CONTOH PROPOSAL PERBEDAAN TINGKAT ATTACHMENT PADA ANAK

Document Sample
CONTOH PROPOSAL PERBEDAAN TINGKAT ATTACHMENT PADA ANAK Powered By Docstoc
					           PERBEDAAN TINGKAT ATTACHMENT PADA ANAK

             YANG IBUNYA BEKERJA DAN TIDAK BEKERJA



A. Latar Belakang Masalah

           Pengertian ibu bekerja adalah ibu yang mengembangkan diri dengan

    cara bekerja, dengan begitu ia memiliki peran ganda, memiliki jadwal tertentu

    dalam pekerjaannya, memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaannya, serta

    memiliki penghasilan sendiri, oleh karena itu ibu bekerja tidak memiliki

    banyak waktu bagi anak dan lingkungannya, serta memiliki kebebasan untuk

    mengatur penghasilannya, gerakan feminism merupakan salah satu pendorong

    ibu untuk bekerja karena hal itu sepertinya ibu bekerja cenderung terlihat

    lebih modern, sedangkan ibu tidak bekerja merupakan ibu tradisional yang

    sepertinya terikat pada norma-norma masyarakat yang berlaku bahwa seorang

    ibu yang baik adalah ibu yang mempersembahkan seluruh waktunya untuk

    keluarga dan juga tanggung jawab dalam keharmonisan rumah tangga dan

    hubungan-hubungan emosional yang hangat dalam keluarga.1

           Anak-anak yang ibunya bekerja diluar rumah belum tentu benar-benar

    menerima lebih sedikit perhatian dari pada anak-anak yang ibunya tidak

    bekerja. Diluar pekerjaan, setidak-tidaknya bagi ibu yang anaknya usia

    sekolah mungkin hanya menggunakan waktu luangnya untuk mengerjakan

    pekerjaan rumah tangga atau membuat lebih banyak anak. Tidak juga dapat

    diasumsikan bahwa bila ibu-ibu tidak bekerja, anak akan memperoleh

1
 Rina Fetriana, 2009, Kecenderungan Menelantarkan Anak Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan
Dan Status Kerja Ibu, Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
     keuntungan dari waktu yang diluangkan untuk mengurus rumah tangga dan

     keluarga. Ibu yang terdidik dan yang tidak bekerja memungkinkan berlebihan

     mencurahkan       seluruh     energinya      kepada     anak-anaknya,       mendorong

     munculnya kekhawatiran yang berlebihan dan menghambat kemandirian

     anak. 2

           Hal ini dapat dipahami karena ibu biasanya lebih banyak berinteraksi

     dengan anak dan berfungsi sebagai orang yang memenuhi kebutuhannya serta

     memberikan rasa nyaman, namun dalam hal ini kuantitas waktu bukanlah

     faktor utama terjadinya kelekatan. Kualitas hubungan menjadi hal yang lebih

     dipentingkan. Kualitas hubungan ibu dan anak jauh lebih penting daripada

     lamanya mereka berinteraksi karena dengan mengetahui lamanya anak

     berinteraksi belum tentu diketahui tentang apa yang dilakukan selama

     interaksi. Hal ini dibuktikan oleh Schaffer dan Emerson (dalam Hetherington

     dan Parke,1999; Durkin, 1995) yang menemukan bahwa bayi memilih ayah

     dan orang dewasa lainnya sebagai figur lekat, padahal bayi menghabiskan

     waktu lebih banyak bersama ibu3



B. Rumusan Masalah

           Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang

     dikemukakan peneliti, yaitu “apakah terdapat perbedaan tingkat attachment

     pada anak yang ibunya bekerja dan tidak bekerja?”


2
  John W. Santrock, Life Span Development Perkembangan Masa Hidup edisi ke-5, (Jakarta:
Erlangga, 1995), hal. 265
3
  Eka Ervika, …, Kelekatan (Attachment) Pada Anak, Skripsi, Program Studi Psikologi- Fakultas
Kedokteran, Universitas Sumatera Utara
C. Tujuan Penelitian

         Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat attachment

   pada anak yang ibunya bekerja dan tidak bekerja



D. Manfaat Penelitian

          Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan akan dapat

   memberikan manfaat sebagai berikut :

   1. Manfaat Teoritis

             Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukkan atau

      bahan informasi di bidang pendidikan, khususnya proses belajar mengajar

      dan psikologi pendidikan.

