluar. Abi tak menyangka semua akan
terjadi secepat itu. Diluar dia melihat orangtua Manda menangis sambil berpelukan,
Dara menangis sesenggukan tanpa henti, Icha menangis disamping Erik di sudut
ruangan. Nara menangis di pelukan kekasihnya Andre. Dan teman-teman sekolah
Manda semua hanya bisa terdiam, terisak dan menundukkan kepala.

          Tiba-tiba Dara menghampirinya. “Kamu tahu kan permintaan Manda yang
terakhir? Dia hanya ingin menangis di pelukanmu. Setelah itu semua terwujud, dia
pergi! Kenapa kamu tak datang ke kehidupannya lebih awal sebelum dia koma Bi??
Kenapa?!” teriak Dara sambil menangis. Lalu Catrina datang bersama Nasah dan
segera menenangkan Dara.

          Semua sudah terlambat. Jenazah Manda telah dibawa ke dalam ambulance
untuk disemayamkan besok pagi. Dan tepat esok harinya, tanggal 10 pukul 10 pagi.
Semua orang terdekat Manda telah berkumpul di rumahnya dengan memakai baju
hitam. Datang untuk melihat Manda untuk terakhir kalinya.

          Abi hadir di acara pemakaman itu. Dia duduk terdiam. Lalu, tiba-tiba Dara
menghampiri. “Ini, bukalah” kata Dara “Aku menemukan ini di kamarnya tadi”
tambahnya lagi. Abi pun mengambil kotak berwarna emas yang disodorkan Dara tadi.
Saat dia membuka, dilihatnya ada semua barang-barang pemberiannya. Novel
pemberiannya, headset warna biru itu, gambar sketsa wanita tugas seni rupa mereka
dulu, kalung berliontin hati dan bintang, nomor handphone couple yang mereka beli
bersama, dan surat yang diberikannya tanggal 10.10.10 yang lalu masih tersimpan
apik. “Dia hanya ingin sifatmu seperti dulu bi, tidak harus menjadi kekasihnya lagi.
Cukup menjadi orang terpercaya nya seperti dulu sebelum kalian belum jadian” ujar
Dara di tengah tangisnya. “Lalu Erik?” tanya Abi. “Manda dari awal sebenarnya tidak
ingin putus denganmu, dia haya butuh waktu. Tak ada yang bisa menggantikanmu Bi.
Erik hanyalah sahabat baginya. Buktinya sebelum Manda pergi, dia masih berusaha
mempersatukan Erik dan Icha lagi.” jawab Dara. “Benarkah?” tanya Abi lagi. “Kenapa
kamu masih tidak percaya bi? Tentu saja semua itu benar. Apa kamu mau melihat
Manda untuk terakhir kalinya?” tanya Dara. Abi mengangguk dan mengikuti Dara
masuk. Lalu dilihatnya Manda sudah berparas cantik hari itu, ada seulas senyum
tersungging di bibirnya. Dan dia kini telah siap untuk menghadap yang Maha Kuasa.

           Lalu tibalah Manda untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Semua orang terisak. Namun isak tangis mereka tak akan mengubah apa yang telah
terjadi. Manda telah pergi. Untuk selamanya. Tak akan ada yang bisa merubah semua
itu. Lalu saat semua orang telah pergi dari tempat pemakaman Manda, Abi berlutut lalu
terisak “Maafkan aku Nda, aku tak tahu apa yang kau rasa selama ini” ucapnya seraya
meletakkan bunga anggrek bulan, bunga kesukaan Manda di atas makam Manda. Lalu
berjalanlah Abi pergi. Dan saat itulah Manda tersenyum karena melihat orang yang
dicintainya sempat menjadi orang yang dikenalnya dulu dan masih peduli padanya, dan
dia berbisik pada angin agar menyampaikan pada Abi sesuatu. “Aku akan tetap
menyayangimu bi, dan kini aku telah bertemu Caras, aku harap kita bisa berkumpul disini dalam
rasa saling mengasihi suatu hari nanti”. Tiba-tiba Abi menghentikan langkahnya, ia
merasakan ada yang berbeda pada angin yang berhembus menerpa wajahnya hari itu.
“Mungkinkah ini salam perpisahan dari Manda yang belum sempat terucap” gumamnya,
lalu ia berlalu pergi.




  This Story is true… This Story from Yunita Andriani. Thanks For Your Story,

  http://blogyakumi.blogspot.com/

						
Shared by: Johanandha Fandhy
About
I'm is a Student in Indonesia.I'm just a blogger who tried to share knowledge to everyone in need. I am also an owner of the address http://www.komputerjaringan.co.cc/ Blog. That bit about me. I just want to learn. So I beg for (More...) help from all of them. Simak Baca secara fonetik
Related docs
Other docs by fandhy2011
PREPOSITION - DOC
Views: 1240  |  Downloads: 0
3 Heart 1 Love
Views: 141  |  Downloads: 1