Docstoc

Menjadi Orang Benar

Document Sample
Menjadi Orang Benar Powered By Docstoc
					Menjadi Orang Benar
Submitted by TELAGA on Thu, 27/11/2008 - 3:12pm.



          Pdt. Dr. Paul Gunadi
          Audio
          Pengembangan Diri
          T263A



Kode Kaset:

T263A

Nara Sumber:

dt.Dr. Paul Gunadi

Abstrak:

Tidak mudah menjadi orang benar; jauh lebih mudah menjadi orang yang membenarkan diri. Menjadi

orang benar berarti hidup sesuai kehendak Tuhan, sedangkan membenarkan diri adalah hidup sesuai

kehendak diri sendiri. Apa penyebab orang lebih senang untuk membenarkan diri ? Jika demikian halnya,

apakah yang harus dilakukan agar kita dapat menjadi orang yang benar ?


MP3:

3.60 MB

Transkrip

Isi:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami

dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina

Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar

dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini

tentang "Menjadi Orang Benar". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio

kami mengucapkan selamat mengikuti.


Lengkap

 GS : Menjadi orang benar memang menjadi idaman bagi banyak orang, Pak Paul, tapi
pertanyaannya adalah bisakah seorang yang berdosa ini menjadi orang benar ?

PG : Sudah tentu bisa, Pak Gunawan, itu sebabnya Tuhan tatkala menyelamatkan kita Dia membenarkan

kita sehingga kita yang tadinya di luar kehendak-Nya, di luar keluarga-Nya, di luar kasih sayan-Nya

sekarang menjadi bagian dari keluarga-Nya dan kasih sayang-Nya.


Setelah kita dibenarkan secara status yakni kita menjadi anak-anak Tuhan memang Tuhan mengharapkan

kita bertumbuh makin hari makin serupa dengan Dia. Dan ini yang dimaksud menjadi orang benar yaitu

orang yang makin hari makin serupa dengan Dia, namun tadi Pak Gunawan sudah memunculkan sebuah
fakta yaitu tidak mudah menjadi orang benar sebab kecenderungan kita adalah menjadi orang yang

membenarkan diri.


 GS : Atau mengharapkan orang lain membenarkan kita atas tindakan-tindakan kita, Pak Paul.

PG : Betul sekali. Dan kita akhirnya menjadi orang yang tidak mau tahu, yang penting kita ini harus

selalu benar. Sehingga waktu orang berkata-kata kepada kita dan misalkan jalan kita kurang luus atau

kita tidak terima, kemudian kita membenarkan diri.


 GS : Jadi orang benar adalah status kita di hadapan Tuhan yang Tuhan berikan kepada kita
dan kita dibenarkan oleh Tuhan kemudian kita akan bertumbuh menjadi orang benar dan ini
pasti menjadi suatu proses yang panjang, Pak Paul.

PG : Betul sekali, Pak Gunawan. Ini adalah sebuah proses dan memang tidak selesai dalam satu malam,

dan kita terus-menerus harus menjalaninya. Untuk bisa sampai ke sana, Pak Gunawan, kita

mestimengerti dulu kodrat manusiawi kita yang berdosa karena kodrat manusiawi kita yang berdosalah

yang menghalangi kita bertumbuh menjadi orang benar.


Ada sekurang-kurangnya 3 hal yang bisa saya pikirkan, Pak Gunawan. Yang pertama kita pada dasarnya

adalah manusia yang tidak ingin disalahkan, dari pada disalahkan kita beralih menyalahkan lingkungan

atau orang lain. Kita bisa melihat bahwa sebetulnya kecenderungannya ini sudah muncul pada waktu hari

pertama kita berdosa yaitu sewaktu Tuhan menanyakan kepada Adam. Adam tahu sebetulnya dia salah

tapi yang pertama dia langsung menyalahkan Hawa bahwa Hawalah yang menyuruh dia untuk memakan

buah yang Tuhan sudah katakan tidak boleh dia makan. Dan Hawa juga sudah langsung menyalahkan si

ular yakni si iblis. Kita bisa melihat di sini bahwa dari awalnya tatkala manusia jatuh ke dalam dosa,

manusia tidak ingin menjadi orang yang disalahkan. Pak Gunawan mungkin juga bisa melihat di dalam

hidup ada begitu banyak masalah muncul gara-gara kita ini menolak untuk disalahkan sewaktu kita

memang selayaknya harus menanggung akibat itu. Begitu banyak pertikaian terjadi oleh karena kita

menyalahkan orang yang tidak selayaknya menerima tanggung jawab itu.


