Docstoc

skripsi - Download as DOC

Document Sample
skripsi - Download as DOC Powered By Docstoc
					                                                                          1

                                  BAB I

                            PENDAHULUAN




A. PROBLEMATIKA

        Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan oleh Tuhan.

Manusia diberi oleh Tuhan akal budi dan pikiran untuk dapat menguasai dan

mengelola isi bumi yang Tuhan telah ciptakan. Oleh sebab itu manusia berada

di atas mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Manusia diberi kebebasan untuk dapat

memilih apa yang terbaik bagi mereka. Namun, oleh sebab kebebasan yang

Tuhan berikan tersebut manusia jatuh di dalam dosa. Manusia terbujuk oleh

rayuan iblis dengan menawarkan pengetahuan tentang yang baik dan yang

jahat. Pada akhirnya manusia jatuh dalam dosa dan di buang Allah ke dalam

dunia. Manusia yang pada awal diciptakan memperoleh perlakuan yang

istimewa dari Tuhan, setelah jatuh dalam dosa ia harus mengalami penderitaan

dalam hidupnya. Penderitaan yang dialami oleh manusia terdapat dalam

Kejadian 3 : 16 – 19, yang menyatakan :

          “Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu
          waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan
          kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun
          engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan
          berkuasa atasmu." Lalu firman-Nya kepada manusia itu:
          "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan
          memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan
          kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka
          terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah
          engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur
          hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan
          dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang
          akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan
          mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi
                                                                                    2

               menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab
               engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."1


Demikianlah penderitaan yang akan dialami oleh manusia pada masa hidupnya.

             Seorang pencipta, tidak akan tinggal diam jika barang atau sesuatu

yang telah diciptakan itu dirusak oleh orang lain. Ia akan mempertahankan

barang tersebut dengan sekuat tenaga jika barang yang ia ciptakan tidak

difungsikan dengan semestinya, bahkan                sampai dirusak oleh orang lain.

Demikian pula dengan Tuhan. Tuhan sebagai pencipta manusia juga tidak

tinggal      diam     melihat    ciptaan-Nya       mengalami   penderitaan,   meskipun

penderitaan itu hasil dari perbuatannya sendiri. Hal ini didasari pula dengan

sifat Tuhan yang penuh kasih. Tuhan memberi jalan keluar untuk meringankan

beban yang manusia            alami dengan menawarkan kepada mereka mengenai

keselamatan. Keselamatan yang Tuhan                  tawarkan mempunyai dampak di

kehidupan yang akan datang. Sejak manusia jatuh dalam dosa, secara otomatis

ia menjadi penghuni dari Kerajaan Maut, sebab upah dosa ialah maut ( Roma

6 : 23 ). Namun, jika manusia berbalik dan mengikut Tuhan kembali, maka ia

akan mempunyai hidup yang kekal bersama dengan Tuhan .

             Pada perkembangan selanjutnya, banyak bermunculan agama                –

agama yang juga             menawarkan tentang keselamatan.          Mulai dari yang

menyembah benda – benda mati sampai penyembahan kepada roh – roh

yang tidak terlihat. Bahkan yang lebih aneh lagi ada salah satu agama yang

bertujuan untuk memperoleh keselamatan menyiksa dirinya sendiri dengan

bersemedi di gunung – gunung dan di tempat – tempat yang sepi untuk dapat

1
    ………, Alkitab, ( Jakarta : LAI, 2000 ), hal 3
                                                                           3

menyucikan diri dan kemudian dapat melihat Tuhan        secara langsung. Itu

semua dilakukan oleh manusia dengan bertujuan agar memperoleh keselamatan

dalam hidupnya. Kekristenan sendiri menawarkan tentang keselamatan dengan

hanya percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, dan meneladani apa yang telah

Yesus ajarkan. Yesus yang rela mati di salib sudah menebus semua dosa

manusia, oleh sebab itu dengan hanya percaya kepada Yesus semua orang akan

diselamatkan, karena Yesus telah menanggungnya.

         Yesus mati di Kayu Salib untuk menebus semua dosa dan kesalahan

dari manusia. Banyak dari orang Kristen yang salah tafsir tentang keselamatan

yang telah Tuhan berikan. Mereka menyangka bahwa Yesus mati dan memberi

keselamatan hanya kepada orang kristen saja. Mereka lupa bahwa Yesus mati

untuk menyelamatkan semua orang di dunia ini. Akibat dari kesalahan mereka

itu, maka banyak dari mereka yang egois dengan keselamatan yang mereka

miliki. Mereka tidak mau membagikan keselamatan yang mereka telah miliki

dari Yesus kepada orang – orang yang ada di sekitarnya. Mereka hanya

memikirkan keselamatan diri mereka sendiri tanpa memperdulikan keselamatan

orang lain.

         Pada dasarnya keselamatan merupakan anugrah Allah            kepada

manusia yang percaya kepada Dia. Manusia hanya berusaha untuk mendapat

keselamatan tersebut. Y. Tomatala dalam bukunya yang berjudul „Penginjilan

Masa Kini‟ menuliskan bahwa, Keselamatan sebagai pemberian anugrah

menekankan kedaulatan Allah      sedangkan keselamatan sebagai pemilikan
                                                                                          4

anugrah menonjolkan keaktifan manusia. 2 Dari hal ini dapat diketahui bahwa

keselamatan memang telah diberikan Allah untuk semua manusia, selanjutnya

manusia sendirilah yang harus aktif menyebarluaskan kepada orang – orang

yang ada di sekitarnya. Jikalau tidak ada orang – orang yang dengan aktif

memberitakan keselamatan dari Tuhan tersebut, maka banyak orang yang

tidak akan mengerti dan mendapat keselamatan tersebut.

             Penginjilan atau menyebarkan berita keselamatan harus dilakukan

oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Para pengikut Yesus harus

memberitakan keselamatan yang Tuhan telah berikan kepadanya, kepada orang

– orang yang ada di sekitarnya. Banyak dari gereja – gereja sekarang yang

melupakan tugas utamanya ini, yaitu sebagai penyalur berita keselamatan

dari Allah. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri, baik tentang intern

gereja maupun tentang urusannya dengan gereja lain, tanpa mempedulikan

keselamatan orang lain.

             Masalah kemiskinan adalah masalah yang sedang dihadapi oleh

bangsa - bangsa di dunia pada umumnya. Bangsa Indonesia sendiri tidak

dapat terlepas juga dari permasalahan kemiskinan tersebut. Krisis ekonomi

yang terjadi di dalam diri Bangsa Indonesia menimbulkan dampak di

segala aspek kehidupan masyarakat. Dampak yang paling jelas dapat

dilihat     dengan     adanya     masyarakat      yang    hidup    miskin,      tinggal   di

lingkungan yang kumuh, serta banyaknya anak - anak jalanan yang

tersebar di kota - kota di Indonesia. Pada saat krisis ekonomi inilah,


2
    Y. Tomatala, Penginjilan Masa Kini, (Malang : Gandum Mas, 1988 ), hal. 30
                                                                                           5

jumlah anak jalanan di Indonesia meningkat dengan drastis. Harian

Kompas ( 4/12/1998 ) melaporkan bahwa pada saat krisis ekonomi justru

jumlah anak jalanan meningkat 400 persen. Sedangkan Departemen

Sosial (1998)        memperkirakan      jumlah    anak    jalanan    mencapai     angka

170.000 anak. Bahkan anak – anak perempuanpun ikut membantu orang

tuanya untuk mencari nafkah di jalanan.

              Penelitian Departemen Sosial (Depsos), Universitas
              Atmajaya Jakarta, SET Production (sebuah rumah
              produksi) dan ADB (Bank Pembangunan Asia) tahun
              2000 menunjukkan 41,9% anak perempuan turun ke
              jalanan untuk membantu menambah pendapatan orang
              tua baik atas kesadaran sendiri maupun disuruh orang
              tua.3


            Anak jalanan memang tidak dapat lepas dengan yang namanya

kemiskinan. Sejak terjadinya krisis moneter, masyarakat Indonesia banyak yang

hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak masyarakat yang kehilangan

pekerjaan yang mengakibatkan terjadinya kekurangan di dalam keluarganya.

Namun,       angka     kemiskinan     di   Indonesia     tidaklah   selalu   mengalami

pengingkatan. Menurut data dari Departemen Sosial dan Badan Pengamat

Statistik menyebutkan bahwa, pada dekade 1976-1996, persentase penduduk

miskin pernah mengalami penurunan yaitu dari 40,1% menjadi 11,3%, namun

pada periode 1996-1998 persentase mereka menjadi 24,29% atau 49,5 juta

jiwa. Bahkan International Labour Organization (ILO) memperkirakan jumlah

orang miskin di Indonesia mencapai 129,6 juta atau sekitar 66,3% (BPS, 1999).

Pada tahun 2002, persentase kemiskinan telah mengalami penurunan, namun

3
    Wahju Budi Santoso, Rapuhnya Anak Jalanan Perempuan, ( Jakarta : Rahima, 2001 ), hal
1
                                                                           6

secara absolut jumlah mereka masih tergolong tinggi, yaitu 43% atau sekitar

15,6 juta (BPS dan Depsos 2002). Jadi tidaklah heran jikalau pertumbuhan anak

jalanan secara kuantitas juga mengalami grafik yang naik turun. Hal ini

disebabkan karena presentase kemiskinan di Indonesia juga mengalami

berbagai perubahan, baik peningkatan maupun penurunan.

         Faktor ekonomi inilah yang seringkali menjadi faktor mengapa

mereka memilih untuk hidup di jalanan. Memang tidak dapat disangkali bahwa

kebutuhan ekonomi adalah kebutuhan yang pokok bagi setiap orang. Dikatakan

kebutuhan pokok karena jika orang tidak makan maka mereka tidak dapat

melakukan aktifitas, bahkan juga akan mengalami kekurangan gizi yang dapat

mengakibatkan    kematian.    Kemiskinan    di   Indonesia   sedikit   banyak

mempengaruhi perubahan jumlah anak jalanan yang ada di negara Indonesia.

Pelayanan kepada anak jalanan haruslah memperhitungkan masalah kemiskinan

tersebut. Oleh sebab itu, maka pelayanan kepada anak jalanan adalah pelayanan

yang holistik, yang membutuhkan pelayanan secara jasmani, bukan saja

melayani dari segi rohani saja. Anak jalanan adalah mahluk ciptaan Tuhan

juga. Mereka mempunyai hak yang untuk mendapat keselamatan dari Tuhan.

Seringkali hal ini dilupakan oleh gereja Tuhan pada umumnya. Mereka hanya

mencari jiwa atau orang – orang yang kaya dengan bertujuan mendapat

persembahan yang banyak. Anak jalanan sering dilupakan oleh gereja bahkan

tidak dipandang sebelah matapun oleh orang lain. Hanya sebagian kecil dari

gereja yang mempunyai dana khusus untuk menolong anak jalanan dengan rutin

setiap bulannya. Mengacu pada permasalahan ini, maka dapat ditarik suatu

rumusan permasalahan yaitu,
                                                                          7

“Sejauh manakah sikap kepedulian Gereja Jemaat Kristen Domba Allah

Kartasura terhadap kaum Anak Jalanan, baik dalam segi sosial atau

jasmani maupun segi spiritual ? “ Dari rumusan permasalahan ini dapat

ditarik sub pokok permasalahan sebagai berikut :

           1. Bagaimanakah sikap Gereja Jemaat Kristen Indonesia Domba

           Allah Kartasura dalam kepeduliannya dengan anak jalanan ?

           2. Bagaimanakah sikap Gereja Jemaat Kristen Indonesia Domba

           Allah Kartasura dalam merefleksikan Firman Tuhan untuk

           memberitakan Injil dan memuridkannya ?



B. PEMBATASAN MASALAH

         Ada banyak hal yang dapat digali dan dipahami dari penginjilan dan

juga pengembalaan di kalangan kekristenan. Hal ini disebabkan karena

penginjilan dan pekerjaan pengembalaan ini ada dan dikenal di seluruh gereja

yang ada di seluruh dunia. Untuk membatasi meluasnya pokok bahasan ini,

maka penulis hanya akan membahas pokok tentang penginjilan dan

pengembalaan kepada anak jalanan yang dilakukan oleh Jemaat Kristen

Indonesia Domba Allah Kartasura.



C. TUJUAN PENELITIAN

         Karya Ilmiah yang berjudul “ Penginjilan dan Pengembalaan Anak

Jalanan yang Dilakukan oleh Jemaat Kristen Indonesia Domba Allah Kartasura

“, mempunyai beberapa tujuan yaitu :
                                                                           8

          Pertama, penulis ingin mengkaji tentang kehidupan anak jalanan pada

umumnya dan anak jalanan di Kartasura.

          Kedua, penulis ingin mengetahui bagaimana cara – cara yang efektif

untuk memenangkan anak jalanan, yang dilakukan oleh Gereja Jemaat Kristen

Indonesia Domba Allah Kartasura.

          Ketiga, penulis ingin mengetahui cara – cara pengembalaan yang

efektif di Gereja Jemaat Kristen Indonesia Domba Allah Kartasura dalam

mengembalakan anak jalanan



D. METODE PENELITIAN

          Dalam penyusunan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode

studi literatur yang didukung mutlak oleh studi lapangan, melalui survey

dengan wawancara bebas. Melalui studi lapangan, penulis berusaha memahami

dan mengerti tentang penginjilan dan pengembalaan kepada anak jalanan yang

dilakukan oleh Gereja Jemaat Kristen Indonesia Domba Allah Kartasura. Di

samping itu, penulis juga berusaha untuk menggabungkan antara studi lapangan

dengan literatur – literatur yang relevan, guna mendukung bobot dari karya

ilmiah ini.



E. MANFAAT PENELITIAN

          Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan gereja pada

umumnya dan bagi para Hamba Tuhan          pada khususnya. Di samping itu,

diharapkan pula bermanfaat secara praktis bagi para hamba – hamba Tuhan
                                                                                       9

untuk dapat mengerti, memahami dan selanjutnya bertindak untuk menjangkau

kaum anak jalanan.



F. PENEGASAN ISTILAH

             Untuk menghindari kesalahpahaman dalam membaca dan memahami

karya ilmiah yang penulis akan tulis, maka penulis akan terlebih dahulu

menerangkan makna atau arti dari judul yang penulis akan kemukakan pada

karya ilmiah ini. Adapun judul yang akan penulis uraikan yaitu Penginjilan dan

Pengembalaan Anak Jalanan yang dilakukan oleh Jemaat Kristen Indonesia

Domba Allah Kartasura.

Penginjilan merupakan akar kata dari injil. Menurut Ensiklopedi Indonesia,

               Injil dari kata Yunani : euaggelion yaitu kabar baik.
               1. Dalam agama Kristen, kabar tentang Yesus Kristus
                   sebagai Juru Selamat dan tentang kerajaan surga
               2. Nama empat kitab dalam Perjanjian Baru, isinya
                   meriwayatkan kehidupan Yesus Kristus.
               3. Di kalangan Islam istilah Injil diartikan sebagai kitab
                   suci Kristen. 4

Berdasarkan hal ini, maka penginjilan adalah usaha yang dilakukan sebagai

upaya untuk menyampaikan berita baik bagi semua orang tentang keselamatan

yang berasal dari Yesus Kristus. Dalam hal ini bukan sebagai upaya untuk

mengkristenkan orang, akan tetapi memberi tawaran kepada mereka tentang

keselamatan yang telah Yesus berikan secara cuma – cuma bagi semua orang

yang percaya kepada-Nya.

             Penggembalaan mempunyai kata dasar yaitu gembala. Di kalangan

masyarakat Indonesia, terutama di daerah pedesaan, seorang gembala adalah

4
    Van Hocve, Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta : PT Ichtiar Baru, 1994 ), hal. 1449.
                                                                                         10

orang yang bertugas memelihara serta memberi makan hewan ternak, baik

kambing, sapi maupun kerbau. Pengertian tersebut mempunyai kesamaan

dengan pengertian gembala di kalangan kekristenan. Dalam Ensiklopedi Gereja,

Gembala mempunyai pengertian dan tugas – tugas sebagai berikut, yaitu :

            Gembala, membimbing, memelihara dan bertanggung
            jawab atas domba – dombanya. Ia juga melindungi
            mereka dari bahaya. Israel mengakui Allah sebagai
            gembalanya ( Maz. 23, Yes 40, 11, Yoh. 34 ).
            Pengembalaan itu akan dilaksanakan oleh seorang
            gembala yaitu „hamba-Ku Daud‟ ( Yeh.34,23, 37, 24 ).
            Yesus adalah gembala yang baik ( Yoh. 10 ) dan para
            pejabat dulu di beri sebutan sebagai gembala. Tugas
            menggembalakan umat menurut teladan gembala baik itu
            ( I Pet 5: 1-4 bdk Yoh 21 : 15 – 7 ). 5

          Dari pengertian tersebut, gembala mempunyai pengertian yaitu orang

yang bertugas dan bertanggung jawab atas kehidupan jemaatnya, baik secara

jasmani terlebih rohaninya.

          Anak Jalanan adalah orang – orang yang masih berusia anak – anak,

sedangkan      bagi     orang yang usianya sudah lanjut, dalam artian sudah

berkeluarga dan memutih rambutnya, yang keseharian mereka hidup dan

mencari nafkah di jalanan, biasa disebut dengan orang jalanan. Di Indonesia

ini, banyak dijumpai anak – anak yang hidup di jalanan. Mereka mencari

nafkah dengan meminta – minta ataupun menjual barang dagangan mereka.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

            Gelandangan adalah orang – orang yang tidak
            mempunyai tempat tinggal serta pekerjaan yang tetap;




5
 A. Heuken Sj, Ensiklopedi Gereja jilid A-G, ( Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraba, 1991 ),
hal. 336.
                                                                                       11

            orang desa yang mau mencoba nasib di Ibu kota banyak
            yang menjadi gelandangan.6

          Anak jalanan biasa mencari nafkah di jalanan, bahkan terkadang

mereka sampai tidur di jalanan. Banyak faktor yang mempengaruhi mereka

mengapa mereka sampai bekerja dan bidup di jalanan. Faktor ekonomilah yang

sering menjadi penyebab mereka bekerja dan hidup di jalanan. Oleh sebab itu,

pelayanan kepada anak jalanan tidak hanya melayani dalam segi rohani saja,

tetapi segi jasmani harus tetap diperhatikan. Disamping mereka                       juga

memerlukan keselamatan akan tetapi juga memerlukan                  penghidupan yang

layak. Oleh sebab itu, penulis berkeinginan menyoroti tentang adanya gereja

yang berkecimpung dan terjun untuk menyebarkan berita keselamatan kepada

kaum anak jalanan, baik dalam usahanya memberitakan keselamatan maupun

dalam pengembalaannya, sampai kepada kehidupannya sehari – hari. Dengan

kata lain, maka pelayanan kepada anak jalanan ini diperlukan suatu pelayanan

yang holistik, atau menyeluruh, baik dalam segi spiritual maupun segi

materialnya.



G. SISTEMATIKA PENULISAN

          Bab Satu, merupakan Pendahuluan yang terdiri dari problematika,

Pembatasan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian Metode Penelitian,

Penegasan Istilah, Sistematika Penulisan.

          Bab Dua, berisikan tentang Kemiskinan dan Teori – Teori Anak

Jalanan, yang mencakup tentang Pengertian Kemiskinan, Kemiskinan di

6
 Badudu-Zain, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1994 ), hal
436.
                                                                                12

Dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian

Baru, Kemiskinan di Indonesia, mengenai sebab - sebab kemiskinan dan

upaya dalam mengatasi kemiskinan tersebut. Di samping itu juga berisi

tentang Teori – Teori Anak jalanan.

         Bab Tiga, merupakan penjelasan mengenai, Kehidupan Anak Jalanan

pada umumnya, mulai dari Latar Belakang Kehidupan Mereka di jalan, Corak

Hidup Anak Jalanan, Pendidikan Anak Jalanan, Pandangan Hidup Anak

Jalanan, juga Data Statistik Anak Jalanan di Indonesia dan di Kota Kartasura.

         Bab Empat, terdiri dari Panggilan Perintis Jemaat Kristen Indonesia

Domba Allah Di Kartasura, tentang Penginjilan Kepada Anak Jalanan dan juga

Penggembalaan Kepada Anak Jalanan.

         Bab Lima, Penutup terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
                                                                                  13



                                      BAB II

       KEMISKINAN DAN TEORI - TEORI ANAK JALANAN




A. PENGERTIAN KEMISKINAN

         Istilah kemiskinan bukanlah suatu istilah yang asing lagi di telinga

masyarakat Indonesia pada khususnya, dan dunia pada umumnya. Tak heran

juga bila masalah kemiskinan seringkali diangkat untuk dijadikan suatu topik

bahasan yang menarik dalam seminar – seminar baik pada tingkat lokal maupun

internasional. Hal ini disebabkan karena kemiskinan bukanlah suatu masalah

yang dihadapi oleh suatu bangsa, melainkan sudah merupakan permasalahan di

tingkat dunia. Darmawijaaya dalam bukunya yang berjudul Keterlibatan Allah

Terhadap Kaum Miskin menyatakan bahwa,

         “…… kemiskinan sebenarnya bukan suatu masalah yang baru,
         karena sekitar satu abad yang lalu telah didiskusikan dan
         berbagai kebijaksanaan telah ditempuh untuk mengatasi
         persoalan kemiskinan. Pada zaman sekarang ini masalah
         kemiskinan bukanlah masalah yang hanya dihadapi oleh negara
         dunia ketiga atau hanya kelompok utara - selatan, tetapi sudah
         menjadi masalah dunia. “ 7


Dunia sudah merasakan dampak dari kemiskinan tersebut, sehingga banyak

orang di berbagai negara berusaha mencari cara guna menyelesaikan masalah

kemiskinan tersebut.




