3 macam manusia

Document Sample
3 macam manusia Powered By Docstoc
					3 (Tiga) Macam Manusia - 15 May 2007.
Wednesday, 21 January 2009 09:03 Pdt. JE Awondatu




User Rating:                             /0
                                  Rate
Poor                       Best

Haleluyah!
Sore hari ini saya ingin berbicara mengenai 3 macam manusia. Dan 3 macam
manusia ini mempunyai 3 macam kelakuan. Tetapi ada di dalam satu tubuh di
dalam satu badan yang di sebut "AKU", kita ini.
Di dalam 1 Korintus pasalnya yang ke 2, kita akan membaca ayatnya yang ke 14,
dia berkata ;



1Co 2:14 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh
Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat
memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
1Co 2:15 Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak
dinilai oleh orang lain.
1Co 2:16 Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat
menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.
Sambung pasal 3;
1Co 3:1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan
kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi,
yang belum dewasa dalam Kristus.
1Co 3:2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab
kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat
menerimanya.
Coba, kembali pelan-pelan kita akan lihat pasal 3 ini, ayatnya yang pertama,
dikatakan di sana, ada manusia rohani. Manusia rohani ini, adalah the inner man,
the spiritual man, the inside of us. Bahasa Yunaninya, pneumatikos. The real
man, itu pneumatikos, manusia rohani, itu yang paling berharga.

Saudara lihat yang kedua masih dalam ayat ke 1, ada manusia duniawi. Manusia
duniawi di dalam bahasa Inggris di pakai kata carnal, itu manusia daging, kita,
yang bahasa Yunaninya adalah sarxikos.
Tetapi kalau kita naik ke atas ke ayat sebelumnya, 1 Korintus pasal 2 ayatnya
yang ke 14, di sana di tulis manusia duniawi. Tetapi dalam bahasa Inggris di
pakai kata natural man, manusia biasa. Dalam bahasa Yunani, psuchikos,
manusia nyawa.

Jadi Paulus sedang berbicara mengenai 3 macam manusia. Yang paling luar
adalah sarxikos, the carnal man, manusia duniawi, daging. Yang kedua, pasal 2
ayat 14 di sebut, the natural man. Manusia biasa, bahasa Yunaninya psuchikos,
manusia nyawa. Dan yang ketiga adalah manusia rohani dalam ayat 1, the
spiritual man, pneumatikos.

Nah, mari saudara lihat. Pikirkan seperti saya menulis di papan tulis. Ada
lingkaran besar, lingkaran yang kedua dan lingkaran yang ketiga. Yang di sebut
the spiritual man, itu lingkaran yang ketiga, yang paling kecil. Nah, ini, ditutup
oleh psuchikos, the natural man, manusia nyawa, emosi kita. Dan ditutup lagi
oleh yang paling luar, sarxikos, manusia dunia, the carnal man.

The real you, saudara yang sesungguhnya, itu yang kecil, spiritual man. You are
the spirit. Saudara adalah roh. Tetapi, Tuhan taroh di dalam satu tubuh, sarxikos,
tapi dengan nyawa, psuchikos.
The real you, pribadi kita yang sebenarnya ini, pneumatikos, manusia rohani ini,
ini yang Tuhan sayang. Sampai Dia mau mati di Golgota, untuk yang ini, yang
paling dalam ini.
Dia, Tuhan, ingin supaya spiritual man ini, dia bisa keluar bercahaya
mengalahkan yang psuchikos, manusia nyawa dan sarxikos, manusia daging.
Saya balik sekarang. Manusia daging, paling luar, sama nyawa, emosi perasaan,
itulah yang menghalangi manusia, the real you, the real man, keluar menyatakan
diri.

Saya akan bicara banyak, tapi mungkin saya akan batasi karena daya tangkap
kita mungkin sangat kurang. Kalau kita di kebaktian kita dengar firman Allah,
saudara ngomong, "Firman Tuhan hari itu bagus sekali." Saudara tidak bicara
pembicaranya, tetapi saudara bicara 'isi'nya dari firman Allah itu. Itu yang
ngomong itu, the real you, saudara yang sesungguhnya.

Tugas saya dari Tuhan adalah menjaga, memelihara saudara punya pribadi
yang paling dalam itu, rohani saudara. Karena badan saudara, saudara bisa
pelihara sendiri. Saudara makan, saudara pilih sendiri. Perasaan saudara sendiri.
Tapi yang ini yang paling dalam Tuhan sangat 'open'.

Kita sering kali nyanyi kepada Tuhan dengan sarxikos, yang paling luar, yang
kelihatan mata. Sayang sayang disayang, aku disayang Tuhan...Coba ibu-ibu
bilang, aku disayang Tuhan..., pakai lagu. Ibu-ibu percaya Tuhan sayang
saudara? Coba saya tanya lagi, ibu-ibu percaya Tuhan Yesus sayang saudara?
Coba bisa ganti gini nggak? Aku disayang suami...Bisa tidak? Lain ya? Suami-
suami, bisa kita bicara juga, aku disayang Tuhan... Tapi bisa nggak kita
menyanyi, aku disayang isteri... Suami dan isteri cuma bisa mencintai yang di
luar dan yang di tengah itu. Semua serba perasaan. "Gua sayang lo, lo sayang
gua." Ini bicara sarxikos.

