Docstoc

pakan alami ikan

Document Sample
pakan alami ikan Powered By Docstoc
					                                   BAB I
                               PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
           Dalam suatu perairan terdapat organisme –organisme yang hidup seperti
   Plankton, nekton, Neuston, Peryphyton, Bentos dan lain sebagainnya.Plankton
   merupakan organisme yang hidupmengikuti pergerakan arus air dalam bentuk
   jasadnabati danjasad hewani, Nekton merupakan Organisme yang hidup dalam perairan
   dan bersifat melawan pergerakan arus air, Neuston merupakan organisme yangberenang
   di permukaan air, Peryphyton merupakan organisme yang hidup dalam air dan biasanya
   hidupnya menempel pada suatu substrat, sedangkan Benthos adalah organisme yang
   hidup di dasar perairan berwarna merah kekuningandan biasanya mencari makan dari
   bahan organik yang melapuk.


1.2. Tujuan
    Setelah melakukan praktek diharapkan mahasiswa dapat:
   -   menyiapkan alat dan bahan untuk praktek.
   -   Mengenal bentuk dan morfologi cacing sutra (Tubifex sp)
   -   Mengetahui daur hidupdari Tubifek sp
   -   Mampu mengaplikasikan di lapagan tidak hanya pada saat praktek saja.




                                                                                    1
                                  BAB II
                            TINJAUAN PUSTAKA

       Tubifex sp merupakan salah satu pakan alami yang digunakan oleh aquakultur
dalam proses budi daya. Secara taksonomi tubifek sp dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
       Fillum         : Annelida
       Kelas          : Oligochaeta
       Bangsa         : Haplotaxida
       Suku           : Tubificdae
       Marga          : Tubifex
       Jenis          : Tubifek sp
       Di dalam budidaya peerairan secara umum Tubifex sp sering kali disebuut dengan
julukan cacing rambut atau cacing sutra karena bentuknya seperti rambut dan halusnya bak
sutra. Panjang tubuh dari dari Tubifek ini antara 10 – 30 mm berwarna merah coklat
kekuningan terdiri dari 30 – 60 segmen. Dinding tebal, terdiri dari dua lapis otot yang
membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya. Dari setiap segmen bagian punggung dan
perut keluar setadan ujung seta bercabang dua tanpa rambut. Untuk perkembnag biakan
Tubifex sp merupakan organisme yang memiliki dua alat kelamin yang sering disebut
dengan Hemaprodit. Yaknibisa dengan seksual atau asexsual. Mediatumbuh yang baik bagi
cacing rambut ini adalah perairan yang banyak menandung bahan organik, memiliki debit
air (air mengalir). Untuk membudidayakannya bahan organik yang biasa dipakai adalah
kotoran ternak seperti kotoran Ayam, Kambing, Sapi, Kuda, Kerbau, Babi dan lain
sebagainya. Sedangkan kebiasaan makan dari cacing rambut ini yaitu membuat lubang
berupa tabung dan menyaring atau mengumpulakan partikel – partikel yang dapat dicerna
dalam ususnya.




                                                                                          2
                                 BAB III
                               METODOLOGI

3.1. Waktu Dan Te mpat
       Hari / tanggal  : 30 Oktober 2007
      Tempat            : Mini Laboratorium Departemen Perikanan
      Waktu             : Selama dua bulan



3.2. Alat dan bahan
        Alat                                     Bahan
        - Palu
                                                 -   Kayu
      -   Gergaji
                                                 -   Plastik
      -   Parang
                                                 -   Kotoran Ayam
      -   paku
                                                 -   Lumpur Kolam
      -   Penggaris
                                                 -   Cacing Rambut
      -   Timbangan
                                                 -   Tissue
      -   Mikroskop
                                                 -   Air
      -   Gelas objek
                                                 -
      -   Ember
                                                 -
      -   Serokan
                                                 -   Kertas
      -   Alat tulis
                                                 -   Air




                                                                     3
3.3. Langkah Kerja

    Siapkan alat dan bahan
    Buat bak dari papan kayu berukuran 40 x 15 x 8 cm dan diberi outlet.
    Lapisi bak papan kayu dengan plastik yang tidak bocor.
    Buat media dari campuran kotoran ayam dan lumpur kolam dengan perbandingan 1
      : 1 dan masukkan dalam bak papankayu setinggi 5 cm, dan biarkan selama satu
      minggu.
    Inokulasi bibit cacing rambut dengan padat tebar 2 gram/ m2
    Berikan pupuk susulan engan dosis 9% dario volume media
    Amati populasi cacing rambut
    Pemanenan dilakukan dengan menggunakan serokan terlilin.