7
 Darmawijaya, Keterlibatan Allah Terhadap Kaum Miskin, ( Yogyakarta : Aditya Media,
1991 ), hlm 5
                                                                                  14

            Pada dasarnya, orang yang dikatakan miskin adalah orang yang serba

berkekurangan dalam hidupnya, tidak berharta dan biasa tinggal dan hidup di

dalam lingkungan yang kumuh. Seorang tokoh Theologia Pembebasan dari Peru

yang bernama Gustavo Guttirrez menyebut kemiskinan sebaagai suatu “ estado

escandoloso “ atau keadaan tidak terhormat.8 Keadaan orang miskin pada
                                       12
umumnya tidak terhormat dan jauh dari kehidupan khalayak ramai pada

umumnya, dan juga seringkali orang lain enggan bila berkunjung atau bertamu

di rumahnya, dikarenakan kondisi lingkungan dan pemukiman yang kumuh

tersebut.

            Berbeda dengan masyarakat jawa, menurut pandangan mereka yang

disebut kemiskinan adalah,

            Indikasi kemiskinan bagi masyarakat jawa adalah (1) rumah
            reyot, (2) tidak memiliki pakaian yang cukup atau dalam istilah
            jawa „klambi resikan‟ untuk menghadiri pertemuan, (3) tidak
            memiliki pekerjaan tetap, (4) tidak memiliki persediaan pangan
            dan (5) tidak memiliki tanah atau ternak besar. 9


Bagi masyarakat jawa, kemiskinan tersebut adalah menyangkut hal - hal yang

bersifat bendawi, yaitu persoalan - persoalan yang berhubungan dengan material

saja. Bagi orang - orang jawa pada umumnya, orang dapat dikategorikan tidak

miskin bila kelima hal tersebut di atas terpenuhi dalam hidupnya.

            Hidup dalam kemiskinan bukanlah suatu impian atau cita - cita dari

semua orang. Namun, kemiskinan adalah suatu realitas hidup yang harus dilalui

dan dijalani dalam kehidupan manusia. Orang - orang yang hidup dalam

8
  Yewanggoe, Kemiskinan Dan Etos Kerja Masyarakat Indonesia, ( Jakarta : Yakoma, 1992
), hlm 209
9
  Lukman Sutrisno, Kemiskinan, Perempuan, Pemberdayaan, ( Yogyakarta : Kanisius, 1999
), hlm 41
                                                                           15

kemiskinan seringkali dihindari dan dijauhi oleh kebanyakan orang pada

umumnya. Orang - orang yang miskin dipandang sebagai orang yang kotor,

kumuh, dan akan tercium bau yang tidak sedap bila berdekatan dengan mereka.

Tidak jarang orang - orang miskin akan hidup secara berkelompok dan merasa

anti bila bertemu dengan orang - orang yang kaya. Sikap yang berlawanan

antara orang miskin dan orang kaya inilah yang menyebabkan kesenjangan

sosial dalam kehidupan mereka. Lukman Sutrisno memberi pernyataan bahwa,

            “….ada lima hal yang membuat orang miskin menjadi tidak
            untung; (1) Kemiskinan ( Proverty ), (2) Fisik yang lemah (
            Physical Weakness), (3) Kerentaan (Vulnerability), (4)
            Keterisolasian ( Isolation ), (5) Ketidak berdayaan (
            Powerlessness ). “ 10


Orang yang mengalami kemiskinan akan menjadi sangat rentan terhadap

permasalahan - permasalahan tersebut di atas. Maka tidaklah heran, jika banyak

negara berusaha mengentaskan masyarakatnya dari kemiskinan.

            Perbedaan antara orang - orang miskin dan orang - orang kaya akan

sangat nampak bila dilihat di kota - kota besar. Perbedaan ini akan terlihat

dengan sendirinya dikarenakan orang miskin akan mengelompok sendiri di

suatu tempat, lalu mereka membuat pemukiman yang bisa dikatakan ala

kadarnya, dalam artian mereka akan membuat rumah dengan tujuan hanya

untuk tempat perteduhan saja. Mereka akan membuat rumah dari barang -

barang yang ada di sekitarnya tanpa harus membeli bahan - bahan yang mahal -

mahal. Orang - orang miskin ini menggunakan seng - seng bekas dan kardus -

kardus bekas sebagai bahan rumahnya, sehingga pemukiman yang didirikan


10
     Lukman Sutrino, Op.Cit, hlm 18
                                                                         16

akan nampak sebagai tempat yang kumuh. Dari hal inilah, maka di kota - kota

besar akan nampak perbedaan antara yang miskin dengan orang - orang yang

hidup di atas garis kemiskinan, melalui lingkungan tempat tinggal mereka. Di

samping lingkungan yang kumuh, kehidupan merekapun tergolong dalam

kehidupan yang acak - acakan, dalam artian mereka menjalani hidup tanpa

mengenal aturan kesehatan yang ada, sehingga tidak jarang bagi mereka yang

mengesampingkan kesehatan tubuhnya guna mencari uang untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Oleh karena itu, orang yang hidup dalam

kemiskinan seringkali mengalami penyakit - penyakit yang disebabkan

kehidupan dan lingkungan yang kumuh. Orang - orang miskin adalah orang

yang tidak beruntung dalam hidupnya. Mereka harus menjalani hidupnya

dengan bersusah payah guna mempertahankan dan memenuhi kebutuhan

hidupnya.



B. KEMISKINAN DALAM ALKITAB

        Orang - orang Kristen adalah manusia biasa yang diciptakan Tuhan

sama dengan orang lain yang ada di dalam dunia ini. Kehidupan orang Kristen

juga tidak dapat lepas dari permasalahan - permasalahan kehidupan yang ada,

baik sakit penyakit, kekerasan dan juga mengenai masalah kemiskinan.

        Kemiskinan adalah suatu kenyataan hidup yang harus dihadapi oleh

manusia. Sudah sejak lama kemiskinan dijadikan musuh bagi manusia, dan

manusia tidak ingin hidupnya ada di dalam kemiskinan. Dalam kehidupan

kekristenan, kemiskinan juga menjadi masalah yang telah lama dirasakan dan

dialami oleh orang - orang pada masa yang silam. Alkitab merupakan bukti
                                                                                    17

yang menceritakan dan menyatakan tentang kehidupan para nabi dan orang -

orang pilihan Tuhan. Ada banyak hal yang dikemukakan di dalam Alkitab, baik

yang baik maupun yang tidak baik yang dialami oleh nabi dan orang pilihan

Tuhan tersebut. Pada bagian ini, Penulis akan berusaha mengetengahkan

masalah - masalah yang telah terjadi di dalam Alkitab yang berkaitan dengan

kemiskinan, baik di dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru.

1. Kitab Perjanjian Lama

         Kitab Perjanjian Lama merupakan salah satu bagian dari Alkitab yang

berisi 39 kitab. Dalam kitab - kitab tersebut memuat kisah - kisah mulai dari

awal mula dunia ini diciptakan oleh Allah, sampai kepada kisah hidup orang -

orang pilihan Tuhan. Pada awal kitab Perjanjian Lama dikemukakan tentang

penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan melalui Firman-Nya serta hasil karya

tangan-Nya dalam menciptakan manusia (Kejadian 1 - 2). Di samping itu,

dikisahkan pula tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa dan juga pemusnahan

manusia oleh Tuhan dengan menggunakan air bah yang dahsyat ( Kejadian 3,

7). Hal tersebut di atas hanyalah sebagian kecil dari kisah - kisah yang ada di

dalam kitab Perjanjian Lama.

         Perjanjian Lama sebagian besar ditulis dengan menggunakan Bahasa

Ibrani, sedangkan Bahasa Aram digunakan dalam Ezra 4 : 8 – 6: 18; 7: 12 – 26;
                                               11
Yeremia 10: 11; dan Daniel 2: 4 – 7: 28.            Perjanjian Lama merupakan kitab

yang mendahului Perjanjian Baru, sehingga banyak ayat - ayat dalam Perjanjian

Lama dikutip oleh penulis - penulis Perjanjian Baru.


11
  David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004 ),
hlm 15
                                                                                     18

         Ada kurang lebih 2650 kutipan dari Perjanjian Lama di dalam
         Perjanjian Baru, yaitu kurang lebih 350 kutipan langsung dan
         2300 kutipan tidak langsung serta persamaan bahasa. Dengan
         kata lain, rata - rata terdapat satu kutipan Perjanjian Lama
         dalam setiap tiga ayat Perjanjian Baru. Kitab Yesaya dan
         Mazmur paling sering dikutip ( masing – masing lebih dari 400
         kali ). Hanya Kidung Agung yang tidak dikutip dalam
         Perjanjian Baru. 12


Kutipan - kutipan yang terdapat dalam Perjanjian Baru tersebut secara tidak

langsung menyatakan bahwa apa yang terdapat dalam Perjanjian Lama

merupakan Firman Allah yang harus dipercayai dan tetap dipakai meskipun

telah ada Perjanjian Baru.

         Dunia Perjanjian Lama berlatarkan di daerah sekitar Timur Tengah dan

terkadang mereka hidup di Palestina dan Mesopotamia. Pelaku - pelaku utama

dalam Perjanjian Lama umumnya hidup di Palestina, tetapi pada saat - saat
                                                                    13
tertentu mereka pernah hidup di Mesopotamia atau Mesir.                  David L. Baker

menjelaskan tentang dunia dalam Perjanjian Lama sebagai berikut,

         Dunia yang dikenal pada zaman Perjanjian Lama hampir sama
         dengan daerah yang sekarang disebut dengan Timur Tengah (
         Asia Barat). Luasnya dapat dibandingkan dengan luas Indonesia
         bagian barat. Tanah yang subur ( tidak terhitung padang pasir )
         sering disebut “ Sabit Yang Subur “ karena berbentuk sabit.
         Luasnya kira - kira 2000 Km kali 200 Km ( Hampir sama
         dengan Pulau Jawa tambah Pulau Sumatra ). Sehingga jarak
         Mesopotamia – Kanaan – Mesir ( Perjalanan Abraham ) sekitar
         2000 Km ( hampir sama dengan Banda Aceh - Surabaya ). 14


         Orang - orang Yahudi pada zaman Perjanjian Lama mempunyai

pekerjaan sebagai petani dan ada juga yang bekerja sebagai penggembala

12
   Ibid, hlm 13
13
   W.S. Lasor. dkk, Pengantar Perjanjian Lama 1, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004 ),
hlm. 76.
14
   Op.Cit, hlm 21
                                                                                       19

binatang. Dengan pekerjaan sebagai petani, mereka memanfaatkan tanah - tanah

untuk menanam tumbuhan – tumbuhan yang dapat mereka panen agar berguna

bagi kehidupannya. Para petani biasanya menggarap tanahnya mulai pada saat

musim hujan tiba pada musim gugur. Biasanya tanah digarap dengan bajak yang

sangat sederhana. Lalu benih ditaburkan. Kalau lapisan tanah agak tebal,

anggur, ara, zaitun dapat tumbuh. Buahnya dipanen pada bulan Agustus dan
             15
September.        Dengan hidup sebagai petani, mereka tidak dapat memastikan

secara tepat hasil panen yang akan diperolehnya. Jika musim baik, maka mereka

akan mendapat hasil panen yang memuaskan, dan jikalau musim dan kondisi

alam tidak mendukung, maka hasil yang kurang memuaskan akan didapatinya.

         Perlu disadari oleh para pembaca Kitab Suci Perjanjian Lama,
         bahwa setelah orang - orang Yahudi menetap di Palestina,
         keadaan hidup mereka tetap saja berat, berkekurangan, tidak
         aman, dan harus selalu bekerja keras. Memang pada hari – hari
         pesta mereka dapat mengalami kegembiraan yang sangat besar,
         tetapi hidup sehari - hari adalah lain. Kehidupan petani adalah
         berat. Lebih berat lagi bagi para penggembala. Yang paling
         berat adalah hidup orang - orang yang tidak mempunyai milik (
         Imamat 19 : 9; Ulangan 24 : 19 – 21 ). 16


         Para penggembala mengalami kesusahan dalam hidupnya, dikarenakan

mereka memberi makan kepada hewan gembalaannya hanya dari tanah - tanah

kosong yang tidak dikerjakan oleh para penduduk yang bekerja sebagai petani

Tanah - tanah yang kosong tersebut tidak ditanami oleh para petani dikarenakan

tanah tersebut terlalu gersang, sehingga sukar untuk ditanami oleh tumbuhan.




15
   I. Suharyo, Mengenal Alam Hidup Perjanjian Lama, ( Yogyakarta : Kanisius, 1993 ),
hlm 20
16
   Ibid, hlm 21
                                                                            20

Kesulitan inilah yang mengakibatkan mereka harus bekerja keras untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya.

        Kesulitan - kesulitan hidup yang dialami inilah yang menjadi salah satu

sebab terjadinya kemiskinan dalam masyarakat Perjanjian Lama. Bila dilihat

dari segi ekonomi, mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya yang

paling primer, kerena mereka hanya berharap kepada alam yang sering berubah

sewaktu - waktu, sehingga mereka tidak dapat bersandar dan berharap penuh

pada hasil panennya. Inilah yang mengakibatkan kehidupan mereka harus

berada dalam keadaan minus. Namun, faktor alam tidak dapat dijadikan sebagai

satu - satunya penyebab kemiskinan tersebut. Dalam Kitab Amsal 6 : 9 – 11,

dikemukakan bahwa kemiskinan disebabkan karena kesalahan diri sendiri. Ayat

9 menyatakan “ Hai pemalas berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah

engkau akan bangun dari tidurmu ?” Dalam ayat tersebut, Salomo menjelaskan

bahwa kemiskinan akan datang bila orang bermalas – malasan dan suka

menghabiskan waktunya di tempat tidur saja, atau dengan kata lain

menghabiskan waktu dengan sia – sia. Bila orang tidak mau bekerja dan hanya

menghabiskan waktunya untuk hal yang sia – sia, maka kemiskinan itu akan

datang kepadanya.

        Pada nats yang lain yaitu dalam Amsal 23 : 20 – 21, dikatakan bahwa

kemiskinan akan datang akibat dari pemborosan. Orang yang melakukan

pemborosan dalam hidupnya, ia akan jatuh dalam kemiskinan. Nats tersebut

membahas tentang orang yang melakukan pemborosan dengan cara minum

minuman keras, sehingga membuat orang yang melakukannya tidak mampu

bekerja secara maksimal. Jika orang sudah tidak mampu bekerja dengan
                                                                            21

baik, maka kebutuhan hidupnyapun tidak dapat terpenuhi, sehingga datanglah

kemiskinan di dalam hidupnya.

            Raja Salomo memberi pernyataan lagi dalam Amsal 13 : 18 bahwa,

Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi

siapa mengindahkan teguran, ia dihormati. Kemiskinan akan datang kepada

orang - orang yang tidak mengindahkan teguran - teguran dari orang - orang

yang lebih berpengalaman. Orang yang tidak mengindahkan didikan juga akan

mengalami kemiskinan, dikarenakan pada zaman Perjanjian Lama Tuhan

berbicara melalui para nabinya, sehingga didikan dan ajaran dari Tuhan

disampaikan lewat para nabi tersebut. Jadi barangsiapa yang tidak

mengindahkan didikan dari para nabi, mereka akan mengalami ketidak

beruntungan dalam hidupnya, termasuk kemiskinan.

            Pada dasarnya Tuhan mengasihi dan memperhatikan orang - orang

yang miskin. Bukti dari kasih Tuhan tersebut dalam Perjanjian Lama dinyatakan

melalui Tahun Sabat dan Tahun Yobel.


            “ Sekali tujuh tahun diadakan tahun sabat ( Im. 25 : 1 – 7 ).
            Pada tahun itu tanah tidak dikerjakan, dan apa yang tumbuh
            dengan sendirinya menjadi milik orang miskin dan binatang
            buas, bukan milik si empunya tanah tersebut. … Lagi pula,
            sesudah tujuh tahun sabat, yakni pada tahun kelima puluh,
            diadakan tahun Yobel, yang juga disebut tahun pengembalian (
            Im. 25 : 8 – 17 ). Pada tahun kelima puluh itu tanah yang
            digadaikan harus dikembalikan kepada pemiliknya dan budak
            Ibrani dibebaskan. Dengan demikian orang miskin dilindungi,
            dan seluruh bangsa diingatkan kepada Allah sebagai pemilik
            manusia dan tanah yang sebenarnya. “ 17




17
     David L. Baker, Op.Cit, hlm 40
                                                                            22

Allah menentukan Tahun Sabat dan Tahun Yobel sebagai bukti pembelaan-Nya

terhadap kaum yang menderita dan kaum miskin. Dengan adanya tahun - tahun

tersebut, membuktikan bahwa sejak zaman Perjanjian Lama kemiskinan telah

menjadi masalah yang kongkret, namun Allah tidak tinggal diam, Ia membela

hak - hak kaum miskin dan orang - orang yang menderita melalui Tahun Sabat

dan Tahun Yobel.


2. Perjanjian Baru

        Kitab Parjanjian Baru merupakan bagian Alkitab yang berisi 27 kitab.

Dalam kitab - kitab tersebut, dipaparkan berbagai peristiwa, kisah nyata dan

kesaksian - kesaksian baik dalam diri Yesus Kristus sendiri maupun lewat para

murid dan rasul Tuhan Yesus Kristus. Kitab - kitab Perjanjian Baru terdiri dari

kitab Injil, Kisah Para Rasul, Surat - Surat dari Para Rasul, dan juga Kitab

Wahyu. Sorotan utama dalam dunia Perjanjian Baru adalah kisah hidup dan juga

pelayanan dari Tuhan Yesus Kristus. Yesus Kristus dibahas dan dijelaskan

secara rinci mulai dari lahir sampai kepada kenaikan-Nya ke Surga di dalam

Kitab Injil. Empat Kitab Injil yaitu Matius, Markus, Lukas, Yohanes,

memaparkan bagaimana Yesus itu dilahirkan, melayani, juga mengenai ajaran -

ajaran dan praktek hidup dari Yesus Kristus.


        Kitab Perjanjian Baru bukan hanya menceritakan tentang pribadi Yesus

Kristus, namun dalam kitab - kitab ini dijelaskan pula mengenai masyarakat

yang ada pada waktu itu. Mulai dari permasalahan yang dialami, konflik –

konflik politik, serta penderitaan yang dialami oleh masyarakat di zaman
                                                                                    23

Perjanjian Baru. Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh

masyarakat pada zaman itu.


         Dalam Perjanjian Baru, istilah Yunani yang sering dipakai
         untuk menggambarkan kemiskinan adalah istilah ptochos
         Istilah lain yang banyak kita temukan dalam kesusastraan
         Yunani Kuno adalah penes, yang di dalam Perjanjian Baru
         hanya kita jumpai dalam II Korintus 9 : 9. 18



Kedua istilah tersebut seringkali dipakai dalam Perjanjian Baru. Pada bagian ini,

penulis hanya akan menyoroti pada permasalahan kemiskinan yang ada di

dalam Perjanjian Baru, dan yang berkaitan dengan istilah ptochos dan penes.


         Ptochos berasal dari kata „pte‟ artinya merunduk diri bersama - sama.

Istilah ptochos itu berarti ketergantungan sepenuhnya pada masyarakat.19 Orang

- orang yang tergolong dalam ptochos merupakan orang - orang yang

keadaannya sangat miskin sekali, dan hanya bergantung pada orang lain.


         Kemiskinan ptochos dalam Perjanjian Baru adalah kemiskinan
         yang meminta - minta. Orang - orang yang seperti ini
         seluruhnya bergantung pada pemberian orang lain, sekedar
         memenuhi kebutuhan hidupnya. … Sedekah itu kadang -
         kadang diberikan dalam bentuk makanan atau pakaian, tetapi
         juga ada dalam bentuk uang ( bnd Mrk. 14 : 7; Mat. 25 : 35;
         Luk 16 : 20; Kis 3 : 1 ). 20



Orang yang tergolong dalam ptochos adalah para pengemis yang hanya

meminta - minta dari orang lain yang lewat di sekitarnya untuk memenuhi

18
   Wolfgang Stegemann, Injil Dan Orang – Orang Miskin, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia,
1994 ), hlm. 2
19
   Brown collin, The New International Dictionary Of New Tastement Theology, ( Michigan
: Regency Zondervan Publishing Company, 1967 ), hlm 92
20
   Wolfgang Stegemann, Op.Cit, hlm. 7
                                                                                     24

kebutuhan hidupnya. Contoh dari orang yang tergolong sebagai ptochos adalah

Bartimeus dan Lazarus. Mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan

meminta - minta dari orang lain.


