Belajar Bijak

Document Sample
Belajar Bijak Powered By Docstoc
					Belajar Bijak
Submitted by Paul Gunadi on Thu, 19/06/2008 - 12:00am.



          Pdt. Dr. Paul Gunadi
          Audio
          Pengembangan Diri
          T137A



Kode Kaset:

T137A

Nara Sumber:

Pdt. Dr. Paul Gunadi

Abstrak:

Dapatkah hikmat dipelajari? Apakah orang dilahirkan bijak ataukah ia dibentuk menjadi bijak? Kitab Amsal

menyediakan banyak contoh perilaku orang yang bijak dan ternyata hikmat dapat dipelajari. Nah melalui

materi ini kita akan belajar, faktor-faktor apa sajakah yang dapat membuat orang bijak.


MP3:

3.75 MB

WMA:

2.47 MB

RA:

2.43 MB

Transkrip

Isi:

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada

acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga

Kristen, dan saya bersama Ibu Wulan, S.Th. kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul

Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia

Tenggara Malang. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang "Belajar Bijak", kami percaya acara ini

pasti bermanfaat bagi kita sekalian, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.


Lengkap

 GS : Pak Paul, berbicara tentang orang bijak, sebenarnya orang itu belajar untuk menjadi
bijak atau memang dilahirkan sebagai orang bijak Pak Paul?

PG : Ini pertanyaan yang menarik Pak Gunawan, kalau kita berasumsi bahwa orang dilahirkan bijak,

berarti ada sebagian orang memang tidak dilahirkan bijak dan sampai kapan pun dia tidak berkesematan

menjadi bijak.
Kalau itu yang terjadi berarti kita bisa berkata Tuhan tidak berhak menuntut kita menjadi bijak sebab kita

dilahirkan tidak bijak. Jadi jawaban yang betul adalah kebijakan itu bisa dipelajari itu sebabnya Tuhan

menyisakan satu buku di Alkitab hanya khusus membahas tentang hikmat dan itu adalah buku Amsal.


 GS : Ya Pak Paul, sebenarnya yang disebut bijak itu adalah orang yang seperti apa Pak Paul?

PG : Saya membedakan bijak dengan cerdas Pak Gunawan, cerdas itu memang sesuatu yang kita bawa

sejak lahir yaitu kepandaian kita, tingkat intelegensia kita dan tidak semua orang mempunyai tingkt

intelegensia yang tinggi atau sama tingginya.


Bijak bukan intelegensia, bijak adalah pertama kesanggupan untuk tahu apa yang harus dilakukan dan dia

bisa melakukannya dengan cara yang begitu pas sehingga efektif dan bisa diterima.


 GS : Tadi Pak Paul katakan ada satu buku di dalam Alkitab yaitu kitab Amsal dan kita semua
tahu bahwa yang menulis itu adalah Salomo putra Daud, nah Salomo pernah meminta
kebijaksanaan itu kepada Tuhan. Dia tidak minta umur panjang, tidak minta kekayaan yang
dia minta kebijaksanaan dari Tuhan, berarti tadinya dia tidak bijak?

PG : Saya kira itu merupakan ungkapan kerendahan hatinya., dia berkata: "Tuhan, saya tidak akan

sanggup untuk memerintah rakyat yang begitu besar dan banyak ini, jadi saya memerlukan tuntuan

Tuhan."


Jadi permintaannya agar Tuhan memberikan kepadanya hikmat merupakan pengakuan akan

ketidakkemampuannya itu, dan karena itu yang Salomo minta Tuhan melimpahkannya.


 WL : Faktor-faktor apa saja Pak Paul, yang membuat diri seseorang itu bisa disebut sebagai
orang yang bijak?

PG : Amsal memulai dengan satu pernyataan, yang saya ambil dari Amsal 1:7 juga Amsal 3:6, "Takut

akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, atau dapat juga diterjemhkan takut akan Tuhan adalah

permulaan hikmat tetapi orang bodoh alias orang yang tidak berhikmat menghina hikmat dan didikan,

karena Tuhanlah yang memberikan hikmat.


