Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Manusia Baru

VIEWS: 65 PAGES: 9

									Manusia Baru
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.



          Pdt. Dr. Paul Gunadi
          Audio
          Pengembangan Diri
          T215A



Kode Kaset:

T215A

Nara Sumber:

Pdt. Dr. Paul Gunadi

Abstrak:

Setiap orang Kristen pasti pernah bergumul dengan dosa yang ada pada dirinya. Kita tahu tidak

seharusnya kita berdosa namun kita tetap melakukan perbuatan yang sama. Seperti bergumul dengan

dosa berbohong, kita tahu itu salah, tetap saja kita mengulangnya. Ada yang bergumul dengan dosa

seksual, kita ingin lepas tetapi terus melakukannya. Dan apa yang harus kita lakukan?


MP3:

3.62 MB

Transkrip

Isi:

T 215 A


Lengkap

"Manusia Baru" oleh Pdt.Dr. Paul Gunadi


Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami

pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga

Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam

bidang konseling serta dosen di Sekolah Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang

"Manusia Baru". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami

mengucapkan selamat mengikuti.


 GS : Pak Paul, istilah manusia baru ini rupanya sangat populer di kekristenan. Tetapi
sebenarnya tentang apakah manusia baru itu konsepnya berbeda-beda. Bagaimana Alkitab
mengatakan hal ini?

PG : Kita dapat membaca II Korintus 5:17, "Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan baru:

yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Nah dari sinilah kita jug memang

mengambil konsep itu, bahwa kita adalah manusia atau ciptaan yang baru.
Kita sudah dilahir barukan oleh Roh Kudus dan sekarang kita menjadi anak Tuhan. Tapi kenyataanya

adalah meskipun kita sudah menjadi anak Tuhan secara status kita adalah lahir baru, manusia baru.

Namun kita masih terus bergumul dengan manusia lama kita. Misalkan ada orang yang terus bergumul

dengan emosi marah, tidak ingin marah tapi akhirnya tetap marah. Ada yang bergumul dengan dosa

berbohong, kita tahu itu salah tapi tetap saja kita mengulanginya. Ada juga yang bergumul dengan dosa

seksual, kita ingin lepas tapi tetap melakukannya. Kita merana sekali karena kita tahu tidak seharusnya

kita hidup seperti ini, kita ingin bebas tapi terus terbelenggu oleh dosa yang sama. Jadi saya kira inilah

hal yang kita mau angkat pada kesempatan ini agar para pendengar kita juga memiliki pemahaman

tentang "Apa artinya menjadi manusia yang baru."


 GS : Nah, kalau begitu apa bedanya dengan mereka yang belum dilahir barukan? Kalau
memang dari segi pergumulan dosa dan sebagainya tetap sama, hanya statusnya saja sebagai
manusia baru, ini bagaimana Pak Paul?

PG : Saya akan bacakan pertama-tama dari Roma 12:2 "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia

ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak

Alah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."


Kata pembaharuan budi: kata budi ini berarti pikiran, jadi Tuhan memang mengatakan atau meminta kita

untuk berubah pertama-tama di dalam pikiran kita. Efesus 4:23,24 berkata "Supaya kamu dibaharui di

dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah

di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." Jadi dari Firman Tuhan di Efesus 4 ini kita juga

bisa melihat Tuhan memperbaharui kita di dalam roh dan pikiran kita. Jadi yang pertama-tama berubah

atau mengalami perubahan adalah pemikiran kita, cara pandang kita, cara kita melihat apa yang terjadi di

dalam hidup ini. Jadi misalkan, dulu kita menekankan uang, pokoknya terpenting adalah uang segala

sesuatu kita ukur lewat uang. Nah sekarang setelah kita menjadi anak Tuhan, kita mengadopsi pemikiran

Tuhan. Pemikiran Tuhan adalah bukan uang yang menjadi segalanya, tetapi Tuhan, bahwa manusia diukur

bukan lewat uang tetapi oleh apa yang ada di dalam dirinya yakni karakter itu sendiri. Pemikiran yang

baru ini yang kita peroleh dari nilai-nilai yang tercantum di firman Tuhan, ini yang nanti akan mulai

menstransformasi diri kita, karena kita mulai melihat dengan cara yang berbeda. Di sinilah terjadi

perubahan, tapi apakah kita telah mengalami atau telah berubah secara tuntas di dalam segala hal?

