CONTOH PROPOSAL SKRIPSI 1

Document Sample
CONTOH PROPOSAL SKRIPSI 1 Powered By Docstoc
					  DAMPAK BROKEN HOME TERHADAP MINAT

                              BELAJAR

              Studi Kasus Siswi SMK 2 Ketintang Surabaya



A. LATAR BELAKANG

     . Masa remaja adalah masa dimana seorang sedang mengalami saat kritis

  sebab ia akan menginjak ke masa dewasa. Remaja berada dalam masa

  peralihan. Dalam masa peralihan itu pula remaja sedang mencari identitasnya.

  Dalam proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan

  dirinya, remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari orang yang dicintai

  dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya.

      Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa fungsi keluarga adalah

  memberi pengayoman sehingga menjamin rasa aman maka dalam masa

  kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan realisasi fungsi tersebut.

  Sebab dalam masa yang kritis seseorang kehilangan pegangan yang memadai

  dan pedoman hidupnya. Masa kritis diwarnai oleh konflik-konflik internal,

  pemikiran kritis, perasaan mudah tersinggung, cita-cita dan kemauan yang

  tinggi tetapi sukar ia kerjakan sehingga ia frustasi dan sebaginya. masalah

  keluarga yang broken home bukan menjadi masalah baru tetapi merupakan

  masalah yang utama dari akar-akar kehidupan seorang anak. Keluarga

  merupakan dunia keakraban dan diikat oleh tali batin, sehingga menjadi

  bagian yang vital dari kehidupannya




                                                                            1
    “Broken Home” atau dengan arti kata lain perpecahan dalam keluarga

merupakan salah satu masalah yang kerap terjadi dalam kehidupan berumah

tangga. Apalagi di era digital yang seakan serba mudah dan bebas. Perkawinan

dan perceraian sudah merupakan hal yang biasa dan sudah dianggap tidak tabu

lagi. Itu sudah menjadi masalah tiap komunitas keluarga di muka bumi ini.

Di dalam konflik rumah tangga terutama konflik antara suami– istri kadang

menimbulkan ha-hal yang berdampak negative. Salah satu dampak negatif

dari konflik yang terjadi dalam rumah tangga yang paling dominan adalah

dampak terhadap perkembangan anak. Aktor utama “broken home” (suami

istri) kadang jarang memikirkan dampak apakah yang akan terjadi pada anak-

anaknya    apabila    terjadi     perpecahan   atau    perpisahan   rumah     tangga

    Seorang anak korban “broken home” akan mengalami tekanan mental

yang berat. Di lingkungannya. Misalnya, dia akan merasa malu dan minder

terhadap orang di sekitarnya karena kondisi orang tuanya yang sedang dalam

keadaan “broken home”. Di Sekolah, disamping menjadi gunjingan teman

sekitar,   proses    belajarnya     juga   terganggu    karena   pikirannya    tidak

terkonsentrasi ke pelajaran. Anak itu akan menjadi pendiam dan cenderung

menjadi anak yang menyendiri serta suka melamun

    Pikiran-pikiran dan bayangan-bayangan negatif seperti menyalahkan

takdir yang seolah membuat keluarganya seperti itu. Seakan sudah tidak ada

rasa percaya terhadap kehidupan religi yang sudah mendarah daging sejak dia

lahir dan lainnya. Tekanan mental itu mempengaruhi kejiwaannya sehingga

dapat mengakibatkan stress dan frustrasi bahkan seorang anak bisa mengakhiri




                                                                                  2
    hidupnya dengan bunuh diri. Hal seperti itu bisa saja terjadi, apabila anak

    tersebut tidak ada yang mengarahkan dan memperhatikan.

        Pelampiasan diri kemungkinan terjemus dalam pengaruh negatif bagi

    orang tua (dewasa) dalam konteks “broken home” ini sangat kecil. Orang tua

    dapat mencari solusi untuk menenangkan pikirannya. Namun berbeda dengan

    seorang anak yang sedang menghadapi situasi broken home. Anak-anak dapat

    saja terjerumus dalam hal-hal negatif, apalagi dengan media informasi dan

    komunikasi yang menawarkan banyak hal. Contoh konkritnya, merokok,

    minuman keras (alkohol), obat-obat terlarang (narkoba) bahkan pergaulan

    bebas yang menyesatkan.