Dari mulutnya datang pengetahuan dan kepandaian." Sebetulnya kata pengetahuan dan kepandaian ini

mempunyai makna yang sama yaitu hikmat. Jadi ada dua implikasi di sini Bu Wulan, yang pertama adalah

kita mengakui bahwa Tuhan adalah sumber hikmat dan kepada-Nya kita datang meminta hikmat. Kita

dengan kata lain berkata, dunia tidak akan menawarkan hikmat yang sempurna, hikmat yang paling

puncak tapi Tuhan bisa memberikan kepada kita hikmat yang sempurna itu. Jadi kepada-Nyalah kita

datang memohon hikmat. Kedua, ayat-ayat ini juga menegaskan kepada kita agar kita menjauhkan diri

dari dosa atau dari kejahatan, dari ketidakbenaran sehingga hidup kita benar-benar lurus. Nah inilah tema

yang berulang kali ditekankan dalam kitab Amsal. Dengan kata lain kalau boleh saya simpulkan dengan
satu kalimat, ciri pertama orang bijak adalah atau kalau kita ingin belajar bijak kita mesti takut akan

Tuhan, itu syaratnya.


 WL : Bagaimana dengan orang yang belum mengenal Tuhan Pak Paul, atau belum di dalam
Tuhan, terus pertanyaan berikutnya adalah sering kali saya menemui ada orang-orang yang
memang "belum dalam Tuhan" tapi secara umum boleh dibilang menurut kategori umum
orangnya cukup berhikmat, cukup bijaksana dalam pemikirannya, tindakannya, segala
sesuatunya Pak Paul?

PG : Saya setuju dan memang akan ada banyak orang yang seperti itu, itu sebabnya sebagaimana kita

akan lihat dalam buku Amsal nanti ternyata memang bukan hanya itu yang menjadikan kita bijak, iu salah

satunya dan itu sudah tentu hal yang penting.


Saya berikan beberapa contoh Ibu Wulan, misalkan kita tahu Hitler itu sangat-sangat berkuasa pada

Perang Dunia ke - II bisa menaklukkan begitu banyak negara. Nah ada satu negara yang ingin dia

taklukkan tapi sebetulnya dia diberikan nasihat-nasihat untuk tidak pergi ke sana dan itu adalah negara

Uni Soviet. Karena apa, karena Uni Soviet negara yang begitu luas dan begitu ganas hawa dinginnya, tapi

dia tidak mendengarkan nasihat teman-temannya. Dia tetap ke sana, dia menyerbu Uni Soviet dan benar

saja memang banyak yang mati juga karena tertembak di kota Stalingrad ada sekitar 250.000 orang

Jerman yang mati di sana, tapi sebagian dari serdadu Jerman mati karena kelaparan dan kedinginan.

Sebab tentara atau orang-orang Soviet sudah sangat bijak sekali mereka membakar gudang-gudang

makanan sehingga waktu Jerman datang mereka tidak mendapatkan makanan. Dikepung dengan salju

yang dingin itu akhirnya banyak di antara mereka yang mati. Itu adalah pertempuran atau penyerangan

yang sebetulnya tidak begitu didukung oleh para penasihat Hitler, tapi dia tidak bijak, dia sangat dikuasai

oleh nafsunya dan kita tahu Hitler orang yang tidak takut akan Tuhan, semua yang dia lakukan dia ukur

dengan dirinya sendiri. Contoh kedua yang bisa saya pikirkan adalah pada tahun 80-an ada seseorang

yang cukup dikenal di dunia Kristen namanya adalah Harold Morris dia itu seorang mantan narapidana di

Amerika dituduh membunuh. Kenapa, nah dalam pengakuannya dan kesaksiannya adalah pada masa dia

berusia muda dia bergaul dengan teman-temannya yang brengsek. Kemudian suatu kali teman-temannya

mengajak dia merampok dan dia sendiri tidak tahu dalam perampokan itu seorang penjaga gudang

tertembak mati, akhirnya apa yang terjadi, teman-temannya semua bersekongkol dia yang membunuh

padahal dia tidak membunuh, akhirnya di masuk ke penjara dijatuhi hukuman mati, di situlah dia bertobat

mengenal Tuhan Yesus. Dan melalui anugerah Tuhan akhirnya dia diberikan pengampunan oleh presiden

dan dilepaskan dari penjara, tapi dia harus menghabiskan bertahun-tahun hidupnya dalam penjara dan

itulah kesaksiannya yang sering dia berikan kepada kawula muda di sana, takut akan Tuhan, hidup lurus,

jauhkan diri dari kejahatan. Sebab begitu kita tidak takut Tuhan, kita main dengan kejahatan kita

akhirnya terperosok ke dalam jerat kejahatan itu sendiri.