                                                                                4
                                BAB IV
                        HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil
       Menghitung luas wadah budidaya cacing tubifex:
   Diketahui          p : 40 cm
                      l : 20 cm
L wadah               = pxl
                      = 40 x 20 cm
                      = 800 cm2 = dm2
Padat tebar cacing tubifex    : 8 dm2 x 29
                              100 dm2

       Dalam 0,16 gr jumlah cacing sebanyak 30 ekor. Panjang rata – rata cacing 1 cm dan
memiliki 92 segmen.
       Selama proses budidaya selama 2 bulan dengan padat tebar pertama 30 ekor
akhirnya menjadi 1435 ekor pada saat panen. Dengan perk iraan pertumbuhan sebagai
berikut:
Tabel perkiraan pertumbuhan per 10 hari.
    No      Hari pengamatan                      Pertumbuhan
      1     10 hari pertama                      2 cm
      2     20 hari                              3 cm
      3     30 hari                              3,5 cm
      4     40 hari                              5 cm
      5     50 hari                              6 cm




                                                                                      5
                6

                5

                4

 Pertumbuh 3
 an
                2

                1

                0
                        10          20         30        40          50
                                     Hari Pengamatan
                    Grafik. Pertumbuhan Daphnia.

4.2. Pembahasan
          Wadah budidaya dapat berupa bak beton atau wadah lain asalkan tidak bocor
   dan memiliki saluran pembuangan air. Media yang digunakan berupa campuran pupuk
   kandang (kotoran ayam) dan lumpur kolam dengan perbandingan 1 : 1 dan tinggi media
   5 cm. Sedangkan pemupukan susulan dilakukan satu minggu sekali dengan dosis 9%
   dari volume media awal. Media budidaya dialiri air dengan debit 900ml/menit dengan
   tujuan agar kebutuhan oksigen dalam air selalu terjaga juga sebagai penyesuaian
   dengan habitat aslinya. Inokulasi dilakukan satu minngu setelah media tersiapakan dan
   selama satu minngu itu media harus di aliri air. Panen cacing rambut dilakukan setelah
   budidaya berlangsung selama dua bulan dan berturut –turut setiap dua minggu, cara
   panen cacing rambut yakni mengguanakan serokan dari terlilin. Hasil yang didapat
   berupa cacing yang bercampur dengan media budidaya dimasukkan dalam ember atau
   bak isi air dengan tinggi air 1 cm di atas media budidaya, tutup hingga bagian
   dalammya gelap dan biarkan selama 6 jam. Setelah itu cacing rambut akan
   bergerombioldi atas media lalu diambildengan tangan. Untuk mendapatkan cacing
   rambut yang cukup dan berkesinambungan wadah perlu disesuaikan denga keperluan
   tiap hari.



                                                                                        6
                                        BAB V
                                       PENUTUP

5.1. Kesimpulan
             Tubifek tidak hanya dapat hidup baik di habitat aslinya,namun juga dapat hidup
   di bak – bak yang dibuat oleh manusia sebagai media budidaya. Secara praktek daur
   hidup benthos ini lebih lama dari pada tioritis. Dan semua itu tergantung dari
   pemupukan susulan yang diberikan.
             Budidaya benthos dapat dibudidayakan secara massal dan juga dengan skala
   kecil menengah.


5.2. Saran
             Saluran air atau draenase seharusnya jangan berhenti demi tersedianya pasokan
   oksigen yang kontinyu.