Belum. Cara pikir kita mungkin berubah di dalam satu aspek, aspek lainnya masih kurang. Misalkan dalam

soal uang, kita belajar uang bukan segalanya, kita diminta untuk mencari kerajaan Allah dan

kebenarannya maka segalanya akan ditambahkan kepadamu, kata firman Tuhan. Kita berhasil menomor

sepuluhkan uang, sekarang kita lebih menomorsatukan Tuhan dan kebenarannya, kita lebih

mementingkan relasi dengan orang dari pada uang dan sebagainya. Tapi di dalam hal yang lain misalkan,

di dalam hal kejujuran, kita masih belum bisa berubah. Kita misalkan masih sering berbohong, untuk

kepentingan pribadi, pokoknya kita siap saja berbohong, kita masih belum menerapkan pikiran Kristus di

sini, Pak Gunawan. Sehingga tetap terlibat dan terikat di dalam dosa berbohong itu. Jadi di sini kita
melihat juga bahwa perubahan atau transformasi di dalam pikiran itu berjalan setahap demi setahap, satu

areal demi satu areal tidak secara serentak, seketika semua areal mengalami transformasi sehingga kita

menjadi manusia baru yang berpikir dengan cara pandang yang baru .


 GS : Dan pola pikir kita berubah karena kita membaca Alkitab itu sebagai firman Allah , Pak
Paul.

PG : Betul, jadi kita mendapatkan informasi tentang pikiran Kristus lewat firman-Nya. Itu sebabnya kalau

kita mengaku, kita adalah orang Kristen tapi tidak membaca firman Tuhan, kita sebetulnyatidak memiliki

pikiran Kristus.


Pengakuan iman kita memang ada, kita mengaku kita adalah pengikut Kristus, kita percaya Dia telah mati

untuk dosa kita. Tapi kita tidak memiliki pikiran Kristus. Ini menjelaskan kenapa ada orang-orang Kristen

yang sudah lama bergereja, ikut Kristus tapi tetap luar biasa berdosa. Tidak mempunyai kehidupan yang

berbeda dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Kenapa? Sebab yang terjadi dia tetap memiliki

pemikirannya sendiri atau 90% lebih pikirannya itu adalah pikirannya sendiri, belum diisi dan dibaharui

dengan pemikiran Kristus .


 GS : Tapi ada orang yang mengatakan waktu dia terima Tuhan Yesus dan dia yakin itu
kelahiran barunya terjadi, dia langsung berubah. Artinya dia yang tadinya pemabuk dia tidak
lagi pemabuk, dia yang tadinya suka melakukan hubungan seks diluar nikah menjadi berubah
sama sekali, begitu Pak Paul.

PG : Biasanya dosa yang menonjol, itu yang akan mengalami perubahan tercepat Pak Gunawan. Jadi di

areal dimana kita itu memiliki dosa yang menonjol, maka di situlah kita mengalami perubahan atu

transformasi.


Sebab perjumpaan dengan Kristus benar-benar menghancurkan dosa yang menonjol itu. Jadi misalkan

tadi yang Pak Gunawan sudah sebut , kita misalkan sering berzinah, kita sering berjudi, kita sering

misalkan mengambil milik orang lain; dosa yang menonjol itu yang langsung terkonfrontasi oleh

kebenaran Kristus tatkala kita menerimanya sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Namun, akan ada areal

tertentu dalam hidup kita yang lebih tersembunyi, akan ada dosa-dosa yang lebih tersembunyi yang tidak

mudah untuk kita ubah. Inilah yang menyebabkan kita akhirnya terus bergumul dengan dosa-dosa yang

lain itu. Rasul Paulus di Roma 7:21-23 berkata "Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki

berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,

tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal

budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku."