   2. Manfaat Praktis

             Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat

      lembaga pendidikan yang berhubungan dengan pengajar yang memberikan

      pengetahuannya kepada orang tua anak didik agar menjadi lebih

      professional sesuai dengan karakter-karakter bisa dianggap pendidik yang

      professional.

E. Kajian Pustaka

   1. Fariabel

      a. Attachment

         1) Pengertian

                 Dalam kamus lengkap psikologi, attachment (kelekatan, ikatan,

           hubungan) adalah satu daya tarik atau ketergantungan emosional
                                    4
               antara dua orang.        Attachment adalah sebuah istilah yang pertama

               kali dikenalkan oleh J. Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan

               pertalian atau ikatan antara ibu dan anak.5 Menurutnya attachment

               atau kelekatan adalah kecenderungan untuk membuat ikatan emosi

               yang kuat pada individu tertentu.6 Dan menyatakan bahwa hubungan

               ini akan bertahan cukup lama dalam rentang kehidupan manusia

               yang diawali dengan kelekatan anak pada ibu atau figur lain

               pengganti ibu.

                    Pengertian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ainsworth

               mengenai kelekatan. Ainsworth mengatakan bahwa kelekatan adalah

               ikatan emosional yang dibentuk seorang individu dengan orang lain

               yang bersifat spesifik, mengikat mereka dalam suatu kedekatan yang

               bersifat kekal sepanjang waktu. Kelekatan merupakan suatu

               hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat (attachment

               behavior) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut.7

               Perilaku attachment merupakan tingkah laku dimana individu

               berusaha untuk mencari dan memelihara kedekatan dengan individu

               lainnya.8 Pada kelekatan maka pemenuhan keinginan bukan



4
  J. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 1981), hal. 42
5
  Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 120
6
  Aditya Wardana, 2005, Perbedaan Kemandirian Ditinjau Dari Pola Attachment, Skripsi,
Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
7
  Eka Ervika, …, Kelekatan (Attachment) Pada Anak, Skripsi, Program Studi Psikologi- Fakultas
Kedokteran, Universitas Sumatera Utara (http://library.usu.ac.id/download/fk/psikologi-
eka%20ervika.pdf)
8
  Fredrick Dermawan Purba, 2006, Studi Deskriptif Mengenai Tingkah Laku Intim Dari Empat
Pola Attachment Dewasa Pada Individu Menikah Dengan Usia Pernikahan Dibawah Lima Tahun
Di Bandung, Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas Padjadjaran
              merupakan hal yang pokok, dan kelekatan selalau tertujukan pada

              orang-orang tertentu saja.9

           2) Teori-teori kelekatan

                  Penjelasan mengenai kelekatan dapat dipandang dari berbagai

              sudut pandang atau kerangka berpikir. Ada beberapa teori yang

              mencoba menjelaskan kelekatan, antara lain :

              a) Teori Psikoanalisa


Berdasarkan teori psikoanalisa Freud, bahwa manusia
berkembang melewati beberapa fase yang dikenal dengan fase-
fase psikoseksual. Salah satu fasenya adalah fase oral, pada fase
ini sumber pengalaman anak dipusatkan pada pengalaman oral
yang juga berfungsi sebagai sumber kenikmatan. Secara natural
bayi mendapatkan kenikmatan tersebut dari ibu disaat bayi
menghisap susu dari payudara atau mendapatkan stimulasi oral
dari ibu. Proses ini menjadi sarana penyimpanan energi libido
bayi dan ibu selanjutnya menjadi objek cinta pertama seorang
bayi. Kelekatan bayi dimulai dengan kelekatan pada payudara ibu
dan dilanjutkannya dengan kelekatan pada ibu. Penekanannya
disini ditujukan pada kebutuhan dan perasaan yang difokuskan
pada interaksi ibu dan anak
                       Selanjutnya Erickson berusaha menjelaskannya melalui

