Docstoc

BAB I DONA

Document Sample
BAB I DONA Powered By Docstoc
					                                     BAB I

                              PENDAHULUAN



A.     Latar Belakang Masalah

       Organisasi merupakan suatu kelompok yang terdiri dari individu-individu

atau fungsional-fungsional yang bekerjasama dalam pembuatan suatu perencanaan

manajerial dengan tujuan pada pengembangan dan pemeliharaan. Seperti yang

dikemukakan oleh Chaplin (dalam Kartono, 1989:344), bahwa organisasi

merupakan suatu struktur atau pengelompokkan yang terdiri dari unit-unit yang

berfungsi saling berkaitan sedemikian rupa sehingga tersusun satu kesatuan yang

terpadu. Dalam organisasi terdapat kelompok-kelompok yang terdiri dari

individu-individu yang memiliki kesamaan visi dan tujuan dengan kelompok yang

dimasukinya. Kelompok ini tidak selalu kelompok yang besar. Di dalam

organisasi seperti perusahaan, terdapat kelompok-kelompok atau unit-unit kerja

yang bekerja saling terkait untuk mencapai tujuan organisasi. Kelompok ini

memiliki tujuan atau target yang harus dicapai demi tercapainya tujuan dari

organisasi. Adanya target yang ditetapkan oleh kelompok-kelompok kerja akan

memunculkan suatu usaha untuk dapat menjadi yang terbaik diantara kelompok

lainnya. Untuk menjadi yang terbaik diperlukan suatu perencanaan yang matang

dalam menyusun suatu strategi sehingga dapat mencapai target yang telah

ditetapkan. Likert (dalam Munandar, 2001:216) menyatakan bahwa organisasi

industri terdiri dari kelompok-kelompok kerja yang saling berkaitan dalam satu

tata tingkat. Organisasi ini dipandang sebagai suatu sistem dari kelompok yang

                                 1
                                                                              2




saling berkaitan, yaitu kelompok kerja, yang dihubungkan oleh tenaga kerja yang

menduduki suatu jabatan kunci dan menjadi anggota dari dua kelompok sekaligus

yang berfungsi sebagai penghubung antara satu kelompok dengan yang lainnya.

       Dalam organisasi terdapat suatu pengorganisasian yang meliputi

pembagian tugas-tugas dan pekerjaan yang disalurkan dalam bentuk struktur

organisasi untuk pencapaian tujuan organisasi yang efisien. Tujuan organisasi

dapat tercapai dengan baik apabila sumber daya manusia yang menjadi aspek

penting dalam organisasi disadari peranannya. Tenaga kerja yang merupakan unit

terkecil dari organisasi selalu menjadi analisis untuk mencapai efektivitas dan

efisiensi organisasi, dalam hal ini perusahaan. Organisasi atau manajemen selalu

mencari cara untuk dapat meningkatkan kualitas dari tenaga kerjanya sehingga

mereka dapat menjadi suatu sumber daya manusia yang berkualitas. Namun

tercapainya tujuan organisasi tidak berarti manusia sebagai sumber daya terus

menerus diberdayakan fungsinya. Mereka perlu dipandang keberadaannya sebagai

manusia yang memiliki karakter dan kepribadian sehingga eksistensi mereka

dimata lingkungan maupun organisasi tetap diakui.

       Setiap tenaga kerja seringkali menemui kesulitan dalam melaksanakan

pekerjaannya. Mereka kadang menemui permasalahan baik yang sifatnya

perseorangan maupun dalam kelompoknya. Hal ini dapat mempengaruhi

pelaksanaan dari tugas seluruh kelompok. Fungsi kelompok ini adalah untuk

membantu memecahkan masalah yang dialami oleh anggotanya melalui suatu

pengumpulan data yang diperlukan atau memberikan alternatif penyelesaian. Dan

untuk masalah yang dihadapi kelompok, para anggota kelompok dapat saling
                                                                               3




mengisi dalam usaha dan sumbangannya untuk memecahkan masalah

kelompoknya.

