Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Kejujuran Tatapan Mata

VIEWS: 175 PAGES: 7

  • pg 1
									                             Kejujuran Tatapan Mata

            anpa keraguan lagi, Zaza langsung mendatangi tempat kos Laksono
            yang telah ditunjukkan oleh Caca. Pintu kamar kos yang berstiker


   T        tulisan salam dalam huruf Arab, tampak masih tertutup. Namun,
            walau tidak terlalu jelas, dari balik kaca terlihat penghuninya yang
            sedang duduk membaca sebuah buku. Zaza pun mengetuknya,
            kemudian mengucapkan salam.
                “Assalamu‟alaikum..”
   “Wa „alaikum salam ...
   “Astaghfirulah... Sebentar dulu ya...?” ucap laksono dari balik pintu.
   Lakso memakai celana panjang dulu dan sedikit membereskan kamar kos
nya. Setelah itu, ia membukakan pintu kamarnya.
   “Apa kabar... ?” sapa Zaza
   “Alhamdulillah... kabar baik..” jawab Laksono, masih sambil memegangi pintu
   “Boleh aku masuk...?” tanya Zaza lagi
    “Oh ya... boleh. Silakan masuk. Tapi, maaf lagi berantakan...” jawab Laksono
lagi
   “Lebih baik berantakan... daripada enggak mau angkat telepon dan balas SMS
sama sekali...” ucap Zaza sambil melihat sebuah foto seorang pria berpeci hitam,
berkaca mata dan berjanggut putih, dibawahnya tertulis nama Abul A‟la Al
Maududi terpasang di dinding kamar.
   “Maafkan ana, Ukhti...” balas Laksono
   Kemudian, Zaza duduk di atas lantai yang dilapisi karpet berwarna hijau.
Sementara itu, Laksono masih terlihat membereskan sejumlah buku yang masih
berserakan di kamarnya.
    “Oh ya, maaf sebentar...” ucap Laksono, sambil kembali melangkah ke arah
pintu.
    Selanjutnya, Laksono membuka lebar pintu kamarnya. Sementara itu, Zaza
terus melihat kerikuhan yang terjadi pada diri Laksono.
   “Apakah, kedatanganku ini jadi masalah buatmu...?” tanya Zaza
   “Ah... tidak... silakan.. lanjutkan..!”
   “Siapa foto itu Ikhwan Lakso ... ?” tanya Zaza, sambil menunjuk ke arah foto
seseorang yang terpasang di dinding kamar
    “Oh, itu...., Ulama besar dari Pakistan. Abul A‟la Al Maududi, pendiri Jemaat
Islami di Pakistan, dan salah seoarang penggagas penting kebangkitan
Kekhalifahan Islam”
  “Oooh.... Bolehkah aku mulai dari bertanya sesuatu...?” tanya Zaza lagi,
memulai pembicaraan
   “Boleh ... silakan saja !”
   “Kenapa tidak jadi, acara tunangan dengan Ukhti Lili, bulan lalu ..?”
   “Dari mana, tahu informasi itu ...?”
    “Saat ini, tidak penting dari mana tahu... yang penting benar atau tidak
informasinya...” ujar Zaza
   “Itu, urusan kami, Ukhti....”
   “Apa sama sekali aku tidak boleh tahu... ?”
   “Boleh saja sih... tapi kenapa tidak tanyakan dulu ke Ukhti Lili, ... sebagai
sahabat akhwat”
   “Sudah...!” jawab Zaza singkat
   “Oh iya... apa katanya..?” tanya Laksono
   “Katanya, ... dia tidak merasa pantas untuk menjawab pertanyaanku” jawab
Zaza
   “Ah masa... terus ...?” lanjut Laksono
   “Katanya lagi, ... sebaiknya tanyakan langsung ke Ikhwan Laksono”
   “Kenapa harus tanya ke ana..?”
