proposal tesis - DOC

Document Sample
proposal tesis - DOC Powered By Docstoc
					                                   PROPOSAL TESIS
    Pengambil Alihan Tanah Waqaf Dalam Perspektif Hukum Islam

    (Studi Kasus Pengambil Alihan Tanah Waqaf Madrasah Islamiyah Oleh Ahli
     Waris Waqif di Dusun Bendet Desa Bendet Kecamatan Diwek Kabupaten
                                           Jombang)
    A. Latar Belakang
                 Waqaf1 sebagaimana dalam al-Qur‟an merupakan perbuatan yang baik
        lagi terpuji yang bertujuan untuk kepentingan sosial. karena dilakukan demi
        kemaslahatan masyarakat.
                 Sebagaimana firman Allah SWT., dalam surat al-Hajj ayat 77 :




        “……………… Perbuatlah oleh kamu kebaikan semoga kamu mendapat
        kemenangan.”2


        “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari
        hasil usahamu yang baik-baik.”3 (QS. [2] al-Baqarah : 267)


        “Dan tolong menolonglah kamu dalam dalam (mengerjakan) kebajikan dan
        ketaqwaan.”4 (QS. [5] al-Maidah : 2).




1
  Wakaf dari segi bahasa : menahan, dari segi syara‟: menahan harta yang dimungkinkan untuk
diambil manfaatnya dengan disertai kekekalan benda dengan cara memutus pentasharrufan dzat benda
dengan cara yang mubah. Lihat : Abi Yahya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab, (Surabaya : al-
Hidayah, tth), h. 256. wakaf menurut bahasa, “menahan” dan “mencegah”, menurut istilah adalah
menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tanpa musnah seketika dan untuk penggunaan yang
mubah (tidak dilarang oleh syara‟) serta dimaksudkan untuk mendapatkan keridlaan dari Allah Swt.
Lihat : Faishal Haq, Hukum Wakaf dan Perwakafan di Indonesia, (Pasuruan Jatim: PT. Garoeda
Buana Indah, 1993), h. 1, wakaf secara harfiah juga bisa diartikan “menahan”, “mengekang”, atau
“menghentikan”. Sedangkan menurut istilah, waqaf berarti “menghentikan perpindahan atas hak milik
atas harta yang bermanfaat dan tahan lama dengan cara menyerahkannya kepada pengelola, baik
perseorangan, keluarga, maupun lembaga, untuk digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah
SWT.” Lihat : Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2005), h. 238. Banyak sekali
yang memberikan definisi wakaf secara syara‟, menurut Abu Hanifah “menahan benda atas hukum
pemililkan waqif, dan mensedekahkan manfaatnya menurut jalan yang baik”. Menurut Jumhur
„Ulama‟, madzhab Syafi‟iyah dan Hanabilah “menahan harta yang dimungkinkan untuk diambil
manfaatnya disertai kekalnya benda yang diwakafkan dengan cara, memutus pentasharrufan dalam
benda yang diwakafkan dari waqif maupun orang lain”. Menurut madzhab Malikiyah “menjadikan
orang yang memiliki manfaat menjadi benda yang dimiliki walaupun dapat dimiliki dengan upah”.
Lihat : wahbah az-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu,Juz 8, (ttp, tth), h. 153-155
2
  Al-Qur‟an, 22: 77.
3
  Departemen Agama RI, h. 67
4
  Departemen Agama RI, h. 156.
         “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna)5, sebelum
         kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cinta. Dan apa saja yang
         kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”6 (QS. [3] Ali
         Imran : 92).
         Pelaksanaan waqaf juga Di tegaskan dalam hadith Rasululllah SAW :




         “Sesungguhnya „Umar telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Umar
         bertanya kepada rasulullah SAW, apakah perintahmu kepadaku berhubungan
         dengan tanah yang saya dapat                ini? Jawab beliau : Jika engkau suka
         tahanlah tanah         itu dan engkau sedekahkan manfaatnya, maka dengan
         petunjuk beliau itu terus „Umar sedekahkan manfaatnya dengan perjanjian
         tidak akan dijual tanahnya tidak pula diberikan dan tidak pula dipusakakan”.
         (HR. Bukhari dan Muslim).7
                  Di tegaskan juga dalam hadith Rasulullah SAW;