        Mungkin mudah bagi orang tua untuk memvonis keputusan tentang

    perpisahan atau perpecahan dalam rumah tangga, tapi apakah mudah bagi

    anak-anak mereka untuk dapat menerima hal itu

        Perpecahan dalam rumah tangga memang merupakan masalah yang tidak

    mudah untuk dilepaskan dari kehidupan dalam rumah tangga. Memang jika

    kita mengkaji lebih jauh kita akan dapat memahami sebagai suatu persoalan

    yang wajar-wajar saja. Tetapi, apakah hal itu dapat dikendalikanya?

    Memang sulit untuk menjawabnya dan jawabanya kembali kepada orang tua

    (ayah-ibu) atau pelaku dalam konflik rumah tangga itu sendiri.1


        1
            Aji Baroto, Label: Orang Tua, Pendidikan Anak, Perkembangan Anak, psikologi, Smart

Parent Di akses tanggal 3 Maret 2009, dari: http://bbawor.blogspot.com/2009/03/pengaruh-

broken-home.html./




                                                                                             3
        Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar hal

    inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat untuk

    berprestasi. Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah

    mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas mereka selalu

    berbuat keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan karena mereka cuma ingin

    cari simpati pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka.2

            Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti

    berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada

    bagaimana proses belajar yang dialami murid sebagai anak didik.

            Jika subyek banyak mengalami masalah dalam hidupnya, seperti

    permasalahan yang sedang ia alami dalam keluarganya, teman sebayanya,

    pacarnya, dll. Itu semua akan sangat mempengaruhi terhadap minat

    belajarnya. Karena jika subyek mengalami banyak pikiran maka subyek akan

    mengalami kurang konsentrasi dalam belajarnya.

            Seperti pada survey awal yang saya lakukan disini permasalahannya

    orang tua subyek selalu bertengkar sehingga mengakibatkan keduanya

    mencari pacar masing-masing dan kurang memperhatikan anaknya (subyek).

    Disini orang tua subyek memiliki pacar masing-masing meski setatusnya

    belum bercerai, permasalahan yang seperi ini/tindakan yang seperti ini sering

    di sesalkan oleh subyek hingga mengakibatkan subyek mengalami rasa tidak




        2
            Vendi prasetyo “ Pengertian Broken Home” di akses tanggal 20 desember 2009

http://sobatbaru.blogspot.com/2008/04/pengertian-broken-home.html




                                                                                         4
percaya diri, minder terhadap tetangga, dan teman-temannya yang rata-rata

kehidupan dalam keluarganya penuh dengan keharmonisan.


     Subyek merupakan anak tunggal dari ke dua orang tuanya, keributan

orang tua yang selalu ada di rumah membuat subyek tidak betah berada dalam

rumah Keadaan yang seperti ini membuat subyek mencari perhatian pada

orang yang ada sekitarnya, seperti teman, pacar, guru di Sekolah, dll.

Kepedihan dan kehancuran hati yang dia hadapi memandang hidup ini sia sia

dan sangat mengecewakan buat dia. Suibyek merasa bahwa tidak ada orang

yang perlu di hargai, tidak ada orang yang dapat dipercaya serta tidak ada

orang yang dapat diteladani. Kecenderungan ini membentuk subyek menjadi

orang yang masa bodoh terhadap orang lain, ugal ugalan, cari perhatian, kasar,

egois, dan tidak mendengar nasihat orang lain, cenderung semaunya sendiri.


     Masalah yang seperti ini kadang membuat subyek mengalami kurang

konsentrasi/fokus dalam belajar saat dirumah maupun di Saekolah.