         Dalam Kitab Injil, kata ptochos muncul tiga puluh empat kali, dalam
                                                                         21
ketiga Injil dua puluh empat kali dan dalam Lukas sepuluh kali.               Dalam kata

ptochos ini, penekanan yang ada di dalamnya adalah miskin dalam artian

harfiah, yaitu miskin yang benar - benar miskin, tidak memiliki harta benda,

tidak berpendidikan, tidak terpandang dan seringkali tidak dipandang sebelah

matapun oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Bagi orang - orang yang

termasuk dalam kaum ini, tidak ada cara yang lain untuk dapat mencari makan

dan mempertahankan hidup kalau mereka tidak meminta - minta atau

mengemis. Selain pengemis, ada juga orang - orang lain termasuk dalam

golongan ini. Adapun mereka yang termasuk dalam golongan ptochos adalah

para budak yang melarikan diri, orang - orang yang lari karena tidak dapat

membayar hutang, dan juga para buruh harian yang menganggur. Orang - orang

yang telah disebut di atas adalah orang - orang yang tidak dapat bekerja dengan

selayaknya, dan hanya mengandalkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan

hidupnya. Orang - orang yang termasuk dalam kaum ptochos sering disamakan

dengan orang - orang yang sakit parah dan cacat, hanya berpakaian seadanya

saja dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Mereka adalah orang - orang

yang berjuang untuk mengatasi penderitaan guna mempertahankan hidup lebih

lama lagi.

21
  Jacob, Orang – Orang Kecil Dalam Kerajaan Allah, ( Yogyakarta : Kanisius, 1988 ), hlm
92
                                                                                          25

          Istilah lain yang sering dipakai selain ptochos adalah kata penes. Asal
                                                                                          22
kata penes berhubungan dengan kata ponos yang artinya beban, kesusahan.

Orang - orang yang masuk golongan penes masih lebih beruntung hidupnya

dibanding dengan orang - orang yang termasuk dalam golongan ptochos. Orang

- orang dalam golongan penes masih mempunyai harta milik, tetapi ia harus

menghemat secara luar biasa guna memenuhi kehidupannya selanjutnya. Kata

penes mempunyai bentuk jamak penetes. Orang - orang dari golongan penetes (

bentuk jamak ), termasuk para petani kecil dan yang hidup dari pekerjaan

tangan, harus bekerja sendiri dan pada umumnya hidup menghemat ( “kikir” ).
23
     Para petani tersebut terpaksa hidup secara menghemat, dikarenakan mereka

hanya mengantungkan hidupnya dari hasil panennya. Jadi hasil panen yang

diperolehnya pada musim panen pertama, harus dapat mencukupi kebutuhannya

sampai kepada hasil panennya yang selanjutnya.


          Pembahasan kemiskinan dalam Perjanjian Baru pada umumnya

menunjukkan bahwa orang yang disebut miskin adalah orang - orang yang

melarat, malang, sakit, mengenakan pakaian ala kadarnya dan hanya bertahan

hidup dengan pemberian dari orang lain. Gambaran dari orang - orang miskin

dalam Perjanjian Baru adalah orang - orang yang tidak mempunyai harapan

dalam hidupnya, dan hanya mengandalkan orang lain untuk memenuhi

kebutuhannya. Yesus datang ke tengah - tengah orang miskin tersebut dengan

memberi harapan bagi mereka untuk menjalani kehidupannya selanjutnya.Yesus


22
   Gerhard Kittel, Theological Dictionary Of The New Tastement, ( Michigan : Publishing
Company, 1993 ), hlm 824.
23
   Wolfgang Stegemann, Op.Cit, hlm. 3
                                                                             26

mengadakan banyak mujizat di tengah - tengah mereka, sehingga orang yang

sakit parah, lumpuh dan tidak dapat berbuat apa - apa dibuat-Nya menjadi

berarti bagi orang lain.


            Yesus dari Nazaret, melalui khotbah dan penyembuhan-Nya
            memberikan dasar dan pegangan pada pengharapan -
            pengharapan yang ditujukan kepada-Nya. Jadi Ia bukanlah
            sekadar symbol dari para pengikut-Nya. Ia adalah Mesias yang
            dinubuatkan bagi mereka, kepada siapa harapan orang - orang
            miskin segera menjadi kenyataan. Di dalam pribadi-Nya segala
            tuntutan terhadap Kerajaan Allah yang dinantikan pengikut
            Yesus itu menjadi hidup, yaitu : Kerajaan mesianis orang -
            orang miskin. 24



Orang - orang Yahudi merasa senang dengan pelayanan yang Yesus lakukan.

Yesus bukanlah seorang pengajar yang hanya mengajar secara teori belaka,

melainkan Yesus telah mempraktekkan apa yang ia ajarkan dan memberi

harapan baru bagi orang - orang yang kecil, menderita dan miskin.




C. KEMISKINAN DI INDONESIA


            Sudah sejak lama kemiskinan menjadi musuh utama dalam kehidupan

manusia. Oleh sebab itu, berbagai pihak telah mencari cara - cara dan solusi -

solusi yang tepat untuk mengatasi masalah kemiskinan tersebut, termasuk

dengan pemerintah.


            Sejak berdirinya Negara Republik Indonesia, kemiskinan telah menjadi

masalah pokok yang terus menerus digumuli oleh pemerintah. Kemiskinan di

24
     Wolfgang Stegemann, Op.Cit, hlm. 20
                                                                                    27

Indonesia ditandai dengan banyaknya masyarakat yang hidup di lingkungan -

lingkungan kumuh serta banyak masyarakat Indonesia yang masih kurang

pendidikannya. Di samping itu, banyak penduduk Indonesia yang tinggal di

desa - desa masih hidup dalam keterbelakangan, jauh bila dibanding dengan

para penduduk yang tinggal di perkotaan, baik dari segi ekonomi maupun segi

pendidikannya. Ini merupakan salah satu bukti bahwa belum adanya pemerataan

pembangunan di Indonesia. Selain dari pada itu, juga sebagai bukti bahwa

Bangsa Indonesia masih berada dalam garis kemiskinan.


            Pada dasarnya, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beruntung bila

ditinjau dari segi geografisnya. Letak Indonesia yang strategis berada di jalur

perdagangan internasional. Di samping itu, bumi Indonesia dikaruniai dengan

kesuburan alam yang luar biasa. Menurut Boaz Narwastujati,


            Perekonomian di Indonesia, dari segi geografis terutama
            dipengaruhi oleh faktor ekonomi terbesar, yaitu faktor agraris
            atau pertanian, yang didukung dengan luasnya lahan pertanian
            yang ada di tiap provinsinya. Faktor lain yang menentukan
            adalah letak Indonesia yang memang strategis karena berada
            dalam jalur perdagangan laut maupun udara. 25


            Dari pernyataan tersebut nampak bahwa Indonesia adalah negara yang

sangat strategis dari segi geografisnya. Jika dilihat dari hal tersebut di atas,

maka seharusnya Bangsa Indonesia tidak berada di dalam golongan negara -

negara miskin. Bahkan, tidak seharusnya Indonesia berada pada posisi “ juru

kunci “ sebagai negara miskin, jika dibanding dengan negara Asia lain,



25
     Robert Setio, Teologi Ekonomi, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002 ), hlm. 77
                                                                                28

                                           26
khususnya di kawasan Asia Tenggara.             Kondisi yang sangat sulit ini tidak

semestiya dialami oleh Bangsa yang berada di wilayah yang sangat strategis,

ditambah pula dengan kekayaan alam yang luar biasa di dalamnya, seperti

halnya Bangsa Indonesia.

1. Sebab - Sebab Kemiskinan

             Pada dasarnya, Indonesia merupakan negara yang mapan secara

kekayaan alam dengan disertai falsafah hidup yang luar biasa. Falsafah hidup

bangsa Indonesia didasarkan pada Pancasila.

             Perekonomian Indonesia didasarkan pada Pancasila yang mempunyai
             ciri khas sebagai berikut :
                  1. Peranan dominan koperasi bersama dengan perusahaan
                     negara dan perusahaan - perusahaan swasta. Semua bentuk
                     badan usaha didasarkan asas kekeluargaan dan prinsip
                     harmoni, bukan didasarkan pada asas kepentingan pribadi
                     dan prinsip konflik kepentingan.
                  2. Memandang manusia secara utuh, bukan saja sebagai
                     homo oikonomikus tetapi juga sebagai mahluk sosial
                     religius.
                  3. Adanya arah yang kuat ke arah pemerataan sosial.
                  4. Prioritas utama adalah terciptanya suatu perekonomian
                     yang tangguh. 27


Bila melihat prinsip dasar yang kuat yang dipunyai oleh Bangsa Indonesia,

maka seharusnya Bangsa Indonesia telah menjadi suatu bangsa yang besar di

kalangan bangsa - bangsa di dunia.

             Segala sesuatu yang terjadi pasti diawali dari kejadian di masa yang

lalu, atau sering dikatakan jika ada sebab, pasti akan ada akibat yang

menyertainya. Demikian halnya dengan yang dialami oleh Bangsa Indonesia.

Kejadian yang dialami Bangsa Indonesia pada masa sekarang ini merupakan

26
     Ibid, hlm. 79
27
     Ibid, hlm. 78
                                                                                  29

akibat dari kejadian masa lampau. Sejarah mencatat, bahwa Bangsa Indonesia

merupakan negara jajahan kolonial selama kurang lebih 3,5 abad lamanya.

Dalam kurun waktu yang sedemikian lama tersebut, mental rakyat Indonesia

telah      menjadi        rusak   karenanya.   Rusaknya   mental   rakyat   Indonesia

menyebabkan bangsa yang sangat kaya dengan kekayaan alam ini sulit untuk

berkembang ke arah yang lebih baik.

            Meskipun kolonialisme telah lama berakhir, namun dari segi
            ekonomis tetap saja unsur - unsur kolonialisme masih terasa.
            Sebagai contoh Indonesia tetap :
               1. Menjadi tempat mencari barang dagangan.
               2. Menjadi tempat investasi modal.
               3. Menjadi tempat untuk mendapat atau mengusahakan
                  bahan mentah.
               4. Menjadi tempat untuk mencari lapangan kerja.
               5. Menjadi tempat pemasaran barang industri.
            Adapun akibat dari kolonialisasi, yaitu misalnya:
               1. Mengandalkan produksi primer: hasil bumi, tambang dll.
               2. Mengandalkan penanaman modal asing.
               3. Belum mampu memanfaatkan sumber daya alam yang
                  dimiliki secara maksimal.
               4. Menjadi konsumen produksi negara induk. 28


Secara tidak langsung, mental Bangsa Indonesia telah dirusak oleh para

penjajah. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab mengapa Bangsa

Indonesia sulit untuk mengalami kemajuan, termasuk untuk dapat lepas dari

jerat kemiskinan.

            Berbagai upaya telah direncanakan dan diusahakan oleh pemerintah

guna mengentaskan masyarakatnya dari kemiskinan. Menurut salah satu tokoh

di Indonesia, yaitu Ginanjar Kartasasmita, ia memberi pernyataan bahwa,

            Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama ( PJPT I ) telah
            berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin … Dari 70 juta

28
     Ibid, hlm. 77 – 78
                                                                                      30

         atau 60 persen pada tahun 1970 menjadi 27,2 atau 15,1 persen
         pada tahun 1990 dan menurun lagi menjadi 25,9 juta atau 13,67
         persen pada tahun 1993, yakni menjelang akhir PJPT I. 29


Dari data tersebut, nampak dengan jelas bahwa pada sesungguhnya Indonesia

mampu untuk dapat mengatasi keterpurukannya pada masalah ekonomi. Selain

dari data - data tersebut di atas, terdapat data lagi yang menyatakan bahwa,

         Pembagunan Jangka Panjang Tahap Pertama Indonesia telah
         mengantar ekonomi Indonesia dari pendapatan perkapita US $
         70 pada periode 1968 / 1969 menjadi US $ 700 pada periode
         1993/1994. Keadaan itu tercapai sebagai akibat pertumbuhan
         ekonomi yang lumayan selama 25 tahun lebih. 30


Program pemerintah melalui PJPT I telah mencapai hasil yang dapat dikatakan

cukup memuaskan, sehingga sempat menaikan derajat Indonesia di mata dunia,

dengan menyamai posisi Malaysia, Thailand dan Korea Selatan. 31

         Keberhasilan yang telah dicapai oleh pemerintah tersebut tidaklah

berlangsung lama. Pada masa selanjutnya, Indonesia mengalami masalah yang

tidak dapat terelakan. Permasalahan tersebut adalah :

         Masalah utang luar negeri : US $ 100 miliar akan dicicil US $
         22, 436 miliar untuk tiga tahun anggaran 1997 - 2000 ( lih.
         Mar‟ie Muhamad SP 13 Febuari 1996 hlm 1 ). Ekonomi
         Indonesia seakan telah “ terperangkap “ dan “ kecanduan “ (
         addicted ) dengan pola utang asing ( US $ 61, 3 miliar pinjaman
         pemerintah sisanya pinjaman swasta ). 32


        Masalah pembayaran hutang tersebut pada akhirnya menurunkan

kembali stabilitas ekonomi Bangsa Indonesia. Permasalahan yang dialami

29
   Ginanjar Kartasasmita, Strategi Nasional Penanggulangan Masalah Kemiskinan, disajikan
dalam konggres Nasional VI Persekutuan Injili Indonesia, Bandung 18 Mei 1984.
30
   Asnath N. Natas, dkk, Teologi Operatif, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004 ), hlm 111.
31
   Ibid, hlm. 111
32
   Ibid, hlm. 111
                                                                                          31

bukan hanya sampai pada masalah hutang luar negeri saja, tetapi di dalam diri

masyarakat sendiri mulai bergejolak. Sampai akhirnya di antara tahun 1996 –

1998 politik Indonesia mengalami kegoncangan yang luar biasa. Para

mahasiswa menuntut adanya reformasi di Indonesia. Mereka mengadakan demo

besar - besaran serta langsung turun ke jalan. Bukan hanya sampai pada masalah

itu saja, kerusuhanpun mulai terjadi dan bermunculan dimana - mana. Dampak

dari kerusuhan tersebut akhirnya terkena pada segi ekonomi Bangsa Indonesia.

Nilai tukar rupiahpun akhirnya menurun yang mengakibatkan barang - barang

semakin mahal dan langka di pasaran.

         Pada 1 Agustus 1997, nilai rupiah melemah dari Rp. 2.575,00
         menjadi Rp. 2.603,00 per dolar AS. Pada minggu keempat
         September, nilai tukar rupiah mendekati angka Rp. 3.000,00
         per dolar. Hal ini menyebabkan subsidi BBM makin tinggi
         karena penghitungan dan impor minyak mentah dinilai dengan
         dolar. … Pada akhir April, nilai tukar rupiah di pasar spot
         antarbank Jakarta ditutup pada posisi Rp. 7.875,00 - Rp.
         7.975,00 per dolar AS. Belum adanya kepastian tentang
         pencairan bantuan IMF juga mempengaruhi nilai tukar rupiah.
         Sehari setelah itu¸ yaitu pada tanggal 29 April, rupiah turun
         menjadi Rp. 8.100,00/ Rp. 8.200.00 per dolar AS. Pada 7 Mei
         nilai dolar telah mencapai RP. 9.650,00. 33


Dari fakta - fakta tersebut terlihat bahwa Bangsa Indonesia mengalami

keterpurukan ekonomi diakibatkan pula dari permasalahan kekacauan politik

yang terjadi di dalam diri Bangsa Indonesia sendiri.




33
  S. Sinansari Ecip, Kronologi Situasi Penggulingan Suharto, ( Bandung : Mizan, 1998 ),
hlm. 24.
                                                                                     32

2. Upaya Mengatasi Kemiskinan

         Pemerintah Indonesia tidaklah bersikap pasif dalam menanggapi

masalah kemiskinan yang sedang dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Berbagai

upaya telah ditempuh pemerintah guna menanggulangi kemiskinan yang ada di

tengah Bangsa ini. Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama ( PJPT I )

merupakan salah satu upaya pemerintah guna mengentaskan masyarakatnya dari

kemiskinan. Di samping itu, pemerintah telah menetapkan kebijakan - kebijakan

guna menolong masyarakatnya untuk dapat keluar dari masalah kemiskinan.

Adapun kebijakan yang pemerintah buat meliputi program pengadaan

kebutuhan - kebutuhan dasar masyarakat yaitu, kebutuhan pangan, sandang,

perumahan dan juga mengenai pendidikan dasar. Program pemerintah tersebut

mulai direalisasikan dengan adanya

         Pemeliharaan stabilitas harga dan pencapaian swasembada
         beras, pembangunan pasar - pasar inpres, pembangunan
         perumahan rakyat, pembangunan pusat - pusat kesehatan,
         pembangunan sekolah dasar inpres, dan pembebasan SPP bagi
         siswa sekolah dasar yang tidak mampu. 34

Melalui program - program tersebut, masyarakat yang hidup bergelut dengan

kemiskinan akan merasa sedikit terhibur dan merasa sedikit hilang beban

hidupnya.

         Di samping hal - hal tersebut di atas, pemerintah juga telah membuat

program - program baru, yang bertujuan agar kemiskinan di dalam masyarakat

Indonesia dapat cepat teratasi. Adapun program - program tersebut adalah

Gerakan Nasional Orang Tua Asuh ( GNOTA ), Jaring Pengaman Sosial ( JPS ),


34
  Dumairy, Evaluasi Program Kebijaksanaan Pemerintah, ( Yogyakarta : Aditya Media,
1995 ), hlm. 79
                                                                          33

dan juga pembentukan koperasi - koperasi yang berguna untuk membantu para

petani dan rakyat - rakyat kecil. Pemerintah membuat GNOTA dengan

bertujuan untuk membantu anak - anak yang berusia sekolah dari keluarga yang

tidak mampu, supaya mereka tidak putus sekolah. Pemerintah berusaha

menghimpun dana dari orang - orang yang kaya maupun dari perusahaan -

perusahaan swasta untuk dapat menjadi donatur bagi anak - anak yang terancam

putus sekolah.

            Jaring Pengaman Sosial dibentuk oleh pemerintah untuk membantu

rakyat - rakyat kecil dengan membagi - bagikan uang maupun beras kepada

mereka. Di samping itu, dari segi kesehatan pemerintah berupaya untuk dapat

memberikan layanan gratis atau membayar murah bagi kalangan masyarakat

kecil. Koperasi - koperasi simpan – pinjam dibuat pemerintah untuk

meringankan beban para petani dan pengusaha kecil. Koperasi tersebut berusaha

menyubsidi para petani dan pengusaha kecil. Subsidi bagi petani untuk

meningkatkan usaha pertanian serta berbagai kemudahan bagi petani untuk

memasarkan hasil usaha. Hal ini juga akan menghindari arus urbanisasi.
                                                                           35
Pemberian subsidi kepada petani untuk mengembangkan usaha pertanian.

Akan tetapi harapan yang ingin dicapai oleh pemerintah belumlah sesuai dengan

apa yang telah direncanakan. Program - program yang telah dilaksanakan

tersebut pada akhirnya belum dapat pula mengentaskan kemiskinan yang ada di

Bangsa Indonesia. Masih banyak penduduk Indonesia yang masih tinggal di

bawah garis kemiskinan. Oleh sebab itu, pemerintah masih terus berusaha untuk

mencari solusi supaya dapat mengentaskan masyarakatnya dari kemiskinan.

35
     Robert Setio, Op.Cit, hlm 107
                                                                           34

D. TEORI - TEORI ANAK JALANAN

        Kemiskinan merupakan masalah yang masih terus dihadapi oleh

Bangsa Indonesia. Stabilitas politik yang mengalami kegoncangan disertai juga

dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan memberi dampak yang sangat

besar bagi masyarakat Indonesia. Meskipun pihak pemerintah telah berusaha

dengan berbagai cara untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan, namun

usaha yang telah pemerintah lakukan belumlah dapat dikatakan berhasil, karena

masih banyak penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

        Bangsa Indonesia belumlah dapat dikatakan lepas dari permasalahan

kemiskinan. Hal ini dapat dilihat dari kondisi masyarakat Indonesia yang masih

hidup berkekurangan. Tidak jarang pula ditemui di sudut - sudut kota di

Indonesia, banyak terdapat pemukiman - pemukiman yang kumuh. Lingkungan

yang kumuh tersebut, secara tidak langsung mencerminkan kondisi ekonomi

yang sedang dialami oleh Bangsa Indonesia. Selain daripada itu, dapat dilihat

bahwa penduduk yang ada di Indonesia masih berada di dalam kemiskinan dan

berkekurangan. Dampak lain dari kemiskinan dapat dilihat di jalanan - jalanan

yang ada di kota - kota besar Indonesia.



        Jalanan merupakan tempat pilihan terakhir yang dijadikan sebagai

lahan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari - hari. Banyak anak -

anak kecil, pemuda dan orang dewasa yang berusaha mengais rejeki di jalanan.

Mereka berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja di jalanan.

Namun, yang sangat disayangkan adalah adanya anak - anak kecil yang

seharusnya berada di rumah, bersekolah dan menikmati kasih sayang dari orang
                                                                                            35

tua, mereka terpaksa bekerja dan menghabiskan waktunya di jalanan. Akan

tetapi, tidaklah semua anak - anak yang ada di jalanan menghabiskan waktunya

selama sehari penuh di jalanan. Beberapa dari mereka ada yang hanya mencari

uang untuk membayar uang sekolahnya, ataupun untuk membantu orang tuanya

guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Jadi, tidak semua anak - anak yang ada

di jalanan mencari uang, tidur, dan hidup di jalanan, melainkan ada juga dari

mereka yang masih hidup dan tinggal bersama dengan orang tuanya. Oleh

karena itu, anak - anak jalanan dikelompokan dalam beberapa kategori. Menurut

Bapak Saratri Wilonoyudho Kepala Pusat Penelitian Sainsteks Universitas

Negeri Semarang,

            Anak jalanan meliputi dua kategori, yakni 1) anak jalanan yang
            masih tinggal dengan orantuanya atau keluarganya (children on
            the street) dan     2) anak jalanan yang benar-benar lepas dari
            keluarganya serta hidup sembarangan di jalanan (children of the
            street). Usia mereka 6-15 tahun.36


Kategori - kategori tersebut di atas merupakan ketegori yang masih umum.