 GS : Apakah ini bukan semacam mekanisme pertahanan diri, Pak Paul.

PG : Betul, ini adalah sebuah mekanisme pertahanan diri yang kalau saya jelaskan dari segi firman Tuhan,

ini merupakan buah dosa yaitu kita tidak ingin disalahkan. Dari segi psikologis pun kitaini sebetulnya

mendorong orang untuk berani melihat diri dan berani untuk mengoreksi kalau ada yang perlu dikoreksi

pada diri sendiri.


Jadi dari segi ilmu psikologi pun kita ini menganjurkan manusia untuk terbuka menerima tanggung

jawabnya dan mengakui kesalahannya. Tidak akan ada psikolog yang berkata, "Yang penting kalau ada

orang yang menyalahkanmu langkah pertama adalah menangkisnya, menyalahkan orang lain," bukan

seperti itu! Justru dari segi psikologis kita katakan itu tidak sehat. Jadi mekanisme pertahanan seperti ini

adalah mekanisme yang keluar dari dosa dan inilah yang nantinya harus kita runtuhkan.
 GS : Yang dikhawatirkan adalah akibatnya. Kalau kita memang mengakui bahwa kita salah
sudah tahu pasti ada akibatnya, Pak Paul dan ini dicoba untuk dihindari.

PG : Betul sekali, jadi karena kita tidak mau menanggung akibat maka kita cepat-cepat mengelak dan

malah menyalahkan orang dari pada kita itu menanggung kesalahan yang kita buat.


 GS : Kecenderungan yang lain apa, Pak Paul ?

PG : Yang kedua adalah yang membuat kita sulit menjadi orang benar adalah kita manusia yang ingin

mendapatkan pujian, itu sebabnya kita membenarkan diri sehingga pada akhirnya kita memperoleh pjian

oleh karena kita dianggap benar.


Pada dasarnya kita memang takut mendengar hal-hal yang berisikan kritikan, hal-hal yang negatif yang

tidak sesuai dengan konsep diri kita. Dengan cepat waktu kita mendengarkan hal-hal seperti itu, kita

menyimpulkannya sebagai ketidakmengertian orang akan siapa kita, "Kamu tidak tahu saya siapa" artinya

apa ? Kita mau mengatakan sebetulnya bahwa kamu tidak tahu betapa baiknya saya, kamu tidak tahu

bahwa sebenarnya saya ini jauh lebih baik dari pada apa yang engkau lihat atau engkau pikir dan kamu

tidak mengerti tentang saya. Jadi intinya memang kita tidak suka melihat celaan atau hal negatif tentang

diri kita maka kita menangkisnya membenarkan diri supaya akhirnya kita tampak benar di hadapan orang.

Dan ini sebenarnya muncul dari kerinduan kita untuk mendapatkan pujian dari orang.


 GS : Seringkali di sini orang justru menjadi munafik, menjadi berpura-pura di hadapan orang
lain supaya dia dipuji oleh orang.

PG : Adakalanya jalan itulah yang kita tempuh gara-gara kita ingin mendapatkan pujian maka kita

memunculkan sebuah diri yang sebetulnya itu lain dari apa yang ada di dalam diri kita. Sudah tent hidup

seperti ini tinggal tunggu waktu akhirnya kedok kita pun terbuka.


Saya kira tidak ada orang munafik yang pada akhirnya tidak terbongkar kemunafikannya. Pada akhirnya

semua kemunafikan akan terbongkar sebab Tuhan pada akhirnya selalu bertindak untuk melepas topeng-

topeng dari wajah kita.