Jadi Rasul Paulus disini terbuka mengakui pergumulannya. Dia tahu apa yang seharusnya dilakukan tetapi

dia masih belum bisa melakukannya. Ternyata di dalam kehidupannya pun masih ada dosa-dosa tertentu

yang terus menyelinap masuk ke dalam hidupnya dan masih terus mencoba untuk menguasainya. Jadi,

sekarang kita berkesimpulan selain kita harus mempunyai pikiran Kristus atau kita berpikir seperti Kristus,
kita pun harus berbuat seperti Kristus, tidak cukup hanya mengetahui, kita juga harus melakukannya.

Nah sering kali Pak Gunawan, di sinilah terjadi kemacetan, kita tahu apa yang Kristus inginkan, apa yang

Tuhan perintahkan tapi kita tidak bisa melakukannya. Pertanyaannya adalah mengapa terjadi kemacetan?

Kenapa di areal-areal tertentu kita sudah tahu seharusnya bagaimana berbuat, tapi tetap saja kita gagal.

Sudah tahu seharusnya tahan diri tidak marah tetap kita marah. Seharusnya tahu kita harus jujur berkata

apa adanya tetap saja kita berbohong, kita sudah tahu jangan dekat-dekat dengan dosa perzinahan tetap

saja kita pergi ke tempat-tempat mesum dan melakukan dosa itu. Mengapa? Biasanya ini penyebabnya

Pak Gunawan, dosa yang sudah lama kita lakukan menjadi bagian hidup kita. Menjadi bagian dari

kepribadian kita, sehingga untuk melepaskannya menjadi sangat susah. Menjadi bagian dari hidup kita

artinya apa? Hal-hal ini yang berdosa tadi sudah menjadi sebuah jalan keluar bagi kita, jalan keluar atau

sarana untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Sebagai contoh, kita ingin agar pasangan kita

menghormati kita, kita terbiasa untuk berteriak dan marah, pasangan kita akan lebih takut dan akhirnya

meninggalkan kita. Kita mau mendapatkan sesuatu kita berbohong supaya mendapatkan yang kita

inginkan itu atau kita frustrasi hubungan dengan istri tidak begitu positif, nah kita keluar dan berzinah

dengan orang lain. Sekali lagi kita melihat di situ dosa perbuatan-perbuatan tersebut adalah alat untuk

memenuhi keinginan kita, itu sebabnya untuk melepaskan dosa-dosa atau perbuatan-perbuatan tersebut

sulit. Sebab selama ini hal-hal itulah yang telah berfungsi untuk memenuhi yang kita inginkan.


 GS : Ada orang yang mengatakan bahwa kalau saya mau tidak melakukan hal itu maka saya
tidak akan melakukannya. Tapi kalau kita melihat kenyataannya tanpa pertolongan Roh Kudus
seseorang itu tidak akan dengan mudahnya bisa melepaskan diri dari perbuatan-perbuatan
atau kebiasaan-kebiasaan yang jahat itu, Pak Paul.

PG : Dia memang harus bergantung atau kita semua harus bergantung sepenuhnya pada kuasa Tuhan.

Karena hal-hal tersebut sudah mendarah daging dalam diri kita. Untuk melepaskannya akan sangat-sagat

sulit sekali, maka setiap hari akan menjadi hari-hari untuk bergantung pada kuasa Tuhan.