Begitu sarxikos yang luar tidak cantik lagi, melelehlah itu sayangnya. Seringkali,
rumput di seberang jalan lebih hijau dari rumput sendiri. Ketika kita menganggap
seseorang itu hanya daging melulu, sarxikos. Tetapi kalau kita menjadi manusia
rohani, spiritual man, kita tidak akan nafsu kalau melihat wanita, tetapi kita akan
menghormati dia. Amin? Kita akan menghormati, bukan nafsu. Kalau nafsu itu
sarxikos. Tapi kalau kita menghormati, menjaga, menghormati dia, itu the
spiritual man. Dan saya ingin supaya saudara-saudara menjadi spiritual man,
dan wanitapun di tulis, dipakai spiritual man, yang di dalam itu.

Saudara, kita akan melihat beberapa tanda dan beberapa perbedaan antara
sarxikos dengan pneumatikos. Antara psuchikos dan pneumatikos.

Sarxikos itu, kita pakai logika-logika batu, keras. Saudara lihat, batu itu keras.
Kemana saja dia keras. Jadi, kalau kita pakai kekerasan, suami keras isteri keras,
wah ini logika batu. Suami keras, isteri keras, isteri sakit hati, suami sakit hati,
suami keras isteri keras, beradu. Apa yang terjadi? Retak, pecah, friksi.

Tetapi the spiritual man, orang rohani, dia memakai logika air. Ketika air ketemu
dengan batu, lentur itu air. Kalau batunya keras, airnya lentur. Batu tidak bisa
melukai air, dan air tidak akan melukai batu. Betapa hebatnya itu the spiritual
man. Tapi sayang spiritual man ini terkurung oleh perasaan, manusia nyawa dan
manusia daging di luar. Ini musuh saudara. Ke'AKU'an kita. Kehebatan kita,
ke'AKU'an kita, sok kita ini, nggak mau kalah. Kita mau batu sama batu. Jadi
ribut. Maka di situ banyak perceraian, karena memakai logika batu. Sana batu,
sini batu, sama-sama keras, cerai. Logika batu.

Tapi spiritual man, logika air. Di taroh di gelas, dia seperti gelas. Taroh di pipa,
dia seperti pipa. Elastis, lentur kemana saja. Taroh di piring, dia berbentuk
seperti piring. Taroh di botol dia seperti botol. Taroh di panci dia berbentuk
seperti panci. Maka di Alkitab, berkali-kali Yesus berkata memakai kata air.
Orang yang benar dia akan hidup, yang merenungkan firman siang dan malam,
Mazmur 1 ayat 1 sampai 3, dia akan seperti pohon tumbuh di dekat air.

Tadi saya bandingkan yang bersaksi tadi dengan yang saya baru terima telepon.
Saya terima telepon, anak rohani. Saya bilang, "Kemana aja kamu? Kok Minggu
nggak datang?" "Ini om, anak saya mau sekolah minggu. Sekolah minggu yang
dekat. Ini ada gereja, seratus meter dari rumah saya. Jadi saya mau anak saya
sekolah minggu dekat, jadi nggak terlalu jauh." Spiritual man saya berbicara, "No
problem." Tapi alangkah ruginya, hanya karena jarak, meninggalkan firman yang
hidup. "Ini juga murid om Yoyo." "Ya, Puji Tuhan, sama, Puji Tuhan. Nggak apa-
apa, no problem." Karena kita harus pakai logika air.

Tetapi Yesus berkata, barangsiapa minum air yang Aku berikan kepadanya, dia
tidak akan haus lagi. Spiritual man tidak akan haus lagi. Yang selalu haus itu
sarxikos, daging. Dia ingin itu, dia ingin itu, dia tidak cukup satu wanita, dia tidak
cukup satu isteri, dia mata keranjang. Sana ingin, situ ingin, dia bandingkan
wanita ini dengan isterinya, itu sarxikos, itu daging. Tapi the spiritual man, logika
air, dia mengalah.

Tahu nggak saudara air itu? Kalau sedikit, tik...tik...tik... Yah ini air, setetes
setetes nggak ada apa-apanya. Di Tiongkok, jaman dulu kalau orang di hukum
mati, nggak dipenggal. Dibotaki kepalanya, suruh duduk dibawah gentong air.
Gentong itu dilubangi, kecil sekali. Air yang turun cuma tetesan air, persis di
ubun-ubunnya orang itu. Diikat tangannya, kepalanya diikat. Tetesin air. Dia
senang. "Yah, ngapain di tetesin air begini, enak dingin." Iya, kalau lima menit,
enak dingin. Begitu sudah satu jam, dia berteriak-teriak. Dia teriak-teriak. Sebab
seperti godam yang besar, booom...booom..., maka tiga hari kemudian, dia jadi
gila. Kadang-kadang langsung mati. Hanya karena tetesan air.