                                                                             5
B. FOKUS PENELITIAN

     Berangkat dari latar belakang diatas, maka penelitian ini difokuskan pada

  jawaban pertanyaan dua pertanyaan dibawah ini, yaitu:

  1. Bagaimana kehidupan remaja broken home?

  2. Bagaimana dampak broken home terhadap minat belajarnya?



C. TUJUAN PENELITIAN

  Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui kehidupan remaja broken home

  2. Mengetahui dampak broken home terhadap minat belajarn subyek.



D. MANFAAT PENELITIAN

  1. Manfaat Teoritis

     Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah

     keilmuan psikologi pada umumnya dan khususnya Psikologi Pendidikan.

  2. Manfaat Praktis

     Secara praktis, dengan penelitian ini diharapkan para orang tua selalu

     memperhatikan      perkembangan      psikologis   anak-anaknya     sebelum

     bertindak hal-hal yang negative (Bertengkar, berdua-duaan dengan

     wanita/laki-laki lain yang bukan istri/suaminya di depan anaknya).




                                                                              6
E. KAJIAN PUSTAKA

    1. VARIABEL PENELITIAN

             Broken Home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau

        kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang

        anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur.

              Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar

        hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat

        untuk berprestasi. Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga

        dalam sekolah mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam

        kelas mereka selalu berbuat keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan

        karena mereka Cuma ingin cari simpati pada teman-teman mereka bahkan

        pada guru-guru mereka.3

              Pemuda yang berada dalam keluarga yang tidak harmonis. Orangtua

        tidak lagi dapat menjadi teladan. Bisa jadi mereka bercerai, pisah ranjang

        atau keributan yang terus menerus terjadi dalam keluarga4

              Broken home itu artinya hubungan dalam keluarga yang tidak

        harmonis. Kebanyakan dari mereka yang keluarganya broken home, akan

        mengalami yang namanya perceraian.5

              Minat belajar ini terdiri dari dua kata yaitu minat dan belajar,

        keduanya memiliki makna tersendiri, namun dalam dunia pendidikan


        3
            Vendi prasetyo “ Pengertian Broken Home” di akses tanggal 20 desember 2009
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/04/pengertian-broken-home.html
          4
            Andriana, “Pengaruh Broken Home Terhadap Anak ” di akses pada tanggal 14
Desember 2009, dari: http://atriel.wordpress.com/2008/04/08/broken- home/
          5
            Fadlimuhammad “Dampak Broken home” Di akses tanggal 30 pebruari           2010,
dari : http://fadlimuhammad12.ngeblogs.com/2009/10/31/broken-         home/



                                                                                              7
    kedua kata ini berperan penting dan mempunyai hubungan yang sangat

    erat, secara singkat penulis akan memaparkan tentang Minat dan Belajar.

          Minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau

    aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.6 Minat pada dasarnya adalah

    penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar

    diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya.

    Crow and Crow mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak

    yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan

    orang, benda, kevgiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu

    sendiri.7

          Minat menurut Djaali adalah perasaan ingin tahu, mempelajari,

    mengagumi, atau memiliki sesuatu.8

    Minat juga merupakan bagian dari ranah afeksi, mulai dari kesadaran

    sampai pada pilihan nilai.9

          Gerungan menyebutkan minat merupakan pengerahan perasaan dan

    menafsirkan untuk suatu hal (ada unsure seleksi). 10

          Menurut Holland minat adalah kecenderungan hati yang tinggi

    terhadap sesuatu. Minat tiodak timbul sendirian, ada unsure kebutuhan,

    misalnya minat belajar, dan lain-lain.11


    6
      Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, (Jakarta: Rineka Cipta,
1991), hal. 182
    7
      Crow D. Leater & Crow, Alioce, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: Nur Cahaya,
1989), hal. 302-303
    8
      Djaali, psikologi pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara 2008) hal . 122
    9
      Djaali, psikologi pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara 2008) hal . 122
    10
       Gerungan, W.A., Psikologi Sosial, (Bandung: Eresco, 1967) hal. 145
    11
       Djaali, psikologi pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara 2008) hal . 122



                                                                                      8
        Banyak tokoh yang mengemukakan pendapatnya tentang Minat, dari

berbagai pendapat dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu perasaan

ingin tahu, mempelajari, mengagumi atau memiliki sesuatu, serta

merupakan pengerahan perasaan dan menafsirkan untuk suatu hal (ada

unsure seleksi).