                                                                                             7
                                   BAB I
                               PENDAHULUAN


1.1. Latar belakang

       Sejalan dengan pesatnya usaha perikanan, dirasakan betapa besar peran pakan bagi
usaha budidaya perikanan, terutama pada masa pembenihan.hal ini dapat dipahami karena
pada awal hidupnya ikan tidak menemukan pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan
mulut pada saat masih larva. Akibatnya kondisi larva jadi lemah dan akhirnya akan mati.
Sebaliknya jika pada awal mkehidupan larva dapat menemukan pakan yang mempunyai
ukuran sesuai dengan ukuran bukaan mulut si Larva maka larva ikan tersebut dapat
diperkirakan akan tetapbertahan dan mempertahan kan kehidupannya. Untuk itulah,
ketersediaan pakan alami sangat dibutuhkan oleh larva ikan untuk kelangsungan hidup dan
perkembangbiakannya.
       Pakan alami dengan berbagai kelebihannya sangat cocok untuk benih ikan. Selama
ini, pakan alami diperoleh dengan cara menangkapnya di alam atau membudidayakannya.
Pengadaan pakan alami yang bertgantung dari penangkapan dari alam sangat riskan. Selain
kualitas dan ketersediaannya terbatas, tidak hanya itu penangkapan pakan alami dari alam
ini juga beresiko tercemar unsur logam berat yang kemungkinan terdapat di dalam saluran
air tempat pengkapannya. Berdasarkan alasan itulah, budidaya pakan alami sudah
merupakan suatu kebutuhan yang sebaiknya menyertai usaha budidaya perikanan sekaligus
sebagai penunjang keberhasilan dalan usaha budidaya.




                                                                                      8
1.2.Tujuan
    Mahasiswa mampu mengidentifikasi Daphnia sp yang brsala dari perairan.
    Mahasiswa mampu menyiapkan wadah atau tempat untuk budidaya Daphnia sp.
    Mampu memelihara dan merawat daphnia dengan baik.
    Sebagai wahana penambah ilmu pengetahuan langsung dari lapangan.
    Memantapkan hasil tiori di kelas ke lapangan.
    Sebagai prasyarat akademik.




                                                                               9
                                  BAB II
                            TINJAUAN PUSTAKA



     Daphnia sp merupakan golonagan Zooplankton . Clodocera yang sering disebut
dalam budidaya perairan sebagai kutu air. Golongan kutu air ini terd iri dari daphnia sp dan
moina sp. Daphnia sendiriu merupakan organisme yang bersifat planktonik dan bergerak
aktif denga alat geraknya yaitu kaki renang, organisme ini termasuk dalam filum
Arthropoda, kelas Crustaceae, sub kelas Entomostraca, ordo phylopoda, dan subordo
Cladocera. Tubuh daphnia berbentuk lonjong, piph, dan segmen kitin transparan.




                                     Gambar 1. Daphnia sp

     Daphnia berkembang biak dengan cara partenogenesis (bertelur tanpa kawin) dan
selanjutnya telur yang dihasilkan induk betina ditampung pada kantong yang ada pada
bagian belakang cangkang.




                      Gambar 2. Daphnia dan bagian bagianya.




                                                                                         10
       Pada daerah yang beriklim dingin dapnia akan berkembang biak dengan sistem
kawin sementara itu pada musim panas, perkembang biakan terjadi secara partenogenesis.
Pada saat musim dingin akan dihasilkan individu – individu jantan yang selanjutnya
menjadi pejantan dan akan mengawini induk – induk betina.
       Daphnia hidup di air tawar seperti danau atau kolam dan dapat ditemui di daerah
tropis dan subtropis. Dapnia dapat tumbuh dengan baik pada perairan dengan suhu 21˚ C
dan pH 6,5 – 9 . pakan daphnia adalah Phytoplankton, Detritus, dan Zooplankton. Cara
makan dari daphnia ini yaitu dengan menggerakkan kakinnya sehingga timbul arus yang
membawa pakan mendekat kemudian dimakan.
       Moina merupakan organisme yang termasuk dalam subordo cladocera seperti
halnya daphnia. Cara perkembangbiakan maupun kebiasaan makanya mirip dengan
daphnia. Bentuk tubuhny6a membulat dengan garis tengah 0,9 – 1,8 mm dan berwarna
kemerah – merahan. Pada bagian perut terdapat 10 silia dan di punggungnya ditubuhi
rambut – rambut kasar. Ukuran tubuh moina antara 500 – 1.000 mikron. Umur moina
sekitar 13 hari dan mulai bertelur setelah berunur 4 hari.




                              Gambar 3. Siklus hidup dari daphnia sp


       Moina dapat ditemui di daerah yang banyak rumput atau kayu mati.di daerah seperti
itu biasanya banyak terdapat fitoplankton, zooplankton, detritus, dan bakteri sebangai
pakan nya. Dari berbagai jenis pakan bakteri merupakan moina yang terbaik. Moina
tumbuh baik pada perairan dengan subu 24 – 30˚ C dan Ph antara 6,5 – 9.