Maka ibu-ibu paling banyak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
KDRT, bukan Kris Dayanti, kekerasan dalam rumah tangga, pakailah logika air.
Biar suamimu keras bagaimana, kalau saudara pakai logika air, dia kecemplung,
dia nggak bisa apa-apa. Jangan keras sama keras. Jangan batu lawan batu,
pakai logika air. Suami-suami, kalau isterimu bawel. Oh...bikin telinga kita rontok
itu kotoran, saking bawel, pakai logika air. Kalau kita pakai logika air saudara-
saudara, siapa yang bisa tinju air? Di tinju, dia kembali lagi. Bacok, dia terbelah,
dia kembali lagi.
Maka saya paling takut kalau sudah bicara air. Setetes air saja bisa bunuh orang.
Apalagi kalu air itu suara Tuhan dalam Wahyu, seperti air yang banyak, desau
air bah.
Kita seringkali anggap, psuchikos, manusia biasa, the natural man, 1 Yohanes
pasal 14, itu kita anggap sudah rohani. Kalau kita berdoa, hu...hu...hu...nangis.
"Oh, itu orang rohani dia. Bisa menangis sembahyang." Padahal dia nangis
mungkin dia ingat problem, ingat percobaan? Ada yang nangis karena kuasa
Tuhan, ada yang nangis karena di jamah oleh Kristus, tapi ada yang nangis
karena feeling, perasaan. Itu juga bahaya. Itu manusia biasa, manusia nyawa.

Kalau kita lihat jemaat banyak, dua tiga empat ratus lima ratus, feeling. Begitu
jemaat sedikit, cemplang dia, feeling. Itu musuh paling besar. Kalau toko
dikerubutin banyak langganan, wah, bahagia, uhuii..., feeling. Tapi begitu
langganan datang, satu... dua... sedih kita. Jadi kita punya hidup tergantung oleh
feeling, tergantung dengan apa yang kita lihat, tergantung dengan apa yang kita
dengar, tergantung dengan apa yang kita rasa, dengan apa yang kita raba.

Spiritual man tidak begitu. Dia melihat apa yang tidak kelihatan. Dia mendengar
yang tidak di dengar oleh manusia. The spiritual man, nanti saya akan sambung
bagian keduanya pada hari Kamis. Hari Kamis itu Kenaikan Yesus, Dia bicara
banyak tentang Roh Kudus. Saya akan ambil separoh untuk saudara malam ini.
Jadi yang tidak datang pada hari kamis, dia cuma dapat separohnya. Saudara
yang datang sekarang tapi tidak datang Kamis, juga dapat separohnya. Saudara
yang datang sekarang dan Kamis juga datang, saudara dapat semuanya. Dan
kalau saudara tidak datang kamis, saudara sarxikos atau psuchikos. Tapi kalau
saudara datang Kamis juga, saudara spiritual man, saudara ingin mendapat
semuanya.

Saudara-saudara sudah mendapat tambahan, feeling. Tapi ini lingkaran yang
kecil ini, the spiritual man ini, itu ingin keluar. Kita buka dulu satu ayat dalam 2
Korintus pasal 4. Paulus membuktikan betapa indahnya ini.



2Co 4:1 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu
kami tidak tawar hati.
2Co 4:2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan;
kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami
menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk
dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.
2Co 4:3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk
mereka, yang akan binasa,
2Co 4:4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan
oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang
kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.
2Co 4:5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus
sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.
2Co 4:6 Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!",
Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, ini spiritual man
supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang
nampak pada wajah Kristus.
Perhatikan ayat 7;
2Co 4:7 Tetapi harta ini, kemuliaan Kristus yang ada di dalam hati kita, the
spiritual man, kami punyai dalam bejana tanah liat, - sarxikos, manusia duniawi,
manusia daging, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu
berasal dari Allah - bukan dari diri kami.
2Co 4:8 Dalam segala hal kami ditindas, sarxikos ditindas, namun tidak terjepit; -
spiritual man tidak bisa terjepit-juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.
2Co 4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada
maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh
kami yang fana ini. Sarxikos.
2Co 4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam
kamu.
2Co 4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis:
"Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata", maka kami juga percaya dan sebab
itu kami juga berkata-kata.
2Co 4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus,
akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan
menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.
2Co 4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia,
yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi
percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan
Allah.




Coba, dimulai dengan yang kecil, cahaya Kristus di dalam tubuh yang fana, di
dalam diri kami, bejana tanah liat. Dan Dia ingin supaya yang kecil, cahaya
Kristus ini, mulai keluar, mulai nyata. Sebetulnya kita nggak usah khotbah, orang
lihat, " Wuih, itu murid Yesus."

Sayang, kita melayani dengan sarxikos. Nyanyi, tapi sarxikos, janji doang
kepada Tuhan. Kita ngomong, "Engkau gunung batuku, Engkau benteng
perlindunganku." Tapi 'kemeretek', kita lari kepada manusia. Masih angin sorga.
Nyanyi berganti-ganti, sayang sayang aku disayang Tuhan...Tapi hidup penuh
kekuatiran. Nggak yakin Tuhan sayang. Itu sarxikos. Tapi spiritual man, saudara,
dia akan melihat sesuatu di balik apa yang kelihatan mata.