                 fase terbentuknya kepercayaan dasar (basic trust). Ibu dalam hal

                 ini digambarkan sebagai figur sentral yang dapat membantu bayi

                 mencapai kepercayaan dasar tersebut. Hal tersebut dikarenakan

                 ibu berperan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan bayi, menjadi

                 sumber bergantung pemenuhan kebutuhan nutrisi serta sumber


9
 Monks. Dkk, Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, (Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2004), hal. 68-69
  kenyamanan. Pengalaman oral dianggap Erickson sebagai

  prototip proses memberi dan menerima (giving and taking).

b) Teori Belajar

         Kelekatan antara ibu dan anak dimulai saat ibu menyusui

  bayi sebagai proses pengurangan rasa lapar yang menjadi

  dorongan dasar. Susu yang diberikan ibu menjadi primary

  reinforcer dan ibu menjadi secondary reinforcer . Kemampuan

  ibu untuk memenuhi kebutuhan dasar bayi menjadi dasar

  terbentuknya kelekatan. Teori ini juga beranggapan bahwa

  stimulasi yang diberikan ibu pada bayi, baik itu visual, auditori

  dan taktil dapat menjadi sumber pembentukan kelekatan

c) Teori Perkembangan Kognitif

         Kelekatan baru dapat terbentuk apabila bayi sudah mampu

  membedakan antara ibunya dengan orang asing serta dapat

  memahami bahwa seseorang itu tetap ada walaupun tidak dapat

  dilihat oleh anak. hal ini merupakan cerminan konsep permanensi

  objek yang dikemukakan Piaget. Saat anak bertambah besar,

  kedekatan secara fisik menjadi tidak terlalu berarti. Anak mulai

  dapat memelihara kontak psikologis dengan menggunakan

  senyuman, pandangan serta kata-kata. Anak mulai dapat

  memahami bahwa perpisahannya dengan ibu bersifat sementara.

  Anak tidak merasa telalu sedih dengan perpisahan. Orang tua
  dapat mengurangi situasi distress saat perpisahan dengan

  memberikan penjelasan pada anak.

d) Teori Etologi

         Bowlby dipengaruhi oleh teori evolusi dalam observasinya

  pada perilaku hewan. Menurut teori Etologi tingkah laku lekat

  pada anak manusia diprogram secara evolusioner dan instinktif.

  Sebetulnya tingkah laku lekat tidak hanya ditujukan pada anak

  namun juga pada ibu. Ibu dan anak secara biologis dipersiapkan

  untuk saling merespon perilaku. Bowlby percaya bahwa perilaku

  awal sudah diprogam secara biologis. Reaksi bayi berupa

  tangisan, senyuman, isapan akan mendatangkan reaksi ibu dan

  perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan meningkatkan

  hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi juga dipersiapkan untuk

  merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil

  dari respon biologis yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan

  mengembangkan        hubungan      kelekatan     yang      saling

  menguntungkan (mutuality attachment).

         Teori etologi juga menggunakan istilah “Psychological

  Bonding” yaitu hubungan atau ikatan psikologis antara ibu dan

  anak, yang bertahan lama sepanjang rentang hidup dan

  berkonotasi dengan kehidupan social.
                   Dalam hal ini perkembangan attachment terjadi pada dua orang