                                                                                     11
       Bibit bisa diperoleh dari perternak ikan melakukan usaha pengembangan moina dan
daphnia atau pada lembaga penelitian pemerintah maupun balai budaya air tawar. Bisa juga
melakukan penangkapan diperairan umum seperti sungai, danau, wakduk, atau bahkan
dirawa – rawa. Keberadaan moina atau daphina dapat diketahui dengan cara membenamkan
lempenggan putih atau piring secchi kedalam perairan pada saat pagi hari yang cerah.
Lempengan putih dapat dibuat dari pakan kayuAtau trileks yang dibuat berbentuk lingkaran
dengan diameter sekitar 20 cm, selanjutnya dicat putih dandiberi gagang kayu diengahnya.
Bila terlihat seperti kumpulan awan yang bergerak – gerak menandakan bahwa peraian
tersebut mengandung banyak spesies dari kelompok Cladocera.
     Alat – alat yang diperlukan untuk menangkap moina dan daphnia ialah serok/seser
terbuat dari kain sarigan plankton,




               Gambar 4. Daphnia dan telur dalam perutnya.


       Ember yang tutupnya berlubang – lubang yang sudah di isi air tawar, aerator
baterai, dan cuaca cukup terik maka di sediakan es batu sebagai pendingin. Es batu tersebut
di bungkus dengan kantong plastik kecil dan selanjutnya di masukan ke dalam ember yang
berisi air. Bibit yang tertangkap dengan serok ditampung dalam ember dan se lanjutnya
diberi aerasi. Suhu air di ember penampumgan di usahakan terjaga pada kisaran 27 – 30˚C.




                                                                                        12
                                   BAB III
                                 METODOLOGI

3.1. Waktu Dan Te mpat
       Hari / tanggal : 16 Desember 2007
      Tempat            : Mini Laboratorium Departemen Perikanan
      Waktu               : Selama dua bulan



3.2. Alat dan bahan
        Alat                                     Bahan
        - Alat pembersih
                                                 -   Air bersih
      -   Wadah ( bak beton/fiber)
                                                 -   Jerami Padi
      -   DO Meter
                                                 -   Kotoran Ayam
      -   Ph Meter
                                                 -   Daphnia
      -   Termometer
                                                 -   Tissue
      -   Baskom
                                                 -   Kertas
      -   Tinbangan
      -   Mikroskop
      -   Gelas objek
      -   Batu pemberat
      -   Serokan
      -   Alat tulis




                                                                    13
3.3 Langkah Kerja
        Bersihkan wadah budidaya dari kotoran dengan menggunakan air.
        Masukan air bersih sedalam 30 cm
        Hitung parameter air baik dari Oksigen terlarut, pH, suhu, dan kecerahannya.,
        Masukan pupuk kandang dengan dosis 0,5 kg / liter air ke dalam wadah lalu
          bungkus dengan kantong plastik kemudian di lubangi agar sari- sari / nutrien
          dapat keluar untuk pakan dafhnia, biarkan pupukjlarut kedalam air selama satu
          minggu.
        Tepar bibit Daphnia menurut padat tebar yang sudah ditentukan.
        Beri pupuk susulan setelah satu minngu.




                                                                                     14
                                       BAB IV
                            HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1. Hasil
     Wadah yang dipakai dalam budidaya Daphnia adalah fiber dengan ukuran:
     t = 40 cm
     d = 50 cm
     г = 25 cm
     Yang mana penentuan volume airnya menggunakan rumus:
       V = Л. г²t
             = 3,14 x (25)² x 40
             = 78500 cm³
             = 78,5 cm²
             = 78,5 liter air/0,0785
     Untuk menentukan kebutuhan untuk pupuk awal maka:
     PK = 0,0785 x 1500 gr
             = 117,75 gr.
     Selama pembudidayaan ada dua kali pengamatan yang kami lakukan yakni pada:
     Minggu pertama Tanggal 15 des’07 di hari , 4 setelah inokulasi hasilnya 221 x 78,5 L
= 17.349 ekor, 2 hari setelah itu bertambah menjadi 356 x 78,5 = 27.946 ekor. dan satu hari
setelah itu jumlahnya tetap. Jadi total pertumbuhan pada pengamatan minggu pertama yaitu
berjumlah 45.295 ekor.
     Minggu ke 2 dimulai tanggal 22 Des’07 berjumlah 382 x 78,5 l = 29.987, dua hari
setelah itu menjadi 293 x 78,5 l = 23.001, jadi total pertumbuhan di minggu ke dua
segaligus panen adalah 52.988.




