BAB I

Shared by: dollybarbara
Categories
Tags
-
Stats
views:
245
posted:
3/21/2011
language:
Indonesian
pages:
13
Document Sample
scope of work template
							                                           BAB I

                                   PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG MASALAH

             Perkawinan adalah kehendak setiap manusia yang merupakan sunnah

    rasul yang dianjurkan bagi seseorang yang istito’ah baik dahir maupun batinnya,

    ikatan ini begitu mulia sehingga didalam al-Qur’an disebut sebagai mi>s|a>qon

    gali>z{an. Perkawinan mi>s|a>qon menurut hukum Islam adalah pernikahan,

    yaitu akad yang sangat kuat atau gali>z{an untuk mentaati perintah Allah dan

    melaksanakannya merupakan ibadah, perkawinan bertujuan untuk mewujudkan

    kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.1 Ikatan ini bisa

    juga disamakan dengan akad jual beli suatu barang, dimana dalam suatu akad

    jual beli sebagaimana lazimnya membutuhkan beberapa rukun dan syarat.

    Pertama, adanya pembeli yang diibaratkan sebagai calon suami, yang kedua,

    adanya barang yang dijual diibaratkan calon isteri, ketiga, adanya penjual yang

    diibaratkan sebagai wali (orang yang mempunyai kekuasaan atas barang yang

    akan dijualnya), keempat, adanya dua orang saksi, yang berfungsi untuk

    menyaksikan akad tersebut jikalau terjadi kekeliruan ucapan atau barang yang

    dibeli tidak sesuai dengan aslinya (pada waktu transaksi) atau adanya cacat yang

    menimpa pada barang yang akan dijual, maka saksi wajib mengingatkannya, dan

      1
          Undang-Undang Perkawinan di Indonesia tentang, “Dasar-dasar Perkawinan”, Bab II pasal
2, 3, hal. 180.


                                              1
                                                                                           2



    akad boleh digagalkan, karena terdapat unsur penipuan, begitu juga akad jual beli

    membutuhkan klarifikasi dari penjual bahwa barang tersebut telah dijual, dan

    membutuhkan klarifikasi dari pihak pembeli bahwa barang tersebut telah di beli

    dengan harga yang telah disepakati atas dasar saling ridlo tidak ada perasaan

    terpaksa. Pernyataan ini adalah termasuk rukun perkawinan yang kelima disebut

    sighat (I>ja>b dan Qabu>l).2

            Dalam menjalin sebuah ikatan pernikahan memerlukan legalitas (catatan

    resmi) yang berfungsi sebagai penguat ikatan, oleh karena kita berada dibawah

    pemerintahan yang berdasarkan hukum, maka dengan menggunakan dasar kaidah

    fiqhiyah “al-Mas{lah{ah al-Mursalah” dengan sengaja pemerintah membuatkan

    catatan sebagai alat bukti resmi yang tertulis pada instansi yang berwenang

    mengurusi masalah ini, yaitu Kantor Departemen Agama yang dipimpin oleh

    Menteri Agama Republik Indonesia dan berada dibawah naungan pemerintah

    Negara Indonesia. Alat bukti resmi itu disebut sebagai akta nikah yang

    didokumentasikan pada kantor Urusan Agama Kecamatan dan disimpan di

    Pengadilan Agama yang telah diregistrasi sesuai dengan nomor registrasi Kantor

    Departemen Agama Kabupaten/Kota yang mewilayahinya. Setelah ditetapkannya

    Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Pelaksanaan Undang-Undang

    nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang menjelaskan bahwa: Perkawinan

    adalah sah apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat


      2
         Undang-Undang Perkawinan di Indonesia tentang, “Rukun dan Syarat Perkawinan”, Bab IV
pasal 14, hal. 183.
                                                                                           3



    (1) Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, dan disebutkan

    dalam pasal 5 ayat (1) Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat

    Islam setiap perkawinan harus dicatat.3 Bagi masyarakat muslim dicatat oleh

    Pegawai Pencatat Nikah di Kantor Urusan Agama kecamatan, sedangkan bagi

    masyarakat non muslim atau perkawinan silang antara masyarakat muslim

    dengan non muslim dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah di Kantor Catatan Sipil.