 GS : Seringkali dibungkus dengan hal-hal yang bersifat rohani sehingga orang lain pun
enggan untuk mengungkapkannya.

PG : Seringkali seperti itu, Pak Gunawan. Saya mencoba mengerti kemanusiawian kita bahwa adakalanya

kita semua melakukan hal-hal itu, kita itu menampilkan sisi-sisi rohani, sisi-sisi yang layakmendapatkan

pujian, supaya nanti orang hanya melihat sisi itu dan tidak melihat bagian dalam diri kita yang gelap itu.


Saya kira ini kecenderungan kita sebagai manusia dan saya juga mengakui bahwa adakalanya kita tidak

sengaja munafik, dalam pengertian kita ini sebetulnya ingin sebaik itu, kita sebetulnya ingin serohani itu

tapi akhirnya kita salah langkah bukan mulai dari bawah dan mengakui karena memang kita masih di

bawah, kita masih penuh dengan kekurangan dan dosa, tapi kita memulainya dari atas. Titik
berangkatnya dari kerohanian, dari yang indah, dari yang bagus, sehingga akhirnya begitu kita memulai

dari atas, dari yang bagus-bagus itu, untuk kita bisa turun ke bawah dan mengakui betapa gelapnya kita,

itu akan menjadi susah, kita akhirnya terus terjebak di atas. Saya kira inilah yang terjadi pada orang-

orang Farisi di zaman Tuhan Yesus, pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang religius mereka ingin

hidup sesuai perintah Tuhan dan mereka adalah pemimpin-pemimpin rohani. Jadi ingin dilihat sebagai

orang-orang yang hidupnya bersih dan layak dipuji tapi karena mereka berangkat dari titik rohani itu, dari

titik bagusnya sehingga akhirnya mereka susah turun, tidak pernah turun-turun. Dan akhirnya kita tahu

apa yang terjadi yaitu Tuhan Yesuslah yang menurunkan mereka.


 GS : Itu seringkali terjadi karena kita punya kekayaan dan punya kekuasaan, Pak Paul. Dan
orang-orang di sekeliling kita membenarkan segala sesuatu yang kita lakukan.

PG : Ya. Karena seringkali karena kita berkedudukan tinggi baik itu karena kekayaan kita, karena status-

status tertentu atau pun karena jabatan-jabatan rohani kita. Maka akhirnya orang lain punsungkan

menyodorkan fakta tentang siapa kita, malah membenarkan tindakan-tindakan kita, membela kita secara

membabi buta yang sebetulnya berdampak buruk, kita bukan melek mata melihat siapa kita tapi malah

makin buta.


 GS : Tetapi karena tindakan-tindakan kita berulang kali dibenarkan walaupun sebenarnya
kita salah, yang ada dalam pikiran kita adalah tindakan saya ini sudah benar.

PG : Betul sekali. Pak Gunawan tadi memunculkan hal yang penting yaitu lingkungan pun kadang-kadang

mempunyai andil didalam permasalahan kita yang ingin membenarkan diri sehingga makin hari makn

jauhlah kita dari fakta yang sesungguhnya.


 GS : Mungkin ada kecenderungan yang lain yang Pak Paul ingin sampaikan ?

PG : Yang ketiga adalah kenapa kita ini menjadi orang yang susah sekali untuk hidup benar adalah kita

menjadi orang yang tidak mudah percaya pada niat baik orang. Itu sebabnya apa pun yang dikaakan

orang, bila orang itu tidak berkenan di dalam hati, maka dengan segera kita simpulkan sebagai niat buruk

yaitu "Kamu memang ingin menyerang saya dan sebagainya".


Kita tidak percaya bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan di telinga dapat keluar dari niat baik dan

untuk kebaikan kita, itu sebabnya kita terus membenarkan diri dan menolak komentar orang yang tidak

berkenan di hati.


 GS : Memang seringkali itu disampaikan dengan cara yang kurang menyenangkan kita. Jadi
niat baiknya tenggelam oleh karena cara penyampaian yang tidak berkenan di hati kita, Pak
Paul.