        Keseluruhan proses pendidikan di Sekolah, kegiatan belajar

merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya

pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana

proses belajar yang dialami murid sebagai anak didik.

        Belajar menurut Skinner adalah sebagai suatu proses adaptasi

perilaku yang bersifat progresif. Yang dimaksud progresif disini adalah

adanya tendensi kearah yang lebih sempurna atau lebih baik dari

sebelumnya.12

        Mc. Geoch mendefinisikan belajar sebagai berikut: “ Learning is a

change in performance as a result of practice”.

        Definisi diatas mengemukakan bahwa belajar membawa suatu

perubahan dalam performance dan perubahan sebagai akibat dari latihan

(practice), dan pengertian latihan atau practice menunjukan adanya usaha

dari individu yang belajar.13

        Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriono dalam buku psikologi

belajar mengemukakan bahwa:




12
     Gerungan, W.A., Psikologi Sosial, (Bandung: Eresco, 1967) hal. 6
13
     Bimo Walgito, Psikologi Belajar, (Yogyakarta, UGM, 1996) hal. 25



                                                                        9
     “Belajar ialah suatu proses usaha yang di lakukan individu untuk

     memperoleh dsuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan

     sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan

     lingkungan”.14

                Dari berbagai definisi diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa

     belajar       adalah proses latihan yang mengakibatkan perubahan perilaku

     untuk lebih dan lebih sempurna lagi dari sebelumnya.

                Minat belajar adalah rasa suka dan rasa keterikatan pada aktivitas

     belajar, antara lain membaca, menulis, serta tugas praktek tanpa ada yang

     menyuruh. Dengan memiliki minat terhadap suatu aktivitas atau obyek itu

     dengan perasaan senang, sehingga siswa yang berminat terhadap aktivitas

     atau obyek akan memperhatikan partisipasinya terhadap aktivitas atau

     obyek tersebut.15

                Dalyono mengemukakan Minat Belajar adalah salah satu aspek

     psikis yang timbul karena adanya daya tarik luar dari individu dan juga

     daya tarik dalam individu dan besar pengaruhnya terhadap pencapaian

     prestasi belajar. 16



2.   KERANGKA TEORI

            Broken Home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar

     hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat

     14
          Abu Ahmadi dan Widodo Supriono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1986),
hal. 6
     15
      Skripsi Intan Prastihastari Wijaya, Hubungan Antara Keterlibatan Orang Tua Dalam
Pengerjaan Pekerjaan Rumah Dengan Minat Belajar Di Rumah. UBAYA 2006. Hal. 12
   16
      M. Dalyono, Psikologi Pendidikan Jakarta: Rineka Cipta 2001. Hal 13



                                                                                          10
    untuk berprestasi. Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga

    dalam sekolah mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam

    kelas mereka selalu berbuat keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan

    karena mereka cuma ingin cari simpati pada teman-teman mereka bahkan

    pada guru-guru mereka.

         Pada umumnya penyebab utama broken home ini adalah kesibukkan

    kedua orang tua dalam mencari nafkah keluarga seperti hal ayah laki – laki

    bekerja dan ibu menjadi wanita karier. Hal inilah yang menjadi dasar

    seorang tidak memiliki keseimbangan dalam menjalankan aktifitas sehari

    hari dan malah sebaliknya akan merugikan anak itu sendiri, dikala pulang

    sekolah dirumah tidak ada orang yang bisa diajak berbagi dan berdiskusi,

    membuat anak mencari pelampiasan diluar rumah seperti bergaul dengan

    teman – teman nya yang secara tidak langsung memberikan efek /

    pengaruh bagi perkembangan mental anak. 17

         Komunikasi orang tua dengan anak memegang peranan penting dalam

    membina hubungan keduanya, hal ini dapat dilihat dengan nyata, misalnya

    :membimbing,        membantu       mengarahkan,       menyayangi,       menasehati,

    mengecam, mengomando, mendikte, dan lain sebagainya. Orang tua yang

    kurang     bisa   berkomunikasi       dengan     anaknya      akan    menimbulkan

    kerenggangan atau konflik hubungan.18



    17
        Vendi prasetyo “ Pengertian Broken Home” di akses tanggal 20 desember 2009
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/04/pengertian-broken-home.html