         “Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi SAW telah berkata : apabila
         mati seseorang manusia, habislah amalnya (tidak bertambah lagi kebaikan
         amalnya itu) kecuali tiga perkara : 1. shadaqah jariyah, 2. mengembangkan
         ilmu pengetahuan (baik dengan jalan mengajar maupun dengan jalan karang
         mengarang dan sebagainya), 3. anak yang shaleh yang mendo‟a untuk ibu
         bapaknya”. Riwayat jama‟ah ahli hadith selain Bukhari dan Ibnu Majah.
                  Pada hadith di atas dapat difahami bahwa yang dimaksud shadaqah
         jariyah menurut ulama‟ diarahkan kepada makna waqaf.8 Waqaf dilakukan
         seseorang dengan beberapa persharatan, diantaranya adanya waqaf atas
         kehendak sendiri (waqif), ahlu tabarru‟ yakni boleh dilakukan oleh orang

5
  Kata al-Birro tersebut ditafsirkan sebagai al-jannah (surga). Lihat : Al-Hafidz „Imadu ad-Din Abi al-
Fida Isma‟il ibn Kathir al-Quraisy ad-Dimisyqi, Tafsir al-Qur‟an al-„Adzim, (Riyadl : Dar „Alim al-
Kutub, Jilid I, 1997), h. 467. al-birro juga ditafsirkan “tidak dikategorikan berbuat baik dan tidak akan
memperoleh kebaikan yang sempurna sehingga engkau nafkahnan dari apa yang engkau cintai dari
hartamu. Lihat : Abu Qasim Muhammad ibn Ahmad ibn Juzzi al-Kalbi, at-Tashil, (Beirut Libanon :
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth), 152.
6
  Departemen Agama RI, h. 91.
7
  H. Sulaiman Rasyid, Fikih Islam, (Jakarta: at-Tahiriyah, 1976), 324
8
  Abi Yahya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab, (Surabaya : al-Hidayah, tth), h. 256
        kafir, budak mub‟adh. Sedangkan syarat benda yang diwaqafkan sebagai
        berikut: berupa benda yang nyata yang dimiliki oleh waqif, dapat dipindah
        kepemilikan benda dan memberikan faedah, bermanfaat, mubah dan
        mempunyai tujuan.9
                 Waqaf merupakan suatu institusi keagamaan yang berfungsi untuk
        kepentingan ibadah dan sosial, karena ia muncul dari rasa iman yang mantab
        serta solidaritas sosial yang tinggi dari seseorang untuk masyarakat. Waqaf
        dalam ajaran Islam biasa dinyatakan sebagai ibadah shadaqah jariyah, yaitu
        sedekah yang pahalanya terus mengalir. Dalam fungsi sosial, waqaf
        merupakan aset yang sangat bernilai dalam pembangunan.
                 Pelaksanaan waqaf banyak dilakukan para sahabat sejak zaman Nabi
        sampai sekarang. Hal ini sesuai hadith Rasulullah SAW :




        “„Umar telah berkata kepada Nabi SAW : Sesungguhnya saya mempunyai
        sersatus saham di Khaibar, belum pernah saya mempuyai harta yang lebih
        saya kasihi daripada itu, sesungguhnya saya bermaksud menyedekahnya.
        Jawab Nabi SAW: “Engkau tahan asalnya dan engkau sedekahkan
        buahnya”. Riwayat Nasa‟i dan Ibnu Majah.