Secara spesifiknya sebetulnya inilah yang harus terjadi, yaitu kita harus mempercayai Kristus. Dalam

pengertian, kita harus mempercayai bahwa Dia dapat memberikan kepada kita hal yang kita inginkan itu,

tapi lewat cara-Nya. Dulu kita menginginkan penghormatan cara yang kita gunakan marah. Dulu kalau

kita dirugikan, kita ingin kita tidak dirugikan lagi dan cara yang kita gunakan kita menakut-nakuti orang,

mengancam orang. Dulu kalau kita terjepit, kita akan berbohong, supaya menerima sesuatu yang kita

ingin dapatkan. Nah cara-cara itu untuk mendapatkan yang kita inginkan, hal itulah yang berdosa. Kalau

kita ingin berbuat seperti Kristus, bukan hanya berpikir seperti Kristus, Kristus harus berada di antara kita

dan keinginan itu. Sebelumnya, di antara kita dan keinginan ada cara, kita menginginkan keuntungan

maka cara apakah yang kita gunakan. Misalkan kita berbohong. Nah sekarang karena kita sudah memiliki

pikiran Kristus dan mau berbuat seperti Kristus, kita berkata: "Antara saya dan keinginan untuk

mendapatkan keuntungan sekarang ada Kristus, bukan lagi caraku tapi cara Kristus." Cara Kristus adalah
apa? "Saya harus jujur, saya harus taat kepada-Nya, saya harus percaya bahwa dengan kejujuran ini, Dia

akan tetap bisa memberikan kepada saya apa yang saya butuhkan."


 GS : Tapi ada orang yang merasakan sudah terlepas dari suatu kebiasaan buruk tertentu.
Misalnya saja berzinah, sudah lama dia tidak melakukan perzinahan tetapi tiba-tiba di suatu
kesempatan itu dia jatuh lagi didalam dosa perzinahan. Nah ini bagaimana menurut Pak Paul?

PG : Sudah tentu kita harus menyadari satu kebenaran, yaitu sampai kapan pun sebetulnya manusia

lama kita itu mempunyai kedudukan di dalam hidup kita. Artinya meskipun kita sudah diperbaharui dn

makin banyak areal dalam diri kita yang mengalami transformasi, tapi akan tetap ada bagian-bagian

hidup kita yang diduduki oleh manusia lama.


Kalau tidak hati-hati dan kita lengah, kita beranggapan saya tidak akan lagi mungkin dikuasai oleh dosa

itu. Nah di saat itulah si manusia lama muncul dan menguasai kita. Sebagai contoh, di dalam keadaan

frustrasi otomatis kendali atas diri itu berkurang. Kalau kita tahu bahwa kita itu mempunyai masalah

dengan emosi dan saat itu kita justru harus lebih berhati-hati karena kita tahu kalau tidak hati-hati, justru

manusia lama yang mudah beremosi akan kembali datang. Kapan datangnya? Dia akan datang tatkala

kendali kita sedang melemah, saat kita mengalami frustrasi. Maka Tuhan selalu mengingatkan kita berdoa

dan berjaga-jagalah. Tuhan selalu mengingatkan kita "roh penurut tetapi daging itu lemah." Pikiran kita

tahu apa yang kita lakukan, tapi daging kita atau perbuatan kita tidak mengikutinya, kita perlu menyadari

semua itu. Berbahagialah orang yang senantiasa berdoa dan berjaga-jaga, Pak Gunawan.


 GS : Hal itu yang membuat orang kemudian merasa bahwa dia sebetulnya belum lahir baru,
dia belum menjadi manusia baru. Karena dia melakukan perbuatan dosa itu lagi.

PG : Nah orang atau kita semua harus mempunyai perspektif yang berimbang, Pak Gunawan. Bahwa kita

adalah manusia baru yang masih mempunyai manusia lama. Kita jangan berkata saya adalah

manusialama dan belum ada manusia barunya.