         Pemecahan     masalah   dalam    suatu   kelompok   memiliki   beberapa

keuntungan. Seperti yang dikemukakan oleh Maier (dalam Schlesinger et al.,

1983:102) salah satu keuntungan dari pemecahan masalah oleh kelompok antara

lain akan meningkatkan pemahaman dan komitmen. Ketika orang-orang dalam

kelompok dilibatkan dalam proses pembuatan keputusan, mereka akan memahami

inti permasalahan, dan jika tidak setuju dengan keputusan yang dibuat, mereka

akan menerima keputusan tersebut asalkan diberi kesempatan untuk bisa

mengekspresikan ketidaksetujuannya selama proses pembuatan keputusan

tersebut. Dalam proses pembuatan keputusan ini terdapat partisipasi dari anggota-

anggota kelompok. Mereka dilibatkan secara aktif dalam proses pembuatan

keputusan, sehingga apabila mereka tidak setuju terhadap keputusan yang dibuat,

mereka dapat menerima keputusan tadi dengan alasan-alasan tertentu.

         Keterlibatan anggota kelompok dalam pembuatan keputusan merupakan

faktor    penting    untuk   mencapai    kesepakatan   dan   keberhasilan   dalam

pengimplementasian keputusan tersebut. Tanpa adanya keterlibatan anggota,

mereka yang tidak terlibat umumnya tidak mau berpartisipasi secara aktif dalam

implementasi keputusan tersebut. Dan sebaliknya dengan adanya keterlibatan

anggota dalam putusan kelompok, mereka akan turut berpartisipasi aktif dalam

implementasi keputusan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Pelibatan karyawan merupakan suatu proses partisipatif yang menggunakan

kapasitas keseluruhan dari karyawan, dan dirancang untuk mendorong
                                                                             4




ditingkatkannya   komitmen organisasi. Pelibatan karyawan merupakan suatu

tindakan partisipasi dari karyawan untuk mengoptimalkan segala kemampuan

yang ia miliki demi tercapainya tujuan organisasi sehingga komitmen terhadap

organisasi dapat ditingkatkan. (Robbins, 1996:3)

       Pelibatan karyawan merupakan suatu proses untuk mengikutsertakan para

karyawan pada semua level organisasi dalam pembuatan keputusan dan

pemecahan masalah. Orang yang paling dekat dengan masalah yang terjadi adalah

orang yang tepat dan terbaik untuk membuat keputusan. Selain itu keputusan akan

menjadi lebih baik dengan adanya masukan dari setiap pihak yang dipengaruhi

oleh keputusan tersebut. Pelibatan tanpa adanya partisipasi karyawan adalah hal

yang sia-sia. Partisipasi ini dapat diartikan sebagai pelibatan karyawan yang

benar-benar berarti (signifikan). Dengan demikian pemberdayaan tidak sekedar

hanya memberi masukan, tetapi juga memperhatikan, mempertimbangkan dan

menindaklanjuti masukan tersebut apakah akan diterima atau tidak. (Tjiptono &

Anastasia, 1995:128)

       Seperti yang dikutip dari majalah SWA (2000:28) adanya komitmen

terhadap organisasi dapat ditunjukkan oleh adanya kedekatan karyawan terhadap

organisasi dan adanya keinginan untuk tetap tinggal didalamnya serta berusaha

untuk mencurahkan perhatian, pikiran dan dedikasinya bagi perusahaan. Hal ini

berarti seorang karyawan yang memiliki tingkat komitmen organisasi yang tinggi

tidak hanya sekedar bergabung dengan perusahaan secara fisik atau hanya

mengerjakan sesuatu yang menjadi tugasnya, melainkan melakukan pekerjaan

diluar tugasnya. Adanya partisipasi karyawan dalam perusahaan terutama dalam
                                                                                  5




pembuatan keputusan kelompoknya akan menimbulkan rasa ikut memiliki

terhadap perusahaan, sehingga komitmen mereka terhadap kelompoknya akan

semakin tinggi dan hal ini otomatis akan membawa sikap positif terhadap

perusahaan.

          Greenberg & Baron (1997:174) juga menambahkan bahwa komitmen

organisasi merupakan tingkat dimana individu mengidentifikasi dan terlibat dalam

organisasinya yang ditunjukkan oleh karyawan dengan sikapnya terhadap

organisasi dan keinginan untuk tidak meninggalkan organisasi tersebut. Jadi

komitmen mengandung arti suatu perasaan positif dan menerima dengan senang

hati atas performa yang diinginkan. Perasaan ini datang dari dalam diri individu

(internal) sehingga semakin positif perasaannya terhadap organisasi maka akan

semakin tinggi tingkat komitmennya terhadap organisasi. Organisasi disini bisa

diartikan kelompok atau divisi tempat kerjanya, bila dilihat dalam ruang lingkup

yang lebih kecil, dan organisasi dalam arti perusahaan bila dilihat dari ruang

lingkupnya yang lebih besar.