PG : Betul. Jadi adakalanya orang menyampaikan sesuatu kepada kita yang memang negatif maka

bungkusannya adalah emosi, marah, tidak senang dan sebagainya akhirnya yang kita tangkap adalah
bungksannya yaitu emosi marah dan ketidaksenangannya itu dan kita luput melihat isi bungkusan itu

yang sebetulnya baik.


Kita pun saya kira acapkali berbuat hal yang sama pada orang lain, kita membungkus masukan kita yang

penting itu dengan bungkusan-bungkusan yang penuh dengan emosi marah, tidak senang sehingga orang

lain pun tidak bisa mendengar apa yang kita sampaikan. Jadi kita ini mesti mulai membangun

kepercayaan pada niat baik orang, sebagian orang memang tidak ada niat baik dan itu betul tapi

sebetulnya cukup banyak orang yang mempunyai niat baik, mereka memberitahukan kita mungkin saja

tidak sepenuhnya tepat karena mereka tidak bisa melihat keseluruhan dari hidup kita, tapi cukup banyak

orang yang memberitahukan kita hal yang tidak berkenan itu dengan niat baik untuk kebaikan kita. Hanya

saja sekali lagi kita bukanlah orang yang terbiasa untuk percaya pada niat baik orang. Kalau

perkataannya itu enak didengar maka kita berkata, "Orang ini baik dan berniat baik kepada kita," tapi

begitu perkataannya kurang berkenan kita langsung menyimpulkan, "Kamu memang mempunyai niat

buruk, ingin menjelekkan saya, ingin menyerang saya." Tapi sesungguhnya bukankah kalau orang sampai

memberanikan diri, memberitahukan kita tentang diri kita yang tidak positif, bukankah itu sebuah upaya

yang keras, yang berat dan tidak mudah. Biasanya orang tidak dengan mudah bicara hal yang negatif

tentang orang lain secara langsung. Jadi kalau sampai orang mengupayakan hal itu seyogianyalah orang

itu mengakui bahwa besar kemungkinan niatnya baik, sebab untuk apa dia susah-susah meresikokan diri

untuk berbicara langsung kepada kita.


 GS : Diperlukan keberanian dari kita juga melakukan umpan balik, menanyakan apa
sebenarnya maksudnya. Tetapi itu memang dibutuhkan kerendahan hati dari kita, Pak Paul.

PG : Betul sekali. Sebab kecenderungan kita dari pada merendahkan diri, bertanya dengan jujur apa yang

menjadi pengamatannya tentang diri kita, maka reaksi yang pertama dari kita adalah menangksnya,

membenarkan diri akhirnya makin hari bukannya kita menjadi orang yang benar di mata Tuhan, akhirnya

kita sibuk membenarkan diri, makin jauhlah kita dari kondisi yang sesungguhnya yang Tuhan inginkan

dari kita.


 GS : Jadi kalau begitu apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang yang benar, Pak
Paul ?

PG : Mazmur 92:13-16 mengajarkan kita bagaimanakah kita menjadi orang yang benar. Firman Tuhan

berkata, "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di

Lbanon; mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita.


Pada masa tua pun mareka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa

Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya." Dari firman Tuhan ini

sekurang-kurangnya ada 3 hal yang bisa kita petik untuk menolong kita hidup sebagai orang benar. Yang

pertama, Firman Tuhan berkata orang benar itu akan bertunas dan bertumbuh subur di dalam pelataran

Allah, di dalam bait Allah. Artinya apa? Artinya di dalam iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus.
Pertumbuhan adalah tanda adanya kehidupan, jika kita hidup di dalam Tuhan maka kita akan bertumbuh

pula. Pertumbuhan rohani diukur lewat pertumbuhan iman, orang yang tidak bertumbuh biasanya hidup di

dalam kecemasan karena tidak ada iman sehingga mengkhawatirkan segalanya. Kadang kita hidup

seakan-akan tidak ada Tuhan, kita mengupayakan segalanya seakan-akan semua bergantung kepada kita.

