kenakalan remaja - DOC

Document Sample
kenakalan remaja - DOC Powered By Docstoc
					http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja                -
outer_page_3http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja    -
outer_page_10http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_11http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_11http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_12http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_13http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_13http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_14http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_15http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_21http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_22http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_22http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_22http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_22http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_23http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_23http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_31http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_36http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_42http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_42http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_42http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_43http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_43http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_43http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_57http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_57http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_58http://www.scribd.com/doc/32319031/16/Pengertian-Kenakalan-Anak-Remaja   -
outer_page_63BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di dalam penulisan yang bersifat ilmiah, sudah barang tentu setiap penulisannya memiliki alasan
yang berbeda-beda sesuai dengan maksud dan tujuan dari penulis, dalam mengadakan penelitian
terhadap suatu masalah yang akan ditelitinya. Demikian halnya dengan penyusunan skripsi ini,
tidak terlepas dari permasalahan tersebut diatas sesuai dengan maksud dan tujuan, situasi atau
kondisi masyarakat kita dewasa ini.


Sebagaimana kita ketahui bahwa pada akhir-akhir ini tindak pidana yang dilakukan oleh anak
atau remaja semakin meningkat, meresahkan masyarakat dan menyebabkan terjadinya kejahatan-
kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja tersebut. Hal ini dapat kita ketahui melalui
berbagai mass media yang antara lain : radio, surat kabar, televisi, majalah, serta media cetak
lainnya dan bahkan dari internet yang memberi kita informasi mengenai masalah kejahatan yang
dilakukan oleh anak atau remaja tersebut.


Batasan yang diajukan dalam menelaah mengenai pengertian anak / remaja, berdasarkan dari
pendapat pakar-pakar psikologi (Drs. Andi Mappiare mengutip Elizabeth B. Hurlock) dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku (Undang-Undang nomor 23 Tahun 2002 tentang
perlindungan Anak) menyebutkan bahwa pengertian remaja adalah suatu batasan usia dengan
rentang usia antara 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 21 (dua puluh satu) tahun.
Sedangkan pengertian anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun,
termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sehingga dalam batasan konsep penulisan hukum
ini adalah bagi anak / remaja dalam rentang usia antara 13 – 21 tahun.


Di bawah ini penulis ketengahkan beberapa contoh-contoh bentuk kenakalan anak / remaja yang
berpotensi menimbulkan kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja, dan dapat
dikategorikan kepada perbuatan yang dapat meresahkan masyarakat :
1. Perkelahian pelajar antar Sekolah Menengah Pertama maupun perkelahian
pelajar antar Sekolah Menengah Umum.


2. Kebiasaan merokok, menyalahgunakan narkotika serta minum-minuman keras yang
meresahkan masyarakat dan menimbulkan dampak negatif di lingkungan masyarakat.
3. Menyalahgunakan atau mempergunakan berbagai macam obat-obatan perangsang dan melihat
adegan atau pertunjukan 17 tahun keatas yang dapat memacu timbulnya kejahatan asusila atau
perbuatan cabul.


4. Sering bergaul dengan wanita-wanita yang mempunyai reputasi kurang baik di dalam
lingkungan masyarakat, sehingga menimbulkan tradisi Sex Bebas.
5. Kebebasan bergaul tanpa adanya pengawasan yang dapat menimbulkan
sikap brutal, liar dan anarki anak atau remaja.
6. Perjudian dikalangan anak atau remaja.


Mengenai kenakalan anak atau remaja tersebut kita tidak dapat menyalahkan mutlak sepenuhnya,
bahwa anak atau remajalah yang bersalah. Karena remaja sebelum menginjak masa remajanya,
tentu melewati masa anak- anak yang tidak terlepas dari bimbingan orang tua dan juga
keberadaan lingkungan tempat tinggalnya. Dalam hal ini penulis analisa bahwa masa anak- anak
adalah cikal bakal yang akan membentuk kepribadian menjadi remaja yang dewasa dan berbudi
luhur bila pada masa anak-anak mereka dididik dengan baik, teratur, diberi kasih sayang dan
perhatian yang cukup. Sebaliknya apabila pada masa anak-anak kurang atau tidak mendapatkan
perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, maka kelak anak tersebut dapat menjadi remaja
yang kurang berkepribadian, nakal dan hidup tidak teratur sehingga pada akhirnya menyebabkan
anak atau remaja tersebut terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif.
Sehubungan dengan masalah kenakalan anak-anak, banyak faktor
penyebab yang bisa disebutkan disini :
1. Kondisi pertumbuhan.
2. Kerusakan syaraf.
3. Tidak memperhatikan kebutuhan anak.


4. Pendidikan buruk.
5. Faktorperasaan.
6. Penyakit kejiwaan.
7. Faktorkesehatan.
8. Faktorkejiwaan.
9. Faktorperaturan.
10. Faktor ajaran buruk.1


Apabila kita berbicara mengenai masalah kenakalan anak atau remaja, tidak terlepas dari
generasi muda sebagai penerus cita-cita luhur bangsa Indonesia. Oleh karena itu mutlak
diperlukan adanya pembinaan generasi muda sesuai
1Ali Qaimi,Keluarga & Anak Bermasalah, Cahaya, Bogor, 2002, hal. 33.


dengan kepribadian bangsa dan Negara Indonesia yang berdasarkan kepada Pancasila (sebagai
falsafah ideologi Negara dan bangsa Indonesia) serta Undang- Undang Dasar 1945 dalam rangka
menciptakan manusia Pancasilais. Manusia Pancasilais disini mempunyai arti bahwa generasi
muda Indonesia adalah manusia yang baik mental maupun spiritualnya, dalam arti kata manusia
yang menjadi warga Negara yang baik serta menjadi warga dunia yang baik pula serta bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Generasi muda khususnya generasi muda Indonesia di dalam
pembangunan dewasa ini, harus dibimbing dan diarahkan agar menjadi manusia-manusia yang
bertanggung jawab kepada hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang baik, agar tercipta
dan tercapainya masyarakat adil dan makmur serta sejahtera tentram berdasarkan kepada
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.


Kebijaksanaan yang didasarkan atas keinginan masyarakat haruslah dipupuk dengan
menyempurnakan usaha-usaha pemerintah dalam rangka pembinaan terhadap generasi muda
tersebut, baik usaha penyempurnaan dalam bidang perencanaan, pengarahan, pembinaan serta
pembiayaan sekaligus dengan pelaksanaannya pada anak atau remaja tersebut. Sehubungan
dengan pembinaan generasi muda ini, perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh anak atau remaja
sebagai generasi muda bangsa Indonesia adalah merupakan suatu kejahatan maupun pelanggaran
terhadap ketertiban masyarakat dan Undang-Undang khususnya Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana ( KUHP ), Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak dan Undang-
Undang No. 23 tahun 2002


tentang Perlindungan Anak yang telah banyak menarik perhatian masyarakat
umum atas permasalahan terhadap anak atau remaja tersebut.


Lingkungan keluarga merupakan faktor yang sangat dominan sekali di dalam hal
penanggulangannya, baik ke dalam lingkungan keluarga sendiri maupun di luar lingkungan
keluarga yang secara otomatis pengawasan terhadap anak atau remaja berkurang. Sehingga
nantinya dapat terlihat intensitas peran suatu rumah tangga dan pengaruhnya terhadap kenakalan
anak atau remaja serta perkembangan kehidupan remaja yang dilahirkan dalam suatu rumah
tangga maupun baik-buruknya sikap dan tingkah laku seorang anak atau remaja dalam
lingkungannya maupun dalam keluarganya tersebut.


Pembangunan di Negara Indonesia selama kurun waktu masa orde baru hingga masa reformasi
saat ini, telah banyak membawa perubahan-perubahan di seluruh sektor kehidupan baik itu
ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Perkembangan dan perubahan yang terjadi antara lain
adalah perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat agraris yang berorientasi kepada
kegiatan industri, perdagangan dan jasa. Hal ini juga dilecut oleh adanya dampak globalisasi
yang secara tidak langsung juga mempengaruhi gaya hidup masyarakat Indonesia. Sejalan
dengan hal tersebut, kemajuan pembangunan sarana dan prasarana fisik di wilayah perkotaan
serta timbulnya dampak dari perubahan orientasi pekerjaan masyarakat desa di usia yang
produktif dari pertanian ke non- pertanian, mendorong lajunya migrasi secara besar-besaran dari
desa ke kota. Hal inilah yang membuat populasi kehidupan wilayah perkotaan menjadi
meningkat, sehingga menimbulkan prospek pekerjaan yang lebih luas di wilayah perkotaan.




Tetapi di sisi lain kondisi pendidikan di daerah pedesaan pun lebih mengarah kepada pendidikan
umum yang memberi pilihan alternatif minat pekerjaan, dimana ruang pekerjaan semakin
berkurang yang menyebabkan keterbatasan pekerjaan bagi para lulusan pendidikan yang ada.


Wilayah Kota Bekasi yang merupakan salah satu bagian dari daerah industri di Jabotabek
mengalami perkembangan yang pesat di segala bidang pembangunan. Mulai berdirinya Mall,
Perusahaan-perusahaan di bidang industri, perdagangan dan jasa hingga terpenuhinya sarana dan
prasarana umum, seolah- olah menjanjikan kesejahteraan bagi para penduduk dan juga para
pendatang. Dengan sendirinya, dari tahun ke tahun populasi penduduk kota bekasi mengalami
peningkatan jumlah dengan cepat. Keterbatasan lahan-lahan perkotaan bagi kepentingan
pemukiman membuat sebagian warga yang kurang mampu, menempati sudut-sudut kota yang
padat, kumuh dan berbagai keterbatasan serta kekurangannya. Di lain sisi, gemerlap kehidupan
kota bekasi yang lain menggambarkan kemajuan ekonomi tersirat dari berbagai atribut
kemakmuran.


Dampak dari perubahan sosial yang pesat ini dapat di lihat pada sikap dan perilaku
masyarakatnya. Meningkatnya penyimpangan perilaku sosial merupakan salah satu akibat yang
harus diterima oleh masyarakat yang sedang membangun, masyarakat yang sedang mengalami
perubahan kearah masyarakat modern. Penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh anak
atau remaja, sehingga berbuah timbulnya suatu kejahatan dewasa ini menjadi suatu permasalahan
yang serius dan mengkhawatirkan serta harus segera ditanggulangi. Cukup beralasan apabila
masalah kenakalan anak atau remaja ini dianggap sebagai permasalahan




nasional, yang harus ditanggulangi secara efektif dan sedini mungkin oleh bangsa Indonesia pada
umumnya. Pemerintah dan instansi yang terkait dengan masalah kenakalan anak atau remaja
pada umumnya, adalah pihak yang sangat berperan dalam penanggulangan kejahatan yang
disebabkan oleh anak atau remaja tersebut. Sehingga pada akhirnya akan tercapai tujuan bersama
yaitu adanya suatu kehidupan yang adil dan makmur serta menyelamatkan para generasi muda
Indonesia sebagai asset bangsa dan Negara yang nilainya sangat berharga.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis mengajukan Penulisan
Hukum dengan judul, :“PENANGGULANGAN KENAKALAN ANAK /
REMAJA YANG MENIMBULKAN KEJAHATAN DI KOTA BEKASI ”.
B. Perumusan Masalah


Di dalam penelitian ini ada beberapa pokok permasalahan yang akan penulis kemukakan dan
berkaitan erat dengan materi penelitian yang akan penulis bahas, adapun masalah-masalah
tersebut antara lain :
1. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan timbulnya suatu kejahatan yang
ditimbulkan akibat kenakalan oleh anak / remaja ?
2. Sanksi apakah yang dijatuhkan atas timbulnya kejahatan akibat kenakalan
anak / remaja tersebut ?


3. Bagaimanakah usaha-usaha aparat penegak hukum dalam penanggulangan terhadap timbulnya
kejahatan anak / remaja yang diakibatkan oleh kenakalan anak / remaja tersebut.
8
C. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan ilmiah pastilah mempunyai makna dan tujuan yang hendak
dicapai. Demikian halnya dengan penelitian yang penulis lakukan ini.
Adapun tujuan penelitian yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Tujuan Subyektif.


Tujuan penelitian ini adalah guna menyusun penulisan hukum yang merupakan salah satu syarat
yang harus dipenuhi oleh mahasiswa Fakultas Hukum untuk memperoleh gelar Sarjana ( S1 )
dibidang Ilmu Hukum.
2. Tujuan Obyektif.
Tujuan obyektif dari penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya
kejahatan sebagai akibat dari kenakalan anak / remaja.
b. Untuk mengetahui sanksi atau hukuman yang dijatuhkan atas
kejahatan yang dilakukan anak / remaja.


c. Memperoleh cara-cara penanggulangan terhadap timbulnya kejahatan anak / remaja yang
dilakukan oleh aparat penegak hukum.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini ditujukan kepada :
1. Bagi Mahasiswa.
9
Agar para mahasiswa khususnya mahasiswa fakultas hukum dapat menambah pengetahuan dan
pemahaman mengenai kejahatan yang ditimbulkan akibat kenakalan anak / remaja secara
menyeluruh dari pada masyarakat umum di dalam mengkaji dan menganalisa serta cara
penangulangannya.
2. Bagi Masyarakat.


Agar masyarakat dapat lebih sensitif terhadap suatu permasalahan yang terjadi di dalam
lingkungan masyarakat, dalam hal ini menyangkut pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan
hukum. Sehingga pada akhirnya masyarakat dapat mengerti dan menjalankan setiap aspek
kehidupan berdasarkan hukum.
E. Tinjauan Pustaka


Kenakalan anak atau remaja yang pada zaman yang semakin modern ini semakin mencemaskan
dan menjurus pada timbulnya kejahatan, yang sangat dikhawatirkan pada masa depan bangsa dan
Negara Indonesia kelak. Hal ini tentunya menjadi suatu permasalahan pokok, karena anak atau
remaja merupakan buah yang akan dipetik keberadaannya demi kelangsungan kehidupan
berbangsa dan bernegara dimasa depan nanti. kenakalan anak atau remaja yang dilakukan dapat
berupa kenakalan yang berkelompok. Hal ini dapat diketahui dengan banyaknya jumlah pelaku
kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja yang terjadi di dalam masyarakat. Berikut
adalah contoh yang dapat penulis kemukakan


dari bentuk kenakalan anak atau remaja yang berpotensi menimbulkan kejahatan
dan dilakukan dengan berkelompok adalah :
1. Perkelahian atau tawuran pelajar yang dilakukan oleh siswa Sekolah
Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas.
2. Perampokan di sarana angkutan umum dan bahkan tempat-tempat
umum.


3. Kejahatan yang dilakukan dengan menyebabkan korbannya menderita luka baik itu secara
fisik ataupun non-fisik hingga kejahatan yang menyebabkan korban jiwa.
”Bukan hanya pencopet dan penodong yang berkeliaran di angkutan, pembajak juga yang
beraksi dengan beringas. Parahnya lagi yang membajak itu adalah para pelajar yang baru berusia
belasan tahun.Kok bisa tunas-tunas bangsa berwatak penjahat dalam batas usia sedini itu? ”.2


Kejahatan yang dilakukan secara berkelompok ini, pada kenyataannya lebih memprihatinkan
ketimbang kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja secara individu. Hal ini dapat
disebabkan karena dengan cara berkelompok mereka lebih berani dalam melakukan kejahatan,
dan dengan melakukan secara berkelompok mereka merasa lebih jantan, merasa disegani satu
sama lainnya dan juga terdapat suatu perasaan kebersamaan. Kejahatan yang dilakukan secara
berkelompok ini, lebih banyak mendapatkan perhatian masyarakat bila
2Subhan SD,Danger Zone Jalanan, Perempatan, & Kawasan Rawan di Jakarta, Cetakan
pertama, Gagas Media, Jakarta, 2003, hal 151.


dibandingkan dengan kejahatan yang dilakukan perseorangan oleh anak atau
remaja.


Kecenderungan berperilaku agresif berarti tingkah laku dalam tataran kawasan afektif. Afektif
merupakan aspek tingkah laku yang mencakup perasaan dan emosi serta menggambarkan
sesuatu di luar ruang lingkup kesadaran, misalnya: minat, motivasi, nilai, keyakinan, aspirasi,
konsep diri, dan sebagainya. Status afeksi seseorang terdiri dari tiga komponen yaitu emosi,
kognisi dan tingkah laku. Apabila dianalisis afeksi seseorang terhadap sesuatu, maka komponen
emosi yang dominan sebagai perasaan subyektif yang dipunyai orang tersebut terhadap suatu
obyek.3


Dalam wujudnya kenakalan anak atau remaja tersebut membawa dampak psikologis di dalam
masyarakat. Sama halnya kejahatan yang dilakukan oleh orang dewasa, kejahatan yang
dilakukan oleh anak atau remaja ini, sudah barang tentu memiliki jenis-jenis kejahatan.
Jensen membagi kenakalan anak / remaja menjadi 4 jenis, yaitu :
1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain; perkelahian,
perkosaan, perampokan, pembunuhan dll.
2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi ; perusakan, pencurian,
pencopetan, pemerasan dll.


3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain ; pelacuran,
penyalahgunaan obat. Di Indonesia mungkin dapat juga dimasukan hubungan seks sebelum
menikah dalam jenis ini.


4. Kenakalan yang melakukan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan
cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah
perintah mereka dan sebagainya. Pada usia mereka, perilaku-perilaku mereka memang belum
melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya, karena yang dilanggar adalah status-status
dalam lingkungan primer ( keluarga ) dan sekunder ( sekolah ) yang memang tidak diatur oleh
hukum secara terinci. Akan tetapi kalau kelak remaja ini dewasa, pelanggaran status ini dapat
dilakukannya terhadap atasannya di kantor / petugas hukum di dalam masyarakat. Karena itu
pelanggaran ini oleh Jensen digolongkan juga sebagai kenakalan dan bukan sekedar perilaku
menyimpang4.
3Hasballah M Saad,Perkelahian Pelajar : Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, Galang Press,
Yogyakarta, 2003, hal 11, Dikutip dari Henry Clay Lindgren,Educational Psychology in the
classroom(5 th ed.), New York, John Wiley & Sons Inc, 1976, hal 98.
4Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, Cetakan ketiga, PT.Raja Grafindo Perkasa,
Jakarta,
2000, hal.200-201.
12
Kenakalan anak / remaja juga dapat digolongkan dalam dua kelompok
yang besar kaitannya dengan norma hukum, yakni :


1. Kenakalan yang bersifat a-moral dan a-sosial serta tidak diatur dalam undang-undang
sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggar hukum.


2. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-
undang dan hukum yang berlaku. Hal ini sama dengan perbuatan melanggar hukum bilamana
perbuatan itu dilakukan oleh orang dewasa5.
Kenakalan anak atau remaja yang menurut istilah hukum sebagai
“
Juvenile Delinquency“, terlalu sering dilakukan oleh anak atau remaja terhadap


lingkungannya. Hal ini dapat disebabakan karena anak atau remaja tersebut sedang dalam proses
mencari jati diri untuk menjadi manusia dewasa. Dilain sisi, kenakalan tersebut adalah sebuah
bentuk kebebasan yang tidak terkontrol oleh orang tua, masyarakat dan Negara, sehingga
kenakalan tersebut cenderung kebabalasan dan menimbulkan suatu kejahatan yang melawan
hukum.


Sebagai dampak lain dari pesatnya kemajuan pembangunan diwilayah perkotaan. Gairah anak
atau remaja didalam bersosialisasi dan berkehidupan tentunya mengalami trend pola pikir dan
gaya hidup yang cenderung bebas. Adanya kesenjangan kehidupan antara satu dengan lainnya,
menjadikan satu alasan lain mengapa dapat timbul kejahatan anak atau remaja. Tingkat
pergaulan dengan sesama dapat menentukan kehidupan anak atau remaja tersebut. ”Dengan kata
lain, ada kesenjangan ekonomi, sosial dan budaya yang terpapar setiap hari. Kesenjamgan sosial
yang tajam dan empirik telah menimbukan perasaan cemburu
5Ibid., Hal 200.
13
bagi yang tidak mampu dan pada gilirannya dapat pula menimbulkan perilaku
penyimpangan sosial dengan berbagai akibatnya”.6


Persoalan rezeki, ekonomi dan kebutuhan material adakalanya menyebabkan keterjatuhan anak-
anak dan remaja ke dalam jurang kebejatan moral atau tindak kriminal. Seorang sahabat bagi
seseorang ibarat sebuah mobil yang membawa teman-temannya; ketika mobil itu jatuh ke jurang,
maka seluruh penumpang yang berada di dalamnya niscaya akan ikut terjatuh. Bila seorang
sahabat berada dalam kesesatan, secara otomatis kesesatan itu akan menular kepada orang-orang
yang bersamanya7.


Bagi seorang anak atau remaja, pendidikan sangatlah diperlukan untuk bekal dan kehidupannya
agar jangan sampai terjerumus kedalam hal-hal yang dapat menyebabkan
kenakalan sehingga dapat menimbulkan suatu tindak kejahatan. Tidaklah mudah memberikan
pendidikan kepada anak atau remaja, karena antara yang satu dengan yang lainnya terdapat
perbedaan karakter, sikap dan tindakan. Perbedaan diantara anak atau remaja inilah yang dapat
menjadi penghambat tumbuhnya anak atau remaja yang baik budi pekertinya. Selain itu
diperlukan juga adanya kemantapan dalam mendidik anak atau remaja, agar dapat berkembang
dengan baik dan menjalin kontak pengertian antara pendidik dengan anak atau remaja tersebut.
Adapun sebab-sebab timbulnya kesulitan-kesulitan tersebut di atas
masing- masing ialah :


1. Kemalasan dan kesewenang-wenangan sang oknum pengajar itu sendiri belaka serta tidak
adanya rasa tanggung jawab yang bersangkutan atas pelaksanaan tugasnya.


2. Kurangnya kemantapan atau konsistensi kerja dan berpikirnya pengajar yang bersangkutan
sehingga ia mudah terpengaruh oleh berbagai saran orang lain yang dengan bulat-bulat
dikabulkannya saja tanpa disaring dan
6Sardjono Jatiman,Studi Langkah-langkah Penanggulangan Kenakalan Anak Sekolah, ( Jakarta :
Departemen Kehakiman RI-Badan Pembinaan Hukum Nasional ), hal. 1.
7Ali Qaimi,Op. Cit., hal. 5.
14
dipertimbangkan dahulu baik-buruknya serta untung-ruginya menuruti
saran tersebut.


Di samping itu ia pun mungkin juga begitu mudah terpengaruh oleh berbagai kebijaksanaan dan
metode mengajar dari guru-guru lainnya sehingga ia hanya mencontoh-contoh saja dari metode
yang satu ke metode yang lain tanpa dipikirnya lagi akibat dari caranya mengajar itu bagi para
muridnya. Sebab lain yang dapat menjadi gejala penimbul kesulitan ini ialah adanya sifat
pembosan pada diri pengajar yang bersangkutan.
3. Tidak adanya bakat/hobi mendidik pada orang tua atau wali anak yang
bersangkutan.
Hal ini dapat kita mengerti bila seandainya orang tua atau wali tersebut bukanlah seorang guru
sehingga mereka tidak memiliki pandangan dan pengalaman yang cukup tentang liku-liku
pendidikan serta tanggapan kejiwaan anak mereka sendiri terhadap pendidikan yang telah
diperolehnya itu.


4. Kurang mempunyai atau kurang maunya sang ayah atau sang ibu itu untuk membagi dan
menyediakan waktu bagi pendidikan anaknya, berhubung sudah adanya orang lain yang
diandalkan sebagai penanggung jawab penuh untuk hal ini (misalkan istrinya atau suaminya atau
orang lain lagi yang sudah dipercaya dan sebagainya).