 GS : Apakah ada faktor lain Pak Paul?
PG : Yang lainnya adalah kita perlu memiliki nilai hidup yang benar, ini tema yang juga berulang kali

ditegaskan di Amsal. Saya bacakan dari Amsal 3:27,28, Janganlah menahan kebaikn dari orang-orang

yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.


Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan

yang diminta ada padamu. Nah prinsip apa yang bisa kita petik di sini, sudah tentu prinsip yang Tuhan

Yesus juga tekankan yaitu kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Nah dengan kata

lain prinsip mengasihi orang dan memanfaatkan benda, bukan sebaliknya, mengasihi benda dan

memanfaatkan orang. Nah nilai hidup yang benar harus kita miliki, ini yang menjadi pondasi munculnya

hikmat dalam hidup kita.


 WL : Kalau kita berusaha memiliki nilai hidup yang benar Pak Paul, tapi justru sebaliknya diri
kita yang dimanfaatkan oleh orang lain bagaimana Pak Paul?

PG : Di sini juga perlu kebijakan untuk melihat apakah memang orang itu sengaja memanfaatkan kita

untuk kepentingannya saja dan apakah itu hal yang baik bagi dia untuk dia terima. Kadang kala oang

memanfaatkan kita karena memang dia perlu bantuan kita, misalnya orang yang miskin yang datang ke

rumah kita dua bulan sekali dan memang dia sangat miskin, tidak punya apa-apa lagi jadi dia terpaksa

harus meminta dan dia datang ke rumah kita karena dia tahu kita akan memberikan, dan kalau ke rumah

orang lain, orang lain tidak akan berikan apakah ada unsur pemanfaatan? Ada, tapi apakah itu memang

juga baik buat dia, dia perlu makan, dia perlu hidup, ya benar juga baik buat dia.


Jadi adakalanya kita dengan rela membiarkan diri dimanfaatkan karena kita memang mau menolong

orang. Tapi kalau kita tahu kita dimanfaatkan untuk hal yang tidak perlu, dan orang itu tidak begitu

membutuhkan bantuan kita tapi dia sengaja mau memanfaatkan kita demi kepentingannya nah kita bisa

melihat itu dan berkata saya tidak mau. Jadi prinsipnya adalah mengasihi manusia, memakai benda atau

memanfaatkan benda jangan terbalik, banyak orang terbalik memanfaatkan manusia dan mengasihi

benda-benda.


 GS : Sebenarnya yang dibutuhkan oleh orang yang membutuhkan pertolongan itu tadi
sebenarnya bukan cuma benda Pak Paul, diri kita juga dibutuhkan oleh dia.

PG : Ya kita misalkan memberikan bantuan yang lebih kalau misalkan (GS : Waktu kita, perhatian kita)

betul itu kita berikan juga.


 GS : Nah Pak Paul, bagaimana kita tahu kalau seseorang itu meminta dalam batas-batas
yang wajar Pak Paul, artinya bukan mau memanfaatkan kita, kalau kita tidak terlalu mengenal
dia lalu kita memberikan pertolongan asal itu tidak ada maksudnya Pak?

PG : Memang kita perlu dengan jelas mengetahui siapa dia itu. Sebab kadang kala orang itu memang

menyalahgunakan sekali, kalau kita sudah melihat memang kita disalahgunakan ya sudah kita berheni.
Kita juga tidak mau mendorong orang untuk menjadi tidak benar dengan perbuatan kita itu.


 GS : Ya kadang-kadang di situ daripada kita dikatakan tidak menolong lalu kita
menggunakan benda itu tadi Pak Paul, misalnya sejumlah uang atau barang atau apa kita
berikan, kita berkata saya sudah menolong kamu tapi nilainya saya rasa tidak terlalu berarti.

