Docstoc

kematian

Document Sample
kematian Powered By Docstoc
					Topik : Kematian
26 Februari 2003


Di Pekuburan
Nats : Barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yohanes 11:25)
Bacaan : Yohanes 11:25-44
   Saat orang yang kita kasihi meninggal, kita pergi ke kuburan untuk mengikuti prosesi yang
panjang. Kita mungkin akan duduk atau berdiri di sekitar makam dan mendengarkan dengan khidmat
saat pendeta membacakan ayat Alkitab tentang kebangkitan. Lalu jenazah diturunkan ke liang kubur.
Kemudian kita mungkin akan tinggal sejenak untuk menaburkan bunga dan berdiri dengan kepala
tertunduk untuk mengenang dan menghormati almarhum. Orang yang kita kasihi telah meninggal,
dan kita sadar bahwa kita tidak dapat membawanya kembali.
   Berbeda saat Yesus datang ke pemakaman Lazarus, sahabat-Nya yang baru saja meninggal. Ketika
tiba di kuburnya, Dia menggunakan wewenang dan kuasa-Nya dengan memberi perintah: "Angkat
batu itu" (Yohanes 11:39). "Lazarus, marilah keluar!" (ayat 43). "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia
pergi" (ayat 44).
   Kita mungkin berharap sepenuh hati dapat mengembalikan orang yang kita kasihi, tetapi
meskipun kita memberikan perintah seperti yang Yesus ucapkan, tak ada yang akan terjadi. Namun,
Yesus memiliki kuasa untuk itu, karena Dia adalah "kebangkitan dan hidup" (ayat 25). Kuasa-Nya
nyata saat Lazarus keluar dari kubur, dan hidup kembali!
   Kelak, Yesus akan datang lagi ke kubur dari orang-orang percaya. Dan ketika Dia memberikan
perintah, maka semua jenazah orang mati yang percaya kepada-Nya akan "keluar dan bangkit"
(Yohanes 5:28,29; 1 Tesalonika 4:16). Betapa luar biasa hari itu kelak! --Dave Egner
                                       BAGI ORANG KRISTIANI
                        KEMATIAN ADALAH PINTU MASUK MENUJU KEMULIAAN
13 Maret 2003


Apa yang Akan Terjadi?
Nats : Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh
Tuhan (2Timotius 4:8)
Bacaan : 2Timotius 4:1-8
   Dalam bukunya Spirit Life (Semangat Hidup), Stuart Briscoe menulis, “Ketika pindah ke Amerika
Serikat, saya terheran-heran melihat begitu banyak orang yang sangat asing bertamu ke rumah saya
untuk menanyakan apakah saya baik-baik saja .... Ternyata mereka menjual polis asuransi!
   “Suatu hari salah seorang dari tamu-tamu itu berbicara tentang perlunya berhati-hati dalam
menghadapi segala kemungkinan. „Jika sesuatu terjadi pada Anda, Pak Briscoe ...‟ ia mulai bicara,
tetapi kemudian saya memotongnya, „Maaf, jangan diteruskan. Itu meresahkan saya.‟ ... Ia tampak
betul-betul bingung dan berkata, „Saya tak tahu mengapa perkataan saya meresahkan Anda.‟ „Nah,
saya akan memberi tahu Anda,‟ jawab saya. „Saya resah karena Anda hanya berbicara seolah-olah
hidup itu adalah sebuah kemungkinan. Dan lagi, kematian bukanlah kemungkinan, kematian jelas-
jelas sebuah kepastian. Anda tidak bisa menggunakan kata “jika”, tetapi “ketika” kalau berbicara
tentang kematian.‟ Lalu saya menambahkan, „Jadi, ketika sesuatu terjadi pada Anda, apa yang akan
benar-benar terjadi?‟”
   Rasul Paulus sangat terbuka menghadapi kematiannya (2 Timotius 4:6). Ia tahu bahwa sengat
maut telah dipatahkan karena Kristus membayar hukuman dosa di kayu salib (1 Korintus 15:55-57).
Kematian akan berubah menjadi kemuliaan (ayat 54); ia akan betul-betul mengalami kebenaran
Kristus; dan ia akan bersama-sama dengan Kristus (2 Korintus 5:8). Yesus memberikan keyakinan
yang sama kepada semua orang yang mempercayai-Nya sebagai Juruselamat dan Tuhan --Dennis De
Haan
                                   JIKA KITA SUDAH SIAP MATI
                                   MAKA KITA AKAN SIAP HIDUP
28 Juni 2003


Pulang
Nats : Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada
Tuhan (2Korintus 5:8)
Bacaan : 2Korintus 5:1-8
   Kita dapat menghadapi kematian seperti keriangan anak-anak yang pulang sekolah. Seorang
penyair tak di-kenal menulis puisi:
   Suatu hari lonceng akan berbunyi,
   Suatu hari hatiku akan berdebar-debar
   Seiring dengan teriakan, sekolah usai,
   Pelajaran selesai, aku berlari pulang.
   Walaupun demikian, jarang ada orang percaya yang menghadapi kematian dengan sukacita. Ya,
terkadang rasanya kita ingin mati saat sakit atau menderita penyakit yang tak tersembuhkan. Atau
saat kita tua, sendirian, dan tidak dapat menikmati kegembiraan hidup. Namun, sebaliknya tentu
saja kita akan memegang hidup kita erat-erat dengan naluri untuk bertahan hidup yang
dianugerahkan Allah.
   Alkitab mengatakan bahwa Yesus datang untuk memberi hidup yang berkelimpahan di sini dan
saat ini, sampai selama-lamanya (Yohanes 10:10,28). Dan kita dengan sukacita menyadari bahwa
Allah "memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (1Timotius 6:17).
   Namun, sebaiknya kita menimbang kecintaan terhadap hidup ini secara bijaksana dengan
kebenaran yang tercermin dalam syair sebuah lagu lama: "Dunia ini bukanlah rumahku." Dan
memang bukan. Kita adalah orang asing, peziarah, dan pengunjung selama tahun-tahun yang berlalu
dengan cepat.
   Jadi, entah kematian kelihatan masih jauh atau sudah di depan mata, kita dapat yakin bahwa
dengan iman kepada Yesus yang bangkit, kita akan meninggalkan dunia ini dan memasuki kemuliaan
surgawi (2Korintus 5:8). Pada suatu hari yang membahagiakan, kita akan pulang --Vernon Grounds
                       TAK SATU HAL PUN DI DUNIA YANG DAPAT DIBANDINGKAN
                              DENGAN HIDUP BERSAMA KRISTUS DI SURGA
7 Agustus 2003


Usang
Nats : Orang-orang yang dibebaskan Tuhan ... kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka,
kedukaan dan keluh kesah akan menjauh (Yesaya 35:10)
Bacaan : Yesaya 35
   Pendeta dan penulis Joseph Parker (1830-1902) memberikan komentar atas kata-kata penutup
dalam Yesaya 35:10 yang berbunyi demikian, "Kedukaan dan keluh kesah akan menjauh." Ia
mengatakan demikian, "Saat mencari makna kata-kata tertentu dalam kamus, Anda sekali waktu
akan menemukan kata yang diberi tanda 'usang'. Sudah tiba waktunya kata kedukaan dan keluh
kesah menjadi usang dalam hidup kita. Hal-hal yang merusak kehidupan di sini dan saat ini akan
menjadi bagian dari masa lampau."
   Keberadaan manusia tentu telah diwarnai dengan banyak tragedi, dukacita, kekecewaan, dan
kejahatan. Oleh sebab itu sungguh menghibur ketika kita tahu bahwa akan tiba waktunya kedukaan
dan kehancuran berlalu, dan Allah sendiri akan menghapus semua air mata kita. Pada saat itulah
kita akan mengalami kebenaran yang telah disuratkan dalam kitab suci bahwa "segala sesuatu yang
lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4).
   Apakah hari ini Anda terbebani oleh masalah yang tampaknya tidak dapat diatasi? Apakah Anda
merasa sepi, patah hati, dan kecewa? Jika Anda adalah anak Allah, renungkanlah kata-kata yang
meneguhkan ini: "Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang
akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18). Hari yang lebih cerah akan tiba. Pada hari yang indah itu,
kata-kata seperti keluh kesah, kehancuran, dan air mata menjadi usang.
   Jadi, janganlah bersedih hai anak Allah yang terkasih. Pandanglah ke atas!--Richard De Haan
                             SURGA--TAK ADA DERITA, TAK ADA MALAM,
                             TAK ADA KEHANCURAN, TAK ADA AIR MATA
21 Februari 2004