Pada faktanya Tuhan menentukan segalanya dan tugas kita adalah beriman kepada-Nya dan percaya

pada kasih setiaNya. Misalkan kita lihat contoh pada orang Israel, berulang kali orang Israel melihat

Tuhan menyelamatkan dan memelihara mereka namun setiap kali masalah datang mereka kembali

mengeluh dan inti masalah bukanlah terletak pada keluhan melainkan kepada ketidakpercayaan mereka.

Berkali-kali mereka melihat Tuhan bertindak tapi terus tidak percaya bahwa Tuhan sanggup dan akan

menyelamatkan dan memelihara mereka, inilah tanda iman yang tidak bertumbuh, pada akhirnya iman

yang tidak bertumbuh akan mati. Orang benar yang sepenuhnya beriman kepada Tuhan, Pak Gunawan,

dia tahu bahwa semua di tangan Tuhan, jadi dia tidak takut untuk menerima masukan negatif, tidak takut

untuk mengakui kesalahannya dan memang ini tanggung jawab saya dan memang benar bahwa saya

salah, tidak takut dengan hal-hal seperti itu, tidak takut melihat sisi gelap dalam dirinya dan diketahui sisi

gelap itu. Kenapa ? Sebab dia sepenuhnya bertumpu pada Tuhan, Tuhan yang mengatur semuanya.


 GS : Jadi pertumbuhan iman ini merupakan suatu proses, apakah orang yang bersangkutan
ini tahu bahwa dia sedang bertumbuh ?

PG : Seharusnya perlahan-lahan dia bisa melihat bahwa imannya bertumbuh, Pak Gunawan, sebab Tuhan

itu tidak pernah berhenti untuk membentuk kita, Dia akan menghadirkan situasi demi situasi dimaa untuk

sejenak kita merasa kehilangan arah, kehilangan kendali atas hidup ini, kita tidak tahu apa yang harus

kita lakukan dan dalam kondisi seperti itu kita dipaksa Tuhan untuk datang kepada-Nya dan bersandar

kepada-Nya.


Jadi di dalam kegelapan, saat kita tidak melihat, di saat itulah kita bersandar kepada-Nya, percaya bahwa

Tuhan bisa menolong dan memelihara kita. Sewaktu itu terjadi, kita pun akan berkata, "Tidak salah saya

percaya kepada Tuhan, tidak salah saya beriman kepada-Nya sebab tangan-Nya selalu cukup panjang

untuk menolong kita." Misalkan dalam contoh dengan kaitan yang kita bicarakan ini, waktu misalkan dia

mengaku salah, dan dia tidak membenarkan diri, dia mengaku salah dan dia melihat Tuhan bekerja,

Tuhan menolong, Tuhan membukakan jalan dan sebagainya. Lewat peristiwa-peristiwa itu imannya makin

ditumbuhkan bahwa tidak apa-apa maka kita bisa percaya kepada Tuhan.


 GS : Salah satu indikasinya adalah orang itu selalu di bait Allah atau di pelataran Allah
seperti yang pemazmur katakan.

PG : Betul. Jadi memang orang yang mendahulukan Tuhan dan benar-benar merenungkan dan

memikirkan firman Tuhan dan hidup berdasarkan kehendak Tuhan.


 GS : Hal yang kedua apa Pak Paul, tentang orang yang benar ?
PG : Firman Tuhan juga menekankan bahwa orang benar adalah orang yang mengalami sendiri

kebenaran perkataan Tuhan. Apa yang Tuhan janjikan pasti ditepatiNya, sebab Tuhan tidak pernah dan

tidak kan berbohong, itu sebabnya orang benar hidup sepenuhnya atas dasar kuasa pemeliharaan Tuhan.


Ia tidak takut atau ragu, ia yakin bahwa Tuhan mengatur segalanya dengan sempurna, dia tidak khawatir

disalahkan sebab tanggung jawabnya adalah kepada Tuhan sendiri, ia tidak takut penghakiman manusia

sebab terpenting baginya hidup sesuai kehendak Tuhan. Jadi orang benar hidup atas dasar setiap

perkataan Tuhan. Itu sebabnya dia tidak mencemaskan penilaian orang terhadapnya dan tidak merasakan

perlu membenarkan diri. Orang ini benar-benar mantap, kokoh sebab benar-benar apa yang diketahuinya

itu bukan saja hanya diketahui secara rasio atau pengetahuan, tapi diketahui secara pengalaman hidup.

