Docstoc

jamaah tabligh

Document Sample
jamaah tabligh Powered By Docstoc
					Membongkar Kedok Jamaah Tabligh


Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita, terlebih bagi
mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan
aqidah yang sering dituding sebagai 'biang pemecah belah umat', membuat dakwah
mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.
Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau
kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya;
”Mas, Jamaah Tabligh, ya?” atau “Mas, karkun, ya?” Yang lebih tragis jika ada yang
berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung
dihukumi sebagai Jamaah Tabligh.
Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jamaah yang
berkiblat ke India ini? Kajian kali ini adalah jawabannya.

Pendiri Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang sufi dari tarekat Jisytiyyah yang berakidah
Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin
Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-
Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan nisbat dari Kandahlah, sebuah desa yang terletak
di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi dinisbatkan kepada Dihli (New Delhi),
ibukota India. Di tempat dan negara inilah, markas gerakan Jamaah Tabligh berada.
Adapun Ad-Diyubandi adalah nisbat dari Diyuband, yaitu madrasah terbesar bagi
penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti dinisbatkan
kepada tarekat Al-Jisytiyah, yang didirikan oleh Mu‟inuddin Al-Jisyti.
Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas.
Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H. (Bis Bri Musliman, hal.583, Sawanih
Muhammad Yusuf, hal. 144-146, dinukil dari Jama‟atut Tabligh Mafahim Yajibu An
Tushahhah, hal. 2).

Latar Belakang Berdirinya Jamaah Tabligh

Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan, ”Ketika Muhammad
Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India)
jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala
Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman
yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian
merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh
tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk
membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di
India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut.” (Nazhrah 'Abirah
I‟tibariyyah Haulal Jama'ah At-Tablighiyyah, hal. 7-8, dinukil dari kitab Jama'atut
Tabligh Aqa‟iduha Wa Ta‟rifuha, karya Sayyid Thaliburrahman, hal. 19)
Merupakan suatu hal yang ma‟ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah
tabligh, red) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini
setelah (Jama‟atut Tabligh Mafahim Yajibu Ankepergiannya ke makam Rasulullah
Tushahhah, hal. 3).

Markas Jamaah Tabligh

Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua
berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di
kota Dakka (Bangladesh). Yang menarik, pada markas-markas mereka yang berada di
daratan India itu, terdapat hizb (rajah) yang berisikan Surat Al-Falaq dan An-Naas,
nama Allah yang agung, dan nomor 2-4-6-8 berulang 16 kali dalam bentuk segi empat,
yang dikelilingi beberapa kode yang tidak dimengerti. (Jama‟atut Tabligh Mafahim
Yajibu An Tushahhah, hal. 14)
Yang lebih mengenaskan, mereka mempunyai sebuah masjid di kota Delhi yang
dijadikan markas oleh mereka, di mana di belakangnya terdapat empat buah kuburan.
Dan ini menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani, di mana mereka menjadikan
kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan melaknat orang-orang yang
menjadikanmereka sebagai masjid. Padahal Rasulullah kuburan sebagai masjid,
bahkan mengkhabarkan bahwasanya mereka adalah . (Lihat Al-Qaulul Baligh Fit
Tahdziri Minsejelek-jelek makhluk di sisi Allah Jama‟atit Tabligh, karya Asy-Syaikh
Hamud At-Tuwaijiri, hal. 12)

Asas dan Landasan Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat teguh mereka pegang,
bahkan cenderung berlebihan. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus
sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian
sebagai berikut:

Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad
Rasulullah
Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yang
rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang
dzat Allah, bahwasanya Dialah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha
Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha
Menghidupkan dan Mematikan”. Kebanyakan pembicaraan mereka tentang tauhid,
hanya berkisar pada tauhid rububiyyah semata (Jama‟atut Tabligh Mafahim Yajibu An
Tushahhah, hal. 4).
Padahal makna Laa Ilaha Illallah sebagaimana diterangkan para ulama adalah: “Tiada
sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah.” (Lihat Fathul Majid, karya Asy-
Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, hal. 52-55). Adapun makna
merealisasikannya adalah merealisasikan tiga jenis tauhid; al-uluhiyyah, ar-rububiyyah,
dan al-asma wash shifat (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa‟rifuha, karya Abu Ibrahim
Ibnu Sulthan Al-'Adnani, hal. 10). Dan juga sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh
Abdurrahman bin Hasan: “Merealisasikan tauhid artinya membersihkan dan
memurnikan tauhid (dengan tiga jenisnya, pen) dari kesyirikan, bid‟ah, dan
kemaksiatan.” (Fathul Majid, hal. 75)
Oleh karena itu, Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan bahwa
di antara 'keistimewaan' Jamaah Tabligh dan para pemukanya adalah apa yang sering
dikenal dari mereka bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berikrar dengan
tauhid. Namun tauhid mereka tidak lebih dari tauhidnya kaum musyrikin Quraisy
Makkah, di mana perkataan mereka dalam hal tauhid hanya berkisar pada tauhid
rububiyyah saja, serta kental dengan warna-warna tashawwuf dan filsafatnya. Adapun
tauhid uluhiyyah dan ibadah, mereka sangat kosong dari itu. Bahkan dalam hal ini,
mereka termasuk golongan orang-orang musyrik. Sedangkan tauhid asma wash shifat,
mereka berada dalam lingkaran Asya‟irah serta Maturidiyyah, dan kepada
Maturidiyyah mereka lebih dekat”. (Nazhrah „Abirah I‟tibariyyah Haulal Jamaah At-
Tablighiyyah, hal. 46).

Sifat Kedua: Shalat dengan Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri
Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata: “Demikianlah perhatian mereka kepada shalat dan
kekhusyukannya. Akan tetapi, di sisi lain mereka sangat buta tentang rukun-rukun
shalat, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya, hukum sujud sahwi, dan perkara
fiqih lainnya yang berhubungan dengan shalat dan thaharah. Seorang tablighi (pengikut
Jamaah Tabligh, red) tidaklah mengetahui hal-hal tersebut kecuali hanya segelintir dari
mereka.” (Jama‟atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 5- 6).

Sifat ketiga: Keilmuan yang Ditopang dengan Dzikir
Mereka membagi ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhail. Ilmu
masail, menurut mereka, adalah ilmu yang dipelajari di negeri masing-masing.
Sedangkan ilmu fadhail adalah ilmu yang dipelajari pada ritus khuruj (lihat penjelasan
di bawah, red) dan pada majlis-majlis tabligh. Jadi, yang mereka maksudkan dengan
ilmu adalah sebagian dari fadhail amal (amalan-amalan utama, pen) serta dasar-dasar
pedoman Jamaah (secara umum), seperti sifat yang enam dan yang sejenisnya, dan
hampir-hampir tidak ada lagi selain itu.
Orang-orang yang bergaul dengan mereka tidak bisa memungkiri tentang keengganan
mereka untuk menimba ilmu agama dari para ulama, serta tentang minimnya mereka
dari buku-buku pengetahuan agama Islam. Bahkan mereka berusaha untuk
menghalangi orang-orang yang cinta akan ilmu, dan berusaha menjauhkan mereka dari
buku-buku agama dan para ulamanya. (Jama‟atut Tabligh Mafahim Yajibu An
Tushahhah, hal. 6 dengan ringkas).

Sifat Keempat: Menghormati Setiap Muslim
Sesungguhnya Jamaah Tabligh tidak mempunyai batasan-batasan tertentu dalam
merealisasikan sifat keempat ini, khususnya dalam masalah al-wala (kecintaan) dan al-
bara (kebencian). Demikian pula perilaku mereka yang bertentangan dengan
kandungan sifat keempat ini di mana mereka memusuhi orang-orang yang menasehati
mereka atau yang berpisah dari mereka dikarenakan beda pemahaman, walaupun orang
tersebut 'alim rabbani. Memang, hal ini tidak terjadi pada semua tablighiyyin, tapi
inilah yang disorot oleh kebanyakan orang tentang mereka. (Jama‟atut Tabligh
Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 8)
Sifat Kelima: Memperbaiki Niat
Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan
keikhlasan adalah porosnya. Akan tetapi semuanya membutuhkan ilmu. Dikarenakan
Jamaah Tabligh adalah orang-orang yang minim ilmu agama, maka banyak pula
kesalahan mereka dalam merealisasikan sifat kelima ini. Oleh karenanya engkau dapati
mereka biasa shalat di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan. (Jama‟atut
Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)

Sifat Keenam: Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah subhanahu wata'ala
Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah,
pen) bersama Jamaah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap
tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama
dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari
suatu daerah ke daerah yang lain. Hadir pada dua majelis ta‟lim setiap hari, majelis
ta‟lim pertama diadakan di masjid sedangkan yang kedua diadakan di rumah.
Meluangkan waktu 2,5 jam setiap hari untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para
sesepuh dan bersilaturahmi, membaca satu juz Al Qur‟an setiap hari, memelihara
dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jamaah yang khuruj, serta i‟tikaf pada
setiap malam Jum‟at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj, mereka selalu diberi
hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah (ala mereka, pen) yang disampaikan oleh
salah seorang anggota jamaah yang berpengalaman dalam hal khuruj. (Jama‟atut
Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)
Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Khuruj di jalan Allah adalah
khuruj untuk berperang. Adapun apa yang sekarang ini mereka (Jamaah Tabligh, pen)
sebut dengan khuruj maka ini bid‟ah. Belum pernah ada (contoh) dari salaf tentang
keluarnya seseorang untuk berdakwah di jalan Allah yang harus dibatasi dengan hari-
hari tertentu. Bahkan hendaknya berdakwah sesuai dengan kemampuannya tanpa
dibatasi dengan jamaah tertentu, atau dibatasi 40 hari, atau lebih sedikit atau lebih
banyak.” (Aqwal Ulama As-Sunnah fi Jama‟atit Tabligh, hal. 7)
Asy-Syaikh Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Khuruj mereka ini bukanlah di jalan Allah,
tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur‟an dan As
Sunnah, akan tetapi berdakwah kepada (pemahaman) Muhammad Ilyas, syaikh mereka
yang ada di Banglades (maksudnya India, pen). (Aqwal Ulama As Sunnah fi Jama‟atit
Tabligh, hal. 6)

Aqidah Jamaah Tabligh dan Para Tokohnya

Jamaah Tabligh dan para tokohnya, merupakan orang-orang yang sangat rancu dalam
hal aqidah1. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadhail
A‟mal karya Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi, merupakan kitab yang penuh
dengan kesyirikan, bid‟ah, dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka
dalam masalah aqidah adalah2:
1. Keyakinan tentang wihdatul wujud (bahwa Allah menyatu dengan alam ini). (Lihat
kitab Tablighi Nishab, 2/407, bab Fadhail Shadaqat, cet. Idarah Nasyriyat Islam Urdu
Bazar, Lahore).
2. Sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih dan keyakinan bahwa mereka
mengetahui ilmu ghaib. (Lihat Fadhail A‟mal, bab Fadhail Dzikir, hal. 468-469, dan
hal. 540-541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
3. Tawassul kepada Nabi (setelah wafatnya) dan juga kepada selainnya, serta
berlebihannya mereka dalam hal ini. (Lihat Fadhail A‟mal, bab Shalat, hal. 345, dan
juga bab Fadhail Dzikir, hal. 481-482, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
4. Keyakinan bahwa para syaikh sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni
(lihat Fadhail A‟mal, bab Fadhail Qur‟an, hal. 202- 203, cet. Kutub Khanat Faidhi,
Lahore).
5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf, yakni bisa menyingkap
segala sesuatu dari perkara ghaib atau batin. (Lihat Fadhail A‟mal, bab Dzikir, hal.
540- 541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dengan mengikuti tarekat Rasyid Ahmad
Al-Kanhuhi (lihat Shaqalatil Qulub, hal. 190). Oleh karena itu, Muhammad Ilyas sang
pendiri Jamaah Tabligh telah membai‟atnya di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314
H, bahkan terkadang ia bangun malam semata-mata untuk melihat wajah syaikhnya
tersebut. (Kitab Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 143, dinukil dari Jama‟atut Tabligh
Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).
7. Saling berbai‟at terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah,
Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Sahruwardiyyah. (Ad-Da'wah fi Jaziratil 'Arab,
karya Asy-Syaikh Sa‟ad Al-Hushain, hal. 9-10, dinukil dari Jama‟atut Tabligh
Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 12).
8. Keyakinan tentang keluarnya tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari
kubur beliau untuk berjabat tangan dengan Asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa‟i. (Fadhail
A‟mal, bab Fadhail Ash-Shalati „alan Nabi, hal. 19, cet. Idarah Isya‟at Diyanat Anarkli,
Lahore).
9. Kebenaran suatu kaidah, bahwasanya segala sesuatu yang menyebabkan
permusuhan, perpecahan, atau perselisihan -walaupun ia benar- maka harus dibuang
sejauh-jauhnya dari manhaj Jamaah. (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa‟rifuha, hal. 10).
10. Keharusan untuk bertaqlid (lihat Dzikir Wa I‟tikaf Key Ahmiyat, karya Muhammad
Zakaria Al-Kandahlawi, hal. 94, dinukil dari Jama'atut Tabligh „Aqaiduha wa
Ta‟rifuha, hal. 70).
11. Banyaknya cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits lemah/ palsu di dalam kitab
Fadhail A‟mal mereka, di antaranya apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Hasan
Janahi dalam kitabnya Jama‟atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 46-47
dan hal. 50-52. Bahkan cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits palsu inilah yang
mereka jadikan sebagai bahan utama untuk berdakwah. Wallahul Musta‟an.