Apa Jawaban Anda?
Nats : Sebab pada waktu tanda diberi ... Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati
dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit (1Tesalonika 4:16)
Bacaan : 1 Tesalonika 4:13-18
   Sir Norman Anderson diundang untuk berbicara di sebuah acara televisi tentang bukti kebangkitan
Kristus, topik yang banyak ditulisnya. Ketika putranya meninggal karena kanker, produser acara
televisi itu menawarkan untuk menunda keikutsertaannya dengan berkata, "Anda tentu tak dapat
berbicara tentang kebangkitan saat Anda baru saja kehilangan seorang anak." Namun Anderson
berkata, "Saya bahkan ingin bicara lebih lagi tentangnya." Demikianlah, walau hatinya sedih, dengan
keyakinan teguh ia berbicara tentang kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita sebagai orang
percaya.
   Kebangkitan Yesus bukanlah sebuah mitos, melainkan fakta bersejarah yang terbukti
kebenarannya. Sesungguhnya, kebangkitan-Nya merupakan fakta yang kekal! Yesus berkata, "Aku
adalah ... Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya" (Wahyu
1:18).
   Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya tentang kebangkitan-Nya dan meyakinkan mereka,
"Sebab Aku hidup ... kamu pun akan hidup" (Yohanes 14:19). Paulus juga menulis tentang
kebangkitan orang kristiani, dan mengajarkan bahwa ketika seorang saudara seiman meninggal, kita
tidak perlu berdukacita seperti orang-orang yang tidak punya pengharapan (1Tesalonika 4:13).
   Ketika Lazarus meninggal, Yesus meyakinkan Marta bahwa siapa pun yang percaya kepada-Nya
akan hidup walaupun ia sudah mati (Yohanes 11:25,26). Lalu Dia bertanya, "Percayakah engkau akan
hal ini?" Marta menjawab, "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah" (ayat 27).
Apa jawaban Anda? --Joanie Yoder
                     KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH JAMINAN KEBANGKITAN KITA
28 Maret 2004


Dua Anak Perempuan
Nats : Datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah
mati ...” (Lukas 8:49)
Bacaan : Lukas 8:40-42,49-56
   Sebelumnya saya tidak pernah banyak berpikir tentang Yairus. Saya memang pernah mendengar
kisah tentang kepala rumah ibadat ini, dan saya tahu ia meminta Yesus untuk datang ke rumahnya
dan menyembuhkan anak perempuannya yang hampir mati. Namun, saya tak pernah memahami
dukacitanya yang mendalam. Saya tidak pernah mengerti betapa hancur hatinya ketika seorang
utusan dari keluarganya datang dengan membawa berita, “Anakmu sudah mati.” Tidak, saya tidak
pernah mengerti kesedihan dan deritanya, sampai saya mendengar ucapan yang sama seperti itu
dari seorang polisi yang datang ke rumah kami pada tanggal 6 Juni 2002.
   Anak perempuan Yairus berusia 12 tahun, meninggal karena sakit. Anak perempuan kami berusia
17 tahun, meninggal karena kecelakaan mobil yang menghancurkan hati keluarga kami.
   Anak perempuan Yairus dihidupkan kembali oleh jamahan tangan Yesus. Meski pun kami tahu
anak perempuan kami Melissa takkan hidup kembali secara fisik, kami yakin ia dipulihkan secara
rohani melalui pengurbanan kasih Yesus ketika ia memercayai-Nya sebagai Juruselamat dalam
hidupnya. Kini penghiburan itu datang ketika kami tahu bahwa keberadaannya yang kekal bersama
Tuhan sudah dimulai.
   Dua anak perempuan. Yesus yang sama. Dua hasil yang berbeda. Dan jamahan Yesus yang penuh
cinta dan belas kasihan merupakan mukjizat yang dapat membawa damai sejahtera bagi hati yang
berduka, seperti hati Yairus, hati saya, dan hati Anda —Dave Branon
                            DI TENGAH PADANG GURUN PENCOBAAN
                          ALLAH MENYEDIAKAN MATA AIR PENGHIBURAN
6 April 2004


Lembah Kekelaman
Nats : Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau
besertaku (Mazmur 23:4)
Bacaan : Mazmur 23
   Kegelapan di atas kegelapan. Penderitaan di atas penderitaan. Kepedihan di atas kepedihan.
Siksaan di atas siksaan. Itulah kematian.
   Kematian membawa ketakutan, merenggut orang-orang yang berarti dalam hidup kita, dan
membuat kita meratap, berduka, dan bertanya-tanya. Kematian menutup terang yang sebelumnya
bersinar bebas dalam hidup kita.
   Apa pun kematian yang kita hadapi, entah itu kematian yang akan menjemput kita atau yang
merenggut orang yang kita kasihi, kematian dapat menghancurkan hidup kita. Ia dapat menyedot
energi kita, mengubah rencana kita, menguasai jiwa kita, membelokkan pandangan kita, menguji
iman kita, mencuri sukacita kita, dan menantang berbagai anggapan kita mengenai tujuan hidup.
   Ketika berjalan dalam lembah kekelaman, kita merasa ditelan oleh bayangan kematian dan
berhadapan muka dengan ketakutan. Kekosongan yang menggelisahkan akibat pengalaman
kehilangan kita menggoyahkan kenyamanan yang bersumber dari iman kita kepada Allah, dan karena
itu kita menjadi takut. Takut menghadapi masa depan. Takut menikmati hidup kembali.
   Namun dalam lembah itu, di bawah kekelaman tersebut, kita dapat berseru kepada Tuhan, “Aku
tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku” (Mazmur 23:4). Lengan-Nya yang penuh kasih takkan
pernah membiarkan kita pergi. Dia selalu menyertai kita.
   Secara perlahan tetapi pasti, Dia memberikan kedamaian dan membebaskan kita dari kekelaman.
Dia memberi terang. Dia memimpin kita keluar. Pada akhirnya, kita terlepas dari lembah kekelaman
—Dave Branon
                            KEMATIAN MEMISAHKAN KITA UNTUK SEMENTARA
                        NAMUN KRISTUS MENYATUKAN KITA UNTUK SELAMANYA
28 April 2004


Tetap Percaya
Nats : Dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk (Mazmur 139:16)
Bacaan : Mazmur 139:1-16
   Bagaimana ini dapat terjadi? Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan putri kami yang cantik,
Melissa, diambil dari keluarga kami dalam kecelakaan mobil pada usia 17 tahun? Dan bukan kami
saja. Sahabat kami, Steve dan Robyn, juga kehilangan putrinya Lindsay—sahabat Melissa—9 bulan
sebelumnya. Dan bagaimana dengan Richard dan Leah yang putranya Jon, teman Melissa juga,
terbaring dalam sebuah makam yang berjarak 45 meter dari makam Lindsay dan Melissa?
   Bagaimana mungkin Allah mengizinkan ketiga remaja kristiani ini meninggal secara berturut-turut
dalam waktu 16 bulan? Dan bagaimana kami dapat tetap memercayai-Nya?
   Karena tak mampu memahami tragedi itu, kami berpegang pada Mazmur 139:16—“Dalam kitab-
Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk”. Dalam rancangan Allah, anak-anak kami hanya
memiliki sedikit hari untuk hidup, dan kemudian dengan penuh kasih Dia memanggil mereka pulang
untuk menerima hadiah kekal. Dan kami mendapatkan penghiburan dalam firman-Nya yang penuh
rahasia, “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mazmur 116:15).
   Kematian orang-orang terdekat dapat merampas kepercayaan kita kepada Allah dan alasan kita
untuk hidup. Namun, rencana Allah yang misterius bagi alam semesta dan karya penyelamatan-Nya
terus berlangsung. Kita juga harus menghormati orang-orang yang kita kasihi dengan tetap
menggenggam tangan-Nya. Meski tidak memahaminya, kita harus tetap memercayai Allah sementara
kita menunggu saat pertemuan kembali yang telah dirancangkan-Nya bagi kita —Dave Branon
                                JANGAN BIARKAN TRAGEDI MERAMPAS
                                 KEPERCAYAAN ANDA KEPADA ALLAH
23 Mei 2004


Sisi Indah Kematian
Nats : Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama
dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku
(Yohanes 17:24)
Bacaan : Yohanes 17:20-26
   Seorang guru Sekolah Minggu mengajukan serangkaian pertanyaan kepada beberapa anak usia 5
tahun untuk membantu mereka memahami bahwa memercayai Yesus adalah satu-satunya jalan ke
surga. Ia bertanya, “Jika Kakak menjual semua harta Kakak dan memberikan uang hasil
penjualannya pada gereja, apakah Kakak dapat masuk surga?” “Tidak,” jawab mereka. “Bagaimana
jika Kakak menjaga kebersihan di dalam dan sekeliling gereja?” Seorang yang lain menjawab,
“Tidak.” “Jika Kakak mengasihi keluarga Kakak, berbaik hati pada hewan, dan memberi permen
kepada setiap anak yang Kakak jumpai, akankah Kakak masuk surga?” “Tidak!” tegas seorang anak.
Lalu sang guru Sekolah Minggu itu bertanya, “Bagaimana caranya agar Kakak masuk surga?” Seorang
anak lelaki berseru, “Kakak harus mati dulu!”
   Sang guru tak menduga akan mendapatkan jawaban demikian, tetapi anak itu benar. Alkitab
menyatakan bahwa kita semua pasti meninggalkan tubuh kita yang terdiri dari daging dan darah (1
Korintus 15:50-52). Kita semua pasti mati sebelum memasuki hadirat-Nya, kecuali jika kita masih
hidup saat Yesus datang kembali.
   Pengkhotbah Inggris Charles Haddon Spurgeon menangkap kebenaran ini dalam khotbah
bertemakan “Mengapa Mereka Meninggalkan Kita”. Ia menunjukkan bahwa doa Yesus dalam Yohanes
17:24 terjawab setiap kali seorang kristiani meninggal. Ia meninggalkan tubuhnya dan memasuki
hadirat Juruselamat, tempat ia dapat memandang kemuliaan-Nya. Sungguh menjadi penghiburan
bagi orang percaya! Inilah sisi indah kematian. Apakah Anda pun meyakini hal yang sama? —Herb
Vander Lugt
                                  KETIKA ORANG KRISTIANI MENINGGAL
                           SEBENARNYA MEREKA BARU MEMULAI KEHIDUPAN
3 Juni 2004