          Steer (1985:136-137) memberikan definisi tentang komitmen sebagai

suatu peristiwa dimana individu sangat tertarik pada tujuan, nilai-nilai dan sasaran

organisasi. Jadi komitmen lebih dari hanya sekedar keanggotaan karena meliputi

sikap kesetiaan pada organisasi dan kesediaan untuk berusaha dengan segenap

kemampuannya bagi kepentingan organisasi demi memperlancar pencapaian

tujuan.

          Poter & Smith (1987:123) juga memberikan definisi yang serupa, dimana

komitmen menyangkut suatu hubungan yang aktif antara karyawan dengan
                                                                                6




atasannya dimana karyawan mempunyai keinginan untuk memberikan sesuatu

dari dirinya sebagai sumbangan untuk merealisasikan tujuan organisasi. Dengan

kata lain bahwa ada tidaknya komitmen dalam organisasi tentu saja akan

ditentukan oleh individu-individu yang ada di dalam organisasi tersebut. Individu

merupakan fokus utama dalam pembahasan tentang komitmen, untuk itu

organisasi harus memperhatikan dan memahami persoalan mengapa seorang

individu ikut dalam organisasi dan apa yang mendorongnya untuk tetap

bergabung dalam organisasi tersebut.

        Komitmen organisasi seperti yang dijelaskan oleh Schultz & Schultz

(1990:290) dipengaruhi oleh faktor personal dan organisasi. Faktor personal

misalnya usia, jenis kelamin, ras, dan nilai. Sedangkan faktor organisasi meliputi

type dan level pekerjaan, otonomi, kesempatan mempergunakan keahlian, job

enrichment. Selain itu komitmen pada organisasi juga dipengaruhi oleh persepsi

bagaimana perlakuan organisasi pada mereka.

        Dalam situasi kerja, sikap merupakan sumber adanya perbedaan performa

kerja karyawan, yang meliputi kualitas dan kuantitas hasil kerja, kehadiran, turn

over, dan lain sebagainya. Karyawan yang memiliki sikap positif terhadap

pekerjaannya akan memiliki performa kerja yang tinggi sedangkan karyawan

dengan sikap kerja negatif memiliki performa kerja yang rendah.

        Konsekwensi sikap dan tingkah laku karyawan berkat komitmen pada

organisasi dapat memberikan sedikitnya empat hasil yang bertalian dengan

efektifitas organisasi, antara lain :
                                                                                7




1. Para karyawan yang benar-benar menunjukkan komitmen terhadap tujuan dan

     nilai-nilai organisasi mempunyai kemungkinan jauh lebih besar untuk

     menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dalam kegiatan organisasi.

2. Para karyawan yang menunjukkan komitmen tinggi memiliki keinginan yang

     lebih kuat untuk tetap bekerja pada majikannya yang sekarang agar dapat terus

     memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan yang mereka yakini.

3. Besar kemungkinan ada beberapa individu yang kuat akan sepenuhnya

     melibatkan diri pada pekerjaannya sebagai mekanisme kunci dan saluran

     individu untuk memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan organisasi.

     Akhirnya sesuai dengan definisi komitmen itu sendiri dapat diperkirakan

     bahwa karyawan dengan komitmen yang tinggi mengerahkan cukup banyak

     usaha demi kepentingan organisasi. (Steer, 1985:145-146)

        Dengan adanya partisipasi karyawan terutama dalam proses pengambilan

keputusan kelompoknya, mereka akan merasa dihargai., sehingga muncul

perasaan positif baik pada kelompok maupun pada perusahaannya, dan ini berarti

akan muncul sikap positif terhadap perusahaannya dan meningkatnya komitmen

mereka baik terhadap kelompok maupun perusahaannya.