        Seratus saham kepunyaan „Umar yang dalam hadith “musya”, maka oleh
        karenanya. hadith ini menjadi dalil sahnya waqaf “musya”.10
                 Dari hadith tersebut, dapat difahami bahwa waqaf tidak sama dengan
        berderma (sedekah biasa) tetapi lebih besar pahala dan manfaatnya terhadap
        diri si waqif sendiri karena pahala waqaf itu terus menerus berjalan selama
        barang waqaf itu masih berguna. Begitu pula terhadap masyarakat dapat
        menjadi sarana untuk kemajuan kepentingan masyarakat.
                 Bila dilihat dari segi sasarannya, waqaf menurut Islam dibagi dua
        adakalanya, yaitu waqaf ahli11 dan waqaf khairi,12. Waqaf ahli di sini bisa
        ditujukan kepada anaknya, lalu kepada cucunya, waqaf seperti ini dihukumi
        sah dan yang berhak mengambil manfaatnya adalah mereka yang ditunjuk

9
  Abi Yahya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab, (Surabaya : al-Hidayah, tth), h. 256
10
   H. Sulaiman Rasyid, Fikih Islam, (Jakarta: at-Tahiriyah, 1976), 325
11
   Wakaf ahli, yaitu wakaf yang dirtujukan kepada orang-orang tertentu, seorang atu lebih, baik baik
keluarga si wakif atau bukan. Wakaf seperti ini juga disebut wakaf Dzurri. Lihat : Faishal Haq, h. 3
12
    Wakaf khairi, yaitu wakaf yang secara tegas untuk kepentingan agama (keagamaan) atau
keamasyarakatan. Seperti wakaf yang diserahkan untuk keperluan pembangunan masjid, sekolahan,
jembatan, rumah sakit, panti asuhan anak yatim dan lain sebagainya. Lihat : Faishal Haq, h. 6.
           dalam pernyataan waqaf. Dalam satu segi waqaf ahli/dzurri ini baik sekali,
           karena si waqif akan mendapatkan dua kebaikan, yaitu kebaikan dari amal
           ibadah waqaf-nya, juga kebaikan dari silaturrahim-nya. Akan tetapi
           sebaiknya dalam ikrar waqaf ahli/dzurri disebutkan bahwa waqaf ini untuk
           anak, cucu kemudian kepada fakir miskin, sehingga suatu ketika ahli kerabat
           tidak ada lagi (punah), maka waqaf itu bisa langsung diberikan kepada fakir
           miskin. Sedangkan waqaf khairi mengandung lebih banyak manfaatnya
           daripada waqaf ahli, karena tidak terbatas pada satu orang/kelompok tertentu
           saja, tapi manfaatnya untuk umum, dan inilah yang paling sesaui dengan per-
           waqaf-an.13
                    Bila kita lihat negeri-negeri Islam di zaman dahulu dengan adanya
           waqaf umat Islam perkembangan Islam sangat dinamis. Sebagaimana saran
           Rasulullah kepada Abu Talhah agar waqaf-nya diberikan kepada ahli kerabat,
           seperti hadith riwayat Muslim di bawah ini:


           “Di riwayatkan dari Ishaq bin Abdillah Abi Thalhah bahwa ia mendengar
           Anas bin Malik berkata: Abi Thalhah adalah sahabat Anshar yang paling
           banyak kebun kurmanya di Madinah. Harta yang paling ia cintai adalah
           Bairaha‟ yang tepat berhadapan dengan Masjid Nabi. Nabi pernah masuk ke
           kebun itu untuk minum air yang jernih di situ. Anas berkata: setelah turun
           ayat”


           Maka Abu Thalhah berdiri dan berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya
           Allah berfirman :
           Sedang harta yang sangat kami cintai adalah Bairaha‟ ia akan kami
           sedekahkan kepada Allah kami hanya mengharap kebaikan dan pahalanya
           akan kami simpan di sisi Allah. Oleh karena itu pergunakanlah pada tempat
           yang engkau inginkan. Nabi bersabda: bagus itu adalah harta yang beruntung/
           berguna. Aku mendengar apa yang engkau katakan. Menurut pendapat saya
           berikan saja harta itu kepada ahli kerabatmu. Abu Thalhah berkata : akan
           saya kerjakan wahai Rasulullah. Kemudian ia membagi-bagikannya kepada
           ahli kerabat dan anak pamannya.” (HR. Muslim).14
                    Pada sisi lain waqaf ahli ini sering menimbulkan masalah, karena
           dikhawatirkan ketika anak cucu yang ditunjuk sudah tidak ada lagi. Lalu