PG : Namun dari pada tidak sama sekali saya pikir kita boleh memulai dengan memberikan benda, itu

tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.


 GS : Bagaimana dengan faktor yang ketiga Pak Paul?

PG : Yang ketiga adalah mengenal dan menerima diri, nah ini faktor yang juga diulang-ulang di kitab

Amsal. Saya bacakan Amsal 14:8, Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cedik, tetapi orang bebal

ditipu oleh kebodohannya.


Saya akan ulang lagi bagian pertamanya, mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik. Penting

sekali kita ini mengenal siapa kita, keterbatasan kita, kekuatan kita, dan setelah mengenal menerima,

jangan sampai kita itu tidak tahu diri dalam arti yang sebenarnya. Nah orang yang bijak orang yang tahu

siapa dirinya, dia tahu apa yang dia bisa lakukan, dan dia juga bisa mengatakan: "Tidak, ini tidak bisa

saya lakukan," itu adalah salah satu ciri orang yang bijak.


 GS : Sering kali kita ini disalah mengerti Pak Paul, seolah-olah tidak mau atau menolak
tanggung jawab yang diberikan apalagi kalau hubungan ini hubungan atasan-bawahan Pak
Paul.

PG : Ya sudah tentu ada ruang untuk kita berusaha, mencoba, kita tidak bisa selalu berkata ini bukan

bidang saya, saya sama sekali tidak bisa mengerjakannya. Nah ada waktunya bagi kita untuk mecoba,

tapi setelah kita mencoba dan memang kita tidak mampu kita katakan tidak mampu.


Atau kepada atasan kita bisa berkata: "Saya akan mencoba Pak, ini memang bukan keahlian saya tapi

saya akan coba, mohon jangan kecewa kalau hasilnya tidak seperti yang Bapak harapkan." Misalkan itu

kita katakan.


 GS : Tetapi kalau sejak awal kita sudah tahu bahwa kita tidak akan mampu melakukan itu,
kalau kita berkata saya coba itu 'kan merugikan baik pihak atasan kita maupun diri kita
sendiri Pak Paul?

PG : Bagi saya kalau kita sudah mengatakan bahwa ini memang bukan bidang keahlian kita tapi dia tetap

meminta kita melakukannya terus kemudian kita sampaikan juga bahwa mungkin hasilnya tidak sperti

yang Bapak harapkan, tapi saya akan coba sebisa saya, saya kira biarkan dia memutuskan.


Kalau dia putuskan silakan kerjakan saya akan terima apapun hasilnya, berarti ya sudah kalau pun

hasilnya tidak maksimal yaitu memang konsekuensinya.
 GS : Ya kadang-kadang memang orang mencari gampangnya Pak Paul, di dalam
mendelegasikan atau di dalam memberikan tugas. Ada orang yang memang mau saja disuruh
apa-apa, tapi ada orang yang hampir dikatakan menolak kalau disuruh. Jadi orang yang selalu
mau untuk diberi tugas itu biasanya lalu ditimpa atau dilimpahi dengan banyak pekerjaan
yang sebenarnya dia sendiri tidak mampu melakukan itu.

PG : Betul, dan salah satunya misalnya yang paling umum adalah menjadi pemimpin. Banyak orang yang

merindukan atau mendambakan menjadi pemimpin, sedikit orang yang sebetulnya bisa memimpin. Banak

orang bisa menguasai betul, tapi tidak banyak orang yang bisa memimpin di dunia ini.


Nah makanya yang sering kali kita lihat bukannya pemimpin, penguasa, sekali lagi kenapa, sebab banyak

orang tidak mengenal dirinya, tidak tahu diri akhirnya, menjadi sesuatu atau seseorang yang memang

bukanlah bidangnya atau panggilannya, jadi itu adalah ketidakberhikmatan alias kebodohan yang Alkitab

katakan. Orang berhikmat orang yang tahu diri.