5. Memang terlampau sulitnya atau terlampau beratnya mata pelajaran yang dihadapi sehingga
baik bagi pihak guru maupun murid kesulitan tersebut tetap terasa meskipun kedua belah pihak
telah sama-sama berusaha keras untuk mengatasinya.8


Untuk menanggulangi kenakalan anak atau remaja yang sudah menjurus pada perilaku yang
bertentangan dengan perbuatan pidana, secara teori diajukan beberapa konsep tindakan, yaitu
tindakan Preventif, Represif dan Kuratif. Beberapa tindakan tersebut merupakan usaha
pencegahan agar masyarakat dapat terhindar dari merajalelanya kenakalan anak atau remaja dan
sekurang-kurangnya merupakan pembatasan atas perkembangan kenakalan anak atau remaja.
Cara-cara dalam usaha penanggulangan kejahatan antara lain yang
terpenting adalah :
1. Prevensi kejahatan arti luas yang meliputi :
8A. Ridwan Halim,Tindak Pidana Pendidikan (Suatu Tinjauan Filosofis-Edukatif), Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1985, hal.31 - 32.
15
Reformasi dan prevensi dalam arti sempit.
2. Prevensi kejahatan arti sempit meliputi :


a.Moralistik : menyebarluaskan dikalangan masyarakat sarana-sarana untuk memperteguh moral
dan mental seseorang agar dapat terhindar dari nafsu ingin berbuat jahat ; sarana tersebut adalah
ajaran-ajaran agama, etika, budi pekerti, norma-norma sosial dll.
b.Abolionistik : berusaha mencegah kemungkinan timbulnya kejahatan dengan meniadakan
faktor-faktor yang terkenal sebagai penyebab timbulnya kejahatan. Umpamanya : memperbaiki
ekonomi rakyat untuk mencegah kejahatan yang disebabkan oleh tekanan ekonomi
(penggangguran, kelaparan) ; mempertinggi kebudayaan dan peradaban dll sebagainya.
3. Berusaha melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap kejahatan


dengan berusaha menciptakan :
a. Sistim, organisasi dan perlengkapan kepolisian yang baik.
b. Sistem pengadilan yang efektif.
c. Hukum (Perundang-undangan) yang berwibawa.
d. Komisi-komisi penanggulangan kejahatan bersama dll.
4. Mencegah kejahatan dengan pengawasan dan patroli yang teratur.
5. Prevensi kenakalan anak-anak sebagai sarana pokok dalam usaha prevensi
kejahatan pada umumnya.9


Kurangnya perhatian kepada anak / remaja menjadi salah satu penyebab timbulnya kenakalan.
Hal ini berhubungan dengan tingkat keberfungsian sosial sebuah keluarga sebagai ruang terkecil
pembentuk kepribadian dan sikap anak / remaja. Dalam fungsinya, sebuah keluarga menjadi
pendorong anak / remaja. Semakin baik keluarga yang ada, maka semakin rendah tingkat
kenakalan anak / remaja atau kualitas kenakalan semakin rendah dan baik pula anak / remaja
yang berhasil dibentuknya. Keberfungsian sosial keluarga mengandung pengertian adanya
pertukaran dan kesinambungan, serta adaptasi antara keluarga dengan anggotanya, dengan
tetangganya, dan dengan lingkungan sosialnya. Kemampuan berfungsi sosial secara positif dan
adaptif bagi sebuah keluarga salah satunya jika
9Soedjono Dirdjosisworo,Penanggulangan Kejahatan, Cetakan ketiga, Alumni, Bandung, 1983,
hal 152-153.
16


berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan dan fungsinya terutama dalam
sosialisasinya terhadap anggota keluarga serta mendidik dan membina anak / remaja.
F. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian dari penelitian
skripsi ini adalah ;
1. Tipepenelitian.
a. Penelitian Kepustakaan (Library Research).
Yaitu penelitian yang berdasarkan apa yang terdapat dalam buku maupun
data yang berkaitan erat dengan skripsi ini secara akurat.
b. Penelitian Lapangan (Field Research).


Yaitu penelitian dengan menggambarkan situasi yang sebenarnya berdasarkan fakta-fakta yang
terdapat dan ditemukan dalam penelitian skripsi ini.
2. Pendekatan penelitian
Pendekatan Hukum Pidana.
Yaitu berdasarkan tinjauan Hukum Pidana terhadap kaitannya dengan
skripsi ini berupa sanksi dan jenis-jenis ancaman pidana (sanksi).
3. Teknik pengumpulan data.
a. Quisionertertutup.
Yaitu membuat pertanyaan dalam bentuk daftar dimana pertanyaan
tersebut langsung diberikan kepada narasumber untuk dijawab.
17
b. Wawancara.
Yaitu mewawancarai langsung baik narasumber maupun pelaku.
c. StudiDokumen.
Yaitu mengumpulkan data yang dilakukan melalui data tertulis hasil
penelitian dilapangan.
4. Lokasi penelitian.
a. Polres Kota Bekasi.
b. Pengadilan Negeri Bekasi.
5. Responden.
a. Kompol Wijanarko, Sik. Sebagai KABAG BINAMITRA Polres Metro
Bekasi.
b. Muhammad Ali Als ILAY bin Mamit, sebagai pelaku kejahatan anak.
c. Ratna Suminar, SH. MH. Sebagai Panitera Muda Hukum Pengadilan
Negeri Bekasi.
d. Anak / Remaja Kota Bekasi dalam batasan usia 13 – 19 Tahun.
6. Analisadata.


Yaitu menganalisa data yang diperoleh dengan pengolahan data deskriptif kualitatif, yang berupa
keterangan responden dan data hasil penelitian. Dianalisis dengan menerapkan teori-teori yang
ada secara konsisten, sistematis, komprehesif ( menyeluruh ) dan benar.
18
G. SISTEMATIKA PENULISAN


Skripsi ini di bagi dalam 5 (lima) Bab terdiri dari sub-sub bab yang diuraikan secara terperinci
dan disusun secara hierarki. Sehingga yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan erat,
serta uraian terdahulu dijabarkan uraian selanjutnya demikian seterusnya sehingga merupakan
satu rangkaian yang tidak terputus-putus sampai kepada penyelesaian akhir.
Lebih jelasnya penulis menguraikan ke dalam 5 (lima) bab tersebut :
BAB I


: Merupakan pendahuluan, disini diterangkan alasan pemilihan judul, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II
:


Dalam bab ini diterangkan uraian-uraian teoritis mengenai : pengertian anak atau remaja,
pengertian kenakalan anak atau remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya kenakalan
anak atau remaja, akibat-akibat yang ditimbulkan dari kenakalan anak atau remaja, serta upaya
penanggulangannya.
BAB III
: Dalam bab ini dibahas mengenai ketentuan hukum tentang kenakalan anak atau remaja ditinjau
dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang Peradilan Anak dan
Undang-Undang Perlindungan Anak mengenai anak atau remaja di bawah umur, aspek
19
perlindungan terhadap anak / remaja, serta upaya
penanggulangan kenakalan anak atau remaja di kota bekasi.
BAB IV


: Dalam bab ini menganalisa kasus-kasus kejahatan dan data quesioner sebagai akibat dari
timbulnya kenakalan anak atau remaja yang terjadi di kota bekasi.
BAB V


: Bab ini merupakan rangkaian akhir dari skripsi ini, dimana isinya merupakan rangkuman atau
kesimpulan dari keseluruhan penelitian, dimulai dari bab satu sampai dengan bab lima, dan berisi
saran-saran. Sebagai tambahan dicantumkan daftar kepustakaan dan lampiran-lampiran sebagai
pelengkap dari skripsi ini.
20
BAB II
TINJAUAN MENGENAI KENAKALAN ANAK / REMAJA
A. Pengertian Kenakalan Anak / Remaja
1. Pengertian Anak / Remaja.


Masa remaja apabila diperhatikan perkembangan manusianya sejak masih berada dalam
kandungan sampai dengan masa kelahiran terlihat bahwa setiap orang akan mengalami
perubahan. Bila dilihat dari perubahan fisik, biasanya perubahan tersebut hampir sama antara
satu dengan lainnya. Seolah-olah ada batas-batas perubahan yang sama antara satu dengan yang
lainnya, selama proses perkembangan berjalan. Tetapi ketika manusia memasuki masa remaja,
perkembangan antara pria dengan wanita terlihat perbedaan karena kodratnya. Hal ini
disebabkan mulai bekerjanya kelenjar kelamin pada setiap remaja. Masa remaja merupakan masa
yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khas dan perannya yang menentukan dalam
kehidupan dan lingkungan orang dewasa.
Masalah mengenai kenakalan anak atau remaja merupakan masalah yang selalu menarik, hal ini
disebabkan karena kenakalan anak atau remaja akan selalu terjadi pada setiap generasi bangsa.
Apabila berbicara tentang anak atau remaja, seringkali timbul pertanyaan, umur berapakah
seseorang tersebut dikatakan remaja?.


Sebenarnya batasan umur seorang remaja tidak dapat ditentukan begitu saja. Karena di samping
belum ada kesepakatan pendapat diantara para ahli mengenai klasifikasi umur, juga disebabkan
karena masalah tersebut bergantung
21
pada keadaan masyarakat di mana remaja tersebut hidup dan bergantung dari
sudut mana pengertian itu ditinjau.


Dalam pengertian yang dikemukakan oleh pakar psikologi (Dr. Kartini Kartono), remaja adalah
suatu tingkatan umur, dimana seorang anak tidak lagi bersikap seperti anak-anak, tetapi belum
dapat juga dipandang sebagai orang dewasa. Jadi seorang anak atau remaja adalah batasan umur
yang menjembatani antara umur anak-anak dengan dewasa.


Pada masa remaja ini adalah merupakan masa-masa yang rawan bagi suatu generasi. Karena
pada masa ini remaja ditempatkan disuatu pilihan menuju tahap kedewasaan antara
mempertahankan potensi keremajaannya dengan hal-hal negatif yang dapat membuat remaja
tersebut terperosok ke dalam kenakalan. Oleh dari itu masalah kenakalan anak atau remaja ini
bukanlah merupakan masalah yang baru pada tiap-tiap kehidupan generasi bangsa, serta dapat
dipastikan bahwa pada masa-masa ini akan timbul suatu bentuk kenakalan antara satu dengan
yang lainnya yang berbeda-beda ukuran kenakalannya. Hanya saja bentuk kenakalan tersebut
tidaklah sama antara generasi satu dengan seterusnya, ada kemungkinan kenakalan anak atau
remaja tersebut semakin melampaui batas-batas kewajaran nakal.
Ada batasan-batasan mengenai kapan seseorang anak itu dianggap dewasa:
1. Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah dua puluh satu tahun,
sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan
perkawinan.10
2. Belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua
puluh satu tahun, dan tidak lebih dahulu menikah. Apabila perkawinan
10Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991,Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia, (Jakarta :
Departemen Agama RI-Badan Pembinaan kelembagaan Agama Islam), 2000. hal. 50.
22
dibubarkan sebelum umur mereka genap dua puluh satu tahun, maka
mereka tidak kembali lagi dalam kedudukan belum dewasa.11
3. Belum cukup umur (minderjarig) karena melakukan perbuatan sebelum
umur enam belas tahun.12


4. Menurut Hukum Adat “anak-anak dibawah umur” adalah mereka yang belum menunjukkan
tanda-tanda fisis yang konkrit, bahwa ia telah dewasa.13
Sehubungan dengan hal tersebut Zakiah Darajat mengemukakan :


Remaja adalah usia transisi seorang individu yang telah meninggalkan usia kanak-kanak, yang
lemah dan penuh ketergantungan akan tetapi belum mampu ke usia dewasa yang kuat dan penuh
tanggung jawab baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat. Banyaknya masa transisi ini
bergantung kepada keadaan dan tingkat sosial masyarakat dimana ia hidup. Selain itu harus
mempersiapkan diri untuk mampu menyesuaikan dengan masyarakat yang banyak syarat dan
tuntutannya. Namun demikian secara sederhana dan umum menurut masyarakat maju, masa
remaja itu lebih kurang antara 13 tahun dan 21 tahun.14


Setelah ditelusuri dan dilihat dari peraturan perundang-undangan, maka seseorang itu dapat
diklasifikasikan sebagai seorang remaja apabila belum berumur 21 tahun atau terlebih dahulu
menikah sebelumnya.
Dari keterangan yang dikemukakan di atas terlihat adanya keanekaragaman pendapat mengenai
batasan umur remaja. Karena selama masa remaja akan timbul masalah-masalah yang
menentukan bagaimana anak atau remaja itu bersikap dan menghadapi.
2. Pengertian Kenakalan Anak / Remaja.
Kenakalan anak / remaja yang menurut istilah hukum “juvenile
delinquency” bukanlah suatu pengertian yang sederhana karena pengertian ini
11R. Subekti dan R. Tjitrosudibjo, Cetakan keduapuluh dua,Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 1990. hal. 76.
12Moeljatno, Cetakan keduapuluh satu,Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Bumi Aksara,
Jakarta, 2001. hal.22.
13Soedjono Dirdjosisworo,Op. Cit., hal. 230.
14Zakiah Darajat,Pembinaan Remaja, Bulan Bintang, Jakarta, 1982, hal. 10.
23


mencakup semua orang yang masih muda usianya. Kenakalan anak atau remaja berarti hal-hal
yang berbeda bagi individu-individu yang berbeda dan ini berarti hal-hal yang berbeda bagi
kelompok-kelompok yang berbeda.


Dalam hal ini hampir segala bentuk perbuatan anak atau remaja yang nyata bersifat melawan
hukum dan anti sosial tidak disukai oleh masyarakat atau bahkan pula dapat merugikan orang
lain dapat disebut sebagai kenakalan anak / remaja. Karena perbuatan-perbuatan anak atau
remaja tersebut menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat
merusak.
Kenakalan berasal dari kata nakal. Kata nakal mempunyai dua arti yaitu :
a. Suka berbuat kurang baik (tidak menurut, menggangu, jahil dan
sebagainya, terutama bagi anak-anak).
b. Buruk kelakuan (lacur dan sebagainya)15
Kenakalan anak-anak terbagi dalam dua jenis ; kenakalan yang dilakukan
secara sadar dan sengaja, serta kenakalan secara tidak sadar dan tanpa sengaja.
1. Dalam melakukan kenakalan secara sadar dan sengaja, pada dasarnya seorang anak
memahami betul perbuatan buruk yang dilakukannya. Ia tahu bahwa dirinya tengah melakukan
perbuatan tercela dan sadar terhadap apa yang diperbuatnya. Namun ia sengaja melakukan
kenakalan itu demi memaksa orang tuanya untuk memenuhi keinginannya.


2. Adapun kenakalan secara tidak sadar dan tanpa sengaja terjadi di mana seorang anak
melakukan perbuatan buruk tanpa memahami keburukan perbuatannya itu. barangkali ia
menyangka apa yang dilakukannya demi mencapai keinginannya itu sebagai perbuatan baik.
Kenakalan anak secara tidak sadar dan tanpa sengaja akan menyebabkan seorang anak memiliki
sikap emosional, bahkan adakalanya sampai memicu terjadinya kelainan jiwa16.
15B. Simanjuntak,Latar Belakang Kenakalan remaja Etiologi Juvenile Delinquency, Alumni,
Bandung, 1979. hal. 20.
16Ali Qaimi,Op. Cit., hal. 20 - 21.
24


Di Indonesia masalah kenakalan anak atau remaja ini dirasa telah mencapai tingkat yang
meresahkan masyarakat. Kondisi sosial ini memberi dorongan yang kuat kepada pihak-pihak
yang bertanggung jawab mengenai masalah ini, baik kelompok edukatif di lingkungan sekolah
dan instansi pendidikan lainnya serta kelompok pakar hukum di bidang penyuluhan dan
penegakan hukum, pimpinan atau tokoh-tokoh masyarakat di bidang pembinaan kehidupan
bermasyarakat dan pemerintah sebagai pembentuk kebijakan-kebijakan umum dalam membina,
mencipta dan memelihara keamanan dan ketertiban di dalam lingkungan berbangsa dan
bernegara. Faktor lainnya yang tidak boleh dikesampingkan adalah peranan masyarakat dan
keluarga di dalam menunjang hal ini.


Permasalahan mengenai pertanggung jawaban akibat kenakalan yang berpotensi menimbulkan
kejahatan bagi anak di bawah umur secara langsung disinggung dalam pasal 45, 46 dan 47 Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).


PerbuatanJuvenile Delinquency menurut sudut pandang ilmu hukum, teristimewa hukum pidana
terdapat beberapa perbuatan yang nyata-nyata melawan hukum. Di tengah-tengah kehidupan
bermasyarakat, banyak bukti yang menunjukkan bahwa sering kali terjadi perbuatan melawan
hukum dilakukan oleh anak atau remaja. Di samping itu anak atau remaja yang melakukan
perbuatan melawan hukum sering kali melakukan delik kekerasan yang pada akhirnya kenakalan
anak atau remaja tersebut seringkali menjurus pada timbulnya kejahatan yang berakibat pada
kejahatan terhadap nyawa dan jasmani seseorang.
25


Tidak kalah seringnya kenakalan yang dilakukan oleh anak atau remaja tersebut meliputi
kejahatan pemerasan, delik-delik ini sering dilakukan di tempat-tempat umum yang ramai
dikunjungi orang.


Paradigma kenakalan anak atau remaja yang mengakibatkan kejahatan lebih luas cakupannya.
Kenakalan anak atau remaja tersebut saat ini meliputi perbuatan-perbuatan yang sangat
meresahkan di lingkungan masyarakat, sekolah maupun keluarga. Sebagai contoh dari kenakalan
ini antara lain : mencorat-coret tembok, pencurian dengan kekerasan, perkelahian antar pelajar,
mengganggu wanita di jalan sehingga menimbulkan pemerkosaan atau pencabulan, sikap anak
atau remaja yang memusuhi orang tuanya atau perbuatan-perbuatan lainnya yang tercela dan
memprihatinkan bangsa dan Negara berupa menggunakan narkotika, pornografi dan kejahatan
dunia maya (Cyber Crime).
B. Jenis-jenis Kenakalan Anak / remaja.


Kenakalan dalam diri seorang anak atau remaja merupakan perkara yang lazim terjadi. Tidak
seorang pun yang tidak melewati tahap / fase negatif ini atau sama sekali tidak melakukan
perbuatan kenakalan. Masalah ini tidak hanya menimpa beberapa golongan anak atau remaja di
suatu daerah tertentu saja. Dengan kata lain, keadaan ini terjadi di setiap tempat, lapisan dan
kawasan masyarakat.


Perbuatan anak atau remaja yang menimbulkan kenakalan dan bahkan menyebabkan terjadinya
kejahatan dapat dilihat melalui beberapa gejala tertentu. Antara lain, adanya ketidak laziman
yang berkenaan dengan pola makan,
27
Ad. 1. Kenakalan biasa.


Adalah suatu bentuk kenakalan anak atau remaja yang dapat berupa berbohong, pergi keluar
rumah tanpa pamit pada orang tuanya, keluyuran, berkelahi dengan teman, membuang sampah
sembarangan, membolos dari sekolah dan lain sebagainya.
Ad. 2. Kenakalan yang menjurus pada tindakan Kriminal.


Adalah suatu bentuk kenakalan anak atau remaja yang merupakan perbuatan pidana, berupa
kejahatan yang meliputi : mencuri, mencopet, menodong, menggugurkan kandungan,
memperkosa, membunuh, berjudi, menonton dan mengedarkan film porno, dan lain sebagainya.
Ad. 3. Kenakalan Khusus.


Adalah kenakalan anak atau remaja yang diatur dalam Undang- Undang Pidana khusus, seperti
kejahatan narkotika, psikotropika, pencucian uang (Money Laundering), kejahatan di internet
(Cyber
Crime), kejahatan terhadap HAM dan sebagainya.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kenakalan Anak /
Remaja.


Kenakalan anak atau remaja tidak timbul dan ada begitu saja dalam setiap kehidupan, karena
kenakalan-kenakalan tersebut mempunyai penyebab yang merupakan faktor terjadinya kejahatan
anak atau remaja. Untuk mengetahui sebab musabab timbulnya kenakalan anak / remaja harus
diperhatikan faktor-
28
faktor dari dalam diri anak / remaja tersebut, faktor keluarga, lingkungan dan hal-
hal lainnya yang dapat mempengaruhi seseorang anak itu melakukan kenakalan.


Kenakalan anak / remaja yang sering terjadi di dalam masyarakat bukanlah suatu keadaan yang
berdiri sendiri. Kenakalan anak / remaja tersebut timbul karena adanya beberapa sebab dan tiap-
tiap sebab dapat ditanggulangi dengan cara-cara tertentu. Pada pendahuluan skripsi ini telah
disinggung beberapa faktor- faktor yang menjadi penyebab timbulnya kenakalan tersebut, antara
lain :
1. Kondisi pertumbuhan.


Adakalanya kenakalan seorang anak / remaja terjadi pada tahap-tahap pertumbuhannya.
Sebagaimana yang sering kita saksikan, pada tahapan- tahapan tertentu, sang anak mulai
menunjukkan kemandiriaannya dan tidak bersedia terikat dengan aturan apapun. Ia berusaha
menundukkan orang lain dan menolak mengikuti setiap perintah. Dalam mencapai
kemandiriannya, sang anak melakukan kenakalan dan berulah tertentu demi melancarkan protes
(dengan kata-kata) atau kritikan. Dengan cara seperti inilah, ia ingin menunjukkan
kepribadiannya. Kenakalan seperti ini harus segera diperbaiki. Dan sang anak harus segera
dikembalikan ke dalam kondisinya yang normal dan alamiah.
2. Kerusakan syaraf.


Sebagian anak-anak, dikarenakan kerusakan syarafnya, selalu mempersulit keadaan, bersikap
sensitif, dan senang mencari-cari alasan. Ia memiliki banyak keinginan dan ingin segera
mewujudkannya tanpa melalui pertimbangan yang matang. Ketika keinginannya dihambat, ia
akan berulah dan berbuat nakal. Kerusakan syaraf ini besar kemungkinan berasal dari faktor
genetik atau kondisi lingkungan yang kurang baik. Atau terkadang bersumber dari sejumlah
penyakit lainnya.
3. Tidak memperhatikan kebutuhan anak.


Adakalanya kenakalan seorang anak timbul lantaran faktor orang tua, khususnya ibu, yang tidak
memperhatikan segenap kebutuhannya. Misalnya, sang anak meminta makan kepada ibunya, dan
ibunya itu kemudian berkata, “bersabarlah!” mendengar jawaban itu, sang anak akan mulai
menangis dan merengek-rengek menuntut pemenuhan keinginannya. Atau seorang anak yang
suka makan (banyak), kemudian meminta makanan dari kedua orang tuanya. Memang, orang
tuanya itu tidak menghalangi atau mencegah keinginannya. Namun pemberian mereka itu masih
dianggap kurang oleh sang anak. Atau seorang anak menghendaki sesuatu dari toko, dan kedua
orang tuanya tidak memenuhi keinginannya
29
atau menolaknya dengan cara-cara yang kasar. Disebabkan inilah, sang
anak kemudian berbuat nakal dan bersikeras untuk meraih keinginannya.
4. Pendidikan buruk.


Dalam hal ini bisa dianggap pendidikan yang salah kaprah, berhubungan dengan cara pendidikan
anak yang keliru, yang kemudian menimbulkan pelbagai dampak (buruk).