13
     Faishal Haq, h. 6-7
14
     Faishal Haq, h. 4-5
  kepada siapakah yang berhak mengambil manfaat benda/harta waqaf itu?
  Atau sebaliknya jika anak cucu waqif yang menjadi tujuan waqaf itu
  berkembang sedemikian rupa, sehingga menyulitkan bagaimana cara
  meratakan     pembagian   hasil   waqaf.   Sebagai   tawaran   solusi   untuk
  menanggulangi masalah seperti ini perlu diadakan peninjauan kembali yang
  hasilnya dipertimbangkan bahwa lebih baik lembaga waqaf ahli itu
  dihapuskan.
         Manfaat wakaf bersifat kekal sehingga dapat dirasakan oleh
  masyarakat dan si waqif selama beribu-ribu tahun. Kalau sekiranya kaum
  muslimin yang kaya sekarang sanggup me-waqaf-kan harta mereka seperti
  orang–orang Islam dahulu, berarti mereka telah membuka satu jalan untuk
  kemajuan pembangunan sekarang ini.
         Problem yang sering muncul adalah banyak yang tidak mengakui
  adanya ikrar waqaf, bahkan menarik kembali harta yang telah diwaqafkan.
  Untuk itu diperlukan perangkat yurudis yang mengatur agar problem
  perwaqafan tidak menjadi masalah besar yang berakibat “hilangnya“ harta
  waqaf atau problem sosial yang sangat mengganggu.
         Fenomena per-waqa-fan di Indonesia selama ini menuai banyak
  problem, sebagaimana yang terjadi di Dusun Bendet Desa Bulu Rejo
  Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang telah terjadi persoalan yang cukup
  rumit, bahkan sampai saat ini terjadi polemik pro dan kontra di kalangan
  masyarakat antara sah dan tidaknya status tanah tersebut sebagai hak milik
  ahli waris waqif ataukah milik Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah. Sampai
  sekarang-pun polemik tersebut masih menjadi beban moral dan beban sosial
  bagi umat Islam di Dusun Bendet Desa Bendet Kecamatan Diwek Kabupaten
  Jombang. Dan menjadi pekerjaan rumah bagi hukum per-waqaf-an untuk
  memberikan solusi hukum yang tegas dan proporsional tanpa meninggalkan
  aspek-aspek manfaat yang dapat diambil dari tanah tersebut.
         Tesis ini mencoba untuk mendeskripsikan dan menganalisis kasus
  pengambil alihan tanah waqaf Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah oleh ahli
  waris Waqif di Dusun Bendet Desa Bendet Kecamatan Diwek Kabupaten
  Jombang secara sah dari segi hukum Islam.


B. Rumusan Masalah
            Bertolak dari paparan latar belakang di atas, maka masalah yang
   muncul dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan di bawah :
   1. Apakah faktor penyebab pengambil alihan tanah waqaf Madrasah
      Ibtida‟iyyah Islamiyah yang dilakukan oleh ahli waris waqif?
   2. Bagaimanakah pandangan hukum Islam tentang pengambil alihan tanah
      waqaf Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah oleh ahli waris Waqif?


C. Penjelasan Judul
      Maksud judul pada tesis ini adalah upaya dalam pencarian kebenaran
   secara hukum Islam, sedangkan obyek pencarian dan penangkapan suatu
   kebenaran adalah pengambil alihan tanah waqaf Madrasah Ibtida‟iyyah
   Islamiyah oleh ahli waris waqif, dari segi faktor penyebab pengambil alihan
   tanah waqaf Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah serta bagaimana pandangan
   hukum Islam tentang pengambil alihan tanah waqaf yang dilakukan oleh ahli
   waris waqif.