       Nanda septiani “Pengaruh Perhatian Orang Tua Dan Minat Belajar Dengan Prestasi
    18

Belajar Siswa” di akses tanggal 19 April 2010



                                                                                     11
F. METODE PENELITIAN

  1. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN

          Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualititatif

      berbasis studi kasus (case study), yakni sebuah pencarian fakta dengan

      interpretasi yang tepat. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan

      penelitian yang menggunakan data berupa kalimat tertulis atau lisan,

      perilaku, fenomena, peristiwa-peristiwa dan pengetahuan atau objek studi.

      Pendekatan ini menitik beratkan pada pemahaman, pemikiran dan persepsi

      peneliti.

          Studi kasus didefinisikan sebagai proses analisa terhadap fenomena

      khusus yang dihadirkan dalam konteks terbatas (bounded text) walaupun

      batas-batas anatara fenomena dan konteks belum sepenuhnya jelas.

          Sedangkan metode penelitian ini menggunakan kualitatif. Menurut

      Kirk dan Miller, penelitian kualitatif meruapakan penelitian yang

      bergantung pada pengamatan terhadap manusia baik dalam kawasannya

      maupun dalam peristilahannya. Lebih terinci akan di jelaskan dua ciri

      penelitian kualitatif, yaitu : pertama bahwa penelitian kualitatif

      menekankan pada metode penelitian observasi di lapangan dan datanya

      dianalisa dengan cara non-statistik meskipun tidak selalu harus menabukan

      penggunaan angka. Kedua Penelitian kualitatif lebih menekankan pada

      penggunaan diri si peneliti sebagai alat. Peneliti harus mampu

  dari:http://karya2ilmiah.wordpress.com/2009/08/16/pengaruh-perhatian-orang-tua-dan-minat-
  belajar-dengan-prestasi-belajar-siswa/




                                                                                        12
    mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap

    fungsi inderawinya. Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh

    responden dan lingkungannya agar mampu mengungkap data yang

    tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa tubuh, perilaku maupun

    ungkapan-ungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan

    responden.19

          Kemudian jenis penelitian ini menggunakan deskriptif, yakni

    penelitian yang dilakukan dengan memberikan gambaran yang detail

    mengenai suatu gejala atau fenomena20.

          Penggunaan metode diatas dianggap sangat tepat karena dapat

    mengungkap gambaran menyeluruh dan jelas terhadap situasi yang

    dialami oleh siswi SMK 2 Ketintang Surabaya yang mengalami Broken

    Home.

2. ORIENTASI KANCAH PENELITIAN (Lokasi Penelitian)

   1. SMK 2 Ketintang Surabaya, dimana Sekolah ini adalah tempat menimba

         ilmu sunyek yang akan di teliti.


   2. Rumah/ tempat tinggal subyek


   3. ingkungan sekitar rumahnya/ tempat subyek tinggal


   4. Lokasi yang sering di kinjungi subyek (rumah temannya, pacarnya. Dan

         orang-orang yang terdekat subyek)

    19
       Lexy J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya
Offset, 2008) hal. 120
    20
       Bambang Prasetyo & Lina Miftahul Jannah, Metode Penelitian Kualitatif, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 42



                                                                                          13
3. SUBJEK PENELITIAN

        Subjek dalam penelitian adalah seorang anak siswi SMK 2 Ketintang

  Surabaya yang mengalami Broken home. Criteria yang dijadikan ukuran

  dalam memilih subjek adalah:

  1. Subyek benar-benar renaja yang mengalami broken home

  2. Jenis kelamin laki-laki atau perempuan

  3. Mengalami penurunan minat belajarnya paska terjadinya broken home

  dalam keluarganya



4. TEKLNIK PENGUMPULAN DATA

        Teknik pengumpulan data menggunakan sumber bukti (triangulasi).