Namun, masih ada satu kategori lagi bagi para anak jalanan. Dalam istilah

pekerja rumah singgah, kategori anak - anak ini adalah anak yang rentan turun

ke jalanan, yang biasa disebut dengan Vulnerable to be Street Children. 37 Maka

bila      digabungkan,      ada    tiga   kategori    yang     dapat    digunakan         untuk

mengelompokan anak - anak yang ada di jalanan tersebut.




36
     Saratri Wilonoyudho, Op.Cit, hlm. 1
37
     Muhsin Kalida, Sahabatku Anak Jalanan, ( Yogyakarta : Alief Press, 2005 ), hlm. 38
                                                                             36

1. Children On The Street

             Anak - anak yang dikelompokan dalam ketegori ini adalah mereka

masih berhubungan atau masih berkomunikasi dengan keluarga tetapi tidak

teratur kapan waktunya. Pada kategori ini, anak - anak tersebut kebanyakan

masih tinggal dan berada dekat dengan orang tuanya, tetapi tidak dapat

dipastikan mengenai masalah waktunya. Mereka akan pulang ke rumah jika

mereka ingin pulang dan tidak akan pulang jika mereka tidak mempunyai

keinginan ingin pulang. Namun, kebanyakan dari mereka masih pulang ke

rumah. Mereka bekerja dan mencari uang di jalan hanya karena untuk

mencukupi kebutuhan hidupnya dan ada pula yang bertujuan untuk membayar

uang sekolahnya. Muhsin Kalida menggolongkan anak - anak dalam kategori ini

menjadi tiga golongan yaitu,

             Pertama ; anak - anak yang hanya sesaat di jalanan, kurang
             lebih 3 - 6 jam di jalanan. Mereka ini masih tinggal bersama
             orang tua atau keluarganya. …
             Kedua ; anak - anak memberontak lepas dari orang tua.
             Kelompok ini adalah anak yang masih memiliki orang tua,
             tetapi tidak puas dengan apa yang diperoleh dari keluarganya,
             sehingga memberontak dan melepaskan diri dari keluarga. …
             Ketiga ; anak - anak berasal dari luar kota. 38


Pada kategori tersebut di atas, disebutkan bahwa pada golongan anak yang

pertama adalah anak - anak yang sebagian besar bersekolah dan masih tinggal

bersama dengan orang tuanya, namun sepulang sekolah mereka berada di

jalanan. Mereka melakukan aktifitas - aktifitas yang biasa dilakukan oleh para

anak jalanan diantaranya, mengamen, mengasong, mengelap kaca mobil, dan

juga menyemir sepatu di terminal - terminal maupun di stasiun - stasiun. Anak -

38
     Ibid, hlm. 33
                                                                             37

anak pada kelompok ini mempunyai latar belakang yang pada umumnya berasal

dari keluarga yang tidak mampu, atau dari keluarga yang mengalami kesulitan

ekonomi, sehingga tidak jarang anak - anak tersebut dijadikan orang tuanya

sebagai salah satu tumpuan ekonomi dan sumber penghasilan dari keluarganya.

        Berbeda dengan anak - anak yang berada di dalam kelompok yang

kedua. Anak - anak tersebut lari meninggalkan rumahnya dikarenakan ketidak

puasannya dengan kondisi keluarganya. Pada umumnya mereka berasal dari

kota atau daerah sekitarnya. Mereka berani mengambil resiko untuk hidup

mandiri di jalanan daripada hidup di tengah - tengah keluarganya yang tidak

memberi kasih sayang dan perhatian kepadanya.

        Pada kelompok anak yang ketiga, mereka adalah anak - anak yang

berasal dari luar kota dan tinggal bersama dengan teman - temannya atau

keluarganya. Di samping itu, kebanyakan dari mereka juga tinggal dengan orang

- orang yang berjasa kepadanya. Orang - orang yang berjasa tersebut biasanya

memberi modal untuk berdagang ataupun memberi pinjaman alat - alat untuk

berjualan. Di kalangan anak - anak jalanan, orang - orang tersebut biasa disebut

dengan Bos, Mami, Pak‟e, dan Babe. Melalui orang - orang tersebut, anak -

anak yang berasal luar kota tersebut dapat bekerja dan hidup dari

penghasilannya tersebut. Namun, hal yang menyedihkan bagi anak jalanan yang

berada pada kelompok ini adalah rawannya tindak kekerasan dan pemaksaan di

dalamnya. Pemaksaan dengan kekerasan yang dialami oleh anak - anak tersebut

adalah pemaksaan uang setoran, pemenuhan kebutuhan sang Bos, dan sampai

kepada pelecehan seksual agar dapat melayani nafsu birahi dan sang Bos
                                                                             38

tersebut. Kehidupan inilah yang harus dihadapi oleh anak jalanan pada

kelompok ini.

2. Children Off The Street

             Kategori ini adalah pengelompokan anak - anak yang tumbuh di

jalanan, putus hubungan keluarga ( orang tua ), mereka tidak sekolah dan hidup
                 39
di jalanan.           Anak - anak ini biasa menghabiskan seluruh waktunya untuk

bermain, beraktifitas, bekerja dan mempertahankan hidup di jalanan. Mereka

tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap dan selalu berpindah - pindah dari

hari - keseharinya. Bahkan, tempat untuk tidurpun mereka tidak memiliki,

sehingga mengharuskan mereka untuk tidur berpindah - pindah dari tempat yang

satu ke tempat yang lain. Anak - anak ini biasa tidur di emperan - emperan toko,

terminal, stasiun, dan juga di kolong - kolong jembatan.

             Pada umumnya, anak - anak yang berada di dalam kategori ini adalah

mereka yang mempunyai latar belakang dari kekurang harmonisan orang tua,

dan ada juga dari mereka yang memang sudah sejak kecil hidup di jalanan,

dikarenakan dibuang oleh orang tuanya, sehingga terpaksa ia hidup dan

bertumbuh di jalanan. Namun, banyak diantara mereka yang mengalami

masalah dalam keluarganya, antara lain, ditinggal cerai oleh orang tuanya, dan

juga berbagai macam masalah yang ada di dalam keluarganya. Namun,

bukanlah masalah ekonomi yang dihadapi oleh keluarga dan anak - anak

tersebut. Tidak jarang dari mereka yang berasal dari keluarga yang kaya, mapan

dan tidak heran pula jika ada anak pejabat yang berada di jalanan. Itu semua

dilakukannya dikarenakan kurangnya kasih sayang dari keluarganya. Ketika ia

39
     Ibid, hlm. 35.
                                                                            39

mendapat kasih sayang dan perhatian yang diinginkan dari teman - temannya di

jalanan, maka ia akan merasa nyaman untuk tinggal dan hidup di jalan. Oleh

sebab itu, anak - anak dalam kategori ini terkesan lebih bebas, lebih kumuh dan

cenderung tidak mengenal tata krama, dikarenakan kebiasaan hidup mandiri

serta pola kebebasan yang telah ia dapatkan di jalanan. Kebebasan itulah yang

menyebabkan mereka terkesan menjadi liar dan tidak mengenal norma - norma

yang berada di masyarakat.

3.   Vulnerable to be Street Children

        Kategori ini adalah kelompok anak - anak jalanan yang masih tinggal

dengan orang tuanya. Anak - anak pada kategori ini merupakan anak - anak

yang setiap harinya masih pulang ke rumah untuk bertemu dengan orang tua

mereka. Anak - anak tersebut ada yang masih sekolah, namun ada pula yang

sudah putus sekolah. Biasanya pekerjaan di jalan bukanlah tujuan utama,

melainkan hiburan dan untuk tambahan uang itulah yang menjadi motifasi

utamanya.

        Anak - anak dalam kategori ini pada mulanya mengamen atau bekerja

di jalan adalah hal yang tidak disengaja, dan hanya ikut - ikutan saja. Tahap

awal yang sering dilakukan adalah menonton anak yang mengamen, kemudian

berteman lalu belajar mengamen, dan pada akhirnya ia akan terjun sendiri ke

jalan untuk mengamen dan bekerja di jalanan. Hal tersebut dilakukan karena

mereka tergiur oleh penghasilan yang di dapat maupun kepuasan yang di dapat

dari pergaulan dengan teman - temannya. Oleh sebab itu, anak - anak di dalam

kategori ini disebut anak - anak yang rentan untuk masuk dan hidup di jalanan.
                                                                           40

                                  BAB III

                    KEHIDUPAN ANAK JALANAN




A.     LATAR BELAKANG HIDUP DI JALANAN

        Kehidupan adalah anugrah yang Tuhan berikan kepada manusia.

Manusia dapat menghirup udara yang segar secara cuma - cuma merupakan

salah satu bukti bahwa Tuhan memberi kehidupan kepada manusia. Setiap

manusia mengharapkan suatu kehidupan yang layak, dalam artian terjamin

kebutuhan jasmani dan rohaninya. Namun, harapan yang diimpikan oleh setiap

orang tersebut tidak sepenuhnya tercapai. Banyak orang yang mengalami

kesusahan dalam menjalani hidupnya. Ada sebagian orang harus rela bekerja di

jalanan dengan tak kenal lelah hanya untuk mencari makan bagi keluarganya

Sebagian orang ini sering disebut dengan anak jalanan, karena mereka hidup

dan berusaha memenuhi kebutuhannya di jalanan.

         Anak jalanan adalah mereka yang masih muda usianya, namun

mereka yang telah lanjut usianya biasa disebut dengan orang jalanan. Orang

jalanan dan anak jalanan tersebut, telah tersebar di seluruh kota - kota besar

yang ada di Indonesia. Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia ini

merupakan permasalahan sosial yang komplek. Hidup menjadi anak jalanan

memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada

dalam kondisi yang tidak bermasa depan jelas, dan keberadaan mereka tidak

jarang menjadi “masalah” bagi banyak pihak, keluarga, masyarakat dan negara.
                                                                                      41

Armei arief, salah seorang aktifis di suatu lembaga masyarakat yang

menanggani anak - anak jalanan memaparkan bahwa,

          … perhatian terhadap nasib anak jalanan tampaknya belum
         begitu besar dan solutif. Padahal mereka adalah saudara kita.
         Mereka adalah amanah Allah yang harus dilindungi, dijamin
         hak-haknya, sehingga tumbuh-kembang menjadi manusia
         dewasa yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan cerah. 40


Perhatian itulah yang seharusnya diberikan kepada para anak jalanan. Pada

dasarnya, banyak faktor yang menjadi latar belakang mengapa anak jalanan

bertumbuh dengan cepat di kota - kota besar yang ada di Negara Indonesia ini.

Adapun faktor - faktor tersebut adalah faktor keluarga, faktor ekonomi, faktor

sosial. Faktor - faktor inilah yang seringkali memicu mengapa banyak orang,

khususnya anak - anak, remaja dan pemuda, harus bekerja dan mencari nafkah

di jalanan.

     1. Faktor Keluarga

         Keluarga adalah tempat pertama bagi seseorang untuk belajar,

bertumbuh dan berkembang. Di dalam keluarga juga seseorang mendapat kasih

sayang yang tulus dari ayah dan ibu. Di samping itu, melalui keluarga seseorang

mengenal baik dan buruk, benar dan salah, yang diajarkan dari orang tua kepada

anaknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

         Keluarga adalah sejumlah orang yang bertempat tinggal dalam
         satu atap rumah dan diikat oleh tali pernikahan yang satu
         dengan lainnya memiliki saling ketergantungan. Secara umum



40
  Armai Arief, Upaya Pemberdayaan Anak Jalanan Dalam Rangka Mewujudkan
 Kesejahteraan Sosial dan Stabilitas Nasional, (Jakarta : Jurnal Fajar, LPM UIN, Edisi 4,
 2002 ),hlm 1
                                                                                 42

         keluarga memiliki fungsi (a) reproduksi, (b) sosialisasi, (c)
         edukasi, (d) rekreasi, (e) afeksi, dan (f) proteksi.41

         Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan

anak - anaknya. Ini disebabkan karena melalui orang tua, anak - anak akan

belajar bagaimana ia melakukan sesuatu untuk kehidupannya yang akan datang,

baik secara jasmani, maupun rohani. Secara jasmani, orang tua bertanggung

jawab atas perkembangan fisik dari anak tersebut, yang juga menyangkut

masalah kesehatannya. Secara rohani, orang tua wajib untuk mendidik dan

membimbing anaknya untuk patuh dan taat kepada peraturan - peraturan Tuhan.

         Bagi orang - orang tua Kristen, tanggung jawab mereka secara rohani

adalah menjadikan anaknya sesuai dengan kehendak Tuhan, dalam artian tetap

berada di dalam jalan Tuhan, serta mengikuti ajaran - ajaran Tuhan, untuk taat

dan setia kepada Tuhan. Ketika datang ke dunia, seorang anak dilukiskan seperti

kertas putih yang belum terdapat goresan di dalamnya. Selanjutnya, orang

tualah yang akan memberi goresan - goresan di dalamnya. Jika goresan dari

orang tua itu baik, maka jadilah baik anak tersebut, dan jikalau orang tuanya

menggoreskan hal - hal yang buruk, maka jadilah buruk anak tersebut.

         Glenn Clark adalah salah seorang guru terbesar dari abad
         lampau dalam hal kehidupan doa. Ia berkata bahwa setiap
         anak datang ke dalam dunia dengan membawa “ surat
         dalam amplop yang tertutup. “ Setiap manusia mempunyai
         tugas tertentu yang harus dipenuhi ... Itu berarti bahwa
         orang tua harus membimbing anak mereka masing -
         masing di bawah pimpinan Roh Kudus yang penuh daya
         cipta itu. Semua orang tua harus menyesuaikan diri
         kepada kenyataan yang kadang - kadang sukar disadari,
         yaitu bahwa setiap anak adalah berlainan, dan sementara
         mereka bertumbuh menjadi dewasa, anak - anak itu makin hari
41
  Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (
Jakarta : Balai Pustaka, 2001 ), hlm 536
                                                                                      43

         makin berbeda kehidupannya ... Orang tua harus waspada
         jangan sampai mereka memaksakan keinginan dan cita -
         citanya sendiri ke atas salah seorang anaknya …” 42

Keluarga Kristen yang sehat mampu membimbing anaknya untuk hidup sesuai

dengan jalan Tuhan, dengan menjadikan mereka seturut dengan bimbingan dari

Roh Kudus. Jadi jika anak itu sehat rohani dan mentalnya dalam keluarga, maka

secara jasmani anak itu akan bertumbuh dan berkembang dengan sehat pula.

Jika seorang anak biasa melihat orang tua yang bertanggung jawab, maka secara

otomatis anak tersebut akan timbul pula rasa tanggung jawab di dalam dirinya.

          Di samping itu, seorang anak juga perlu dilatih untuk menjadi dirinya

sendiri. Biarkan anak tersebut berkreasi untuk menjadi seperti apa yang dia

inginkan, selain tetap berada di dalam pengawasan orang tua. Perhatian dari

orang tua inilah yang sangat diharapkan oleh seorang anak. Lewat perhatian

orang tua, anak - anak dapat merasakan kasih sayang dari sang orang tua

kepadanya. Mereka merasa aman untuk bermain dan belajar jika mendapat

perhatian dari orang tua.

         Anak - anak jalanan juga mempunyai keluarga yang sama dengan anak

- anak pada umumnya. Mereka juga manusia biasa yang membutuhkan kasih

sayang dari orang tua dan keluarga. Namun, harapan mereka untuk mendapat

kasih sayang dari orang tua dan keluarga telah pupus. Banyak dari anak - anak

jalanan yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua dan keluarga,

dikarenakan ada ketidak harmonisan dalam keluarga mereka. Banyak masalah

yang terjadi dalam keluarga mereka yang mengakibatkan mereka tidak dapat


42
  Larry Christenson, Keluarga Kristen, ( Semarang : Yayasan Persekutun Betania, 1988 ),
hlm 63
                                                                            44

merasakan kasih sayang yang mereka perlukan. Menurut hasil penelitian, orang

yang menekuni “ profesi “ sebagai anak jalanan 80 persen karena masalah

ketidak harmonisan dalam keluarga, dan 20 persen karena masalah ekonomi.43

Permasalahan keluaraga yang terjadi antara lain :

      -   Orang tua bercerai

            Perceraian adalah hal yang tidak seharusnya terjadi dalam keluarga.

Sesuatu yang telah disatukan kemudian dipisahkan lagi merupakan hal yang

menyakitkan. Perceraian mungkin adalah jalan yang terbaik bagi orang tua,

namun tidaklah demikian dengan yang dirasakan oleh anaknya. Anak dari orang

tua yang bercerai sudah menganggap bahwa keluarganya hancur. Ia akan

menjalani kehidupannya hanya dengan satu orang tua saja. Hal ini merupakan

tekanan psikologis yang berat bagi anak tersebut. Sekalipun hubungan antara

ayah dan ibu tetap buat si anak, namun tetap ada jarak yang memisahkan dan

mengharuskan adanya suatu penyesuaian lagi kepada orang tuanya.

             Perceraian adalah suatu perubahan yang bersifat tetap dalam
             hubungan keluarga ( kecuali bila orang tua itu kembali
             saling menikah ). Meskipun penyesuaian diri yang
             pertama sudah selesai, banyak peristiwa baru yang
             mengharuskan kita untuk terus berurusan dengan
             kenyataan tentang keluarga yang hancur……Walaupun
             ketegangan sudah reda, anak - anak akan tetap merasa
             kehilangan orang tua yang tidak ada lagi itu. Meskipun
             tetap masih ada hubungan, saat pertemuan yang baru itu
             terasa jauh berbeda daripada interaksi spontan waktu
             masih tinggal bersama. 44




43
     Saratri Wilonoyudho, Op. Cit, hlm 1
44
     Pola Hidup Kristen, ( Malang : Gandum Mas, 2002 ), hlm 433
                                                                               45

Perceraian orang tua sedikit banyak akan mengubah kehidupan anak – anak.

Salah satu penyebab mengapa anak - anak di usia sekolah sudah turun ke jalan

adalah perceraian orang tua.

        Seorang anak jalanan di terminal Kartasura yang berusia 15 tahun

memaparkan kepada penulis tentang penyebabnya mengapa dia hidup dan

mencari nafkah di jalan. Sebut saja Udin ( bukan nama sebenarnya ), ia mulai

turun ke jalan di usia 10 tahun. Sejak kecil ia dibesarkan di keluarga yang

bahagia. Ia dan dua orang adiknya yang masih kecil hidup damai dengan orang

tuanya. Namun, sejak orang tuanya bercerai ia sering dimarahi oleh bapaknya,

karena ia tinggal dengan bapaknya. Ia memaparkan Saya sering dimarahi bapak

tidak hanya dengan suara tetapi juga digebugi pakai sapu lidi sampai merah

kaki saya. Sejak saat itu ia nekat pergi dari rumah dan lari ke jalan. Sampai saat

ini, ia menikmati masa mudanya dengan hidup sebagai anak jalanan. Contoh

tersebut di atas merupakan salah satu dampak dari perceraian orang tua yang

mengakibatkan anaknya hidup dan lari dari rumah untuk pergi dan hidup di

jalan jauh dari orang tuanya. Perceraian merupakan salah satu penyebab anak -

anak jalanan memilih hidup dan bekerja di jalanan.

   -   Kurangnya perhatian dari orang tua

        Perhatian adalah hal yang sangat diperlukan oleh anak - anak dari

orang tuanya. Melalui perhatian dari orang tuanya, anak - anak akan merasa

aman melakukan aktifitasnya, baik dalam bermain dan belajar. Bahkan, ketika

anak - anak merasa tidak diperhatikan oleh orang tuanya, mereka akan

melakukan berbagai macam cara untuk mendapat perhatian tersebut. Ibu

Singgih D. Gunarsa dalam bukunya Psikologi Anak Bermasalah menyatakan,
                                                                                 46

          Anak ingin mendapat perhatian, khususnya dari orang -
          orang yang terdekat, yakni orang tua anak. Padahal
          orang tua yang harus mengatur rumah tangga,
          membesarkan anak - anak, mencari nafkah untuk
          memenuhi segala kebutuhan keluarganya, sudah sangat
          sibuk. Perhatian khusus terhadap setiap anak sering
          terdesak oleh kebutuhan akan waktu untuk menjalankan
          “seribu satu” tugas – tugas rutin sehari - hari. Akhirnya
          ada anak – anak yang justru sedang menginginkan
          perhatian itu, mencari cara - cara untuk mendapat
          perhatian. 45


Melalui perhatian dari orang tua kepada anaknya, maka anak – anaknya akan

merasa dihargai dan merasa orang tuanya adalah orang tua yang terbaik.

         Anak - anak jalanan merelakan dirinya untuk hidup jauh dari orang

tuanya, jauh dari kasih sayang orang tuanya. Mereka rela meninggalkan rumah

dikarenakan mereka tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang

mereka perlukan yang juga merupakan tanggung jawab dari orang tuanya.

Mereka lebih menikmati hidup di tengah - tengah teman – temannya, karena

dengan demikian mereka mendapat perhatian dan kasih sayang yang berasal

dari teman - temannya. Jika kasih sayang dan perhatian tersebut telah mereka

dapatkan, maka yang terjadi selanjutnya mereka enggan pulang ke rumah, dan

memilih untuk hidup di tengah teman - temannya. Faktor perhatian inilah yang

seringkali dilupakan oleh para orang tua, sehingga mengakibatkan anaknya

tidak betah di rumah dan pada akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah dan

memilih untuk hidup di jalanan.