Fatwa Para Ulama Tentang Jamaah Tabligh

1. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Siapa saja yang
berdakwah di jalan Allah bisa disebut “muballigh” artinya: (Sampaikan apa yang
datang dariku (Rasulullah), walaupun hanya satu ayat), akan tetapi Jamaah Tabligh
India yang ma‟ruf dewasa ini mempunyai sekian banyak khurafat, bid‟ah dan
kesyirikan. Maka dari itu, tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali bagi seorang
yang berilmu, yang keluar (khuruj) bersama mereka dalam rangka mengingkari
(kebatilan mereka) dan mengajarkan ilmu kepada mereka. Adapun khuruj, semata ikut
dengan mereka maka tidak boleh”.
2. Asy Syaikh Dr. Rabi‟ bin Hadi Al-Madkhali berkata: “Semoga Allah merahmati
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (atas pengecualian beliau tentang bolehnya khuruj
bersama Jamaah Tabligh untuk mengingkari kebatilan mereka dan mengajarkan ilmu
kepada mereka, pen), karena jika mereka mau menerima nasehat dan bimbingan dari
ahlul ilmi maka tidak akan ada rasa keberatan untuk khuruj bersama mereka. Namun
kenyataannya, mereka tidak mau menerima nasehat dan tidak mau rujuk dari kebatilan
mereka, dikarenakan kuatnya fanatisme mereka dan kuatnya mereka dalam mengikuti
hawa nafsu. Jika mereka benar-benar menerima nasehat dari ulama, niscaya mereka
telah tinggalkan manhaj mereka yang batil itu dan akan menempuh jalan ahlut tauhid
dan ahlus sunnah. Nah, jika demikian permasalahannya, maka tidak boleh keluar
(khuruj) bersama mereka sebagaimana manhaj as-salafush shalih yang berdiri di atas
Al Qur‟an dan As Sunnah dalam hal tahdzir (peringatan) terhadap ahlul bid‟ah dan
peringatan untuk tidak bergaul serta duduk bersama mereka. Yang demikian itu (tidak
bolehnya khuruj bersama mereka secara mutlak, pen), dikarenakan termasuk
memperbanyak jumlah mereka dan membantu mereka dalam menyebarkan kesesatan.
Ini termasuk perbuatan penipuan terhadap Islam dan kaum muslimin, serta sebagai
bentuk partisipasi bersama mereka dalam hal dosa dan kekejian. Terlebih lagi mereka
saling berbai‟at di atas empat tarekat sufi yang padanya terdapat keyakinan hulul,
wihdatul wujud, kesyirikan dan kebid‟ahan”.
3. Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah
berkata: “Bahwasanya organisasi ini (Jamaah Tabligh, pen) tidak ada kebaikan
padanya. Dan sungguh ia sebagai organisasi bid‟ah dan sesat. Dengan membaca buku-
buku mereka, maka benar-benar kami dapati kesesatan, bid‟ah, ajakan kepada
peribadatan terhadap kubur-kubur dan kesyirikan, sesuatu yang tidak bisa dibiarkan.
Oleh karena itu -insya Allah- kami akan membantah dan membongkar kesesatan dan
kebatilannya”.
4. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah
berkata: “Jamaah Tabligh tidaklah berdiri di atas manhaj Al Qur‟an dan Sunnah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta pemahaman as-salafus shalih.” Beliau juga
berkata: “Dakwah Jamaah Tabligh adalah dakwah sufi modern yang semata-mata
berorientasi kepada akhlak. Adapun pembenahan terhadap aqidah masyarakat, maka
sedikit pun tidak mereka lakukan, karena -menurut mereka- bisa menyebabkan
perpecahan”. Beliau juga berkata: “Maka Jamaah Tabligh tidaklah mempunyai prinsip
keilmuan, yang mana mereka adalah orang-orang yang selalu berubah-ubah dengan
perubahan yang luar biasa, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada”.
5. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Kenyataannya mereka adalah
ahlul bid‟ah yang menyimpang dan orang-orang tarekat Qadiriyyah dan yang lainnya.
Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah, akan tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka
tidaklah berdakwah kepada Al Qur‟an dan As Sunnah, akan tetapi kepada Muhammad
Ilyas, syaikh mereka di Bangladesh (maksudnya India, pen)”.
Demikianlah selayang pandang tentang hakikat Jamaah Tabligh, semoga sebagai
nasehat dan peringatan bagi pencari kebenaran. Wallahul Muwaffiq wal Hadi Ila
Aqwamith Thariq.
Fatwa-Fatwa Ulama Besar Tentang Ikhwanul Muslimin


Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz t
Beliau ditanya: “Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu. Hadits Nabi n dalam
hal perpecahan umat: „…Akan berpecah umatku menjadi 73 golongan. Semua di neraka
kecuali satu… dan seterusnya.‟ Apakah Jamaah Tabligh dengan kesyirikan dan bid‟ah
yang mereka miliki, juga jamaah Ikhwanul Muslimin dengan kekelompokan mereka dan
ketidaktaatan kepada penguasa… Apakah dua kelompok ini masuk ke dalam kelompok-
kelompok yang binasa?”
Jawab: “Masuk ke dalam kelompok yang 72 (tujuhpuluh dua). Dan siapa saja yang
menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah maka masuk yang 72 kelompok. Yang
dimaksud dengan kata „umatku‟ adalah umat ijabah, yakni umat yang menyambut seruan
Allah k dan menampakkan diri bahwa mereka mengikuti Nabi n. Mereka ada 73
golongan. Yang selamat adalah yang mengikuti beliau n dan istiqamah di atas agamanya.
Sedangkan yang 72 golongan, di antara mereka ada yang kafir, ada yang ahli maksiat,
ada yang ahli bid‟ah, bermacam-macam.”
Penanya: “Yakni, dua kelompok ini termasuk dari 72 golongan itu?”
Jawab: “Ya, termasuk dari 72 golongan itu.”
(diambil dari salah satu rekaman pelajaran Al-Muntaqa di kota Tha„if, 2 tahun sebelum
wafat beliau)
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t
Beliau t berkata: “Tidak benar bila dikatakan bahwa Ikhwanul Muslimin termasuk Ahlus
Sunnah, karena mereka memerangi As-Sunnah.” (diambil dari kaset Fatwa Para Ulama
seputar Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin, studio Minhajus Sunnah, Riyadh)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‟Utsaimin t
Beliau ditanya: “Apakah ada nash-nash dari Al-Qur`an dan Sunnah Nabi n yang
memperbolehkan berbilangnya kelompok-kelompok atau ikhwan?
Jawab: “Dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah tidak ada sesuatu yang membolehkan
berbilangnya kelompok-kelompok dan jamaah-jamaah. Bahkan yang ada, Al-Qur`an
maupun As-Sunnah mencela hal itu. Allah k berfirman:



“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah)
menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.
Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan
memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An‟am: 159)
Dan Allah k berfirman:
“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-
Rum: 32)
Tidak diragukan bahwa kelompok-kelompok ini bertolak belakang dengan apa yang
Allah perintahkan, bahkan apa yang Allah anjurkan dalam firman-Nya:



“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku
adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu`minun: 52)
Adapun ucapan sebagian orang bahwa tidak mungkin dakwah akan kuat kecuali jika
berada di bawah kelompok/ organisasi, maka kami katakan: Ini tidak benar. Bahkan
dakwah akan semakin kuat setiap kali seseorang semakin bernaung di bawah Al-Qur„an
dan Sunnah Nabi n serta mengikuti jejak Nabi dan para Al-Khulafa„ Ar-Rasyidin.”
(diambil dari kitab Jama‟atun Wahidah la Jama‟at, karya Asy-Syaikh Rabi‟)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah
Beliau ditanya: “Apakah jamaah-jamaah yang ada masuk dalam 72 golongan yang
binasa?”
Jawab: “Ya, semua yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jamaah berupa kelompok-
kelompok yang mengatasnamakan Islam, (menyelisihi) dalam hal dakwah atau dalam hal
aqidah, atau sesuatu dari pokok-pokok iman, maka ia masuk ke dalam 72 kelompok. Dan
ia masuk dalam ancaman dan terkena celaan serta hukuman sesuai kadar
penyelewengannya.”
Beliau juga ditanya: “Apa hukum keberadaan kelompok-kelompok seperti Jamaah
Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan lain-lain di negeri muslimin secara
umum?”
Jawab: “Jamaah-jamaah pendatang ini wajib untuk tidak kita terima, Karena mereka
ingin menyelewengkan kita dan memecah-belah kita. Menjadikan yang ini ikut jamaah
Tabligh, yang ini ikut Ikhwanul Muslimin, yang ini begini… Kenapa berpecah seperti
ini? Ini termasuk kufur terhadap nikmat Allah k. Kita berada di atas satu jamaah dan
agama kita jelas. Kenapa kita menjadikan yang rendah sebagai ganti yang baik?”
(diambil dari buku Al-Ajwibah Al-Mufidah)

Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan hafizhahullah
Beliau berkata: “Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh bukan termasuk orang-orang
yang berada di atas manhaj yang benar. Sesungguhnya seluruh jamaah dengan penamaan-
penamaannya semacam itu tidak punya sandaran pada pendahulu umat ini.” (Diambil dari
rekaman kaset Fatwa Para Ulama tentang Jamaah-jamaah dan Pengaruhnya di Negeri Al-
Haramain, Studio Minhajus Sunnah, Riyadh)
Wa'alaikumsalam wa rohmatullohhi wa barokatuh,

Insya Allohhu ta'ala tulisan ini bermanfaat buat kita semua..amin...



Jama'ah Tabligh
Gerakan dakwah yang dibidani oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi ini merupakan
salah satu gerakan dakwah Tashawwuf yang sudah menyebar ke berbagai negara Islam
maupun non Islam. Secara lahir gerakan ini nampak baik , karena banyak orang-orang
yang dahulunya berandalan menjadi terbimbing melaksanakan ibadah lewat jamaah ini.
Namun akhirnya para Ulama mengetahui kebobrokan aqidah kelompok ini, satu persatu
ketahuan bid'ah-bid'ah yang ada dalam gerakan ini.

Selain itu, pada dasarnya dakwah ini memang diilhami dari pemahaman tasawwuf atau
tarekat. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa mereka adalah Shufiyyah 'Ashriyah
(tasawwuf model baru). Gerakan ini berbasis di negara India dan disanalah gerakan ini
pertama sekali muncul. Demikian juga di Pakistan dan Bangladesh. Sehingga ketiga
negara tersebut (India, Pakistan, dan Bangladesh) merupakan dareah sasaran utama
bagi anggota-anggota mereka untuk khuruj. Di Indonesia jama'ah ini sangat
berkembang terutama di daerah timur Indonesia.

Makna kalimat tauhid menurut jamaah Tabligh

Jama'ah Tabligh mempunyai kalimat rahasia yang digunakan sebagai asas tegaknya
jama'ah mereka yaitu Segala sesuatu (walaupun merupakan kebenaran) yang bisa
menyebabkan orang lari atau berpecah-belah atau berselisih maka harus ditinggalkan
dan disingkirkan jauh-jauh

Oleh karena hal ini maka mereka menafsirkan kalimat tauhid Laa ilaha illa LLah dengan
makna Rububiah. Dengan penafsiran beginilah maka kaum muslimin tidak akan
berselisih dan berpecah belah. Sebab jika ditafsirkan dengan makna Uluhiah atau Asma'
wa Sifat maka hal ini bisa membuat kaum muslimin lari dari mereka, tidak menerima
dakwah mereka dan lebih parah lagi anggota-anggota mereka akan bubar. Hal ini
dikarenakan anggota-anggota mereka ada yang Mathurudiah, Asya'iroh dan lain
sebagainya. (lihat Qutbiah hal-10) Mereka menafsirkan makna Laa ilaha illa LLah
bahwasanya hanya Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan makna-makna yang
lainnya yang merupakan makna-makna tauhid rububiah. Padahal Kaum musyrikin Arab
dulu juga mengakui tauhid ini.

Sehingga didapatkan ada diantara mereka yang menganggap bahwa sahabat nabi tidak
mengetahi memahami tauhid. Sebagaimana ada sebuah kisah seorang guru yang
merupakan anggota Jama'ah Tabligh sedang mengajar di sebuah madrasah ibtida'iah.
Dia mnjelaskan tentang kecintaan kepada khulafaur Rosidin. Lalu sampailah dia pada
kisah Umar bin Khatab yang di masa beliau timbul kelaparan dan paceklik. Lalu Umar
pun menirim surat kepada amir-amir kota untuk membantu memberi rezeki keepadanya.
Sehingga Umarpun menyeleweng dari agama disebabkan pengambilan sebab (yaitu
Umar meminta tolong kepada manusia). Kemudian guru tersebut berkata pada murid-
muridnya :Jika diantara kalian ada yang tertimpa kebakaran atau tenggelam maka
janganlah dia berteriak dan menyeru manusia (untuk menolongnya), sebab menyeru
kepada manusia adalah kesyirikan. Guru tersebut telah menghilangkan pengambilan
sebab dan telah menganggap Umar tidak memahami tauhid karena telah mengambil
sebab yang menurut guru tersebut hal itu adalah kesyirikan. (lihat al-qoul al-baligh hal-
47-48)

Syirik dan khurafat yang terdapat dalam kitab Tablighi Nishab (Manhaj Jamaah Tabligh).