 WL : Pak Paul, mungkin atau tidak ya kalau tadi 'kan orang yang berhikmat orang yang
cerdik, mengerti jalannya sendiri. Saya cuma berpikir alternatif lain mungkin atau tidak ada
orang yang misalnya saya, saya sudah tahu kriteria saya bisa sampai sekian, tapi ternyata
ada orang di luar diri saya yang cukup berhikmat sudah makan asam garam, istilahnya. Dia
bisa melihat hal-hal yang saya tidak bisa lihat selama ini. Wulan, kamu sepertinya ada
kelebihan di sini, yang kamu mungkin belum sadari, tapi kalau saya langsung bilang tidak,
saya yakin saya tidak mampu karena saya tahu siapa diri saya, itu berarti 'kan saya menutup.
Mungkin tidak begitu ada orang lain yang memang lebih berhikmat dan bisa memberitahu itu
Pak Paul?

PG : Sangat mungkin sekali Bu Wulan, dan dengan cara itulah Tuhan membukakan wawasan kita pula.

Jadi selalu harus ada keseimbangan antara mendengarkan masukan dari orang lain dan mempercayai

peilaian pribadi kita terhadap diri kita juga, nah keduanya harus berjalan bersama-sama pula.


Orang yang hanya mempercayai penilaian dirinya sendiri dan menutup telinga terhadap masukan orang

dia juga masuk dalam kategori orang yang tidak berhikmat. Sebaliknya orang yang hanya mendengarkan

masukan orang, disuruh apa pun mau, disuruh lompat; lompat, terjun; terjun, dia tidak mempercayai

penilaian pribadinya dia juga masuk dalam kategori orang yang tidak berhikmat. Jadi kita perlu

memberikan kesempatan kepada diri kita mencoba yang memang belum pernah kita lakukan, siapa tahu

memang itu betul.


 GS : Membedakan itu memang butuh hikmat tersendiri Pak Paul?

PG : Dan kadang kala kita langsung mencoba kalau memang kita belum pernah melakukannya.


 GS : Dan dari situ kita bisa tahu sebenarnya kita bisa atau tidak. Apakah ada faktor yang
lain Pak Paul?
PG : Yang lain adalah membaca situasi dengan tepat, firman Tuhan berkata di Amsal 20:18 dan Amsal

25:11, Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglahdengan siasat.


Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. Dengan

kata lain memang kita perlu bisa membaca situasi dengan tepat dan mempertimbangkan apa itu yang kita

harus lakukan. Orang yang bijak, orang yang bisa membaca situasi, dia bisa melihat reaksi orang, dia bisa

tahu sebetulnya apa yang orang rasakan, dia peka dengan lingkungan dan karena dia peka serta tepat

dengan realitas dia bisa memberikan reaksi atau respons yang juga tepat. Nah kebalikannya orang yang

tidak bijak, buta terhadap realitas, buta terhadap respons orang asal tabrak saja, tidak bisa membaca apa

yang orang lain sedang rasakan.


 WL : Pak Paul, sekarang 'kan lagi maraknya, bukan sekarang sudah beberapa tahun terakhir
ini dipakainya strategi perang Tiongkok untuk management bisnis. Pertanyaan saya apakah
memang itu berhikmat dia pakai strategi, cerdik begitu atau sebenarnya ada unsur lain, ada
intuisi begitu, maksudnya seperti Tuhan berikan pada orang-orang tertentu Pak Paul, ada
kaitannya atau tidak?

PG : Saya kira orang-orang tertentu memang Tuhan karuniakan kelebihan-kelebihan dalam membaca

situasi, nah itu adalah hal-hal yang tidak bisa kita jelaskan. Bisa jadi karena pengalamannya tapi isa jadi

juga memang dia mempunyai intuisi yang lebih kuat.


Tapi saya kira ini bisa juga dipelajari, pelajarilah reaksi orang, wajah orang waktu bereaksi, pelajarilah

nada suara orang, pekalah dengan perasaan orang, sering-seringlah berpikir. Kalau saya yang

diperlakukan seperti itu rasanya saya apa, kalau orang lain menerima perkataan seperti itu dari saya

jadinya dia kira-kira merasa apa, dia akan berpikir apa, menafsirkan apa. Nah sering-seringlah kita

berpikir dengan lebih luas dan melihat dari perspektif yang berbeda, nah dengan cara itu kita lebih bisa

membaca suasana.