    Akta perkawinan dibuat rangkap 2 (dua), helai pertama disimpan oleh Pegawai

    Pencatat, helai kedua disimpan pada Panitera Pengadilan dalam wilayah Kantor

    Pencatatan Perkawinan itu berada. Kepada Suami Isteri masing-masing diberikan

    kutipan akta perkawinan.4 Kutipan akta nikah tersebut dicetak dalam dua warna,

    yang berwarna cokelat untuk suami dan warna hijau untuk isteri.

            Problematika proses nikah bawah tangan di Kecamatan Ploso Kabupaten

    Jombang studi kasus tentang kutipan akta nikah palsu bukanlah persoalan yang

    baru terjadi, tapi memang sejak dahulu sudah terjadi dan tidak tabu lagi apabila

    dibahas, tetapi akhir-akhir ini marak terjadi kasus pemalsuan kutipan nikah

    ditengah-tengah masyarakat, yaitu di Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang,

    yang menjadi korbannya adalah Kantor Urusan Agama Kecamatan Ploso

    Kabupaten Jombang dan Kantor Departemen Agama Kabupaten Jombang,

    karena ini merupakan tugas mereka baik buruknya mereka yang menjadi sasaran

      3
         Undang-Undang Perkawinan di Indonesia tentang, “Rukun dan Syarat Perkawinan”, Bab IV
pasal 14, hal. 183.
       4
         Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-
Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dicetak dalam Undang-Undang Perkawinan di
Indonesia tentang “Akta Perkawinan” Bab IV pasal 13, hal. 46
                                                                                        4



    utama. Perbuatan ini dilakukan oleh salah satu oknum yang tidak bertanggung

    jawab, perbuatan ini melanggar hukum, karena yang berhak memeriksa,

    mengawasi dan mencatat kutipan akta nikah adalah Pegawai Pencatat Nikah di

    Kantor Urusan Agama Kecamatan yang telah diberikan mandat oleh Departemen

    Agama Kabupaten/Kota untuk melaksanakan tugas tersebut. Pencatatan akta

    nikah dan kutipan akta nikah merupakan realisasi dari pelaksanan Undang-

    Undang perkawinan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Negara Indonesia.

    Yaitu Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 yaitu tentang dasar dasar

    perkawinan Bab II pasal 5 ayat (2) yang berbunyi: Perkawinan tersebut pada ayat

    (1) dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah (Penghulu) sebagaimana yang diatur

    dalam Undang-undang No. 22 tahun 1946 jo Undang-Undang No. 32 1954. Dan

    didalam pasal 6 ayat (1) dijelaskan: Untuk memenuhi ketentuan dalam pasal 5,

    setiap perkawinan harus dilangsungkan dihadapan dan dibawah pengawasan

    Pegawai Pencatat Nikah. Ayat (2) Perkawinan yang dilakukan diluar pengawasan

    Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. 5 Kasus pemalsuan

    kutipan akta nikah selama ini berjalan dengan begitu mulus tanpa adanya

    hambatan, teguran, tindakan baik dari pihak keamanan aparat negara maupun

    instansi yang berwenang.




      5
         Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia No. 154 Tahun 1991 tentang pelaksanaan
Intruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991 Menteri Agama
Indonesia. Dicetak dalam Undang-Undang Perkawinan di Indonesia tentang, “Dasar-dasar
Perkawinan” Bab II pasal 5 ayat (2), dan pasal 6 ayat (1) dan (2), hal. 180-181.
                                                                                5



          Problematika proses nikah bawah tangan di Kecamatan Ploso Kabupaten

  Jombang studi kasus tentang kutipan akta nikah palsu sampai saat ini belum

  teridentifikasi dengan jelas apa latar belakang mereka melakukan perbuatan ini,

  apa faktor penyebab terjadinya pemalsuan kutipan akta nikah, siapakah oknum

  dibalik ini, apakah ada oknum dari dalam ataukah ada orang yang dengan sengaja

  ingin merusak citra Kantor Urusan Agama Kecamatan Ploso Kabupaten

  Jombang, atau kutipan akta nikah mudah sekali ditiru, dari segi kertas, stempel,

  cover, penempatan foto ataupun segelnya, sehingga oknum pemalsu kutipan akta

  nikah dengan mudah dapat melakukan praktek pemalsuan.