Adakalanya seorang ibu terlampau berlebihan dalam mencurahkan perhatian dan kasih sayang
kepada anak-anaknya. Ini menjadikan sang anak bersikap manja dan tergantung kepadanya.
Ketika sang anak menangis, ibunya berusaha menghentikan tangisnya dengan cara memenuhi
keinginannya. Itu dilakukan agar sang anak menjadi terdiam dan tidak menangis lagi. Namun,
pada masa-masa berikutnya, semua itu akan menjadi kebiasaan (buruk) bagi sang anak. Sikap
inilah yang memicu sang anak untuk menangis, berbuat nakal, dan menentang perintah.
5. Faktorperasaan.


Seorang anak pada umumnya haus akan kasih sayang orang tuanya serta merindukan seseorang
yang mau mencurahkan perhatian kepadanya. Namun, sewaktu merasa kasih sayang yang
diberikan orang tua kepadanya masih kurang, sang anak akan berusaha dengan berbagai macam
cara untuk menarik perhatian dan kasih sayang orang tuanya itu. umpama, berpura-pura terjatuh
ke tanah dan menangis sedih. Ia tak akan berhenti melakukannya sampai
dirinya memperoleh kasih sayang yang
diharapkannya.


Apabila kondisi seperti ini terus dibiarkan, sementara kedua orang tuanya tidak kunjung
memperhatikan kebutuhannya, niscaya ia akan melakukan kenakalan. Lebih dari itu, kondisi
kejiwaan sang anak akan berada dalam bahaya dan akan dihinggapi sifat dengki atau merasa
terasing di tengah- tengah keluarganya sendiri. Untuk melawan kondisi semacam ini, sang anak
akan selalu berbuat nakal sampai ibunya mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepadanya.
6. Penyakit kejiwaan.
Sebagian penyakit kejiwaan direfleksikan dalam bentuk kenakalan, mencari-cari alasan, dan
berprasangka buruk. Barangkali, masih terlalu dini bagi kita untuk membahas soal penyakit
kejiwaan anak-anak. Namun kita tidak boleh lupa bahwa sebagian anak-anak telah terjangkiti
sindrom skizofrenia.


Di antara ciri dari sindrom atau penyakit ini adalah sikap mengasingkan diri secara ekstrem,
hanyut dalam kesedihan dan kegundahan hati, serta membatasi dunia kehidupannya sendiri.
Dalam beberapa keadaan, penderitanya seringkali menangis tanpa sebab. Dan sewaktu anda
bertanya kepadanya tentang penyebab tangisnya, ia akan segera tutup mulut dan tidak berbicara
sepatah kata pun kepada anda. Ia akan selalu berusaha
30
menumpahkan air matanya. Kadangkala, baginya sebuah perkara kecil
bisa menjadi besar dan menyebabkan tangisannya.
7. Faktorkesehatan.


Dalam beberapa keadaan, kenakalan seorang anak timbul lantaran faktor kesehatan. Misalnya,
tiba-tiba anda melihat anak anda berteriak lantaran hal sepele, kemudian menangis dan membuat
kegaduhan. Tanpa meneliti penyebabnya, anda langsung marah atau jengkel dan bahkan
memukulnya. Namun selang beberapa saat, barulah anda mengerti ternyata anak anda itu tengah
menderita sakit gigi atau telinganya berdarah. Sementara ia belum sempat menjelaskan
keadaannya itu kepada anda. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan dan kenakalan
anak saling terkait satu sama lain.
8. Faktorkejiwaan.


Faktor kejiwaan tidak identik dengan penyakit kejiwaan. Namun lebih dimaksudkan dengan
keinginan terhadap sesuatu yang bersumber pada sifat dasar manusia, seorang anak menghendaki
kebebasan dan kemandirian, tercapainya tujuan tertentu, serta bergaya hidup tersendiri. Namun,
sewaktu merasa kedua orang tuanya menghalangi keinginannya, ia lantas memikirkan cara untuk
menyingkirkan penghalang tersebut. Kalau merasa tak sanggup menghancurkan penghalang
dengan kata-kata atau logika, maka sang anak akan menempuh cara lain demi meraih tujuannya
itu. dan demi kesuksesannya, ia tak akan sungkan-sungkan menggunakan cara-cara yang
menyimpang.
9. Faktorperaturan.


Dalam beberapa keadaan, penyebab kenakalan dan kekeraskepalaan anak- anak berasal dari
peraturan yang diberlakukan orang tua yang mempersulit keadaannya. Ya, pemaksaan kehendak
hanya akan mendorong sang anak berani menentang atau melawan perintah orang tua.


Mencampuri urusan anak dan membatasi kebebasannya juga dapat memicu kenakalan anak,
khususnya bagi yang masih berusia 2,5 hingga tiga tahun. Memaksakan anak untuk makan atau
tidur serta mengenakan pakaian tertentu, terlebih dengan menyertakan ancaman tertentu,
merupakan faktor lain yang mendorong anak berbuat nakal.
10. Faktor ajaran buruk.


Dari satu sisi, masalah kenakalan anak merupakan problem akhlak. Sementara pada sisi yang
lain merupakan problem perasaan. Apabila kita mampu mengarahkan kenakalan sang anak sejak
masih kecil, niscaya ia akan tumbuh dewasa dengan wajar dan normal. Kenakalan merupakan
perilaku yang dapat menular. Karena itu, kenakalan atau perilaku buruk anggota keluarga,
terutama kedua orang tua, sangat berpengaruh dalam memicu kenakalan anak. Kedua orang tua
merupakan contoh (teladan) bagi anak-anaknya. Setiap anak akan meniru gerak-gerik dan
perilaku orang tua atau anggota keluarga lainnya. Kadangkala, sang anak
31
mempelajari kenakalan atau ulah tertentu dari teman-teman
pergaulannya.19


Timbulnya kenakalan anak / remaja yang terjadi dalam kehidupan sehari- hari dapat penulis
analisa karena beberapa faktor yang telah dijelaskan diatas, yaitu : Tidak memperhatikan
kebutuhan anak, sehingga anak / remaja tersebut cenderung melakukan hal-hal yang melanggar
peraturan, dilain sisi anak tersebut membutuhkan perhatian dari orang tua dan lingkungannya.
Faktor pendidikan buruk dan Faktor ajaran buruk, yang mempengaruhi anak / remaja tersebut
terjerumus dalam ajaran yang sesat, menyalahi peraturan dan bertindak diluar batas-batas
kewajaran. Faktor perasaan dan Faktor kejiwaan, yang dalam hal ini setiap perbuatan nakal anak
/ remaja tersebut berawal dari kondisi psikologis mereka yang ditimbulkan dari rasa penasaran
terhadap sesuatu tetapi mendapatkan hambatan dari pihak lain. Dan faktor peraturan, yang
membuat gerak-gerik perbuatan sang anak dipersulit. Dalam hal ini keputusan orang tua yang
terlalu mengekang setiap perbuatan anak / remaja tersebut. Memang benar bahwa individu
ataupun kelompok mempunyai kebebasan untuk memilih akan mematuhi atau tidak suatu sistem
atau struktur kehidupan tertentu, tetapi pada hakikatnya karena situasi dan kondisi menyebabkan
individu atau kelompok tersebut lebih bersedia mengikatkan diri demi kepentingannya,
meskipun tindakannya itu bertentangan dengan nurani dan keyakinannya.


Selain faktor-faktor diatas, masih banyak lagi faktor lainnya ; seperti tidak memperhatikan
perasaan seorang anak lantaran banyaknya anak dalam keluarga, kesibukan orang tua, kekacauan
dalam lingkungan keluarga sehingga menjadikan
19Ali Qaimi,Op. Cit., hal. 33 - 37.
32


sang anak tidak merasa aman tinggal di rumah, tidak adanya kemampuan orang tua dalam
menyelesaikan urusan anak-anak, ketidaksanggupan menanggung beban derita, perasaan sakit,
terjadinya musibah, terjangkitnya berbagai penyakit fisik yang mengganggu pikiran sang anak,
dan lain sebagainnya.


Keluarga sebagai penyebab timbulnya kenakalan anak atau remaja merupakan salah satu faktor
yang berperan besar. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lingkungan yang terdekat
untuk membesarkan, mendewasakan dan di dalamnya anak mendapatkan pendidikan yang
pertama kali. Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil, akan tetapi merupakan
lingkungan paling kuat dalam membesarkan anak dan terutama bagi anak yang belum sekolah.
Oleh karena itu keluarga memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak, keluarga
yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak, sedangkan keluarga yang jelek
atau buruk akan berpengaruh negatif. Oleh karena sejak kecil anak atau remaja dibesarkan oleh
keluarga dan untuk seterusnya. Sebagian besar waktu pertumbuhan dan perkembangan
kedewasaan anak atau remaja adalah di dalam keluarga, maka sudah sepantasnya kalau
kemungkinan timbulnyadelinquency itu sebagian besar berasal dari keluarga.


Lingkungan pendidikan juga tidak dapat lepas dalam berperan serta mencegah timbulnyaJuvenile
Delinquency. Pendidikan nasional di Negara Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila,
bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin,
bekerja
33


keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Selain itu, lingkungan pendidikan nasional Indonesia juga harus mampu menumbuhkan dan
memperdalam rasa cinta pada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa
kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu dikembangkan iklim belajar dan mengajar yang dapat
menumbuhkan rasa percaya diri sendiri serta sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif.


Proses pendidikan yang kurang baik dan menguntungkan bagi perkembangan jiwa anak atau
remaja, kerap menimbulkan pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap peserta didik.
Hal ini timbul karena dalam lingkungan sekolah terdiri dari berbagai macam karakter anak.
Sesuai dengan keadaan seperti ini sekolah-sekolah maupun instansi pendidikan dapat menjadi
sumber terjadinya konflik-konflik psikologis yang pada akhirnya menimbulkan kenakalan anak
atau remaja (Juvenile Delinquency).


Di lain sisi ada beberapa faktor-faktor lain yang dapat memicu terjadinya kenakalan anak atau
remaja. Faktor pemicu tersebut terdiri dari faktor pemicu internal-kultural, yang berupa
ketegangan psikis si anak atau remaja, kelabilan emosi, kurangnya fondasi emosional dan
sebagainya. Sedangkan faktor yang lainnya adalah faktor pemicu eksternal-struktural,
menyangkut masalah makro dan mikro kehidupan. Antara lain permasalahan globalisasi
informasi dan komunikasi, urbanisasi, transportasi, kecemburuan sosial, kesenjangan pendidikan
dan pekerjaan, pengangguran, perkembangan teknologi yang tidak tersaring, konflik di wilayah
pemukiman, penggunaan narkotika, psikotropika, minuman keras dan sebagainya.
34
D. Akibat-akibat
Dari
Kenakalan
Anak
/
Remaja
Dan
Upaya Penanggulangannya.


Kenakalan anak atau remaja yang kerap kali menimbulkan banyak permasalahan di lingkungan
sosial masyarakat, membawa dampak yang berakibat pada timbulnya perilaku-perilaku negatif
dalam setiap kehidupannya. Permasalahan kenakalan anak atau remaja yang menyimpang ini
menyebabkan tingginya tingkat delinquency, hal ini diperparah lagi dengan lemahnya dan
kurangnya pengawasan terhadap anak atau remaja di lingkungan keluarga, masyarakat serta
masih lemahnya penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Perlindungan terhadap anak
juga menjadi satu alasan, bahwa dengan melindungi anak atau remaja maka berarti melindungi
manusia.


Akibat yang timbul dari kenakalan anak atau remaja ini, memunculkan sikap was-was dalam
kehidupan bermasyarakat. Setiap kegiatan pasti akan selalu diliputi dengan rasa prasangka dan
curiga warga masyarakat akan timbulnya kejahatan. Di lain pihak, kejahatan yang dilakukan
anak atau remaja ini dapat mendorong dan mengakibatkan pelaku mengalami tekanan jiwa,
depresi karena adanya penyesalan akibat kejahatan yang telah dilakukan, ditolak, diabaikan dan
dibenci masyarakat. Dilain sisi hal tersebut menyebabkan pelaku cenderung menjadi penghayal,
sakit fisik dan mental, agresif dan lari dari semua kenyataan hidup. Oleh karena kenakalan anak
atau remaja ini menyebabkan keguncangan dalam sosial masyarakat, maka dapat terjadi pula
tingkat kehidupan sosial yang menurun. Akibat dari kualitas kehidupan yang menurun inilah
dapat
35
mengakibatkan meningkatnya tingkatdelinquency yang disebabkan oleh anak
atau remaja.


Di dalam mewujudkan suatu kehidupan yang harmonis, sejahtera, adil dan makmur. Pembinaan
terhadap anak atau remaja, sebagai bibit masa depan bangsa dan negara sangatlah harus
dikedepankan. Hal ini merupakan sebuah bentuk kepedulian terhadap kelangsungan hidup
berbangsa dan bernegara. Permasalahan mengenai kenakalan anak atau remaja yang dapat
menimbulkan tindak kejahatan memerlukan suatu cara dan upaya dalam menanggulanginya.
Keluarga, masyarakat dan negara merupakan suatu lingkup kehidupan yang secara menyeluruh
menaungi segala bentuk kehidupan anak dan remaja.


Dalam upaya penanggulangan terhadap kenakalan anak / remaja yang dapat menimbulkan
kejahatan, dilakukan upaya-upaya perbaikan baik secara internal dan eksternal.
1. Upaya disiplin dalam keluarga.


Keluarga merupakan suatu lingkungan terdekat untuk membesarkan, mendewasakan dan
mendidik seorang anak atau remaja menjadi manusia dewasa seutuhnya. Kualitas rumah tempat
tinggal dan lingkungannya adalah faktor eksternal yang menjadi stimulus atau rangsangan
terhadap respon yang akan muncul pada anak atau remaja tersebut. Setiap stimulus / rangsangan
dapat memberikan kepuasan atau ketidakpuasan pada diri anak atau remaja yang bersangkutan,
dan ini menjadi salah satu dasar yang dapat mempengaruhi kecenderungan berperilaku buruk /
negatif.
36
Apabila seseorang gagal dalam menumbuhkan hubungan antarpribadi atau
interpersonal relationshipsyang baik, termasuk dengan orang tuanya sendiri,


maka dia akan mengalami keadaan senang berkhayal, sakit fisik dan mental, agresif dan lari dari
kenyataan hidup. Oleh karena itu, hubungan dengan orang lain, termasuk dengan orang tua,
seyogyanya diwarnai oleh suatu prinsip saling menjalin komunikasi dan membangun relasi yang
dapat mendorong terjadinya hubungan yang sehat. Untuk itu, dapat digambarkan pengaruh
lingkungan di dalam keluarga dalam memengaruhi perkembangan psikologis anak-anaknya20
Pihak-pihak yang terdapat di dalam keluarga, baik itu orang tua, wali ataupun pengasuh harus
dapat memahami semua kebutuhan anak-anaknya. Baik yang bersifat biologis maupun yang
bersifat psikologis. Anak atau remaja di dalam hidupnya perlu makan, minum, pakaian dan
kebutuhan lainnya. Di samping itu mereka juga memerlukan kasih sayang serta rasa aman dalam
keluarga, juga perlakuan adil dari kedua orang tua sangat mereka harapkan. Keluarga memiliki
peranan untuk menanamkan disiplin bagi anak sejak kecil agar setelah dewasa hal tersebut dapat
menjadi kebiasaan dan menjauhkan dari bentukdelinquency. Maka upaya yang perlu dilakukan
dalam lingkungan keluarga adalah membentuk disiplin pribadi yang baik, mentaati norma-norma
dalam keluarga sebagai dasar berkehidupan, dan membina kehidupan keluarga dengan
memberikan kasih sayang serta menciptakan rasa aman.
2. Upaya disiplin dalam kehidupan bermasyarakat.


Kehidupan manusia tidak dapat terpisahkan dari lingkungan dimana ia berada. Dalam kaitan ini,
lingkungan mencakup arti yang luas, termasuk lingkungan fisik dan sosial. Lingkungan (milieu)
adalah semua benda dan materi
20Hasballah M Saad,Op. Cit.,hal. 27.
37


yang mempengaruhi hidup manusia, seperti keselamatan jasmani dan rohani, ketenangan lahir
batin, kesejahteraan dan lain sebagainya. Lingkungan masyarakat juga memiliki peran dalam
menciptakan disiplin anak atau remaja. Kehidupan bermasyarakat juga tidak terlepas dari
berbagai proses sosial, karena dalam lingkungan masyarakat ini, anak atau remaja dipengaruhi
secara tidak langsung untuk melakukan kenakalan yang menjurus pada timbulnya kejahatan.


Proses sosial di kota-kota besar, termasuk kota bekasi mengakibatkan adanya perubahan-
perubahan sosial yang ditimbulkan oleh berbagai macam masalah ; antara lain masalah
urbanisasi, industrialisasi, kemajuan teknologi yang mengakibatkan adanya mobilitas horizontal
dan mobilitas vertikal yang tinggi, sedangkan kesemuanya itu akan mempertemukan manusia-
manusia dari berbagai bentuk masyarakat, suku dan bangsa di kota modern. Masing-masing
karakter membawa ikatan norma hidup dan perilaku yang berbeda ataupun bertentangan antara
yang satu dengan yang lainnya. Suasana ini selain menimbulkanculture
conflict,juga bisa menimbulkan suasana perbedaan kehidupan (dubicus patterns
of life). Dimana manusia karena banyaknya pola kehidupan menjadi bingung,
sehingga berpegangan kepada pola kehidupan yang tidak beraturan.


Karena masyarakat terdiri dari individu-individu yang berbeda antara satu dengan lainnya, maka
tidak mengherankan kalau pada suatu saat timbul masyarakat yang bertindak a-moral sehingga
menimbulkan bentrokan satu dengan lainnya, bagaikan orang berjalan dalam gelap gulita tanpa
adanya penerangan.
Bentrokan-bentrokan inilah yang pada akhirnya menimbulkan kejahatan.
Kondisi ini dapat menciptakan suatu kelabilan psikologis, apalagi bagi seorang
38


anak atau remaja yang telah terpengaruh oleh lingkungannya, maka dia pun tidak tanggung-
tanggung dapat terjerumus dalam kejahatan pula. Masyarakat sebagai lingkungan yang menjadi
pengaruh bagi perkembangan seorang anak atau remaja hendaknya dapat membina kestabilan
lingkungannya.   Dalam     lingkungan   masyarakat    perlu   diciptakan   upaya-upaya   untuk
menanggulangi timbulnya kejahatan yang disebabkan oleh kenakalan anak atau remaja tersebut.


Upaya-upaya yang dapat dilakukan di dalam lingkungan masyarakat dapat berupa perlindungan
keamanan terhadap warganya, yakni dengan melakukan peningkatan keamanan dan ketertiban
lingkungan masyarakat, melaksanakan ronda malam untuk mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan, dalam hal ini berupa upaya peningkatan keamanan wilayah, menciptakan kerukunan
antar warga masyarakat, mempertebal tali silaturahmi sesama warga masyarakat dengan
menciptakan organisasi sosial masyarakat serta menciptakan pemuda-pemudi masyarakat yang
berdisiplin, bertanggung jawab dan taat kepada hukum melalui kegiatan kepemudaan atau
keremajaan.
3. Upaya disiplin dalam kehidupan bernegara.


Negara sebagai penunjang kehidupan warganya juga tidak terlepas pula dari perannya sebagai
pencipta keamanan dan ketertiban dari kebijakan yang dibentuk oleh pemerintah. Peraturan-
peraturan hukum yang dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah, hendaknya tidak hanya menjadi
kepentingan pihak tertentu saja. Aturan-aturan hukum tersebut baiknya mengatur secara
mendasar dan menyeluruh mengenai peri kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Apabila
pembentukan
39


peraturan-peraturan hukum tersebut hanya mementingkan kepada pihak-pihak tertentu saja,
maka sudah dapat dipastikan bahwa kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara tidaklah
dapat berjalan dengan baik. Malah ada kemungkinan besar akan tercipta berbagai macam konflik
sosial yang dapat menghancurkan bangsa dan negara Indonesia.


Dalam kebijaksanaannya membuat keputusan di bidang hukum, hendaknya pemerintah
memperhatikan pula mengenai dampak dari timbulnya kejahatan yang disebabkan oleh anak atau
remaja ini. Anak atau remaja adalah bibit yang dikemudian hari akan menjadi pemimpin dari
negara Indonesia ini. Jika keberadaan anak atau remaja tidak diperhatikan dengan baik oleh
pemerintah, rusaknya kehidupan sosial dan hancurnya kehidupan berbangsa dan bernegara tidak
dapat dilepaskan dari tanggung jawab pemerintah itu sendiri.


Masalah mengenai kenakalan anak atau remaja di Indonesia sudah memasuki tahap yang
mengkhawatirkan. Meningkatnya tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja adalah
sebagai akibat dari bergesernya kehidupan dalam masyarakat. Jika masyarakat berubah atau
bergeser, maka kejahatan pun akan selalu ada seiring dengan perubahan masyarakat tersebut,
suatu hal yang sangat bijaksana apabila pemerintah beserta masyarakat mampu mencegah atau
bahkan menanggulanginya. Berikut adalah beberapa upaya yang penulis dapat kemukakan
sebagai bentuk dalam mencegah timbulnya kejahatan anak atau remaja :
1. Penyusunan Undang-Undang yang mengatur mengenai kejahatan tertentu,
meliputi pencegahan dimana peraturan hukum tersebut melarang
40
dilakukannya suatu kriminalitas dan di dalamnya mengandung ancaman
atau hukuman.
2. Melaksanakan kontrol sosial ; dalam hal ini pemerintah mengadakan suatu perencanaan sosial
yang membina kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan pada ketaatan terhadap hukum
positif.
3. Menciptakan lingkungan Hukum yang berwibawa ; di lingkungan
peradilan dan penegak hukum.
4. Mengadakan penyuluhan kesadaran hukum ; dalam hal ini mengenai
bahaya kenakalan yang dapat menyebabkan timbulnyadelinquency.


5. Menciptakan lingkungan yang baik, berupa perbaikan sistem pengawasan dalam masyarakat,
perencanaan dan desain tata kota, dan menghapus segala bentuk kesempatan anak atau remaja
untuk melakukan kejahatan.
41
BAB III
KETENTUAN HUKUM MENGENAI KENAKALAN ANAK / REMAJA
A. Tinjauan KUHP Tentang Kenakalan Anak / Remaja.


Secara yuridis formal, masalah pertanggung jawaban mengenai kenakalan anak atau remaja yang
dapat menimbulkan kejahatan ini telah memperoleh pedoman yang baku dalam hukum. Pertama-
tama adalah hukum pidana yang pengaturannya tersebar dalam beberapa pasal, dan sebagian
pasal yang bersifat embrional adalah Pasal 45, 46 dan 47 KUHP. Di samping itu KUH Perdata
pun mengatur tentang kenakalan anak atau remaja terutama dalam Pasal 302 dan segala pasal
yang ditunjuk serta terkait dengan masalah kenakalan anak atau remaja ini. Kondisi dualistik
tersebut membawa konsekuensi logis yang berbeda di dalam sebutannya, walaupun pada prinsip
dasarnya sama.


Kenakalan anak atau remaja yang melawan kaedah hukum tertulis yakni dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP) disebut sebagai “Anak Negara” dan sesuai dengan ketentuan
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebut sebagai “Anak Sipil”.