  Artinya untuk menemukan pemicu dan gambaran dampak broken home

  terhadap minat belajar, peneliti menggunakan observasi partisipatif,

  wawancara mendalam, dan dokumentasi secara bersamaan.21




          Observasi
          Patisipatif


                                                                Sumber data
         Wawancara                                                 sama
         mendalam


        Dokumentasi




  21
       Sugiono, Memehami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabet, 2008), hlm. 83



                                                                                    14
1. Observasi Partisipatif


            Observasi     Partisipatif peneliti gunakan untuk mengamati yang

 dikerjakan, mendengarkan yang di ucapkan dan berpartisipasi aktif dalam

 aktivitas subyek penelitian.

            Berpijak pada pendapat Spradley dalam Sugiono, observasi dalam

 penelitian ini di bagi dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu:

 a. Observasi Deskriptif


        Dilakukan saat pertama kali memasuki lokasi penelitian. Pada tahap ini,

        peneliti melakukan deskripsi terhadap semua pelaku subjek


 b. Observasi Terfokus


        Termasuk mini tour observation. Artinya pengamatan peneliti di

        fokuskan pada perilaku yang menggambarkan minat belajar akibat

        dampak broken home subyek penelitian.


 c. Observasi Terseleksi


        Peneliti menguraikan perilaku yang di temukan sehingga datanya lebih

        rigit.22


2. Wawancara Mendalam


      Proses wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh keterangan

      pemicu dan gambaran minat belajar akibat dampak broken home sisws

      SMK 2 Ketintang Surabaya yang mengalami broken home dalam

 22
      Sugiono, Memehami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabet, 2008), hlm.83



                                                                                  15
     keluarganya dengan out line yang sudah dipersiapkan untuk menghindari

     bias dalam penggalian data.


           Langkah-langkah dalam wawancara menurut Lincoln dan Guba

terdiri dari tujuh tahap, yaitu:


a. Menentukan sasaran wawancara, yaitu subyek dan informan


b. Menyiapkan out line wawancara


c. Mengawali atau membuka alur wawancaradengan ucapan salam


d. Melangsungkan wawancara


e. Mengkonfirmasi ikhtisar hasil wawancara dan mengahirinya


f. Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan


g. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah di peroleh23


           Alat-alat yang di gunakan dalam wawancara adalah buku catatan,

notebook (laptop), tape recorder dan camera. Hal ini bermanfaat untuk

mencatat dan mendokumentasikan seluruh hasil galian data dari sumber

data.


           Karena wawancara yang di gunakan adalah semi tersetruktur,

berikut ini adalah rancangan format wawancara yang memuat point-point.




23
     Sugiono, Memehami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabet, 2008), hlm.83




                                                                                 16
      3. Dokumentasi


            Metode dokumentasi adalah suatu metode dalam memperoleh data

            mengenai hal-hal atau varibel yang berupa catatan, transkrip, buku, dan

            sebagainya.24

                  .

    5. INSTRUMENT PENELITIAN

                  Proposal ini dibuat dengan menggunakan penelitian kualitatif yang

           lebih bersifat menemukan teori.      Oleh sebab itu dalam penelitian ini,

           peneliti harus mampu menjadi human instrument yang baik.               Hal ini

           disebabkan karena instrument yang dipergunakan sebagai alat pengumpul

           data adalah peneliti sendiri dan data yang terkumpul dari hasil penelitian

           tersebut bersifat subjektif. Landasan teori yang dituliskan dalam proposal

           penelitian lebih berfungsi untuk menunjukkan seberapa jauh peneliti

           memiliki teori dan memahami permasalahan yang diteliti walaupun

           permasalahan tersebut masih bersifat sementara dan akan berkembang

           setelah peneliti memasuki lapangan atau konteks sosial.