Jam Kematian
Nats : Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang,
supaya kamu dapat berdoa (1 Petrus 4:7)
Bacaan : 1 Petrus 4:7-11
   Sebuah situs Web mengklaim mampu meramal kapan Anda mati. Setelah menjawab serangkaian
pertanyaan, perkiraan hari kematian Anda akan muncul bersamaan dengan jam digital yang
menghitung mundur sisa waktu hidup Anda dalam hitungan detik. Ramalan itu berdasarkan diagram
harapan masa kini, tetapi dengan menyaksikannya di layar komputer, gambaran itu makin jelas.
Seperti kata situs tersebut, ini adalah “peringatan ramah dari internet bahwa hidup sedang berlalu”.
   Allah dalam hikmat-Nya tidak memberi tahu hari kematian kita. Kita juga tidak tahu hari
kedatangan Kristus kembali. Alkitab meminta kita untuk hidup demi Kristus dan siap menghadapi
salah satu peristiwa itu. Petrus menulis, “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu
kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa ... kasihilah sungguh-sungguh
seorang akan yang lain .... Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.
Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai
pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Petrus 4:7-10).
   Yesus berkata, “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang
tidak kamu sangkakan .... Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu,
ketika tuannya itu datang” (Lukas 12:40,43).
   Sebagai orang kristiani, kita tidak perlu merasa panik saat melihat waktu kita berlalu. Sebaliknya,
marilah kita hidup setiap saat demi Kristus dan bersiap untuk bertemu dengan Dia hari ini —David
McCasland
                      BERSIAPLAH MENGHADAPI DETIK-DETIK TERAKHIR ANDA
                                DENGAN BERSIAP SETIAP WAKTU
30 Juni 2004


Pulang Sebelum Gelap
Nats : Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir
(Kisah Para Rasul 20:24)
Bacaan : Kisah Para Rasul 20:17-25
   Orangtua sering berkata kepada anaknya, “Pulanglah sebelum hari gelap!” Di daerah yang belum
ada listrik, para pelancong biasanya berusaha mencapai tujuan sebelum matahari tenggelam.
“Pulang sebelum hari gelap” berarti perjalanan yang berhasil dan tiba dengan selamat.
   Robertson McQuilkin mengatakan ini untuk menyatakan keinginannya untuk setia kepada Tuhan
sepanjang perjalanan rohaninya. Doanya ditutup dengan kalimat, “Tuhan, tolong saya agar „tiba di
rumah sebelum hari gelap‟.” Ia menjelaskan demikian, “Saya takut ... bila berhenti sebelum
menyelesaikannya atau menyelesaikannya dengan buruk, sehingga saya menodai kemuliaan-Mu,
mempermalukan nama-Mu, dan mendukakan hati-Mu yang penuh kasih. Banyak orang menasehati,
selesaikanlah dengan baik.”
   Perkataan McQuilkin ini menyatakan kerinduan Paulus yang besar ketika ia menghadapi bahaya
yang menantinya di Yerusalem: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku
dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus
kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kisah Para Rasul 20:24).
   Ini merupakan firman anugerah dari Allah (ayat 32) yang menguatkan kita untuk terus bertahan
dalam iman, karena firman-Nya mengatakan bahwa Dia sanggup menguatkan kita hingga akhir hidup
kita. Karena itu, tetaplah berjalan dan percaya sementara kita berdoa: “Karena karunia-Mu, Bapa,
dengan kerendahan hati aku mohon Engkau membimbingku tiba di rumah sebelum hari gelap” —
David McCasland
                             PERLOMBAAN HIDUP DIJALANKAN OLEH IMAN
                                 DAN DIMENANGKAN OLEH ANUGERAH
27 Agustus 2004


Hal yang Pasti
Nats : Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27)
Bacaan : Kejadian 2:8-17
   Seorang pria yang kondisi kesehatannya terganggu memutuskan untuk pindah ke tempat yang
beriklim lebih hangat. Untuk memastikan bahwa ia mendapatkan tempat yang sesuai dengan
kebutuhannya, ia mengunjungi beberapa lokasi. Ketika berada di Arizona, ia bertanya, "Berapa suhu
rata-ratanya?" "Bagaimana dengan kelembaban udaranya?" "Berapa hari matahari bersinar di sana?"
Ketika ia bertanya, "Berapa angka kematiannya?" ia mendapatkan jawaban: "Sama dengan tempat
asal Anda, Kawan. Satu kematian untuk setiap kelahiran."
   Sekalipun kemajuan di bidang ilmu kedokteran untuk memperpanjang dan meningkatkan kualitas
hidup sudah dapat dicapai, namun angka kematian tetap tidak berubah. "Manusia ditetapkan untuk
mati hanya satu kali saja" (Ibrani 9:27), karena "semua orang telah berbuat dosa" (Roma 3:23)
sedangkan "upah dosa ialah maut" (Roma 6:23).
   Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk hidup dengan pengertian yang benar bahwa
kematian mengakhiri kehidupan, dan setelah kematian datanglah penghakiman. Setiap orang yang
memercayakan keselamatannya kepada Kristus akan dikeluarkan dari maut, "bangkit untuk hidup
yang kekal". Tetapi setiap orang yang menolak Dia akan "bangkit untuk dihukum" (Yohanes 5:29).
Bagi orang yang tidak percaya, kematian memeteraikan hukuman atas mereka. Tetapi bagi orang
percaya, kematian membawa pada kemuliaan.
   Alangkah bijaksana orang yang berani menghadapi kematian yang pasti. Tetapi lebih bijaksana
orang yang menyiapkan diri untuk menghadapinya --Richard De Haan
                     KEMATIAN ADALAH HALAMAN TERAKHIR PERJALANAN WAKTU
                               DAN HALAMAN PERTAMA DARI KEKEKALAN
28 Agustus 2004


Saatnya Menangis
Nats : Maka menangislah Yesus (Yohanes 11:35)
Bacaan : Yohanes 11:1-7,32-36
    Ayah saya (Richard De Haan) telah berjuang menghadapi penyakit yang melemahkan selama
bertahun-tahun. Kami memohon agar Tuhan segera memanggilnya. Namun, ketika saya berlutut di
sisi tempat tidurnya dan melihatnya mengembuskan napas terakhir, air mata yang selama ini saya
tahan, mengalir dengan deras. Ketika saudara-saudara dan ibu saya saling berpelukan dan berdoa,
perpisahan tersebut semakin terasa.
    Kejadian itu membantu saya memahami makna ayat yang pendek dalam Alkitab: "Maka
menangislah Yesus" (Yohanes 11:35). Allah Putra menangis! Dia mengetahui kenyataan di surga.
Dialah sumber segala pengharapan pada hari kebangkitan yang akan datang. Namun demikian, Yesus
menangis. Dia sangat mengasihi sahabat-sahabat-Nya: Maria, Marta, dan Lazarus, sehingga
"masygullah hati-Nya" (ayat 33). Yesus benar-benar merasakan kepedihan di hatinya.
    Ketika orang yang kita kasihi meninggal, kita bergulat dengan berbagai macam emosi. Jika
seorang yang masih muda meninggal, kita bertanya, "Mengapa?" Ketika kematian datang setelah
penderitaan yang panjang, kita bergumul untuk memahami mengapa Tuhan menunggu sekian lama
untuk memberikan kelegaan. Kita mulai berpikir Allah itu jauh dan tidak tersentuh oleh kepedihan
kita. Kita mungkin mempertanyakan hikmat dan kebaikan-Nya. Namun, kita membaca, "Maka
menangislah Yesus." Allah sangat tersentuh oleh penderitaan kita.
    Ketika situasi yang menyakitkan terjadi dalam hidup Anda, ingatlah ayat yang pendek itu. Yesus
juga mencucurkan air mata --Kurt De Haan
                                 JIKA ANDA RAGU BAHWA YESUS PEDULI
                                        INGATLAH AIR MATA-NYA
29 Agustus 2004