 GS : Mungkin kita kesulitannya justru di situ Pak Paul, jadi kita lebih senang atau lebih
gampang buat kita menyuruh orang lain mempelajari kita daripada kita mempelajari orang
lain.

PG : Ya betul sekali, karena itu jauh lebih gampang kita tidak usah berubah dan menyesuaikan diri

dengan orang lain.


 GS : Bagaimana dengan pengendalian diri, Pak Paul?

PG : Itu juga saya kira bagian yang penting dalam membangun hikmat, kita perlu bisa mengendalikan

dan memanfaatkan emosi kita dengan efektif. Firman Tuhan berkata di Amsal 14:29 da Amsal 18:13,

Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.
Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya. Saya kira

memang benar sekali, saya belum pernah sekali melihat orang yang berhikmat terus orang itu dengan

mudah mengumbar kemarahannya, justru orang yang berhikmat adalah orang yang berhati-hati. Jarang

sekali dia marah, tapi bukan berarti dia tidak bisa marah. Dia bisa marah tapi kalau dia marah memang

itu tepat sasaran dan itu memang harus dia keluarkan tapi itu jarang-jarang terjadi, nah ini saya kira

penting sekali kita juga perhatikan.


 WL : Itu sebabnya mungkin Pak Paul, Tuhan memberikan satu mulut dan dua telinga dan
yang Yakobus sebutkan lambatlah untuk berbicara tetapi cepat tanggap ketika kita
mendengarkan orang lain.

PG : Betul, betul sekali.


 GS : Pak Paul, pada saat seseorang itu menjadi marah, kehilangan kendali, apakah pada
waktu itu hikmatnya hilang dalam dirinya?

PG : Ya, betul pada saat itu yang memang sedang bekerja adalah emosinya dan emosi itu susah sekali

untuk kita kontrol saat-saat itu. Jadi orang yang bisa menahan emosi berarti memberi ruang yan lebih

besar kepada rasionya untuk berpikir, sehingga dia lebih tahu apa yang harus dan tidak harus dia lakukan.


 GS : Berarti hikmat itu akan nampak dengan jelas ketika seseorang itu tenang.

PG : Betul, jadi penting sekali meskipun tidak berarti kita ini tidak boleh mendengarkan emosi kita, justru

silakan dengarkan emosi kita sebab kadang-kadang kita harus ekspresikan tapi kita tidk dikuasai olehnya.


Sebagai penutup saja Pak Gunawan, saya langsung ke point terakhir yaitu kita mesti introspektif dan tidak

senantiasa yakin diri, ini artinya apa? Saya bacakan dari Amsal 3:7, Janganlah engkau menganggap

dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan. Ada orang yang bertanya kepada saya

begini Pak Gunawan, setiap kali setelah mengambil keputusan saya dihantui oleh rasa bersalah saya

benar atau tidak ya,. Saya katakan kepada dia, jangan engkau menghilangkan pertanyaan itu, biarkan

pertanyaan itu menyertaimu. Jadi dengan kata lain sebelum bereaksi kita pertimbangkan baik-baik apa

yang kita akan katakan atau kita akan perbuat. Setelah bereaksi biarkan diri kita mengevaluasi kembali,

biarkan kita mempertimbangkan kembali yang telah kita lakukan itu. Jadi orang yang tidak

mempertimbangkan sebelum bertindak kita katakan dia orang bodoh, dia langsung tabrak, langsung

bertindak tanpa berpikir, kita katakan dia orang bodoh. Tapi orang yang setelah bertindak namun tidak

mempertimbangkannya lagi, tidak mempertanyakan saya benar atau tidak, dia orang yang menganggap

diri benar, nah ini adalah awal dari kejatuhan orang, menganggap diri benar. Jadi dengan kata lain

tindakan kita harus diapit dari dua sisi pertimbangan dan pertimbangan, sebelum bertindak kita

pertimbangkan, setelah bertindak kita pertimbangkan. Dan biarkan pertanyaan-pertanyaan saya benar

atau tidak ya, orang itu merasakan bagaimana ya, biarkan pertanyaan itu ada di hati kita setelah kita
berbuat sesuatu. Nah pertanyaan seperti itulah yang akan memandu kita agar tidak menganggap diri

selalu bijak.