Bukan, kita sudah menjadi manusia baru, kita sudah ditebus oleh Kristus, kita sudah bertobat dan kita

menjadi pengikut-Nya. Tapi di dalam manusia baru ada manusia lama dan ini adalah perspektif yang

benar yang mesti kita miliki. Jadi kita menyadari karena dalam manusia baru kita masih ada manusia

lama yang tersisa, masih ada areal-areal dalam diri kita yang masih memberikan kedudukan kepada

manusia lama. Kita senantiasa harus berjaga-jaga dan kita harus memfokuskan perhatian kita pada areal-

areal itu agar kita bisa menumbuhkannya, kita bisa mengembangkan manusia baru di sana, sehingga

akhirnya lebih banyak daerah atau teritori dalam diri kita yang dikuasai oleh Roh Kudus dan ini akan

memerlukan waktu, proses. Bersabarlah, jangan kita bersenang-senang jatuh ke dalam dosa, jangan.

Waktu jatuh kita mesti melihat ke atas yaitu kepada Tuhan meminta pengampunan, kita sadar kita jatuh

lagi, kita mendukakan hati Tuhan. Namun setelah itu kita fokuskan lagi ke depan. Kita berkata saya akan

melawan percobaan tatkala ia datang kembali.
 GS : Memang dalam mengembangkan area yang dikuasai oleh Roh Kudus dan
mempersempit area yang dikuasai oleh dosa. Sesuatu yang tadinya tidak kita anggap sebagai
dosa, firman Tuhan dengan Roh Kudus itu akan mencerahkan pada kita ternyata itu dosa dan
kita harus perangi itu lagi, apakah begitu Pak Paul?

PG : Betul, jadi kita juga akan bertumbuh terus-menerus di dalam pikiran, pikiran yang dimiliki oleh

Kristus. Tadinya kita anggap, berbohong seperti ini tidak apa-apa. Namun Tuhan menegur kita itu tetap

berbohong.


Kita dicerahkan, berarti kita mulai menambah pikiran Kristus dan memasukkannya ke dalam pikiran kita.

Sehingga semakin hari pikiran kita semakin mengecil tapi pikiran Kristus yang semakin menguat, menjadi

penentu dalam hidup kita. Jadi itu adalah perubahan yang baik yang seharusnya dan yang kita senantiasa

harus kejar. Satu hal yang lain Pak Gunawan yang saya juga mau ingatkan kepada pendengar kita adalah

kenapa saya selalu menekankan pada, fokuskan pada yang selanjutnya. Saat kita jatuh kita minta

pengampunan pada Tuhan, kita jalan lagi dan kita fokus kembali ke depan. Sebab ada orang yang seperti

ini Pak Gunawan, terlalu terfokus pada dosanya, terlalu memukuli diri, menyesali diri akibat dosanya.

Makin dia memukuli diri, menyesali diri makin melemah bukan makin menguat sehingga pada akhirnya

waktu pencobaan datang bukannya dia kuat tetapi semakin melemah. Maka fokus perhatian kita bukan ke

belakang tetapi selalu ke depan. Kalau kita sudah jatuh kita meminta pengampunan Tuhan majulah ke

depan, jangan biarkan diri kita terus dikuasai oleh rasa bersalah. Sebab rasa bersalah yang berlebihan

akan melemahkan kita dan yakinlah bahwa iblis juga turut bekerja di situ dengan cara menambah-

nambah rasa bersalah kita, meniupkan isu, "kamu tidak layak menjadi anak Tuhan, berhentilah, sudah

jangan pikirkan Tuhan lagi." Nah, hati-hatilah dengan bisikan-bisikan iblis karena makin kita terpuruk,

makin senanglah dia.


 GS : Memang hal-hal seperti itu sering kali kita alami, Pak Paul. Sebagai pergumulan orang
yang menjadi manusia baru. Jadi manusia baru ini suatu proses yang rasanya tidak ada habis-
habisnya sampai kita meninggal.