Roti Setiap Hari
Nats : Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan dari roti ini, ia akan
hidup selama-lamanya (Yohanes 6:51)
Bacaan : Imamat 24:1-9
   Roti sudah tidak lagi dianggap sebagai suatu benda yang sedemikian penting seperti halnya pada
zaman Alkitab. Kita biasanya tidak menganggap roti sebagai simbol kebutuhan hidup. Akan tetapi
pada zaman Yesus, roti melambangkan berbagai jenis makanan bergizi dengan segala bentuknya.
   Kenyataan di atas membantu kita memahami mengapa Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk
meletakkan roti dalam Ruang Kudus di Kemah Pertemuan, yang merupakan lambang dari rumah
Tuhan. Di sanalah, di dalam ruangan pertama itu, terdapat dua belas potong roti yang harus
disajikan di atas sebuah meja emas "di hadapan Tuhan" (Imamat 24:6). Roti-roti itu mengingatkan
bangsa Israel bahwa Allah selalu memelihara milik-Nya ketika mereka datang dan berkenan kepada-
Nya. Roti mencerminkan janji Allah untuk memberikan pemenuhan kebutuhan bagi semua manusia
yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:6; Matius 6:31-34).
   Bagi umat yang percaya kepada Kristus, roti juga dapat melambangkan Alkitab, Yesus,
persekutuan orang kristiani, atau persediaan yang telah disiapkan Allah untuk memenuhi kebutuhan
rohani kita. Dia memelihara kita dan selalu siap sedia untuk mengenyangkan kita. Akan tetapi,
tawaran-Nya tersebut bukannya tanpa syarat. Dia berjanji akan memberikan "roti" setiap hari bagi
mereka yang di dalam ketaatan telah mengkhususkan diri untuk hidup dan makan dari tangan Allah.
   Tuhan peduli kepada semua orang yang dengan sukarela dan rendah hati menerima makanan
jasmani dan rohani dari-Nya --Mart De Haan
                                  HANYA KRISTUS SANG ROTI HIDUP
                             YANG DAPAT MEMUASKAN LAPAR ROHANI KITA
13 September 2004
Umur Panjang
Nats : Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika ... delapan puluh tahun, ... kebanggaannya
adalah kesukaran dan penderitaan (Mazmur 90:10)
Bacaan : Mazmur 90
   Para ilmuwan memperkirakan bahwa batas rata-rata usia manusia di Amerika Serikat dapat
mencapai 100 tahun sebelum akhir abad ke-21. Mereka mengatakan bahwa unsur genetik yang
mengendalikan penuaan dapat direkayasa untuk memperpanjang usia hingga lebih dari 70 sampai 80
tahun seperti yang dikatakan di dalam Mazmur 90:10. Namun, babak pamungkas dari hidup tetap
terbaca, "berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap".
   Musa, yang menuliskan kata-kata itu, menyamakan keberadaan kita dengan rumput yang tumbuh
subur di pagi hari yang kemudian lisut dan layu di waktu petang (ayat 5,6). Walaupun Musa hidup
sampai usia 120 tahun (Ulangan 34:7), ia selalu mengingat bahwa umur manusia itu singkat. Karena
itu ia berdoa, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang
bijaksana" (Mazmur 90:12).
   D.J. De Pree, anggota senior dewan direksi RBC, menafsirkan ayat-ayat itu secara harfiah. Ia
menghitung jumlah hari sejak kelahirannya sampai ia berusia 70 tahun kelak. Di setiap penghujung
hari ia mengurangi satu angka dari jumlah keseluruhan. Pengurangan itu mengingatkannya untuk
membuat setiap hari bermakna bagi Tuhan.
   Kita semua merupakan bagian dari adegan yang berlangsung cepat. Seyogianya hal itu membuat
kita bijak, tetapi tidak melunturkan semangat kita. Musa menganggap Allah sebagai "tempat
perteduhan"-nya (ayat 1). Itulah cara untuk menghadapi masalah panjangnya usia dari keberadaan
kita yang fana di dunia ini --Dennis De Haan
                          HIDUP YANG DIJALANI BAGI ALLAH BERMAKNA KEKAL
5 Juni 2005


Sahabat Sampai Akhir
Nats : Ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara (Amsal 18:24)
Bacaan : Amsal 18:14-24
    Lazimnya di sekolah kedokteran, para mahasiswa telah dilatih untuk menolong pasien agar tetap
hidup, sementara itu mereka diberi sedikit instruksi untuk membantu pasien menghadapi kematian.
Namun, hal ini berubah dengan ditambahnya mata kuliah tentang pendampingan orang yang
mendekati ajal. Kini para dokter diajari bahwa apabila mereka telah mengerahkan seluruh
kemampuan medis tetapi tidak menghasilkan kesembuhan, mereka harus memanfaatkan
kesempatan untuk mendampingi pasien yang sekarat dengan penuh belas kasih dan menjadi sahabat
baginya.
    Kematian menakutkan sebagian be-sar kita dan membuat kita merasa canggung menghadapi
seorang pasien yang sudah sekarat. Namun, kesempatan terbesar kita untuk menolong seseorang
dalam nama Yesus dapat datang selama hari-hari terakhirnya di dunia ini.
    Alkitab berbicara tentang persahabatan yang tidak memiliki batasan. Orang bijak berkata,
"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu" (Amsal 17:17). Dan "ada juga sahabat yang lebih karib
daripada seorang saudara" (Amsal 18:24). Yesus berkata, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada
kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13).
    Yesus adalah Tabib kita Yang Agung sekaligus Sahabat kita. Dia berjanji tidak akan meninggalkan
ataupun mengabaikan kita (Ibrani 13:5). Dia meminta kita untuk mendampingi sahabat dan keluarga
kita di dalam nama-Nya, saat mereka hampir sampai di pengujung perjalanan mereka di dunia.
Inilah yang akan dilakukan seorang sahabat sejati —DCM
                         SEORANG SAHABAT SEJATI AKAN SETIA SAMPAI AKHIR
9 September 2005


Lonceng Kemenangan
Nats : Maut telah ditelan dalam kemenangan .... Hai maut, di manakah sengatmu? (1Korintus
15:54,55)
Bacaan : 1Korintus 15:51-56
   Di Inggris pada abad ketujuh belas, bunyi lonceng gereja yang berkumandang memberikan
pengumuman mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di daerahnya. Lonceng tersebut tidak hanya
mengumumkan ibadat keagamaan, tetapi juga peristiwa pernikahan dan pemakaman.
   Jadi, ketika John Donne, penulis sekaligus kepala Katedral St. Paul, terbaring tidak berdaya
akibat wabah pes yang merenggut ribuan nyawa di London, ia dapat mendengar lonceng terus-
menerus berdentang mengumumkan kematian demi kematian. Dalam tuangan pemikirannya pada
buku harian renungan yang kemudian menjadi buku klasik, ia mendorong pembacanya, Kita tidak
perlu mencari tahu untuk siapa lonceng itu berdentang. Lonceng itu berdentang untuk kita sendiri.
   Tepat sekali! Kitab Ibrani mengajar bahwa kelak kita akan menghadapi maut: Manusia ditetapkan
untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (9:27).
   Tetapi jika kita percaya kepada Injil, berita kematian tidak akan menggentarkan kita. Kita tahu,
seperti yang dijaminkan Paulus dengan sukacita, bahwa kebangkitan Yesus yang oleh Injil telah
mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2Timotius 1:10). Maut
telah ditelan kemenangan oleh Tuhan Yesus Kristus (1Korintus 15:54). Sengatnya telah hilang (ayat
55).
   Apabila lonceng berdentang bagi umat kristiani, maka lonceng tersebut mengumandangkan kabar
baik tentang kemenangan Yesus atas maut VCG
                                        KEBANGKITAN KRISTUS
                           ADALAH ALASAN BAGI KITA UNTUK BERSUKACITA
29 September 2005


Menang Dalam Semua Kondisi
Nats : Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : Filipi 1:15-26
   Lois baru saja menjalani operasi kanker dan sedang merenung sendirian. Sebelumnya ia telah
berhadapan dengan kematian, tetapi semuanya adalah kematian dari orang-orang yang
dikasihinyabukan dirinya sendiri.
   Tiba-tiba ia sadar bahwa kehilangan orang yang ia kasihi lebih menakutkan baginya daripada
kemungkinan ia kehilangan nyawanya sendiri. Ia jadi penasaran. Ia ingat bahwa ia pernah bertanya
kepada dirinya sendiri sebelum menjalani operasi, Apakah aku siap mati? Jawaban langsungnya dari
dahulu sampai sekarang adalah, Ya, aku siap. Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamatku.
   Berbekal kesiapan atas kematiannya yang terjamin, ia kini hanya perlu berkonsentrasi untuk
hidup. Kematian itu akan ia jalani dengan takut atau iman? Lalu seolah-olah Allah berkata, Aku telah
menyelamatkanmu dari maut kekal. Aku pun ingin menyelamatkanmu dari hidup yang dipenuhi
ketakutan. Kutipan Yesaya 43:1 muncul dalam pikiran, Janganlah takut, sebab Aku telah menebus
engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.
   Sekarang Lois bersaksi, Ya, aku adalah milik-Nya! Kenyataan ini lebih penting daripada
pernyataan dokter bahwa saya mengidap kanker. Kemudian ia menambahkan, Aku menang dalam
semua kondisi, baik jika aku akan hidup atau mati!
   Pandangan Lois merupakan gema ucapan Paulus dalam bacaan hari ini, Karena bagiku hidup
adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Mari kita berdoa agar kata-kata itu bergaung di hati kita.
Kepercayaan diri seperti itu akan membuat kita menang dalam semua kondisi JEY
                     KITA DAPAT BENAR-BENAR HIDUP JIKA KITA SIAP UNTUK MATI
12 Oktober 2005