 GS : Pak Paul, setelah sekian banyak faktor yang Pak Paul sampaikan, kita sampai pada
kesimpulan bahwa sebenarnya kebijaksanaan bisa dipelajari.

PG : Betul sekali, kalau saja kita mau membayar harga untuk belajar kita bisa belajar dengan baik.


 GS : Tapi modalnya itu diberikan oleh Tuhan, kita membaca bahwa hikmat yang sejati itu
datang dari Tuhan.

PG : Betul, kita mencari Tuhan, memohon dariNya dan belajar rendah hati, belajar untuk menahan emosi,

belajar untuk mendengarkan masukan dari orang dan sebagainya.


 GS : Memang menggunakan hikmat ini yang membutuhkan latihan-latihan terus-menerus
sehingga kita makin hari makin terampil di dalam mewujudkan hikmat itu melalui kehidupan
sehari-hari kita Pak Paul.

PG : Betul Pak Gunawan.


GS : Terima kasih sekali Pak Paul untuk perbincangan ini juga Ibu Wulan untuk perbincangan ini juga para

pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah dengan setia mengikuti

perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga).

Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Belajar Bijak". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui

lebih lanjut mengenai acara ini, silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke

Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 58 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-

mail dengan alamat telaga@indo.net.id, saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami

nantikan, dan akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda, sampai jumpa

pada acara Telaga yang akan datang.


Ringkasan

Isi:

Dapatkah hikmat dipelajari? Apakah orang dilahirkan bijak ataukah ia dibentuk menjadi bijak? Kitab Amsal

menyediakan banyak contoh perilaku orang yang bijak dan ternyata hikmat dapat dipelajari. Di bawah ini

dipaparkan beberapa faktor yang membuat orang bijak.




       1.   Takut akan Tuhan. "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan; tetapi orang bodoh

            menghina hikmat dan didikan. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat; dari mulut-Nya

            datang pengetahuan dan kepandaian." (Amsal 1:7; 3:6) Ada dua implikasinya. Pertama, kita
     mengakui bahwa Tuhan adalah sumber hikmat dan kepada-Nya kita datang meminta hikmat.

     Kedua, jauhkanlah dosa, kejahatan, dan ketidakbenaran dari hidup kita.


2.   Memiliki nilai hidup yang benar. "Janganlah menahan kebaikan dari orang-orang yang berhak

     menerimanya padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada

     sesamanu, 'Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,' sedangkan yang diminta ada padamu."

     (Amsal 3:27, 28) Mengasihi orang dan memanfaatkan benda, bukan sebaliknya, mengasihi

     benda dan memanfaatkan orang.


3.   Mengenal dan menerima diri. "Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang

     bebal ditipu oleh kebodohannya." (Amsal 14:8) Memahami apa yang bisa dan tidak bisa

     dikerjakannya.


4.   Membaca situasi dengan tepat. "Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu

     berperanglah dengan siasat. Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah

     apel emas di pinggan perak. " (Amsal 20:18; 25:11)


5.   Mengendalikan dan memanfaatkan emosi dengan efektif. "Orang yang sabar besar pengertiannya

     tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohoan. Jikalau seseortang memberi jawab sebelum

     mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya." (Amsal 14:29; 18:13)


6.   Introspektif dan Tidak Senantiasa Yakin Diri. "Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak,

     takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan." (Amsal 3:7) Reaksi harus diapit oleh pertimbangan:

     sebelum memberi reaksi kita mempertimbangkannya baik-baik; setelah memberi reaksi, kita

     mempertimbangkannya lagi. Biarkan perasaan tidak enak atau rasa bersalah timbul agar kita

     tidak kehilangan kepekaan terhadap perasaan orang. Orang yang tidak memberi pertimbangan

     sebelum bertindak adalah orang bodoh, orang yang tidak memberi pertimbangan setelah

     bertindak, adalah orang yang menganggap diri benar.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:80
posted:3/26/2011
language:Indonesian
pages:10
Denok  Fransiska Denok Fransiska oprektor docushared.blogspot.com
About tagged-basistik.blogspot.com,free-pdf-doc-xls-ppt.blogspot.com,soccers-basistik.blogspot.com,pharaswork.blogspot.com,docushared.blogspot.com