Tuhan itu setia dan bukan hanya dia tahu secara pengetahuan tapi dia mengalami bahwa Tuhan itu setia,

kenapa Tuhan bisa memelihara, kenapa Tuhan bisa mencukupi, kenapa Tuhan bisa menolong, kenapa

Tuhan bisa melepaskan saya dari jerat-jerat dan masalah ini ? Dan pengalaman-pengalaman langsung itu

membuat kita tambah hari tambah yakin akan kebenaran firman-Nya bahwa Tuhan itu betul. Maka orang

seperti ini tidak perlu lagi menemukan alasan untuk membenarkan diri, dia perlu hidup apa adanya dan

nanti Tuhan akan tolong dan nanti Tuhan akan lepaskan. Jadi sekali lagi tidak pernah takut dan khawatir.


 GS : Ini terkait dengan yang tadi yaitu imannya yang bertumbuh, iman yang bertumbuh itu
dasarnya dia membaca, mendengar, menghayati firman Tuhan sendiri, Pak Paul ?

PG : Dan itulah langkah awal yang mutlak harus kita jalani, bagaimanakah kita bisa mengetahui janji

Tuhan kalau kita tidak membaca firman-Nya. Jadi itu langkah pertama, namun langkah kedua adalh

sewaktu Tuhan menempatkan kita di posisi di mana kita tidak bisa menguasai hidup ini, kita harus

bersandar kepada-Nya kita harus melangkah dengan iman dan dari situlah kita akan melihat kebenaran

perkataan-Nya, pemenuhan janji-Nya.


Kalau kita tidak pernah mengambil langkah kedua itu mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan maka

kita tidak akan mungkin melihat kebenaran firman-Nya bahwa Tuhan itu benar-benar akan melakukan

seperti apa yang dikatakan-Nya.


 GS : Seringkali orang berkata percaya kepada Tuhan itu suatu langkah awal dan mudah
tetapi mempercayakan diri kepada Tuhan itu menjadi masalah yang lain.

PG : Betul sekali. Jadi orang yang tidak bisa mempercayakan dirinya kepada Tuhan, akhirnya tidak

pernah bertumbuh menjadi orang yang benar, sebagaimana yang Tuhan kehendaki.


 GS : Yang ketiga apa Pak Paul tentang orang benar ini ?

PG : Firman Tuhan mengatakan orang benar bertahan dalam kebenaran sampai tua sebab dia terus

menyaksikan pimpinan Tuhan atasnya tatkala dia hidup di dalam kebenaran, ia tidak cemas kehilangan aa

yang diharapkannya karena dia tahu Tuhan sudah menetapkan porsi yang tepat untuknya.
Itu sebabnya dia tidak terdorong untuk hidup di dalam kecurangan, ia tahu bahwa dalam kebenaranlah ia

akan mendapatkan berkat Tuhan, ia terus bertahan sampai tua sebab dia tidak pernah kecewa kepada

Tuhan. Saya masih ingat pertanyaan saya kepada Pdt. Philip Teng, dia adalah seorang hamba Tuhan yang

sudah sangat tua berasal dari Hongkong dia melayani Tuhan dengan setia. Waktu beliau datang ke

Jakarta kemudian saya bertanya, "Apakah Bapak Philip Teng pernah mengalami kekecewaan hidup di

dalam Tuhan dan melayani-Nya selama ini ?" Beliau berkata, "Tidak pernah" sebab bagi dia melayani

Tuhan dan hidup di dalam Tuhan merupakan sebuah kehormatan, bagaimanakah kehormatan yang begitu

besar dapat mengecewakannya, dia berkata, "Tidak bisa". Kenapa orang bisa sampai tua bertahan

menjadi orang benar dan makin hari makin bertumbuh karena dia menyaksikan dan mengalami terus

pemeliharaan Tuhan yang begitu setia, maka dia terus bertahan sampai tua. Tapi orang yang tidak

mengalaminya, belum sampai tua pun jatuh lagi dan jatuh lagi.