          Untuk itulah penelitian ini akan mencoba menelaah dengan cermat dan

  teliti tentang Problematika proses nikah bawah tangan di Kecamatan Ploso

  Kabupaten Jombang studi kasus tentang kutipan akta nikah palsu disertai dengan

  beberapa faktor penyebab terjadinya kutipan akta nikah palsu, bagaimana proses

  mendapatkan kutipan akta nikah palsu. Tentunya dengan penelitian ini akan

  berusaha menelaahnya dengan holistik jauh dari parsialitas, namun demikian

  karena keterbatasan peneliti dimungkinkan akan masih banyak kurangan yang

  bersifat artifisial.




B. RUMUSAN MASALAH

          Karena luasnya pembahasan yang berkaitan tentang problematika proses

  nikah bawah tangan di Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang studi kasus
                                                                              6



  tentang kutipan akta nikah palsu, maka perlu adanya pembatasan terhadap

  pokok-pokok masalah yang lebih sistematis. Pokok-pokok masalah tersebut

  dapat dirumuskan berupa pertanyaan sebagai berikut:

  a. Apa faktor penyebab terjadinya kutipan akta nikah palsu?

  b. Bagaimanakah proses mendapatkan kutipan akta nikah palsu?


C. KAJIAN PUSTAKA

           Prinsip dasar pencatatan nikah yang sah menurut hukum adalah dicatat

  oleh Pegawai Pencatat Nikah/Penghulu di Kantor Urusan Agama Kecamatan

  setempat, sesuai dengan porosedur yang telah ditetapkan oleh Departemen

  Agama Republik Indonesia, yakni melalui pemberitahuan kehendak nikah.

  Pemeriksaan keehendak nikah, penolakan kehendak nikah, pengumuman

  kehendak nikah, pencegahan pernikahan dan pencatatan kehendak nikah.

           Kantor Urusan Agama Kecamatan adalah instansi yang berada dibawah

  naungan Departemen Agama Republik Indonesia yang dipimpin oleh Menteri

  agama yang mendapat mandat untuk menangani bidang pencatatan nikah bagi

  masyarakat muslim, yang ditempatkan pada setiap Kecamatan semua

  Kabupaten/Kota yang ada disetiap Propinsi Negara Republik Indonesia, instansi

  tersebut menangani bidangnya sesuai dengan Keputusan Menteri Agama

  Republik Indonesia Nomor: 477 tahun 2004 tentang pencatatan nikah, Surat

  Edaran      Dirjen    BIMAS       Islam    dan     Urusan     Haji   Nomor:

  Dt.1.1/1/Pw.01/1003/2003 tentang Pencatatan Nikah, Keputusan Menteri Agama
                                                                                            7



  Republik Indonesia Nomor: 298 tahun 2003 tentang Pencatatan Nikah, Peraturan

  Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 1 tahun 2005 tentang Pedoman

  Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja di

  Lingkungan Departemen Agama, Keputusan Menteri Agama Republik

  Indonesia Nomor: 31 tahun 2003 tentang Pengelolaan Biaya Pencatatan Nikah

  dan Rujuk, Instruksi Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 2 tahun 2004

  tentang Peningkatan Pelayanan Pernikahan Pada Kantor Urusan Agama

  Kecamatan.6

            Adapun      dalam    pembahasan      secara   detail   skripsi   ini     tentang:

  ”Problematika proses nikah bawah tangan di Kecamatan Ploso Kabupaten

  Jombang" studi kasus tentang kutipan akta nikah palsu, dalam hal ini penulis

  memfokuskan penelitian pada:

  1. Apa faktor penyebab terjadinya kutipan akta nikah palsu?

  2. Bagaimanakah proses mendapatkan kutipan akta nikah palsu?

            Dari kajian-kajian sebelumnya belum ada yang membahas tentang

  Problematika nikah bawah tangan di Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang studi

  kasus tentang kutipan akta nikah palsu. Oleh karena itu penulis tertarik untuk

  mengkaji masalah ini secara detail.


D. TUJUAN PENELITIAN




    6
        Kantor Departemen Agama Kota Surabaya Seksi Urusan Agama Islam Tahun 2005.
                                                                                8



         Sejalan dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, maka tujuan penulisan

  adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kutipan akta nikah palsu.