Didalamnya terdapat :

1. Tawaasul dengan Nabi

2. Berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah

3. Meminta syafaat kepada selain Allah.

4. Berlebih-lebihan terhadap orang shalih.

5. Wihdatulwujud.

6. Hikayat khurafat.

7. Ajaran-ajaran Shufiyah yang sesat.

8. Hadits-hadits Dhoif, Dusta dan Palsu.

Fatwa terakhir Syaikh        Bin    Baz      dan   Syaikh   Muhammad      bin   Ibrahim
Rahimahumallah

Dalam buku yang berjudul Jilaaul Adzhan karangan Ghulam Musthafa Hasan
dicantumkan fatwa-fatwa syaikhaini yang isinya adalah dukungan dan rekomendasi bagi
gerakan Jamaah Tabligh ini. Namun sangat disayangkan penulis buku tersebut tidak
mencantumkan fatwa terakhir dari kedua Syaikh tersebut. Selayaknya ia mencantumkan
fatwa syaikh yang memansukhkan (menghapus) fatwa sebelumnya, karena hal itu
merupakan tuntutan amanah ilmiyah. Sehingga tidak timbul anggapan bahwa
rekomendasi dari syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim masih tetap
berlaku! Kedua fatwa itu adalah sebagai berikut:

Fatwa terakhir Syaikh Muhammad Bin Ibrahim

Dari Muhammad bin Ibrahim kepada Hadrat Putera Mahkota Kerajaan Al-Amir Khalid
bin Su'ud, Ketua Dewan Kerajaan Yang Terhormat.

As-Salamu 'Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu

Saya telah menerima surat dari yang Mulia nomor 37/4/5 dengan tanggal 21/1/1382H,
yaitu permintaan dari Muhammad bin Abdul Hamid dan Syah Ahmad Nurani dan
Abdussalam Al-Qadiri dan Su'uud Ahmad Dahlawi kepada Paduka Raja yang Mulia,
tentang permintaan bantuan untuk proyek Jam'iyyah mereka yang bernama Kuliyyatud-
Dakwah Wat-Tablighil-Islamiyyah demikian pula tentang tiga buah kitab yang disertakan
bersama surat mereka. Saya jelaskan kepada yang Mulia bahwa Jam'iyyah ini tidak ada
kebaikan padanya sebab ia adalah jam'iyyah bidah lagi sesat. Setelah membaca ketiga
buku yang disertakan tersebut kami mendapatkan ketiga kitab itu penuh dengan
kesesatan dan bidah dan ajakan kepada penyembahan kuburan dan syirik serta banyak
lagi perkara yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Oleh karena itu kami akan
membantahnya InsyaAllah dan menyingkap kesesatan seta memberantas
kebathilannya. Allah pasti menolong Agama-Nya dan meninggikan Kalimat-Nya

As-Salamu 'Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

29/1/1382H

(Adapun surat Syaikh Muhammad bin Ibrahim kepada para ulama di Al-Ahsa' dan
Kawasan Timur yang isinya adalah permohonan agar memberikan bantuan kepada
Jamaah Tabligh tertanggal 19/5/1373H yaitu 9 tahun sebelumnya.)

Fatwa terakhir Syaikh Bin Baz yang dikeluarkan pada tahun 1416 H

Ada yang bertanya kepada Syaikh sebagai berikut:

Wahai Syaikh yang Mulia, kami sering mendengar tentang Jamaah Tabligh dan dakwah
yang mereka sebarkan, Bolehkah saya ikut berkecimpung dalam Jamaah ini ? Saya
mohon nasehat dan pengarahan dari Anda semoga Allah membalas Anda dengan
Pahala yang besar

Jawab :

Setiap Orang yang menyeru kepada Agama Allah maka ia adalah Muballigh.
(Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat). Akan tetapi Jamaah Tabligh dari India yang
sudah dikenal ini, terdapat khurafat, bidah dan perbuatan syirik pada mereka. Maka
tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali seseorang yang memiliki ilmu dengan
maksud untuk mengingkari (kemungkaran-kemungkaran mereka) dan memberikan
pelajaran kepada mereka. Akan tetapi apabila hanya sekedar khuruj mengikuti mereka
maka hal itu tidak boleh , disebabkan khurafat, kesalahan dan minimnya ilmu yang ada
pada mereka. Apabila yang khuruj bersama mereka adalah orang alim dan berilmu
dalam rangka berdakwah kepada jalan Allah dan memberikan pengarahan dan
bimbingan kepada kebaikan serta mengajari mereka sehingga meninggalkan cara
mereka yang bahil dan berpegang kepada manhaj ahlu sunnah Wal Jamaah, maka hal
itu dibolehkan.(dicuplik dari kaset Ta'qib Samahatusy-Syaikh Abdul-Aziz bin Baz 'Alaa
An-Nadwah)

(Sedangkan surat-surat Syaikh Bin Baz yang berisi rekomendasi bagi Jamaah Tabligh
dikelurkan pada tahun 1407 H yaitu 9 tahun sebelumnya).

Khurujnya Jama'ah Tabligh

Syaikh al-Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam FATAWA AL-IMARATIAH
(hal-30) ditanya tentang Jama'ah Tabligh, beliau memberikan jawaban berikut ini:
Dakwah Jama'ah Tabligh adalah dakwah Sufi masa kini yang tidak berpijak pada kitab
Allah dan sunnah Rosul-Nya.

Khuruj (keluar untuk berdakwah) yang mereka lakukan dan mereka tentukan selama 3
hari atau 40 hari tidak pernah menjadi amalan generasi Salaf, dan bahkan tidak pernah
pula menjadi amalan generasi Khalaf (kaum mataakhirin). Yang mengherankan, mereka
keluar untuk tabligh (menyampaikan dakwah), padahal mereka sendiri mengakui bahwa
mereka bukanlah ahlinya untuk tabligh.

Tabligh (menyampaikan dakwah) sepantasnya hanyalah dikerjakan oleh orang-orang
yang berilmu, seperti halnya pernah dilakukan oleh Rosulullah ketika mengutus
delegasinya yang terdiri dari para shahabat yang alim untuk mengajarkan Islam kepada
ummat. Misalnya beliau mengutus Ali bin Abi Tholib seorang diri, mengutus Mu'adz bin
Jabal seorang diri (untuk menyampaikan dakwah kepada ummat) dan tidak pernah
mengutus serombongan shahabat lain untuk menyertai individu-individu utusan Rosul
tersebut. Sekalipun mereka adalah juga shahabat-shahabat Rosul, namun ilmunya tidak
dapat menyamai individu-individu para shahabat yang diutus beliau.

Karena itulah, kami menasehati agar mereka (orang-orang Jama'ah Tabligh) mau
belajar dan memperdalam pemahaman mereka tentang agama. Kemudian, dalam
kepergiannya ke negeri kafir untuk berdakwah, sesungguhnya mereka menghadapi
fitnah yang jelas sekali, padahal tidak mereka memahami bahasa orang-orang kafir
tersebut. Di sisi lain , tidak jarang mereka berdalil dengan perkataan : Lihatlah para
sahabat,......mereka ada yang Mekah dan ada pula yang berasal dari Madinah, namun
kuburan-kuburan mereka ada yang di negeri Bukhara dan ada yang di negeri
Samarkand. (Jika demikian dalil mereka), maka jawabannya adalah betapa inginnya kita
seandainya bisa keluar (khuruj) sebagaimana para shahabat dulu telah keluar (khuruj).
Mereka keluar untuk berjihad dalam peperangan. Artinya, analogi (pengkiasan) orang-
orang Jema'ah Tabligh diatas adalah analogi yang tidak pada tempatnya. Kita tidak
mengingkari amar ma'ruf nahi mungkar, tetapi kita mengingkari tanzhim
(pengorganisasian dakwah) yang bernama Jama'ah Tabligh ini.

Sesungguhnya ada salah seorang tokoh Jama'ah Tabligh menyusun sebuah risalah.
Ketika sampai pada penjelasan kalimat Laa ilaha illa LLah, ia menafsirkannya dengan
penafsiran Tidak ada yang disembah kecuali Allah... Bagaimana mungkin tidak ada
yang disembah selain Allah, padahal berhala-berhala yang disembah (selain Allah)
jumlahnya banyak sekali. Para ulama menafsirkan kalimat tersebut dengan :Tidak ada
yang disembah dengan benar selain Allah. Kalau yang disembah secara tidak benar,
(maka jumlahnya banyak ). Lata disembah, Uzza disembah, Manat disembah, Api
disembah dan seterusnya...



Wa'alaikumsalam wa rohmatullohhi wa barokatuh,

Insya Allohhu ta'ala tulisan ini bermanfaat buat kita semua..amin...
Jama'ah Tabligh
Gerakan dakwah yang dibidani oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi ini merupakan
salah satu gerakan dakwah Tashawwuf yang sudah menyebar ke berbagai negara Islam
maupun non Islam. Secara lahir gerakan ini nampak baik , karena banyak orang-orang
yang dahulunya berandalan menjadi terbimbing melaksanakan ibadah lewat jamaah ini.
Namun akhirnya para Ulama mengetahui kebobrokan aqidah kelompok ini, satu persatu
ketahuan bid'ah-bid'ah yang ada dalam gerakan ini.

Selain itu, pada dasarnya dakwah ini memang diilhami dari pemahaman tasawwuf atau
tarekat. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa mereka adalah Shufiyyah 'Ashriyah
(tasawwuf model baru). Gerakan ini berbasis di negara India dan disanalah gerakan ini
pertama sekali muncul. Demikian juga di Pakistan dan Bangladesh. Sehingga ketiga
negara tersebut (India, Pakistan, dan Bangladesh) merupakan dareah sasaran utama
bagi anggota-anggota mereka untuk khuruj. Di Indonesia jama'ah ini sangat
berkembang terutama di daerah timur Indonesia.

Makna kalimat tauhid menurut jamaah Tabligh

Jama'ah Tabligh mempunyai kalimat rahasia yang digunakan sebagai asas tegaknya
jama'ah mereka yaitu Segala sesuatu (walaupun merupakan kebenaran) yang bisa
menyebabkan orang lari atau berpecah-belah atau berselisih maka harus ditinggalkan
dan disingkirkan jauh-jauh

Oleh karena hal ini maka mereka menafsirkan kalimat tauhid Laa ilaha illa LLah dengan
makna Rububiah. Dengan penafsiran beginilah maka kaum muslimin tidak akan
berselisih dan berpecah belah. Sebab jika ditafsirkan dengan makna Uluhiah atau Asma'
wa Sifat maka hal ini bisa membuat kaum muslimin lari dari mereka, tidak menerima
dakwah mereka dan lebih parah lagi anggota-anggota mereka akan bubar. Hal ini
dikarenakan anggota-anggota mereka ada yang Mathurudiah, Asya'iroh dan lain
sebagainya. (lihat Qutbiah hal-10) Mereka menafsirkan makna Laa ilaha illa LLah
bahwasanya hanya Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan makna-makna yang
lainnya yang merupakan makna-makna tauhid rububiah. Padahal Kaum musyrikin Arab
dulu juga mengakui tauhid ini.

Sehingga didapatkan ada diantara mereka yang menganggap bahwa sahabat nabi tidak
mengetahi memahami tauhid. Sebagaimana ada sebuah kisah seorang guru yang
merupakan anggota Jama'ah Tabligh sedang mengajar di sebuah madrasah ibtida'iah.
Dia mnjelaskan tentang kecintaan kepada khulafaur Rosidin. Lalu sampailah dia pada
kisah Umar bin Khatab yang di masa beliau timbul kelaparan dan paceklik. Lalu Umar
pun menirim surat kepada amir-amir kota untuk membantu memberi rezeki keepadanya.
Sehingga Umarpun menyeleweng dari agama disebabkan pengambilan sebab (yaitu
Umar meminta tolong kepada manusia). Kemudian guru tersebut berkata pada murid-
muridnya :Jika diantara kalian ada yang tertimpa kebakaran atau tenggelam maka
janganlah dia berteriak dan menyeru manusia (untuk menolongnya), sebab menyeru
kepada manusia adalah kesyirikan. Guru tersebut telah menghilangkan pengambilan
sebab dan telah menganggap Umar tidak memahami tauhid karena telah mengambil
sebab yang menurut guru tersebut hal itu adalah kesyirikan. (lihat al-qoul al-baligh hal-
47-48)
Syirik dan khurafat yang terdapat dalam kitab Tablighi Nishab (Manhaj Jamaah Tabligh).

Didalamnya terdapat :

1. Tawaasul dengan Nabi

2. Berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah

3. Meminta syafaat kepada selain Allah.

4. Berlebih-lebihan terhadap orang shalih.

5. Wihdatulwujud.

6. Hikayat khurafat.

7. Ajaran-ajaran Shufiyah yang sesat.

8. Hadits-hadits Dhoif, Dusta dan Palsu.

Fatwa terakhir Syaikh        Bin    Baz      dan   Syaikh   Muhammad    bin   Ibrahim
Rahimahumallah

Dalam buku yang berjudul Jilaaul Adzhan karangan Ghulam Musthafa Hasan
dicantumkan fatwa-fatwa syaikhaini yang isinya adalah dukungan dan rekomendasi bagi
gerakan Jamaah Tabligh ini. Namun sangat disayangkan penulis buku tersebut tidak
mencantumkan fatwa terakhir dari kedua Syaikh tersebut. Selayaknya ia mencantumkan
fatwa syaikh yang memansukhkan (menghapus) fatwa sebelumnya, karena hal itu
merupakan tuntutan amanah ilmiyah. Sehingga tidak timbul anggapan bahwa
rekomendasi dari syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim masih tetap
berlaku! Kedua fatwa itu adalah sebagai berikut:

Fatwa terakhir Syaikh Muhammad Bin Ibrahim

Dari Muhammad bin Ibrahim kepada Hadrat Putera Mahkota Kerajaan Al-Amir Khalid
bin Su'ud, Ketua Dewan Kerajaan Yang Terhormat.

