Jangan Takut
Document Sample


Jangan Takut (Lukas 2:8- 20) Dunia yang kita diami sekarang ini, bukan lagi dunia yang ramah, dunia yang mengelus kita dengan senyum keakraban. Bukan lagi dunia yang memanjakan kita. Bukan lagi dunia yang tentram. Bukan lagi dunia yang penuh dengan damai dan sejahtera. Dunia yang kita diami sekarang ini adalah dunia yang garang, dunia yang kejam, resah dan gelisah. Dunia yang ditaburi berbagai kesulitan dan kemelut di mana-mana. Dunia yang seakan-akan merindukan darah ditumpahkan di atasnya. Dunia yang seakan ingin menguras habis air mata kita. Masih hangat di ingatan kita beberapa tahun lalu seperti Poso yang mencekam. Pengungsi Aceh dan Nias yang terlunta-lunta. Situasi ekonomi yang morat-marit. Harga- harga yang mencekik leher. Masa depan yang kabur. Para pengemis yang berjejalan di lampu merah. Kriminalitas yang meningkat. Ya itulah dunia yang kita huni sekarang ini saudaraku. Apalagi sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, kita juga kadang gentar mendengar kisah-kisah tentang penekanan pada orang kristen. Gereja-gereja yang mendapat perlakuan buruk dan ditutup. Bahkan ancaman natal berdarah, terasa begitu menakutkan. Semua dilakukan atas nama kepentingan tertentu, bahkan katanya atas nama Tuhan. Dan yang lebih menyedihkan lagi orang kristen pun tidak peduli. Yang penting bukan gereja saya. Hati-hati, kesatuan negeri ini sedang tercabik-cabik oleh karena fanatisme sempit. Saya mau memperingatkan betapa berbahayanya fanatisme sempit itu dalam hidup berbangsa ini. Di tengah dunia yang semacam inilah sabda Tuhan terdengar: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan" (10-12). Sabda ini disambut gembira dengan pujian syukur para malaikat: "kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya" (14). Kepada siapa berita itu disampaikan? Gembala! Jangan bayangkan gembala saat itu seperti gembala sapi di Amerika, dengan pakaian koboi, pistol dan mengisap rokok Marlboro. Wah hebat betul. Sampai-sampai kita ikut ketularan pakai jeans. Pakaian koboi negeri paman Sam itu. Gembala adalah simbol rakyat jelata, kelompok jelata, kelompok pinggiran, kaum marginal. Mereka hidup di luar benteng-benteng pertahanan kota. Bersama dengan para penderita kusta dan orang-orang buangan lainnya. Jika Anda seorang gembala, jangan harap bisa masuk ke ruang suci Bait Allah. Mereka adalah kelompok yang menderita. Hidup di pandang sebelah mata oleh orang lain. Terik mentari begitu sengit di siang hari. Malam mereka menggigil kedinginan. Belum lagi bahaya serigala, ular, fatamorgana dan lain sebagainya. Tetapi, berita Injil -berita sukacita- itu justru pertama kali diperdengarkan kepada mereka. Artinya Allah peduli dengan penderitaan kita. Ia hadir justru untuk menghalau derita yang kita rasakan. Apa yang Allah lakukan? Ia tidak menurunkan roti manna dari sorga untuk para pengungsi. Ia tidak membuat orang-orang pelaku kriminalitas menangis dan sadar, tidak! Gembala tetap menjadi gembala. Mereka tetap kepanasan di siang hari dan kedinginan bila malam tiba. Serigala tetap saja mengancam, ular tetap saja menggigit. Lalu apa yang Allah lakukan? Menjelma dalam diri Sang Juruselamat, Yesus Kristus, sang bayi kudus. Namanya disebut Imanuel. Imanen El, Allah yang beserta kita, God is With Us. Allah yang menyatu dengan kita juga dalam derita dan kesakitan kita. Mengapa kandang domba yang dipilih Yesus sebagai tempatnya melahirkan? Karena Ia ingin beserta dengan para gembala. Dengan juga Ia ada bersama dengan kita yang menderita dan ketakutan, yang dilecehkan dan diinjak-injak. Allah beserta dengan kita tak hanya di tahun 31M, saat Yesus ada, tapi juga abad yang baru, millenium III. Jangan pernah takut, Ia beserta kita. Tapi, apa yang dilakukan Yesus selama Ia ada? Jika Yesus datang bukan berarti segalanya jadi damai dan selesai. Tidak! Saat Yesus lahir, bahkan terjadi pembantaian anak-anak di Yerusalem. Yesus datang memang bukan untuk itu, tetapi untuk memperbaharui hati para gembala itu, memperbaharui hati kita semua. Pakaian mereka tetap gembala, tapi tidak hatinya. Bukankah di hati ini terletak akar dari segala tindakan kita? Yesus datang mengubah hati para gembala. Tak lagi mereka berjalan lesu, penuh kegelisahan dan ketakutan. Ayat 20 mengatakan: "Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan". Tak lagi ada kelesuan, ketakutan. Mereka penuh dengan sukacita. Apa sih yang dicari manusia? Kesukacitaan! Kalau orang mabuk, mengonsumsi narkoba dan sebagainya, mereka semua adalah orang-orang yang menginginkan kesukacitaan. Dan hari ini, para gembala mengajar kita, kesukacitaan itu ada dalam diri Yesus Kristus, sang bayi mungil itu, karena sang Bayi itu sanggup mengubah hati kita. Di tengah kecemasan, kegelisahan dan kegundahan kita, baiklah kita belajar dari sang gembala, menyerahkan hati kita untuk diubah menjadi hati yang penuh syukur dan sukacita. Apapun yang terjadi, karena Ia adalah imanuel, Allah yang beserta kita. Addi Soselia Patriabara
Shared by: Denok Fransiska
About
http://www.basistik.blogspot.com dan http://www.paraliga-basistik.blogspot.com
Related docs
Other docs by elipldoc