45
  Ny. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Anak Bermasalah, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia,
2001 ), hlm 30
                                                                                        47

     2. Faktor Ekonomi

         Masalah ekonomi tidak pernah dapat lepas dari kehidupan manusia.

Setiap hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia tidaklah lepas dengan apa

yang disebut ekonomi. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan arti kata

ekonomi sebagai berikut.

          (1) Ilmu mengenai asas – asas produksi, distribusi, dan
         pemakaian barang - barang serta kekayaan, (2) Pemanfaatan
         uang, tenaga, waktu, yang berharga, (3) Tata kehidupan
         perekonomian ( Suatu Negara ), (4) Urusan keuangan rumah
         tangga ( organisasi, negara ) ” 46


Sedangkan Pdt.Judo Poerwowidagdo, mendefinisikan arti kata dari ekonomi

secara lebih specifik yaitu,

         Istilah “ ekonomi “ berasal dari dua kata Yunani : oikos (
          ) dan nomos (  ) Oikos berarti “ rumah “ atau
         “ rumah tangga “, dan nomos yang bararti “ aturan “ atau “
         adat “ ( tata cara ). Oikonomia berarti “ penatalayanan atau
         Stewardship, atau menajemen suatu rumah tangga. Seorang
         oikomonos      adalah    seorang  manajes     atau   seorang
         penatalayanan bagi suatu rumah tangga. Jadi pada awalnya,
         ekonomi berarti manajemen, tata cara mengatur barang -
         barang dalam rumah tangga, bagaimana bahan - bahan
         makanan dan lain - lain itu diproduksi, dibagi - bagikan,
         dikonsumsi atau digunakan demi kesejahteraan anggota
         rumah tangga. 47


Dari definisi di atas, dapat diketahui bahwa masalah ekonomi tidak dapat lepas

dari kehidupan manusia. Manusia membutuhkan makanan, minuman, pakaian,

pendidikan dan juga hiburan. Itu semua tidaklah secara cuma - cuma

didapatkan,     namun     membutuhkan        adanya     uang     untuk    membeli      dan


46
   Zain – Badudu, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1994 ),
Hlm 588
47
   Robert Setio, Teologi Ekonomi, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002 ), Hlm 33
                                                                          48

memperolehnya. Jika tidak ada uang, maka makanan dan barang – barang yang

lain tidak dapat diperolehnya. Oleh sebab itu, tidaklah heran bila ada banyak

orang yang rela melakukan apapun untuk memperoleh uang, guna mencukupi

kebutuhannya.

        Krisis ekonomi yang terjadi di Bangsa Indonesia sangatlah besar

dampaknya bagi masyarakat. Golongan atas di Bangsa Indonesia merasakan

dampaknya dengan tingginya nilai produksi dan melemahnya nilai tukar rupiah,

apalagi dengan golongan kecil di bangsa ini. Masyarakat kecil sangatlah

merasakan dampak dari krisis tersebut. Banyak para buruh yang kehilangan

pekerjaan, sehingga banyaklah orang - orang yang menganggur tanpa ada

pekerjaan yang dapat mereka kerjakan. Di samping itu, anak - anak sekolah

mulai merasakan dampak dari orang tua mereka yang tidak mempunyai

pekerjaan lagi, sehingga mereka dengan terpaksa putus sekolah dikarenakan

tidak ada biaya lagi untuk melanjutkan sekolah.

        Pada keselanjutannya, anak - anak yang putus sekolah dengan terpaksa

membantu orang tuanya untuk mencari uang guna melanjutkan kehidupannya.

Anak - anak tersebut mulai mencari uang dengan turun ke jalan yaitu dengan

cara mengamen, berjualan, dan juga meminta - minta. Tidak dapat disangkal

lagi jikalau jumlah anak - anak jalanan mengalami peningkatan yang sangat

pesat dikarenakan oleh permasalahan tersebut. Hal senada juga diungkapkan

oleh Wahju Budi Santoso dalam makalahnya, yaitu :


         Krisis moneter yang berlanjut dengan krisis ekonomi,
         kemudian    meluas   menjadi    krisis  multidimensi,
         mengakibatkan semakin banyak anak-anak usia sekolah
         terkena dampaknya. Banyak diantara mereka tidak
                                                                            49

             bersekolah lagi, karena orang tua mereka terkena pemutusan
             hubungan kerja. Meskipun krisis ekonomi bukan satu-
             satunya penyebab terbengkalainya pendidikan anak-anak usia
             sekolah, namun ada korelasi kuat semakin luasnya krisis
             ekonomi diikuti pula oleh makin banyaknya anak-anak tidak
             berada di ruang sekolah lagi. Pada jam-jam sekolah, mereka
             berhamburan di mana-mana, bahkan di jalanan. Tidak bisa
             tidak, angka anak jalanan meningkat tajam. 48



Anak - anak tersebut pada dasarnya tidak dapat disalahkan, jika mereka turun ke

jalan dengan dilatar belakangi oleh ketidak mampuan orang tua untuk mencari

uang guna mencukupi kebutuhan keluarganya. Meskipun mereka tidak mau

melakukan pekerjaan tersebut, namun mau tidak mau mereka harus ikut

mengambil bagian untuk bekerja mencari uang bagi keluarganya.


            Anak - anak jalanan yang bekerja guna membantu orang tuanya

mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga bukanlah anak lelaki saja, namun anak

- anak perempuan juga ikut ambil bagian untuk bekerja di jalanan. Bahkan

menurut survei,


             tidak sedikit anak perempuan yang berumur antara 4
             sampai dengan 18 tahun, berada di jalanan untuk hidup
             bebas, lari dari keluarga/rumah atau untuk mencari tambahan
             pendapatan keluarga dengan menjadi pengamen, pemulung,
             pengasong, pengemis, dan lain-lain. Meskipun demikian
             mereka bukan penjaja seks jalanan. 49




48
     Wahju Budi Santoso, Op. Cit, hlm 1
49
     Ibid, hlm 1
                                                                           50

Para anak perempuan juga mempunyai tanggung jawab yang sama dengan para

lelaki untuk bekerja dan membantu orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan

keluarganya. Di samping untuk membantu orang tua, berdasarkan penelitian

sebagian besar (41,9%) anak perempuan turun ke jalanan untuk membantu

menambah pendapatan orang tua baik atas kesadaran sendiri maupun disuruh

orang tua.50 Selain dari pada itu, adanya anggapan bahwa anak perempuan

harus mengalah dengan saudara laki – lakinya serta lebih banyak berkorban

untuk keluarga, merupakan faktor pendorong anak perempuan banyak turun ke

jalan. 51


            Jalanan bukanlah tempat yang aman dan nyaman bagi seorang

perempuan. Anak jalanan perempuan pada usia kurang dari 7 tahun jumlahnya

tiga kali lipat dibanding dengan anak jalanan laki - laki.52 Namun, semakin

bertambah umurnya anak jalanan laki - laki menjadi dua kali lipat lebih banyak

jumlahnya dibanding dengan anak jalanan perempuan. Dari perbedaan jumlah

yang sangat mencolok ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa jalanan

bukanlah tempat yang cocok bagi kaum perempuan. Jika jalanan merupakan

tempat yang aman dan nyaman bagi kaum wanita, maka jumlah anak jalanan

perempuan tidak akan mengalami penurunan jumlahnya sesudah bertambah

usianya. Anak jalanan perempuan yang tetap hidup di jalan meskipun usianya

sudah beranjak remaja, maka ia akan mengalami suatu kondisi yang sangat

rentan bagi dirinya sendiri. Ada banyak kekerasan dan kejahatan yang sewaktu -


50
   Ibid, hlm 1
51
   Ibid, hlm 1
52
   Ibid, hlm 2
                                                                              51

waktu dapat menghampiri dirinya. Oleh sebab itu, banyak anak jalanan

perempuan memilih untuk tidak hidup di jalanan setelah bertambah usianya.

Namun, mereka berusaha mencari pekerjaan yang lain guna membantu orang

tuanya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Pekerjaan tersebut antara lain

bekerja di warung - warung makan, atau berjualan menetap di suatu tempat.

Persoalan ekonomi dan anak jalanan tidak dapat dipisahkan dengan mudah,

karena jika ekonomi mengalami penurunan, maka anak jalanan semakin

meningkat, dan juga sebaliknya.


   3. Faktor Sosial


        Manusia adalah mahluk sosial, oleh sebab itu seorang manusia tidak

dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain. Meskipun orang tersebut pintar, kaya,

dan menjadi orang terkenal sekalipun, pasti membutuhkan orang lain untuk

mendukung dirinya dalam kelangsungan hidupnya. Mungkin ada orang yang

berkata ia tidak butuh orang lain, namun jika diselidiki lebih jauh, maka iapun

membutuhkan orang lain dalam kelangsungan hidupnya. Bukti kongkretnya

yaitu, ia menggunakan uangnya untuk membeli makanan, sedangkan makanan

tersebut adalah produksi dari orang lain juga. Jadi dapat dikatakan mustahil bila

seorang manusia dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain.


        Pada keselanjutannya, manusia cenderung membentuk kelompok -

kelompok sebagai sarana untuk mewujudkan predikat sebagai mahluk sosial.

Di samping itu, dalam hal pekerjaan, seseorang cenderung akan berteman atau

berkelompok dengan orang - orang yang seprofesi dengannya. Hal ini dilakukan
                                                                          52

untuk menambah pengalaman kerja dan juga untuk menambah relasi demi

kepentingan pekerjaannya tersebut. Namun, tidak sedikit juga orang - orang

yang berteman dan bergaul dengan orang - orang yang tidak seprofesi

dengannya. Hal tersebut dilakukan karena ingin memperluas jaringan

pertemanan dan juga untuk menambah pengetahuan di luar profesinya.


        Pada dasarnya, pergaulan itu baik dan sangat berguna untuk menambah

pengetahuan dan menambah banyak sahabat. Namun, tidak semua pergaulan

dapat membawa dampak yang positif, ada juga pergaulan yang membawa

dampak yang negatif. Sebagai contoh, seseorang yang mempunyai latar

belakang baik akan menjadi nakal bila ia bergaul dengan orang - orang yang

nakal. Alkitab juga memberi pernyataan yang serupa tentang hal ini. Dalam I

Korintus 15 : 35 dituliskan bahwa, ” Janganlah kamu sesat, pergaulan yang

buruk merusakkan kebiasaan yang baik. “ Dari pernyataan tersebut diketahui

bahwa lingkungan dan teman menentukan kehidupan yang akan datang.


        Lingkungan dan teman adalah salah satu faktor yang mendukung

adanya anak - anak jalanan. Pergaulan yang salah mengakibatkan mereka turun

ke jalan. Pada awalnya, mereka hanya berteman dengan teman - teman yang

biasa hidup di jalanan. Namun, akibat dari pertemanan dan dukungan dari teman

– temannya, mengakibatkan anak - anak yang tidak terlibat di jalanan menjadi

terlibat langsung di jalanan. Muhsin Kalida menyatakan bahwa, faktor teman

yang mempengaruhi anak menjadi anak jalanan adalah adanya dukungan sosial
                                                                               53

                                       53
dari teman atau bujuk rayu teman.           Bujukan dan rayuan dari teman -

temannya inilah yang seringkali menarik mereka untuk ikut terjun ke jalanan.


          Anak - anak yang biasanya terpengaruh akibat dari lingkungan dan

teman - temannya adalah anak - anak yang hidup di lingkungan kumuh dan jauh

dari orang tua atau dari desa ke kota untuk mengadu nasib di kota.


           Hasil-hasil studi terdahulu dari Budiartati (1992) juga
           menunjukkan gejala sama. Anak-anak yang dibesarkan di
           lingkungan kumuh, tanpa bimbingan orangtua, lingkungan
           yang keras dan kasar, akan membentuk watak indolen, pasif,
           inferior, tercekam stigma mentalitas rendah diri, pasif,
           agresif, eksploitatif, dan mudah protes atau marah. 54



Di samping itu, Muhsin Kalida menandaskan lagi mengenai hal ini,

yaitu :


           Fenomena ini menunjukan bahwa faktor bi‟ah (
           lingkungan, seperti teman ) juga sangat penting karena
           bisa mempengaruhi anak - anak untuk turun ke jalanan.
           Biasanya hal ini terjadi karena iming - iming
           penghasilan yang menjanjikan jika mengamen di
           jalanan…..Dan memang ada juga yang tujuan pokok ke
           kota adalah mengadu nasib untuk mencari nafkah, tetapi
           melihat lingkungan kos dan teman sekamarnya
           mempunyai      penghasilan  lebih  dibandingkan    kuli
           bangunan hanya dengan mengamen. Maka kemudian
           merangkap menjadi pengamen di malam hari menjadi
           pilihannya. 55




53
   Muhsin Kalida, Op.Cit. hlm 21
54
   Saratri Wilonoyudho,Op.Cit, hlm 3
55
   Muhsin Kalida,Op.Cit, hlm 46 - 47
                                                                            54

Faktor teman dan lingkungan seringkali tidak disadari menjadi salah satu faktor

pendukung turunnya anak - anak ke jalanan. Berawal dari hanya sekedar iseng

akhirnya menjadi kesengsem. Itulah yang biasanya terjadi pada anak - anak

yang turun ke jalan. Pada awalnya hanya main - main, kemudian ikut turun ke

jalan dan lama - kelamaan akan menjadi kebiasaan.




B. CORAK KEHIDUPAN ANAK JALANAN


        Hidup di jalanan bukanlah suatu pilihan yang menyenangkan. Pada

dasarnya, tidak ada orang yang mau untuk hidup dan bekerja di jalanan. Mereka

harus mengalami banyak tantangan dan hambatan baik dari pemerintah maupun

dari masyarakat umum. Adapun hal - hal yang biasa terjadi dan ada di tengah

anak - anak jalanan adalah sebagai berikut :


1. Kekerasan


        Kekerasan adalah suatu situasi yang mau tidak mau harus dihadapi oleh

anak - anak jalanan. Ketika mereka terjun ke jalanan, maka kekerasan inilah

yang langsung menyambut mereka. Memang tidak bisa disangkali, jika

kekerasan akrab dengan kehidupan di jalanan. Ini dikarenakan jalanan menjadi

salah satu tempat pelarian bagi anak - anak yang broken home, tidak puas

dengan orang tua maupun akibat dari kemiskinan. Jadi secara tidak langsung di

jalanan terdapat masalah - masalah yang berkumpul menjadi satu. Belum lagi

ditambah dengan masalah perut yang harus diisi setiap harinya. Muhsin Kalida
                                                                                 55

menyebutkan bahwa jalanan adalah anonim, sama dengan hutan rimba dan

disitu ada “ tarzan kota “. 56


             Kekerasan yang terjadi di jalanan bukan saja berbentuk kekerasan fisik,

melainkan juga dalam hal kekerasan seksual. Kekerasan fisik biasanya terjadi

dari pihak para preman yang meminta uang dengan paksa kepada para anak

jalanan. Jika tidak diber uang, maka pukulan dan makian siap diterima oleh

anak jalanan tersebut.


              Selain itu, kekerasan yang mereka rasakan juga bisa
              diakibatkan dari program pembangunan yang dicanangkan
              oleh pemerintah. Pembangunan pemerintah tidak jarang
              menimbulkan kesan yang sering menguat yaitu garuk
              mereka!! Maka terjadilah kekerasan lagi, garukan terhadap
              anak - anak jalanan. Mereka disingkirkan dan dibuang di
              wilayah lain, tanpa diimbangi dengan pemberdayaan yang
              lain. 57

Dari hal tersebut di atas, nampak bahwa program pemerintah tidak dapat

mendarat tepat pada sasaran, tetapi justru menimbulkan kekerasan dalam diri

anak jalanan. Tidak jarang juga petugas pemerintah justru menjadi musuh bagi

para anak jalanan, bukan sebagai sahabat bagi mereka.


             Kekerasan fisik adalah sebagian kecil yang dialami oleh anak jalanan.

Jika kekerasan fisik sering diterima oleh anak laki – laki, maka kekerasan

seksuallah yang sering diterima oleh anak - anak perempuan.


             Sebagai perempuan, risiko pelecehan dan kekerasan seksual
             tidak dapat dihindari, karena di kehidupan jalanan tak ubahnya
             seperti hukum rimba; yang kuat, dia berkuasa. Sebuah

56
     Ibid, hlm. 55
57
     Ibid, hlm 74
                                                                               56

            penelitian mengungkapkan bahwa anak jalanan (laki-laki
            maupun perempuan) paling lama hanya dua hari pertama
            selamat dari pelecehan seksual. Jumlah anak jalanan perempuan
            yang mendapatkan risiko pelecehan seksual, masih menurut
            penelitian di atas sebanyak 3,7%. Suatu angka penderitaan yang
            cukup tinggi. 58

Kekerasan seksual inilah yang seringkali menimpa para anak jalanan

perempuan. Hasil penelitian Pusat Studi Wanita Universitas Diponegoro

(Undip), Semarang, sebagaimana dilaporkan Masrukhi (2003) menunjukkan,


              … sekitar 28 persen anak perempuan di jalanan mengalami
              kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, penjerumusan ke
              prostitusi, pembuatan pornografi, serta diperdagangkan untuk
              keperluan kepuasan seksual. Angka tersebut memperkuat
              temuan Yayasan Duta Awan tahun 1998 yang mengatakan,
              dari 500 anak jalanan yang disurvei di Semarang, 12,9 persen
              di antaranya pernah melakukan hubungan seksual lebih dari
              delapan kali per bulan, 48,4 persen melakukannya tetapi tidak
              rutin, 6,5 persen melakukannya satu kali per bulan, dan 16,2
              persen melakukannya 2-3 kali per bulan dengan pasangan
              berbeda. 59

Dari survei tersebut di atas, nampak dengan jelas bahwa kekerasan seksual

berkaitan erat dengan kehidupan anak jalanan perempuan.


            Kehidupan anak jalanan disertai dengan kekerasan seksual yang terjadi,

merupakan suatu hal yang sangat menyedihkan.Kekerasan sex tersebut tidak

hanya terjadi pada anak - anak di usia remaja, namun yang lebih

memprihatinkan yaitu bahwa anak - anak yang masih berusia 10 tahunpun telah

melakukan hubungan seksual. Pengetahuan seks yang mereka ketahui dari orang

- orang yang berada di sekitarnya uga dari film - film porno yang mereka lihat.



58
     Wahju Budi Santoso, Op.Cit, hlm. 2
59
     Saratri Wilonoyudho, Op.Cit, hlm. 2
                                                                             57

             Selama ini anak jalanan memperoleh "pengetahuan" seksnya
             dari teman sebaya atau anak jalanan yang lebih tua, baik dari
             membaca buku porno, menonton film/VCD porno atau
             mengintip orang yang sedang melakukan hubungan seksual. 60

            Pengetahuan yang mereka peroleh dengan mudah tersebut, memacu

mereka untuk melakukan hubungan seks. Akibatnya, anak - anak jalanan

perempuan menjadi korbannya. Hasil penelitian Depsos cukup mengejutkan,


              Bahwa mereka telah melakukan hubungan seks berumur
              antara 10-18 tahun, berhubungan dengan sesama teman,
              bertempat di bangunan-bangunan kosong, gerbong kereta api,
              dengan pasangan tetap atau berganti pasangan. Perilaku
              tersebut bukan untuk mencari uang, melainkan karena
              kehidupan yang bebas. Pada saat berganti-ganti,
              pasangannyapun orang yang tidak jauh dengannya; sudah lama
              dikenal dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun
              bebas, mereka masih juga tidak asal berganti pasangan. 61

Kekerasan seksual yang dialami oleh para anak jalanan perempuan, pada

awalnya merupakan siksaan bagi mereka, namun lama kelamaan hal tersebut

merupakan kebiasaan yang mereka lakukan, sampai merekapun menikmatinya.

Hal ini dapat dikatakan suatu hal yang tidak wajar, namun dikarenakan mereka

sudah terbiasa dengan realita yang dihadapinya setiap hari, maka itupun menjadi

kebiasaan bagi anak jalanan.




60
     Ibid, hlm. 3
61
     Wahju Budi Santoso, Op.Cit, hlm. 3
                                                                                    58

2. Gaya Pakaian Dan Dandanan Tubuh


         Jalanan adalah tempat berkumpulnya orang - orang dari berbagai

macam latar belakang. Dari berbagai latar belakang tersebut, mereka

selanjutnya berusaha menciptakan suatu hal yang baru, yang dapat menjadi ciri

khas mereka, yang bertujuan untuk membedakan mereka dengan orang lain.


         Perbedaan tersebut diawali dengan merubah nama aslinya dengan

memakai nama yang lebih bagus atau yang lebih nge-trend.