As-Salamu 'Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu

Saya telah menerima surat dari yang Mulia nomor 37/4/5 dengan tanggal 21/1/1382H,
yaitu permintaan dari Muhammad bin Abdul Hamid dan Syah Ahmad Nurani dan
Abdussalam Al-Qadiri dan Su'uud Ahmad Dahlawi kepada Paduka Raja yang Mulia,
tentang permintaan bantuan untuk proyek Jam'iyyah mereka yang bernama Kuliyyatud-
Dakwah Wat-Tablighil-Islamiyyah demikian pula tentang tiga buah kitab yang disertakan
bersama surat mereka. Saya jelaskan kepada yang Mulia bahwa Jam'iyyah ini tidak ada
kebaikan padanya sebab ia adalah jam'iyyah bidah lagi sesat. Setelah membaca ketiga
buku yang disertakan tersebut kami mendapatkan ketiga kitab itu penuh dengan
kesesatan dan bidah dan ajakan kepada penyembahan kuburan dan syirik serta banyak
lagi perkara yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Oleh karena itu kami akan
membantahnya InsyaAllah dan menyingkap kesesatan seta memberantas
kebathilannya. Allah pasti menolong Agama-Nya dan meninggikan Kalimat-Nya

As-Salamu 'Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

29/1/1382H

(Adapun surat Syaikh Muhammad bin Ibrahim kepada para ulama di Al-Ahsa' dan
Kawasan Timur yang isinya adalah permohonan agar memberikan bantuan kepada
Jamaah Tabligh tertanggal 19/5/1373H yaitu 9 tahun sebelumnya.)

Fatwa terakhir Syaikh Bin Baz yang dikeluarkan pada tahun 1416 H

Ada yang bertanya kepada Syaikh sebagai berikut:

Wahai Syaikh yang Mulia, kami sering mendengar tentang Jamaah Tabligh dan dakwah
yang mereka sebarkan, Bolehkah saya ikut berkecimpung dalam Jamaah ini ? Saya
mohon nasehat dan pengarahan dari Anda semoga Allah membalas Anda dengan
Pahala yang besar

Jawab :

Setiap Orang yang menyeru kepada Agama Allah maka ia adalah Muballigh.
(Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat). Akan tetapi Jamaah Tabligh dari India yang
sudah dikenal ini, terdapat khurafat, bidah dan perbuatan syirik pada mereka. Maka
tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali seseorang yang memiliki ilmu dengan
maksud untuk mengingkari (kemungkaran-kemungkaran mereka) dan memberikan
pelajaran kepada mereka. Akan tetapi apabila hanya sekedar khuruj mengikuti mereka
maka hal itu tidak boleh , disebabkan khurafat, kesalahan dan minimnya ilmu yang ada
pada mereka. Apabila yang khuruj bersama mereka adalah orang alim dan berilmu
dalam rangka berdakwah kepada jalan Allah dan memberikan pengarahan dan
bimbingan kepada kebaikan serta mengajari mereka sehingga meninggalkan cara
mereka yang bahil dan berpegang kepada manhaj ahlu sunnah Wal Jamaah, maka hal
itu dibolehkan.(dicuplik dari kaset Ta'qib Samahatusy-Syaikh Abdul-Aziz bin Baz 'Alaa
An-Nadwah)

(Sedangkan surat-surat Syaikh Bin Baz yang berisi rekomendasi bagi Jamaah Tabligh
dikelurkan pada tahun 1407 H yaitu 9 tahun sebelumnya).

Khurujnya Jama'ah Tabligh

Syaikh al-Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam FATAWA AL-IMARATIAH
(hal-30) ditanya tentang Jama'ah Tabligh, beliau memberikan jawaban berikut ini:

Dakwah Jama'ah Tabligh adalah dakwah Sufi masa kini yang tidak berpijak pada kitab
Allah dan sunnah Rosul-Nya.

Khuruj (keluar untuk berdakwah) yang mereka lakukan dan mereka tentukan selama 3
hari atau 40 hari tidak pernah menjadi amalan generasi Salaf, dan bahkan tidak pernah
pula menjadi amalan generasi Khalaf (kaum mataakhirin). Yang mengherankan, mereka
keluar untuk tabligh (menyampaikan dakwah), padahal mereka sendiri mengakui bahwa
mereka bukanlah ahlinya untuk tabligh.

Tabligh (menyampaikan dakwah) sepantasnya hanyalah dikerjakan oleh orang-orang
yang berilmu, seperti halnya pernah dilakukan oleh Rosulullah ketika mengutus
delegasinya yang terdiri dari para shahabat yang alim untuk mengajarkan Islam kepada
ummat. Misalnya beliau mengutus Ali bin Abi Tholib seorang diri, mengutus Mu'adz bin
Jabal seorang diri (untuk menyampaikan dakwah kepada ummat) dan tidak pernah
mengutus serombongan shahabat lain untuk menyertai individu-individu utusan Rosul
tersebut. Sekalipun mereka adalah juga shahabat-shahabat Rosul, namun ilmunya tidak
dapat menyamai individu-individu para shahabat yang diutus beliau.

Karena itulah, kami menasehati agar mereka (orang-orang Jama'ah Tabligh) mau
belajar dan memperdalam pemahaman mereka tentang agama. Kemudian, dalam
kepergiannya ke negeri kafir untuk berdakwah, sesungguhnya mereka menghadapi
fitnah yang jelas sekali, padahal tidak mereka memahami bahasa orang-orang kafir
tersebut. Di sisi lain , tidak jarang mereka berdalil dengan perkataan : Lihatlah para
sahabat,......mereka ada yang Mekah dan ada pula yang berasal dari Madinah, namun
kuburan-kuburan mereka ada yang di negeri Bukhara dan ada yang di negeri
Samarkand. (Jika demikian dalil mereka), maka jawabannya adalah betapa inginnya kita
seandainya bisa keluar (khuruj) sebagaimana para shahabat dulu telah keluar (khuruj).
Mereka keluar untuk berjihad dalam peperangan. Artinya, analogi (pengkiasan) orang-
orang Jema'ah Tabligh diatas adalah analogi yang tidak pada tempatnya. Kita tidak
mengingkari amar ma'ruf nahi mungkar, tetapi kita mengingkari tanzhim
(pengorganisasian dakwah) yang bernama Jama'ah Tabligh ini.

Sesungguhnya ada salah seorang tokoh Jama'ah Tabligh menyusun sebuah risalah.
Ketika sampai pada penjelasan kalimat Laa ilaha illa LLah, ia menafsirkannya dengan
penafsiran Tidak ada yang disembah kecuali Allah... Bagaimana mungkin tidak ada
yang disembah selain Allah, padahal berhala-berhala yang disembah (selain Allah)
jumlahnya banyak sekali. Para ulama menafsirkan kalimat tersebut dengan :Tidak ada
yang disembah dengan benar selain Allah. Kalau yang disembah secara tidak benar,
(maka jumlahnya banyak ). Lata disembah, Uzza disembah, Manat disembah, Api
disembah dan seterusnya...




Ass Wr Wb

Jamaah Tabligh, atau Khuruj Atau Karkun adalah sebuah gerakan Dakwah
yang
lahir di India. Sepanjang yang saya tahu jamah ini tidak diangap sesat
oleh sebagian besar ulama. Metoda dari Jamaah Tabligh adalah Keluar
selama
beberapa hari untuk mengajak manusia cinta pada ALLAh, cinta pada
Sholat
berjamaah,Cinta pada Allah dan rosulnya, dzikir dll. Yang dihindari
dari
jamaah ini adalah membicarakan masalah politik, Khilafiah dan
perdebatan.dari jamaah ini sendiri dalam masalah sholat atau ibadah,
ada
beberapa pendapat masing masing, misalnya dalam sholat tarawih ada yg
11
juga 23, dan hal yg begini tidak dipermasalahkan dalam jamaah tabligh,
demikian juga dlm ibadah lainnya.

Adapun waktu keluar ( khuruj ) adalah 3 hari, 7 hari atau 40 hari.
Asumsinya ialah, bahwa dalam waktu 30 hari bekerja mencari dunia, 3
hari
bagi jamaah ini dikhususkan hanya untuk ALLAH saja, kadang juga 7 hari,
kadang juga 40 hari dalam 1 tahun bahkan lebih. waktunya hanya untuk
berjuang dijalan ALLAH.Jamaah Tabligh menginap di masjid masjid,
meramaikannya, mengajak masyarakat sekitar untuk cinta pada Dakwah,
mengajak untuk sholat berjamaah dll Biasanya ya membawa Kompor untuk
memasaknya.Tidur sedikit untuk kemudian sholat lail, tilawah dll. Dari
segi sholat jamaah, tilawah, sholat lail saya pribadi sangat
mengaguminya.
Asumsi lainnya, ialah bahwa dari beberapa puluh ribu sahabat nabi yg
berdakwah, yang meninggal di Mekah atau madinah hanya sedikit saja,
yang
lainnya ada yg wafat di Yaman, palestine, Syiria dll menyebar ke
seluruh
dunia, bahkan indonesia karena menyebarkan islam. Mereka bertebaran
dimuka
bumi untuk mendakwahkan islam. Inilah yg dicontoh jamaah ini.

Yg sering menjadi persoalan bagi kita atau umat islam pada umunya ialah
bagaimana mungkin mereka meninggalkan keluarga begitu lama , sementara
nafkah keluarga adalah kewajiban dari setiap kepala keluarga???

Pertanyaan ini pernah saya diskusikan dengan beberapa jamaah tabligh dr
berbagai markas ( demikian jamah ini menyebut ), dan yang benar menurut
temen temen saya yg di JT adalah, sebelum keluar ( Khuruj ), maka
nafkah
harus terpenuhi dahulu baru bisa keluar, juga harus jin dengan istri
dulu.
Adapun kasus kasus seperti menelantarkan istri atau meninggalkan orang
tua
yg sakit adalah kasus karena begitu semangatnya sebagian personel dari
jamah ini, sehingga menyimpang dari kaidah yg benar. Kadang ada jamaah
yg
mengasumsikan seperti halnya nabi ibrahim meningalkan istrinya dan nabi
ismail ditengah gurun dimana ALLAH lah yg mencukupi rizkinya. dan ini
kurang benar.

Beberapa waktu yg lalu kita juga baca dari majalah sabili yg memuat
seorang istri dari jamaah tabligh yg merasa terlantar, karena sering
ditinggal khuruj oleh suami sementara dia baru nifas. Hal hal yg
berlebih
lebihan ini yg menurut saya tidak sesuai dengan prinsip prinsip islam.

Kita juga sering mendengar kabar tentang jamaah tabligh yg dianggap
sesat
oleh orang di kampung, karena celananya congkrang dll bahkan kadang
belum
berbicara juga sudah takut duluan.

Kita juga dengar kabar sekitar setahun yg lalu, seorang anggota Jamaah
Tabligh, ditangkap oleh Pasukan AS dan di jeblokan ke penjara
Guantanamo,
karena ciri ciri islam yg khas ada pada jamaah ini.

Person yg kita kenal mungkin Gito Rollies. kalau kita lihat Gito Rolies
sekarang sudah jauh berbeda dengan Gito yg dulu, karena bersentuhan
dengan
jamaah ini. Gito Rollies juga sering Khuruj ( menurut keterangan temen
temen sy yg aktif di JT ). banyak juga orang yg tadinya belum sholat
menjadi cinta badah setelah bersentuhan atau bergabung dg jamaah ini.

KESIMPULAN
Saya berpendapat, Jamaah Tabligh merupakan salah satu jamaah yg
berupaya
untuk dakwah dengan prioritasnya adalah mengajak sholat berjamaah,
dzikir
dll. Adapun politik dan khilafiah dihindarinya. Banyak jamaah dakwah
lain
yg memprioritaskan diri dalam beberapa urusan yg berbeda misalnya
prioritas ke masalah Tauhid,sosial, ekonomi, politik dll. Prioritas ke
akherat menjadi titik berat dari jamaah ini, tapi tetap tidak melupakan
dunia karena mereka juga bekerja.

Adapun keluar Khuruj, kalau hal ini menjadi sebuah kewajiban dengan
berpatokan
pada 3, 7,40 hari atau 3 bulan menurut saya menyalahi
sunnah rosulullah karena Rosulullah tidak mewajibkan jumlah jumlah
tersebut, apalagi jika sampai menelantarkan keluarga.

Sebagian ulama, berpendapat jamaah ini tidaklah sesat, hanya beberapa
ulama mengatakan berlebih lebihan ( sy denger ceramah terakhir dari ust
HediMuhammad bandung ttg hal ini- bln romadhon ini).

Khusus di kampung saya, pada awalnya jamaah ini dicaci dan dianggap
sesat,
apalagi beberapa istri dari jamah tabligh ini bercadar jika keluar
rumah,
tapi beberapa tahun kemudian ternyata masjid jadi penuh dengan sholat
berjamaah, bahkan subuh sekalipun, dan label itumenjadi hilang dengan
sendirinya ( walau mungkin masih ada sebagian yg berpendapat demikian
).Dalam sholat ied pun, meraka ada yg ke lapangan dan ada juga yg di
masjid.