              individu, yaitu antara anak dengan ibunya. Attachment awal yang

              berkembang pada seorang anak adalah dengan ibunya. Interaksi

              sosial awal antara anak dan ibu selanjutnya menjadi dasar bagi

              perkembangan kepribadian anak. Ibu sebagai orang terdekat pertama

              bagi anak berperan dalam memberikan cara pengasuhan yang dapat

              memenuhi kebutuhan psikologis anak. Pemenuhan kebutuhan

              psikologis anak dapat diwujudkan ibu lewat kasih sayang, rasa cinta,

              perhatian, rasa aman, dan kooperatif serta responsif terhadap

              kebutuhan orang lain.10 Hal ini sesuai dengan pendapat Mussen,

              bahwa kelekatan mempunyai nilai kelangsungan hidup (survival

              value) bagi anak, karena hal ini memungkinkan anak untuk

              mempunyai       perasaan    aman     dan   terlindungi    pada    saat   ia

              mengeksplorasi dunia dan mengalami kejadian yang membuatnya

              tidak berdaya.11

                   Dari beberapa definisi yang telah disampaikan diatas dapat

              disimpulkan bahwa kelekatan adalah suatu hubungan emosional atau

              hubungan yang bersifat afektif antara dua individu yang mempunyai

              arti khusus, dalam hal ini biasanya hubungan ditujukan pada ibu atau

              pengasuhnya. Hubungan yang dibina bersifat timbal balik, bertahan

              cukup lama dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak

10
   Fredrick Dermawan Purba, 2006, Studi Deskriptif Mengenai Tingkah Laku Intim Dari Empat
Pola Attachment Dewasa Pada Individu Menikah Dengan Usia Pernikahan Dibawah Lima Tahun
Di Bandung, Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas Padjadjaran
11
   Aditya Wardana, 2005, Perbedaan Kemandirian Ditinjau Dari Pola Attachment, Skripsi,
Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
     tampak dalam pandangan anak. Dan untuk memelihara kelekatan

     perlu didukung oleh tingkah laku lekat (attachment behavior).

b. Ibu tidak bekerja

       Menurut Soewondo kaum wanita memegang peranan penting

  sekali sebagai ibu rumah tangga yang meliputi segala macam pekerjaan

  berat dan ringan, seperti mengatur rumah, mencuci, memasak,

  mengasuh, dan mendidik anak. Sedangkan menurut Ahmad, wanita

  sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga bersama dengan

  suaminya sebagai kepala keluarga bertanggung jawab atas terpenuhinya

  segala keperluan rumah tangga dan keluarga, baik berupa jasa maupun

  barang serta kebutuhan mental spiritual.

       Peran wanita dalam keluarga, ibu rumah tangga adalah wanita yang

  mempersembahkan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk

  memelihara dan mengasuh anak menurut pola yang dibenarkan oleh

  masyarakat sekitarnya. Ada kalanya searang wanita benar-benar ingin

  menjadi ibu rumah tangga seutuhnya dengan tujuan dapat lebih

  berkonsentrasi mengikuti perkembangan anak dengan bekal pendidikan

  yang dimiliki. Pada ibu rumah tangga ini akan menghabiskan waktunya

  untuk bekerja di rumah minimal 12 jam sehari yang mana lebih banyak

  dari pada waktu yang dihabiskan oleh suami mereka ataupun anak-anak
           jika telah bersekolah selanjutnya ibu rumah tangga inilah yang

           dimaksud sebagai ibu tidak bekaerja.12

        c. Ibu bekerja

                 Pada zaman kebudayaan modern sekarang, wanita lebih leluasa

           mengadakan kompromi diantara melaksanakan fungsi keibuannya

           dengan pengembang ego sendiri. Sehingga ia lebih bebas memuaskan

           kebutuhan-kebutuhan anaknya serta lebih giat mengembangkan interest

           dan kepribadian sendiri.13

                 Menurut Lois Hoffman, ibu-ibu bekerja adalah suatu bagian dari

           kehidupan modern. Hal itu bukan suatu aspek kehidupan yang

           menyimpang dari kebiasaan tetapi suatu tanggapan terhadap perubahan-

           perubahan social lain, sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan yang

           tidak dapat dipenuhi oleh ideal keluarga sebelumnya akan ibu rumah

           tangga yang bekerja purna waktu. Hal itu bukan hanya memenuhi

           kebutuhan orang tua, tetapi dalam banyak cara hal itu dapat menjadi

           pola yang lebih baik yang cocok untuk mensosialisasikan anak-anak

           akan peran-peran yang akan orang tua laksanakan nantinya14

                 Menurut Mappiare, selain mempunyai tugas pokok sesuai naluri

           kewanitaannya sebagai ibu rumah tangga, wanita juga berhak

           mengembangkan kemampuannya dengan bekerja diluar rumah. Lebih

           lanjut dikatakan oleh Swedolf, bagi wanita bekerja, pekerjaan

12
   Rina Fetriana, 2009, Kecenderungan Menelantarkan Anak Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan
   Dan Status Kerja Ibu, Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
13
   Kartini kartono, Psikologi Wanita jilid 2, (bandung: mandar maju, 1992), hal. 228
14
   John W. Santrock, Life Span Development Perkembangan Masa Hidup edisi ke-5, (Jakarta:
Erlangga, 1995), hal. 265
memberikan rangsangan pemikiran kesempatan bertemu dengan banyak