Mari, saya akan beri ilustrasi. Rabu yang lalu kami suami isteri diundang
menutup sekolah Alkitab dari gereja Pantekosta Tabernakel di Ujung Pandang.
Kebaktiannya jam 19.00, tapi jam 12.00 kami sudah sampai. Kami dijemput oleh
keluarga dari gereja Pantekosta, jemaat. "Om, makan dulu. Makan dulu coto."
Sudah makan, coto " "Kita makan lagi sekarang." "Masak, baru makan?" "Kita
makan ikan..." "Om suka yang ramai, suka yang tenang?" "Suka yang tenang."
Bawa ke tempat rumah makan. Pilih. "Om pilih makanan. Ikannya om yang pilih."
Saya bilang, "You aja yang pilih." "Nggak, om yang pilih."

Kita ke depan, kita lihat ikan-ikan di es. Ada satu ikan, "Ini enak om." "Namanya
ikan apa?" "Ikan Salah Mata." Kenapa di kasih nama ikan Salah Mata? Karena
mata ikan itu bukan di samping, tapi di atas. Terus, spiritual man itu dia ngomong
dalam hati saya. "Manusia itu ngomong, dia salah mata. Padahal ini betul mata."
Mata yang betul itu selalu melihat ke atas. Amin, saudara-saudara?

Justru yang suka melihat ke samping ini yang salah! Lihat salah orang, lihat
kelemahan orang. Si A itu salah, si B itu keliru. Ribut dengan si A. Bagaimana
dia? Bagaimana si anu? Itu bukan urusan kita. Maka kita harus melihat ke atas.
Itu daging enak sekali saudara-saudara. Jadi kalau kapan-kapan saudara ke
Ujung Pandang, minta ikan Betul Mata. Nanti kalau mereka bilang, "Tidak ada
ada ikan Betul Mata" "Pokoknya yang Salah Mata itu, buat saya betul dia punya
mata. Karena matanya di atas." Aduh, dagingnya empuk saudara! Tapi kalau
saudara ke sana, ajak saya.... Nanti saya kasih tahu, yang mana restaurannya,
ya...

Saudara mengerti sekarang? Bahwa manusia seringkali salah lihat. Lihat kanan
lihat kiri. Pandang t'rus pada-Nya. Jangan menoleh jalan t'rus. Jangan pandang
salah orang lain, pandang saja Yesus...Yesus itu kayak cermin. Jangan lihat
salah orang lain. Pandang saja Yesus, nanti Yesus kasih tahu, kamu kurang
apa...kamu kurang apa...kamu kurang apa...

Spiritual man kayak air. Elastis. Percobaan apapun juga, dia bisa atasi. Digencet,
dia diam. Elastis saudara. Mari saya akan bedakan orang Kristen yang mati dan
orang Kristen yang hidup. Beda 'kan saudara, manusia yang mati dan manusia
yang hidup. Kalau manusia yang mati dengan manusia yang hidup, bedanya apa?
Yang mati itu, kaku.

Waktu Clif Muntu sudah jadi mayat (korban kekerasa IPDN), dia orang gereja
Pantekosta, tangannya kaku, sudah tidak bisa di taroh di dada. Tapi yang hidup,
elastis, bisa menari. Tidak ada robot di dunia yang se-elastis buatan Tuhan.
Tidak ada! Robocop 'kan kaku geraknya. Tapi manusia yang hidup elastis. Maka
rohani the spiritual man, dia elastis. Dia ikut Roh Tuhan. Dia pergi kemana
Tuhan suruh. Dia elastis.
Kalau orang mati, kaku. Disuruh apa saja, kaku benar dia. Kaku, kaku aja dia,
nggak bisa. "Kok begitu, ko Yoyo ? Dia Kristen, suka ke gereja, kok kelakuannya
begitu?" Manusia sarxikos. Manusia lama yang kerja. Bukan berarti dia nggak
baik, tapi kebaikannya itu kalah oleh sarxikos. Si 'elastis' itu tidak bisa keluar,
tidak bisa memancarkan.

Maka saya suka khotbah dulu, saya tulis buku, kamu harus dihancurkan.
Ke'aku'an dan perasaanmu harus hancur, supaya hidup Kristus itu keluar, nyata
bercahaya. Di sebut apa oleh Paulus? Harta.
Hartanya nggak bisa keluar, kalau si 'spot'nya ini belum dipukul oleh Tuhan
supaya hancur berantakan. Begitu hancur, kelihatanlah.

Dulu, suami isteri, Ayub dan isterinya itu, o...saudara, di sebutnya juga paling
kaya. Di daerah itu tidak ada sekaya Ayub. Tapi yang dilihat orang cuma
Ayubnya. Belum hidup yang di dalamnya. Maka Tuhan mesti hancurkan dulu
yang di luarmya. Ketika dihancurkan yang di luarnya, kita tidak akan sama
dengan Ayub. Bisnisnya empat, hancur. Dia sakit, dari batok kepala sampai kaki,
bisul. Mulai yang asli-asli itu kelihatan.