D. Tujuan Penelitian
      Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kronologi pengambil
   alihan tanah waqaf Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah oleh ahli waris waqif
   dari segi faktor penyebab pengambil alihan tanah waqaf dan dari segi
   pandangan hukum Islam.
      Di samping itu tujuan penelitian tersebut di atas, juga ada faktor yang
   mendorong bagi penulis untuk meneliti masalah di atas, yaitu adanya
   permintaan bagi masyarakat (umat) untuk menjelaskan serta menjawab
   persoalan pengambil alihan tanah waqaf menurut hukum Islam.


E. Kegunaan Penelitian
      Hasil penelitian tesis ini diharapkan berguna bagi almamater dan civitas
   akademika, serta bagi setiap yang menekuni bidang hukum Islam, terutama
   para pengkaji dan pecinta fiqh, diharapkan juga bermanfaat dan dapat
   dijadikan pertimbangan dalam penelitian tentang studi perwaqafan serta
   diharapkan sebagai khazanah ilmiah di bidang hukum Islam, khususnya
   mengenai pengambil alihan tanah waqaf yang dilakukan oleh ahli waris
   waqif.
     F. Kajian Pustaka
            Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, sampai saat ini
        belum ada yang membahas secara kritis tentang perwaqafan khususnya studi
        kasus tentang pengambil alihan tanah waqaf Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah
        yang dilakukan oleh ahli waris waqif di Dusun Bendet Desa Bendet
        Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.


     G. Metode Penelitian
        1. Sumber Data
                Sumber data penelitian ini terdiri atas sumber data primer (primary
        sources) dan sumber data sekunder (secondary sources). Sumber data primer
        adalah kitab yang berjudul Fath al-Wahab, Hukum Waqaf dan Perwaqafan di
        Indonesia, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu jilid VIII, dan literartur-literatur
        yang berkaitan dengan pengambil alihan tanah waqaf (hukum perwaqafan).
        Sedangkan sumber data sekunder adalah kitab-kitab dan buku-buku lain yang
        memiliki keterkaitan secara tidak langsung dengan pengambil alihan tanah
        waqaf (perwaqafan)
                     Di samping itu penulis menggunakan sumber data yang bersifat
            tertier, baik kamus maupun Ensiklopedia untuk menjelaskan istilah-
            istilah teknis yang terletak dalam penelitian .


        2. Metode Pengumpulan data
                     Dalam melakukan observasi15 dengan pengumpulan data akan
            dilakukan studi kepustakaan (library research), dicari segala macam buku
            tulisan mengenai per-waqaf-an khususnya masalah pengambil alihan
            tanah waqaf yang dilakukan oleh ahli waris waqif.
                     Namun demikian juga akan dilakukan intervew atau wawancara16
            dengan keluarga ahli waris waqif dan tokoh-tokoh lain17 yang dipandang
            mampu memberikan data-data yang diperlukan oleh penulis. Hal ini

15
   Untuk mengetahui lebih jauh tentang lokasi dan data penelitian, maka penulis mengadakan
observasi di suatu objek penelitian yaitu di lembaga pendidikan swasta Madrasah Ibtida‟iyyah
Islamiyah yang terletak di Dusun Bendet Desa Bendet Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang, guna
mengamati dan mencatat secara sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki. Hal ini sesuai dengan
pendapat Sutrisno Hadi dalam bukunya Metodologi Research. Lihat : Sutrisno Hadi, Metodologi
Research, vol 2 (Jakarta : Andi Offset, 1990), 136.
16
   Metode ini digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan cara tanya jawab untuk
mencari informasi tentang fenomena tersebut. Lihat : Nasution, Metode Research, (Bandung :
Jemmars, 1991), 153
17
   Nadzir wakaf Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah dan tokoh masyarakat Dusun Bendet Desa Bendet
Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang
      dilakukan selain bertujuan untuk meminta izin kepada tokoh yang
      bersangkutan, juga perlu adanya penegasan secara lisan mengenai
      pengambil alihan tanah waqaf yang dilakukan oleh ahli waris waqif di
      Dusun Bendet Desa Bendet Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.