Berkaitan dengan perbuatan kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh anak atau remaja di
bawah usia 16 tahun, KUHP Indonesia mengaturnya dalam Pasal 45 KUHP sebagai berikut :
“Dalam hal penuntutan pidana terhadap orang yang belum dewasa karena melakukan suatu
perbuatan sebelum umur 16 tahun, hakim dapat menentukan, memerintahkan supaya yang
bersalah dikembalikan kepada orang tuanya, wali atau pemeliharanya tanpa pidana apapun, atau
memerintahkan supaya yang bersalah diserahkan kepada pemerintah tanpa pidana apapun, jika
perbuatan merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran berdasarkan pasal-pasal ;
42


489, 490, 492, 496, 497, 503, 505, 514, 517, 519, 526, 531, 532, 536, dan 540, serta belum lewat
dua tahun sejak dinyatakan bersalah karena melakukan kejahatan atau pelanggaran tersebut di
atas, dan putusannya menjadi tetap, atau menjatuhkan pidana pada yang bersalah”.21


Pasal 45 KUHP di atas dapat dipandang memadai sebagai pasal yang memuat beberapa
ketentuan yuridis mengenai anak atau remaja di bawah usia 16 tahun yang telah melakukan
perbuatan pidana. Ketentuan-ketentuan yang tertuang di dalamnya menyangkut syarat-syarat
penuntutan serta kemungkinan- kemungkinan yang dapat dipilih oleh hakim di dalam membuat
atau memberi putusan apabila :
1. Merupakan kejahatan sebagaimana termaktub dalam buku kedua KUH
Pidana.


2. Merupakan pelanggaran terhadap salah satu pasal dalam KUH Pidana ; Pasal 489, 490, 492,
496, 497, 503, 505, 514, 517, 519, 526, 531, 532, 536, dan 540.22
Jika dikaji dari segi syarat-syarat penuntutannya, maka Pasal 45 KUHP
memuat empat (4) hal yang harus dipenuhi, yakni :
1. Anak yang dituntut belum cukup umur (minderjarig) atau lebih dikenal
belum dewasa.


2. Tuntutan tersebut mengenai perbuatan pidana yang telah dilakukan oleh anak yang
bersangkutan pada waktu ia belum berumur 16 tahun dan penuntutan tersebut hanya dapat
dilakukan sebelum anak mencapai umur 18 tahun.
3. Perbuatan tersebut merupakan : Kejahatan-kejahatan kekerasan, pencurian, penipuan,
penggelapan dan pemerasan. Salah satu pelanggaran dalam pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503,
505, 514, 517, 519, 526, 531, 532, 536, dan 540 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Indonesia.


4. Belum kadaluwarsa, yakni belum lewat dua tahun sejak dinyatakan bersalah karena
melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran sebagaimana ditunjuk oleh pasal 45 KUHP dan
putusannya menjadi tetap.23


21Tim Penterjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman, KUHP, hal.
31.
22Sudarsono,Kenakalan Remaja, Cetakan Pertama, Rineka Cipta, Jakarta,1990, hal. 17.
23. Ibid, hal. 24.
43
Apabila keempat syarat penuntutan tersebut sudah terpenuhi, maka hakim
dapat membuat putusan berupa salah satu dari tiga kemungkinan yakni :
1. Anak yang bersangkutan dikembalikan kepada orang tua atau wali atau
pengasuhnya tanpa dijatuhi pidana apapun.
2. Hakim memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah
dan tidak dijatuhi pidana apapun.
3. Hakim dapat menjatuhkan pidana.24


Kaitan dalam hal ini jika anak / remaja tersebut menjalani hukuman penjara, maka ia menjalani
pidana penjara tersebut ditempat yang khusus untuk anak-anak / remaja. Dalam hal anak / remaja
diserahkan kepada pemerintah dan tidak dijatuhi hukuman pidana ketentuan lebih lanjutnya
diatur dalam Pasal 46, yang berisikan mengenai kemungkinan pemeliharaan anak atau remaja
tersebut, yaitu :


1. Pemeliharaan anak dalam lembaga pendidikan negara.
2. Pemeliharaan anak dalam lembaga swasta.
3. Pemeliharaan anak dalam keluarga.25
Apabila hakim menjatuhkan pidana kepada anak yang bersalah, maka dalam hal ini terdapat
beberapa pengecualian yang diatur secara formal dalam Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, yaitu ;
1. Jika hakim menjatuhkan pidana maka maksimal pidana pokok terhadap
deliknya dikurangi 1/3.


2. Jika perbuatan merupakan kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau pidana seumur
hidup, maka dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
3. Pidana tambahan yang tersebut dalam pasal 10 sub b, nomor 1 dan 3, tidak
dapat dijatuhkan.26


24Ibid, hal. 26. 25Ibid, hal. 27. 26Ibid, hal. 28.
44


Mengenai ketentuan-ketentuan khusus anak atau remaja tersebut kendatipun mereka terbukti
bersalah dan meyakinkan melakukan kesalahan dalam timbulnya kejahatan atau pelanggaran,
dapat diajukan ketentuan. Mengenai anak atau remaja di bawah usia 16 tahun, maka pelakunya
tidak dapat dipidana. Jika dalam persidangan ternyata hakim dapat memberikan bukti-bukti yang
sah dan meyakinkan tentang kesalahan anak atau remaja sebagai terdakwa, dalam hal ternyata
putusan hakim dalam menyidangkan anak atau remaja di bawah umur 16 tahun Hakim tidak
menjatuhkan pidana, hal ini berarti putusan hakim menyimpang dari asas hukum pidana. Putusan
hakim dalam ketentuan Pasal 45 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana memang cukup beralasan
dengan maksud dan tujuan hukum positif. Apabila hakim menjatuhkan pidana sehingga anak
atau remaja di bawah umur harus masuk penjara / Lembaga Pemasyarakatan Khusus Pemuda,
akan berakibat anak atau remaja berada dalam lingkungan yang kurang baik dan ada
kemungkinan anak atau remaja tersebut bergaul dengandelinquent yang lain. Pergaulan ini akan
mempengaruhi perkembangan jiwa anak atau remaja yang bersangkutan.


Pedoman yang paling mudah dan amat sederhana untuk mengartikan suatu perbuatan tergolong
kenakalan Anak / Remaja, jika perbuatan tersebut bersifat melawan Hukum, anti sosial, anti
susila dan melanggar norma-norma agama yang dilakukan oleh subyek yang masih berusia
remaja yang menurut pakar psikolog (Elizabeth B. Hurlock) berkisar antara umur 11 – 21 tahun,
dapat diambil kesimpulan bahwa perbuatan tersebut merupakan Kenakalan Anak / Remaja.
Secara yuridis formal kenakalan anak / remaja tersebut digolongkan dalam 2 (dua)
45
alternatif, yang mana meliputi pelaku kejahatan di bawah umur 16 tahun dan
pelaku kejahatan di atas umur 16 tahun.
B. Tinjauan UU Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak.


Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak dalam Pasal 2 menyebutkan,
bahwa pengadilan anak adalah pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang berada di lingkungan
peradilan umum. Ketentuan ini sudah sejalan dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 1970 (penjelasan), bahwa kemungkinan dibukanya spesialisasi
pengadilan anak di lingkungan peradilan umum, ternyata benar-benar diwujudkan dengan
dibentuknya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak.


Jauh sebelum dibentuknya Undang-Undang Peradilan Anak, Pengadilan Negeri telah
menyidangkan berbagai perkara pidana yang terdakwanya anak-anak atau remaja dengan
menerapkan ketentuan-ketentuan yang ada dalam KUHP dan KUHAP. Dengan mulai berlakunya
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak, maka tata cara persidangan
maupun penjatuhan hukuman adalah berdasarkan Undang-Undang tersebut.
Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak,
disebutkan bahwa pengertian anak nakal adalah :
a. Anak yang melakukan tindak pidana; atau


b. Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan
perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam
masyarakat bersangkutan.
Dalam perundang-undangan tersebut juga diatur mengenai batasan usia
anak atau remaja yang melakukan kenakalan terutama yang menyebabkan
46
terjadinya kejahatan anak atau remaja. Batasan umur anak atau remaja tergolong sangat penting
dalam perkara pidana, hal ini karena dipergunakan untuk mengetahui seseorang yang diduga
melakukan kejahatan termauk kategori anak / remaja atau dewasa. Mengenai batasan anak atau
remaja di dalam Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1997 ini diatur dalam Pasal 4 ayat (1) dan (2),
yakni :


1. Batas umur Anak Nakal yang dapat diajukan ke Sidang Anak adalah sekurang-kurangnya 8
(delapan) tahun tetapi belum mencapai 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.


2. Dalam hal anak melakukan tindak pidana pada batas umur sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dan diajukan ke sidang pengadilan setelah anak yang bersangkutan melampaui batas umur
tersebut, tetapi belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun, tetap diajukan ke Sidang Anak.


Adanya penegasan mengenai batasan terhadap usia pelaku tindak pidana berdasarkan pada
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak tersebut akan menjadi pegangan
bagi para petugas di lapangan, agar tidak terjadi salah tangkap, salah tahan, salah sidik, salah
tuntut, maupun salah mengadili, karena menyangkut hak asasi seseorang.


Dalam batasan usia ini, menurut Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang
Peradilan Anak bagi anak / remaja yang usianya di bawah 8 (delapan) tahun melakukan atau
diduga melakukan tindak pidana, maka bagi anak / remaja tersebut diserahkan kepada penyidik
untuk dilakukan pemeriksaan. Mengenai ketentuan hasil pemeriksaan ini dijelaskan dalam Pasal
5 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak :


Ayat (2). Apabila menurut hasil pemeriksaan, Penyidik berpendapat bahwa anak sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) masih dapat dibina oleh orang tua, wali, atau orang tua asuhnya,
penyidik menyerahkan kembali anak tersebut kepada orang tua, wali atau orang tua asuhnya.
Ayat (3). Apabila menurut hasil pemeriksaan, Penyidik berpendapat bahwa anak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat dibina lagi oleh orang
47
tua, wali, atau orang tua asuhnya, Penyidik menyerahkan anak tersebut kepada Departemen
Sosial setelah mendengar pertimbangan dari Pembimbing Kemasyarakatan.


Mengenai sanksi hukumnya, Undang-Undang Peradilan Anak telah mengaturnya sebagaimana
ditetapkan secara garis besar. Sanksi tersebut ada 2 (dua) macam berupa pidana dan tindakan.
’Terhadap Anak Nakal hanya dapat dijatuhkan pidana dan tindakan yang ditentukan dalam
Undang-Undang ini’. Sanksi hukuman yang berupa pidana terdiri atas pidana pokok dan pidana
tambahan.
Dalam Pasal 23 diatur mengenai macam-macam pidana pokok yang dapat
dijatuhkan kepada Anak Nakal ialah :
a. pidanapenjara;
b. pidanakurungan;
c. pidana denda; atau
d. pidanapengawasan.
Mengenai pidana tambahan sebagaimana diatur dalam Pasal 23 ayat (3),


terdiri dari dua macam, yaitu :
1. Perampasan barang-barang tertentu, dan atau
2. Pembayaran ganti rugi.


Berdasarkan pada Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak, kepada anak /
remaja nakal yang melakukan tindak pidana dapat pula dijatuhkan tindakan :
a. mengembalikan kepada orang tua, wali, atau orang tua asuh;
b. menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan, dan
latihan kerja; atau
48


c. menyerahkan kepada Departemen Sosial, atau Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang
bergerak dibidang pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja.
Tindakan yang dijatuhkan sebagaimana putusan yang ditetapkan diatas dapat disertai pula
dengan memberikan teguran dan syarat tambahan yang ditetapkan oleh hakim. Mengenai
penjatuhan pidana, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 menetapkan bahwa penjatuhan pidana
terdiri dari Pidana penjara, Pidana Kurungan, Pidana Denda, dan penjatuhan Pidana Bersyarat.
Pasal 26 mengatur mengenai penjatuhan pidana penjara, sebagai berikut :


(1) Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 angka 2 huruf a, paling lama ½ (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana penjara
bagi orang dewasa.


(2) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, melakukan
tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka pidana
penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak tersebut paling lama 10 (sepuluh) tahun.


(3) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, belum mencapai
umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang diancam pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup, maka terhadap Anak Nakal tersebut hanya dapat dijatuhkan tindakan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf b.


(4) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, belum mencapai
umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang diancam pidana mati atau tidak
diancam pidana penjara seumur hidup, maka terhadap Anak Nakal tersebut dijatuhkan salah satu
tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24.


Penjatuhan pidana kurungan berdasarkan putusan hakim yang dapat dijatuhkan kepada anak /
remaja yang melakukan kejahatan, hanya dapat dijatuhkan paling lama ½ (satu per dua) dari
maksimum ancaman pidana kurungan yang ditetapkan bagi orang dewasa. Berbeda dengan
penjatuhan Pidana denda, dimana penjatuhan pidana denda ini paling banyak ½ (satu per dua)
dari
49
maksimum ancaman pidana denda bagi orang dewasa. Apabila pidana denda tersebut tidak dapat
dibayar, maka diganti dengan wajib latihan kerja sebagai pengganti denda paling lama 90
(sembilan puluh) hari kerja tidak lebih dari 4 (empat) jam sehari serta tidak dilaksanakan pada
malam hari.


Pidana bersyarat dapat dijatuhkan oleh hakim, apabila pidana penjara yang dijatuhkan terhadap
anak nakal tersebut paling lama 2 (dua) tahun, dan diberlakukan syarat umum dan syarat khusus.
Dalam Pasal 29 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 memberlakukan jangka waktu masa
pidana bersyarat adalah paling lama 3 (tiga) tahun, selama menjalani pidana bersyarat ini anak /
remaja nakal tersebut diawasi oleh jaksa dan dibimbing oleh Balai Pemasyarakatan yang
berstatus sebagai Klien Pemasyarakatan.


Dalam hal hakim menjatuhkan Pidana pengawasan, dapat dilakukan kepada anak / remaja nakal
tersebut paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun. Putusan mengenai
penjatuhan Pidana penjara, Pidana kurungan, Pidana denda, Pidana bersyarat, dan Pidana
pengawasan ini disesuaikan dengan ketentuan dalam Pasal 1 angka 2 huruf a mengenai anak
nakal yang melakukan tindak pidana. Mengenai penempatan anak / remaja nakal yang diputus
oleh hakim untuk diserahkan kepada negara, maka anak / remaja yang melakukan tindak pidana
tersebut ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Anak sebagai Anak Negara.
50
C. Tinjauan UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak


Masalah perlindungan anak adalah sesuatu permasalahan yang kompleks dan dapat
menimbulkan berbagai permasalahan lebih lanjut, dalam hal ini permasalahan tersebut tidak
selalu dapat diatasi secara perseorangan, tetapi harus secara bersama-sama dan penyelesaiannya
menjadi tanggung jawab bersama.


Perlindungan anak merupakan suatu hasil interaksi karena adanya hubungan antara fenomena
yang ada dan saling mempengaruhi. Masalah perlindungan anak adalah suatu masalah manusia
yang merupakan suatu kenyataan sosial. Pengertian mengenai manusia dan kemanusiaan
merupakan faktor yang dominan dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan
perlindungan anak yang merupakan permasalahan kehidupan manusia .


Mengenai perlindungan anak ini, sebelum Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 diberlakukan,
bangsa Indonesia menggunakan Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan
Anak. Dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa usaha-usaha mensejahterakan anak dan
perlakuan yang adil terhadap anak sangat diperlukan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Pasal
1 butir b Undang-Undang nomor 23 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, bahwa Usaha
kesejahteraan anak adalah usaha kesejahteraan sosial yang ditujukan untuk menjamin
terwujudnya Kesejahteraan Anak terutama terpenuhinya kebutuhan pokok anak.
Pengaturan mengenai ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan
perlindungan anak dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 adalah :
1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan) belas tahun,
termasuk anak yang masih dalam kandungan.
51


2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-
haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan
harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.


Dalam hal pengertian anak, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 menjabarkan mengenai
penggolongan anak yang berhak mendapatkan perlindungan. Penggolongan anak tersebut
dijelaskan dalam ketentuan umum Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 1 butir 6
(enam) – 10 (sepuluh). Anak yang memperoleh perlindungan adalah :
6. Anak terlantar adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara
wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial.


7. Anak yang menyandang cacat adalah anak yang mengalami hambatan fisik dan/atau mental
sehingga menggangu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.
8. Anak yang memiliki keunggulan adalah anak yang mempunyai kecerdasan
luar biasa, atau memiliki potensi dan/atau bakat istimewa.
9. Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali
yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan
anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau
penetapan pengadilan.


10. Anak asuh adalah anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan
bimbingan, pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya atau salah
satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembang anak secara wajar.


Perlindungan Anak dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 2 berasaskan pada
Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
serta prinsip-prinsip dasar yang diatur dalam Konvensi Hak-hak anak meliputi :
a. nondiskriminasi;


b. kepentingan yang terbaik bagi anak;
c hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan
d. penghargaan terhadap pendapat anak.
52


Berdasarkan pada ketentuan diatas dapat ditelaah lebih dalam, bahwa perlindungan anak / remaja
tersebut merupakan suatu wujud keadilan. Mengabaikan keadilan pada anak / remaja sama
halnya dengan menghancurkan masa depan bangsa. Perlindungan anak yang dimaksudkan dalam
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 mempunyai tujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-
hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan
harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi
yang selama ini banyak terjadi kekerasan pada anak / remaja, agar dapat mewujudkan generasi
bangsa Indonesia yang sehat, berakhlak dan sejahtera.


Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tidak mengatur mengenai kenakalan anak / remaja yang
melakukan perbuatan melawan hukum. Dalam Undang-Undang ini mutlak bahwa anak / remaja
tersebut mendapat perlindungan dari segala macam bentuk kekerasan ataupun kerugian baik fisik
dan mental, yang dapat menghambat keberlangsungan hidup sang anak / remaja tersebut.


Perlindungan anak / remaja ditekankan agar anak tersebut tidak tersesat di dalam kehidupannya,
karena banyak anak / remaja yang dalam kehidupan sehari- harinya terjebak dalam ganasnya
pola perilaku menyimpang. Tereksploitasi dan menyimpang dari kaidah-kaidah hukum adalah
salah satu bentuk bahwa anak / remaja tersebut tidak mendapatkan perlindungan. Permasalahan
ini hendaknya menjadi permasalahan yang khusus bagi keluarga, masyarakat, dan pemerintah
agar perwujudan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak ini dapat terlaksana
53


dengan baik. Tindakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak /
remaja yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme
yang dijiwai oleh akhlak mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan keras menjaga kesatuan
dan persatuan bangsa dan negara Indonesia.
D. Aspek Perlindungan Terhadap Anak / Remaja


Perlindungan terhadap anak / remaja sangatlah diperlukan, hal ini menyangkut keberlangsungan
kehidupan anak / remaja tersebut dimasa yang akan datang. Anak / remaja sebagai tunas bangsa
merupakan generasi penerus dalam pembangunan bangsa dan negara, sebagai insan yang belum
dapat berdiri sendiri, perlu diadakan usaha peningkatan kesejahteraan dengan memberikan
perlindungan terhadap anak agar anak / remaja tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan
wajar, baik rohani, jasmani maupun sosial. Kehidupan anak / remaja yang terlindungi tentunya
akan membawa efek positif bagi perkembangan anak / remaja tersebut, sebagai salah satu upaya
dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis, dinamis, dan
meningkatkan kesejahteraan kehidupan sosial bagi seluruh anggota masyarakat yang kurang
beruntung, termasuk mereka anak / remaja yang hidupnya terasing dan terbelakang. Usaha
perlindungan anak / remaja ini juga dilakukan dalam rangka meningkatkan kesadaran serta
kemampuan setiap warga negara untuk ikut serta dalam meningkatkan pembangunan.
54
Aspek perlindungan anak / remaja ini ditujukan kepada anak / remaja yang bermasalah. Dalam
hal ini, Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak memberikan
penjelasan atas pengertian anak / remaja adalah anak yang tidak mempunyai orang tua, wali, dan
kerabat lainnya, terlantar, anak / remaja yang tidak mampu, anak cacat, serta anak / remaja yang
bermasalah dengan hukum. Dengan pembatasan tersebut, tidak berarti bahwa anak yang tidak
termasuk dalam kriteria tersebut tidak berhak untuk memperoleh perlindungan. Semua anak /
remaja adalah sama, tetapi kita harus memperhatikan bahwa kecenderungan anak / remaja
tersebut berperilaku menyimpang adalah sebagai akibat dari kurangnya perhatian dan
perlindungan terhadap mereka.


Pasal 59 Undang-Undang Perlindungan Anak telah mengatur mengenai Anak / remaja yang
dilindungi. Dijelaskan bahwa : Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan
bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat,
anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak
tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi
korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak
korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau
mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.


Berdasarkan pada perincian Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Perlindungan
Anak tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak / remaja Indonesia wajib dilindungi agar tidak
menjadi korban tindakan
55


kepentingan individu atau kelompok, organisasi swasta maupun pemerintah baik secara langsung
dan tidak langsung. Selain menjadi korban dari pihak lain, anak / remaja tersebut juga ada
kemungkinan menjadi korban dari diri sendiri. Situasi dan kondisi diri sendiri yang
mempengaruhi tindakan-tindakan anak / remaja tersebut berlaku menyimpang dan merugikan,
sebagai akibat dari buah perbuatan orang lain atau kelompok lain.
E. Penanggulangan Kenakalan Anak / Remaja Di Kota Bekasi
Juvenile Delinquencymuncul sebagai masalah sosial yang semakin gawat
pada masa modern sekarang, baik yang terdapat di negara-negara dunia ketiga yang baru
merdeka maupun di negara-negara maju yang mempunyai aturan hukum yang lebih baik.
Kejahatan anak / remaja ini erat sekali kaitannya dengan modernisasi, industrialisasi, urbanisasi,
taraf kesejahteraan dan kemakmuran.


Kejahatan adalah suatu kenyataan sosial yang sangat mengganggu kehidupan manusia dan
keberadaannya tidak bisa dihindari, sehingga mau atau tidak mau kita harus menghadapinya
dengan berbagai upaya. Kejahatan menimbulkan keresahan pada pemerintah dan anggota
masyarakat, yang lebih memprihatinkan adalah kejahatan tersebut timbul karena kenakalan anak
/ remaja. Perbuatan-perbuatan yang menimbulkan gangguan terhadap keamanan, ketentraman
dan ketertiban masyarakat dapat berupa ; pencurian, pembunuhan, penganiayaan, pemerasan,
penipuan, penggelapan dan gelandangan, serta perbuatan-perbuatan menyimpang lainnya yang
dilakukan oleh anak / remaja yang meresahkan masyarakat. Tindakan-tindakan diambil untuk
mengurangi dan
56


mencegah timbulnya permasalahan tersebut, banyak dana dan tenaga telah dikerahkan untuk
menanggulangi masalah kejahatan akibat kenakalan anak / remaja tersebut.


Kota Bekasi sebagai daerah industri dan kota berkembang di kawasan timur ibukota, terbawa
dampak dari berkembang kehidupan gaya metropolitan. Kejahatan yang dilakukan oleh anak /
remaja semakin meningkat. Anak / remaja mempunyai jiwa yang labil, kecenderungan untuk
melakukan kenakalan dan menjurus pada tindak kejahatan sangatlah mudah terjadi. Tindakan
mereka acapkali menyimpang dari aturan hukum. Fenomena ini menjadi pekerjaan rumah
tersendiri bagi masyarakat, institusi, aparat penegak hukum dan perangkat negara lainnya di kota
bekasi untuk dapat menyelesaikannya.


Tindakdelinkuen anak / remaja banyak menimbukan kerugian materiil dan kesengsaraan batin
baik pada subyek pelaku sendiri maupun pada korbannya, maka masyarakat dan pemerintah
dipaksa untuk melakukan tindak-tindak preventif dan penanggulangan secara kuratif.
Tindakan preventif yang dilakukan antara lain berupa :
1. Meningkatkan kesejahteraan keluarga.
2. Perbaikan lingkungan, yaitu daerah slum, kampung-kampung miskin.
3. Mendirikan klinik bimbingan psikologis dan edukatif untuk memperbaiki


tingkah-laku dan membantu remaja dari kesulitan mereka.
4. Menyediakan tempat rekreasi yang sehat bagi remaja.
5. Membentuk badan kesejahteraan anak-anak.
6. Mengadakan panti asuhan.