Sama dengan orang kawin. Orang kawin juga saudara, waktu pacaran sih, I love
you, I love you. Tapi nanti kalau sudah punya anak empat, nah...aslinya
kelihatan. Baru kelihatan yang mana emas, yang mana spiritual man, yang mana
sarxikos.
Ayub, tetap spiritual man. Dia melihat bukan problemnya, tapi di belakangnya
ada apa? Dia bilang Tuhan adil, Tuhan baik. Dia tidak salah dengan mulutnya.
Tuhan baik. Kita terima apa yang Tuhan kasih. Dia baik. Tapi isterinya nggak
bisa. Sarxikos nggak bisa terima yang dari rohani. "Kutuklah Tuhan dan
mampuslah kau," dengan logat Batak. "Mampuslah kau, katanya. Kutuklah
Tuhan."

Saudara-saudara, dengan tenang Ayub bilang, "Perkataanmu seperti perkataan
perempuan yang gila." Kalem tapi 'nyelekit', ngomongnya. Spiritual man saudara-
saudara, dia kayak air. Yang datang nasehatin, teman-temannya, dia di lempar
sana, dia elastis aja. Tuhan bikin begini, dia ikut. Akhirnya diberkati dua kali
ganda. Sudah diberkati dua kali ganda, teman-temannya pada balik lagi. Dan
isterinya juga mulai cinta lagi. Datang, balik lagi. "Aku masih di terima, nggak, ike
nih...?" Saudara-saudara, di terima.

Lihat spiritual man. Bisa aja Ayub ambil isteri baru. "Waktu aku susah kamu
tinggalkan aku. Waktu aku susah kamu suruh aku tinggalkan Tuhan. Sekarang
kamu mau come back, kepadaku? No way!" Dia bisa ngomong begitu. Tapi itu
sarxikos, yang sering ada di selebritis-selebritis. "Karena dia begini, karena dia
begini, saya terpaksa harus cerai yang ketiga kalinya." Hebat itu. Kuat sekali itu
orang, saya bilang. Sudah kawin orang bule, cerai, kawin ini cerai, kawin itu,
cerai, yang dia belum kawin sama yang lenong. Semua ini cerai. Dia bilang, dia
sudah salah. Dia rasa dia sudah tidak apa-apa. Ini sudah kehendak aulloh.

Bayangkan kalau manusia sarxikos memerintah di dalam hidup kita, si rohaninya
tambah kecil tambah kecil tambah kecil, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi
itulah, cahaya Kristus, cahaya kemuliaan, itu tidak kelihatan, katanya bagi orang
yang mau binasa. Ta'u tapi tidak percaya. Saudara tahu, ini sarxikos ini, nggak
bisa percaya Tuhan, nggak bisa. Yang bisa percaya Tuhan itu pneumatikos.
Yang bisa percaya bahwa Yesus jalan di atas air itu, pneumatikos.

Ada orang Amerika, bertahun-tahun dia lahir dia sudah cacat. Hidup di atas kursi
roda. Tangannya tidak ada jari. Kaki hanya sampai di lutut. Tidak ada yang
doakan. Begitu dia masuk dalam satu kebaktian, mujizat terjadi. Di depan orang
banyak. Jari itu keluar, keluar begitu saja...plup...plup...di depan orang. Itu kaki
dari paha dari lutut itu keluar dan terus keluar jari. Saya kalau ingat cerita itu,
"Aduh Tuhan, betapa hebatnya Engkau, betapa besarnya Engkau." Tapi itulah
saudara, mujizat Tuhan itu tergantung kita.
Mari kita buka Efesus pasalnya yang ke 3, ayatnya yang ke 14;



Eph 3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
Eph 3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas
bumi menerima namanya.
Eph 3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan
dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,




Dalam bahasa Inggris, in the inner man, spiritual man. Tadi saya sudah berkata
di kebaktian pertama, kesaksian Cho Yonggi. Saya kesana ke Korea dan saya di
minta berdoa, kebaktian dengan rombongan Indonesia, kalau tidak salah tahun
'93. Dan Cho Yonggi khotbah. Dia bersaksi, dia khotbah tidak lama, setengah
jam. Dia bersaksi.

Pada suatu hari dia lihat isterinya, kenapa jelek sekali. Dia tahu, ini kuasa Iblis.
Jadi dia ambil satu hari puasa di kantornya. Dia berdoa seharian, dan dia berdoa,
"Tuhan, ampuni saya, ampuni dosa saya. Kenapa saya lihat isteri saya, kok jelek
amat? Saya seperti tidak menyukai dia."
Dan dia berdoa jam 15.00, seperti ada tutup botol di kupingnya itu, keluar.
Piiiing...dia kaget, dia buka mata. Dia lihat semuanya cerah. Kamarnya itu cerah.
Seperti ada damai dalam hatinya. Dan dia nyanyi-nyanyi,
haleluyah...haleluyah...Satu jam, sekitar jam 16.00 dia duduk di tempat tidur di
kantor, eh, isterinya masuk. Dia kaget! Dia lihat isterinya cantik seperti bidadari,
cantik sekali. Dan itu dia punya kesaksian. Saya tidak dengar dari orang lain,
saya dengar sendiri.

Jadi hati-hati suami, kalau engkau lihat isterimu jelek, kamu kerasukan setan!
Betul! Ini Cho Yonggi yang bilang, jangan nyalahin saya dong, Cho Yonggi. The
inner man kita, dikotori oleh sarxikos dan psuchikos. Karena sarxikos pengen
yang baru. Sarxikos pengen lihat yang ramai-ramai, yang indah-indah, yang
mengkilap-mengkilap, sarxikos.