          Ketika pertama kali hadir di jalan, seorang anak menjadi
          anonim. Ia tidak mengenal dan dikenal oleh siapapun. Selain
          itu juga ada perasan kuatir bila orang lain mengetahui siapa
          dirinya. Tidaklah mengherankan bila strategi yang kemudian
          digunakan adalah dengan menganti nama. Hampir semua anak
          yang saya kenal mengganti nama. Hal ini dilakukan untuk
          menjaga jarak dengan masa lalunya sekaligus masuk dalam
          masa kekiniannya.Anak-anak mulai memasuki dunia jalanan
          dengan nama barunya. Anak-anak yang berasal dari daerah
          pedesaan menggganti dengan nama-nama yang dianggap
          sebagai nama "modern" yang diambil dari bintang sinetron
          atau yang yang biasa didengarnya misalnya dengan nama
          Andi, Roy dan semacamnya. 62

Pengertian nama ini dimaksudkan sebagai usaha untuk meninggalkan masa

lalunya, dengan tujuan agar tidak dikenal lagi oleh orang - orang pada masa

lalunya. Di samping itu, ia juga melakukannya dengan tujuan sebagai proses

untuk memasuki dunia barunya.




62
 Kirik Ertanto, Anak Jalanan dan Subkultur: Sebuah Pemikiran Awal, ( Yogyakarta :
KUNCI, 2000 ),hlm 4
                                                                              59

             Pergantian nama merupakan langkah awal bagi anak - anak yang

pertama kali ada di jalanan. Pada bagian selanjutnya, anak - anak itu akan

menjadikan tubuhnya sebagai obyek untuk dibentuk dan dihiasi sedemikian

rupa, sehingga dapat menjadi ciri khas bahwa mereka anak jalanan. Jika orang -

orang pada umumnya berpenampilan bersih, maka anak - anak jalanan

berpenampilan sebaliknya.


              Mereka kemudian lebih banyak mengadopsi cara berpakaian
              dari pengamen dewasa, turis asing atau dari film atau majalah
              yang dilihat. Salah satu yang cukup populer adalah gaya rasta
              yang disimbolkan melalui warna merah kuning dan biro
              dengan simbol daun ganja. Dan simbol itu ditampilkan di tato,
              di pakaian dan lainnya. Kata mereka rasta cocok dengan anak
              jalanan. Karena jalanan juga menciptakan orang kaya Bob
              Marley. Nongkrong di jalan, menghisap ganja, main gitar.
              Anak jalanan pengin seperti dia. Bukanlah satu hal
              mengherankan beberapa diantara mereka juga menggunakan
              model rambut dreadlocks. Di Indonesia, rambut panjang
              merupakan kebalikan dari model rambut para orang tua. Tidak
              banyak orang tua yang berambut gondrong. Gondrong
              merupakan citra anak muda. Selain itu dari pihak kemanan
              gondrong sering diasumsikan sebagai preman. Bila tidak
              gondrong, sebagian diantaranya justru memilih melicin
              tandaskan rambutnya. Artinya dari pilihan atas model
              rambutnya mereka tidak pernah sama dengan yang berlaku
              dalam masyarakat umum, potongan rambut yang rapi. Dalam
              kata lain untuk menunjukkan bahwa merekalah yang
              mengontrol urusan rambut. 63



Gaya pakaian dan model rambut di atas merupakan model yang ditiru oleh anak

jalanan pada umumnya.




63
     Ibid, hlm. 6
                                                                                  60

            Selain rambut dan gaya pakaian, tattoo merupakan bentuk lain dari

cara menampilkan diri. Dengan tubuh bertatto, maka anak - anak tersebut

menganggap bahwa dirinya lebih jantan dibanding dengan orang lain. Selain

tattoo, anting - anting merupakan salah satu atribut yang biasa dikenakan oleh

anak - anak jalanan. Meski di kalangan umum tattoo dan anting - anting

disamakan dengan preman, namun di kalangan anak jalanan, memiliki makna

yang berbeda.


              Beberapa anak mengatakan bahwa tatto merupakan penanda
              dari "show of force" sekaligus lambang "keras" dan jantan.
              Sebagian dari mereka membuat tatto sebagai satu tanda untuk
              menyimpan ingatan tertentu. Beberapa anak membuat tatto
              sebagai satu inggatan atas peristiwa perginya seorang volunter
              ke     negara     asalnya     dan    juga    peristiwa      lain.
              Dalam beberapa hal bisa dikatakan bahwa kecenderungan
              berpakaian atau mentato tubuhnya juga menindik tubuhnya
              untuk dipasangi anting-anting baik di telingga, alis mata, pusar
              atau tempat lain tidak bisa dipisahkan dengan relasinya dengan
              cara penampilan yang normatif. 64

Gaya pakaian dan dandanan tubuh tersebut secara tidak langsung adalah bukti

perbedaan mereka dengan orang - orang pada umumnya.Dar perbedaan tersebut

nampak bahwa para anak jalanan membuat batas - batas antara anak jalanan

dengan masyarakat umum.


3. Minuman Keras Dan Narkoba


            Dunia jalanan adalah sebuah wilayah yang sangat terbuka sebagai

tempat tujuan untuk memecahkan masalah. Misalnya korban dari sebuah

kemiskinan atau disfungsi keluarga. Anak - anak sering menjadi korban dari


64
     Ibid, hlm 6
                                                                              61

kedua masalah tersebut, dan tempat pelarian yang utama adalah jalanan. Jadi

secara tidak langsung jalanan merupakan alternatif yang paling gampang

sebagai tempat tujuan bagi mereka yang menghadapi persoalan, tetapi tidak

mampu untuk menyelesaikannya.


             Anak - anak jalanan tersebut tidak berusaha untuk dapat lepas dari

masalah tersebut, tetapi mereka lari dari masalah, tanpa ada penyelesaian

dengan jelas. Akibat dari permasalahan tersebut, maka secara otomatis mereka

akan mencari cara untuk melupakan masalah tersebut. Cara yang dipakai yaitu

dengan cara meminum minuman beralkohol atau mengkonsumsi narkoba.


              Menenggak minuman keras dan pil adalah satu kebiasaan yang
              dilakukan selama di jalan. Alasan yang diberikan adalah untuk
              melupakan masalah. Beberapa studi mengenai anak jalanan
              secara gamblang menunjukkan berbagai tekanan yang dialami
              oleh anak jalanan. Secara ekonomi mereka harus bekerja
              dalam jam kerja yang cukup panjang, secara sosial ia
              diletakkan sebagai sampah masyarakat, secara hukum
              keberadaannya melanggar pasal 505 KUHP. Bukanlah satu hal
              yang mengadaada bila mereka merasa tidak pernah merasa
              (ny)aman dalam kehidupan sehariharinya. 65

Dari hal tersebut di atas, nampak bahwa tekanan - tekanan hidup yang dialami

oleh para anak jalanan begitu berat, oleh sebab itu minuman keras dan narkoba

dijadikan sebagai alat untuk melupakan masalah.


             Minuman keras bukan hanya dijadikan alat untuk melupakan masalah,

tetapi juga dijadikan sebagai alat untuk menghilangkan rasa malu. D ( 15 ),

seorang pengamen yang biasa mangkal di terminal Kartasura memberi

penjelasan bahwa sebelum ia bekerja, ia meminum minuman keras terlebih

65
     Ibid, hlm. 6
                                                                             62

dahulu untuk menghilangkan rasa malu, karena ia sebetulnya gengsi kalau ia

harus menjadi pengamen. Di samping itu, ia juga berusaha membuat takut orang

- orang yang dimintainya uang sewaktu mengamen, dikarenakan aroma dari

alkohol tersebut. Dengan demikian, selain untuk mengatasi masalah, minuman

keras dijadikan alat untuk mencapai kondisi nyaman.


4. Musik


             Musik adalah suatu ekspresi jiwa. Berbagai macam jenis musik muncul

dimulai dari ekspresi jiwa dari para penciptanya. Seseorang yang sedang

mengalami keadaan sedih, cenderung akan mendengarkan musik - musik yang

berirama sedih, dan juga sebaliknya. Demikian halnya dengan para pencipta

lagu. Seseorang akan menciptakan sebuah lagu menurut keadaan jiwanya, sedih

atau senang.


             Musik dan anak jalanan merupakan suatu hubungan yang sangat erat.

Hal yang paling sering dilakukan oleh anak jalanan adalah mengamen. Untuk

dapat mengamen, membutuhkan unsur musik ( gitar, chuk, kentrung, tepukan

tangan ) dan vokal, yaitu suara manusia. Melalui musik, anak jalanan dapat

mencukupi kebutuhannya sehari - ari.


              Anak-anak juga menggunakan media musik untuk meciptakan
              ruang bagi dirinya untuk bersuara. Musik digunakan sebagai
              alat untuk memberdayakan dirinya. Selain untuk mencari
              makan, bermain musik juga menjadi alat untuk membangun
              solidaritas. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu mereka
              memainkan musik secara bersama-sama. 66


66
     Ibid, hlm. 7
                                                                              63

Melalui musik anak - anak jalanan tersebut berusaha membangun dirinya sendiri

beserta dengan komunitasnya.


        Bagi anak jalanan, musik juga digunakan sebagai alat untuk

berkomunikasi dengan pemerintah dan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Melalui musik, anak - anak tersebut dapat dengan bebas mengkritik pemerintah

maupun masyarakat yang ada di sekitarnya. Bagi para seniman, hal ini

merupakan sebuah daya tarik tersendiri. Para seniman tersebut tidak melihat

kritikan tersebut, melainkan melihat kreatifitas dari anak - anak jalanan. Adapun

seniman yang tertarik pada anak jalanan adalah Iwan Fals, yang menyebut anak

jalanan sebagai Bunga Trotoar dan Guruh SoekarnoPutra, yang menyebut

dengan Kembang Metropolitan. Di samping para seniman di atas, para

pemerhati anak jalanan juga memperhatikan kreatifitas dari anak jalanan

tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, munculah pagelaran - pagelaran

musik yang bertajuk musik dan jalanan. Pagelaran itu diadakan di berbagai kota

di Indonesia, misalnya Solo, Yoryakarta, Surabaya, Bandung, Jakarta. Untuk

acara pagelaran musik gabungan, diadakan setiap 1 tahun sekali, yang biasanya

bertempat di Yogyakarta.


          Pergelaran seni dari komunitas anak jalanan tak sekadar
          menghadirkan serangkaian pertunjukan lagu, musik, dan
          teater, melainkan jauh menusuk kepada persoalan-persoalan
          anak jalanan itu sendiri melalui pesan-pesan moral, di
          antaranya stop pelacuran anak-anak, misalnya. Aksi panggung
          anak-anak jalanan tatkala bermain musik dan teater di sebuah
          kafe itu memberikan sajian tersendiri bagi sebagian
          pengunjung resto. Mereka juga tak minder, melainkan tampak
          riang gembira. Anak pinggiran tak pernah merasa gentar,
          membangun mimpi-mimpi di atas kaki sendiri. Itulah bait lagu
          ciptaan Komunitas Anak Pinggiran (Aping) Terminal Bratang,
                                                                                 64

          Surabaya, yang ikut mewarnai pergelaran seni pertunjukan di
          Jendela Resto Gallery. Pergelaran ini tak saja dimeriahkan
          dengan sajian lagu dan musik dari Komunitas Halte dan
          Aping, tetapi juga digairahkan oleh pementasan teater
          Komunitas Alit. Teaterikal yang mereka pertontonkan tak
          berbeda jauh dengan realitas keseharian anak jalanan itu
          sendiri. Pernak-pernik kehidupan mereka yang keras tercermin
          pula ketika mereka harus berhadapan dengan petugas
          ketertiban. Dan, tatkala suara prit-priit-priiit..., mereka pun
          terpaksa lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. 67

       Pagelaran seni yang biasa diadakan tersebut dimaksudkan untuk

menggali anak - anak yang berbakat, serta menyalurkan daya kreatifitas mereka

ke arah yang benar. Di samping itu, dalam pagelaran ini juga terdapat hadiah

serta piagam bagi pemenangnya.


          Krisnawanto, salah seorang pembina anak jalanan dari
          Komunitas Aping, mengatakan, sejak berdiri tahun 1999
          Komunitas Aping dalam persentuhannya dengan aktivitas
          bermusik telah mencapai pelbagai prestasi, antara lain juara
          pertama Festival Musik Anak Jalanan Piala Gubernur Jatim,
          tahun 1999. "Sampai sekarang ini tidak kurang 18 piagam
          penghargaan musik," ujarnya. 68

Pagelaran - pagelaran musik inilah yang seringkali menarik minat anak jalanan

untuk mengembangkan musik mereka dan juga untuk mendapat hadiah beserta

piagam. Namun, hal yang terutama adalah menumbuhkan rasa solidaritas bagi

sesamanya.




67
   Harian Kompas, Komunitas Anak Jalanan Memberi Penghiburan Senin, 4 November
2002,hlm 20
68
   Ibid, hlm 20
                                                                          65

C. PENDIDIKAN ANAK JALANAN


        Pendidikan adalah sesuatu yang harus di dapat oleh setiap orang.

Pendidika dimulai sejak anak berada di dalam lingkungan keluarga. Untuk

dapat berdiri dan berjalan, seorang anak perlu belajar. Di samping itu, untuk

dapat mengenal norma - norma yang berlaku dalam masyarakat, seseorang

harus mendapat pendidikan dalam keluarga. Itulah sebabnya pendidikan sangat

penting bagi manusia. Macam pendidikan ada 2, yaitu Pendidikan Formal dan

Pendidikan Non Formal.


1. Pendidikan Formal


        Pendidikan formal adalah pendidikan yang didapat dari sekolah, dalam

artian pendidikan yang resmi dari pemerintah. Pemerintah Indonesia telah

menetapkan program wajib belajar 9 tahun bagi masyarakatnya. Dengan kata

lain, semua masyarakat Indonesia minimal harus bersekolah sampai SLTP.


        Anak - anak jalanan termasuk masyarakat Indonesia. Jika mereka

masyarakat Indonesia, maka anak jalanan tersebut wajib bersekolah sampai

jenjang pendidikan SLTP. Namun, pada kenyataannya banyak dari mereka yang

tidak dapat menyelesaikan pendidikannya sampai SLTP, bahkan ada di antara

mereka yang tidak bersekolah sama sekali.


         Namun kalau menilik umur anak - anak jalanan tersebut,
         mereka sekitar usia sekolah dasar ( SD ) dan menengah
         pertama ( SLTP ). Penelitian yang dilakukan volunteer
         rumah singgah menyebutkan bahwa mayoritas anak - anak
         yang didampingi selama inii memiliki bangku sekolah
         formal di SD atau SMP, bahkan ada beberapa yang
                                                                             66

             masih TK atau Pra-TK, dan ada beberapa anak yang
             tidak sekolah sama sekali dan DO. 69

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pada umumnya anak jalanan adalah

anak - anak sekolah. Namun, dikarenakan mereka sudah mendapatkan uang

dengan mudah, maka mereka tidak mau kembali ke bangku sekolah, dan

memilih untuk tetap hidup di jalanan.


            Menurut pengalaman, mereka yang berusia sekolah dasar
            memang banyak yang bermain dan berkeliaran di jalanan
            serta dengan mudah mendapatkan kocek banyak. Sehingga
            usia inilah yang rata - rata meninggalkan bangku sekolah.
            Oleh karena itu, pendidikan merupakan salah satu program
            yang harus dipersiapkan untuk mereka. 70

Dari hal di atas, nampak bahwa anak - anak usia sekolah sudah turun ke jalan

akan merasa malas bila harus kembali lagi ke sekolah. Namun, ada juga dari

mereka yang mempunyai keinginan untuk bersekolah kembali. Sekalipun

demikian, mereka telah mempunyai suatu komunitas yang tetap, yang membuat

dirinya merasa nyaman di dalamnya. Oleh sebab itu, sekalipun ada sebagian

dari mereka yang ingin bersekolah kembali, harus tetap diperlukan

pendampingan secara berkesinambungan.


2. Pendidikan Non Formal


            Pendidikan formal bagi anak jalanan mungkin merupakan suatu hal

yang sulit direalisasikan. Hal ini disebabkan karena terbiasanya mereka dengan

uang. Oleh sebab itu, para pemerhati anak jalanan mencoba mencari solusi yang

tepat bagi mereka, agar mereka tidak lagi hidup di jalanan. Untuk sementara ini,

69
     Muhsin Kalida, Op.Cit, hlm 30
70
     Ibid, hlm. 78
                                                                                        67

solusi yang dapat diberikan kepada mereka agar mereka tidak hidup di jalanan

adalah dengan cara memberi pelatihan - pelatihan pekerjaan, sehingga mereka

dapat bekerja dengan layak tanpa harus mengamen dan meminta - minta.


            Pelatihan - pelatihan tersebut merupakan suatu langkah untuk

mengeluarkan anak - anak tersebut dari jalanan. Pelatihan - pelatihan tersebut

bukan hanya berbentuk pekerjaan kasar, dalam artian hanya memerlukan tenaga

saja, namun pelatihan komputerpun diberikan kepada mereka. Di Jakarta telah

di buat laboratorium komputer bagi anak jalanan. Mereka membunyai dasar

pemikiran bahwa,


             Ilmu pengetahuan bukanlah hak eksklusif mereka yang
             mampu saja. Ilmu pengetahuan, termasuk komputer dan
             Internet, haruslah dapat dinikmati pula oleh mereka yang
             kurang mampu secara struktural, termasuk anak jalanan.
             Sayangnya, sistem sosial yang kita anut saat ini secara
             sistematis mempersempit kesempatan bagi anak jalanan
             tersebut untuk memperjuangkan hak mereka dalam
             mendapatkan kesetaraan pendidikan dan pengetahuan. Oleh
             karena itu, LSM ERa AKu, ICT Watch dan Jaringan Informasi
             Sekolah (JIS) mendirikan laboratorium komputer swadaya
             yang berfungsi bagi pendidikan/pelatihan komputer bagi anak
             jalanan. Lab komputer tersebut telah dipasang di Sekolah
             Anak Jalanan (SAJ) yang terletak di komplek Taman Ismail
             Marzuki (TIM) Jakarta. SAJ tersebut diasuh oleh relawan-
             relawan dari LSM ERa AKu. Untuk pengembangan materi
             ajaran komputer dan pemberdayaan lab tersebut dilakukan
             oleh ICT Watch, JIS dan relawan LSM ERa AKu. 71

Melalui sekolah tersebut diharapkan anak - anak jalanan tidak tertinggal

ilmunya dengan anak - anak yang lain. Selain itu, diharapkan melalui pelatihan

ini, anak - anak jalanan itu dapat terpacu semangatnya untuk dapat berkarya

dengan baik, tanpa harus mengantungkan hidupnya dari hasil di jalanan.

71
     Laboratorium Komputer bagi Sekolah Anak Jalanan, ( Jakarta : Ict Watch, 2002 ), hlm 1
                                                                            68

        Pelatihan - pelatihan yang dilakukan bukan hanya sebatas pelatihan

ilmu pengetahuan saja. Namun, dalam pelatihan - pelatihan juga diadakan

pendampingan yang berfungsi untuk memantau seberapa jauh anak tersebut

dapat berkembang, maju dan mandiri, sehingga dapat dilepas untuk bekerja

dengan layak. Selain itu, ada juga para pemerhati anak jalanan yang rela

memberi modal bagi mereka agar mereka tidak mencari uang lagi di jalanan.

Pelatihan - pelatihan tersebut pada akhirnya bertujuan untuk mengangkat derajat

para anak jalanan.




D. PANDANGAN TENTANG MASA DEPAN


        Anak - anak jalanan hanyalah seorang manusia yang tidak dapat lepas

dari impian - impian di masa mendatang. Pada dasarnya, tidak ada seorang anak

jalananpun yang mau bila ia harus bekerja dan hidup di jalanan. Anak - anak

tersebut juga tidak meminta ia dilahirkan sebagai anak jalanan. Tetapi bila ia

harus menjalani hidup sebagai anak jalanan itu merupakan suatu rahasia Illahi

yang dibuat oleh Sang Pencipta alam semesta.


        Jalanan merupakan gambaran kehidupan yang keras dan penuh

tantangan. Anak - anak yang harus menjalani hidup di jalanan tak lepas juga

dari kekerasan yang ada di jalanan. Meskipun kehidupan mereka tergolong

sangat keras, penuh dengan ketidak pastian, rentan dengan tindak kriminal dan

bebas tanpa ikatan, pada dasarnya mereka memiliki harapan akan perhatian,
                                                                              69

kasih sayang dan rasa aman.72         Meski mereka bagian dari keluarga yang

dicampakkan, tetapi sesungguhnya sentuhan kasih sayang tetap merupakan

harapan dan kerinduan mereka. Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya

mereka juga menginginkan hidup dalam keluarga yang bahagia. Mereka juga

ingin hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya.


            Anak - anak jalanan juga mempunyai konsep tentang agama dan

adanya Tuhan. Bagi sebagian orang menganggap bahwa anak jalanan tidak

mengenal adanya norma - norma agama, dikarenakan kehidupan mereka yang

bebas dan tidak terkontrol. Namun, bila dicermati lebih jauh, maka akan

dijumpai ada beberapa anak jalanan yang mempunyai kualitas keagamaan lebih

baik dibanding anak - anak rumahan. Muhsin Kalida dalam bukunya

memaparkan bahwa ia pernah melakukan suatu survei kepada anak – anak

jalanan di Yogyakarta,


             Mereka menjawab dengan tegas dan menyatakan percaya
             bahwa ada Tuhan Allah, Malaikat, Rasulullah, Surga,
             Neraka, dan Hari Akhir, mencapai 81,25 %. Sementara ada
             yang menyatakan kadang percaya dan kadang tidak, yaitu
             ada 18,75 %….Menurut hasil observasi dan wawancara
             penulis, sebagian besar dari mereka sebenarnya sama
             dengan peneliti, ketika merasa dekat dengan Allah maka
             hati merasa tentram, begitu sebaliknya ketika merasa jauh,
             maka perasaan ini juga kurang tentram. 73

            Dari hasil observasi tersebut didapati bahwa tidak semua anak jalanan

tidak mengenal adanya Tuhan dan norma - norma agama, tetapi ada juga anak -

anak jalanan yang mengerti betul akan adanya Tuhan dan aturan - aturan agama


72
     Muhsin Kalida, Op.Cit, hlm 75
73
     Ibid, hlm. 123
                                                                             70

yang harus dijalani. Melalui hal ini, maka ada juga anak - anak jalanan yang

percaya akan adanya hari akhir, juga kehidupan setelah kematian, yaitu Surga

dan Neraka.