                                                                                        15
4.2. Pembahasan
         Daphnia dapat dibudidayakan dalam aquarium, atau fiber. Dengan volume air 80-
90% dari ketinggian wadah. Pupuk yang sering digunkan yaitu pupuk kandangyang sudah
matang       (kering) sebanyak 2 – 5 gr setiap liter airnya. Pemupukan ini dilakukan dengan
cara dibungkus dengan kain atau plastic yang di deri lubang seperti jarring dan
digantungkan pada air media budidaya. Air yang diberi pupuk dibiarkan selama satu
minggu sehingga warna air berubah menjadi kecok latan. Setelah ditumbuhi diatomae maka
Dapnhia siap untuk ditebarkan, ini gunakan dalam budidaya skala kecil. Sedangkan dalam
budidaya skala massal bak yang digunakan adalah baksmen atau fiberglass yang berukuran
1 ton. Yakni dengan langkah kerja:
   1. Bak pemeliharaan dibersihkan dan dikeringkan kemudian diisi dengan air tawar 80
         – 90% dari ketinggian dan diberi aerase. Air bersih sebaiknya sebaiknya diambil
         dari sumur untuk mencegah kontaminasi dengan organisme lain yang dapat
         mengganggu proses budidaya.
   2. pupuk yang digunakan dalam pengembangan daphnia secara massalini adalah
         kotoran ayam keringa atau bisajuga ditambah dengan tepung bungkil kelapa.
         Jumlah pupuk yang diberikan sebanyak 2 – 5 g kotoran ayam dan 0,2 g tepung
         bungkil kelapa untuk setiap liter air. Kedua jenis pupuk ini dicampun dan kemudian
         dimasukkan ke dalam kaindan digantungkan di dalam air.setelah menjadi basah,
         bungkusan pupuk siremas agar extrak pupuk keluar.
   3. sehari setelah pemupukan, bibit daphnia sp siap ditebar dengan dengan kepadatan10
         – 20 okor/liter air.
   4. pemupukan ulang dilakukan rutin setiap seminggu sekali setelah pemupukan
         sebelunnya.jumlah pupuk yang diberiakan pada pemupukan ulang setengah dari
         pemuukan awal.




                                                                                        16
   5. panen dilakukan setelah 7 – 8 hari massa budidaya dan dapat dilakukan secara
       berkesinambungan. Jumlah yang dipanen dalam sekali panen sebaiknya hanya 1/3
       dari populasi yang ada.panen dilakukan dengan menggunakan serok atau seser
       dengan mata jaring 1,5 – 2 mm. dengan ukuran mata jarring ini diharapkan hanya
       daphnia yang berukuran besar saja yang tertangkap dan yang masih muda dan
       berukuran kecil tetap tinggal di bak pemeliharaan.


       Apa bila daphnia yangdipanenberlebihan maka dapat disimpan dalam freezer. Agar
kualitas dapat dipertahankan, penyimpanan sebaiknya dilakukan dalam plas tic kedap udara.
Daphnbia yang disimpan ini dapat digunakan sebagai pakan larva ikan saat dibutuhkan.
Bila akan digunakan sebagai pakan ikan, daphnia beku diencerkan denganmerandam dalam
larutan air dengan suhusekitar 25° C.




                                                                                      17
                                         BAB V
                         KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
      -      Budidaya Daphnia ini sangat mudah dilakukan dan dapat mentolerir kondisi
             yang ada. Dan juga tidak membutuhkan modal yang besar.
      -      Pemanenan Daphnia ini dapat dilakukan berkesimanbungan menurut kebutuhan
             yang diperlukan.
      -      Secara praktek di lapangan masahidupdari daphnia lebih lama dari yang ada di
             tiori.
      -      Memiliki kadar gizi yang cukup bagi kebutuhan larva ikan sehingga tanpa
             menambah dari pakan lain sudah dapat mendukung pertumbuhan larva ikan.