Tapi spiritual man, bukan itu. Dia lihat yang rohani. Dia tidak tergetar dengan
lihat gedung gereja besar dan mewah. Baru-baru ini saya lihat dua gereja, satu
di Malang, satu di Tangerang, luar biasa. "Aduh Tuhan, ini gereja besar amat?"
Saya kagum saya memuji Tuhan. Tapi spiritual man tidak tergerak dengan itu.
Sarxikos saya yang bilang, "Luar biasa ini gereja. Ho..., hebat betul kalau Tuhan
kerja." Tapi spiritual man tidak tergerak dengan itu. Spiritual man hanya
merindukan satu pribadi. Dia merindukan Yesus. Dimana dia ada, dia hanya
rindu Yesus. Dia senang hal yang rohani.

1 Korintus 2 tadi berkata, orang yang rohani, orang yang penuh roh, menilai
segala sesuatu. Ini luar biasa. Dia bisa menilai jaman. Dia bisa tahu apa. Segala
sesuatu dia bisa menilai. Tetapi dia tidak bisa dinilai oleh seorangpun. Spiritual.
Maka saya ingin mengajak saudara, mulai sekarang melatih telinga rohani
saudara, telinga kita itu, barangsiapa yang bertelinga hendaklah mendengar. Kita
bertelinga. Tetapi kita kadang-kadang tidak mendengar. Mendengar di sana itu
artinya menurut.
Suara Tuhan, tidak datang dari kepala, tapi dari the inner man. Efesus bilang dari
bathinmu. Terus kita baca dari Efesus ini ;



Eph 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar
serta berdasar di dalam kasih.




Ini ada yang kurang. Saya baca dalam bahasa Inggris, that Christ may dwell in
your hearts through faith; that you, being rooted and grouded in love. Sehingga
oleh imanmu Kristus yang di dalam hatimu, bukan oleh imanmu. Kristus yang di
dalam hatimu oleh imanmu, harusnya begitu. Dan kamu berakar serta
berdasar grounded, teguh, nggak goyah. Nggak kebawa kesana kemari,
grounded, di dalam Aku.



Eph 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus
dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya
kasih Kristus,
Eph 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala
pengetahuan.




Saya berhenti di sini. Saudara ta'u? Saudara sekolah, sekolah tinggi, Sekolah
Tinggi Teologi, kita dapat pengetahuan. Tapi kita nggak bisa mengerti Roh Allah
dengan pengetahuan. Sebab, the inner man, rohani kita itu melebihi segala
pengetahuan. Puji Tuhan haleluyah.
Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.



Eph 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang
kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam
kita,




Ini yang bagian akhir ayat 20, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja
dimana saudara? Bukan di sarxikos, bukan di perasaan psuchikos. Tapi di inner
man di dalam, di pneumatikos.

Telinga rohani kita ada di sini (di dada). Itu boleh saya katakan, kesan-kesan
yang di dalam hati. Saya belum pernah dengar Tuhan ngomong di telinga saya.
Nggak, belum pernah. Lagu El Shaddai atau apa, itu dari dalam kedengarannya.
Dan itu dalam bahasa Ibrani, inner man itu di pakai kata MADDA.
Madda ini, tidak akan di kenal oleh sarxikos. Karena sarxikos senang yang luar.
Dia tidak senang dengan yang dalam. Juga tidak akan kenal dengan psuchikos.
Dia hanya di kenal oleh orang yang mau memakai logika air. Karena air sudah
lihat, dia jalan ke tempat yang rendah. Lebih rendah hati kita, air itu hidup. Air
firman Allah, air Roh Kudus, air dari Tuhan, dia akan hidup, di tempat rendah, dia
akan turun kesana.
Maka firman Allah, Roh Kudus semuanya yang dari Tuhan memakai logika air,
semuanya air hidup. Sungai sukacitaku, saudara cuma nyanyi sukacitanya. Tapi
saya perhatikan logika airnya. Itu mata air dari gunung, tapi kelautan. Tapi waktu
dia jalan itu, dia jadi berkat. Orang mencuci, ikan bisa hidup, orang mandi. Dari
sananya dia jernih, binatang bisa minum, tumbuh-tumbuhan bisa hidup,
semuanya bisa ada, ikan bisa ada, dia tidak punya musuh, batu yang besar dia
bisa naik. Elastis, batu yang terlalu besar, dia bisa kepinggir, elastis sekali.

Nah itulah yang saya ingin, bahwa rohani saudara bermain dengan Kristus. Dan
pakailah madda itu. Pakailah madda kita. Karena Tuhan nggak ngomong di sini
(di telinga). Tuhan itu berbisik di spirit, inner man. Maka saya ingin supaya
saudara yang sudah penuh dengan Roh Kudus, dan berdoa di dalam Roh, pakai
tiap hari.