   3. Metode Analisa Data
              Data-data yang berhasil dihimpun selanjutnya dianalisis dengan
      metode analisis data sebagai berikut :
      a. Pengolahan data secara editing, yaitu pemeriksaan kembali seluruh
           data yang diperoleh mengenai kejelasan data, kesesuaian data yang
           satu dengan yang lainnya, relevansi keseragaman satuan atau
           kelompok data.
      b. Pengorganisasi data, yaitu menyusun dan mensistematisasikan data-
           data   yang   diperoleh   dalam     kerangka   paparan   yang   sudah
           direncanakan sebelumnya, sehingga menghasilkan bahan-bahan untuk
           merumuskan suatu deskripsi.
      c. Dalam menganalisa data digunakan metode deskriptif analitis, metode
           ini dilakukan untuk memaparkan fenomena pengambil alihan tanah
           waqaf Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah oleh ahli waris waqif,
           selanjutnya semua deskripsi atau pemaparan di atas dianalisa sesuai
           dengan kemampuan penulis, sehingga tesis ini akan nampak siap atau
           patut dijadikan mediator dan bahan pertimbangan pada penulisan-
           penulisan selanjutnya dengan materi yang agak berbeda.


H. Sistematika Penulisan
           Agar hasil penelitian ini sistematis dan terarah, perlu disusun
   sistematika penulisan sebagai berikut :
   Bab I     Pendahuluan; dalam bab ini dikemukakan tentang hal-hal yang
             melatarbelakangi perlunya penelitian tentang pengambil alihan
             tanah waqaf Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah oleh ahli waris waqif
             sekaligus merumuskan masalah penelitian. Di samping itu dalam
             bab ini juga dikemukakan tentang pembatasan masalah penjelasan
             judul, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, metode
             penelitian, dan sistematika pembahasan. Hal ini dilakukan untuk
             mengetahui permasalahan-permasalahan yang akan diteliti, karena
                masalah adalah sesuatu yang urgen dalam penelitian, sehingga
                menemukan data-data yang valid.
      Bab II    Pandangan ulama‟ tentang proses per-waqaf-an dan pengambil
                alihan tanah waqaf oleh ahli waris waqif.
      Bab III   Profil Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah, kronologi per-waqaf-an
                tanah, faktor penyebab pengambil alihan tanah waqaf oleh ahli
                waris waqif di Dusun Bendet Desa Bendet Kecamatan Diwek
                Kabupaten Jombang.
      Bab IV    Analisis Hukum Islam tentang proses per-waqaf-an yang dilakukan
                oleh waqif, dan analisis Hukum Islam tentang pengambil alihan
                tanah waqaf Madrasah Ibtida‟iyyah Islamiyah oleh ahli waris waqif
                di Dusun Bendet Desa Bendet Kecamatan Diwek Kabupaten
                Jombang.
      Bab V     Penutup; Bab ini berisi kesimpulan dan saran yang merupakan
                jawaban dari masalah-masalah yang diteliti.




                                 BIBLIOGRAFI



      Al-Qur‟an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI.

      Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, vol 2 Jakarta : Andi Offset, 1990

      Nasution, Metode Research, Bandung : Jemmars, 1991.

      Rasyid, Sulaiman, Fikih Islam, Jakarta : at-Tahiriyah, 1976.

      Al-Anshari, Abi Yahya Zakariya, Fath al-Wahab, Surabaya : al-Hidayah, tth.

      Haq, Faishal, Hukum Waqaf dan Perwaqafan di Indonesia, Pasuruan Jatim:

PT. Garoeda Buana Indah, 1993.
       Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2005.

       Az-Zuhayli Wahbah, , al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu,Juz 8, ttp, tth.

       Abi al-Fida Isma‟il ibn Kathir al-Quraisy ad-Dimisyqi, al-Hafidz „Imadu ad-

Din, Tafsir al-Qur‟an al-„Adzim, Riyadl : Dar „Alim al-Kutub, Jilid I, 1997.

       Al-Kalbi, Abu Qasim Muhammad ibn Ahmad ibn Juzzi, at-Tashil, Beirut

Libanon : Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1698
posted:3/21/2011
language:Malay
pages:10