7. Mengadakan lembaga reformatif untuk memberikan latihan korektif, pengoreksian dan
asistensi untuk hidup mandiri dan susila kepada anak- anak dan para remaja yang membutuhkan.
8. Membuat badan supervisi dan pengontrol terhadap kegiatan anak
delinkuen, disertai program yang korektif.
9. Mengadakan pengadilan anak.
57
10. Menyusun undang-undang khusus untuk pelanggaran dan kejahatan yang


dilakukan oleh anak dan remaja.
11. Mendirikan sekolah bagi anak gembel (miskin).
12. Mengadakan rumah tahanan khusus untuk anak dan remaja.


13. Menyelenggarakan diskusi kelompok dan bimbingan kelompok untuk membangun kontak
manusiawi di antara para remaja delinkuen dengan masyarakat luar. Diskusi tersebut akan sangat
bermanfaat bagi pemahaman kita mengenai jenis kesulitan dan gangguan pada diri para remaja.


14. Mendirikan tempat latihan untuk menyalurkan kreativitas para remaja delinkuen dan yang
nondelinkuen. Misalnya berupa latihan vokasional, latihan hidup bermasyarakat, latihan
persiapan untuk bertransmigrasi, dan lain-lain.27
Selanjutnya tindakan kuratif bagi usaha penyembuhan anak delinkuen
antara lain berupa :
1. Menghilangkan semua sebab-musabab timbulnya kejahatan remaja, baik
yang berupa pribadi familial, sosial ekonomis dan kultural.


2. Melakukan perubahan lingkungan dengan jalan mencarikan orang tua angkat/asuh dan
memberikan fasilitas yang diperlukan bagi perkembangan jasmani dan rohani yang sehat bagi
anak-anak remaja.
3. Memindahkan anak-anak nakal ke sekolah yang lebih baik, atau ke tengah
lingkungan sosial yang baik.
4. Memberikan latihan bagi para remaja untuk hidup teratur, tertib dan
berdisiplin.
5. Memanfaatkan waktu senggang di kamp latihan, untuk membiasakan diri
bekerja, belajar dan melakukan rekreasi sehat dengan disiplin tinggi.


6. Menggiatkan organisasi pemuda dengan program-program latihan vokasional untuk
mempersiapkan anak remaja delinkuen itu bagi pasaran kerja dan hidup di tengah masyarakat.
7. Memperbanyak lembaga latihan kerja dengan program kegiatan
pembangunan.


8. Mendirikan klinik psikologi untuk meringankan dan memecahkan konflik emosional dan
gangguan kejiwaan lainnya. Memberikan pengobatan medis dan terapi psikoanalitis bagi mereka
yang menderita gangguan kejiwaan.28
Keresahan yang ditimbulkan akibat dari kenakalan anak / remaja tersebut,
menjadi tanggung jawab sepenuhnya anggota masyarakat.Juvenile Delinquency
27Kartini Kartono,Op. Cit., hal. 95-96.
28Ibid, hal. 96-97.


tidak dipandang sebagai masalah yang timbul dan menimpa kelompok umur tertentu, akan tetapi
dinilai sebagai problema sosial yang muncul dari kelompok kecil sebagai implikasi dari
akselerasi perubahan masyarakat secara global.
Norma-norma hukum yang dijadikan salah satu pedoman dalam pergaulan dan kehidupan
bermasyarakat, bertujuan agar perkembangan kehidupan sosial dapat berjalan dengan stabil dan
normal. Sehingga kepentingan-kepentingan individu yang beraneka ragam di dalam masyarakat
dapat diselaraskan satu dengan lainnya. Norma-norma hukum pada akhirnya akan dapat
menyatukan kepatutan segala bentuk perilaku di dalam masyarakat.
Jika dipikirkan lebih lanjut, nampaknya ada beberapa faktor pendorong
yang menjadikan norma hukum lebih dipatuhi oleh anak remaja, antara lain :
1. Dorongan yang bersifat psikologis/kejiwaan.
2. Dorongan untuk memelihara nilai-nilai moral yang luhur di dalam


masyarakat.
3. Dorongan dalam upaya untuk memperoleh perlindungan hukum.
4. Dorongan untuk menghindari dari sanksi hukum.29


Kesadaran pada hukum dapat menyebabkan anak / remaja tersebut mengerti dan memahami
lebih dalam segala bentuk peraturan, sanksi, dan larangannya. Para delinkuen hendaknya
diarahkan agar lebih taat dan sadar hukum, kesadaran akan hukum ini tidak akan tumbuh dengan
sendirinya, akan tetapi keadaan tersebut akan berevolusi seiring dengan perkembangan zaman
dan mental anak / remaja itu. Dalam tahapan yang pertama, anak / remaja hendaknya diberikan
pengetahuan yang cukup tentang hukum. Anak / remaja yang telah terbina dengan baik oleh
aturan hukum, akan lebih mengerti hukum, kemudian
29Sudarsono,Op.Cit., hal. 111.




mereka akan menghargainya dan pada akhirnya anak / remaja tersebut mampu mematuhi hukum
dengan sebaik-baiknya. Dalam tingkat yang paling tinggi inilah anak / remaja telah sanggup
berperilaku sesuai dengan norma-norma hukum yang berlaku.Anak / remaja yang taat dan
menjalani aturan hukum dengan baik, akan
menjauhkan mereka dari segala bentuk kenakalan yang bisa berakibat pada timbulnya kejahatan.
Semakin baik pola perilaku anak / remaja Indonesia, maka akan semakin cerah pula kehidupan
berbangsa dan bernegara menuju pembangunan yang adil dan merata di masa yang akan datang.
BAB IV
DATA DAN ANALISA


Guna melengkapi penulisan hukum yang dilakukan ini, maka dalam bab ini penulis menyajikan
data yang diperoleh selama masa penelitian berhubungan dengan kenakalan anak / remaja dalam
timbulnya kejahatan di kota Bekasi. Data yang disajikan diperoleh dengan membahas
permasalahan dan melalui analisa kasus yang terjadi serta penyajian dari hasil metode quesioner
di lapangan. Dan kemudian dianalisa, dengan maksud untuk menemukan kebenaran sesuai
dengan hukum yang berlaku..
A. Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Anak / Remaja.


Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan di kota Bekasi yang bersumber pada data
Kepolisisan Polres Metro Kota Bekasi, diperoleh data yang menjelaskan bahwa faktor-faktor
penyebab timbulnya kenakalan anak / remaja adalah sebagai berikut :


1. Faktor lingkungan tempat dimana para pelaku tinggal. Hal ini dapat dibuktikan dari data yang
diperoleh, bahwa pelaku tindak pidana Muhammad Ali dan Cipto Triyoko melakukan perbuatan
melawan hukum karena terpengaruh oleh lingkungan tempat tinggalnya. Keadaan lingkungan
yang kumuh, miskin dan terbelakang menyebabkan pelaku terbawa pada perilaku yang
menyimpang.


2. Keadaan ekonomi yang berada dibawah standar kelayakan. Faktor ini menjadi penyebab
utama mengapa pelaku melakukan perbuatan melawan hukum. Keadaan ekonomi yang buruk
menjadikan mereka berbuat kebablasan hanya untuk mengejar uang atau impian yang tidak bisa
dicapai, sehingga pelaku memiliki kecenderungan untuk menghalalkan segala cara meskipun
perbuatan yang dilakukannya melawan hukum.


3. Keluarga yang kurang memperhatikan. Faktor ini menjadi asal mula dari timbulnya kenakalan
anak / remaja tersebut, keluarga yang tidak mengerti kebutuhan anaknya menyebabkan pelaku
bertindak menyimpang. Para pelaku tindak pidana ini melakukan perbuatan melawan hukum
sebagai akibat dari kurangnya keluarga mereka memperhatikan keinginan sang anak.
B. Sanksi Terhadap Kejahatan Anak / Remaja


Penjatuhan sanksi terhadap timbulnya kejahatan anak / remaja disesuaikan dengan tindak pidana
yang dilakukan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pengadilan Negeri Kota Bekasi selama
mengadakan penelitian atas kasus-kasus yang terjadi pada pelaku, terdapat kecenderungan
bahwa majelis hakim menjatuhkan sanksi pidana tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan
diatur dalam Perundang-undangan, ada kecenderungan majelis hakim menjatuhkan putusan lebih
ringan dari yang ditetapkan dalam Undang-undang. Dalam hal ini majelis hakim menjatuhkan
putusannya karena memiliki pertimbangan tersendiri mengapa putusannya lebih ringan. Majelis
hakim berpendapat bahwa putusan lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum atau
ketentuan Perundang-
undangan adalah karena anak / remaja tersebut dapat dibina, diperbaiki tingkah lakunya,
dihindarkan dari kegoncangan mental akibat hukuman yang dijatuhkan, dan agar hukuman yang
dijatuhkan majelis hakim sekalipun lebih ringan dapat menjerakan pelaku kejahatan dan
mengurangi timbulnya kejahatan anak / remaja


Data penelitian menyebutkan bahwa sanksi pidana yang dijatuhkan terhadap pelaku kejahatan
anak / remaja, dalam hal ini kepada Muhammad Ali dan Cipto Triyoko lebih ringan dari sanksi
dalam Peraturan Perundang-undangan. Terdakwa Muhammad Ali alias Ilay bin Mamit, dijatuhi
pidana penjara selama 2 (dua) tahun walaupun dalam ketentuan Pasal 85 huruf a UU RI Nomor
22 Tahun 1997 tentang Narkotika adalah selama 4 (empat) tahun. Sedangkan bagi terdakwa
Cipto Triyoko, dijatuhi pidana penjara selama 8 (delapan) bulan dan denda sebesar Rp.250.000,-
(dua ratus lima puluh ribu rupiah) denda mana jika tidak dibayar harus diganti dengan pidana
kurungan selama 10 (sepuluh) hari latihan kerja. Yang mana disebutkan dalam Pasal 78 Ayat (1)
huruf a UU RI Nomor 22 Tahun 1997 adalah pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
C. Usaha-usaha Aparat Penegak Hukum Terhadap Timbulnya Kejahatan
Anak / Remaja.


Dalam menanggulangi timbulnya kejahatan anak / remaja, aparat penegak hukum di kota bekasi
telah melakukan beberapa tindakan yaitu upaya Preventif, Represif dan Kuratif. Usaha-usaha
pencegahan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dilaksanakan oleh pihak kepolisian dan
Pengadilan Negeri kota




bekasi. Dalam menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum, Pihak Kepolisian dan
Pengadilan Negeri kota bekasi didasarkan pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang
ada.


Dalam upayanya untuk menjaga dan melindungi warga masyarakat kota bekasi dari ancaman
kejahatan yang ditimbukan oleh anak / remaja ini, aparat penegak hukum khususnya Kepolisian
Resort Metro bekasi bagian Reskrim telah mengupayakan cara penanggulangan seperti yang
telah dijelaskan di atas. Baik itu dalam tindakan preventif dan represif. Upaya-upaya yang
dilakukan oleh pihak kepolisian adalah dengan cara :
a. Melaksanakan pembinaan dan penyuluhan ke sekolah-sekolah tentang :
1. Kenakalan remaja.
2. Narkoba.
3. Pengetahuan lalu lintas
4. Kamtibmas.
b. Melaksanakan operasi penertiban (pemeriksaan tas siswa-siswi) di
sekolah.
c. Melaksanakan patroli dan sambang pada jam-jam rawan perkelahian
pelajar.
d. Pembentukan PKS (Patroli Keamanan Sekolah).30


Pihak Pengadilan Negeri dalam upayanya menanggulangi kejahatan anak adalah menjatuhkan
putusan atas timbulnya perkara pidana yang dilakukan oleh anak / remaja tersebut. Dalam hal ini
majelis hakim menjatuhkan putusan pengadilan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan
meskipun kadangkala tidak menjatuhkan pidana apapun karena pertimbangan kemanusiaan,
dalam upaya mengembalikan anak / remaja tersebut kembali kejalan yang benar dan tidak
mengulangi lagi perbuatannya.
30Wawancara dengan Kepala Bagian RESKRIM Polrestro kota bekasi, Oktober 2006.
64
D. Penyajian Kasus Perkara Pidana dan Data Hasil Quesioner
1. Kasus Perkara Pidana Nomor 1065/Pen.Pid/2005/PN.Bks. Di
Pengadilan Negeri Bekasi.


Pengadilan Negeri bekasi dalam sidang pengadilan hari senin, tanggal 21 November 2005 telah
memeriksa dan mengadili serta memutus perkara pidana tanpa hak menggunakan narkotik
golongan I, yang dilakukan oleh terdakwa :
Nama lengkap
: Muhammad Ali Als Ilay bin Mamit
Tempat lahir
: Bekasi
Umur atau tanggal lahir
: 19 Tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
Kebangsaan
: Indonesia
Tempat tinggal
: Jl. Flamboyan Rt 07/07 No.39 Ds. Jatimulya kec.
Tambun Selatan. Bekasi.
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Belum Bekerja
Dakwaan JPU


:
a. Primair Pasal 78 Ayat (1) UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
b. Subsidair Pasal 85 huruf a UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
Tuntutan JPU
:
1. Menyatakan Dakwaan Primair berdasarkan Pasal 78 Ayat (1) huruf a UU
RI Nomor 22 Tahun 1997 tidak terbukti dan tidak dapat dibuktikan.
2. Menyatakan Dakwaan Subsidair berdasarkan Pasal 85 huruf a UU RI
Nomor 22 Tahun 1997 telah terpenuhi dan terbukti secara meyakinkan,


yaitu terdakwa tanpa hak dan melawan hukum menggunakan Narkotika
Golongan I bagi diri sendiri.
3. Menyatakan menghukum terdakwa Muhammad Ali alias Ilay bin Mamit
dengan hukuman penjara selama 2 tahun, dikurangi tahanan sementara.
4. Menyatakan barang bukti Ganja 0,6159 gram dirampas untuk
dimusnahkan.
5. Menghukum terdakwa membayar biaya perkara Rp.1000 (Seribu Rupiah).
Putusan Hakim
:


1. Menyatakan terdakwa Muhammad Ali als. ILAY bin Mamit tersebut diatas telah terbukti
secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana : “Tanpa hak menggunakan
narkotik golongan I (satu)”.
2. Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa dengan pidana
penjara selama 2 (dua) tahun.
3. Menetapkan bahwa masa penahanan yang telah dijalani terdakwa
dikurangkan seluruhnya dari perkara yang telah dijatuhkan padanya.
4. Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan Lembaga
Pemasyarakatan di bekasi.
5. Menetapkan agar barang bukti berupa :
Ganja 0,6159 gram dirampas untuk dimusnahkan.
6. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp.1000,- (seribu
rupiah).


AnalisaSetelah mempelajari kasus perkara pidana “Tanpa hak menggunakan
Narkotika golongan I ( satu )” yang telah diperiksa, dilalui dan diputus oleh Pengadilan Negeri
Bekasi, maka penulis dapat menganalisa data tersebut di atas sebagai berikut :


1. Terdakwa yang masih berusia 19 (sembilan belas) Tahun, jika berdasarkan pada aturan dalam
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak digolongkan sebagai anak / remaja. Tetapi
jika ditinjau dari ketentuan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku (KUH Perdata dan
Inpres RI Nomor 1 Tahun 1991) dapat digolongkan sebagai anak / remaja.


2. Bahwa penyusun menilai putusan majelis hakim / putusan Pengadilan tersebut dinilai masih
sangat ringan yaitu lamanya masa penahanan yang pernah dijalani terdakwa itu masih harus
dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Selain itu penjatuhan pidana penjara
selama 2 (dua) tahun dapat penyusun simpulkan terlalu singkat dibandingkan dengan lamanya
hukuman yang ditentukan dalam Pasal 78 ayat (1) huruf b yakni pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) serta
ketentuan dalam Pasal 85 huruf a UU RI Nomor 22 Tahun 1997 yakni 4 (empat) tahun. Namun
tindakan majelis hakim tersebut juga dihubungkan dengan upaya penanggulangan bagi
timbulnya kenakalan anak / remaja yang berupa cara preventif dan represif. Bersifat represif
karena dengan putusan yang dijatuhkan tersebut maka sisa hukuman yang harus dijalani oleh
terdakwa




tidak terlalu lama, sedangkan selama di tingkat penyidik (kepolisian) terdahulu terdakwa
memperoleh penangguhan penahanan, sehingga dalam masa penangguhan penahanan dan
menjalani hukuman itu terdakwa dapat memperbaiki diri dan bertindak hati-hati agar tidak
melakukan / mengulangi tindak pidana lagi. Bersifat represif karena pengadilan / majelis hakim
tetap menjatuhkan pidana kepada terdakwa meskipun terdakwa masih dikategorikan sebagai
anak / remaja, sehingga terdakwa dapat memahami bahwa rimi tidak memandang status
seseorang dan memahami bahwa perbuatannya itu dapat diancam dan dijatuhi sanksi pidana.
3. Bahwa dalam putusan majelis hakim terhadap terdakwa yaitu tetap berada dalam tahanan dan
diserahkan kepada pemerintah. Putusan tersebut dapat dibenarkan oleh aturan rimi pidana yang
diterapkan bagi anak / remaja. Berdasarkan aturan rimi pidana adalah bahwa si anak / remaja
yang terlibat tindak pidana masih diharapkan untuk dibinan dan dididik oleh pemerintah agar
menjadi manusia yang baik serta membantu pemerintah dalam hal memerangi peredaran dan
penggunaan Narkotika.


4. Bahwa jika ditinjau dari bentuk perbuatannya, maka perbuatan terdakwa tersebut merupakan
perbuatan / tindak pidana dan dapat dikatakan sebagai kejahatan. Hal ini dapat ditarik
berdasarkan tuduhan jaksa penuntut umum dan putusan majelis hakim yang menyatakan bahwa
terdakwa melakukan perbuatan pidana menggunakan narkotika Golongan I bagi diri sendiri,


sebagaimana diatur dalam Pasal 85 huruf a Undang-Undang Nomor 22
Tahun 1997 tentang Narkotika.
2. Kasus Perkara Pidana Nomor 2075/PID.B/2006/PN.Bks. Di
Pengadilan Negeri Bekasi.


Pengadilan Negeri bekasi dalam rimin pengadilan hari Kamis, tanggal 14 Desember 2006 telah
memeriksa dan mengadili serta memutus perkara pidana tanpa hak dan melawan rimi mencoba
menyerahkan Narkotika golongan I jenis ganja, yang dilakukan oleh terdakwa :
Nama lengkap
: Cipto Triyoko
Tempat lahir
: Purwokerto
Umur atau tanggal lahir
: 17 Tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
Kebangsaan
: Indonesia
Tempat tinggal
: Kp. Bojong Tua Rt. 002/14, Kel. Jatiwaringin,
Kec. Pondok Gede, Bekasi.
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Swasta
Dakwaan JPU


:
a. Primair Pasal 83 UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
b. Subsidair Pasal 78 Ayat (1) UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
69
Tuntutan JPU
:
1. Menyatakan terdakwa Cipto Triyoko telah terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “tanpa hak dan melawan
rimi mencoba menyerahkan Narkotika Golongan I” sebagaimana diatur
dan diancam Pidana dalam Pasal 83 UU RI Nomor 22 Tahun 1997.


2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dikurangi
selama dalam tahanan. Denda : Rp. 500.000,- Subsider : 15 hari latihan kerja.


3. Menetapkan barang bukti berupa daun ganja kering sebanyak 0,3850 (nol koma tiga ribu
delapan ratus lima puluh) gram dirampas untuk dimusnahkan.
4. Menetapkan supaya terdakwa tetap ditahan dan membebankan terdakwa
untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 1000,-
Putusan Hakim
:
1. Menyatakan terdakwa Cipto Triyoko tersebut diatas telah terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana : “Tanpa hak dan melawan rimi mencoba menyerahkan
Narkotik golongan I (satu) jenis ganja”.


2. Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 8 (
delapan ) bulan dan denda sebesar Rp.250.000,- ( dua ratus lima puluh ribu rupiah ). Denda mana
jika tidak dibayar harus diganti dengan pidana kurungan selama : 10 ( sepuluh ) hari latihan
kerja.


3. Menetapkan bahwa masa penahanan yang telah dijalani terdakwa
dikurangkan seluruhnya dari perkara yang telah dijatuhkan padanya.
4. Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan Lembaga
Pemasyarakatan di bekasi.
5. Menetapkan agar barang bukti berupa :
Daun ganja kering sebanyak 0,3850 ( nol koma tiga ribu delapan ratus
lima puluh ) gram dirampas untuk dimusnahkan.
6. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp.1000,- (seribu
rupiah).
AnalisaSetelah mempelajari kasus perkara pidana kedua “ Tanpa hak dan


melawan rimi mencoba menyerahkan Narkotika golongan I ( satu ) jenis ganja” yang telah
diperiksa, dilalui dan diputus oleh majelis hakim Pengadilan Negeri kota Bekasi, maka penulis
dapat menganalisa data tersebut di atas sebagai berikut:


1. Bahwa terdakwa yang masih berusia 17 ( tujuh belas ) Tahun, jika dihubungkan dengan
riminal secara biologis maupun yuridis ( menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku di Indonesia, KUH Perdata, Inpres RI Nomor 1 Tahun 1991 dan UU Nomor 23 Tahun
2002 tentang Perlindungan Anak ) dapat digolongkan sebagai anak / remaja.


2. Bahwa penyusun menilai putusan majelis hakim / putusan Pengadilan Negeri Bekasi tersebut
dinilai masih teramat ringan yaitu lamanya masa penahanan yang pernah dijalani terdakwa itu
masih harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Selain itu penjatuhan pidana
selama 8 ( delapan )




bulan penjara disertai dengan denda sebesar Rp.250.000,- ( dua ratus lima puluh ribu rupiah ),
denda mana jika tidak dibayar harus diganti dengan pidana kurungan selama 10 ( sepuluh ) hari
latihan kerja dapat penulis simpulkan masih terlalu ringan, meskipun terdakwa hanya mencoba
untuk menyerahkan Narkotika golongan I ( satu ) jenis ganja


riminal r dengan lamanya hukuman yang ditentukan dalam Pasal 78 ayat 1 ( satu ) huruf b yakni
pidana penjara paling lama 10 ( sepuluh ) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (
lima ratus juta rupiah ). Namun tindakan majelis hakim tersebut dapat penyusun analisa sebagai
bentuk upaya penanggulangan timbulnya kenakalan anak / remaja dengan cara preventif dan
represif. Selain itu agar terdakwa memahami bahwa perbuatannya melawan
rimi dan
menimbulkan efek jera untuk tidak mengulanginya kembali.


3. Bahwa putusan majelis hakim terhadap terdakwa agar tetap berada dalam tahanan dan
diserahkan kepada pemerintah. Putusan tersebut dapat dibenarkan oleh aturan rimi pidana yang
diterapkan bagi anak / remaja. Berdasarkan pada aturan rimi pidana adalah bahwa anak / remaja
tersebut yang terlibat dalam tindak pidana diharapkan untuk dibina dan dididik oleh pemerintah
agar dapat menjadi manusia yang baik serta membantu pemerintah dalam hal mengurangi
kenakalan anak / remaja pada umumnya dan memerangi peredaran serta penggunaan narkotika
pada khususnya.