  2. Untuk mengetahui proses mendapatkan kutipan akta nikah palsu dan

    bagaimana cara mencegah atau mengatasi masalah tersebut.


E. KEGUNAAN PENELITIAN

         Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sekurang-kurangnya untuk:

  a. Memperkaya ilmu pengetahuan mengenai hukum dan realisasinya dikalangan

    masyarakat, khususnya yang menyangkut tentang pencatatan kutipan akta

    nikah dan kaitannya dengan perkawinan.

  b. Sebagai sumbangan informasi yang bernilai ilmiah yang diharapkan dapat

    memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya umat Islam di Kecamatan

    Ploso Kabupaten Jombang tentang pentingnya pencatatan nikah.

  c. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Kecamatan Ploso Kabupaten

    Jombang, tentang betapa pentingnya pemberlakuan hukum tentang pencatatan

    nikah serta kemaslahatannya.

  d. Sebagai saran dan kritik membangun kepada Instansi Kantor Urusan Agama

    Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang agar dapat memberikan solusi terbaik

    dan menyelesaikan problematika proses nikah bawah tangan di Kecamatan

    Ploso Kabupaten Jombang.
                                                                                        9



    e. Sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar strata satu{ (S1)} dalam

          bidang Hukum Islam ilmu Syari'ah.


F. DEFINISI OPERASIONAL

              Untuk memperjelas kemana arah pembahasan masalah yang diangkat,

    maka perlu penliti memberikan definisi dari judul tersebut, yakni dengan

    menguraikannya sebagai berikut:

              Problematika berasal dari kata problem “masalah, persoalan”, sedangkan

    problematika dapat diartikan “hal yang belum dapat dipecahkan, yang

    menimbulkan masalah, permasalahan” .7

              Proses   berarti   suatu   tahapan   dalam   menjalani   kegiatan    untuk

    menyelesaikan suatu hal.

              Nikah bawah tangan yaitu, proses nikah yang tidak memenuhi prosedur

    nikah yang telah ditetapkan Departemen Agama Kabupaten/Kota dan tidak

    tercatat di Kantor Urusan Agama Kecamatan.

              Di Kecamatan Ploso ialah “Suatu wilayah yang berada diwilayah

    kekuasaan Lembaga pemerintah yang berada dibawah naungan Pemerintah

    Daerah Tingkat II Kabupaten Jombang yang di pimpin oleh Camat”.8


G. METODE PENELITIAN



      7
         Trisno Yuwono-Pius Abdulloh, “Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Praktis”,   Penerbit
Arkola Surabaya Tahun,1994, hal. 336.
       8
         Ibid, hal. 116.
                                                                           10



         Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian dimuka yang

bersifat lebih memburu pada suatu kebenaran dan kesadaran masyarakat tentang

betapa pentingnya pemberlakuan hukum, maka pendekatan yang relevan

digunakan dalam penelitian ini adalah qualitative research, yakni suatu proses

interpretative understanding dimana memahaminya sangat diperlukan proses

penghayatan (verstehen).

1.   Data yang dapat dihimpun

     Berdasarkan rumusan masalah seperti yang dikemukakan diatas, maka data

     yang dapat dihimpun adalah meliputi:

     a. Data tentang pencatatan nikah, talak dan rujuk di Kantor Urusan Agama

       Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang.

     b. Kutipan akta nikah palsu yang telah diamankan oleh Pegawai Kantor

       Urusan Agama Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang.

     c. Faktor penyebab terjadinya kutipan akta nikah palsu.

     d. Proses mendapatkan kutipan akta nikah palsu.



2.   Sumber Data

       Penelitian ini adalah penelitian lapangan, maka data diperoleh dari

     sumber-sumber sebagaimana berikut:

     a. Pegawai Kantor Urusan Agama Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang.

     b. Pelaku pencatat kutipan akta nikah palsu.

     c. Pemohon kutipan akta nikah palsu.
                                                                             11



     d. Dokumenter, Yaitu data yang berkenaan dan relevan dengan penelitian

       ini.

     e. Buku-buku (Literatur) yang mendukung pembahasan penelitian.