Ada di Tangan Allah
Nats : “Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan,” firman Tuhan
(Roma 12:19)
Bacaan : Roma 12:9-21
   Seluruh dunia merasa takut ketika para pemberontak Chechen membunuh ratusan orang yang
terkurung di sebuah sekolah di Beslan, Rusia. Kebanyakan korbannya adalah anak-anak, termasuk
enam anak dari Totiev bersaudara, yang aktif dalam pelayanan kristiani.
   Salah satu dari Totiev bersaudara itu memberikan reaksi yang bagi kebanyakan kita merupakan
pilihan yang sulit. Ia berkata, “Ya, kami mengalami kehilangan yang tak dapat digantikan oleh apa
pun, tetapi kami tidak melakukan balas dendam.” Ia memercayai apa yang dikatakan Tuhan, yang
tercatat dalam Roma 12:19, “Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut
pembalasan.”
   Beberapa di antara kita sulit menghilangkan kepahitan atas ketidakadilan kecil, dan tidak berkata
apa-apa terhadap kejahatan besar seperti yang dihadapi oleh keluarga ini. Totiev mengambil sikap
untuk mengikhlaskan kepahitan dan tidak membalas dendam. Sikap tersebut menunjukkan bahwa
mereka membenci yang jahat (ayat 9), tetapi tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (ayat 17).
Alangkah berbedanya keadaan pernikahan, keluarga, gereja, dan semua hubungan kita apabila Roh
Kudus sendiri yang memampukan kita untuk memiliki sikap seperti Kristus sehingga dapat
meletakkan semua ketidakadilan yang kita terima di tangan Allah.
   Berdiam dirilah sejenak dan telitilah hati Anda. Jika ada kepahitan terhadap orang lain atau
keinginan untuk membalas dendam, mintalah kepada Roh Kudus untuk membantu Anda supaya tidak
“kalah terhadap kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan” (ayat 21) -VCG
                     SUATU HARI NERACA KEADILAN AKAN BENAR-BENAR SEIMBANG
13 Januari 2006


Penghormatan Terbesar
Nats : Aku akan masuk menghadap raja, sungguh pun berlawanan dengan undang-undang; kalau
terpaksa aku mati, biarlah aku mati (Ester 4:16)
Bacaan : Ester 4:10-17
   Raja Persia telah menandatangani sebuah dokumen yang memerintahkan pembinasaan seluruh
orang Yahudi di bawah pemerintahannya. Saat Mordekhai, seorang tawanan Yahudi, mendengar
kabar itu, ia menantang keponakannya, Ratu Ester yang baru saja dimahkotai, untuk membela
nyawa orang-orang sebangsanya.
   Menghadap raja tanpa diundang dapat mendatangkan hukuman mati. Namun demi umat Allah,
Ester mengambil risiko itu.
   Sepanjang abad ke-20, jutaan orang kristiani mati sebagai martir. Ini adalah sebuah tragedi yang
mengenaskan, namun kita dapat memperoleh penghiburan dengan mengetahui bahwa mereka yang
terbunuh karena pengabdian kepada Yesus mati dengan sangat terhormat.
   Ayah Corrie ten Boom melihat kebenaran ini dengan jelas. Semasa Perang Dunia Kedua, seorang
pendeta Belanda menolak untuk melindungi seorang bayi, katanya, "Kita dapat kehilangan nyawa
karena anak Yahudi itu." Ayah ten Boom lalu mengambil bayi itu ke dalam pelukannya dan berkata,
"Anda berkata bahwa kita dapat kehilangan nyawa kita karena anak ini. Namun saya
mengganggapnya sebagai sebuah kehormatan besar bagi keluarga saya."
   Sebagian besar dari kita tidak akan pernah menghadapi ujian seperti yang dihadapi oleh keluarga
ten Boom dan Ester. Namun kita semua dapat membesarkan hati melalui teladan mereka. Mereka
tahu bahwa ada nasib yang lebih buruk daripada kematian.
   Mati karena pelayanan kita kepada Allah dan kasih kita bagi Dia betul-betul merupakan
kehormatan tertinggi --HVL
                                 "JANGANLAH TAKUT KEPADA MEREKA
                                   YANG MEMBUNUH TUBUH YESUS"
14 Januari 2006


Allah Tertawa
Nats : Dia, yang bersemayam di surga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka (Mazmur 2:4)
Bacaan : Mazmur 2
   Saya sedang mencuci mobil di suatu sore, sewaktu matahari bersiap-siap untuk mengucapkan
selamat malam. Saat memandang ke atas, saya spontan mengarahkan selang ke arah matahari
seakan-akan hendak memadamkan nyala apinya. Kemustahilan tindakan saya ini menyadarkan saya,
dan saya pun tertawa.
   Lalu saya berpikir tentang tawa Allah dalam Mazmur 2. Bangsa-bangsa yang jahat berencana
untuk menjatuhkan orang yang diurapi Allah, yang berarti melawan Sang Mahakuasa sendiri. Namun
Dia bersemayam di surga, tenang dan tidak merasa terancam. Usaha paling berani yang dilakukan
manusia untuk melawan kuasa yang sebegitu besar itu benar-benar menggelikan. Sang Mahakuasa
bahkan tidak bangkit dari takhta-Nya; Dia hanya tertawa dan mengolok-olok.
   Namun, apakah tawa ini tidak berperasaan atau kejam? Tidak! Kebesaran-Nya yang tak terhingga,
yang mengolok-olok tantangan manusia juga menandai simpati-Nya terhadap manusia yang dalam
keadaan tersesat. Dia adalah Allah yang sama yang tidak senang melihat kematian orang fasik
(Yehezkiel 33:11). Dan Dia juga adalah Juru Selamat yang menjelma menjadi manusia, yang
meratapi Yerusalem ketika umat-Nya sendiri menolak Dia (Matius 23:37-39). Dia besar dalam
penghakiman, tetapi Dia juga sangat berbelas kasihan (Keluaran 34:6,7).
   Tawa Allah memberi kita jaminan bahwa Kristus pada akhirnya akan menang atas kejahatan.
Usaha untuk menentang Dia dan kehendak-Nya adalah sia-sia. Daripada melawan Sang Anak Allah,
kita harus tunduk kepada Tuhan Yesus dan berlindung kepada-Nya --DJD
                                KEMAMPUAN MANUSIA YANG TERBATAS
                           MENEGASKAN KUASA ALLAH YANG TAK TERBATAS
3 April 2006


Maut Takkan Memisahkan Kita
Nats : Jawab Yesus kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku,
ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25)
Bacaan : Yohanes 11:14-27
    Meskipun para penulis dan filsuf telah berusaha sebaik mungkin untuk menyusun berbagai
argumen penting perihal kehidupan setelah kematian, mereka tetap belum berhasil memberikan
penghiburan bagi hati yang terluka, resah, dan dipenuhi pertanyaan.
    Sebaliknya, Yesus selalu dapat memuaskan kita. Dia tidak menyodorkan beragam argumen
filosofis. Dia tidak berusaha membuktikan bahwa kekekalan itu masuk akal; Dia benar-benar
menyatakan hal itu! Dia mengatakan hal yang diketahui-Nya, dan menjawab dengan kuasa surgawi,
"Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah
mati" (Yohanes 11:25). Kebangkitan ini mempunyai dua aspek. Tubuh orang percaya akan
dibangkitkan, dan roh mereka akan hidup di surga.
    Apa artinya hal ini bagi kaum kristiani yang berduka karena kematian orang-orang terkasih?
Kematian tidak memutuskan tali kasih kita bagi mereka, karena kasih itu ada pada roh, bukan pada
tubuh. Renungkan saja, ketika orang-orang yang kita kasihi harus melakukan suatu perjalanan yang
panjang, pikiran mereka dapat melintasi jarak yang jauh sehingga seolah-olah jarak itu hanya
tinggal sejengkal, dan kasih mereka menyelimuti kita seolah-olah mereka di sisi kita. Begitu pula
yang terjadi dengan orang-orang terkasih yang telah mendahului kita.
    Apakah saat ini Anda sedang berdukacita karena seseorang telah dipanggil ke surga? Yesus
berjanji bahwa kita akan dipersatukan kembali pada suatu hari kelak ketika Allah mengembalikan
orang-orang berharga yang kita kasihi --MRD
                              KRISTUS TELAH MENGGANTIKAN PINTU MAUT
                         DENGAN PINTU GERBANG KEHIDUPAN YANG BERCAHAYA
24 Mei 2006


Dapatkah Kita Bersukacita?
Nats : Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, ... Allah Tuhanku itu kekuatanku (Habakuk
3:18,19)
Bacaan : Habakuk 3:17-19
   Saya tidak pernah lupa pada pertanyaan yang diajukan oleh pemimpin pendalaman Alkitab kami,
"Apa yang paling kautakutkan akan menjadi ujian terberat bagi imanmu kepada Tuhan?" Saat itu
kami sedang mempelajari Habakuk 3:17,18, yang menceritakan bagaimana nabi itu berkata bahwa
meskipun Allah mengizinkan penderitaan atau kehilangan terjadi, ia tetap akan bersukacita.
   Sebagai seorang wanita lajang usia dua puluhan, saya menjawab, "Saya tidak tahu apakah saya
dapat menahan kepedihan kalau kehilangan orangtua." Namun, hari itu saya berkata kepada Allah
bahwa meskipun mereka meninggal, saya akan bersukacita di dalam Dia. Dan saya segera menyadari
bahwa lebih mudah mengatakan kalimat itu daripada melakukannya.
   Sebulan kemudian, Ayah didiagnosa menderita sakit jantung dan takkan hidup lama. Ia belum
menerima Yesus sebagai Juru Selamat, jadi saya meminta agar Allah tidak membiarkannya
meninggal sebelum mengenal Dia. Tahun itu, tidak saja Ayah yang meninggal, tetapi juga Ibu yang
sudah menjadi orang percaya. Saya tidak tahu apakah doa saya untuk Ayah dikabulkan. Saya tak
dapat bersukacita; dan bertanya-tanya apakah Allah mendengar doa saya.
   Pada saat saya menggumulkan keraguan ini dengan-Nya, saya mengalami bagaimana Tuhan
menjadi "tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan" (Mazmur 46:2).
Saya pun menemukan harapan bahwa Allah, "Hakim segenap bumi," akan melakukan hal yang tepat
untuk setiap orang (Kejadian 18:25).
   Kita dapat bersukacita -- bila kita bersukacita di dalam Tuhan, tempat perlindungan kita yang
kuat dan Hakim yang adil --AMC
                     SETIAP ORANG HARUS MEMILIH -- KRISTUS ATAU HUKUMAN
31 Agustus 2006