Saya pakai ilustrasi. Orang suka tertarik di hutan dengan lihat Anggrek hutan.
Aduh Anggrek hutan bagus yah. Dia bawa pulang ke rumah. Dia tanam di rumah.
Tapi aneh, di rumah tumbuhnya tidak seperti di hutan suburnya. Bunga tumbuh
tapi tidak seindah di hutan. Kenapa? Ahli-ahli botani menyelidiki bahwa,
tumbuhan yang di taroh di rumah, kehilangan suasana hutan. Kehilangan
suasana hutan yang ada suara jangkrik, ada suara air, ada suara kicauan burung,
ada suara raungan musang, mungkin ada suara monyet. Suara-suara hutan itu
mereka kehilangan. Daun tanaman itu mempunyai pori-pori yang menjadi telinga,
yang di sebut Omata. Dan Omata ini mendengar, menyerap semua suana hutan
itu, itu yang bikin dia bertumbuh.

Ketika di bawah ke rumah, di belakang rumah, dia kehilangan suasana hutan.
Karena yang kedengaran dia, "Bibi...bibi...ke sini! Huk...hukk.huk...Nyiaaak,
minyiaaak...kue...kue.... daging...daging..." Itu bukan suasana hutan. Maka dia
tidak mekar seperti yang seharusnya.

Nah orang Kristen yang memakai sarxikos dan psuchikos, dia tidak mau dengar
itu the inner man, the spiritual man, dia tidak akan bertumbuh. Maka saya selalu
berdoa dalam bahasa Roh. Dia berbisik. Rohani saya, omata saya, dengar suara
ini, suasana rohani dari Tuhan. Omata ini dia dengar dan bertumbuh. Itu yang
menumbuhkan saya. Itu yang orang bingung.

Satu majalah rohani, Majalah Bahana, mewawancarai saya. "Bapa punya
curiculum vitae, coba ceritakan kepada saya." "Saya sekolah sampai SMA."
"Terus.." "Sekolah Alkitab saja." "Terus.., mana mungkin? Bapa nggak sekolah,
begini... Nggak mungkin?" "Nggak mungkin, tapi begini adanya." Saya bilang,
saya ceritakan kepada murid saya. Omata kita harus terbuka. Walaupun
menderita seperti apa, kalau omatanya terbuka, suasananya "hutan" rohani, kita
dengar.

Jadi, walaupun kita di toko sedang melayani pelanggan, tapi ini hubungan
dengan Dia jangan kehilangan. Tadi saya katakan, ketika kita lihat orang cantik,
nggak nafsu. Tapi kita hormat. Menghormati dia, menghargai. Itu the spiritual
man.

Malam hari ini saudara-saudara mendapat banyak pelajaran. Sekarang kita mau
kembali ke basic, yaitu ke 1 Korintus tadi. Dan sekarang lebih terbuka, bagi
saudara seperti apa yang dimaksudkan oleh Tuhan.
1 Korintus pasalnya yang ke 2 dan ayatnya yang ke 13;



1Co 2:13 Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang
mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan
perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh
Roh.




Oh dia ngomongnya pinter, dia lulusan Yale, dia lulusan Universitas. Dia lulusan
Amerika, dia lulusan Eropah. Tuhan nggak perlu itu. Saudara boleh lulusan
Eskimo. Tapi kalau Tuhan nggak pakai, saudara tidak akan dengar suara Roh.
Saya ingin saudara bertumbuh dalam hal rohani.
Saudara punya prestasi sudah besar. Sudah 1.700 pendeta yang keluar dari
jemaat, melalui Sekolah Alkitab Cianjur. Sudah ada dua sekolah, Sekolah Alkitab
dan Sekolah Tinggi Teologi, yang saudara ikut membangun. Sudah
menghasilkan banyak, ribuan jiwa dimenangkan bagi Kristus. Tapi spiritual man
akan mendengar Kristusnya, Yesusnya yang kita lihat. Spiritual man kita hanya
tertarik kepada Kristus. Boleh saya sambung? Ini sudah selesai.

Jadi Roh itu mengajar. Betapa indahnya, betapa manisnya, Roh mengajar
saudara. Dan hari ini, jaman ini, jaman Roh Kudus. Yesus naik ke sorga. Kisah
Para Rasul 3:21, Dia harus ada di sana, sampai semua di pulihkan. Sekarang
masih banyak keluarga berantakan, harus di pulihkan oleh Tuhan. Banyak suami
curiga isteri, isteri curiga suami. Harus di pulihkan. Banyak menggunakan logika
batu, sekarang. Orang Kristen! Sudah Sudah tiga puluh tahun ikut Tuhan, tapi
kepada isteri memakai logika batu. Kepada tetangga pakai logika batu. Semua
pakai logika kekerasan. Tidak ada yang memakai logika air.