Sy mohon maaf pada ALLAH jika ada kesalahan.
Wallahu alam

wass Wr Wb
"Riqzirad Setiawan" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: media-dakwah@yahoogroups.com
10/27/2005 05:46 PM


        To:      <media-dakwah@yahoogroups.com>
        cc:
        Subject:         [media-dakwah] Jamaah Tablig


Assalamu'alaykum Wr. Wb.,

Saya pernah didatangi jamaah tablig (menamakan anggota kegiatan dengan
istilah "karkun") yang sengaja datang door to door untuk mengajak
shalat
berjamaah di masjid. Bukan hanya subuh saja atau magrib saja tetapi
semua
waktu shalat lima waktu wajib dilakukan berjamaah di masjid. Jelas
ajakannya adalah sesuatu yang sangat baik.

Setelah terlibat percakapan secara mendalam, saya menyimpulkan bahwa
pandangan hidupnya akan duniawi sudah tidak difikirkan tetapi fokus
lebih
banyak pada kehidupan akhirat (secara ekstrim seakan urusan duniawi
adalah
urusan yang tidak terlalu harus dikerjakan)

Mungkin ada rekan-rekan juga yang pernah mengalami, atau bahkan telah
menjadi bagian kegiatan ini bisa sharing gimana pendapat / pandangan
atas
kegiatan ini ?


Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
                      Berkelana Menebar Rahmat
                              Sumber Hidayatullah.com
                    Tanggal Oktober 1999/Jumadil Akhir-Rajab 1420

Tanpa banyak bicara, anggota Jamaah Tabligh berkelana ke berbagai penjuru Nusantara.
Hanya satu tujuannya, mengajak ke jalan Allah.

Masjid tua Kebon Jeruk, Jakarta Selatan itu seperti tidak pernah mati. Ia selalu hidup
dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Apalagi setiap hari Kamis, sekitar 2000 laki-laki
berkumpul di masjid yang didirikan tahun l718 oleh seorang ulama dari negeri Cina ini.
Mereka dengan khusyuk mengikuti ceramah yang disampaikan seorang ustadz. Ada yang
berpakaian takwa (koko) warna-warni dan berkopiah haji putih. Ada pula yang
berpakaian gamis --baju panjang yang biasa dipakai orang Arab. Tak sedikit di antara
mereka yang memanjangkan jenggot dan mencukur kumis. Tapi mereka penuh dengan
senyum dan menyapa akrab setiap orang.

Mereka adalah anggota Jamaah Tabligh (JT) yang datang tidak hanya dari Jakarta.
Melainkan juga dari Jawa Barat, Jawa Timur dan daerah lain di Indonesia. Bahkan ada
pula yang dari India, Pakistan, Malaysia dan Thailand. Umumnya mereka membawa tas-
tas besar berisi pakaian dan perbekalan lainnya.

Pengajian yang dimulai usai shalat ashar berjamaah itu disebut takrir, yang berisi soal-
soal agama yang muncul selama khuruj (dakwah keluar). Dan juga diadakan evaluasi
selama di lapangan, kemudian mendiskusikannya bersama-sama. Usai shalat maghrib,
seorang ustadz berdiri di mimbar, dan berkhutbah tentang pentingnya amal shalih bagi
setiap Muslim. Bila sang ustadz mengutip hadist atau ayat Al Qur'an berupa ancaman,
serempak jamaah berucap istighfaaar "astaghfirullahaladzzim." Jika yang dikutip berupa
kebesaran Allah serempak jamaah menyahut dengan tasbih "subhanallah."

Usai khutbah ada tasykil, tawaran khuruj secara berombongan. Lamanya dakwah
berfariasai mulai 3 hari, 7 hari, 10 hari, 40 hari sampai 4 bulan. "Ayo saudara-saudara
kita dakwah, masya Allah, masya Allah. Allah yang akan menjaga anak, istri, keluarga
atau harta kita," katanya. Banyak jamaah antusias menerima ajakan itu. Mereka lalu
didaftar dan diseleksi oleh Ahli Syura. Hanya yang memenuhi syarat yang bisa khuruj.

Rangkaian ibadah itu ditutup dengan shalat isya' berjamaah. Setelah itu jamaah mengisi
waktu istirahat dengan berbagai cara. Ada yang berdiskusi dengan kelompoknya tentang
persiapan keluar esok harinya atau bertukar pengalaman dengan peserta dari kelompok
lain. Ada juga yang tidur-tiduran atau makam malam. Uniknya, makannya memakai
tempayan. Satu tempayan dikepung 4-5 orang.

Tengah malam mereka bangun melaksanakan shalat tahajut. Setelah shalat subuh
diadakan ceramah kembali hingga matahari terbit. Setelah usai barulah mereka siap-siap
untuk khuruj sesuai tujuan masing-masing kelompok. Pelepasan mereka dilakukan oleh
Ahli Syura yang terdiri dari tujuh orang: H Ahmad Zulfaqar, H Cecep Firdaus,
Muhammad Muslihuddin, Dr AA Noor, Syamsuddin Abdullah, Ir. Aminuddin Noor, dan
M Sani Ilyas.

Begitu sampai di tempat sasaran dakwah, mereka menyebar, keluar masuk kampung,
pasar, dan warung-warung, sambil tetap berzikir kepada Allah.

Dengan tenang mereka mengajak orang untuk mendengarkan ceramahnya. Usai ceramah,
orang-orang itu diajari cara berwudlu, tata cara shalat, dan membaca Al Fatihah serta
ayat-ayat Al Qur,an lainnya. Sebelum tugas dakwah selesai, anggota jamaah mengajak
masyarakat setempat melakukan dakwah ke tempat lain. "Kalian adalah sebaik-baiknya
ummat yang diturunkan ke tengah-tengah masyarakat," demikian tertulis dalam Al Qur'an
Surat Ali Imran, ayat 110, yang dijadikan pedoman mereka.

Menurut Zulfaqar, Penanggung Jawab JT Indonesia, aktivitas JT selama ini tak banyak
mendapatkan rintangan, baik dari masyarakat maupun pemerintah. "Awalnya memang
ada yang curiga. Tapi setelah tahu, mereka memahami," katanya.

Berdakwah dengan model khuruj yang menjadi ciri khas JT, kata Amin yang juga
penanggung jawab JT Surabaya, memang efektif dan membekas. Contohnya, yang dia
alami sendiri. Pada tahun 1985 ada 4 orang warga Malaysia datang ke Kampung Jalan
Ikan Gurami IV Surabaya. Amin sempat bertanya-tanya dalam hati, "Mengapa mereka
jauh-jauh datang ke Surabaya hanya minta untuk diizinkan boleh numpang beberapa hari
di masjid," ungkapnya. Keempat warga Malaysia (ustadz Amin lupa satu-persatu
namanya) selama di masjid Nurul Hidayah itu mengajak jamaah untuk mengamalkan
shalat, wirid, memberi ceramah mengenai Islam yang dicontohkan Nabi Muhammad dan
melakukan amalan sunnah lainnya seperti shalat dhuha, iktikaf dan shalat malam. Setelah
diamati gerak-gerik dan perilaku mereka, akhirnya Amien kagum dan tertarik. "Saya
merasakan, apa yang saya lakukan selama ini belum sesuai dengan sunnah Nabi,"
kenangnya.

Khuruj dilakukan secara berkelompok --antara 10 hingga 15 orang-- mengunjungi
daerah-daerah sesuai sasaran dakwah yang telah ditentukan. Bagaimana dengan
pendanaan? Dan bagaimana pula dengan nafkah pada keluarga yang ditinggal di rumah?

"Itu sudah diperhitungkan secara matang," ujar Amin yang sudah 7 kali keliling dunia
(1995 ke Eropa, 1996 ke Australia, 1997 ke Afrika, dan ke beberapa negara di Asia
lainnya). "Khuruj jangan disalahtafsiri mengabaikan keluarga di rumah," timpal
Muhammad Muslihuddin, salah seorang anggota Syuro Jamaah Tabligh Indonesia.

Sebelum khuruj, keluarga di rumah terlebih dulu dicukupi nafkahnya. Atau dengan cara
lain, misalnya "Bersama keluarga secara berpasangan dengan muhrim-nya, suami dan
isteri serta anak-anak," tambahnya. Soal biaya?

"Itu ditanggung pribadi masing-masing. Karena, dari setiap usaha yang dilakukan sengaja
disisihkan untuk dakwah," ustadz Amin melengkapi keterangan Muslihuddin.
Setidaknya, kata Muslihuddin, dalam sebulan ada 3 hari dan 40 hari dalam setahun yang
disisihkan untuk khuruj. Jumlah waktu khuruj ini, katanya lagi, jika dibanding dengan
waktu di rumah sebetulnya lebih banyak waktu yang diberikan untuk keluarga di rumah.
Kalangan jamaah kita, lanjutnya, sudah paham. Sehingga, ketika ada keluarga, misalnya
suami yang melakukan khuruj, istri dan anak di rumah sudah mafhum.

TAK LUPA KERJA

Bagaimana dengan pekerjaan? Menurut Amin, kebanyakan anggota JT lebih enjoy
berwiraswasta. Karena tidak terlalu mengikat dengan tugas dakwah. Sebab, tugas utama
manusia di dunia ini adalah menyeru atau mengajak orang (lain) pada jalan yang benar.
"Kuntum khaira ummat......(Kalian diturunkan ke dunia adalah sebaik-baik umat, dan
mempunyai tugas amar makruf nahi munkar)," ujar Amin mengutip al-Qur'an Surah Ali
Imran, ayat 110.

Akan tetapi, JT tidak berarti mengikat jamaahnya bekerja pada instansi lain. Kepada
anggota JT yang kebetulan bekerja pada suatu instansi yang memang terikat waktunya,
soal khuruj tetap tidak bisa diabaikan. "Yang penting bagi kita adalah ikhlash," tutur
Amin. "Keikhlasan ini yang ditanamkan pada kalangan jamaah kami." Bagi mereka yang
kebetulan terikat oleh waktu kerja pada instansi, bisa mengikuti program khuruj 3 hari
dalam sebulan. Misalnya, mereka berangkat Jum'at sore selepas kerja hingga Senin pagi -
-tanpa balik ke rumah-- langsung menuju ke tempat kerjanya. Sehingga, dengan cara
seperti ini, mereka tidak melupakan kerjanya.

Abdurrahman, misalnya. Karyawan sebuah perusahaan kontraktor di Surabaya ini,
kendati masih tergolong baru tapi merasa "asyik" bergabung dalam JT. Dia ikut JT sejak
masih kelas 2 STM di Surabaya. Kendati sekarang bekerja pada instansi yang waktunya
cukup terikat, namun dia tidak pernah melalaikan khuruj. "Saya bisanya mengikuti khuruj
3 hari dalam sebulan," akunya.

DICURIGAI

Tak banyak orang yang tahu apa itu JT? Sehingga keberadaan JT banyak dipertanyakan,
bahkan di beberapa daerah dicurigai. "Dianggap sebagai ajaran sesat," ujar Arif dan
Abdurrahman, anggota JT Surabaya. Tidak cuma sebatas itu. Pengalaman Arif sewaktu
khuruj, dia diusir warga setempat karena dianggap menyebarkan aliran sesat. Bahkan,
ketika khuruj ke India, waktu sedang memberikan ceramah di sebuah masjid, Arif
didatangi polisi dan sempat diinapkan semalam di Pos Polisi di negara itu.

Arif yang mengaku mulai ikut JT pada tahun 1992, toh tidak kapok. "Bagi saya tak
masalah, karena memang belum banyak orang yang tahu apa itu khuruj. Tapi, setelah
mereka ikut dalam dakwah kami, ya tidak masalahkan lagi," kenangnya.

Wisnu Jatmiko, kiranya senasib dengan Arif. Mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu
Komputer UI ini mengaku mulai tertarik dengan JT pada tahun 1991. Pengalaman pahit
yang dirasakan adalah, sewaktu mengikuti klhuruj di Bengkulu (1998). "Saya merasa
tertekan. Ketika itu tak ada masjid. Apalagi, waktu itu menjelang Pak Harto lengser,
aparat Muspida disana menaruh curiga berat, sehingga rombongan kami dikejar-kejar
terus," kenang Wisnu. "Tapi disitulah, kami merasakan nikmatnya ujian mental
keimanan."

Menurut Drs. Ridlwan Abu Bakar, Msi., adanya kecurigaan-kecurigaan itu cukup wajar.
"Karena pada awalnya memang tidak tahu semata. Tetapi setelah ditelusuri, dan tidak
menyesatkan, ya tidak dimasalahkan. Toh, kenyataannya mereka hingga sekarang eksis,"
ujar Ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Ada dua hal yang tidak boleh diperbincang selama Tabligh, yaitu soal politik dan
khilafiah (soal agama yang memancing perdebatan). "Alasannya, karena tujuan dakwah
itu menyatukan ummat. Sementara politik cenderung memecah belah ummat," kata
Zulfaqar, pensiuan angkatan darat berpangkat Letkol ini.

Dalam kehidupan sehari-hari para anggota dibebaskan untuk mengikuti kegiatan politik
yang menjadi pilihannya. Sementara organisasi Islam lainnya, mereka anggap sebagai
kawan seperjuangan.

Keharusan khuruj itu didasarkan pada satu hadits Nabi yang berbunyi "apabila ummatku
di akhir zaman mengorbankan 1/10 waktunya di jalan Allah, akan diselamatkan." Maka
setiap hari mereka juga harus menyisakan 2,5 jam waktu mereka untuk berdakwah.
Bagaimana dengan kita?




                 Tak Hanya Mengandalkan Otak"
                             Sumber: Hidayatullah.com
                   Tanggal:Oktober 1999/Jumadil Akhir-Rajab 1420

JT ada di mana-mana. Bukan saja di Indonesia, tapi di berbagai negara. Apa kuncinya?
Berikut ini wawancara Dadang K dari Sahid dengan Muhammad Muslihuddin, anggota
syuro JT Indonesia.