E. DATA STATISTIK ANAK JALANAN


1. Data Statistik Anak Jalanan Di Indonesia


           Jumlah anak - anak jalanan di Indonesia mengalami peningkatan secara

drastis. Ini semua dampak dari krisis ekonomi berkepanjangan yang terjadi di

Indonesia. Di dalam Yogyakarta cyber news dikemukakan bahwa,


             Menteri Sosial (Mensos) RI H Bachtiar Chamsyah SE
             mengatakan jumlah anak jalanan di sejumlah kota besar di
             Indonesia meningkat hampir 85 kali lipat."Kalau pada tahun
             1999 hanya 39.861 orang, tahun 2002 lalu sudah meningkat
             jadi 3.488.309 orang. Sementara itu sekitar 10.322.674 orang
             lainnya tercatat sebagai anak terlantar," tandas Mensos dalam
             sambutannya pada acara lokakarya nasional Pola Penanganan
             Anak Jalanan di Indonesia, Sabtu (20/9). 74

Dari pernyataan Menteri Sosial RI tersebut dapat diketahui bahwa kota - kota

besar yang ada di Indonesia banyak dipenuhi dengan anak - anak di bawah usia

18 tahun yang berkeliaran di jalan - jalan, untuk mencari kehidupan di jalan.

Data hasil survei kerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), anak-anak

tersebut berusia antara 6 - 18 tahun. Anak-anak itu merupakan bagian dari




74
     Yogyakarta Cyber News, Sabtu, 20/09/03, hlm 1
                                                                              71

36.500.000 jiwa yang masih hidup dalam kategori miskin di 12 kota besar di

Indonesia. 75

2. Data Statistik Anak Jalanan Di Kartasura

            Kartasura merupakan kota yang terletak di jalur lintasan tiga kota

besar. Kota - kota itu adalah kota Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Dengan

adanya kota - kota tersebut, membuat Kartasura menjadi kota transit bagi orang

- orang yang datang atau akan pergi ke tiga kota besar di atas. Untuk masalah

anak jalanan, Kartasura menjadi tempat singgah sementara bagi anak - anak

jalanan, dari kota yang satu ke kota yang lain. Jadi secara tidak langsung anak -

anak jalanan yang ada di Kartasura terlihat sangat banyak menjelang malam

tiba.


            Anak - anak jalanan dari kota Semarang, Solo, dan Yogyakarta, pada

umumnya mereka singgah di Kartasura hanya untuk berkumpul bersama dengan

teman - temannya, dan hanya untuk bermalam, untuk melanjutkan

perjalanannya di pagi harinya. Menurut survei lapangan yang telah penulis

lakukan, serta wawancara dengan anak jalanan di Kartasura, anak - anak jalanan

di Kartasura pada umumnya adalah pendatang dari ketiga kota besar di atas.

Anak jalanan yang berasal dari kota Kartasura sendiri hanya berjumlah 100

orang saja, yang terdiri dari 25 anak - anak, 45 remaja, dan 30 orang dewasa.

Data tersebut merupakan hasil dari wawancara penulis dari beberapa anak

jalanan yang telah lama hidup di jalanan Kartasura. Jadi kota Kartasura pada

dasarnya hanya memilki sedikit anak jalanan yang berasal dari Kartasura.


75
     Ibid, hlm 1
                                                                           72

Namun, yang membuat anak jalanan menjadi banyak di Kartasura adalah anak -

anak jalanan dari ketiga kota besar di atas. Dari kota - kota itu, banyak dari

mereka yang betah tinggal di Kartasura dan menetap di Kartasura. Hal inilah

yang menjadikan kota Kartasura mempunyai banyak anak jalanan. Jumlah

secara globalnya, anak jalanan di Kartasura berjumlah 300 orang. Jumlah sekian

merupakan jumlah yang cukup besar bagi kota kecil seperti Kartasura, sehingga

ketika melintasi jalur - jalur ramai yang ada di Kartasura dan terminal

Kartasura, maka akan banyak dijumpai anak - anak dan juga orang - orang

dewasa yang mengais rejeki di jalan.
                                                                       73

                                BAB IV

              KIPRAH JEMAAT KRISTEN INDONESIA

                    DOMBA ALLAH KARTASURA




A. PANGGILAN AWAL DI KARTASURA

   1. Kota Kartasura

       Kartasura merupakan kota kecil yang berada di jalur lintasan kota

Semarang, Solo dan Yogyakarta. Namun, Kartasura letaknya sangat berdekatan

dengan kota Solo. Kota Kartasura merupakan kota kecil yang hanya memiliki

10 desa dan 2 kelurahan. Adapun desa dan kelurahan yang termasuk dalam

wilayah Kartasura adalah DesaKertonatan,Desa Wirogunan, Desa Pucangan,

Kelurahan Kartasura, Desa Ngabeyan, Desa Singopuran, Desa Gonilan,

Kelurahan Ngadirejo, Desa Gumpang, Desa Makamhaji, Desa Pabelan, Desa

Ngemplak.

       Jika dilihat dari segi sejarah, Kartasura merupakan sebuah kerajaan

yang dipimpin oleh seorang raja yang mempunyai sebutan Pakubowono.

        Jawa tahun 1740, tahta Mataram di Kartasura diduduki oleh
        Pakubowono II. Keadaan kerajaan sama sekali jauh dari
        stabilitas. Cakraningrat IV dari Madura, „sekutu‟ Mataram
        yang tak pernah benar tulus (istri Cakraningrat IV adalah
        saudari kandung Pakubuwono II) semakin menguatkan
        kendalinya atas kota-kota pantai Jawa Timur. Di keraton
        sendiri, beberapa faksi membelah: kelompok yang
        mengadvokasi kerjasama dengan VOC dan kelompok yang
        anti VOC. Pakubuwono II sendiri mencoba untuk menjadi
        model „raja sufi‟ yang otomatis mesti menjauhkan diri dari
        kekuasaan „kafir‟ VOC. Terlebih lagi, citra moral Batavia di
        mata ulama dan para pengikut mereka juga semakin jatuh.
        Namun kekuatan militer Pakubuwono II yang rapuh membuat
                                                                              74

            sang raja mesti bolak-balik meminta dukungan VOC
            menghadapi pemberontakan-pemberontakan dan ancaman
            hegemoni kerajaan seberang. Pakubuwono terjepit di antara
            idealisme dan keadaan pragmatis yang melingkupinya. 76



Kisah sejarah tersebut di atas merupakan perwakilan dari kisah yang melatar

belakangi terjadinya kota Kartasura. Bukti - bukti sejarah dari kota Kartasura

dapat dilihat dari keraton yang terletak di jalur lintasan ke Sukoharjo. Keraton

tersebut merupakan bukti sejarah kota Kartasura yang dirawat pemerintah

beserta dengan warga desa sekitar keraton.


           Konflik - konflik sejarah yang terjadi di Kartasura, merupakan salah

satu rangkaian kisah yang mewarnai kehidupan kota Kartasura. Sebagai kota

transit, maka banyak juga pengaruh yang didapat dari kota - kota besar tersebut.

Jika pengaruh yang didapat baik, maka hal itu tidaklah menjadi sebuah

persoalan yang berarti, namun           pengaruh yang didapat secara cepat adalah

pengaruh negatif. Dalam hal anak jalanan, banyak anak jalanan yang datang

dari kota besar membawa hal - hal yang negatif. Kekerasan dan kejahatanpun

makin marak di Kartasura. Perjudian yang dilakukan di kota Kartasura bukanlah

dilakukan secara tersembunyi, namun perjudian sudah dilakukan di pinggir -

pinggir jalan di Kartasura. Perjudian tersebut bukan hanya melibatkan kalangan

orang dewasa, melainkan sudah mulai menjamur di kalangan anak - anak kecil.

Minuman keras dan Narkoba juga telah menjamur di kalangan anak jalanan

Kartasura. Berbagai         macam kekerasan dan kejahatan semakin cepat

berkembang di Kartasura, sampai ada seorang yang biasa berjualan di terminal

76
     Diambil dari www.sukoharjo.go.id
                                                                          75

Kartasura menyebut kota Kartasura dengan sebutan Kota molimo ( Mendem,

Medok, Maling, Main, Madat ). Ini merupakan salah satu dampak dari adanya

pendatang anak jalanan di Kartasura.


   2. Panggilan Perintis Jemaat Kristen Indonesia Domba Allah

        Kartasura


         Gereja Jemaat Kristen Indonesia Domba Allah adalah gereja yang

terletak di kota Kartasura. Gereja Jemaat Kristen Indonesia Domba Allah telah

dirintis sejak tahun 2003, oleh para mahasiswa Sekolah Tinggi Theologia

Sangkakala. Perintisan di Kartasura dimulai dari adanya beberapa anak STT

Sangkakala yang mempunyai kerinduan untuk mengadakan penginjilan, yang

bertujuan untuk memenangkan jiwa dan akhirnya pada pembentukan gereja

baru.


         Pada awalnya, perintisan di Kartasura tercetus dari dua orang

mahasiswi STT Sangkakala, yaitu Eunike Florentina Sephanie yang pada waktu

itu semester 4 dan Paruliana Manulang, semester 6. Dua orang mahasiswi

tersebut pada awalnya mempunyai visi dan misi untuk pergi memberitakan injil

di Solo dan sekitarnya. Kemudian mereka berdoa lagi untuk mengumulkan

tentang adanya rencana perintisan tersebut, dan juga menggumulkan mengenai

tempat yang harus mereka taburi benih Injil. Setelah berdoa dan berpuasa,

kemudian kedua orang mahasiswi tersebut mendapat penyataan dari Tuhan,

mengenai apa yang harus dilakukan dan dimana mereka harus memberitakan

Injil. Adapun penyataan itu adalah
                                                                                        76

              Penyataan dapat berarti perbuatan mengungkapkan atau
              membuka atau menyingkapkan. Istilah itu dapat pula
              berarti apa yang diungkapkan atau dibukakan atau
              disingkapkan. Sering kali yang ditekankan ialah
              pengertian yang aktif : penyataan terdapat dalam
              komunikasi Allah dengan manusia melalui penglihatan
              yang diberikan-Nya, firman yang diucapkan-Nya, dan
              perbuatan yang dilakukan-Nya. Menurut pandangan yang
              ditekankan dewasa ini, penyataan juga didapati dalam
              peristiwa - peristiwa sejarah tertentu yang dipandang
              sebagai karya Allah. Pandangan Alkitab mencakup kedua
              pandangan ini, yaitu bahwa Allah menyatakan diri baik
              dalam peristiwa sejarah maupun melalui firman-Nya. 77



            Setelah    mendapat      penyataa     tersebut,    kedua     mahasiswi      itu

mensharingkan dengan orang - orang yang dinyatakan Tuhan di dalam doanya.

Tuhan menyatakan 3 orang mahasiswa STT Sangkakala, sebagai rekan

pelayanan penginjilan. Mahasiswa tersebut adalah Henokh Sugeng Nirmala, (

yang pada saat itu semester 4 ), Tri Nugroho Saputro dan Fibry Jati Nugroho (

pada saat itu semester 2 ). Kemudian kelima mahasiswa tersebut mulai berdoa

dan berpuasa bersama - sama untuk meminta konfirmasi dari Tuhan mengenai

pelayanan penginjilan dan juga mempersiapkan diri secara rohani.


            Pada pertengahan bulan Januari 2003, kelima mahasiswa STT

Sangkakala mulai melangkahkan kakinya menuju ke kota Solo dan sekitarnya.

Pada hari yang pertama, mereka hanya berputar - putar di kota Solo dan

sekitarnya, dengan tujuan untuk melihat - lihat situasi dan kondisi masyarakat

yang ada di sana, sambil berkenalan dengan masyarakat sekitar. Pada kali kedua

mereka datang di Solo, mereka mulai memasuki sebuah rumah sakit yang


77
     W.S.Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 1, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004 ), hlm 34
                                                                            77

terletak di dekat terminal Tirtonadi Solo, yaitu Rumah Sakit Brayat Minulya. Di

dalam rumah sakit tersebut, mahasiswa - mahasiswa ini mulai berkeliling untuk

mendoakan, memberi kekuatan dan juga memberitakan injil kepada pasien yang

ada di sana. Pada keselanjutannya, oleh karena kemurahan Tuhan, para

mahasiswa ini mendapat waktu khusus dari pihak rumah sakit untuk mendoakan

dan memberitakan injil di rumah sakit itu secara rutin setiap minggunya.


        Pada perkembangan selanjutnya, kelima mahasiswa ini memisahkan

diri menjadi dua kelompok, yaitu kelompok mahasiswa yang terdiri dari tiga

orang dan kelompok mahasiswi yang terdiri dari dua orang. Pembagian ini

dilakukan dengan tujuan untuk memperluas jangkauan penginjilan dan

memaksimalkan pelayanan pekabaran injil. Kelompok mahasiswa memilih

untuk bergerak di terminal bis, yaitu di terminal Solo dan terminal Kartasura,

untuk menjangkau para pengamen, pedagang asongan, dan anak - anak jalanan

yang lain. Kelompok mahasiswi memilih untuk bergerak di rumah sakit dan

orang - orang pinggiran yang ada di luar terminal. Setelah berjalan selama

beberapa waktu, kedua kelompok tersebut merasa bahwa Tuhan membawa

mereka ke Kartasura, ditambah lagi dengan penyataan Tuhan melalui sebuah

keluarga di Kartasura, yang mengijinkan para mahasiswa tersebut bermalam di

rumahnya, dan menjadikan rumahnya sebagai pos bagi penginjilan di daerah

Kartasura. Dan pada tanggal 6 Febuari 2003, terbentuklah ibadah di rumah

keluarga itu, yaitu keluarga Bapak Bayu, yang hanya dihadiri oleh dua orang

dari mahasiswi dan bapak Bayu beserta dengan istri. Di samping itu, keluarga
                                                                            78

tersebut juga turut serta membantu penginjilan dan pencarian jiwa di Kartasura,

selain juga merelakan motornya sebagai sarana transportasi.


        Setelah didapati pos yang tetap untuk tempat bermalam dan beristirahat,

disertai dengan sasaran yang telah jelas, maka kedua kelompok tersebut

bergabung kembali menjadi satu. Namun, dari kelompok mahasiswa hanya

tinggal dua orang yang bertahan. Jadi kelompok tersebut hanya beranggota

empat orang. Kemudian, keluarga bapak Bayu memperkenalkan dengan teman -

teman dan saudaranya yang ada di wilayah Kartasura, dengan para mahasiswa

STT Sangkakala. Bukan secara kebetulan, kakak dari bapak Bayu adalah bekas

dari preman terminal Kartasura, sehingga secara tidak langsung Tuhan

mengarahkan lagi ke terminal Kartasura, dengan menjangkau anak - anak

jalanan yang ada di sana. Melalui perkenalan tersebut, banyak orang yang

menerima berita injil dan bersedia untuk datang beribadah dalam persekutuan

setiap hari minggu. Pada akhirnya ada 9 orang yang bersedia dibaptis dan

menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya. Baptisan ini dilayani

oleh Bapak Tanto Handoko, SH, di pemandian Cokro, Boyolali.


        Hari demi hari Tuhan menyatakan mujizatnya secara luar biasa. Tuhan

menambahkan jumlah bilangan jemaat yang hadir di tiap minggunya. Pada saat

perayaan paskah tahun 2003, yang dilayani oleh Bapak Adi Sutanto, jemaat

yang hadir sejumlah 35 orang. Ini merupakan suatu penggenapan akan

panggilan Tuhan kepada para mahasiswa STT Sangkakala. Jumlah jemaat yang

hadir dalam kebaktian semakin banyak, secara otomatis membutuhkan para

pelayan yang tidak sedikit juga. Oleh sebab itu, keempat mahasiswa tersebut
                                                                           79

mulai berdoa dan bersepakat mengajak Johanes Setiawan untuk bersama - sama

melayani di Kartasura. Pelayanan di antara anak jalanan semakin berkembang,

dan pimpinan Tuhan semakin nyata dalam setiap pelayanan dan penginjilan

yang dilakukan. Sekarang, telah berdiri sebuah gereja yaitu Jemaat Kristen

Indonesia Domba Allah, yang mempunyai jemaat 50 orang, yang 90 %

diantaranya adalah orang miskin dan anak jalanan. Di samping itu, sampai saat

ini JKI Domba Allah telah membaptiskan orang sebanyak 45 orang. Ini

merupakan bukti penyertaan Tuhan dan penggenapan akan panggilan Tuhan

untuk melayani anak - anak jalanan di Kartasura.


   3. Tantangan Masuk Kota Kartasura


        Kartasura adalah kota yang terletak di persimpangan tiga kota besar.

Hilir mudiknya kendaraan menjadikan kota ini kota yang „ tidak pernah tidur „.

Kehidupan yang keras menjadikan penduduknya sangat berhati - hati dengan

orang - orang yang baru dikenalnya. Pada sisi anak jalanan, kehidupan yang

bebas merupakan hal yang biasa di jalaninya. Hidup tanpa aturan dan melanggar

aturan adalah sesuatu yang biasa di lakukan oleh anak - anak jalanan di

Kartasura.


        Tantangan para mahasiswa STT Sangkakala pada saat masuk di

Kartasura adalah gaya hidup yang ada di dalam diri masyarakat Kartasura. Gaya

hidup yang tertutup dan sulit untuk mempercayai orang lain adalah tantangan

yang dihadapi sewaktu masuk di wilayah Kartasura. Namun, setelah kenal lama

merekapun membuka diri dan menerima layaknya sebuah keluarga. Di samping
                                                                           80

itu, tantangan yang dihadapi adalah kehidupan bebas para anak jalanan, yang

mengakibatkan sulit dikendalikannya anak - anak tersebut, untuk taat dan patuh

kepada setiap aturan - aturan yang berlaku, baik norma masyarakat maupun

norma agama. Untuk hal ini, diperlukan waktu yang tidak singkat untuk dapat

mengajarkan norma - norma kepada anak - anak jalanan tersebut. Tantangan -

tantangan tersebut tidaklah menjadi kendala yang berarti bagi para mahasiswa

tersebut. Ini dikarenakan penyertaan Tuhan yang luar biasa.




   B. PENGINJILAN ANAK JALANAN KARTASURA

        Yesus datang ke dunia ini membawa suatu kabar baik yang harus

disampaikan kepada semua orang yang ada di dunia. Ia datang sebagai Juru

Selamat bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Ia tidak hanya

menyelamatkan sebagian orang saja, melainkan semua orang yang mau percaya

dan mengikuti Dia akan diselamatkan. Amanat Agung Tuhan Yesus dalam

Matius 28 : 19 – 20 adalah bukti bahwa Ia menginginkan semua orang yang ada

di muka bumi ini mendengar tentang kabar baik dari Yesus Kristus, percaya dan

diselamatkan.

        Penginjilan adalah suatu gerakan dalam upaya untuk melaksanankan

Amanat Agung dari Tuhan Yesus. Amanat Agung tersebut bukanlah berlaku

hanya pada masa Yesus saja, melainkan ditujukan pula bagi orang - orang yang

percaya pada masa sekarang. Reinhard Bonnke memberi pernyataan bahwa,

         Amanat Agung Kristus bukanlah hanya secarik kertas
         yang dihembus angina dan terjatuh di kaki kita dari abad
         - abad yang lampau. Amanat itu ialah Yesus yang sedang
         berdiri di tengah - tengah gereja-Nya selama - lamanya
                                                                                        81

          sambil bersabda, “ Pergilah kamu … karena Aku menyertai
          kamu.” … Amanat Agung merupakan semacam
          penyerahan wajib militer, bukan suatu saran untuk
          dipertimbangkan. “ Pergilah ke seluruh dunia dan
          beritakanlah Injil kepada segala mahluk … “ Kita tidak
          pergi hanya demi mengadakan perjalanan melainkan
          karena diutus oleh Yesus. Malah sebenarnya, perintah
          Kristus itu lebih dari itu. Yesus mengubahkan kita
          menjadi para saksi. 78


Amanat Agung dari Tuhan Yesus tidak akan berjalan tanpa adanya Roh Kudus

dalam diri orang - orang percaya. Ini dikarenakan Injil dan Roh Kudus

merupakan satu paket yang harus ada di dalam penginjilan.

          Injil adalah suatu pemantik api. Roh Kudus tidak
          diberikan   hanya    untuk     sekadar membantu   anda
          memberitakan khotbah yang mengesankan. Ia menaruh
          nyala api ke dalam hati manusia. Jika Kristus tidak
          menyulut anda, maka anda tidak dapat membawa api ke
          bumi ini. “ Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa -
          apa “ Sabda Tuhan ( Yoh. 15 : 5 ). 79


Oleh sebab itu, di dalam penginjilan peran Roh Kudus sangat diperlukan dalam

diri pembawa injil tersebut.

         Semangat mengabarkan Injil harus ada pada setiap orang percaya,

untuk membawa orang yang berdosa kepada keselamatan dalam Yesus Kristus.