PG : Proses yang tak habis-habisnya dan menuntut usaha dari diri kita, Pak Gunawan. Kadang-kadang

kita ini mempunyai pandangan keliru kita berkata: "Wah saya sudah memilih menjadi orang Kristen Tuhan

adalah hidup saya dan Tuhan yang akan memerangi dosa."


Tidak demikian, yang harus memerangi dosa adalah kita bukan Tuhan sebab yang berdosa kita, bukan

Tuhan. Jadi Tuhan tidak memerangi dosa di dalam hidup kita, kita yang harus memerangi dosa. Sebab

bukankah juga keinginan dan usaha kita memerangi dosa, itu menunjukkan pula keseriusan kita mengikut

Tuhan. Kalau kita berkata: "Biarkan Tuhan nanti yang memerangi," sampai kapan pun tidak akan ada

pertumbuhan rohani di dalam hidup kita. Pertumbuhan terjadi tatkala kita mengambil tanggung jawab

memerangi dosa. Artinya apa? Kita harus melawan dosa, kita tidak bisa pasif dan hanya berharap Tuhan

yang akan menghilangkan dosa itu dari diri kita. Kita harus melawannya, maka firman Tuhan di Roma
6:12 berkata: "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu

jangan lagi menuruti keinginannya." Nah siapa yang diminta untuk tidak menuruti keinginan dosa? Kita,

berarti kita yang harus melawan keinginan untuk berdosa itu; kalau kita tidak ada keinginan, tidak ada

perlawanan. Sebetulnya ini yang terjadi, waktu kita melawan, di saat itulah Roh Tuhan memberikan

kekuatan bagi kita untuk melawan. Kalau kita tidak melawan, Roh Tuhan tidak bekerja untuk memberikan

kekuatan melawan dosa. Jadi kita harus melawannya terlebih dahulu. Di dalam perlawanan muncul

kekuatan Tuhan untuk melawan dan mengalahkan dosa itu.


 GS : Jadi itulah yang membedakan manusia baru dan manusia yang belum mengenal Tuhan
Yesus, Pak Paul. Orang yang sudah dilahirkan baru punya kemampuan untuk melawan dosa
itu sendiri. Sedang orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus tidak punya kemampuan
atau tidak punya niatan untuk melawan dosa itu sendiri.

PG : Betul, jadi ini yang membedakan kita. Karena sekarang kita sudah punya keinginan karena kita tahu

apa yang benar dan kita sekarang memiliki kekuatan karena ada Tuhan di dalam hidup kita yng memberi

kepada kita kuasa.


Tapi sekarang langkah berikutnya, kita yang harus berjalan; kalau kita duduk terus sampai kapan pun kita

tidak akan sampai tujuan. Kita harus melangkahkan kaki dan nanti Tuhan akan menuntun kita ke tempat

tujuan. Jadi orang Kristen harus berjalan, di dalam perjalanan itulah Tuhan menunjukkan jalan-Nya

memberikan kekuatan kepada kita untuk berjalan. Bukankah orang yang tidak berjalan, duduk terus

kakinya menjadi lemah. Semakin dia memakai kakinya untuk berjalan, semakin kuatlah kakinya. Semakin

sering kita melawan dosa semakin kuatlah kita. Makin mudah menyerah makin melemah dan tidak ada

kekuatan lagi. Maka Tuhan meminta kita untuk melawan dosa bukan menyerah. Dalam perlawanan itulah

terletak kekuatan Tuhan.


 GS : Jadi kalau ada seseorang atau bahkan kita sendiri Pak Paul, yang sudah yakin bahwa
kita sudah dilahirkan baru tapi kemudian kita jatuh di dalam dosa, sebenarnya apa yang harus
kita lakukan?

PG : Pertama kita datang kepada Tuhan, kita mengakui dosa itu, jangan bersembunyi, jangan

merasionalisasi dan mengatakan, "biasalah manusia itu lemah." Dosa adalah dosa dan semua dosa itu

seris di hadapan Tuhan, itu sebabnya Dia mengorbankan nyawa-Nya sendiri untuk menebus kita dari dosa.