Bagaimana sistem organisasinya/manajemen JT?
Ada, cuma tidak seperti yang umum itu, akan nampak apabila Anda terjun langsung ikut
kami. Manajemen kami terbuka. Ada pembagian tugas atau komando yang jelas, setiap
akan melakukan pekerjaan dilakukan musyawarah. Saudara-saudara kita yang pergi
khuruj ada datanya lengkap, termasuk posisi perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.
Ketika suatu saat keluarganya ada kepentingan, itu bisa dihubungi.
Kenapa disebut jamaah tabligh?
Nama JT itu nggak ada, orang lain yang menamakan. Dari asal muasalnya pun tidak ada.
Jaman Nabi pun kan tidak ada namanya, kita ingin seperti itu, sebab kalau kita kasih
nama dan bendera, orang lain punya bendera, wah itu bukan bendera saya. Tapi kalau
bilang kami ini Muslim, pasti semua saudara kita. Kita tidak merasa ini suatu kelompok
atau golongan. Kita bekerja, dalam hal ini hanya mengendalikan tertib-tertib dakwahnya.

Pada saat melaksanakan ibadah apakah tidak terjadi perbedaan yang
menyebabkan perselisihan?
Ilmu kita sama dengan yang lain. Teman-teman kita semuanya silakan belajar kepada
ulama yang mumpuni. Dalam pelaksanaannya tidak mendoktrin harus ini atau itu. Contoh
yang umum, di sini (masjid kebon Jeruk, Jakarta) subuh pakai qunut, tapi pas kita di
Yogya, tidak pakai qunut. Di India tidak, itu bebas dan tidak menjadi masalah. Yang
terlihat tidak ada warna, semua menyatu saling menghormati, memuliakan.

Melihat potensi yang besar dari JT, apakah tidak ada keinginan untuk
membuat suatu lembaga seperti pada umumnya?
Justru dengan demikian itu kecenderungan untuk pecah belah lagi. Kalau kita membentuk
satu kelompok/lembaga berarti ada yang diluar kita, dan itu akan mempersempit
perjuangan. Di kita tidak ada kartu anggota.

Yang kita inginkan jamaah ini besar dan siapa saja boleh ikut. Itu salah satu siasat kita.
Dulu saya juga ada pemikiran seperti itu, tapi setelah ikut bergabung, ternyata itu tidak
bisa. Itu harus kita singkirkan. Kita berpikir universal, jangan blok. Cara berpikir seperti
itu sudah ketinggalan jaman. Memang awalnya niatnya baik, tapi setelah berjalan, banyak
konflik. Tapi saya tidak anti, cuma itu pemikiran saya dan teman-teman yang sudah
bergabung dengan kita.

Bagaimana pengembangan usaha ekonomi?
Kalau iman orang Islam sudah menghunjam dalam hati, dengan sendirinya akan
terbentuk. Bukan saja ekonomi, kepemimpinan dan lain-lain, setelah dasar-dasarnya kita
miliki. Tapi kalau iman kita masih lemah, berbicara ekonomi dan menghimpun dana,
malah dananya diperebutkan, ha... haaa.. haa. Di sini tidak menghimpun dana, justru dana
kita korbankan masing-masing untuk di jalan Allah.

Apa hambatan-hambatan ketika melaksanakan dakwah?
Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik. Kalau pun ada hambatan, bukan karena
dakwahnya, tapi terkait dengan politik suatu negeri. Pada umumnya menerima dengan
baik. Dari segi bahasa tidak ada kendala, biasanya ada penerjemahnya. Hambatan justru
dari dalam diri kita dan keluarga.
Bagaimana cara pembinaan dakwahnya?
Kita datang ke daerah tertentu (masjid) dan kita bina beberapa orang supaya bisa keluar
tiga hari, empat puluh hari, atau empat bulan. Nanti setelah pulang, ia menjadi pembina
di kampungnya sendiri untuk memakmurkan masjid dengan dakwah. Orang yang kita
bina itu hanya sampai bisa ikut dengan kita dan tertarik untuk berdakwah. Diharapkan
untuk keilmuannya bisa kerjasama dengan para ulama setempat. Ternyata ada saja yang
ikut. Buktinya, kami berkembang. Kita beri semangat kepada yang baru bergabung, ini
adalah tugas mulia, dan belajar terus untuk menyampaikan dakwah. Untuk awalan
mungkin belum maksimal dan kaku, tapi setelah belajar terus nanti juga bisa.

Bagaimana kalau menghadapi orang-orang jahat, katakanlah preman?

Itu relatif. Justru orang yang semacam itu gampang, mudah tersentuh. Karena kerja kita
ini bukan berkalkulasi dengan mengandalkan otak, tapi ada kekuatan yang diberikan oleh
Allah. Kalau Allah sudah menghendaki seseorang itu dapat hidayah, siapa yang bisa
menghalangi. Kita hanya mengerjakan tugas, hasilnya serahkan kepada yang maha
berkehendak. Kita akan mendapatkan sesuatu yang dahsyat, ajaib, yang kita sendiri tidak
tahu.

Kenapa dilarang bicara politik?
Kalaupun dikatakan politik, kita pun berpolitik. Tapi politik kita cara Nabi, bukan politik
yang Anda lihat sekarang ini. Politik Nabi adalah bagaimana menyelamatkan seluruh
ummat dari neraka jahanam. Bahagia, dan selamat di dunia dan akhirat. Bukan politik
yang mementingkan pribadi atau kelompok/golongan.

Bagaimana keluarga yang ditinggal khuruj?
Ada dua macam. Kalau keluarga itu sudah faham ya mendorong. Tapi ada juga keluarga
yang belum faham. Itulah bagaimana pandai-pandai kita memberi pengertian, bahwa ini
misi dakwah. Sekarang sudah ada program keluar bersama keluarga, jadi bukan suaminya
saja. Subhanallah, ini dakwah.

Toh kita tidak sering keluar juga. Dalam sebulan ada program khuruj 3 hari, ada 40 hari
dalam setahun, dan 4 bulan sepuluh hari dalam setahun. Jadi, justru lebih banyak untuk
keluarga. Diusahakan setiap Muslim shalat berjamaah di mushala atau masjid. Kalaupun
nggak, ya dengan keluarga. Ada tausiah setiap habis shalat.

Kita dari berbagai lapisan masyarakat dan latar belakang pendidikan. Ada yang pegawai
negeri, swasta, pedagang dan lain-lain. Mereka punya sumber dana yang normal. Tidak
boleh meninggalkan keluarga begitu saja, kita musyawarahkan. Kita tanya kalau mau
keluar, berapa dana yang dimiliki, bagaimana untuk keluarga, kalau tidak ada, ya tidak
bisa memenuhi syarat. Keputusan pimpinan hasil musyawarah untuk menunda khuruj
diambil hikmahnya. Mungkin suatu saat ada kesempatan lagi. Mereka yang bekerja,
sekolah, harus dapat izin dulu.
Masalah dana, semampunya masing-masing, kalau hanya cukup untuk khuruj tiga hari,
ya tiga hari. Kalau cukup untuk empat puluh hari ya silakan. Setiap diri dituntut untuk
berdakwah, ini perintah Allah. Baik pedagang, sopir, dosen. Tapi ada waktu-waktu yang
secara penuh untuk berdakwah. Waktu-waktu itulah yang kita harus relakan, ikhlaskan
untuk berdakwah.

JT banyak menekankan ibadah sunah, misalnya pakaian dan
memelihara jenggot?
Memang, hal-hal sunah banyak kita kerjakan, itu salah satu program saja. Dalam
prakteknya, kita tidak katakan memelihara jenggot ini sunnah, memakai siwak ini sunah
dan lain-lain. Kita ceritakan saja hal-hal yang berkaitan dengan fadilah-fadilah sunah
yang sering dilakukan Nabi. Tapi bagaimana ia memahami, itu silakan masing-masing.
Kalau ditekankan nanti ada konflik, misalnya Anda harus pakai sorban, sementara Anda
bekerja di kantor, nanti banyak mengundang pertanyaan dan lain-lain. Biasa saja, harus
bisa menyesuaikan, kalau menuntut pakai jas atau dasi, ya pakailah. Jadi, bukan karena
asalnya dari India lantas kita pakai sorban, yang jelas ini sunnah.

Berapa anggota JT di Indonesia?
Kita tidak tahu jumlah pastinya, itu bukan prioritas. Anda bisa melihat setiap pertemuan
di markas di setiap kota, kira-kira jumlahnya dua atau tiga ribuan orang yang hadir.
Anggota kita adalah semua orang Islam, cuma mereka belum merasa menjadi anggota,
padahal kita merasa satu anggota. Barangkali ada anggota aktif dan belum. Tugas yang
aktif ya mengaktifkan yang belum aktif.

                 Jema'ah Tabligh di Mata Anggota
                             Sumber: Hidayatullah.com
                   Tanggal:Oktober 1999/Jumadil Akhir-Rajab 1420


Wisnu Jatmiko
Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Komputer UI

Saya terlibat dalam aktivitas JT sekitar tujuh tahun lalu (1991). Waktu itu, saya masih
duduk di kelas dua SMA (tahun 1991). Kemudian melanjutkan pada Jurusan Elektro
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, lulus 1997). Sempat bekerja di PT Phillips hampir
setahun. Kemudian melanjutkan kuliah pada Program Pasca Sarjana Ilmu Komputer UI
sampai sekarang.

Awal-awalnya saya sering diajak para aktivifis JT yang sering berkunjung di masjid
dekat rumah. Mereka mengajak khuruj, tapi karena saya masih sekolah, maka hanya bisa
mengikuti satu hari saja.
Ada dua hal yang menyebabkan saya tertarik pada JT. Pertama, materi-materi yang
disampaikan dalam taklim-taklim itu memberikan dorongan yang cukup kuat bagi saya
untuk rajin beribadah. Itulah yang menyebabkan saya tertarik. Kedua, saya juga
mendapat dorongan dan motivasi yang kuat untuk sukses dalam studi. Ceritanya begini,
saya terlibat lebih jauh setelah banyak teman-teman yang pindah rumah (1994).
Akibatnya saya harus menjadi penggeraknya. Bahkan saya sempat khuruj 40 hari
lamanya.

Tapi, saya juga sempat bertanya-tanya. Kenapa aktivitasnya hanya begini-begini saja.
Toh, tanpa terlibat saya juga bisa jadi orang baik. Apalagi ketika itu ada yang marah,
karena saya menolak untuk ikut khuruj. Kebetulan saya ada udzur. Hingga akhirnya saya
bertemu dengan orang dari India dan Amerika yang menyebabkan saya semangat lagi.
Karena menurut mereka, aktivitas di JT tak perlu berakibat kewajiban lain tertinggal.
Buktinya banyak di antara pengikut JT yang doktor dan profesor serta hapal Al Qur'an.
Saya sempat ditegur mereka karena aktivitas di JT menyebabkan Indeks Prestasi (IP)
saya rendah. Waktu itu saya ingat sedang ujian mata kuliah "Sistem Kendali." Bahkan
mereka berkali-kali menyuruh saya pulang untuk belajar.

Yang saya peroleh setelah aktif di JT, pada diri saya seakan muncul kembali semangat
untuk mewarnai keluarga yang semula agak pudar dalam beragama. Saya menghidupkan
taklim dan musyawarah harian di rumah. Yang laki-laki sholat di masjid, sedang yang
wanita memakai jilbab rapat. Bahkan kini kakak saya juga ikut aktif bersama saya.

Suatu ketika saya dipilih menjadi pimpinan rombongan khuruj, yang terdiri dari pelajar
SMA dan bapak-bapak yang kurang dari segi pendidikan. Saya sempat bingung ketika
itu. Apalagi pimpinan rombongan harus mengurus perijinan ke lurah, camat, sospol,
kadang-kadang ke Kodim. Pokoknya seluruh aparat Muspida. Saya sering dimarah-
marahi, dibentak oleh aparat itu. Tapi, bagi saya itu sudah merupakan konsekuensi
pimpinan rombongan. Sehingga, pengalaman itu membuat saya bertambah semangat dan
tak takut berpaling dari Allah swt.

Ada pengalaman menarik lagi, sewaktu ikut khuruj di Bengkulu, saya merasa tertekan.
Ketika itu saya tak mendapatkan masjid. Muspida di sana sempat menaruh curiga dan
tanya melulu mengenai acara rombongan saya. Ke mana pun pergi seperti ada yang
mengawasi. Itulah titik yang paling berkesan.

Kenapa harus khuruj? Untuk melatih mental dan banyak lagi yang sulit diceritakan.
Pengalaman pribadi yang membuat jiwa kita terbina. Soal dana, itu dari tabungan kita
sendiri. Keluarga yang ditinggalkan? Sebelum melakukan khuruj, pembinaan keluarga
penting, terutama ibu-ibu dan wanita diadakan taklim ibu-ibu atau namanya masturot.
Artinya: tertutup, terhijab. Dalam pembinaan itu, wanita atau ibu-ibu dilatih mandiri.
Sehingga ketika ditinggal khuruj, mereka sudah bisa berperan sebagai kepala rumah
tangga di rumah. Tapi, belakangan JT juga sudah mulai memprogram khuruj bersama-
sama semuhrim, lelaki dan perempuan.
             Trie Utami: "Jawaban Dari Do'a Saya"
                              Sumber: Hidayatullah.com
                    Tanggal:Oktober 1999/Jumadil Akhir-Rajab 1420

Trie Utami
Mantan vokalis Band Krakatau, Jakarta

Saya aktif di rumah saja. Yang aktif di luar suami. Tugas wanita ya di rumah. Soal JT ini,
bagi saya bukan soal tertarik atau tidak tertarik. Setelah saya selami, ternyata apa yang
dilakukan ternyata merujuk pada sunnah Rasul. Beberapa rujukan dari al-Hadits, dan itu
pembuktiannya tidak bisa melalui kata-kata. Tapi, perlu diyakini. Jadi, bagi saya,
masalahnya tidak lagi pada tertarik atau tidak tertarik, tapi sudah sebuah keharusan.