   “Katanya lagi ... itu karena Ikhwan Lakso lebih pantas untuk menjawabnya...”
   “Astaghfirullah ....” ucap Lakso
   “Rencana, minggu depan mau ke Pakistan bukan...?” tanya Zaza
   “Oh... iya... tahu darimana...?”
    “ Saat ini, tidak penting dari mana tahu... yang penting benar atau tidak
informasinya...”
   “Benar, Ukhti. Insya Allah, Hari Rabu minggu depan, ana berangkat ke sana,
ada training dakwah”
   “Oh ya... maaf ana mau ke warung dulu ya... ” sela Laksono
   “Tidak perlu, tidak usah ngerepotin... Di luar sana, aku juga ditunggu oleh
orang lain..” balas Zaza
   “Oh iya,... kenapa tidak diajak kesini saja ?”
   “Nanti, dia menyusul ke sini, setelah pertanyaanku terjawab..”
   “Pertanyaan yang mana lagi...?”
   “Jujur, ... aku merasa ada sesuatu yang ganjil. Jadi mohon bantuannya agar
aku dapat memahami keganjilan itu” ujar Zaza
   “Maksudnya...?”
   “Teleponku gak pernah diangkat. SMS ku gak pernah dibalas”
   “Maaf Ukhti, itu karena.....”
   “Tidak perlu jelaskan dulu alasannya. Aku masih belum selesai bicara. Boleh
kan ? Apa masih mau mendengarkan ?”
   “Silakan, lanjutkan !”.
     “Aku tidak pernah dikasi tahu rencana tunangan kalian”
     “Aku tidak boleh tahu, kenapa rencana tunangan kalian bulan kemarin itu batal
?”
     “Aku dianggap tidak pantas menerima jawaban dari Ukhti Lili”
   “Aku diminta langsung bertanya kepadamu, Ikhwan Lakso. Karena dianggap
pantas untuk menjawabnya”
   “Aku diminta tidak bertanya lagi tentang hubungan kalian, karena itu sudah
dianggap masa lalu, oleh Ukhti Lili”
     “Apa itu semuanya ? Apa penjelasan atas keganjilan itu ?” tanya Zaza
     “Hmm... begini Ukhti Zaza....”
   “Cukup, Ikhwan. Aku tidak terlalu perlu untuk tahu, apa makna dibalik semua
keganjilan itu ” potong Zaza
     “Maksudnya...?” tanya Laksono
     “Katakan sejujurnya, apa karena aku... semuanya itu bisa terjadi ?” ujar Zaza
     “Ana belum mengerti, maksud dari kata-katamu, Ukhti”
     “Tidak mungkin belum mengerti”
     “Sungguh Ukhti. Ana belum mengerti. Berikan ana penjelasan lagi.”
   “Apa Aku yang dianggap sebagai penyebab batalnya pertunangan itu ?” tanya
Zaza
  “Apa Aku juga yang dianggap sebagai penyebab, akhirnya Ukhti Lili bersedia
mau dinikahi jadi istri kedua Amir, setelah aku menolaknya ?”
     “Hah... ! Masya Allah...!” ucap Laksono
     Tiba-tiba HP Laksono berbunyi, ada panggilan telepon yang masuk ...
     “Sebentar Ukhti, HP ana matikan dulu...” ucap Lakono
     “Silakan ...”
     “Sebentar. Ana terima telepon dulu ya... dari Amir” ucap Laksono lagi
     “Silakan, terima saja” saran Zaza
     Kemudian, Laksono mengangkat teleponnya .....
     “Wa „alaikum salam ...” jawab Laksono
     “Insya Allah. Ana bisa, Amir”
     “Ba‟da Isya. Insya Allah.”
    “Wa „alaikum salam...” jawab Laksono lagi, mengakhiri percakapan melalui
telepon.
     Sesaat kemudian, Laksono kembali menghadap ke arah Zaza ....