4. Bahwa jika ditinjau dari bentuk perbuatannya, maka perbuatan terdakwa tersebut merupakan
perbuatan / tindak pidana. Hal ini dapat ditarik berdasarkan tuduhan jaksa penuntut umum dan
putusan majelis hakim yang
menyatakan bahwa terdakwa bersalah melakukan perbuatan pidana tanpa hak dan melawan rimi
mencoba menyerahkan Narkotika golongan I ( satu ) sebagaimana diatur dalam Pasal 78 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
3. Hasil Penelitian Menggunakan Metode Quesioner.
Kenakalan anak / remaja dalam studi masalah rimin dapat dikategorikan
ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah


rimin terjadi karena penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan rimin ataupun dari nilai
dan norma rimin yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah
karena dapat membahayakan tegaknya rimin
rimin dan penegakan rimi positif.


Metode yang digunakan dalam penulisan rimi ini adalah menggunakan metode riminal r, yaitu
memperoleh sample secara acak dengan memberikan daftar pertanyaan dan isian kepada
narasumber. Pemilihan metode ini karena penelitian yang dilakukan ingin mempelajari dan
mengetahui masalah-masalah
rimin dalam suatu masyarakat, yang dalam kenyataannya tidak terbuka secara
umum. Juga memperoleh fenomena dari kejadian yang ada.


Cara pemilihan rimin yang dilakukan adalah dengan memilih responden yang berstatus anak /
remaja. Responden dalam penelitian ini ditentukan bagi mereka yang berusia antara 13 tahun-19
tahun. Mengingat pengertian anak / remaja dalam Peraturan Perundang-undangan (KUH
Perdata) adalah mereka yang belum berumur 21 tahun dan belum menikah. Dengan
pertimbangan pada usia




tersebut, terdapat berbagai masalah dan krisis diantaranya ; krisis identitas, kecanduan narkotik,
kenakalan, tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah ataupun lingkungannya, konflik mental dan
terlibat kejahatan.
a. Bentuk Kenakalan Yang Dilakukan Oleh Responden
Berdasarkan data yang penulis peroleh di lapangan dengan cara mengajukan daftar pertanyaan
(Quesioner) kepada narasumber, dapat disajikan hasil penelitian tentang kenakalan anak atau
remaja sebagai salah satu perbuatan yang menyimpang dan cenderung menimbulkan kejahatan
dengan keberfungsian


rimin di Kota Bekasi. Adapun ukuran yang dipergunakan penulis untuk mengetahui kenakalan
anak atau remaja seperti yang disebutkan dalam skripsi ini, yaitu : (1) Kenakalan Biasa, (2)
Kenakalan yang menjurus pada tindak riminal, dan (3) Kenakalan Khusus yang pengaturannya
terdapat dalam Hukum Pidana Khusus. Responden dalam penelitian menggunakan metode
Quesioner ini berjumlah 50 orang, dengan jenis kelamin laki-laki 30 responden, dan perempuan
20 responden. Mereka berusia antara 13 tahun – 19 tahun. Terbanyak adalah mereka yang
berumur 16 tahun – 18 tahun.
Tabel 1.Bentuk Kenakalan Anak / Remaja Yang Dilakukan Responden
(n=50)
No.
Bentuk Kenakalan / Kejahatan
X
%
Y
%
1
Berbohong
50
100
0
0
2
Pergi dari rumah tanpa pamit
46
92
4
8
3
Keluyuran
49
98
1
2
4
Begadang
49
98
1
2
5
Membolos sekolah
45
90
5
10
6
Berkelahi dengan teman
47
94
3
6
7
Berkelahi antar sekolah
19
38
31
62
74
8
Buang sampah sembarangan
50
100
0
0
9
Membaca buku porno
37
74
13
26
10
Melihat gambar porno
47
94
3
6
11
Menonton film porno
46
92
4
8
12
Mengendarai kendaraan tanpa SIM
46
92
4
8
13
Kebut-kebutan
39
78
11
22
14
Minum-minuman keras
28
56
22
44
15
Kumpul kebo
12
24
38
76
16
Hubungan sex pra-nikah
10
20
40
80
17
Mencuri
28
56
22
44
18
Mencopet
10
20
40
80
19
Menodong
12
24
38
76
20
Menggugurkan kandungan
4
8
46
92
21
Memperkosa
3
6
47
94
22
Berjudi
34
68
16
32
23
Menyalahgunakan narkotika / psikotropika
20
40
30
60
24
Membunuh
2
4
48
96
25
Money Laundering
3
6
47
94
26
Cyber crime
3
6
47
94


Keterangan :
n : Jumlah responden
X : Jumlah responden yang melakukan bentuk kenakalan
Y : Jumlah responden yang tidak melakukan bentuk kenakalan
Sumber : Data Quesioner Anak / Remaja Kota Bekasi, 2006


Dengan tabel diatas dijelaskan bahwa seluruh responden pernah melakukan kenakalan, terutama
pada tingkat kenakalan biasa seperti berbohong, pergi keluar rumah tanpa pamit kepada orang
tuanya, keluyuran, begadang, membolos sekolah dan jenis kenakalan biasa lainnya. Pada tingkat
kenakalan yang menjurus pada timbulnya tindak kriminal seperti mengendarai kendaraan tanpa
SIM, kebut-kebutan, minum-minuman keras, mencuri, juga cukup banyak dilakukan oleh
responden. Bahkan pada kenakalan khusus pun banyak pula dilakukan oleh responden dalam
penelitian ini. Diantaranya adalah hubungan sex pra-nikah, menggugurkan kandungan,
memperkosa, menyalahgunakan narkotika, hingga timbulnya kejahatan khusus seperti money
laundering dan cyber crime meskipun bentuk kenakalan ini persentasenya sangat kecil. Keadaan
yang


memperparah lingkungan sosial dimana responden tinggal adalah terdapat beberapa diantara
responden yang melakukan hubungan sex pra-nikah dan kumpul kebo. Keadaan yang demikian
cukup mengkhawatirkan jika tidak segera ditanggulangi, ada kemungkinan dapat membahayakan
baik bagi pelaku, keluarga, maupun lingkungan sosial dimana anak atau remaja tersebut
bertempat tinggal. Karena hal tersebut dapat menimbulkan masalah sosial di kemudian hari yang
semakin kompleks, semisal timbulnya sex bebas.
a.1. Hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kenakalan


Salah satu hubungan variabel yang disajikan dalam penelitian ini adalah hubungan antara jenis
kelamin dengan tingkat kenakalan anak atau remaja yang menimbulkan kejahatan. Hal ini untuk
mengetahui apakah anak atau remaja laki- laki lebih nakal daripada anak atau remaja perempuan
atau probalitasnya adalah sama. Berdasarkan tabel hubungan diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 2. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan bentuk kenakalan (n=50)
No.
Bentuk Kenakalan / Kejahatan
Jenis Kelamin
Laki-laki
%
Perempuan
%
1
Berbohong
30
60
20
40
2
Pergi dari rumah tanpa pamit
27
54
19
38
3
Keluyuran
30
60
19
38
4
Begadang
30
60
19
38
5
Membolos sekolah
29
58
16
32
6
Berkelahi dengan teman
28
56
19
38
7
Berkelahi antar sekolah
16
32
3
6
8
Buang sampah sembarangan
30
60
20
40
9
Membaca buku porno
23
46
14
28
10
Melihat gambar porno
29
58
18
36
11
Menonton film porno
29
58
17
34
12
Mengendarai kendaraan tanpa SIM
29
58
17
34
76
13
Kebut-kebutan
25
50
14
28
14
Minum-minuman keras
22
44
6
12
15
Kumpul kebo
9
18
3
6
16
Hubungan sex pra-nikah
7
14
3
6
17
Mencuri
19
38
9
18
18
Mencopet
6
12
4
8
19
Menodong
9
18
3
6
20
Menggugurkan kandungan
3
6
1
2
21
Memperkosa
3
6
0
0
22
Berjudi
26
52
8
16
23
Menyalahgunakan narkotika / psikotropika
15
30
5
10
24
Membunuh
2
4
0
0
25
Money Laundering
2
4
1
2
26
Cyber crime
3
6
0
0
Sumber : Data Quesioner Anak / Remaja Kota Bekasi, 2006


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis dapat ditarik kesimpulan bahwa anak atau
remaja laki-laki lebih cenderung melakukan perbuatan kenakalan dibanding dengan anak atau
remaja perempuan. Dengan demikian maka anak atau remaja laki-laki memiliki kecenderungan
untuk melakukan kenakalan yang menjurus pada kejahatan lebih dibandingkan dengan anak atau
remaja perempuan.
b.1. Hubungan antara pekerjaan responden dengan tingkat kenakalan.
Berdasarkan data yang diperoleh, pekerjaan responden adalah pelajar.
Masing-masing terdiri atas pelajar SLTP, SLTA/SMU, SMK dan Mahasiswa.
Tabel 3. Pekerjaan responden dengan Tingkat kenakalan (n=50)
No
Tingkat Pendidikan
n
%
1
SLTP
1
2
2
SLTA / SMU
40
80
3
SMK
6
12
4
Mahasiswa
3
6
50
100
Sumber : Data Primer
77


Data diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan pendidikan tidak menjamin bahwa
anak atau remaja tersebut tidak akan melakukan kenakalan (Mahasiswa 6%). Faktor yang kuat
menyebabkan terjadinya delinquency yaitu karena adanya waktu luang yang tidak dimanfaatkan
dengan baik, untuk kegiatan positif, dan adanya pengaruh buruk dalam sosialisasi dengan teman
bermainnya atau faktor lingkungan sosial yang sangat besar pengaruhnya. Hal ini dapat dikaitkan
dengan kesimpulan yang diperoleh berdasarkan data dari pihak Kepolisian Metro Bekasi.
c.1. Hubungan antara keberfungsian sosial keluarga dengan tingkat kenakalan.


Keberfungsian sosial keluarga merupakan pendorong terjadi timbulnya kenakalan anak atau
remaja. Dalam hal ini diuraikan mengenai bagaimanakah suatu lingkungan sosial keluarga
berperan penting dalam melaksanakan fungsi kehidupan, peranan dan tugasnya serta peranannya
dalam membina anak atau remaja memenuhi kebutuhannya.
c.1.1 Hubungan antara pekerjaan orang tua anak / remaja dengan tingkat
kenakalan.


Untuk mengetahui apakah kenakalan anak atau remaja juga ada hubungannya dengan pekerjaan
orang tuanya, dalam arti tingkat pemenuhan kebutuhan hidup sang anak atau remaja tersebut.
Karena pekerjaan orang tua dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi, guna memenuhi
kebutuhan keluarganya. Hal ini perlu untuk diketahui karena dalam keberfungsian sosial,
78


salah satunya adalah mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Berdasarkan dari data yang penulis
peroleh selama mengadakan penelitian ini, diperoleh data berdasarkan pekerjaan orang tuanya
adalah sebagai berikut :
Tabel 4. Pekerjaan Orang tua dengan Tingkat kenakalan (n=50)
No
Pekerjaan Orang Tua
n
%
1
Pegawai Negeri Sipil
21
42
2
Wiraswasta
19
38
3
Pensiunan
5
10
4
Karyawan
3
6
5
Pegawai Swasta
1
2
6
Buruh Pabrik
1
2
50
100


Keterangan :
n : Jumlah Pekerjaan Orang tua responden
Sumber : Data Primer


Dari korelasi diatas diketahui bahwa kecenderungan anak atau remaja yang orang tuanya bekerja
sebagai pegawai negeri sipil lebih cenderung melakukan kenakalan bila dibandingkan dengan
anak atau remaja yang orang tuanya bekerja sebagai wiraswasta, pensiunan, karyawan, pegawai
swasta dan buruh. Hal ini berarti pekerjaan orang tua anak atau remaja tersebut, berhubungan
dengan tingkat kenakalan yang dilakukan oleh anak atau remaja tersebut. Keadaan yang
demikian karena kemungkinan bagi orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, lebih
memperhatikan anaknya untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Tetapi kesibukannya
mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, membuat berkurangnya perhatian pada
anak atau remaja tersebut. Kurangnya penanaman moral dan nilai-nilai sosial kepada anaknya,
menyebabkan anak atau remaja lebih terfokus pada kelompoknya yang kurang mengarahkan
pada kehidupan normatif, sehingga besar kemungkinan terjadinyadelinquency.
79
c.1.2. Hubungan antara keutuhan keluarga dengan tingkat kenakalan.


Keutuhan keluarga seorang anak atau remaja dapat berpengaruh terhadap sifat dan kelakuan anak
atau remaja dalam timbulnya kenakalan. Dalam arti yang sempit, kenakalan anak atau remaja
tersebut berasal dari keluarga yang tidak utuh, baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam
interaksinya di lingkungan keluarga.
Tabel 5. Keutuhan Keluarga dengan Tingkat Kenakalan (n-50)
No
Keutuhan Keluarga
n
%
1
Harmonis & Utuh
41
82
2
Harmonis & Tidak Utuh
9
18
50
100


Keterangan :
n : Jumlah bentuk keutuhan keluarga responden
Sumber : Data Primer


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ternyata keutuhan suatu lingkungan keluarga tidak
menjamin bagi anak atau remaja untuk tidak melakukan kenakalan.
c.1.3. Hubungan antara kehidupan beragama keluarganya dengan tingkat
kenakalan.


Kehidupan beragama keluarga juga dapat dijadikan salah satu ukuran untuk melihat
keberfungsian sosial suatu keluarga. Sebab dalam konsep keberfungsian sosial juga dilihat dari
segi kerohanian. Keluarga yang menjalankan kewajiban-kewajiban agama dengan baik, berarti
mereka menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Secara teoritis bagi keluarga yang
menjalankan kewajiban beragama dengan baik, maka anak-anaknya pun akan melakukan hal-hal
yang
80
baik sesuai dengan norma agama. Berdasarkan data yang diperoleh dalam
penelitian ini, adalah sebagai berikut :
Tabel 6. Kehidupan beragama keluarga dengan tingkat kenakalan (n=50)
No
Kehidupan Beragama Keluarga
n
%
1
Keluarga Taat Beragama
38
76
2
Keluarga Kurang & Tidak Taat Beragama
12
24
50
100


Keterangan :
n : Jumlah bentuk kehidupan beragama keluarga responden
Sumber : Data Primer


Dengan demikian kenakalan tidak hanya timbul begitu saja karena keluarga yang kurang dan
tidak taat beragama. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa timbulnya kenakalan,
terbanyak berasal dari keluarga yang taat beragama. Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya
memberikan pendidikan kepada anak atau remaja tersebut. Ada kemungkinan besar bahwa
keluarga tersebut taat menjalankan kewajiban beragama, tetapi anak atau remajanya tidak
menjalankan.
c.1.4. Hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anak dengan tingkat
kenakalan.


Salah satu sebab kenakalan anak atau remaja dalam timbulnya kejahatan adalah sikap orang tua
dalam mendidik anaknya. Hubungan antara sikap orang tua dengan pendidikan anak sangat
berperan.
Tabel 7. Sikap Orang tua dalam Pendidikan anak (n=50)
No
Sikap Orang Tua dalam Pendidikan Anak
n
%
1
Otoriter
16
32
2
Over Protection
16
32
3
Kurang Memperhatikan
14
28
81
4
Tidak Memperhatikan sama sekali
4
8
50
100


Keterangan :
n : Jumlah hubungan sikap orang tua responden dalam pendidikan anak
Sumber : Data Primer


Dari data peneltian dapat disimpulkan bahwa sikap orang tua yang otoriter dan over protection,
menyebabkan terjadinya kenakalan anak atau remaja. Sikap orang tua yang kurang
memperhatikan kehidupan anak atau remaja juga perlu dipertimbangkan, karena apabila orang
tua kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya, ada kemungkinan sang anak atau remaja
tersebut semakin terjerumus melakukandelinquency.
c.1.5. Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya terhadap tingkat
kenakalan.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, oleh karena itu mau tidak mau harus
berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Adapun yang diharapkan dari hubungan antara
keluarga dengan masyarakat adalah terciptanya keserasian, karena keserasian akan menciptakan
kenyamanan dan ketentraman. Apabila hal tersebut tidak dapat diciptakan, maka proses
sosialisasi anak atau remaja juga tidak dapat berjalan dengan baik dan sebaliknya. Dari data
dilapangan, diperoleh hasil :
Tabel 8. Hubungan Interaksi keluarga dengan Lingkungan terhadap tingkat
kenakalan (n=50)
No
Hubungan Interaksi keluarga dengan Lingkungan
n
%
1
Serasi dengan Lingkungan
35
70
2
Kurang serasi dengan Lingkungan
12
24
3
Tidak serasi dengan Lingkungan
3
6
50
100
82


Keterangan :
n : Jumlah bentuk interaksi keluarga responden dengan lingkungan
Sumber : Data Primer
Dari data diperoleh, bahwa timbulnya kenakalan anak atau remaja lebih banyak berasal dari
keluarga yang serasi dengan lingkungan sosialnya. Hasil ini lebih banyak daripada keluarga yang
kurang serasi dan keluarga yang tidak serasi.
AnalisaBerdasarkan dari data yang penulis dapatkan dilapangan, dapat diambil


kesimpulan bahwa timbulnya kenakalan anak atau remaja yang menimbulkan kejahatan
disebabkan karena banyaknya waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik dan positif oleh
anak atau remaja tersebut. Dilain itu faktor keluarga dan lingkungan juga sangat berpengaruh
besar dalam timbulnya kenakalan. Keluarga yang harmonis dan utuh, belum tentu menjamin
bahwa anak atau remaja tidak akan terjerumus dalam kenakalan, begitu pula dengan keluarga
yang taat menjalankan kewajiban beragama. Meskipun keluarganya adalah keluarga yang taat
beragama, bila anaknya memang memiliki mental yang bobrok sekalipun akan sangat berat
menjauhkan anak atau remaja tersebut dari kenakalan.


Berdasarkan kenyataan yang ada, maka untuk memperkecil tingkat kenakalan anak atau remaja
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Yaitu dengan meningkatkan fungsi sosial keluarga
terhadap anak-anaknya melalui pembinaan yang baik, memberikan perhatian yang adil dan
seimbang dengan kebutuhan anak, penanaman pendidikan agama yang baik, dan meningkatkan
budaya sadar hukum dalam lingkungan keluarga. Dalam hubungannya dengan




masyarakat, melalui peningkatan program-program sosial yang berorientasi pada keluarga dan
pembangunan sosial masyarakat. Di samping itu untuk memperkecil penyimpangan anak atau
remaja, diperlukan banyak kegiatan positif dalam mengisi waktu luang dan pengadaan program-
program peningkatan sumber daya manusia.


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari keseluruhan uraian mengenai “Penanggulangan Kenakalan Anak / Remaja Dalam
Timbulnya Kejahatan Yang Dilakukan Oleh Anak / Remaja Di Kota Bekasi”. Sebagaimana telah
dituangkan dalam Bab I sampai dengan Bab IV penulisan hukum ini, maka pada Bab V sebagai
bagian penutup ini akan diuraikan beberapa kesimpulan dan saran dari penyusun.


Bahwa kenakalan anak / remaja yang semakin waktu semakin menimbulkan kecemasaan dan
sudah melampaui batas-batas kewajaran, maka dalam hal ini diperlukan upaya-upaya
penanggulangannya.
Adapun dari hasil penelitian dan uraian yang telah dijabarkan dalam Bab-
bab terdahulu, dapat penyusun mengambil kesimpulan sebagai berikut :


1. Kenakalan anak / remaja tersebut timbul sebagai bentuk perilaku menyimpang yang banyak
disebabkan karena faktor pendidikan yang buruk, lingkungan yang tidak mendukung anak /
remaja tersebut untuk menjadi manusia yang baik, keluarga tidak harmonis yang tidak
memperhatikan segala bentuk kebutuhan sang anak / remaja, peraturan yang terlalu mengikat
dan mengekang sehingga anak / remaja tersebut melanggarnya, dan keadaan jiwa atau psikologis
anak / remaja tersebut yang memiliki kecenderungan bertindak diluar batas-batas kewajaran serta
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.


2. Sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap pelaku kejahatan anak / remaja adalah sanksi yang
sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan hukum yang sesuai
dengan kenakalan anak / remaja adalah pada Pasal 45 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Dalam Pasal ini anak yang melakukan kejahatan dapat dikembalikan kepada orang tuanya,
diserahkan kepada pemerintah, dan Anak tersebut dapat dijatuhi Pidana. Selain dalam KUHP
aturan lainnya juga ditetapkan dalam UU RI Nomor 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak.
Dalam UU RI Nomor 3 tahun 1997 tersebut dijabarkan bahwa, terhadap anak yang melakukan
kenakalan dapat dijatuhkan Pidana pokok dan Pidana tambahan serta tindakan yang ditentukan
dalam UU RI Nomor 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak


3. Dalam upaya menanggulangi berbagai macam kenakalan anak / remaja tersebut, diperlukan
usaha-usaha preventif, kuratif dan represif untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kejahatan
sebagai akibat dari timbulnya kenakalan anak / remaja. Tindakan preventif dalam hal ini adalah
dengan cara : meningkatkan kesejahteraan keluarga, menciptakan keadaan lingkungan yang baik,
mengadakan sosialisasi mengenai hukum dan segala bentuk kenakalan yang melanggar hukum,
menyelenggarakan peradilan bagi anak / remaja yang terlibat dalam kejahatan, menyediakan
rumah tahanan atau tempat rehabilitasi bagi anak / remaja delinkuen, dan mendirikan fasilitas-
fasilitas umum yang baik untuk memungkinkan anak / remaja tersebut selalu bersifat positif.
Tindakan kuratif dengan melalui




upaya-upaya : menghilangkan semua sebab-sebab timbulnya kejahatan akibat kenakalan anak /
remaja tersebut, menggiatkan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif bagi anak / remaja, dan
mengadakan lembaga konsultasi bagi anak / remaja dalam meringankan serta memecahkan
segala bentuk permasalahan yang dihadapi anak / remaja tersebut. Tindakan represif yang berupa
menindak dengan tegas dan sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku terhadap anak / remaja
yang melakukan perbuatan melawan hukum.
B. Saran


Kenakalan seorang anak / remaja yang dapat menimbulkan kejahatan harus segera dibenahi dan
diperbaiki, terlebih jika kenakalan itu bukanlah proses mereka untuk mencapai tahap
pendewasaan diri. Namun, sekalipun menjadi bagian dari proses psikologisnya, perbuatan
kenakalan anak / remaja tersebut tetap harus dibatasi agar tidak menjadi kebiasaan dan bersifat
permanent dalam diri mereka.Mengabaikan keadaan anak / remaja yang berlaku menyimpang ini
dan


membiarkannya berkembang, akan menyebabkan timbulnya akhlak yang buruk, gangguan
psikologis, dan berbagai dampak negatif lainnya yang bersifat kejiwaan. Tentunya anak / remaja
yang rusak dalam jiwanya akan dapat merugikan bangsa dan negara Indonesia. Anak / remaja
adalah sesuatu yang harus dilindungi dengan baik, keselamatan jiwa mereka teramat bergantung
pada keadaan sekitarnya yang sehat dan mendukung.
87
Agar penyelesaian permasalahan kenakalan anak / remaja yang berpotensi menimbulkan
kejahatan lebih optimal dan tercapai dalam tingkat keberhasilannya, maka penulis sekiranya
dapat menyampaikan saran-saran :


1. Pengenalan terhadap hukum dan norma-norma yang berlaku secara umum dalam lingkungan
keluarga, sehingga dapat mendidik anak / remaja berlaku baik dan memiliki kedisiplinan
khususnya pada diri anak / remaja tersebut.


2. Menciptakan kondisi lingkungan tempat tinggal yang sehat, memberikan pengawasan dan
bimbingan baik di bidang sosial maupun di bidang rohani.