Saudara-saudara, saya mau tutup dengan pengalaman dari Paulus. Dia
bandingkan apa itu kebanggaan dunia dengan apa kebanggaan Tuhan Yesus
Kristus, memiliki Yesus Kristus. Aduh saudara, saya tidak tahu bahasa yang
saya mesti ngomong, itu cerita bahwa, kita itu harus memilki Yesus, bukan
hanya tahu mengenal membaca, tapi memiliki Dia. Dia mengatur hidup kita.
Filipi pasalnya yang ke 3 ayatnya yang ke 4;



Phi 3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal
lahiriah- Sarxikos -. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya
pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:
Phi 3:5 disunat pada hari kedelapan, - ini sudah ikut Taurat. Itu kebanggan dia,
secara sarxikos - dari bangsa Israel, bukan Samaria - dari suku Benyamin, orang
Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,
Phi 3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam
mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
Phi 3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang
kuanggap rugi karena Kristus. Jadi dia mulai ngomong spiritual man.
Phi 3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus
Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah -Yesus-
aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah- Maaf
saudara, bahasa Indonesia pakai sampah. Bahasa Inggris pakai dung. Dung itu
yang saudara buang di wc, saudara tahu ya?-, supaya aku memperoleh Kristus,




Aduh, cita-cita Paulus, supaya aku punya Kristus saja. Dia sudah kenal Yesus,
dia sudah melayani Yesus, dia sudah Rasul. Tapi ini, spiritualnya ngomong,
supaya aku memperoleh Kristus, supaya aku mendapat Kristus. Nanti kita ke
sorga, saudara. Dan kita akan lihat Yesus. Di dalam Dia ada Bapa, di dalam Dia
ada Roh Kudus. Dan saudara akan kenal itu Yesus, karena spiritual man sudah
terlatih di dunia mengenal Dia.

Saya ingin mengenal suara dari Tuhan, bukan dari daging. Yesus berkata,
Kerajaan Allah tidak datang dengan tanda-tanda lahiriah, tetapi Kerajaan Allah
ada di dalam hati, spiritual. Kolose 1 ayat 27, ini rahasia sudah berabad-abad
lamanya, tetapi sekarang aku beritahu kepadamu, bahwa Kristus di dalammu
itulah pengharapan beroleh kemuliaan. Masih mau cari kemuliaan manusia? Kita
mau mendapatkan Yesus. Ayat 9;



Phi 3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena
mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan
kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan
kepercayaan.
Phi 3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan
persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia
dalam kematian-Nya,
Di dalam Yohanes pasal 5 ada orang buta. Murid-Nya tanya, "Yesus, orang ini
buta, apa dosa dia apa dosa orang tuanya?" Itu penilaian dari sarxikos. Dosa dia
apa dosa orang tuanya? Lihat penilaian spiritual dari Yesus. "Bukan dosa dia,
bukan dosa orang tuanya. Tapi supaya kemuliaan Kristus dinyatakan."

Jadi dia lihat orang buta ini bukan dengan keadaan butanya, bukan dengan
keadaan tanpa bisa berbuat apa-apa, tapi Dia lihat, bisa jadi apa orang ini nanti.
Jadi kalau saudara lihat perusahaan saudara seperti lumpuh tidak berjalan,
saudara jangan di lihat lumpuhnya, tapi saudara akan melihat dengan mata yang
rohani, akan apa yang Kristus jadikan melaui pabrik yang sudah mau mati.

Bila ini tepung, saudara hanya bisa bilang, oh ini cuma tepung. Tapi ahli kue dia
akan berkata, dengan tepung ini saya bisa bikin bermacam-macam kue. Itu
spiritual man. Begitu juga beras. Bagi orang yang mempunyai penilaian rohani,
dengan beras saya bisa bikin nasi, aku bisa bikin nasi uduk, dengan beras aku
bisa bikin bacang, bisa bikin bermacam-macam makanan.

Demikian juga Tuhan. Dia melihat saudara. Sarxikosmu melihat dirimu sendiri.
Saya tidak baik, saya begini, saya kurang baik. No! Di hadapan Tuhan, saudara
itu penting. Di hadapan Tuhan saudara itu mulia. Jangan remehkan kebaikan
Tuhan, jangan sia-siakan itu the inner man. Jangan sia-siakan itu kebaikan yang
di dalam ini. Ini harus keluar harus menembus ke'aku'an, harus menembus itu
perasaan, keluar.

Kenapa orang tidak mau bersaksi? Karena yang dia ingin bersaksi, sesuatu di
dalam dia berkata, Tuhan itu baik, dia harus bersaksi di depan. Tapi tiba-tiba
sarxikos bilang, malu ah...Perasaan bilang, nanti diomonginlah. Saya tahu
banyak yang punya kesaksian. Tapi itu sarxikos yang bilang, jangan bersaksilah,
inilah... itulah. Tapi ini spiritual man, ayo...cukup, tiap hari cukup...cukup...cukup.

Maka kata Paulus , aku belum bisa kasih makanan keras, karena kamu masih
manusia biasa, masih manusia sarxikos. Kan kita kebaktian ingin bertumbuh?
Amin? Masak tiap tahun kita kebaktian, disitu situ saja iman kita? Growing dong,
bertumbuh, pengetahuan kita. Masak kita ikut Tuhan sudah bertahun-tahun,
masih cepat ngambek? Bertumbuhlah ke arah Kristus.
Mari kita berdiri bersama-sama.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:124
posted:3/26/2011
language:Indonesian
pages:20
Denok  Fransiska Denok Fransiska oprektor docushared.blogspot.com
About tagged-basistik.blogspot.com,free-pdf-doc-xls-ppt.blogspot.com,soccers-basistik.blogspot.com,pharaswork.blogspot.com,docushared.blogspot.com