Dia Memutuskan
Nats : Jawab Yesus kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yohanes 11:25)
Bacaan : Yohanes 11:17-27
   Ketika Walter Bouman, seorang guru besar seminari yang sudah pensiun, mengetahui bahwa
kanker di tubuhnya sudah menyebar dan ia mungkin hanya punya waktu sembilan bulan untuk hidup,
ia memikirkan banyak hal secara mendalam. Salah satu yang ia pikirkan adalah sindiran komedian
Johnny Carson: "Memang benar bahwa beberapa hari setelah kamu meninggal dunia, rambut dan
kukumu akan tetap tumbuh, tetapi telepon tidak akan berdering lagi." Ia menganggap bahwa humor
itu merupakan tonikum yang bagus, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam yang mengusik pikirannya.
   Dalam kolom koran yang ditulis Bouman, ia menulis tentang sumber yang paling memberi
semangat kepadanya: "Berita baik bagi orang kristiani adalah bahwa Yesus dari Nazaret telah bangkit
dari kematian, dan maut tidak lagi berkuasa atas-Nya. Saya telah mempertaruhkan hidup saya, dan
sekarang saya dipanggil untuk mempertaruhkan kematian saya, yaitu bahwa Yesus yang akan
mengambil keputusan."
   Dalam Yohanes 11, kita membaca tentang hal yang dikatakan Yesus kepada Marta, seorang
sahabat dekat-Nya yang sedang berduka atas kematian saudara laki-lakinya. Dia berkata, "Akulah
kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati"
(ayat 25,26).
   Untuk setiap "hari ini" yang diberikan kepada kita, dan untuk "hari esok" yang pasti akan datang,
kita tidak perlu merasa takut. Yesus Kristus akan menyertai semua orang yang menaruh keper-
cayaan kepada-Nya, dan Dia yang akan memutuskan hidup mati kita -DCM
                             KARENA YESUS SUDAH BANGKIT DARI KEMATIAN

             DIALAH YANG BERHAK MEMUTUSKAN ANTARA KEHIDUPAN DAN KEMATIAN
6 September 2006


"di Situlah Surga"
Nats : Mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan
menerangi mereka (Wahyu 22:5)
Bacaan : Wahyu 22:1-5
   Ketika Bree berumur 3 tahun, kakeknya menderita gagal jantung. Kakek Bree dibawa ke rumah
sakit setempat dan di situlah ia meninggal. Beberapa minggu setelah pemakaman, ketika Bree dan
keluarganya melewati rumah sakit tersebut, Bree menunjuk dan mengungkap pemahamannya, "Di
situlah surga." Ia tahu kakeknya sudah ke surga. Jadi sejak kakeknya meninggal di rumah sakit, Bree
berpikir bahwa di sanalah surga itu.
   Ibu Bree menulis, "Kita, orang-orang dewasa, memiliki konsep abstrak mengenai surga yang ada di
balik bintang-bintang yang bahkan tidak dapat kita lihat." Akan tetapi, pandangan kanak-kanak Bree
tentang surga membuat sang ibu berpikir bahwa surga adalah tempat yang nyata, dan itu
membuatnya terhibur.
   Dalam Kitab Wahyu, Yohanes memberi kita gambaran sekilas seperti apa surga itu. Setelah
diangkat ke surga, ia melihat "sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal" dan "pohon
kehidupan" (Wahyu 22:1,2). Dan, tempat itu tidak membutuhkan "cahaya lampu dan cahaya
matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka" (ayat 5).
   Surga tidak cukup digambarkan dengan kata-kata, namun kita meyakini bahwa surga adalah
tempat yang nyata bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat. Yesus me-
yakinkan kita, "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku
mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu" (Yohanes
14:2). Suatu hari nanti, kita akan berada di sana dan tidak perlu membayangkan tempat itu lagi -
AMC
                    SURGA ADALAH TEMPAT YANG DISIAPKAN BAGI ORANG YANG SIAP
7 November 2006


Tiga Kepastian
Nats : Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Korintus 15:55)
Bacaan : 1 Tesalonika 4:13-18
   Pada saat berada di luar ruang ICU untuk menanti perubahan kondisi seseorang yang saya kasihi,
saya diingatkan bahwa kematian akan menimpa kita semua: baik tua maupun muda, lelaki maupun
perempuan, miskin maupun kaya.
   Dalam 1 Tesalonika 4, Paulus menghibur mereka yang merasa kehilangan karena kematian orang
yang dicintai. Ia berkata kepada mereka bahwa kesedihan yang berlebihan tidak menghasilkan apa-
apa. Wajar jika kita menangis karena kehilangan, tetapi janganlah kita menangis seperti orang yang
tak berpengharapan. Sebaliknya, kita harus berpegang pada tiga kepastian tentang kematian.
   Kepastian yang pertama adalah bahwa jiwa manusia tidak pernah mati. Jiwa orang percaya
tinggal di dalam Tuhan (ayat 14). Mereka yang meninggal meninggalkan dunia yang penuh
permasalahan ini untuk "mati di dalam Yesus".
   Kedua, Yesus akan datang untuk orang-orang percaya; baik orang percaya yang masih hidup
maupun yang sudah mati. Yesus akan kembali untuk anak-anak-Nya (ayat 16,17).
   Ketiga, akan ada reuni yang penuh sukacita. "Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal,
akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.
Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan (ayat 17).
   Dengan mengetahui tiga kepastian tentang kematian tersebut, maka orang-orang percaya yang
kehilangan orang yang dicintai akan sangat terhibur. Walaupun kita terpisah sementara dengan
mereka, kita akan bertemu lagi dalam hadirat Allah --AL
                           MATAHARI YANG TENGGELAM DI SUATU TEMPAT
                          ADALAH MATAHARI TERBIT DI SISI DUNIA YANG LAIN
18 Desember 2006


Belajar Meratap
Nats : Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap (Ratapan 3:21)
Bacaan : Ratapan 3:19-27
   Pada tanggal 14 Februari 1884, istri Theodore Roosevelt, Alice, meninggal setelah melahirkan
putrinya, yang kemudian juga diberi nama Alice. Roosevelt sangat sedih atas kepergian istrinya,
sehingga ia tidak pernah membicarakannya lagi. Namun, hal-hal yang berkaitan dengan Alice
menghantui keluarganya. Karena bayi yang baru saja lahir memiliki nama yang sama dengan ibunya,
maka ia dipanggil "Sister". Ia tidak pernah dipanggil dengan nama Alice. Pada hari Valentine, hari
bagi orang-orang terkasih, tidak banyak anggota keluarga Roosevelt yang merasa ingin
merayakannya ataupun merayakan ulang tahun Sister. Hati yang hancur membuat banyak keinginan
hati tertahan dan membatu.
   Mengubur perasaan tidak akan membantu, tetapi ratapan yang disertai doa dapat membantu kita.
Hati Yeremia hancur karena ketidaktaatan bangsa Israel dan pembuangan Babel yang menyertainya.
Ingatan akan kehancuran Yerusalem menghantuinya (Ratapan 1-2). Namun, ia sudah belajar
bagaimana caranya meratap. Ia menyebutkan apa yang menyebabkan dukacitanya, mulai berdoa,
dan membiarkan air matanya mengalir. Dengan segera, fokusnya teralih dari kehilangan yang ia
alami pada rahmat pemeliharaan Tuhan yang selalu siap sedia. "Tak berkesudahan kasih setia Tuhan,
tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu" (3:22,23). Ratapan dapat
membuka jalan bagi kita untuk mengucap syukur.
   Dengan belajar meratap kita dapat mendapatkan pandangan yang baru terhadap suatu harapan
dan kita dapat memulai proses penyembuhan serta pemulihan --HDF
                          DUKACITA ITU SENDIRI ADALAH OBAT --Cowper
30 Oktober 2007