    6. TEKNIK ANALISA DATA

             Untuk menemukan gambaran yang jelas tentang hasil penelitian agar

       mudah dipahami dan disimpulkan, peneliti menggunakan konsep analisis

       data kualititatif yang dikemukakan Spradly. Menurutnya, analisis data



      24
         Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2006) hal 35



                                                                                        17
 dalam penelitian kualitatif disusun dalam beberapa tahapan sebagaimana

 berikut25:

 1. Analisa Domain; memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari

       subjek penelitian atau situasi social. Setelah peneliti menemukan domain

       tertentu, maka ditetapkan satu domain sebagai pijakan untuk penelitian

       selanjutnya.

 2. Analisis Taksonomi; menjabarkan domain yang sudah ditetapkan

       menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internal dengan teknik

       observasi.

 3. Analisis Komponensial; mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal

       dengan cara mengkontraskan antar elemen.

 4. Analisis Tema Budaya; mencari korelasi antar domain secara

       keseluruhan kemudian dinyatakan dalam bentuk tema atau judul

       penelitian.



7. TAHAPAN-TAHAPAN PENELITIAN

 Secara umum tahapan penelitian kualitatif dibagi menjadi tiga, yaitu:

 a. Tahap Pra-Lapangan

       Kegiatan yang dilakukan pada tahap pra-lapangan adalah peneliti

       menyusun rancangan penelitian yang memuat latar belakang masalah

       dan alasan pelaksanan penelitian, studi pustaka, penentuan lapangan

       penelitian, penentuan jadwal penelitian, pemilihan alat penelitian,


  25
       Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabet, 2008), hlm. 121 – 131.



                                                                                       18
             rancangan pengumpulan data, rancangan prosedur analisa data,

             rancangan perlengkapan yang diperlukan di lapangan, dan rancangan

             pengecekan kebenaran data.

       b. Tahap Pekerjaan Lapangan

             Pada tahap pekerjaan lapangan, pada tahap awal peneliti memahami

             situasi dan kondisi lapangan penelitian. Menyesuaikan penampilan fisik

             serta cara berperilaku peneliti dengan norma-norma, nilai-nilai,

             kebiasaan, dan adat-istiadat tempat penelitian.

             Selanjutnya dalam pelaksanaan pengumpulan data, peneliti menerapkan

             teknik pengamatan (observation), wawancara (interview), dengan

             menggunakan alat bantu seperti tape recorder, foto, slide, dan

             sebagainya.

       c. Tahap Analisa Data

             Pada analisa data, peneliti mengorganisasikan dan mengurutkan data ke

             dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan

             tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh

             data.26




        26
           Lexy J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya
Offset, 2008) hal. 127-147



                                                                                             19
                            DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Supriono,Widodo, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta,

       1986

Andriana, “Pengaruh Broken Home Terhadap Anak ” di akses pada tanggal 14

       Desember 2009, dari: http://atriel.wordpress.com/2008/04/08/broken-

       home/

Arikunto,Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:

       Rineka Cipta, 2006

Baroto, Aji, Label: “Orang Tua, Pendidikan Anak, Perkembangan Anak,

       psikologi, Smart Parent”, Di akses tanggal 3 Maret 2009

       http://bbawor.blogspot.com/2009/03/pengaruh-broken-home.html

Crow D. Leater & Crow, Alioce, Psikologi Pendidikan Yogyakarta: Nur Cahaya,

       1989

Dalyono,. M, Psikologi Pendidikan Jakarta: Rineka Cipta 2001.