Aktif di JT sekitar dua tahun lalu. Saya banyak mendapatkan cerita ikhwal JT dari suami.
Selama belum bertemu dengan JT, suami saya selalu melontarkan kegelisahan-
kegelisahan. Saya ketemu dengan JT, itu adalah jawaban dari doa saya, "Ya Allah
pertemukanlah saya dengan saudara-saudara saya." Begitulah doa yang senantiasa saya
pinta pada Allah swt. Saya kemudian, selalu mencari jawaban doa itu.

Jadi, ketemunya dengan JT itu, berangkat dari pencarian. Ada hasil yang bisa saya
nikmati. Dari hari ke hari semakin intens beribadah mulai dari yang wajib hingga yang
sunnah, seperti shalat dhuha, shalat malam dan shalat-shalat sunnah lainnya. Ini berbeda
dengan sebelum bergabung dengan JT. Juga banyak hal yang sudah saya tinggal dari
dunia selebritis yang pernah saya tekuni sebelumnya. Terus terang dua tahun belakangan
ini saya banyak belajar, dan saya temukan itu sebagai bentuk yang luar biasa. Misalnya,
kalau dulu dalam bergaul lebih permisif, sekarang lebih hati-hati, menjaga kesopanan,
dan tidak sampai melanggar rambu-rambu laranagan agama.

Saya juga sempat diledek teman-teman. "Sekarang kamu ngapain sih?" Begitu ledekan
teman-teman yang menilai bahwa saya sangat asing dibanding yang dulu. Tapi saya pikir,
bahwa Islam datangnya asing dan pergi juga dalam keadaan asing.

Di JT, wanita ada pembinaan tersendiri yang disebut program masturat. Setahu saya
program itu diadakan, supaya para isteri itu mengerti kenapa suami-suami itu harus
khuruj. Mereka juga dikenalkan dengan kegiatan itu, walaupun sebetulnya wanita lebih
baik di rumah. Untuk pergi masturat, wanita hendaknya didampingi oleh suaminya atau
muhrim. Jadi mereka tidak keluar sendiri, seenaknya sendiri.

Sekalipun saya aktif dalam JT, saya juga masih aktif nyanyi sampai sekarang. Menurut
pengetahuan saya, bahwa nyanyi itu tak ada larangan, tapi harus tahu diri dan
menyesuaikan dengan aturan ajaran agama Islam. Dulu, misalnya, kalau nyanyi di night
club, saya cuek saja. Tapi sekarang, lebih selektiflah. Dan yang penting, 'kan cuma
nyanyi, nggak macam-macam.
                 Melbourne Semarak oleh Tabligh


Desember ini (1999 red), Melbourne akan menjadi tuan rumah ijtima' (pertemuan)
jamaah tabligh dari seluruh benua Australia, termasuk negara-negara kepulauan Pasifik
Selatan. Berikut catatan Sahid setelah mengikuti kegiatan mereka, Oktober lalu.

Islam bukanlah gejala baru di Australia. Masuknya Islam ke benua Aborigin ini hanya
berselang satu abad setelah datangnya orang-orang Inggris pertama di abad ke-18. Jumlah
ummat Islam di Australia diperkirakan sekarang mencapai angka 300 ribuan. Dengan
sejarah yang panjang dan jumlah yang tidak lagi sedikit, wajarlah bila tingkat
keragamannya pun tinggi. Dari lapisan muslim yang masih taat dan aktif berdakwah,
sampai yang tinggal Islam KTP-nya saja ada.Bahkan, ada yang menjawab salam pun
sudah tak bisa.

WARNA BARU. Di tengah situasi itu, sejak awal tahun 1970-an, gerakan jamaah
tabligh menggoreskan warna baru dalam perkembangan peta ummat Islam di Australia.

Setidaknya, sejauh pengamatan dan keterlibatan Sahid selama hampir 4 bulan di
Australia, tabligh telah menjadi suatu gerakan dakwah yang sangat dinamis sekarang dan
di masa mendatang.

Dilahirkan di India, gerakan ini merupakan hasil ijtihad seorang ulama bernama Maulana
Ilyas, sekitar 70 tahun yang silam. Gagasannya sederhana, namun sangat tajam dan
efektif. Yaitu meluangkan waktu untuk sepenuhnya berada di dalam atmosfir dien di
masjid dalam waktu tertentu. Targetnya, agar manusia makin faham akan tujuan
penciptaan dirinya di muka bumi. Sebuah persoalan yang sangat fundamental.

Sasaran sekunder, memindahkan suasana dien tadi dari masjid ke lingkungan manapun di
luar masjid, terutama ke rumah. Setiap orang disarankan meluangkan waktu setidaknya
dua jam sehari.Isinya berta'lim, membaca hadits, mengaji Qur'an, dan berpikir mengenai
bagaimana syiar Islam. Lalu berjaulah, mengunjungi rumah-rumah ummat Islam di
sekitar masjid setidaknya seminggu sekali. Lebih jauh lagi, keluar di jalan Allah
setidaknya tiga hari dalam sebulan, empat puluh hari dalam setahun, dan empat bulan
dalam seumur hidup.

Kesan pertama dari penampilan fisik mereka yang memakai gamis atau jubah, surban,
dan memelihara janggut, memang merupakan sunnah-sunnah yang sudah asing bagi
kebanyakan ummat Islam. Tetapi aktivis tabligh yakin, dengan niat yang ikhlas dan
akhlak yang baik, kesan 'asing' itu akan segera hilang.

Kini poros India-Pakistan-Bangladesh, tempat gerakan ini berbasis, menjadi semacam
base camp bagi para aktivis tabligh. Setiap orang disarankan meluangkan empat bulan
khuruj-nya ke tiga negara di Asia Selatan tersebut. Kenapa harus ke sana? Zakaria,
mahasiswa Charles Sturt University yang juga seorang karkun (sebutan bagi aktivis
tabligh; bahasa India) menerangkan kepada Sahid, "India-Pakistan-Bangladesh bisa
diibaratkan sebagai centre of excellence sebagaimana Universitas Al-Azhar, Madinah,
Harvard, Oxford, atau MIT bagi ilmu-ilmu."

Aktivis tabligh didorong untuk berangkat ke sana agar kualitasnya meningkat. Bedanya,
kalau di universitas dunia kita belajar ilmu, di India-Pakistan-Bangladesh kita belajar
amal akhirat, kata Zakaria. Awal tahun ini, jaringan televisi kabel ternama CNN
melaporkan 'the second biggest muslims gathering after hajj' di Pakistan, yang tak lain
adalah ijtima' jamaah tabligh ini untuk tingkat dunia. Sekitar dua juta orang diperkirakan
berkumpul pada saat itu.

DARI WAGGA KE MELBOURNE. Bagi kota-kota kecil seperti Wagga-Wagga,
tempat Sahid menetap, Melbourne sebagai markas telah menjadi semacam India-
Pakistan-Bangladesh-nya Australia.

Sore itu di awal Oktober, saya dan Raja Shahruddin, mahasiswa asal Malaysia, berencana
bergabung dengan markas jamaah tabligh di Melbourne. Sebelum kami bertolak dari
surau kampus, ada bayan hidayah (semacam briefing) dari seorang brother di Wagga.
Isinya yang utama ada tiga, senantiasa meluruskan niat karena Allah; bahwa perjalanan
ini untuk memperbaiki kualitas iman pada diri sendiri, baru yang berikutnya untuk
mengajak orang lain; dan terakhir, petunjuk-petunjuk teknis mengenai hubungan dengan
manusia lain.

Misalnya, agar menjaga mulut mengurangi percakapan tentang dunia selama perjalanan.
Agar memperbanyak dzikir dan doa karena orang yang ada di jalan Allah doanya maqbul,
dan yang semacamnya.

Lepas ashar kami bertolak diiringi doa. Perjalanan mobil Wagga-Melbourne petang itu
kami kebut lima jam. Berbeda dengan di Indonesia, jalan bebas hambatan dari Albury, di
perbatasan New South Wales dan Victoria, ke Melbourne yang jaraknya 350 kilometer
gratis. Tak ada bayar-bayaran tol. Lansekap indah alam pedesaan, kerumunan domba,
ladang gandum serba luas, padang stepa dan bebukitan hijau permai New South Wales-
Victoria, ujung-ujungnya bertemu dengan layar langit yang biru sempurna. Semua cuma
bisa dinikmati sebentar. Hujan lebat dan gelapnya malam segera menyergap Nissan
Bluebird station milik Shah yang meluncur cepat.

Melbourne dingin malam itu, hampir seperti di saat winter. Trem-trem listrik masih
beringsut menyusuri jalan-jalan kota dan kawasan suburban. Merkuri ribuan watt dan
lampu-lampu kota meredam cahaya gemintang di langit Kutub Selatan.

Hawa dingin tadi segera terusir oleh suasana hangat begitu kami memasuki masjid Umar
ben-Khattab, di Preston. Masjid waqaf pemerintah Arab Saudi ini selesai dibangun enam
tahun silam. Kini menjadi markas jamaah tabligh di seluruh Melbourne dan Australia.
Setiap JumUat malam mereka berkumpul dan beriUtikaf di sini. Sebuah kaligrafi kain
ukuran besar dengan warna lembut tergantung persis di atas mihrab. Tulisannya, "Fabi
ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzdzibaan, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang
hendak kau dustakan?"

PAKAIAN YANG SAMA. Di depan mihrab, seorang tua berjanggut putih dari Srilanka
sedang menyampaikan bayan (ceramah) dibantu seorang penerjemah. Tak kurang dari
dua ratus orang duduk rapat-rapat, tekun mendengarkan ceramah itu.

Mereka berasal dari berbagai bangsa imigran seperti dari Asia Tenggara, Asia Selatan,
Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan banyak lagi termasuk Australia sendiri. 'Pakaian'
mereka semua sama; Islam. Masya Allah, masya Allah! Rasanya seperti bukan di
Melbourne. Rasanya seperti berada di salah satu sudut masjid Nabawi, di Madinah Al-
Munawwarah.

Usai shalat Isya', makan malam bersama. Duduk berjajar, menunggu nampan datang
sambil berdoa, lalu makanan satu nampan di makan tiga atau empat orang. Mulai sikap
kepada makanan sampai cara duduk, semua mengikut sunnah.

Tiba-tiba sebuah suara orang Jawa yang sangat medok mengagetkan saya. "Anda dari
Indonesia kan? Ini saya kasih tahu!" kata seorang lelaki tersenyum, sambil menyodorkan
sebuah nampan penuh dengan nasi dan sayur tahu. Waduh, ini lidah saya sudah empat
bulan tak ketemu tahu. Alhamdulillah.

Sebelum tidur, ada pembacaan hayatush shahabah, kisah kehidupan para sahabat Nabi,
lalu ada kalkuzari, semacam laporan perjalanan. Malam itu seorang brother keturunan
Eritrea memberi laporan khuruj-nya dari Kaledonia Baru, sebuah negara kepulauan di
Pasifik Selatan.

Diceritakannya betapa masyarakat muslim di wilayah bekas jajahan Prancis itu, yang
terdiri dari keturunan India dan Jawa, telah jauh dari Islamnya. Merasa senang akan
kedatangan saudara-saudaranya dari Melbourne, mereka minta lain kali didatangkan
jamaah lagi.

Paginya, sehabis shubuh, seorang brother asal Bosnia yang lahir di Australia memberikan
bayan shubuh. Rupanya ia baru saja pulang dari kampung ayah ibunya Bosnia-
Herzegovina, memimpin sebuah jamaah tabligh pertama yang datang setelah perang
berhenti di kawasan Balkan.

LUPA DUNIA? Tapi apa betul para aktivis tabligh yang 'selalu ingat mati' ini melupakan
kehidupan dunia? Tudingan ini hampir tak pernah serta-merta mereka bantah dengan
ucapan. Silakan dinilai sendiri.

Selama di masjid mereka tak pernah bicara bisnis. Tapi Mobil-mobil macam Toyota
Tarago station yang di Jakarta tergolong mewah, Toyota Cressida, Honda Civic Genio
dan merek-merek wah lainnya tiap Jum'at malam nangkring di halaman masjid Preston.
Itu saja bisa menunjukkan cita rasa mereka pada teknologi maju, sejauh bisa difungsikan
di jalan Allah.
Para karkun ini juga dikenal sebagai pekerja keras di bidangnya masing-masing. Ada
yang supir taksi, tukang kayu, juragan butchery (rumah pemotongan hewan ternak),
insinyur, birokrat, pedagang dan lain-lain. Mahasiswa yang aktif dalam gerakan inipun,
meski rata-rata low profile, di kampus punya prestasi yang selalu bisa dibanggakan.
Abdul Razak, mahasiswa ilmu-ilmu sosial di Charles Sturt University, merasa tak puas
jika tugas-tugas yang dikerjakannya tak mendapat predikat excellent. "Prestasi belajar
juga bagian dari dakwah kita kepada teman lain," katanya merendah. Mereka dikenal
mahasiswa yang belajar dengan disiplin spartan. Di Wagga, beberapa mahasiswa yang
aktif bertabligh biasa mengorganisasi kegiatannya dengan telepon genggam yang bukan
lagi barang mewah.