5.2. Saran
             Walaupun mudah dalam proses budidayanya, nemun dibutuhkan ketelitian
   dalam proses penyiapan media dalam budidaya Daphniaini, seperti kadar Dosis pupuk
   awal dan Jerami yang digunakan sebagai bahan pakannya. Agar tidak over dosis dan
   mengakibatkan daphnia ini mengalami kematian. Kalau hal ini terjadi maka akibatnya
   akan sangat fatal.




                                                                                        18
                                            BAB I
                                    PENDAHULUAN


1.1.   Latar Belakang
       Sepertihalnya pakan alami lainnya, Artemia merupakan salah satu pakan alami yang
diupakan untuk memasok kebutuhan pakan bagi larva ikan. Kegunaannya sama seperti
pakan lainnya. Artemia ini berupa janis pakan dari udang renik.




                             Gambar 1. kemasan cyst Artemia
       Zooplankton khusunya Artemia sp mempunyai beberapakauntungan diantaranya ,
ukurannya yang kecil, sehingga mudah dimakan oleh larva ikan selain dari ituartemia
inimempunyai kadar gizi yang tinggi sehingga cocok untuk pakan ikan demi memasok
kebutuhan nutrisi dikala dalam masa pertumbuhan.
       Artemia adalah hewan yang bersifat filder feeder nonselektif. Oleh sebab itu, faktor
terpenting dalam memilih pakan untuk Artemia ini adalah partikel yang berukuran kurang
dari 50 μm.
       Biasanya Artemia ini digunakan untuk pakan Larva ikan, udang dan kuda laut yang
baru menetas. Saat ini dalam budidaya ikan laut, Artemia jarang digunakan karena telah
digantikan dengan pakan buatan (pelet).




                                                                                         19
1.2. Tujuan.
   -   diharapkan mahasiswa mampu mengidentifikasi Artemia dengan baik.
   -   Mahasiswa dapat mebudidayakan Artemia
   -   Mahasiswa mampu menerapkan Budidaya Pakan alami ini di lapangan kelak setelah
       selesai mengenyam pendidikan.




                                                                                  20
                                         BAB II
                               TINJAUN PUSTAKA


          Artemia adalah salah satu pakan alami yang merupakan organisme air laut. Artemia
ini termasuk kedalam golongan udang – udangan dan ukurannya sangat kecil. Ukuran
Artemia dewasa antara10 – 20 mm dengan berat sekitar 10 mg. bagian kepala besar dan
mengecil sampai bagian ekor. Artemia ini mempunyai sepasang mata dan sepasang
antennula yang terletak di bagian kepala. Pada bagian tubuh terdapat terdapat sebelas
bagian kaki yang disebut Thoracopoda. Pada masing – masing Thoracopoda dilengkapi
alat pengumpul pakan, alat pernapasan, dan alat untuk bergerak. Alat kelamin terletak pada
bagian ekor dan pasangan kaki paling belakang. Pada artemia jantan, salah satu antena
berkembang menjadi alat penjepit, sedangkan pada Artemia betina berfungsi sebagai alat
sensor.
          Artemia hidup secara planktonik pada periran berkadar garam 5 - 150 ‰. Bahkan
beberapa strain artemia dapat dapat hidup air dengan salinitas 300 ‰. Toleransi artimia
terhadap suhu cukup luas, yaitu antara 6-31˚C, tetapi suhu optimal untuk kehidupan antara
25-31˚C. Derajat keasaman atau pH yang optimal untuk kehidupan artemia antara 7,3-8,4.
di alam artemia memakan sisa bahan organik ( detritus ), diatomae, dan gangga renik.
Artemia berkembang biak secara biseksual dan secara partenogenesis. Organisme yang
dihasil kan dari cara perkembang biakan secara biseksual tidak dapat berkembang biak
secara partenogenesis. Demikian juga dengan organisme yang dihasilkan dari cara
partenogenesis tidak tidak dapat berkembang biak dengan cara biseksual.
          Pada kondisi lingkungan normal, artemia berkembang biak secara ovovivivar, yaitu
telur dibuahi dalam kantong telur sekaligus menetas kemudian keluar dari induk artemia
berupa nauplius. Apabila kondisi lingkungan kurang baik atau jelek, artemia berkembang
biak dengan menghasilkan telur kista ( dorman egg ) telur kistra ini akan menetas setelah
kondisi lingkunggan baik kembali. Telur kistra dari artemia berkulit kertas dan tahan
dalam keadaan kering tampa mempengaruh terhadap daya hidupnya. Dengan kondisi



                                                                                        21
seperti itu maka telur kistra kemudian banyak diperdangkan, selanjutnya ditetaskan dan
digunakan sebagai pakan alami. Telur kistra artemia kering berbentuk bulat cekung,
berwarna coklat dengan diameter 200-300 mikron.