Djaali, psikologi pendidikan Jakarta: PT Bumi Aksara 2008

Fadlimuhammad “Dampak Broken home” Di akses tanggal 30 pebruari 2010,

       dari : http://fadlimuhammad12.ngeblogs.com/2009/10/31/broken- home/

Gerungan, W.A., Psikologi Sosial, Bandung: Eresco, 1967

Maleong.Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda

       Karya Offset, 2008

Prasetyo, Vendi “ Pengertian Broken Home” di akses tanggal 20 desember 2009

       http://sobatbaru.blogspot.com/2008/04/pengertian-broken-home.html




                                                                             20
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, Jakarta: Rineka Cipta,

       1991

Sugiono, Memehami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabet, 2008

Walgito, Bimo, Psikologi Belajar, Yogyakarta, UGM, 1996




                                                                           21
                         Pedoman Wawancara

Pada subyek :

    Assalamualaikum…………

    Saya Ita Rohmatul Ulya, Mahasiswa psikologi IAIN mau meminta

      kesediaan anda menjadi subyek penelitian skripsi saya, apakah anda

      bersedia?

    Sekarang adek kelas berapa?

    Sejak umur/kelas berapa kamu merasakan keluarga kamu tidak harmonis

      lagi?

    Apa yang kamu rasakan saat keluargamu tidak se harmonis dulu?

    Jika kamu merasa sumpek saat melihat kedua orang tuamu bertengkar apa

      yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan meredamkan mereka atau

      kamu akan meninggalkan mereka dengan perasaan kecewa?

    Jika kamu meninggal;kan mereka siapa orang pertama yang akan kamu

      jadikan sebagai tempat curhat?

    Apa kamu merasa malu sama teman-teman, tetangga, dan orang-orang

      yang ada di sekitar kamu dengan keadaan keluargamu yang tidak harmonis

      lagi?

    Apakah kamu merasakan kesulitan belajar saat kamu menghadapi masalah

      ini?

    Apa yang akan kamu lakukan saat kamu merasakan kesulitan belajar baik

      di rumah maupun di Sekolah? Apa kamu akan pergi kerumah teman-teman




                                                                         22
       kamu untuk ikut belajar kelompok atau merenung meratapi nasib/masalah

       yang sedang kamu hadapi?

    Apakah kamu merasakan perubahan nilai sekolah (raport) kamu saat

       keluarga kamu masih harmonis dan tidak harmonis lagi?

    Adakah ada perasaan kecewa/membeci orang tua dengan keadaan yang

       kamu rasakan sekarang?



Kepada Guru-Guru Si Sekolah:

      Bagaimana perkembangan subyek saat di Sekolah?

      Apakah subyek mengalami perubahan, baik perilakunya maupun dengan

       prestasi belajarnya?

      Bagaimana cara bergaulnya subyek saat di sekolah? Apakah subyek

       terjerumus ke hal-hal yang negative atau tidak?

      Apakah subyek termasuk siswa yang nurut/ taat dengan peraturan sekolah

       atau sering melanggar peraturan yang ada?

      Apakah subyek pernah curhat dengan anda mengenai permasalahan yang

       ia hadapi baik dalam keluarganya maupun dalam sekolahnya?



Kepada Teman-Teman Terdekatnya:

    Berapa lama kamu berteman dengan subyek?

    Apakah kamu sering di jadikan subyek sebagai tempat curhat?

    Subyek termasuk anak yang nurut apa tidak (mudah di kasih masukan saat

       mendapatkan masalah)?




                                                                          23
 Pernakah subyek mengatakan malu dengan keadaan keluarganya sekarang

   pada kamu atau teman-teman kamu yang lainnya?

 Bagaimana cara bergaulnya subyek saat di sekolah maupun di luar

   sekolah? Apakah subyek terjerumus ke hal-hal yang negative atau tidak?




                                                                        24
                        Pedoman Observasi

1. Ruang (tempat)

   a. Setting peneliltian

2. Subyek

   a. Sikap dan ekspresi Subyek selama proses wawancara

   b. Perasaan atau emosi yang dilakukan selama proses wawancara

   c. Kondisi fisik Subyek

3. Aktivitas

   a. Perbuatan dan tindakan-tindakan yang dilakukan subyek selama proses

      wawancara

   b. Aktivitas belajarnya saat di Sekolah maupun di rumahnya




                                                                      25

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:8762
posted:3/21/2011
language:Indonesian
pages:25