 GS : Itu sebabnya ada beberapa orang memang mempertaruhnya nyawanya demi
kebenaran ini, Pak Paul.

PG : Betul sekali. Makanya ada orang yang rela kehilangan segalanya bahkan kehilangan hidupnya demi

Tuhan, demi Kristus Juruselamat kita yang telah setia memelihara hidup kita dan telah begitu erkorban

untuk dosa kita.


 GS : Jadi sebenarnya mempertahankan kebenaran di dalam diri seseorang ini adalah suatu
upaya yang mendapat dukungan penuh dari Tuhan dan bukan dari kekuatannya sendiri, Pak
Paul.

PG : Betul. Jadi sewaktu kita mempertahankan kebenaran Tuhan maka kita akan terus dipelihara Tuhan.

Jangan sampai kita memertahankan kebenaran sendiri, alias membenarkan diri, itu yang Tuhan tiak

kehendaki.


 GS : Kesimpulannya apa, Pak Paul, dari kehidupan orang yang benar ini ?

PG : Dapat kita simpulkan bahwa hidup orang yang benar akan menghasilkan buah yang lebat dan segar.

Sebaliknya hidup orang yang membenarkan diri dan berjalan dalam kecurangan akhirnya hanyalah

enghasilkan buah yang pahit.


 GS : Contoh konkretnya seperti apa buah yang manis dan buah yang pahit ?

PG : Yang pertama adalah yang pasti dirasakan oleh orang di sekitar kita adalah kepahitan-kepahitan,

kekecewaan-kekecewaan tapi bagi orang yang hidupnya benar orang di sekitarnya itu akan selal mencicipi

manisnya hidup dengan dia, manisnya berbicara dengan dia, manisnya mendengarkan kata-katanya.


Itu semua adalah buah-buah yang dicicipi. Dan kita harus ingat kita ini adalah pohon yang berbuah, kita

sendiri sebetulnya tidak memakan buah itu, buah itu dimakan oleh orang lain. Jadi manis atau tidaknya

itu ditentukan oleh orang di sekitar kita, kalau hidup kita membuahkan buah yang manis, orang di sekitar
kita menerima buah yang manisnya. Tapi kalau dalam hidup kita, kita menghasilkan buah yang pahit,

orang di sekitar kita akan terus memakan buah yang pahit dalam hidupnya gara-gara kita.


 GS : Dan orang di sekitar kita itu justru anggota keluarga kita, Pak Paul ?

PG : Seringkali demikian, Pak Gunawan.


GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak

terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara

Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Menjadi Orang

Benar." Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda

menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl.

Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga

mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan

Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan

sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.


Ringkasan

Isi:

Tidak mudah menjadi orang benar; jauh lebih mudah menjadi orang yang membenarkan diri. Menjadi

orang benar berarti hidup sesuai kehendak Tuhan sedangkan membenarkan diri adalah hidup sesuai

kehendak diri sendiri. Mari kita lihat mengapa kecenderungan kita adalah membenarkan diri.


       1.   Kita adalah manusia yang tidak ingin disalahkan. Daripada disalahkan kita beralih menyalahkan

            lingkungan atau orang lain. Sewaktu Tuhan memanggil Adam, ia menyalahkan Hawa dan

            akhirnya Hawa menyalahkan si ular yakni iblis. Di dalam hidup begitu banyak masalah muncul

            gara-gara kita menolak disalahkan sewaktu memang kita selayaknya menanggung akibat itu.

            Begitu banyak pertikaian terjadi oleh karena kita menyalahkan orang yang tidak selayaknya

            menerima tanggung jawab itu.

       2.   Kita adalah manusia yang ingin mendapatkan pujian. Itu sebabnya kita membenarkan diri

            sehingga pada akhirnya kita memperoleh pujian oleh karena kita dianggap benar. Pada dasarnya

            kita takut mendengar hal-hal yang berisikan kritikan dan dengan cepat menyimpulkannya

            sebagai ketidakmengertian orang akan siapa kita. Membenarkan diri merupakan upaya untuk

            menangkis kritikan.