Selamat Jalan
Nats : Saat kematianku sudah dekat (2Timotius 4:6)
Bacaan : 2Timotius 4:1-8
   Kata kematian yang diucapkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:6 memiliki arti penting. Alkitab
versi King James menggunakan kata keberangkatan (departure) untuk menggantikan kata kematian
pada ayat itu. Kata keberangkatan berarti "melonggarkan" atau "melepaskan tambatan". Paulus
menggunakan kata yang sama saat mendesah, "Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan
tinggal bersama-sama dengan Kristus" (Filipi 1:23).
   Keberangkatan adalah istilah kelautan yang berarti "berlayar" -- membongkar sauh, melepas
tambatan yang mengikat kita pada dunia ini, dan pergi. Kata itu merupakan kata ganti yang bagus
untuk "meninggal dunia".
   Bagi orang percaya, kematian bukan akhir, melainkan awal. Itu berarti kita meninggalkan dunia
yang lama ini dan menuju tempat yang lebih baik untuk menyempurnakan tujuan hidup kita.
Kematian merupakan saat bersukacita dan bergembira serta berkata lantang, "Selamat jalan!"
   Namun, semua perjalanan dipenuhi ketidakpastian, terutama saat melewati lautan yang belum
pernah dilayari. Kita lebih takut akan jalan yang kita lalui daripada kematian itu sendiri. Siapakah
yang tahu bahaya seperti apa yang menghadang kita?
   Namun, perjalanan itu sudah dipetakan. Seseorang telah melaluinya, dan Dia kembali untuk
membawa kita melaluinya dengan selamat. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, Allah
selalu menyertai kita (Mazmur 23:4). Tangan-Nya memegang kemudi, sementara Dia membimbing
kita ke rumah surgawi yang telah disiapkan-Nya bagi kita (Yohanes 14:1-3) --DHR
                               ORANG-ORANG YANG TAKUT AKAN ALLAH
                                 TIDAK PERLU TAKUT AKAN KEMATIAN
6 November 2007


Lebih Baik Lagi
Nats : Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : Filipi 1:19-26
   Sir Francis Bacon mengatakan, "Saya tidak percaya bahwa ada orang yang takut mati, mereka
hanya takut pada serangan kematian." Woody Allen berkata, "Saya tidak takut mati. Saya hanya
tidak ingin berada di sana ketika hal itu terjadi."
   Yang sangat menakutkan bukanlah kematian, melainkan detik-detik menghadapi kematian. Ketika
Paulus dalam tahanan dan ada kemungkinan ia akan mati di sel penjara, ia membagikan
pandangannya mengenai kehidupan dan kematian, "Hidup adalah Kristus dan mati adalah
keuntungan" (Filipi 1:21). Benar-benar cara pandang yang luar biasa!
   Kematian adalah musuh kita (1 Korintus 15:25-28), tetapi kematian bukanlah suatu akhir yang
mesti ditakuti sedemikian banyak orang. Bagi orang percaya, ada sesuatu yang menunggu mereka di
luar kehidupan ini, yaitu sesuatu yang lebih baik.
   Seseorang pernah berkata, "Bagi kepompong, sesuatu yang sepertinya adalah akhir kehidupan,
bagi kupu-kupu, hal itu barulah awal kehidupan." George MacDonald menulis, "Alangkah anehnya
ketakutan akan kematian! Kita tidak pernah takut saat melihat matahari terbenam."
   Saya menyukai ungkapan dari Filipi 1:21, "Bagi saya, hidup berarti kesempatan melayani Kristus,
dan mati -- ya, berarti lebih baik lagi!" (FAYH). Selama menjalani kehidupan jasmani, kita
berkesempatan untuk melayani Yesus. Namun suatu hari, kita akan benar-benar berada dalam
hadirat-Nya. Ketakutan kita akan luntur ketika kita melihat-Nya muka dengan muka.
   Itulah "sesuatu yang lebih baik lagi" yang dimaksudkan Rasul Paulus! --CHK
                         BAGI ORANG KRISTIANI, KETAKUTAN AKAN KEMATIAN
                          JUSTRU MENUNTUN PADA KEHIDUPAN YANG PENUH
12 Januari 2008


Perkara Besar
Nats : Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita (Mazmur 126:3)
Bacaan : Mazmur 126
   Seorang pengusaha terlambat menghadiri sebuah rapat penting. Ketika tiba di gedung pertemuan,
tempat parkir sudah terisi penuh. Dikelilinginya semua lahan parkir, lantai demi lantai. Tak ada juga
tempat kosong! Dengan panik ia berseru: "Tuhan, kasihani aku. Berikanlah tempat parkir sekarang
juga. Aku janji akan berhenti mabuk-mabukan dan ke gereja lagi setiap Minggu!" Tiba-tiba, persis di
depannya sebuah mobil keluar. Spontan ia berkata, "Tidak jadi janji deh, Tuhan! Aku sudah
menemukan satu."
   Tuhan kerap kali melakukan perkara besar dalam hidup kita. Namun, seberapa peka kita
menyadarinya? Saat sebuah doa dijawab, sering kita menganggapnya suatu kebetulan. Bukan karya
Tuhan. Mazmur 126 digubah saat Israel baru pulang dari pembuangan. Penjajahan telah lewat. Kini
mereka bisa kembali ke tanah air. Pemazmur mengingatkan: ini semua terjadi bukan karena
perjuangan para pahlawan, ataupun kebaikan hati penjajah. Ini terjadi karena Tuhan telah
melakukan perkara besar (ayat 1-3). Bahkan, Tuhan masih akan terus berkarya, di tengah kondisi
tanah air yang masih porak-poranda. Dia akan terus bekerja, saat umat harus kembali membangun
dari nol, dengan cucuran air mata (ayat 4-6).
   Pernahkah Anda sembuh dari sakit? Pulih dari hubungan yang retak? Merasakan kekuatan dalam
kelemahan? Mengalami berkat di tengah krisis? Itu adalah bukti nyata: Tuhan telah melakukan
perkara besar dalam hidup Anda di masa lalu. Hebatnya, Tuhan tak pernah bekerja separuh jalan.
Dia masih menyiapkan perkara besar untuk hari esok Anda. Jangan khawatir atau meragukan
pimpinan-Nya! --JTI
                        TUHAN SUDAH MELAKUKAN PERKARA BESAR BAGI KITA
                      UNTUK APA KITA MERISAUKAN PERKARA-PERKARA KECIL?
29 Januari 2008


Rasa Malu
Nats : Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa
terhadap surga dan terhadap bapa (Lukas 15:18)
Bacaan : Lukas 15:11-24
   Bagi orang Jepang, rasa malu atas kesalahan dan kegagalan yang mereka alami bisa tampak
sebagai masalah yang begitu besar. Oleh karena itu, demi menghapus rasa malu semacam ini,
mereka berani melakukan tindakan harakiri (bunuh diri).
   Dalam setiap hidup kita, rasa malu dan sesal pasti akan muncul saat kita menyadari telah salah
melangkah atau mengalami kegagalan. Perumpamaan tentang anak hilang yang diberikan oleh Tuhan
Yesus memberi kekuatan dan keberanian kepada kita.
   Setelah si anak hilang menyadari kesalahannya, ia sungguh merasa malu dan menyesal. Malu pada
orang-orang yang mengenalnya, malu pada masyarakatnya, terutama malu pada keluarganya,
khususnya pada sang ayah yang pernah ia sakiti. Rasa malu yang begitu menguasai bisa saja
membuatnya putus asa dan ingin mengakhiri hidup. Namun, apakah yang dapat kita pelajari dalam
perumpamaan ini? Si anak hilang tidak berhenti pada rasa malu dan sesal saja. Ia mempunyai
keberanian untuk mengakui segala dosanya. Ia berani melawan rasa malunya dengan pulang dan
menghadapi bapanya. Dengan segala risikonya. Ia pulang dengan hati yang siap menerima
konsekuensi atas kesalahannya, bahkan jika ia harus kehilangan status sebagai anak.
   Terkadang rasa malu atas kesalahan kita tak tertahankan. Namun, kita memiliki Bapa surgawi
yang penuh kasih dan mau mengampuni. Mari kita beranikan diri untuk datang kepada-Nya dengan
pertobatan, Dia siap menerima kita kembali dan memulihkan kita dari keterpurukan --NDA
                                     BERHENTILAH MENYESAL
                   ATAU ANDA AKAN KEHILANGAN HIDUP ANDA -- Jonathan Larson
24 April 2008


Berdiri di Belakang
Nats : Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya, "Kami telah
menemukan Mesias (artinya: Kristus)
Bacaan : Yohanes 1:35-42
   Rela dan tetap bersukacita dengan posisi "di belakang layar", sungguh tidak gampang. Terlebih di
dunia di mana persaingan yang terjadi begitu ketat. Termasuk di gereja. Banyak orang berlomba-
lomba untuk menjadi yang terkemuka. Bahkan, untuk itu tidak jarang orang memakai "gaya katak":
ke atas menyembahnyembah, ke bawah menendang-nendang.
   Namun, Andreas tidak demikian. Ia adalah salah satu dari dua murid Tuhan Yesus yang mula-mula
(ayat 40). Ia juga yang membawa Petrus kepada Tuhan Yesus (ayat 42). Akan tetapi dalam
perjalanan selanjutnya, justru Petrus yang lebih banyak ditonjolkan. Berulang kali Alkitab menyebut
Andreas dengan embel-embel "saudara Simon Petrus" -- menunjukkan bahwa Petrus selalu
membayanginya.
   Ia juga tidak termasuk murid yang utama. Ketika Tuhan Yesus naik ke gunung untuk dimuliakan,
yang dibawa serta ke sana adalah Petrus, Yohanes, dan Yakobus (Matius 17:1). Begitu juga ketika Dia
menyembuhkan anak perempuan Yairus (Lukas 8:51) dan ketika Dia di Taman Getsemani (Markus
14:33).
   Andreas bisa saja menyesalkan hal ini. Sebagai murid mula-mula dan yang membawa Petrus, ia
punya alasan untuk berharap mendapat tempat utama dalam kelompok para murid. Namun, rupanya
posisi terkemuka, kedudukan, dan kehormatan tidak pernah menjadi target Andreas. Baginya, yang
penting adalah mengikuti dan melayani Gurunya sebaik mungkin. Andreas adalah contoh orang yang
tidak mementingkan kedudukan atau status nomor satu. Sebaliknya, dengan rendah hati dan tulus,
ia rela berdiri di belakang -AYA
                            KERENDAHAN HATI ADALAH AWAL KEHORMATAN
28 April 2008