B.      Identifikasi Masalah

        Keterlibatan aktif dari karyawan dalam perusahaan merupakan faktor

penting dalam implementasi hasil keputusan. Tanpa adanya masukan dari

bawahan, pemimpin pun akan kesulitan untuk mendapatkan informasi yang akurat

mengenai masalah yang terjadi dalam divisinya, untuk itu diperlukan partisipasi
                                                                             8




aktif dari karyawan untuk dapat mengumpulkan informasi sebanyak mungkin

demi tercapainya keputusan yang tepat untuk diterapkan pada masalah tersebut.

Keterlibatan karyawan dalam proses pembuatan keputusan kelompok ini bukan

berarti mereka hanya membantu mencarikan informasi sebanyak-banyaknya, tapi

perlu juga disertai dengan adanya partisipasi aktif untuk implementasi terhadap

hasil keputusan.

         Partisipasi karyawan dalam proses pengambilan keputusan kelompok,

dapat mempengaruhi pandangan mereka terhadap kelompoknya. Partisipasi

mereka dalam proses pengambilan keputusan, akan memberikan suatu sikap

positif terhadap kelompoknya. Kelompok ini dapat dianggap sebagai kelompok

kerja atau divisi-divisi dalam lingkungan pekerjaan mereka. Sikap positif yang

tinggi    terhadap   kelompoknya   akan   meningkatkan    komitmen    terhadap

kelompoknya, dan sebaliknya munculnya sikap negatif mereka terhadap

kelompoknya akan membuat rendahnya komitmen terhadap kelompok yang

dimasukinya.

         Penelitian ini ingin mengungkap lebih jauh pengaruh dari tingkat

partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan kelompok terhadap tingkat

komitmen karyawan pada kelompok atau divisi kerja mereka.



C.       Pembatasan Masalah

         Untuk menghindari terjadinya penyimpangan dari masalah penelitian,

maka peneliti memberikan suatu batasan terhadap variabel-variabel yang akan

diteliti, yaitu :
                                                                              9




     1. Variabel tingkat partisipasi karyawan dalam proses pengambilan

        keputusan kelompok dapat diartikan sebagai seringnya karyawan

        diikutsertakan dalam setiap proses kegiatan, terutama dalam kegiatan

        manajerial yang dapat mempengaruhi semua orang dalam kelompok,

        seperti dalam proses perencanaan dan proses pembuatan keputusan,

        dimana hal tersebut juga disertai adanya implementasi terhadap hasil

        keputusan.

     2. Variabel tingkat komitmen kelompok atau organisasi suatu perasaan

        positif yang ada dalam diri individu atas keterlibatannya dalam kelompok

        atau organisasi, dimana individu berusaha untuk mengidentifikasikan

        dirinya pada iklim kelompok atau organisasi sehingga muncul keinginan

        untuk tidak akan meninggalkan kelompok atau organisasi.



D.      Perumusan Masalah

        Dari pembahasan yang telah diuraikan di atas maka permasalahan yang

akan dibahas dalam penelitian ini adalah :

     “Apakah partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan kelompok

     berpengaruh terhadap komitmen kelompok dalam organisasi.”



E.      Maksud dan Tujuan Penelitian

        Penelitian ini dibuat dengan maksud untuk memenuhi salah satu syarat

mencapai gelar sarjana fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya dan

mengetahui serta meneliti secara metodologis dan empiris mengenai pengaruh
                                                                                 10




keterlibatan karyawan dalam proses pembuatan keputusan kelompok terhadap

komitmen kelompok atau organisasi.

       Tujuan penelitian ini untuk melatih kemampuan berpikir secara logis

dalam melakukan analisa serta mengintegrasikan teori-teori yang telah diperoleh

selama peneliti belajar di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya.



F.     Manfaat Penelitian

F.1    Manfaat Teoritis

       Yaitu dapat mengetahui lebih dalam dan memberikan sumbangan ilmiah

terutama dalam kehidupan organisasi, terutama organisasi industri sehingga dapat

dijadikan sumber informasi baik bagi karyawan maupun manajemen dalam

menjalankan manajemen. Serta dapat menjadi sumber informasi bagi penelitian

berikutnya.

F.2    Manfaat Praktis

       Yaitu mengetahui seberapa besar sumbangan dari partisipasi karyawan

dalam pengambilan keputusan dapat mempengaruhi komitmen mereka terhadap

kelompok atau organisasi.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:50
posted:3/21/2011
language:Indonesian
pages:10