                                  Gambar 1. Siklus hidup Artemia


       Nauplius artemia yang baru menetas berukuran 470-512 mikron. Nauplius yang
baru menetas ini disebut dengan instar I.instar I setelah , mengalami proses moulting (ganti
kulit ) akan berubah menjadi instar II, demikian seterusnya sampai menjadi intstar XV.
Setelah instar XV, artemia berkembang menjadi individu dewasa dan telah siap untuk
melakukan proses perkawinan. Perkembangan dari penetasan sampai menjadi individu
dewasa memerlukan waktu 7-10 hari.




                                                                                         22
                         Gambar 2. Artemia jantan dan betina.

       Bibit Artemia didapat dengan cara menetaskan kista Artemia yang telah
dikalengkan dan dijual di Indonesia. Meskipun Indonesia sudah mampu membudidayakan
artemia sampai menghasilkan kistanya. Tetapi samapi sasat ini kebutuhan telur kista
Artemia
       Kedua larutan tersebut dipanaskan kemudian dicampur. Air yang dihasilkan dari
larutan bahan tersebut bersalinitas sekitar 30,5 ‰. Untuk melarutkan air   bersalinitas
5-7 ‰, larutan itu harus di encerkan terlebih dahulu. Untuk memisahkan nauplius da n
cangkang telur dilakukan dengan menutup bagian atas wadah dengan kain hitam,
sedangkan bagian bawah disinari dengan sinar lampu atau senter. Sebelum penangkapan
dimulai, Aerasi harus dimatikan. Setelah beberapa saat, akan terlihat jelas perbedaan
lapisan, yaitu cangkang telur mengapung dipermukaan dan nauplius tertarik cahaya dan
akan kumpul di bawah. Sistem pemanenan dilakukan dengan penyipanan ditampung dalam
plankton net. Pencucian nauplius dilakukan dengan menyemprotkan air ke dalam plankton
net dan nauplius yang sudah bersih dapat digunakan sebangai bibit untuk penembangan
skala besar.




                                                                                    23
                                             BAB III
                                       METODOLOGI


3.1 Waktu Dan Te mpat
   Persiapan wadah dan media penetasan cyst artemia
   Waktu      : selasa 11 desember 2007
   Pukul      : 10.00 WIB s/d selesai
  Tempat      : Instalasi perikanan.
3.2 Alat Dan Bahan
    alat :
                                                       bahan:
             o elenmeyer               o lem
                                                          o kayu/papan
             o pengaduk                o alat tulis.
                                                          o garam
             o neraca                  o gergaji
                                                          o air
             o pipa aerator            o palu
                                                          o botol aqua 1,5
             o selang                  o kapak
                                                                liter
             o repraktometer           o pisau
             o tissue




                                                                             24
3.3 Cara Kerja:
    Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
    Potong aqua pada bagian bagian bawah dengan menggunakan cutter / gunting,
      kemudian beri lubang pada tutup aqua sebesar selang aerasi
    Potong kayu menjadi 4 bagian sehingga dapat membentu kotak untuk tempat
      berdirinya wadah berbentuk kerucut, ukuran 30cm x 20cm 2 buah, ukuran 20 cm x
      20 cm2 buah.
    Setelah di potong lalu di paku dengan menggunakan palu agar tiap bagian kayu
      melekat sehingga dapat menyangga wadah penetasan
    Masukan botol ke dalam kayu penyangga, dalam kondisi berbalik ( tutup nya di
      bawah ) lalu pada tutupnya di beri selang aerasi
    Periksa wadah dan selang aerasi agar tidak terjadi kebocoran.