Indahnya Memberi
Nats : Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri
mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami
(2Korintus 8:5)
Bacaan : 1Raja-raja 17:7-16
   Janda di Sarfat dihadapkan pada dilema yang cukup sulit atas permintaan Elia. Jika ia
memberikan persediaan terakhir bahan makanan yang ada padanya, ia akan mati kelaparan. Namun
akhirnya, ia mengambil keputusan itu, walau berisiko (1 Raja-raja 17:15). Ia memberikan makanan
penyambung hidupnya kepada Elia -- yang berarti juga memberi --kan hidupnya. Demikian pula
jemaat Makedonia (2 Korintus 8:5). Mereka menderita dan kekurangan, tetapi mereka bermurah hati.
Bahkan, mereka memberi diri untuk melayani. Pertamatama mereka melayani Allah, tetapi
kemudian juga melayani sesama. Sungguh indah!
   Kita juga akan mengalami hal yang indah jika kita belajar dari ibu janda dari Sarfat, serta jemaat
Makedonia. Mereka memberi teladan dalam hal memberi. Bagi mereka, tak ada alasan untuk tidak
memberi. Apa pun keadaannya. Dalam keadaan baik atau tidak baik, dalam kelebihan ataupun
kekurangan. Mereka menunjukkan bahwa kita semua bisa memberi, asal kita mau. Sebab kita pasti
mempunyai sesuatu untuk diberikan dalam melayani sesama -- paling tidak waktu, tenaga, dan
perhatian. Yang perlu terus kita ingat adalah bahwa apa pun yang kita punya adalah anugerah-Nya,
yang diberikan bukan saja untuk diri sendiri, melainkan juga untuk melayani sesama demi
kemuliaan-Nya.
   Kesempatan untuk memberi, terlebih memberi diri, adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-
siakan. Memberi hidup kita untuk melayani dengan sungguh-sungguh di mana kita ditempatkan; di
rumah, di tempat kerja, dan di mana pun, adalah ibadah yang sejati -ENO
                     ADALAH LEBIH BERBAHAGIA MEMBERI DARIPADA MENERIMA
26 Mei 2008


Waktu Teduh
Nats : Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil (Markus 6:32)
Bacaan : Markus 6:30-32
   Seorang pemuda sedang memotong kayu dengan kampak. Dari pagi hingga siang ia terus bekerja.
Tidak ada waktu untuk berhenti. Ia harus mengejar target. Itu sebabnya, ia terus-menerus
mengayunkan kampaknya. Suatu kali seorang bapak tua datang menghampirinya. "Nak, kampakmu
sudah tumpul. Berhentilah sejenak untuk mengasahnya," kata si bapak tua. "Wah, tidak ada waktu,
Kek. Saya harus mengejar target," sahut si pemuda.
   Kehidupan di dunia ini semakin hiruk pikuk; tuntutan dan tantangan zaman semakin besar. Kita
tidak terhindarkan dari kesibukan dan belenggu rutinitas. Padahal, ibarat sebuah mesin, kita tentu
membutuhkan istirahat. Hidup dalam rutinitas tanpa sejenak pun "beristirahat" sama dengan
pemuda dalam cerita di atas, yang terus memotong kayu tanpa sedikit pun waktu untuk mengasah
kampaknya, sehingga kampaknya pun menjadi tumpul. Inilah makna pentingnya waktu teduh: keluar
sejenak dari kesibukan rutin untuk membangun relasi pribadi dengan Tuhan.
   Waktu teduh lebih merupakan kebutuhan, daripada kewajiban. Karena itu, kita perlu
meresponsnya dengan sukacita. Dalam rutinitas sehari-hari, perlu selalu ada waktu untuk sejenak
berdiam diri. Menutup mata dan telinga dari segala hiruk pikuk kegiatan rutin sehari-hari.
Menyediakan diri dan membuka hati untuk Tuhan, membiarkan Dia menyapa dengan cara-Nya.
Tuhan Yesus telah mencontohkannya. Di tengah kesibukan-Nya yang luar biasa -- mengajar dan
menolong orang -- Dia selalu menyempatkan diri untuk sejenak menyepi, untuk menenangkan diri
dalam waktu teduh (ayat 31,32) -AYA
                    WAKTU TEDUH BERSAMA TUHAN BUKAN SAJA MENYEGARKAN
                               MELAINKAN JUGA MENYEHATKAN JIWA
20 Juli 2008


Jangan Halangi Mereka
Nats : Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka
(Lukas 18:16)
Bacaan : Lukas 18:15-17
   Di banyak gereja, kerap kali ada kelas untuk anak balita. Hal paling unik di kelas balita adalah tak
hanya anak-anak yang hadir di dalam kelas, tetapi orang-orang dewasa juga turut duduk di situ. Bisa
ayah atau ibunya, bisa juga nenek, kakek, atau pengasuhnya. Memang kelas menjadi padat
karenanya, tetapi tak mungkin para pengantar ini dilarang hadir, karena anak-anak yang masih
sangat muda itu tak mungkin berangkat sendiri!
   Ketika para murid melarang anak-anak kecil dibawa kepada Yesus (ayat 15), Dia berkata, "...
jangan menghalang-halangi mereka" (ayat 16). Kerap kali kita "menyalahkan dan menyayangkan"
sikap para murid ini. Namun tanpa sadar, ada juga orangtua kristiani yang "menghalang-halangi"
anaknya datang kepada Tuhan. Salah satunya dengan keengganan untuk mengantar dan menunggui
anaknya beribadah di gereja. Padahal sebagai anak, keputusan mereka untuk datang ke gereja
sangat dipengaruhi keputusan orangtuanya. Jika orangtua sedang merasa sibuk, lelah, atau repot,
sehingga lalai mengantar anaknya ke gereja, maka anak-anak pun bisa absen beribadah.
   Tak hanya itu, sebagai orangtua kita juga dapat menghalangi anak-anak bertemu Yesus, jika kita
tak mendampingi mereka secara pribadi untuk mengenal dan mencintai Yesus; lewat doa bersama di
rumah, membacakan Alkitab bagi mereka, berbagi kesaksian tentang pengalaman bersama Tuhan.
Terakhir, kita juga menghalangi anak mengenal Yesus bila tutur kata dan laku kita tak
mencerminkan pribadi yang mengikut teladan Kristus!
   Anak-anak kita membutuhkan Yesus. Jangan menghalang-halangi mereka! -AW
                                   YESUS MENCINTAI ANAK-ANAK
                     SAMA BESAR DENGAN CINTA-NYA KEPADA ANDA DAN SAYA!
13 September 2008


Dibongkar!
Nats : Hati yang patah dan remuk, tak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mazmur 51:19)
Bacaan : 2Samuel 12:1-14
   Daud adalah seorang yang berkenan di hati Tuhan, tetapi sekalipun demikian Daud tetap manusia
biasa yang tak lepas dari kesalahan. Salah satu kesalahan Daud yang paling fatal adalah pada saat ia
merebut Batsyeba yang notabene istri dari Uria, salah seorang prajuritnya. Untuk mewujudkan
keinginannya, Daud menggunakan cara yang jahat, yaitu dengan sengaja menempatkan Uria di garis
depan medan pertempuran sehingga ia mati terbunuh.
   Skandal yang sangat memalukan ini kemudian dibongkar oleh Nabi Natan. Pada saat dosanya
dibongkar, sebetulnya Daud bisa saja menjadi tersinggung dan marah atas kelancangan Nabi Natan.
Bahkan dengan mudah ia juga bisa memerintah prajuritnya untuk menghabisi Nabi Natan, sehingga
ia tidak akan kehilangan muka. Tetapi Daud tidak melakukannya. Ia juga tidak mencoba berdalih
dan mencari kambing hitam atas hal yang telah diperbuatnya. Sebaliknya, dengan hati hancur Daud
mengakui dosa besar yang telah diperbuatnya.
   Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menegur dan membongkar dosa yang telah kita buat.
Yang penting, bagaimana kita meresponi teguran yang demikian. Biarlah kita mau belajar rendah
hati dan dengan hati hancur bersedia mengakui kesalahan-kesalahan kita. Sebab hanya dengan
begitu kita akan mendapat pemulihan dan pengampunan Allah. Ingatlah bahwa sebuah kedewasaan
rohani bukan berarti sempurna tanpa cacat. Kedewasaan rohani adalah sikap seseorang yang dengan
hati besar berani jujur dan terbuka untuk mengakui setiap kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat
-PK
                             KEDEWASAAN ROHANI SESEORANG TERLIHAT
                          PADA WAKTU DOSANYA DIBONGKAR DAN DITEGUR

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:750
posted:3/26/2011
language:Indonesian
pages:18
About tagged-basistik.blogspot.com,free-pdf-doc-xls-ppt.blogspot.com,fisika-basistik.blogspot.com,soccers-basistik.blogspot.com,pharaswork.blogspot.com