     “Ana ditunggu Amir, nanti malam, ba‟da Isya, di rumahnya” ujar Laksono
     “Tepat dugaanku” ucap Zaza
     “Apa maksudnya, Ukhti ?” tanya Laksono
   “Aku mengaku salah, karena aku sungguh tidak tahu.             Sudah sejauh itu
hubunganmu dengan Ukhti Lili” jawab Zaza
   “Tidak. Ukhti sama sekali tidak salah” balas Laksono
   “Ana yang salah atas semuanya ini” tambah Laksono
   “Apanya yang salah ?” tanya Zaza
   “Ana tidak terlalu pandai memahami perasaan akhwat.”
   “Ana juga tidak pandai memahami perasaan ana sendiri”
   “Maafkan ana.”
   “Antum belum jawab pertanyaanku” ujar Zaza
   “Apa itu masih diperlukan bagimu, Ukhti ?”
   “Iya. Aku merasa masih perlu jawaban itu”
   “Kira-kira dua jam setelah pertemuan Ukhti di Cafe Riau itu, kami bertemu di
kantor JAK. Lalu, kami terlibat pembicaraan yang amat ana sesalkan” jelas
Laksono
   “Apa yang antum sesalkan ?” tanya Zaza
  “Ana terlalu bodoh, kenapa baru memahami perasaan akhwat, saat setelah
pembicaraan itu selesai” jelas Laksono lagi
   “Dan ana makin merasa sangat bodoh, saat Amir baru saja meneleponku,
minta datang untuk nanti malam”
   “Jangan terlalu sering memvonis diri sendiri negatif seperti itu” ujar Zaza
   “Tidak Ukhti. Bukankah ana diminta untuk bicara jujur sekarang ini ?”
   “Silakan”
   “Ana jujur. Betapa sangat bodohnya ana sebagai laki-laki.”
   “Apakah itu, termasuk menyesali terkait perasaanku atasmu, Ikhwan Lakso ?”
   “Sangat benar Ukhti. Maafkan ana. Ana sangat bodoh dan khilaf.”
    “Itu juga yang menjadi alasan antum, sehingga tidak mau terima telepon dan
tidak mau balas SMS ku ?”
   “Kurang lebihnya begitu, Ukhti. Maafkan ana ”
  “Kini, mohon jawab dengan jujur. Apakah dalam pembicaraan antum dengan
Ukhti Lili di kantor JAK itu menyebut-nyebut namaku ? “
   “Ya”
   “Apakah itu berarti, dugaanku benar bahwa aku yang dianggap sebagai
penyebab terjadinya semua keganjilan itu ?” tanya Zaza
   “Tidak persis begitu” jawab Laksono
   “Beri aku penjelasan !” pinta Zaza
   “Benar, Ukhti Lili cemburu pada Anti” jawab Laksono
   “Terus ....” ucap Zaza
   “Tapi, itu bukan penyebab semua keganjilan terjadi” lanjut Laksono
   “Sekali lagi, beri aku penjelasan !”
   “Karena, semua penyebab itu adalah ana sendiri !”
  “Mohon jawab dengan jujur lagi. Apa benar sesuatu yang dicemburukan oleh
Ukhti Lili itu benar-benar terjadi ?” tanya Zaza lagi
   “Itulah kebodohan ana sendiri !” ujar Laksono
   “Aku kesulitan memahami, apa maksud dari kalimat terakhirmu itu ?” tanya
Zaza
   “Ana terlalu bodoh, karena ana tidak pandai memahami perasaan ana sendiri,
perasaan terhadap Ukhti Zaza” jawab Laksono
   “Apakah itu berarti, benar apa yang dicemburukan oleh Ukhti Lili ?”
   “Ya ! Kini, ana akui benar adanya !”
   “Itulah kebodohan ana !”