orang, kebanggan karena mampu melakukan tugas dengan baik dan

adanya perasaan mandiri selain mendapat keuntungan berupa gaji yang

diterima.

     Sedangkan menurut Vuuren, seorang ibu dikatakan bekerja bila

mendapat gaji atau penghasilan setelah melaksanakan suatu tugas

tertentu yakni menjadi pekerja atau karyawati, yang mempunyai jadwal

tertentu, sehingga kurangnya atau terbatasnya waktu untuk ketemu

dengan keluarga. Yaumil menyatakan bahwa ibu yang bekerja adalah

seorang     ibu   yang    melakukan      kegiatan    secara    teratur   atau

berkesinambungan,        dalam   suatu   jangka     waktu     tertentu   yaitu

menghasilkan atau mendapatkan sesuatu dalam bentuk uang, benda,

jasa atau ide.

     Dikatakan oleh Perisitarini bahwa wanita mampunyai penghasilan

sendiri yang secara ekonomi tidak lagi mengandalkan suami, sehingga

lebih mandiri dalam bersikap. Arman berpendapat bahwa keluarga dan

anak adalah masalah penting bagi wanita yang bekerja, dan semua

anggota keluarga yang penting merasa sulit menyesuaikan diri dengan

perubahan pengaturan waktu serta kesibukan ibu menjadi wanita

bekerja adalah anak, hal ini yang menyebabkan anak harus mampu

belajar mandiri dan bertanggung jawab. Jika seorang ibu berkonsentrasi

pada pekerjaan pada hal anaknya masih berusia balita, maka kurangnya
            perhatian secara pertambahan usia rawan tersebut akan membentuk

            anak yang cenderung melakukann hal-hal yang negative.15

                 Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ibu

            bekerja     adalah     ibu     rumah      tangga,     yaitu    sosok     ibu     yang

            mempersembahkan sebagian waktunya untuk bekerja secara rutin

            dalam jangka waktu tertentu, untuk, mengembangkan kemampuannya

            dan mendapatkan sesuatu, sehingga waktu untuk ketemu dengan

            keluarga sangat terbatas.

        d. Masa anak-anak

            Masa anak-anak dibagi menjadi 2 periode, yaitu awal masa anak-anak,

            sekitar 2-6 tahun, dan akhir masa anak-anak sekitar umur 6-12 tahun,

            ada beberapa sebutan untuk masa anak-anak yang sesuai dengan sifat

            mereka, antara lain: masa yang menyulitkan, masa bermain, aesthetis

            (masa berkembangnya rasa keindahan). Para pendidik menyebutnya

            dengan usia pra sekolah, karena mereka belum berkewajiban mengikuti

            sekolah formal. Psikolog memberi sebutan usia kelompok, usia

            menjelajah, atau usia bertanya dan meniru.16



     2. Kerangka teori



     3. Hipotesis


15
   Dewi Dyah Anggraini, 2008, Responsibility Anak Ditinjau Dari Status Pekerjaan Ibu, Urutan
Kelahiran, Jenis Kelamin, Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus Surabaya
16
   Sri rumini dan siti sundari, perkembangan anak dan remaja, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004),
hal.37-38
F. Metode Penelitian

   1. Jenis dan pendekatan

      a. Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam hal ini adalah

         korelasional. Karena dalam penelitian ini, penulis akan meneliti

         tentang hubungan antara dua variable (X) tingkat attachment dengan

         variable (Y) ibunya bekerja dan tidak bekerja.

      b. Sedangkan jenis penelitiannya adalah jenis penelitian kuantitatif,

         karena dalam penelitian ini penulis menggunakan data kualitatif serta

         menggunakan perhitungan statistik.