Jadi dosa itu serius di mata Tuhan. Yang kedua, kita akan berkata: "Tuhan, saya ingin berubah saya ingin

bertobat, saya tidak mau melakukan itu lagi." Berjanjilah untuk tidak melakukannya dan lawanlah.

Bagaimana cara melawan, sedapatnya menghindarlah dari dosa. Kalau tidak perlu kita melawannya,

menghindarlah; cara yang paling tepat dan paling aman adalah menghindar dari dosa


GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak

terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt.Dr.Paul Gunadi dalam acara
Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Manusia Baru". Bagi

Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami

lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang.

Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda

mengunjungi situs kami di www.telaga.org Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami

nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa

pada acara TELAGA yang akan datang.


Ringkasan

Isi:

T 215 A "Manusia Baru" oleh Pdt. Paul Gunadi


Setiap orang Kristen pasti pernah bergumul dengan dosa yang ada pada dirinya. Kita tahu tidak

seharusnya kita berdosa namun kita tetap melakukan perbuatan yang sama. Ada yang terus bergumul

dengan emosi marah; tidak mau marah namun toh marah. Ada yang bergumul dengan dosa berbohong;

kita tahu itu salah, tetap saja kita mengulangnya. Ada yang bergumul dengan dosa seksual; kita ingin

lepas tetapi terus melakukannya. Kita merana dan ingin bebas tetapi masih terbelenggu oleh dosa yang

sama. Kadang kita bertanya-tanya, di manakah kebenaran ayat yang berbunyi, "Jadi siapa yang ada di

dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

(2 Korintus 5:17) Apakah artinya ayat ini?


       1.   Roma 12:2 berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh

            pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang

            baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Efesus 4:23-24, "supaya kamu dibaharui

            di dalam roh dan pikiranmu dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut

            kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." Kata, "budi" di Roma

            12 berarti pikiran; jadi, dari dua ayat ini dapat kita simpulkan bahwa perubahan mesti terjadi

            pertama-tama pada pemikiran. Dengan kata lain, manusia baru di dalam Kristus adalah manusia

            yang berpikir seperti Kristus.

       2.   Bagian berikutnya dalam pertumbuhan rohani setelah, "berpikir seperti Kristus" adalah "berbuat

            seperti Kristus." Inilah bagian tersulit karena meski kita tahu apa yang baik dan seharusnya

            namun tidak selalu kita melakukannya. Paulus membagikan pergumulannya ini di Roma 7:21-23,

            "Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu

            ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah tetapi di dalam anggota-

            anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan akal budiku dan membuat aku

            menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku." Sebagai contoh,

            kita tahu tahu bahwa mengkhianati pasangan itu salah namun tetap kita melakukannya.

            Mengapakah demikian?
3.   Pada dasarnya pikiran dan perbuatan yang berdosa telah menjadi bagian hidup dan kepribadian

     kita. Pikiran dan perbuatan yang berdosa merupakan sarana untuk mendapatkan yang kita

     inginkan. Setelah kita mengenal Kristus, kita mesti menanggalkan pikiran dan perbuatan yang

     berdosa itu dan sebaliknya, mengandalkan Kristus untuk mendapatkan yang kita inginkan itu.

4.   Kita perlu menyeimbangkan kedua hal ini: di satu pihak kita adalah manusia baru dengan

     pemikiran yang baru namun di pihak lain kita adalah manusia lama yang dalam proses

     pembaharuan. Pertumbuhan yang sehat menuntut kesadaran akan keduanya.

5.   Pada akhirnya untuk bertumbuh dituntut usaha untuk melawan manusia lama. Kendati tidak

     mudah, kita harus melawannya. Roma 6:12 berkata, "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa

     lagi di dalam tubuhmu yang fana supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya."

								
To top