                                                                                 25
                                              BAB IV
                               HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Untuk menghitung persentase penetasan cyst digunakan rumus sebagai berikut :
   1.     Hatching percentage
Hp = N x 100 %
     c

Keterangan : Hp : Persentase penetasan (chatching percentase)
                  N : ∑ naupli yang menetas
                  C : ∑ telur yang tidak menetas
   2. Hatching Effeciency (HE)
HE =     N
       gr telur
atau
HE = C
       1 juta nauplius


Pada tanggal 18 Desember 2007 : menyiapkan wadah.
Tebar : 5 gr
Perhitungan sampel : 16,6 gr = 1790 butir
Jadi dalam 5 gr                  = 5000 mg x 1790 = 539.156 butir
                                   16, 6
Kepadatan populasi (kp)
Sampel = 0,2 ml = 32 individu
jadi Kp = 1000 x 32 = 16.000
           0,2




                                                                               26
Presentasi penetasan = Hp = N/C x 100
                                 160.000 x 100%
                                 539.156

                                 = 2,9 %
Hatching Rate (HR)
HR = t 90 – t0
t 90 = waktu yang dibutuhkan untuk penetasan nauplius sekurang – kurangnya 30 % dan
tidak lagi menetas
to = waktu yang dibutuhkan untuk penetasan nauplius yang pertama.
20 jam – 8 jam = 12 jam
Haching efesiensi (HE)
HE = N / 1 gr telur
       = 16000/g 107831 = 1,48
pada suhu = 28 -30 °C


4.2. Pembahasan
          Budidaya Arrtemia dapat dilakukan pada kadar salinitas yang cukup tinggi yaitu
lebih dari 50 promil, menurut hasil penelitian dari tambak budidaya artemia pada sat
penebaran naupili artemia adalah 70 ppt dan untuk menghasilkan kista dengan hasil yang
optimum dibutuhkan salinitas antara120 – 140 ppt, sedangkan untuk kadar salinitas di atas
140 ppt akan mengakibatkan produktifitas telur akan menurun . Oleh karena itu, pada
tambak budidaya artemia setelah dilakukan penebaran naupilii artemia salinitas dalam
tambak terus ditingkatkan dari 70 ppt menjadi 80 ppt hingga mencapai 120 – 140 ppt.
          Air yang digunakan dalam penetasan cyst artemia harus terbebas dari kontaminan
seperti pestisida, detergen dan chlor. Air yang digunakan harus diberi oksigen dengan
menggunakan aerator dan batu aerasi yang disambungkan dengan selang aerasi. Aerasi ini
dapat pula digunakan untuk menghilangkan karbondioksida danenetralka n chlor dalam
air.




                                                                                      27
       Artemia yang akan di tebar ke dalam media penetasan berasal dari cyst artemia.
Cyst artemia berupa telur yang mengalami fase dorman karena kondisi lingkungan yang
buruk. Hal ini terjadi karena sifat induk artemia di alam           mempunyai dua cara
perkembangbiakan yaitu pada saat kondisi perairan baik maka telur yang diihasilkan akan
langsung menetasmenjadi naupilius, sedangkan pada kondisi perairan yang buruk akan
disimpan dalam bentuk telur yang disebut ovivar.
       Cara yang dugunakan dalam inokulasi adalah dengan menebarkan cyst dengan hati
– hati ke dalam media kultur sesuai dengan padat tebar yang telah ditentukan. Sebaiknya
penebaran bibit Artemia ini dilakukan pada waktu sore hari ataupun saat pagi hari.
       Cyst artemia ini adalah telur yang telah berkembang lebih lanjut menjadi embrio
dan kemudian diselubingi oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berfungsi
sebagai pelindung embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sunar ultra violet
dan mempermudah pengapungan. Jadi artemia itu yang akan ditetaskan adalah hasil dari
perkawinan jantan dan betina dalam kondisi lingkungan yang buruk.




                                                                                      28
                                               BAB V
                                KESIMPULAN SARAN

5.1. Kesimpulan
      Dalam melakukan pratek penetasan cyst artemia ternyata masih banyak yang tak
menetas mungkin ini disebabkan karena kadar salinitasnya yang terlalu rendah.
      Setiap melakukan praktek budidaya pakan alami banyak sekali pengalaman yang
mahasiswa dapatkan selain tioritis di kelas.
      Kurangnya draninase pada penetasan cyst akan            mengakibatkan kegagalan
perkembangannya.


5.2. Saran
       Untuk pemeliharaan larva artemia sebaiknya pasokan         pakannya harus selalu
diperhatikan agar proses pemeliharan tetap berjalan dengan baik dan demi kelangsungan
hidup artemia tersebut.




                                                                                     29
30

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:2217
posted:3/22/2011
language:Indonesian
pages:30