3. Pemerintah dan aparat penegak hukum yang berwibawa, menegakkan hukum sesuai dengan
peraturan yang menyangkut permasalahan mengenai anak seperti yang diatur dalam KUHP Pasal
45, 46 dan 47. Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak dan Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.


4. Bagi bangsa dan negara Indonesia diharapkan menyelesaikan permasalahan kenakalan anak /
remaja dengan bijaksana, karena anak / remaja Indonesia adalah asset berharga yang nilainya
pun tidak dapat disamai dengan seribu gunung emas
Gang nero Senin,

                                         16 Juni 2008

NAMA gang di kota kecamatan Juwana, 12 kilometer timur pusat pemerintahan kabupaten Pati,
Jawa Tengah, sebenarnya Belimbing. Namun lebih dikenal dengan gang cinta (GC).Gang itu
sendiri panjangnya lebih dari 500 meter. Kanan kirinya berupa tembok tebal bagian belakang
perumahan penduduk, rata-rata setinggi lebih dari tiga meter, yang sebagian besar dihuni enis
tertentu.

      Gang itu juga bersih, sudah dicor beton, dan bisa dilalui mobil meski tak bisa untuk
      berpapasan. Sebagian besar tembok bercat putih, lumayan bersih dan hanya ada sedikit
      corat-coret di tembok. Hanya saja, sangat jarang warga setempat maupun pengguna jalan
      melewati gang tersebut. Mereka memilih melalui dua jalan raya yang sejajar dengan GC.

      Kondisi itulah yang biasa dimanfaatkan untuk pacaran anak-anak remaja, sehingga gang
      itu juga dikenal sebagai Gang Cinta. Akan tetapi, tak sedikit pula remaja tanggung yang
      memanfaatkan gang itu untuk lokasi minum minuman keras yang aman!

      Kota Kecamatan Juwana dikenal sebagai pusat pasar beras, industri kuningan, pelabuhan
      antarpulau, dan tempat pendaratan ikan maupun tempat penjualan ikan (TPI) terbesar
      nomor dua di Jateng, serta berada di jalur utama Jakarta-Semarang-Surabaya.

      Di GC itulah, geng (gerombolan) neko-neko dikeroyok (Nero), pekan lalu diduga tengah
      memelonco salah satu calon anggota yang bernama Ls. Perpeloncoan dilakukan dengan
      menendang dan memukul menggunakan tangan dan kaki. Termasuk menjambak rambut.
      Anggota geng semuanya remaja putri. Ls sendiri adalah siswa salah satu SMA di Juwana.

      Adegan itu sempat direkam dalam bentuk video oleh seorang calon anggota Geng Nero
      (GN) dan diserahkan kepada orangtuanya. Kemudian diinformasikan kepada wartawan
      cetak dan elektronik yang kemudian meledak, tersiar ke mana-mana.

      Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Pati, Sulkhan dalam jumpa
      pers di ruang kerjanya, Senin (16/6), untuk sementara ada empat anggota Geng Nero yang
      diamankan, yaitu Rat, My, Tk, Rat. Dua di antaranya adalah siswi SMA Negeri Batangan,
      seorang siswi SMA Negeri Juwana, dan seorang siswi SMA Diponegoro Juwana.

      Polres Pati masih memeriksa para tersangka penganiayaan atas LS, sejumlah saksi,
      sejumlah orang tua, dan mendatangkan personil dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)
      Pati. .

      Berpakaian Ketat

      Menurut Purwaningsih dan Satriyo, dua guru SMA Negeri Juwana, salah satu muridnya
      yang menjadi anggota GN bernama PAP atau biasa dipanggil Tk, sering ditegur dan
      diperingatkan agar tidak berpakaian ketat, karena merupakan salah satu larangan pihak
      sekolah. "Anaknya tergolong cantik, rambutnya selalu di-rebonding dan setiap berangkat
      sekolah diantar ibunya naik motor. Dalam kegiatan belajar dan sepak terjang di kelas biasa
      saja. Kami tidak menduga samasekali jika dia menjadi anggota GN dan ikut menganiaya
      LS," tutur Purwaningsih yang keberatan untuk diambil gambarnya.

      Setelah memperoleh laporan dari Polsek Juwana dan pengakuan dari Tk sendiri, akhirnya
      Kepala Sekolah SMA Negeri Juwana terpaksa mengembalikan Tk kepada orang tuanya,
      sehingga yang bersangkutan sudah tidak mungkin bisa diterima lagi sebagai murid SMA
      Negeri Juwana. Meski demikian, masih terbuka kemungkinan ia melanjutkan ke sekolah
      lain, karena dalam proses pengembalian kepada pihak orang tua tidak disertai embel-
      embel tertulis dipecat.

      Berdasarkan pengakuan Tk kepada Purwaningsih, anggota GN marah besar ketika salah
      satu anggotanya yang bernama My dicap pelacur, sehingga terjadilah aksi penganiayaan
      terhadap Ls. "Jika pengakuan lain, penganiayaan yang dilakukan anggota GN merupakan
      salah satu bentuk penerimaan anggota baru (perpeloncoan), kami tidak tahu menahu,"
      tuturnya.

      Ia menambahkan, saat ini Tk diasuh ibunya yang bernama Ny Sukarsih, ayahnya
      dikabarkan merantau dan sudah pisah ranjang. Ia sudah punya pacar, namun karena
      tersangkut kasus penganiayaan ini, sang pacar yang juga warga Juwana memilih
      memutuskan hubungan.

      Menurut informasi yang diperoleh Purwaningsih dan Satriyo, GN sudah muncul ketika
      para anggotanya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekarang mereka
      tersebar di berbagai SMA di berbagai daerah di Pati maupun kota lain.

      Seorang pemuda yang bekerja di salah bengkel motor dan seorang remaja yang bekerja di
      salah satu warung makan di kota Juwana, sudah tidak asing lagi mendengar nama GN
      maupun GC.

      Meski demikian, aparat keamanan di Juwana yang pernah diusulkan menjadi kota
      Administrastif bersama Cilacap ini belum pernah melakukan gebrakan untuk menindak
      tegas. Bahkan pihak kepolisian belum bisa membeberkan secara faktual, khususnya yang
      menyangkut GN. Seperti bentuk kegiatan, pimpinan, latar belakang, dan konon ada yang
      merasa dirugikan jika GN ini dibongkar total. "Kami tetap akan mengusut kasus ini secara
      tuntas," janji Kepala Polres Pati, melalui Kasatreskrim Sulkhan.

Kejahatan pada anak usia sekolah seolah menjadi santapan pembaca media sehari-hari. Mulai
dari kasus penculikan, pelecehan seksual, hingga narkoba. Celakanya, semua kejadian itu banyak
yang membuat orangtua “parno” sehingga mereka pun berlomba-lomba memproteksi pergaulan
anak. Pergi dan pulang sekolah diantar jemput mobil pribadi, pergi ke luar rumah dibatasi
bahkan kalau perlu dilarang, membekali anak telepon genggam lalu berkali-kali menelepon
menanyakan keberadaan anak, dan berbagai sikap overprotective lainnya.
Adalah hal wajar jika orangtua ingin menghindarkan anak dari kejahatan, tetapi tindakan
“sterilisasi” sebaiknya ditinjau kembali. Bukan apa-apa, lingkungan anak usia sekolah sudah
lebih luas. Tindakan mengerangkeng anak tidak hanya menumpulkan kecerdasan sosialnya, tapi
juga membuatnya tidak percaya pada lingkungannya.

Anak akan melihat lingkungan luar rumahnya sebagai tempat menyeramkan dan tak aman.
Selanjutnya akan tertanam pada diri anak rasa curiga dan tak percaya pada lingkungan, selain
kemampuan berbagi, toleransi, peduli, empati, dan sebagainya tidak berkembang dengan baik.

Lagipula, anak yang disterilkan dari lingkungan luar rumah bukan berarti tidak berisiko tinggi
menjadi korban kejahatan. Ingat, pelaku kejahatan tidak hanya orang asing, tapi juga orang yang
sudah dikenal dekat. Tukang ojek langganan antarjemput sekolah, sopir pribadi, bahkan teman-
temannya sendiri di sekolah. Celakanya, karena dikenal dekat dan akrab, orangtua tidak terlalu
menaruh curiga. Lain halnya jika anak berinteraksi dengan orang asing, orangtua langsung
pasang rambu-rambu, “Hati-hati dengan orang yang baru dikenal, ya!”

adi, yang harus dilakukan bukanlah “memenjarakan” anak, melainkan mengajarkan sikap kehati-
hatian atau waspada. Itu berlaku bagi orang asing ataupun orang yang sudah dikenalnya.
Ibaratnya, bila kita mempunyai rumah di dekat sungai, bukan melarang anak bermain di sungai,
melainkan harus mengajarinya berenang. Orangtua perlu membekali anak untuk bisa menjaga
keselamatan dirinya. Dengan cara itu, anak sudah memiliki tameng saat berinteraksi dengan
lingkungan, di mana lingkungan yang dihadapinya tidak selalu steril dan aman.

(Tulisan dikutip dari : Kompas.Com, 17 Desember 2008)
Makalah
25/11/2009 at 10:18 am (Uncategorized)

BAB I

PENDAHULUAN



   1. Latar Belakang

Setiap hari banyak media massa menyajikan berbagai macam berita, berita tersebut antara lain:
tentang berbagai aktivitas manusia yang oleh masyarakat di anggap sebagai penyimpangan
terhadap nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Merupakan ukuran bagi
menyimpang atau tidaknya suatu tindakan.

Perilaku menyimpang (behaviour disorder). Perilaku menyimpang merupakan perilaku yang
kacau yang menyebabkan seorang remaja kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak
terkontrol (uncontrol). Memang diakui bahwa tidak semua orang mengalami behaviour disorder.
Seseorang mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan hilangnya
konsentrasi diri. Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan
tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih
banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.



   1. Tujuan

Atas banyaknya penyimpangan yang ada di masyarakat terutama di kalangan remaja maka di
dalam makalah ini saya mencoba mendeskripsikan tentang perilaku menyimpang yang banyak
terjadi di kalangan remaja. Mulai dari

definisi perilaku menyimpang itu sendiri, bentuk-bentuk, sipat-sipat, contoh-contoh dan faktor
peneyebab, dan akibat-akibat yang di timbulkan.

Perilaku yang tidak sesuai dengan norma, supaya mereka menyadari apa yang di perbuat olehnya
itu adalah salah dan untuk memperjelas konsekuensi dari perbuatan mereka.



BAB II

PEMBAHASAN
    1. Pengertian

Di masyarakat manapun di dunia, akan selalu ada PERILAKU MENYIMPANG. Secara
sederhana Perilaku Menyimpang diartikan sebagai bentuk perilaku sosial (sekelompok orang)
yang tidak sesuai norma-norma yang berlaku di masyarakat, sering dikaitkan dengan istilah-
istilah negatif.

Menurut kajian sosiologis perlaku menyimpang bukan sesuatu yang melekat pada bentuk
perilaku tertentu, melainkan di beri ciri penyimpangan melalui definisi sosial. Penyimpangan itu
sendiri di artikan sebagai perbuatan yang mengabaikan norma yang terjadi apabila seseorang
atau sekelompok orang tidak memenuhi patokan-patokan yang berlaku di dalam masyarakat.
Selain itu ada juga definisi dari para tokoh sosiologi seperti halnya definisi dari Robert M.Z.
Lawang mendefinisikan perilaku menyimpang sebagai semua tindakan yang menyimpang dari
norma-norma yang berlaku dalam suatu system sosial.



    1. Penyebab Perilaku menyimpang

Penyimpangan terjadi akibat proses sosialisasi yang kurang sempurna. Hal ini terjadi karena
ketidaksepadanan pesan-pesan yang di sampaikan oleh masing-masing agen sosialisasi, seperti
pihak-pihak yang menjadi perantara dalam proses sosialisasi) antara lain keluarga, teman
bermain, sekolah dan media massa, adakalanya pesan-pesan agen sosialissi yang disampaikan
tidak sepadan dan saling bertentangan satu sama lain.

v   Lembaga keluarga:

keluarga adalah lembaga pendidikan yang utama dan pertama.

Kehidupan kelurga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis akan
menyebabkan anak tidak kerasan tinggal di rumah. Anak tidak merasa aman dan tidak
mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Akibatnya, anak mencari bentuk
ketentraman di luar keluarga, misalnya gabung dalam group gang, kelompok preman dan lain-
lain. Banyak keluarga yang tak mau tahu dengan perkembangan anak-anaknya dan menyerahkan
seluruh proses pendidikan anak kepada sekolah. Kiranya keliru jika ada pendapat yang
mengatakan bahwa tercukupnya kebutuhan-kebutuhan materiil menjadi jaminan berlangsungnya
perkembangan kepribadian yang optimal bagi para remaja.

v   Lembaga Sekolah

bagaimana lembaga pendidikan di sekolah dalam memberikan bobot yang proposional antara
perkembangan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak.

Akhir-akhir ini banyak dirasakan beban tuntutan sekolah yang terlampau berat kepada para
peserta didik. Siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga dipaksa oleh orangtua untuk
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mengikuti les tambahan di luar sekolah.
Faktor kelelahan, kemampuan fisik dan kemampuan inteligensi yang terbatas pada seorang anak
sering tidak diperhitungkan oleh orangtua. Akibatnya, anak-anak menjadi kecapaian dan over
acting, dan mengalami pelampiasan kegembiraan yang berlebihan pada saat

mereka selesai menghadapi suasana yang menegangkan dan menekan dalam kehidupan di
sekolah.

v   Media Massa

bagaimana pengaruh tayangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang acapkali
menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai kebrutalan?

Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok remaja, gang-gang yang
berpakaian serem dan bertingkah laku menakutkan yang hampir pasti membuat masyarakat
prihatin dan ngeri terhadap tindakan-tindakan mereka. Para remaja tidak dipersatukan oleh suatu
identitas yang ideal. Mereka hanya himpunan anak-anak remaja atau pemuda-pemudi, yang
malahan memperjuangkan sesuatu yang tidak berharga (hura-hura), kelompok yang hanya
mengisi kekosongan emosional tanpa tujuan jelas.



    1. Bentuk-Bentuk Perilaku menyimpang

Para ahli sosiologi membagi perilaku menyimpang ke dalam beberapa bentuk. Seperti halnya
Lemert:

1) Penyimpangan Primer ( Prymary Deviaton), yaitu perbuatan yang di lakukan seseorang
namun sang pelaku masih dapat di terima secara sosial. Adpun cirri dari penyimpangan ini
adalah sifatnya sementara, tidak berulang, dan dapat di tolerir masyarakat. Adapun contoh dari
penyimpangan primer adalah

2) Penyimpangan Sekunder (secondary Deviaton), yaitu perbuatan yang dilakukan seseorang
yang secara umum dikenal sebagai perbuatan atau perilaku menyimpang.



    1. Sifat-sifat perilaku menyimpang

Perilaku tidak selamanya buruk perilaku menyimpang ada yanag bersifat negative dan positip.

a. Penyimpangan Positip yang di lakukan, seseorang yang positip atau berguna bagi system
sosial.

    1. Penyimpangan Negatif Penyimpangan yang di lakukan seseorang yang mengarahkan
       kepada perbuatan-perbuatan yang di anggap rendah dan buruk di mata masyarakat.
   1. Contoh-contoh Perilaku Menyimpang

   1. Kejahatan

Tindakan criminal atau kejahatan umumnya dilihat bertentangan dengan Norma hukum, norma
sosial, dan norma agama yang berlaku di masyarakat.yang termasuk kedalam tindakan criminal
adalah pencurian,penganiayaan, pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, dan perampokan.
Tindakan kejahatan ini biasanya menyebabkan pihak lain kehilangan harta benda, cacat tubuh ,
bahkan kehilangan nyawa.

Namun ada ahli sosiologi yang membuat klasifikasi berbeda dengan klasifikasi yang dianut
masyarakat atau penegak hukum.

   1. Kejahatan tanpa korban(crime without victim)

Kejahatan ini tidak mengakibatkan penderitaan pada korban akibat tindak pidana orang lain.
Contoh:pembuatan berjudi, penyalah gunaan obat bius, mabuk-mabukan, hubungan seks yang
tidak sah yang dilakukan secara sukarela orang-orang dewasa. Kejahatan jenis ini dapat
mengorbankan oang lain apabila menyebabkan tindakan negative lebih lanjut misalnya,
seseorang yang ingin berjudi tetapi karena ia tidak memiliki uang lalu mencuri harta orang lain.
Atau perilaku seksual yang menimbulkan HIV/AIDS dan menularkan pada orang lain.

   1. Kejahatan terorganisasi

Pelaku kejahatan merupakan komplotan yang secara berkesinambungan melakukn berbagai cara
untuk mendapatkan uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hokum.

   1. Kejahatan kerah putih

Kejahatan ini di lakukan oleh orang terpandang atau orang yang berstatus tinggi dalam rangka
pekerjaanya. Contoh: penghindaran pajak penggelapan uang perusahaan, atau pejabat negara
yang korupsi.

   1. Kejahatan Korporat

Kejahatan ini merupakan kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi dengan tujuan
menaikan keuntungan atau menekan kerugian. Contoh: Suatu perusahaan membuang limbah
beracun ke sungai dan sehingga terjadi pencemaran dilingkungan sekitar baik yang bersifat fisik,
biologis maupun sosial semua ini mengakibatkan penduduk sekitar mengalami berbagai jenis
penyakit.



   1. Penyimpangan seksual

Hubugan seksual di Indonesia dianggap pelanggaran norma
Penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan. Beberapa jenis
penyimpangan seksual antara lain perzinahan, lesbianisme dan homoseksual, kumpul kebo,
sodomi, dll.

      Perzinahan

Adalah hubungan seksual diluar nikah yang dilakukan oleh istri atau suami. Dapat pula
dilakukan oleh pemuda atau duda dengan gadis atau janda diluar nikah.

      Lesbianisme

Adalah hubungan seksual yang di lakukan oleh sesama wanita. Pada kalangan lesbian dorongan
utamanya adalah adalah pada kasih sayang. Menurut penelitian di amerika lesbianisme terjadi di
lembaga-lembaga pemasyarakatan , lesbianisme cenderung terjadi secara temporer, karena sama
sekali tidak menyangkut perubahan peranan pada diri wanita yang bersangkutan. Oleh karena
itu, dapat dikatakan bahwa lesbianisme terjadi dalam konteks interpersonal.

      Homoseksual

Hubungan seksual yang di lakukan oleh sesama lelaki. Hubungan homo seksual timbul karena
dorongan kuat yang kadang-kadang menjadi ekses untuk mengadakan persamaan kedudukan dan
peranan antara wanita dan pria Mereka menderita konflik batiniah yang menyangkut identitas
diri yang bertentangan dengan identitas sosial. Contohnya kasus Rian seorang gay yang tega
memutilasi korban Homonya.

      Kumpul Kebo

Hidup seperti suami istri tanpa nikah, hubungan seksual diluar pernikahan, dalam masyarakat
indonesia di anggap sebaga pelanggaran norma. Di dalam agama islam disebut zinah dan harus
mendapatkan hukuman berat.

      Sodomi

Hubungan Seks melalui anus.

      Pedofilia



Istilah yang sering sekali kita dengar. Orang dewasa, terutama pria, yang mencari kontak fisik
dan seksual dengan anak-anak prapubertas yang tidak mau berhubungan dengan mereka.

Sekitar dua pertiga korban kelainan ini adalah anak-anak berusia 8 – 11 tahun. Kebanyakan
paedofilia menjangkiti pria, namun ada pula kasus wanita berhubungan seks secara berulang
dengan anak-anak. Kebanyakan kaum paedofil mengenali korbannya, misalnya saudara,
tetangga, atau kenalan. Kaum paedofil dikategorikan dalam tiga golongan yakni di atas 50 tahun,
20-an hingga 30 tahun, dan para remaja. Seremnya lagi, sebagian besar mereka adalah para
heteroseksual dan kebanyakan sudah menjadi ayah.



   1. Pemakaian dan Pengedaran Obat Terlarang

Pemakaaian dan pengedaran obat terlarang merupakan bentuk penyimpangan dari nilai dan
norma sosial maupun agama. Akibat negatifnya bukan hanya kepada kesehatan fisik dan mental
seseorang. Contoh-contoh obat terlarang adalah narkotika (ganja,candu, putaw) psikotropika
(ecstasy, amphetamine, magadon), dan ahkoholisme. Penyalahgunaan obat terlarang lebih
banyak terjadi pada kaum remaja karena perkembangan emosi mereka yang belum stabil ,
cenderung ingin mencoba, ke pribadian yang cenderung asosial, sistuasi keluarga yang tidak
harmonis, kondisi kecemasan atau defresi, salah memilih teman, dll.

Akibat :

Perasaan tidak tenang, tidak bergairah, cepat marah/sensitif.Jantung berdebar, Euforia (merasa
sangat gembira tanpa sebab), Halusinasi dan delusi, Waktu terasa berjalan sangat lambat, Apatis,
cuek terhadap diri dan lingkungannya, nggak ada kemauan, Mata merah, Nafsu makan nambah,
Mulut kering, Kelakuan jadi aneh, cemas, taku yang berlebihan, curiga berlebihan atau paranoid,
kehilangan minat beraktivitas, malas belajar, malas bekerja, ditinggalkan kawan.Bronkitis/infeksi
paru, Imunitas berkurang, Kemampuan membaca terganggu, Ketrampilan bicara terganggu,
Motivasi berkurang, Rasa ingin bersaing berkurang. dalam situasi ini seorang muda merasa
dirinya telah dewasa secara biologis tetapi dalam segi sosial belum. Masa remaja dikatakan
sebagi masa yang berbahaya karena pada periode ini, seseorang meninggalkan tahap anak-anak
untuk menuju ketahap selanjutnya, yaitu kedewasaan. Mas ini di katakana masa kritis karena
belum adanya pegangan, sedangkan kepribadianya sedang mengalami pembentukan. Pada waktu
ini mereka memerlukan bimbingan terutama dari orang tuanya. saat anak memunculkan
perilaku yang baik atau benar. Seorang remaja di sekolah dikategorikan dalam conduct disorder
apabila ia memunculkan perikau anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal.



Adapun faktor-faktor yang menyebabkan para remaja mudah terjerumus menggunakan
narkotika atau narkoba.

           1.
           o    Ingin membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan berbahaya seperti
                kebut-kebutan, berkelahi dan mengancam.
           o    Ingin menunjukan tindakan menentang terhadap orang tua yang otoriter atau siapa
                saja yang dianggap tidak sepaham dengan dirinya.
           o    Ingin melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman emosional
           o    Ingin mencari dan menemukan arti hidup ( yang semu)
           o    Ingin mengisi kekosongan dan kebosanan ( tidak memiliki banyak aktivitas di
                luar sekolah).
           oIngin menghilangkan kegelisahan
           oSolidaritas di antara kawan.
           oIngin tahu dan iseng
   2. Penyimpangan dalam Dalam Gaya Hidup

Penyimpangan dalam gaya hidup yang lain dari biasanya antara lain sikap aroganisasi dan
esentrik.

Sikap aroganisasi antara lain kesmbongan terhadap sesuatu yang di milikinya seperti kekayaan,
kekuasaan dan kepandaian sikap arogan bisa saja di lakukan seseorang yang ingin menutupi
kekurangan yang dimilikinya.

Esetrik ialah perbuatan yang menyimpang dari biasanya sehingga di anggap aneh, seperti anak
laki-laki memakai anting-antingan atau benda lainya yang biasa di kenakan wanita, seniman atau
pemuda yang berambut panjang.