Di Australia sendiri, sejak awal tahun 1970-an, gerakan ini berkembang pesat hingga
sekarang. Dipimpin oleh Syaikh Muhtaz asal Mesir, pusatnya di Melbourne tidak lagi
hanya mengarahkan sasaran dakwahnya ke Melbourne, Sydney, Perth, Darwin, dan kota-
kota di pulau Australia.

Tapi juga melebar ke kepulauan Pasifik Selatan, seperti Vanuatu, Samoa, Fiji, Kaledonia
Baru, ke China, Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara. Ini terlihat dari pembicaraan yang
berkembang dalam musyawarah bulanan yang sempat Sahid ikuti.

Musyawarah ini berlangsung di kawasan Folkner, di pinggiran Melbourne.Markas
Tabligh Australia yang baru di kawasan ini adalah bekas komplek sekolah dasar di atas
sebidang tanah seluas kira-kira 3 hektar.

Sehari-hari tempat ini dipakai untuk madrasah diniyah bagi anak-anak para karkun.
"Sedang diusahakan agar madrasah ini disamakan statusnya dengan sekolah dasar
umum," jelas Ruslan, seorang karkun asal Malaysia. Dalam musyawarah bulanan tadi,
masing-masing pusat gerakan di Melbourne memberikan laporan dan rencana-rencana
kegiatan kepada Syaikh Muhtaz dalam suatu forum terbuka. Lalu Amir Shaf -sebutan
bagi pemimpin markas- mengarahkan pembicaraan pada rencana dakwah ke luar
Australia. Ada beberapa kelebihan Australia dalam hal dakwah regional dan internasional
ini.

Pertama, para karkun Australia menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar utama,
yang merupakan bahasa internasional.

Kedua, kebanyakan aktivis tabligh di Australia adalah keturunan kaum imigran dari
berbagai belahan dunia. Mereka akan menjadi pasukan dakwah yang 'kuat' secara
psikologis bila dikirimkan ke tanah kakek-neneknya. Contohnya Lukman, 39, keturunan
Italia bermata abu-abu yang lahir di Australia. Kepada Sahid ia membagi pengalamannya
baru-baru ini ber-jaulah ke kampung ibu-bapaknya di kepulauan Sisilia, gudangnya mafia
dan gangster kelas kakap. Katanya, kini di seluruh Italia ada 200-an masjid. "Kedatangan
kami dari Australia disambut baik sebagai dukungan moril yang kuat bagi
berkembangnya Islam di Italia," cerita Lukman sambil tersenyum.
PERHATIAN PADA INDONESIA. Dalam musyawarah bulanan di Folkner itu, Syaikh
Muhtaz menekankan agar para karkun memberi perhatian khusus bagi Indonesia.

Ia bercerita, bahwa Maulana Hadraji rahmatullah 'alaih, pimpinan gerakan tabligh
sedunia yang baru wafat beberapa tahun lalu, bermalam-malam tak bisa tidur setelah
mendengar berita, bahwa musuh-musuh Islam berencana meng-Kristen-kan Indonesia
dalam waktu 50 tahun.

Di Australia sendiri, penampilan para aktivis tabligh yang rendah hati dan menjauhkan
diri dari soal-soal khilafiyah dan politik praktis, cukup ampuh menyelesaikan berbagai
ketidakharmonisan hubungan antar ummat Islam. Pesan utama bayan atau ceramah para
aktivis tabligh biasanya berisi enam hal standar, yaitu tentang keutamaan kalimah
tayyibah (Laa ilaha illallaah, Muhammadan rasulullah); lalu membesarkan nama Allah
dengan shalat yang khusyu'; ilmu dan dzikir; ikram (memuliakan) sesama muslimin;
ikhlaskan niat; dan yang terakhir, tentang pentingnya setiap individu muslim melakukan
daUwah dan tabligh.

Menghindari soal khilafiyah dan siyasah (politik), membuatnya mudah diterima oleh
semua masyarakat. Rombongan jaulah yang saya dan Shah ikuti adalah suatu contoh
nyata.Dalam jaulah dua hari satu malam di akhir minggu, kami bergabung dengan jamaah
8 orang yang mayoritas terdiri dari keturunan Bosnia.

Masjid yang dipilih untuk beri'tikaf adalah Masjid An-Nur milik masyarakat Kroasia.
Terletak di kawasan Maidstone, 15 tahun yang lalu bangunan kayu itu adalah sebuah
gereja yang dibeli menjadi masjid. Di sebelahnya ada sebuah bangunan yang lebih kecil,
Islamic Center-nya masyarakat Kroasia. Sudah jadi rahasia umum, bahwa walau sesama
muslim, orang Kroasia cenderung tak bisa akur dengan orang Bosnia. Masjid Kroasia
yang berada di dekat pemukiman komunitas Bosnia itu tak pernah dikunjungi oleh orang
Bosnia, kecuali orang Lebanon, Eriteria, dan Somalia.

Sebaliknya, masyarakat Bosnia -yang dikenal berperangai halus- sendiri akhirnya
membangun masjid tak jauh dari kawasan itu. Keputusan ini merupakan klimaks
ketidakharmonisan hubungan itu. Ironisnya, belum seratus persen masjid jadi, kaca-
kacanya pecah berantakan diserang beberapa orang Kroasia yang tak bertanggung jawab.

Cerita sedih ini tidak saya dapatkan dari brothers Bosnia yang sejamaah dengan saya.
Melainkan dari beberapa brothers tempatan asal Aljazair, Fiji, dan Somalia.

Di hari kedua jaulah, brothers dari Bosnia ini lagi-lagi memilih sasaran yang menantang.
Yakni sebuah masjid milik masyarakat Turki yang dikenal keras, tak mau menerima
rombongan tabligh beri'tikaf di situ. Saya kagum pada ghirah saudara-saudara Bosnia ini.

Pengalaman beberapa hari di Melbourne sangat mengesankan. Bertemu masyarakat
muslim yang ghirah-nya kuat dan masjid yang makmur membuat saya tak merasa
menyesal karena tak sempat ke The Great Ocean Road, sebuah kawasan pantai tebing
yang terkenal indahnya. Lokasinya 3 jam dari Melbourne ke Adelaide, South Australia.
Dalam perjalanan pulang ke Wagga, saya melirik ke arah Shah. Di matanya ada semangat
baru yang segar, yang sudah tak sabar diguyurkan kepada teman-temannya. Agar kota
kecil Wagga-wagga semakin marak dengan dakwahnya.




Perihal : Menanggapi Selebaran Foto Copy Kepada

“Mambongkar Kedok Jama’ah Tabligh” Yth : Pengurus Salafi di Masjid Babul Khasanah

Di-

Bismillahirrahmanirrahim T e m p a t

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

      Bersama ini kami sangat menghargai informasi tentang keadaan Jama‟ah Tabligh yang
disampaikan oleh seorang remaja dari kaum Salafi dengan membagi-bagikan selebaran foto copy
berjudul “Membongkar Kedok Jama‟ah Tabligh” sebanyak 3 (tiga) lembar seusai shalat Maghrib pada
tanggal, 14 Agustus 2005 saat rombongan kami yang kebanyakan berasal dari Palopo, Sidrap, dan
Makassar untuk melakukan Silaturahim selama 3 (tiga ) hari di Masjid Babul Khasanah Lingkungan
Solojirang Kelurahan Turikale Kecamatan Turikale Kabupaten Maros.

      Setelah kami mengetahui apa yang telah menjadi isinya justru kami merasa sedih ternyata
keyakinan kaum Salafy diam-diam berseberangan dengan Jama‟ah Tabligh. Sebab isinya mencela
suatu kaum bahkan memfitnah terhadap seorang Alim Ulama‟ yang telah berhasil menyelamatkan
ratusan juta manusia dari tepi jurang api neraka. Apakah tuan-tuan tidak ingat tentang firman Allah
terdapat pada Al-Qur‟an surah Al-Buruj ayat ke-10 yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang
memfitnah muslimin atau muslimat kemudian mereka tidak bertaubat maka bagi mereka disediakan
neraka jahannam yang akan membakarnya”. Bahkan hinaan tuan-tuan terhadap Jama‟ah Tabligh
selama ini telah mencerminkan bahwa didalam hati tuan-tuan terdapat sikap takabur terhadap
kebenaran agama. Perhatikan firman Allah yang artinya : “Boleh jadi kaum yang kalian olok-olok itu
justru lebih baik dari kaum yang mengolok-olok”. (Q.S Al-Hujarat : 11)

      Meskipun ayat menyebutkan demikian namun kami serombongan Jama‟ah Silaturahim tetap
berprasangka baik dan kami yakin bahwa tuan-tuan hanya karena salah langkah saja (terprovokasi).
Sehingga kami merasa sangat risau dan berfikir bagaimana agar seluruh umat manusia di negeri ini
diberikan petunjuk serta rahmat dari Allah SWT. Bahkan bagaimana agar Allah SWT menurunkan
hidayah-Nya kepada umat manusia di seluruh dunia sehingga mereka hidup bahagia sejahtera lahir
dan batin, mati masuk surga terhindar dari siksa neraka.

      Dibawah ini kami sampaikan sebuah berita menarik dari beberapa berita yang disampaikan oleh
orang Afrika Selatan pada saat mereka keluar di jalan Allah di Makassar beberapa bulan lalu yaitu
beliau katakan lewat juru bicaranya : “Bahwa ada seorang Ulama‟ besar yang sangat gigih merintangi
Jama‟ah Tabligh, suatu ketika beliau meninggal dunia. Entah do‟a apa yang dipanjatkan kepada Allah
SWT oleh Jama‟ah Tabligh yang pernah diusirnya itu. Sehingga suatu malam para Ustadz pada
bermimpi dengan mimpi yang sama yaitu bertemu dengan arwah ulama tersebut. Singkat cerita beliau
katakan : “Bahwa berkat do‟a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang pernah aku usir dulu itu
sehingga segala dosaku diampuni oleh Allah SWT, bahkan diriku sempat diperlihatkan oleh Allah
untuk masuk ke surga yang tanahnya sangat subur dan luas sekali, tapi anehnya semua tanah telah
dikapling-kapling oleh orang-orang yang bersorban dan berjenggot. Demikian berita Gaib dari Arwah
Ulama tersebut, sehingga hari berikutnya para Ustadz dan semua santri pada ambil usaha Nubuwah
yaitu usaha Dakwah Jumpa Umat yang biasa disebut Jama‟ah Tabligh.

      Ada lagi berita menarik yang berasal dari Bapak H. Jufri (Kalau tidak salah Bidang
Pemerintahan Gubernur Sulawesi Selatan) yang Masjid beliau terletak di Kecamatan Palangga
Kabupaten Gowa saat kami bersilaturahim jumpa umat beberapa bulan lalu. Beliau katakan : “Bahwa
di luar negeri terutama di negara-negara Non Muslim sangat pesat perkembangan umat islam yang di
bawa oleh Jama‟ah Tabligh. Bahkan suatu ketika pernah ada seorang mualaf yang menderita sakit
lumpuh dan biasanya beri‟tikaf di dalam Masjid. Setiap ada orang yang hendak keluar di jalan Allah
beliau selalu ucapkan : “Anda sangat beruntung-anda sangat beruntung”. Seraya berlinang air mata.
Suatu ketika orang tersebut meninggal dunia tapi anehnya mengapa seluruh tubuhnya mengeluarkan
keringat yang berbau sangat harum sehingga tangan-tangan orang yang memandikan mayat tersebut
setelah seminggu masih tercium bau harum (katanya). Percaya atau tidak tentang adanya berita
tersebut terserah pada tuan-tuan akan tetapi hal ini boleh ditanyakan Kepada Bapak H. Jufri yang
bekerja di kantor Gubernur Sulawesi Selatan.dan berita semacam itu juga pernah terjadi di Kabupaten
Palopo.

      Mestinya kedatangan kami serombongan di Masjid tuan diterima dengan baik hati bukan malah
setiap selesai sholat fardhu tuan-tuan pada pulang semua, sebab dijaman sekarang betapa banyak umat
islam yang pada meninggalkan Masjid-Masjid bahkan terjerumus pada kemaksiatan. Sehingga tugas
kami hanyalah berusaha sebatas mengajak mereka memakmurkan Masjid dan tugas tuan-tuan
tentunya yang mengajari mereka tentang masalah ilmu agama, sehingga terjalin kerjasama yang baik
sebagaimana pernah dialami oleh para sahabat Nabi SAW (yakni kaum Muhajirin dan kaum Anshar)
tempo doloe. Jangan malah tuan-tuan memfitnah yang tidak-tidak. Apakah tuan-tuan merasa tidak
senang kalau umat manusia pada berbondong-bondong masuk agama islam?. Itulah manfaat adanya
hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi : “Ikhtilafu Ummati Rohmatun” meskipun hadits
tersebut adalah doif/lemah. Dengan adanya balasan kami ini hendaknya tuan-tuan (kaum Salafiah)
jangan merasa pesimis terhadap Jama‟ah Tabligh sebab kebanyakan di dalamnya juga berasal dari
orang-orang yang tadinya menentang dulu serta menganggap enteng termasuk kami.

      Demikian harapan kami atas kerjasama yang baik mari kita perjuangkan agama Allah yang haq
di muka bumi ini sampai hari kiamat. Semoga Allah meridhoi usaha mulia kita bersama.

Subhanallah wabihamdihi-subhanakallohumma wabihamdika asyhadu an la ilaha illa anta
astaghfiruka waatubu ilihi.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

				
DOCUMENT INFO