3.   Teknik Pengumpulan Data

     Teknik Pengumpulan Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

     a. Observasi, yaitu melihat atau mengamati secara langsung tentang proses

       transaksi mendapatkan kutipan akta nikah palsu.

     b. Wawancara, yaitu dengan cara bertanya kepada Pegawai Kantor Urusan

       Agama Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang, oknum pencatat/pembuat

       kutipan akta nikah palsu, pemohon kutipan akta nikah palsu.

     c. Dokumenter, yaitu dengan cara mengambil data dari Kantor Urusan

       Agama Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang.

     d. Kajian literatur, yaitu dengan cara menelusuri atau merecover buku-buku

       dan tulisan yang dapat mendukung pembahasan penelitian.



4.   Teknik Analisa Data

              Data yang diperoleh akan di analisa secara kualitatif, yaitu suatu

     prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif dari pengamatan atau

     sumber-sumber tertulis. Adapun metode analisa data yang digunakan dalam

     penelitian ini adalah deskriptif analisis yaitu metode yang diawali dengan

     menjelaskan atau menggambarkan data hasil penelitian, yaitu data tentang

     Problematika proses nikah bawah tangan di Kecamatan Ploso Kabupaten
                                                                                 12



      Jombang studi kasus tentang kutipan akta nikah palsu, dilihat dari segi faktor

      penyebab    terjadinya   kutipan akta nikah       palsu, bagaimana proses

      mendapatkan kutipan akta nikah palsu, selanjutnya data tersebut akan

      dianalisa dari segi relevansinya, dilihat dari segi keabsahan hukum tentang

      pencatatan nikah secara prosedural.


H. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

          Agar skripsi ini menjadi satu kesatuan yang kronologis dan sistematis,

  maka pembahasan ini penulis susun sebagai berikut :

  BAB I     : Merupakan pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah,

              rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan

              penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan sitematika

              pembahasan.

  BAB II : Pada bab ini memuat tentang akta nikah dan kutipan akta nikah

              meliputi: pengertian, isi akta nikah, spesifikasi buku nikah, dasar

              pencatatan nikah, dilanjutkan dengan tata cara perkawinan, melalui

              proses administrasi meliputi: pemberitahuan kehendak nikah,

              pemeriksaan kehendak nikah, pengumuman kehendak nikah dan

              pencatatan kehendak nikah, dilanjutkan dengan tugas Kepala Kantor

              Urusan Agama kecamatan, Penghulu, Pembantu Penghulu.

  BAB III : Pada bab ini menjelaskan temuan studi dilapangan tentang kutipan

              akta nikah palsu dan problematikanya di dalamnya meliputi:
                                                                             13



           gambaran umum, profil Kantor Urusan Agama meliputi: sejarah

           berdiri dan letak geografis, struktur kepegawaian, jumlah kepadatan

           dan pemeluk agama penduduk, data terjadinya nikah, talak dan

           rujuk, kemudian dilanjutkan prosedur pendaftaran nikah, tata cara

           upacara akad nikah, pemalsuan kutipan akta nikah meliputi faktor

           penyebab terjadinya kutipan akta nikah palsu, proses mendapatkan

           kutipan akta nikah palsu.

BAB IV : Pada bab ini berisikan analisis terhadap temuan studi penelitian yang

           meliputi; faktor penyebab terjadinya kutipan akta nikah palsu, proses

           mendapatkan kutipan akta nikah palsu, tinjauan hukum Islam

           terhadap pemalsuan kutipan akta nikah, implikasi adanya kutipan

           akta nikah palsu.

BAB V : Memuat penutup yang berisikan kesimpulan dari hasil penelitian dan

           juga saran yang diberikan sesuai dengan masalah yang ada.

						
Other docs by dollybarbara
WISATA BAHARI LAMONGAN
Views: 140  |  Downloads: 0
Jumlah Toko di RI Terbesar Kedua Dunia
Views: 16  |  Downloads: 0
YOU N ME
Views: 19  |  Downloads: 0
BAB II
Views: 215  |  Downloads: 1
Misi Terselubung Agresi Militer Barat ke Libya
Views: 54  |  Downloads: 1
BAB IV
Views: 208  |  Downloads: 1
MATRIK PENELITIAN
Views: 978  |  Downloads: 3
skripsi bab III
Views: 294  |  Downloads: 0
CONTOH SURAT LAMARAN
Views: 280  |  Downloads: 5
BAB V BAB V SIMPULAN
Views: 186  |  Downloads: 0