Perilaku menyimpang dapat terjadi karena seseorang memilih standar nilai da norma yang
berbeda dari orang lain. bagaimana pengaruh tayangan media massa baik media cetak maupun
elektronik yang acapkali menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai kebrutalan.

Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok remaja, gang-gang yang
berpakaian serem dan bertingkah laku menakutkan seperti kelompok PUNK. yang hampir pasti
membuat masyarakat prihatin dan ngeri terhadap tindakan-tindakan mereka.

Contoh lain adalah kasus Geng Nero

Di akhir tahun ajaran 2008, dunia pendidikan kembali dikejutkan oleh ulah sekelompok siswi

sebuah sekolah SMA di Juwana, Pati, Jawa Tengah. Beberapa bulan sebelumnya “Geng Motor”

yang juga banyak beranggotakan pelajar di kota Bandung & Bogor mewarnai pemberitaan media

dengan berbagai bentuk ulahnya yang meresahkan masyarakat. Apakah para pelajar ini

“menduplikasi” adegan kekerasan para kakak seniornya di STPDN ? Ataukah merupakan

fenomena sosial yang partial ?


Geng Nero adalah Potret Perilaku Menyimpang yang ada di masyarakat, khususnya masyarakat

urban dengan segala fenomena dan permasalahan sosialnya. Kelompok ini membentuk

tatanannya sendiri dan berlaku bagi in-groupnya. Kurangnya perhatian dari orang tua, tata nilai

standar ganda antara yang diajarkan dan dipraktekkan di sekolah dengan yang nyata dialami
siswa di rumah dan di masyarakat, pergeseran nilai-nilai “lama” ke nilai-nilai baru namun belum

berlaku (lazim) di masyarakat adalah keadaan yang dicurigai melatari dan mendrive kemunculan

kelompok menimpang. Cepatnya perubahan sosial pada masyarakat urban sering menimbulkan

kondisi dan situasi seperti di atas.


Dengan begitu gaya hidup yang mereka tampilkan benar-benar merupakan proses untuk

menemukan identitas diri mereka sendiri yang sebenarnya.
BAB III

PENUTUP

   1. KESIMPULAN

Masyarakat memiliki nilai dan norma sosial yang megatur perilaku

anggotanya. anggota masyarakat yang sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku.
Perilaku menyimpang terjadi bukan seorang gagal berperilaku sesuai dengan nilai dan norma
sosial yang berlaku, tapi juga karena ia memilih perilaku yang standarnya berbeda dengan
standar nilai dan norma sosial yang berlaku.

Nilai-nilai dan norma didalam masyarakat merupakan ukuran bagi yang menyimpang atau
tidaknya suatu tindakan. Artinya suatu tindakan yang pantas dan dapat diterima dalam situasi dan
daerah tertentu, bisa saja patut diterapkan dalam suasana dan daerah lain.



   1. SARAN

Setelah mengemukakan kesimpulan akhir dari pembahasan, maka berdasarkan kesimpulan
tersebut. Saya mengajukan pokok-pokok pemikiran yang kiranya bisa menjadi bahan
perbandingan atau pertimbangan bagi masyarakat pada umumnya dan khususnya bagi para
remaja. Adapun saran dari saya adalah sebagai berikut: 1. Sebaiknya Orang tua lebih bersifat
aktip dalam mengawasi anak-anaknya. Peran keluarga dan masyarakat dalam andil menjaga dan
menerapkan nilai-nilai sosial yang diharapkan.

2. memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan
bersama.

Sikap mau berdialog antara orangtua, pendidik di sekolah, dan masyarakat dengan remaja pada
umumnya adalah kesempatan yang diinginkan para remaja. Dalam hati sanubari para remaja
tersimpan kebutuhan akan nasihat, pengalaman, dan kekuatan atau dorongan dari orang tua.
DAFTAR PUSTAKA

Samuel, Hanneman. 1997. Sosiologi 1, Jakarta: PT Balai Pustaka.

Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kun Maryati. Juju Suryawati.2004 Sosiologi SMA, Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Koetjaraningrat. 1990. Manusia dan Kebudayaan, Jakarta: Djambatan.

Burhan, bungui.2003. Pornomedia, Jakarta: Prenada Media.

http://denmaswahyu.wordpress.com/2008/02/14/11-perilaku-menyimpang-seksual/



http://infonarkoba.blogspot.com/
JIKA ANAK SUKA MENCURI


Kadang-kadang orang tua merasa terkejut dan bingung sewaktu pertama kali mengetahui

anaknya mencuri. Orang tua lantas mungkin berpikir bahwa ini merupakan hal yang wajar dalam

perkembangan anak. Anggapan ini tentu saja tidak benar. Meskipun banyak anak mencuri tak

berarti itu merupakan bagian dari perkembangan anak. Jadi, sekecil apa pun pencurian yang

dilakukan     anak,       orang         tua       harus        melarang     dan     menghentikannya.

Barangkali, suatu waktu mencuri merupakan masalah dalam keluarga. Boleh dikata hal ini kerap

kali terjadi, terutama dalam keluarga yang memiliki anak berusia empat sampai tujuh tahun.

Pada usia ini anak cenderung untuk mengambil apa yang bukan haknya. Sebelum kita

menemukan cara untuk memecahkannya, seringkali kita melakukan berbagai kesalahan dulu

sebelum akhirnya kita berhasil mengobati kebiasaan mencuri ini dan dengan demikian

menemukan         rasa         saling            pengertian        dengan         anak-anak      kita.

Walaupun mencuri merupakan perilaku yang tidak dapat diterima oleh masyarakat, akan tetapi

beberapa anak tetap berusaha memuaskan kebutuhannya dengan mencuri. Menurut seorang ahli,

ternyata anak-anak itu dalam alam bawah sadarnya seolah-olah mempunyai anggapan bahwa

mencuri itu perbuatan yang bisa diterima. Dan anggapan ini sen-diri bisa berasal dari teman-

teman        mereka,         orang            tua         atau        masyarakat        sekelilingnya.

Meski tampaknya orang tua tegas di rumah, namun ada-ada saja di antara anak yang suka

mencuri, apakah itu barang orang lain, atau barang milik anggota keluarga. Untuk itulah perlu

satu cara pendekatan yang manis dan akrab untuk mengubah sifat anak yang suka mencuri itu.

Dan bila ternyata cara yang akrab itu tidak dicapai, maka buyarlah harapan-harapan anak, dan

orang       tua        bertindak         kasar         serta        mematahkan        jiwa      anak.

Sebenarnya, perbuatan mencuri yang dilakukan anak-anak balita bukanlah tingkah laku yang
menyimpang. Tetapi bila orang tua tidak menanganinya dengan benar, tingkah laku yang tidak

berbahaya    itu   dapat   mengarah    menjadi    perbuatan    yang      berakibat   lebih   jauh.

Mencuri di kalangan anak-anak balita sering terjadi. Ini disebabkan karena mereka belum

mempunyai konsep kemilikan. Anak-anak belum mempunyai batas yang tegas antara milik

sendiri dan milik orang lain. Bila mereka melihat sesuatu yang disukainya, mereka akan

mengam-bilnya. Bagi mereka seolah berlaku prinsip: “Aku lihat, aku suka, aku mau, aku ambil.


Jadi hendaknya jangan dilupakan, bahwa bagi anak kecil penger-tian seperti kemilikan atau hak

milik adalah sesuatu yang samar-samar. Misalnya saja, pada usia tiga tahunan lebih anak mulai

menggunakan kata-kata “.. .ku” atau “.. .mu” dan itu pun mungkin masih dua-tiga tahun lagi

digunakan,         sedangkan       maksudnya         tetap       masih         belum         jelas.

Sehubungan dengan kesulitan bawaan dalam hal menghargai apa yang jadi “milik” mereka dan

yang bukan, maka dalam keluarga yang baik-baik anak-anak mendapat kesempatn cukup leluasa

untuk melihat, berbagi dan menggunakan bahan atau benda-benda dalam rumah, namun

sekaligus diberi bimbingan untuk mengetahui apa yang tidak boleh mereka pakai karena barang

tertentu adalah kepunyaan ayah, ibu atau adik kecil, dan hak si pemilik atas barang itu hams

selalu dihor-mati. Kemudian, hak milik anak itu sendiri seharusnya juga dihormati, sehingga dari

pengalaman tangan pertama ini anak tahu akan batas-batas antara hak milik dan sanksi-sanksi

pelindungnya.

Mencuri pada dasarnya selalu menyangkut pihak lain dalam arti tidak menguntungkan. Jelas di

sini bahwa ada pihak ketiga yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan anak, yang justru

menderita akibat perbuatan anak tersebut. Bahkan dapat dikatakan bahwa pihak ketiga ini

menjadi korban dari persoalan yang disebabkan oleh pihak-pihak lain yang sama sekali tidak ada

hubungannya. Karena pencurian merupakan perbuatan yang sering ingin ditutupi oleh orang tua
agar tidak merusak nama baik keluarga, maka persoalan yang telah menjadi pangkal sebab

perbuatan tersebut juga telah ditutup saja, sehingga akan menambah jumlah korban yang tidak

tahu-menahu              mengenai               adanya           persoalan            tersebut.

Karena anak-anak yang mencuri sering kali menimbulkan masalah dalam keluarga, maka dalam

situasi seperti ini orang tua mudah dimanipulasi oleh anak. Kalau anak sampai mengadu domba

antara orang tua yang satu dengan orang tua yang lain, dengan sendirinya hal ini dapat

membahayakan hubungan antara anggota keluarga dan juga mempersulit penyelesaian masalah

itu.

Namun meskipun demikian, dalam mempersoalkan perbuatan ini dalam hubungan anak-anak

kecil, kita harus bersikap hati-hati dengan ucapan kita sendiri. Kita sebaiknya menghindari

penggunaan kata”men-curi” dan “pencuri” terhadap anak kecil. Anak kecil umumnya belum

menyadari bahwa memperoleh sesuatu dengan cara mengambilnya dari orang lain, berarti bahwa

orang lain itu kehilangan benda atau barang yang telah diambilnya. Anak kecil belum mengerti

bahwa dengan mengambil benda yang dinginkan tanpa izin si pemilik, ia melanggar hak milik

teman         tersebut      dan          akan       merugikan        si       teman        itu.

Memang, kemungkinan bahwa gejala mencuri hinggap karena pengaruh-pengaruh yang kurang

baik sebagai akibat pergaulan yang tak terbatas. Namun sebenarnya persoalan terletak pada cara

memberi pen-didikan pada anak itu sendiri. Si anak tidak akan mudah terpengaruh demikian saja

oleh teman-temannya, bila dia diberi modal jiwa yang kuat dan pengertian yang baik.


Guna mencegah dan mengatasi masalah mencuri pada anak-anak, beberapa petunjuk di bawah

ini barangkali bisa dijadikan pedoman.
1.Jangan      memancing             si         anak           untuk           mencuri,       misalnya          meletakkan

uang                                    di                                      atas                                   meja.

2.Tunjukkanlah             kepada              anak,           bahwa             kita        mencintainya,              juga

pada     waktu       ia      mencuri.          Katakanlah             bahwa       mencuri          membuat          perasaan

korban     tidak    senang.        la        pun      tentu      akan         mengalami      perasaan      yang         sama

bila               ada                   orang                    lain                   mencuri                    miliknya.

3.Tanamkan         sistem         benar         dan          salah       di      rumah       kita.      Jika         seorang

anak     mencuri         barang     anak           lain,     katakanlah         kepadanya      agar      ia         mengem-

balikannya.

4.Tunjukkan         kepada              anak           bahwa             ia       diperlukan         dan            dihargai.

Anak           yang               merasa                   dihargai             tidak           akan                mencuri.

5.Jika     anak          ingin      membeli                sesuatu,       percayailah,        berilah         dia       uang

dan biarkan ia membelinya sendiri.
                                   Alur Pengadilan Anak

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak yang telah berlaku di Indonesia
merupakan implementasi dari Konvensi Hak Anak. Dalam Konvensi Hak Anak tersebut
dinyatakan bahwa setiap anak berhak atas perlindungan, mencakup perlindungan dari segala
eksploitasi, perlakuan kejam dan perlakuan sewenang-wenang dalam proses peradilan pidana.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka dikeluarkanlah Undang-Undang yentang Pengadilan Anak.

Pengertian:
• Yang dimaksud dengan anak dalam perkara Anak Nakal adalah orang yang telah mencapai
umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah
kawin. (pasal 1 butir 1 UU No 3 tahun 1997)
• Anak Nakal adalah:
- anak yang melakukan tindak pidana, atau
- anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan
perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam
masyarakat yang bersangkutan

Tahapan beracara dalam pengadilan anak pada dasarnya sama dengan peradilan umum, yaitu
peradilan pidana. Namun mengingat bahwa subjeknya adalah anak yang berbeda dengan subjek
peradilan umum lain, maka terdapat beberapa perbedaan dan perlakuan khusus yang dibuat
untuk kepentingan anak. Perbedaan dan perlakuan khusus tersebut antara lain adalah:

Dalam hal pemeriksaan:
• Dalam hal anak melakukan tindak pidana pada batas umur yang telah ditentukan dalam batas
umur Anak Nakal, dan diajukan ke sidang pengadilan setelah anak yang bersangkutan
melampaui batas umur tersebut, tetapi belum mencapai umur 21 (dua puluh satu)tahun, tetap
diajukan ke Sidang Anak. (pasal 4 UU No 3 tahun 1997)
• Dalam hal anak belum mencapai umur 8 (delapan) tahun melakukan atau diduga melakukan
tindak pidana, maka terhadap anak tersebut dapat dilakukan pemeriksaan oleh penyidik. (pasal 4
ayat 1 UU No 3 tahun 1997)
• Apabila menurut hasil pemeriksaan, Penyidik berpendapat bahwa anak yang dimaksud dalam
ayat 1 masih dapat dibina oleh orang tua, wali, atau orang tua asuhnya, Penyidik menyerahkan
kembali amak tersebut kepada orangtua, wali, atau orangtua asuhnya. (pasal 4 ayat 2 UU No 3
tahun 1997)
• Apabila menurut hasil pemeriksaan, penyidik berpendapat bahwa anak sebagaimana dimaksud
dalam ayat 1 tidak dapat lagi dibina oleh orangtua, wali, atau orangtua asuhnya, Penyidik
menyerahkan anak tersebut kepada Departemen Sosial setelah mendengar pertimbangan dari
Pembimbing Kemasyarakatan. (pasal 4 ayat 3 UU No 3 tahun 1997)

Dalam hal pemeriksaan di persidangan:
• Anak yang melakukan tindak pidana bersama-sama dengan orang dewasa diajukan ke Sidang
Anak, sedangkan orang dewasa diajukan ke sidang bagi orang dewasa. (pasal 7 ayat 1 UU No 3
tahun 1997)
• Anak yang melakukan tindak pidana bersama-sama dengan anggota Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia diajukan ke Sidang Anak, sedangkan anggota Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia diajukan ke Mahkamah Militer. (pasal 7 ayat 2 UU No 3 tahun 1997)
• Hakim, Penuntut Umum, Penyidik, dan Penasihat Hukum, serta petugas lainnya dalam Sidang
Anak tidak memakai toga atau pakaian dinas. (pasal 6 UU No 3 tahun 1997)
• Hakim memeriksa perkara anak dalam sidang tertutup. (pasal 8 ayat 1 UU No 3 tahun 1997)
• Dalam hal tertentu dan dipandang perlu, pemeriksaan perkara anak sebagaimana dimaksud
dalam ayat 1 dapat dilakukan dalam sidang terbuka. (pasal 8 ayat 2 UU No 3 tahun 1997)
• Dalam hal sidang dilakukan dalam keadaan tertutup, maka yang dapat hadir dalam persidangan
tersebut adalah orang tua, wali, atau orang tua asuh, Penasihat Hukum, dan Pembimbing
Kemasyarakatan. (pasal 8 ayat 3 UU No 3 Tahun 1997)
• Selain mereka yang disebutkan di atas, orang-orang tertentu atas izin hakim atau majelis hakim
dapat menghadiri persidangan tertutup. (pasal 8 ayat 4 UU No 3 Tahun 1997)
• Putusan pengadilan atas perkara anak yang dilakukan dalam persidangan tertutup, diucapkan
dalam persidangan yang terbuka untuk umum. (pasal 8 ayat 6 UU No 3 Tahun 1997)
• Apabila ketentuan dalam pasal 8 dan pasal 6 UU No 3 Tahun 1997 ridak dilaksanakan, maka
putusan hakim dapat dinyatakan batal demi hukum. (pasal 153 ayat 4 KUHAP)
Sebelum anda bereaksi ada beberapa cara untuk mengetahui mengapa anak kita mencuri dan
bagaimana membantu kebiasaan buruk itu berakhir. Anak di setiap umur--mulai awal sekolah
hingga        remaja--dapat      tergoda        mencuri           untuk           alasan        berbeda.


Anak berusia sangat muda kadang mengambil barang-barang yang mereka inginkan tanpa
memahami jika itu punya nilai uang dan itu salah untuk mengambil tanpa membayar. Anak usia
sekolah biasanya mengetahui mereka tidak seharusnya mengambil tanpa bayar, tapi mereka
melakukan       itu      juga.    Bisa        jadi      karena           kurang       kontrol       diri.


Lalu awal remaja, mereka tentu lebih paham mencuri itu tidak boleh, namun tetap terus
dilakukan gara-gara sensai tantangan atau karena teman juga mencuri. Beberapa orang tua,
bahkan anak yang melakukan meyakini mereka akan berhenti. Hanya saja ketika mereka
memiliki kontrol atas diri sendiri, beberapa remaja mencuri sebagai bentuk pemberontakan.


Ada alasan kompleks lain yang menjadi faktor penyebab. Anak mungkin marah atau butuh
perhatian. Perilaku mereka bisa jadi mencermikan tekanan di rumah, sekolah, atau hubungan
antar teman. Alasan lebih ekstrim, beberapa anak kadang mencuri karena bingung mencari
pertolongan    dan    dorongan   emosi     akibat    siksaan     fisik     yang    harus   ditanggung.


Namun di dalam kasus umum, anak-anak dan remaja mencuri karena mereka tidak mampu
membeli apa yang mereka butuhkan atau inginkan, contoh mereka mencuri barang-barang
bermerek mahal. Dalam kasus tertentu mereka mencuri karena kebutuhan akibat kecanduan obat.


Apa pun alasan mencuri, orang tua wajib mencari tahu akar perilaku tersebut dan menyelesaikan
sebab masalah dibalik perilaku mereka dengan tepat, yang kadang tidak muncul ke permukaan.
Berikut saran seorang ahli psikologi dan tumbuh kembang anak W. Douglas Tynan, PhD, ABPP,


Apa                   yang                  harus                        saya                   lakukan?


Ketika anak tertangkap basah mencuri, reaksi orang tua mesti dikontrol. Itu bergantung pada
apakah kejadian itu pertama kali atau memang sudah ada pola perilaku mencuri sebelumnya
Dengan anak yang berusia masih sangat muda, orang tua mesti membantu memberi pemahaman,
mencuri adalah salah. Mencuri adalah mengambil barang tanpa ijin atau membayar, itu akan
melukai                                      orang                                      lain.


Jika anak prasekolah mengambil permen, misal, orang tua dapat mengajarkan dengan membantu
si anak mengembalikan permen tersebut. Jika anak telah memakan barang curian, orang tua
semestinya membawa anak kembali ke toko untuk meminta maaf dan membayar barang tersebut.


Bahkan untuk anak usia sekolah, masih sangat penting untuk membiasakan mengembalikan
barang yang dicuri. Memang anak kelas satu atau dua seharusnya sudah paham mencuri adalah
salah. Namun mereka mungkin masih membutuhkan pemahaman atas konsekuensi perilaku
mereka.


Berikut adalah contoh; Jika seorang anak pulang dengan gelang seorang teman dan cukup jelas
jika anak mengambil tanpa permisi, orang tua harus menegur dan tak lupa menekankan,
bagaimana rasanya bila seorang mengambil barang si anak tanpa bilang dulu. Orang tua harus
mendorong anak untuk menghubungi teman dan minta maaf, menjelaskan apa yang terjadi dan
berjanji                   akan                      mengembalikan                    segera.


Ketika pencurian dilakukan anak remaja, dianjurkan orang tua memberi konsekuensi lebih keras.
Misal, ketika anak remaja anda tertangkap mengutil, orang tua dapat membawa anak kembali ke
toko, bertemu ke bagian keamanan, menjelaskan dan meminta maaf atas apa yang terjadi.


Perasaan malu menghadapi apa yang telah ia perbuat dengan mengembalikan barang curian bisa
menjadi pelajaran menetap yang berharga, mengapa mencuri itu salah. Hukuman lebih lanjut,
seperti hukuman fisik, tak perlu dilakukan. Itu hanya akan membuat anak marah dan cenderung
melakukan                         hal-hal                   lebih                     buruk.


Anak-anak di setiap usia perlu tahu, mengutil bukan sekedar mengambil barang dari toko, itu
sama dengan mengambil uang dari orang yang menjalankan bisnis tersebut. Plus, mengutil
membuat         harga        semakin        mahal         bagi       konsumen         tertentu.


Mereka harus paham, mencuri adalah kriminal dan dapat mengarah pada konsekuensi lebih jauh
dari sekedar tak boleh keluar rumah. Ada hukuman lebih berat, penampungan anak nakal,
bahkan                                                                                 penjara.


Bila mencuri dilakukan anak pada properti orang tua, anak pun harus tetap diberi hukuman.
Misal, beri tawaran membayar kembali uang dengan melakukan pekerjaan rumah tangga ekstra.
Itu sangat penting. Hanya saja, sebaiknya orang tua tidak meninggalkan uang di tempat terbuka
yang gampang dijangkau anak, apalagi untuk menjebak mereka. Itu hanya akan memperparah
hubungan        saling       percaya        antar       orang        tua       dan       anak.


Jika                       Anak                          Tetap                        Mencuri


Bila anak anda telah mencuri lebih dari sekali, pertimbangkanlah untuk mencari bantuan
profesional. Tindakan buruk berulang bisa jadi mengindikasikan masalah lebih besar.


Sepertiga dari penghuni penampungan anak nakal yang tertangkap gara-gara mengutil mengaku,
sulit bagi mereka untuk berhenti. Jadi, sangat penting membantu orang tua dan remaja
memahami mengapa mencuri itu salah dan mereka bakal menghadapi konsekuensi serius jika
terus                                                                                 mencuri.


Mereka yang dapat anda datangi untuk membantu masalah perilaku anak anda dan membantu
mengatasinya adalah, ahli terapis, psikolog, dokter keluarga, tokoh agama, guru bimbingan siswa
di sekolah, kelompok-kelompok pendukung lain. Jangan malu untuk meminta pertolongan demi
anak                                                                                     anda.


Memang ada kasus di luar kebiasaan, di mana pelaku disebut kleptomania. Sindrom kompulsif
disorder langka itu membuat penderita merasakan ketegangan luar biasa bila tidak mencuri.
Mereka lalu merasa lega usai mengutil. Para penderita kleptomania pun sering kali merasa
bersalah setelah mencuri dan sering membuang barang cucian karena marah terhadap diri
sendiri.


Apa pun penyebab di balik itu, bila mencuri menjadi kebiasaan anak anda, pertimbangkan untuk
berbicara dengan dokter atau terapis. Juga penting, untuk memantau perilaku anak anda setiap
saat, menjaga ia menjauhi situasi yang memungkinan ia mencuri dan tak ketinggalan pastikan
beri konsekuensi masuk akal atas tindak pencurian bila itu terjadi. (kidshealth.org/itz)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:8096
posted:3/23/2011
language:English
pages:110
Description: Hukum, Remaja, Narkoba