Pada dasarnya, mengabarkan Injil adalah

          Upaya orang Kristen melayankan kabar kesukaan ihwal
          Yesus Kristus kpeada seseorang, sedemikian rupa sehingga
          ia berpaling dari dosa - dosanya dan percaya kepada
          Allah melalui anak-Nya - Yesus Kristus, dengan kuasa
          Roh Kudua. Dengan demikian Ia dapat menerima Yesus
          Kristus sebagai Juru Selamat-Nya, lalu taat melayani Dia
          sebagai Rajanya dalam persekutuan gereja. Dari uraian ini

78
   Reinhard Bonnke, Penginjilan Dengan Api, ( Jakarta : Yayasan Pekabaran Injil Immanuel,
t.th ), hlm. 87 – 88
79
   Ibid, hlm. 18
                                                                                             82

              dapat disimpulkan Mengabarkan Injil adalah usaha orang
              percaya menyampaikan Injil kasih karunia Allah kepada
              seseorang yang belum percaya. 80


Melalui pemberitaan injil tersebut, orang lain dapat mengerti mengenai kasih

karunia Allah dan juga tentang keselamatan dari Tuhan, sehingga orang - orang

yang belum percaya dapat diselamatkan. Adapun unsur yang terpenting di

dalam pemberitaan Injil adalah :

         1.    Inti berita adalah Yesus Juru Selamat
         2.    Berita tentang iman dan pertobatan
         3.    Berita penyerahan diri kepada Yesus, sebagai Tuhan.
         4.    Materi berita dan cara penyajiannya cocok dengan
               keadaan, kondisi, tingkat pengertian dan latar belakang
               pendengar. 81

Jadi inti pemberitaan injil adalah Yesus Kristus dan keselamatan yang bertujuan

untuk membawa orang kepada pertobatan dan penyerahan diri kepada Tuhan

Yesus.

              Gereja Jemaat Kristen Indonesia ( JKI ) Domba Allah Kartasura

merupakan gereja yang dirintis sejak awal oleh para mahasiswa STT

Sangkakala. Dimana pada waktu pertama kali para mahasiswa tersebut datang

ke Kartasura, belum ada teman maupun kenalan yang tinggal dan asli penduduk

Kartasura. Meskipun belum ada teman dan koneksi di sana, mereka tetap

bersemangat untuk memberitakan injil. Para mahasiswa datang ke Kartasura

mempunyai tujuan untuk memberitakan injil, memenangkan jiwa dan pada

akhirnya membentuk suatu jemaat di sana.




80
     DW. Ellis, Metode Penginjilan, ( Jakarta : Yayasan Bina Kasih / OMF, 1993 ), hlm. 117
81
     Ibid, hlm 118
                                                                             83

        Mereka bersama - sama mempunyai tekad yang kuat untuk

memberitakan injil kepada setiap orang yang mereka temui. Pada kedatangan

mereka yang ke dua kalinya di kota Kartasura dan sekitarnya, mereka telah

berhasil masuk dan memberitakan injil, serta menghibur pasien yang ada di

Rumah Sakit Brayat Minulya Solo. Melalui penginjilan yang dilakukan di

rumah sakit itu, mereka mempunyai banyak kenalan di daerah Solo dan

sekitarnya. Penginjilan di rumah sakit tersebut terus berlanjut dan diberi waktu

khusus untuk dapat memberitakan injil, mendoakan dan menghibur para pasien

di rumah sakit. Penginjilan yang dilakukan di rumah sakit ini merupakan satu

gerakan awal yang dilakukan para mahasiswa untuk memberitakan injil.

        Pada keselanjutannya, mereka mulai mendapat kenalan satu keluarga

yang bersedia membuka rumahnya sebagai tempat bermalam dan beristirahat di

daerah Colomadu – Kartasura. Di rumah keluarga inilah untuk pertama kalinya

persekutuan dimulai, tepatnya pada tanggal 6 Februari 2003. Gerakan

penginjilan dari para mahasiswa di rumah sakit masih tetap berjalan. Bahkan

mereka mengembangkan penginjilan mereka ke daerah terminal. Di daerah

terminal Kartasura inilah banyak jiwa dimenangkan dan menjadi jemaat dari

JKI Domba Allah Kartasura.

        Penginjilan di terminal dilakukan dengan cara melakukan pendekatan

kepada para anak jalanan dan orang - orang yang ada di pinggiran terminal.

Para mahasiswi melakukan penginjilan di luar terminal, dengan mengadakan

pendekatan dengan para penjual makanan dan penjual asongan. Tahap awal

pendekatan yang mereka lakukan yaitu dengan cara membeli barang dagangan

mereka, dan selanjutnya mengajak mereka kenalan serta melanjutkannya
                                                                          84

dengan memberitakan injil. Lain halnya dengan cara pendekatan yang

dilakukan oleh para mahasiswa. Mereka bergerak di dalam terminal dan

melakukan pendekatan dengan para pengamen. Pendekatan yang mereka

lakukan yaitu dengan berbaur bersama para pengamen, mengobrol, makan dan

mengamen bersama. Dengan cara demikian, mereka dapat diterima baik oleh

para pengamen, sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk dapat

bercerita dan menyaksikan cinta kasih Tuhan kepada manusia. Alhasil,

beberapa dari mereka langsung mau bergabung dalam persekutuan yang telah

dibentuk oleh para mahasiswa tersebut.

        Persekutuan yang pertama kali diadakan dirumah salah seorang

preman terminal yang letaknya di belakang Hotel Pramesthi - Kartasura. Dia

adalah seorang anak dari keluarga yang terpandang di daerah Kartasura, namun

dikarenakan kurangnya perhatian dari orang tuanya, ia sering main dengan anak

- anak terminal, sehingga lama kelamaan ia menjadi salah satu preman yang

disegani di Kartasura. Setelah para mahasiswa STT Sangkakala tersebut

memenangkan preman ini, seluruh keluarganya juga dapat dimenangkan.

Kemudian mereka membuka rumahnya sebagai tempat untuk mengadakan

persekutuan yang dilakukan pada hari Sabtu malam. Persekutuan yang pertama

ini diikuti oleh satu keluarga preman yang dimenangkan tersebut dan juga 3

orang temannya. Melalui beberapa orang tersebut, para mahasiswa STT

Sangkakala mendapat banyak kenalan orang - orang yang berada di „balik

layar„ terminal Kartasura. Mereka menerima kedatangan para mahasiswa,

malahan mereka mau mendengar berita injil dari para mahasiswa tersebut.

Hasilnya kurang dari 2 bulan jemaat persekutuan para mahasiswa tersebut
                                                                          85

sudah mencapai 25 orang. Dengan cara penginjilan demikian, mereka dapat

dengan mudah diterima oleh para anak - anak jalanan dan orang - orang yang

ada di terminal Kartasura, bahkan ada beberapa dari mereka yang sudah

menganggap para mahasiswa STT Sangkakala sebagai saudara mereka. Dengan

demikian keberadaan para mahasiswa tersebut dapat menjadi berkat bagi anak -

anak jalanan di Kartasura, dan secara otomatis berita injil dapat disampaikan

dengan baik.



C. PENGGEMBALAAN ANAK JALANAN DI KARTASURA

   1. Arti Dari Penggembalaan

        Kata penggembalaan berasal dari kata gembala. Dalam Bahasa Yunani,

kata gembala dituliskan dengan kata “ poimen “ yang mempunyai arti

penggembala atau orang yang menjadi pelindung kawanan hewan ternak.

Namun, bagi kalangan kristiani, istilah penggembalaan lebih difokuskan pada

sebuah jemaat di suatu tempat ertentu.

        Arti penggembalaan pada umumnya mengarah pada pemeliharaan

jemaat Tuhan sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Namun, arti dari

penggembalaan di kalangan umat kristiani bukan hanya sebatas arti di atas.

Berikut ini merupakan pernyataan yang dikemukakan oleh para tokoh gereja

untuk mendefinisikan arti dari penggembalaan.
                                                                                         86

      -   Ds. JR. Khristiyanto

“ Seseorang yang dipilih, dipanggil serta diutus Allah untuk menggembalakan

umat Allah sesuai kepenuhan Kristus dalam satu jemaat dan tempat tertentu. “
82



      -   Derek J. Tidball

“ Memberitakan Firman Allah, … yang dinamis, bijaksana dan penuh hikmat,

bersifat praktis yang berfungsi untuk saling melengkapi, saling mengisi

kekurangan - kekurangan satu sama lain. “ 83

      -   Nehemiah Mimery

“ Pelayanan kepada atau pertolongan kepada jemaat - jemaat yang mengalami

krisis, agar mereka menjadi menang atas setiap krisis yang di hadapi. “ 84

      -   Peter Wongso

“ Suatu tindakan dengan kesediaan untuk berkorban bagi jemaatnya tanpa

pamrih, serta ikut menanggung beban dosa jemaat, turut merasa sedih atas dosa

jemaat, turut mendoakan dan bila perlu rela menanggung akibat dosa mereka. “
85



      -   Abineno

“ Ekspresi dari penjagaan atau pemeliharaan Allah yang penuh kasih dan

penuh penghiburan. “ 86



82
     Ds. JR. Khristiyanto, Prinsip Penggembalaan,( Ungaran : Diktat STT Simson, 2005),hlm 4
83
   Derek J. Tidball, Teologia Penggembalaan,( Malang : Gamdum Mas, 1995 ) hlm 61
84
   Nehemiah Mimery, Rahasia Tentang Penggembalaan Jemaat,( Mimery Press, tt ), hlm 90
– 91
85
   Peter Wongso, Teologia Penggembalaan, ( Malang : SAAT, 1989 ) hlm. 13 - 16
86
   Jl.Ch.Abineno, Pedoman Praktis Untuk Pelayanan Pastoral, ( Jakarta : BPK Gunung
Mulia, 2000 ),hlm 9
                                                                          87

Dari tokoh - tokoh tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang gembala

adalah orang yang memelihara dan menjaga kehidupan jemaat di suatu tempat

dengan disertai rasa kasih sayang yang bersumber dari Allah.

   2. Penggembalaan Anak Jalanan

         Seorang gembala yang baik akan berusaha sebaik mungkin untuk

merawat dan memelihara kawanan ternaknya agar tetap sehat dan terawat. Ia

akan mencari makanan, minuman dan juga tempat yang terbaik bagi kawanan

ternaknya, sehingga hewan gembalaannya dapat merasa nyaman. Demikian pula

halnya dengan gembala jemaat yang baik. Ia akan memperhatikan setiap

jemaatnya. Jika ada jemaat yang mengalami kesusahan, sakit, dan berbeban

berat, maka ia akan cepat - cepat datang, menghibur dan menguatkan setiap

jemaatnya. Ia tidak akan membiarkan jemaatnya tersebut mengalami kesusahan

seorang diri.

         Sejak perintisan di Kartasura, Sdri. Eunike Florentina Sephanie

bertindak sebagai gembala jemaat. Oleh sebab itu, setelah menyelesaikan studi

sarjananya, iapun langsung menggembalakan jemaat di Kartasura, dan sekarang

telah ditahbiskan menjadi Pendeta Muda. Sebagai seorang gembala yang masih

muda juga sebagai seorang gembala wanita, ia tidak merasa rendah diri dan

pesimis dalam penggembalaannya, namun ia tetap bergantung pada Tuhan dan

tetap bersemangat melayani Tuhan. Sejak terjun ke dalam pelayanan

penggembalaan di Kartasura, ia telah mengalami banyak suka dan duka yang

harus ia lalui. Sebagai seorang gembala wanita, ia harus melayani jemaat yang

90 % barasal dari jalanan, dan notabene mereka adalah orang - orang yang

berwatak keras. Terkadang ia harus menerima caci maki dari jemaat, jika ada
                                                                           88

jemaat yang sedang mabuk dan datang ke gereja. Namun itu semua tidak

membuatnya gentar untuk tetap melayani dan menggembalakan jemaat di

Kartasura.

        Menurut pemaparan Pdm. Eunike Florentina Sephanie, S.Th, ia

mempunyai satu rahasia khusus untuk menggembalakan jemaat di Kartasura.

Rahasia penggembalaannya adalah sikapnya yang gaul disertai dengan rasa

kekeluargaan. Selanjutnya ia memaparkan bahwa dengan sikapnya yang gaul

dan penuh rasa kekeluargaan membuatnya diterima dan disegani oleh

jemaatnya dan orang - orang di daerahnya. Selain itu, ia juga tidak melupakan

untuk mengunjungi jemaatnya yang dilakukannya setiap hari secara bertahap. Ia

bukan hanya melakukan perkunjungan kepada jemaatnya, tetapi ia juga

mendoakan para jemaatnya ketika jemaatnya mengalami kelemahan tubuh,

maupun kesusahan yang lain. Ia juga tidak segan - segan membantu jemaatnya

untuk berjualan di pinggir jalan, dan berkumpul bersama anak jalanan yang lain

di jalanan. Cara - cara inilah yang dikembangkan dan dilakukan, sehingga ia

tetap diterima, dihormat dan disegani jemaatnya, sekalipun ia masih muda dan

bergender perempuan. Itu semua terjadi tidak lepas dari rasa ketergantungan

dan berserah penuh kepada Tuhan.
                                                                           89

                                   BAB V

                              KESIMPULAN



A. KESIMPULAN

         Kemiskinan merupakan permasalahan        yang umum dihadapi oleh

seluruh bangsa di dunia ini. Sekalipun bangsa itu besar dan kaya, namun tidak

lepas juga dari masalah kemiskinan. Meskipun telah ditempuh dengan berbagai

cara, namun masalah kemiskinan belum dapat diatasi secara tuntas. Di

Indonesia sendiri kemiskinan sudah merebak di mana - mana, sebagai akibat

dari kekacauan politik dan ekonomi yang terjadi di bangsa ini. Meskipun

pemerintah sudah membuat berbagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan,

namun masih tidak dapat menyelesaikan persoalan kemiskinan dengan hasil

yang memuaskan.

        Anak jalanan adalah anak - anak yang berusia di bawah 18 tahun yang

sudah hidup dan mencari nafkah di jalanan. Mereka nekat terjun ke jalanan

sebagai akibat dari masalah keluarga, ekonomi, dan sosial masyarakat yang ada.

Kehidupan mereka banyak diwarnai dengan kekerasan. Pendidikan merekapun

tidak diperhatikan, sehingga banyak dari mereka yang putus sekolah. Namun, di

sisi lain anak - anak jalanan itu masih mempunyai kerinduan untuk dapat

merasakan kasih sayang dari orang tua, dan masih mempunyai cita - cita untuk

masa depannya, juga untuk pengharapan di masa mendatang.

        Gereja JKI Domba Allah adalah gereja yang dirintis sejak awal oleh

mahasiswa - mahasiswi STT Sangkakala. Mereka mempunyai kerinduan untuk

memberitakan injil dan membuka jemaat baru di Kartasura. Gereja JKI Domba
                                                                    90

Allah mempunyai beban bagi para anak - anak jalanan. Gereja ini mulai

bergerak dan melakukan penginjilan di daerah terminal Kartasura. Di

terminal tersebut banyak orang dimenangkan dan banyak anak - anak

jalanan yang diselamatkan. Anak - anak jalanan itu selanjutnya di bina

secara rohani, yaitu dengan cara membawa mereka ke dalam persekutuan,

diajak berdoa bersama, juga diperhatikan hidupnya dalam kesehariannya.

Di samping itu, anak - anak itu juga diperhatikan secara jasmani, yaitu

dengan cara diberi modal untuk usaha, dipekerjakan di tempat usaha

jemaat JKI Domba Allah Kartasura, dengan bertujuan agar mereka tidak

lagi mencari uang di jalanan. Setelah mereka benar - benar dapat hidup

secara baik dalam jasmani dan rohani, selanjutnya mereka diajar untuk

memberitakan keselamatan kepada teman - temannya.



   B. SARAN

       Tetaplah bersemangat dalam melayani Tuhan dan terus berharap

kepada-Nya. Selamatkanlah jiwa - jiwa yang terhilang, karena satu jiwa

berharga di mata Tuhan. Meskipun banyak rintangan, bertahanlah ! Karena

Tuhan akan memperhitungkan semuanya itu. Bertahanlah terus dalam

menghadapi ujian iman dalam perjalanan mengikut Tuhan. Beritakanlah

injil dan carilah jiwa untuk kemulyaan nama Tuhan. Beritakanlah injil

kepada semua orang, baik yang kaya ataupun yang miskin, karena Tuhan

tidak memandang rupa, tetapi memandang setiap hati yang mau bertobat

dan mengikut Tuhan.
                                                                           91

                         DAFTAR PUSTAKA



__________

  2000                 Alkitab, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia

__________

  2002                 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta : Yayasan

                       Komunikasi Bina Kasih/OMF

__________

  2002                 Pola Hidup Kristen,     Malang : Gandum Mas

A. Heuken Sj

  1991                 Ensiklopedi Gereja jilid A-G, Jakarta : Yayasan Cipta

                       Loka Caraba

Armai Arief

  2002                 Upaya Pemberdayaan Anak Jalanan Dalam Rangka

                       Mewujudkan Kesejahteraan Sosial dan Stabilitas

                       Nasional, Jakarta : Jurnal Fajar, LPM UIN, Edisi 4,

                       2002

Asnath N. Natas, dkk

  2004                 Teologi Operatif, Jakarta : BPK Gunung Mulia

Badudu-Zain,

  1994                 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Pustaka Sinar

                       Harapan
                                                                             92

Brown collin,

   1967                 The New International Dictionary Of New Tastement

                        Theology, Michigan : Regency Zondervan Publishing

                        Company

Darmawijaya,

 1991                   Keterlibatan Allah Terhadap Kaum Miskin,

                        Yogyakarta : Aditya Media

David L. Baker,

   2004                 Mari Mengenal Perjanjian Lama, Jakarta : BPK

                        Gunung Mulia

Derek J. Tidball,

   1995                 Teologia Penggembalaan, Malang : Gamdum Mas

Dumairy,

   1995                 Evaluasi Program Kebijaksanaan Pemerintah,

                        Yogyakarta : Aditya Media

Ds. JR. Khristiyanto,

   2005                 Prinsip Penggembalaan, Ungaran : Diktat STT Simson

DW. Ellis,

   1993                 Metode Penginjilan, Jakarta : Yayasan Bina Kasih /

                        OMF

Gerhard Kittel,

   1993                 Theological Dictionary Of The New Tastement,

                        Michigan : Publishing Company
                                                                         93

Ginanjar Kartasasmita,

   1984              Strategi Nasional Penanggulangan Masalah

                     Kemiskinan, disajikan dalam konggres Nasional VI

                     Persekutuan Injili Indonesia, Bandung 18 Mei 1984

I. Suharyo,

   1993              Mengenal Alam Hidup Perjanjian Lama, Yogyakarta :

                     Kanisius

Jacob,

   1988              Orang – Orang Kecil Dalam Kerajaan Allah,

                     Yogyakarta : Kanisius

Jl.Ch.Abineno,

   2000              Pedoman Praktis Untuk Pelayanan Pastoral, Jakarta :

                     BPK Gunung Mulia

Kirik Ertanto,

   2000              Anak Jalanan dan Subkultur: Sebuah Pemikiran

                     Awal, Yogyakarta : KUNCI

Larry Christenson,

   1988              Keluarga Kristen, Semarang : Yayasan Persekutun

                     Betania

Lukman Sutrisno,

   1999              Kemiskinan, Perempuan, Pemberdayaan, Yogyakarta

                     : Kanisius
                                                                         94

Muhsin Kalida,

   2005              Sahabatku Anak Jalanan, Yogyakarta : Alief Press

Nehemiah Mimery,

   tth               Rahasia Tentang Penggembalaan Jemaat, Mimery

                     Press,tt

Ny. Singgih D. Gunarsa,

   2001              Psikologi Anak Bermasalah, Jakarta : BPK Gunung

                     Mulia

Peter Wongso,

   1989              Teologia Penggembalaan, Malang : SAAT



Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,

   2001              Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai

                     Pustaka

Reinhard Bonnke,

   t.th              Penginjilan Dengan Api, Jakarta : Yayasan Pekabaran

                     Injil Immanuel

Robert Setio,

   2002              Teologi Ekonomi, Jakarta : BPK Gunung Mulia

S. Sinansari Ecip,

   1998              Kronologi Situasi Penggulingan Suharto, Bandung :

                     Mizan

Van Hocve,

   1994              Ensiklopedi Indonesia, Jakarta : PT Ichtiar Baru
                                                                        95

Wahju Budi Santoso,

  2001                Rapuhnya Anak Jalanan Perempuan, Jakarta :

                      Rahima

Wolfgang Stegemann,

  1994                Injil Dan Orang – Orang Miskin, Jakarta : BPK

                      Gunung Mulia

W.S. Lasor. dkk,

  2004                Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta : BPK Gunung

                      Mulia

Y. Tomatala,

  1988                Penginjilan Masa Kini, Malang : Gandum Mas

Yewanggoe,

  1992                Kemiskinan Dan Etos Kerja Masyarakat Indonesia,

                      Jakarta : Yakoma




Kepustakaan yang lain :

Harian Kompas, Komunitas Anak Jalanan Memberi Penghiburan
Senin, 4 November 2002
Laboratorium Komputer bagi Sekolah Anak Jalanan, Jakarta : Ict Watch,
2002 Yogyakarta Cyber News, Sabtu, 20/09/03,
www.sukoharjo.go.id

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:5173
posted:3/26/2011
language:Indonesian
pages:95
Description: PI dan Pengembalaan Anak Jalanan