   2. Subyek penelitian

             Penelitian ini ditujukan kepada Anak yang berumur 3-6 tahun yang

      diantaranya mempunyai ibu yang bekerja dan tidak bekerja serta tidak ada

      pengasuh. Penelitian ini dilaksanakan di TK AISYAH 13 Gg. Lebar

      Wonocolo Surabaya.

   3. Populasi

             Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian, Obyek populasi

      yang diteliti, hasilnya dianalisis, disimpulkan dan kesimpulan itu berlaku

      untuk seluruh populasi. Penelitian populasi hanya dapat dilakukan bagi

      populasi terhingga.

             TK AISYAH 13 tahun ajaran 2010-2011, Jumlah kelas A ada tiga

      kelas yang dimasing-masing kelasnya berjumlah 46 anak, sedangkan di

      kelas B ada dua kelas yang dimasing-masing kelasnya berjumlah 54 anak.
4. Sample

            Peneliti akan melaksanakan penelitian tentang Attachment

   (kelekatan) antara anak mempunyai ibu yang bekerja dan anak mempunyai

   ibu yang tidak bekerja. Dengan mempertimbangkan tenaga peneliti maka

   Peneliti mengambil sebagian jumlah Kelas A dan sebagian jumlah kelas

   Nol besar

5. Instrument / alat pengumpulan data

      Dalam penelitian yang dilakukan teknik pengumpulan data yang

   dilakukan adalah:

      a. Kuiesioner atau Angket

                 Yaitu   sejumlah    pertanyaan    tertulis   yang   digunakan

            memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang

            pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.

      b. Interviw atau Wawancara

                 Yaitu sebuah dialog yang dilakukan oleh penulisatau

            pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara atau

            populasi.

      c. Dokumentasi

                 Pengumpulan data secara langsung dari sumber penelitian

            secara keseluruhan dengan melihat, mencatat dokumentasi dan

            arsip yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.

6. Analisis data
      Metode Kuantitatif Yaitu dengan menggunakan cara perhitungan

dengan menampilkan pengelolaan data kedalam angka-angka atau dengan

menggunakan rumus korelasi product moment yang dapat memberikan

gambaran dan hubungan dalam pembahasan penelitian ini.
                              DAFTAR PUSTAKA



        Rina Fetriana, 2009, Kecenderungan Menelantarkan Anak Ditinjau Dari

Tingkat Pendidikan Dan Status Kerja Ibu, Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas

17 Agustus 1945 Surabaya

        John W. Santrock, Life Span Development Perkembangan Masa Hidup

edisi ke-5, (Jakarta: Erlangga, 1995)

        J. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: PT. Rajagrafindo

Persada, 1981)

        Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

2006)

        Aditya Wardana, 2005, Perbedaan Kemandirian Ditinjau Dari Pola

Attachment, Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

        Eka Ervika, …, Kelekatan (Attachment) Pada Anak, Skripsi, Program

Studi Psikologi- Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara

(http://library.usu.ac.id/download/fk/psikologi-eka%20ervika.pdf)

        Fredrick Dermawan Purba, 2006, Studi Deskriptif Mengenai Tingkah Laku

Intim Dari Empat Pola Attachment Dewasa Pada Individu Menikah Dengan Usia

Pernikahan Dibawah Lima Tahun Di Bandung, Skripsi, Fakultas Psikologi,

Universitas Padjadjaran

        Monks. Dkk, Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai

Bagiannya, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004)

        Kartini kartono, Psikologi Wanita jilid 2, (bandung: mandar maju, 1992)
       Dewi Dyah Anggraini, 2008, Responsibility Anak Ditinjau Dari Status

Pekerjaan Ibu, Urutan Kelahiran, Jenis Kelamin, Skripsi, Fakultas Psikologi,

Universitas 17 Agustus Surabaya

       Sri rumini dan siti sundari, perkembangan anak dan remaja, (Jakarta: PT.

Rineka Cipta, 2004)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:933
posted:3/21/2011
language:Indonesian
pages:17