   “Sekarang, mohon tatap mataku !” pinta Zaza
   “Tidak Ukhti. Ana tidak sanggup lakukan itu” balas Laksono
   “Berarti, antum tidak berlaku jujur padaku”
   “Bukan begitu, Ukhti”
   “Mata adalah jendela kejujuran” ujar Zaza
   “Aku mau tahu kejujuranmu dari tatapan matamu” tambah Zaza
   “Lakukanlah Ikhwan Lakso ! Penuhi permohonanku ! Walau, sesaat saja.”
  Kemudian, Laksono menuruti permohonan Zaza, sehingga kedua pasang
mata mereka sekarang sudah saling tatap.
   “Kini, jawab pertanyaanku !” pinta Zaza lagi
   “Apakah namaku, benar-benar telah tersimpan dan bersemayam di hatimu ?”
tanya Zaza
   “Ya !” jawab Laksono singkat dan tegas
   “Terimakasih, cukup !” balas Zaza
   “Menurutku, Antum telah berkata jujur padaku” tambah Zaza
   “Apa boleh, aku memohon padamu ?” tanya Zaza
   “Katakan saja !” jawab Laksono
   “Kembalilah ke Ukhti Lili !” pinta Zaza
    “Tunda dulu, atau batalkan rencana ke Pakistan sebelum masalah
terselesaikan !” pinta Zaza lagi
   “Apa maksud Ukhti ?”
   “Nanti malam, .... katakan kepada Amir ! Bahwa Ukhti Lili, masih sebagai calon
tunanganmu !” tegas Zaza
   “Astaghfirullahal „adzim....” ucap Laksono
   “Ikhwan Lakso, Aku merasakan, apa yang ada dalam perasaanmu”
   Sejenak, mereka terdiam ......
   “Maaf, sebentar aku pegang HP ku.” ucap Zaza
   Zaza terlihat melakukan misscall terhadap seseorang. Laksono hanya terdiam
memandang terus ke arah Zaza. Selang beberapa saat kemudian, terdengar
ucapan salam dari seseorang ...
   “Assalamu „alaikum ...”
   “Wa „alaikum salam ... silakan masuk sahabat Caca” jawab Laksono
   “Kenapa telat datang ke sini ?” tanya Laksono
   “Yah... maklum atuh” jawab Caca, sambil ikut duduk di atas karpet juga.
   “Bagaimana teman Zaza, apa sudah selesai urusannya ?” tanya Caca
   “Sudah Pak, sekarang aku mau pamit pulang” jawab Zaza
   “Saya baru duduk, kok sudah langsung mau pulang. Curang ah !” ucap Caca
   “Lain kali saja, datang lagi ke sini” ujar Zaza
   “Bagaimana kalau Ikhwan Caca di sini dulu, pulangnya nanti ?” usul Laksono
   “Terima kasih, Sobat Lakso. Lain kali saya pasti ke sini lagi”
   “Mau ada apa gitu ?” tanya Zaza
  “Mau tahu apa yang diobrolkan kalian berdua, saat saya menungu lama di
mobilmu” jawab Caca
   “Ha..ha..ha..ha.. Kasian deh lu” komentar Zaza, diselingi tertawa
   “Sopir tidak boleh tahu urusan bos nya !” tambah Zaza lagi
   “Jadi, datang ke sini, antum berdua bersamaan ya?” tanya Laksono
   “Sumuhun, pa Ketua” jawab Caca
   “Kalau begitu, silakan antar dulu Ukhti Zaza pulang” balas Laksono
   “Terima kasih” balas Zaza
  Kemudian, Zaza dan Caca bangun dari posisi duduknya. Merekapun langsung
pamit untuk pulang, lalu keluar dari kamar Laksono itu.
   “Assalamu „alaikum”
   “Wa „alaikum salam”
    Mereka langsung berjalan meninggalkan Laksono. Sementara itu, Laksono
memandangi kedua rekannya pergi sambil berdiri dari depan kamar kosnya. Tidak
terlalu lama, lantas ia pun langsung masuk ke kamarnya lagi....

								
To top