       3.   Kita adalah manusia yang sesungguhnya tidak mudah percaya pada niat baik orang. Itu

            sebabnya apa pun yang dikatakan orang, bila tidak berkenan di hati, dengan segera

            disimpulkannya sebagai niat buruk. Kita tidak percaya bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan

            di telinga keluar dari niat baik dan untuk kebaikan kita. Itu sebabnya kita membenarkan diri dan

            menolak komentar orang yang tidak berkenan.
Jika demikian halnya, apakah yang harus dilakukan agar kita dapat menjadi orang yang benar? Mazmur

92:13-16 mengajarkan bagaimanakah kita dapat menjadi orang yang benar.

Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;

mereka yang ditanam, di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka

masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia

gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.


    1.   Orang benar akan bertunas dan bertumbuh subur di dalam iman. Pertumbuhan adalah tanda

         adanya kehidupan. Jika kita hidup di dalam Tuhan maka kita akan bertumbuh pula. Pertumbuhan

         rohani diukur lewat pertumbuhan iman. Orang yang tidak bertumbuh hidup dalam kecemasan

         sebab ia mengkhawatirkan segalanya. Kita mengupayakan segalanya seakan-akan semua

         bergantung pada kita. Pada faktanya, Tuhan menentukan segalanya. Tugas kita adalah beriman

         kepada-Nya dan percaya pada kasih setia-Nya. Berulang kali orang Israel melihat Tuhan

         menyelamatkan dan memelihara mereka namun setiap kali masalah datang, mereka kembali

         mengeluh. Inti masalah bukanlah terletak pada keluhan melainkan pada ketidakpercayaan.

         Mereka terus tidak percaya bahwa Tuhan sanggup dan akan menyelamatkan dan memelihara

         mereka. Inilah tanda iman yang tidak bertumbuh. Pada akhirnya iman yang tidak bertumbuh

         akan mati.

    2.   Orang benar adalah orang yang mengalami sendiri kebenaran perkataan Tuhan. Apa yang

         dijanjikan Tuhan pasti ditepati-Nya sebab Tuhan tidak berbohong. Itu sebabnya orang benar

         hidup sepenuhnya atas dasar kuasa pemeliharaan Tuhan. Ia tidak ragu atau takut; ia yakin

         bahwa Tuhan mengatur segalanya dengan sempurna. Ia tidak khawatir disalahkan sebab

         tanggung jawabnya adalah kepada Tuhan sendiri. Ia tidak takut penghakiman manusia sebab

         terpenting baginya hidup sesuai kehendak Tuhan. Orang benar hidup atas dasar setiap perkataan

         Tuhan; itu sebabnya ia tidak mencemaskan penilaian orang terhadapnya dan tidak merasakan

         perlu membenarkan diri.

    3.   Orang benar bertahan dalam kebenaran sampai tua sebab ia terus menyaksikan pimpinan Tuhan

         atasnya tatkala ia hidup dalam kebenaran. Ia tidak cemas kehilangan apa yang diharapkannya

         karena ia tahu Tuhan sudah menetapkan porsi yang tepat untuknya. Itu sebabnya ia tidak

         terdorong untuk hidup dalam kecurangan; ia tahu bahwa dalam kebenaranlah ia akan

         mendapatkan berkat Tuhan. Ia terus bertahan sampai tua sebab ia tidak pernah kecewa pada

         Tuhan.


Kesimpulan:

Hidup orang yang benar akan menghasilkan buah yang lebat dan segar; sebaliknya hidup orang yang

membenarkan diri dan berjalan dalam kecurangan, akan menghasilkan buah yang pahit.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:92
posted:3/26/2011
language:Indonesian
pages:10
About tagged-basistik.blogspot.com,free-pdf-doc-xls-ppt.blogspot.com,fisika-basistik.blogspot.com,soccers-basistik.blogspot.com,pharaswork.blogspot.com